PENDAHALUAN. Akhir-akhir ini kenakalan remaja di masyarakat semakin. meningkat.kenakalan remaja tersebut meliputi perbuatan-perbuatan yang sering

Teks penuh

(1)

7 PENDAHALUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Akhir-akhir ini kenakalan remaja di masyarakat semakin meningkat.Kenakalan remaja tersebut meliputi perbuatan-perbuatan yang sering menimbulkan keresahan di lingkungan masyarakat,sekolah maupun keluarga. Contoh yang sangat sederhana dalam hal ini antara lain pencurian oleh remaja,perkelahian di kalangan anak didik yang kerap kali berkembang menjadi perkelahian antar-sekolah,mengganggu wanita di jalan yang pelakunya anak remaja. Demikian juga sikap anak yang memusuhi orang tua dan sanak saudaranya,atau perbuatan-perbuatan lain yang tercela seperti menghisap ganja,mengedarkan pornografis dan coret-coret tembok pagar yang tidak pada tempatnya.

Maraknya kasus kenakalan remaja di kalangan masyarakat yang membuat masyarakat resah seperti geng motor.Mereka sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan masyarakat. Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat takut. Adanya rasa bangga bagi anggota geng motor yang mampu merobohkan lawan, merusak harta benda. Tindak kejahatan yang dilakukan sebagian besar perampasan barang berharga milik korban, seperti uang, Handpone, dompet, hingga motor. Dalam aksinya, mereka tak segan-segan menganiaya korban,merampok, merusak fasilitas umum, merupakan musibah bagi masyarakat (http://www.anneahira.com/masalah-kenakalan-remaja. Diakses pada tanggal 17 Januari 2015 pukul 17:20 WIB).

Perilaku dan tindakan mengejutkan juga sering dilakukan oleh sosok yang masih dikategorikan sebagai anak. Sebagai contoh,seorang siswa kelas V SDN 09 Makasar Jakarta Timur yang dianiaya kakak kelasnya hingga meninggal. Anak

(2)

8 tersebut tidak dijatuhi hukuman dikarenakan usia yang masih di bawah umur dan mendapatkan pelayanan sosial (metro.sindonews.com. Diakses pada tanggal pada tanggal 17 Januari 2015 pukul 19:10).

Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Bayu Ajiseno mengatakan bahwa terjadi peningkatankenakalan remaja sebanyak 11 kasus atau 36.66% di tahun 2012. Total kasus kenakalan remaja yang terjadi selama 2012 mencapai 41 kasus, sementara pada tahun 2011 hanya 30 kasus (http://news.detik.com. Diakses pada tanggal 17 Januari 2015 pukul 20:45 WIB).

Data yang dihimpun oleh Komnas Anak menunjukkan, jumlah tawuran pelajar sudah memperlihatkan kenaikan pada enam bulan pertama tahun 2012. Hingga bulan Juni, sudah terjadi 139 tawuran kasus tawuran di wilayah Jakarta. Sebanyak 12 kasus menyebabkan kematian. Sementara pada 2011, ada 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal dunia. Berdasarkan data kasus tawuran pelajar 2012 di wilayah hukum Polda Metro Jaya, sudah terjadi puluhan kasus tawuran pelajar yang menimbulkan korban luka dan meninggal dunia (http://metro.news.viva.co.id. Diakses pada tanggal 17 Januari 2015 pukul 21:00 WIB).

Selanjutnya, masalah pornografi dan pergaulan bebas juga menjadi simbol bagi para pelajar dan remaja. Suatu penelitian menunjukkan bahwa presentase pergaulan bebas remaja bervariasi. Penelitian Zubairi Djoerban di Jakarta menunjukkan 21 dar 864 remaja atau 2,4 persen mengaku pernah berhubungan seks. Di Jawa Tengah 57 dari 2.748 siswa atau 2,1 persen mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah, dan di Bali terdapat 24 persen remaja pria dan 1 persen remaja wanita yang pernah berhubungan seks (http://ntb.bkkbn.go.id. Diakses pada tanggal 18 Januari 2015 pukul 19:45 WIB).

(3)

9 Selain seks bebas, kasus aborsi juga sangat menonjol. Sebuah laporan yang diliris Antara (16/02/09), kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya mencapai 2,3 juta dan 30 persen pelakunya masih remaja. Data dari Luh Putu Ikwa Widani dari LSM Kita Sayang Remaja, lembaga ini meneliti di 9 kota besar dan menemukan angka kehamilan yang tidak diinginkan atau KTD pada remaja meningkat menjadi 150-200 ribu kasus per tahunnya.Sebuah survei yang dilakukan di 33 provinsi pada pertengahan tahun 2008 melaporkan bahwa 63 persen remaja di Indonesia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen diantaranya melakukan kasus aborsi. Secara umum survei itu mengindikasikan bahwa pergaulan remaja di Indonesia makin mengkhawatirkan (www.antaranews.com. Diakses pada tanggal 18 Januari 2015 pukul 15:00 WIB).

Selajutnya, kasus penylahgunaan narkoba. Di kalangan remaja, sangat banyak kasus tentang penyalahgunaan narkoba.Berdasarkan hasil survei Badan Narkoba Nasional (BNN) Tahun 2005 terhadap 13.710 responden di kalangan pelajar dan mahasiswa menunjukkan penyalahgunaan narkoba usia termuda 7 tahun dan rata-rata pada usia 10 tahun. Survei dari BNN ini memperkuat hasil penelitian Prof. Dr. Dadang Hawari pada tahun 1991 yangmenyatakan bahwa 97% pemakai narkoba yang ada selama tahun 2005, 28% pelakunya adalah remaja usia 17-24 tahun (www.bnn.go.id. Diakses pada tanggal 18 Januari 2015 pukul 17:20).

Tingginya penggunaan narkoba di kalangan remaja ditunjukkan hasil riset yang dilakukan oleh Universitas Indonesia.Berdasarkan hasil riset,angka penyalahgunaan narkoba pada pelajar dan mahasiswa sejak tahun 2003 smpai dengan 2006 meningkat dari 3,9 % menjadi 5,3 % atau jumlah totalnya 1.037.682 siswa (pusatriset.ui.ac.id. Diakses pada tanggal 18 Januari 2015 pukul 20:45).

(4)

10 Pada tahun 2007 sebanyak 2.255 kasus dengan 2.789 tersangka, tahun 2008 sebanyak 2.525 kasus dengan 3.287 tersangka. Hingga September 2009 lalu, terdapat 2.048 kasus dengan 2.650 tersangka. Tahun 2007 misalnya, tersangka kasus narkoba yang dilakukan oleh PNS/TNI/Polri sebanyak 49 kasus, swasta sebanyak 2.142, mahasiswa 52 kasus dan pelajar 17 kasus. Jumlah tersebut meningkat tajam pada tahun 2008, di mana tersangka kasus narkoba yang menyangkut PNS/TNI/Polri sebanyak 216 kasus, swasta sebanyak 2.517 kasus, mahasiswa 44 kasus dan pelajar 31 kasus. Berdasarkan jenjang pendidikan, pengguna narkoba yang terbanyak adalah remaja dengan jenjang pendidikan SMA sebanyak2.586 kasus, SLTP 555 kasus, SD

85 kasus dan Perguruan Tinggi 61 kasus.(http://ajinurfadillah.blogspot.com/2013_04_01_archive.htm. Diakses pada

tanggal 18 Januari 2015 pukul 22.10 WIB).

Menurut Data Biro Statistik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, 5 provinsi di Indonesia yang memiliki angka kenakalan remaja yang tinggi adalah Provinsi Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (http://www.pmi.or.id. Diakses pada tanggal 18 Januari 2015 pukul 22 : 10 WIB).

Selama tahun 2014, tercatat 324 kasus kenakalan remaja. Dengan rincian, Januari 50 kasus, Februari 25 kasus, Maret 10 Kasus , April 38 kasus, Mei nihil, Juni 109 kasus, Juli nihil Agustus 92 kasus. “Rata-rata kasus judi, bolos serta tawuran,” ujarnya. Tahun lalu, angka kenakalan remaja mencapai 529 kasus (http://www.koran.padek.co/read/detail/5699. Diakses pada tanggal 19 Januari 2015 pukul 16 : 55 WIB).

Kenakalan remaja yang terjadi dewasa ini sering bukan lagi kenakalan biasa,melainkan kenakalan yang menimbulkan gangguan serius dalam masyarakat dan dapat digolongkan ke dalam kejahatan. Kenakalan yang identik dengan

(5)

11 kejahatan ini antara lain pencurian, perampokan, pemerkosaan, alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan lain-lain. Seperti yang terlihat di kota-kota besar, dimana perkelahian antar pelajar misalnya menjadi trend yang banyak menimbulkan korban. Pencurian, perampokan, mempergunakan obat-obatan terlarang bagi sebagian remaja sudah merupakan hal yang tidak asing lagi (http:// www.arifhidayah.blogspot.com/ Kenakalan-remaja. Diakses pada tanggal 19 Januari 2015 pukul 19 : 15).

Anak-anak remaja yang melakukan kejahatan itu pada umumnya kurang melakukan kontrol diri, atau justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut, dan suka menegakkan standar tingkah laku sendiri, disamping meremehkan keberadaan orang. Kejahatan yang mereka lakukan pada umumya disertai unsur-unsur mental dengan motif-motif subyektif, yaitu untuk mencapai satu obyek tertentu dengan disertai kekerasan dan agresi (Sudarsono, 2004 : 17).

Minddendorf mengemukakan pendapatnya pada salah satu karangan Kartini Kartono menyatakan bahwa ada kenaikan jumlah kenalakan remaja dalam kualitas dan peningkatan dalam kegerangan serta kebengisannya yang lebih banyak dilakukan dalam aksi-aksi kelompok daripada tindak kejahatan individual. Fakta kemudian menunjukkan bahwa semua tipe kejahatan remaja itu semakin bertambah jumlahnya dengan semakin lajunya perkembangan industrialisasi dan urbanisasi. Di kota-kota industri dan kota besar yang cepat berkembang secara fisik, terjadi kasus kejahatan yang jauh lebih banyak daripada dalam masyarakat primitif atau di desa-desa. Di Indonesia masalah kenakalan remaja telah mencaapai tingkat yang cukup meresahkan masyarakat (Mindedendorf, dalam Kartono, 1992 : 3).

Simanjuntak (1992) mengemukakan.menurut teori panduan, salah satu teori yang menjelaskan latar belakang kenakalan remaja menegaskan bahwa faktor

(6)

12 penyebab kenakalan remaja dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal meliputi kepribadian, jenis kelamin dan kedudukan dalam keluarga. Sedangkan faktor eksternal yang dibedakan antara interpersonal environment dan cultural environment. Secara khusus, faktor interpersonal environement meliputi disharmonisai keluarga, perlindungan yang berlebihan, pendidikan yang kurang baik. Adapun cultural environment melputi lingkungan sekolah, media komunikasi massa, dan disorganisasi sosial.

Keadaan sosial ekonomi keluarga berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak, apabila kita perhatikan bahwa dengan adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak di dalam keluarganya itu lebih luas, ia mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat ia kembangkan apabila tidak ada prasarananya. Hubungan orang tua dalam status sosial ekonomi serba cukup dan kurang mengalami tekanan-tekanan fundamental seperti dalam memperoleh nafkah hidupnya yang memadai. Orang tuanya dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam pada pendidikan anak-anaknya apabila ia tidak dibebani dengan masalah-masalah kebutuhan primer kehidupan manusia (Gerungan, 2009 : 46).

Dengan keadaan ekonomi yang mapan, berarti semua kebutuhan keluarga dapat terpenuhi dengan baik, termasuk keperluan pendidikan, kesehatan , rekreasi anak-anak. Namun, kehidupan ekonomi yang terbatas atau kurang, menyebabkan orang tua tidak mampu memberikan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan makanan yang bergizi, kesehatan, pendidikan, dan sarana penunjangnya, dan bahkan orang tua pun kurang optimal dalam memberikan perhatian kasih-sayang pada anak (Dariyo, 2004 : 89).

(7)

13 Kartono mengemukakan bahwa jumlah kenakalan remaja paling banyak adalah terkonsentrasi pada kelas ekonomi rendah yang menghuni daerah perkampungan miskin di tengah kota. Perbandingan jumlah delinkuensi di antara daerah perkampungan miskin yang rawan dengan daerah yang memiliki banyak privelege diperkirakan 50:1 (Kartono, 1992 : 6).

Pengaruh sosial dan kultural memainkan peranan besar dalam menentukan tingkah laku delinkuen pada anak-anak remaja. Mereka sangat terpengaruh oleh stimuli sosial yang jahat, sehingga anak menjadi delinkuen. Stimuli sosial yang buruk itu antara lain:lingkungan sosial ekonomi rendah dengan banyak kaum pekerja tidak terlatih, daerah slum, kawasan perumahan baru yang transisional dengan banyak kasus defisiensi mental, cacat mental dan jasmaniah, alkoholisme dan daerah-daerah rawan sarang para penjahat, dan lain-lain (Kartono, 1992 : 4).

Di kalangan kelas menengah dan tinggi dalam masyarakat modern sekarang pada dekade terakhir ini anak mudanya yang hidup sejahtera dan makmur banyak yang ikut-ikutan menajadi delinkuen, khususnya hal ini terdapat di negara-negara yang sejahtera dan teknis maju. Mereka banyak menjadi delinkuen disebabkan faktor kejemuan dan kejenuhan. Kemewahan dan kemakmuran membuat anak tadi menjadi terlalu manja, lemah secara mental,bosan karena terlalu lama menganggur, , tidak mampu memanfaatkan waktu kosong dengan perbuatan yang bermanfaat, dan terlalu enak hidup santai, maka dalam iklim subkultur makmur santai tadi anak-anak remaja ini menjadi agresif dan memberontak, lalu berusaha mencari kompensasi bagi kehampaan jiwa dengan melakukan perbuatan delinkuen jahat yang hebat (Gunarsa, 2003 : 108).

Anak muda dari kelas menengah, terutama sekali yang dapat di kota-kota besar dan metropol, biasanya memiliki banyak waktu kosong. Untuk mengisi waktu

(8)

14 luang ini mereka banyak menyibukkan diri dengan kegiatan iseng, kebut-kebutan di jalan raya, mabuk-mabukan dan menggunakan bermacam-macam obat bius. Di tengah gang ini para remaja bisa mendapatkan kompensasi bagi kekecewaannya, bahkan memperoleh kepuasaan substitut dari kawan sebaya. Mereka merasa mendapatkan bantuan materiil, dukungan moral, status sosial dan perlindungan dari anggota kelompoknya. Dalam kondisi sedemikian ini, anak-anak remaja itu mendapatkan keberanian untuk ‘’bereksperimen’’ dalam bentuk tindak kriminal dan pada akhirnya mereka benar-benar menjadi kriminal (Sudarsono, 2004 : 26).

Dari hasil penelitiannya di Amerika, Mc. Donald mengatakan bahwa anak laki-laki dari tingkat sosial ekonomi rendah banyak terlibat dalam tindakan kejahatan dibandingkan golongan lain terutama mengenai tindakan pidana yang berhubungan dengan tidakan merusak dan kekerasan (Mc.Donald dalam Dariyo, 2004 : 73).

Sedangkan menurut (Santrock, 2007 : 290) kenakalan remaja lebih banyak terjadi pada golongan sosial ekonomi yang lebih rendah. Sementara itu, orangtua yang sibuk mencari nafkahuntuk memenuhi kebutuhan ekonomi tidak sempat memberikan bimbingan dan melakukan pengawasan terhadap perilaku putra-putrinya, sehingga remaja cenderung dibiarkan menemukan dan belajar sendiri serta mencari pengalaman sendiri. Tuntutan kehidupan yang keras menjadikan remaja-remaja kelas sosial ekonomi rendah menjadi agresif.

Menurut Cristed Pernama Barus dengan studi kasusnya Sosial Ekonomi Keluarga Dan Hubunganya Dengan Kenakalan Remaja Di Desa Lantasan Baru Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang bahwa kenakalan tidak hanya dilakukan oleh remaja yang berasal dari golongan sosial ekonomi rendah ataupun sosial ekonomi tinggi. Remaja yang berasal dari golongan sosial ekonomi sedang

(9)

15 (Jurnal.usu.ac.id/idex.php/ws/article. Diakses pada tanggal 18 Februari 2015 pukul 21 :43).

Berdasarkan uraian di atas tampaknya kenakalan remaja sangat berkaitan dengan keadaan sosial ekonomi keluarga. Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif serta penuh dedikasi. Di tangan merekalah ditentukan maju atau mundurnya kehidupan bangsa.Untuk itu penulis tertarik mengangkat masalah kenakalan remaja di Desa Karang Rejo Kecamatan Gunung Maligas Kabupaten Simalungun.Alasan penulis memilih lokasi ini karena Desa Karang Rejo merupakan daerah suburban,yaitu daerah yang terletak di antara kota dan urban, atau daerah yang terletak di antara kota dan desa, jadi daerah tersebut merupakan daerah transisi sehingga masyarakat khususnya remaja Desa Karang Rejo mengikuti pola kehidupan sosial masyarakat kota. Dimana masyarakat daerah tersebut dominan memiliki tingkat sosial ekonomi yang rendah namun perilaku remajanya mengikuti gaya hidup masyarakat kota yang terbiasa dengan pola hidup mewah.

Untuk itu penulis akan melaksanakan penelitian dengan judul “Pengaruh Sosial Ekonomi Keluarga Terhadap Kenakalan Remaja di Desa Karang Rejo Kecamatan Gunung Maligas Kabupaten Simalungun”.

(10)

16 Berdasarkan latar belakang masalah penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti membatasi masalah penelitian yaitu remaja dengan sosial ekonomi rendah. Adapun masalah peneletian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:’’Apakah Sosial Ekonomi Keluarga Berpengaruh Terhadap Kenakalan Remaja di Desa Karang Rejo Kecamatan Gunung Maligas Kabupaten Simalungun?’’

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kenakalan remaja

2. Untuk mengetahui latar belakang sosial ekonomi keluarga pelaku kenakalan remaja di Desa Karang Rejo Kecamatan Gunung Maligas Kabupaten Simalungun

3. Untuk mengetahui bagaimana sosial ekonomi keluarga mempengaruhi kenakalan remaja di Desa Karang Rejo Kecamatan Gunung Maligas Kabupaten Simalungun.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Dapat digunakan untuk lebih mendalami pengaruh yang disebabkan sosial ekonomi keluarga terhadap kenalan remaja

2. Menjadi referensi dalam rangka pemahaman perilaku remaja

3. Dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam rangka pemecahan masalah kenakalan remaja.

(11)

17 1.5. Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Berisikan latar belakang masalah,perumusan masalah,tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan .

BAB II : TINJAUN PUSTAKA

Berisikan uraian konsep dan teori-teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti,kerangka pemikiran,hoptesa,defenisi konsep dan defenisi operasional.

BAB III : METODE PENELITIAN

Berisikan tipe penelitian,lokasi penelitian,populasi dan sampel penelitian,teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Berisikan penguraian tentang sejarah geografis dan gambaran umum lokasi penelitian yang berhubungan dengan masalah objek yang diteliti.

BAB V : ANALISA DATA

Berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari pengumpulan data penelitian yaitu melalui observasi,kuisioner,dan wawancara.

BAB VI : PENUTUP

Berisikan kesimpulan penelitian dan saran yang direkomendasikan berdasarkan kesimpulan yang diperoleh.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :