• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN

PENELITIAN TUGAS AKHIR

EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA ULAT KANTONG

(Metisa plana) PADA TANAMAN KELAPA SAWIT

(Elaeis guineensis Jacq) DENGAN METODE INJEKSI

BATANG DI AFDELING IV KEBUN ADOLINA

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV

ANDI SULAIMAN NASUTION

12011331

PROGRAM STUDI

BUDIDAYA PERKEBUNAN

SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN

AGROBISNIS PERKEBUNAN

MEDAN

2016

(2)

2

LAPORAN

PENELITIAN TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sain Terapan Diploma IV pada Program Studi Budidaya Perkebunan

Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan

EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA ULAT KANTONG

(Metisa plana) PADA TANAMAN KELAPA SAWIT

(Elaeis guineensis Jacq) DENGAN METODE INJEKSI

BATANG DI AFDELING IV KEBUN ADOLINA

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV

ANDI SULAIMAN NASUTION

12011331

PROGRAM STUDI

BUDIDAYA PERKEBUNAN

SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN

AGROBISNIS PERKEBUNAN

MEDAN

2016

(3)

3

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR

Nama : ANDI SULAIMAN NASUTION

Nomor Induk : 12011331

Program Studi : BUDIDAYA PERKEBUNAN

Judul Tugas Akhir : EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA ULAT KANTONG (Metisa plana) PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DENGAN METODE INJEKSI BATANG DI AFDELING IV

KEBUN ADOLINA PT. PERKEBUNAN

NUSANTARA IV

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Nuraida, M.P. DR. Ir. A. Saleh, M.Sc.

Mengetahui,

Ketua Ka. PS BDP

(4)

4

Pembimbing Tugas Akhir

:

1. Ir. Nuraida, M.P.

2. DR. Ir. A. Saleh, M.Sc.

Tim Penguji

: 1. Ir. Mardiana Wahyuni, M.P.

2. Ir. P. Sembiring

(5)

5

RINGKASAN

ANDI SULAIMAN NASUTION. EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA ULAT KANTONG (Metisa plana) PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DENGAN METODE INJEKSI BATANG DI AFDELING IV KEBUN ADOLINA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV. Tugas Akhir Mahasiswa STIPAP Program Studi Budidaya Perkebunan dibimbing oleh Ir. Nuraida, M.P dan DR. Ir. A. Saleh, M.Sc.

Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS) merupakan hama yang harus di kendalikan. Dalam penelitian ini tindakan pengendalian yang di lakukan adalah pada Ulat Kantong (Metisa plana). Larva M. plana memakan daun Kelapa Sawit sehingga mengakibatkan daun pohon Kelapa Sawit tersebut berlubang-lubang, selanjutnya daunnya mengering dan pelepah sawit menjadi layu, sehingga mengakibatkan proses fotosintesis tanaman menjadi terganggu dan akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman sawit.

Penelitian menggunakan metode penelitian analisa deskriptif dengan mengambil data-data sekunder di lokasi penelitian yaitu data sensus global dan data sensus efektif tanaman yang terserang hama Ulat Kantong (M. plana) serta data sensus ulang setelah dilakukan pengendalian mulai dari tahun 2014 hingga 2016 (S/d Mei). Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui efektivitas pengendalian hama Ulat Kantong (M. plana) dengan menggunakan alat injeksi batang pada tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq).

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan populasi hama Ulat Kantong M. plana pada pengamatan 10 hari setelah pengendalian, pada tahun

2014 rata – rata mortalitas keseluruhan yaitu sebesar 94,07 %, dengan persentase

mortalitas tertinggi terdapat pada bulan September yaitu sebesar 98,16 %. Sedangkan persentase mortalitas terendah terdapat pada bulan Juli yaitu sebesar 84,09 %. Pada tahun 2015, rata – rata mortalitas keseluruhan yaitu sebesar 94,77 %, dengan persentase mortalitas tertinggi terdapat pada bulan September yaitu sebesar 97,04 %. Sedangkan persentase mortalitas terendah terdapat pada bulan Agustus yaitu sebesar 93,02 %. Dan pada tahun 2016 (S/d Mei), rata – rata mortalitas keseluruhan yaitu sebesar 94,02 %, dengan persentase mortalitas tertinggi terdapat pada bulan Maret yaitu sebesar 96,35 %. Sedangkan persentase mortalitas terendah terdapat pada bulan Januari yaitu sebesar 92,92 %. Selain itu pada tahun 2014 (S/d Mei), 2015 (S/d Mei), 2016 (S/d Mei) persentase total luas serangan mengalami selisih penurunan seluas 20,49 % dengan total jumlah blok terserang sebanyak 33 kali. Sedangkan persentase total luas serangan antara tahun 2014 dengan 2015 mengalami selisih penurunan seluas 15,01 % dengan total jumlah blok terserang sebanyak 37 kali.

Kata kunci : M. plana, Mortalitas, Persentase, Selisih, Kelapa Sawit, Injeksi.

(6)

6 DAFTAR ISI Hal. RINGKASAN ... i DAFTAR ISI ... ii KATA PENGANTAR ... v

RIWAYAT HIDUP ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Urgensi Penelitian... 3 1.3 Tujuan Khusus ... 4 1.4 Target Temuan ... 4 1.5 Kontribusi ... 4

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kelapa Sawit ... 5

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Kelapa Sawit ... 5

2.1.2 Morfologi Tanaman Kelapa Sawit ... 5

2.2 Biologi dan Morfologi Ulat Kantong M. plana ... 8

2.2.1 Klasifikasi Hama Ulat Kantong M. plana ... 9

2.2.2 Siklus Hidup Hama Ulat Kantong M. plana... 9

2.3 Gejala dan Kerusakan Hama Ulat Kantong M. plana ... 12

2.4 Metode Pengendalian Hama Ulat Kantong M. plana ... 13

2.4.1 Pengendalian Biologi ... 13

2.4.2 Pengendalian Hama Terpadu (PHT) ... 13

2.4.3 Pengendalian Kimiawi ... 16

BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu ... 17

3.2 Rancangan Penelitian ... 17

3.3 Bahan dan Peralatan ... 17

3.4 Tahapan Penelitian ... 17

3.5 Pengamatan dan Indikator ... 21

3.6 Bagan Alur Penelitian ... 21

3.7 Jadwal Penelitian ... 22

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Informasi Umum Kebun ... 23

4.1.1 Luas Areal Kebun Adolina ... 23

4.1.2 Peta dan Luas Afdeling IV ... 24

(7)

7

4.1.3 Curah Hujan dan Hari Hujan Afdeling IV (Empat)

Kebun Adolina Tahun 2012 - 2016 ... 27

4.2 Kriteria Tingkat Serangan Hama Ulat Kantong M. plana ... 29

4.3 Rekapitulasi Rata – rata Sensus Hama Ulat Kantong M. plana Dengan Metode Injeksi Batang ... 29

4.4 Rekapitulasi Mortalitas Hama Ulat Kantong M. plana Dengan Metode Injeksi Batang ... 53

4.5 Rekapitulasi Persentase Luas Serangan Hama Ulat Kantong M. plana Dengan Metode Injeksi Batang ... 63

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 67

5.2 Saran ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 69

DAFTAR LAMPIRAN ... 71

1. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Januari 2014 ... 71

2. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Februari 2014 ... 72

3. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Maret 2014 ... 73

4. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan April 2014 ... 74

5. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Mei 2014 ... 75

6. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Juni 2014 ... 76

7. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Juli 2014 ... 77

8. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan September 2014 ... 78

9. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Oktober 2014 ... 79

10. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Desember 2014 ... 80

11. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Januari 2015 ... 81

12. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Februari 2015 ... 82

13. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan Maret 2015 ... 83

14. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana Bulan April 2015 ... 84

(8)

8

15. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan Mei 2015 ... 85 16. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan Juni 2015 ... 86 17. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan Agustus 2015 ... 87 18. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan September 2015 ... 88 19. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan Nopember 2015 ... 89 20. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan Desember 2015 ... 90 21. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan Januari 2016 ... 91 22. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan Maret 2016 ... 92 23. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan April 2016 ... 93 24. Rekapitulasi Sensus dan Mortalitas Serangan Ulat Kantong M. plana

Bulan Mei 2016 ... 94 25. Sebaran Serangan Hama Ulat Kantong M. plana Tahun 2014 ... 95 26. Sebaran Serangan Hama Ulat Kantong M. plana Tahun 2015 ... 96 27. Sebaran Serangan Hama Ulat Kantong M. plana Tahun 2016 (S/d

Mei) ... 97

(9)

9

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang selalu melimpahkan kasih sayang, perlindungan dan pertolongan kepada hamba-NYA, memberikan banyak karunia dan nikmat sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.

Penyusunan Tugas Akhir yang berjudul Efektivitas Pengendalian Hama Ulat Kantong (M. plana) Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Dengan Metode Injeksi Batang Di Afdeling IV Kebun Adolina PT. Perkebunan Nusantara IV adalah merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sain Terapan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP).

Dalam penulisan Tugas Akhir ini, penulis banyak mendapatkan bantuan moril maupun materil, serta motivasi, pengarahan dan restu dari banyak pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. Tanpa mengurangi rasa hormat penulis terhadap yang lainnya akhirnya dalam kesempatan ini penulis dengan tulus hati mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Wagino, SP., MP selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan.

2. Bapak Guntoro, SP., MP selaku Ketua Jurusan Budidaya Perkebunan yang banyak memberikan arahan dan motivasi.

3. Ibu Ir. Nuraida MP selaku dosen pembimbing I (satu) dan Bapak DR. Ir. A. Saleh, M.Sc selaku dosen pembimbing II (dua) yang telah memberikan arahan dan membimbing penulis dalam menyelesaikan tugas akhir.

4. Teristimewa untuk kedua orang tua yaitu ayahanda Muhammad Rukyani Nasution dan ibunda Normah Damanik serta abangda Muhammad Arik Syahputra Nasution, SP, adik-adik tersayang Rimayani Nasution, S.pd dan Atika Indayani Nasution yang telah banyak memberikan dukungan moril dan materil serta doa nya bagi keberhasilan penulis.

(10)

10

5. Seluruh staf dan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIP-AP) Medan yang telah banyak membekali penulis dengan ilmu pengetahuan selama mengikuti perkuliahan.

6. Bapak Sahala Sidebang, Bapak Surya Sixo Marpaung, SP, Bapak Airunsyah, dan Bapak Saragih selaku pembimbing lapangan yang telah banyak membantu membimbing penulis dalam menyelesaikan tugas akhir. 7. Adinda tercinta Fitri Rahmayanti Ginting yang telah memberikan semangat

dan dukungan kepada penulis.

8. Kepada para sahabat Miftahun Naim, SE, Abdillah Fauzan Nasution, S.H.I, Abdillah Fahmiza Nasution, S.pdi, Ahmad Suryadi Sihotang, S.H.I, Muhammad Iqbal Rangkuti, S.H.I, Syafrizal, Iqbal Sandy Siagian, Rafiqi Hilmi, Al Wiz Muhafiz, Fery Indrawan Marpaung yang selama ini memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis.

9. Teman-teman angkatan 2012 jurusan Budidaya Perkebunan dan Teknik pengolahan Hasil Perkebunan khususnya BDP IV-B yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang selama ini memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis.

10. Keluarga besar pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Budidaya Perkebunan (HMJ BDP) yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang selama ini memberikan dukungan semangat dan motivasi kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis bersedia dengan senang hati menerima kritikan, masukan, dan saran yang sifatnya untuk memberi pencerahan agar mendapatkan kesempurnaan tugas akhir ini. Semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya khususnya dalam Budidaya Kelapa Sawit. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga tugas akhir ini bermanfaat.

Medan, September 2016 Penulis

(11)

11

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 9 Januari 1993 di kota Tanjungbalai provinsi Sumatera Utara. Penulis merupakan anak ke-2 (dua) dari 4 (empat) bersaudara dari keluarga Bapak Muhammad Rukyani Nasution dan Ibu Normah Damanik. Berkebangsaan Indonesia dan beragama Islam.

Pada tahun 2005 penulis lulus dari Sekolah Dasar (SD) negeri 134414 Tanjungbalai Selatan, tahun 2008 lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri 1 Tanjungbalai Selatan, dan tahun 2011 lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri 3 program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Tanjungbalai. Pada tahun 2012 penulis diterima sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIP-AP) dengan memilih Program Studi Budidaya Perkebunan.

Selama menjadi mahasiswa, penulis telah melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di perusahaan BUMN maupun swasta. Pada PKL I, penulis melakukan peraktek kerja di Kebun Pasir Mandoge PTPN IV dan Kebun Batang Serangan PTPN II. Pada PKL II, penulis melakukan peraktek kerja di Kebun PT. Asam Jawa, Torgamba. Penulis juga mengikuti Program Pengabdian Masyarakat di Desa Kuala Bali, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Serdang Bedagai pada semester VIII.

(12)

12

DAFTAR TABEL

No Judul Hal.

2.1 Siklus Hidup M. plana ... 12

4.1 Luas Areal Kebun Adolina... 23

4.2 Luas Areal Afdeling IV (empat) Kebun Adolina ... 25

4.3 Rata – rata Jumlah Curah Hujan ... 27

4.4 Rata – rata Jumlah Hari Hujan ... 28

4.5 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Januari Tahun 2014 ... 30

4.6 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Februari Tahun 2014 ... 31

4.7 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Maret Tahun 2014 ... 32

4.8 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan April Tahun 2014 ... 33

4.9 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Mei Tahun 2014 ... 34

4.10 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Juni Tahun 2014 ... 35

4.11 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Juli Tahun 2014 ... 36

4.12 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan September Tahun 2014 ... 36

4.13 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Oktober Tahun 2014 ... 37

4.14 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Desember Tahun 2014 ... 38

4.15 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Januari Tahun 2015 ... 39

4.16 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Februari Tahun 2015 ... 40

4.17 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Maret Tahun 2015 ... 41

4.18 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan April Tahun 2015 ... 42

4.19 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Mei Tahun 2015 ... 43

4.20 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Juni Tahun 2015 ... 43

4.21 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Agustus Tahun 2015 ... 44

4.22 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan September Tahun 2015 ... 45

4.23 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Nopember Tahun 2015 ... 46

4.24 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Desember Tahun 2015 ... 46

4.25 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Januari Tahun 2016 ... 47

4.26 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Maret Tahun 2016 ... 48

4.27 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan April Tahun 2016 ... 49

(13)

13

4.28 Sensus Serangan Ulat Kantong Bulan Mei Tahun 2016 ... 49 4.29 Rekapitulasi Rata – rata Sensus Ulat Kantong Tahun 2014 ... 50 4.30 Rekapitulasi Rata – rata Sensus Ulat Kantong Tahun 2015 ... 51 4.31 Rekapitulasi Rata – rata Sensus Ulat Kantong Tahun 2016 (S/d

Mei) ... 51

4.32 Rekapitulasi Tingkat Mortalitas Ulat Kantong Tahun 2014 ... 53 4.33 Rekapitulasi Tingkat Mortalitas Ulat Kantong Tahun 2015 ... 53 4.34 Rekapitulasi Tingkat Mortalitas Ulat Kantong Tahun 2016 (S/d

Mei) ... 54

4.35 Rekapitulasi Persentase Luas Serangan Per Bulan dari Tahun 2014 – 2016 (S/d Mei) ... 63 4.36 Rekapitulasi Persentase Total Luas Serangan dan Total Jumlah

Blok Terserang Tahun 2014 – 2016 (S/d Mei) ... 64

(14)

14

DAFTAR GAMBAR

No Judul Hal.

2.1 Ulat Kantong M. plana ... 9

2.2 Larva M. plana ... 11

2.3 Pupa M. plana ... 11

2.4 Imago Jantan M. plana ... 12

2.5 Imago Betina M. plana ... 12

2.6 Gejala dan Kerusakan Akibat Hama Ulat Kantong M. plana ... 13

2.7 Mekanisme Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT)... 15

3.1 Letak Pohon Sampel Sensus Global ... 18

3.2 Letak Pohon Sampel Sensus Efektif ... 18

3.3 Alat – Alat Injeksi Batang ... 19

3.4 Campuran Bahan Injeksi Batang ... 19

3.5 Potongan Pelepah Kelapa Sawit... 19

3.6 Pengeboran Batang Kelapa Sawit ... 20

3.7 Menyuntikkan Insektisida ... 20

4.1 Peta Afdeling IV (empat) ... 24

4.2 Rata – rata Jumlah Curah Hujan dari Tahun 2012 – 2016 ... 27

4.3 Rata – rata Jumlah Hari Hujan dari Tahun 2012 – 2016... 28

4.4 Rekapitulasi Rata – rata Sensus Ulat Kantong Tahun 2014 ... 52

4.5 Rekapitulasi Rata – rata Sensus Ulat Kantong Tahun 2015 ... 52

4.6 Rekapitulasi Rata – rata Sensus Ulat Kantong Tahun 2016 (S/d Mei) ... 52

4.7 Rekapitulasi Rata – rata Ulat Kantong Per Pelepah Tahun 2014... 57

4.8 Rekapitulasi Rata – rata Ulat Kantong Per Pelepah Tahun 2015... 61

4.9 Rekapitulasi Rata – rata Ulat Kantong Per Pelepah Tahun 2016 (S/d Mei) ... 62

4.10 Rekapitulasi Persentase Luas Serangan Per Bulan Dari Tahun 2014 – 2016 (S/d Mei) ... 64

(15)

15

4.11 Persentase Total Luas Terserang Tahun 2014 (S/d Mei), 2015 (S/d Mei), dan 2016 (S/d Mei) ... 65

4.12 Total Jumlah Blok Terserang Tahun 2014 (S/d Mei), 2015 (S/d

Mei), dan 2016 (S/d Mei) ... 65

(16)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah komoditas perkebunan yang cukup penting di Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah. Peningkatan jumlah kebutuhan dan semakin beragamnya pemanfaatan produk olahan Kelapa Sawit menyebabkan Kelapa Sawit terus berkembang. Bahkan, tanaman penghasil minyak nabati ini menjadi penyumbang devisa non-migas terbesar ketiga setelah karet dan kopi. Prospek pasar dunia untuk minyak Sawit beserta produknya cukup bagus. Dengan total produksi 16 juta ton, pada tahun 2006 Indonesia telah mengungguli produksi Kelapa Sawit Malaysia yang berkisar pada angka 15,88 juta ton. Oleh Oil World, produksi Kelapa Sawit Indonesia untuk beberapa tahun kedepan di prediksi tetap akan memimpin di urutan teratas. Budidaya Kelapa Sawit memerlukan perencanaan yang baik karena merupakan investasi jangka panjang. Untuk mendapatkan hasil yang tinggi, budidaya Kelapa Sawit memerlukan pemeliharaan yang intensif, baik ketika Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) maupun ketika sudah menghasilkan (TM) (Hartanto, 2011).

Perkembangan industri Kelapa Sawit yang diiringi dengan perluasan areal untuk perkebunan Kelapa Sawit menjadi kegiatan utama budidaya Kelapa Sawit. Lahan-lahan hutan sekunder, lahan tidur dan gambut kini telah menjadi lahan yang digunakan untuk perkebunan. Peralihan fungsi lahan dapat memberikan dampak negatif dalam pengembangan perkebunan Kelapa Sawit, salah satunya adalah munculnya permasalahan hama baru akibat perubahan status hama. Permasalahan ini disebabkan adanya peralihan sumber makanan dari organisme hama hutan dan tanaman lain menjadi hama Kelapa Sawit. Selain itu peralihan ini juga akan meningkatkan status hama sekunder menjadi hama primer, yang didukung

(17)

2

dengan berkurangnya populasi hama primer dan musuh alaminya (Gillot, 2005) dalam (Rozziansha dan Susanto, 2011)

Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS) terdiri atas ulat api, Ulat Kantong, dan ulat bulu. Jenis UPDKS yang sering menimbulkan kerugian di perkebunan Kelapa Sawit antara lain: Ulat Api Setothosea asigna, Setora

nitens, Darna (Ploneta) bradleyi dan Birthosea bisura; Ulat Kantong Mahasena corbetti dan Metisa plana; serta Ulat Bulu Dasychira inclusa, D.mendosa dan Amathusia phidippus (Sulistyo dkk, 2010).

Sistem pengamatan dini perlu dikembangkan begitu juga dengan teknik pengendalian. Dalam pengendalian hama ada beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain; cara manual, kimia, biologis dan lain-lain ataupun kombinasi teknik Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Selain itu juga yang perlu diketahui adalah jenis hama dan penyakit yang menyerang baik pada pembibitan, serta tanaman muda belum menghasilkan dan pada tanaman menghasilkan, pada penutup tanah. Selain itu, parasit, patogen, dan musuh alaminya beserta tanaman inangnya perlu diketahui dan dikenali agar bioekologi terpelihara dengan baik untuk pengembangannya (Lubis, 2008). Dalam penelitian ini tindakan pengendalian yang dilakukan adalah pada Ulat Kantong.

Jenis ini merupakan salah satu pemakan daun yang paling merugikan di Sumatera dan Malaysia. Panjang larvanya 12 mm, berwarna cokelat kemerahan, hidup dalam kantong yang panjangnya 15-17 mm. Kantong-kantong terkait menggantung pada permukaan bawah daun. Ngengat (imago) jantan berupa kupu-kupu, rentang sayapnya 17-20 mm, antenanya panjang berbulu pada ujungnya. Sayapnya cokelat kehitaman. Ngengat (imago) betina berbentuk seperti ulat. Siklus hidup lengkap berlangsung 100 hari, dengan stadium larva selama 50 hari. Tingkat populasi kritis 20-30 ekor/pelepah (Susanto dkk, 2010).

(18)

3

Pengendalian Ulat Kantong hingga saat ini masih mengandalkan insektisida sintesis, karena cara ini lebih mudah dilakukan dan hasilnya dapat cepat dilihat, disamping masih belum di temukannya cara pengendalian lain yang lebih efektif (PPKS, 2008) dalam (Nuraida dan Pariduri, 2011).

Bila pengendalian menggunakan pestisida kimia maka diperlukan pemilihan bahan yang sesuai dan teknik aplikasi yang aman baik untuk pekerja, ternak peliharaan, predator maupun terhadap lingkungannya. Pemakaian pestisida bersifat sementara saja karena hama akan muncul lagi apabila kondisi telah mengijinkan kembali untuk berkembang (Djamin, 1983) dalam (Lubis, 2008).

1.2 Urgensi Penelitian

Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS) merupakan hama yang harus di kendalikan. Untuk beberapa daerah tertentu, Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS) sudah menjadi endemik sehingga sangat sulit dikendalikan. Telah terbukti banyak hama dan penyakit yang dapat menimbulkan kerusakan berat atau kematian bagi tanaman yang berakibat kerugian dibidang produksi, pembiayaan dan lain-lain (PTP III, 1985) dalam (Lubis, 2008).

Untuk itu diperlukan cara pengendalian serangan hama ulat pemakan daun Kelapa Sawit dengan menggunakan isektisida kimia. Insektisida ini diaplikasikan dengan menggunakan alat injeksi yang disebut injeksi batang. Menurut Lubis (2008) teknik aplikasi melalui infus akar dan injeksi batang memang cukup aman, mudah dan praktis tetapi terbatas pada skala kecil dan pada jenis hama tertentu. Dengan menginjeksikan pada batang tanaman Kelapa Sawit dewasa yang terserang hama. Alat ini mempunyai tingkat keefektifan yang diharapkan dapat mengurangi dampak kerugian yang ditimbulkan hama ulat pemakan daun Kelapa Sawit.

(19)

4 1.3 Tujuan Khusus

Mengetahui efektivitas pengendalian hama Ulat Kantong (M. plana) dengan menggunakan alat injeksi batang pada tanaman Kelapa Sawit (Elaeis

guineensis Jacq).

1.4 Target Temuan

Menemukan teknik pengendalian hama Ulat Kantong M. plana yang lebih efektif.

1.5 Kontribusi

Sebagai bahan informasi bagi perkebunan Kelapa Sawit dalam mengendalikan hama Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS).

(20)

5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kelapa Sawit 2.1.1 Klasifikasi Tanaman Kelapa Sawit

Tanaman Kelapa Sawit memiliki klasifikasi sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Keluarga : Palmaceae Subkeluarga : Cocoideae Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guineensis Jacq (Hartanto, 2011)

2.1.2 Morfologi Tanaman Kelapa Sawit

Adapun morfologi tanaman Kelapa Sawit terdiri dari bagian penting, yaitu: a. Akar (Radix)

Tanaman Kelapa Sawit mempunyai akar serabut, perakarannya sangat kuat yang keluar dari pangkal batang, tumbuh ke bawah dan samping. Berfungsi sebagai penyerap unsur-unsur hara dalam tanah dan respirasi tanaman. Akarnya juga berfungsi sebagai penyangga berdirinya tanaman. Sistem perakaran pada tanaman Kelapa Sawit adalah sebagai berikut:

1) Akar primer

Yaitu akar yang tumbuh pada pangkal batang tanaman, tumbuh secara vertikal atau mendatar, dalam jumlah besar yang hidup maupun mati untuk menunjang tanaman dan mengabsorbsi air serta hara anorganik. Pada tanaman dewasa, akar primer berdiameter antara 4-10 mm, panjangnya antara 15-20 meter ke arah horizontal, dan bisa mencapai 3 meter ke arah vertikal.

(21)

6 2) Akar sekunder

Yaitu akar yang tumbuh dari akar primer yang lebih halus dengan diameter antara 2-4 mm dan panjangnya dapat mencapai sekitar 150 cm, tumbuhnya mendatar mengarah ke atas dan mengarah kebawah. 3) Akar tertier

Yaitu akar yang tumbuh dari akar sekunder berdiameter antara 1-2 mm, arah tumbuhnya mendatar dengan panjang antara 10-15 cm. Sangat banyak terdapat di dekat permukaan tanah.

4) Akar kuarter

Yaitu akar yang tumbuh dari akar tertier berdiameter antara 0,2-0,5 mm dengan panjang rata-rata 3 cm.

b. Batang (Caulis)

Tanaman Kelapa Sawit mempunyai batang yang tumbuh tegak lurus ke atas berbentuk silinder dengan diameter antara 25-75 cm, tetapi pangkal batang bisa lebih besar lagi pada tanaman tua. Biasanya batang adalah tunggal (tidak bercabang) dan batang pada tanaman yang masih muda tidak terlihat karena masih ditutupi oleh pelepah daun. Pada ujung batang terdapat titik tumbuh yang membentuk daun-daun dan memanjangkan batang. Titik tumbuh selama empat tahun pertama tumbuh membentuk daun-daun yang pelepahnya membungkus batang, sehingga batang tidak terlihat.

c. Daun (Folium)

Daun pada tanaman Kelapa Sawit terdiri atas pangkal pelepah daun, yaitu bagian daun yang mendukung atau tempat duduknya helaian daun, tangkai daun, duri-duri, helaian anak daun, ujung daun, lidi, dan tepi daun. Daun Kelapa Sawit membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap, dan bertulang sejajar. Daun-daun membentuk satu pelepah yang panjangnya dapat mencapai 9 meter, bergantung pada umur tanaman. Helaian anak daun yang terletak di tengah pelepah daun merupakan helai daun yang terpanjang. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat. Pohon Kelapa Sawit yang tumbuh normal dan sehat, pada satu batang terdapat 40-50 pelepah daun. Apabila tidak dilakukan pemangkasan sewaktu panen, maka jumlah

(22)

7

pelepah daun dapat melebihi 60 pelepah. Pada tanah yang subur, kuncup daun cepat membuka, sehingga semakin efektif melakukan fungsinya sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis dan sebagai alat respirasi. Semakin lama proses fotosintesis berlangsung, semakin banyak bahan makanan yang dibentuk, sehingga produksi akan meningkat.

d. Bunga (Flos)

Tanaman Kelapa Sawit termasuk tanaman berumah satu, yang berarti bunga betina dan bunga jantan terdapat dalam satu tanaman yang letaknya terpisah. Tandan bunga terletak pada ketiak pelepah daun yang mulai tumbuh setelah tanaman berumur 12-14 bulan, tetapi baru bisa di panen pada umur 2,5 tahun. Bakal bunga terbentuk sekitar 33-34 bulan sebelum bunga matang (siap melaksanakan penyerbukan). Setiap rangkaian bunga muncul dari pangkal pelepah daun dan masing-masing terangkai. Bunga jantan bentuknya lonjong memanjang dengan ujung kelopak agak meruncing dan garis tengah bunga lebih kecil, sedangkan bunga betina bentuknya agak bulat dengan ujung kelopak agak rata dan garis tengah lebih besar.

e. Buah (Fructus)

Diperlukan waktu sekitar 5-6 bulan sejak penyerbukan untuk menjadi buah yang dewasa, matang, dan siap di panen. Bunga betina setelah dibuahi akan berkembang menjadi buah. Jumlah buah rata-rata 1.600 buah pertandan. Ukuran dan bentuknya bervariasi menurut posisinya dalam tandan. Secara botani buah adalah “sessile drupe” yang tertekan disekitar bijinya. Buah terdiri atas bagian-bagian berikut:

1) Kulit buah (Eksokarp)

Merupakan pelindung buah paling luar yang mula-mula berwarna putih kehijau-hijauan, kemudian berubah menjadi warna kuning.

2) Daging buah (Mesokarp)

Bagian buah yang tersusun atas air, serat, klorofil, yang selanjutnya terjadi pembentukan minyak dan karoten.

(23)

8 3) Cangkang (Endokarp)

Bagian buah yang pada awalnya tipis dan lembut, tetapi kemudian bertambah tebal dan keras serta warnanya pun berubah dari putih menjadi cokelat.

4) Inti (Endosperm)

Bagian buah yang mula-mula cair, kemudian lunak, dan akhirnya berubah menjadi padat dan agak keras (Tim bina karya tani, 2009).

2.2 Biologi dan Morfologi Ulat Kantong M. plana

Ulat Kantong (M. plana) merupakan salah satu hama yang bersifat polyphag, yakni memakan segala jenis tanaman diantaranya adalah Kelapa Sawit, kelapa, nipah, sagu, jeruk, teh, kopi, pisang, kina, dan lain-lain. Tetapi yang paling merusak pada tanaman famili Palmae (Kelapa Sawit, kelapa, palm, dan pandan). Larva M. plana memakan daun Kelapa Sawit sehingga mengakibatkan daun pohon Sawit tersebut berlubang-lubang sekitar empat hingga enam inci, selanjutnya daunnya mengering dan pelepah Sawit menjadi layu, sehingga mengakibatkan proses fotosintesis tanaman menjadi terganggu dan akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman Sawit tersebut hingga 40 %. Selain itu dampak yang ditimbulkannya adalah dapat menyebabkan tanaman Sawit mati secara perlahan dengan kondisi pohon mengering (Anonim, 2009) dalam (Nuraida dan Pariduri, 2011).

Ulat Kantong (M. plana) tergolong ke dalam ordo Lepidoptera, famili Psychidae (Borror et.al.,1996). Ulat Kantong memiliki ciri-ciri morfologi tubuh ditutupi oleh daun-daun kering berupa kantong yang berasal dari potongan-potongan daun, tangkai bunga tanaman inang, yang terdapat disekitar daerah serangan (gambar 2.1) (Nuraida dan Parinduri, 2011).

(24)

9

2.2.1 Klasifikasi Hama Ulat Kantong M. plana

Ulat Kantong (M. plana) di klasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Class : Insecta Ordo : Lepidoptera Family : Psychidae Genus : Metisa

Species : Metisa plana Walker (Borror, 1996).

Sumber : Foto Lapangan Gambar 2.1 Ulat Kantong M. plana

2.2.2 Siklus Hidup Hama Ulat Kantong M. plana a. Telur

Kopulasi terjadi di dalam kantong imago betina dengan telur yang dihasilkan sebanyak 100-300 butir selama hidupnya. Telur diletakkan dalam kantong imago betina dan menetas dalam waktu 18 hari. Telur bewarna kuning pucat dan berbentuk seperti tong yang mempunyai lapisan jorion yang halus. Telur akan berubah warna menjadi kecoklatan menjelang penetasan. Produktifitas M. plana relatif rendah jika dibandingkan dengan spesies Ulat Kantong yang lain : Mahesa corbetti rerata keperidian

(25)

10

mencapai 2000-3000 telur per betina, (Syed, 1978), Eumeta variegate ±300 telur/betina, (Yu, 1990) dan Pteroma plagiophleps ±1774 telur/betna (Howlader,1990) dalam (Susanto dkk, 2012).

b. Larva

Pembentukan kantong hampir sama pada semua instar. Setelah penetasan, instar pertama berada pada kantung pupa induk dan keluar dari bagian anterior kantung. Kemudian larva tersebut memotong jaringan dari permukaan daun kemudian dikaitkan satu sama lain dengan sutra (gambar 2.2). Seperti halnya dengan Ulat Kantung yang lain, pengenalan instar dibuat dengan mengukur lebar kapsul kepala larva. Meskipun, di lapangan, pengukuran dapat mengalami kesulitan karena larvanya tersembunyi. Dalam situasi ini, pengukuran panjang kantong dan pegamatan morfologi kantong menjadi berguna (Susanto dkk, 2012).

Ciri khas masing-masing instar adalah: instar I, permukaan kantong relatif lembut; instar II, sedikit kecil dan sekeliling potongan daun terikat dengan longgar pada bagian ujung anterior kantong; instar III, lebih besar, potongan daun-daun berbentuk persegi panjang (sampai 6 potong) terikat pada bagian ujung posterior kantong; instar IV, lebih banyak potongan daun berbentuk bulat sampai persegi panjang yang terikat dengan longgar, terlihat seperti semak; instar V, kebanyakan potongan daun yang longgar menempel ke bawah, terlihat halus dan terdapat tanda putih yang menyempit; instar VI, semua potongan daun yang longgar menempel ke bawah dan tanda putih yang melebar sampai seperampat panjang kantong; instar VII sama dengan instar VI tetapi dengan tanda putih yang lebih lebar dan lebih panjang (Susanto dkk, 2012).

Sumber : Foto Lapangan Gambar 2.2 Larva M. plana

(26)

11 c. Pupa

Dimorphisme seksual juga tercatat pada ukuran pupa (jantan lebih kecil dari betina). Pupa jantan menggantung seperti kait pada permukaan bawah daun (gambar 2.3). Waktu perkembangan pupa keseluruhan selama 25 hari (Susanto dkk, 2012).

Sumber : Foto Lapangan Gambar 2.3 Pupa M. plana d. Imago

Jantan M. plana akan menjadi imago ngengat. Ngengat Ulat Kantong mempunyai rentang sayap hingga 12-20 mm. Sayap berwarna cokelat kehitaman dan dapat hidup 1-2 hari dalam kondidi laboratorium untuk melakukan populasi. Betina Ulat Kantong dewasa tanpa sayap, dan menghabiskan seluruh hidupnya di dalam kantong. Betina dapat hidup 7 hari dan dapat menghasilkan telur sebanyak 100-300 butir serta akan mati setelah telur menetas (Susanto dkk, 2012).

Secara umum waktu yang dibutuhkan M. plana dalam menyelesaikan hidupnya sekitar 70-90 hari. Penetasan telur membutuhkan waktu 19-20 hari, masa perkembangan larva sekitar 50-60 hari, sedangkan fase pupa betina membutuhkan waktu 9-10 hari dan jantan 21 hari. Imago jantan dapat hidup 1-2 hari (gambar 2.4 dan 2.5). Terdapat perbedaan jumlah hari pada siklus hidup betina dan jantan M. plana. Jantan bisa mencapai instar 6, sedangkan betina dapat mencapai instar 7 (Susanto dkk, 2012).

(27)

12

Sumber : Susanto dkk, 2012 Sumber : Susanto dkk, 2012 Gambar 2.4 Imago Jantan M. plana Gambar 2.5 Imago Betina M. plana Untuk lebih jelasnya siklus hama Ulat Kantong dapat dilihat pada tabel 2.1 Tabel 2.1 Siklus Hidup M. plana

Stadia Lama (hari) Keterangan Telur 18 Jumlah telur 100-300 butir

Larva 50 Terdiri dari 7 instar, berada di dalam kantong Pupa 25 Menggantung pada permukaan daun bagian bawah Imago - Betina tidak memiliki sayap

Total 93 Tergantung pada lokasi dan lingkungan Sumber : Susanto dkk, 2012

2.3 Gejala dan Kerusakan Hama Ulat Kantong M. plana

Serangan yang ditimbulkan oleh M. plana pada daun Kelapa Sawit terlihat seperti terbakar. Pada larva instar awal bagian yang dimakan adalah bagian epidermis atas daun, sedangkan untuk larva instar akhir, bagian yang dimakan adalah epidermis bawah (Susanto, 2010).

Serangan Ulat Kantong dapat menyebabkan kehilangan daun tanaman Sawit mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan Ulat Kantong, akan tetapi serangan yang cenderung lebih berbahaya terjadi pada tanaman yang berumur diatas 8 tahun (gambar 2.6). Keadaan ini mungkin disebabkan oleh tanaman yang sudah lebih tua dan antar pelepah daun terjadi saling bersinggungan, sehingga memudahkan bagi Ulat Kantong untuk berpindah-pindah dari satu tanaman ke tanaman lainnya (Anonim, 2009) dalam (Nuraida dan parinduri, 2011).

(28)

13

Sumber : Foto Lapangan

Gambar 2.6 Gejala dan Kerusakan Akibat Hama Ulat Kantong M. plana

2.4 Metode Pengendalian Hama Ulat Kantong M. plana 2.4.1 Pengendalian Biologi

Aplikasi agen hayati dan konservasi musuh alami dengan penanaman tanaman berguna, seperti Cassia sp., Crotalaria usaramoensis, dan

Euphorbia heterophylla yang mempunyai peranan penting sebagai sumber

pakan bagi imago berbagai jenis serangga parastiod M. plana, antara lain

Dolichogenidea metesae (Susanto dkk, 2012).

2.4.2 Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Konsep yang diterapkan untuk mengendalikan hama UPDKS adalah Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Konsep ini tidak menerapkan pemberantasan hama sampai habis populasinya yang mana tindakan ini tidak mungkin dilaksanakan. Yang mungkin adalah mengelola sampai populasi tertentu dan tidak merugikan secara ekonomi (Susanto dan Hartanta, 2014).

Sesuai dengan Pasal 20 Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman. Pengendalian Hama Terpadu merupakan sistem penunjang pengambilan keputusan dalam memilih dan menerapkan taktik

(29)

14

pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang didasarkan pada analisis biaya/manfaat, dan pertimbangan kepentingan dari dampak pada petani (Utomo dkk, 2007).

Dalam sistem PHT, pengenalan terhadap jenis dan biologi hama sasaran diperlukan sebagai dasar penyusunan taktik pengendalian. Tindakan pengendalian hama dilaksanakan sesuai dengan hasil monitoring populasi, dan hanya dilakukan apabila populasi hama tersebut melampaui padat populasi kritis yang di tentukan, serta mengutamakan pelestarian dan pemanfaatan musuh alami yang ada didalam ekosistem Kelapa Sawit.

Sehubungan dengan besarnya potensi musuh alami UPDKS, khususnya parasitoid dan predator di perkebunan Kelapa Sawit, maka kunci keberhasilan di dalam pelaksanaan sistem pengendalian hama terpadu terhadap hama tersebut adalah mengupayakan pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alami tersebut seoptimal mungkin (Sudharto dkk, 2005).

Untuk memperjelas tentang sistem pengendalian hama terpadu (PHT), maka dapat dilihat pada gambar 2.7 berikut.

(30)

15

Tidak

Ya

Tidak Ya

Sumber : Susanto dkk, 2005

Gambar 2.7 Mekanisme Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

HAMA Faktor Lingkungan :

 Pengambat (musuh alami, dll)  pendorong

Monitoring Populasi

Padat populasi Kritis

Pengendalian Ulang ? Tindakan pengendalian ?

(31)

16 2.4.3 Pengendalian Kimiawi

Pengendalian ulat pemakan daun Kelapa Sawit (UPDKS), khusus Ulat Kantong memiliki perilaku yang khusus. Hal ini dikarenakan Ulat Kantong memiliki kantong yang menyelimutinya. Kantong tersebut berguna untuk melindungi ulat dari ancaman predator. Jadi, jika hendak melakukan pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan racun bersifat sistemik. Racun sistemik adalah racun yang diserap ke dalam jaringan tanaman yang akan bersentuhan atau dimakan oleh hama sehingga mengakibatkan keracunan bagi hama. Pengendaliannya dapat menggunakan metode injeksi batang, mist blower dan fogger (Susanto dkk, 2012).

(32)

17

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Afdeling IV Kebun Adolina PT. Perkebunan Nusantara IV. Waktu penelitian mulai bulan Mei 2016 sampai dengan Juli 2016.

3.2 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian menggunakan metode analisa deskriptif yaitu dengan mengumpulkan data-data sekunder di lokasi penelitian.

3.3 Bahan dan Peralatan

Bahan yang digunakan yaitu menggunakan data sensus efektif tanaman yang terserang Ulat Kantong (M. plana) dan membandingkannya dengan data hasil sensus ulang tanaman yang terserang setelah penginjeksian batang.

3.4 Tahapan Penelitian

Cara melakukan penelitian mulai dari: a. Sensus populasi Ulat Kantong M. plana

Sensus terdiri dari sensus global dan sensus efektif. Pohon sampel sensus global yaitu 1 pohon per hektar yang terletak di tengah – tengah luasan. Sensus global dilakukan dengan pengamatan populasi hama Ulat Kantong

M. plana pada pelepah nomor 17 pohon sampel setiap 1 minggu sekali.

Adapun letak pohon sampel sensus global dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut :

(33)

18

Sumber : Data Kebun

Gambar 3.1 Letak Pohon Sampel Sensus Global

Apabila hasil sensus global didapat hasil padat populasi kritis (≥ 3 ekor per pelepah) maka dilakukan sensus efektif. Cara kerja sensus efektif sama dengan sensus global dan dilaksanakan untuk menentukan perlu atau tidaknya dilakukan tindakan pengendalian berdasarkan jumlah rata – rata Ulat Kantong M. plana hasil sensus efektif. Banyaknya pohon sampel sensus efektif yaitu 5 pohon per hektar yang terletak menyebar di tengah – tengah luasan. Adapun letak pohon sampel sensus efektif dapat dilihat pada gambar 3.2 berikut :

Sumber : Data Kebun

(34)

19

b. Aplikasi insektisida dengan metode injeksi

Bahan aktif insektisida adalah asefat 75% dengan merk dagang Manthene 75 SP.

Tahap – tahap mengerjakannya :

1) Persiapan alat: bor mekanis dan mata bor ukuran 1,5 – 13 mm, ember, kayu pengaduk dan suntik ukuran 50 ml (gambar 3.3).

Sumber : Foto Lapangan

Gambar 3.3 Alat – Alat Injeksi Batang

2) Kemudian bahan-bahan dicampur kedalam ember: air (1,4 liter) + insektisida sebanyak 1 kg lalu aduk merata (untuk 50 pohon) (gambar 3.4).

Sumber : Foto Lapangan

Gambar 3.4 Campuran Bahan Injeksi Batang

3) Selanjutnya mempersiapkan potongan pelepah Kelapa Sawit untuk penutup lubang bekas bor di batang Kelapa Sawit (gambar 3.5).

Sumber : Foto Lapangan

(35)

20

4) Tenaga kerja sebanyak 2 orang / tim, kemudian berjalan kesetiap pohon (HK = 150 pohon).

5) Orang Pertama melakukan pengeboran dengan titik pengeboran ±1 m dari pangkal pohon, dengan sudut kemiringan 45º kedalaman 20 – 30 cm (gambar 3.6).

Sumber : Foto Lapangan

Gambar 3.6 Pengeboran Batang Kelapa Sawit

6) Setelah dibor kemudian orang kedua bertugas menyuntikkan insektisida kedalam lobang boran menggunakan suntik sebanyak 40 ml dan kemudian lobang ditutup dengan potongan pelepah Kelapa Sawit (gambar 3.7).

Sumber : Foto Lapangan

Gambar 3.7 Menyuntikkan Inseksitisida

7) 7 hari kemudian, hasil sudah mulai terlihat dan kembali dilakukan sensus ulang.

Dari hasil sensus ulang tersebut diketahui persen kematian hama Ulat Kantong (M. plana). Dan kemudian, data sensus efektif tanaman yang terserang Ulat Kantong (M. plana) dibandingkan dengan data hasil sensus ulang tanaman. Setelah di dapatkan data hasil perbandingan, kemudian dapat

(36)

21

di tarik kesimpulan apakah metode injeksi batang dalam mengendalikan hama Ulat Kantong (M. plana) menunjukkan pengaruh terhadap tingkat serangan hama Ulat Kantong (M. plana).

3.5 Pengamatan dan Indikator Pengamatan terdiri dari :

Jumlah tanaman yang terserang hama Ulat Kantong M. plana.

Jumlah populasi hama Ulat Kantong M. plana pada sensus global.

Jumlah populasi hama Ulat Kantong M. plana pada sensus efektif.

Jumlah populasi hama Ulat Kantong M. plana pada sensus ulang .

Pengamatan yang dilakukan yaitu melihat perkembangan awal tingkat serangan hama berupa data sensus global dan efektif tanaman yang terserang Ulat Kantong (M. plana) dan membandingkan pengaruh terhadap metode injeksi batang dengan melihat data hasil sensus ulang tanaman. Indikator hasil pengamatan yaitu melihat efektivitas tingkat serangan setelah adanya aplikasi dengan metode injeksi batang.

3.6 Bagan Alur Penelitian

Penetapan Data – data Pengamatan Sekunder

Mengumpulkan data sensus awal tanaman yang terserang hama Ulat Kantong (M. plana) dan hasil sensus ulang setelah penginjeksian batang

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan Pengamatan Data

Mulai

(37)

22 3.7 Jadwal Penelitian

No Jenis Kegiatan

Bulan dan Minggu Ke-

Mei Juni Juli September

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Pembuatan usulan penelitian 2 Pembuatan surat izin penelitian 3 Balasan surat izin penelitian dari

perusahaan

4 Pengumpulan dan pengamatan

data

5 Penyusunan laporan penelitian

(38)

Gambar

Gambar 2.6 Gejala dan Kerusakan Akibat Hama Ulat Kantong M. plana
Gambar 2.7  Mekanisme Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
Gambar 3.1 Letak Pohon Sampel Sensus Global
Gambar 3.6 Pengeboran Batang Kelapa Sawit

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan ulat kantong ( Metisa plana Walker) terhadap umur tanaman kelapa sawit di Kebun Matapao PT Socfin Indonesia pada

Pengamatan terhadap tingkat serangan hama pada tanaman kacang panjang dilakukan pada 10 tanaman sampel untuk menentukan persentase daun terserang dan intensitas serangan..

Hasil pengamatan yang telah dilakukan untuk mengetahui jumlah mortalitas hama ulat kantung ( Metisa plana Walker) dengan pemberian jamur Bauveria bassiana dengan.. tingkat kerapatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan ulat kantong ( Metisa plana Walker) terhadap umur tanaman kelapa sawit di Kebun Matapao PT Socfin Indonesia pada

Hasil pengamatan yang telah dilakukan untuk mengetahui jumlah mortalitas hama ulat kantung ( Metisa plana Walker) dengan pemberian jamur Bauveria bassiana dengan tingkat kerapatan

Pengendalian hama kumbang tanduk ( O. rhinoceros) secara manual dilakukan dengan cara pengutipan larva dan kumbang tanduk dengan alat seperti parang, ember, karung

Penyusunan Tugas Akhir yang berjudul Kajian Biaya Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) secara kimiawi pada tanaman belum menghasilkan kelapa sawit

Dalam penelitian ini penulis mengamati Efektivitas Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) dengan Kimiawi (Feromone) dan Manual (OrycNet) pada areal tanaman belum