II. TINJAUAN PUSTAKA. dalam perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang.

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Peranan Produksi Pertanian

Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting peranannya di dalam perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas dari peranan sektor pertanian di dalam menampung penduduk serta memberikan kesempatan kerja kepada penduduk, menciptakan pendapatan nasional dan menyumbangkan pada keseluruhan produk. Berbagai data menunjukkan bahwa di beberapa negara yang sedang berkembang lebih 75% dari penduduknya berada di sektor pertanian dan lebih 50% dari pendapatan nasionalnya dihasilkan dari sektor pertanian serta hampir seluruh ekspornya merupakan bahan pertanian (Todaro, 2000).

Pembangunan dan modernisasi pertanian di negara-negara yang sedang berkembang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan produksi, peningkatan pendapatan petani dan menyediakan pasar bagi produksi sektor industri, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan ekspor dan menciptakan tabungan bagi pembangunan.

Pembangunan pertanian dan pedesaan sesungguhnya mengandung berbagai dilema. Di satu pihak produksi dan produktivitas pertanian mesti ditingkatkan. Peningkatan produksi dan produktivitas ini merupakan keharusan karena merupakan landasan dan prasyarat bagi proses industrialisasi. Seandainya tingkat pertumbuhan sektor pertanian yang tinggi itu dapat dicapai, perubahan struktur produksi yang menurunkan tingkat produktivitas relatif itupun tidak akan bisa dihindari kecuali jika struktur kesempatan kerja juga dapat diubah mengikuti

(2)

perubahan struktur produksi tersebut. Sementara itu, peningkatan produktivitas mau tidak mau mesti dilakukan dengan mempergunakan jenis teknologi yang lebih efisien, baik teknologi biologis, teknologi mekanis maupun teknologi sosial. Akan tetapi teknologi ini tentu mengakibatkan penghematan tenaga kerja di sektor yang bersangkutan.

Dalam usaha pertanian, produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup panjang dan penuh resiko. Waktu yang dibutuhkan tidak sama tergantung pada jenis komoditas yang diusahakan. Tidak hanya waktu, kecukupan faktor produksi pun turut sebagai penentu pencapaian produksi. Dari segi waktu, usaha perkebunan membutuhkan periode yang lebih panjang dibandingkan dengan tanaman pangan dan sebagian tanaman hortikultura. Masing-masing jenis tanaman juga mempunyai periodisasi yang berbeda satu sama lain. Proses produksi baru bisa berjalan bila persyaratan yang dibutuhkan dapat dipenuhi, persyaratan ini lebih dikenal dengan faktor produksi. Faktor produksi terdiri dari empat komponen, yaitu tanah, modal, tenaga kerja, dan skill atau manajemen.

Masing-masing faktor mempunyai fungsi yang berbeda dan saling terkait satu sama lainnya. Kalau salah satu faktor tidak tersedia, maka proses produksi tidak akan berjalan, terutama tiga faktor tersebut diatas. Faktor-faktor produksi tersebut merupakan sesuatu yang mutlak harus tersedia yang akan lebih sempurna kalau syarat kecukupan pun dapat dipenuhi. Faktor produksi modal sebagian dialokasikan untuk menyediakan input produksi fisik, yaitu bibit, pupuk dan pestisida. Input produksi tersebut merupakan salah satu unsur penentu kegiatan

(3)

produksi, karena tanaman membutuhkannya untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kegiatan produksi merupakan kegiatan dalam lingkup yang agak sempit dan karenanya membahas aspek mikro. Dalam mempelajari aspek ini, peranan hubungan input produksi dan output (hasil atau produksi) mendapatkan perhatian utama. Peranan input bukan saja dapat dilihat dari segi macamnya atau tersedianya dalam waktu yang tepat, tetapi juga dapat ditinjau dari segi efisiensi penggunaannya. Karena faktor-faktor inilah yang maka terjadi senjang produktivitas (yield gap) antara produktivitas yang seharusnya dan produktivitas yang dihasilkan oleh petani. Dalam banyak kenyataan, sepanjang produktivitas ini terjadi karena adanya faktor yang sulit untuk diatasi manusia (petani) seperti adanya teknologi yang tidak dapat dipindahkan dan adanya perbedaan lingkungan, misalnya iklim. Karena kedua faktor ini sangat sulit diatasi oleh petani, maka perbedaan hasil yang disebabkan oleh kedua faktor ini menyebabkan senjang produktivitas dari hasil eksperimen dan dari potensial suatu usaha tani (Soekartawi, 1993).

Menurunnya produksi pertanian di perdesaan mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kondisi ini harus dirubah dengan cara pendekatan pembangunan pertanian yang berbasis perdesaan. Pembangunan nasional yang cenderung memfavoritkan pembangunan perkotaan sebagai satu-satunya mesin pertumbuhan (engine of development) yang handal harus direvisi kembali. Pembangunan perdesaan harus mulai didorong guna mengatasi permasalahan pembangunan yang terjadi. Meskipun demikian, pendekatan yang selama ini memisahkan

(4)

pembangunan kawsan perdesaan dengan perkotaan harus ditinjau kembali. Hal ini disebabkan terdapatnya keterkaitan dan ketergantungan baik secara fungsional maupun secara keruangan antara kawsan perdesaan dan perkotaan.

2.2. Tanaman Kopi

Hingga saat ini belum diketahui dengan pasti sejak kapan tanaman kopi dikenal dan masuk dalam peradaban manusia. Menurut catatan sejarah, tanaman ini mulai dikenal pertama kali di benua Afrika tepatnya di Ethiopia. Pada mulanya tanaman kopi belum dibudidayakan secara sempurna oleh penduduk, melainkan masih tumbuh liar di hutan-hutan dataran tinggi ( Najiyati dan Danarti, 1997).

Kopi memiliki istilah yang berbeda-beda. Pada masyarakat Indonesia lebih akrab dengan sebutan kopi di Inggris dikenal coffee, Prancis menyebutnya cafe, Jerman menjulukinya kaffee, dalam bahasa Arab dinamakan quahwa. Sejarah kopi diawali dari cerita seorang penggembala kambing Abessynia yang menemukan tumbuhan kopi sewaktu ia menggembala, hingga menjadi minuman bergengsi para aristokrat di Eropa. Bahkan oleh Bethoven menghitung sebanyak 60 biji kopi untuk setiap cangkir kopi yang mau dinikmatinya ( Tapanulli Coffea, 2006 ).

Kopi merupakan tanaman perkebunan / industri berupa semak yang asalnya tumbuh liar di hutan dataran tinggi Ethiopia, Afrika. Dari Ethiopia, tanaman kopi menyebar ke negara Arab, Persia hingga tanaman ini tumbuh subur di negara Yaman. Di Indonesia, tanaman kopi diperkenalkan pertama kali oleh VOC pada periode tahun 1696-1699 dan ditanam di sekitar Jakarta. Perkebunan kopi berskala besar menyebar ke daerah Lampung, Sumatra Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bali, Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

(5)

Ada dua spesies dari tanaman kopi yaitu Arabika adalah kopi tradisional dan dianggap paling enak rasanya dan Robusta memiliki kafein yang lebih tinggi dapat dikembangkan dalam lingkungan di mana Arabika tidak akan tumbuh, dan membuatnya menjadi pengganti Arabika yang murah. Robusta biasanya tidak dinikmati sendiri, dikarenakan rasanya yang pahit dan asam. Robusta kualitas tinggi biasanya digunakan dalam beberapa campuran espresso. Perdagangan kopi modern lebih spesifik tentang dari mana asal mereka, melabelkan kopi atas dasar negara, wilayah, dan kadangkala ladang pembuatnya. Satu jenis kopi yang tidak biasa dan sangat mahal harganya adalah sejenis robusta di Indonesia yang dinamakan kopi luwak. Kopi ini dikumpulkan dari kotoran luwak, yang proses pencernaannya memberikan rasa yang unik.

Pengelola perkebunan kopi terbesar di Indonesia adalah dikelola oleh perkebunan rakyat (PR) yang luasnya mencapai 94,2% dari total luas tanaman kopi di Indonesia (Hiraw, 2006). Dalam garis besarnya ada tiga golongan kopi, yakni : 1. Golongan Arabika

2. Golongan Liberika

3. Golongan Canephora (varietas Robusta)

Golongan Arabika adalah golongan yang paling dahulu diusahakan di Indonesia, kemudian menyusul golongan Liberika dan yang terakhir adalah Robusta ( Anonimous, 2003).

Golongan Arabika berasal dari Etiopia dan Albessinia. Golongan ini yang pertama kali dikenal dan dibudidayakan oleh manusia, bahkan merupakan golongan kopi yang paling banyak diusahakan oleh manusia sampai akhir abad XIX. Setelah abad XIX dominasi kopi Arabika menurun, karena ternyata kopi ini

(6)

sangat peka terhadap penyakit HV (Hemeleia Vastatrikx), terutama didataran rendah.

Golongan Liberika berasal dari Angola dan masuk ke Indonesia sejak tahun 1965. Meskipun sudah lama masuk ke Indonesia, tetapi hingga saat ini jumlahnya masih terbatas karena kualitas buah dan rendemennya rendah.

Golongan Robusta berasal dari Kongo dan masuk ke Indonesia pada tahun 1900. Karena mempunyai sifat yang lebih unggul, kopi ini sangat cepat berkembang. Bahkan kopi ini merupakan jenis kopi yang mendominasi perkebunan Indonesia saat ini (Najiyati dan Danarti, 1997).

Menurut Najiyati dan Danarti (1997) di dunia perdagangan, dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan hanya kopi Arabika, Robusta, dan Liberika. Pengolongan kopi tersebut umumnya didasarkan pada spesies, kecuali kopi Robusta. Kopi robusta bukan merupakan nama spesies karena kopi ini merupakan keturunan dari beberapa spesies kopi, terutama Coffea canephora.

Menurut Ridwansyah, 2003, buah kopi dibagi atas tiga bagian, yaitu : 1. lapisan kulit luar (excocarp)

2. lapisan daging (mesocarp) 3. lapisan kulit tanduk (endocarp).

Buah kopi pada umumnya mengandung 2 butir biji, tetapi kadang-kadang mengandung hanya sebutir saja. Pada kemungkinan yang pertama biji-bijinya mempunyai bidang datar (perut biji) dan bidang cembung (punggung biji). Ada kemungkinan yang kedua biji kopi berbentuk bulat panjang (kopi jantan).

(7)

Komposisi kimia biji kopi berbeda-beda, tergantung tipe kopi, tanah tempat tumbuh dan pengolahan kopi ( Ridwansyah, 2003 ).

2.3. Usahatani

Pembangunan pertanian memiliki arti penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani baik melalui penerimaan sebagai nilai tambah dari proses lanjutan secara berkesinambungan, penciptaan kesempatan kerja yang memadai di pedesaan, maupun peningkatan ekspor non migas (Sutawi, 2002).

Tujuan utama dari pendekatan pembangunan pertanian secara nasional adalah mengelola usahatani dengan maksud untuk mempertinggi penghasilan keluarga petani guna meningkatkan taraf hidupnya baik yang bersifat materiil maupun sosial budaya (Tohir, 1991).

Pembangunan pertanian menuju usahatani yang tangguh dimaksudkan sebagai upaya mewujudkan usahatani masa depan yang tegar dalam posisinya. Usahatani sebagai organisasi dari alam, kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian, dimana usahatani yang semata-mata menuju kepada keuntungan terus menerus, dan bersifat komersiil (Bachtiar Kivia, 1980 dalam Hernanto, 1996).

Usahatani sebagai organisasi harus ada yang diorganisasi dan yang mengorganisasi, ada yang memimpin dan ada yang dipimpim, yang mengorganisasi usahatani adalah faktor-faktor produksi yang dikuasai atau dapat dikuasai (Hernanto, 1996).

(8)

Menurut Soekarwati et al. (1986) dalam proses produksi terdapat biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh hasil maksimal. Biaya produksi itu dapat dikategorikan sebagai berikut :

(1) Biaya Tetap (fixed Cost)

Biaya yang tidak ada kaitanya dengan jumlah barang yang diproduksi. Biaya tetap tidak habis digunakan dalam satu masa produksi. Contohnya : sewa tanah dan pajak.

(2) Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)

Biaya yang berubah apabila ada sesuatu usahanya berubah. Biaya ini ada apabila ada sesuatu barang yang diproduksi. Contohnya : biaya Saprodi. (3) Biaya Total (Total Cost)

Keseluruhan biaya tetap produksi yang diperoleh dari penjumlahan total biaya tetap dan biaya variabel.

Biaya total dapat dirumuskan sebagai berikut : TB = TBT + TBV

Keterangan :

TB = Total Biaya TBT = Total Biaya Tetap TBV = Total Biaya Variabel

Pengeluaran usaha tani (Total Farm Expensive) adalah nilai semua masukan yang habis dipakai atau dikeluarkan didalam proses produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja petani. Pengeluaran usahatani mencakup pengeluaran tunai dan tidak tunai.

(9)

Menurut Hermanto (1996) pengeluaran usahatani (farm expenses) adalah semua biaya operasional dengan tanpa memperhitungkan bunga dari modal usahatani dan nilai kerja pengelola usahatani. Didalam pengeluaran usahatani meliputi jumlah tenaga kerja, pembelian saprodi, pengeluaran lain-lain (selamatan), penyusutan alat. Perhitungan biaya penyusutan dipengaruhi oleh besarnya kemungkinan untuk menentukan nilai modal tetap yang dipergunakan pada awal dari akhir tahun (Hadisapoetro, 1983).

Pendapatan terdiri dari pendapatan kotor dan pendapatan bersih. Menurut Soekartawi et al. (1986) pendapatan kotor adalah pendapatan yang diperoleh dari usahatani selama satu periode usahatani, yang diperhitungkan dari hasil penjualan dan pertukaran. Sedangkan Pendapatan bersih usahatani (Net Farm Income) merupakan ukuran keuntungan yang dapat dipakai untuk membandingkan beberapa alternatif usahatani.

Pendapatan dalam usaha tani dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut :

NR = TR - TC TR = P x Y TC = TFC + TVC Keterangan :

NR = Net Revenue (Pendapatan)

TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya)

P = Harga Tiap Satuan Produk Y = Total Produk

TFC = Total Fixed Cost (Total Biaya Tetap) TVC = Total Variable Cost (Total Biaya Variabel)

(10)

Menurut Bunasor (1997) keberhasilan produksi usahatani pada akhirnya dinilai dari besarnya pendapatan (Net Return) yang diperoleh dari usahatani. Pendapatan petani menurut Djuwari (1993) adalah total dari hasil penjualan termasuk yang tidak dijual, dikurangi dengan seluruh biaya yang dikeluarkan petani, yang dimaksud disini adalah pengeluaran untuk sewa tanah (tanah milik sendiri dan milik orang lain), pengeluaran yang digunakan untuk membeli sarana produksi, pengeluaran untuk membayar upah tenaga kerja (tenaga kerja keluarga/tenaga kerja dari luar), dan pengeluaran lain-lain berupa ipeda, iuran air, sewa peralatan dan selamatan.

Dalam analisis usahatani ada dua pendapatan yaitu : a. Pendapatan Kotor Usahatani (Gross Farm Income)

Pendapatan Kotor Usahatani adalah nilai dari total hasil yang diperoleh dikalikan dengan harga persatuan berat yang berlaku. Penerimaan yang diperoleh berhubungan dengan hasil yanh dijual. Semakin banyak hasil yang dijual maka semakin banyak pula penerimaan yang diperoleh (Mubyarto, 1991).

b. Pendapatan Bersih (Net Farm Income)

Menurut Gujarati (1978) pendapatan usahatani adalah total penerimaan atau total revenue dikurangi total biaya produksi, sehingga merupakan pendapatan bersih. Menurut Soekarwati et al. (1986), keuntungan bersih usahatani merupakan selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total. Secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut :

(11)

Keterangan :

PB = Pendapatan Usahatani atau keuntungan (Rp/ha) PK = Total Penerimaan (Rp/ha)

TBP = Total Biaya Produksi (Rp/ha)

2.4. Harga dan Ekspor Kopi Indonesia

Harga merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam pemasaran suatu produk karena harga adalah satu dari empat bauran pemasaran. Harga adalah suatu nilai tukar dari produk barang maupun jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter. Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu usaha karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh usaha dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa.

Menetapkan harga terlalu tinggi akan menyebabkan penjualan akan menurun, namun jika harga terlalu rendah akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh dalam usaha. Harga kopi yang dipasarkan di tingkat petani pada umumnya dalam bentuk biji basah maupun biji kering yang siap digiling menjadi bubuk kopi. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga kopi ditingkat petani adalah kualitas kopi dan jenis kopi yang dijual kepasaran.

Kopi adalah sejenis minuman, biasanya dihidangkan panas, dan dipersiapkan dari biji dari kopi yang dipanggang. Saat ini kopi merupakan komoditas nomor dua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Kopi merupakan sumber utama kafein, keuntungan dan kerugian dari mengonsumsi kopi telah dan akan terus dipelajari dan didiskusikan oleh banyak ilmuwan di dunia. Pada tahun 1998-2000 total produksi kopi dunia sudah

(12)

mencapai 6,7 juta ton, dan pada tahun 2010 hampir mencapai 7 juta ton (dari FAO), namun pada tahun 2011 produksi kopi di Simalungun sudah mencapai 8.439 ton.

Pertumbuhan ekspor dunia dan Indonesia sedang mengalami penurunan, tetapi penurunan Indonesia lebih tinggi dibandingkan penurunan dunia. Vietnam muncul sebagai negara pengekspor dengan tingkat pertumbuhan ekspor positif, seperti halnya negara-negara maju. Sedangkan negara-negara pengekspor lain, seperti Brazil, Kolumbia, El Salvador dan Meksiko juga sedang mengalami penurunan pertumbuhan ekspor. Pengekspor dengan tingkat pertumbuhan ekspor positif, seperti halnya negara-negara maju.

Pertumbuhan negatif ekspor kopi Indonesia terjadi karena adanya kelemahan pada komposisi produk, distribusi pasar, dan daya saing. Indonesia belum memanfaatkan jenis produk dan negara pengimpor yang sedang tumbuh permintaannya, yaitu kopi olahan, disamping kalah bersaing dengan negara pengekspor lain bila harga kopi mengalami penurunan. Dalam hal nilai tambah, industri kopi bubuk memberikan nilai tambah tertinggi yang mencapai Rp. 318.9 miliar atau 43,5% dari total nilai tambah seluruh industri pengolahan kopi, kemudian diikuti oleh industri kopi Arabika pada urutan kedua dan industri kopi Robusta pada urutan ketiga masing-masing dengan nilai tambah sebesar Rp. 226,7 miiliar dan Rp. 105 milliar (Ipard, 2004).

Pada musim panen kopi yang berlangsung di daerah Sumatera Selatan, harga biji kopi kering paling tinggi Rp 4.050 untuk kualitas terbaik. Kopi kualitas lebih rendah dihargai Rp 3.700-Rp 3.800 per kilogram ( Kompas, 2004 ).

(13)

Indonesia adalah negara kedua terbesar setelah Vietnam sebagai pengekspor green beans ke Inggris pada tahun 1999. Pesaing utama Indonesia adalah : Vietnam, Columbia, Brazil, Jerman, Kenya, Guatemala, Uganda dan Costa Rica. Untuk roasted Indonesia tahun 1999 mengekspor hanya 100 karung. Untuk soluble, Indonesia menduduki peringkat ke 13 dengan negara pesaing adalah : Jerman, Belanda, Equador, Perancis, Columbia, China, Brazil, Korea Selatan, Spanyol, Nicaragua dan Denmark ( Djadglu, 2006 ).

Volume ekspor kopi Indonesia selama tahun 2004 naik dari sekitar 270.000 ton pada tahun 2003 menjadi 280.000 ton pada 2004, menyusul mulai membaiknya harga kopi dunia dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan volume ekspor kopi terutama terdorong oleh mulai membaiknya harga kopi Indonesia di pasar dunia yang sebelumnya sempat terpuruk akibat melonjaknya

pasokan kopi ke pasar dunia.

Sebagai negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam, Indonesia mampu memproduksi sedikitnya 748 ribu ton atau 6,6 % dari produksi kopi dunia pada tahun 2012. Luas lahan perkebunan kopi di Indonesia mencapai 1,3 juta hektar dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan luas lahan perkebunan kopi arabika mencapai 0,30 ha. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat ketika membuka Seminar dan Pameran Kopi Nusantara 2013 di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian di Jakarta.

Pada tahun 2013 Produktivitas tanaman kopi di Indonesia baru mencapai 700 kg biji kopi/ha/tahun untuk Robusta dan 800 Kg biji kopi/ha/Tahun untuk Arabika. Sedangkan produktivitas negara tetangga seperti Vietnam telah

(14)

mencapai lebih dari 1.500 kg/ha/tahun. Di samping itu, Indonesia juga memiliki berbagai jenis kopi specialty yang dikenal di dunia seperti Gayo Coffee, Mandailing Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee dan juga Luwak Coffee dengan rasa dan aroma khas sesuai indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.

2.5. Studi Terdahulu

Panjaitan (2008), melakukan penelitian tentang factor-faktor yang mempengaruhi produksi kopi di kabupaten Dairi. Metode yang digunakan adalah metode linier berganda dengan menggunakan sampel sebanyak 100 petani pada sentra produksi kopi di kabupaten Dairi. Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi kopi di kabupaten Dairi secara signifikan dipengaruhi oleh luas lahan, pengalaman bertani, waktu kerja dan penggunaan pestisida. Nilai koefisien determinasi (R2) adalah sebesar 0.979, berarti bahwa luas lahan, pengalaman

bertani, waktu kerja dan penggunaan pestisida mampu menjelaskan variasi produksi kopi di Kabupaten Dairi sebesar 97.9%. Juga diperoleh kesimpulan bahwa koefisien (elastisitas) luas lahan dan waktu kerja mempunyai nilai yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan koefisien (elastisitas) pengalaman bertani, penggunaan pestisida dan pupuk. Oleh karena itu luas lahan dan waktu kerja merupakan faktor yang memberikan kontribusi yang lebih besar dalam produksi kopi di kabupaten Dairi. Juga diperoleh dari hasil analisis pada penelitian ini, bahwa harga kopi di tingkat petani menjadi faktor utama rendahnya pendapatan petani kopi. Yang memainkan peranan harga kopi di tingkat petani adalah pedagang pengumpul, sehingga harga kopi di tingkat petani kopi di Kabupaten

(15)

Dairi tidak sesuai dengan harga pasaran kopi. Akibatnya petani tidak berharap banyak dari tanaman kopi tersebut.

Nainggolan (2007) melakukan penelitian terhadap factor-faktor yang mempengaruhi permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data time series tahun 1985–2005, yang bersumber dari BPS Sumatera Utara, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara dan dianalisis dengan menggunakan metode Ordinary Least Squarer (OLS) dengan menggunakan Model Koyck (model ekspektasi). Berdasarkan hasil estimasi, penelitian ini menemukan bahwa faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara ialah harga kopi domestik, harga ekspektasi kopi domestik, harga gula dan pendapatan perkapita pada tingkat kepercayaan 95% dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 96,91%. Secara parsial hasil analisis menunjukkan bahwa harga kopi domestik berpengaruh negatif terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara, harga teh (barang substitusi) berpengaruh positif terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara, harga gula (barang komplementer) berpengaruh negatif terhadap permintaan komoditit kopi di Sumatera Utara dan pendapatan perkapita berpengaruh positif terhadap permintaan komoditi kopi Sumatera Utara, sementara itu harga ekspektasi kopi domestik berpengaruh negatif terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara, artinya jika harga ekspektasi turun maka permintaan komoditi kopi oleh konsumen akan meningkat.

Penelitian pengaruh luas lahan, waktu kerja, jumlah pekerja, pupuk, pestisida dan bibit/benih terhadap produksi padi di Kabupaten Aceh Tenggara. Selain itu, penelitian juga untuk mengetahui faktor apa yang paling dominan

(16)

mempengaruhi produksi padi di Aceh Tenggara (Desky, 2007). Metode yang digunakan untuk menganalisis data penelitian adalah model linier regresi berganda. Data yang digunakan berupa data primer dalam bentuk cross-secsional yang dikumpulkan melalui kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial varibel luas lahan, waktu kerja dan jumlah pekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi padi. Untuk variabel pupuk dan benih walaupun positif namun tidak signifikan mempengaruhi produksi padi. Secara simultan variabel-variabel yang diobservasi berpengaruh signifikan terhadap produksi padi. Variasi kemampuan variabel observasi dalam menjelaskan produksi padi di Kabupaten Aceh Tenggara sebesar 73.6 persen, sisanya sebesar 26.4 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.

2.6. Kerangka Pemikiran

Luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha, dan skala usaha ini pada akhirnya akan mempengaruhi efisien atau tidaknya suatu usaha pertanian. Seringkali dijumpai makin luas lahan yang dipakai sebagai usaha pertanian akan semakin tidak efisienlah lahan tersebut. Sebaliknya pada luasan lahan yang sempit, upaya pengusahaan terhadap penggunaan faktor produksi semakin baik, penggunaan tenaga kerja tercukupi dan tersedianya modal juga tidak terlalu besar, sehingga usaha pertanian seperti ini sering lebih efisien. Meskipun demikian, luasan yang terlalu kecil cenderung menghasilkan usaha yang tidak efisien pula (Soekartawi, 1993).

(17)

Faktor sosial ekonomi petani sangat berpengaruh terhadap pendapatan petani. Seperti diketahui bahwa petani lebih mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hal ini akan mempengaruhi semua keputusannya untuk berusahatani. Faktor sosial petani seperti umur, tingkat pendidikan dan lamanya berusahatani, akan mempengaruhi petani dalam mengambil keputusan apakah mereka akan menggunakan inovasi-inovasi dalam mengusahakan usahataninya atau tetap berpedoman pada cara lama yang sudah biasa mereka lakukan.

Sedangkan faktor ekonomi petani seperti jumlah tanggungan, curahan tenaga kerja, modal dan luas lahan akan mempengaruhi petani dalam hal membuat keputusan mengenai apakah dia bertani sebagai cara hidup atau untuk memperoleh keuntungan. Jika petani kopi mengusahakan usahatani kopinya hanya sebagai cara hidup maka dia tidak akan terlalu memikirkan bagaimana cara mengembangkan usahataninya sehingga menghasilkan produksi yang tinggi yang nantinya akan memberikan keuntungan bagi dirinya. Petani ini hanya mengusahakan usahataninya secara sederhana, asalkan dia dapat menutupi kebutuhan hidupnya maka dia tidak akan berusaha untuk mengembangkan usahataninya. Namun, jika petani ingin memperoleh keuntungan maka dia akan berusaha untuk meningkatkan produksi dan kualitas dari usahatani kopi miliknya. Petani kopi memperoleh pendapatan bersih dari hasil penjualan kopi dikurangi semua biaya yang dikeluarkan selama berusahatani kopi. Dari hasil pendapatan bersih petani ini, akan dianalisis kelayakan usahatani kopi miliknya. Setelah analisis dilakukan maka dapat didefinisikan apakah usahatani kopi di daerah penelitian layak atau tidak diusahakan. Usahatani kopi dikatakan layak

(18)

apabila usahatani ini dapat mencerminkan kesejahteraan hidup petani kopi dan keluarganya.

Topografi lahan menggambarkan penggunaan lahan pertanian yang didasarkan pada tinggi tempat. Untuk tanah-tanah di Indonesia, pembagian lahan menurut tinggi tempat (topografi) sering dikategorikan sebagai lahan dataran pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. Pembagian klasifikasi menurut topografi ini juga menggambarkan macam usaha pertanian yang diusahakan oleh penduduk bertempat tinggal di lokasi itu (Soekartawi, 1993).

Kesuburan lahan pertanian juga menentukan produktivitas tanaman. Lahan yang subur akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dari pada lahan yang tingkat kesuburannya rendah. Kesuburan lahan pertanian biasanya berkaitan dengan struktur dan tekstur tanah, struktur dan tekstur tanah ini pada akhirnya juga menentukan macam tanah, misalnya tanah liat, grumosol, alluvial dan sebagainya.

Faktor produksi terdiri dari 4 (tempat) jenis, yaitu luas lahan, tenaga kerja, modal dan penggunaan pupuk. Faktor yang mempengaruhi pendapatan petani diasumsikan terdiri dari 2 (dua) faktor, yaitu jumlah produksi dan harga jual. Hubungan faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan diasumsikan dengan menggunakan fungsi produksi Douglas. Fungsi produksi Cobb-Douglas digunakan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap pendapatan kopi di Kabupaten Simalungun.

Produksi dan pendapatan petani adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Produksi kopi yang tinggi akan meningkatkan pendapatan petani

(19)

kopi, dan sebaliknya jika produksi rendah maka tingkat pendapatan juga akan rendah. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian mengenai karakteristik sosial ekonomi petani kopi yang mempengaruhi cara mereka berusahatani kopi, dimulai dari penanaman kopi hingga pengolahan kopi yang sudah dipanen. Selain itu perlu juga dipertimbangkan mengenai input-input yang digunakan petani kopi dalam mengusahakan tanaman kopinya. Input-input yang digunakan oleh petani kopi harus digunakan secara efektif dan efisien, karena input ini merupakan biaya, yang nantinya akan mempengaruhi pendapatan petani kopi. Dalam menggunakan input petani biasanya dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonominya.

Perkebunan kopi rakyat semakin berkembang dewasa ini. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya petani yang mengganti tanaman mereka menjadi kopi. Akan tetapi, perluasan perkebunan kopi rakyat ini tidak diikuti dengan perkembangan pengolahan kopi. Perkebunan rakyat masih menggunakan cara tradisional (hanya mengandalkan tenaga manusia), sehingga kualitas kopi yang dihasilkan pun pada umumnya lebih rendah dari kualitas kopi perkebunan besar lainnya. Hal ini turut mempengaruhi harga kopi petani rakyat, dimana harga kopi petani lebih rendah.

Salah satu pendekatan untuk melakukan analisis fungsi produksi adalah melakukan estimasi langsung untuk mendapatkan parameter dari fungsi produksi. Dimana fungsi produksi menggambarkan hubungan antara input dan output dan bentuk fungsi produksi yang umum digunakan adalah fungsi Cobb Douglas, yaitu : Q = a . LLβ1 . TKβ2 . JMβ3 . PPβ4

(20)

Dimana : Q = Total Produksi Kopi (kg/bulan) LL = Luas Lahan (m2)

TK = Jumlah tenaga Kerja JM = Jumlah Modal (Rp/bulan) PP = Penggunaan Pupuk (kg/bulan).

a = konstanta

β1, β2, β3, β4 = Koefisien regresi

Fungsi produksi di atas dapat diestimasi dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Dengan demikian fungsi produksi tersebut adalah : Y1 = f(MD, TK, JM, PL)

2.7. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah:

1. Luas lahan, tenaga kerja, modal dan penggunaan pupuk berpengaruh terhadap produksi kopi di Kabupaten Simalungun.

2. Faktor sosial (tingkat pendidikan, umur dan lama berusaha tani), jumlah produksi dan harga jual berpengaruh terhadap pendapatan petani kopi di Kabupaten Simalungun.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :