Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository

300 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH

GURU PENGAMPU KELAS BAWAH : SEBUAH SURVEI BAGI

GURU-GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar

Disusun oleh :

Yosefine Anisa Kurnia Putri

101134096

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU

PENGAMPU KELAS BAWAH : SEBUAH SURVEI BAGI GURU-GURU

SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar

Disusun oleh :

Yosefine Anisa Kurnia Putri

101134096

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2014

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini peneliti persembahkan kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus serta Bunda Maria yang selalu menyertai, memberkati, dan membimbing dalam hidupku.

2. Almamater tercinta, Universitas Sanata Dharma.

3. Ibu Catur Rismiati dan Ibu Andri Anugrahana yang menjadi pembimbing penyelesaian skripsi ini.

4. Ibuku Anastasia Supadmi dan Ayahku Henry Nursanto

(6)

v

MOTTO

Ketika kita sudah berdoa dan

berusaha, Tuhan akan bekerja

di hidup kita

Tuhan Membuat Segala Sesuatu

(7)
(8)
(9)

viii

ABSTRAK

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH : SEBUAH SURVEI BAGI GURU-GURU

SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

Oleh

Yosefine Anisa KP 101134096

Pendidikan sekolah dasar merupakan proses dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa. Ada dua cara untuk memperbaiki sistem pendidikan, salah satunya dengan meyempurnakan kurikulum yang telah ada. Salah satu penyempurnaan kurikulum adalah adanya kurikulum 2013. Kurikulum 2013 memuat pembelajaran tematik.

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru pengampu kelas bawah di SDN se-Kota Yogyakarta, 2) mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jam training dan 3) mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari lama mengajar menggunakan pembelajaran tematik. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental cross sectional metode survei.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 328 guru. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 175 guru pengampu kelas bawah. Teknik yang digunakan adalah Purpossive Random Sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi dan Independent Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta termasuk ke dalam kategori tinggi; 2) tidak ada perbedaan antara tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah training menggunakan pembelajaran tematik ( t = 0,511); 3) tidak ada perbedaan antara tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan lama mengajar menggunakan pembelajaran tematik (t = 0,439).

(10)

ix

ABSTRACT

IMPLEMENTATION LEVEL OF THEMATIC LEARNING BY LOWER CLASS TEACHER : A SURVEY FOR STATE PRIMARY SCHOOL

TEACHERS IN YOGYAKARTA

By

Yosefine Anisa KP 101134096

Primary School education is process in developing students ability. There are two ways to improve education system, one of them is by completing curriculum that already exist. One of the curriculum completing ways is Curriculum 2013. Curriculum 2013 contains thematic learning.

This research has purposes 1) to find out level implementation of thematic learning done by under class teacher in Yogyakarta State Primary Schools, 2) to find out implementation level of thematic learning difference observed from hours of training and 3) to find out implementation level of thematic learning difference observed from duration of learning using thematic learning. This is survey method non experimental cross sectionalresearch.

328 teachers used in this research as population. While the 175 under class teachers used as sample. The technique used is Purpossive Random Sampling. The Data Collection Method is Frequency Distribution and Independent Sample t-test. The result of this research shows that 1) implementation level of thematic learning by lower class teacher in Yogyakarta State Primary Schools is included in high category; 2) there is not also difference between level implementation of thematic learning and the amount of training using thematic learning. (t = 0,511); 3) there is not also difference between implementation level of thematic learning and the duration of learningusing thematic learning. (t = 0,439).

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan dalam menyusun tugas akhir

yang berjudul “TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK

OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH: SEBUAH SURVEI BAGI

GURU-GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus serta Bunda Maria yang selalu menyertai, memberkati, dan membimbing dalam hidupku.

2. Almamater tercinta, Universitas Sanata Dharma.

3. Ibu Catur Rismiati dan Ibu Andri Anugrahana yang menjadi pembimbing penyelesaian skripsi ini.

4. Ibuku Anastasia Supadmi yang selalu mendoakan, menemani, dan menyemangati, Ayahku Henry Nursanto yang selalu memberikan semangat dan doa, terimakasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang kalian berikan.

(12)
(13)

xii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBILKASI ... vii

ABSTRAK ... viii 1. Reformasi Pendidikan secara Global ... 9

2. Reformasi Pendidikan di Indonesia ... 10

3. Reformasi Kurikulum di Indonesia ... 12

4. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ... 17

5. Pembelajaran Terpadu ... 20

6. Pembelajaran Tematik ... 25

a. Pengertian Pembelajaran Tematik ... 25

b. Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Tematik ... 28

7. Implikasi Pembelajaran Tematik ... 31

a. Implikasi Bagi Guru ... 31

b. Implikasi Bagi Siswa ... 33

c. Implikasi Terhadap Sarana, Prasarana, Sumber Belajar dan Media ... 34

d. Implikasi Terhadap Pengaturan Ruangan ... 34

e. Implikasi Terhadap Pemilihan Metode ... 35

8. Karakteristik Pembelajaran Tematik ... 35

9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reformasi ... 37

(14)

xiii

C. Kerangka Berpikir ... 43

D. Hipotesis Penelitian ... 44

BAB III METODE PENELITIAN ... 45

A. Jenis dan Desain Penelitian ... 45

B. Waktu dan Tempat ... 46

1. Tempat Penelitian... 46

2. Waktu Penelitian ... 46

C. Variabel Penelitian ... 47

1. Variabel bebas (independent variable) ... 47

2. Variabel terikat (dependent variable) ... 47

D. Populasi dan Sampel ... 48

E. Teknik Pengumpulan Data ... 49

F. Instrumen Penelitian/Alat Ukur ... 49

G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 57

1. Validitas isi (content validity) ... 57

2. Validitas muka (face validity) ... 68

3. Validitas konstruk (construct validity) ... 68

4. Reliabilitas ... 73

H. Prosedur Analisis Data ... 75

1. Menentukan Hipotesis Statistik ... 75

2. Pengelolaan Data ... 77

3. Analisis Data Deskriptif ... 79

4. Menentukan Taraf Signifikansi ... 80

5. Menguji Asumsi Klasik ... 81

6. Uji Hipotesis ... 88

I. Jadwal Penelitian ... 96

BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 97

A. Deskripsi Penelitian ... 97

B. Tingkat Pengembalian Kuesioner ... 98

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Keunggulan KBK dibandingkan kurikulum 1994 ... 16

Tabel 2.2 Perubahan Kurikulum di Indonesia... 17

Tabel 2.3 Landasan Pengembangan Kurikulum 2013 ... 19

Tabel 2.4 Perbedaan Esensial Kurikulum 2006 dengan Kurikulim 2013 ... 20

Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik ... 27

Tabel 3.1 Penjabaran Skor Item ... 51

Tabel 3.2 Sebaran item positif dan item negatif ... 52

Tabel 3.3 Indikator Kuesioner... 55

Tabel 3.4 Kriteria Revisi ... 58

Tabel 3.5 Hasil Expert Judgement: Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa ... 59

Tabel 3.6 Hasil Expert Judgement: Siswa Mengalami Pegalaman Langsung dalam Belajar... 60

Tabel 3.7 Hasil Expert Judgement: Pemisahan pada Setiap Mata Pelajaran Tidak Begitu ... 62

Tabel 3.8 Jelas Hasil Expert Judgement:Pembelajaran yang Menyajikan Konsep dari Satu Mata Pelajaran... 63

Tabel 3.9 Hasil Expert Judgement :Pembelajaran Bersifat Fleksibel ... 64

Tabel 3.10 Hasil Expert Judgement :Hasil Pembelajaran yang Sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa ... 66

Tabel 3.11 Hasil Expert Judgement :Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan Bagi Siswa ... 67

Tabel 3.12 Validitas Muka ... 69

Tabel 3.13 Hasil Validitas Implementasi Pembelajaran Tematik ... 72

Tabel 3.14 Tingkat Koefisien dan Tingkat Hubungan ... 74

Tabel 3.15 Hasil Reliabilitas ... 75

Tabel 3.16 Contoh Pengkodean ... 77

Tabel 3.17 Jadwal Penelitian... 96

Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval ... 100

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi ... 100

Tabel 4.3 Kategorisasi Faktor demografi Lama Mengajar Menggunakan Pembelajaran tematik ... 102

Tabel 4.4 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Lama Mengajar Pembelajaran Tematik yang Junior ... 103

Tabel 4.5 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik yang Senior... 107

Tabel 4.6 Tabel Hasil Uji Homogenitas Faktor Demogrfai Lama Mengajar Pembelajaran Tematik ... 112

Tabel 4.7 Hasil Uji Independent Sample t-test... 112

(16)

xv

Tabel 4.9 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik Sedikit ... 116 Tabel 4.10 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Jumlah Jam Training

Pembelajaran Tematik Banyak ... 119 Tabel 4.11 Tabel Hasil Uji Homogenitas Faktor Demografi

(17)

xvi

Gambar 3.4 Rumus Panjang Kelas Interval ... 80

Gambar 3.5 Rumus Jarak Rentangan ... 82

Gambar 3.6 Rumus Sturges... 82

Gambar 3.7 Rumus Panjang Kelas Interval ... 82

Gambar 3.8 Rumus Uji Normalitas ... 83

Gambar 3.9 Rumus Lavene’s Test ... 88

Gambar 3.10 Rumus Independent Sample Test ... 92

Gambar 3.11 Rumus Mann whitney Test ... 93

Gambar 3.12 Rumus Effect Size Data Normal ... 94

Gambar 3.13 Rumus Effect Size Data Tidak Normal ... 94

Gambar 3.14 Koefisien Determinasi ... 95

Gambar 4.1 Gambar Visualisasi P-P Plot Faktor Demografi Lama Mengajar Pembelajaran Tematik Junior ... 104

Gambar 4.2 Gambar Visualisasi Histogram Faktor Demografi Lama Mengajar Pembelajaran Tematik Junior ... 105

Gambar 4.3 Gambar Visualisasi P-P Plot Faktor Demografi Lama Mengajar Pebelajaran Tematik Senior ... 108

Gambar 4.4 Gambar Visualisasi Histogram Faktor Demografi Lama Mengajar Pembelajaran Tematik Senior ... 109

Gambar 4.5 Gambar Visualisasi P-P Plot Faktor Demografi Jumlah Jam Training Menggunakan Pembelajaran Tematik Sedikit ... 117

Gambar 4.6 Gambar Visualisasi Histogram Faktor Demografi Jumlah Jam Training Menggunakan Pembelajaran Tematik Sedikit ... 118

Gambar 4.7 Gambar Visualisasi P-P Plot Faktor Demografi Jumlah JamTraining Menggunakan Pembelajaran Tematik Banyak ... 120

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian dan

Surat Ijin Telah Melakukan Penelitian ... 140

Lampiran 2 Expert Judgement ... 144

Lampiran 3 Validitas Muka ... 219

Lampiran 4 Data Validitas ... 230

Lampiran 5 Hasil Validitas ... 231

Lampiran 6 Data Reliabilitas ... 232

Lampiran 7 Hasil Reliabilitas ... 233

Lampiran 8 Data Asli... 237

Lampiran 9 Hasil Perhitungan Distribusi Frekuensi ... 240

Lampiran 10 Hasil Distribusi Frekuensi Faktor emografi Lama Mengajar Pembelajaran Tematik ... 241

Lampiran 11 Hasil Uji Normalitas Lama Mengajar Menggunakan Pembelajaran Tematik Kategori Junior ... 242

Lampiran 12 Hasil Uji Normalitas Lama Mengajar Menggunakan Pembelajaran Tematik Kategori Senior ... 248

Lampiran 13 Uji Homogenitas dan Uji Hipotesis Lama Mengajar Menggunakan Pembelajaran Tematik ... 253

Lampiran 14 Hasil Distribusi Frekuensi Faktor Demografi Jumlah Jam Training Menggunakan Pembelajaran Tematik ... 254

(19)

xviii

Menggunakan Pembelajaran Tematik Kategori Banyak... 260

Lampiran 17 Uji Homogenitas dan Uji Hipotesis Jumlah Jam Training Mengguunakan Pembelajaran Tematik ... 265

Lampiran 18 R Tabel ... 266

Lampiran 19 Tabel Krejcie ... 267

Lampiran 20 Tingkat Pengembalian Kuesioner ... 268

Lampiran 21 Kuesioner Sesudah dan Sebelum Dilakukan Revisi ... 270

Lampiran 22 Contoh Kuesioner yang sudah diisi ... 276

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini berisi enam bagian. Bagian-bagian tersebut adalah latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi penelitian.

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan yang terdapat dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 dinyatakan sebagai :

“…Usaha sadar untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat bangsa dan Negara”. Pengertian pendidikan menurut UU No 20 Tahun 2003 tersebut, dapat dijelaskan bahwa peran dari pendidikan sangat penting dalam mewujudkan manusia yang utuh, mandiri dan bermanfaat bagi lingkungannya. Taufiq (2011: 12) berpendapat bahwa pendidikan Sekolah Dasar (SD) diartikan sebagai proses dalam mengembangkan potensi yang dimiliki siswa, dimana setiap siswa belajar secara aktif karena mendapat dorongan dari dalam diri sendiri.

(21)

oleh Trianto. Trianto (2012: 12) berpendapat bahwa terdapat dua cara untuk mewujudkan tujuan sistem pendidikan nasional di Indonesia. Cara untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional di Indonesia yang pertama melalui implementasi pendidikan pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang tersebut mengalami perubahan menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta dengan peraturan pelaksanaannya. Cara kedua melalui penyempurnaan kurikulum dengan adanya pembaruan kurikulum yang telah dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan peraturan pelaksanaannya dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayan (dalam Mulyasa, 2013: 60) mengatakan bahwa perubahan dan pengembangan kurikulum merupakan persoalan yang sangat penting, oleh karena itu kurikulum harus disesuaikan dengan tuntutan jaman.

(22)

pelajaran pada tingkat bawah mempunyai hubungan dengan kurikulum tingkat lanjutan. Kurikulum yang selanjutnya pada masa orde baru yaitu kurikulum 1975, kurikulum 1984, dan kurikulum 1994.

Memasuki masa reformasi, kurikulum di Indonesia kembali mengalami perubahan. Kurikulum 2004 merupakan kurikulum pertama yang diterapkan dalam masa reformasi. Kurikulum ini sering disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang selanjutnya adalah kurikulum 2006 yang sering disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2006 mengalami perubahan menjadi kurikulum 2013.

(23)

2013: 177). Pemberian materi dalam kurikulum 2013 disajikan melalui pembelajaran tematik.

Pembelajaran tematik termasuk ke dalam pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik pada dasarnya merupakan model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman langsung bagi siswa (Departemen Pendidikan Nasional dalam Trianto, 2006: 5). Pengetahuan kognitif, psikomotorik, dan afektif dibentuk sendiri oleh siswa melalui pengalaman (Trianto, 2010: 111). Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan, konsep tertentu yang dikaitkan dengan konsep lain, baik dalam satu bidang studi atau lebih (Subroto dalam Zahara, 2011: 9).

Kurikulum di Indonesia sudah mengalami beberapa perubahan. Perubahan kurikulum yang terjadi tidak akan berhasil tanpa campur tangan dari para guru. Piaget (dalam Trianto, 2010: 103) mengatakan selain kurikulumnya yang harus diperbaiki, tetapi guru juga harus mampu menciptakan suatu keadaan atau lingkungan belajar. Lingkungan belajar membantu siswa menemukan pengalaman-pengalaman nyata dan telibat secara langsung.

(24)

training pembelajaran tematik, jumlah siswa, jumlah rekan guru yang menggunakan tematik, dan pengalaman mengajar.

Faktor-faktor tersebut dapat membantu seorang guru menjadi guru lebih baik. Pembelajaran tematik merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk membantu guru dalam proses belajar mengajar dengan mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya. Hal inilah yang mendasari peneliti melakukan sebuah penelitian yang berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Sebuah Survei Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta”.

B. Batasan Masalah

Penelitian ini difokuskan pada implementasi pembelajaran tematik pada guru kelas 1, 2 dan 3 SD Negeri se-Kota Yogyakarta. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada dua faktor demografi. Faktor demografi yang pertama adalah lama penggunaan pembelajaran tematik terhadap implementasi pembelajaran tematik. Faktor demografi yang kedua adalah jumlah jam training menggunakan pembelajaran tematik di SD Negeri se-Kota Yogyakarta terhadap implementasi pembelajaran tematik.

C. Rumusan Masalah

Penelitian ini menggunakan rumusan masalah adalah :

(25)

2. Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari lama mengajar menggunakan pembelajaran tematik?

3. Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik?

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan :

1. Mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah di Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta.

2. Mengetahui perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari lama mengajar menggunakan pembelajaran tematik.

3. Mengetahui perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi guru sekolah dasar

Penelitian diharapkan mampu membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik di kelas bawah.

2. Bagi siswa

(26)

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi peneliti untuk terjun langsung menjadi guru.

4. Bagi institusi

Penelitian ini diharapkan dapat membantu institusi dalam melihat kendala-kendala yang dialami oleh semua guru sekolah dasar dan mampu memberikan solusi atas kendala yang dihadapi.

F. Definisi Operasional

1. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang mampu mengaitkan dua mata pelajaran atau lebih menjadi satu tema (disebut juga pembelajaran tematik integratif).

2. Kurikulum adalah seperangkat aturan, tujuan dan isi pembelajaran yang telah direncanakan dalam proses pembelajaran.

3. Demografi adalah faktor yang dapat mempengaruhi perilaku/tingkah laku seseorang.

4. Reformasi adalah perubahan yang dilakukan oleh suatu negara untuk perbaikan dibidang sosial, politik dan agama.

5. Guru pengampu kelas bawah adalah seseorang yang memberikan materi pelajaran pada kelas 1, 2 dan 3.

6. Implementasi adalah pelaksanaan dari sebuah rencana yang telah dibuat secara terperinci.

(27)

8. Lama mengajar pembelajaran tematik adalah seberapa lama seorang guru mengajar menggunakan pembelajaran tematik.

(28)

9

BAB II

KAJIAN TEORI

BAB II ini membahas tinjauan teoritik, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian.

A. Tinjauan Teoritik

1. Reformasi Pendidikan secara Global

(29)

sistem pendidikan Indonesia juga perlu beradaptasi dengan perkembangan era globalisasi ini.

Kehidupan di era global menuntut berbagai perubahan pendidikan. Perubahan-perubahan yang terjadi salah satunya adalah perubahan dalam bidang pendidikan. Perubahan-perubahan dalam bidang pendidikan menuntut para guru untuk lebih bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Kunandar, 2008: 37). UNESCO tahun 1998 melakukan perubahan dalam bidang pendidikan. UNESCO berpendapat terdapat dua basis landasan : pertama, pendidikan harus diletakkan pada empat pilar yaitu belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar hidup dalam kebersamaan, dan belajar menjadi diri sendiri; kedua, belajar seumur hidup (Mulyasa, 2013: 2). Sistem pendidikan mengarah pada orientasi penyediaan sumber daya manusia yang unggul dalam interaksi, pergaulan dan pendidikan global. Menghadapi era globalisasi yang penuh dengan saingan ini, dibutuhkan guru yang mampu mengelola proses belajar mengajar yang efektif. Perubahan strategi dan model pembelajaran yang baru juga dibutuhkan dalam mengahadapi era globalisasi.

2. Reformasi Pendidikan di Indonesia

(30)

dicapai, serta harapan masyarakat terutama yang terkait pemanfaatan anggaran fungsi pendidikan. Hal tersebut yang menjadikan Kemendiknas harus melakukan reformasi dalam melaksanakan Sistem Pendidikan Nasional. Reformasi sebenarnya sudah diterapkan sejak Kabinet Indonesia Bersatu. Kemendiknas yang saat itu menjadi salah satu dari 12 Kementerian yang dipilih menjadi pilot project reformasi birokrasi. Kementerian Pendidikan Nasional mempunyai tekad untuk memanfaatkan momentum reformasi birokrasi untuk melakukan Reformasi Pelaksanaan Sitem Pendidikan Nasional secara menyeluruh (Kemendiknas, 2010). Tujuan dari reformasi pendidikan adalah untuk menghasilkan suatu sistem yang dapat mendukung tercapainya efisiensi nasional dalam bidang pendidikan. Tujuan tersebut akan lebih mudah tercapai apabila semua kaitan Kemdiknas dilaksanakan secara terbuka, sehingga tidak memberikan kesempatan dalam pemberian tidak baik (Kemendiknas, 2010: 4).

(31)

merealisasikan konsep-konsep yang ada juga merupakan cerminan dari sikap apatisme masyarakat di Indonesia (Lie dalam Nuh, 2013: 66).

Lie (dalam Nuh, 2013: 67) menjelaskan, selain pekerja kurikulum, para guru pun tidak bisa menerapkan kurikulum CBSA. Hal ini disebakan para guru sulit untuk meninggalkan model pembelajaran yang telah mereka terapkan sebelumnya. Model pembelajaran yang selalu diterapkan oleh guru di Indonesia tak lepas dari anggapan bahwa setiap pembelajaran mengharuskan siswa aktif, siswa memperoleh kebermaknaan dalam proses belajar, dan sebagian tidak dilandasi oleh suatu paradigma yang relevan dengan konteks budaya yang ada di daerah tersebut.

Paradigma dan visi pendidikan di Indonesia semestinya diciptakan berdasarkan pengenalan terlebih dahulu dengan lingkungan sekitar, dan impian atas masa depan bersama. Warga negara Indonesia membutuhkan kesadaran bersama untuk merumuskan impian Indonesia. Merumuskan impian dari Indonesia memerlukan sebuah strategi dengan melalui pendidikan (Lie dalam Nuh, 2013: 79). Adanya reformasi kurikulum diharapkan siswa-siswa di Indonesia menjadi lebih cerdas, bermoral, kreatif, komunikatif, dan toleran (Kompas, 2012: 3).

3. Reformasi Kurikulum di Indonesia

(32)

kali perubahan di Indonesia. Trianto (2010: 54) juga memaparkan bahwa kurikulum sekolah dasar di Indonesia mengalami perubahan.

Pada masa orde lama, Indonesia telah menerapkan kurikulum pendidikan. Trianto (2010: 55) menjelaskan bahwa kurikulum yang pertama kali dilaksanakan pada masa kemerdekaan bernama Rencana Pelajaran 1947. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis, karena tidak ingin melihat dunia pendidikan menerapkan kurikulum dari Belanda. Rencana Pelajaran 1947 mulai diterapkan pada tahun 1950, maka dari itu Rencana Pelajaran 1947 juga sering disebut dengan Kurikulum 1950. Rencana Pelajaran 1947 lebih berkonsentrasi pada pendidikan watak, kesadaran dalam bernegara, dan bermayarakat. Garis-garis besar pengajaran pada saat itu sangat menuntut pada cara guru mengajar dan cara siswa memahami pelajaran yang diberikan oleh guru.

(33)

kesehatan. Ketiga, Kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus, meliputi pelajaran : Kejuruan Agraria, Kejuruan Teknik, Kejuruan Katata laksanaan atau Jasa.

Kurikulum 1968 yang telah dilaksanakan di berbagai sekolah dasar ternyata dipandang kurang sesuai dengan kondisi masyarakat, maka dari itu terciptalah kurikulum baru yang disebut dengan kurikulum 1975 (Herry, 2012: 4.9). Trianto (2010: 58) menjelaskan bahwa di dalam kurikulum 1975 terdapat tujuh unsur pokok. Tujuh unsur pokok tersebut adalah dasar, tujuan, dan prinsip; struktur program kurikulum; GBPP (Garis Besar Pokok Pembelajaran); sistem penyajian; pedoman supervisi dan administrasi. Kurikulum 1975 didasari konsep Struktural, Analisis, Sintetis (SAS). Siswa menjadi lebih pandai karena mereka mampu menganalisis sesuatu yang dihubungkan dengan mata pelajaran. Sisi positif dari kurikulum ini adalah ilmu-ilmu dasar yang dipelajari akan semakin berkembang. Sisi negatif dari kurikulum ini adalah guru akan banyak menghabiskan waktunya karena harus mengerjakan tugas administrasi (Trianto, 2010: 59).

(34)

Trianto (2010: 61) mengatakan bahwa lahirnya UU No 2 Tahun 1989, merupakan awal dari lahirnya kurikulum 1994. Kurikulum 1994 mengharuskan pendidikan dasar dipatok menjadi 9 tahun (SD dan SMP). Kurikulum 1994 berusaha menyatukan kurikulum sebelumnya, yakni kurikulum 1975 dengan menggunakan pendekatan tujuan dan kurikulum 1989 dengan menggunakan tujuan pendekatan proses.

(35)

Tabel 2.1

Keunggulan KBK dibandingkan kurikulum 1994

Subjek 1994 KBK

Yang Utama Penguasaan materi Hasil belajar dan kompetensi

Paradigma Pembelajaran Versi UNESCO:belajar mengetahui, belajar untuk bertindak, belajar hidup bersama, dan belajar menjadi diri sendiri.

Silabus Ditentukan seragam dengan sekolah lain

Peran dari guru dan siswa dalam proses belajar mengajar, silabus menjadi tanggung jawab guru

Jumlah Jam Pelajaran 40 jam per minggu 32 jam per minggu

Metode Pembelajaran Katerampilan proses Tercipta metode pembelajaran aktif, kreatif, efektif,dan menyenangkan. Dan juga lahir metode lain yaitu pembelajaran kontekstual Sistem Penilaian Memfokuskan pada

aspek kgnitif

Memadukan keseimbangan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Sumber: Trianto (2010: 64)

Tabel 2.1 menunjukkan bahwa kurikulum berbasis kompetensi memang lebih baik dari kurikulum 1994. Perbedaan yang paling menonjol dari tabel 2.1 bahwa KBK lebih mementingkan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. KBK juga lebih menguntungkan bagi guru dan siswa, karena jumlah jam pelajaran di KBK lebih sedikit dibandingkan dengan kurikulum 1994.

(36)

Tabel 2.2

Perubahan Kurikulum di Indonesia Tahun Nama Kurikulum Ide Pokok

Masa Orde Lama

1947 Rencana Pembelajaran 1947 Garis-garis besar pengajaran menuntut cara guru mengajar dan cara guru memahami pelajaran agar lebih meningkat.

Masa Orde Baru

1968 Kurikulum 1968 Tujuan dari kurikulum ini untuk membentuk manusia pancasia

1975 Kurikulum 1975 Terdapat tujuh unsur pokok dalam kurikulum ini (dasar, tujuan, dan prinsip; struktur; program kurikulum; GBPP; sistem penyajian, pedoman supervisi; administrasi) 1984 Kurikulum 1984 Kurikulum ini mengusung process skill

approach

1994 Kurikulum 1994 Mewajibkan pendidikan 9 yahun, yang meliputi SD dan SMP

Masa Orde Reformasi

2004 Kurikulum 2004 Memfokuskan pada pemerolehan kompetensi-kompetensi yang dilakaukan diterapkan di negara Indonesia. Kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia melalui 3 masa. Masa-masa tersebut adalah masa orde lama, masa orde baru dan masa orde reformasi. Kurikulum pada masa orde lama terjadi pada tahun 1947. Kurikulum masa orde baru sering disebut dengan kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984 dan kurikulum 1994. Kurikulum yang terjadi pada masa reformasi adalah kurikulum 2004 dan kurikulum 2006.

4. Kurikulum 2013 dan Kurkulum Tingkat Satuan Pendidikan

(37)
(38)

Tabel 2.3

Landasan Pengembangan Kurikulum 2013

Landasan Yuridis Landasan Filosofis Landasan Empiris Landasan Teoritis 1. Instruksi Presiden

(39)

Tabel 2.4

Perbedaan Esensial Kurikulum 2006 dengan Kurikulim 2013

KTSP 2006 Kurikulum 2013

Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi tertentu

Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik

Mata pelajaran disusun secara sendiri dan mempunyai kompetensi sendiri

Mata pelajaran disusun saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya dan juga mempunyai kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas.

Bahasa Indonesiasejajar dengan mata pelajaran yang lain

Bahasa Indonesia sebagai penghubung mata pelajaran lain.

Setiap mata pelajaran diajarakan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda-beda

Semua mata pelajaran dilakukan dengan pendekatan yang sama

Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah Bermacam-macam jenis konten pembelajaran diajarkan terpadu antara yang satu dengan yang lainnya

Konten ilmu pengetahuan berdiri sendiri Konten ilmu pengetahuan diitegrasikan dan dijadikan penggerak pembelajaran yang lainnya. Tematik untuk kelas bawah (I. II. dan III) Tematik Integratif untuk kelas I, II,II dan IV Sumber : Mulyasa (2013: 169)

Tabel 2.4 menunjukkan bahwa kurikulum 2013 lebih banyak keunggulan dibandingkan dengan kurikulum 2006. Kurikulum 2013 menekankan pada kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Pembelajaran tematik di kurikulum 2006 hanya diajarkan pada kelas I, II, dan III saja,sedangkan di kurikulum 2013, pembelajaran tematik diajarkan dari kelas I hingga kelas IV.

5. Pembelajaran Terpadu

(40)

keterpaduan pemahaman. Karli dan Margartha (dalam Indrawati 2009: 23) mengatakan bahwa pembelajaran terpadu memiliki 3 ciri, diantaranya adalah: 1) holistik, kejadian yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa mata pelajaran untuk memahami suatu fenomena dari segala hal; 2) bermakna, saling berkaitan dengan konsep-konsep lain yang akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan siswa mampu menerapkan segala sesuatu yang telah dipelajari untuk memecahkan masalah-masalah nyata di kehidupannya; 3) aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan inkuiri. Siswa akan dilibatkan secara aktif dalam setiap proses pembelajaran yang secara tidak langsung untuk memotivasi siswa dalam belajar.

Fogarty (dalam Prastowo, 2013: 109) menyebutkan bahwa ada sepuluh model pembelajaran terpadu. Sepuluh model tersebut adalah fragmented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed,

(41)

dan transfer ilmu lebih sedikit (Indrawati, 2009: 19). Model pembelajaran yang kedua adalah connected atau keterhubungan. Prastowo (2013: 110) berpendapat bahwa model keterhubungan berlandaskan pada pokok-pokok pembelajaran yang dijadikan satu dengan induk mata pelajaran tertentu. Indrawati (2009: 19) menjelaskan bahwa model pembelajaran keterhubungan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari model pembelajaran keterkaitan adalah konsep-konsep utama pada suatu mata pelajaran saling terhubung, mengarah pada pengulangan atau review, rekonseptualisasi, dan asimilasi ide-ide dalam disiplin ilmu. Kekurangan dari model pembelajaran keterhubungan adalah disiplin ilmu tidak saling berkaitan, konten tetap terfokus pada satu disiplin ilmu. mengatakan bahwa pembelajaran terpadu mempunyai beberapa model.

Model pembelajaran yang ketiga adalah model sarang (nested). Model pembelajaran sarang (nested) adalah pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui proses pembelajaran. Indrawati (2009: 19) menjelaskan bahwa model pembelajaran sarang merupakan keterampilan-keterampilan sosial, berpikir, dan konten dicapai di dalam satu mata pelajaran. Indrawati (2009: 19) menjelaskan bahwa model sarang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari model sarang adalah memberikan perhatian pada berbagai mata pelajaran yang berbeda dalam waktu yang bersama dan dapat memperluas pembelajaran.

(42)

paralel. Indrawati (2009: 20) menyatakan bahwa model urutan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari model urutan dalah memberikan fasilitas untuk mentransfer pembelajaran melalui beberapa mata pelajaran. Kekurangan dari model urutan adalah membutuhkan kerjasama yang terus menerus, karena guru-guru memiliki lebih sedikit otonomi untuk merancang pembelajaran.

Model pembelajaran terpadu yang kelima adalah model bagian (shared). Prastowo (2013: 112) menjelaskan bahwa model bagian merupakan pemaduan mata pelajaran akibat adanya tumpang tindih ide pada dua mata pelajaran atau lebih. Model bagian mempunyai kelebihan dan kekurangan (Indrawati, 2009: 20). Kelebihan model bagian yaitu terdapat pengalaman instruksional bersama dengan dua guru di dalam satu tim. Kekurangan dari model bagian yaitu membutuhkan waktu yang lama, kelenturan, komitmen dan kerjasama.

(43)

Model pembelajaran terpadu yang ketujuh adalah model galur (threaded). Prastowo (2013: 114) mengutarakan bahwa model galur merupakan model pemaduan beberapa keterampilan. Keterampilan-keterampilan tersebut adalah keterampilan sosial, berpikir berbagai jenis kecerdasan melalui disiplin ilmu. Model galur mempunyai kelebihan dan kekurangan (Indrawati: 2009: 21). Kelebihan model galur adalah dapat membantu siswa dalam mempelajarai cara belajar dan memberikan fasilitas dalam mentransfer pembelajaran selanjutnya. Kekurangan model galur adalah disiplin-disiplin ilmu yang bersangkutan tetap terpisah.

Model pembelajaran terpadu yang kedelapan adalah model keterpaduan (integrated). Prastowo (2013: 114-115) menjelaskan bahwa model keterkaitan merupakan pemaduan sejumlah topik dari berbagai mata pelajaran yang berbeda tetapi memiliki kesamaan konsep dan sikap. Indrawati (2009: 21) menguraikan bahwa model keterpaduan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan model keterpaduan adalah dapat mendorong siswa untuk melihat keterkaitan antar disiplin ilmu dan siswa menjadi termotivasi dengan melihat berbagai keterkaitan tersebut.

(44)

model celupan adalah keterpaduan berlangsung di dalam siswa. Kekurangan model celupan adalah dapat mempersempit fokus belajar siswa.

Model pembelajaran terpadu yang kesepuluh adalah model jaringan (networked). Prastowo (2013: 116-117) menjelaskan bahwa model jarigan merupakan pemaduan topik yang akan dipelajari melalui pemilihan jejaringan pakar dan sumber daya. Indrawati (2009: 22) mengemukakan bahwa model jaringan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan model jaringan adalah bersifat proaktif, siswa menjadi terstimulasi oleh informasi, keterampilan atau konsep-konsep baru. Kekurangan dari model jaringan adalah dapat memecah perhatian siswa dan usaha-usaha siswa dalam belajar menjadi tidak efektif.

Kesepuluh model pembelajaran terpadu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam setiap model pembelajaran terpadu dapat dijadikan sebagai acuhan untuk memilih model pembelajaran yang diterapkan di sekolah dasar. Salah satu model pembelajaran terpadu yang dapat diterapkan di sekolah dasar adalah model jaring laba-laba. Model jaring laba-laba menggunakan tema-tema yang dapat membantu guru dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

6. Pembelajaran Tematik

a. Pengertian Pembelajaran Tematik

(45)

mengatakan bahwa pembelajaran tematik biasa disebut dengan pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu berasal dari kata “integrated teaching and learning”. Herlanti (dalam Zahara, 2001: 27) juga berpendapat, bahwa pembelajaran tematik adalah pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dalam proses pembentukan pengetahuan. Herlanti (dalam Zahara, 2001: 28) juga menjelaskan pembelajaran tematik dianggap sebagai “proses pembelajaran yang mengintegrasikan aspek

pengetahuan, sikap dan keterampilan dan juga mengaitkan beberapa mata pelajaran dalam sebuah tema pokok”.

Trianto (2010: 78) menyatakan bahwa pembelajaran tematik dimaknai sebagai pembelajaran yang diciptakan berdasarkan tema-tema tertentu. Tema ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum yang menawarkan kesempatan bagi siswa untuk menciptakan kreativitas siswa dalam pendidikan. Pembelajaran tematik dianggap sebagai model pembelajaran yang termasuk dalam model pembelajaran terpadu Depdiknas (dalam Trianto, 2010: 79).

(46)

Penelitian di Amerika dalam hal pendidikan, sebagaimana dikutip dari Wiryawan (dalam Zahara, 2011: 12) mengatakan bahwa pembelajaran yang menerapkan kurikulum dengan mata pelajaran yang terpisah-pisah menjadikan pembelajaran kurang berhasil dalam meningkatkan kemampuan siswa. Siswa kurang mendapat kesempatan mempelajari suatu mata pelajaran secara mendalam. Proses pembelajaran yang seperti ini sangat bertolak belakang dengan perkembangan tahapan berpikir siswa sekolah dasar. Pernyataan sebelumnya menegaskan bahwa pembelajaran di jenjang pendidikan sekolah dasar terkhusus bagi siswa kelas bawah lebih baik menggunakan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan segala kemampuan yang dimiliki siswa dan memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih bervariasi.

Adapun landasan yang mendasari pembelajaran tematik. Depdiknas (2009: 8) mengutarakan ada tiga landasan di dalam pembelajaran tematik. Landasan tersebut tertuang dalam tabel 2.5.

Tabel 2.5

Landasan Pembelajaran Tematik

(47)

Landasan Filosofis Landasan Psikologis Landasan Yuridis ditransfer begitu saja dari guru kepada siswa.

b. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Tematik

Trianto (2011: 153) mengemukakan bahwa ada 7 kelebihan dari pembelajaran tematik: pertama, memudahkan siswa dalam memusatkan perhatian pada satu tema tertentu. Pembelajaran tematik mengajak setiap siswa untuk berkonsentrasi dalam satu tema, karena di pembelajaran tematik hanya ada satu tema di setiap pertemuan. Satu tema tersebut terdiri dari beberapa mata pelajaran yang telah dijadikan satu tema. Jadi, siswa akan lebih mudah dalam memusatkan perhatian. Kedua, siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar isi di mata pelajaran dalam satu tema yang sama. Siswa menjadi lebih mudah dalam mempelajari materi yang diberikan, karena siswa tidak harus mempelajari setiap mata pelajaran, tetapi siswa hanya akan mempelajari materi di satu tema yang telah mencangkup beberapa mata pelajaran.

(48)

menggali sendiri materi pelajaran yang akan dipelajari. Pembelajaran yang dialami secara langsung oleh siswa inilah yang akan menjadi berkesan dan mendalam bagi siswa. Keempat, kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa. Kelima, lebih dapat dirasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas. Tema yang jelas dapat membantu siswa dalam mengerti atau memahami materi yang diajarkan.

Keenam, siswa lebih bersemangat belajar karena dapat berinteraksi langsung dengan situasi nyata. Siswa tidak harus duduk diam saat guru menjelaskan materi pelajaran, akan tetapi siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar dengan mendatangi lingkungan secara nyata. Pembelajaran tematik mampu memberikan pengalaman baru bagi siswa dengan cara mengajak siswa untuk merasakan pengalaman secara langsung. Ketujuh, guru dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang diajarkan secara tematik dapat diberikan bersama. Guru yang biasanya mengajarkan 2-3 mata pelajaran setiap harinya. Dengan menggunakan pembelajaran tematik, guru bisa menggabungkan mata pelajaran menjadi satu tema yang diajarkan pada satu hari.

Mas’ud (dalam Zahara, 2001: 22) mengutarakan bahwa terdapat empat

(49)

pembelajaran yang utuh, dinamis dan bermakna. Dalam hal ini, pembelajaran tematik memberikan kesempatan terjadinya pengembangan ilmu pengetahuan; 3) Mempermudah dan memotivasi siswa untuk mengenal, menerima, menyerap dan memahami keterkaitan antar konsep, pengetahuan dan nilai yang terdapat dalam pokok bahasan. Menggunakan pembelajaran tematik, secara psikologis siswa diajak untuk berpikir luas dan mendalam untuk menangkap serta memahami hubungan konseptual yang disajikan oleh guru; 4) Menghemat waktu, tenaga dan sarana serta biaya pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya proses penyatuan sejumlah unsur, tujuan, materi serta langkah pembelajaran.

Penjelasan di atas mengenai keuntungan pembelajaran tematik, dapat disimpulkan bahwa keutungan dari pembelajaran tematik dengan pembelajaran lain adalah terletak pada kegiatan yang berlangsung selama proses pembelajaran, yaitu guru dituntut untuk mengembangkan kegiatan belajar mengajar agar lebih bermakna, lebih menghemat waktu, pemahaman yang diterima oleh siswa lebih bermakna. Guru yang menggunakan pembelajaran tematik akan merasa terbantu dengan adanya pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik memberikan tujuh keuntungan. Keuntungan–keuntungan dari pembelajaran tematik inilah yang mendasari banyak guru beralih menggunakan pembelajaran tematik.

(50)

memilih metode yang akan digunakan. Indrawati (2009: 24) mengemukakan bahwa kelemahan pembelajaran tematik terletak dalam pelaksanaannya.

Penjelasan yang telah disampaikan mengenai kelemahan pembelajaran tematik, dapat dikatakan bahwa pembelajaran tematik mempunyai kelemahan pada bagian pelaksanaannya. Pelaksanaan pembelajaran tematik yang membuat bingung para guru dalam menentukan metode pembelajaran yang akan dipakai mengajar. Pelakasanaan pembelajaran tematik mengharuskan guru untuk melakukan evaluasi pembelajaran tematik.

7. Implikasi Pembelajaran Tematik

Sebagai suatu model pembelajaran yang inovasi, pembelajaran tematik tidak mudah untuk dilaksanakan. Hal tersebut terjadi karena karena pembelajaran tematik menggabungkan berbagai displin ilmu (Trianto, 2011: 173). Trianto juga mengemukakan bahwa pembelajaran tematik yang diterapkan di kelas-kelas membawa beberapa implikasi. Implikasi tersebut memiliki dua sisi. Sisi pertama memberikan keuntungan dan yang sisi lainya memberikan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung (Trianto, 2011: 173). Implikasi pembelajaran tematik menurut Depdiknas (2009: 11) dibagi menjadi lima. Implikasi pembelajaran tematik adalah sebagai berikut :

a. Implikasi Bagi Guru

(51)

dalam mempersiapkan pembelajaran bagi siswa. Guru harus mampu berimprovisasi dalam segala kondisi yang terjadi di dalam kelas, termasuk dalam mengahadapi siswa yang beraneka ragam. Trianto juga menyatakan bahwa guru tidak hanya harus kreatif dalam melaksanakan pembelajaran, tetapi juga harus kreatif dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan materi ajar.

(52)

rancangan pembelajaran (RPP) dengan topik yang diinginkan tanpa harus ada konsolidasi dengan guru lain, dan keuntungan yang ketiga karena tanggung jawab dipikul sendiri, maka potensi saling bergantung akan sangat kecil.

Trianto juga mengemukakan, selain ada keuntungan dalam sistem guru tunggal, adapula kelemahan dari sistem ini. Kelemahan-kelemahan dalam sistem ini adalah sebagai berikut : (a) guru sulit untuk menggabungkan berbagai bidang studi, karena guru yang tersedia merupakan guru pengampu mata pelajaran; (b) guru yang mengampu satu bidang ilmu tertentu belum tentu menguasai bidang ilmu yang lain; (c) jika RPP yang telah dibuat tidak menggunakan model inovatif, maka pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar tidak akan tercapai dan bermakna.

b. Implikasi bagi siswa

(53)

c. Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media.

Depdiknas (2009: 11) menyatakan bahwa implikasi ini dibagi menjadi empat: a) Pembelajaran tematik menekankan siswa untuk menggali dan menemukan pengetahuannya sendiri, oleh karena itu dalam pelaksanaan pembelajaran tematik diperlukan bebagai sarana dan prasarana; b) pembelajaran tematik memerlukan berbagai sumber belajar baik yang dengan sengaja dibuat ataupun yang sudah tersedia di lingkungan; c) Pembelajaran tematik perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran secara bervariasi, agar siswa mampu memahami konsep yang bersifat abstrak; d) penerapan pembelajaran tematik masih dapat menggunakan buku-buku pelajaran yang sudah ada dan dimungkinkan pula untuk memanfaatkan buku pelajaran yang memuat bahan ajar yang teritegrasi.

d. Implikasi Terhadap Pengaturan Ruangan

(54)

dijaga sehingga memudahkan siswa untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.

e. Implikasi Terhadap Pemilihan Metode

Trianto (2012: 192) berpendapat bahwa metode merupakan usaha untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam suatu kegiatan yang nyata. Metode digunakan untuk mewujudkan strategi yang telah ditetapkan. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu. Metode pembelajaran berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, memberi contoh kepada siswa untuk mencapai suatu tujuan. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran dilakukan persiapan berbagai macam kegiatan.

8. Karakteristik Pembelajaran Tematik

(55)
(56)

membentuk kelompok belajar. Jiwa sosial siswa bisa terbentuk dari adanya kelompok kerja yang telah dibentuk.

9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Pelaksanaan

Reformasi

(57)

berpendapat bahwa tidak ada perbedaan produktivitas kerja antara pekerja wanita maupun pekerja laki-laki.

Faktor demografi yang selanjutnya adalah tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan aturan yang sistematis, yang mana pekerja mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum (Sihombing dalam Chaerunniza, 2012: 12). Surani (dalam Chaerunniza, 2012: 12) berpendapat bahwa latar belakang pendidikan seseorang akan sangat mempengaruhi kemampuan pemenuhan kebutuhannya. Status kepegawaian merupakan faktor demografi yang selanjutnya. Undang-Undang ketenagakerjaan membagi status kepegawaian menjadi 2 macam. Status yang pertama adalah pegawai yang terikat dengan perjanjian kerja tidak tentu dan yang kedua adalah pegawai kontrak.

(58)

Chaerunniza, 2012: 14) mengartikan training sebagai proses pendidikan dalam jangka pendek yang menggunakan proedur yang telah diatur. Guru yang sedang menjalani masa pelatihan akan mempelajari pengetahuan dan keterampilan tertentu.

B.Hasil Penelitian yang Relevan

Ni Wayan Sadri (2012) meneliti tetang implementasi pembelajaran tematik. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan keadaan di dalam proses implementasi pembelajaran tematik di SD Gugus I Denpasar Timur di Denpasar. Penenlitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian evaluatif yang mengadopsi evaluasi CIPP. Instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah kuesioner, wawancara, observasi dan dokumentasi.

Subjek dari penelitian ini adalah siswa sekolah dasar kelas I, II, dan III dengan usia enam sampai sembilan tahun. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ni Wayan Sadri dapat disimpulkan bahwa implementasi pembelajaran tematik pada sekolah dasar gugus I Denpasar Timur di Denpasar dilihat dari variabel konteks, input proses dan produk tergolong ke dalam kategori tidak efektif. Maka, perlu untuk diadakan perbaikan baik dari konteks, input, proses dan produk.

(59)

implementasi model pembelajaran tematik di kelas III SD pada gugus 1 Kecamatan Srandakan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SD Gugus 1 di Kecamatan Srandakan yang sudah menerapkan pembelajaran tematik dengan jumlah kelas 8.

Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, wawancara dan dokumen. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siti Nurkhayati menunjukkan bahwa: 1) guru sudah menyususn RPP berdasarkan tema, 2) guru sudah menerapkan pembelajaran tematik, namun di dalam proses belajar mengajar terdapat pemisahan mata pelajaran, 3) guru sudah melakukan penilaian proses pembelajaran dan hasil pembelajarannya, 4) hambatan dalam implementasi model pembelajaran tematik adalah kurangnya pemahaman guru tentang konsep model pembelajaran tematik.

Fatmawati (2011) meneliti tentang penerapan pembelajaran tematik.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menegatahui penerapan model pembelajaran tematik dengan menggunakan media gambar pada mata pelajaran IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika terhadap hasil belajar siswa di kelas II SDN Tuntang dan Kanisius Cungkup. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen.

(60)

penelitian menunjukkan ada perbedaan pengaruh penerapan model pembelajaran tematik dengan menggunakan media gambar dan siswa yang diajar dengan menggunakan model tranmisi pengetahuan mata pelajaran IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika terhadap dua SD.

Arman Rede (2009) meneliti tentang pembelajaan tematik pemanasan global. Penelitian ini dibagi menjadi ke dalam 2 tahap, yaitu tahan penegmbangan dan tahap eksperimen. Penenlitian pengembangan mempunyai tujuan untuk mengembangkan tema sentral pemanasan global menjadi beberapa subtema dan selanjutnya dikembangkan seperangkat pembelajarannya yang mengadopsi pengembangan model kemp. Sedangkan, penelitian eksperimen mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran tematik terhadap kesadaran diri siswa dalam menghadapi permasalahan global. Analisi data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan ANOVA. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas V. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 118 responden. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran tematik mempunyai pngaruh yang nyata terhadap kesadaran diri yang dimiliki oleh siswa.

(61)

siswa mnggunakan antusias, kemampuan dan ketertarikannya terhadap pembelajaran kependudukan dan sejarah.

Gambar 2.1 Literarur Map

Gambar 2.1 menunjukkan posisi penelitian diantara penelitian-penelitian yang relevan. Lima penelitian yang relevan meneliti tentang pembelajaran tematik ditinjau dari media yang digunakan. Penelitian yang dilakukan peneliti merupakan

Sadri. 2012.Studi Evaluasi III Sekolah Dasar Pada Gugus 1 Kecamatan Srandakan Kabupaten Siswa di Kelas II SDN Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012

Rede.2009.Pembelajaran Tematik Pemanasan Global dan Kesadaran Diri Siswa Sekolah Dasar.

Dilek. 2002. Using a Thematic Approach Based on Pupil’s Skill and Interest in Social Stiduies Teaching

(62)

penelitian tentang implementasi pembelajaran tematik ditinjauk dari lama mengajar pembelajaran tematik dan jumlah jam Training menggunakan pembelajaran tematik. Kelima penelitian tersebut menjadi acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei Bagi Guru-Guru Pengampu Kelas

Bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta.

C.Kerangka Berpikir

Perubahan kurikulum pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah Indoneisa adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pendidikan yang ada dinegara Indonesia. Kurikulum-kurikulum yang sebelumnya telah ada dan mengalami perubahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang sebelumnya telah ada. Akan tetapi perubahan kurikulum yang telah dilakukan belum diimbangi dengan adanya perbaikan hasil belajar siswa. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa masih banyak yang terdapat di bawah standar KKM, dan hanya sebagaian kecil saja yang sudah mampu mencapai KKM.

(63)

dibandingan dengan pembelajaran yang lain karena pembelajaran tematik mengaitkan berbagai macam mata pelajaran menjadi satu tema pokok.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah:

1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah di Sekolah dasar Negeri di Kota Yogyakarta adalah tinggi.

2. Ada perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta.

(64)

45

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab III terdapat delapan bagian, yaitu jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, validitas instrumen dan reliabilitas instrumen, dan teknik analisis data.

A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian non experimental cross sectional desain melalui metode survei. John & Christensen (dalam Rismiati 2014: 21) menjelaskan bahwa dalam penelitian non eksperimental desain, variabel independen tidak bisa

dimanupulasi dan tidak ada “random assigment” yang dilakukan oleh peneliti.

(65)

Gambar 3.1

Hubungan Antar Variabel

Keterangan:

X1 : Lama Mengajar Pembelajaran Tematik

X2 : Jumlah Jam Training Menggunakan Pembelajaran Tematik Y : Implementasi pembelajaran tematik

B.Waktu dan Tempat Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini mengambil tempat di Sekolah Dasar Negeri kota Yogyakarta yang berjumlah 97 sekolah.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada September 2013 hingga Juni 2014. X1

X2

(66)

C. Variabel dan Data Penelitian

Farhady (dalam Sugiyono, 2011: 63) mengatakan bahwa variabel adalah perlengkapan suatu objek yang memiliki variasi antara satu objek dengan objek yang lainya. Sugiyono (2011: 63) berpendapat bahwa variabel merupakan perlengkapan dari bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Penelitian ini menggunakan dua macam variabel, diantarnya :

1. Variabel bebas (independent variable)

Sugiyono (2011: 64) menyatakan bahwa variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan variabel terikat. Variabel bebas bisa disebut dengan independent variable. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor demografi lama mengajar menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah jam training.

2. Variabel terikat (dependent variable)

(67)

D.Populasi dan Sampel

Populasi merupakan jumlah dari keseluruhan objek maupun subjek yang diteliti (Effendi, 2012: 155). Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta yang berjumlah 328 guru. Data 328 diperoleh dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta (lihat lampiran 1). Kuesioner disebar sebanyak 328. Kuesioner kembali sebanyak 251. Sisa kuesioner digunakan untuk menghitung validitas. Sebanyak 61 kuesioner digunakan untuk menghitung validitas. Sampel merupakan sebagian dari jumlah keseluruhan populasi (Sugiyono, 2011:119). Sampel dari penelitian ini berjumlah 190 guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta. Sampel tersebut diambil berdasarkan pada tabel Krejcie. Tabel Krejcie merupakan tabel yang digunakan untuk menentukan jumlah minimal sampel yang digunakan dalam penelitian (Krejcie dan Morgan, 1970)). Tabel Krejcie dapat dilihat pada lampiran 19 halaman 267.

(68)

bawah (kelas 1, 2, dan 3). Simple random sampling dalam penelitian ini adalah 328 guru yang diambil secara acak.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi beberapa pertanyaan ataupun pernyataan tertulis kepada responden (Sugiyono, 2011: 192). Kuesioner dalam penelitian ini berisi beberapa pertanyaan dan pernyataan dan menggunakan Skala Likert lima pilihan. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang/responden mengenai fenomena sosial (Sugiyono, 2011: 136). Alasan penggunaan skala Likert dalam penelitian ini adalah jawaban dari pernyataan atau pertanyaan pada kuesioner berupa pendapat.

F. Instrumen Penelitian

(69)

pernyataan tertutup yang terdapat dalam kuesioner. Item-item tersebut terdiri dari item nomor 1 sampai dengan item nomor 34 dan item 40, 41, dan 43. Pernyataan terbuka terdiri dari item nomor 35, 36, 37, 38, 39, dan 42. Peneliti menggunakan lembar kuesioner tersebut untuk menguji kembali tingkat validitas dan reliabilitas kuesioner yang telah dilakukan sebelumnya.

Lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik terdiri dari 7 indikator dimana pada setiap indikatornya terdiri dari item positif dan item negatif. Kuesioner terdiri dari 43 item, dimana 39 diantaranya merupakan item positif dan 4 item lainnya berupa item negatif. Selain mengukur tingkat implementasi pembelajaran tematik, kuesioner ini juga digunakan untuk melihat perbedaan implementasi pembelajaran tematik dilihat dari faktor demografi. Pernyataan mengenai faktor

demografi berjumlah 15 item. Kuesioner ini disusun dengan “summate raiting

scale” atau biasa disebut dengan skala likert (Furchan, 2007: 278-280). Skala ini diubah menjadi lima pilihan jawaban untuk pilihan skor 1-5. Item positif diberi skor

dari “Sangat Tidak Setuju” ke “Sangat setuju”. Sedangkan, untuk item negatif diberi

skor “Sangat Setuju” ke “Sangat Tidak Setuju” dengan pilihan skor 5-1. Berikut

(70)

Tabel 3.1

Penjabaran Skor Item Negratif dan Positif

No Kategori Skor Keterangan

1 Item Positif 1 Sangat Tidak Setuju pada item positif memiliki arti responden sangat tidak setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 2 memiliki arti responden tidak setuju dengan pernyataan yang terdapat pada kuesioner. Skor 3 memiliki arti responden ragu-ragu dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 4 memiliki arti responden setuju dengan pernyataan yang terdapat pada kuesioner. Skor 5 memiliki arti bahwa responden sangat setuju dengan pernyataan pada kuesioner.

Skor 5 pada item negatif memiliki arti respoden sangat tidak setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 4 memiliki arti responden tidak setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 3 memiliki arti responden ragu-ragu dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 2 memiliki arti responden setuju dengan pernyataan pada kuesioner. Skor 1 memiliki arti responden sangat setuju dengan pernyataan pada kuesioner.

(71)

Tabel 3.2

Sebaran item positif dan item negatif

Indikator No

(72)
(73)

Indikator No

(74)

Tabel 3.3 Indikator Kuesioner

Variabel Indikator No. Item Jenis Variabel Tingkat implementasi

Faktor Demografi Dukungan dari kepala sekolah 29, 30, 31, 32, 33, 34

Variabel Bebas Pengalaman mengajar 35

Jenjang Kelas yang diampu 36

Lama mengajar tematik 37

(75)

indikator terdapat 4 item. Varibel tingkat implementasi pembelajaran tematik termasuk ke dalam variabel terikat. Variabel faktor demografi mempunyai 9 indikator. Indikator pertama yaitu dukungan dari kepala sekolah. Indikator kedua memuat lama mengajar. Indikator ketiga dan keempat adalah lama mengajar pembelajaran tematik dan jumlah jam training menggunakan pembelajaran tematik. Indikator kelima dan keenam adalah jumlah siswa dan pendidikan terakhir yang ditempuh oleh guru. Indikator tujuh dan kedelapan adalah status kepegawaian dan jumlah rekan guru.

(76)

training sedikit. Faktor demografi yang lainnya merupakan penelitian dari anggota kelompok studi yang lain.

G. Validitas Instrumen dan Reliabilitas Instrumen

a. Validitas

Anggoro (2011: 36) menjelaskan bahwa validitas bersal dari bahasa Inggris validity yang mempunyai arti keabsahan. Effendi (2012: 126) berpendapat bahwa validitas dibagi menjadi 6 macam, yaitu : (1) validitas konstruk, (2) validitas isi, (3) validitas eksternal, (4) validitas prediktif, (5) Validitas budaya, (6) validitas muka. Penelitian ini hanya menggunakan tiga teknik validitas. Ketiga teknik itu ialah :

1. Validitas isi (content validity)

(77)

diambil sebesar 2,5. Kriteria revisi tersebut diambil karena dalam kuesioner terdapat 4 pedoman skoring, jadi peneliti bersama kelompok studi memutuskan untuk memilih 2,5 untuk dijadikan kriteria revisi.

Tabel 3.4 Kriteria Revisi

Kriteria Pernyataan Revis/Tidak Revisi > 2,5 Positif Tidak Revisi

≥ 2,5 Negatif Tidak Revisi

≤ 2,5 Positif Revisi

< 2,5 Negatif Revisi

(78)

Tabel 3.5

Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa

No Validator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa

1 2 3 4 Rata-rata

1 Dosen a 3 4 4 4 3,75

2 Dosen b 1 3 4 3 2,75

3 Dosen c 3 3 3 3 3

4 Guru a 2 3 4 4 3,25

5 Guru b 3 4 3 4 3,5

6 Guru c 3 2 3 4 3

7 Kepsek a 3 4 4 4 3,75

8 Kepsek b 4 4 4 4 4

Rata-rata 2,75 3,375 3,625 3,75

Tabel 3.5 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pertama yaitu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan nomor item 1 sebesar 2,75. Item nomor 1 tidak memerlukan revisi, karena komentar yang diberikan oleh para ahli atau validator memuat komentar positif. Komentar untuk item 1 yaitu

pernyataan sudah jelas, sudah bisa digunakan untuk mengetahui kebiasaan yang

sering digunakan dalam pembelajaran”. Item nomor 2 mempunyai rata-rata sebesar 3,375. Rata-rata yang dimiliki oleh item nomor 2 menunjukkan bahwa item ini tidak memerlukan revisi, karena komentar yang diberikan berisi komentar positif.

Komentar untuk item 2 yaitu “kata (pilihan) mungkin bisa diganti dengan kata

(kebebasan) karena kata pilihan itu terbatas sedangkan kata kebebasan tidak

terbatas”.

(79)

merupakan komentar positif. Hal ini dikarenakan rata-rata yang dimiliki item nomor 3 lebih dari 2,5. Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah cukup bagus”. Item 4 memiliki rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata item nomor 4 menunjukkan bahwa item ini tidak perlu dilakukan revisi, komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar positif. Hal ini dikarenakan rata-rata yang dimiliki item nomor 4 lebih dari 2,5. Komentar untuk item 4 yaitu “pernyataan sudah bagus dan bisa dipahami oleh guru”.

Tabel 3.6

Hasil Expert Judgement Indikator Siswa Mengalami Pengalaman Langsung dalam Belajar

No Validator Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar

1 2 3 4 Rata-rata

1 Dosen a 4 4 4 4 4

2 Dosen b 4 4 4 4 4

3 Dosen c 4 4 4 4 4

4 Guru a 4 3 4 3 3,5

5 Guru b 3 3 3 4 3,25

6 Guru c 4 4 4 3 3,75

7 Kepsek a 4 4 4 4 4

8 Kepsek b 4 3 3 4 3,5

Rata-rata 3,875 3,625 3,75 3,75

Figur

Tabel 4.10 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Jumlah Jam Training Tabel 4.12 Tabel Hasil Uji Tabel 4.11 Tabel Hasil Uji Homogenitas Faktor Demografi   Tabel 4.9 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik
Tabel 4 10 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Jumlah Jam Training Tabel 4 12 Tabel Hasil Uji Tabel 4 11 Tabel Hasil Uji Homogenitas Faktor Demografi Tabel 4 9 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Implementasi Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik. View in document p.16
Tabel 2.2 menunjukkan ciri khusus dari setiap kurikulum yang pernah
Tabel 2 2 menunjukkan ciri khusus dari setiap kurikulum yang pernah . View in document p.36
Tabel 2.3 Landasan Pengembangan Kurikulum 2013
Tabel 2 3 Landasan Pengembangan Kurikulum 2013 . View in document p.38
Tabel 2.4
Tabel 2 4 . View in document p.39
Tabel 2.5
Tabel 2 5 . View in document p.46
Gambar 2.1 Literarur Map
Gambar 2 1 Literarur Map . View in document p.61
Gambar 3.1 Hubungan Antar Variabel
Gambar 3 1 Hubungan Antar Variabel . View in document p.65
Tabel 3.11
Tabel 3 11 . View in document p.86
Tabel 3.12
Tabel 3 12 . View in document p.88
Gambar 3.2
Gambar 3 2 . View in document p.90
Tabel hasil validitas implementasi pembelajaran tematik Tambah r tabel
Tabel hasil validitas implementasi pembelajaran tematik Tambah r tabel . View in document p.91
Gambar 3.3
Gambar 3 3 . View in document p.92
tabel 3.13 dari Masidjo (1995: 209)
Masidjo 1995 209 . View in document p.93
Tabel 3.16
Tabel 3 16 . View in document p.96
Gambar 3.4 Rumus Panjang Kelas Interval
Gambar 3 4 Rumus Panjang Kelas Interval . View in document p.99
Gambar 3.5 Rumus Jarak atau Rentangan
Gambar 3 5 Rumus Jarak atau Rentangan . View in document p.101
Gambar 3.8
Gambar 3 8 . View in document p.105
Gambar 3.9
Gambar 3 9 . View in document p.107
Gambar 3.10
Gambar 3 10 . View in document p.111
Gambar 3.11
Gambar 3 11 . View in document p.112
Gambar 3.12
Gambar 3 12 . View in document p.113
Gambar 3.14
Gambar 3 14 . View in document p.114
Tabel 3.17
Tabel 3 17 . View in document p.115
Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval
Tabel 4 1 Panjang Kelas Interval . View in document p.119
Tabel 4.4 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Imlementasi Pembelajaran Tematik Junior
Tabel 4 4 Tabel Hasil Uji Normalitas Data Imlementasi Pembelajaran Tematik Junior . View in document p.122
Gambar 4.1 Hasil Uji Normalitas P P-Plot Data Implementasi Dengan Lama Mengajar
Gambar 4 1 Hasil Uji Normalitas P P Plot Data Implementasi Dengan Lama Mengajar . View in document p.123
Gambar 4.2 Hasil Uji Normaitas Histogram Data Implementasi Dengan Lama Mengajar
Gambar 4 2 Hasil Uji Normaitas Histogram Data Implementasi Dengan Lama Mengajar . View in document p.124
Gambar 4.4 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Data Implementasi
Gambar 4 4 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Data Implementasi . View in document p.128
Tabel 4.8 Kategorisasi Faktor demografi Jumlah Jam Tarining Menggunakan Pembelajaran
Tabel 4 8 Kategorisasi Faktor demografi Jumlah Jam Tarining Menggunakan Pembelajaran . View in document p.133
Gambar 4.6 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Data Implementasi
Gambar 4 6 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Data Implementasi . View in document p.137

Referensi

Memperbarui...