Optimasi parafin cair sebagai emolien dan gliserin sebagai humektan dalam krim sunscreen ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) menggunakan aplikasi desain faktorial - USD Repository

90 

Teks penuh

(1)

OPTIMASI PARAFIN CAIR SEBAGAI EMOLIEN DAN GLISERIN SEBAGAI HUMEKTAN DALAM KRIM SUNSCREEN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) MENGGUNAKAN APLIKASI DESAIN

FAKTORIAL

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Ella Puspitasari

NIM : 108114031

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

OPTIMASI PARAFIN CAIR SEBAGAI EMOLIEN DAN GLISERIN SEBAGAI HUMEKTAN DALAM KRIM SUNSCREEN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) MENGGUNAKAN APLIKASI DESAIN

FAKTORIAL

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Ella Puspitasari

NIM : 108114031

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)

ii

Persetujuan Pembimbing

OPTIMASI PARAFIN CAIR SEBAGAI EMOLIEN DAN GLISERIN SEBAGAI HUMEKTAN DALAM KRIM SUNSCREEN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) MENGGUNAKAN APLIKASI DESAIN

FAKTORIAL

Skripsi yang diajukan oleh :

Ella Puspitasari

NIM : 108114031

telah disetujui oleh

Pembimbing

(4)

iii

Pengesahan Skripsi Berjudul

OPTIMASI PARAFIN CAIR SEBAGAI EMOLIEN DAN GLISERIN SEBAGAI HUMEKTAN DALAM KRIM SUNSCREEN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) MENGGUNAKAN APLIKASI DESAIN

FAKTORIAL

Oleh :

Ella Puspitasari

NIM : 108114031

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi

Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma

Pada tanggal : ……….

Mengetahui, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Dekan,

Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt.

Panitia Penguji Tanda tangan

1. Septimawanto Dwi Prasetyo, M.Si., Apt. ………

2. Enade Perdana Istyastono, Ph.D., Apt. ………

(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya yang tak sempurna ini kupersembahkan kepada :

“Jesus Christ”

Papa dan Mama tercinta

Ko Welly, Ci Lenny, dan adikku Selly

Teman-teman Angkatan 2010

serta Almamaterku

Jangan terlalu terlena akan pujian, karena

sesungguhnya pujian itu adalah racun bagi

dirimu sendiri.

Ella Puspitasari

Ia membuat segala sesuatu indah pada

waktunya, bahkan Ia memberikan

kekekalan dalam hati mereka.

(Pengkhotbah 3 : 11a)

Nalar hanya akan membawa anda dari A

menuju B, namun imajinasi mampu membawa

anda dari A ke manapun.

Albert Einstein

(6)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 16 Juli 2014 Penulis,

(7)

vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Ella Puspitasari

Nomor Mahasiswa : 108114031

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

OPTIMASI PARAFIN CAIR SEBAGAI EMOLIEN DAN GLISERIN SEBAGAI HUMEKTAN DALAM KRIM SUNSCREEN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) MENGGUNAKAN APLIKASI DESAIN

FAKTORIAL

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan

data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau

media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya

ataupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya

sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 14 Agustus 2014

Yang menyatakan

(8)

vii

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, kasih, rahmat, dan

penyertaan-Nya yang diberikan kepada penulis, sehingga penulis bisa

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Optimasi Parafin Cair sebagai Emolien dan

Gliserin sebagai Humektan dalam Krim Sunscreen Ekstrak Daun Jambu Biji

(Psidium guajava L.) Menggunakan Aplikasi Desain Faktorial” dengan baik.

Penulis mengalami banyaknya kesulitan dan hambatan selama

menyelesaikan skripsi ini. Namun, oleh bantuan dan dukungan dari banyak pihak,

maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis ingin

mengucapkan terimakasih kepada :

1. Kedua Orang tua dan Ko Welly yang telah memberikan kasih sayang,

semangat, dukungan, dan perjuangan untuk membiayai selama penulis

menempuh perkuliahan.

2. Ci Lenny dan Selly, keluarga yang senantiasa mendoakan serta memberikan

dukungan dan semangat kepada penulis.

3. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma.

4. Bapak Septimawanto Dwi Prasetyo, M.Si., Apt., selaku pembimbing, atas

perhatian, bimbingan, arahan, semangat, dan dukungan yang diberikan

selama penyusunan proposal, penelitian, dan penyusunan skripsi.

5. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku dosen penguji yang telah

(9)

viii

6. Bapak Enade Perdana Istyastono, Ph.D., Apt., selaku dosen penguji yang

telah meluangkan waktunya untuk menguji, sekaligus saran dan kritik yang

diberikan.

7. Ibu Phebe Hendra, M.Si., Apt., Ph.D., selaku dosen pembimbing akademik

atas segala perhatian yang diberikan kepada penulis.

8. Pak Musrifin, Pak Wagiran, Mas Bimo, dan laboran-laboran lain atas bantuan

yang diberikan selama penelitian dan menempuh perkuliahan.

9. Sahabat-sahabatku Callista, Kak Ve, Ita, Ci Cici, Ria, Meta, Gita, Irza, dan

Lintang sahabat berbagi cerita yang menguatkan, menghibur, dan mendukung

selama ini.

10.Sahabat-sahabatku satu perjuangan Rani dan Daniel atas dukungan, diskusi,

dan bantuan selama ini, serta kesediaan untuk direpotkan.

11.Semua teman-teman angkatan 2010, khususnya kelas FST A atas

kebersamaan, semangat, dukungan, keceriaan selama ini.

12.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata, penulis menyadari masih adanya kekurangan dalam

penyusunan skripsi ini mengingat keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang

dimiliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun

dari semua pihak. Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat bagi perkembangan

ilmu pengetahuan.

(10)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

INTISARI ... xvi

ABSTRACT ... xvii

BAB I. PENGANTAR ... 1

A. Latar Belakang ... 1

1. Perumusan Masalah ... 3

2. Keaslian Penelitian ... 3

3. Manfaat Penelitian ... 4

B. Tujuan Penelitian ... 4

(11)

x

2. Tujuan Khusus ... 4

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ... 5

A. Kulit ... 5

1. Epidermis ... 5

2. Dermis ... 6

B. Sinar Ultraviolet ... 6

C. Daun Jambu Biji ... 7

D. Maserasi ... 9

E. Sunscreen ... 10

F. Sun Protection Factor ... 11

G. Krim ... 12

H. Bahan Formulasi ... 13

1. Parafin Cair ... 13

2. Gliserin ... 13

3. Span 80 ... 14

4. Asam Sterat ... 15

5. Karbopol ... 16

6. Triethanolamine ... 17

7. Nipagin ... 17

I. Uji Sifat Fisik Krim ... 18

1. Viskositas ... 18

2. Daya Sebar ... 18

(12)

xi

K. Landasan Teori ... 20

L. Hipotesis ... 21

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 22

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 22

B. Variabel Penelitian ... 22

1. Variabel Bebas ... 22

2. Variabel Tergantung ... 22

3. Variabel Pengacau Terkendali ... 23

4. Variabel Pengacau Tak Terkendali ... 23

C. Definisi Operasional ... 23

D. Bahan Penelitian ... 25

E. Alat Penelitian ... 25

F. Tata Cara Penelitian ... 26

1. Pembuatan Ekstrak Cair Daun Jambu Biji ... 26

2. Penetapan SPF Ekstrak Daun Jambu Biji dan Jumlah Ekstrak yang Diperlukan untuk Mencapai SPF 30 ... 26

3. Pembuatan Krim ... 27

4. Uji Kualitatif Krim Tipe W/O ... 30

5. Uji pH ... 30

6. Uji Viskositas, Daya Sebar, dan Pergeseran Viskositas ... 30

G. Analisis Hasil ... 31

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32

(13)

xii

B. Penetapan SPF Ekstrak Daun Jambu Biji ... 33

C. Formulasi Krim Sunscreen Ekstrak Daun Jambu Biji ... 34

D. Uji Organoleptis, Kualitatif Krim Tipe W/O, dan Uji pH ... 36

E. Penentuan Level Parafin Cair dan Gliserin ... 36

1. Penentuan Level Parafin Cair ... 37

2. Penentuan Level Gliserin ... 38

F. Uji Sifat Fisik Sediaan Krim Sunscreen ... 39

G. Uji Stabilitas Fisik Sediaan Krim Sunscreen ... 41

H. Pengaruh Gliserin dan Parafin Cair terhadap Viskositas, Daya Sebar, dan Pergeseran Viskositas ... 42

1. Viskositas ... 43

2. Daya Sebar ... 45

3. Pergeseran Viskositas ... 46

I. Optimasi Formula ... 47

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 49

A. Kesimpulan ... 49

B. Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50

LAMPIRAN ... 54

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel I. Nilai EE x I pada  290-320 nm ... 11

Tabel II. Rancangan desain faktorial parafin cair dan gliserin ... 27

Tabel III. Level tinggi dan rendah parafin cair dan gliserin ... 27

Tabel IV. Formula standar ... 28

Tabel V. Formula modifikasi ... 27

Tabel VI. Formula rancangan desain faktorial parafin cair dan gliserin ... 29

Tabel VII. Hasil uji sifat fisik dan stabilitas krim ... 40

Tabel VIII. Uji Shapiro-wilk viskositas ... 43

Tabel IX. Nilai efek parafin cair dan gliserin serta interaksinya terhadap respon viskositas ... 44

Tabel X. Signifikansi efek dengan uji ANOVA viskositas ... 44

Tabel XI. Uji Shapiro-wilk daya sebar ... 45

Tabel XII. Nilai efek parafin cair dan gliserin serta interaksinya terhadap respon daya sebar ... 45

Tabel XIII. Signifikansi efek dengan uji ANOVA daya sebar ... 46

Tabel XIV. Uji Shapiro-wilk pergeseran viskositas ... 46

Tabel XV. Nilai efek parafin cair dan gliserin serta interaksinya terhadap respon pergeseran viskositas ... 47

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Daun dan buah jambu biji ... 7

Gambar 2. Struktur molekul guaijaverin ... 8

Gambar 3. Struktur molekul kuersetin ... 8

Gambar 4. Struktur molekul gliserin ... 13

Gambar 5. Struktur molekul span 80 ... 14

Gambar 6. Struktur molekul asam stearat ... 15

Gambar 7. Unit monomer asam akrilat polimer karbopol ... 16

Gambar 8. Struktur molekul triethanolamine ... 17

Gambar 9. Struktur molekul nipagin ... 17

Gambar 10. Grafik penentuan level parafin cair berdasarkan respon viskositas ... 37

Gambar 11. Grafik penentuan level parafin cair berdasarkan respon daya sebar ... 37

Gambar 12. Grafik penentuan level gliserin berdasarkan respon viskositas ... 38

Gambar 13. Grafik penentuan level gliserin berdasarkan respon daya sebar .. 38

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Determinasi Tumbuhan ... 54

Lampiran 2. Penetapan Nilai SPF ... 55

Lampiran 3. Orientasi Level Kedua Faktor Penelitian ... 56

Lampiran 4. Hasil Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Krim ... 58

Lampiran 5. Analisis Statistika Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Menggunakan R- 3.1.0 ... 60

(17)

xvi

INTISARI

Penggunaan sunscreen bersifat wajib di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Salah satu senyawa alami berkhasiat sebagai sunscreen adalah kuersetin dalam daun jambu biji. Maka pada penelitian ini krim sunscreen dibuat dari ekstrak daun jambu biji. Krim sunscreen dikatakan baik apabila efektif dan nyaman diaplikasikan. Beberapa parameternya adalah sifat dan stabilitas fisik sediaan. Parameter sifat fisik adalah viskositas dan daya sebar, dan parameter stabilitas fisik adalah pergeseran viskositas.

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek parafin cair sebagai emolien, gliserin sebagai humektan, dan interaksinya terhadap respon yaitu viskositas, pergeseran viskositas, dan daya sebar krim sunscreen ekstrak daun jambu biji. Penelitian ini menggunakan desain faktorial dua faktor yaitu parafin cair dan gliserin serta dua level yaitu level tinggi-rendah. Analisis data statistik menggunakan two-way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui signifikansi (p<0,05) setiap faktor dan interaksinya dalam memberikan efek.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu biji memiliki nilai SPF sebesar 1,0178. Parafin cair, gliserin, dan interaksinya memberikan respon signifikan terhadap viskositas, nilai efek terbesar ditunjukkan oleh parafin cair. Parafin cair memberikan respon signifikan terhadap daya sebar, sedangkan gliserin dan interaksi keduanya tidak signifikan. Maka pada penelitian ini tidak didapatkan area optimum. Pada pergeseran viskositas, parafin cair, gliserin, dan interaksinya tidak memberikan respon signifikan.

(18)

xvii

ABSTRACT

Application of sunscreen is required in tropical countries such as Indonesia. One of the natural compounds that efficacious as sunscreen is quercetin in guava leaves. Hence in this study, sunscreen cream made with guava leaf extract. Sunscreen cream can be said proper if it can be effective and comfortable when applied. Some parameters of proper cream are physical properties and physical stability. Parameter of physical properties are viscosity and spreadability, and parameter of physical stability is viscosity shift.

This study aims to determine the effect of liquid paraffin as an emollient, glycerin as a humectant, and its interaction to response, that is viscosity, viscosity shift, and spreadability in sunscreen cream of leaf extracts of guava. This study using a factorial design of two factors, that is liquid paraffin and glycerin and two levels that is high-low. Data were analyzed using two-way ANOVA and statistical analysis performed at 95% confidence interval to determine the significance (p<0.05) of each factor and their interaction influence the effect.

The results showed that leaf extracts of guava has an SPF value for 1,0178. Liquid paraffin, glycerin, and their interactions provide a significant response to the viscosity, the value of the largest effects shown by liquid paraffin. Liquid paraffin gives a significant response to the spreadability, while glycerin and their interaction was not significant. Hence in this study does not obtain the optimum area. In viscosity shift, liquid paraffin, glycerin, and their interaction did not give a significant response.

(19)

1

BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Indonesia termasuk negara yang beriklim tropis, dimana intensitas sinar

matahari sangat tinggi. Penyinaran sinar matahari yang berlebih pada kulit dapat

menimbulkan dampak negatif yaitu eritema, pencoklatan kulit (tanning) akibat

melanogenesis, sampai kanker kulit. Sinar UV yang menyebabkan reaksi

fisiologis tersebut adalah UV-A dan sinar tampak dari matahari (Tranggono dan

Latifah, 2007). Untuk mengurangi dampak negatif sinar UV maka dapat

digunakan sunscreen, dimana sunscreen dapat memantulkan radiasi maupun mengabsorpsinya sehingga energi radikal bebas UV melemah sebelum dapat

tembus masuk ke dalam kulit (Stanfield, 2003).

Jambu biji adalah tanaman yang banyak ditemukan di negara-negara

tropis, salah satunya Indonesia. Menurut Indriani (2006), daun jambu biji

(Psidium guajava L.) terbukti mengandung flavonoid, tanin, fenolat, dan minyak atsiri. Kuersetin merupakan salah satu jenis flavonoid dalam daun jambu biji. Hal

ini dibuktikan oleh Tachakittirungrod, Ikegami, Okonogi (2007), dimana di

dalam ekstrak daun jambu biji mengandung antioksidan berupa kuersetin.

Kuersetin dapat menyerap UV karena pada strukturnya memiliki gugus kromofor

(20)

Sediaan topikal yang digunakan dalam penelitian ini adalah krim, karena

konsistensi dan kekentalannya cocok diaplikasikan pada sediaan sunscreen

dimana cukup untuk mengalami kontak yang lebih lama di kulit. Tipe emulsi krim

yang cocok diaplikasikan untuk sediaan sunscreen adalah tipe W/O atau air dalam

minyak karena tidak mudah tercuci air sehingga tidak mudah hilang dari lapisan

permukaan kulit terutama oleh keringat. Pengaplikasian sediaan sunscreen

dilakukan saat matahari terik dimana suhu lingkungan panas sehingga bisa

menyebabkan hilangnya kelembaban di kulit. Tipe krim W/O memiliki kelebihan

meningkatkan kelembaban kulit lebih baik dibanding O/W.

Sifat fisis dan stabilitas krim bisa dipengaruhi oleh emolien dan humektan

yang umumnya harus ada dalam krim sunscreen sehingga perlu dilakukan optimasi formula. Pada penelitian ini dilakukan optimasi emolien berupa parafin

cair dan humektan berupa gliserin. Emolien adalah bahan yang dipakai untuk

menutup permukaan lapisan korneum sehingga dapat menahan air pada lapisan

korneum (Ifnudin, 2011). Sedangkan humektan adalah pelembab kulit berupa

sediaan higroskopis sehingga mampu menjaga kandungan air di kulit dengan

menarik air ke dalam kulit. Viskositas krim merupakan faktor yang penting dalam

sediaan krim karena jika terlalu kental akan sukar dituang dari kemasan dan sukar

dioleskan pada permukaan kulit. Sedangkan jika viskositas krim terlalu encer

maka bentuk kontak krim dengan kulit akan singkat. Maka dari itu, dalam

penelitian ini dilakukan optimasi parafin cair sebagai emolien dan gliserin sebagai

humektan sehingga nantinya dihasilkan krim yang stabil selama penyimpanan dan

(21)

Dalam penelitian ini, optimasi formula yang dilakukan dengan

menggunakan aplikasi desain faktorial. Aplikasi ini memungkinkan pengamatan

kedua faktor secara simultan dan tidak membuat salah satu faktor konstan

sehingga didapatkan pengaruh faktor secara simultan dan interaksinya (Armstrong

dan James, 1996). Desain faktorial bertujuan untuk mengetahui faktor yang paling

dominan berpengaruh terhadap sifat fisik dan stabilitas krim. Nantinya diharapkan

area optimum dari komposisi parafin cair dan gliserin dalam pembuatan krim

sunscreen ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.).

1. Perumusan Masalah

a. Manakah faktor yang lebih dominan dalam mempengaruhi respon sifat

fisik dan stabilitas krim sunscreen ekstrak daun jambu biji di antara parafin cair, gliserin, dan interaksinya ?

b. Adakah area optimum komposisi parafin cair dan gliserin pada counter plot superimposed dalam pencampuran krim sunscreen ekstrak daun jambu biji ?

2. Keaslian Penelitian

Sejauh penelusuran pustaka yang telah dilakukan penulis, penelitian

tentang Optimasi Parafin Cair sebagai Emolien dan Gliserin sebagai

Humektan dalam Krim Sunscreen Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava

L.) Menggunakan Aplikasi Desain Faktorial belum pernah dilakukan.

(22)

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoretis. Menambah informasi mengenai bentuk sediaan krim yang berasal dari bahan alam dengan menggunakan gliserin sebagai

humektan dan parafin cair sebagai emolien.

b. Manfaat metodologis. Memberikan informasi mengenai penggunaan desain faktorial dalam mengamati efek parafin cair dan gliserin terhadap

viskositas, daya sebar, dan kestabilan krim ekstrak daun jambu biji.

c. Manfaat praktis. Menghasilkan sediaan krim ekstrak daun jambu biji sebagai sunscreen sehingga pengembangan bahan alam dalam sediaan

formulasi krim dapat ditingkatkan.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Membuat krim dari bahan alam yaitu ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.), dengan parafin cair sebagai emolien dan gliserin sebagai

humektan.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui faktor yang lebih dominan dalam mempengaruhi respon sifat

fisik dan stabilitas krim sunscreen ekstrak daun jambu biji di antara parafin cair, gliserin, dan interaksinya.

b. Mengetahui area optimum komposisi parafin cair dan gliserin pada

(23)

5

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Kulit

Kulit adalah lapisan terluar dari tubuh. Kulit memiliki 2 lapisan yaitu :

1. Epidermis yang merupakan lapisan teratas dan tersusun dari jaringan epitel skuamosa bertingkat yang mengalami keratinasi. Dapat digolongkan menjadi

lima lagi dari yang terluar, yaitu :

a. Stratum korneum. Bagian yang memiliki 25-30 lapisan yang terkeratinasi

dan bentuknya semakin gepeng makin mendekati permukaan luar kulit.

Lapisan ini mengalami deskuamasi yaitu pergantian ulang lapisan karena

desakan lapisan dibawahnya (lapisan basal).

b. Stratum lusidium. Bagian yang terdiri dari sel-sel gepeng mati atau hampir

mati, jernih, tembus cahaya, dan berketebalan empat sampai tujuh sel.

c. Stratum granulosum. Bagian yang berfungsi sebagai prekursor

pembentukan keratin (keras dan anti air) dan terdiri tiga sampai lima sel.

d. Stratum spinosum. Bagian yang terdiri dari sel tanduk yang merupakan

bagian penghubung intraseluler.

e. Stratum basalis. Bagian dimana merupakan lapisan yang mengalami

pembelahan sel dengan cepat dan mendorong lapisan diatasnya. Terdapat

melanosit yang berperan dalam pewarnaan kulit. Produksi melanin

meningkat jika terpapar sinar matahari (Sloane, 2004).

(24)

Melanin berpengaruh pada warna kulit, semakin banyak melanin

maka warna kulit makin gelap. Melanin diproduksi oleh suatu organel

dalam lapisan basal epidermis yang disebut melanosom. Proses sintesisnya

dinamakan melanogenesis dimana asam aminotrosin dioksidasi menjadi

L-dihidroksifenilalanin lalu menjadi dopakuinon. Dopakuinon pada pH

fisiologis akan mengalami polimerisasi menjadi melanin. Melanin ada 2

macam yaitu eumelanin dan phaeomelanin (Videira, Moura, Magina,

2013).

2. Dermis yang merupakan lapisan jaringan ikat bagian bawah dan mengikat epidermis pada struktur di bawahnya (Sloane, 2004).

Pada stratum spinosum terdapat granul lamellar yang berisi kolestrol,

asam lemak, dan seramida, dimana berfungsi melindungi dari paparan materi

tidak larut air. Kandungan tersebut juga berfungsi menjaga kelembaban kulit atau

mencegah hilangnya natural moisturizing factor (NMF) (Sloane, 2004).

B. Sinar Ultraviolet

Spektrum UV yang berasal dari matahari dan sampai ke permukaan bumi

berkisar antara 300-400 nm, dimana dibagi menjadi 2 yaitu UV-A pada 320-400

nm dan UV-B pada 290-320 nm. Ada juga UV-C yang memiliki panjang

gelombang 200-290 nm yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan tetapi sudah

tersaring oleh lapisan ozon. UV-A dapat menyebabkan melanogenesis, penuaan

(25)

dari sunburn akibat energi panas sinar matahari. Efek UV-A lebih banyak dirasakan karena lebih banyak mencapai permukaan bumi dibanding UV-B

(Harry, 1982; Stanfield, 2003).

C. Daun Jambu Biji

Gambar 1. Daun dan buah jambu biji (Parimin, 2005)

Jambu biji (Psidium guajava Linn.) adalah tanaman yang termasuk dalam

keluarga Myrtaceae, berupa perdu bercabang banyak, dikotil, berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Batang jambu biji berkayu keras dan berwarna cokelat

atau cokelat keabu-abuan. Bunga jambu biji berwarna putih, kelopak dan mahkota

bunga masing-masing berjumlah lima dengan benang dan tangkai sari berwarna

putih. Buah jambu biji berwarna hijau sampai kuning muda, berbentuk bulat atau

bulat lonjong, dan warna daging buahnya ada yang merah dan putih. Daun jambu

biji berwarna hijau tua sampai hijau berbelang kuning, berbentuk bulat langsing

(26)

sampai oval, degan permukaan yang halus biasa sampai mengkilap. Helai daun

memiliki panjang 5-15 cm dengan lebar 3-6 cm dan panjang tangkai sekitar 3-7

mm (Parimin, 2005).

Gambar 2. Struktur molekul guaijaverin

Daun jambu biji terbukti mengandung saponin, glikosida, terpenoid,

antrakuinon, tanin, flavonoid, dan alkaloid. Salah satu senyawa flavonoid dari

kelompok flavanol yang banyak terkandung adalah kuersetin (3’,4’

-dihidroksiflavonol) sebesar 0,181-0,393%. Di dalam daun jambu biji juga banyak

terdapat turunannya seperti avikularin, guaijaverin, isokuersetin, hiperin,

kuersitrin, kuersetin 3-0-gentiobiosida, kuersetin 4'-glukuronoida. Kandungan

khas dari tanaman maupun daun jambu biji adalah guaijaverin, sedangkan

kandungan sunscreen terbanyak dari daun jambu biji adalah kuersetin (Fahlman, 2010; Okunrobo, Imafidon, Alabi, 2010; Sohafy, Metwalli, Harraz, Omar, 2009).

(27)

Kuersetin dapat berfungsi sebagai sunscreen karena menyerap UV-A dan UV-B dimana memiliki gugus hidroksil pada cincin B. Kuersetin dapat

menginduksi oksidasi lipid untuk perlindungan terhadap UV dan bekerja 2 kali

lebih efektif mencegah UV-B daripada UV-A. Penghambatan photosensitization

oleh ketoprofen dan pencegahan efek buruk UV pada sistem biologis dengan

mengurangi sekresi matriks metalloprotease 1 juga merupakan kemampuan yang

dimiliki kuersetin. Kuersetin terbukti stabil dan photoproduct dari kuersetin tidak

toksik. Kuersetin terdekomposisi pada suhu >3170 C. Kuersetin larut dalam etanol

dan aseton (Fahlman, 2009; Fahlman, 2010; ChemCAS, 2014).

Kuersetin memiliki gugus kromofor yang memiliki ikatan rangkap

terkonjugasi dan auksokrom yang memiliki pasangan elektron bebas. Gugus

fungsi pada kuersetin akan bereaksi dengan radikal bebas dimana akan

mendonorkan elektron pada cincin benzena kuersetin sehingga resonansi

meningkat sehingga radikal bebas akan netral. Gugus fungsi tersebut :

1. o-dihidroksil pada cincin benzena

2. 4-okso pada konjugasi dengan alkena 2,3

3. gugus 3- dan 5-hidroksil (Casagrande et al., 2006).

D. Maserasi

Ekstraksi merupakan proses penyarian zat dari suatu bahan. Metode

ekstraksi yang paling umum dilakukan adalah maserasi. Maserasi adalah ekstraksi

dengan merendam sampel sambil digojog konstan menggunakan pelarut organik

pada temperatur ruangan. Saat direndam maka dinding dan membran sel pecah

(28)

karena adanya perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, lalu metabolit

sekunder yang terdapat pada sitoplasma terlarut dalam pelarut organik.

Keuntungan maserasi yaitu jumlah sampel yang dibutuhkan sedikit (List dan

Schmidt, 1989).

E. Sunscreen

Sunscreen adalah senyawa yang dapat menyerap (chemical) dan atau memantulkan/menghamburkan radiasi UV (physical) dengan membentuk lapisan

buram pada permukaan kulit sehingga mengurangi perusakan UV yang

terpenetrasi pada kulit. Di dalam produk sunscreen, umumnya terdiri dari dua

atau lebih senyawa sunscreen agar lebih luas spektrum absorpsi dari energi UV (Stanfield, 2003).

Sunscreen dibedakan menjadi 3 berdasarkan tujuan penggunaannya yaitu

sunburn (absorbsi 290-320 nm >95% UV), suntanning (absorbsi 290-320 nm >85% UV), dan sunblock (barrier fisik) (Harry, 1982).

Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam perlindungan sunscreen

yaitu produk dapat hilang saat pemakai berkeringat atau berenang dan

penggunaan dalam jumlah yang tepat oleh pemakai. Penggunaan dalam jumlah

yang tepat berhubungan dengan Sun Protection Factor (SPF), sedangkan perhatian akan hilangnya sunscreen saat pemakaian berhubungan dengan

ketahanan produk akan air yang dikenal dengan istilah “water resistant”

(29)

F. Sun Protection Factor (SPF)

SPF merupakan derajat dimana produk sunscreen dapat melindungi

terhadap eritema atau sunburn. Nilai SPF didapat dari Ratio Minimal Erythema Dose (MED) dari kulit yang terlindungi sunscreen dengan MED tanpa sunscreen.

MED merupakan dosis paling kecil agar energi UV dapat menghasilkan eritema

yang tampak pada sisi yang terpapar. Di pasaran, rentang SPF bisa dari 2-60,

tetapi menurut FDA Sunscreen Monograph batasnya hanya 30. SPF 2 dapat

mentransmisikan 50% energi sunburning, SPF 15 sebesar 6,7%, SPF 30 sebesar 3,3%, dan SPF 50 sebesar 2% (Stanfield, 2003).

Tabel I. Nilai EE x I pada  290-320 nm (Sayre, Agin, Levee, Marlowe, 1979) Panjang gelombang (nm) EE x I

Perhitungan nilai SPF dengan menggunakan spektrofotometer UV

sebelumnya sudah dilakukan oleh Sayre et al. (1979) dan didapat nilai perkalian antara spektrum efek eritremal dengan intensitas spektrum sinar yang konstan.

Lalu dikembangkan lagi oleh Mansur, Breder, Mansur, Azulay (1986) dan didapat

suatu rumus perhitungan perhitungan matematika sederhana untuk menentukan

nilai SPF (Mansur et al., 1986).

(30)

Rumus Mansur :

………...……..…… (1)

Dimana : EE = spektrum efek eritremal

I = intensitas spektrum sinar

A = serapan ekstrak

CF = faktor koreksi (10) (Mansur et al., 1986).

G. Krim

Krim merupakan bentuk sediaan setengah padat yang dapat berupa emulsi

dari satu atau lebih bahan obat yang larut atau terdispersi dalam basis yang sesuai

dan mengandung air tidak kurang dari 60%. Stabilitas krim dapat rusak jika terjadi

penambahan salah satu fase dengan berlebihan. Terdapat 2 tipe krim yaitu tipe

O/W atau minyak dalam air yang dapat tercuci air dan tipe W/O atau air dalam

minyak yang tidak tercuci air (Syamsuni, 2000).

Terdapat 3 macam ketidakstabilan pada emulsi krim yaitu creaming, koalesen, dan inversi. Creaming merupakan pemecahan emulsi ke fase semula

dimana salah satu memiliki fase dispersi lebih banyak. Koalesen adalah

penggabungan globul-globul yang lebih besar lanjutan dari peristiwa creaming. Dan inversi adalah berubahnya sistem emulsi W/O menjadi O/W atau sebaliknya

(31)

H. Bahan Formulasi 1. Parafin cair

Parafin cair atau minyak mineral merupakan campuran cairan jernih

jenuh alifatik dan hidrokarbon siklis dari petroleum. Bentuknya cairan

minyak kental yang transparan, tidak berwarna, dan tidak mempunyai rasa.

Parafin cair memilik titik didih >3600C dan larut dalam aseton, benzena,

kloroform, karbon disulfida eter, petroleum eter, sehingga praktis tidak larut

air. Parafin cair dapat berfungsi sebagai emolien, lubrikan, oleaginous

vehicle, pelarut, dan vaccine adjuvant. Penggunaan parafin cair pada emulsi topikal yaitu 1,0-32,0%. Viskositasnya sebesar 110-230 mPa s pada 200C dan

inkompatibel dengan agen pengoksidasi yang kuat (Rowe, Sheskey, Quinn,

2009).

Dalam krim sistem W/O, kestabilan dapat meningkat dengan tingginya

parafin cair. Rantai panjang parafin cair dapat membentuk jaringan lunak tiga

dimensi padat dimana rantai pendek parafin cair menghentikan lysosorption

(Rieger dan Rhein, 1997).

2. Gliserin

Gambar 4. Struktur molekul gliserin

(32)

Gliserin atau gliserol merupakan alkohol trihidrat berupa cairan

higroskopis kental, jernih, meemiliki rasa manis, tidak berwarna, dan berbau.

Gliserin memiliki titik didih 2900C, titik lebur 17,80C, dan viskositasnya

dalam konsentrasi 83% w/w sebesar 111,0 mPa s pada 200C. Kelarutannya

yaitu larut air, metanol, etanol, sehingga praktis tidak larut minyak dan

kloroform. Gliserin dapat berfungsi sebagai bahan pengawet, humektan,

kosolven, pelarut, pemanis, plasticizer, dan agen tonisitas. Gliserin dapat

digunakan sebagai humektan pada <30% dari formulasi dan inkompatibel

dengan agen pengoksidasi kuat (Rowe et al., 2009).

3. Span 80

Gambar 5. Struktur molekul span 80 (U.S. Environmental Protection Agency, 2010)

Surfaktan merupakan senyawa yang dapat mengubah antarmuka

antara berbagai fase. Salah satu tipe surfaktan adalah surfaktan non-ionik

yang tidak mempengaruhi pH sediaan. Pada pengemulsi non-ionik, karbopol

rentang konsentrasi 0,1-0,5% dapat membantu stabilitas (Rieger dan Rhein,

(33)

Span 80 atau sorbitan monooleat adalah campuran dari bagian ester

dari sorbitol dan asam lemak anhidrat berupa cairan kental kuning dengan

berat molekul 429 g/mol. Span 80 memiliki nilai keasaman <8, berat jenis

1,01 g/cm3, nilai HLB 4,3, nilai hidroksil 193-209, nilai saponifikasi

149-160, dan viskositas 970-1080 mPa s pada 250C. Span 80 dapat berfungsi

sebagai agen pendispersi, agen pengemulsi, surfaktan non-ionik, agen

pelarut, pengendap, dan pembasah. Span 80 akan menghasilkan emulsi W/O

yang stabil ketika digunakan sendiri pada konsentrasi 1-15% (Rowe et al.,

2009).

4. Asam stearat

Gambar 6. Struktur molekul asam stearat

Asam stearat adalah campuran dari asam stearat dan asam palmitat

berupa padatan putih berkilau. Asam stearat memiliki nilai keasaman

195-212, titik lebur 69-700C, dan nilai saponifikasi 200-220. Kelarutannya yaitu

larut dalam benzena, kloroform, eter, etanol 95%, heksana, sehingga praktis

tidak larut air. Asam stearat dapat berfungsi sebagai agen pengemulsi,

lubrikan kapsul, dan solubilizing agent. Asam stearat yang digunakan dalam sediaan topikal dinetralkan keasamannya dengan senyawa alkali atau

triethanolamine karena dapat mengiritasi selain itu juga dapat membentuk konsistensi yang creamy. Penggunaan asam stearat pada krim yaitu sebesar

(34)

20%. Inkompatibilitas asam stearat yaitu dengan sebagian besar hidroksida

logam (Rowe et al., 2009).

5. Karbopol

Gambar 7. Unit monomer asam akrilat polimer karbopol (Rowe et al., 2009)

Karbopol atau karbomer merupakan polimer sintetis dari asam akrilat

dengan bobot molekul besar dimana berikatan silang dengan alil sukrosa atau

alil eter dari pentaeritritol. Bentuknya yaitu bubuk putih higroskopis, asam,

dan sedikit berbau. Karbopol 940 memiliki pH 2,5-4,0 dan viskositas

40000-60000 mPa s (0,5% w/v) dalam air. Karbopol dapat digunakan sebagai bahan

bioadhesive, agen pengemulsi, penstabil, pengendap, penstabil emulsi,

controlled-release agent, rheology modifier, dan tablet binder.

Penggunaannya sebagai agen pengemulsi yaitu 0,1-0,5%. Karbopol

inkompatibel dengan fenol, polimer kationik, asam kuat, dan elektrolit kuat.

Pengawet juga inkompatibel dengan karbopol jika diberikan dalam jumlah

(35)

6. Triethanolamine

Gambar 8. Struktur molekul triethanolamine (Rowe et al., 2009)

Triethanolamine (TEA) merupakan amina tersier turunan amonia

terdiri dari kelompok hidroksi berupa cairan kental bening higroskopis tak

berwarna sampai kuning pucat dan sedikit berbau amonia. TEA dapt

digunakan sebagai agen pembasa dan pengemulsi. TEA memiliki pH 10,5

dalam larutan 0,1 N, titik didih 3350C, viskositas 590 mPa s pada 300C dan

bercampur dalam air, metanol, aseton, serta karbon tetraklorida.

Inkompatibilitas TEA yaitu dengan tionil klorida dan asam mineral (Rowe et al., 2009).

7. Nipagin

Gambar 9. Struktur molekul nipagin (Rowe et al., 2009)

Nipagin atau etilparaben merupakan preservatif antimokrobial atau

bahan pengawet berupa bubuk putih tak berbau. Nipagin bekerja efektif pada

(36)

pH 4-8 dan lebih aktif mencegah jamur daripada bakteri. Nipagin lebih

mencegah bakteri Gram positif daripada Gram negatif. Nipagin larut dalam

aseton, etanol (1 dalam 1,4), gliserin (1 dalam 200), dan air (1 dalam 910).

Inkompatibilitas nipagin yaitu dengan surfaktan non-ionik dimana

efektifitasnya berkurang karena micelliation (Rowe et al., 2009).

I. Uji Sifat Fisik Krim

1. Viskositas

Viskositas merupakan suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan

untuk mengalir, makin tinggi viskositas akan makin besar tahanannya.

Pengolahan bahan menurut tipe aliran dan deformasinya dibagi menjadi dua

yaitu sistem Newton dan sistem Non-Newton. Semakin besar viskositas maka

daya sebar akan menurun tetapi waktu retensi pada tempat aplikasi

meningkat. Hubungan viskositas dan stabilitas emulsi sampai saat ini sudah

banyak dipelajari dimana berpengaruh signifikan pada krim (Martin,

Swarbick, Cammarata, 1993; Rieger dan Rhein, 1997).

2. Daya Sebar

Daya sebar sediaan topikal berpengaruh pada sudut kontak terhadap

tempat pengaplikasian yang berhubungan dengan koefisien gesekan. Daya

sebar dapat menentukan kemudahan penggunaan dan pelepasan zat aktif. Uji

daya sebar yang paling sering dan mudah dilakukan adalah metode plat

(37)

J. Desain Faktorial

Desain faktorial merupakan aplikasi persamaan regresi, suatu teknik untuk

memberikan model hubungan antara variabel respon dengan satu atau lebih

variabel bebas. Nantinya akan diperoleh persamaan matematika dan respon harus

bisa dihitung kuantitatif. Desain faktorial banyak digunakan karena ekonomis

dimana dapat mengurangi jumlah penelitian jika tiap faktor diuji terpisah. Desain

faktorial berfungsi untuk mengetahui interaksi antar faktor dan mengetahui faktor

yang dominan berpengaruh secara signifikan terhadap respon tertentu dimana efek

dari faktor berbeda. Uji statistik two-way ANOVA dapat digunakan untuk melihat

faktor yang paling dominan. Tahap awal dalam desain faktorial yaitu menentukan

faktor, level, dan respon yang bisa dihitung kuantitatif. Desain faktorial yang

paling sederhana terdiri dari dua faktor dan dua level yaitu tinggi dan rendah

(Bolton, 1997; Muth, 1999).

Persamaan desain faktorial untuk 2 faktor dan 2 level yaitu :

y = b0 + b1(XA) + b2(XB) + b12(XA)(XB) ... (2)

Dimana : y = respon percobaan

(XA)(XB) = level faktor A dan B

b1, b2, b3 = koefisien yang dihitung dari hasil percobaan

(38)

K. Landasan Teori

Kulit merupakan perlindungan tubuh yang utama. Kulit dapat mengalami

kerusakan oleh lingkungan. Salah satu penyebab kerusakan kulit oleh lingkungan

yang paling sering dialami adalah radiasi sinar UV. Daun jambu biji mengandung

kuersetin yang diketahui dapat menyerap radiasi sinar UV, maka dapat berfungsi

sebagai sunscreen. Selain itu, daun jambu biji juga mengandung banyak antioksidan lain yang bermanfaat bagi kulit.

Salah satu produk sunscreen yang paling sering digunakan adalah krim. Krim merupakan sediaan semisolid yang terdiri dari dua fase tak bercampur dan

distabilkan dengan adanya surfaktan. Umumnya produk sunscreen mengikuti tipe emulsi W/O, dimana fase dalam air dan fase luarnya minyak sehingga tahan air.

Dalam membuat formulasi suatu krim, parameter yang dilihat adalah viskositas

dan daya sebar. Krim yang memiliki kekentalan tinggi menyebabkan waktu

tahanan pada kulit lebih lama sedangkan daya sebarnya menurun. Sifat fisis dan

kestabilan krim yang baik dapat dihasilkan melalui variasi kombinasi emolien dan

humektan. Selain itu, humektan dapat menjaga kandungan air dan kelembaban

kulit. Emolien dapat menutup permukaan lapisan korneum kulit sehingga dapat

menahan air dan menjaga kelembaban kulit. Gliserin adalah salah satu contoh

humektan dan parafin cair adalah salah satu contoh emolien.

Variasi kombinasi gliserin dan parafin cair memungkinkan berpengaruh

terhadap viskositas dan daya sebar krim yang dapat dievaluasi menggunakan

(39)

cair menggunakan dengan menggunakan R-3.1.0 dengan uji two-way ANOVA pada tingkat kepercayaan 95%.

L. Hipotesis

Variasi jumlah parafin cair, gliserin, serta interaksi antara parafin cair dan

gliserin memberikan efek yang signifikan terhadap daya sebar, viskositas, dan

pergeseran viskositas krim sunscreen ekstrak etanol daun jambu biji (Psidium guajava L.)

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan termasuk jenis penelitian eksperimental murni

menggunakan desain faktorial dengan dua faktor dan dua level yang bersifat

eksploratif, yaitu mencari komposisi optimum antara parafin cair sebagai emolien

dan gliserin sebagai humektan dalam formula krim W/O ekstrak daun jambu biji

yang berfungsi sebagai sunscreen. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium

Teknologi dan Formulasi Sediaan Farmasi, Laboratorium

Farmakognosi-Fitokimia, dan Laboratorium Kimia Analisis Instrumen Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma.

B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah komposisi parafin cair

sebagai emolien dan gliserin sebagai humektan dalam formula krim ekstrak

daun jambu biji (Psidium guajava L.), pada level rendah dan level tinggi.

2. Variabel tergantung

Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah sifat fisis krim meliputi

daya sebar dan viskositas serta stabilitas krim setelah penyimpanan berupa

pergeseran viskositas.

(41)

3. Variabel pengacau terkendali

Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah alat dan bahan

yang digunakan, suhu pemanasan dan pencampuran, kecepatan putar mixer, lama waktu pencampuran, letak krim saat pengukuran daya sebar, lama

penyimpanan, dan wadah penyimpanan.

4. Variabel pengacau tak terkendali

Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini adalah lama

pemanasan preparasi bahan, suhu, dan kelembaban udara ruang saat pembuatan

sampai penyimpanan krim.

C. Definisi Operasional

1. Krim adalah sediaan berbentuk setengah padat dimana mengandung satu atau

lebih bahan obat terlarut atau terdispersi yaitu ekstrak daun jambu biji di

dalam bahan dasar yang sesuai untuk sediaan sunscreen yaitu tipe emulsi

W/O.

2. Ekstrak daun jambu biji adalah cairan hasil ekstraksi terutama kuersetin dan

turunannya dalam daun jambu biji dengan cara maserasi.

3. Sunscreen adalah senyawa kimia yang dapat menghamburkan, memantulkan

atau menyerap radiasi UV sehingga energi UV akan melemah sebelum

terpenetrasi ke dalam kulit berupa kuersetin dan turunannya.

4. Faktor adalah besaran yang berpengaruh terhadap respon, dalam penelitian ini

digunakan 2 faktor yaitu parafin cair dan gliserin.

(42)

5. Level adalah tetapan untuk faktor, dalam penelitian ini terdapat 2 level yaitu

level tinggi dan level rendah yang sebelumnya sudah didapat dari hasil

orientasi. Level rendah parafin cair adalah 5 g dan level tinggi 8 g. Level

rendah gliserin adalah 6 g dan level tinggi 9 g.

6. Emolien adalah bahan yang digunakan untuk pelembab dimana akan menutup

permukaan lapisan korneum kulit sehingga dapat menahan atau menjaga air

pada lapisan korneum kulit, dalam penelitian ini digunakan parafin cair.

7. Humektan adalah bahan dengan tujuan melembabkan kulit bersifat

higroskopis sehingga mampu menjaga kandungan air di kulit dengan menarik

air ke dalam kulit. Dalam penelitian humektan yang digunakan adalah

gliserin.

8. Respon adalah besaran yang dapat diamati dan dikuantifikasikan dari hasil

percobaan, dalam penelitian ini respon yaitu sifat fisik berupa viskositas dan

daya sebar, dan stabilitas fisik berupa pergesaran viskositas krim.

9. Daya sebar adalah kemampuan penyebaran krim pada kulit dimana ujinya

untuk mengetahui kecepatan penyebaran di kulit dan kelunakannya saat

aplikasi.

10. Viskositas adalah tahanan krim sunscreen ekstrak daun jambu biji yang diukur dengan menggunakan viscotester seri VT 04 O-Rion-Japan dan

dinyatakan dalam satuan dPa s.

11. Pergeseran viskositas adalah perubahan viskositas krim sunscreen ekstrak daun jambu biji selama penyimpanan dan dikatakan stabil jika selama 30 hari

(43)

12. Efek adalah perubahan yang muncul akibat variasi faktor dan level.

13. Desain faktorial adalah teknik yang memberikan model hubungan antara satu

atau lebih variabel bebas dengan variabel respon dimana variabel bebasnya

berupa dua faktor yaitu parafin cair dan gliserin.

14. Counter plot adalah hasil uji berupa grafik berdasarkan uji viskositas, daya sebar, dan pergeseran viskositas setelah penyimpanan selama 30 hari.

15. Counter plot superimposed adalah daerah pertemuan yang memuat semua

arsiran pada counter plot dimana diprediksi sebagai daerah optimum dari variasi parafin cair dan gliserin.

16. Area optimum adalah daerah yang menunjukkan krim memenuhi

standar-standar yang diinginkan yaitu viskositas 170-240 dPa s, daya sebar 4-6 cm,

dan pergeseran viskositas <10% (Lubrizol, 2007; Elizabeth, 2011; Lubrizol,

2011).

D. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan meliputi etanol 70% dan p.a., ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.), asam stearat (kualitas farmasetis), span 80 (kualitas farmasetis), parafin cair (kualitas farmasetis), gliserin (kualitas farmasetis),

karbopol 940 (kualitas farmasetis), triethanolamine (kualitas farmasetis), nipagin (kualitas farmasetis), pewangi aroma kenzo bunga, dan aqua demineralisata.

E. Alat Penelitian

Alat yang digunakan meliputi seperangkat alat gelas, rotary vacuum

evaporator, penyerbuk, mixer merk SHARP EMS-51W, neraca digital Mettler

(44)

Toledo AB204 dan Mettler Toledo PC16, cawan porselin, waterbath, stopwatch, termometer, indikator pH, alat pengukur daya sebar, mistar, viscotester seriVT 04

RION-Japan, spektrofotometer UV.

F. Tata Cara Penelitian 1. Pembuatan ekstrak cair daun jambu biji

Daun jambu biji segar yang sudah dicuci bersih dikeringkan dalam oven

selama 3,5 jam pada suhu 600C selanjutnya serbuk simpilia dibuat dengan

mesin penggiling. Serbuk simplisia daun jambu biji sebanyak 160 g diekstrak

dengan menggunakan 1,12 L etanol 70% dalam maserator selama 3 hari

dengan sesekali dikocok dan dua kali remaserasi. Ekstrak yang didapat

dipekatkan dengan rotary vacuum evaporator pada suhu 60-800C hingga bobotnya tetap.

2. Penetapan SPF ekstrak daun jambu biji dan jumlah ekstrak yang diperlukan untuk mencapai SPF 30

Dua ratus lima puluh mg ekstrak ditimbang dan masukkan dalam labu

ukur add volume sampai 25 ml dengan etanol p.a. sehingga didapat 10000

g/ml ekstrak (larutan induk). Satu ml larutan induk diambil dan add volume

sampai 10 ml dengan etanol p.a. dalam labu ukur sehingga didapat 1000

g/ml ekstrak (larutan intermediet). Dua ml larutan intermediet diambil dan

add volume sampai 10 ml dengan etanol p.a. dalam labu ukur sehingga

(45)

Larutan uji dilihat serapannya menggunakan spektrofotometer UV pada

 290-320 nm. Nilai serapan dicatat setiap interval 5 nm. Selanjutnya, nilai

SPF dihitung dengan persamaan Mansur :

………..…... (1)

Dimana : EE = spektrum efek eritremal

I = intensitas spektrum sinar

A = serapan ekstrak

CF = faktor koreksi (10)

Lalu, ditentukan ekstrak yang perlu dimasukkan dalam formula krim agar

mencapai SPF 30.

3. Pembuatan krim

a. Formula

Tabel II. Rancangan desain faktorial parafin cair dan gliserin

Formula Parafin cair Gliserin

1 - -

a + -

b - +

ab + +

Tabel III. Level tinggi dan rendah parafin cair dan gliserin

Formula Parafin cair (g) Gliserin (g)

1 5 6

a 8 6

b 5 9

ab 8 9

(46)

Tabel IV. Formula standar (Vlaia et al., 2009)

(47)

Tabel VI. Formula rancangan desain faktorial parafin cair dan gliserin

b. Cara kerja pembuatan formula

1. Preparasi

Karbopol 940 dikembangkan dalam 21 ml aquadest sehari

sebelum pembuatan formula. Selanjutnya asam stearat dileburkan di

atas waterbath sebelum pencampuran dengan mixer.

2. Pembuatan emulsi W/O

Span 80 dan parafin cair (fase minyak) dicampur lalu

dipanaskan pada suhu 60-80°C. Gliserin dicampur dengan sisa

aquadest (40 ml) yang juga dipanaskan pada suhu 60-80°C.

Selanjutnya campuran gliserin dan aquadest ditambah ekstrak, nipagin,

dan karbopol (fase air) sebelum pencampuran dengan mixer.

Campuran fase minyak dimasukkan dalam wadah lalu

ditambahkan asam stearat sambil diaduk dengan mixer dengan

(48)

kecepatan terendah. Lalu segera ditambahkan campuran fase air dan

diaduk dengan mixer dengan kecepatan tertinggi selama 30 menit.

TEA dan pewangi ditambahkan pada menit ke-5.

4. Uji kualitatif krim tipe W/O

Krim yang sudah jadi diambil 1 g lalu ditambah 5 tetes metilen biru

yang sebelumnya sudah diencerkan dengan aquadest 1:7 dan diaduk. Lalu

dilakukan pengamatan kualitatif, untuk tipe emulsi W/O maka krim tidak akan

dapat tercampur dengan metilen biru.

5. Uji pH

Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan indikator universal

setelah sediaan krim sunscreen daun jambu biji dibuat. Nilai pH yang

diinginkan ada pada rentang 4-7, dimana tidak mengiritasi kulit.

6. Uji viskositas, daya sebar , dan pergeseran viskositas

a. Uji viskositas dan pergeserannya. Pengukuran viskositas mengunakan alat

viskometer seri VT 04 RION-Japan dengan cara yaitu krim dimasukkan

dalam wadah dan dipasang pada portable viscotester dengan rotor nomer 2.

Viskositas krim diketahui dengan mengamati gerakan jarum penunjuk

viskositas. Uji ini dilakukan 2 kali yaitu hari ke-2 setelah krim selesai

dibuat dan yang kedua setelah disimpan selama 30 hari. Data pada hari ke-2

dapat digunakan pula untuk viskositas dan viskositas awal untuk pergeseran

(49)

b. Uji daya sebar. Uji daya sebar krim dilakukan hari ke-2 setelah pembuatan

dengan cara menimbang krim seberat 1 gram, diletakan ditengah horizontal

double plate. Diatas krim diletakkan horizontal double plate lain dan pemberat 125 gram, diamkan selama 1 menit, kemudian dicatat diameter

penyebarannya.

G. Analisis Hasil

Data yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa uji sifat fisik meliputi

daya sebar dan viskositas serta stabilitas krim berupa pergeseran viskositas. Efek

parafin cair, gliserin, dan interaksinya dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas

krim sunscreen ekstrak daun jambu biji dapat dihitung dengan metode desain faktorial.

Analisis data menggunakan R-3.1.0 dengan uji two-way ANOVA pada

tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis akan menghasilkan nilai p (probability value). Apabila nilai p kurang dari 0,05 maka faktor dan interaksi berpengaruh

signifikan terhadap respon.

(50)

32

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Ekstraksi Daun Jambu Biji

Pengumpulan daun jambu biji dilakukan oleh peneliti sendiri di daerah

Berbah, Sleman, sehingga standardisasi simplisia tidak menjadi masalah. Daun

yang dipilih utuh, segar, dan hijau untuk menghindari rusak atau berkurangnya

kandungan kimia. Kondisi tanaman saat pengambilan yaitu tanaman sedang tidak

berbunga maupun berbuah, pengambilan dilakukan pada tanaman yang sama agar

hasil kandungan seragam. Selanjutnya, dilakukan determinasi untuk memastikan

kebenaran spesiesnya. Determinasi dilakukan dengan membandingkan

karakteristik morfologi tanaman dengan kunci determinasi diacu dari pustaka

(Cullen, 2006). Hasilnya menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan adalah

Psidium guajava L. (Lampiran 1).

Daun dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran-kotoran di permukaan

daun. Dari hasil sortasi basah didapatkan daun sebanyak 340 g. Daun yang sudah

bersih dioven 600C selama 3,5 jam karena dirasa kering selama waktu tersebut.

Pengeringan bertujuan mencegah tumbuhnya jamur, mikroba, maupun reaksi

enzimatis yang mengakibatkan daun membusuk. Daun tidak dikeringkan dengan

bantuan panas matahari karena dikhawatirkan akan mengurangi kandungan zat

sunscreen dan antioksidan dalam daun jambu biji. Zat antioksidan dan sunscreen

dapat terdegradasi oleh sinar matahari sehingga dapat berkurang khasiatnya. Hasil

(51)

agar luas permukaannya lebih besar saat ekstraksi sehingga penarikan zat yang

diinginkan dari serbuk simplisia daun jambu biji lebih efektif. Serbuk yang

didapat yaitu sebanyak 160 g.

Serbuk daun jambu biji yang sudah ada dimaserasi dengan etanol 70%.

Menurut Daud, Sadiyah, Rismawati (2011), ekstraksi daun jambu biji dengan

metode maserasi dengan etanol 70% lebih banyak didapatkan senyawa

antioksidan terutama kuersetin dibanding dengan metode ekstraksi sinambung

soxhlet dengan etanol 70%. Etanol juga dapat berfungsi sebagai disinfektan, dimana membunuh kontaminan yang ada pada simplisia seperti jamur atau

bakteri. Remaserasi dilakukan karena kemungkinan masih terdapat senyawa yang

diinginkan yang tertinggal pada ampas karena kesetimbangan antara pelarut

dengan yang terlarut. Selanjutnya dilakukan pemekatan untuk menghilangkan

kandungan etanol dalam ekstrak. Suhu pemekatan yang digunakan pada rentang

70-800C karena titik didih etanol sebesar 78,370C. Hasil pemekatan berupa cairan

berwarna cokelat tua berbau khas sebanyak 294 g.

B. Penetapan SPF Ekstrak Daun Jambu Biji

Menurut Casagrande (2006), kuersetin dapat bertindak sebagai agen

sunscreen karena gugus-gugus fungsi pada strukturnya dapat mendonorkan

elektron pada cincin benzena sehingga meningkatkan jumlah resonansi. Penetapan

nilai SPF dari ekstrak daun jambu biji pada penelitian ini menggunakan

spektrofotometer UV dan dihitung dengan persamaan matematika yang

(52)

dikembangkan oleh Mansur et al. (1986) berdasarkan penelitian sebelumnya oleh

Sayre et al. (1979).

Nilai SPF yang didapat yaitu sebesar 1,0718. Banyak ekstrak yang

dimasukkan ke dalam formula agar mencapai SPF 30 dihitung dengan

menghitung pengenceran yang dilakukan. Kandungan ekstrak pada larutan uji

yaitu 200 g/100 ml dengan nilai SPF 1,0718. Maka digunakan rumus

perbandingan SPF 30 dibagi SPF 1,0718 dikali dengan 200 g/100 ml sehingga

didapat bobot ekstrak yang digunakan sebanyak 0,60 g.

C. Formulasi Krim Sunscreen Ekstrak Daun Jambu Biji

Formula yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil modifikasi

dari formula krim W/O/W dalam penelitian Vlaia et al. (2009). Krim W/O/W tidak sesuai digunakan sebagai sunscreen karena cenderung membawa bahan aktif

menuju sistemik, padahal sunscreen bekerja pada lapisan kulit. Krim W/O lebih sesuai untuk sunscreen karena tidak mudah terbilas oleh air selain itu lebih meningkatkan kelembaban lebih baik daripada krim O/W. Bahan-bahan formula

terdiri dari fase minyak dan air. Fase minyak terdiri span 80 sebagai surfaktan tipe

emulsi W/O, asam stearat sebagai agen pengemulsi, parafin cair sebagai emolien.

Fase air terdiri dari dari ekstrak cair daun jambu biji sebagai agen sunscreen, gliserin sebagai humektan, Trietanolamine (TEA) sebagai pembasa, karbopol sebagai penstabil emulsi, nipagin sebagai pengawet, aquadest, dan pewangi.

(53)

formula krim Vlaia et al. (2009) juga mengacu dari rentang umum yang dipergunakan dari Rowe et al. (2009)

Span 80 memiliki nilai HLB 4,3 digunakan karena merupakan emulgator

jenis emulsi W/O yang memiliki HLB rendah berkisar 4-6 (Griffin, 1949). Bagian

hidrokarbon molekul span akan berada dalam globul minyak dan radikal sorbitan

akan berada pada fase air. Asam stearat selain sebagai agen pengemulsi juga

membantu membentuk penampilan krim yang bagus yaitu kaku dan mengkilap.

Parafin cair sebagai emolien akan menutup permukaan lapisan korneum sehingga

dapat menahan kandungan air di dalam lapisan korneum. Gliserin sebagai

humektan akan menjaga kandungan air di kulit dengan menarik air ke dalam kulit.

Karbopol 940 berupa polimer sintetis yang dapat mengembangkan

rantai-rantai polimernya membentuk struktur random coil jika berada di dalam air

sehingga bisa digunakan sebagai penstabil emulsi. Karbopol bersifat asam

sehingga dapat menyebabkan iritatif maka digunakan TEA sebagai pembasa.

Selain itu pada pH netral, pada karbopol akan terjadi proses saling tolak menolak

oleh ion pada gugus karboksilat sehingga polimer menjadi kaku dan viskositas

meningkat (Osborne dan Amann, 1990).

Pengawet yang digunakan yaitu nipagin untuk mencegah timbulnya jamur

dan mikroorganisme pada sediaan krim. Pencampuran kedua fase dilakukan

dalam kondisi panas karena mempermudah pembentukan emulsi akibat adanya

energi yang membantu pendispersian yang lebih baik dari satu fase ke fase

lainnya.

(54)

D. Uji Organoleptis, Kualitatif Krim Tipe W/O, dan Uji pH

Krim yang dihasilkan berwarna putih mengkilap sedikit kecoklatan dan

berbau harum dari pewangi. Pembuktian bahwa krim yang dihasilkan memiliki

tipe W/O maka digunakan metode pengenceran dengan bantuan pewarnaan

metilen biru. Dalam metode ini sediaan dilarutkan dalam air, jika larut maka

termasuk tipe O/W dan jika tidak larut termasuk tipe W/O. Metilen biru sifatnya

larut air dan ditambahkan untuk mempermudah pengamatan kelarutan. Hasil uji

tipe krim yaitu krim tidak larut dengan air maka termasuk tipe W/O.

Selain itu diuji juga pH krim. Seluruh formula dalam sediaan krim pada

penelitian ini memiliki pH antara 5-6 dengan menggunakan indikator pH

universal. Pengujian ini juga dapat digunakan sebagai parameter kenyamanan dan

keamanan saat penggunaan karena pH kulit berkisar 4-7 (Lambers, Piessens,

Bloem, Pronk, Finkel, 2006).

E. Penentuan Level Parafin Cair dan Gliserin

Pada penelitian ini dilakukan optimasi parafin cair sebagai emolien dan

gliserin sebagai humektan. Parafin cair dapat digunakan sebagai emolien jika

digunakan sebesar 1-32% dan gliserin dapat digunakan sebagai humektan jika

digunakan sebesar <30% (Rowe et al., 2009). Penentuan level diperkirakan dari sisa jumlah keseluruhan bahan-bahan formulasi selain parafin cair dan gliserin

agar persentase aquadest di atas 60% dimana syarat sediaan krim sendiri. Hasil

perhitungan sebanyak 24 gram, sehingga untuk orientasi dibuat level tinggi

(55)

1. Penentuan level parafin cair

Penentuan level dilakukan dengan membuat krim sebanyak 9 formula,

dengan variasi jumlah parafin cair yang berbeda. Selanjutnya dilakukan

pengukuran yaitu viskositas dan daya sebar sesudah 2 hari.

Gambar 10. Grafik penentuan level parafin cair berdasarkan respon viskositas

Gambar 11. Grafik penentuan level parafin cair berdasarkan respon daya sebar

(56)

Dari grafik 10 dan 11, dipilih level rendah 5 g dan level tingginya 8 g.

Level tersebut dipilih karena antara 5-8 g memiliki respon daya sebar yaitu

4-6 cm dan viskositas yang diinginkan yaitu 170-240 dPa s (Lubrizol, 2007;

Elizabeth, 2011; Lubrizol, 2011).

2. Penentuan level gliserin

Gambar 12. Grafik penentuan level gliserin berdasarkan respon viskositas

(57)

Penentuan level dilakukan dengan membuat krim sebanyak 9 formula,

dengan variasi jumlah gliserin yang berbeda. Selanjutnya dilakukan

pengukuran yakni viskositas dan daya sebar sesudah 2 hari.

Dari gambar 12 dan 13, dipilih level rendah 6 g dan level tingginya 9

g. Level tersebut dipilih karena antara 6-9 g memiliki respon daya sebar yaitu

4-6 cm dan viskositas yang diinginkan yaitu 170-240 dPa s.

F. Uji Sifat Fisik Sediaan Krim Sunscreen

Krim harus memenuhi kriteria yang baik agar mudah diterima dan

digunakan masyarakat. Parameter yang dapat digunakan yaitu daya sebar dan

viskositas yang diuji 48 jam sesudah pembuatan. Pengujian dilakukan setelah 48

jam karena setelah rentang waktu tersebut sistem emulsi sudah terbebas dari

pengaruh gaya geser dan energi yang diakibatkan selama proses pembuatan, hal

tersebut dapat mempengaruhi besar viskositas.

Daya sebar adalah kemampuan penyebaran atau pemerataan sediaan saat

diaplikasikan pada kulit. Daya sebar bertanggung jawab akan kemudahan

penggunaan, penghantaran obat ke tempat aksi, pengeluaran sediaan dari

kemasan, dan penerimaan oleh pengguna. Kemudahan pengaplikasian ditunjukkan

ketika sediaan menyebar dengan baik saat dioleskan tanpa tekanan terlalu kuat.

Daya sebar yang diinginkan yaitu 4-6 cm. Daya sebar pada umumnya berbanding

terbalik dengan viskositas, sehingga daya sebar akan meningkat jika viskositas

makin rendah (Grag et al., 2012).

(58)

Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk

mengalir, dimana semakin besar tahanan maka viskositas juga makin tinggi

(Martin, Swarbick, Cammarata, 1993). Viskositas dapat mempengaruhi

kemudahan krim saat dituang dari kemasan maupun saat proses filling.

Pengukuran dilakukan 48 jam sesudah pembuatan bertujuan membebaskan sistem

dari pengaruh gaya geser dan energi yang ada sesudah pembuatan dimana

mempengaruhi besar viskositas. Viskositas yang diinginkan yaitu 170-240 dPa s.

Tabel VII. Hasil uji sifat fisik dan stabilitas krim

Formula Viskositas (dPa s) Daya sebar (cm) Pergeseran viskositas (%)

1 24013,23 4,370,15 8,474,64 a 2205,00 4,700,10 7,582,64 b 2455,00 4,400,10 7,434,08 ab 19010,00 4,530,25 9,667,59

Berdasarkan tabel VII, untuk viskositas tertinggi adalah formula b dan

yang terendah adalah formula ab. Seiring dengan peningkatan penggunaan parafin

cair, baik pada level rendah maupun tinggi gliserin cenderung menurunkan respon

viskositas krim karena viskositas parafin cair cenderung mengencerkan krim.

Sementara, peningkatan penggunaan gliserin, pada level rendah parafin cair

cenderung meningkatkan viskositas dan pada level tinggi parafin cair cenderung

menurunkan viskositas. Untuk daya sebar, daya sebar terbesar adalah formula a

dan yang terkecil adalah formula 1. Seiring dengan peningkatan penggunaan

parafin cair, baik pada level rendah maupun tinggi gliserin cenderung menaikkan

Figur

Gambar 1. Daun dan buah jambu biji (Parimin, 2005)
Gambar 1 Daun dan buah jambu biji Parimin 2005 . View in document p.25
Gambar 2. Struktur molekul guaijaverin
Gambar 2 Struktur molekul guaijaverin . View in document p.26
Tabel I. Nilai EE x I pada  290-320 nm (Sayre, Agin, Levee, Marlowe, 1979)
Tabel I Nilai EE x I pada 290 320 nm Sayre Agin Levee Marlowe 1979 . View in document p.29
Gambar 4. Struktur molekul gliserin
Gambar 4 Struktur molekul gliserin . View in document p.31
Gambar 5. Struktur molekul span 80
Gambar 5 Struktur molekul span 80 . View in document p.32
Gambar 6. Struktur molekul asam stearat
Gambar 6 Struktur molekul asam stearat . View in document p.33
Gambar 7. Unit monomer asam akrilat polimer karbopol
Gambar 7 Unit monomer asam akrilat polimer karbopol . View in document p.34
Gambar 8. Struktur molekul triethanolamine
Gambar 8 Struktur molekul triethanolamine . View in document p.35
Tabel II. Rancangan desain faktorial parafin cair dan gliserin
Tabel II Rancangan desain faktorial parafin cair dan gliserin . View in document p.45
Tabel III. Level tinggi dan rendah parafin cair dan gliserin
Tabel III Level tinggi dan rendah parafin cair dan gliserin . View in document p.45
Tabel V. Formula modifikasi
Tabel V Formula modifikasi . View in document p.46
Tabel VI. Formula rancangan desain faktorial parafin cair dan gliserin
Tabel VI Formula rancangan desain faktorial parafin cair dan gliserin . View in document p.47
Gambar 10. Grafik penentuan level parafin cair berdasarkan respon
Gambar 10 Grafik penentuan level parafin cair berdasarkan respon . View in document p.55
Gambar 12. Grafik penentuan level gliserin berdasarkan respon
Gambar 12 Grafik penentuan level gliserin berdasarkan respon . View in document p.56
Tabel VII. Hasil uji sifat fisik dan stabilitas krim
Tabel VII Hasil uji sifat fisik dan stabilitas krim . View in document p.58
Tabel VIII. Uji Shapiro-wilk viskositas
Tabel VIII Uji Shapiro wilk viskositas . View in document p.61
Tabel IX. Nilai efek parafin cair dan gliserin serta interaksinya terhadap
Tabel IX Nilai efek parafin cair dan gliserin serta interaksinya terhadap . View in document p.62
Tabel XI. Uji Shapiro-wilk daya sebar
Tabel XI Uji Shapiro wilk daya sebar . View in document p.63
Tabel XII. Nilai efek parafin cair dan gliserin serta interaksinya terhadap
Tabel XII Nilai efek parafin cair dan gliserin serta interaksinya terhadap . View in document p.63
Tabel XIV. Uji Shapiro-wilk pergeseran viskositas
Tabel XIV Uji Shapiro wilk pergeseran viskositas . View in document p.64
Tabel XVI. Signifikansi efek dengan uji ANOVA pergeseran viskositas
Tabel XVI Signifikansi efek dengan uji ANOVA pergeseran viskositas . View in document p.65
Gambar 14. Counter plot viskositas krim ekstrak daun jambu biji
Gambar 14 Counter plot viskositas krim ekstrak daun jambu biji . View in document p.66

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (90 Halaman)