• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI - DISLEKSIA DETEKSI, DIAGNOSA, PENANGANAN DI SEKOLAH DAN DI RUMAH - Unika Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "DAFTAR ISI - DISLEKSIA DETEKSI, DIAGNOSA, PENANGANAN DI SEKOLAH DAN DI RUMAH - Unika Repository"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

DISLEKSIA

DETEKSI, DIAGNOSA, PENANGANAN

DI SEKOLAH DAN DI RUMAH

(2)

DAFTAR ISI

Prakata

Bab 1 MASALAH BELAJAR

1.1. Gangguan belajar harus dibedakan dengan kesulitan belajar

1.2. Gangguan belajar hanya pada anak berinteligensi normal hingga tinggi 1.3. Gangguan belajar adalah gangguan yang kasat mata

1.4. Bentuk gangguan belajar 1.5. Pengaruh pada perilaku

Bab 2 PENYEBAB DAN GEJALA

2.1. Penyebab gangguan belajar (Learning Disabilities) adalah genetik 2.2. Apa yang terjadi pada gangguan belajar?

2.3. Tidak dipengaruhi oleh lingkungan 2.4. Terbanyak pada laki-laki

2.5. Tipe dan subtipe gangguan belajar

Bab 3 SYARAT SYARAT BERKETRAMPILAN BELAJAR

3.1. Kemampuan pemrosesan informasi visual dan auditif sebagai syarat berketrampilan belajar

Bab 4 PEMAHAMAN GEJALA GANGGUAN BELAJAR 4.1. Pemahaman gejala dari berbagai bidang

4.2. Gejala Gangguan Belajar dari pengalaman yang dihadapi guru dan orang tua 4.3. Gejala Gangguan Belajar dalam psikologi klinis

4.4. Masalah belajar dalam neurologi

4.5. Masalah belajar dalam ilmu kedokteran anak

4.6. Masalah belajar dalam ilmu patologi bahasa dan bicara 4.7. Masalah belajar dalam ilmu kependidikan

4.8. Fungsi hemisfere (belahan otak kanan dan kiri)

(3)

5.1. Observasi panjang dan menyeluruh 5.2.Lakukan rujukan

5.3.Pemeriksaan dan tes

BAB 6 GEJALA GANGGUAN BELAJAR

6.1. Gangguan dalam pelajaran membaca, mengeja dan menulis 6.2. Gangguan pada pelajaran berhitung

6.3. Gangguan tehnik menulis

BAB 7 DETEKSI & DIAGNOSA 7.1. Skrining dalam rangka deteksi 7.2. Asesmen & diagnosa

7.3. Termasuk tipe dan subtipe yang mana?

BAB 8 DISLEKSIA

8.1. Kesulitan yang amat sangat 8.2. Ketertinggalan yang siknifikan 8.3. Dapat terlihat jelas

8.4. Disleksia sebagai gangguan yang spesifik 8.5. Derajat keparahan Disleksia

8.6. Beberapa kasus 8.6.1. Kasus Josje

8.6.2. Kasus Marteen yang cerdas istimewa 8.6.3. Kasus Bernhard

8.6.4. Kasus Alfred

8.7. Faktor risiko menjadi penyandang disleksia 8.8. Komorbiditas

8.9. Diagnosa pembanding disleksia

(4)

Bab 10 DIAGNOSA 10.1. Syarat

10.2. Siapa yang memberikan diagnosa?

10.3. Faktor-faktor dalam pemeriksaan guna penegakan diagnosa

Bab 11 PENANGANAN 11.1. Prevensi

11.2. Clinical Teaching 11.3. Remedial teaching

(5)

PRAKATA

Buku ini adalah sebuah buku praktis bagi guru dan orang tua agar lebih mampu menangani anak-anak atau siswa-siswanya yang mengalami masalah belajar. Diharapkan buku ini mampu memberikan pemahaman yang mendasar tentang apa dan bagaimana masalah belajar itu, untuk kemudian mengembangkannya dalam bentuk kegiatan menangani masalah gangguan belajar. Buku ini diterbitkan untuk memberikan bantuan praktis bagi guru dan orang tua, karena kini buku tentang masalah belajar di sekolah ini dirasakan semakin dibutuhkan. Sayangnya publikasi yang ada masih belum mencukupi untuk digunakan dalam mendeteksi dan membina anak-anak atau siswa-siswa yang mengalami kesulitan.

Karena untuk masalah gangguan belajar ini diperlukan juga berbagai tes-tes untuk menegakkan diagnosa gangguan belajar secara formal, sementara ini berbagai tes tersebut belum dimiliki oleh Indonesia secara resmi yang menjadi panduan atau protokol deteksi dan diagnosa. Namun anak-anak ini tidak bisa menunggu untuk diberikan penanganan yang sebaik-baiknya, maka langkah yang perlu kita ambil pada saat ini adalah menegakkan diagnosa secara informal. Tatalaksana dan petunjuk tersebut terutama untuk gangguan belajar disleksia, dapat kita temukan dalam buku ini. Diharapkan juga adanya kreativitas yang tinggi dari para guru dan orang tua dalam membantu anak-anak tersebut.

Buku yang sederhana dan mendasar sekali ini, tentu saja masih memerlukan pengembangan dan pendalaman terhadap masalah belajar itu sendiri, karena yang dapat kita temui di lapangan pada kenyataannya sangat beragam baik luasnya gangguan, dan keparahannya. Karena itu diharapkan dimasa yang akan datang masih ada buku-buku lain yang mampu melengkapi buku ini.

Penyusun,

Julia Maria van Tiel

(6)

BAB 1

MASALAH BELAJAR

Akhir-akhir ini masalah belajar sudah menjadi perhatian yang cukup serius. Sebegitu jauh, informasi tentang masalah ini masih sering simpang siur, dan terbalik-balik, bahkan tidak dibedakan lagi antara masalah belajar primer yang kemudian disebut sebagai gangguan belajar (Learning Disablities), dan masalah belajar sekunder yang disebut sebagai kesulitan belajar (Learning diffuculties). Atau tidak lagi menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara, ataupun anak-anak penyandang berbagai gangguan perilaku dan mental sebagai kelompok anak berisiko yang kelak akan mempunyai risiko gangguan maupun kesulitan belajar. Namun juga sebaliknya, anak-anak penyandang gangguan perkembangan, gangguan perilaku dan mental itu sering diinformasikan sebagai anak penyandang gangguan belajar (Learning Disabilities), yang sebetulnya belum tentu. Lalu bagaimanakah masalah belajar itu? Dengan buku ini diharapkan agar para guru dan orang tua dalam menghadapi masalah kesimpang siuran dan ketidak jelasan informasi tersebut, kini dapat lebih memahami apa yang dimaksud dengan masalah belajar, sehingga guru dan orang tua sebagai figur terdekat dari anak-anak penyandang masalah belajar dapat memahami seluk beluknya dan dapat segera mengambil tindakan yang sebaik-baiknya agar masalah belajar tersebut dapat ditangani.

Masalah gangguan belajar juga sering disalahmengertikan baik oleh guru sendiri maupun orang tua, bahwa si anak adalah anak pemalas, kurang rajin belajar, kurang berlatih, sehingga mendapatkan nilai jelek dalam beberapa mata pelajaran. Sering terjadi anak tersebut mendapatkan latihan ekstra dengan harapan dapat mencapai prestasi yang diharapkan, tanpa melihat lagi latar belakang ketidak mampuan si anak. Dalam hal ini guru dan orang tua hendaknya dapat melihat perbedaan antara ketidak mampuan dan ketidak mauan belajar.

1.1. Gangguan belajar harus dibedakan dengan kesulitan belajar

(7)

Masalah belajar primer yang kemudian biasa disebut “gangguan belajar” atau dalam bahasa Inggris sering kita sebut sebagai Learning Disabilities dan biasa disingkat menjadi LD (sekarang disebut juga SLD atau Specific Learning Disabilities berdasarkan DSM-5). Gangguan belajar (Learning Disabilities) ini disebabkan karena adanya gangguan neurologis (di otak) yang mengakibatkan adanya gangguan perkembangan dalam satu atau lebih area inteligensi (kognitif). Kondisi ini akan menyebabkan si anak mengalami kesulitan dalam menempuh pembelajarannya yang jika tidak ditolong mengakibatkan prestasinya tidak dapat optimal, atau dengan kata lain tidak dapat berprestasi dengan baik, padahal ia mempunyai inteligensi yang normal bahkan tinggi. ■ Masalah belajar sekunder yang kemudian biasa disebut sebagai “kesulitan belajar” atau dalam

bahasa Inggris disebut Learning Difficulties. Kesulitan belajar ini dapat disebabkan dari:

 Lingkungan si anak: keluarga yang tidak mendukung proses pembelajaran; lingkungan

sekolah dan metoda pendidikan yang tidak sesuai dengan tingkatan kemampuan anak; lingkungan di luar rumah yang tidak mendukung bahkan mengganggu sehingga anak tidak dapat mencapai prestasinya secara optimal; dan budaya yang tidak mendukung.

 Kesulitan belajar yang disebabkan dari dalam diri anak: yang disebabkan karena si anak

belum mengalami kematangan untuk menerima pembelajaran; atau memang si anak mengalami gangguan perkembangan kematangan sehingga ia kesulitan menerima pembelajaran; adanya gangguan perkembangan emosi yang menyebabkan si anak mengalami kesulitan dalam berproses menerima pembelajaran; si anak mengalami gangguan konsentrasi (mudah terangsang sehingga mudah beralih perhatian saat harus berkomsentrasi); gangguan neuro-motorik maksudnya motorik yang diatur oleh sistem persyarafan saat mana si anak harus menulis mengalami gangguan sehingga menyulitkan proses pembelajaran; gangguan perkembangan bicara (mengalami ketertinggalan perkembangan) sehingga si anak mengalami ketertinggalan saat harus belajar membaca dan menulis; dan kesulitan belajar yang memang disebabkan karena si anak mempunyai tingkatan inteligensi yang rendah (IQ lebih rendah dari 85).

(8)

yang tidak mempunyai tingkat keparahan yang tinggi dan yang tidak mempunyai gangguan ikutan lainnya.

Gambar 1: Masalah belajar terdiri dari Gangguan Belajar yang merupakan masalah primer dan Kesulitan Belajar yang merupakan masalah sekunder.

1.2.Gangguan belajar hanya pada anak berinteligensi normal hingga tinggi

Istilah gangguan belajar (Learning disabilities) hanya dapat digunakan untuk kelompok anak-anak yang mempunyai inteligensi normal hingga tinggi. Untuk anak-anak-anak-anak yang mempunyai inteligensi atau IQ di bawah 85 sekalipun si anak mengalami kesulitan dalam menempuh pembelajaran tidak bisa disebut mengalami gangguan belajar (Learning Disabilities), tetapi disebut sebagai multihandicap (tuna ganda).

(9)

Gangguan belajar adalah suatu kondisi kecacatan yang kasat mata, namun kita dapat melihatnya melalui pengamatan atau observasi selama anak menjalankan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran itu anak selalu menunjukkan kesalahan yang sama yang terus menerus secara konstan. Kesalahan yang ditunjukkan itu adalah kesalahan yang melebihi rata-rata anak-anak usia sebayanya. Apabila kesalahan atau prestasinya berselang seling kadang ia mampu berprestasi baik (rata-rata) kadang buruk, maka ia juga tidak dapat dikatakan sebagai anak penyandang gangguan belajar (Learning Disabilities), kemungkinan ada hal-hal lain yang menyebabkan masalah belajar. Para penyandang gangguan belajar, sekalipun ia sudah berusaha sekuat tenaga namun prestasinya akan tetap sulit mengejar sebagaimana prestasi rata-rata teman-teman sebayanya. Karena itu untuk menghindari akibat lanjut dari kesulitannya, kepada anak-anak ini perlu diberikan suatu metoda pembelajaran yang sesuai dengan keadaannya, agar ia dapat memanfaatkan faktor yang kuat yang ada pada dirinya.

Jika masalah belajar disebabkan karena cacat primer seperti misalnya bisu, tuli, dan buta, maka masalah belajar seperti ini tidak dapat disebut sebagai gangguan belajar (Learning Disabilities).

Gangguan belajar (Learning Disabilities)

- inteligensi normal hingga tinggi - kesalahan yang sama terus menerus

(konstan) - kasat mata

- memerlukan observasi/pengamatan jangka panjang

1.4. Bentuk gangguan belajar

Masalah belajar baik berupa gangguan belajar (Learning Disablities) dapat berakibat pada prestasi si anak dalam menempuh pembelajaran. Si anak tidak mampu mencapai prestasinya sebagaimana kapasitas yang dapat diharapkan darinya. Bentuk masalah yang muncul dalam pembelajaran akan dalam bentuk sulitnya berprestasi dalam pelajaran-pelajaran:

 Membaca (disleksia)

(10)

 Menulis (disgrafia)

Gangguan membaca termasuk di dalamnya antara lain gangguan dalam kemampuan: mengenali huruf-huruf, angka dan simbol-simbol atau tanda baca yang digunakan dalam kalimat, mengenali kata-kata, melakukan analisa kalimat, dikte (mencongak/imla), teknik membaca, memahami bacaan, dan menggunakan bahasa. Jika si anak mengalami gangguan salah satu atau lebih dari kemampuan tersebut, maka ia akan mengalami gangguan membaca yang kemudian disebut sebagai disleksia.

Gangguan membaca atau

disleksia ini akan

berpengaruh

juga dalam kemampuan

berhitung yang disebut

diskalkulia (gangguan berhitung).

Sebagai akibat dari gangguan yang terjadi di dalam otak yang menyebabkannya mengalami gangguan mengenal berbagai simbol huruf dan angka, akan juga menyebabkan gangguan menulis (disgrafia).

1.5. Pengaruh pada perilaku Disleksia

Gangguan primer pada kemampuan membaca dan mengeja karena ada gangguan:

- Mengenali simbol huruf dan angka

- Mengenali simbol-simbol atau tanda baca dalam kalimat

- Mengenali kata-kata - Melakukan analisa kalimat - Dikte

(11)

Masalah belajar baik gangguan belajar primer maupun sekunder jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan munculnya masalah perilaku pada diri si anak, baik perilaku mengacau, membantah, membangkang, maupun kefrustrasian, kecemasan dan depresi. Namun masalah perilaku ini merupakan masalah sekunder. Bukan disebabkan karena gangguan belajar primer itu sendiri, tetapi akibat sampingan dari gangguan belajar. Apabila gangguan belajar primer dan sekunder dapat dikendalikan dengan baik, diharapkan masalah-masalah perilaku itu tidak akan muncul. Karena itu penting artinya pada anak-anak penyandang gangguan belajar primer dan sekunder ini mendapatkan perhatian yang seksama dan bimbingan yang baik agar tidak memunculkan masalah tambahan baginya maupun bagi lingkungannya.

Karena gangguan belajar primer ini kasat mata, seringkali guru dan orang tua tidak mengerti mengapa si anak sangat sulit untuk mengerjakan tugas-tugas belajar.

Masalah belajar primer hampir selalu diikuti dengan masalah emosi. Sedih, kecewa, dan marah sering kali muncul. Orang tua dan anak seringkali harus bergumul dengan masalah belajar, yang makin lama akan dirasa semakin berat. Beratnya masalah ini bukan hanya akan dirasa oleh orang tua dan anak, namun oleh semua anggota keluarga. Anak sering merasakan bahwa ia tidak dapat memenuhi harapan guru dan orang tua. Orang tua juga sering meminta advis pada guru karena merasa tidak dapat menolong anak.

Bila sejak dini tidak dideteksi sebagai masalah belajar, maka seringkali anak dianggap sebagai anak yang malas. Orang tua kadang mengharapkan si anak mempunyai nilai lebih baik, namun anak kesulitan mencapai prestasi tersebut. Hal ini akan menyebabkan merosotnya rasa percaya diri pada diri anak, serta munculnya konsep diri yang negatip, yang akan menyebabkan perkembangan emosi yang tidak sehat.

Anak kesulitan mencapai prestasi di sekolah. Hal ini akan menyebabkan merosotnya rasa percaya diri pada diri anak, serta munculnya konsep diri yang negatip, yang akan menyebabkan perkembangan emosi yang tidak sehat.

(12)

Masalah belajar primer, yang karena penyebabnya adalah genetik, maka orang tua juga akan merasa bersalah bahwa ia merupakan penyebab kesengasaraan itu. Hal ini juga perlu diperhatikan oleh guru.

BAB 2

Penyebab dan gejala

2.1. Penyebab gangguan belajar (Learning Disabilities) adalah genetik

Penyebab gangguan belajar (Learning Disabilities) adalah neurologis dan genetik, artinya gangguan ini merupakan gangguan di dalam otak (neurologis) yang disebabkan karena faktor keturunan. Biasanya diantara anggota keluarga juga ada yang merupakan penyandang gangguan belajar (Learning Disabilities). Saat ini banyak sekali publikasi terutama dari kelompok terapi alternatif yang mengajukan teori-teori alternatif tentang penyebab gangguan belajar (Learning Disabilities). Namun teori-teori alternatif tersebut tidak melalui dukungan penelitian ilmiah. Misalnya, gangguan belajar karena keracunan logam berat, keracunan makanan, alergi dan intoleransi makanan, gizi kurang baik, obat-obatan, zat-zat kimia, gangguan perkembangan refleks (misalnya saat bayi anak tidak melalui tahapan merangkak).

Sekalipun sudah diketahui bahwa gangguan belajar (Learning Disabilities) adalah gangguan neurologis dan genetik, namun mekanisme yang terjadi di dalam otak sehingga seseorang tersebut mengalami gangguan belajar (Learning Disabilities), hingga saat ini masih belum bisa dipahami sepenuhnya, para ahli masih terus berupaya untuk mengetahuinya melalui berbagai penelitian ilmiah.

Karena sulitnya mengatasi terutama menghilangkan masalah gangguan belajar (Leaning Disabilities) ini (karena masalahnya berada di dalam kromosom) muncullah upaya-upaya alternatif tersebut mulai dari penggunaan obat-obatan (smart drugs), megadosis vitamin, terapi diet, terapi kacamata prisma, terapi warna, terapi cahaya, dan berbagai terapi lain seperti terapi gerak, pemijatan, dan sebagainya. Namun upaya ini janganlah dianggap sebagai upaya ideal, karena tidak didukung oleh penelitian ilmiah yang baik.

Yang dapat diupayakan baik oleh guru kelas dan orang tua adalah mensiasati dan memberi kompensasi serta toleransi kepadanya, agar para penyandang gangguan belajar (Learning Disabilities) dapat mengikuti pembelajaran dengan sebaik-baiknya.

2.2. Apa yang terjadi pada gangguan belajar?

(13)

- adanya perbedaan antara prestasi dan potensi

- pola prestasi yang tidak harmonis dan/atau profil kapasitas/potensi yang tidak harmonis

- merupakan gangguan neurologis

- merupakan gangguan yang ekslusif

- dapat memberikan gejala sosial-emosional

Adanya perbedaan (deskrepansi) antara prestasi dan potensi

Bagi seorang anak dengan inteligensi normal sampai tinggi, saat memasuki usia sekolah dasar, biasanya kita mengharapkan bahwa ia akan dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Dapat berprestasi setidaknya secara rata-rata bila dibandingkan dengan teman sebayanya. Namun jika ternyata anak kita mengalami kesulitan dalam menerima pembelajaran, dan mempunyai prestasi yang jauh tertinggal dari teman sebayanya, maka kita perlu mempertanyakannya. Berbagai kemungkinan yang bisa menyebabkan masalah belajar perlu kita lihat (apakah masalahnya primer ataukah disebabkan masalah sekunder). Apabila bisa diketahui bahwa apa yang kita harapkan ternyata ada perbedaan dengan kenyataan maka hal ini dapat disebut adanya

deskrepansi atau perbedaan yang siknifikan antara prestasi yang diharapkan dengan potensi yang dimilikinya yaitu inteligensi normal hingga tinggi.

Pola prestasi yang tidak harmonis dan/atau profil kapasitas/potensi yang tidak harmonis

Gangguan belajar dapat juga kita lihat melalui pola prestasi anak didik dalam menempuh pembelajaran. Misalkan dalam beberapa mata ajaran yang lebih banyak menggunakan kemampuan berbahasa akan mendapatkan angka jauh tertinggal dibanding teman-temannya, namun mempunyai angka dari pelajaran yang lebih menggunakan kemampuan logika matematika dan analisa mendapatkan nilai rata-rata bahkan sangat jauh melebihi rata-rata teman-temannya. Keadaan ini menunjukkan adanya prestasi yang sangat tidak harmonis, yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut mengapa ketidak harmonisan prestasi tersebut dapat terjadi. Kemungkinan ia mengalami gangguan belajar.

(14)

bahwa ia mempunyai profil yang tidak harmonis. Keadaan ini memungkinkan adanya gangguan belajar pada si anak.

Perhatian!

Apabila si anak mendapatkan angka yang tertinggal secara umum, dengan kata lain, ia tertinggal dalam semua mata ajaran, maka keadaan ini harus ditinjau kembali. Kemungkinan memang ia bukan seorang anak penyandang gangguan belajar tetapi kemungkinan ia mempunyai perkembangan inteligensi memang di bawah rata-rata.

Gangguan belajar merupakan gangguan neurologis

Gangguan belajar disebut sebagai gangguan neurologis karena gangguan belajar mempunyai akar masalah pada kekurangan dalam perkembangan fungsi kognitif (inteligensi) di otak. Ada satu atau lebih area inteligensi yang mengalami kekurangan dalam perkembangannya. Misalnya beberapa bagian kemampuan berbahasa, atau kekurangan dalam kemampuan pandang ruang (dimensi) yang akhirnya si anak mengalami kesulitan dalam menempuh pembelajaran.

Dengan demikian seorang anak dapat dikatakan mengalami gangguan belajar jika memenuhi gejala-gejala di atas yaitu adanya deskrepansi yang nyata antara potensi dan prestasi, adanya ketidak harmonisan prestasi, dan ketidak harmonisan profil inteligensi. Dalam menempuh pembelajaran si anak juga mengalami kesulitan (prestasi di bawah rata-rata) dalam mata ajaran tertentu (tidak semua mata ajaran), misalnya membaca, mengeja, menulis, dan atau berhitung, dimana akar masalahnya berasal dari fungsi kognitif anak yang memang kurang.

Gangguan belajar adalah eksklusif

Gangguan belajar merupakan gangguan yang ekslusif sebagai gangguan fungsi kognitif yang tidak dipengaruhi karena adanya gangguan neuro-motorik, gangguan sensorik, rendahnya inteligensi, gangguan emosional, atau karena faktor-faktor lingkungan (keluarga, sekolah), dan kurangnya asupan makanan/gizi.

(15)

Gangguan belajar sebagai masalah belajar primer yang akar masalahnya berada di dalam otak dan genetik, pada dasarnya tidak dipengruhi oleh lingkungan. Lingkungan artinya disini dalam pengertian luas, yaitu baik lingkungan keluarga, sekolah, asupan gizi, penyakit-penyakit tertentu, kekurangan stimulasi, dan sebagainya. Apabila seorang anak mengalami gangguan penyakit atau kecelakaan sehingga menyebabkan prestasinya jatuh dan mengalami kemunduran fungsi kognitif maka kondisi ini disebut gangguan belajar sekunder atau disleksia sekunder.

2.4. Terbanyak pada laki-laki

Dari laporan berbagai penelitian, menunjukkan bahwa terbanyak penderita gangguan belajar (Learning Disabilities) adalah laki-laki. Berapa angka yang dapat dilaporkan dari berbagai negara sangat bervariasi. Hal ini disebabkan karena gangguan belajar (Learning disabilities) sangat dipengaruhi oleh sistem berbahasa suatu negara. Negara-negara yang menggunakan bahasa yang penulisannya berbeda dengan pengucapannya, seperti misalnya bahasa-bahasa Eropa, angka bergangguan belajar akan lebih tinggi daripada anak-anak yang menggunakan bahasa dimana bunyi dan tulisannya sama. Misalnya bahasa Indonesia.

Jumlah penyandang gangguan belajar, dari satu negara ke negara lain berbeda-beda, hal ini juga banyak dipengaruhi selain karena bahasa setempat, juga tes untuk menyatakan bahwa seorang anak bergangguan belajar masih tidak ada kesamaan. Namun angkanya berkisar dari 3 hingga 5 persen, dengan jumlah terbanyak padal aki-laki.

2.5. Tipe dan subtipe gangguan belajar

Ada dua cara pemrosesan informasi (di otak) yang masuk melalui organ sensoris. Informasi tersebut masuk melalui organ sensor telinga dan mata, yang kemudian melalui sistem persyarafan dikirim ke otak untuk diproses lebih lanjut. Namun pada penyandang gangguan belajar, pemrosesan informasi di bagian otak ini mengalami gangguan fungsi. Karena itu tipe gangguan belajar menurut DJ Bakker (1985) secara garis besar dapat dibagi menjadi dua:

1) tipe gangguan belajar yang disebabkan karena terganggunya pemrosesan informasi melalui telinga ( auditif);

(16)

Sumber: Dumont JJ (1994) Dyslexie, theorie, diagnostiek, behandeling, Lemniscaat bv, Rotterdam

Tipe terganggunya pemrosesan informasi auditif

Pada tipe ini, fungsi organ telinganya sendiri tidak bermasalah, namun yang mengalami gangguan fungsi adalah bagian di otak yang memproses informasi bunyian yang masuk melalui telinga. Gangguan ini akan merupakan gangguan penerimaan (persepsi) bentuk bunyian, yang menyebabkan kesalahan bunyian yang diucapkan oleh si penyandang. Akibatnya adalah ia salah mengucapkan kembali bunyian atau kata-kata yang dikeluarkan oleh orang lain. Karena gangguan pada tipe ini kemudian akan menyangkut pada gangguan berbahasa maka tipe ini seringkali disebut sebagai gangguan belajar tipe L (linguistik). Pirazola (1981) menyebutnya sebagai tipe

Auditif-linguistik.

Tipe terganggunya pemrosesan informasi visual.

Pada tipe ini yang mengalami gangguan adalah fungsi pemrosesan informasi melalui mata, sehingga ia mengalami kesalahan persepsi saat menangkap simbol huruf, angka, dan ikon-ikon. Kesalahan itu dapat berupa melihat huruf yang terbalik-balik (inversi), misalnya huruf d dilihat sebagai b, p menjadi q, atau tidak lengkap misalnya huruf h menjadi n. Karena kesalahannya dalam persepsi melalui visual maka tipe ini disebut sebagai gangguan belajar tipe P (persepsi).

(17)

dimensi dibutuhkan dalam rangka belajar berhitung. Pirazola menyebutnya sebagai tipe Visuo-spatial.

Sumber: Dumont JJ (1994) Dyslexie, theorie, diagnostiek, behandeling, Lemniscaat bv, Rotterdam

Subtipe gangguan belajar

Karena gangguan yang terjadi dapat disebabkan karena kondisi yang beragam, maka gangguan belajar terutama disleksia dapat menunjukkan gejala yang beragam pula.

Namun dari sekian banyak kondisi yang dapat menyebabkan gangguan belajar ini, subtipenya dapat dibagi menjadi 4 (menurut de Fries & Decker 1982 dalam Dumont, 1994). Subtipe dibagi berdasarkan masalah-masalah yang dapat berdasarkan pada saat:

1. Membaca yaitu berupa:

- Berhitung

- Tehnik membaca

- Pemahaman bacaan

- Mengeja

2. Berpikir dengan kemampuan pandang ruang

yaitu:

- Inteligensi non-verbal (performance intelligence)

- Hubungan pandang ruang/dimensi

3. Kecepatan pemrosesan simbol, yaitu:

(18)

- Kecepatan pencanderaan (kecepatan memberi nama huruf dan angka saat ditunjukkan huruf dan angka)

Dari ketiga faktor yang dikelompokkan itu, didapatkan empat subtipe disleksia.

Subtipe 1 adalah kelompok yang mengalami rendah pada kemampuan membaca dan berpikir dengan kemampuan pandang ruang.

Subtipe 2 adalah kelompok yang rendah pada kemampuan membaca dan kecepatan pemrosesan simbol.

Subtipe 3 adalah kelompok yang rendah pada kemampuan membaca namun mempunyai kemampuan normal pada kemampuan pandang ruang dan kecepatan pemrosesan simbol. Kelompok ini sering disebut kelompok murni disleksia.

Subtipe 4 adalah kelompok yang mengalami gangguan di berbagai kemampuan.

Keterangan:

M = kemampuan membaca PR = kemampuan pandang ruang

KPS = kemampuan kecepatan pemrosesan simbol Tanda - - - = kelompok normal

Tanda ____ = kelompok gangguan belajar disleksia

(19)

Subtipe 3 adalah subtipe yang paling banyak. Hampir setengah penyandang gangguan belajar (Learning Disabilities) merupakan subtipe 3 ini. Subtipe ini sering disebut anak yang mengalami

kesulitan membaca. Sekalipun membacanya cukup cepat, tetapi mengalami kesalahan dan gangguan pemahaman bacaan. Masalah utama yang terjadi adalah terganggunya atau kurangnya kemampuan fonologis pada anak. Gejalanya si anak mengalami kesulitan otomatisasi memberikan nama-nama dari simbol-simbol (huruf dan angka) yang dilihatnya. Dalam hal ini ia juga mengalami kesulitan memberikan nama huruf karena mengalami kebingungan arah. Misalnya huruf b yang perutnya ke depan selalu terbalik-balik dengan d yang perutnya ke belakang.

Subtipe 3 ini juga sering disebut penyandang disleksia murni. Kelompok ini umumnya mengalami gangguan dengan gejala mengalami keterlambatan bicara. Ia juga mengalami gangguan kesadaran akan asosiasi huruf dan bunyian (phonic dan phonemic awarness). Ia kurang mengerti bahwa setiap huruf mempunyai bunyian tertentu yang dapat disusun menjadi bunyian yang lain, serta dapat dipindah-pindah dan akan membentuk bunyian lain lagi.

Subtipe 1 adalah subtipe yang cukup banyak, yaitu sekitar 25 persen dari kelompok anak bergangguan belajar. Kelompok ini selain mengalami gangguan membaca juga disertai gangguan pandang ruang/ dimensi. Sehingga ia juga mengalami gangguan berhitung (diskalkulia) yang parah.

Subtipe 2 adalah subtipe yang hampir sama banyak dengan subtipe 1, yaitu yang mempunyai

gangguan pada kemampuan membaca dan gangguan kecepatan membaca. Ia menjadi pembaca yang lambat dan terbata-bata. Namun tidak mengalami gangguan fungsi pandang ruang, sehingga kemampuan berhitungnya masih cukup baik, hanya saja ia mengalami gangguan dalam kecepatan mencandra simbol.

(20)

BAB 3

SYARAT BERKETRAMPILAN BELAJAR

Setiap anak bergangguan belajar mempunyai kekhususan masing-masing. Baik luas maupun keparahan gangguannya. Hal ini tergantung dari kompleksitas gangguan, yang dapat diperparah oleh berbagai gangguan ikutan, serta tingkatan inteligensi masing-masing. Jika kita melihat bagan di bawah ini, ketrampilan belajar (membaca – mengeja – menulis – berhitung) dipengaruhi oleh berbagai kemampuan kedua organ sensor (mata dan telinga) serta pemrosesannya di otak. Karena itu syarat berketrampilan belajar membaca-mengeja-menulis-berhitung antara lain dibutuhkannya fungsi dan pemrosesannya di otak yang baik. Bila terjadi salah satu gangguan dalam fungsi dan pemrosesannya, maka akan terjadilah gangguan belajar itu.

3.1. Kemampuan pemrosesan informasi visual dan auditif sebagai syarat berketrampilan belajar

Sumber: Dumont JJ (1994) Dyslexie, theorie, diagnostiek, behandeling, Lemniscaat bv, Rotterdam

(21)

dicatat ini akan dalam bentuk gambaran-gambaran yang disebut sebagai grafem (huruf, angka, simbol-simbol). Mata mencatat secara simultan semua gambaran yang diterimanya.

Pada anak-anak yang mengalami gangguan pencandraan visual, ia sering mengalami kebingungan arah antara kiri dan kanan, sehingga terjadilah kesalahan pada saat melihat huruf-huruf yang sulit diinterpretasi oleh matanya sebagai huruf /p/ atau /q/ ; huruf /b/ atau /d/. Semua ini disebabkan karena adanya gangguan pemrosesan grafem (gambar huruf) oleh otak. Kelak jika dalam tes untuk menentukan apakah ia mengalami gangguan di bagian ini, jika diberi tes suatu kata dengan huruf yang ditukar-tukar tempatnya ia akan mengalami kesulitan.

Demikian juga telinga, akan melakukan pencandraan auditif, ia akan mengidentifikasi dan mendiskriminasi (membeda-bedakan) suara yang masuk, menganalisanya, mensintesanya, lalu mengambil kesimpulan terhadap suara tersebut. Segala suara yang masuk melalui telinga yang kemudian akan dicatat atau diregisterasi dalam bentuk informasi, akan dalam bentuk urutan suara (sekuensial). Disinilah beda karakteristik informasi yang masuk melalui telinga dan mata. Jika mata mencatat informasi secara simultan, sedang telinga mencatat informasi secara berurutan (sekuensial). Bentuk informasi bunyian yang masuk ini disebut sebagai fonem (bunyian dalam bentuk kata).

Pada saat belajar membaca dan menulis, seorang anak akan menggunakan kedua pemrosesan informasi tersebut sekaligus. Bila seorang guru menyebutkan satu kalimat yang harus dicatat dalam sebuah pelajaran imla, si anak akan mendengar berbagai kata secara berurutan masuk ke dalam telinganya, dan disalurkan melalui persyarafan menuju otak. Di dalam otak suara-suara tersebut akan diidentifikasi dan diproses lebih lanjut yang pada akhirnya akan dikonversi menjadi simbol-simbol huruf-huruf berurutan dalam sebuah kata dan akhirnya dalam sebuah kalimat. Proses ini disebut proses

transportasi dari auditif ke visual.

Dari sini informasi ini kemudian siap disalurkan melalui persyarafan ke jari-jari untuk ditulis.

Atau sebaliknya jika seorang anak membaca sebuah kalimat, ia harus menyusunnya dalam bentuk urutan kata-kata yang harus diucapkan. Proses ini merupakan proses transportasi dari visual ke auditif.

Pada anak normal kedua proses bolak-balik itu terjadi secara otomatis. Setelah melalui latihan-latihan, otomatisasi akan menjadi lebih baik.

(22)

diperhatikan mengapa seorang anak mengalami kesulitan pada saat belajar. Apakah terjadi gangguan di bagian pemrosesan auditif, visual atau pada saat trasportasi dan otomatisasi.

Fungsi sensor penglihatan dan pendengaran

Sumber: Dumont JJ (1994) Dyslexie, theorie, diagnostiek, behandeling, Lemniscaat bv, Rotterdam

GANGGUAN BELAJAR BAB 4

PEMAHAMAN GEJALA

4.1.Pemahaman gejala dari berbagai bidang

(23)

Prasyarat kesiapan belajar juga ditentukan oleh kematangan secara fisik, karenanya juga menjadi kajian para dokter anak. Karena itu seorang anak yang mengalami masalah dan gangguan belajar memerlukan pemeriksaan dari banyak profesi. Untuk menjawab masalah tersebut diperlukan pengetahuan dari sejumlah profesi, melalui pemeriksaan dalam bentuk kolaborasi maupun rujukan. Hal ini untuk melihat faktor-faktor yang mampu berperanan sebagai pembawa risiko disleksia, atau menjadi pemberat disleksia. Setelah hal itu diketahui semua, yang paling menentukan apakah seorang anak penyandang disleksia adalah seorang tenaga ahli kependidikan (orthopedagog) atau psikolog sekolah. Dua profesi inilah yang melakukan asesmen atau melakukan tes-tes disleksia.

Karena itu sangat penting artinya seorang tenaga ahli kependidikan anak berkekhususan (orthopedagog) dan psikolog sekolah untuk menterjemahkan segala informasi yang masuk dan memberikan bimbingan kepada guru kelas maupun orang tua bagaimana menanganinya dalam rangka pendidikan dan pengasuhannya, serta membuat rujukan bila diperlukan.

4.2. Gejala Gangguan Belajar dari pengalaman yang dihadapi guru dan orang tua

Sebagaimana dijelaskan di bagian depan bahwa gangguan belajar (Learning Disabilities) adalah sebuah gangguan yang kasat mata, dan hanya dikenakan pada anak-anak yang mempunyai kecerdasan normal hingga tinggi. Dari pengalaman sehari-hari seringkali guru dan orang tua melihat bahwa si anak mudah mengerti dan mampu memahami pengetahuan. Namun kenyataannya hasil prestasi sekolahnya selalu jatuh.

(24)

4.3. Gejala Gangguan Belajar dalam psikologi klinis

Disleksia adalah suatu perbedaan yang siknifikan antara potensi/kapasitas dan prestasi. Untuk mengambil kesimpulan seperti itu maka kita harus menentukan terlebih dahulu seorang anak mempunyai kapasitas potensi seberapa tinggi. Untuk menetukan kapasitas potensi ini seorang psikolog pendidikan akan mengukur potensi kecerdasan anak melalui tes inteligensi. Tes inteligensi ini merupakan tes yang luas yang dapat melacak berbagai kemampuan seorang anak. Pada dasarnya dibagi dalam dua bagian, yaitu yang berkaitan dengan inteligensi verbal (verbal IQ) dan inteligensi performansi (performansi IQ). Setiap bagian (verbal dan performansi tes) masih dibagi-bagi lagi dalam beberapa subtes yang lebih spesifik. Bila dari hasil pemeriksaan inteligensi ini menunjukkan IQ normal sampai tinggi, namun prestasi yang diperoleh tidak menunjukkan prestasi sebagaimana yang diharapkan, maka kita perlu mencurigai kemungkinan si anak mempunyai masalah belajar, primer atau sekunder yang harus dilacak lebih lanjut.

Hanya dengan pengukuran IQ sendiri tidak dapat untuk menegakkan diagnosa apakah seorang anak mempunyai masalah gangguan belajar, namun dapat untuk melihat resiko kemungkinan si anak mempunyai masalah gangguan belajar. Misalnya jika diketahui bahwa ada deskrepansi yang mencolok antara verbal IQ dan performansi IQ. Atau terjadi ketidak teraturan (ketidak harmonisan) yang mencolok dalam berbagai subtes baik dalam subtes verbal IQ maupun performansi IQ. Biasanya diambil kesimpulan adanya risiko kemungkinan seorang anak dalam proses pembelajarannya akan mengalami masalah gangguan belajar jika deskrepansi atau perbedaan itu sebanyak melebihi 15 poin.

Dari berbagai penelitian tentang penyandang disleksia, umumnya anak-anak tersebut mempunyai deskrepansi yang besar antara verbal IQ dengan performansi IQ, dimana verbal IQ lebih rendah daripada performansi IQ. Hal seperti ini dapat disebabkan karena anak-anak ini umumnya mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara (mengalami gangguan fonologis), mengalami kesulitan membaca sehingga kurang membaca yang menyebabkan beberapa skor dalam subtes verbal mendapatkan skor rendah. Seperti misalnya jumlah daftar kata-kata, mengalami kesulitan dalam kemampuan substitusi dan pemahaman.

(25)

4.4. Masalah belajar dalam neurologi

Awal masalah belajar diketahui dari keadaan gangguan yang dahulu diberi istilah MBD (Minor Brain Damage). Karena kerusakan otak tidak dapat dilihat melalui penciteraan otak (rontgen maupun scanning otak) maka Minor Brain Damage diganti dengan istilah Minor Brain Dysfuntion. Gejala anak-anak ini adalah hiperaktif, impulsif dan gangguan konsentrasi (pemusatan perhatian). Terakhir kini istilah ini diganti dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH). Sekalipun seorang anak penyandang ADHD mempunyai kesulitan belajar (Learning Difficulties), namun belum tentu mempunyai masalah gangguan belajar (Learning Disabilities). Untuk melacaknya masih memerlukan lagi melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang ahli kependidikan anak berkekhususan, yang disebut orthopedagog.

Pemeriksaan dalam bidang kedokteran neurologi (ilmu syaraf), yaitu:

 Pemeriksaan fisik secara umum

 Pemeriksaan fungsi sensorik

 Pemeriksaan fungsi syaraf

 Pemeriksaan syaraf pusat (otak)

 Refleks

 Motorik

 Lateralisasi dan keseimbangan tangan, mata, dan kaki

 Kordinasi mata-tangan

 Konsentrasi

 Artikulasi

 Sensitivitas

Dari bidang neurologi akan diperkirakan bahwa seorang anak akan mengalami gangguan belajar jika didapatkan tanda-tanda adanya gangguan neurologi, yang antara lain didapatkan gejala-gejala ke arah itu dari pemeriksaan antara lain (Aldekamp dkk, 2004):

 gangguan tempo pada urutan unit bahasa, yaitu gangguan pada pecandraan dan mengingat

urutan huruf, suku kata, dan bunyian;

(26)

 gangguan pada seleksi pencandraan/seleksi perhatian, yaitu membedakan mana yang latar

belakang, dan mana yang menjadi figur utama;

 gangguan pada visuo-spasial organisasi, misalnya kiri-kanan, orientasi ruang;

 gangguan pada pengenalan melalui panca-indera taktil, yaitu pengenalan figur melalui

perabaan.

Dari pemeriksaan dokter neurologi ini kita masih belum dapat menyebutnya ia adalah penyandang disleksia, karena dokter neurologi tidak melakukan tes-tes disleksia itu sendiri. Hasil yang diperoleh dari dokter neurologi adalah berbagai faktor risiko yang kemungkinan akan menyebabkan anak mempunyai masalah gangguan belajar disleksia.

Sekalipun masalah gangguan belajar mempunyai kaitan dengan masalah perkembangan otak, namun hingga kini penegakan diagnosa gangguan belajar (Learning Disabilities) dengan menggunakan perangkat penciteraan otak - misalnya Computed Thomography (CT-scan), Brain Electrical Activity Mapping (BEAM), dan Magnetic Resonans Imaging (MRI), atau dengan menggunakan Qualitative Encephalography (QEEG) masih dalam rangka penelitian dan belum ada hasil yang konkrit. Sehingga penegakan diagnosa gangguan belajar melalui penciteraan otak dalam bidang neurologi ini masih belum bisa dilakukan.

4.5. Masalah belajar dalam ilmu kedokteran anak

Seorang dokter anak terutama dokter anak tumbuh kembang akan mencatat berbagai penyimpangan tumbuh kembang seorang anak. Sementara itu tumbuh kembang yang baik dan

harmonis adalah merupakan prasyarat dari kecakapan seorang anak dalam menempuh pendidikan. Karena itu seorang dokter tumbuh kembang perlu memberikan “bendera merah” kepada para orang tua jika didapati adanya tanda-tanda penyimpangan perkembangan fisik, emosi, sosial, motorik, bahasa-bicara, adaptasi dan kemandirian.

Pertumbuhan dan perkembangan yang perlu mendapatkan pemantauan secara berkala bagi seorang anak adalah:

- perkembangan fisik

- perkembangan kognitif yang diamati melalui perkembangan senso-motor - perkembangan bahasa dan bicara

(27)

- perkembangan emosional

- perkembangan kemampuan kreativitas - perkembangan personalitas

Namun sayangnya berbagai kemampuan yang selayaknya mendapatkan pemantauan secara berkala, karena berbagai hambatan, hingga kini di Indonesia masih belum dilaksanakan.

4.6. Masalah belajar dalam ilmu patologi bahasa dan bicara

Perkembangan berbahasa dan bicara juga akan mempengaruhi seorang anak mempunyai ketrampilan belajar, baik menulis, membaca, mengeja, dan juga akan mempengaruhi ketrampilan berhitung. Selain daftar kata aktif dan pasif yang dimiliki anak agar bisa mendukung berketrampilan belajar, si anak juga perlu mempunyai apa yang disebut phonic & phonemic awarness yaitu pemahaman dan kesadaran anak tentang bunyian dan hubungannya dengan huruf – serta huruf yang membentuk kata. Kini telah diketahui bahwa kekurangmampuan dalam perkembangan dalam area ini akan menyebabkan anak akan mengalami gangguan belajar membaca yang cukup menyulitkan. Contoh phonic & phonemic awarness ini misalnya anak di kelas satu sekolah dasar ditanya:

Ada huruf apa ditengah kata “mas” ? Ia harus dapat menjawab dan membunyikan huruf “a”. Huruf apa di depan kata “apel” , maka ia harus bisa menjawab bahwa yang ada di depan kata apel adalah huruf “a”. Huruf apa di tengah kata “ibu” ? Ia juga harus bisa menjawab, bahwa di tengah kata “ibu” ada huruf “b” . Bila didapatkan seorang anak menjawab ada “perut” di tengah kata “aku” , maka kita perlu hati-hati terhadap situasi ini.

Perkembangan phonic & phonemic awarness ini kini semakin dirasa sangat penting sekali untuk memperkirakan perkembangan belajar anak kelaknya di bangku sekolah. Karena itu kini phonic & phonemic awarness ini semakin diajarkan dan dikembangkan pada anak-anak sejak dini saat anak mulai masuk kelompok bermain.

Untuk melihat adanya kemungkinan seorang anak mengalami masalah dalam pembelajaran, seorang ahli patologi bahasa dan bicara akan melihat beberapa aspek perkembangan anak dalam berbicara dan berbahasa. Aspek-aspek itu adalah:

Aspek fonologi, yaitu dimana seorang anak dapat membedakan secara benar bunyian yang

(28)

kemampuan awal seorang anak belajar membaca. Perkembangan teori gangguan belajar terakhir adalah lebih menekankan pada masalah terganggunya perkembangan aspek fonologi ini. Karena itu aspek ini merupakan bagian terpenting dan sangat perlu mendapatkan perhatian.

Apek gramatika, 1) aspek morfologi yaitu dimana anak dapat mengenal kata kerja dan kata

benda, dan kemudian; 2) mampu membentuk kalimat, kemampuan ini disebut aspek sintaksis.

Aspek semantik (pemahaman bahasa/bacaan), dimana seorang anak harus mampu

memahami apa yang diucapkan, atau dibacanya.

Aspek pragmatik (penggunaan bahasa), dalam hal ini si anak mampu menggunakan bahasa

dalam konteks yang tepat dan digunakan untuk apa.

Bila seorang ahli patologi bahasa dan bicara mendapatkan seorang anak mengalami gangguan perkembangan berbahasa dan bicara, maka ia perlu memberikan “bendera merah” kepada orang tua agar lebih memperhatikan masalah ini.

Umumnya seorang anak dibawa ke ahli patologi bahasa dan bicara karena ia mengalami perkembangan berbahasa dan bicara yang tertinggal dari teman-teman sebayanya. Artinya tugas seorang ahli patologi bahasa dan bicara bukan saja melakukan deteksi dan diagnosa dalam bidangnya, memberikan intervensi bahasa dan bicara, tetapi juga memberikan informasi prakiraan ke depan kepada pihak orang tua, guru, konselor maupun ahli kependidikan yang mempunyai hubungan dengan pihak sekolah. Informasi tersebut berupa beberapa besar kemungkinan kesulitan yang dapat terjadi yang berkaitan dengan pembelajaran di dalam kelas.

Seorang anak yang mengalami ketertinggalan perkembangan bahasa dan bicara tidak akan otomatis mengalami gangguan belajar, hal itu tergantung dari luas dan beratnya gangguan. Namun anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara mempunyai risiko mengalami masalah gangguan baik primer maupun sekunder.

Ilmu patologi bahasa dan bicara ini di Indonesia juga masih belum banyak peminatnya sehingga ilmunya belum berkembang dengan baik.

4.7. Masalah belajar dalam ilmu kependidikan

(29)

seorang diri, ia memerlukan dukungan atau bantuan pemeriksaan dari berbagai profesi lainnya. Profesi terdekat baginya adalah seorang psikolog pendidikan/anak, yang akan membantu menguraikan kapasitas dan potensi inteligensi, kemampuan sosial, kondisi emosional, dan perilaku anak.

Pertama-tama yang harus dilakukan oleh seorang ahli kependidikan berkekhususan adalah data-data umum anak yang diterimanya dari dokter anak, kemudian data-data khusus gangguan seperti dari neurolog dan psikiater jika anak mempunyai masalah gangguan perilaku dan masalah psikiatrik lainnya.

Pemeriksaan pendidikan anak berkekhususan disebut pemeriksaan orthopedagogi-didaktik yang tujuannya adalah untuk membangun perogram pendidikan individual atau Individual Education Program (IEP) , yang meliputi:

- kondisi umum anak (dengan melihat riwayat dan berbagai laporan profesi lainnya) - kemampuan dasar membaca

- tingkatan membaca - tingkatan berbahasa

- kemampuan dasar berhitung - tingkatan berhitung

- menulis

Maksud melihat kondisi umum anak, adalah untuk melihat bentuk pendidikan seperti apa yang sepantasnya dapat ditawarkan kepadanya. Selain itu juga untuk melihat sisi apa saja yang lemah dan sisi apa saja yang kuat dari seorang anak, termasuk kondisi fisik, psikologis, konsentrasi dan emosi anak.

Seorang orthopedagog juga perlu memeriksa bagaimana situasi pendidikan di rumah, adakah faktor-faktor yang menghambat dan mendukung bagi pendidikan anak. Karena bagaimana pun kerjasama dengan orang tua sangat diperlukan.

Pemeriksaan orthopedagogi-didaktik adalah suatu pemeriksaan melalui beberapa tes, yang dapat digunakan untuk penempatan sekolah seorang anak.

4.8. Fungsi hemisfere (belahan otak kanan dan kiri)

(30)

hingga dewasa akan berubah seiring dengan berkembangnya usia. Dan dominasi otak (kiri dan kanan) juga akan berubah. Pada dasarnya otak kiri dan kanan manusia tidak seimbang, tetapi ada dominasi dari salah satu belahan otak. Hal ini sangat normal dan sangat dipengaruhi oleh faktor genetik yang bekerja sebagai cetak biru perkembangan manusia. Jadi tidak benar jika dalam sebuah program pendidikan kita bertujuan akan menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Beberapa penelitian menunjukkan justru perkembangan otak yang simestris dimiliki oleh kelompok penyandang disleksia.

Perkembangan otak anak saat bayi dilahirkan akan didominasi oleh perkembangan otak sebelah kanan hingga minggu ke 29. Lambat laun perkembangan itu akan diikuti dengan perkembangan otak sebelah kiri. Dominasi kanan akan terus berlangsung hingga anak usia sekitar 5-6 tahun. Selanjutnya dikemudian hari dominasi itu akan diganti oleh dominasi sebelah kiri. Perpindahan dominasi otak dari kanan ke kiri ini disebut lateralisasi. Pada usia tujuh tahun aktivitas ini selesai dan masa krisis juga berakhir. Selanjutnya manusia diatur oleh kerja otak secara kontralateral. Artinya otak sebelah kiri akan mengatur kerja motorik dan sensor sebelah kanan, demikian sebaliknya. Jadi bila sebagian besar anak belajar menulis dengan tangan kanan artinya si anak berada dalam dominasi otak sebelah kiri. Hanya sedikit anak yang mempunyai kekuatan tangan di sebelah kiri. Atau kedua tangan kiri dan kanan mempunyai kekuatan yang sama.

(31)

Fungsi otak sebelah kanan lebih kepada mengatur faktor emosi, motorik kasar, dan penglihatan (visual).

Sedang otak sebelah kiri akan lebih mengatur faktor bahasa dan bicara, motorik halus, dan pendengaran (auditif).

(32)

Sedang otak sebelah kiri mempunyai fungsi pengaturan masuknya dan pemrosesan informasi auditif yang sifatnya runtut (sekuensial). Otak sebelah kiri ini juga mempunyai fungsi kerja untuk memilah-milah dan memecah informasi menjadi bagian kecil-kecil (analisa).

Bila kedua belahan otak itu dipisahkan, dan salah satunya mengalami gangguan maka dapat diperkirakan bahwa seorang anak yang mengalami gangguan otak di sebelah kiri akan mengalami gangguan pada perkembangan bahasa, dan bicara, mengenal nama-nama benda, dan mengingat hari dan tanggal. Pada anak-anak ini juga akan mengalami gangguan mengkira-kira waktu.

Sedangkan gangguan otak di sebelah kanan akan menyebabkan seorang anak mengalami gangguan perkembangan kemampuan pandang ruang yang berakibat pada gangguan berhitung, gangguan emosi, ritme musik, dan gangguan motorik.

Ketrampilan tangan kiri dan kanan juga dipengaruhi oleh fungsi belahan otak kanan dan kiri. Sebanyak 90 persen anak akan menulis dengan tangan kanan, hal ini karena diatur oleh dominasi otak sebelah kiri. Jika seorang anak lebih trampil menggunakan tangan kiri bukan berarti ia mengalami gangguan di otak yang patologis (bukan merupakan cacat di otak). Sebaliknya, gangguan perkembangan lateralisasi bisa juga terjadi karena adanya gangguan di otak. Namun hal ini perlu dilakukan pemeriksaan sebaik-baiknya. Seringkali anak-anak yang mengalami gangguan belajar juga diikuti oleh gangguan di otak yang mengatur ketrampilan motorik kasar maupun motorik halus, serta gangguan perkembangan lateralisasi. Gangguan motorik ini akan lebih memperparah masalah gangguan belajarnya (Learning Disablilitis-nya). Gangguan motorik itu sendiri bukan merupakan gangguan belajar (Learning Disabilities).

(33)

BAB 5

MENENTUKAN BATAS ANTARA GANGGUAN BELAJAR DAN KESULITAN BELAJAR

Tidak semua anak yang mempunyai nilai jelek artinya adalah seorang anak yang mengalami gangguan belajar (Learning Disabilities) seperti misalnya disleksia atau diskalkulia. Kemungkinan ia mempunyai masalah-masalah sekunder (learning difficulties) yang mampu mengganggu peraihan prestasinya. Atau ia membutuhkan metoda berbeda karena memang gaya belajarnya lain.

Anak-anak yang mempunyai masalah-masalah belajar sekunder seperti misalnya gangguan perilaku, gangguan emosi, gangguan psikiatri, gangguan konsentrasi, gangguan perkembangan majemuk, gangguan motorik, dan sebagainya, tidak akan otomatis mempunyai masalah belajar primer. Hal ini masih memerlukan pemeriksaan masalah belajar primer (Learning Disabilities) selanjutnya.

Menentukan batas apakah hal itu termasuk masalah belajar primer atau masalah belajar sekunder, adalah suatu pekerjaan yang sulit dan membutuhkan pemeriksaan berbagai profesi.

Masalah gangguan belajar (Learning Disabilities) sendiri akan menimbulkan masalah emosi, sosial, dan perilaku anak, sedang masalah gangguan perilaku dan emosi dapat menurunkan prestasi si anak. Jadi kedua masalah baik primer dan sekunder dapat bertumpang tindih, dan sulit melihat jika tidak diikuti dengan observasi yang baik. Jika seorang anak yang mengalami gangguan belajar diikuti juga dengan gangguan perilaku, emosi, dan konsentrasi sebagaimana penyandang ADHD, maka gangguan ini akan lebih memperparah proses pembelajaran dan berakibat juga memperparah raihan prestasi anak. Penyandang ADHD sendiri karena masalah gangguan konsentrasinya dan karakteristiknya yang seringkali lompat pada kesimpulan (karena impulsivitasnya), ia akan mengalami kesulitan meraih prestasi, yang dapat memberikan gambaran seolah ia mengalami gangguan belajar (Learning Disabilities) – padahal kemungkinannya belum tentu.

(34)

anak-anak ini. Dalam hal ini guru dan orang tua tidak bisa bekerja sendiri, perlu dibantu oleh tenaga guru berpengalaman, atau pun konselor sekolah untuk menentukan strategi baginya.

Namun yang sangat penting dan sangat menentukan adalah upaya-upaya dari berbagai pihak untuk melihat dimana gangguan itu terjadi, sehingga dapat ditentukan strategi penangannannya.

Gangguan perkembangan motorik halus sendiri bukan termasuk gangguan belajar (Learning Disabilities), namun gangguan motorik halus dan kordinasi mata-tangan merupakan faktor yang sangat mendukung agar seorang anak dapat menulis dengan baik, dan dapat memperparah gangguan belajar yang disandang anak. Karena itu harus benar-benar dibedakan apakah tulisannya yang sulit dibaca dan penulisan huruf-huruf yang salah karena memang ia penyandang gangguan belajar atau karena motorik halusnya terlalu lemah. Jika kelemahan hanya berada dalam motorik halus, kesulitan ini dapat diatasi hanya dengan latihan untuk memperkuat motorik halusnya. Atau anak tersebut diperkenankan menggunakan perangkat komputer. Namun jika selain tulisannya yang buruk, sulit dibaca, dan banyak kesalahan karena memang masalah gangguan belajar (Learning Disabilities), maka penanganannya memerlukan ke dua arah, yaitu melatih motorik halusnya dan juga melatih agar ia mampu memperbaiki kesalahan sebagai akibat masalah gangguan belajarnya.

Karena itu sangatlah penting untuk menentukan batasannya, apakah seorang anak memang mengalami masalah belajar primer atau masalah belajar sekunder. Bila hal itu bisa ditentukan, maka penanganannya akan lebih efektif dan efisien. Tidak perlu memberikan semua terapi seperti yang sering kita temui di lapangan sebagai terapi “paketan”.

Beberapa strategi yang dapat dikembangkan oleh pihak sekolah bersama orang tua sebagaimana di bawah ini.

5.1. Observasi panjang dan menyeluruh

(35)

- wawancara dengan orang tua

- observasi panjang terhadap siswa baik di rumah maupun di sekolah - menggunakan ceklis

Observasi

Observasi ditujukan pada:

 tingkat inteligensi

 motivasi dan komitmen terhadap tugas

 kreativitas

 tempo kerja

 sikap kerja

 hasil kerja

 ketrampilan

 emosi

 perilaku

 hubungan sosial

 kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak selama proses pembelajaran berlangsung

Dalam observasi itu, jika ternyata dalam evaluasi tiga bulan pertama didapatkan adanya ketertinggalan yang siknifikan dari siswa yang bersangkutan (bandingkan dengan teman-teman sekelasnya), maka guru bersama orang tua, perlu mengambil tindakan memberikan strategi sesuai dengan kondisi anak. Kegiatan ini disebut sebagai clinical teaching (akan dijelaskan dalam bab berikutnya). Hal ini diupayakan agar si anak sementara dalam perkembangannya tidak mengalami trauma karena harus segera diperiksa kesana kemari, serta untuk menghindari kemungkinan salah pendekatan yang ternyata si anak hanya membutuhkn strategi berbeda, dan atau si anak masih dalam perkembangan. Kecuali bila kondisinya memang sangat parah dan pihak sekolah kesulitan untuk menanganinya, maka pihak sekolah dan orang tua dapat mencari bantuan ke pihak-pihak yang lebih ahli.

5.2.Lakukan rujukan

(36)

Kedua ahli tersebut bisa mendirikan sebuah pusat bantuan psikologi-pedagogi yang membantu beberapa sekolah sekaligus.

5.3.Pemeriksaan dan tes

Semua hasil pemeriksaan rujukan misalnya ke dokter anak khusus tumbuh kembang, ke neurolog, ke psikiater, ke dokter THT, ke psikolog khusus perkembangan, dan sebagainya, maka hasil ini perlu disampaikan kepada ahli kependidikan anak berkekhususan – atau setidaknya psikolog pendidikan untuk membuat Psycho-Educational Profile (PEP) yang digunakan sebagai dasar pemeriksaan selanjutnya, menegakkan diagnosa, dan guna menentukan bentuk intervensi yang harus diberikan terhadap anak. Dari sini dibuatkan sebuah Individual Education Program (IEP) yang secara berkala, misalnya 3 (tiga bulan) atau per 6 (enam) bulan. Bila dalam evaluasi diperlukan segera adanya suatu perubahan, maka strategi, materi, dan bentuk penanganannya harus dirubah, dan si anak dibuatkan IEP yang baru.

Jika dengan tes untuk menentuan gangguan belajar, bisa diketahui bahwa si anak memang menyandang masalah gangguan belajar (Learning Disabilities), maka arahan penanganannya dilakukan ke dua arah:

- gangguan belajar dan juga masalah lain yang mengikutinya ( misalnya gangguan perilaku, emosi, dan sosial)

- faktor kuat yang dimiliki anak

Bila dalam tes tersebut tidak didapatkan adanya tanda-tanda gangguan belajar (Learning disabilities), yang ditandai oleh tingkat kemampuan membaca (dikte, mengeja, decoding, kecepatan membaca, tehnik membaca, pemahaman bacaan, menulis, penggunaan bahasa) tidak tertinggal dari teman-temannya namun ia pada kenyataannya mengalami ketertinggalan prestasi, maka kepada anak ini perlu diupayakan pemeriksaan ke arah lain yang lebih spesifik. Misalnya karena motorik halusnya yang lemah, kepadanya perlu adanya pelatihan motorik halus, kordinasi mata tangan, dan latihan menulis. Bila memang sangat kesulitan, misalkan ia membutuhkan sebuah perlengkapan komputer, kepadanya dapat ditoleransi menggunakan komputer di dalam kelas.

BAB 6

GEJALA GANGGUAN BELAJAR

6.1. Gangguan dalam pelajaran membaca, mengeja dan menulis

(37)

Pada dasarnya proses belajar adalah suatu proses multifaktorial, artinya berbagai faktor dapat sekaligus berpengaruh dalam proses belajar. Huruf-huruf dan kata-kata adalah figur-figur yang mempunyai bunyi-bunyian tertentu, serta dengan berbagai bunyian secara bersama-sama akan membentuk arti. Dalam pelajaran membaca faktor berikut turut bermain:

1. Objektif

Kesadaran akan adanya bunyian dalam bicara, dan perwujudan dari bunyian bicara dari berbagai tanda tanda atau simbol simbol.

2. Mampu mendengarkan dengan baik akan adanya bagaimana sebuah kata berbunyi, serta mampu mengenal berbagai perbedaannya (bagaimana kecilnya pun) yang terjadi diantara bunyian bicara, bagaimana urutannya (ordening) dari bunyian itu, sehingga kita bisa merubah ubah huruf dalam sebuah kata yang akhirnya bisa menjadi arti yang berbeda (lap-pal, pos-sop). 3. Dapat melihat dengan baik perbedaan bentuk huruf-huruf dan kedudukan huruf-huruf itu.

Banyak huruf yang mempunyai bentuk yang mirip satu dengan yang lainnya, misalnya: p, b, d: v,w: w,m: c,o: h,b. Terutama pada waktu akan menulis harus ada contoh, misalnya sebuah demonstrasi bagaimana caranya sebuah huruf harus ditulis melalui yang diberikan dengan cara

gerakan gerakan yang bisa dilihat.

Pada setiap aspek membaca, gangguan bisa saja terjadi yang nampak pada tugas membaca yang agak sulit, si anak kelihatan kesulitan mengkaitkan antara apa yang ia dengar dengan yang ia lihat. Pada stadium awal kelihatan jika ia kesulitan mengasosiasikan antara bunyi dengan simbol, serta kesulitan menangkap dengan cepat berbagai bunyian itu agar bisa segera diwujudkan dalam bentuk kata-kata yang dikeluarkannya.

Pada anak-anak seperti ini selalu saja terdapat keraguan dalam memilih huruf, misalnya apakah ini huruf b atau h. (Terutama dalam fonetik bu atau hu). Pilihan dan keraguan ini selalu muncul dalam tingkat kesadarannya dan menyita waktu banyak, yang jika anak-anak ini harus mengikuti pelajaran sistem klasik, maka ia tidak akan bisa mengikutinya

Anak-anak ini mengalami kesulitan mensintesa sejumlah huruf yang terlepas-lepas. Baginya akan menyita enerji untuk membentuk kata dalam sebuah bunyian yang berarti, karena itu wujud kata-kata tidak mudah untuk ditampilkan. Itulah sebabnya selalu saja terjadi kelambatan dalam pelajaran membaca. Pada tingkat yang lebih tinggi, anak-anak ini akan tetap saja tersandung dalam pelajaran mengeja, sekalipun sudah duduk di sekolah lanjutan, ia akan tetap kesulitan untuk membaca teks dengan baik, apalagi untuk mengingat isinya.

(38)

Karena kesulitan mengaitkan antara bunyian dan huruf, karena itu perwujudan kata-kata juga tidak sempurna ditampilkan. Begitu juga penampilan melalui pengucapan kata-kata, yang menyebabkan wujud kata-kata itu juga tidak terlalu baik. Dapat dikatakan bahwa anak-anak kelompok ini tidak terlalu baik dalam melihat simbol-simbol dari kata-kata (membaca) dan mengabstraksinya dalam pikiran terhadap pengejaan kata-kata.

Maka dapat disimpulkan disini ada tiga hal terpenting dalam masalah ini yaitu:

1)pencanderaan visual, 2) pencanderaan auditif, dan 3) ekspresi motoris (bicara)

yang kesemuanya tidak melalui proses yang baik dan cepat.

Pada umumnya anak-anak normal dalam pelajaran membaca dan mengeja akan meliwatinya dengan tempo yang cepat dan langkah yang besar. Tetapi pada anak-anak ini temponya sangat lambat dan harus selalu didorong. Dan dia sendiri merasa dihukum oleh lambatnya kemampuan membaca terutama dengan masalah tempo membaca.

Anak-anak dengan masalah membaca dan mengeja disebut disleksia. Sering para ahli menangani masalah disleksia ini dengan pengamatan yang terus menerus untuk menegakkan diagnosa sebaik-baiknya, sementara itu para guru dan orang tua juga perlu melihat apakah ada berbagai komponen variabel lain yang mempengaruhi proses belajar. Karena disleksia dengan manifestasi gangguan membaca dan mengeja seringkali tidak berdiri sendiri, tetapi selalu bersama-sama dengan gangguan lainnya ataupun dengan masalah perilaku.

(39)

sendiri, sehingga diharapkan tidak akan memberi efek yang lebih negatif. Dengan begitu ada ruang untuk penanganan dengan cara lain.

Sampai kini masalah disleksia merupakan masalah yang tidak kelihatan atau kasat mata, yang dapat menyebabkan masalah lain.

Kekurang mampuan objektivasi dan kemampuan decoding dalam pelajaran membaca.

Agar seorang anak dapat belajar membaca dengan baik, pada waktu pelajaran dikte harus mampu secara cepat menarik pengertian dari sebuah kata dalam sebuah kalimat yang kemudian mengerti maksudnya, yaitu dari apa yang diucapkan guru dan apa yang harus ditulisnya. Guru harus menyuarakan kata-kata dan yang harus diubah oleh siswa dalam bentuk simbol bunyian dalam sebuah pola yang tetap. Kebanyakan anak, sebelum ia memulai belajar membaca ia memulai belajar dari melihat buku. Dia belajar dari buku bacaan dimana berisi selain contoh-contoh sederhana juga dilengkapi dengan kata-kata. Dengan begitu secara pelahan ia akan mengenal dunia buku. Bila seorang ibu rajin membacakan buku cerita pada anaknya, untuk kemudian anak ini bisa mengarungi kehidupan melalui cerita-cerita dalam buku, yang akan memberinya motivasi agar ia juga bisa cepat-cepat membaca cerita-cerita menarik yang dibacakan ibunya itu. Kemampuan ini disebut kemampuan objektivasi, yaitu kemampuan anak melihat objek-objek bacaan.

Kemampuan objektivasi adalah kemampuan dasar anak untuk memahami isi cerita dari sebuah bacaan.

Siswa yang tak berkemampuan untuk objektivasi, berarti perkembangan kognitifnya belum siap untuk melakukan proses terhadap berbagai simbol yang diterimanya. Begitu juga perkembangan intelektualnya belum siap pada tahapan membaca. Dan juga ia belum mempunyai kemampuan membentuk serta membedakan makna kata-kata dan kalimat. Anak anak ini tidak bisa membedakan pertanyaan seperti ini: Mana kata-kata yang besar: raksasa

atau orang kerdil; pohon atau batang korek api?

Pada anak-anak ini akan kesulitan jika diharuskan melanjutkan pelajaran membaca. Karena ia kurang mampu untuk melihat berbagai kode atau simbol dalam sebuah alfabet. Dia juga tidak mampu untuk melepas huruf huruf dalam sebuah kata, dan kemudian mengkombinasikan membentuk kata-kata baru. Coding dan decoding juga merupakan prasyarat proses dari ucapan-relasi simbol, hubungan antara simbol huruf dan ucapan. Maksud dari proses coding dan decoding adalah hubungan balik - dimana ia harus mendengarkan yang kemudian dilanjutkan dengan ia harus secara kritis mengikuti bunyian yang

(40)

Gangguan yang parah dalam makna bahasa

Berbagai prekondisi terjadinya gangguan pada masalah membaca dan mengeja, disebut juga masalah gangguan perkembangan bahasa. Seorang anak yang pada waktu kecilnya telah mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa, kelaknya ia juga bisa jadi akan mengalami gangguan membaca dan mengeja. Mempunyai kemampuan dalam makna bahasa merupakan prasyarat agar seseorang dapat membaca teks dan mengerti maksudnya. Hal yang terpenting antara lain adalah agar seorang anak mampu mencerna apa yang tengah dibicarakan oleh guru. Hal ini menyangkut kemampuan pandang ruang dari realita tiga dimensional, yang kemudian mampu pula menggunakan gambar dua dimensi di atas kertas, juga mampu memakna berbagai huruf, kata, dan kalimat. Karena itu gangguan perkembangan bahasa merupakan hal yang sangat mempengaruhi hal ini.

Diantara anak-anak juga ada yang mengalami kesulitan dalam hal menghubungkan antara apa yang diamatinya dengan bahasa. Dia akan kesulitan untuk mengingat nama-nama warna, dia seringkali sulit mencari kata-kata yang benar untuk nama warna itu, atau juga mempunyai gangguan dalam proses informasi yang masuk ke telinga. Hal ini juga merupakan gangguan perkembangan bahasa, mempunyai kemampuan penyimpanan vokabulari yang sangat parah (daftar kata yang sangat minim), sehingga cara berpikir melalui pengembangan bahasa juga sangat kurang. Anak anak yang mempunyai kemampuan dalam pembentukan, berpikir melalui warna dan gambaran, disebut visual learner.

Bila gangguan bawaan ini diperburuk oleh situasi lingkungan, dimana sangat minim menggunakan bahasa atau terlalu banyak bahasa rumit yang digunakan, maka kemungkinan akan terjadinya ketertinggalan perkembangan bahasa akan semakin hebat, yang kemudian akan mengarah pada gangguan perkembangan membaca dan mengeja di sekolah. Karena itu pada anak-anak yang mengalami gangguan membaca dan menulis, perlu diperhatikan juga masalah perkembangan bicara dan bahasanya yang harus diperiksa oleh seorang ahli wicara.

Gangguan perkembangan bahasa, seperti misalnya gangguan bahasa-berpikir, nampaknya akan terus melanjut pada pendidikan di tingkat sekolah lanjutan. Anak anak ini akan selalu kesulitan dalam menangkap makna dari sesi yang menggunakan bicara.

Terlalu minim dalam hal kesadaran pencanderaan auditif bunyian (fonem)

(41)

menuliskannya kembali. Urutan masuknya ke telinga mengikuti temponya pada saat mendengar akan berkaitan pula dengan urutannya pada waktu ia menuliskannya di atas kertas (kemampuan dimensi). Ia juga harus bisa membedakan arti dari apa yang diucapkan dan apa yang dituliskan seperti kata-kata: "kepala" dan "kelapa". Seringkali hal ini terjadi pada anak-anak yang semasa dininya tak mampu membedakan berbagai bunyian secara detil.

Gangguan pada pelajaran lanjut (selalu tetap mengeja dalam pelajaran membaca)

Ada beberapa anak yang selalu mengeja jika harus membaca, karena ia terlalu persis. Diantaranya ada yang kesulitan dalam melakukan sintesa. Pada fase terakhir ia tidak bisa secara otomatis meletakkan dimana seharusnya tempat kata tersebut. Pada beberapa kasus dapat ditemukan dimana anak itu tidak bisa dengan cepat menghubungkan antara ucapan yang didengarnya. Bila masalah ini tidak cepat-cepat ditanggulangi, maka anak ini sepanjang hidupnya hanya akan mengeja terus.

Sebab-sebab lain bisa juga bahwa anak itu bisa mendengarkan ucapan-ucapan terpisah, tetapi ia tak mampu menghubungkannya menjadi suatu makna, karena itu pengenalan ucapan yang berhubungan dengan makna tidak bisa tercapai. Misalnya pada kata “kelapa” siswa akan membaca: k-e-l-a-p-a, kemudian... .."...ke…- la….-pa"..."O, kelapa!" dengan penekanan pada suku kata ketiga dan sekaligus pengertian dari kata yang dibacanya itu. Namun pada kata-kata yang panjang, maka ia akan kehilangan kemampuan sintesanya, sehingga masalahnya akan terus menerus secara konstan terjadi. Sebaiknya para guru dan orang tua bila menghadapi siswa seperti ini hendaknya mengatakan: Katakanlah pada dirimu sendiri dengan cara yang cepat dan keras!

Membaca kata perkata tanpa melihat secara menyeluruh

Pada anak-anak yang mempunyai kesulitan pengenalan kata-kata dan anak-anak yang yang mempunyai keinginan berbuat baik, justru ia akan mengalami fiksasi pada kata-kata itu. Dan pada keinginan yang amat sangat justru akan terjadilah kondisi rasa takut berbuat salah. Anak ini justru harus belajar sedikit lebih cepat dengan mata tertuju pada kalimat-kalimat, serta membaca dalam keadaan tenang. Mereka haruslah belajar membaca bila mereka sudah mengenal huruf, secara langsung pada saat bicara mata juga sudah menuju kata berikutnya. Mereka harus berlatih pada kata itu, kemudian kata-kata yang lebih banyak, kemudian dilanjutkan dengan sebagian kalimat haruslah bisa ditangkap dengan mata. Bila hal ini bisa ia capai, maka kesalahan yang terjadi tidak akan terlalu

(42)

Anak-anak yang sangat lama menunjuk-nunjuk bacaan, dapatlah distimulasi (asalkan sensomotorik sudah terkontrol) dengan agak lebih cepat dengan telunjuk menunjuk-nunjuk kata-kata yang tengah dibaca, yang dimaksudkan untuk mendorong dirinya agar tetap terus melihat lebih jauh.

Meraba-raba bacaan

Anak yang membaca dengan cara meraba-raba merupakan anak yang mengalami kemampuan analisa-sintesa yang lambat berkembang, yang sudah mengenal bacaan tetapi kemampuan teknisnya belum mencukupi. Masih pula dibagi dalam dua kategori :

1) Anak yang meraba-raba bacaan karena ia tidak mau kelihatan bahwa ia sangat lambat membaca. Hal ini berperanan terutama pada saat pelajaran membaca dengan suara yang keras di depan kelas, dan hal ini merupakan perilaku yang mengharapkan penghargaan sosial.

2) Pada grup ini merupakan grup yang seringkali salah membaca karena ia sangat cepat mengerti apa yang dimaksudkan dari sebuah kata,- misalnya tentang synonim dan seringkali ia memasukkan begitu saja kata-kata lain yang pengertiannya sama dengan apa yang tengah dibacanya itu. Misalnya ia seharusnya membaca "mobil angkutan pasir" pada kata "mobil truk". Membaca "kado" untuk kata "hadiah".

Anak anak ini tidak menggunakan waktu dengan baik untuk membaca secara baik, ingin cepat-cepat, terlalu impulsif, atau ingin kelihatan lebih baik daripada anak lain. Meraba-raba bacaan ini sering terjadi pada anak-anak yang mengalami disleksia.

Tidak ada atau minim intonasi

Gambar

gambar sebuah rumah – maka ia tidak mengganti kata “pondok” dengan kata “rumah”)

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil simulasi dengan skenario pengembangan tersebut dapat dilihat bahwa peningkatan satu tingkat pada laju restorasi baik oleh BTNGC dan oleh fihak lain,

dalam Braimah (2008) berpendapat bahwa concurrent delay adalah kondisi dalam dua atau lebih keterlambatan proyek yang terjadi pada waktu bersamaan progress

Pada pelaksanaan siklus I nilai-nilai yang diperoleh peserta didik kelas XI TPM B SMK Negeri 2 Surakarta pada pembelajaran mata diklat CNC Dasar TU-3A

sudah berkurang terasa nyeri sedikit, rasa kebas pada lidah berkurang Pemeriksaan intra oral tampak plak putih berkurang pada dorsal lidah, lateral lidah, palatum durum dan

Berdasarkan pada analisa pasar dapat disimpulkan bahwa proyek ini layak untuk dijalankan, mengingat belum adanya pesaing langsung dalam bisnis ini walaupun pesaing

– Zat atau obat yg berasal dari tanaman a bukan tanaman, sintetis a semi sintetis yg dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi

Lansia direkomendasikan melakukan aktivitas fisik atau olaragah selama 30 menit pada intensitas sedang setiap hari dalam seminggu.. Olaraha yang bersifat aerobic adalahoragah

Melakukan proses tarik tunai, pindah buku dana Bantuan Siswa Miskin/Program Indonesia Pintar (PIP) di Bank Muamalat2. Demikian surat kuasa diberikan tanpa hak subtitusi untuk