BAB II LANDASAN TEORI DAN KONSEP. sudah pernah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, salah satunya adalah

12 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 BAB II

LANDASAN TEORI DAN KONSEP

2.1 Tinjauan Hasil Penelitian Sebelumnya

Penelitian mengenai upaya pelestarian dalam menunjang pariwisata budaya sudah pernah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, salah satunya adalah penelitian untuk Laporan Akhir D4 Pariwisata Udayana yang dilakukan oleh Susrami Dewi (2006) dengan judul Upaya Pelestarian Permainan Tradisional Dalam Menunjang Pariwisata Budaya Pada Sanggar Kukuruyuk Denpasar. Penelitian ini membahas tentang permainan tradisional yang dapat dijadikan sebagai atraksi wisata dan upaya yang dilakukan untuk melestarikan permainan tradisional yang dilakukan oleh sanggar Kukuruyuk Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan memperoleh data melalui wawancara mendalam dan penyebaran angket. Penelitian ini dijelaskan bahwa permainan tradisional juga dapat dijadikan sebagai atraksi wisata karena memiliki unsur-unsur dan syarat-syarat yang harus ada dalam suatu konsep atraksi wisata yaitu dengan adanya persiapan, dapat dinikmati, berupa kesenian rakyat tradisional dan didasarkan pada kreasi seni. Berdasarkan syarat-syarat atraksi wisata tersebut maka permainan tradisional dapat dijadikan sebagai atraksi wisata, dan upaya yang dilakukan oleh sanggar ini dalam pelestarian permainan tradisional ialah Upaya pelesatarian intern (kegiatan yang dilakukan didalam sanggar) meliputi pelatihan dan penciptaan permainan tradisional kreasi baru serta upaya ekstern (kegiatan diluar sanggar) yaitu dilakukan melalui pementasan dan

(2)

2 penerbitan buku. Pementasan dilakukan di berbagai tempat seperti hotel, taman budaya atau event lain.

Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah terdapat pada fokus yang sama yaitu sama-sama membahas mengenai upaya pelestarian dalam menunjang pariwisata budaya, yang menjadi perbedaan pada penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat pada lokasinya yang berbeda yakni penelitian sebelumnya berlokasi di Sanggar Kukuruyuk Denpasar sedangkan penelitian sekarang berlokasi di Desa Lingga Kabupaten Karo Sumatera Utara.

Penelitian mengenai Rumah Adat Karo atau Rumah Siwaluh Jabu sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya salah satunya adalah penelitian untuk Laporan Akhir D3 Pariwisata Universitas Sumatera Utara yang dilakukan oleh Yesti Gibierta Ginting (2011) dengan judul Potensi Rumah Adat Tradisional Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya di Desa Dokan Kabupaten Karo. Pada penelitian ini membahas mengenai Rumah Adat Karo yang dapat dijadikan sebagai potensi pariwisata di Desa Dokan serta membahas mengenai bagaimana cara-cara dalam mendirikan Rumah Adat Karo, bagaimana pembagian Jabu dalam tata adat Suku Karo, arti dan fungsi-fungsi ornamen Karo yang ada di rumah adat tersebut. Persamaan penelitian sebelumnya dengan peneitian sekarang ialah membahas mengenai Rumah Siwaluh Jabu atau Rumah Adat Karo, sedangkan yang menjadi perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah terdapat pada lokus atau lokasi penelitian, dimana peneitian sebelumnya dilakukan di Desa Dokan, penelitian sekarang dilakukan di Desa Lingga Kabupaten Karo.

(3)

3 Penelitian di Desa Lingga juga pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, salah satunya adalah penelitian untuk Laporan Akhir D3 Pariwisata Universitas Sumatera Utara yang dilakukan oleh Yuni Artika Dewi Ginting (2010) dengan judul Potensi Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu Desa Lingga dalam Meningkatkan Kepariwisataan Kabupaten Karo. Penelitian ini membahas mengenai potensi Rumah Adat Karo yang dapat menjadi daya tarik wisata dan dapat menarik wisatawan untuk dapat ke Kabupaten Karo Umumnya dan Desa Lingga Khususnya. Pada penelitian ini menyebutkan potensi-potensi yang ada di Desa Lingga berupa peninggalan sejarah. Penelitian ini juga menyinggung sedikit mengenai upaya yang sudah dilakukan pemerintah dalam melestarikan Rumah Adat Karo yaitu salah satunya dengan menyediakan lahan terpisah untuk masyarakat Desa Lingga yang ingin membangun rumah modern. Hal ini dilakukan pemerintah agar keasrian Rumah Adat Karo tidak berkurang dengan berdirinya rumah-rumah modern di sekitar Rumah Adat Karo tersebut.

Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah terdapat pada lokusnya yaitu lokasi penelitian yang sama yakni di Desa Lingga, Kabupaten Karo. Menjadi perbedaan pada penelitian sebelumnya dengan penelitian sekarang adalah terdapat pada fokus, yakni pada penelitian sebelumnya membahas potensi rumah adat sedangkan penelitian yang akan dilakukan membahas mengenai upaya-upaya yang dilakukan pemerintah atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo dan masyarakat setempat dalam upaya konservasi Rumah Adat Karo atau Rumah Siwaluh Jabu tersebut.

(4)

4 2.2 Pariwisata

Para ahli pariwisata pada dasarnya telah banyak memberikan pengertian tentang pariwisata beserta batasan-batasannya masing-masing. Berikut adalah pengertian pariwisata menurut Undang-undang Republik Indonesia No.10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan :

Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompol orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wista yang dikunjungi dalam waktu sementara.

Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.

Pariwisata merupakan suatu perjalan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kenikmatan dan memenuhi hasrat ingin mengetahui sesuatu dan dapat juga karena kepentingan yang berhubungan dengan kegiatan olahraga untuk kesehatan, konvensi, keagamaan dan keperluan usaha lainnya (Suwantoro, 1997).

Menurut Richard Sihite dalam (Marpaung, 2002) menjelaskan definisi pariwisata adalah sebagai berikut: Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud

(5)

5 bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan pertamasyaan dan rekreasi atau memenuhi keinginan yang beranekaragam.

2.3 Pariwisata Budaya

Pariwisata budaya dalam artian yang luas adalah menyangkut semua perpindahan orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan sesuatu yang berbeda, mempertinggi tingkat budaya seseorang, memberi pengetahuan, dan pengalaman.

Pariwisata budaya dapat dilihat peluang bagi wisatawan untuk mengalami, memahami, dan menghargai karakter destinasi, kekayaan dan eragaman budayanya. Sumber daya budaya yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata adalah :

1. Bangunan bersejarah, situs, monumen, museum, galeri seni, situs budaya kuno dan sebagainya

2. Seni dan patung kontemporer, arsitektur, tekstil, pusat kerajinan tangan dan seni, pusat desain, studio artis, ndustri film dan penerbit, dan sebagainya. 3. Seni pertunjukan, drama, sendratari, lagu daerah, teater jalanan, eksebisi foto,

festival, dan even khusus lainnya.

4. Peninggalan keagamaan seperti pura, candi, masjid, situs, dan sejenisnya. 5. Kegiatan dan cara hidup masyarakat lokal, system pendidikan, sanggar,

(6)

6 6. Perjalanan (Trekking) ke tempat bersejarah menggunakan alat transportasi

unik (berkuda, dokar, cikar, dan sebagainya)

7. Mencoba kuliner (masakan) setempat. Melihat persiapan, cara membuat, menyajikan, dan menyantap merupakan atraksi budaya yang menarik bagi wisatawan. (Pitana, 2009)

Berdasarkan sumber daya budaya yang dipaparkan diatas Desa Lingga memiliki beberapa sumber daya budaya yakni: memiliki bangunan bersejarah atau situs budaya kuno yaitu Rumah Adat Karo dan memiliki musem peninggalan budaya kuno, kegiatan dara cara hidup masyarakat Desa Lingga yang tergolong masih kental terhadap budaya hal ini dilihat dari cara berbica, berpakaian, pesta pernikahan, kematian dll. Sebagian masyarakat Lingga juga masih menggunakan transportasi pada jaman dahulu yaitu gereta lembu atau gerobak yang ditarik seekor kerbau atau lembu. Serta memiliki kuliner yang masih tradisional serta cara memasak yang masih tradisional.

Sedikit berbeda dengan pendapat I Gde Pitana dan I Ketut Surya Diarta, Ritchie dan Zins (Chapter 19, Social and Culture Impacts: dalam buku Tourism in Contemporeray Society, An Introductory Text, hlm 221) yang dikutip oleh (Yoeti, 2006 : 134-235) ada 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan wisatawan:

1. Bahasa (Language)

(7)

7 3. Kerajinan tangan (Handicraft)

4. Makanan dan kebiasaan makan (Food and eating habits) 5. Musik dan kesenian (Art and Music)

6. Sejarah suatu tempat (History of the region : oral, written, and landscape) 7. Cara kerja dan teknologi (Work and Technology)

8. Agama (Religion) yang dinyatakan dalam bentuk cerita dan sesuatu yang dapat disaksikan

9. Bentuk dan karakteristik arsitektur di masing-masing DTW (architectural characteristics in the area)

10. Tata cara berpakaian penduduk setempat (Dress and Clothes) 11. Sistem pendidikan (Educational System)

12. Aktivitas pada waktu senggang (Leisure activities)

2.4 Benda Cagar Budaya

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No 11 tahun 2011 tentang cagar budaya, Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia

2.5 Kebudayaan

Menurut (Cateora, 2010) ahli antropolongi menyatakan bawah kebudayaan terbagi dua yakni:

(8)

8 1. Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

2. Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

2.6 Wisatawan

Menurut Leiper 1990 dalam (Pitana, 2009), yang disebut dengan wisatawan adalah:

1. Melakukan perjalanan jauh dari tempat tinggal normalnya sehari-hari.

2. Perjalanan tersebut dilakukan paling sedikit semalam tetapi tidak secara permanen.

3. Dilakukan pada saat tidak bekerja atau mengerjakan tugas rutin lain tetapi dalam rangka mencari pengalaman mengesankan dari interaksinya dengan beberapa karakteristik tempat yang dipilih untuk dikunjungi.

(9)

9 2.7 Upaya

Upaya merupakan tindakan yang dilakukan seseorang, untuk mencapai apa yang diinginkan atau merupakan sebuah strategi. Upaya dijelaskan sebagai suatu usaha (syarat) suatu cara, juga dapat disebut sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terencana dan terarah untuk menjaga sesuatu hal agar tidak meluas (Soeharto 2002 ; Soekamto 1984).

2.8 Konservasi

Warisan masa lalu (heritage) adalah segala sesuatu yang bernilai yang diwariskan secara turun-temurun oleh suatu generasi ke generasi berikutnya. Dalam kaitannya dengan pariwisata warisan masa lalu bukan saja terdiri atas sejarah alam, bangunan, artefak, tradisi budaya yang diwariskan secara turun temurun. Tetapi juga segala sesuatu yang dapat dipromosikan sebagai bentuk produk wisata (Geriya, 1983).

Konservasi warisan budaya merupakan menjadikan warisan tersebut menjadi objek dan daya tarik wisata, dengan kata lain melakukan konservasi melalui pendekatan pengembangan pariwisata dan menjadikan warisan tersebut sebagai daya tarik wisata utamanya dan sekaligus sebagai sumber dana bagi dirinya sendiri, masyarakat sekitar dan pemerintah daerah.

Konsep konservasi pariwisata mempunyai lingkup yang luas dan merupakan proses panjang, Konservasi material dan non material, kemudian membuat sarana dan prasarana sampai ke masalah aksesibilitas ke lokasi dan mengarah pada pemanfaatan

(10)

10 secara ekonomis untuk menunjang nilai-nilai historisnya maupun nilai-nilai emosionalnya yang terkandung dalam warisan tersebut. (Isdaryono, 2013)

2.9 Rumah Adat

Rumah adalah aktualisasi diri yang diejawantahkan dalam bentuk kreativitas dan pemberian makna tinggi bagi kehidupan penghuninya.

Rumah adat adalah bangunan yang memiliki cirri khas khusus, digunakan oleh suatu suku bangsa tertentu. Rumah adat merupakan salah satu representasi kebudayaan paling tinggi dalam suatu suku atau masyarakat. Rumah adat pada umumnya dihiasi ukiran-ukiran indah pada jaman dahulu. (Budihardjo, 1994).

2.10 Daya Tarik Wisata

Daya tarik wisata merupakan kata lain dari objek wisata namun sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia tahun 2009 kata objek wisata sudah tidak relevan lagi untuk menyebutkan daerah tujuan wisata maka digunakan kata daya tarik wisata. Berikut merupakan beberapa definisi mengenai daya tarik wisata :

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia N0. 10 tahun 2009, daya tarik wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan laut, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran kunjungan wisatawan.

Umumnya daya tarik suatu objek wisata berdasar pada:

(11)

11 2. Adanya aksesbilitas yang tinggi untuk mengunjunginya

3. Adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka.

4. Adanya sarana/prasarana penunjang untuk melayani para wisatawan yang hadir.

5. Objek wisata alam mempunyai daya tarik tinggi karena keindahana alam pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan, dan sebagainya.

6. Objek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena memiliki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat, nilai leluhur yang terkandung dalam suatu objek buah karya manusia pada masa lampau. (Suwantoro 1997)

2.11 Masyarakat

Masyarakat merupakan sekelompok orang yang berada di suatu wilayah geografi yang sama dan memanfaatkan sumber daya alam lokal sekitarnya. Nengah (2006) dalam (Pulumun Ginting, 2015)

Masyarakat tidak lagi ditempatkan sebagai objek yang hanya menerima apa yang diputuskan dari atas (pemerintah), tetapi masyarakat pada saat ini juga harus dilibatkan sebagai subjek dalam kerangka mengembangkan pariwisata, Manafe 2003 dalam (Pulumun Ginting, 2015).

Masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah setiap individu yang ada di Desa Lingga yang terlibat dalam pengelolaan dan pengembangan pariwisata dan juga ikut berkontribusi dalam penyediaan kebutuhan wisatawan.

(12)

12 2.12 Pendapat

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia pendapat merupakan kepercayaan dan sikap orang yang umumnya berkisar pada masalah yang berhubungan dengan fakta dan keinginan, pendapat sebagian besar masyarakat, opini publik. (kbbi.web.id/dapat)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :