• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - DEWI NGESTI AGUSTIN BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - DEWI NGESTI AGUSTIN BAB I"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

A.Latar Belakang

Mendidik dan mengasuh anak merupakan tugas yang sangat mulia, namun teramat rumit dan sulit. Mendidik anak sangat membutuhkan kesabaran yang

luar biasa, orang tua harus memiliki kepekaan terhadap perkembangan anak, yang sedang tumbuh kembang sesuai dengan fase perkembangannya.

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, di pundak merekalah kelak kita menyerahkan peradaban yang telah kita bangun dan akan kita tinggalkan. Kesadaran akan arti penting generasi penerus bangsa yang berkualitas

mengharuskan kita serius membekali anak dengan pendidikan yang baik agar dirinya menjadi manusia seutuhnya dan menjadi generasi yang lebih baik dari

pendahulunya.

John Comenius, dalam Partini (2010:3) mengungkapkan bahwa semua anak hendaklah mendapat kesempatan belajar di sekolah. Penyelenggaraan

pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai usia delapan tahun yang dilakukan

melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rokhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Usia dini biasa disebut golden age karena

(2)

Guru merupakan sekolah kedua bagi anak setelah orang tua, kita

menyadari betul bahwa keluarga dan gurulah yang mulai menanamkan nilai-nilai, sikap-sikap, motivasi dan komitmen. Dalam kehidupan dilingkungan

sekolah guru merupakan suritauladan yang baik bagi para anak didiknya, guru perlu memberi contoh dan menanamkan adanya standar dan nilai yang tinggi yang harus diraih anak. Melalui PAUD fondasi kualitas manusia dapat

dibentuk, wujud fondasi tersebut adalah moral, kecerdasan, mental, keagamaan, etika, dan estetika. Disamping itu program pengembangan harus

dapat menanamkan dan menumbuhkan pembinaan perilaku dan sikap yang dilakukan melalui pembiasaan yang baik. Hal ini menjadi dasar dalam pembentukan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung

masyarakat, pemberian bantuan kepada anak agar tumbuh menjadi pribadi yang matang dan mandiri melatih anak untuk hidup sehat dan bersih, serta

penanaman disiplin hidup sehari-hari ( Iskandar, dalam Suryana 2009:27) Menanamkan kebiasaan pada anak usia dini penting sekali. Oleh karena itu pembiasaan yang bersifat positif wajib diberikan oleh pendidik.Sebagai

konsekuensinya adalah pendidik harus dapat dijadikan contoh. Hal ini sesuai dengan karakteristik anak usia dini, yaitu antara lain senang meniru, mengikuti

jejak orang tua, mendengarkan cerita, selalu ingin tahu, ingin mencoba, banyak gerak, jujur, suka bermain, dan spontan. Menurut Suryana (2009:36) kegiatan yang dilaksanakan hendaknya mencakup segala aspek yang mengembangkan

(3)

dapat dilakukan dengan cara menanamkan nilai, norma, budi pekerti, moral,

berbagai macam kecerdasan, dan keagamaan.

Pembiasaan yang mencakup perkembangan moral di PAUD Ngesti

Rahayu Desa Pasiraman Lor Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas, menurut peneliiti masih cukup rendah, hal ini ditunjukkan dengan sikap dan perilaku mereka sehari-hari. Kegiatan pembelajaran yang ada sekarang ini

hanya mementingkan kemampuan akademis anak saja tanpa memperhatikan perkembangan sikap dan perilaku anak, sehingga anak menjadi tidak terkontrol

padahal perkembangan moral sebaiknya diajarkan sejak usia dini sehingga dapat berkembang dengan baik, maka dari itu perlu diadakan perbaikan pembelajaran dalam meningkatkan perkembangan moral anak.

Berdasarkan hasil observasi peneliti dengan guru PAUD Ngesti Rahayu yang dilaksanakan pada bulan Maret 2013, sejauh ini perkembangan moral

anak masih rendah, hal ini ditandai dengan hasil observasi yang telah dilakukan yaitu dari 20 peserta didik, yang masing-masing terdiri dari 8 siwa laki-laki dan 12 siwa perempuan. Terdapat 5 peserta didik atau 25% yang

perkembangan moralnya belum berkembang (BB), 6 peserta didik atau 30% mulai berkembang (MB), 3 peserta didik atau 15% berkembang sesuai harapan

(BSH), dan 6 peserta didik atau 30% berkembang sangat baik (BSB).

Penilaian belum berkembang (BB) diberikan kepada peserta didik yang belum mampu mengembangkan perkembangan moral sesuai indikator yang

(4)

dengan bimbingan yang rutin, sedangkan penilaian berkembang sesuai harapan

(BSH) yang diberikan kepada peserta didik yang sudah berkembang kemampuannya dalam sikap dan tingkah laku, mereka sudah paham tentang

apa yang harus mereka lakukan, hanya saja terkadang masih perlu diingatkan, dan untuk penilaian berkembang sangat baik (BSB) diberikan kepada peserta didik yang sudah sadar benar tentang ajaran perkembangan moral yang telah

tercantum dalam indikator, tanpa harus dibimbing atau diingatkan oleh guru. Dalam penelitian ini anak yang dianggap belum memiliki moral yang baik,

jika anak belum terbiasa mengucapkan salam dan menjwab salam, anak belum terbiasa berdoa baik sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, dan anak belum terbiasa menolong teman yang membutuhkan, kemudian anak belum terbiasa

mengucapkan terimakasih jika telah mendapatkan sesuatu.

Untuk penilaian yang diberikan kepada anak dengan keteranagan Belum

Berkembang (BB) jika anak tersebut belum mampu melakukan pembiasaan moral yang telah tercantum dalam indikator yang telah peneliti siapkan, seperti anak belum mampu mengucap dan menjawab salam, anak belum mampu atau

belum terbiasa berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, anak belum terbiasa menolong teman, dan anak belum terbiasa mengucapkan terimakasih

bila telah mendapat bantuan atau sesuatu dari orang lain. Sedangkan untuk penialaian Mulai Berkembang (MB) diberikan kepada anak yang memang perkembangan moralnya sedang dalam tahap pengenalan mana sikap dan

(5)

mengingatkan anak untuk selalu menanamkan pembiasaan tersebut. Dalam

membiasakan ucapan salam anak masih dibantu oleh guru, itu terjadi juga pada pembiasaan tolong menolong dan terbiasa mengucapkan terima kasih terhadap

orang lain. Tujuan guru selalu memberi bimbingan agar anak juga terbiasa dengan hal baru tersebut. Penilaian Berkembang Sesui Harapan (BSH) diberikan kepada anak yang memang sudah mampu membiasakan dirinya

dalam bersikap dan bertingkah laku baik didalam lingkungan sekolah. Anak dikatakan Berkembang Sesuai Harapan jika anak sudah mampu membiasakan

diri mengucap dan menjawab salam dengan gurunya, mereka sebenarnya paham benar tentang nilai tersebut hanya saja terkadang mood mereka itu baik atau tidak, jadi mereka sudah mampu membiasakan diri, meskipun belum

setiap hari. Dan yang terakhir penilaian Berkembang Sangat Baik (BSB) diberikan jika anak sudah mampu benar dengan kesadaran diri dari

masing-masing. Anak sudah terbiasa membiasakan diri untuk memberi salam kepada guru dan menjawab salam dari guru. Masuk pada indikator selanjutnya anak sudah membiasakan diri berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan

tanpa diperintah terlebih dahulu oleh guru. Selanjutnya, anak mampu menempatkan diri di tengan teman-teman dan terbiasa menolong teman yang

sedang kesulitan meski dalam bentuk yang sederhana, dan yang terakhir anak dikatakan Berkembang Sangat Baik jika anak tersebut telah mampu dan sudah bisa membiasakan diri mengucapkan terimakasih kepada orang lain tanpa

(6)

BSB itu adalah anak yang memang sudah nampak kesadaran berperilakunya

dalam diri mereka.

Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan dapat disimpulkna

rendahnya perkembangan moral anak disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut, guru kurang memperhatikan perkembangan moral anak sehingga anak menjadi bersikap dan bertingkah laku sesuka hati mereka tanpa melihat aturan

yang ada, dari permasalahan itu peneliti mengambil tindakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran untuk meningkatkan perkembangan moral

agar anak dapar bersikap dan bertingkah laku sesuai harapan.

Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa penanaman sikap dan perilaku yang baik melalui pembiasaan diharapkan dapat meningkatkan moral

anak, sehingga pembiasaan positif melalui ucapan salam, senyum, dan sapa perlu diterapkan.

Penelitian tindakan kelas perlu dilakukan sebagai upaya perbaikan pelaksanaan pembelajaran. Dalam hal ini peneliti mempergunakan metode pembiasaan ucapan salam, senyum, dan sapa untuk meningkatkan

(7)

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang menjadi fokus perbaikan dalam penelitian ini adalah :

Apakah melalui metode pembiasaan ucapan salam, senyum, dan sapa pada anak dapat meningkatkan perkembangan moral peserta didik PAUD Ngesti Rahayu Desa Pasiraman Lor Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas.

C.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan perkembangan moral

anak melalui metode pembiasaan ucapan salam, senyum, dan sapa pada peserta didik PAUD Ngesti Rahayu Desa Pasiraman Lor Kecamatan Pekkuncen Kabupaten Banyumas.

D.Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi beberapa pihak

yaitu :

1. Bagi Guru

Dapat membantu guru dalam membangun jiwa anak yang berkarakter baik,

dan mendorong guru untuk lebih peka terhadap perkembangan moral anak, karena perkembangan ini berperan penting dalam membentuk pondasi anak

yang bermoral.

2. Bagi Siswa

Dapat bermanfaat untuk meningkatkan perkembangan moral, agar anak

(8)

diharapkan dapat meningkatkan kesadaran anak dalam bersosialisasi

dengan teman, mau berbagi dan memberi, bersikap ramah dan menyenangkan.

3. Bagi Sekolah

Meningkatkan mutu pendidikan di PAUD Ngesti Rahayu sehingga dapat dijadikan pilihan orang tua untuk menyekolahkan anaknya kelak, berharap

anak akan tumbuh berkembang sesuai harapan yang diinginkan.

4. Bagi Orang Tua

Memberikan motivasi bagi orang tua untuk ikut memberikan tauladan yang baik kepada anaknya dalam bersikap dan bertingkah laku yang baik sesuai aturan yang berlaku ditengah masyarakat, dan sebagai acuan bahwa

anak-anak dapat bertingkah laku seperti halnya orang dewasa, sehingga masyarakatpun menjadi ikut berpartisipasi dalam membimbing dan

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi tersebut menunjukkan tanaman eceng gondok dapat menurunkan NH 4 + air limbah industri gula tebu dengan cara menyerap bahan organik yang terkandung dalam

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut

Oleh karena itu, peristiwa turunnya Al Qur’an selalu terkait dengan kehidupan para sahabat baik peristiwa yang bersifat khusus atau untuk pertanyaan yang muncul.Pengetahuan

Penelitian Muh Muslim (2002) berjudul “Penggunaan Diksi dalam Rubrik Konsultasi Masalah Seks di Majalah Aneka Yess! Asuhan dr. Keunikan penilitian ini disimpulkan bahwa

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

Posted at the Zurich Open Repository and Archive, University of Zurich. Horunā, anbēru, soshite sonogo jinruigakuteki shiten ni okeru Suisu jin no Nihon zō. Nihon to Suisu no kōryū

[r]

o. melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan. menyiapkan bahan penyusunan rencana kegiatan dibidang tugasnya berdasarkan rencana dan kebutuhan untuk