BAB I PENDAHULUAN. mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan yang sangat pesat ini

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Perkembangan ekonomi dunia dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan yang sangat pesat ini disebabkan oleh semakin kuat dan meluasnya globalisasi di seluruh dunia. Bisnis yang kuat dan berpengalaman akan semakin mendapat keuntungan akan meluasnya pengaruh globalisasi. Akan tetapi di sisi lain, sebagai bisnis yang baru tumbuh ataupun bisnis yang berskala nasional akan sulit untuk bersaing dengan perusahaan asing, sehingga dampaknya adalah perusahaan yang berskala kecil akan mengalami krisis keuangan dalam perusahaan mereka.

Modal adalah sumber daya yang sangat penting bagi sebuah perusahaan untuk pendanaan bisnisnya. Ada tiga sumber modal pendanaan jangka panjang yang dapat dilakukan oleh perusahaan yaitu retained earning, penerbitan saham baru, dan hutang jangka panjang (Zhao dan Wijewardana, 2012). Untuk mendapatkan pendanaan modal itu semua, perusahaan harus membuktikan performanya agar menarik minat investor dalam berinvestasi. Sebagai investor tentunya tidak mengharapkan investasi pada perusahaan yang akan mengalami kebangkrutan akibat masalah keuangan (financial distress). Kebangkrutan secara umum dapat diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasional perusahaan untuk menghasilkan laba. Semua perusahaan tentu tidak lepas dari risiko mengalami kebangkrutan.

(2)

Pada satu sisi penggunaan financial leverage pada struktur modal perusahaan yang jauh lebih besar daripada ekuitasnya akan tidak menguntungkan karena akan meningkatkan risiko perusahaan, tetapi pada sisi yang lain, perusahaan dengan hutang yang kecil atau tidak memiliki hutang, akan membuat perusahaan sulit untuk berkembang karena modal sendiri yang terbatas. Menurut Brigham dan Houston (2011), financial leverage adalah tingkat sampai sejauh mana hutang digunakan dalam struktur modal suatu perusahaan. Financial leverage juga berkaitan erat dengan financial risk (risiko keuangan). Risiko keuangan adalah tambahan risiko yang dibebankan kepada pemegang saham biasa maupun risiko insolvabilitas yang mungkin ada yang disebabkan oleh penggunaan leverage keuangan. Ketika sebuah perusahaan meningkatkan proporsi pendanaan hutang dalam struktur modalnya, maka arus kas keluar juga akan meningkat yang akibatnya juga meningkatkan kemungkinan risiko insolvabilitas. Semakin besar

financial leverage yang diberikan oleh investor, maka semakin besar harapan tingkat pengembalian yang diinginkan investor. Tingkat pengembalian ini mempengaruhi biaya modal perusahaan. Sebenarnya pendanaan dengan cara hutang tidak selamanya buruk, yaitu seperti kasus Kellogg Co (Brigham dan Houston, 2011). Adapun data total hutang dan laba perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 sampai 2014, disajikan dalam Tabel 1.1 sebagai berikut:

(3)

Tabel 1.1

Total Hutang dan Laba Perusahaan Pertambangan Tahun 2012-2014 NO KODE EMITEN HUTANG LABA 2012 2013 2014 2012 2013 2014 1 ADRO 3.697.211 3.521.758 3.155.500 1.066.661 1.196.797 1.309.707 2 ARTI 576.480 649.516 806.258 51.857 60.432 30. 077 3 ESSA 29.190 28.317 39.550 5.211 12.573 10.318 4 GEMS 538 1.053 841 132 228 134 5 MITI 53.731 45.430 88.899 -19.61 -0.4 -65.42 Sumber: data olahan Peneliti, 2016.

Berdasarkan Tabel 1.1 menunjukkan bahwa perusahaan ADRO memiliki hutang pada tahun 2012 sampai tahun 2014 mengalami penurunan pada tahun 2012 sebesar 3.697.211, pada tahun 2013 sebesar 3.521.758, dan tahun 2014 sebesar 3.155.500, namun pada laba pada tahun 2012 sampai tahun 2014 mengalami kenaikan pada tahun 2012 sebesar 1.066.661, pada tahun 2013 sebesar 1.196.797, dan pada tahun 2014 sebesar 1.309.707. Sama halnya dengan perusahaan ARTI, ESSA, GEMS, dan MITI yang memiliki peningkatan hutang setiap tahun dari tahun 2012 hingga 2014 namun jumlah laba yang diperoleh mengalami penurunan setiap tahun muali dari tahun 2012 hingga tahun 2014. Hal ini sangat berpengaruh terhadap financial distress dan sangat berbanding terbalik dengan tujuan mendasar perusahaan menggunakan hutang adalah untuk menghasilkan laba.Laba yang dihasilkan perusahaan ini diharapkan oleh investor untuk mengalami pertumbuhan. Menurut Brigham dan Houston (2011), financial leverage adalah tingkat sampai sejauh mana hutang digunakan dalam struktur

(4)

risk (risiko keuangan). Berdasarkan pernyataan diatas yang menyatakan bahwa semakin tinggi hutang yang dimiliki perusahaan akan meningkatkan laba suatu perusahaan dengan demikian maka perusahaan tersebut berkemungkinan akan tidak mengalami financial distress.

Selain itu ini kondisi di Indonesia saat ini yang rawan dengan krisis keuangan. Hal tersebut disebabkan karena pada akhir tahun 2013 dan awal tahun 2014 nilai tukar rupiah semakin melemah dan mencapai Rp. 13.400 per dolar AS. Dengan melemahnya nilai tukar rupiah, maka jika suatu perusahaan mengimpor barang dari luar negeri, harga barang tersebut akan menjadi lebih mahal, sedangkan jika suatu perusahaan mengekspor barang hasil produksinya ke luar negeri, maka harga barang yang diekspor tersebut akan menjadi lebih murah. Karena kondisi seperti itulah suatu perusahaan di Indonesia akan lebih rentan terhadap ancaman financial distress.

Selain fenomena diatas, Penelitian ini dilakukan untuk menguji kembali beberapa faktor dalam penelitian terdahulu yang mempengaruhi kondisi financial distress perusahan karena dalam penelitian terdahulu yang hasilnya diperoleh ada yang berbeda, seperti dalam penelitian telah dilakukan oleh Ahmad (2011) selama periode 2005-2010. Financialleverage yang diukur dengan menggunakan total debtto asset ratio (DAR) signifikan berpengaruh positif terhadap kemungkinan terjadinya financial distress di suatu perusahaan. Hasil yang sama ditunjukkan dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Platt dan Platt (2002) yang menunjukkan bahwa financialleverage (notes payable/total assets) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kondisi financial distress. Hal ini menunjukkan

(5)

bahwa semakin besar kegiatan perusahaan yang didanai oleh hutang, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan mengalami financial distress, ini karena semakin besar kewajiban perusahaan untuk membayar hutang tersebut. Di sisi lain, hasil yang berbeda ditunjukkan oleh Alifiah, et al (2012), dimana dalam penelitiannya menyatakan bahwa financialleverage yang diukur dengan menggunakan debt ratio justru mempunyai nilai koefisien negatif, dimana hal tersebut bertentangan dengan penelitian-penelitian lainnya yang menyebutkan bahwa rasio leverage mempunyai arah hubungan yang positif terhadap kemungkinan terjadinya financial distress di suatu perusahaan. Dalam penelitiannya tersebut menyatakan hal itu bisa terjadi karena perusahaan-perusahaan di Malaysia dalam pendanaannya terlalu bergantung pada hutang, sehingga jika semakin kecil hutang yang dimiliki perusahaan, maka malah semakin besar kemungkinannya perusahaan tersebut akan mengalami financial distress. Penelitian yang dilakukan oleh Eliu (2014) menyatakan bahwa financial leverage baik secara simultan maupun parsial memliki pengaruh yang signifikan terhadap financial distress, sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh ahmad (2011) yang menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa financial leverage yang menggunakan rasio DAR dan DER memiliki pengaruh signifikan terhadap financial distress berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Mas’ud dan Srengga(2015) menyatakan bahwa financial leverage tidak berpengaruh terhadap financial distress.Berdasarkan adanya perbedaan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu, maka dalam penelitian ini digunakan

(6)

variabel financialleverage untuk membuktikan bagaimana sebenarnya pengaruh

financialleverage terhadap prediksi financial distress di suatu perusahaan.

Variabel financial indicators yang digunakan untuk memprediksi financial distress adalah financialleverage. Rasio ini dianggap dapat menunjukkan kinerja keuangan dan efisiensi perusahaan secara umum untuk memprediksi terjadinya

financial distress. Dalam penggunaannya, financialleverage juga sering disebut dengan rasio solvabilitas, dimana di dalamnya termasuk solvabilitas jangka pendek dan solvabilitas jangka panjang (Hanifah, 2013). Financialleverage

mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur. Pentingnya prediksi financial distress perusahaan yang digunakan untuk mengetahui kondisi perusahaan saat ini dan yang akan datang, maka penulis tertarik mengambil judul “PengaruhFinancial Leverage terhadap Financial Distress pada perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 - 2014”.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan,maka perumusan masalah penelitian adalah :

Apakah debt to total asset ratio (DAR), debt to equity ratio (DER), long term debt to total asset ratio (LDAR) dan long term debt to equity ratio (LDER) berpengaruh secara simultan terhadap financial distress pada perusahaan Pertambangan di Bursa Efek Indonesia secara simultan dan parsial?

(7)

1.3.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan ini adalah :

Untuk mengetahui pengaruh debt to total asset ratio (DAR), debt to equity ratio

(DER), long term debt to total asset ratio (LDAR) dan long term debt to equity ratio (LDER) secara simultan terhadap financial distress pada perusahaan Pertambangan di Bursa Efek Indonesia secara simultan dan parsial.

1.4.Manfaat Penelitian

Manfaat di dalam penelitian ini adalah : 1. Bagi Perusahaan

Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi perusahaan dalam mengelola keuangannya dengan baik dan membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat pada situasi keuangan perusahaan dalam kondisi apapun.

2. Bagi Investor

Penelitian ini dapat memberikan masukan dalam memilih perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang baik sehingga investasi menjadi tepat dalam menghasilkan profit yang diharapkan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan referensi yang dapat memberikan perbandingan dalam melakukan penelitian lebih lanjut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :