PEMBINAAN KEDISIPLINAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA TUGAS AKHIR.

59 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEUANGAN

PEMBINAAN KEDISIPLINAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH

PROVINSI SUMATERA UTARA

TUGAS AKHIR

Diajukan oleh :

RARA AZA ADDINI SIREGAR 142101040

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Diploma III

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

NAMA : RARA AZA ADDINI SIREGAR

NIM : 142101040

PROGRAM STUDI : DIPLOMA III KEUANGAN

JUDUL : PEMBINAAN KEDISIPLINAN PEGAWAI

NEGERI SIPIL PADA BADAN

PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA. Tanggal : ...2017 DOSEN PEMBIMBING

Dra. Yulinda , M.Si

NIP : 19590926198601 2 001

Tanggal :...2017 KETUA PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEUANGAN

Drs. Raja Bongsu Hutagalung, SE, M.Si NIP : 19591229 198903 1 002

Tanggal : ...2017 DEKAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

Prof. Dr. Ramli, SE, MS NIP : 19580602 198803 1 001

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat, karunia dan kasih sayangnya yang melimpah, peneliti dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik. Terima kasih kepada Allah SWT yang tidak pernah meninggalkan peneliti dapat berbahagia pada saat ini.

Adapun judul Tugas Akhir ini adalah “Pembinaan Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil Pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Peneliti menyadari bahwa penyajian Tugas Akhir ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati peneliti mengharapkan segala kritik yang membangundan saran dari pembaca sehingga dapat berguna bagi peneliti untuk dijadikan sebagai bahan masukan di masa yang akan datang.

Dalam kesempatan yang baik ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Raja Bongsu Hutagalung, M.Si selaku Ketua Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Yasmin Chairunnisa Muchtar, S.P., M.B.A Selaku Sekretaris Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Dra. Yulinda, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang banyak memberikan masukan untuk peneliti dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

5. Bapak Darwin selaku mentor di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara dimana peneliti melakukan riset untuk penulisan Tugas Akhir ini.

6. Dari masa perkulihaan hingga selesainya tugas akhir ini, peneliti sungguh merasakan banyak bantuan moril dan materil baik secara langsung dan tidak langsung dari orangtua tercinta, Ayahanda Efdi Martua Siregar dan Ibunda Latifah Hanum.

7. Untuk abang peneliti, Tommy Elvani Siregar dan Andika Mandala Putra Siregar yang telah memberikan semangat yang begitu besar sehingga peneliti dapat menyelesaikan studi.

8. Untuk teman-teman terbaik peneliti: Fannytasari, Susi Ramadhani, Rizkii fadhillah, Yuni Arta Manulang, Indah Pertiwi, Elsa Purba, Citra Riris, Hari Arwan.

9. Untuk teman sekelompok magang: Hillery, Sondang, Roza, Hulu. Terima kasih peneliti ucapkan atas kerjasamanya selama melaksanakan magang. 10.Untuk seluruh mahasiswa Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas

(4)

Akhir kata, peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Apabila ada perkataan peneliti yang salah, peneliti mohon map yang sebesar besarnya.

Medan Oktober 2017

Peneliti,

Rara Aza Addini Siregar NIM: 142101040

(5)

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ... i ... DAFTAR ISI ... ii ... i DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR ... v BAB I PENDAHULUAN 11. Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan Penelitian ... 5 1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II PROFIL PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan ... 6

2.2 Visi dan Misi ... 8

... 2.2.1 Visi ... 8

2.2.2 Misi ... 8

2.3 Arti Logo Pemrovsu ... 9

2.4 Struktur Organisasi... 10

2.5 Job Description... 12

2.6 Kinerja Terkini ... 29

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Pengertian Pembinaan Pegawai ... 31

3.2 Peraturan Pembinaan Pegawai ... 32 3.3 Pentingnya Pembinaan Pegawai ... 33

3.4 Tujuan Pembinaan Pegawai ... 33

3.5 Proses Pembinaan Pegawai ... 34

3.6 Standard Nilai Prestasi Kerja dan Penilaian Perilaku Kerja ... 36

3.7 Pembinaan Kedisiplinan Pada BPKAD ... 37

3.8 Pengertian Disiplin Kerja Pegawai ... 40

39. Peraturan Kedisiplinan Pegawai ... 41

3.10 Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil pada BPKAD ... 46

3.11 Hukuman Kedisiplinan PNS ... 47

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan ... 50

4.2 Saran ... 51

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(6)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

Tabel 1.1 Tingkat Disiplin PNS pada BPKAD PROVSU ... 3

Tabel 2.2 Capaian Kinerja pada BPKAD PROVSU ... 37

Tabel 2.1 Jenis-Jenis Diklat pada BPKAD PROVSU ... 38

Tabel 3.1 Kedisiplinan PNS di BPKAD PROVSU ... 46

Tabel 4.1 Sanksi Pelanggaran Masuk Kerja pada BPKAD ... 49

(7)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman Gambar 2.1 Logo PEMPROVSU ... 11

(8)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pembangunan Sumber daya Manusia merupakan suatu permasalahan yang dihadapi oleh Negara maju maupun Negara berkembang. Pelaksanaan hukum dibidang kepegawaian yang beradapan modern, professional, bertanggungjawab, jujur dan adil sangat diperlukan bagi Pegawai Negeri Sipil yang merupakan unsur aparatur Negara yang bertugas sebagai abdi Negara masyarakat yang menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Namun Pelaksanaan hukum dibidang kepegawaian yang beradapan modern, professional, bertanggungjawab, jujur dan adil belum bisa dikatakan terlaksana dengan baik. Hal itu dikarenakan kurangnya kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil dalam menjalankan tugasnya. untuk itu pembinaan harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kedisiplinanan, mutu, kemampuan serta untuk memupuk gairah dalam bekerja professional, bertanggungjawab, jujur dan adil.

Kedisiplinan terhadap Pegawai Negeri Sipil sangat penting agar Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat dengan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat dengan hadir di tempat, bertanggungjawab terhadap setiap permasalahan yang terjadi.

Disamping itu tindakan terhadap pelanggaran disiplin harus berjalan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan pegawai tersebut. Kesadaran setiap individu untuk melaksanakan setiap peraturan dan norma-norma yang berlaku

(9)

dalam organisasi merupakan gambaran terhadap pelaksanaan disiplin, karena tanpa adanya kesadaran tersebut akan sulit untuk melaksanakan disiplin dalam bekerja.

Pembinaan kedisiplinan menjadi satu kesatuan serta menjadi modal utama dalam keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dengan adanya pembinaan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil akan mempengaruhi kinerja organisasi yang lebih baik secara keseluruhan sehingga terciptanya pelayanan publik yang prima di bidang kepegawaian dengan sasaran meningkatnya kinerja manajemen aparatur.

Kinerja aparatur pemerintah yang baik merupakan salah satu faktor pendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan pemerintah, pembangunan yang akan melaksanakan tugas-tugas administrasi yang dibebankan aparatur pemerintah. Jadi kinerja merupakan suatu momen yang harus dipahami sebagai suatu ukuran keberhasilan dalam pencapai tujuan. Kinerja dalam organisasi termasuk organisasi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara sangat diperlukan, karena kinerja merupakan suatu prestasi kerja, produktifitas kerja, maka setiap organisasi pemerintahan dituntut senantiasa untuk meningkatkan kinerjanya.

(10)

Seperti data yang diterima oleh penulis dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara tentang tingkat disiplin Pegawai Negeri Sipil pada tahun 2015-2016 sebagai berikut:

Tabel 1.1

Tingkat Disiplin Pegawai Negeri Sipil 2015-2016 Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah

Provinsi Sumatera Utara BULAN 2015 - 2016 JUMLAH HARI EFEKTIF JUMLAH PEGAWAI

ABSENSI HADIR TIDAK

HADIR S I A C % % JULI 21 31 2 4 5 98.32 1,68 AGUSTUS 20 31 5 5 8 97,1 2,90 SEPTEMBER 20 31 2 9 3 3 97,26 2,74 OKTOBER 21 31 6 12 5 3 96,01 3,99 NOVEMBER 21 31 1 5 10 97,55 2,45 DESEMBER 22 31 1 2 4 97,81 2,19 JANUARI 20 30 6 10 97,34 2,66 FEBRUARI 19 30 1 12 97,72 2,28 MARET 22 31 2 1 11 1 97,81 2,19 APRIL 21 31 1 5 10 97,55 2,45 MEI 19 31 2 2 9 97.8 2,20 JUNI 22 31 4 13 97,51 2,49 Sumber: BPKAD, 2015-2016

Pengukuran tingkat absensi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Tingkat Absensi = Hari Kerja Yang Hilang / Jumlah Pegawai x Hari Pegawai Kerja x 100%

Dari Tabel 1.1 dapat kita lihat rata-rata tingkat absensi selama Juli 2015-Juni 2016 dengan hari efektif 19-22 hari total absensi Pegawai Negeri Sipil sebesar 2,51%. Sedangkan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara mengatakan bahwa tingkat maksimum absensi sebesar 2%, apabila tingkat absensi pada suatu instansi pemerintahaan melebihi dari 2%

(11)

maka dikategorikan tinggi. Tingginya absensi akan mengurangi pegawai yang bekerja sehingga efektifitas kerja akan berkurang karena kekurangan tenaga kerja.

Dari keterangan diatas dan kondisi yang telah penulis paparkan menunjukan kurangnya kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil dalam menjalankan tugasnya pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara sehingga dari gejala- gejala dan uraian diatas perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam.

Dalam menegakan disiplin kerja diperlukan suatu pembinaan dari instansi sehingga disiplin kerja terhadap pegawai bisa dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan undang-undang yang berlaku dan wajib dipatuhi oleh setiap pegawai khususnya pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Berdasarkan uraian diatas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : Pembinaan Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil Pada Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara.

(12)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka uraian masalah yang diajukan dari penelitian ini “Bagaimana Pembinaan Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui proses pembinaan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penulisan yang dilakukan penulis adalah:

a. Bagi Peneliti, Penelitian ini mempunyai manfaat yang mendalam untuk menambah pengetahuan secara teoritis maupun praktis mengenai proses pembinaan pegawaian untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi pada Program Studi Diploma III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Sumatera Utara.

b. Bagi Instansi, Penulis berharap dengan adanya tulisan ini dapat memberi masukan bagi instansi terkait untuk mengetahui manfaat dari pembinaan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil untuk menjadi pedoman bagi instansi dan keseluruhan.

c. Bagi Masyarakat, Penelitian ini dapat memberikan serta menambah suatu Pengetahuan kepada masyarakat akan proses pembinaan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil yang mungkin belum banyak masyarakat yang mengetahuinya.

(13)

BAB II

PROFIL INSTANSI

2.1 Sejarah Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara

Pada zaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernment van Sumatera dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatera, dipimpin oleh seorang Gubernur berkedudukan dikota Medan. Setelah kemerdekaan, dalam sidang pertama Komite Nasional Daerah (KND), Provinsi Sumatera kemudian dibagi menjadi tiga sub provinsi, yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Provinsi Sumatera Utara sendiri merupakan penggabungan dari tiga daerah administratif yang disebut Keresidenan, yaitu Kepresidenan Aceh, Kepresidenan Sumatera Timur, dan Kepresidenan Tapanuli. Dengan diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia (R.I) No. 10 Tahun 1948 pada tanggal 15 April 1948, ditetapkan bahwa Sumatera dibagi menjadi tiga provinsi yang masing - masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu: Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah, dan Provinsi Sumatera Selatan. Tanggal 15 April 1948 selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Sumatera Utara.

Pada awal tahun 1949, dilakukan kembali reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I Nomor 22 /Pem/PDRI pada tanggal 17 Mei 1949, jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan. Selanjutnya dengan Ketetapan Pemerintah Darurat R.I pada tanggal 17 Desember 1949, dibentuk Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur. Kemudian, dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - undang No. 5 Tahun 1950 pada

(14)

tanggal 14 Agustus 1950, ketetapan tersebut dicabut dan dibentuk kembali Provinsi Sumatera Utara.

Dengan Undang – Undang R.I No. 24 Tahun 1956 yang diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956, dibentuk Daerah Otonom Provinsi Aceh, sehingga wilayah Provinsi Sumatera Utara sebahagian menjadi wilayah Provinsi Aceh. Motto Daerah, adalah Tekun Berkarya, Hidup Sejahtera, Mulia Berbudaya.

Sementara BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah) Provinsi Sumater Utara adalah SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang baru dibentuk berdasarkan tindak lanjut Peraturan Pemerintah No 18 tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara merupakan pergantian nama yang baru di kantor Gubernur Sumatera Utara. Sebelum berganti nama menjadi BPKAD adalah dulunya dinamakann Biro Keuangan. Sedangkan ASN (Aparatur Sipil Negara) terdiri dari eks Biro Perlengkapan dan Pengelolaan Aset Setdaprovsu dan sebagian berada di Biro Umum.

(15)

2.2 Visi dan Misi

2.2.1 Visi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara

Menjadikan Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai pembantu pengelola barang milik daerah yang transparan dan berdaya saing dengan meningkatkan sumber daya aparatur yang mempunyai pengetahuan pengelolaan barang milik daerah yang berbasis teknologi sehingga terpenuhinya pengelolaan barang milik daerah yang berkualitas.

2.2.2 Misi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara

Adapun misi perusahaan meliputi:

a. Meningkatkan sarana dan prasarana yang berkualitas sesuai dengan perkembangan teknologi.

b. Bertambahnya sumber daya aparatur yang memiliki pengetahuan dalam pengelolaan barang milik daerah yang berbasis teknologi sehingga terciptanya tertib pengelolaan barang milik daerah untuk menuju wajar tanpa pengecualian. c. Meningkatkan kinerja seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dengan

(16)

2.3 Arti Logo PEMPROVSU

Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara, 2016

Gambar 2.1 Logo Pemprovsu

Pengertian lambang daerah pemerintah Provinsi SumateraUtara :

1. Kepalan tangan yang diacungkan keatas dengan menggenggam rantai beserta perisainya melambangkan kebulatan tekad perjuangan rakyat Provinsi Sumatera Utara melawan imprealisme/kolonialisme, feodalisme, dan komunisme.

2. Batang Bersudut Lima, Perisai dan Rantai melambangkan kesatuan masyarakat didalam membela dan mempertahankan Pancasila.

3. Pabrik, Pelabuhan, Pokok Karet, Pohon Sawit, Daun Tembakau, Ikan, Daun Padi dan Tulisan “SUMATERA UTARA” melambangkan daerah yang indah, permai dan masyhur dengan kekayaan alamnya yang melimpah-limpah. 4. Tujuh Belas Kuntum Kapas, Delapan Sudut Sarang laba-laba dan Empat Puluh

Lima Butir Padi menggambarkan tanggal bulan dan tahun kemerdekaan dimana ketiga-tiganya ini berikut tongkat dibawah kepalan tangan melambangkan watak.

5. Kebudayaan yang mencerminkan kebesaran bangsa, patriotisme, pencinta, keadaan, dan pembela keadilan.

(17)

6. Bukit Barisan yang Berpuncak Lima melambangkan tata kemasyarakatan yang berkepribadian luhur, bersemangat, persatuan kegotongroyongan yang dinamis.

2.4 Struktur Organisasi

Sebuah perusahaan yang besar maupun kecil tentunya sangat memerlukan adanya struktur organisasi perusahaan, yang menerangkan kepada seluruh karyawan untuk mengerti apa tugas dan batasan-batasan tugasnya, kepada siapa dia bertanggung jawab sehingga pada akhirnya aktifitas akan berjalan secara sistematis dan terkoordinir.

Adapun struktur organisasi perusahaan pada Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar 2.2.

(18)

Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara, 2016

Gambar 2.2

Struktur Organisasi Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah PROVSU

SUSUNAN ORGANISASI BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN

DAN ASET DAERAH

BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET

DAERAH KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SEKRETARIAT SUB BAGIAN UMUM DAN KEPEGAWAIAN SUB BAGIAN KEUANGAN SUB BAGIAN PROGRAM, AKUNTANSI & BIDANG PERBENDAHARAAN DAN KHAS DAERAH SUB BIDANG PENGELOLAAN ANGGARAN I SUB BIDANG PENGELOLAAN ANGGARAN SUB BIDANG PENGELOLAAN ANGGARAN II SUB BIDANG PENGELOLAAN ANGGARAN III

SUB BIDANG PERBENDAHARAAN I SUB BIDANG PERBENDAHARAAN II SUB BIDANG KAS DAERAH BIDANG AKUNTANSI SUB BIDANG AKUNTANSI I SUB BIDANG AKUNTANSI II SUB BIDANG AKUNTANSI III BIDANG ASET SUB BIDANG ANALISIS DAN KEBUTUHAN ASET SUB BIDANG PENGELOLAAN ASET SUB BIDANG PENGHAPUSAN ASET UPTD

(19)

2.5 Job Description

Berikut ini adalah uraian tugas dari setiap bagian pada struktur organisasi BPKAD PEMPROVSU yang terdiri dari :

1. Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara dipimpin seorang Kepala Badan yang mempunyai tugas pokok antara lain : "Merumuskan kebijakan teknis Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, melaksanakan pembinaan, koordinasi, monitoring, evaluasi dan pengendalian Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, melaksanakan fungsi sebagai Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD) dan Bendahara Umum Daerah (BUD) serta pemberian dukungan penyelenggaraan Pemerintah". 2. Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara

menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan dan perumusan kebijakan teknis di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah.

b. Penyusunan dan perumusan rencana kerja di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah.

c. Pemberian dukungan penyelenggaraan pemerintah daerah di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah.

d. Pengendalian dan pembinaan teknis di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah.

e. Melaksanakan tugas - tugas Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah. f. Merencanakan, menginvestarisi dan mengelola aset daerah.

(20)

1. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara, mempunyai uraian tugas adalah :

a. Memimpin, merumuskan kebijakan teknis di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah berdasarkan peraturan yang berlaku sebagai bahan perumusan kebijakan Kepala Daerah.

b. Menetapkan program kerja dan kegiatan di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas.

c. Mengkoordinasikan kegiatan pembinaan di bidang pengelolaan keuangan dan Aset Daerah dengan unit kerja terkait agar kegiatan tersebut dilaksanakan secara terarah, terpadu ditetapkan.

d. Mengendalikan kegiatan - kegiatan pada Badan mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi agar program - program dapat terlaksana sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.

e. Mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Sekretariat, Bidang - bidang, UPTD pada Badan dengan membandingkan antara hasil kerja yang dicapai dengan target kinerja yang telah ditetapkan untuk mengetahui tingkat kinerja yang dicapai.

f. Melakukan pengawasan terhadap Sekretaris, Kepala Bidang, UPTD dan seluruh staf dalam melaksanakan tugas baik secara preventif maupun represif untuk menghindari terjadinya kesalahan dan penyimpangan dalam pelaksanaan tugas.

g. Mendistribusikan tugas - tugas yang berkaitan dengan Badan kepada Sekretaris, Kepala Bidang, dan Kepala UPTD berdasarkan tugas pokok

(21)

dan fungsi agar tugas dapat terlaksana secara efesien dan efektif dan tepat waktu.

h. Memberi petunjuk kerja kepada bawahan secara lisan maupun tulisan sesuai dengan bidang tugasnya agar tugas dapat dilaksanakan secara benar sesuai dengan aturan yang berlaku.

i. Menyelenggarakan pembinaan administrasi keuangan, kepegawaian, perencanaan, perlngkapan dan pengendalian administrasi pemerintahan berdasarkan pedoman dan ketentuan yang berlaku agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan efisien dan efektif.

j. Mengajukan saran dan pertimbangan kepada Gubernur mengenai pemecahan masalah yang berkaitan dengan bidang badan pengelolaan keuangan dan aset daerah baik secara lisan maupun tertulis sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

k. Melaporkan kegiatan di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah baik secara lisan maupun tertulis sebagai bahan pertimbangan atasan dalam pengambilan keputusan.

l. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah, pejabat pengelola keuangan daerah dan bendahara umum daerah yang diberikan oleh Gubernur.

2. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah dalam melaksanakan tugasnya dibantu dan

(22)

1. Sekretariat BPKAD, mempunyai tugas :

a. Menyelenggarakan pembinaan, bimbingan dan arahan kepada staf di lingkungan Sekretariat.

b. Menyelenggarakan pengelolaan dan penyajian bahan/data dalam penyelenggaraan kesekretariatan.

c. Menyelenggarakan penyiapan penyusunan rencana dan program kegiatan dalam penyelengaraan urusan kesekretariatan sesuai ketentuan peraturan perundang - undangan.

d. Menyelenggarakan pengkajian dan analisa pengelolaan Sekretariat.

e. Menyelenggarakan inventarisasi dan identifikasi Sekretariat, dan lain sebagainya.

Sekretariat Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provsu melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Kepala BPKAD Provinsi Sumatera Utara, dibantu dan memimpin 3 (tiga) Sub Bagian yaitu :

1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, mempunyai tugas : a. Menyusun rencana kerja sub bagian.

b. Melaksanakan pengelolaan administrasi perkantoran, kearsipan, perpustakaan dan dokumentasi.

c. Melaksanakan urusan keamanan, kebersihan dan tatalaksana. 2. Kepala Sub Bagian Keuangan, mempunyai tugas :

a. Meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara.

b. Melakukan verifikasi SPP. c. Melaksanakan akuntansi SKPD.

(23)

3. Kepala Sub Bagian, Akuntabilitas dan Informasi Publik, mempunyai tugas: a. Melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data untuk bahan

penyusunan program.

b. Melaksanakan rencana penataan kelembagaan Badan sesuai dengan kebutuhan untuk kelancaran tugas Badan.

c. Melaksanakan penataan kearsipan sub bagian untuk tertib administrasi.

2. Bidang Pengelolaan Anggaran, mempunyai tugas :

a. Menyusun konsep kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD.

b. Melakukan koordinasi penyiapan konsep kebijakan pinjaman dan piutang daerah.

c. Menyajikan informasi anggaran daerah.

d. Melaksanakan evaluasi Rancangan APBD dan Perubahan APBD Kabupaten/Kota.

e. Melaksanakan tugas - tugas administrasi perkantoran.

Kepala Bidang Pengelolaan Anggaran dalam melaksanakan tugasnya dibantu dan memimpin 3 (tiga) Sub Bidang yaitu :

1. Kepala Sub Bidang Pengelolaan Anggaran I, mempunyai tugas:

a. Membantu penyusunan konsep kebijakan pengelolaan keuangan daerah untuk anggaran pendapatan daerah dan pembiayaan daerah.

b. Menyiapkan dan mengadministrasikan surat masuk dan surat keluar. c. Melaksanakan pembuatan laporan pelaksanaan tugas kepada atasan

sebagai dasar pengambilan kebijakan.

(24)

a. Membantu penyusunan konsep kebijakan pengelolaan keuangan daerah untuk anggaran Belanja Tidak Langung.

b. Melaksanakan verifikasi RKA-SKPD sesuai kompetensinya.

c. Melaksanakan pembuatan laporan pelaksanaan tugas kepada atasan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

3. Kepala Sub Bidang Pengelolaan Anggaran III, mempunyai tugas:

a. Membantu menyusun konsep kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD untuk anggaran Belanja Langsung.

b. Melaksanakan penyampaian saran dan pertimbangan kepada atasan baik lisan maupun tertulis sebagai bahan masukan guna kelancaran pelaksanaan tugas.

c. Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

3. Bidang Perbendaharaan Kas Daerah, mempunyai tugas :

a. Menyelenggarakan kebijakan teknis di bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah.

b. Menyelenggarakan penertiban Surat Perintah Pencairan Dana.

c. Menyelenggarakan penempatan uang daerah dengan mambuka rekening kas umum daerah.

d. Menyelenggarakan Pelaksanaan verifikasi atas penerimaan dan pengeluaran kas daerah.

e. Menyelenggarakan Pembuatan laporan realisasi penerimaan dan pengeluaran Kas Daerah.

(25)

Kepala Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dalam melaksanakan tugasnya dibantu dan memimpin 3 (tiga) Sub Bidang yaitu :

1. Kepala Sub Bidang Kas Daerah, mempunyai tugas :

a. Melaksanakan pengumpulan, penyusunan, pengolahan dan penyajian data di bidang Kas Daerah.

b. Melaksanakan rekonsiliasi Kas Harian, mingguan, bulanan dan tahunan. c. Melaksanakan Penyimpanan surat - surat berharga.

2. Kepala Sub Bidang Perbendaharaan I, mempunyai tugas :

a. Melaksanakan analisis anggaran belanja langsung, belanja tidak langsung dan belanja modal.

b. Melaksanakan penyiapan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D).

c. Mealaksanakan penyiapan Surat Keterangan Penghentian Pembayaran Gaji.

3. Kepala Sub bidang Perbendaharaan II, mempunyai tugas :

a. Melaksanakan pembuatan laporan realisasi gaji PNS setiap bulan.

b. Melaksanakan penelitian kebenaran Surat Permintaan pembayaran dan Surat Perintah Membayar dari Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan pembebanan kode rekening dan DPA.

c. Melaksanakan pembuatan laporan realisasi penyerapan anggaran sesuai dengan SP2D.

4. Bidang Akuntansi, mempunyai tugas :

a. Menyusun konsep kebijakan dan pedoman pelaksanaan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.

(26)

c. Menyelenggarakan pembinaan tentang penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

d. Menyelenggarakan evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten/Kota.

e. Pelaksanaan koordinasi, pembinaan, fasilitasi, serta monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah.

Kepala Bidang Akuntasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu dan memimpin 3 (tiga) Sub Bidang yaitu :

1. Kepala Sub Bidang Akuntansi I, mempunyai tugas :

a. Menerima menyelenggarakan Laporan Operasional (LO) SKPD sesuai standar yang ditetapkan setiap bulannya.

b. Menyelenggarakan evaluasi atasn Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggung jawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara.

c. Menyelenggarakan penyusunan dan penyempurnaan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD sesuai ketentuan peraturan perundang - undangan.

2. Kepala Sub Bidang Akuntansi II, mempunyai tugas :

a. Menyelenggarakan sinkronisasi data dan laporan – laporan Bendahara penerimaan SKPD.

b. Menyelenggarakan rekonsiliasi data realisasi pendapatan dengan SKPD setiap bulannya.

(27)

c. Menerima dan menyelenggarakan rekonsiliasi Laporan Realisasi Anggaran (LRA) SKPD sesuai standar yang ditetapkan setiap bulannya. 3. Kepala Sub Bidang Akuntansi III, mempunyai tugas :

a. Melaksanakan koordinasi penyusunan kebijakan akuntansi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

b. Menyelenggarakan penyusunan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Provinsi Sumatera Utara setiap bulan, triwulan, semester dan prognosis enam bulan berikutnya sesuai standar yang ditetapkan.

c. Menyelenggarakan penyusunan Laporan Operasional (LO) Provsu setiap triwulan dan semester sesuai standar yang ditetapkan.

5. Bidang Aset, mempunyai tugas :

a. Menyelenggarakan pengolahan bahan/data untuk penyempurnaan dan penyusunan kebijakan, sesuai standar dan ketentuan peraturan perundang - undangan dan standar dalam penyelenggaraan urusan bidang aset.

b. Menyelenggarakan penyusunan peraturan pengolahan barang milik daerah dan penyempurnaan standar, norma dan kriteria dalam penyelenggaraan uruan bidang aset.

c. Menyelenggarakan penyusunan perencanaan kebuutuhan dan program kegiatan di bidang aset sesuai peraruran perundang - undangan.

d. Menyelenggarakan koordinasi, konsultasi pengelolaan Provinsi, Kabupaten/Kota dan BUMD Provinsi, sesuai ketentuan perundang- undangan.

(28)

e. Menyelenggarakan penatausahaan, penggolongan, kodefikasi, inventarisasi dan identifikasi barang daerah/aset, sesuai standar yang ditetapkan.

Kepala Bidang Aset dalam melaksanakan tugasnya dibantu dan memimpin 3 (tiga) Sub Bidang yaitu:

1. Sub Bidang Analisis Dan Kebutuhan Aset, mempunyai tugas:

a. Melaksanakan pembinaan bimbingan dan arahan kepada Staf pada lingkungan Sub Bagian/Seksi Analisa Kebutuhan.

b. Melaksanakan koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, pengendalian dan kebijakan dalam meneyelenggarakan urusan analisa kebutuhan.

c. Melaksanakan pengumpulan, penyusunan, dan penyajian bahan/ data perencanaan program dan kegiatan urusan analisa kebutuhan sesuai ketentuan Peraturan Perundang undangan.

d. Menyelenggarakan, menyusun, meneliti, menyiapkan dan menghimpun Rencana Kebutuhan BMD (RKBMD) pengadaan dan Rencana Kebutuhan BMD Pemeliharaan (RKBMD) yang disusun berdasarkan standar harga (besaran harga), standar kebutuhan (satuan jumlah barang), dan standar barang (spesifikasi) untuk satu tahun anggaran dari masing - masing SKPD.

e. Menyelenggarakan, menyususn (tim) penyusunan standar harga, standar kebutuhan, dan standar barang bersama dinas terkait dan ditetapkan dengan keputusan Gubernur Sumatera Utara.

f. Menyelenggarakan meneliti pengalihan status penggunaan BMD kepada pengguna barang lainnya dan memproses persetujuan Gubernur.

(29)

g. Menyelenggarakan, menyusun dan menyiapkan Rencana Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKD-BMD) pengadaan dan RDKP-BMD pemeliharaan menurut jenis barang, pekerjaan, banyak atau volume, perkiraan waktu dan baya serta pelaksanannya yang menjadi dasar penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) APBD masing - masing SKPD.

h. Menyelenggarakan meneliti dan permohonan pesetujuan tentang penggunaan sementara BMD kepada pengguna barang lainnya dalm jangka waktu tertentu tanpa mengubah status penggunaan barang yang ada.

i. Menyelenggarakan, meneliti rencana tahunan pengadaan dan pemeliharaan setelah APBD ditetapkan yang dituangkan/ tercermin dalam Dokumen Penggunaan Anggaran (DPA) masing - masing SKPD yang harus sesuai dengan RKA masing - masing SKPD.

j. Menyelenggarakan, meneliti usulan penggunaan barang untuk ditetapkan Gubernur, penetapan status penggunaan barang dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tupoksi SKPD pengusul.

k. Menyelenggarakan Rencana Kebutuhan Anggaran (RKA) SKPD yang harus sesuai dengan RKBMD pengadaan dan RKBMD pemeliharaan yang telah ditetapkan pengelolan barang.

l. Melakanakan persiapan penyusunan prosedur pengajian perencanaan kebutuhan barang dilingkungan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di

(30)

m. Penyusunan penetapan standar barang, standar kebutuhan dan standar harga.

n. Melaksanakan identifikasi penelahan dan review atas data/bahan usulan RKBMD dan RKBMD yang diajukan SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

o. Melaksanakan penyusunan rekapitulasi/daftar RKBMD dan RKPBMD untuk ditetapkan menjadi keputusan Gubernur Sumatera Utara.

2. Sub Bidang Pengelolaan Aset

a. Melaksanakan pembinaan, bimbingan dan arahan kepada Staf pada lingkungan Sub Bagian/Seksi Pengelolaan Aset.

b. Melaksanakan penyusunan dan penyempurnaan perencanaan, program dan kegiatan dalam penyelenggaraan urusan pengelolaan aset sesuai ketentuan dan peraturan perundang - undangan.

c. Melaksanakan pengumpulan, penyusunan, pengolahan, dan penyajian data BMD bergerak dan tidak bergerak berupa tanah, peralatan kantor/mesin, gedung daan bangunan, jalan jembatan jaringan, aset pengerjaan sesuai ketentuan peraturan perundang - undangan.

d. Menyelenggarakan pembinaan, koordiasi, fasilitasi dan evaluasi melakukan catatan BMD yang berada dalam penguasaan pengelola, pengguna/kuasa pengguna barang sesuai penggolongan dan kodefikasi barang ke dalam Kartu Inventaris Barang (KB A s/d F) dan melakukan pembuatan KR (Kartu Inventaris Ruangan).

(31)

e. Menyelenggarakan pembinaan koordinasi dan melakukan inventarisasi BMD secara lengkap dan akurat meliputi lokasi, jenis, merk, type, jumlah, ukuran, harga, tahun pembelian, asal perolehan, dan kondisi barang.

f. Menyelenggarakan pembinaan koordinasi dan menghimpun dan merekapitulasi laporan penggunaan barang semesteran, tahunan dari 5 (lima) tahunan.

g. Menyelenggarakan pembinaan koordinasi, penyusunan dan merekapitulasi laporan semesteran dan tahunan sebagai bahan pendukung penyusunan neraca daerah.

h. Menyelenggarakan permohonan koordinasi dan monitoring penerimaan semua barang bergerak, tidak bergerak dari hasil pengadaan oleh pengurus barang sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

i. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi dan monitoring penyimpanan barang oleh pengurus barang dalam rangka pengurusan penyelenggaraan dan penatausahaan barang persediaan dan melakukan pemeriksaan pembukuan dan pencatatan serta stock opname secara berkala ataupun terhadap barang persediaan yang ada.

j. Menyelenggarakan pembinaan koordinasi dan monitoring penyaluran barang milik daerah ke unit pemakai dam menyelenggarakan tertib administrasi penyaluran dan membuat laporan realisasi penyaluran persediaan BMD.

k. Menyelenggarakan pembinaan koordinasi dan melakukan inventarisasi BMD, kodefikasi dan verifikasi fisik dan administrasi sesuai ketentuan dan

(32)

l. Melaksanakan penyusunan kegiatan sensus Barang Milik Daerah sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

m. Melaksanakan penerimaan, penyimpanan dan penyaluran BMD serta mengelola barang persediaan.

n. Melaksanakan sosialisasi bimbingan teknis, koordinasi, konsultasi dan asistensi dalam rangka penatausahaan BMD.

o. Melaksanakan pembinaan, pengendalian, dan fasilitasi pengelolaan aset di lingkungan BUMD.

3. Sub Bidang Penghapusan

a. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi meneliti dan melakukan proses pemindahtanganan BMD (penjualan, hibah dan atau penyertaan modal) atas usulan SKPD sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

b. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi meniliti dan melakukan proses pemusnahan terhadap BMD (Barang Milik Daerah) yang sudah tidak dapat dipindahtangankan atas usulan SKPD sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

c. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, meniliti dan melakukan proses penghapusan BMD sebagai tindak lanjut pemindahtanganan, sebagai tindak lanjut pemindahtanganan, pemusnahan, putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, menjalankan ketentuan peraturan perundang - undangan atau sebab lain sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

(33)

d. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi dan evaluasi dan melakukan penilaian dan atau penaksiran harga BMD dengan tim/panitia dalam rangka pemindahtanganan pemusnahan dan pemusnahan BMD sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

e. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring dan evaluasi kegiatan penjualan sisa bongkaran BMD dengan SKPD sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

f. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penjualan langsung maupun lelang umum BMD sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

g. Melaksanakan pembinaan, bimbingan, dan arahan kepada Staf pada lingkungan Sub Bagian/Seksi Pemelihara dan penghapusan.

h. Melaksanakan koordinasi, fasilitasi, monitoring, pengendalian, dan evaluasi dalam rangka pengamanan, pemindahtanganan, pemusnahan, dan penghapusan barang milik daerah sesuai penghapusan barang milik daerah sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang - undangan.

i. Melaksanakan pemeliharaan dan peengaman dokumen kendaraan dinas dan penarikan kendaraan dinas yang akan diproses pemindahtanganan, pemusnahan, penghapusan sesuai ketentuan yang berlaku.

j. Melaksanakan pembinaan dan koordinasi persertifikasian tanah dari pemasangan plank, serta penertiban BMD dengan SKPD dan instansi terkait.

(34)

k. Melaksanakan koordinasi, inventarisasi, dan identifikasi data perencanaan pemindahtanganan, pemusnahan, penghapusan barang bergerak sesuai keputusan dan peraturan yang berlaku.

l. Melaksanakan persiapan dan penyelenggaran penjualan Barang Milik Daerah (penjualan langsung atau lelang umum).

m. Melaksanakan hubungan kerjasama dalam rangka penghapusan, pemindahtanganan, pemusnahan dengan instansi terkait.

n. Melaksanakan pengkajian, penelitian dan memberikan masukan, saran, dan pendapat kepada atasan/pimpinan dalam rangka pengamanan dan penghapusan BMD.

o. Melaksanakan rapat - rapat internal dan eksternal dalam rangka urusan pengelolaan aset daerah.

6. UPTD Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak

Tugas pokok UPTD Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak adalah "Membantu Kepala Badan untuk urusan pemnfaatan dan pengamanan barang tidak bergerak". Adapun fungsi Kepala UPTD Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak adalah :

1. Penyelenggaraan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, evaluasi kebijakan ketatausahaan dan teknis pemanfaatan dan pengamanan barang milik daerah. 2. Menyelenggarakan pelayanan informasi dan komunikasi pengelolaan barang

milik daerah serta pengaturan pemanfaatan dan pengamanan barang milik daerah.

3. Melaksanakan pembinaan bukti kepemilikan barang milik daerah serupa sertifikat.

(35)

4. Melaksanakan penyusunan tata tertib pengendalian, pengawasan penyimpanan barang pada gudang penyimpanan.

Kepala UPTD Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Tidak Bergerak menjalankan tugas :

1. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring evaluasi dan meneliti pemanfaatam barang milik daerah berupa sebagian tanah dan bangunan yang masih digunakan pengguna barang dan selain tanah atau bangunan dengan persetujuan pengelola.

2. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi pada SKPD dalam rangka pemasangan tanda barang letak tanah atau pemagaran, pengurusan bukti kepemilikan (Sertifikat, BPKB) dan pengurusan tanah yang sudah memiliki sertifikat namun belum atas nama Pemerintah Daerah sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

3. Menyelenggarakan pembinaan koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi pengendalian urusan ketatausahaan atau administrasi, dokumentasi pemanfaatan dan pengamanan barang milik daerah.

4. Menyelenggarakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi dan meneliti pemanfaatan barang milik daerah yang tidak dipergunakan sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD dalam bentuk sewa, pinjam pakai, KSSP. BGS atau BSG dan KSPI kepada pihak ketiga dengan tidak merubah status kepemilikannya.

(36)

2.6 Kinerja Terkini

Untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebagai implementasi dan penjabaran Visi dan Misi serta kebijakan strategis strategis dan kebijakan dalam pencapaian tujuan dan sasaran. Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara melaksanakan program dan kegiatan yaitu sebagai berikut :

1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran

a. Penyediaan jasa surat menyurat, komunikasi, sumber daya air dan listrik, dan jasa administrasi perkantoran/keuangan.

b. Penyediaan alat kantor, barang cetakan dan penggandaan c. Rapat - rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. 2. Peningkatan sarana dan prasarana aparatur

a. Pengadaan kendaraan dinas/operasional.

b. Pengadaan perlengkapan dan peralatan gedung kantor. c. Pengadaan rutin/berkala rumah dinas dan gedung kantor. d. Pengadaan rutin/berkala mess.

e. Rehabilitasi sedang/berat gedung kantor. f. Pembuatan papan nama instansi Pemprovsu. g. Panitia pengadaan barang dan jasa.

3. Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur a. Bimbingan teknis dalam dan luar daerah.

4. Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah a. Penyusunan Standar Satuan Harga.

(37)

c. Pengumpulan dan pengurusan sertifikat tanah hak milik pemprovsu. d. Penyusunan buku realisasi pengadaan Barang Belanja Langsung. e. Pembuatan Laporan Mutasi Barang dari unit/ satuan kerja pemprovsu. f. Status Pemanfaatan Barang Daerah.

g. Sosialisasi Pergub Kapitalisasi Aset dan Pengamanan Aset. h. Pemutakhiran Data Aset.

i. Penertiban Aset.

j. Penyimpanan Barang milik Pemprovsu. k. Pemeriksaan Barang Daerah Hasil Pengadaan.

l. Penghapusan Aset Tetap dan Barang Investaris lainnya. m.Pengelolaan Aset Daerah.

(38)

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Pengertian Pembinaan Pegawai

Menurut Thoha (2012:16), Pembinaan merupakan totalitas kegiatan yang bersifat mengikat atau memaksa meliputi pengendalian, pengaturan dan pengawasan pegawai, sehingga terwujudnya pegawai yang bertanggungjawab, disiplin, mampu mengemban tugas sesuai dengan kompetensinya, supaya dapat mencapai prestasi kerja yang efektif dsn efesien. Jadi inti dari defenisi pembinaan pegawai menurut Miftah Thoha adalah suatu upaya pengendalian dan pengawasan pegawai yang dilakukan secara berkesinambungan untuk mempertahankan kedisiplinan, tanggung jawab, kepatuhan pegawai terhadap kebijakan atau aturan yang berlaku dalam organisasi.

Menurut Musanef (2013:11), Pembinaan sebagai suatu proses pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan pengelolaan sumber daya aparatur, infrastruktur, sumber daya finansial, waktu metode dan sistem displin kerja yang didasarkan pada prinsip keteraturan untuk pencapaian prestasi kerja pegawai yang professional, efektif dan efesien. Jadi inti dari defenisi pembinaan pegawai adalah upaya pengendalian, pengawasan dan pengelolaan semua sumber daya dalam organisasi (6M) secara sistematis dan terstruktur untuk menunjang pencapaian tujuan organisasi.

Menurut Sakti (2014), Pembinaan adalah segala sesuatu tindakan yang berhubungan langsung dengan perencanaan, penyusunan, pembangunan, pengembangan, pengarahan, penggunaan serta pengendalian segala sesuatu secara berdaya guna dan berhasil guna. jadi defenisi pembinaan merupakan tugas yang

(39)

terus menerus didalam pengambilan keputusan yang berwujud suatu perintah khusus/umum dan intruksi-intruksi, dan bertindak sebagai pemimpin dalam suatu organisasi atau lembaga. Usaha-usaha pembinaan merupakan persoalan yang normatif yang menjelaskan mengenai bagaimana perubahan dan pembaharuan dalam pembinaan.

3.2 Peraturan Pembinaan Pegawai

Setiap instansi pemerintah maupun instansi swasta mempunyai aturan dalam pembinaan pegawainya. Badan Pengelola keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara membuat peraturan pembinaan Pegawai Negeri Sipil yang tujuannya agar pegawai negeri sipil dapat mematuhi aturan yang telah dibuat sehingga terhindar dari pelanggaran.

1. Pasal 12, ayat (2) Dalam rangka usaha untuk meningkatkan mutu dan ketrampilan serta memupuk kegairahan bekerja, maka perlu dilaksanakan pembinaan Pegawai Negeri Sipil dengan sebaik-baiknya atas dasar sistem prestasi kerja dan sistem karier yang di titik beratkan pada sistem prestasi kerja. Dengan demikian akan diperoleh penilaian yang objektif terhadap kompetensi Pegawai Negeri Sipil. untuk dapat meningkatkan daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya, maka sistem pembinaan karier yang harus dilaksanakan adalah sistem pembinaan karier tertutup dalam arti negara. 2. Pasal 31, ayat (1) Pengaturan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan

jabatan bagi Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan agar terjamin keserasian pembinaan Pegawai Negeri Sipil. Pengaturan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan jabatan meliputi kegiatan perencanaan termasuk perencanaan,

(40)

3.3 Pentingnya Pembinaan Pegawai

Menurut Thoha (2012:68), terdapat 5 alasan tentang pentingnya pembinaan antara lain:

a. Kualitas pegawai dengan adanya pembinaan, Pegawai di tuntut agar dapat bekerja professional sehingga dapat memperkuat daya saing Organisasi sector publik

b. Persaingan global, Setiap organisasi dalam persaingan global memerlukan pembinaan pegawai untuk mempertahankan kemampuan teknik, teoritis, konseptual, dan moral pegawai agar prestasi kerjanya baik dan mampu mencapai hasil yang optimal

c. Perkembangan teknologi, dengan adanya pembinaan pegawai, aparatur

Pegawai Negeri Sipil mampu mengoperasikan teknologi modern supaya produktifitas dan kompetensi Organisasi sektor publik dapat ditingkatkan.

3.4 Tujuan Pembinaan Pegawai

Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik, maka diperlukan adanya pegawai-pegawai yang setia, taat, jujur, penuh dedikasi, disiplin dan sadar akan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya sesuai dengan peraturan perundang-undangan kepegawaian yang berlaku, fungsi pembinaan diarahkan untuk :

1. Memupuk kesetiaan dan ketaatan.

2. Meningkatkan adanya rasa pengabdian rasa tanggung jawab, kesungguhan dan

kegairahan bekerja dalam melaksanakan tugasnya.

3. Meningkatkan gairah dan produktivitas kerja secara optimal.

4. Mewujudkan suatu layanan organisasi dan pegawai yang bersih dan

(41)

5. Memperbesar kemampuan dan kehidupan pegawai melalui proses pendidikan dan latihan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan organisasi.

3.5 Proses Pembinaan Pegawai

1. Menentukan teknik pembinaan

Menurut Thoha (2012:18), mengambarkan 4 cara mengenai teknik-teknik dalam suatu pembinaan yaitu :

a. Teknik adaftif, teknik pembinan pegawai yang sifatnya relative mudah, flexible misalnya bimbingan dan konseling.

b. Teknik perencanaan, teknik pembinaan ini memberikan pedoman tentang prosedur pembinaan yang sistematik dalam menganalisis lingkungan dan lembaga/organisasi.

c. Teknik sistematif, dan terstruktur, teknik yang berdasarkan pilihan yang rasional mengenai pemecahan masalah dan hambatan dalam membina pegawai.

d. Teknik inkrementalisme logis, merupakan suatu taknik pembinaan yang mempunyai gagasan yang jelas mengenai tujuan lembaga atau organisasi dalam membina pegawainya.

2. Menentukan strategi pembinaan

Menurut Musanef (2013:213), Kepegawaian di Indonesia mengindentifikasikan 5 ciri utama dan strategi pembinaan yaitu :

a. Wawasan waktu, strategi di pergunakan untuk menggambarkan estimasi waktu yang di perlukan untuk melaksanakan kegiatan pembinaan pegawai dan menilai hasil dari pembinaan.

(42)

b. Dampak (imfact), dengan mengikuti suatu strategi pembinaan tertentu,dampak akhirnya akan sangat berarti.

c. Pemusatan upaya (consentration of effort), sebuah strategi yang efektif mengharuskan pusat kegiatan yang menjadi kajian utama pembinaan.

d. Pola Keputusan (pattern decision), keputusan-keputusan harus saling menunjang, artinya antara kebijakan organisasi dengan pembinaan pegawai harus sinkron.

e. Peresapan, suatu strategi mencakup spektrum kegiatan yang luas mulai dari proses alokasi sumber daya sampai dengan kegiatan dalam pelaksanaanya. 3. Materi Pembinaan

Materi pembinaan yang meliputi bagaimana mengalokasikan dalam pelaksanaan suatu kegiatan yang berhubungan dengan prosedur pengambilan keputusan dan cara-cara mengorganisasikannya, sehingga bahan-bahan pembinaan tersebut dapat diinformasikan dalam pelaksanaanya.

Materi Pembinaan diperlukan dalam persiapannya baik dalam bentuk standard atau formulir yang dapat diguunakan untuk menggambarkan hal-hal yang penting daripada kegiatan tersebut.

Menurut Soewarno (2014:133), Materi adalah merupakan standard atau formulir lisan yang digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang penting yang dipraktekkan harus dengan jelas, teliti, yang merupakan catatan informasi dalam benk standard penyampaiannya diatur secara rasional sebagai dokumen informasi. Materi merupakan suatu sumber nilai dan merupakan sumber data setelah diolah menjadi sumber informasi yang kemudian diatur, dinilai, sehingga mudah untuk dijadikan bahan dalam satu kegiatan. Selanjutnya diperlukan adanya sistem

(43)

pencatatan informasi dan penyimpanan (filling and record system) yang sewaktu-waktu dapat digunakann dalam suatu kegiatan berikutnya.

4. Hasil Pembinaan

Hasil Pembinaan adalah kesesuaian dari tujuan dilakukannya pembinaan pegawai terhadap sasaran-sasaran dari pembinaan yang ditentukan oleh adanya perubahan dan perbaikan kedisiplinan, produktufitas kerja, prestasi pegawai yang lebih optimal. Pada suatu deretan, fakta-fakta dan pandangan untuk waktu yang akan datang maka harus menyimpulkan apa yang akan mempengaruhi tujuan dari kegiatan tersebut “Hasil yang akan dicapai”.

3.6 Standard Nilai Prestasi Kerja dan Penilaian Perilaku Kerja

Nilai angka terhadap tingkat capaian Sasaran Kerja Pegawai Pegawai Negeri Sipil dinyatakan dengan sebutan dan angka sebagai berikut :

a. Sangat Baik : 91- ke atas b. Baik : 76-9 c. Cukup : 61-75 d. Kurang : 51-60

e. Buruk : 50-ke bawah

dan adapun penilaian perilaku kerja meliputi aspek: a. Orientasi Pelayanan. b. Integritas. c. Komitmen. d. Disiplin. e. Kerjasama dan

(44)

3.7 Pembinaan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara

Dalam penjelasan UU No. 8 Tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian dinyatakan bahwa “dalam upaya meningkatkan mutu dan keterampilan serta memupuk gairah kerja perlu dilaksanakan pembinaan Pegawai Negeri Sipil dengan sebaik-baiknya, sehingga bakat dan kemampuan yang ada di masing-masing Pegawai Negeri Sipil dapat dikembangkan secara wajar.

Tabel 2.1

Capaian Kinerja Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara

Sasaran Strategis Indikator kinerja Target Realisasi % Capaian

1 2 3 4 5

Meningkatnya program pembinaan

1. Capaian

Rata -rata kumulatif Atas sasaran kerja Pegawai dan Perilaku kerja dari Pegawai ASN 2. Tingkat Kehadiran Pegawai Negeri Sipil 75% 75% 80% 81,66% 85% 88,24%

Capaian indiktor dalam Program Pembinaan adalah = (85% + 88,24%) / 2 = 86,62%

Sumber: BPKAD, 2016-2017

Dari Tabel 2.1 perhitungan total akumulasi pencapaian kinerja di atas maka dapat disimpulkan bahwa capaian pembinaan di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara adalah 86,62%. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara masuk kedalam kategori baik. dikarenakan adanya pelayanan publik yang prima di bidang kepegawaian dengan sasaran meningkatnya pelayanan manajemen aparatur. Oleh sebab itu pembinaan harus

(45)

terus lebih di tingkatkan lagi kedepannya agar meningkatkan mutu, kualitas, dan kepribadian yang lebih baik agar mencapai sasaran yang dituju.

Adapun sarana pembinaan adalah dilakukan diklat Pegawai Negeri Sipil untuk meningkatkan mutu, kualitas, dan kepribadian yang lebih baik agar mencapai sasaran yang dituju. Adapun diklat yang dijadikan sebagai sarana pembinaan Bagi Pegawai Negeri Sipil, yaitu:

Tabel 3.1

Diklat Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara

NO JENIS DIKLAT NAMA DIKLAT JUMLAH SKPD

PESERTA

1. Diklat Teknis Diklat Prajabatan Pembinaan Jiwa Korps, Kode Etik dan

Disiplin Pegawai Negeri Sipil

8

2. Diklat Teknis Diklat Teknis Pengelolaan Aset Daerah Provinsi

Suamtera Utara

8

3. Diklat Prajabatan 1. Diklat Prajabatan Golongan I untuk menjadi

PNS Golongan I 2. Diklat Prajabatan Golongan II untuk menjadi

PNS Golongan II 3. Diklat Prajabatan Golongan III untuk menjadi

PNS Golongan III

9

Sumber: BPKAD, 2016-2017

Dari daftar Tabel 3.1 diatas dapat kita simpulkan sarana pembinaan selama tahun 2016-2017 dilaksanakan diklat untuk meningkatkan mutu, kualitas dan sasaran pencapaian di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Adapun diklat yang dilakukan di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara adalah Diklat Prajabatan Pembinaan Jiwa Korps,

(46)

agar Pegawai Negeri Sipil lebih mengetahui tugas dan tanggung jawabnya sebagai Pegawai Negeri Sipil serta menciptakan kedisiplinan yang baik. Diklat Teknis Pengelolaan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara sebesar 8 peserta, Tujuannya memberi pengetahuaan dan strategi agar Pegawai Negeri Sipil dapat mengelola aset daerah provinsi sumatera dengan baik sehingga menghindari kehilangan/kelalaian dalam pengelolaan Aset. Dan Diklat Prajabatan Golongan 1 untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil Diklat Prajabatan Golongan 2 untuk menjadi Golongan II, Diklat Prajabatan Golongan 3 untuk menjadi Golongan III sebesar 9 peserta, tujuan memberikan apresiasi kepada satuan kerja perangkat dengan kinerja selama ini sehingga kedepannya satuan kerja perangkat daerah lebih baik lagi dalam melaksanakan kinerjanya sehingga terciptanya pelayanan publik yang prima di bidang kepegawaian dengan sasaran meningkatnya pelayanan manajemen aparatur.

Adapun secara garis besar tujuannya diklat dilakukan sebagai Upaya Pengembangan dan Peningkatan kemampuan terhadap Pegawai Negeri Sipil dilakukan agar Pegawai Negeri Sipil dapat melaksanakan tugas jabatan secara operasional dengan didasari kepribadian etika pegawai negeri sipil sesuai dengan kebutuhan instansi, menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa, memantapkan sikap dan semangat kepribadian yang berorientas pada pelayanan, pengayoman, pemberdayaan masyarakat, menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola berpikir dalam melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan demi terwujudnya pemerintahan yang baik.

(47)

3.8 Pengertian Disiplin Pegawai

Menurut Thoha (2012:22), ”Decipline is Management action to enforce

organization standards”. Disiplin kerja adalah pelaksanaan manajemen untuk

memperteguh pedoman-pedoman organisasi. Selain itu Davis (2010) juga mengemukakan beberapa cara atau metode dalam rangka meningkatkan disiplin kerja pegawai atau personil antara lain adalah:

1. Manajemen kepegawaian di lingkungan lembaga pemerintah, dengan pengaturan pengelolaan manajemen sumber daya manusia secara profesional, diharapkan pegawai bekerja secara produktif. Hal ini dimaksudkan agar terwujudnya keseimbangan antara kebutuhan pegawai dengan tuntutan dan kemampuan organisasi/lembaga pemerintah.

2. Pemberian apresiasi terhadap pegawai yang disiplin merupakan kunci terwujudnya tujuan suatu organisasi, karena dengan terwujudnya kedisplinan yang baik berarti pegawai sadar dan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, Menurut Hasibuan (2012:214), indikator-indikator yang mempengaruhi terhadap disiplin, yaitu sebagai berikut: Tujuan dan Kemampuan, Teladan dan Pimpinan, Balas Jasa, Keadilan, Pengawasan Melekat, Sanksi (hukuman), Ketegasan, Hubungan kemanusian.

Dengan ditegakannya disiplin dalam kerja segala sesuatunya akan berjalan secara teratur, tertib, dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang digariskan dan sebagai akibat lebih lanjut dalam monitoring dan pengawasan kerja akan lebih mudah untuk dilaksanakan baik alam jangka panjang maupun sebaiknya serta peningkatan dalam kerja semakin tinggi.

(48)

3.9 Peraturan Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil

Disiplin PNS ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Aturan yang penting untuk di pahami adalah kewajiban dan sangsi yang diterima atas pelanggaran, salah satu pelanggaran mengenai kedisiplinan kerja"bolos" tidak masuk kerja dijelaskan bahwa yang dimaksud jumlah hari bolos kerja adalah akumulasi satu tahun. Terdapat 17 (tujuh belas) kewajiban dan 15 (lima belas) larangan, bentuk disiplin bagi PNS adalah yang mengacu pada PP No. 53 Tahun 2010 yang berisi 17 kewajiban dan 15 larangan.

A. Kewajiban PNS:

1. Mengucapkan sumpah/janji PNS.

2. Mengucapkan sumpah/janji jabatan.

3. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar

Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah.

4. Menaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan.

5. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan

penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab.

6. Menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat PNS.

7. Mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan sendiri,

seseorang, dan/atau golongan.

8. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah

(49)

9. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan

Negara.

10. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal

yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan dan materil.

11. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja.

12. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan.

13. Menggunakan dan memelihara barang- barang milik negara dengan

sebaik-baiknya.

14. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat.

15. Membimbing bawahan dalam melaksankan tugas.

16. Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier.

17. Menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang

berwenang.

B. Larangan PNS:

1. Menyalahgunakan wewenang.

2. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/orang lain

dengan menggunakan kewenangan orang lain.

3. Tanpa izin pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain

dan atau lembaga atau organisasi internasional.

4. Bekerja pada perusahaan, konsultan asing, atau lembaga swadaya

(50)

5. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau

meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau Surat Berharga Milik Negara secara tidak sah.

6. Melakukan kerjasama dengan atasan, teman sejawat, bawahan, atau orang

lain didalam maupun diluar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan Negara.

7. Memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik

secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat dalam jabatan.

8. Menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang

berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya. 9. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya.

10. Melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat

menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehingga nengakibatkan kerugian bagi yang dilayani.

11. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan.

12. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, DPR, DPD

atau DPRD dengan cara :

a. Ikut serta sebagai pelaksana kampanye.

b. Menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau

atribut PNS.

c. Sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain dan atau

(51)

13. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden

dengan cara:

a. Membuat keputusan dan atau tindakan yang menguntungkan atau

merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye dan atau b. Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap

pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat.

14. Memberikan dukungan kepada calon anggota DPD atau calon Kepala

Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat dukungan disertai foto kopi KTP surat keterangan tanda Penduduk sesuai aturan perundang-undangan.

15. Memberikan dukungan kepada Calon Kepala Daerah/Wakil Kepala

Daerah, dengan cara:

a. Terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah.

b. Menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan kampanye.

c. Membuat keputusan dan atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye.Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum,

(52)

ajakan,seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluaraga, dan masyarakat.

1. PNS yang tidak menaati ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4, dijatuhi hukuman disiplin.

2. Peraturan Pemerintah tentang Disiplin PNS tidak mengesampingkan Peraturan Perundang-undangan Pidana.

3. Mengatur secara tegas jenis hukuman disiplin atas pelanggaran terhadap kewajiban dan larangan.

4. Untuk pelanggaran tertentu dengan memperhatikan dampak pelanggaran pada unit kerja, instansi, dan pemerintah/Negara. 5. Mengatur hukuman disiplin, bagi PNS yang tidak masuk kerja dan

tidak menaati ketentuan jam kerja tanpa alasan yang sah.

6. Mengatur Pejabat yang berwenang menghukum, mulai dari : Presiden, Pejabat Instansi Pusat, Kepala Perwakilan RI, Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi s/d Pejabat Struktural Eselon IV, Gubernur sebagai Wakil Pemerintah, Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota s/d Pejabat Struktural Eselon IV.

7. Tidak perlu membuat Keputusan Pejabat Pembina Kepegawaian untuk pendelegasian wewenang dalam penjatuhan hukuman disiplin, karena PP No. 53 Tahun 2010 telah mendelegasikan kepada semua pejabat struktural.

8. Pejabat yang berwenang menghukum wajib menjatuhkan hukuma disiplin kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin.

(53)

9. Apabila Pejabat yang berwenang menghukum tidak menjatuhkan hukuman disiplin kepada PNS yang melanggar disiplin, maka pejabat tersebut dijatuhi hukuman disiplin oleh pejabat

atasannya sama dengan hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada bawahannya.

10. Pemanggilan dan Pemeriksaan.

3.10 Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil Pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara

Tabel 4.1

Tingkat Disiplin Pegawai Negeri Sipil 2016-2017 Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah

Provinsi Sumatera Utara BULAN 2016 - 2017 JUMLAH HARI EFEKTIF JUMLAH PEGAWAI

ABSENSI HADIR TIDAK

HADIR S I A C % % JULI 21 31 1 2 99,52 0,48 AGUSTUS 20 31 1 7 1 98,23 1,45 SEPTEMBER 20 31 9 98,55 1,45 OKTOBER 21 31 3 2 99,24 0,76 NOVEMBER 21 31 2 2 99,39 0,61 DESEMBER 22 31 2 1 3 99,13 0,87 JANUARI 20 30 8 1 98,87 1,5 FEBRUARI 19 30 1 1 99,65 0,35 MARET 22 31 2 3 99,27 0,73 APRIL 21 31 8 1 98,62 1,38 MEI 19 31 2 2 2 98,96 1,01 JUNI 22 31 2 6 98,83 1,17 Sumber: BPKAD, 2016-2017

Dari Tabel 4.1 di atas dapat kita lihat rata-rata tingkat absensi selama Juli 2016-Juni 2017 dengan hari efektif 19-22 hari total absensi Pegawai Negeri Sipil

(54)

Tabel 1.1 sebelumnya dengan data tabel diatas mengalami penurunan data absen pegawai hal itu disebabkan oleh adanya pembinaan kedisiplinan yang dilakukan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara agar mengurangi banyak pelanggaran yang terjadi terhadap kedisiplinan pegawai terhadap absensi Pegawai. Dengan adanya pembinaan kedisiplinan agar terwujudnya pelayanan publik yang prima di bidang kepegawaian dengan sasaran meningkatnya pelayanan manajemen aparatur dan meningkatnya pencapaian kinerja.

Pembinaan dan Kedisiplinan menjadi satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan serta sangat penting menjadi modal dalam pencapaian kinerja. Oleh sebab itu kedisiplinan harus terus di tingkatkan, tanpa adanya pembinaan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil maka akan sukar bagi organisasi pemerintahan untuk mewujudkan tujuannya, oleh karena itu pembinaan kedisiplinan adalah kunci keberhasilan suatu organisasi pemerintahan dalam mencapai tujuannya.

3.11 Hukuman Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil

Selanjutnya mengenai tingkat dan hukuman kedisiplinan Pegawai Negri Sipil di jelaskan pada pasal 5, sebagai berikut

1. Tingkat hukuman terdiri dari a. Hukuman disiplin ringan. b. Hukuman disiplin sedang. c. Hukuman disiplin berat. 2. Jenis hukuman ringan terdiri dari

a. Teguran lisan. b. Teguran tertulis, dan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :