DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian...

Teks penuh

(1)

vi DAFTAR ISI Halaman RIWAYAT HIDUP ... i ABSTRAK ... ii ABSTRACT ... iii KATA PENGANTAR ... v DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... x BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 4 1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Ayam Pedaging ... 5

2.2 Struktur Histologi Duodenum ... 5

2.3 Asam Organik dan Asam Anorganik ... 7

2.4 Kerangka Konsep ... 11

2.4 Hipotesis ... 13

BAB III MATERI DAN METODE ... 14

3.1 Sampel Penelitian ... 14 3.2 Bahan Penelitian... 14 3.3 Alat Penelitian ... 14 3.4 Rancangan Penelitian ... 14 3.5 Variabel Penelitian ... 15 3.5.1 Variabel bebas ... 15 3.5.2 Variabel terikat ... 15 3.5.3 Variabel kendali ... 16

3.6 Cara Pengumpulan Data ... 16

3.7 Prosedur Penelitian... 16

3.7.1 Pemberian Orgacids® ... 16

3.7.2 Pembuataan preparat histologi ... 16

3.7.3 Prosedur pewarnaan hematoksilin-eosin ... 17

3.7.4 Pemeriksaan histomorfometri ... 17

3.8 Analisis Data ... 17

(2)

vii

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18

4.1 Pengamatan Tebal Tunika Mukosa dan Tunika Muskularis ... 18

4.2 Pembahasan ... 21

4.3 Pengujian Hipotesis ... 24

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 25

5.1 Simpulan ... 25

5.2 Saran ... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 26

(3)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

(4)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Anatomi Histologi Duodenum ... 7 2.2 Sistem Kerja Rumus Asam Organik ... 9 2.2 PH pada Ayam Pedaging yang diberi Orgacids® ... 11 4.1 Tebal Tunika Mukosa Duodenum dengan Pewarnaan HE

(Pembesaran 50X)19………. 19 4.2 Tebal Tunika Muskularis Duodenum dengan Pewarnaan HE

(Pembesaran50X)………. 20 4.3 Gambaran Kualitatif Histologi Duodenum ... 20

(5)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Hasil Rataan Tebal Tunika Mukosa Duodenum Ayam Pedaging dengan

Pembesaran 50 X... 30

2. Hasil Rataan Tebal Tunika Muskularis Duodenum Ayam Pedaging dengan Pembesaran 50 X ... 31

3. Hasil analisis deskriptif ... 32

4. Hasil uji ragam satu arah/one way anova ... 33

5. Hasil uji duncan ... 34

(6)

ii ABSTRAK

Ayam pedaging merupakan galur ayam hasil rekayasa teknologi yang memiliki ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, masa panen pendek dan penghasil daging berserat lunak, timbunan daging baik, dada besar dan berkulit licin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi asam organik dan asam anorganik sebagai bahan acidifier pada pakan terhadap histomorfometri duodenum ayam pedaging. Penelitian ini menggunakan 24 ekor ayam pedaging berjenis kelamin betina yang di bagi menjadi 4 kelompok dengan 6 ulangan setiap, pada (P0) sebagai kontrol, (P1) 3 gr/kg pakan, (P2) 6 gr/kg pakan dan (P3) 9gr/kg pakan . Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata histomorfometri tunika mukosa duodenum pada kontrol (P0) 996,51µm, (P1) 1,040,01 µm, (P2) 1,285,27µm, (P3) 1,114,22µm. P2 lebih tebal dari pada P3 dan P1, P3 lebih tebal dari pada P1 dan P0 dan P1 lebih tebal dari pada P0. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata histomorfometri tunika muskularis duodenum pada kontrol (P0) 95,345µm, (P1) 93,691µm, (P2) 119,418µm, (P3) 95,464µm. P2 lebih tebal dari pada P3 dan P1, P3 lebih tebal dari P1 dan Kontrol dan P0 lebih tebal dari pada P1. Hasil penelitian ini menunjukan pemberian asam organik dan anorganik (OrgacidsR) sebagai acidifier dengan dosis 6 gr/kg pakan dapat meningkatkan produksi pada ayam pedaging

Kata Kunci : Histomorfometri, Tunika Mukosa, Tunika Muskularis, Duodenum, Ayam Pedaging, Acidifier, Asam Organik dan Anorganik

(7)

iii ABSTRACT

Broiler is a chicken strains engineered technology that has the characteristic of rapid growth as a producer of meat , the harvest period is short and soft fibrous meat producer , heaps of meat is good , big breasts and smooth skin . This study aimed to determine the effect of a combination of organic acids and inorganic acids as acidifiers on feed material to the duodenum histomorfometri broiler . This study used 24 male broilers a female were divided into 4 groups with 6 replicates each , on ( P0 ) as a control , ( P1 ) 3 g / kg of feed , ( P2 ) 6 g / kg of feed and ( P3 ) 9gr / kg feed . The results showed that the average histomorfometri the tunica mucosa of the duodenum in control ( P0 ) 996,51μm , ( P1 ) 1,040,01 μm , ( P2 ) 1,285,27μm , ( P3 ) 1,114,22μm . P2 is thicker than the P3 and P1 , P3 thicker than the P1 and P0 and P1 are thicker than at P0. The results showed that the average histomorfometri tunica muscularis duodenum in control ( P0 ) 95,345μm , ( P1 ) 93,691μm , ( P2 ) 119,418μm , ( P3 ) 95,464μm . P2 is thicker than the P3 and P1 , P3 thicker than P1 and P0 Control and thicker than P1 . These results indicate the provision of organic and inorganic acids ( OrgacidsR ) as acidifier at a dose of 6 g / kg of feed to increase production in broilers.

Keywords : Histomorfometri , tunica mucosa , tunica muscularis , duodenum , Broiler , Acidifiers , Organic and Inorganic Acids

(8)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ayam pedaging merupakan galur ayam hasil rekaya teknologi yang memiliki ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, masa panen pendek dan penghasil daging berserat lunak, timbunan daging baik, dada besar dan berkulit licin. Usaha ternak ayam pedaging, sejak tahun 1998 semakin menonjol perannya dalam mempersempit kesenjangan terhadap meningkatnya kebutuhan akan daging. Daging ayam pedaging dipilih sebagai salah satu alternatif, karena kita tahu bahwa ayam pedaging sangat efisien diproduksi. Ayam pedaging secara genetik dirancang untuk bertumbuh dengan cepat, namun untuk mendukung pertumbuhan yang cepat diperlukan nutrisi yang berimbang terutama kebutuhan protein yang cukup tinggi ( Rasyaf, 2010). Berdasarkan umur ayam pedaging dibagi menjadi 2 fase yaitu fase starter (1- 28 hari) dan fase finisher (29- panen) ( Ardana, 2012).

Problema yang terjadi pada ayam pedaging modern saat ini dari tahun ke tahun mutu genetik yang mengalami perbaikan tetapi tidak diikuti dengan perubahan manejemen pemeliharaan. Sedangkan dalam manejemen pemeliharaan ada 3 hal penting yang harus diperhatikan yaitu bibit, pakan dan manajemen. Namun oleh praktisi telah ditemukan cara menyiasati dampak negatif yang timbul dilapangan dengan langkah-langkah nyata yang meliputi: persiapan kandang, manajemen pemanasan, manajemen pakan, manajemen liter dan manajemen pengendalian penyakit sedangkan bibit yang harus dipilih peternak haruslah sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk dan berbentuk bulat, buluh bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta anus bersih (Ahira, 2010), Pakan yang baik adalah pakan yang terdiri dari makromolekul yang terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein dan mikromolekul yang terdiri dari vitamin dan mineral (Ardana, 2012).

(9)

2

Penggunaan imbuhan pakan (feed additive) merupakan bahan pahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak melalui pencampuran pakan ternak. Bahan tersebut merupakan pakan pelengkap yang bukan zat makanan. Penambahan feed additive dalam pakan bertujuan untuk mendapatkan pertumubuhan ternak yang optimal (Wahju, 2004). Feed additive digolongkan menjadi 2 macam, yaitu

nutrive feed additive dan non nutrive feed additive (Ravidran, 2012). Imbuhan pakan yang sering di pakai selama ini adalah antibiotik yang berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan agar dapat meningkatkan performan dan efisiensi pakan. Penggunaan antibiotik pada ternak di beberapa negara di Eropa seperti golongan Virgiamycin, Avopracin, Tylosin dan Spirimacyn sudah dilarang karena adanya residu pada hasil ternak yang membahayakan konsumen (Barton dan Hart, 2001). Sehingga perlu dicari imbuhan pakan pengganti antibiotik yang pemakainnya aman untuk dikonsumsi.

Usus akan menerima makanan yang telah mengalami pencernaan mekanik di rempela. Usus terdiri dari beberapa bagian yang dimulai dari duodenum yaitu usus halus di bagian depan dan berakhir di usus besar di bagian paling belakang. Usus halus berperan dalam proses penyerapan zat-zat makanan. Selain itu juga merupakan tempat terjadinya pencernaan makanan secara enzimatis. Luas permukaan usus dapat meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah villi usus yang berfungsi untuk penyerapan zat-zat makanan (Frandson, 1992). Pada usus halus terjadi gerakan peristaltik yang berperan dalam mencampur digesta dengan cairan pankreas dan empedu.

Histologi usus halus banyak di tandai dengan banyak penjuluran dari mukosa dan menonjol kepermukaan lumen yang disebut villi. Adanya villi membuat mukosa menjadi lebih efektif. Pada dasarnya villi merupakan modifikasi dari permukaan mukosa. Pada duodenum villi berbentuk seperti daun, diantara villi terdapat muara kecil dari kelenjar tubular simplek yang di sebut kripte Lieberkuhn atau kelenjar intestinal. Struktur yang juga terlihat pada duodenum yaitu plika sirkularis yang merupakan lipatan-lipatan mukosa yang sangat khas pada duodenum. Duodenum terdiri dari empat lapisan yaitu Serosa, tunika muskularis, tunika sub mukosa, tunika mukosa.

(10)

3

Mikroflora yang ada pada saluran pencernaan pada umumnya seimbang antara yang pathogen dan non pathogen, namun seiring dengan kondisi pertumbuhan tubuh yang turun naik dan juga faktor kontak lingkungan yang tidak kondusif maka pertumbuhan mikroflora pathogen dan non pathogen bisa terganggu (Havenaar dan Veld, 1992). Mikroflora pathogen dapat mempengaruhi pertumbuhan saluran cerna sehingga dapat mengganggu optimalnya produksi (Abun, 2008)

Acidifier merupakan asam organik yang bermanfaat dalam preservasi dan memproteksi pakan dari perusakan oleh mikrobia dan fungi namun juga berdampak langsung terhadap mekanisme perbaikan kecernaan. Acidifier

membuat suasana asam dalam usus halus sehingga menghasilkan kondisi ideal pertumbuhan Lactobacillus dan mikroba non patogen lainya serta mengahambat perkembangan Escrericia coli, Salmonella dan mikroba patogen lain. Penambahan asam organik (acidifier) pada air minum atau pakan ayam pedaging terbukti mampu meningkatkan penyerapan dengan meningkatkan fungsi dari enzim pencernaan yang berpengaruh terhadap peningkatan pencernaan dan penyerapan terutama serat dan protein (Attapatu and Nellisgaswatta, 2005; Abdel-Fattah et al., 2008).

Belum diketahui dengan pasti apakah pemberian kombinasi asam organik dan asam anorganik dapat berpengaruh positif terhadap sturktur histomorfometri organ duodenum tersebut karena masalah ini kurang mendapat perhatian dari para peternak ayam pedaging. Oleh karena itu penelitian mengenai dampak pemberian asam organik dan asam anorganik terhadap histomofomentri organ duodenum ayam pedaging perlu dilakukan. Mengingat penelitian ini belum pernah dilakukan, maka penelitian ini diharapkan memberikan hasil yang optimal untuk meningkatkan produktifitas dari para peternak ayam pedaging.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Apakah pemberian asam organik dan asam anorganik (Orgacids®) sebagai

acidifier mempengaruhi ketebalan tunika mukosa duodenum ayam pedaging

(11)

4

2. Apakah pemberian asam organik dan asam anorganik (Orgacids®) sebagai

acidifier mempengaruhi ketebalan tunika muskularis duodenum ayam pedaging

3. Apakah pemberian asam organik dan asam anorganik (Orgacids®) sebagai

acidifier mempengaruhi struktur histologis duodenum ayam pedaging 1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Efektivitas berbagai dosis asam organik dan asam anorganik (Orgacids®) sebagai acidifier pada pakan terhadap ketebalan tunika mukosa duodenum ayam pedaging.

2. Efektivitas berbagai dosis asam organik dan asam anorganik (Orgacids®) sebagai acidifier pada pakan terhadap ketebalan tunika muskularis duodenum ayam pedaging.

3. Efektivitas asam organik dan asam anorganik (Orgacids®) sebagai

acidifier terhadap struktur histologis duodenum ayam pedaging 1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada para peternak dan perusahan-perusahan pakan hewan tentang pengaruh pemberian kombinasi asam organik dan asam anorganik terhadap histomorfometri duodenum ayam pedaging yang akan mempengaruhi produktivitas ternak itu sendiri.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :