Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

Ther Melian: Chronicle © 2016 Shienny M.S.

Art copyright © 2016 Shienny M. S. Cover art copyright © 2016 Ellie Goh

Editor: Desy Natalia

ID 716031487

ISBN 978-602-02-9207-6 Cetakan Pertama : Agustus 2016 Cetakan Kedua : September 2016 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Diterbitkan pertama kali tahun 2011 Diterbitkan ulang dengan revisi tahun 2016 oleh PT Elex Media Komputindo,

Kelompok Kompas Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Dicetak oleh Percetakan Gramedia, Jakarta

(5)

Untuk seluruh pembaca setia Ther Melian,

kupersembahkan buku ini untuk kalian.

(6)

Chronicle:

Vrey dan Valadin

V

rey memang seorang gadis kecil berusia tiga belas tahun. Tapi gadis belia itu sama sekali tidak menunjukkan ke­ khawatiran—apalagi ketakutan—walau saat ini tengah meng­ endap­endap di tengah malam buta tanpa berbekal penerangan apa pun.

Dia berada di Hutan Telssier, kawasan hutan yang dikuasai Bangsa Elvar. Manusia penduduk kota Mildryd tidak berani mendekati hutan itu. Tapi Vrey berbeda, dia seorang Vier­Elv; setengah Elvar setengah Manusia. Vrey memiliki pendengaran dan penglihatan setajam rubah, seperti layaknya Elvar berdarah murni.

Vrey memegangi perutnya yang keroncongan, dia belum makan sejak siang. Gill—pemimpin komplotannya—tidak memberinya jatah makan hari ini. Sudah seminggu Vrey tidak mendapat buruan. Sebagai salah satu pencuri yang tinggal di rumah Gill, peraturannya sangat jelas: tidak ada makanan bagi yang tidak bekerja. Malam ini Vrey harus menangkap sesuatu, kalau tidak besok dia akan kelaparan lagi.

Biasanya Vrey tidak pernah sendirian. Teman­temannya Rufius, Blaire, dan Clyde, selalu menemaninya berburu. Tapi hari ini mereka ke luar kota. Gill mengutus mereka untuk mengirim pesanan kepada para kolektor dan penadah di kota­ kota sekitar.

(7)

2 3 Vrey menunggu dengan napas tertahan saat mendengar suara

dari kerumunan pohon jati. Berbagai makhluk bisa muncul dari balik pepohonan, dan Vrey bersiap untuk segala kemungkinan. Kalau dia beruntung, seekor Shadhavar jantan yang diincarnya. Kalau nasibnya kurang baik, seekor Daemon atau lebih parah, prajurit Elvar.

Sesosok makhluk setinggi anak kecil melangkah keluar dari balik pepohonan, cahaya perak bulan purnama menyinari bulu keemasannya. Angin memainkan alunan musik lembut saat bertiup melewati rongga di tanduk makhluk itu. Shadhavar yang dinanti ­nantikan Vrey akhirnya muncul.

Mendadak, hewan itu berhenti melangkah seolah ada sesuatu yang mengejutkannya. Secepat kemunculannya, dia melompati semak­semak dan menghilang kembali ke dalam hutan. Vrey segera menyadari penyebabnya, kehadiran sepasang Elvar dari sisi hutan yang berlawanan. Seluruh tubuh Vrey menegang, dia sampai tidak berani bernapas, khawatir kehadirannya disadari kedua Elvar itu.

Salah satu Elvar—seorang wanita berambut kuning jagung yang tergerai hingga ke pinggul—menemukan umpan yang disiapkan Vrey di tengah tanah terbuka. Dia menggeram kesal, lalu menghantamkan tongkat putih panjang yang dibawanya ke jebakan itu.

Elvar satunya adalah pria berambut keemasan yang menge­ nakan zirah mengilap, sebilah pedang berkilauan tersemat di ikat pinggangnya. Dia berdiri di tengah tanah terbuka, sosoknya yang tegap tampak menawan di bawah sinar bulan. Dia mengawasi keadaan di sekitarnya dengan sepasang bola matanya yang sewarna emas.

Untuk sepersekian detik, Vrey merasa jantungnya berdegup kencang kala melihat pria itu. Ada sesuatu dari paras dan sorot matanya yang anggun, yang membuat Vrey tidak bisa

(8)

2 3 mengabaikan Elvar itu begitu saja. Tapi, pengalaman hidupnya sebagai pencuri selama beberapa tahun telah mengajarkan sesuatu pada Vrey.

Jangan pernah kehilangan kewaspadaan di hadapan Elvar!

Vrey mengalihkan perhatiannya dari pria itu, berkonsentrasi untuk menyembunyikan keberadaannya. Keadaan seperti itu berlangsung selama beberapa menit. Vrey merasa dadanya sesak karena harus bernapas dengan sangat pelan. Untunglah sang Elvar pria segera mengakhiri pencariannya. Dia membantu teman wanitanya membersihkan jebakan jala dan umpan tebu di tanah, kemudian kembali ke arah pepohonan.

Vrey lega luar biasa. Dia lumayan kesal karena umpan dan jebakan yang susah payah dibawanya dari Mildryd diambil mereka. Tapi keadaan bisa lebih buruk, mereka bisa saja menangkapnya.

Untuk sesaat, Vrey termenung. Dia kehilangan umpan dan jebakannya. Tapi dia tidak bisa pulang ke Mildryd dengan tangan kosong, Gill bisa menghajarnya. Saat ini, dia hanya membawa sebuah belati. Vrey tidak yakin dia mampu melumpuhkan seekor Shadhavar hanya dengan belatinya.

Sebuah suara berat tiba­tiba terdengar dari belakangnya. “Halo, gadis kecil.”

Vrey terkesiap, dia berbalik secepat kilat. Jantungnya hampir melompat keluar saat menyadari Elvar pria tadi sudah berdiri tepat di belakangnya. Pedangnya yang berkilauan terhunus, pria itu tersenyum sinis. “Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan mencoba melawan,” ujarnya.

Tapi Vrey tidak peduli. Dia mengayunkan belatinya untuk menepis pedang itu, tindakan yang justru mengakibatkan belatinya patah. Vrey terbelalak, sementara pria di depannya tersenyum senang. Vrey buru­buru melompat ke belakang, berdiri di tengah tanah terbuka sekarang.

(9)

4 5 Sang Elvar melangkahkan kakinya dengan ringan menuju

tempat Vrey. Dengan senyum angkuh dan pandangan merendahkan, dia mengamati Vrey bagai pemangsa mengamati buruannya.

Vrey terus melangkah mundur hingga cahaya bulan keperakan menyinari dirinya. Mendadak sang Elvar menghentikan lang­ kahnya. Seolah membeku, dia menatap Vrey lekat­ lekat.

Vrey balas menatapnya. Dia memang ketakutan, tapi dia tidak berniat menunjukkannya. “Kau nggak akan menangkapku hidup­ hidup! Aku akan melawan sampai mati kalau perlu,” tantang Vrey ketus.

Tapi Elvar di depannya tidak menjawab, dia bergeming dan terus menatap Vrey.

Vrey bertanya sekali lagi. “Jadi? Apa kau berniat membunuhku di sini?”

“Tidak,” jawabnya pelan. Suaranya terdengar tenang walau­ pun ada sedikit getaran aneh dalam nada bicaranya. “Aku hanya ingin bertanya padamu,” tambahnya.

“Tentang apa?” balas Vrey ketus. “Beri tahu aku namamu?” “Vrey!”

“Vrey, apakah ayahmu seorang Elvar bernama Reuven?” Vrey terkesiap. Dia menduga Elvar itu akan menginterogasi­ nya tentang komplotannya di Mildryd. “Entahlah,” Vrey meng­ geleng. “Aku nggak pernah bertemu dengannya.”

“Kalau begitu ibumu, apakah dia Manusia bernama Lyra?” tanya pria itu lagi.

Jantung Vrey berdegup semakin kencang saat mendengar sang Elvar menyebut nama wanita yang mungkin adalah nama ibunya. “Aku nggak tahu, sejak kecil aku dibesarkan kakekku. Apa kau mengenal mereka, ayah dan ibuku?” tanya Vrey ragu. Vrey tidak pernah mengetahui apa­ apa tentang orangtua

(10)

4 5 kandungnya. Kakeknya meninggal saat dia masih berusia lima tahun, setelah itu Gill menampungnya.

Sang Elvar mengangkat bahu. “Aku tidak yakin apa kau adalah putri mereka. Tapi wajahmu mirip sekali dengan Lourd Reuven. Usiamu juga sesuai, terlalu mustahil kalau hanya kebetulan,” jawabnya, tidak mengalihkan perhatiannya dari Vrey.

Lalu tiba­tiba dia menyarungkan pedangnya. “Aku Valadin Illiyara,” katanya. “Kau tidak berdarah murni, jadi kurasa kau boleh memanggilku Valadin. Lourd Reuven adalah sahabat baikku, dia sudah seperti kakak bagiku. Dia menghilang lima belas tahun yang lalu untuk menikah dengan Manusia, tapi aku tidak akan pernah melupakan wajahnya.”

Vrey merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Baru kali ini dia mendengar dan mengetahui begitu banyak tentang orangtua kandungnya. Dia bahkan hampir lupa Valadin tadi bermaksud menangkapnya, Vrey berjalan menghampirinya. “Apa kau benar­benar yakin, temanmu yang bernama Reuven itu ayahku?” tanyanya.

“Melihat kemiripan wajah kalian, aku ingin sekali menjawab iya,” jawab Valadin lembut. “Tapi aku harus memastikannya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaanmu. Aku tidak akan menangkapmu kali ini, pulanglah, dan jangan datang lagi ke hutan ini.”

“Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentang orangtuaku,” bantah Vrey. “Siapa mereka? Kenapa mereka meninggalkanku? Apa mereka masih hidup? Kau harus menceritakan tentang mereka padaku!”

“Mungkin malam ini bukan waktu yang tepat,” kata Valadin bijaksana. “Banyak dari pertanyaanmu yang aku sendiri tidak tahu jawabannya. Aku akan mencari tahu tentang mereka semampuku, setelah itu kita akan bicara lagi.”

(11)
(12)

Penulis cerita, ilustrator, komik us,

sekaligus desainer. Telah menulis

delapan judul komik dengan nama

‘Calista’, dan merupakan salah satu

penulis laris Elex Media. Pada ta­

hun 2011 serial fantasinya Tetralogi

Ther Melian diterbitkan dan disusul

de ngan dua novel spin off serta se­

rial web komik “TM Academy” yang

masih berlanjut hingga saat ini.

Tentang Penulis

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :