SKRIPSI SINERGITAS PEMERINTAH DAERAH DENGAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA TANJUNG PALETTE KECAMATAN TANETE RIATTANG TIMUR KABUPATEN BONE

113 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

SINERGITAS PEMERINTAH DAERAH DENGAN

MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA

TANJUNG PALETTE KECAMATAN TANETE RIATTANG

TIMUR KABUPATEN BONE

Disusun dan di usulkan oleh: ELI REZKIANA

Nomor Induk Mahasiswa : 10564 02156 15

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

SINERGITAS PEMERINTAH DAERAH DENGAN MASYRAKAT DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA TANJUNG PALETTE KECAMATAN

TANETE RIATTANG TIMUR KABUPATEN BONE

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan Oleh ELI REZKIANA

Nomor Induk Mahasiswa : 105640 2156 15

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertandatangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Eli Rezkiana Nomor Stambuk : 105640215615 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah di tulis/dipublikasikan oleh orang lain atau plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai dengan aturan yang berlaku.

Makassar, 05 Februari 2020 Yang menyatakan

(6)

ABSTRAK

ELI REZKIANA. 2019 Sinergitas Pemerintah Daerah Dengan Masyarakat Dalam Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone. (dibimbing oleh Nuryanti Mustari dan Ahmad Harakan)

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Sinergitas Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kabupaten Bone dan untuk mengetahui apa faktor pendukung dan penghambat pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kabupaten Bone. Tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, yaitu pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti dan wawancara dimana peneliti mengadakan wawancara langsung dengan informan yang sehubungan dengan masalah yang diteliti serta ditunjang oleh data sekunder.

Hasil penelitian menunjukan bahwa Sinegritas Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam Pengelolaan Parawisata Tanjung Palette Kabupaten Bone sudah berjalan dengan baik dan berkemajuan dengan menggunakan prinsip-prinsip sinegritas yaitu Partisipasi, Efisiensi, Efektivitas, Konsensus, serta faktor pendukung dan penghambat Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam Pengelolaan Parawisata Tanjung Palette Kabupaten Bone. Faktor Pendukung: adanya pertumbuhan perekonomian masyarakat dan Kesadaran masyarakat akan pariwisata yang sudah bagus. Faktor Penghambat: pertama, sarana dan prasarana yang ada sebagian sudah tidak berfungsi atau rusak seperti penginapan yang tidak dilengkapi dengan fasilitas serta jalan yang kurang baik. Kedua, kerusakan lingkungan.

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena limpahan Rahmat dan Karunia-Nya skripsi yang berjudul “Sinergitas Pemerintah Daerah Dengan Masyarakat Dalam Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kabupaten Bone” dapat diselesaikan. Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Merupakan suatu nikmat yang tiada ternilai dalam pelaksanaan penelitian skripsi yang telah dilakukan oleh penulis, walau sedikit mengalami kesulitan dan hambatan, namun berkat kerja keras penulis dan adanya bimbingan dan bantuan dari beberapa pihak akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Skripsi yang penulis buat ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis bapak PADU dan ibu HASNA yang senantiasa memberi harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus tampa pamrih. Dan saudara-saudarku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat hingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.

(8)

Penulis menyadari bahwa penyusunan Skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada :

1. Ibu Dr. Nuryanti Mustari, S.IP., M.Si selaku pembimbing I yang telah sabar dan tak kenal lelah dalam membimbing penulis selama proses penyelesaian skripsi ini.

2. Bapak Ahmad Harakan, S.IP., selaku pembimbing II yang tak kenal lelah membimbing dan mendorong penulis untuk menyelesaiakn skripsi ini.

3. Bapak Dr. H. Abd Rahman Rahim, SE.,MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Ibu Nuryanti Mustari, S.Ip.,M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan

6. Bapak Ahmad Harakan, S.IP., M.H.I selaku sekertaris Jurusan Ilmu Pemerintahan

7. Bapak/ibu dan asisten Dosen Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.

8. Seluruh civitas akademik Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar

(9)

9. Dinas pariwisata Kabupaten Bone dan pengelola pariwisata Tanjung Palette Kabupaten Bone yang bekerja sama selama penulis melakukan penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

10. Kakak saya tercinta Bakhtiar Padu yang selalu memberikan support, ,mendoakan dan membantu penulis selama kuliah.

11. Keluarga besar Himpunan Jurusan Ilmu Pemerintahan yang senantiasa mendukung membrikan seangat dan suport dalam penyelesaian skripsi ini. 12. Seluruh saudara angkatan 2015 khusus kelas VIII.B & VIII.C Ilmu

Pemerintahan tak terkecuali teman-teman kost pondok al-asgar, teman-teman KKP angkatan ke-XVII Fisipol Unismuh Makassar yang telah menjadi keluarga bagi penulis.

13. Keluarga besar Kepmi Bone, Komisariat Taro Ada Taro Gau, DPC Patimpeng yang senantiasa mendukung membrikan seangat dan suport dalam penyelesaian skripsi ini.

14. Yang selalu menemani dari awal semester Risman, Sumartini, Nur afni ramli dan teman-teman yang tidak bisa saya sebut namanya satu-satu.

Terlalu banyak orang yang berjasa dan mempunyai andil kepada penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar, sehingga tidak akan muat bila dicantumkan dan dituturkan semuanya dalam ruang yang terbatas ini, kepada mereka semua tanpa terkecuali penulis ucapkan terima kasih yang teramat dalam dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

(10)

Akhirnya tak ada gading yang tak retak, tak ada ilmu yang memiliki kebenaran mutlak, tak ada kekuatan dan kesempurnaan, semuanya hanya milik Allah SWT, karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun guna penyempurnaan dan perbaikan skripsi ini senantiasa dinantikan dengan penuh keterbukaan.

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Makassar, 22 Mei 2019

(11)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Halaman Persetujuan ... ii

Halaman Penerimaan Tim ... iii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv

Abstrak ... v Kata Pengantar ... vi Daftar Isi... x Daftar Tabel ... ix BAB I PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 5 C. Tujuan Penelitian ... 5 D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... A. Konsep Sinergitas ... 7

B. Konsep Pemerintah Daerah ... 12

C. Konsep pengelolaan Pariwisata ... 17

D. Kerangka Fikir ... 20

E. Fokus Penelitian ... 21

F. Deskripsi Fokus Penelitian... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... A. Waktu dan LokasiPenelitian ... 23

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 23

C. Sumber Data... 24

D. Informan Penelitian ... 24

E. Teknik Pengumpulan Data ... 26

(12)

G. Pengabsahan Data ... 28 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...

A. Deskripsi dan Karasteristik Pariwisata ... 30 B. Sinergitas Pemerintah Daerah Dengan Masyarakat Dalam Pengelolaan

Pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupeten Bone ... 40 C. Faktor pendukung dan penghambat Pemerintah Daerah Dengan Masyarakat

Dalam Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupeten Bone ... 41 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...

A. Kesimpulan ... 70 B. Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN ...

(13)
(14)

DAFTAR TABEL Tabel 3.1 ... Tabel 4.2 ... Tabel 4.3 ... Tabel 4.4 ... Tabel 4.5 ... Tabel 4.6 ... Tabel 4.7 ... Tebel 4.8 ... BAB 1

(15)

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Pariwisata adalah salah satu sumber devisa negara yang potensial dan berandil besar dalam meningkatkan perekonomian suatu Negara. Wilayah Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa menjadikan Indonesia memilik iklim yang memunculkan beraneka ragam flora dan fauna yang mempesona para wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

Keadaan geografis Indonesia yang berupa hutan hujan tropis, gunung, pantai, dan juga lautan serta keanekaragaman budaya yang merupakan modal dasar yang sangat potensial untuk di jadikan Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang terkenal di dunia. Di Indonesia sektor pariwisata merupakan hal yang sangat mudah dikembangkan dengan melakukan perbaikan infrastruktur, keamanan dan managemen yang baik agar mampu menciptakan sektor pariwisata yang diminati wisatawan baik lokal maupun manca negara dengan kepuasan yang baik. Dalam hal ini akan menciptakan dampak positif terhadap masyarakat dan Negara.

Peningkatan sektor pariwisata juga mampu menggalakkan kegitan ekonomi, seperti lapangan kerja, pendapatan masyarakat, pendapatan daerah dan devisa negara dapat meningkat melalui upaya pengembangan potensi-potensi pariwisata merupakan salah satu terobosan untuk meningkatkan pendapatan daerah serta Negara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Tahun 2010, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dari 20 pintu masuk, sejumlah 7 juta jiwa (naik

(16)

sekitar 10,74 % dibandingkan tahun sebelumnya), dengan rata-rata tinggal selama 7-8 hari dan rata-rata pengeluaran sejumlah kurang lebih 995 US$ (tahun 2009). Data ini menunjukkan bahwa dalam perspektif pembangunan nasional, sektor pariwisata memiliki kontribusi bermakna bagi peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB), terutama bila dikaitkan dengan Sektor Perhotelan Dan Restoran.

Pemerintah Indonesia telah menyadari betapa pentingnya pariwisata lokal dalam upaya membantu meningkatkan pertumbuhan ekonimi di Indonesia. Sebagaimana yang dijelaskan dalam UU Nomor 10 Tahun 2009 pasal 4, pembangunan kepariwisataan Nasional bertujuan untuk menungkatakan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejatraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tahan air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, dan mempererat persahabatan antar bangsa.

Kebijakan pemerintah daerah dalam hal pembangunan pariwisata sangat urgen peranannya, terutama dalam hal menunjang keberhasilan pembangunan pariwisata nasional. Perkembangan dan pertumbuhan pariwisata perlu diperhatiakan agar perkembangannya sesuai dengan jalur dan dukungannya. Disamping itu prinsip yang harus diperhtikan dalam hal pengembangan dan pengelolaan pariwisata ialah pemberdayaan masyarakat setempat dan menjamin keterpaduan antar sektor, antar daerah, anatara pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah, serta keterpaduan anatar pemengku kepentingan. Hal ini

(17)

tercantum dalam pasal 5 Undang-undang Nomor 10 tahun 2009 “Tentang Prinsip Penyelenggaran Pariwisata.

Sinergitas antara Pemerintah Daerah, pihak swasta, dan masyarakat dalam mengembangkan sektor pariwisata di daerah, agar dapat terwujud manajemen kepariwisataan yang baik pada seluruh bidang pendukung, sehingga dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap daya tarik wisatawan, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan asli daerah, pendapatan masyarakat, dan berkontribusi pula terhadap peningkatan devisa negara. Peran dan kontribusi sektor swasta harus terus didorong dan difasilitasi dalam pengembangan pariwisata, karena selama ini hampir sebagian besar obyek pariwisata dikelola oleh Pemerintah Daerah.

Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Bone yang merupakan salah satu daerah otonom di provinsi Sulawesi Selatan dengan ibu kota kabupaten terletak di kota Watampone. Dalam hal pariwisata, Kabupaten Bone memiliki beragam potensi wisata. Dalam situs resmi Kabupaten Bone, diuraikan berbagai potensi wisata diantaranya; 1. Taman Arung Palakka, Taman Arung Palakka yang dibangun tahun 2016 terletak di jantung Kota Watampone. 2. Lapangan Merdeka Watampone, Lapangan Merdeka Watampone yang dibangun tahun 2016 merupakan salah satu pilihan warga Bone bersantai bersama keluarga dan handai tolan. Terletak di Jantung Kota Watampone, bersebelahan dengan Taman Arung Palakka. 3. Stadion Lapatau Matanna Tikka Watampone, terletak di pinggiran kota Watampone. 4. Tanjung Pallette, objek wisata alam Tanjung Pallette, terletak di Keluarahan Pallette, Kecamatan Tanete Riattang Timur. Berjarak 12 Km dari jantung kota Watampone,

(18)

atau 182 km dari kota Makassar. 5. Gua Mampu, merupakan objek wisata alam yang terletak di Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe. Berjarak 30 km dari jantung kota Watampone, atau sekitar 140 km dari Kota Makassar. 6. Bukit Cempalagi, merupakan sebuah kawasan yang terletak di pesisir Teluk Bone, tepatnya di Desa Mallari Kecamatan Awangpone. Berjarak 14 Km di sebelah Utara Kota Watampone.

Diantara objek wisata yang ada di Kabupaten bone, Pantai Tanjung Palette merupakan obyek unggulan Kabupaten Bone, yang tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan utamanya saat liburan tiba. Tempat ini sangat disarankan untuk menikmati keindahan terbitnya matahari pagi sambil mengamati aktivitas masyarakat nelayan, seperti mencari rumput laut dan ikan. Tanjung Palette juga bisa di jadikan sebagai tempat untuk memancing karena ada dermaga yang menjulur ke laut untuk menikmati suana laut. Lokasi wisata tanjung ini dilengkapi dengan kolam renang di atas bukit, yang berada sekitar 15 meter di atas permukaan laut. Fasilitas lain yang bisa dinikmati seperti Cafe, Gazebo, Villa, serta rumah makan dengan harga terjangkau, harga tiket masuk dan parkirnya pun sangat murah. Harga tiketnya di sini, mungkin paling murah di antara parawisata yang ada di Bone.

Fasilitas tersebut seperti kolam permandian buat anak dan dewasa, lapangan tennis, area memancing, rumah penginapan, serta masih banyak lagi fasilitas lainnya, yang tentu saja diperuntukkan buat pengunjung. Kawasan wisata ini, masuk dalam wilayah Kecamatan Tanete Riattang Desa Pallette, dengan jarak tempuh dari Kota Bone, sekitar 33 kilometer dari arah selatan, atau sekitar 35 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi.

(19)

Objek wisata Tanjung Palette merupakan objek wisata penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bone. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Andi Ikhwan Baharudding kepala dinas pariwisata Kabupaten Bone, “selama priode Januari sampai Mei 2018 wisata Palette menyumbangkan Rp. 500 juta ke PAD” (Tribunbone.com, 2018). Pencapaian ini tidak terlepas dari dari sinergitas antar Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam pengelolaan wisata Tanjung Palette. Hal ini menarik untuk diteliti bagaimana Sinergitas Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam pengelolaan pariwisata Tanjung Palette Kabupaten Bone.

Adapun penelitan terdahulu yang dilakukan oleh Anugrah Arnisa (2017) tantang Kerjasama Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Objek Wisata Tanah Tengah Kecamatan Camba Kabupaten Maros, Pemerintah Daerah harus lebih memeperhatiakan dan saran dan prasarana objek wisata. Kemudian penelitian yang dilakukan Yahya (2015) Tentang Potensi Pantai Tete Sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Bone Menunjukkan bahwa dinas pariwisata Kabupaten Bone dan warga setempat harus bekerjasama dalam pengembangan objek wisata, serta penambahan fasilitas yang memadai bagi wisatawan yang berkunjung.

Berangkat dari uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam hal tersebut dengan tema “SINERGITAS PEMERINTAH DAERAH DENGAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA TANJUNG PALETTE KECAMATAN TANETE RIATTANG TIMUR KABUPATEN BONE”. B. Rumusan Masalah

(20)

1. Bagaimana sinegritas Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam pengelolaan pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang TimurKabupaten Bone?

2. Apa fakor yang mendukung dan menghambat Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam pengelolaan pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui sinergitas pemerintah daerah dengan masyarakat dalam pengelolaan pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone?

2. Untuk mengetahui apa fakor yang mendukung dan menghambat Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam pengelolaan pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone?

D.Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membuka dan menambah wawasan serta memperbanyak informasi mengenai pengelolaan pariwisata. 2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaatnya untuk di jadikan bahan masukan bagi pengelolaan pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone.

(21)

b. Dapat di jadikan dasar penelitian yang lebih mendalam terhadap pengelolaan pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Konsep Sinegritas 1. Pengertian Sinergitas

Sinergi berarti kegiatan, hubungan, kerjasama, atau operasi gabungaan diartikan juga disni sinergitas adalah kerjasama unsuratau bagian atau fungsi instansi atau lembaga yang menghasilkan suatau tujuan lebih baik dan lebih besar daripada kerjakan sendiri. Sinegri bukanlah sesuatu yang kita pegang oleh tangan kita tapi suatau istilah yang yang dapat kita pegang oleh pegamg tangan kita tapi suatu istilah yang berarti melipat gandakan pengaruh (multipler effect) yang memungkinkan energi pekerjaan atau jasa individu berlipat ganda secara eksponensial melalui usaha bersama. Sinegri kelompok di deskripsikan sebagai tindakan yang berkembang dan mengalir dari kelompok orang yang bekrja sama secara singkron satu sama lain seinggah mereka dapat bergerak dan berfikir sebagai satu kesatuan. Tindakan sinegri ini dilakukan dengan insing positif memberdayakan dan menggunakan suber daya kelompoka secara keseluruhan (Deardorff dan Williams 2006).

Menurut Najiyati dan Rahmat (2011), sinergi mengacu kepada kombinasi dari beberapa pihak untuk memperoleh keluaran yang lebih baik dan lebih besar. Sehinggah sinergi diartikan sebagai suatu gabungan yang dapat menghasilakan output yang lebih baik. Senergitas yang baik dapat terjadi dari dau cara yaitu:

(23)

a. Komunikasi dibedakan menjadi dua yaitu sebagai sesuatu kegiatan untuk memindahkan stimuli guna mendapat tanggapan dan berorientasi pada kegiatan dimana seseorang menerima stimuli rangsangan.

b. Koordinasi berguna untuk menciptakan sinergitas

Kerjasama adalah pengelompokan yang terjadi antara makhluk-makhluk yang kita kenal. Kerjasama atau kerja bersama adalah proses beregu (kelompok) dimana anggota-aggotanya mendukung dan saling mengandalkan untuk menapai suatu hasil mufakata. Ruang kelas suatu tempat yang sangat baik untuk membangun kemampuan kelompok (tim), yang anda butuhkan kemudian di dalam kehidupan. (Lewis Thomas & Elaine B. Johnson 2014).

2. Maksud dan Tujuan Diadakannya Sinegritas

Pada dasarnya maksud dan tujuan dari kerja sama (sinegritas) adalah win-win solution. Maksudnya adalah bahwa dalam kerja sama harus menibulkan kesadaran dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Tentu saja saling menguntungkan bukan berarti bahwa kedua bela pihak yang bekerja sama tersebut harus memiliki kekuatan dan kemapuan yang sama serta memperoleh keuntungan yang sangat besar. Akan tetapi, kedua pihak memberi konstribusi atau peran yang sesuai dengan kekuatan dan potens masing-masing pihak, sehingga keuntungan atau kerugian yang di derita dari kedua pihak besifat propesional, arinya sesuai dengan perang dan kekuatan masing-masing. (moh. Jafar Hafsah dalam arnisa, 2018)

Menurut Modjiono dalam Novadiyatna (2016) menerangkan bahwa tujuan kerja sama (sinegritas) sebagai berikut:

(24)

a. Untuk mengembangkan berfikir kritis dalam menyelesaikan masalah. b. Mengembangkan kemampuan ersosialisasi dan berkomunikasi. c. Menumbuhkan rasa percaya diri terhadap kemampuan siswa. d. Untuk memahai dan menghargai satu sama lain antar teman. 3. Prinsip-Prinsip Sinegritas

Agar dapat melaksna akan keja sama maka di butuhkan prinsip-printsi umum sebagaimana yang dijelaskan oleh Denny(2013). Prinsip umum tersebut tedapat dalam prinsip good governane, yaitu:

a. Partisipasif, dalam lingkup kerja sama dengan pemerintan daerah, prinsip partisipasif harus digunakan dalam bentuk kolsultasi, dialog dan negosiasi. b. Efisiensi, dalam melaksanakan kerja sama dengan pemerintah daerah harus

pertimbangankan nilai efisiensi yaitu bagaimna menekan biaya untuk memperoleh hasil tertentu, atau bagaimana menggunakan biaya yang sama tetapi dapat mencapai hasil yang lebih tinggi.

c. Efektivitas, dalam melaksanakan kerja sama harus diprtimbagkan nilai efektifitas yang selalu mengukur keberhasilan dengan membandingkan target atau tujuan yang telah ditetapkan dalam kerja sama dengan hasil yang nyata di peroleh.

d. Konsensus, dalam melaksanakan kerja sama tersebut harus dicari titik temu agar masing-masing pihak yang terlibat dalam kerja sama tersebut dapat menyetujui suatu keputusan.

(25)

4. Bentuk-bentuk Sinegritas

Menurut Soekanto (2008), dari sudut pandang sosiologi, pelaksanaan kerja sama antara kelompok dapat menjadi tiga bentuk, yaitu sebagai berikut:

a. Bargaining yaitu kerja sama antara orang perorangan dan atau antar kelompok untuk mencapai tujuan tentu dengan sesuatu perjanjian saling menukar barang, jasa, kekuasaan, atau jabatan tertentu.

b. Cooptation yaitu kerja sama dengan cara rela menerima unsur-unsur baru dari pihak lain dalam organisasi sebagai salah cara untuk menghindari terjadinya kegungjangan organisasi.

c. Coalition yaitu kerja sma antara dua organisasi atau lebih mempunyai tujuan yang sama. Diantara organisasi yang berkoalisi memiliki batas-batas tertentu dalam kerja sama sehingga jati diri dari masing-masing organisasi yang berkoalisi yang masih ada.

B.Konsep Pemerintah Daerah 1. Pengertian Pemerintah Daerah

Pemerintah adalah sebuah organisasi yang terdiri dari sekumpulan orang-orang yang mengelola kewenang-kewenangan mengurus masalah kenegaraan dan kesejatraan rakyat setra melaksanakan kepemimpinan dan koordinasi pemerintah meliputi kegatan legislatif, eksekutif dan yudikatif dalam usaha mencapai tujuan negara.

(26)

Menurut Fauzi (2015) Pemerintah Daerah adalah penyelenggara urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut azas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip negara kesatuan republik indonesia sebagaimana yang dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pelaksanaan pemerintahan daerah terdapat asas yang menjadi landasan bagi pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, salah satunya yakni Penerapan asas desentralisasi makna dari asas desentralisasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Desentralisasi sebagai penyerahan kewenangan dan kekuasaan; b. Desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan dan kewenangan;

c. Desentralisasi sebagai pembagian, penyebaran, pemencaran, dan pemberian kekuasaan dan kewenangan;

Pemerintah daerah terdiri atas kepala daerah beserta perangkat daerah, tentu sebagai aparatur yang ada didaerahnya diharapkan benar-benar dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya, sehingga nantinya kesejahteraan dan kebutuhan pelayanan masyarakat secara keseluruhan dapat terpenuhi. Mengingat perangkat daerah yang terdiri dari organisasi /lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab kepada kepala daerah dan membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan yang terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan dan Kelurahan sesuai dengan kebutuhan Daerah perlu didalam penyelenggaraan kegiatan disinkronkan

(27)

terutama dalam pelaksaanan koordinasinya. Pengaturan koordinasi didalam Undang-Undang sudah diatur secara jelas misalnya, peranan koordinator pemerintahan daerah secara politis berada pada Bupati/Walikota untuk Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, serta Gubernur berperan sebagai koordinator di daerah provinsi yang memiliki otonomi terbatas (Zakaria, 2014: 41).

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, pengertian Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip negara kesatuan republik indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

Dalam melakukan otonomi daerah perlu adanya asas yang harus dijalankan, yaitu sebgai berikut.

a. Desentralisasi adalah penyerahan sebagaian dari pemerintah pusat kepada Pemerintah Daerah untuk mengurus dan mengatur daerahya sendri.

b. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari aparat pemerintah pusat atau pejabat di atasanya (misalanya, wilayah provinsi) .

c. Tugas pembantuan. Dalam hal ini pemerintah daerah ikut serta mengurus sesuatu urusan tetapi kemudian urusan itu harus dipertanggung jawabkan kepada pemerintah pusat.

(28)

2. Fungsi Pemerintah Daerah

Berdasaraka Undang-Undang Nomoer 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah, fungsi pemerintah daerah dapat dibagi menjadi fungsi pemerintah absolute, fungsi pemerintah wajib, fungsi pemerintah pilihan, dan fungsi pemerintah umum. Berikut adalah penjelasan mengenai fungsi pemerintah dalam pembangunan tersebut:

1. Fungsi Pemerintah Absolite

Fungsi yang termasuk dalam fungsu pemerintahan Absolite memiliki kewenangan pada pemerintah pusat (Asas Sentralisasi). Contoh dari fungsi pemerintah absolute adalah: Pertahan, Keamanan, Politik Luar Negri.

2. Fungsi Pemerintahan Wajib

Fungsi pemerintahan yang termasuk dalam fungsi pemerintahan wajib dibagi kewenangannya pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Asas Desentralisasi/Dekonsentrasi). Contoh dari fungsi pemerintahan wajib adalah:

a. Kesehatan b. Pendidikan c. Sosial

3. Fungsi Pemerintah Pilihan

Fungsi pemerintahan pilihan juga dibagi kewenangannya antara pemerintahan pusat dan pemerintah daerah (Asas desentralisasi/dekonsentrasi). Fungsi pemerintahan ini berkaitan dengan letak geografis, sumber daya alam, globalisasi dan sumber daya manusia yang khas berada di suatu daerah. Contoh fungsi pemerintahan pilihan adalah:

(29)

a. Pariwisata

b. Kelautan dan perikanan c. Kehutanan

4. Fungsi Pemerintah Umum

Fungsi pemerintahan umum memiliki tugas, fungsi dan wewenang presiden dan wakil presiden, namun pelaksanaannya didaerah dilakukan oleh kepala daerah baik gubernur, bupati, maupun walikota.Mengenai pelaksanaan ini, gubernur bertanggungjawab kepada presiden melalui menteri yang bersangkutan. Bupati dan walikota pun memiliki tanggungjawab yang sama namun penyampaiannya dilakukan melalui gubernur. Contoh dari fungsi pemerintahan umum adalah:

a. Penangan konflik sosial yang diataur dalam Undang-undang.

b. Koordinasi antara pemerintah pusat dengan daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk memecahkan suatu masalah. Penyelesaian masalah ini harus dilakukan dengan mengingat asas demokrasi, Undang-Undang, dan keistimewaan suatu daerah

c. Pembinaan persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat dalam berbangsa.

d. dan ketahanan Negara Indonesia secara nasional. 3. Asas Pemerintah Daerah

Dalam pelaksanaan fungsi dan urusannya, pemerintah daerah memiliki beberapa asas. Asas pemerintah daerah secara spesifik diatur dalam Undang-Undang.

(30)

Ada empat asas utama pemerintah daerah yang berkaitan dengan kewenangan otonomi daerah sebagai berikut:

a. Asas Sentralisasi, asas yang menyatakan bahwa kemenangan berada di pemerintah pusat.

b. Asas Desentralisasi, asas yang menyatakan bahwa kemenangan pemerintah pusat dilimpahkan kepada daerah otonom.

c. Asas Dekonsentrasi, asas yang menyatakan bahwa kemenangan pemerintah pusat dilimpahkan kepada pemerintah daerah dan instansi serta perangkat daerah yang membantu kerja pemerintah daerah.

d. Asas Tugas Pembantuan, asas yang menyatakan bahwa pemerintah daerah memberi kewenangan penugasan terhadap tingkatan di bawahnya. Contohnya adalah penugasan dari gubernur kepada bupati atau walikota atau dari bupati atau walikota kepada perangkat camat atau desa.

Menurut Thoha dalam Sandiasa & Agustana (2018) menyebutkan bahwa tugas pemerintah daerah adalah untuk melayani dan mengatur masyaraka,kemudian dijelaskan lebih lanjut bahwa tugas pelayanan lebih menekankan upaya mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan public dan memberikan kepuasan kepada public, sedangkan tugas mengatur lebih menekankan kekuasaan yang melekat pada posisi jabatan birokrasi.

C.Konsep Pengelolaan Pariwisata 1. Pengertian Pariwisata

(31)

Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakuakan utuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ketempat yang lain dengan maksud bukan untuk berusahan (business) atau mencari nafkah ditempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya dan rekreasi untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

Menurut Suwantoro dalam Ulhusna, Harlen & Taryono (2017) istilah pariwisata berhubungan erat dengan perjalanan wisata yaitu sebagai suatu perubahan tempat tinggal sementara seorang diluar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk kegiatan menghasikan upah. Pariwisata merupakan suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar yang mendapatkan secara bergantian diantara orang dalam suatu negara itu sendiri di luar negeri, meliputi pendiaman orang-orang dari daerah lain (daerah tertentu, suatu negara atau benua) untuk sementara waktu dalam mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya, dimana ia memperoleh pekerjaan tetap.

Pariwisata ialah berbagai macam kegiatan wisata dan di dukung berbagai fasilitas serta layanan yang d sediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. (UU No. 10 Tahun 2009)

Pariwisata adalah salah satu dari industri gaya baru, uang mampu menyediakan tmbuhan ekonomi yang cepat dalam kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup dan dalam mengaktifkan sektor produksi lain di dalam negara penerima wisatawan. Lagi pula pariwisata sebagai suatu sektor yang kompleks, meliputi industri-industri dalam arti klasik, misalnya industry kerajianan tangan dan industri cenderamata. Penginapan

(32)

transportasi secara ekonomi juga dipandang sebagai industri.(Frans Gromang dalam

Rozaqi (2016)

Menurut Maharani (2014) Pariwisata adalah suatau aktivitas yang kompleks, yang dapat dipandang sebagai suatau system yang besar, yang memounyai berbagai komponen seperti ekonomi, politik, social, budaya, dan seterusnya. Melihat pariwisata sebagai suatau sistem, berarti analisis mengenai berbagai aspek kepariwisatawan tidak bisa dilepaskan dari subsistem yang lain, seperti politik, ekonomi, budaya, dan seterusnya. Dalam hubungan saling ketergantungandan saling terkait. Sebagai sebuah sistem, antara komponen dalam sistem tersebut terjadi hungan interdepensi, dimna perubahan pada salah satu subsintem akan menyebabkan juga terjadinya perubahan pada susbsistem yang lainnya, samapai akhirnya kembali ditemukan harmoni yang baru.

Menurut Senna (2014) pariwisata adalah suatau perjalanan yang dilakukan untuk sementra waktu yang di selenggarakan dari suatu temoat lain dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafka ditempat yang dikungjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya dan reaksi untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. Pariwiata dapat menjadi suatu tuntutan hasrat seseorang untuk mengenal kebudayaan dan pola hidup bangsa lain dan sebagai suatu upaya untuk memulihkan kesehatan moral seseorang dan untuk memantapakan kembali keseimbangan emosi seseorang.

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang dimaksud dengan kepariwisataan adalah sebagai berikut:

(33)

a. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orangan dengan mengujungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan gaya tarik wisata yang dikunjungi dalam waktu sementara.

b. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah.

c. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terikat dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan,pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.

Kemudian pariwisata menurut Wahab (dalam utami, Dkk, 2016) pariwisata adalah salah satu industry dari gaya baru yang menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, taraf hidup dan dalam mengaktifkan sektor produksi lain didalam negara penerima wisatawan. Adapun faktor yang mendorong pariwisata menurut pendit (dalam Utami, Dkk, 2016) antara lain:

a. Keinginan untuk melepaskan diri dari tekanan hidup sehari-hari di kota, keinginan untuk mengubah suasana dan memanfaatkan waktu senggang. b. Kemajuan pembangunan dalam bidang komunikasi dan transportasi.

c. Keinginan untuk melihat dan memperoleh pengalaman-pengalaman baru mengenai budaya masyarakat dan ditempat lain.

(34)

Pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ketempat yang lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebgai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagian dengan lingkungan dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. ( Kodyat dalam Ariyati (2013)).

Bambang sunaryo (2013), objek wisata dikelompokan dalam tiga jenis yaitu:

1. Objek wisata alam, misalnya: laut, pantai, gunung (berapi), danau, sungai, fauna (lagka), kawasan lingdung, cagar alam, pemandangan alam dan lain-lainnya.

2. Objek wisata budaya, misalnya: upacara kelahiran, tari-tari (tradisional), musik (trdisional), festival budaya, kain tenun (tradisional), tekstil lokal, adat istiadat, museum dan lain-lain.

3. Objek wista buatan, misalnya: sarana dan fasilitas olahraga, permainan (layangan), hiburan (lawak atau akrobatik, sulap), taman rekreasi, taman nasional, pusat perbelanjaan dan lain-lain.

Menurut Richardson dan Fluker dalam Brahmanto (2017) semua defenisi priwisata yang dikemukakan, meskipun berbeda dalam penekanan, selalu mengandung ciri pokok, yaitu:

1. Adapun unsur trevel (perjalanan): pergerakan amusia dari suatu tempat ketempat lainnya.

2. Adapun unsur “tinggal sementara” ditempat yang bukan merupakan tempat tiggal yang biasanya.

(35)

3. Tujuan utama dalam pergerakan manusia tersebut bukan untuk mencari kehidupan atau pekerjaan di tempat yang dituju.

Pariwisata merupakan suatau perjalanan yang terecana, yang dilakukan secara individu maupun kelompok dari suatau tempat ke tempat lain dengan tujuan untuk mendapatkan suatu bentuk kepuasan dan kesenangan semata. (sinaga 2010. Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilkukan untuk sementara waktu, yang di selenggarakan dari suatu tempat lain dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari menfkah di tempat yang di kunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalan tersebut guna bertamasya dan rekreasi untuk memenuhi keingan yang beranekaragam. (Pitana I Gede dalam Untari (2018).

Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebgaian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek daan daya tarik wisata berkunjung di suatau tempat/daerah/negara karena tertarik oleh suatu yang menarik dan menyebabkan wisatawan dan berkunjung ke tempat/daerah/negara tersebut. (Andi Mappi Sammeng dalam Arnisa, 2018)

D.Kerangka Pikir

Kerjasama (sinegritas) adalah suatu proses yang menyelesaikan pekerjaan secara berkelompok atau bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat atau ringan dari pada pendekatan sendiri. Pengelolaan objek wisata merupakan kegiatan membangun, memelihara, dan melestarikan pertanaman, saran dan prasana maupun fasilitas lainya. Hal ini dijelaskan oleh Denny(2013), tentang Sinegritas

(36)

Pemerintah Daerah dan Masyarakat Dalam Pengelolaan Pariwisata dengan beberapa indikator yaitu Partisipasi, Efisiensi, Efektivitas, Konsensus.

Untuk lebih jelasnya di bawah ini dapat di gambarkan mengenai bagan kerangka fikir yaitu sebagai berikut:

Bagan Kerangka pikir.

E. Fokus Penelitian

Sinegritas Pemerintan Daerah dan Masyarakat Dalam Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kabapupaten Bone dengan beberapa idikator yaitu Partisipasi, Efisiensi, Efektivitas, dan Konsensus.

Tercapainya Pengelolaan Pariwisata Yang Baik Dan Berkemajuan

Sinegritas Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam Pengelolaan Pariwisata

Tanjung Palette Kabupaten Bone

Prinsip-Prinsip Sinergitas 1. Partisipasi, 2. Efisiensi, 3. Efektivitas, 4. Konsensus Faktor Pendukung 1. Peningkatan perekonomian masyarakat. 2. Kesadaran masyarakat akan pariwisata yang sudah bagus. Faktor Penghambat 1. Sarana dan Prasarana yang ada sebagian kecil tidak berfungsi. 2. Kerusakan lingkungan.

(37)

F. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Sinegritas adalaha suatau proses menyelesaikan pekerjaan secara kelompok atau bersama-sama untuk mendapatkan yang lebih cepat atau ringan daripada pekerjaan sendiri.

2. Partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya.

3. Efisiensi adalah suatu ukuran keberhasilan sebuah kegiatan yang dinilai berdasarkan basarnya biaya atau sumber daya yang digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

4. Efektivitas suatau pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujan-tujuan yang tepat dari seragkaian alternatif atau pilihan cara dan mentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya.

5. Konsensus adalah sebuah frasa untuk menghasilkan atau menjadikan sebuah kesepakatan yang disetujui secara bersama-sama antara kelompok atau individu setelah adanya perdebatan dan penelitian yang dilakukan dalam kolektif intelijen untuk mendapatkan konsesus pengambilan keputusan.

6. Faktor pendukung adalah

7. Faktor penghambat adalah hal yang menjadi hambatan dalam pengelolaan pariwisata Tanjung Palette Kabupaten Bone.

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN A.Waktu dan Lokasi Penelitian

Adapun waktu penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 bulan di mulai 19 Juli – 19 September 2019. Penelitian ini dilakukan di Dinas Pariwisata Kabupaten Bone. Peneliti memilih tempat tersebut karena wisata Tanjung Palette ini dikelola oleh Dinas Pariwisata.

B.Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian kualitatif yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif tentang Sinegritas Pemerintah Daerah Dan Masyarakat Dalam Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanate Riattang Timur Kabupaten Bone.

2. Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskritif atas dasar bahwa informasi yang akan di teliti adalah berkaitan dengan penghayatan, pengalaman dan pemberian arti dari informan peneliti tentang pengelolaan pariwisata. Sehingga peneliti ini menggunakan metode penelitian deskriftif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriftif merupakan penelitian yang bermaksud membuat gambaran (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian. Kekuatan penelitian kualitatif terletak pada kemampuan peneliti dalam membangun peneliti dalam

(39)

membangun pandangan mereka tentang apa yang diteliti secara rinci, yang di narasikan dengan kata-kata maupun gambaran secara holostik.

C.Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah proses mendapatkan data dari subjek dan objek penelitian. Data yang dimaksud digolongkan menjadi dua bagian yaitu data sekunder dan data primer. Penggolongan ini dilakukan untuk menjaga keakuratan serta relevansi data yang diperoleh di lapangan yang berhubungan dengan objek yang diteliti. Sumber datanya sebagai berikut :

1. Data primer adalah data yang di peroleh langsung dari hasil wawancara yang di peroleh dari nara sumber atau informan yang dianggap berpotensi dan memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya dilapangan.

2. Data Sekunder adalah sebagai data pendukung data primer dari leteratur dan dokumen serta data yang diambil dari bahan bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan peneelitian.

D.Informan

Informan adalah orang bisa memberikan informasi tentang situasi dan kondisi yang berhubungan dengan Sinegritas Pemerintah Daerah dan Masyarakat Dalam Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kecamata Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun jumlah informan pada penelitian ini sebanyak 6 orang yang terdiri dari 1 orang Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bone, 1 orang Kasi Tata Kelola Destinasi Dinas Pariwisata Kabupaten Bone, 1 orang Kasi pengembangan dan Daya Tarik Wisata Dinas

(40)

Pariwisata dan sekaligus merupakan Manager Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette Kabupaten Bone, 3 orang Masyarakat yang menjadi pengelola pariwisata Tanjung Palette.

Tabel 3.1

Nama-Nama Informan

No Nama Inisial Jabatan Jumlah

1. A.Ikhwan Burhanuddin, S.H,M.Si

AIB Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Di

Kabupaten Bone

1

2. Muhammad Iqbal, S. Sos

MI Kasi Tata Kelola Destinasi Dinas Pariwisata Kabupaten

Bone

1

3. Suyuti Jamil, S,S SJ Manager Pengelolaan Pariwisata Tanjung Palette

Kabupaten Bone 1 4. Syamsinar • Ibrahim SM, IB

Masyarakat Yang Menjadi Pengelola Pariwisata

Tanjung Palette

2

5 Sum SUM Masyarakat Pedaganng 1

(41)

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang relevan sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan penelitian. Adapun teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:

1. Observasi

Observasi adalah melakukan pengamatan langsung sebelum melakukan penelitiaan, mengenai Sinergitas Pemerintah Daerah dan Masyarakat terkait Pengenglolaan Pariwisata Tanjung Palette Kabupaten Bone. Pada proses observasi ini, peneliti dapat mengamati situasi-situasi yang ada di lapangan dengan mencatat apa-apa yang dianggap penting guna menunjang terhadap tujuan penelitian. Observasi ini memberikan kemudahan terutama dalam hal memperoleh data dilapangan.

2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. percakapan itu dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewe) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Penggunaan teknik ini dimaksudkan untuk menggali dan mendalami hal-hal penting yang berhubungan langsung dengan permasalahan yang sedang dikaji dalam penelitian ini untuk mendapatkan jawaban yang lebih detail tentang Sinergitas Pemerintah Daerah dan Masyarakat terkait Pengenglolaan Pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone.

(42)

Untuk memudahkan pelaksanaannya, wawancara dilakukan secara terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide).

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik untuk mengambil data yang diperoleh dari beberapa buku bacaan maupun dokumen dan foto-foto yang berhubungan dengan objek penelitian dilokasi penelitian untuk melengkapi data tentang Sinergitas Pemerintah Daerah dan Masyarakat terkait Pengenglolaan Pariwisata Tanjung Palette Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone.

F. Teknik Analisis Data

Analisi data adalah laangkah selanjutnya untuk mengelola data dimana data yang diperoleh dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikan rupa untuk menyimpulkan persooalan yang diajukan dalam penyusunan hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelian ini adalah interaktif. (Sugiono dalam Arnisa, 2018) mengemukakan bahwa dalam model ini terdapat tiga komponen yaitu sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan daa merupakan langkah yang paling utama dalam penelitan, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data tanpa mengetahui pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang di tetapkan.

(43)

Eduksi kata merupakan komponen pertama analisis data yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuat hal yang tidak penting dan megatur data sedemikian rupa sehingga simpulan penelitian data dilakukan.

3. Sajian Data

Sajian data merupakan suatu rangkaian informasi yang memungkinkan kesimpulan secara singkat dapat berarti cerita sistematis dan logis makna pariwisatanya dapat dipahami.

4. Penarikan Kesimpulan

Dalam awal pengumpulan data, peneliti sudah harus mengerti apa arti dari hal-hal yang ditemui dengan mencatat peraturan-peraturan sebab akibat dan berbagai proporsi sehingga penarikan simpulan dapat di pertangging jawabkan. G.Pengabsahan Data

Vadilitas data sangat mendukung akhir penelitian. Keabsahan data dalam penelitian ini dipriksa dengan menggunakan teknik triangulasi. Triangulas bermakna silang yakni mengadakan pengcekan akan kebenaran data yang akan di kumpulkan dari sumber data menggunakan teknik pengumpulan data yang lan serta pegecekan pada waktu yang berbeda.

Menurut Sugiono dalam Arnisa (2018) triagulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumberdengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi pengumpulan data dan waktu.

(44)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Deskripsi dan Karasteristik Pariwisata

1. Gambaran Umum Kabupaten Bone

Kabupaten Bone adalah salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi selatan yang memiliki berbagai potensi sumber daya yang dapat menyumbangkan pendapatan asli daerah. Daerah Kabupaten Bone secara geografis letaknya sangat strategis karena berada di pintu gerbang pantai timur Sulawesi selatan yaitu Teluk Bone yang memiliki garis pantai yang cukup panjang membujur dari utara ke selatan tepatnya 174 km².

Kabupaten Bone terletak Pesisir Timur Provinsi Sulawesi Selatan berjarak kurang lebih 174 km dari kota Makassar. Mempunyai garis pantai sepanjang 135 km dari arah Selatan ke arah utara. Secara otronomis terletak dalam posisi 4°13 – 5°06 Lintang Selatan dan antara 119°42’–120040’ Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Soppeng b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sinjai dan Gowa c. Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros, Pangkep dan Barru.

Kabupaten Bone memiliki wilayah luas 4.559,30 Km² (8,75% dari luas wilayah provinsi Sulawesi selatan), dihuni oleh sekitar 738.515 jiwa penduduk. Secara administratif wilayah kabupaten Bone terdiri dari 27 kecamatan dan 372 desa/kel.

(45)

Jumlah penduduk Kabupaten Bone Tahun 2015 sebanyak 734.119 jiwa, kemudian naik menjadi 738.515 pada tahun 2016 yang terdiri dari laki-laki 352.081 jiwa dan perempuan 386.434 jiwa dengan rasio jenis kelamin 91,11. Ini berarti bahwa dalam 100 penduduk perempuan terdapat 91 hingga 92 penduduk laki-laki.

Jumlah penduduk terbesar terletak di Kecamatan Tanete Riattang sebanyak 51.118 jiwa/km², disusul Kecamatan Tanete Riattang Barat sebanyak 46.988 jiwa/km², kemudian Kecamatan Tanete Riattang Timur sebanyak 42.377 jiwa/km², Sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Tonra sebanyak jiwa, 13.413 terus Kecamatan Ponre sebesar 13.678 jiwa, kemudian Kecamatan Tellu Limpoe sebanyak 14.003 jiwa, sedangkan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Bone dalam kurun waktu 2015-2016 sebesar 0,60 persen.

Kepadatan penduduk Kabupaten Bone pada tahun 2016 rata-rata 161,99 jiwa/km². Kepadatan Penduduk terbesar didominasi oleh Kecamatan Kota, yakni Kecamatan Tanete Riattang sekitar 2.148,72 jiwa/km², disusul Kecamatan Tanete Riattang Barat sekitar 875,34 jiwa/km², disusul Kecamatan Tanete Riattang Timur sekitar 866,96 jiwa/km². Sedangkan kepadatan penduduk terkecil jatuh pada Kecamatan Bontocani sebesar 33,70 jiwa/km², disusul Kecamatan Tellu Limpoe sebesar 44,02 jiwa/km², kemudian Kecamatan Ponre sebesar 46,68 jiwa/km². Hal ini dipicu oleh karena ketiga kecamatan tersebut merupakan daerah pengunungan di Kabupaten Bone.

(46)

Daerah Kabupaten Bone terletak pada ketinggian pada ketinggian yang bervariasi mulai dari 0 meter tepi pantai hingga lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut. Ketinggian daerah digolongkan sebagai berikut :

a. Ketinggian 0-25 meter seluas 81.925, 2 Ha (17,97 %) b. Ketinggian 25-100 meter seluas 101.620 Ha (22,29 %) c. Ketinggian 100-250 meter seluas 202.237,2 Ha (44,36 %) d. Ketinggian 250-750 meter seluas 62.640,6 Ha (13,74 %) e. Ketinggian 7 50 meter keatas seluas 40.080 Ha (13,76 %)

Kondisi permukaan wilayah kabupaten Bone bermacam-macam atau bervariasi mulai dari landau, bergelombang sampai curam. Daerah landau dijumpai sepanjang pantai dan bagian utara, sementara bagian barat dan selatan itu bergelombang dan curam dengan rincian antara lain:

a. Kemiringan lereng 0-15 % (Landai dan sedikit bergelombang): 91,519 Ha b. Kemiringan leren 0-2% (datar) :164.602 Ha

c. Kemiringan lereng 15-40% (bergelombang): 12,399 Ha d. Kemiringan lereng >40% (curam): 12,399 Ha

Wilayah Kabupaten Bone termasuk daerah beriklim sedang. Kelembaban udara berkisar antara 77% - 86% dengan temperatur berkisar 24,4°C – 27,6°C pada periode April-September, bertiup angin timur yang membawa hujan. Sebaliknya pada Bulan Oktober –Maret bertiup Angin Barat, saat dimana mengalami musim kemarau di Kabupaten Bone.Selain Kedua wilayah yang terkait dengan iklim tersebut, terdapat juga wilayah peralihan, yaitu : Kecamatan Bontocani dan Kecamatan Libureng yang

(47)

sebagian mengikuti wilayah barat dan sebagian lagi mengikuti wilayah timur . Rata-rata curah hujan tahunan diwilayah Bone bervariasi, yaitu berkisar 0 – 638 mm. Jumlah hari hujan selama tahun 2014 berkisar 0 - 23 hari.

Pada wilayah Kabupaten Bone terdapat juga pegunungan dan perbukitan yang dari celah-celahnya trdapat aliran sungai. Disekitarnya terdapat lembah yang cukup dalam. Kondisi sungai yang berair pada musim kemarau sebagian mengalami kekeringan, kecuali sungai yang cukup besar, seperti sungai Walanae, Cenrana, Palakka, Jaling, Bulu-Bulu, Salomekko, Tabunne dan Sungai Lekoballo. Kondisi hidrologi di Kabupaten Bone me miliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan obyek wisata. Secara umum, di Kabupaten Bone terdapat 3 aliran sungai yang besar yakni DAS Bila, DAS Walanae, DAS Cenrana dan terdapat Bendungan besar yang mampu mengaliri 1000 Ha sawah. Bendungan Salomekko, Bendungan Sanrego dan Bendungan Ponre-ponre yang sekaligus juga menjadi obyek wisata Tirta sumber air bersih dan Kabupaten Bone selain dari PDAM juga diperoleh melalui penggunaan sumber air dalam tanah (Pengeboran).

2. Gambaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bone

Dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten Bone adalah salah satu unit kerja yang merupakan perangkat pemerintah Daerah kabupaten Bone yang menyelenggarakan dan melaksanakan tugas-tugas dibidang kebudayaan dan kepariwisataan daerah kabupaten Bone berdasarkan ketentuan dan peraturan yang berlaku.

(48)

Dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten Bone memiliki peran dan mandat yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan dan pembanggunan di bidang kebudayaan dan kepariwisataan. Oleh karena itu sangat berperan aktif dalam meningkatkan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat dalam sejarah dan budaya. Pembinaan dan pengembangan budaya daerah adalah wujud pengetahuan, seni, adat istiadat dan moral yang diwariskan secara turun temurun perlu digali, dikembangkan dan dilestarikan serta dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat secara berkesinambungan untuk menemukenali jati diri masyarakat Bone dalam memberikan sumbangsi dalam pelaksanaan pembangunan dan melestarikan kearifan lokal budaya Bone.

Beberapa faktor strategis pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Bone terhadap pembangunan perekonomian daerah dimasa mendatang antara lain:

a. Pembangunan destinasi pariwisata akan mendorong efek berganda (multipler effet) berkembangnya bidang-bidang industry baru yang berkaitan dengan pengembangan usaha transportasi, akomodasi(hotel, motel, pondok wisata dan lain-lain) industri dan kerajinan cendra mata, kuliner yang memerlukan perluasan beberapa industry seperti peralatan hotel dan kerajinan tangan serta memperluas pengembangan pasar pariwisata lokal dan regional, nasional maupun mancanegara.

b. Menunjang peningkatan pendapatan asli daerah Kabupaten Bone melalui pengelolaan obyek-obyek wisata yang tersebar pada beberapa tempat.

(49)

c. Memberikan dampak positif pada peningkatan penyerapan tenaga kerja, memperluas lapangan kerja baru (perhotelan, penginapan, usaha perjalanan wisata, pemandu wisata dan penerjemah, industri kerajinan tangan dan cendra mata serta tempat-tempat penjualan yang bernuansa pariwisata lainnya).

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 3 Tahun 2008 tentang pembentukan organisasi dinas-dinas Daerah Kabupaten Bone yang dijabarkan dalam Peraturan Bupati Nomor 45 Tahun 2008 Tentang rincian tugas, fungsi dan tata kerja kepala dinas, sekretaris, kepala bidang, kepala sub bagian dan kepala seksi pada dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten Bone.

1) Tugas dan Fungsi Organisasi

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten Bone dapat dideskripsikan sebagai berikut:

a. Tugas pokok:

Menyelenggarakan dan melaksanakan sebagian kebijakan Bupati Bone mengenai kewenangan urusan wajib di bidang kebudayaan dan urusan pilihan di bidang kepariwisataan

b. Fungsi:

a) Perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugas bidang kepariwisataan.

b) Pemberian perizinan dan rekomendasi serta pelaksanaan teknis pelayanan umum dibidang kepariwisataan.

(50)

c) Pembinaan terhadap unit pelaksanaan teknis Dinas dan kelompok jabatan fungsional dalam lingkup tugas dan kepariwisataan

d) Pelaksanaan promosi budaya dan pariwisata

e) Penyelenggaraan dan pengelolaan museum dan kepurbakalan, suaka peninggalan sejarah, kajian sejarah dan nilai tradisional serta pengembangan budaya kesenian daerah.

f) Pelaksanaan urusan kesekretariatan dinas. g) Pengelolaan unit pelaksana teknis dinas.

h) Pembinaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati. c. Sarana dan prasarana

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten bone memiliki sarana dan prasarana gedung kantor 1 unit, mobil dinas 1 unit dan sepeda motor dinas 5 unit.

d. Sumber Daya Manusia

Kuantitas sumber daya manusia (SDM) pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bone selaku pegawai negeri sipil sebanyak 40 orang dan pegawai tidak tetap (pegawai honorer) sebanyak 41 orang yang kompetensi sesuai di bidang sektor kepariwisataan dengan rincian sebagai berikut:

1) Kepala dinas satu orang sebagai kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD)

(51)

3) Bidang perencanaan, pengembangan, pengawasan dan pengendalian terdiri dari kepala bidang 1orang ditambah kepala seksi 2 orang

4) Bidang kebudayaan terdiri dari kepala bidang 1orang ditambah kepala seksi 3 orang

5) Bidang pengembangan destinasi pariwisata dan pemasaran objek dan daya tarik wisata terdiri dari kepala bidang 1 orang ditambah kepala seksi 2 orang 6) Bidang pembinaan hotel, rumah makan dan tempat wisata terdiri dari kepala

bidang 1 orang ditambah kepala seksi 3 orang 7) Unit pelaksana teknis dinas (UPTD)

8) Kelompok jabatan fungsional

1. Struktur Oranganisasi Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kbupaten Bone 1) Kepala Dinas

2) Sekretaris membawahi: a) Sub bagian umum

b) Sub bagian keuangan dan perlengkapan c) Sub bagian kepagawaian

3) Bidang perenanaan, pengembangan, pengawasan dan pengendalian terdiri dari: a) Seksi perencanaan dan pengembangan

b) Seksi pengawasan dan pengendalian 4) Bidang kebudayaan terdiri dari:

a) Seksi kesenian dan kebudayaan b) Seksi sejarah dan kepurbakalaan

(52)

c) Seksi museum

5) Bidang pengembangan destinasi pariwisata dan pemasaran objek dan daya tarik wisata (ODTW) terdiri dari:

a) Seksi daya tarik destinasi pariwisata

b) Seksi pemasaran objek dan daya tarik wisata

6) Bidang pembinaan hotel, rumah makan dan tempat wisata terdiri dari: a) Seksi pembinaan hotel dan rumah makan

b) Seksi pembinaan dan pemeliharaan tempat wisata c) Seksi tenaga kerja wisata

7) Unit pelaksana teknis dinas (UPTD) 8) Kelompok jabatan fungsional 2. Visi dan Misi

Visi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten bone sebagai berikut: “terwujudnya kepariwisataan yang berkualitas dan nilai-nilai budaya yang lestari mendukung tercapainya masyarakat sejahtera” komponen visi terdiri dari:

a. Kepariwisataan yang berkualitas adalah pengembangan pariwisata yang dikelola secara professional, mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan pendapatan asli daerah.

b. Nilai-nilai budaya dan lestari adalah upaya memelihara,menyumbangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Bone.

Adapun komponen untuk mencapai misi yang telah ditentukan, dan misi yang harus dilakukan adalah:

(53)

a. Meningkatkan sarana dan prasarana objek daya tarik wisata(ODTW) b. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia kepariwisataan

c. Meningkatkan budaya sadar wisata dalam masyarakat d. Meningkatkan promosi kepariwisataan

e. Meningkatkan kapasitas masyarakat akan nilai-nilai budaya local f. Meningkatkan promosi kebudayaan daerah ke masyarakat luas

g. Meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan kajian-kajian budaya lokal 3. Tujuan

Adapun tujuan jangka menengah dinas kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Bone adalah:

a. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana objek daya tarik wisata b. Mengembangkan sarana dan prasarana objek daya tarik wisata baru c. Meningkatkan profesionalisme aparatur dalam pengelolaan pariwisata

d. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pendukung pariwisata (pemandu wisata, kelompok pengrajin dan sebagainya)

e. Meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke objek daya tarik wisata f. Terpeliharanya nilai-nilai lokal dalam masyarakat

g. Dikenalnya kesenian-kesenian Kabupaten Bone oleh masyarakat luas h. Terjaganya kelestarian seni budaya lokal

4. Sasaran

(54)

a. Mengembangkan objek daya tarik yang sudah ada sebanyak 10 objek daya tarik wisata

b. Membuka akses dan mengembangkan objek daya tarik wisata baru sebanyak 5 objek daya tarik wisata

c. Meningkanya kualitas aparatur dalam pengelolaan pariwisata sebanyak 20 orang

d. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia yang mendukung kegiatan pariwisata sebanyak 100 orang

e. Meningkatnya kelompok-kelompok masyarakat sadar wisata sebanyak 7 kelompok sadar wisata (POKDARWIS)

f. Meningkatkan kualitas promosi yang mampu mendorong bertambahnya jumlah wisatawan

g. Meningkatkan pemahaman nilai-nilai budaya lokal ke masyarakat

h. Dikenalnya kesenian dan budaya Kabupaten Bone oleh masyarakat minimal di wilayah provinsi Sulawesi selatan

i. Lestarinya kesenian budaya dan benda-benda cagar budaya. 5. Strategi

Strategi pengembangan dan pembangunan dibidang kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Bone sebagai berikut:

a. Meningkatkan kualitas objek daya tarik wisata melalui perbaikan infrastruktur yang ada

(55)

b. Membuka objek daya tarik wisata baru melalui kerja sama dengan pihak-pihak lain

c. Mengembangkan kualitas aparatur melalui bimbingan teknis, magang, sekolah lapang, sehingga mampu mendorong pengelolaan pariwisata yang makin professional

d. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui kegiatan pelatihan dan bimbingan teknologi.

e. Meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pelibatan masyarakat dalam pemeliharaan objek daya tarik wisata, meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat, memberdayakan masyarakat di daerah objek daya tarik wisata f. Mengembangkan promosi pariwisata yang terintegrasi dalam program-program

yang setara melalui peningkatan kapasitas aparatur dalam promosi, mengembangkan model promosi pariwisata berbasis masyarakat

g. Meningkatkan kapasitas masyarakat melalui sosialisasi, pelatihan, pembinaan kelompok-kelompok seni

h. Mengenalkan budaya Kabupaten Bone ke masyarakat luas melalui promosi pameran, media internet dan partisipasi dalam kegiatan seni di daerah lain i. Menjaga kelestarian seni dan budaya Kabupaten Bone melalui kegiatan

kajian,seminar, workshop, pelestarian benda budaya dan sebagainya. 6. Kebijakan

(56)

Untuk mencapai tujuan dan sasaran diperlukan suatu kebujakan sebagai pedoman pelaksanaan pengembangan bidang kebudayaan dan pariwisata di kabupaten Bone sebagai berikut:

a. Peningkatan kualitas sarana prasarana objek daya tarik wisata b. Pengembangan objek daya tarik wisata baru

c. Mendorong aparatur untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam rangka mengembangkan pengelolaan pariwisata yang professional

d. Peningkatan kualitas sumber daya manusia pendukun pariwisata

e. Mendorong keberdayaan masyarakat sebagai bagian dari penerima manfaat dalam pembangunan kepariwisataan

f. Mewujudkan objek daya tarik wisata yang makin dikenal luas oleh masyarakat di sulawesi selatan

g. Peningkatan pemahaman masyarakat akan nilai-nilai budaya local h. Mewujudkan budaya Bone yang dikenal oleh masyarakat

i. Menjaga kelestarian seni dan budaya Kabupaten Bone.

Secara umum di Indonesia pembangunan pariwisata telah memiliki kontribusi yang berarti dalam pembangunan ekonomi nasional sebagai instrument peningkatan perolehan devisa Negara. Adapun objek daya tarik wisata dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Berikut ini tabel objek wisata alam yang ada di kabupaten Bone.

(57)

Tabel 4.2

Objek Wisata Alam di Kabupaten Bone

No Objek

Wisata Lokasi Jarak

Daya Tarik/ Atraksi Wisata

1 Air Terjun Ere’ Desa Bontojai

Kec.Bontocani 115 km

Air terjun bertingkat tujuh

2 Goa Uhalie

Desa langi Kec. Bontocani

140 km Terdapat manusia purba

3 Bendung Sanrego

Desa Sanrego

Kec. Kahu 87 km

Tempat memancing, tempat lomba perahu tradisional Lepa-lepa

4 ToaE Desa Ancu

Kec. Kajuara 72 km

Tempat

berkumpulnya/bermusy awarah Raja - Raja

Bone dahulu 5 Permandian Waetuo Desa Abbumpungen Kec. Kajuara 72 km

Pemandian alam yang airnya bersumber dari

mata air 6 Bendungan Salomekkko Desa Ulu Balang Kec. Salomekko 87 km Tempat memancing, tempat lomba perahu

dan permandian 7 Makam Datu Salomekko Desa Manera Kec. Salomekko 60 km Makam Raja Salomekko 8 Pantai tete Desa Bone pute Kec. Tonra 61 km

Wisata pantai yang berpasir putih berkilau

dan Indah 9 Goa Bala Batu

Desa Tellongeng

Kec. Mare

26 km Gua yang sekitarnya berpanorama indah 10 Pantai Ujung Pattiro Desa Pattiro Bajo Kec. SibuluE 17 km Tempat memancing yang indah dan

menawan 11 Gua Jepang Desa Bacu

Kec. Barebbo 20 km

Tempat persembunyian orang Jepang pada

(58)

zaman Jepang dan di dalamnya terdapat mata

air 12 Permandian Tempe Desa Tanete Kec. Cina 20 km permandian berupa waterboom 13 Mata Air Panas

Saweng

Desa Salampe

Kec. Ponre 67 km

Mata air panas yang bersumber dari gunung 14 Air Terjung

Ladenring

Desa Barugae

Kec. Lamuru 75 km

Air terjun yang tinggginya 50 m 15 Permandian Alam AlingE Desa Tea Musu Kec. Ulaweng 37 km

Pemandian alam yang airnya bersumber dari

mata air 16 Air Terjung BaruttungE Desa Canisirenreng Kec. Ulaweng 27 km

Kawasan hutan wisata yang di dalamnya terdapat monyet putih

berekor panjang 17 Sumpang Labbu Desa Lilina Ajangale Kec. Ulaweng 30 km Terowongan yang dibuat oleh Pemerintah

Belanda dan mempunyai panorama indah 18 Permandian Alam Siduppa Matae Desa Panyili

Kec. Palakka 5 km Permandian alam

19 Goa Janci

Desa Mallari Kec. Awangpone

13 km

Tempat berikrar Arung Palakka takkan kembali

ke Bone sebelum mengusir penjajah 20 Permandian Alam Lanca Desa Lanca Kec. Tellu Siattinge 23 km

Permandian alam yang airnya bersumber dari

Ujung Ulo 21 Permandian Alam Otting Kelurahan Otting Kec. Tellu Siattinge 18 km

Permandian alam yang airnya bersumber dari

mata air 22 Permandian

Mattanempunga

Kelurahan

Otting Kec. 24 km

Terdapat tujuh sumur tempat mandi Bidadari

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :