Analisis Penerapan Perencanaan Pajak (Tax Planning) Untuk Efisiensi Pajak Penghasilan Badan Pada CV F2 Berkarya

77 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 1 1.1.

1.1. Latar BelakangLatar Belakang

Dalam rangka menjamin kelangsungan pembiayaan pembangunan nasional, Dalam rangka menjamin kelangsungan pembiayaan pembangunan nasional,  pajak

 pajak menjadi menjadi salah salah satu satu tumpuan tumpuan sektor sektor penerimaan penerimaan Negara. Negara. Hal Hal ini ini dapat dapat dilihatdilihat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk anggaran tahun 2013 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk anggaran tahun 2013  penerimaan

 penerimaan dalam dalam negeri negeri 1.071,1 1.071,1 triliun. triliun. Penerimaan Penerimaan tahun tahun lalu lalu didominasi didominasi oleholeh  pendapatan

 pendapatan pajak pajak dalam dalam negeri negeri yang yang mencapai mencapai 1.024,8 1.024,8 triliun triliun sisanya sisanya berasal berasal daridari  pendapatan

 pendapatan pajak pajak perdagangan perdagangan internasional internasional yang meyang mencapai ncapai 46,3 46,3 triliun. Dari triliun. Dari dalamdalam negeri, penerimaan pajak didominasi oleh Pajak Penghasilan (PPh) non migas yang negeri, penerimaan pajak didominasi oleh Pajak Penghasilan (PPh) non migas yang mencapai 413,9 triliun. Sumber pemasukan terbesar lainnya adalah Pajak mencapai 413,9 triliun. Sumber pemasukan terbesar lainnya adalah Pajak Pertambahan Nilai yang mencapai 383,4 triliun. Anggaran Pendapatan dan Belanja Pertambahan Nilai yang mencapai 383,4 triliun. Anggaran Pendapatan dan Belanja  Negara

 Negara (APBN) (APBN) Perubahan Perubahan 2013 2013 mematok mematok target target penerimaan penerimaan negara negara sebesar sebesar RpRp 1.148,4 triliun. Dengan realisasi sementara tersebut, penerimaan pajak sepanjang 1.148,4 triliun. Dengan realisasi sementara tersebut, penerimaan pajak sepanjang 2013 hanya mencapai 93,4% dari target. Penerimaan pajak sebagai persentase 2013 hanya mencapai 93,4% dari target. Penerimaan pajak sebagai persentase terhadap total penerimaan dalam negeri harus meningkat tiap tahun. Di lain pihak, terhadap total penerimaan dalam negeri harus meningkat tiap tahun. Di lain pihak,  bagi

 bagi dunia dunia usaha, usaha, pajak pajak merupakan merupakan sumber sumber pengeluaran pengeluaran ((cash disbursement cash disbursement ) tanpa) tanpa diperoleh imbalan secara langsung. Dengan demikian, perusahaan harus dapat diperoleh imbalan secara langsung. Dengan demikian, perusahaan harus dapat memanfaatkan penggunaan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien. memanfaatkan penggunaan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien. Salah satu cara untuk melakukan tindakan efektivitas dan efisiensi adalah dengan Salah satu cara untuk melakukan tindakan efektivitas dan efisiensi adalah dengan

(2)

mengelola kewajiban perpajakan secara baik dan benar sehingga dapat menghindari mengelola kewajiban perpajakan secara baik dan benar sehingga dapat menghindari adanya pemborosan sumber daya perusahaan sebagai akibat dari pengenaan sanksi adanya pemborosan sumber daya perusahaan sebagai akibat dari pengenaan sanksi administrasi pajak yang berupa denda, bunga, dan kenaikan pajak.

administrasi pajak yang berupa denda, bunga, dan kenaikan pajak.

Untuk menekan pemborosan pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakan Untuk menekan pemborosan pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakan tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan “manajemen tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan “manajemen  pajak”,

 pajak”, yaitu yaitu upaya upaya pemenuhan pemenuhan kewajiban, kewajiban, pengkoordinasian pengkoordinasian dan dan pengawasanpengawasan mengenai perpajakan, sehingga beban yang harus ditanggung perusahaan dapat mengenai perpajakan, sehingga beban yang harus ditanggung perusahaan dapat diminimalkan guna memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan, tanpa harus diminimalkan guna memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan, tanpa harus melanggar undang-undang yang berlaku. Upaya meminimalisasi pajak tersebut sering melanggar undang-undang yang berlaku. Upaya meminimalisasi pajak tersebut sering disebut dengan teknik “

disebut dengan teknik “tax planning tax planning ”, yaitu u”, yaitu u paya pe paya pemenuhan menuhan kewajiban pekewajiban perpajakanrpajakan secara lengkap dan tepat waktu sehingga dapat menghindari pemborosan sumber secara lengkap dan tepat waktu sehingga dapat menghindari pemborosan sumber daya secara optimal.

daya secara optimal.

Pertimbangan untuk berlaku jujur dan membayar pajak secara efisien yang Pertimbangan untuk berlaku jujur dan membayar pajak secara efisien yang mendorong Wajib Pajak menyusun perencanaan pajak pertambahan nilai ( mendorong Wajib Pajak menyusun perencanaan pajak pertambahan nilai (taxtax  planning 

 planning ) melalui penghindaran pajak () melalui penghindaran pajak (tax avoidancetax avoidance). Berbeda dengan). Berbeda dengan  penyelundupan

 penyelundupan pajak pajak ((tax evasiontax evasion) yang melanggar ketentuan peraturan perundang-) yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, penghindaran pajak itu sendiri merupakan perbuatan legal yang undangan perpajakan, penghindaran pajak itu sendiri merupakan perbuatan legal yang menggunakan

menggunakan loopholesloopholes dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan sebagai hal yang positif untuk efisiensi pembayaran pajak.

sebagai hal yang positif untuk efisiensi pembayaran pajak.

Sesungguhnya antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak terdapat Sesungguhnya antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak terdapat  perbedaan

 perbedaan yang yang fundamental, fundamental, akan akan tetapi tetapi kemudian kemudian perbedaan perbedaan tersebut tersebut menjadimenjadi kabur, baik secara teori maupun aplikasinya. Secara konseptual, justru dalam kabur, baik secara teori maupun aplikasinya. Secara konseptual, justru dalam

(3)

mengelola kewajiban perpajakan secara baik dan benar sehingga dapat menghindari mengelola kewajiban perpajakan secara baik dan benar sehingga dapat menghindari adanya pemborosan sumber daya perusahaan sebagai akibat dari pengenaan sanksi adanya pemborosan sumber daya perusahaan sebagai akibat dari pengenaan sanksi administrasi pajak yang berupa denda, bunga, dan kenaikan pajak.

administrasi pajak yang berupa denda, bunga, dan kenaikan pajak.

Untuk menekan pemborosan pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakan Untuk menekan pemborosan pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakan tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan “manajemen tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan “manajemen  pajak”,

 pajak”, yaitu yaitu upaya upaya pemenuhan pemenuhan kewajiban, kewajiban, pengkoordinasian pengkoordinasian dan dan pengawasanpengawasan mengenai perpajakan, sehingga beban yang harus ditanggung perusahaan dapat mengenai perpajakan, sehingga beban yang harus ditanggung perusahaan dapat diminimalkan guna memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan, tanpa harus diminimalkan guna memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan, tanpa harus melanggar undang-undang yang berlaku. Upaya meminimalisasi pajak tersebut sering melanggar undang-undang yang berlaku. Upaya meminimalisasi pajak tersebut sering disebut dengan teknik “

disebut dengan teknik “tax planning tax planning ”, yaitu u”, yaitu u paya pe paya pemenuhan menuhan kewajiban pekewajiban perpajakanrpajakan secara lengkap dan tepat waktu sehingga dapat menghindari pemborosan sumber secara lengkap dan tepat waktu sehingga dapat menghindari pemborosan sumber daya secara optimal.

daya secara optimal.

Pertimbangan untuk berlaku jujur dan membayar pajak secara efisien yang Pertimbangan untuk berlaku jujur dan membayar pajak secara efisien yang mendorong Wajib Pajak menyusun perencanaan pajak pertambahan nilai ( mendorong Wajib Pajak menyusun perencanaan pajak pertambahan nilai (taxtax  planning 

 planning ) melalui penghindaran pajak () melalui penghindaran pajak (tax avoidancetax avoidance). Berbeda dengan). Berbeda dengan  penyelundupan

 penyelundupan pajak pajak ((tax evasiontax evasion) yang melanggar ketentuan peraturan perundang-) yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, penghindaran pajak itu sendiri merupakan perbuatan legal yang undangan perpajakan, penghindaran pajak itu sendiri merupakan perbuatan legal yang menggunakan

menggunakan loopholesloopholes dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan sebagai hal yang positif untuk efisiensi pembayaran pajak.

sebagai hal yang positif untuk efisiensi pembayaran pajak.

Sesungguhnya antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak terdapat Sesungguhnya antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak terdapat  perbedaan

 perbedaan yang yang fundamental, fundamental, akan akan tetapi tetapi kemudian kemudian perbedaan perbedaan tersebut tersebut menjadimenjadi kabur, baik secara teori maupun aplikasinya. Secara konseptual, justru dalam kabur, baik secara teori maupun aplikasinya. Secara konseptual, justru dalam

(4)

menentukan perbedaan antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak, menentukan perbedaan antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak, kesulitannya terletak pada penentuan perbedaannya, akan tetapi berdasarkan konsep kesulitannya terletak pada penentuan perbedaannya, akan tetapi berdasarkan konsep  perundang-undangan,

 perundang-undangan, garis garis pemisahnya pemisahnya adalah adalah antara antara melanggar melanggar undang-undaundang-undangng ((unlawfull unlawfull ) dan tidak melanggar undang-undang () dan tidak melanggar undang-undang (lawfull lawfull ).).

Para perencanaan pajak hendaknya bersikap lebih hati-hati agar perbuatan Para perencanaan pajak hendaknya bersikap lebih hati-hati agar perbuatan  penghindaran

 penghindaran pajaknya pajaknya tidak tidak dianggap dianggap sebagai sebagai berpartisipasi, berpartisipasi, membantu membantu atauatau sekongkol dalam perbuatan yang dapat dianggap sebagai penyelundupan pajak sekongkol dalam perbuatan yang dapat dianggap sebagai penyelundupan pajak (tindak pidana fiskal).

(tindak pidana fiskal).

Pengetahuan memadai bagi perusahaan merupakan langkah penting dalam Pengetahuan memadai bagi perusahaan merupakan langkah penting dalam  perencanaan

 perencanaan pajak pajak karena karena berguna berguna dalam dalam menentukan menentukan celah-celah celah-celah ((loopholesloopholes) yang) yang menguntungkan. Tindakan ini dimungkinkan, karena bagaimanapun lengkapnya menguntungkan. Tindakan ini dimungkinkan, karena bagaimanapun lengkapnya suatu undang-undang belum tentu mampu mencakup semua aspek yang diinginkan. suatu undang-undang belum tentu mampu mencakup semua aspek yang diinginkan. Selain itu, yang juga penting untuk diperhatikan dalam membuat suatu perencanaan Selain itu, yang juga penting untuk diperhatikan dalam membuat suatu perencanaan  pajak

 pajak adalah adalah penerapan penerapan praktik-praktik praktik-praktik akuntansi akuntansi yang yang sehat sehat dengandengan menyelenggarakan pembukuan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. menyelenggarakan pembukuan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum.

Berdasarkan pola pemikiran diatas akan dibahas dalam skripsi “

Berdasarkan pola pemikiran diatas akan dibahas dalam skripsi “AnalisisAnalisis Penerapan Perencanaan Pajak

Penerapan Perencanaan Pajak (Tax Planning)(Tax Planning)  untuk Efisiensi Pajak Penghasilan  untuk Efisiensi Pajak Penghasilan Badan pada

Badan padaCV F2 Berkarya”.CV F2 Berkarya”.

1.2.

1.2. Rumusan MasalahRumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian diatas, permasalahan yang Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian diatas, permasalahan yang diangkat untuk dibahas pada skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut

(5)

 penerapan tax planning  untuk pajak penghasilan badan pada CV F2 Berkarya sudah efisien?”

1.3. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah yang telah disebutkan sebelumnya, dapat dikemukakan  bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan tax planning dapat

mengefisienkan pajak penghasilan pada perusahaan yang diteliti.

1.4. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini diharapkan akan diperoleh sejumlah manfaat sebagai berikut: 1. Akademik

Memperluas wawasan mengenai penerapan perencanaan pajak. 2. Perusahaan

Sebagai bahan pertimbangan didalam menyikapi fenomena tax planning, khususnya didalam meminimalkan Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan). 3. Masyarakat Umum

Dapat memberikan gambaran dan masukan dalam melakukan penelitian dalam bidang permasalahan yang sama.

(6)

56 2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pengertian Pajak

Menurut beberapa ahli dalam buku Waluyo (2011 : 2), pengertian pajak adalah sebagai berikut:

1. Pengertian pajak menurut Mr. Dr. NJ. Feldmann dalam buku  De Over  Heidsmiddelen Van Indonesia (terjemahan): Pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada pengusaha (menurut norma-norma yang ditetapkannya secara umum tanpa adanya kontraprestasi, dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum;

2. Pengertian pajak menurut Dr. Soeparman Soemahamidjaja dalam disertasinya yang berjudul “Pajak Berdasarkan Asas Gotong Royong” menyatakan: “Pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa  berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang

dan jasa- jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum”. Dari definisi di atas tampak istilah “dipaksakan” karena bertitik tolak pada istilah “iuran wajib”. Sisi lainnya yang berhubungan dengan kontraprestasi menekankan pada mewujudkan kontraprestasi itu diperlukan pajak;

3. Prof. Dr. Rochmat. Soemitro, S. H. dalam bukunya Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan (1990 : 5) menyatakan: “Pajak adalah iuran kepada kas negara

(7)

 berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil suatu pengertian bahwa pajak adalah suatu iuran yang harus dibayar setiap warga negara yang bersifat memaksa karena telah diatur sedemikian rupa dalam Undang-Undang yang dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dan hasil pembayaran  pajak yang Wajib Pajak lakukan tidak langsung terlihat hasilnya.

2.1.2. Undang-Undang Perpajakan

Menurut Sumarsan (2013 : 10) dalam undang-undang pajak diatur mengenai hal-hal yang telah dipilih dalam kebijakan perpajakan yang menyangkut Subyek Pajak, Obyek Pajak, Tarif Pajak dan Prosedur Perpajakan yang dituangkan dalam dua  jenis ketentuan hukum.

1. Hukum Pajak Materiil

Hukum yang memuat norma-norma yang menerangkan keadaan, perbuatan,  peristiwa hukum yang dikenakan pajak.

2. Hukum Pajak Formal

Hukum pajak yang dalam mewujudkan hukum materiil menjadi kenyataan. Yang memuat hukum pajak formal yaitu :

(8)

 b. Hak-hak fiskus untuk mengawasi Wajib Pajak mengenai keadaan, perbuatan dan peristiwa yang dapat menimbulkan hutang pajak.

c. Kewajiban Wajib Pajak sebagai contoh penyelenggaraan pembukuan,  pencatatan, dan hak-hak Wajib Pajak untuk mengajukan ke beratan dan  banding.

2.1.3. Fungsi Pajak

Melihat dari beberapa definisi beberapa ahli, menurut Siti resmi (2011), yaitu: 1. Fungsi Budgetair  (Sumber Keuangan Negara)

Pajak mempunyai fungsi budgetair, artinya pajak merupakan salah satu  penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun  pembangunan. Sebagai sumber keuangan Negara, pemerintah berupaya memasukkan uang sebanyak-banyaknya untuk kas Negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak.

2. Fungsi Regulerend(Fungsi Pengatur)

Pajak mempunyai fungsi mengatur, artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Beberapa contoh penerapan pajak sebagai fungsi pengatur adalah:

a. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah untuk mengurangi gaya hidup konsumtif.

(9)

 b. Tarif Pajak Progresif dikenakan atas penghasilan agar pihak yang memperoleh penghasilan tinggi memberikan kontribusi (membayar pajak) yang tinggi pula, sehingga terjadi pemerataan pendapatan

c. Tarif pajak untuk ekspor sebesar 0%, hal ini dilakukan agar para pengusaha terdorong mengekspor hasil produksinya di pasar dunia sehingga dapat memperbesar devisa Negara.

2.1.4. Jenis-Jenis Pajak

Menurut Resmi (2008 : 7-9) berbagai macam jenis pajak yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. Jenis pajak menurut golongannya dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu:

a. Pajak langsung adalah pajak yang harus dipikul atau ditanggung sendiri oleh wajib pajak, tidak dapat dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain atau  pihak lain. Contoh: Pajak Penghasilan

 b. Pajak tidak langsung adalah pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak ketiga. Beban pajak ini dapat dilimpahkan kepada orang lain dan hanya dikenakan pada hal-hal tertentu atau  peristiwa-peristiwa tertentu saja. Contoh: pajak pertambahan nilai (PPN)

2. Jenis pajak menurut sifatnya dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu:

a. Pajak subyektif adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan pada keadaan pribadi wajib pajak atau pengenaan pajak yang memperhatikan keadaan subyeknya. Contoh: pajak penghasilan (PPh) dengan memperhatikan

(10)

keadaan pribadi wajib pajak (status pernikahan, jumlah anak atau tanggungan lainnya), kemudian barulah menentukan besarnya penghasilan tidak kena  pajak.

 b. Pajak obyektif adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan pada obyeknya baik berupa benda, keadaan, perbuatan atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak tanpa memperhatikan keadaan pribadi subyek pajak (wajib pajak) maupun tempat tinggal.

3. Jenis pajak menurut lembaga pemungutnya dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu:

a. Pajak Negara (Pajak Pusat) adalah pajak yang dipungut oleh pemerintahan  pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara pada umumnya. Contoh: Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

 b. Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah baik daerah tingkat I maupun tingkat II dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah masing-masing. Contoh: Pajak Daerah Tingkat I (Propinsi) antara lain: Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Tanah, Pajak Izin Penangkapan Ikan di Wilayahnya. Sedangkan, Pajak Daerah tingkat II (Kabupaten/Kotamadya), antara lain: Pajak Pembangunan I, Pajak Penerangan Jalan, Pajak atas Reklame.

(11)

2.1.5. Sistem Pemungutan Pajak

Menurut Sumarsan (2013 : 14), sistem pemungutan pajak dibagi atas 3 (tiga) macam yaitu :

a. Official assessment system adalah sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang kepada pemungut pajak (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar (pajak yang terutang) oleh seseorang.

 b. Self assessment system adalah sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang penuh kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, menyetorkan, dan melaporkan sendiri besarnya utang pajak.

c. Withholding system adalah sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang pada pihak ketiga untuk memotong/memungut besarnya pajak yang terutang.

2.1.6. Syarat-Syarat Pemungutan Pajak

Menurut Mardiasmo (2011 : 2) syarat pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai berikut :

a. Syarat Keadilan

Syarat berlandaskan tujuan hukum yaitu untuk mencapai keadilan serta untuk tujuan pemungutan yang adil.

(12)

 b. Syarat Yuridis

Syarat pemungutan pajak yang berdasarkan undang-undang dan merupakan  jaminan hukum serta pembayaran pajak yang harus diimbangi dengan kemampuan

membayar Wajib Pajak tersebut. c. Syarat Ekonomis

Syarat pemungutan pajak harus seimbang antara kehidupan ekonomis dan tidak menganggu aktifitas kegiatan produksi maupun perdagangan.

d. Syarat Finansial

Syarat pemungutan pajak yang dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil  pemungutannya.

e. Syarat Sederhana

Syarat pemungutan pajak yang dalam sistem pemungutannya sederhana akan memudahkan serta mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban  perpajakan.

2.1.7. Asas Pengenaan Pajak

Menurut Sumarsan (2013 : 11), asas utama yang digunakan oleh negara sebagai landasan dalam mengenakan pajak adalah :

1. Asas Domisili

Berdasarkan asas ini negara memungut pajak atas penghasilan yang diterima dan diperoleh oleh orang pribadi apabila suatu wajib pajak atau badan berkedudukan di negara tersebut.

(13)

2. Asas Sumber

Asas yang berdasarkan negara akan mengenakan pajak atas suatu penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh orang pribadi atau badan.

3. Asas Kebangsaan

Asas yang berdasarkan pengenaan pajak terhadap status kewarganegaraan dari orang pribadi atau badan yang memperoleh penghasilan.

2.1.8. Pengertian Pajak Penghasilan

Undang-undang Pajak Penghasilan (PPh) merupakan salah satu hasil  pembaharuan perpajakan (tax reform), yakni melalui Undang-Undang Republik Indonesia No 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir menjadi Undang-undang No 36 tahun 2008. Undang-Undang-undang Pajak Penghasilan ini hanya mengatur tentang ketentuan-ketentuan yang bersifat materiil, sedangkan ketentuan-ketentuan yang bersifat formal diatur tersendiri dalam Undang-undang No 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) sebagaimana diperbaharui menjadi Undang-Undang Republik Indonesia No 16 tahun 2009 yang berlaku sampai saat ini.

Mengacu pada Undang-undang No 16 tahun 2009, dapat dikatakan bahwa pajak  penghasilan adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan baik penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau perorangan maupun badan yang berada di dalam negeri dan atau di luar negeri yang terhutang selama tahun pajak.

(14)

Pajak penghasilan mengatur mengenai pajak atas penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak selama satu tahun pajak sehingga semua penghasilan yang diterima oleh  perseorangan maupun badan selama satu tahun pajak akan dikenai pajak penghasilan

sesuai dengan ketentuan Undang-undang Pajak Penghasilan. Jenis-jenis pajak penghasilan antara lain :

a. Pajak Penghasilan Pasal 21 merupakan pajak penghasilan yang dikenakan atas  penghasilan berupa gaji, upah, honorium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan

nama apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri.

 b. Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah pajak penghasilan yang dipungut oleh Bendaharawan Pemerintah baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya berkenaan dengan  pembayaran atas penyerahan barang dan badan-badan impor atau kegiatan usaha

dibidang lain.

c. Pajak Penghasilan Pasal 23 merupakan pajak penghasilan yang dipotong atas  penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21, yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah atau subyek dalam negeri, penyelenggaraan kegiatan, bentuk usaha tetap atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.

d. Pajak Penghasilan Pasal 24 merupakan pajak yang terutang atau dibayarkan di luar negeri atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri yang dapat

(15)

dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak Dalam Negeri.

e. Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah angsuran pajak penghasilan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bukan dalam tahun pajak berjalan. Angsuran  pajak penghasilan pasal 25 tersebut dapat dijadikan sebagai kredit pajak terhadap  pajak yang terutang atas seluruh penghasilan wajib pajak pada akhir tahun pajak

yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) tahun pajak penghasilan.

f. Pajak Penghasilaan Pasal 26 merupakan pajak penghasilan yang dikenakan atau dipotong atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri selain Bentuk Usaha Tetap di Indonesia.

2.1.9. Subyek Pajak Penghasilan

Dalam Undang-undang No 36 tahun 2008, pasal 2 disebutkan bahwa : 1. Yang menjadi subyek pajak adalah :

a. 1. Orang pribadi;

2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang  berhak

 b.  badan; dan

c.  bentuk usaha tetap.

1a. Bentuk usaha tetap merupakan subyek pajak yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan subyek pajak badan

(16)

2. Subyek pajak dibedakan menjadi subyek pajak dalam negeri dan subyek pajak luar negeri

3. Subyek pajak dalam negeri adalah :

a. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam satu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;

 b. badan yang didirikan atau bertempatkedudukan di Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria :

1. Pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan; 2. Pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

3. Penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah; dan

4. pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara; dan c. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak. 4. Subyek pajak luar negeri adalah :

a. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang  berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam  jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak  bertempatkedudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan

(17)

 b. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang  berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam  jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak  bertempatkedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh  penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan

kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia

5. Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua  belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempatkedudukan di

Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa:

a. tempat kedudukan manajemen;  b. cabang perusahaan; c. kantor perwakilan; d. gedung kantor; e. pabrik; f. bengkel; g. gudang;

h. ruang untuk promosi dan penjualan;

i. pertambangan dan penggalian sumber alam;

(18)

k. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan; l. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

m. pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)  bulan;

n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas o. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak

 bertempatkedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung resiko di Indonesia; dan

 p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

6. Tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak menurut keadaan yang sebenarnya.

2.1.10. Obyek Pajak Penghasilan

Mardiasmo (2009 : 133), menyebutkan bahwa yang menjadi objek pajak adalah  penghasilan, yaitu “Setiap tambahan kemampuan ekonomis yang  diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk :

(19)

a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh

 b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan atau penghargaan; c. Laba usaha

d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan  pembayaran tambahan pengembalian pajak

f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang

g. Dividen

h. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak

i. Sewa dan penghsilan lain sehubungan dengan penggunaan harta  j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala

k. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

l. Keuntungan selisih kurs mata uang asing m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva n. Premi asuransi

o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas

 p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan  pajak

(20)

q. Penghasilan dari usaha berbasis syariah r. Imbalan bunga

s. Surplus Bank Indonesia

2.1.11. Tarif Pajak Penghasilan

KetentuanUU PPh pasal 17 ayat (1), besarnya tarif pajak penghasilan yang diterapkan atas penghasilan kena pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia sebagai berikut:

a. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri :

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak Sampai dengan Rp 50.000.000 (lima puluh

 juta rupiah)

5% (lima persen)

Diatas Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta rupiah)

15% (lima belas persen)

Diatas Rp 250.000.000 (dua ratus lima puluh  juta rupiah) sampai dengan Rp 500.000.000

(lima ratus juta rupiah)

25% (dua puluh lima persen)

Diatas Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah)

(21)

 b. Untuk Wajib Pajak Badan dalam negeri dan BUT

Tarif pajak untuk Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap (BUT) sebesar 28% (dua puluh delapan persen). Tarif PPh tersebut menjadi 25% (dua  puluh lima persen) mulai berlaku tahun pajak 2010. Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh  persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan dibursa efek di Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya dapat memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah dari pada tarif sebagaimana di maksud  pada ayat (1) huruf b dan ayat (2) huruf a yang di atur dengan atau berdasarkan

Peraturan Pemerintah Tarif yang dikenakan atas penghasilan berupa dividen yang dibagikan kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final. Wajib Pajak dalam negeri dengan peredaran brutonya dalam 1 (satu) tahun sampai dengan 50 miliar mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan 4,8 miliar ( Pasal 31 E UU PPh).

2.1.12. Penghasilan Kena Pajak

Dasar yang digunakan untuk menghitung besarnya pajak terutang adalah Penghasilan Kena Pajak (PhKP) yang bersumber dari laporan keuangan Wajib Pajak (laporan laba rugi/ Profit and loss statement ). Penghasilan Kena Pajak dihasilkan dari

(22)

laba sebelum pajak dan penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak Badan diperoleh dari koreksi fiskal atas laba sebelum pajak yang berasal dari laporan laba rugi wajib Pajak. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dalam mendapatkan Penghasilan Kena Pajak terlebih dahulu penghasilan neto setelah koreksi diperkurangkan lagi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

2.1.13. Penghasilan Tidak Kena Pajak

Pengenaan Pajak Penghasilan di bebankan terhadap semua Wajib Pajak Orang Pribadi atau Wajib Pajak Badan. Untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak Orang Pribadi dalam negeri, maka penghasilan nettonya dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 162/PMK.011/2012 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober 2012, sebagai berikut :

a. Rp. 24.300.000,00 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi.

 b. Rp. 2.025.000,00 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin.

c. Rp. 24.300.000,00 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya di gabung dengan penghasilan suami.

d. Rp 2.025.000,00 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan garis lurus

(23)

serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak tiga orang setiap keluarga.

2.1.14. Perhitungan Pajak Terutang

Dalam menghitung Pajak Penghasilan yang terutang, dibedakan antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri. Bagi Wajib Pajak Badan dalam negeri pada dasarnya untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak yaitu  perhitungan Pajak Penghasilan dengan dasar pembukuan. Menurut ketentuan UU PPh  pasal 14, Wajib Pajak Orang Pribadi yang peredaran brotonya di bawah Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta) diperkenankan menggunakan norma perhitungan  penghasilan neto berdasarkan pencatatan. Orang pribadi yang berada di Indonesia untuk jangka waktu secara berturut-turut yang lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dianggap sebagai Wajib Pajak dalam negeri, dan wajib memenuhi kewajiban dan haknya selaku Wajib Pajak dalam negeri. Wajib Pajak yang meninggalkan Indonesia untuk jangka waktu yang tidak lebih dari 1 (satu) tahun, masih merupakan Wajib Pajak dalam negeri dan masih dikenakan pajak di Indonesia. Pejabat diplomatik dan Pegawai kedutaan Republik Indonesia, yang karena  jabatannya berada di luar Indonesia, masih merupakan Wajib Pajak dalam negeri, sebab berdasarkan “asas eksteritorialitas”, mereka dianggap bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia, dan wajib pula membayar pajak penghasilan apabila  penghasilannya melebihi penghasilan tidak kena pajak. Sebaliknya, Wakil-wakil

(24)

merupakan Wajib Pajak dalam negeri, berdasarkan “asas eksteritorilitas” tersebut. Soemitro (1986 : 93-94) mendefinisikan “WajibPajak luar negeri merupakan subjek  pajak luar negeri yang memperoleh atau menerima penghasilan yang berasal dari

wilayah Republik Indonesia atau yang mempunyai kekayaan yang terletak di wilayah Republik Indonesia”. Wajib Pajak luar negeri hanya dikenakan pajak dari penghasilan yang diterima atau diperoleh atau berasal dari (sumber-sumber yang ada di) wilayah Republik Indonesia.

2.1.15. Manajemen Pajak

Suandy (2008 : 6), mendefinisikan “Manajemen pajak adalah sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar tetapi jumlah pajak dapat ditekan serendah mungkin untuk memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan”.

Suandy (2008 : 6), tujuan dari manajemen pajak dapat dicapai melalui fungsi-fungsi manajemen pajak yang terdiri dari :

1. Perencanaan Pajak (Tax Planning )

2. Pelaksanaan Kewajiban Perpajakan (Tax Implementation) 3. Pengendalian Pajak (Tax Control )

2.1.16. Pengertian Perencanaan Pajak

Tax planningmerupakan langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar dapat

(25)

diseleksi jenis tindakan penghematan yang akan dilakukan. Pada umumnya  penekanan perencanaan pajak adalah untuk meminimumkan kewajiban pajak.

Perencanaan pajak adalah suatu usaha pengurangan beban pajak dengan tetap mematuhi ketentuan-ketentuan peraturan perpajakan, seperti memanfaatkan hal-hal yang belum diatur dalam peraturan perpajakan yang berlaku, usaha penghematan  pajak berdasarkan the least and latest rule, yaitu wajib pajak selalu berusaha menekan pajak sekecil mungkin dan menunda pembayaran pajak selambat mungkin sebatas masih diperkenankan oleh peraturan perpajakan.

Menekan pajak sekecil mungkin dilakukan dengan menahan penghasilan- penghasilan atau memperbesar biaya-biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan (declution) sehingga penghasilan atau laba kena pajak menurun, atau memanfaatkan hal-hal yang belum diatur dalam peraturan perpajakan. Usaha penundaan pembayaran  pajak selambat mungkin dilakukan dengan memanfaatkan peraturan perpajakan yang ada, seperti ketentuan yang berkaitan dengan penyusutan. Penundaan pembayaran  pajak selambat mungkin yang berkaitan dengan konseptime value for money. Dengan

menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang diperbolehkan oleh undang-undang dan peraturan perpajakan, perusahaan bisa mendapatkan penghematan aliran kas konseptime value for money.

2.1.17. Strategi dalam Perencanaan Pajak

(26)

a. Tax Saving

Tax saving   merupakan upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan alternatif  pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah. Misalnya, perusahaan dapat

melakukan perubahan pemberian natura kepada karyawan menjadi tunjangan dalam bentuk uang.

 b. Tax Avoidance

Tax avoidance  merupakan upaya efisiensi beban pajak dengan menghindari  pengenaan pajak melalui transaksi yang bukan merupakan objek pajak. Misalnya,  perusahaan yang masih mengalami kerugian, perlu mengubah tunjangan karyawan dalam bentuk uang menjadi pemberian natura karena natura bukan merupakan objek pajak PPh Pasal 21.

c. Menghindari Pelanggaran atas Peraturan Perpajakan

Dengan menguasai peraturan pajak yang berlaku, perusahaan dapat menghindari

timbulnya sanksi perpajakan berupa:

- Sanksi administrasi: denda, bunga, atau kenaikan; - Sanksi pidana: pidana atau kurungan.

d. Menunda Pembayaran Kewajiban Pajak

Menunda pembayaran kewajiban pajak tanpa melanggar peraturan yang berlaku dapat dilakukan melalui penundaan pembayaran PPN. Penundaan ini dilakukan dengan menunda penerbitan faktur pajak keluaran hingga batas waktu yang diperkenankan, khususnya untuk penjualan kredit. Dalam hal ini, penjual dapat

(27)

menerbitkan faktur pajak pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan  barang.

e. Mengoptimalkan Kredit Pajak yang Diperkenankan

Wajib Pajak sering kurang memperoleh informasi mengenai pembayaran pajak yang dapat dikreditkan yang merupakan pajak dibayar dimuka. Misalnya, PPh Pasal 22 atas impor, PPh Pasal 23 atas penghasilan jasa atau sewa, dll.

2.1.18. Manfaat Perencanaan Pajak

Suandy (2008 : 8), manfaat perencanaan pajak pada prinsipnya adalah sebagai  berikut :

a. Mengatur alur kas, merupakan perencanaan yang dapat mengestimasi kebutuhan kas untuk pajak dan menentukan saat pembayaran sehingga perusahaan dapat menyusun anggaran kasnya dengan lebih akurat.

 b. Penghematan kas keluar, adalah perencanaan pajak yang dapat menghemat pajak yang merupakan biaya bagi perusahaan.

2.1.19. Prinsip-Prinsip Menghemat Pajak Prinsip-prinsip untuk menghemat pajak :

a. Memanfaatkan secara optimal ketentuan-ketentuan perpajakan yang berlaku.  b. Menyebar penghasilan kebeberapa tahun untuk menghindari pajak yang tinggi.

(28)

d. Mendirikan perusahaan dalam satu jalur usaha sehingga dapat diukur secara keseluruhan penggunaan tarif pajak dan potensi penghasilannya.

2.1.20. Motivasi Perencanaan Pajak

Mengacu pada Suandy (2008 : 10), motivasi dilakukannya perencanaan pajak  pada umumnya bersumber dari tiga unsur perpajakan, yaitu:

a. Kebijakan Perpajakan (Tax Policy), merupakan alternatif dari berbagai sasaran yang menjadi tujuan dalam sistem perpajakan. Faktor-faktor yang mendorong dilakukannya suatu perencanaan pajak, antara lain :

1. Jenis Pajak yang akan dipungut. 2. Subjek Pajak.

3. Objek Pajak.

4. Besarnya Tarif Pajak.

5. Prosedur pembayaran pajak.

 b. Undang-undang Perpajakan (Tax Law). Tidak ada undang-undang yang mengatur setiap permasalahan secara sempurna. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya selalu diikuti oleh ketentuan-ketentuan lain, seperti Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri Keuangan, dan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Sering terjadi pertentangan antara ketentuan pelaksanaan tersebut dengan undang-undang itu sendiri karena adanya penyesuaian dengan kepentingan  pembuat kebijakan dalam mencapai tujuan lain yang ingin dicapainya. Akibatnya

(29)

terbuka celah (loopholes) bagi Wajib Pajak untuk menganalisis dengan cermat kesempatan tersebut untuk melakukan perencanaan pajak yang baik.

c. Administrasi Perpajakan (Tax Administration). Indonesia sebagai negara yang sedang membangun masih mengalami kesulitan dalam melaksanakan administrasi  perpajakannya secara memadai. Hal ini mendorong perusahaan untuk melaksanakan perencanaan dengan baik untuk menghindari sanksi administrasi maupun pidana yang diakibatkan karena adanya perbedaan penafsiran antara aparat fiskus dengan perusahaan selaku Wajib Pajak karena luasnya peraturan  perpajakan yang berlaku dan sistem informasi yang belum efektif.

2.1.21. Aspek-aspek Perencanaan Pajak

Aspek-aspek dalam perencanaan pajak terdiri dari :

1. Aspek formal dan administratif dalam perencanaan pajak, sebagai berikut:

a. Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Nomor Pengakuan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP)

 b. Menyelenggarakan pembukuan dan pencatatan c. Pemotong dan memungut pajak

d. Membayar pajak

e. Menyampaikan surat pemberitahuan 2. Aspek Material

Basis perhitungan pajak adalah objek pajak. Dalam rangka optimalisasi alokasi sumber dana, manajemen akan merencanakan pembayaran pajak yang tidak lebih

(30)

atau tidak kurang. Untuk itu maka objek pajak harus di tetapkan dengan benar dan lengkap.

2.1.22. Tahapan Perencanaan Pajak

Yang perlu diperhatikan dalam tahap-tahap perencanaan pajak adalah sebagai  berikut:

a. Menganalisis informasi yang ada(analyzing the existing data base)

 b. Membuat satu atau lebih model kemungkinan jumlah pajak (designing one or more possible tax plans)

c. Mengevaluasi pelaksanaan perencanaan pajak(evaluating a tax plan)

d. Mencari kelemahan dan memperbaiki kembali rencana pajak (debugging the tax  plans)

e. Memutakhirkan rencana pajak(updating the tax plan)

2.1.23. Bentuk-Bentuk Perencanaan Pajak

Suandy (2007 : 119) menyebutkan bentuk-bentuk perencanaan pajak yang terdiri atas :

1. Mengambil keuntungan dari berbagai pilihan bentuk badan hukum (legal entity) yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan jenis usaha. Bila dilihat dari perspektif  perpajakan kadang pemilihan bentuk badan hukum (legal entities) bentuk  perseorangan, firma dan kongsi ( partnership) adalah bentuk yang lebih menguntungkan dibanding perseroan terbatas yang pemegang sahamnya

(31)

 perorangan atau badan tetapi kurang 25%, akan mengakibatkan pajak atas  penghasilan perseroan dikenakan dua kali yakni pada saat penghasilan diperoleh oleh pihak perseroan dan pada saat penghasilan dibagikan sebagai dividen kepada  pemegang saham perseorangan atau badan yang kurang dari 25%. Sebagai contoh:  pemilihan bentuk usaha perseorangan akan lebih menghemat pajak karena terhindar dari pengenaan pajak berganda seperti yang terjadi pada bentuk usaha  perseroan terbatas.

2. Memilih lokasi perusahaan yang akan didirikan. Umumnya pemerintah memberikan semacam insentif pajak/fasilitas perpajakan khususnya untuk daerah tertentu (Misalnya di Indonesia bagian Timur), banyak pengurangan pajak  penghasilan yang diberikan sebagaimana dimaksud dalam p asal 26 undang-undang  No.17 Tahun 2000. disamping itu juga diberikan fasilitas seperti peyusutan dan amortisasi yang dipercepat, kompensasi kerugian yang lebih lama. Misalnya:  perusahaan memperluas usahanya dengan mendirikan perusahaan baru didaerah

terpencil di Indonesia bagian Timur. Oleh karena daerah tersebut memiliki potensi ekonomi yang layak dikembangkan namun sulit dijangkau, maka pemerintah memberikan beberapa keringanan dalam pajak seperti izin untuk mengurangkan natura dan kenikmatan ( fringe benefit ) dari penghasilan bruto seperti yang diatur dalam SE-29/Pj.4/1995 Tanggal 5 Juni 1995.

3. Mengambil keuntungan sebesar-besarnya atau semaksimal mungkin dari berbagai  pengecualian, potongan atau pengurangan atas penghasilan kena pajak yang diperbolehkan oleh undang-undang. Sebagai contoh jika diketahui bahwa

(32)

 penghasilan kena pajak (laba) perusahaan besar dan akan dikenakan tarif pajak

tinggi/tertinggi, maka sebaiknya perusahaan membelanjakan sebagian laba

 perusahaan untuk hal-hal yang bermanfaat secara langsung untuk perusahaan,

dengan catatan tentunya biaya yang dikeluarkan adalah biaya yang dapat

dikurangkan (deductible) dalam menghitung penghasilan kena pajak. Sebagai contoh: biaya untuk riset dan pengembangan, biaya pendidikan dan latihan

 pegawai, biaya perbaikan kantor, biaya pemasaran da n masih banyak biaya lainnya

yang dapat dimanfaatkan.

4. Mendirikan perusahaan dalam satu jalur usaha (corporate company) sehingga diatur mengenai penggunaan tarif pajak yang paling menguntungkan antara

masing-masing badan usaha (business entity). Hal ini bisa dilakukan mengingat  bahwa banyak negara termasuk Indonesia mengatur bahwa pembagian dividen

antar corporate (intercorporate dividend ) tidak dikenakan pajak.

5. Mendirikan perusahaan ada yang sebagai profit center dan ada yang hanya

 berfungsi sebagai cost center . Dari hal tersebut dapat diperoleh manfaat dengan cara menyebarkan penghasilan menjadi pendapatan dari beberapa wajib pajak

didalam satu grup begitu juga terhadap biaya sehingga dapat diperoleh keuntungan

atas pergeseran pajak (tax shifting ) yakni menghindari tarif paling tinggi/maksimum.

6. Memberikan tunjangan kepada karyawan dalam bentuk uang atau natura dan

kenikmatan ( fringe Benefit ) dapat sebagai salah satu pilihan untuk menghindari lapisan tarif maksimum ( shif to lower bracket ). Karena pada dasarnya pemberian

(33)

dalam bentuk natura dan kenikmatan ( fringe benefit ) dapat dikurangkan sebagai  biaya oleh pemberi kerja sepanjang pemberian tersebut diperhitungkan sebagai

 penghasilan yang dikenakan pajak bagi pegawai yan g menerimanya.

7. Pemilihan metode penilaian persediaan. Ada dua metode penilaian yang dizinkan

oleh peraturan perpajakan, yaitu metode rata-rata (average) dan metode masuk

 pertama keluar pertama ( first in first out ). Dalam kondisi perekonomian yang cenderung mengalami inflasi, metode rata-rata (average)akan menghasilkan harga

 pokok yang lebih tinggi dibanding dengan metode masuk pertama keluar pertama

( first in first out ). Harga pokok penjualan (HPP) yang lebih tinggi akan mengakibatkan laba kotor menjadi lebih kecil.

8. Untuk pendanaan aktiva tetap dapat mempertimbangkan sewa guna usaha dengan

hak opsi ( finance lease) di samping pembelian langsung karena jangka waktu leasing umumnya lebih pendek dari umur aktiva dan pembayaran leasing dapat

dibiayakan seluruhnya. Dengan demikian, aktiva tersebut dapat dibiayakan lebih

cepat dibandingkan melalui penyusutan jika pembelian dilakukan secara langsung.

9. Melalui pemilihan metode penyusutan yang diperbolehkan peraturan perpajakan

yang berlaku. Jika perusahaan mempunyai prediksi laba yang cukup besar maka

dapat dipakai metode penyusutan yang dipercepat (saldo menurun) sehingga atas

 biaya penyusutan tersebut dapat mengurangi laba kena pajak dan sebaliknya jika

diperkirakan pada awal tahun investasi belum bisa memberikan keuntungan atau

(34)

memberikan biaya yang lebih kecil (garis lurus) supaya biaya penyusutan dapat ditunda untuk tahun berikutnya.

10. Menghindari dari pengenaan pajak dengan cara mengarahkan pada transaksi yang bukan objek pajak. Sebagai contoh: untuk jenis usaha yang PPh Badannya dikenakan pajak secara final, maka efesiensi PPh pasal 21 karyawan dapat dilakukan dengan cara memberikan semaksimal mungkin tunjangan karyawan dalam bentuk natura, mengingat pembelian natura bukan merupakan objek pajak PPh Pasal 21.

11. Mengoptimalkan kredit pajak yang di perkenankan, untuk ini wajib pajak harus jeli untuk memperoleh informasi mengenai pembayaran pajak yang dapat dikreditkan. Sebagai contoh PPh Pasal 22 atas pembelian solar dari pertamina  bersifat final jika pembeliannya dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di  bidang penyaluran ”Migas”, tetapi bila pembeliannya dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di bidang pabrikan maka PPh pasal 22 tersebut dapat dikreditkan dengan PPh Badan. Perkreditan ini lebih menguntungkan ketimbang dibebankan sebagai biaya. Keuntungan yang dapat diperoleh sebesar 70% dari nilai pajak yang dikreditkan (dengan asumsi penghasilan kena pajak telah mencapai jumlah yang dikenakan tarif 30%).

12. Penundaan pembayaran kewajiban pajak dapat dilakukan dengan cara melakukan pembayaran pada saat mendekati tanggal jatuh tempo. Khusus untuk menunda pembayaran PPN dapat dilakukan dengan menunda penerbitan faktur  pajak sampai batas waktu yang diperkenankan khususnya atas penjualan kredit.

(35)

Perusahaan dapat menerbitkan faktur pajak pada akhir bulan penyerahan barang (Kep. Dirjen Pajak No: 13/PJ/2010).

13. Menghindari pemeriksaan pajak, periksaan pajak oleh Direktorat jenderal  pajak dilakukan terhadap wajib pajak yang:

a. SPT lebih bayar  b. SPT rugi

c. Tidak memasukkan SPT atau terlambat memasukkan SPT d. Terdapat informasi pelanggaran

e. Memenuhi kriteria tertentu yang ditetapkan oleh Dirjen pajak f. Menghindari lebih bayar dapat dilakukan dengan cara:

a) Mengajukan pengurangan pembayaran lumpsum (angsuran masa) PPh  pasal 25 ke KKP yang bersangkutan, apabila diperkirakan dalam tahun  pajak berjalan akan terjadi kelebihan pembayaran pajak.

 b) Mengajukan permohonan pembebasan PPh Pasal 22 impor apabila  perusahaan melakukan impor.

14. Menghindari pelanggaran terhadap peraturan perpajakan yang berlaku. Menghindari pelanggaran terhadap peraturan perpajakan dapat dilakukan dengan cara menguasai peraturan perpajakan yang berlaku.

(36)

2.1.24. Langkah-Langkah dalam Perencanaan Pajak

2.1.24.1.Memaksimalkan Penghasilan yang Dikecualikan

Dalam UU PPh pasal 4 ayat (3) mengatur mengenai penghasilan yang dikecualikan sebagai Objek Pajak. Selain penghasilan yang dikecualikan undang-undang, kita juga harus mengetahui apa saja yang termasuk  pengahasilan dalam undang-undang agar kita dapat mengetahui dengan pasti dalam tax planning yang akan dilakukan.(Suandy, 2006 : 131) Lombantoruan (2005 : 2), langkah-angkah yang dapat dilakukan sebagai berikut :

a. Mengubah Jenis Penghasilan

Dengan memanfaatkan celah-celah dari Undang-Undang perpajakan yang  berlaku, Penghasilan Kena Pajak diupayakan untuk dikecualikan atau dikurangi jumlah pajaknya. Contoh : apabila menanamkan saham pada suatu  perusahaan, sebaiknya menanamkan saham minimal 25% agar dividen yang

nantinya dibagikan tidak terkena pajak.

 b. Merencanakan Penghasilan untuk Tahun Berikutnya

Untuk meminimumkan pajak tahun bersangkutan, maka pernghasilan yang diperoleh pada bulan-bulan terakhir tahun yang bersangkutan direncanakan sebagi penghasilan tahun depan. Contoh : Laba tahun 2009 besar, dan  perkiraan laba tahun 2010 akan menurun, maka sebagian penjualan untuk  bulan Desember 2009 ditunda sampai bulan Januari 2010.

c. Mengambil keuntungan sebesar-besarnya atau semaksimal mungkin dari  berbagai pengecualian potongan atas Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang

(37)

diperbolehkan oleh undang-undang. Jika diketahui bahwa PKP (laba)  perusahaan besar akan dikenakan tarif pajak tinggi/tertinggi, maka sebaiknya  perusahaan membelanjakan sebagian laba perusahaan untuk hal-hal yang  bermanfaat secara langsung bagi perusahaan dengan syarat biaya yang dikeluarkan adalah biaya yang dapat dikurangkan dari PKP (deductible). Contoh : biaya untuk riset dan pengembangan, biaya pendidikan dan  pelatihan, biaya perbaikan kantor, biaya pemasaran, investasi jangka pendek

atau jangka panjang lainnya.

2.1.24.2.Memaksimalkan Biaya-Biaya Fiskal

Suandy (2006 : 132), salah satu cara dalam meminimalkan pajak terutang yang dilakukan dalamtax planningadalah dengan memaksimalkan biaya fiskal. Biaya fiskal adalah biaya yang menurut Undang-Undang Perpajakan dapat dikurangkan dari penghasilan Bruto. Semakin besar biaya fiskal yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto menyebabkan semakin kecil laba bersih sebelum pajak dan otomatis akan mengurangi pajak terutang. Dalam tax  planning selain memaksimalkan fiskal, hal lain yang harus diperhatikan adalah meminimalkan biaya yang menurut Undang-Undang perpajakan tidak dapat dikurangkan menyebabkan penghasilan sebelum pajak akan lebih besar dan hal itu menyebabkan pajak terutang juga lebih besar. Oleh karena itu, dalam melakukan tax planning kita harus mengetahui biaya diperkenankan sebagai  pengurang dan yang tidak diperkenankan sebagai pengurang. Berdasarkan UU

(38)

PPh pasal 6, besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi  biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk :

a. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara lain :

a) Biaya pembelian bahan;

 b) Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam  bentuk uang;

c) Bunga, sewa dan royalti; d) Biaya Perjalanan;

e) Biaya pengolahan limbah; f) Premi asuransi;

g) Biaya Promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan  peraturan menteri keuangan;

h) Biaya administrasi; dan

i) Pajak kecuali pajak penghasilan.

 b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun;

c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;

(39)

d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;

e. Kerugian selisih kurs mata uang asing

f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;

g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;

h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat;

a) Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;

 b) Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan

c) Telah diserahkan perkara penagihannya kepada pengadilan negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya  perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur  bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu;

d) Syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk  penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf k; yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan;

(40)

i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah;

 j. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah;

k. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan  peraturan pemerintah;

Pengeluaran yang tidak diperkenankan dikurangkan dari penghasilan  bruto bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap, sesuaiUU PPh  pasal 9 ayat (1) adalah :

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada  pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;

 b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi  pemegang saham, sekutu, atau anggota;

c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali :

a) Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan  pembiayaan konsumen, dan perusahaan anak piutang;

 b) Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh badan penyelenggara jaminan sosial;

c) Cadangan penjaminan untuk lembaga penjamin simpanan; d) Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;

(41)

e) Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan

f) Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengelolahan limbah, industri, yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan;

d. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak Orang Pribadi. Kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan;

e. Penggantian atau imbalan sehibungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam  bentuk natura dan kenikmatan didaerah tertentu dan yang berkaitan dengan  pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan

menteri keuangan;

f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan yang dilakukan;

g. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan; h. Pajak Penghasilan;

i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;

(42)

 j.

 j. Gaji yang dibayar kepada anggota persekutuan , firma, atau perseroanGaji yang dibayar kepada anggota persekutuan , firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;

komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham; k.

k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidanaSanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana  berupa

 berupa denda denda yang yang berkenaan berkenaan dengan dengan pelaksanaan pelaksanaan perundang-undangan perundang-undangan didi  bidang perpajakan.

 bidang perpajakan.

2.1.24.3.

2.1.24.3.Meminimalkan Tarif PajakMeminimalkan Tarif Pajak

Adanya perubahan tarif pajak dari UU No. 17 Tahun 2000 menjadi UU Adanya perubahan tarif pajak dari UU No. 17 Tahun 2000 menjadi UU  No. 36

 No. 36 Tahun Tahun 2008, membantu 2008, membantu kita menciptakan kita menciptakan peluang untuk peluang untuk melakukanmelakukantaxtax  planning

 planning lewat perubahan tersebut. Perubahan tersebut adalah :lewat perubahan tersebut. Perubahan tersebut adalah : a.

a. Tarif PPh No. 36 Tahun 2008Tarif PPh No. 36 Tahun 2008 a)

a) WP WP Orang Orang Pribadi Pribadi : : 00 –  – 50 50 juta juta 5%5% 50 50 –  – 250 250 juta juta 10%10% 250 250 –  – 500 500 juta juta 25%25% >500 >500 juta juta 30%30%  b)

 b) WP Badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28 %WP Badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28 %  b.

 b. Tarif PPh Pasal 31 ETarif PPh Pasal 31 E

Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan 50 Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan 50 miliar mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif miliar mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan 4,8 miliar.

(43)

Penghitungan PPh terutang berdasarkan Pasal 31E dapat dibedakan Penghitungan PPh terutang berdasarkan Pasal 31E dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

menjadi dua yaitu: a)

a) Jika peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000, makaJika peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000, maka  penghitungan PPh terutang yaitu sebagai berikut:

 penghitungan PPh terutang yaitu sebagai berikut:

 PPh terutang = 50% X 28% X seluruh Penghasilan Kena Pajak   PPh terutang = 50% X 28% X seluruh Penghasilan Kena Pajak   b)

 b) Jika peredaran bruto lebih dari Rp 4.800.000.000 sampai dengan RpJika peredaran bruto lebih dari Rp 4.800.000.000 sampai dengan Rp 50.000.000.000, maka penghitungan PPh terutang yaitu sebagai berikut: 50.000.000.000, maka penghitungan PPh terutang yaitu sebagai berikut:  PPh

 PPh Terutang Terutang =(50% =(50% X X 28%) 28%) X X Penghasilan Penghasilan Kena Kena Pajak Pajak dari dari bagianbagian  peredaran bruto y

 peredaran bruto yang memperoleh faang memperoleh fasilitas + 28% X Pesilitas + 28% X Penghasilan Kenanghasilan Kena  Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas  Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas yaitu:

memperoleh fasilitas yaitu:

(Rp 4.800.000.000 / Peredaran bruto) X Penghasilan Kena Pajak (Rp 4.800.000.000 / Peredaran bruto) X Penghasilan Kena Pajak

Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas yaitu :

tidak memperoleh fasilitas yaitu :  Penghasilan Kena Pajak

 Penghasilan Kena Pajak

 – 

 – 

 Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas.

bruto yang memperoleh fasilitas.

Dengan disempurnakannya Undang-undang Perpajakan, berarti Dengan disempurnakannya Undang-undang Perpajakan, berarti kelemahan-kelemahan didalam undang-undang dan peraturan-peraturan kelemahan-kelemahan didalam undang-undang dan peraturan-peraturan  perpajakan

 perpajakan sudah sudah dapat dapat diatasi. diatasi. Hal Hal ini ini berarti berarti bahwa bahwa beberapa beberapa ““loopholesloopholes”” dalam Undang-undang perpajakan sebagian besar telah diketahui. Tetapi harus dalam Undang-undang perpajakan sebagian besar telah diketahui. Tetapi harus diingat bahwa tidak ada satu pasal pun di dalam Undang-undang Perpajakan di diingat bahwa tidak ada satu pasal pun di dalam Undang-undang Perpajakan di

(44)

Indonesia yang berlaku,yang melarang Wajib Pajak melakukan manajemen Indonesia yang berlaku,yang melarang Wajib Pajak melakukan manajemen  pajak,

 pajak, sehingga sehingga usaha-usaha usaha-usaha mengelola mengelola kewajiban kewajiban perpajakan perpajakan dalamdalam manajemen keuangan dengan tepat untuk tujuan meminimalkan jumlah pajak manajemen keuangan dengan tepat untuk tujuan meminimalkan jumlah pajak terutang merupakan tindakan sah dan legal.

terutang merupakan tindakan sah dan legal.

2.1.25.

2.1.25. Pemilihan Metode AkuntansiPemilihan Metode Akuntansi 1.

1. PenyusutanPenyusutan

Mulai tahun 1995, Wajib Pajak diperkenankan untuk memilih metode penyusutan Mulai tahun 1995, Wajib Pajak diperkenankan untuk memilih metode penyusutan fiskal untuk aktiva tetap berwujud bukan bangunan, yaitu metode penyusutan garis fiskal untuk aktiva tetap berwujud bukan bangunan, yaitu metode penyusutan garis lurus (

lurus ( straight line straight line) dan kedua, metode penyusutan saldo menurun () dan kedua, metode penyusutan saldo menurun (doubledouble declining 

declining ). Dalam memilih metode penyusutan, kita harus mempertimbangkan). Dalam memilih metode penyusutan, kita harus mempertimbangkan keadaaan perusahaan. Jika perusahaan memperkirakan laba perusahaan yang keadaaan perusahaan. Jika perusahaan memperkirakan laba perusahaan yang cukup besar, maka sebaiknya perusahaan menggunakan metode penyusutan saldo cukup besar, maka sebaiknya perusahaan menggunakan metode penyusutan saldo menurun, sehingga menghasilkan biaya penyusutan yang besar yang dapat menurun, sehingga menghasilkan biaya penyusutan yang besar yang dapat mengurangi laba kena pajak. Sebaliknya, jika diperkirakan awal tahun investasi mengurangi laba kena pajak. Sebaliknya, jika diperkirakan awal tahun investasi  belum

 belum bisa bisa memberikan memberikan keuntungan, keuntungan, laba laba yang yang diperoleh diperoleh kecil kecil atau atau timbultimbul kerugian, maka sebaiknya memilih metode penyusutan garis lurus karena kerugian, maka sebaiknya memilih metode penyusutan garis lurus karena menghasilkan biaya penyusutan yang lebih kecil.

menghasilkan biaya penyusutan yang lebih kecil. a)

a) Penyusutan Berdasarkan Peraturan PerpajakanPenyusutan Berdasarkan Peraturan Perpajakan

Sebagaimana telah diatur dalam UU PPh pasal 9 ayat (2), bahwa pengeluaran Sebagaimana telah diatur dalam UU PPh pasal 9 ayat (2), bahwa pengeluaran untuk mendapatkan manfaat, menagih, dan memelihara penghasilan yang untuk mendapatkan manfaat, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak boleh dibebankan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak boleh dibebankan

(45)

sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan. Hal ini sesuai dengan kelaziman dunia usaha dan selaras dengan prinsip penandingan antara  pengeluaran dan penerimaan, dalam ketentuan ini pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan mempertahankan penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak dapat dikurangkan sebagai biaya sekaligus pada tahun pengeluarannya.

 Namun demikian, dalam perhitungan dan penerapan tarif penyusutan untuk keperluan pajak perlu diperhatikan dasar hukum penyusutan fiskal, karena dapat  berbeda dengan penyusutan untuk akuntansi. Mulai tahun 1995 ketentuan fiskal mengharuskan penyusutan harta tetap dilakukan secara individual per aktiva, tidak lagi secara gabungan seperti yang berlaku sebelumnya kecuali untuk alat-alat kecil yang sejenis masih boleh menggunakan penyusutan secara golongan.

Menurut UU PPh pasal 11, Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya  pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan,  penyusutannya dimulai bulan selesainya pengerjaan harta tersebut. Dengan  persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak diperkenankan melakukan  penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan.

Dalam UU PPh pasal 11 ayat (6), semua aktiva tetap berwujud yang memenuhi syarat penyusutan fiskal harus dikelompokkan terlebih dahulu menjadi 2 golongan :

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :