BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA BERPIKIR. A. Tinjauan Pustaka. Penelitian relevan dengan penelitian peneliti yang pertama adalah

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Tinjauan Pustaka

Penelitian relevan dengan penelitian peneliti yang pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Marini (2010: 149-150) dengan judul Analisis Stilistika Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keunikan pemilihan dan pemakaian kosakata terdapat pada leksikon bahasa asing, leksikon bahasa Jawa, leksikon ilmu pengetahuan, kata sapaan, pemilihan dan pemakaian kata konotasi pada judul. Kekhususan aspek morfologis dalam novel Laskar Pelangi yaitu pada penggunaan afiksasi leksikon bahasa Jawa dan bahasa Inggris serta reduplikasi dalam leksikon bahasa Jawa. Aspek sintaksis meliputi penggunaan repetisi, kalimat majemuk dan pola kalimat inversi. Pemanfaatan gaya bahasa figuratif yang unik dan menimbulkan efek-efek estetis pada pembaca yaitu idiom, arti kiasan, konotasi, metafora, metonimia, simile, personifikasi, dan hiperbola.

Penelitian Marini memiliki persaman dengan penelitian peneliti yaitu mengkaji stilistika dalam novel. Aspek yang dikaji antara lain: diksi, morfologis, sintaksis, dan bahasa figuratif. Perbedaan yang terdapat pada penelitian peneliti dengan Marini adalah penggunaan aspek citraan. Pada penelitiam Marini tidak menggunakan aspek citraan dalam mengkaji stilistika dalam novel, sedangkan pada penelitian peneliti menggunakan aspek citraan dalam mengkaji stilistika dalam novel.

(2)

Penelitian kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Sugiarti (2010: 555) dengan judul Kajian Stilistika Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu Dan Petir Karya Dewi Lestari. Dari penelitian tesebut dapat diketahui bahwa novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu dan Supernova (Petir) karya Dewi Lestari lebih banyak menggunakan stilistika linguistik dan stilistika sastra dalam mengeksplor gagasan yang tertuang dalam teks sastra. Kekhasan pilihan kata serta efek estetik yang ingin dicapai dioptimalkan penggunaannya sedemikian rupa sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri bagi pembaca.

Penelitian yang dilakukan oleh Sugiarti terdapat persamaan dengan penelitian peneliti yaitu pendekatan stilistika yang digunakan dalam mengkaji novel. Perbedaan penelitian Sugiarti dengan penelitian peneliti adalah aspek stilistika yang dikaji. Penelitian yang dilakukan oleh Sugiarti secara garis besar mengkaji stilistika linguistik dan stilistika sastra. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti mencakup aspek-aspek stlistika meliputi; diksi, bahasa figuratif, kalimat, wacana, dan citraan.

Penelitian ketiga adalah penelitian yang dilakukan oleh Yunanta (2013: 75) dengan judul Telaah Stilistika dalam Syair Burung Pungguk. Hasil penelitian ini menunjukkan gaya bahasa yang digunakan pada teks Syair Burung Pungguk berkaitan erat dengan nasehat yang terkandung di dalam bait syair. Penyampaian nasehat dalam tiap bait syairnya dilakukan dengan diksi dan bahasa yang indah. Nasehat yang terdapat pada teks Syair Burung Pungguk ini bisa dijadikan bahan ajar atau upaya pembentukan karakter. Penelitian yang dilakukan oleh Yunanta terdapat persamaan dengan penelitian

(3)

peneliti yaitu aspek kajian yang digunakan adalah pendekatan stilistika, sedang perbedaan penelitian Yunanta dengan penelitian peneliti adalah jenis teks sastra yang digunakan dalam penelitian. Pada penelitian Yunanta menggunakan teks Syair Burung Pungguk sedangkan pada penelitian peneliti menggunakan teks novel Pulang karya Leila S. Chudori.

Penelitian keempat adalah penelitian yang dilakukan oleh Umami (2009: 212) yang berjudul Analisis Wacana Penggunaan Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu-Lagu Ungu: Kajian Stilistika. Dari hasil penelitian lirik lagu-lagu Ungu dapat disimpulkan bahwa lirik lagu Ungu tidak hanya didominasi oleh gaya bahasa personifikasi dan hiperbola tetapi juga asonansi, aliterasi, repetisi, pleonasme, simploke, inversi, klimaks, antitesis, dan sinekdok pars pro toto. Penelitian yang dilakukan oleh Umami terdapat persamaan yaitu menggunakan pendekatan stilistika. Meskipun terdapat perbedaan antara lain; pada penelitian Umami teks yang dikaji adalah lirik lagu Ungu, sedangkan pada penelitian peneliti teks novel Pulang karya Leila S. Chudori yang dikaji.

Penelitian kelima adalah penelitian yang dilakukan oleh Kurniasih (2013: 36) dengan judul Kajian Stilistika dalam Serat Pamoring Kawula Gusti Karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. Dari hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa dalam Serat Pamoring Kawula Gusti ditemukan diksi dan gaya bahasa. Diksi yang ditemukan antara lain dasa nama dan purwakanthi. Gaya bahasa yang ditemukan dalam Serat Pamoring Kawula Gusti karya Raden Ngabehi Ranggawarsita adalah gaya bahasa hiperbola dan metafora. Terdapat persamaan penelitian yang dilakukan oleh Kurniasih

(4)

dengan penelitian peneliti yaitu kajian stilistika. Meskipun dalam aspek stilistika yang dikaji terdapat perbedaan. Pada penelitian yang dilakukan Kurniasih menggunakan aspek diksi dan gaya bahasa, sedangkan pada penelitian peneliti menggunakan aspek: diksi, bahasa figuratif, kalimat, wacana, dan citraan.

Penelitian keenam adalah penelitian yang dilakukan oleh Munir (2013: 1) yang berjudul Diksi dan Majas dalam Kumpulan Puisi Nyanyian dalam Kelam Karya Sutikno W. S: Kajian Stilistika. Hasil penelitian membuktikan adanya wujud penggunaan diksi dan majas serta fungsinya. Diksi yang dimaksud seperti kata serapan dari bahasa Jawa, bahasa asing, dan pemanfaatan sinonim. Majas yang dimaksud seperti perbandingan, metafora, perumpamaan, epos, personifikasi, metonemia, sinekdoke, dan alegori.

Penelitian yang dilakukan Munir terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian peneliti. Persamaannya terletak pada kajian stilistika yang digunakan. Meskipun pada aspek stilistika terdapat perbedaan yang dikaji yaitu pada penelitian Munir menggunakan aspek diksi dan majas, sedangkan pada penelitian peneliti menggunakan aspek: diksi, bahasa figuratif, kalimat, wacana, dan citraan. Perbedaan yang lain terletak pada jenis teks sastra yang dikaji. Pada penelitian Munir teks sastra yang dikaji adalah puisi sedangkan pada penelitian peneliti teks sastra yang dikaji adalah novel.

Penelitian ketujuh adalah penelitian yang dilakukan oleh Zhang (2010: 155) dengan judul The Interpretation of a Novel by Hemingway in Terms of Literary Stylistics. Penelitian ini berusaha menginterpretasikan bentuk-bentuk

(5)

linguistik yang ada pada novel. Penelitian Zhiqin Zhang memiliki persamaan dengan penelitian peneliti yaitu pendekatan stilistika. Meskipun terdapat perbedaan dari segi aspek stilistika yang dikaji. Pada penelitian Zhiqin Zhang bentuk-bentuk linguistik yang dikaji sedangkan pada penelitian peneliti aspek: diksi, bahasa figuratif, kalimat, wacana, dan citraan yang dikaji.

Penelitian kedelapan adalah penelitian yang dilakukan oleh Yeibo (2011: 197) yang berjudul A Discourse-Stylistic Analysis of Mood Structures in Selected Poems of J.P. Clark-Bekederemo. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti struktur gramatikal yang berkaitan dengan klausul dalam puisi, dalam rangka untuk menentukan bagaimana bahasa digunakan untuk mengekspresikan cara berbicara dari lawan bicara, dan peran mereka, penilaian dan sikap dalam konteks wacana tertentu. Penelitian yang dilakukan oleh Yeibo memiliki persamaan dengan penelitian peneliti yaitu kajian stilistika. Selain itu, perbedaan yang terdapat dalam penelitian Yeibo dan penelitian peneliti adalah jenis teks sastra yang digunakan. Pada penelitian Yeibo teks sastra yang digunakan adalah puisi sedangkan pada penelitian peneliti teks sastra yang digunakan adalah novel.

Penelitian kesembilan adalah penelitian yang dilakukan oleh Chen (2013: 598) yang berjudul Analysis on Three Versions of if by Life You Were Deceived from Perspective of Stylistics. Penelitian ini bertujuan untuk membantu perbedaan bahasa puisi dalam bahasa Rusia, Inggris, dan China supaya lebih jelas dan untuk membandingkan dua versi terjemahan dengan

(6)

yang asli. Puisi tersebut dianalisis berdasarkan perspektif gaya bahasa yang meliputi: leksikal, irama, sajak, pola kalimat.

Penelitian yang dilakukan oleh Chen memiliki persamaan dengan penelitian peneliti yaitu pendekatan yang digunakan pendekatan stilistika. Meskipun pada aspek stilistika yang dianalisis terdapat perbedaan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Chen menggunakan aspek: leksikal; irama; sajak; dan pola kalimat, sedangkan penelitian peneliti menggunakan aspek: diksi; bahasa figuratif; gaya kalimat; gaya wacana; dan citraan. Selain itu, perbedaan yang terdapat dalam penelitian Chen dengan penelitian peneliti adalah jenis teks sastra yang digunakan. Pada penelitian Chen menggunakan puisi, sedangkan dalam penelitian peneliti menggunakan novel.

Penelitian kesepuluh adalah penelitian yang dilakukan oleh Galita (2011: 36) dengan judul A Pragma-Stylistic Approach on Deixis. Penelitian tersebut menggabungkan dua pendekatan yaitu pendekatan stilistika dan pragmatik. Pendekatan stilistika yang dianalisis dalam penelitian Galita adalah semua bahasa yang mencakup sarana ekspresi yang meliputi: fonetis; morfologis; sintaksis; leksikal; dan semantik, sedang dalam pendekatan pragmatik berfokus pada suasana hati pengguna bahasa pada waktu dan tempat serta hal-hal lain yang dapat mempengaruhi proses komunikasi.

Melanjuti uraian sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh Galita memiliki persamaan dengan penelitian peneliti yaitu stilistika. Meskipun, dalam penelitian Galita terdapat dua pendekatan sekaligus yaitu stilistika dan pragmatik. Selain itu, perbedaan yang terdapat dalam penelitian Galita dengan

(7)

penelitian peneliti adalah aspek stilistika yang dikaji dan objek kajian. Pada penelitian Galita aspek stilistika yang dikaji yaitu: fonetis; morfologis; sintaksis; leksikal; dan semantik, sedang pada penelitian peneliti aspek stilistika yang dikaji adalah diksi, bahasa figuratif, gaya kalimat, gaya wacana, dan citraan. Objek kajian yang diteliti dalam penelitian Galita adalah deixis sedang objek kajian yang diteliti dalam penelitian peneliti adalah teks sastra yang berwujud novel.

Dari beberapa penelitian di atas, dapat diketahui penelitian ini merupakan kajian stilistika terhadap novel Pulang karya Leila S. Chudori. Aspek-aspek yang dikaji dalam penelitian ini adalah diksi, bahasa figuratif (figurative language), gaya kalimat, gaya wacana, dan citraan. Selain itu, dikaji pula nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori.

B. Landasan Teori 1. Hakikat Stilistika

a. Pengertian Stilistika

Stilistika (stylistic) menurut Ratna (2009: 2) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan (style) secara umum adalah cara-cara khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal. Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Verdonk (2003: 4) memberi definisi stilistika adalah ilmu yang membahas gaya yang menggunakan bahasa sebagai penyampai ekspresi khusus untuk

(8)

gambaran maksud dan akibat dari gaya tersebut. Selanjutnya, Simpson (2004:2) memberi definisi mengenai stilistika, yaitu stilistika adalah cara menginterpretasi naskah atau teks yang keunggulannya menggunakan bahasa.

Bertemali dengan uraian sebelumnya, style

khas dipergunakan oleh seseorang untuk mengutarakan atau mengungkapkan diri gaya pribadi. Cara pengungkapan tersebut bisa meliputi setiap aspek kebahasaan: diksi, penggunaan bahasa kias, bahasa figuratif (figurative language), struktur kalimat, bentuk-bentuk wacana, dan sarana retorik yang lain (Satoto, 2012: 35). Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Sutejo (2010: 5) mengungkapkan style merupakan gaya bahasa termasuk di dalamnya pilihan gaya pengekspresian sesorang pengarang untuk menuangkan apa yang dimaksudkan yang bersifat individual dan kolektif. Selanjutnya, Fairclough (2003:159) menyatakan bahwa gaya atau style adalah aspek dari tulisan yang dapat memberi identitas dari tulisan. Identitas yang dimaksudkan adalah kekhasan bahasa pengarang.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disintesiskan stilistika adalah cabang ilmu sastra yang meneliti tentang gaya. Gaya tersebut merupakan gaya seorang pengarang yang secara khas tertuang dalam karyanya baik itu novel, puisi, maupun cerpen.

b. Objek Kajian Stilistika

Objek kajian stilistika menurut Ratna (2009: 16) adalah teks atau wacana. Objek analisis bukan bahasa yang digunakan, bahasa dalam proses penafsiran. Pada saat sebuah kalimat diucapkan, sebagai parole, pada saat

(9)

itulah terjadi komunikasi antara objek dengan pembaca. Pada saat itu juga terjadi proses penafsiran. Penafsiran itulah hasil dari analisis teks yang dapat dituangkan ke dalam karya tulis. Tulisan tersebut kemudian menjadi bahasa yang siap untuk diinterpretasikan kembali, baik oleh pembaca yang berbeda maupun oleh pembaca yang sama pada saat yang berbeda. Selanjutnya, Ratna (2009: 22) menyatakan bahwa stilistika modern menganalisis ciri-ciri formal, diantaranya: a) fonologi, seperti; pola-pola bunyi ujaran, sajak, dan irama, b) sintaksis, seperti; tipe-tipe struktur kalimat, c) leksikal, meliputi; kata-kata abstrak dan konkret, frekuensi relatif kata benda, kata kerja, dan kata sifat, dan d) retorika yaitu ciri penggunaan bahasa kiasan (figuratif) dan perumpamaan.

Melanjuti uraian sebelumnya, Satoto (2012: 37) menyatakan stilistika adalah tempat pertemuan diantara makroanalisis sastra dan makroanalisis bahasa. Stilistika, sebagai cabang ilmu sastra yang meneliti stail atau gaya, dibedakan ke dalam: stilistika deskriptif, dan stilistika genetik. Stilistika deskriptif (Ch Bally), mendekati (approach) gaya (style) sebagai keseluruhan daya ungkapan psikis yang terkandung dalam suatu bahasa, dan meneliti nilai-nilai ekspresif khusus yang terkandung dalam suatu bahasa (language), yaitu secara morfologis, sintaksis, dan semantis. Dalam pandangan ini, pengarang membangkitkan beberapa kemungkinan yang terkandung dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Silistika genetis atau silistika individual (L. Spitzer) memandang stail, gaya (style) sebagai suatu ungkapan yang khas pribadi (Satoto, 2012: 37).

(10)

Bertemali dengan uraian sebelumnya, Nurgiyantoro (2009: 280) menyatakan analisis style teks kesastraan dilakukan dengan mengkaji bebagai bentuk dan tanda-tanda linguistik yang dipergunakan seperti terlihat dalam struktur lahir. Dengan cara ini akan diperoleh bukti-bukti konkret tentang style sebuah karya. Metode (teknik) analisis ini akan menjadi penting karena dapat memberikan informasi tentang karakteristik khusus sebuah karya. Tanda-tanda stilistika itu sendiri dapat berupa: a) fonologi, misalnya pola suara ucapan dan irama, b) sintaksis, misalnya jenis struktur kalimat, c) leksikal, misalnya pengggunaan kata benda, kerja, sifat, dan d) penggunaan bahasa figuratif, misalnya bentuk-bentuk pemajasan, permainan struktur, pencitraan, dan sebagainya.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa bidang kajian stilistika secara umum membicarakan hal-hal yang mengandung ciri-ciri linguistik. Berbeda dengan Al- : 93) yang membatasi kajian stilistika terhadap lima aspek yaitu: gaya diksi, bahasa figuratif (figurative language), gaya kalimat, gaya wacana, dan citraan. Dari beberapa teori yang telah diungkapkan mengenai kajian stilistika, penelitian ini menggunakan teori

Al-

-mengkaji stilistika dalam karya sastra. Adapun objek kajian stilistika dalam penelitian ini meliputi: 1) diksi, 2) bahasa figuratif (figurative language), 3) gaya kalimat, 4) gaya wacana, dan 5) citraan. Berikut penjelasan mengenai objek kajian stilistika.

(11)

1) Diksi

Al- 09: 49) menyatakan diksi diartikan sebagai pilihan kata-kata yang dilakukan oleh pengarang dalam karyanya guna menciptakan efek makna tertentu. Kata merupakan unsur bahasa yang paling penting dalam karya sastra. Oleh karena itu, dalam pemilihannya pengarang berusaha agar kata-kata yang digunakannya mengandung kepadatan agar selaras dengan sarana komunikasi puitis lainnya. Hal tersebut senada yang diungkapkan oleh Waluyo (2010: 83), penyair sangat cermat memilih kata-kata sebab kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, serta kedudukan kata dengan kata lainnya. Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Nuroh (2011: 21) menyatakan ketepatan pemilihan kata berkaitan dengan makna kata. Dalam hal ini merujuk pada makna denotasi dan makna konotasi yang harus dipertimbangkan. Denotasi merupakan arti yang sesuai dengan kamus (arti lugas), sedangkan konotasi merupakan yang diasosiasikan atau disarankan (arti kias).

Pandangan lain juga diungkapan oleh Keraf (2006: 22-23). Diksi bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk menggunakan suatu ide atau gagasan, tetapi juga dapat meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan. AL- 09: 53) menjelaskan mengenai jenis diksi yang terdapat dalam karya sastra antara lain kata konotatif, konkret, kata sapaan khas dan nama diri, kata seru khas Jawa, kata serapan, kata asing, kata arkaik, kata vulgar, kata dengan objek realitas alam, dan kosakata bahasa daerah. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat

(12)

disintesiskan diksi adalah pilihan kata yang khas oleh pengarang dalam menciptakan suatu karyanya. Adapun jenis-jenis diksi yang dianalisis dalam penelitian ini adalah kata konotatif, konkret, kata sapaan khas, kata serapan, kata asing, kata vulgar, dan kosakata bahasa daerah.

2) Bahasa figuratif (figurative language)

Bahasa figuratif menurut Waluyo (2010: 96) adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang. Sesuai dengan pendapat tersebut untuk memahami bahasa figuratif menurut Waluyo (2010: 97) pembaca harus menafsirkan kiasan dan lambang yang dibuat penyair baik lambang konvensional maupun lambang nonkonvensional.

Senada dengan pendapat sebelumnya, Al- : 60) menyatakan bahasa figuratif merupakan cara pengarang dalam memanfaatkan bahasa untuk mendapatkan efek estetis melalui pengungkapan gagasan secara kias yang menyaran pada makna literal (literal meaning). Berkaitan dengan hal tersebut, Al- : 61) mengungkapkan bahasa figuratif di dalam penelitian stlitistika karya sastra meliputi majas, idiom, dan peribahasa. Hal tersebut karena ketiga hal tersebut banyak dimanfaatkan sastrawan untuk mengungkapkan gagasan dan meningkatkan nilai estetis karnyanya. Bahasa figuratif (figurative language) yang dianalisis dalam penelitian ini adalah majas. Berikut dibahas mengenai pemajasan tersebut.

(13)

Pemajasan (figure of thought) menurut Nurgiyantoro (2009: 296-297) adalah teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Jadi, majas merupakan gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias. Selanjutnya, Nurgiyantoro (2009: 298) menegaskan bahwa bentuk-bentuk pemajasan yang banyak digunakan pengarang adalah bentuk perbandingan atau persamaan, yaitu membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain melalui ciri-ciri kesamaan antara keduanya, misalnya yang berupa ciri fisik, sifat, sikap, keadaan, suasana, tingkah laku, dan sebagainya. Selain bentuk pemajasan tersebut, Nurgiyantoro (2009: 298-299) juga menyebutkan bentuk pemajasan lain antara lain: simile, metafora, personifikasi, metonemia, sinekdoke, hiperbola, dan paradoks.

Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Keraf (2006: 136) menyebutkan gaya bahasa kiasan dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Selanjutnya, Keraf (2006: 138) menguraikan macam-macam gaya bahasa kiasan, yaitu: (1) persamaan atau simile; (2) metafora, (3) alegori, parabel, dan fabel; (4) personifikasi atau prosopopoeia; (5) alusi; (6) eponim; (7) epitet; (8) sinekdoke; (9) metonimia; (10) antonomasia; (11) hipalase; (12) ironi, sinisme, dan sarkasme; (13) satire; (14) inuendo; dan (15) antifrasis. Senada dengan pernyataan tersebut, Waluyo (2010: 98) membagi enam gaya bahasa (kiasan) yaitu: metafora (kiasan langsung), persamaan (kiasan tidak langsung), personifikasi, hiperbola (overstatment), ironi, dan sinekdoke.

(14)

Al- : 62) menyatakan penggunaan style yang berwujud majas, dapat mempengaruhi gaya dan keindahan bahasa karya sastra. Selanjutnya, merujuk pandangan dari Scott dan Pradopo, Al- : 62) mengungkapkan majas yang ditelaah dalam kajian stilistika karya sastra meliputi metafora, simile, personifikasi, metonimia, dan sinekdone (pars pro toto dan totem pro parte). Berdasarkan uraian tersebut dapat disintesiskan majas adalah bahasa yang mempunyai makna literal (litreal meaning) yang digunakan pengarang dalam menciptakan karyanya. Adapun jenis-jenis majas yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu: (1) metafora, (2) simile, (3) hiperbola, (4) personifikasi, (5) sinekdoke, (6) sarkasme, (7) metonemia. Berikut penjelasan mengenai beberapa majas dari gaya bahasa figuratif.

Majas pertama adalah metafora. Waluyo (2010: 98) menyatakan metafora adalah kiasan langsung, artinya benda-benda yang dikiaskan itu tidak disebutkan. Jadi, ungkapan itu langsung berupa kiasan, sebagai contoh: lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam, dan sebagainya. Sependapat dengan pernyataan sebelumnya, Keraf (2006: 139) mengungkapkan metafora adalah sejenis analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Berbeda dengan pernyataan sebelumnya, metafora menurut Nurgiyantoro (2009: 299) merupakan perbandingan yang bersifat tidak langsung dan implisit. Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugestif, tidak ada kata-kata penunjuk perbandingan eksplisit.

(15)

Bertemali dengan uraian sebelumnya, Wiyatmi (2006: 65-66) membagi dua jenis metafora yaitu: metafora eksplisit dan metafora implisit. Metafora ekplisit apabila unsur pembanding dan yang dibandingkan disebutkan, misalnya cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar. Cinta sebagai hal yang dibandingkan dan bahaya yang lekas jadi pudar sebagai pembandingnya. Metafora implisit, apabila hanya memiliki unsur pembanding saja, misalnya sambal tomat pada mata, untuk mengatakan mata yang merah, sebagai hal yang dibandingkan.

Majas kedua adalah simile. Nurgiyantoro (2009: 298) menyatakan simile menyaran pada adanya perbandingan yang langsung dan implisit, dengan mempergunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keeksplisitan seperti: seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip dan sebagainya. Sejalan dengan pernyataan sebelumnya Keraf (2006: 138) menjelaskan simile adalah perbandingan yang langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Selain itu, terdapat kata-kata yang menandai kesamaan tersebut. Kata-kata tersebut adalah seperti, sama, sebagai, bagaikan, dan laksana. Adapun contoh dari penggunaan kata tersebut dalam majas ini adalah sebagai berikut. Bibirnya seperti delima merekah (menyebut objek pertama yang dibandingkan). Seperti menating minyak penuh (tanpa menyebut objek pertama yang dibandingkan).

Senada dengan pernyataan sebelumnya, simile (perumpamaan) menurut Wiyatmi (2006: 67) merupakan kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kat-kata pembanding seperti: bagai, seperti,

(16)

laksana, semisal, seumpama, sepantun, atau kata-kata pembanding lainnya. Lain halnya Waluyo (2010: 99), yang mengungkapkan simile atau perbandingan adalah kiasan yang tidak lansung. Benda-benda yang dikiaskan kedua-duanya ada bersama pengiasnya dan digunakan kata-kata seperti, laksana, bak, dan sebagainya. Dari beberapa pendapat di atas dapat disintessikan bahwa majas simile adalah kiasaan yang membandingkan suatu hal dengan hal lain secara tidak langsung dengan penanda seprtii, bak, seolah dan lain-lain.

Majas ketiga adalah hiperbola. Nurgiyantoro (2009: 300) menyatakan hiperbola adalah suatu cara penuturan yang bertujuan menekankan maksud dengan sengaja melebih-lebihkan. Gaya ini banyak dijumpai dalam karya sastra, khusunya fiksi. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Waluyo (2010: 99) menjelaskan hiperbola adalah kiasan yang berlebih-lebihan, sebagai contoh: bekerja membanting tulang, menunggu seribu tahun, hatinya bagai dibelah sembilu, serambut dibagi tujuh, dan sebagainya. Senada dengan pernyataan sebelumnya, Sutejo (2010: 29) mengungkapkan hiperbola merupakan gaya bahasa yang dipakai untuk melukiskan sesuatu keadaan secara berlebihan daripada sesungguhnya, sebagai contohnya: Hatinya terbakar, kepalaku pecah, nadiku putus, mendengar dia memutuskan cinta.

Majas keempat adalah personifikasi. Personifikasi menurut Waluyo (2010: 99) adalah keadaan atau peristiwa alam sering dikiaskan sebagai keadaan atau peristiwa yang dialami oleh manusia. Dalam hal ini benda mati

(17)

digunakan untuk memperjelas penggambaran peristiwa keadaan itu. Hal itu ditegaskan oleh Keraf (2006: 140) yang menyatakan personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. Selanjutnya, contoh dari majas tersebut adalah angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami.

Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Nurgiyantoro (2009: 299) mengungkapkan personifikasi merupakan gaya bahasa yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat-sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia. Jadi, dalam personifikasi terdapat persamaan sifat antara benda mati dengan sifat-sifat manusia. Selaras dengan pernyataan sebelumnya, Sutejo (2010: 31) menjelaskan personifikasi merupakan gaya bahasa perbandingan yang membandingkan benda mati atau tidak bergerak seolah-olah bernyawa dan dapat berperilaku seperti manusia. Contoh: matanya berbicara, hanya dialah lelaki yang dia cintainya.

Bertemali dengan uraian sebelumnya, Wiyatmi (2006: 65) menegaskan personifikasi adalah kiasan yang menyamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia. Personifikasi mempunyai efek untuk memperjelas imaji (gambaran angan) pembaca karena dengan menyamakan hal-hal nonmanusia dengan manusia, empati pembaca mudah ditimbulkan karena pembaca merasa akrab dengan hal-hal yang digambarkan atau disampaikan.

(18)

Majas kelima adalah sarkasme. Keraf (2006: 143) menyatakan sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Sarkasme adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan getir. Sarkasme dapat saja bersifat ironis, dapat juga tidak, tetapi yang jelas adalah bahwa gaya ini selalu akan menyakiti hati dan kurang enak didengar. Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Sutejo (2010: 32) mengungkapkan sarkasme adalah gaya bahasa sindiran yang paling kasar dengan mempergunakan kata-kata tertentu yang cenderung tidak sopan, sebagai contoh: Lelaki itu, anjing, yang tidak pernah tahu balas kasih.

Majas keenam adalah sinekdoke. Sinekdoke menurut Keraf (2006: 142) adalah suatu istilah yang diturunkan dari kata Yunani synekdechesthai yang berarti menerima bersama-sama. Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte). Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Waluyo (2010: 100) menjelaskan sinekdoke adalah menyebutkan sebagian untuk maksud keseluruhan, atau menyebutkan keseluruhan untuk maksud sebagian. Lain halnya Wiyatmi (2006: 67) yang menyatakan sinekdoke merupakan bentuk kiasan yang mirip dengan metonemia, yaitu pengertian yang satu dipergunakan sebagai pengertian yang lain.

Majas ketujuh adalah metonimia. Kata metonimia berasal dari kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan onoma yang berarti nama. Atas dasar itu, metonimia dapat dinyatakan sebagai suatu gaya bahasa

(19)

yang menggunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Bentuk hubungan tersebut dapat berupa penemu untuk hasil, penemuan, pemilik untuk barang yang dimiliki, akibat untuk sebab, sebab untuk akibat, isi untuk menyatakan kulitnya, dan sebagainya (Keraf, 2006: 142). Sependapat dengan pernyataan tersebut, Nurgiyantoro (2009: 299-300) menyatakan metonimia adalah sebuah gaya yang menunjukkan adanya pertautan atau pertalian yang dekat. Misalnya, seseorang suka membaca

karya-3) Gaya Kalimat

Al- : 57-58) menyatakan gaya kalimat adalah penggunaan suatu kalimat untuk memperoleh efek tertentu, misalnya inversi, gaya kalimat tanya, perintah, dan elips. Selanjutnya, Al- : 58) berpendapat penyiasatan struktur kalimat dapat bermacam-macam wujudnya, mungkin berupa pembalikan, pemendekan, pengulangan, penghilangan unsur tertentu, dan sebagainya. Ada pula penyimpangan kalimat seperti konjungsi di awal kalimat guna memperoleh efisiensi dan menekankan pesan tertentu.

Bertemali dengan uraian sebelumnya, yang termasuk dalam gaya kalimat menurut Al- : 58) adalah penggunaan sarana retotika, seperti kalimat klimaks, antiklimaks, koreksio, hiperbola, dan antitesis. Kesemuaannya itu dimaksudkan pengarang untuk mencapai efek estetis tertentu di samping untuk menekankan gagasan tertentu. Hal itulah yang dikenal sebagai foregrounding, yang dipandang sebagai salah satu ciri bahasa.

(20)

Di dalam penelitian ini gaya kalimat yang analisis adalah kalimat, klimaks, kalimat antiklimaks, kalimat repetisi, kalimat paralelisme, dan kalimat antitetsis.

Gaya kalimat yang pertama adalah kalimat klimaks. Keraf (2006: 124) menjelaskan klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan sebelumnya. Keraf (2006: 125) menyatakan klimaks disebut juga sebagai gradasi. Istilah ini dipakai sebagai istilah umum yang sebenarnya merujuk kepada tingkat atau gagasan tertinggi. Bila klimaks itu terbentuk dari beberapa gagasan yang berturut-turut semakin tinggi kepentingannya, maka ia disebut anabias.

Gaya kalimat yang kedua adalah kalimat antiklimaks. Keraf (2006: 125) mengungkapkan antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Anti klimaks sebagai gaya bahawa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Keraf (2006: 125) berpendapat antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu. Gaya kalimat yang ketiga adalah kalimat repetisi. Repetisi menurut Keraf (2006: 127) adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk meberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Repetisi, seperti halnya paralelisme dan antitesis, lahir dari kalimat yang berimbang.

(21)

Gaya kalimat yang keempat adalah kalimat paralelisme. Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama (Keraf, 2006: 126). Selanjutnya, Keraf (2006: 126) menyatakan kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Gaya kalimat ini lahir dari kalimat yang berimbang. Gaya kalimat yang kelima adalah kalimat antitesis. Keraf (2006: 126) menjelaskan antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau sekelompok kata yang berlawanan. Gaya ini timbul dari kalimat yan berimbang.

4) Gaya Wacana

Al- : 58) menyatakan gaya wacana adalah gaya bahasa dengan penggunaan lebih dari satu kalimat, kombinasi kalimat, baik dalam prosa maupun puisi. Selain itu, gaya wacana dapat berupa paragraf (dalam prosa atau fiksi), bait (dalam puisi atau sajak), keseluruhan karya sastra, maupun kesuluruhan puisi. Di dalam penelitian ini gaya wacana yang dianalisis meliputi gaya wacana repetisi, gaya wacana klimaks, gaya wacana antiklimaks, gaya wacana campur kode, dan gaya wacana alih kode.

5) Citraan

Waluyo (2010: 91) menyatakan citraan atau pengimajian (imagery) adalah kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Selanjutnya, Waluyo

(22)

(2010: 91) membagi citraan atau imaji ke dalam tiga jenis, yaitu: citraan atau imaji penglihatan (visual), citraan atau imaji pendengaran (auditif), dan citraan atau imaji perasaan (taktil). Senada dengan pendapat sebelumnya, Sayuti (2000: 174) menjelaskan citraan adalah suatu kata atau serangkaian kata yang dapat membentuk gambaran mental atau dapat membangkitkan pengalaman tertentu. Dalam fiksi citraan dibedakan menjadi citraan literal dan citraan figuratif (Sayuti, 200: 174). Citraan literal tidak menyebabkan perubahan atau perluasan arti kata-kata sedangkan citraan figuratif (majas) merupakan citraan yang harus dipahami dalam beberapa arti. Wiyatmi (2006: 68) membagi jenis citraan sesuai dengan indra yang menghasilkannya, yaitu citraan penglihatan (visual imagery), citraan pendengaran (auditory imagery), citraan rabaan (thermal imagery), citraan pencecapan (tactile imagery), citraan penciuman (alfactory imagery), citraan gerak (kinesthetic imagery).

Bertemali dengan uraian sebelumnya, Al- 09: 79) menyimpulkan citraan dari pendapat Pradopo dan Brett yang terbagi atas tujuh citraan antara lain: 1) citraan penglihatan, 2) citraan pendengaran, 3) citraan penciuman, 4) citraan pencecapan, 5) citraan gerak, 6) citraan intelektual, 7) citraan perabaan. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disintesiskan, citraan merupakan sebuah pengalaman keinderaan dalam berimajinasi sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang dihasilkan oleh kata-kata. Selanjutnya, jenis-jenis citraan yang disintesiskan dari beberapa ahli yaitu: citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan

(23)

gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, dan citraan pencecapan. Berikut penjelasan mengenai jenis citraan tersebut.

Citraan pertama adalah citraan penglihatan (visual imagery).

Al-(2009: 79) menjelaskan citraan penglihatan adalah citraan yang timbul oleh penglihatan. Citraan visual dapat mengusik indera penglihatan pembaca sehingga akan membangkitkan imajinasinya untuk memahami karya sastra. Perasaan estetis akan lebih mudah terangsang melalui citraan visual ini. Selain itu, dalam karya sastra pengarang melukiskan karakter tokoh, melukiskan keadaan tempat, pemandangan, atau bangunan dalam menciptakan citraan visual ini. Citraan kedua adalah citraan pendengaran (auditory imagery). Citraan pendengaran adalah citraan yang ditimbulkan oleh pendengaran (Al-09: 80). Di samping itu, citraan pendengaran akan lebih mudah melukiskan keadaan untuk merangsang imaji pembaca dalam mencapai efek estetis.

Citraan ketiga adalah citraan gerak (kinesthetic imagery). Citraan gerak sangat produktif digunakan dalam karya sastra karena mampu membangkitkan imaji pembaca. Hal tersebut dapat terjadi karena di dalam pikiran pembaca terdapat imaji gerakan itu. Citraan gerak adalah citraan yang melukiskan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak ataupun gambaran gerak umumnya (Al- 09: 82). Citraan keempat adalah citraan perabaan (tactile imagery). Citraan perabaan menurut Al- 09: 83) adalah citraan yang ditimbulkan melalui perabaan. Biasanya, citraan perabaan digunakan untuk menghidupkan imaji pembaca

(24)

dalam memahami karya sastra sehingga timbul efek estetis. Dalam fiksi, citra perabaan terkadang dipakai untuk melukiskan keadaan emosianal tokoh. Citraan peraban agak sedikit dipakai oleh pengarang dalam karya sastra, berbeda dengan citraan penglihatan dan pendengaran yang produktif.

Citraan kelima adalah citraan penciuman (smell imagery). Al-(2009: 84) menjelaskan citraan penciuman adalah pelukisan imajinasi yang diperoleh dari indera penciuman. Citraan penciuman dipakai pengarang untuk membangkitkan imaji pembaca dalam hal memperoleh pemahaman yang utuh atas teks sastra yan dibacanya melalui indera penciumannya. Citraan keenam adalah citraan pencecapan (taste imagery).

Al-citraan pencecapan adalah pelukisan imajinasi yang ditimbulkan oleh pengalaman indera pencecapan dalam hal ini lidah. Jenis citraan pencecapan dalam karya sastra dipergunakan untuk menghidupkan imajinasi pemabaca dalam hal-hal yang berkaitan dengan rasa di lidah atau membangkitkan selera makan.

2. Hakikat Nilai Pendidikan Karakter a. Pengertian Karakter

Hidyatullah (2010: 16) menyatakan karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain. Dengan demikian, karakter pendidik adalah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti pendidik

(25)

yang merupakan kepribadian khusus yang harus melekat pada pendidik dan yang menjadi pendorong dan pengerak dalam melakukan sesuatu. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Samani (2013: 43) menjelaskan karakter adalah nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Senada dengan pernyataan sebelumnya, Mulyasa (2012: 3) mengungkapkan karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespons situasi secara bermoral, yang diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perilaku baik, jujur, bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain, dan nilai-nilai karakter mulia lainnya. Berdasarkan beberapa definisi karakter, dapat disintesakan karakter adalah perwujudan seseorang yang dapat dilihat dan diamati oleh orang lain melalui proses sosialisasi dan komunikasi antar individu yang tercipta dari pembawaan dan pembiasaan dari masing-masing individu dalam ruang lingkup kejadian yang dialami individu tersebut baik di lingkungan sosial, keluarga, maupun sekolah.

b. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter menurut Samami (2013: 45-46) adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Selain itu, pendidikan karakter dapat dimaknai pula sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan

(26)

mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Kemendiknas dalam Wibowo (2012: 35) menyatakan pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara religius, nasionalis, produktif dan kreatif.

Senada dengan pernyataan sebelumnya, Wibowo (2012: 48) menjelaskan pendidikan karakter adalah upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Selaras dengan pernyataan tersebut, Maksudin (2013: 56) mengungkapkan pendidikan karakter adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri peserta didik yang tidak harus merupakan satu program atau pelajaran khusus. Penanaman dan pengembangan nilai itu merupakan suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan yang tidak hanya terfokus pada pengembangan ilmu, keterampilan, teknologi, tetapi juga pengembangan aspek-aspek lainnya, seperti kepribadian, etik-moral, dan yang lainnya.

(27)

Bertemali dengan uraian sebelumnya, Mulyasa (2012: 3) menyatakan pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga anak/peserta didik memiliki kesadaran, dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Lain halnya Sudrajat (2011: 49), yang mengungkapkan pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disintesiskan pendidikan karakter adalah wujud kepribadian yang dilandasi dengan nilai dan karakter luhur untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik bermasyarakat, beragama, dan bernegara.

c. Komponen Nilai Pendidikan Karakter

Lickona (2013: 74) menjelaskan tiga komponen karakter yang baik. Pertama adalah pengetahuan moral yang meliputi: kesadaran moral, pengetahuan nilai-nilai moral, pengambilan perspektif, keberalasan moral, pengambilan keputusan, pemahaman diri. Kedua adalah perasaan moral yang meliputi: hati nurani, penghargaan diri, empati, menyukai kebaikan, kontrol diri, kerendahan hati. Ketiga adalah tindakan moral yang meliputi: kompetensi, kemauan, kebiasaan.

Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Mulyasa (2012: 14-15) menyatakan pendidikan karakter bergerak dari kesadaran (awareness),

(28)

pemahaman (understanding), kepedulian (concern), dan komitmen (commitment), menuju tindakan (doing atau acting). Aspek pertama moral understanding memiliki enam unsur yaitu: a) kesadaran moral (moral awareness), b) pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing about moral values), c) penentuan sudut pandang (perspective taking), d) logika moral (moral reasoning), e) keberanian mengambil keputusan (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge). Aspek selanjutnya moral loving/moral feeling meliputi: kesadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), motivasi diri (self motivation), disiplin diri (self discipline), kepekaan terhadap penderitaan orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), dan kerendahan hati (humility). Jika kedua aspek sudah terwujud, maka moral acting sebagai outcome akan mudah dilakukan oleh peserta didik.

Berbeda dengan pernyataan sebelumnya, Samani (2013: 144) membagi dua cara dalam memahami nilai karakter. Pertama melihat hubungan nilai-nilai tersebut dengan prinsip empat olah (olah hati, olah pikir, olah raga, olah rasa dan karsa). Kedua melihat hubungan nilai-nilai dengan kewajiban terhadapt Tuhan Sang Maha Pencipta, dengan kewajiban terhadap diri sendiri, dengan kewajiban terhadap keluarga, dengan kewajiban terhadap masyarakat dan bangsa, dan kewajiban terhadap alam sekitar.

Hidayatullah (2010:85) menjelaskan butir-butir karakter yang terdapat di dalam kehidupan meliputi: 1) adil, 2) amanah, 3) pengampunan, 4) antisipatif, 5) arif, 6) baik sangka, 7) kebajikan, 8) keberanian, 9) bijaksana, 10) cekatan,

(29)

11) cerdas, 12) cerdik, 13) cermat, 14) pendaya guna, 15) demokratis, 16) dermawan, 17) dinamis, 18) disiplin, 19) efisien, 20) empan papan, 21) empati, 22) fair play, 23) gigih, 24) gotong royong, 25) hemat, 27) hormat, 28) kehormatan, 29) ikhlas, 30) inisiatif, 31) inovatif, 32) kejujuran, 33) pengendalian diri, 34) kooperatif, 35) kreatif, 36) kukuh hati, 37) lugas, 38) mandiri, 39) kemurahan hati, 40) pakewuh, 41) peduli, 42) penuh perhatian, 43) produktif, 44) rajin, 45) ramah, 46) sabar, 47) saleh, 48) santun, 49) setia, 50) sopan, 51) susila, 52) ketaatan, 53) tabah, 54) tangguh, 55) tanggap, 56) tanggung jawab, 57) bertaqwa, 58) tegar, 59) tegas, 60) tekad atau komitmen, 61) tekun, 62) tertib, 63) ketertiban, 64) tahu berterima kasih, 65) trengginas, 66) ketulusan, 67) tepat waktu, 68) toleran, 69) ulet, dan 70) berwawasan jauh ke depan.

Bertemali dengan uraian sebelumnya, Kemendiknas dalam Wibowo (2012: 43) menyatakan delapan belas komponen nilai pendidikan karakter. Nilai pertama adalah religius yang meliputi: sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Nilai kedua adalah jujur yang meliputi: perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Nilai ketiga adalah toleransi yang meliputi: sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Nilai keempat adalah disiplin yang meliputi: tindakan yang menunjukkan perilaku

(30)

tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Nilai kelima adalah kerja keras yang meliputi: perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

Nilai keenam adalah kreatif yang meliputi: berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Nilai ketujuh adalah mandiri yang meliputi: sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Nilai kedelapan adalah demokratis yang meliputi: cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Nilai kesembilan adalah rasa ingin tahu yang meliputi: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. Nilai kesepuluh adalah semangat kebangsaan yang meliputi: cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Nilai kesebelas adalah cinta tanah air yang meliputi: cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Nilai kedua belas adalah menghargai prestasi yang meliputi: sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Nilai ketiga belas adalah

(31)

bersahabat/berkomunikatif yang meliputi: tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. Nilai keempat belas adalah cinta damai yang meliputi: sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

Nilai kelima belas adalah gemar membaca yang meliputi: kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. Nilai keenam belas adalah peduli lingkungan yang meliputi: sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Nilai ketujuh belas adalah peduli sosial yang meliputi: sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Nilai kedelapan belas adalah tanggung jawab yang meliputi: sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Dari beberapa pendapat tentang pendidikan karakter yang telah dijelaskan sebelumnya, maka nilai-nilai yang perlu diinternalisasikan kepada peserta didik dalam pengembangan karakter adalah: 1) Religius, 2) Jujur 3) Toleransi, 4) Disiplin, 5) Kerja keras, 6) kreatif, 7) Mandiri, 8) Demokratis, 9) Rasa ingin tahu, 10) Semangat kebangsaan, 11) Cinta tanah air, 12) Menghargai prestasi, 13) Bersahabat atau komunikatif, 14) Cinta damai, 15)

(32)

Gemar membaca, 16) peduli lingkungan, 17) Peduli sosial, dan 18) Tanggung jawab.

3. Hakikat Novel a. Pengertian Novel

Novel menurut Waluyo (2011: 5) adalah bentuk karya sastra cerita fiksi yang paling baru. Nurgiyantoro (2009: 9-10) menjelaskan novella mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek (Nurgiyantoro, 2009: 9-10). Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Hal itu mencakup berbagai unsur cerita yang membangun novel itu (Nurgiyantoro, 2009: 11).

Sayuti (2000: 7) mengategorikan novel dalam bentuk karya fiksi yang bersifat formal. Bagi pembaca umum, pengategorian ini dapat menyadarkan bahwa sebuah fiksi apapun bentuknya diciptakan dengan tujuan tertentu. Dengan demikian, pembaca dalam mengapresiasi sastra akan lebih baik. Pengategorian ini berarti juga bahwa novel yang kita anggap sulit dipahami, tidak berarti bahwa novel tersebut memang sulit. Pembaca tidak mungkin meminta penulis untuk menulis novel dengan gaya yang menurut anggapan pembaca luwes dan dapat dicerna dengan mudah, karena setiap novel yang diciptakan dengan suatu cara tertentu mempunyai tujuan tertentu pula.

(33)

Bertemali dengan uraian sebelumnya, novel biasanya memungkinkan adanya penyajian secara meluas (expands) tentang tempat atau ruang, sehingga tidak mengherankan jika keberadaan manusia dalam masyarakat selalu menjadi topik utama (Sayuti, 2000: 6-7). Masyarakat tentunya berkaitan dengan dimensi ruang atau tempat, sedangkan tokoh dalam masyarakat berkembang dalam dimensi waktu semua itu membutuhkan deskripsi yang mendetail supaya diperoleh suatu keutuhan yang berkesinambungan. Perkembangan dan perjalanan tokoh untuk menemukan karakternya, akan membutuhkan waktu yang lama, apalagi jika penulis menceritakan tokoh mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Novel memungkinkan untuk menampung keseluruhan detail untuk perkembangkan tokoh dan pendeskripsian ruang. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disintesiskan novel merupakan sebuah cerita rekaan yang berusaha menggambarkan kehidupan tokoh-tokoh dengan menggunakan alur.

b. Jenis-jenis Novel

Nurgiyantoro (2009: 16) membedakan novel menjadi novel populer dan novel serius. Pada kenyataanya sungguh tidak mudah untuk menggolongkan sebuah novel ke dalam kategori serius atau populer. Berikut penjelasan mengenai jenis-jenis novel tersebut.

1) Novel Populer

Nurgiyantoro (2009: 18) menjelaskan novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan banyak penggemarnya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Novel populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan

(34)

secara intens, tidak berusaha meresapi hakikat kehidupan. Oleh karena itu, novel populer bersifat artifisial, bersifat sementara, cepat ketinggalan zaman, dan tidak memaksa orang untuk membacanya sekali lagi. Novel populer biasanya cepat dilupakan orang, apalagi dengan munculnya novel-novel baru yang lebih populer pada masa sesudahnya.

Bertemali dengan uraian sebelumnya, pengategorian novel sebagai novel serius atau novel populer bukanlah menjadi hal baru dalam dunia sastra. Usaha ini sangat dipengaruhi oleh hal subjektif yang muncul dari pengamat, juga banyak faktor dari luar yang menentukan. Misalnya, novel yang diterbitkan oleh penerbit yang biasa menerbitkan karya sastra yang telah mapan, karya tersebut akan dikategorikan sebagai karya yang serius, karya yang bernilai tinggi, padahal pengamat belum membaca isi novel.

2) Novel Serius

Nurgiyantoro (2009: 18) mengungkapkan dalam membaca novel serius, jika ingin memahaminya dengan baik diperlukan daya konsentrasi yang tinggi disertai dengan kemauan untuk itu. Novel jenis ini, di samping memberikan hiburan juga terimplisit tujuan memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca atau paling tidak mengajak pembaca untuk meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh-sungguh tentang permasalahan yang dikemukakan. Nurgiyantoro (2009: 21) menjelaskan kecenderungan yang muncul pada novel serius memicu sedikitnya pembaca yang berminat pada novel sastra ini.

(35)

Berkaitan dengan uraian sebelumnya, meskipun demikian, hal ini tidak menyebabkan popularitas novel serius menurun. Justru novel ini mampu bertahan dari waktu ke waktu. Misalnya, karya Sutan Takdir, Armin Pane, Sanusi Pane yang memunculkan polemik yang muncul pada dekade 30-an yang hingga saat ini masih dianggap relevan dan belum ketinggalan zaman. Namun, sebenarnya ada juga novel yang tergolong serius dan sekaligus laris yaitu novel Pengakuan Pariyem, Burung-burung Manyar, Para Priyayi, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2009: 21). Novel serius biasanya berusaha mengungkapkan sesuatu yang baru. Hal tersebut yang coba diungkapkan Nurgiyantoro (2009: 21) bahwa novel serius mengambil realitas kehidupan ini

dan tokoh-tokoh dalam situasi khusus.

C. Kerangka Berpikir

Penelitian ini mengkaji bahasa dan nilai pendidikan karakter novel Pulang karya Leila S. Chudori. Penelitian mengenai bahasa di dalam novel Pulang menggunakan pendekatan stilistika. Pendekatan stilistika tersebut dapat membuat peneliti mengetahui karakteristik bahasa, keindahan, dan maksud yang terdapat di dalam novel tersebut. Hal tersebut tergambarkan dari kajian aspek-aspek stilistika novel Pulang karya Leila S. Chudori. Aspek-aspek stilistika tersebut meliputi: diksi, bahasa figuratif (figurative language), gaya kalimat, gaya wacana, dan citraan.

(36)

Bagian kedua di dalam penelitian ini berkaitan dengan nilai pendidikan karakter di dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Untuk mengtahui nilai pendidikan karakter tersebut digunakan konsep nilai pendidikan karakter dari Kemendiknas. Komponen tersebut meliputi: 1) Religius, 2) Jujur, 3) Toleransi, 4) Disiplin, 5) Kerja keras, 6) Kreatif, 7) Mandiri, 8) Demokratis, 9) Rasa ingin tahu, 10) Semangat kebangsaan, 11) Cinta tanah air, 12) Menghargai prestasi 13) Bersahabat atau komunikatif, 14) Cinta damai, 15) Gemar membaca, 16) Peduli lingkungan, 17) Peduli sosial, 18) Tanggung jawab.

Langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan kelima aspek stilistika yang terdapat dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Selanjutnya mendeskripsikan dan menjelaskan nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel tersebut. Setelah itu, diperoleh aspek-aspek silistika dan nilai pendidikan karakter dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Untuk memperjelas, dapat dilihat skema kerangka berpikir berikut. Bertitik tolak dari uraian mengenai kerangka berpikir peneliti tersebut, berikut ini adalah skema alur pemikiran peneliti.

(37)

Gambar 1 Skema Kerangka berpikir ANALISIS STILISTIKA DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL PULANG KARYA

LEILA S. CHUDORI ANALISIS STILISTIKA NILAI PENDIDIKAN KARAKTER 1. Diksi 2. Bahasa figuratif (figurative language) 3. Gaya kalimat 4. Gaya wacana 5. Citraan

1) Religius, 2) Jujur, 3) Toleransi, 4) Disiplin, 5) Kerja keras, 6) Kreatif, 7) Mandiri, 8) Demokratis, 9) Rasa ingin tahu, 10) Semngat kebangsaan, 11) Cinta tanah air, 12) menghargai prestasi, 13) Bersahabat atau komunikatif, 14) Cinta damai, 15) Gemar membaca, 16) peduli lingkungan, 17) Peduli sosial, 18) Tanggung jawab

1. Aspek-aspek Stilistika dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori

2. Nilai Pendidikan Karakter dalam

3. Aspek-aspek Stilistika dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori

4. Nilai Pendidikan Karakter dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori

Figur

Gambar 1 Skema Kerangka berpikir ANALISIS STILISTIKA DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL PULANG KARYA

Gambar 1

Skema Kerangka berpikir ANALISIS STILISTIKA DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL PULANG KARYA p.37

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :