UJI AKTIVITAS LIGNINOLITIK JAMUR PEKTINOLITIK TERMOTOLERAN INDIGENUS RIAU

12  Download (0)

Full text

(1)

1

UJI AKTIVITAS LIGNINOLITIK JAMUR PEKTINOLITIK TERMOTOLERAN INDIGENUS RIAU

Febriani1, A. Martina2, R. M. Roza2

1Mahasiswa Program Studi SI Biologi, FMIPA UR 2

Dosen Jurusan Biologi FMIPA-UR Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Kampus Binawidya Pekanbaru, 28293, Indonesia e-mail : vebyvebrian@ymail.com

ABSTRACT

This study was aim to test the ligninolytic activity of 19 thermotolerant pectinolytic fungal isolates, which are indigenous from Riau. The selection of ligninolytic isolates was done using agar disk method. Isolates which showed ligninolytic activity were quantitatively tested using a completely randomized design with two factors: the temperature and isolates. The treatments in the first factor were the room temperature and 50oC. The second factor were 5 isolates that had high ratio activity. The result showed that the ligninolytic activity at 50oC was greater than at room temperature. Penicillium sp. PNE4 had the highest ratio activity (12.07) at 50oC. The temperature and isolates significantly affected in decreasing Poly R-478 concentration. Trichoderma sp. PNE13 isolate had the highest activity in degrading lignin than the other isolates at room temperature (46.52%) and 50°C (47.92%). Temperature affected the weight of biomass significantly. The biomass at room temperature was higher than 50oC. The highest biomass at room temperature was produced by Aspergillus sp.2 (0.555 g/L), while the highest biomass at 50oC was produced by Penicillium sp. PNE4 (0.359 g/L).

Key words: Lignin, ligninolytic activity, thermotolerant fungi ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ligninolitik dari 19 isolat jamur pektinolitik termotoleran indigenus Riau. Seleksi isolat yang mempunyai aktivitas ligninolitik dilakukan dengan metode agar disk. Isolat yang memperlihatkan aktivitas ligninolitik dilakukan uji secara kuantitatif menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktor yaitu suhu dan jenis isolat. Perlakuan pada faktor I adalah suhu ruang dan 50oC. Faktor II merupakan 5 jenis isolat yang mempunyai rasio aktivitas tinggi. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa aktivitas ligninolitik pada suhu 50oC lebih besar dibandingkan suhu ruang. Penicillium sp. PNE4 menghasilkan rasio aktivitas tertinggi (12,07) pada suhu 50oC. Perlakuan suhu dan jenis isolat berpengaruh nyata terhadap rerata penurunan konsentrasi Poly R-478. Isolat Trichoderma sp. PNE13 memiliki aktivitas tertinggi dalam mendegradasi lignin dibandingkan isolat lain baik pada

(2)

2

inkubasi suhu ruang (46.52%) maupun suhu 50oC (47.92%). Suhu berpengaruh nyata terhadap biomassa. Biomassa isolat pada suhu ruang lebih tinggi daripada suhu 50oC. Biomassa isolat yang tertinggi pada suhu ruang dihasilkan oleh Aspergillus sp. 2 (0,555 g/L). Biomassa isolat tertinggi pada suhu 50oC dihasilkan oleh Penicillium sp. PNE4 (0,359g/L).

Kata kunci: Aktivitas ligninolitik, jamur termotoleran, lignin

PENDAHULUAN

Lignin merupakan polimer yang strukturnya heterogen dan kompleks yang terdiri dari koniferil alkohol, sinapil alkohol dan kumaril alkohol sehingga sulit untuk didekomposisi. Sekitar 30% material pohon adalah lignin yang berfungsi sebagai penyedia kekuatan fisik pohon, pelindung dari biodegradasi dan serangan mikroorganisme (Singh 2006). Menurut Tuomela (2002) dan Erden et al, (2009), dekomposisi lignin berlangsung sangat lambat di lingkungan karena struktur kimianya yang kompleks, heterogen, tidak larut dalam air dan aromatis sehingga lignin bersifat rekalsitran. Oleh karena itu, perlu dilakukan penambahan bioaktivator untuk mempercepat degradasi lignin, salah satunya dengan memanfaatkan jamur ligninolitik.

Suhartono (1989) mengatakan bahwa aplikasi enzim dalam bidang industri umumnya membutuhkan mikroba yang mampu beraktivitas baik pada suhu tinggi. Sehingga diperlukan isolat yang mampu beraktivitas pada suhu tinggi, salah satunya adalah isolat termotoleran. Isolat termotoleran merupakan isolat yang mampu tumbuh pada suhu minimum 20oC dan maksimum mendekati 50oC (Cordova et al, 2003). Sebanyak 19 isolat jamur telah berhasil diisolasi dari perkebunan jeruk (Harahap 2009) dan perkebunan nenas (Yuliana 2010) di daerah Riau. Isolat ini diketahui mempunyai aktivitas pektinolitik serta bersifat termotoleran, namun aktivitas ligninolitik isolat ini belum diketahui. Isolat tersebut juga diharapkan berpotensi sebagai penghasil enzim ligninolitik sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menguji potensi isolat tersebut.

METODE PENELITIAN

Penelitian berlangsung di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi dan Uji aktivitas enzim dilakukan di Laboratorium Biokimia Jurusan Kimia Universitas Riau pada bulan Desember 2012 - Mei 2013. Alat-alat yang digunakan adalah Spektrofotometer (Genesis 10 s UV-VIS), kertas saring Whatman No.42, autoklaf (UL model 25x-2), incubator (Heraeus Instrument), oven, rotary shaker (Gallencamp), shaking incubator (Lab Tech), Laminar air flow (Amstech), jangka sorong (Trichel Brand), neraca analitik (Amstech), sentrifus (Hitachi) dan vortex (Fison). Bahan-bahan yang digunakan adalah 19 isolat jamur koleksi Laboratorium Mikrobiologi yaitu Aspergillus sp.1 TT1, Aspergilus sp.2 TT2, Aspergilus sp.2 KP2, Aspergilus fumingatus KK, Aspergilus fumingatus TT, Aspergilus fumingatus KP, Trichoderma sp. PNE13, Penicillium sp. PN6, Penicillium sp. PNE11, Penicillium sp. PNE17, Penicillium sp. PNE4, Penicillium sp. PNE7, Acremonium sp. PNE7, Acremonium sp. PNE10,

(3)

3

Nigrospora sp. PN3, Chaetomium sp. L2T24.21569, Chaetomium sp.1, Aspergillus sp.2 dan sp.3, aquades, medium PDA dan medium basal mengandung Poly R-478.

Desain Penelitian

Seleksi isolat pektinolitik termotoleran dalam mendegradasi lignin dilakukan dengan metode agar disk. Isolat yang memperlihatkan aktivitas ligninase dilakukan uji aktivitas ligninolitik secara kuantitatif menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktor yaitu suhu dan jenis jamur. Perlakuan pada faktor I adalah suhu ruang dan 50oC, sedangkan faktor II merupakan 5 jenis isolat yang mempunyai aktivitas ligninolitik tinggi. Medium fermentasi tanpa inokulasi isolat digunakan sebagai kontrol. Masing-masing perlakuan dengan 5 kali pengulangan.

Peremajaan Jamur

Isolat jamur pektinolitik termotoleran koleksi laboratorium mikrobiologi FMIPA-UR diambil secara aseptis, kemudian digoreskan pada medium PDA (Potato Dextrose Agar) miring. Selanjutnya diinkubasi pada suhu kamar selama 7 hari.

Seleksi Kemampuan Isolat Pektinolitik dalam Mendegradasi Lignin

Kehadiran enzim ligninolitik diuji dengan menggunakan medium basal padat yang mengandung Poly R-478 dengan komposisi g/L: KH2PO4 1 g, C4H12N2O6 0.5 g, MgSO4.7H2O 0.5 g, CaCl2.2H2O 0.01 g, ekstrak yeast 0.01 g, CuSO4.5H2O 0.001 g, FeSO4.H2O 0.001 g, MnSO4.H2O 0.001 g, agar 16 g dan Poly R-478 0.1 g (Pointing 1999; Subowo 2010). Isolat yang berumur 7 hari pada medium PDA diinokulasikan pada medium tersebut melalui agar disk (diameter 5 mm) yang telah ditumbuhi miselia. Semua kultur yang akan diseleksi diinkubasi pada suhu ruang dan 50oC selama 7-12 hari. Kemampuan ligninolitik ditandai dengan pembentukan zona perubahan warna medium dari ungu menjadi kuning disekitar koloni (Erden et al, 2009). Isolat hasil seleksi yang memiliki rasio aktivitas tinggi dipilih sebanyak 5 isolat untuk diuji pada tahap selanjutnya.

Uji Aktivitas Ligninolitik Secara Kuantitatif

Pengukuran aktivitas ligninolitik dan bobot biomassa isolat dilakukan dengan menginokulasikan 107 cfu/ml suspensi spora pada medium basal cair mengandung Poly R-478. Kultur diinkubasi dan dishaker dengan kecepatan 150 rpm pada suhu ruang dan 50oC selama 7 hari. Hal yang sama juga dilakukan untuk kontrol, namun tanpa penambahan suspensi spora (Moreira 2004). Medium kultur hasil fermentasi disentrifugasi dengan kecepatan 4500 rpm selama 10 menit sehingga diperoleh ekstrak kasar. Ekstrak kasar yang diperoleh kemudian disaring dengan kertas saring Whatman No. 42. Filtrat yang diperoleh diukur nilai absorbansinya dengan Spektrofotometer Genesis 10S UV-VIS pada panjang gelombang 520 nm (Moreira 2004). Nilai absorbansi yang diperoleh kemudian diplotkan pada kurva standar untuk mengetahui kosentrasi Poly R-478 pada sampel. Miselia pada kertas saring kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 80oC sampai beratnya konstan. Bobot biomassa isolat merupakan selisih berat antara kertas saring + miselia dan kertas saring kosong (Subowo 2010).

(4)

4 Analisis Data

Data-data yang diperoleh dari hasil seleksi kemampuan isolat pektinolitik dalam mendegradasi lignin disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis berdasarkan uji nilai tengah. Hasil uji aktivitas ligninolitik secara kuantitatif dan pengukuran biomassa disajikan dalam bentuk tabel/grafik kemudian dianalisis secara statistik dengan ANOVA One Way. Jika berpengaruh nyata dilakukan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Seleksi Isolat Jamur Pektinolitik Termotoleran Dalam Mendegradasi Lignin Sembilan belas isolat indigenus daerah Riau koleksi laboratorium Mikrobiologi Universitas Riau diseleksi pada medium basal Poly R-478 untuk menguji kemampuan jamur dalam mendegradasi lignin. Kemampuan jamur dalam menguraikan lignin dapat terlihat dari terbentuknya zona perubahan warna dari ungu menjadi kuning disekitar koloni. Zona perubahan warna terbentuk sebagai akibat dari sekresi enzim ligninase yang mampu menghidrolisis lignin menjadi senyawa yang lebih sederhana. Diantara 19 isolat yang diuji, 12 isolat mampu membentuk zona perubahan warna pada medium basal padat mengandung poly R-478 (Tabel 1).

Tabel 1. Aktivitas ligninolitik isolat pektinolitik termotoleran pada medium basal padat mengandung Poly R-478 rasio Z/K yang terbentuk pada suhu ruang dan 50oC

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dari 19 isolat yang diseleksi pada medium basal poly R-478 hanya 6 isolat yang mempunyai aktivitas pada suhu ruang dan 11 isolat yang mempunyai aktivitas ligninolitik pada suhu 50oC. Rasio

No Nama isolat

Suhu ruang Suhu 50⁰C Rasio

aktivitas Kriteria

Rasio

aktivitas Kriteria

1 Aspergillus sp.1 TT1 1,36 Rendah 1,25 Rendah

2 Aspergillus sp.2 TT2 1,22 Rendah 2,42 Sedang

3 Penicillium sp. PNE 17 1,14 Rendah 1,62 Sedang

4 Aspergillus sp. 2 1,13 Rendah 8,25 Tinggi

5 Acremonium sp. PNE7 1,11 Rendah - -

6 Chaetomium sp. L2T2.21569 1,13 Rendah 5,32 Tinggi

7 Acremonium sp. PNE10 - - 4,40 Sedang

8 Aspergillus fumigatus KK - - 1,94 Sedang

9 Aspergillus fumigatus TT - - 1,42 Rendah

10 Penicillium sp. PN6 - - 10,97 Tinggi 11 Trichoderma sp. PNE13 - - 5,92 Tinggi 12 Penicillium sp. PNE4 - - 12,07 Tinggi

(5)

5

aktivitas tertinggi pada inkubasi suhu ruang dihasilkan Aspergilus sp.1 TT1 yaitu 1,36. Rasio aktivitas terendah dihasilkan dari Acremonium sp. PNE7 yaitu 1,11, sedangkan rasio aktivitas tertinggi pada inkubasi suhu 50oC dihasilkan dari Penicillium sp. PNE4 yaitu 12,07. Rasio aktivitas terendah dihasilkan dari Aspergilus sp.1 TT1 yaitu 1,25. Beberapa penelitian sebelumnya juga memperoleh isolat yang memiliki aktivitas ligninolitik tinggi dari genus Penicillium dan Aspergillus (Subowo 2010; Shanmugam et al, 2008).

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa isolat dengan kriteria aktivitas tinggi (rasio aktivitas ≥ 5.22) hanya 5 isolat yaitu Chaetomium sp. L2T2.21569, Trichoderma sp. PNE13, Aspergillus sp.2, Penicilium sp. PN6 dan Penicilium sp. PNE4 pada suhu 50oC. Namun hanya Chaetomium sp. L2T2.21569 dan Aspergillus sp.2 yang memiliki aktivitas pada suhu ruang. Sari (2010) berhasil mendapatkan 17 isolat dari genus Penicillium, 6 isolat dari genus Aspergillus dan 1 isolat dari genus Trichoderma yang memiliki aktivitas ligninolitik tinggi pada suhu ruang.

Sifat-sifat enzim yang dihasilkan oleh suatu mikroba juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Spesies jamur yang sama belum tentu memiliki aktivitas enzim yang sama. Rohmah et al, (2011) menyatakan bahwa perbedaan genus, spesies dan strain jamur memberikan pengaruh terhadap kuantitas dan aktivitas enzim yang dihasilkan. Hasil seleksi isolat pada medium basal padat mengandung Poly R-478 yang diinkubasi pada suhu ruang dan suhu 50oC diperoleh 5 isolat yang memiliki aktivitas ligninolitik pada kedua suhu inkubasi. Isolat yang memiliki aktivitas ligninolitik pada suhu 50oC umumnya tidak dapat menghasilkan zona perubahan warna pada suhu ruang. Namun, isolat tersebut mampu tumbuh dengan baik dengan diameter koloni besar pada media basal Poly R-478.

Secara umum jamur tumbuh optimal pada kisaran suhu 25-30oC (Cordova et al, 2003) namun dari beberapa penelitian sebelumnya didapatkan bahwa aktivitas ligninolitik optimal pada suhu yang berbeda-beda berkisar 25-30oC (Manimozhi dan Kaviyarasan 2012), 30-40oC (Erum dan Ahmed 2010), 40-50oC (Ilyas dan Reluman 2013). Aktivitas ligninolitik akan meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Reaksi enzimatik meningkat yang diakibatkan laju respirasi dan metabolisme semakin tinggi seiring dengan kenaikan suhu. Gambar 1 menunjukkan salah satu isolat yang memiliki aktivitas tinggi pada suhu 50oC dan tidak memiliki aktivitas pada suhu ruang namun dapat tumbuh baik pada media basal Poly R-478.

Gambar 1. Isolat Trichoderma sp. PNE13 yang ditumbuhkan pada medium basal Poly R-478 yang diinkubasi pada (A) suhu ruang (B) suhu 50oC. K= koloni, Z= zona perubahan warna.

B A

K Z K

(6)

6 Uji Aktivitas Ligninolitik secara Kuantitatif

Isolat yang menghasilkan rasio aktivitas tinggi dipilih sebanyak 5 isolat yaitu Penicilium sp. PNE4, Penicilium sp. PN6, Trichoderma sp. PNE13, Chaetomium sp. L2T2.21569 dan Aspergillus sp.2, selanjutnya di uji aktivitas ligninolitiknya pada medium basal cair mengandung Poly R-478. Persentase penurunan konsentrasi Poly R-478 dari kelima isolat tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Persentase penurunan konsentrasi Poly R-478 pada suhu ruang dan suhu 50oC dalam waktu inkubasi 7 hari.

Dari hasil analisis sidik ragam diperoleh bahwa interaksi perlakuan suhu dan jenis isolat berpengaruh secara signifikan (p<5%) terhadap rerata penurunan konsentrasi Poly R-478. Isolat jamur pendegradasi Poly R-478 tertinggi baik pada suhu ruang dan suhu 50oC yaitu Trichoderma sp. PNE13 berturut-turut sebesar 46,52% dan 47,92%. Penurunan konsentrasi Poly R-478 isolat ini tidak berbeda nyata pada kedua suhu dan berbeda nyata dengan kontrol. Sedangkan Penurunan konsentrasi Poly R-478 terendah dihasilkan Penicillium sp. PNE4 sebesar 16,63% pada suhu ruang dan 39,40% pada suhu 50oC yang tidak berbeda nyata dengan kontrol. Persentase penurunan konsentrasi Poly R-478 pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan Subowo dan Corazon (2010) yang memperoleh Aspergillus sp. I3 yang mampu menurunkan konsentrasi Poly R-478 sebesar 11,80% dan Penicillium sp. KSt3 sebesar 2,76% pada suhu ruang. Moreira et al, (2004) mengatakan bahwa penurunan konsentrasi dari Poly R-478 merupakan tanda adanya proses peroksidase dan oksidase oleh MnP dan lakase.

Perlakuan suhu berpengaruh secara signifikan (p<5%) terhadap rerata penurunan konsentrasi Poly R-478. Perlakuan suhu mempengaruhi aktivitas ligninolitik pada masing-masing isolat. Rerata penurunan konsentrasi pada suhu 50oC lebih besar dibandingkan pada suhu ruang. Rerata penurunan konsentrasi Poly R-478 oleh masing-masing isolat pada perlakuan suhu ruang berbeda nyata dengan perlakuan suhu 50oC kecuali pada Trichoderma sp. PNE13. Menurut Meryandini (2009), suhu berperan penting dalam reaksi enzimatik. Peningkatan suhu hingga mencapai suhu optimum akan

0 10 20 30 40 50 60 Kontrol Penicilium sp. PNE4 Penicilium sp. PN6 Aspergillus sp.2 Chaetomium sp. L2T2.21569 Trichoderma sp. PNE13 P en u ru n a n k o n se n tr a si P o ly R -4 7 8 (% ) Isolat

Suhu ruang (⁰C) Suhu 50⁰C (⁰C)

a ab bc cd e cd e e de de de bc

(7)

7

meningkatkan kecepatan reaksi enzim. Peningkatan kecepatan reaksi enzim dikarenakan bertambahnya energi kinetik. Pertambahan energi kinetik akan mempercepat gerak vibrasi, translasi dan rotasi baik enzim maupun substrat. Hal ini akan memperbesar kemungkinan substrat dan enzim bereaksi.

Perlakuan jenis isolat berpengaruh secara signifikan (p<5%) terhadap rerata penurunan konsentrasi Poly R-478. Jenis isolat yang berbeda memberikan hasil penurunan konsentrasi Poly R-478 yang berbeda pula. Aktivitas ligninolitik tertinggi pada suhu ruang yaitu Trichoderma sp. PNE13 yang berbeda nyata dengan isolat lainnya. Begitu pula pada suhu 50oC, aktivitas ligninolitik tertinggi diperoleh dari Trichoderma sp. PNE13 yang tidak berbeda nyata dengan isolat lainnya. Penurunan konsentrasi lignin oleh isolat Trichoderma sp. PNE13 pada inkubasi suhu ruang tidak berbeda nyata dengan inkubasi suhu 50oC. Isolat Trichoderma sp. PNE13 merupakan jamur yang memiliki aktivitas ligninolitik terbaik dalam media cair baik pada suhu ruang maupun suhu 50oC dibandingkan isolat lain.

Jamur yang memiliki rasio aktivitas besar dapat diasumsikan memiliki aktivitas enzim besar pula. Namun, hasil uji aktivitas ligninolitik secara kuantitatif belum tentu sesuai dengan kualitatif. Isolat Penicilium sp. PNE4 memiliki aktivitas tinggi pada suhu inkubasi 50oC tetapi tidak memiliki aktivitas pada suhu ruang. Setelah diuji pada media cair, isolat tersebut menghasilkan aktivitas ligninolitik pada kedua suhu. Isolat Trichoderma sp. PNE13 memiliki aktivitas rendah pada suhu 50oC dan tidak memiliki aktivitas pada suhu ruang. Namun, setelah diuji pada media cair isolat tersebut memiliki aktivitas ligninolitik tertinggi baik pada suhu ruang maupun 50oC. Artiningsih (2006) mengatakan bahwa penetapan aktivitas ligninolitik secara kualitatif tidak dapat memberikan indikasi yang tepat mengenai kemampuan produksi enzim yang sesungguhnya.

Pada kontrol terjadi penurunan konsentrasi pada setiap perlakuan suhu inkubasi yaitu sebesar 12,14% pada suhu ruang dan 32,46% pada suhu 50oC. Hal ini sesuai dengan penelitian Rohmah et al, (2011) yang memperoleh penurunan konsentrasi lignin pada kontrol sebesar 1,67% pada suhu ruang. Penurunan angka lignin dapat disebabkan oleh faktor fisik seperti kocokan rotary shaker sehingga menyebabkan ikatan pada struktur lignin terputus. Kontrol pada suhu 50oC memiliki persentase penurunan konsentrasi Poly R-478 lebih besar daripada suhu ruang, sehingga dapat diasumsikan bahwa selain faktor kocokan shaker pemutusan ikatan pada struktur Poly R-478 juga dipengaruhi oleh suhu. Sirait (2008) juga mengatakan bahwa penurunan konsentrasi pada kontrol dapat terjadi karena faktor fisik dan kimia seperti pemanasan, perubahan pH dan agitasi. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan ikatan-ikatan pada struktur Poly R-478 melemah dan dapat terurai.

Pengukuran Biomassa Jamur

Hasil analisis sidik ragam pada taraf 5% menunjukkan bahwa tidak ada interaksi perlakuan suhu dan jenis isolat namun perlakuan suhu berpengaruh nyata terhadap bobot biomassa jamur yang dihasilkan oleh masing-masing isolat (Gambar 3).

(8)

8

Gambar 3. Rerata biomassa isolat jamur pada media Poly R-478 pada suhu ruang dan suhu 50oC dalam waktu inkubasi 7 hari.

Kenaikan suhu mengakibatkan penurunan bobot biomassa yang dihasilkan. Isolat Aspergillus sp.2 menghasilkan bobot biomassa tertinggi pada suhu ruang yaitu sebesar 0,555 g/L yang tidak berbeda nyata isolat lain. Pada suhu 50oC bobot biomassa tertinggi diperoleh dari Penicillium sp. PNE4 yaitu sebesar 0,359 g/L yang tidak berbeda nyata dengan isolat lain. Hasil penelitian ini masih sangat kecil dibandingkan penelitian sebelumnya yang memperoleh isolat jamur Aspergillus sp. KSt3 dan Penicillium sp. I3 dengan bobot biomassa tinggi yaitu sebesar 3,5 dan 3 g/L media pada suhu ruang (Subowo dan Corazon 2010) serta Aspergillus niger sebesar 2,75 g/L dan Aspergillus flavus 3 g/L pada suhu 50oC (Erum dan Ahmed 2010).

Biomassa isolat pada suhu 50oC secara keseluruhan lebih kecil dibandingkan pada suhu ruang dan penurunan konsentrasi Poly R-478 pada suhu 50oC lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan konsentrasi Poly R-478 pada suhu ruang (data tidak ditampilkan). Kenaikan suhu mengakibatkan penurunan bobot biomassa dan mengakibatkan peningkatan aktivitas ligninolitik. Berbeda dengan penelitian Irshad dan Ashger (2011) yang menyebutkan bahwa kenaikan suhu hingga mencapai suhu 50oC mengakibatkan bobot biomassa dan aktivitas ligninase Schizophyllum commune IBL-06 mengalami penurunan.

Pada hasil penelitian ini terlihat adanya hubungan antara biomassa jamur dan persentase penurunan konsentrasi Poly R-478 (Gambar 4). Bobot biomassa berkorelasi positif terhadap penurunan persentase konsentrasi Poly R-478 pada suhu ruang sedangkan pada suhu 50oC bobot biomassa berkorelasi negatif terhadap penurunan persentase konsentrasi Poly R-478. Peningkatan bobot biomassa diikuti oleh peningkatan persentase konsentrasi Poly R-478 yang terdegradasi pada suhu ruang namun pada suhu 50oC persentase konsentrasi Poly R-478 yang terdegradasi mengalami penurunan. 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 Penicillium sp. PNE4 Penicillium sp. PN6 Asprgillus sp. 2 Chaetomium sp. L2T2.21569 Trichoderma sp.PNE13 B io m a ss a j a m u r (g /L m ed ia ) Isolat

(9)

9

Gambar 4. Hubungan biomassa jamur dengan penurunan konsentrasi Poly R-478 pada (A) suhu ruang dan (B) suhu 50oC

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari 19 isolat yang diuji pada medium basal padat mengandung Poly R-478 diperoleh sebanyak 6 isolat yang memiliki aktivitas ligninolitik pada suhu ruang dan 11 isolat yang memiliki aktivitas ligninolitik pada suhu 50oC. Aspergillus sp.1 TT1 merupakan jamur yang memiliki aktivitas ligninolitik tertinggi pada suhu ruang dengan nilai rasio aktivitas sebesar 1,36. Pada suhu 50oC, Penicillium sp. PNE4 memiliki aktivitas ligninolitik tertinggi dengan nilai rasio aktivitas sebesar 12,07. Perlakuan suhu dan jenis isolat berpengaruh nyata terhadap aktivitas ligninolitik. Isolat Trichoderma sp. PNE13 merupakan jamur yang memiliki aktivitas ligninolitik tertinggi baik pada suhu ruang maupun suhu 50oC yaitu sebesar 46,52% pada suhu ruang dan 47,92% pada suhu 50oC selama 7 hari. Suhu berpengaruh nyata terhadap bobot biomassa yang dihasilkan. Bobot biomassa jamur yang tertinggi pada suhu ruang dihasilkan oleh Aspergillus sp.2 yaitu 0,555 g/L. Sedangkan pada suhu 50oC Penicillium sp. PNE4 menghasilkan bobot biomassa tertingi yaitu sebesar 0,359 g/L. Biomassa isolat berkorelasi positif terhadap persentase penurunan konsentrasi Poly R-478 pada suhu ruang sedangkan pada suhu 50oC berkorelasi negatif terhadap persentase penurunan konsentrasi Poly R-478. Perlu dilakukan uji kemampuan degradasi lignin dengan perlakuan kombinasi isolat, optimasi berbagai pH, suhu dan komposisi media.

DAFTAR PUSTAKA

Artiningsih, T. 2006. Ligninolytic Activity of Ganoderma strains on Different Carbon Sourches. Biodiversitas 7(4): 307-311. y = 63.25x R² = 0.23 0.000 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 0.000 0.500 1.000 P en u ru n an k o n se n tr a si P o ly R -4 7 8 (% ) Biomassa jamur (g/L) y = -58.69x + 58.92 R² = -0.429 0.000 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 0.000 0.200 0.400 P en u ru n an k o n se n tr a si P o ly R -4 7 8 ( % ) Biomassa jamur (g/L) (A) (B)

(10)

10

Cordova, J., S. Rousos, J. Baratti, J. Nungarai, O. Loera. 2003. Identification of Mexican Thermophilic and Thermotolerant Fungal Isolates. Micologia Applicada International 15(2): 37-49.

Erden, E., Bezzera R.M.F, A.A. Bias, C.V. Guedes, L.M.M. Ferreira, J.W. Cone, G.S.M. Marques, A.R.N. Barros, M.A.M. Rodrigues. 2009. Modification of Wheat Straw Lignin by Solid State Fermentation with White-Rot Fungi. Bioresource Tecnology 100: 4829-4835.

Erum, S and S. Ahmed. 2010. Comparison of dye decolorization efficiencies of indigenous fungal isolates. African Journal of Biotechnology. 10(17): 3399-3411. Harahap, I. 2009. Identifikasi dan Skrining Jamur Termotoleran Strain Lokal Penghasil

Pektinase dari Kulit Jeruk dan di Tanah Kebun Jeruk. Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA-UR.

Irshad, M and M. Asgher. 2011. Production and optimization of ligninolytic enzymes by white rot fungus Schizophyllum commune IBL-06 in solid state medium banana stalks. African Journal of Biotechnology 10(79): 18234-18242.

Ilyas, S and A. Reluman. 2013. Decolorization and Detoxification of Synozol Red HF-6BN Azo Dye, by Aspergillus niger and Nigrospora sp. Iranian Journal of Environmental Health Science & Engineering (10):12.

Manimozhi, M and V. Kaviyarasan. 2012. Screening The Effect of Nutritional Parameters on Biomass and Laccase Production in Submerged Medium by Litter Decomposing Basidiomycete Agaricus Heterocystis. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences 4(3): 592-599.

Meryandini, A., W. Wahyu, M. Besty, C.S.Titi, R. Nisa, S. Hasrul. 2009. Isolasi Bakteri Selulolitik dan Karakterisasi Enzimnya. Jurnal Sains. pp.33-38.

Moreira, M. T., C. Vlacava, G. Vidal. 2004. Fed-batch decolorization of Poly R-478 by Trametes versicolor. Brazilian Archives of Biology and Technology 47(2): 179-183.

Pointing S.B. 1999. Qualitative Methods for The Determination of Lignocellulotik Enzyme Production by Tropical Fungi. Journal Fungal Diversity (2): 17-33. Rohmah, M.Y., N.D. Kuswytasari, M. Shofivri. 2011. Studi poensi isolat kapang tanah

wonorejo surabaya dalam mendegradai lignin. Skripsi. FMIPA-ITS.

Purwadaria, T., P.A. Marbun, A.P. Sinarat, P.P. Ketaren. 2003. Perbandingan Aktivitas Enzim Selulase dari Bakteri dan Kapang Hasil Isolasi Rayap. Jurnal LIPI 8(4):213-219.

Shanmugam, S., P. Rajasekaran., T.S. Kumar. 2008. Optimization of Thermostable Laccase Production from Pleurotus eous Using Rice Bran. Advanced biotech (1): 12-15.

Sari, E.P. 2010. Isolasi dan Seleksi Kapang Ligninolitik dari Tanah Gambut di Perkebunan Karet Desa Rimbo Panjang Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA-UR.

Singh, H. 2006. Mycoremidiation. Jhon Wiley & Sons, Inc: America.

Subowo, Y.B. 2010. Uji Aktivitas Selulase dan Ligninase dari Beberapa Jamur dan Potensinya sebagai Pendukung Pertumbuhan Tanaman Terong (Solanum melongena). Berita Biologi LIPI Mikrobiology 10(1): 1-6.

Subowo, YB dan Corazon. 2010. Seleksi Jamur Tanah Pengurai Lignin dan PAH dari Beberapa Lingkungan di Bali. Berita Biologi. 10(2): 227-233.

(11)

11

Suhartono, M.T. 1989. Enzim dan Bioteknologi. PAU Bioteknologi IPB. Bogor.

Toumela, M. 2002. Degradation of Lignin and other 14 C-labeled compounds in compost and soil with an emphasis on white-rot fungi. Dissertasion. Department of Applied Chem. And Microbiology. University of Helsinki

Yuliana, Y. 2010. Isolasi dan Skrining Jamur Pektinolitik dari Buah Nenas (Annanas comosus L. Merr) Asal Perkebunan Nenas Rimbo Panjang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Riau. Skripsi. Jurusan Biologi

(12)

Figure

Tabel 1.  Aktivitas ligninolitik isolat pektinolitik termotoleran pada medium basal padat  mengandung Poly R-478 rasio Z/K yang terbentuk pada suhu ruang dan 50 o C

Tabel 1.

Aktivitas ligninolitik isolat pektinolitik termotoleran pada medium basal padat mengandung Poly R-478 rasio Z/K yang terbentuk pada suhu ruang dan 50 o C p.4
Gambar 1. Isolat  Trichoderma  sp.  PNE13  yang  ditumbuhkan  pada  medium  basal  Poly  R-478  yang  diinkubasi  pada  (A)  suhu  ruang  (B)  suhu  50 o C

Gambar 1.

Isolat Trichoderma sp. PNE13 yang ditumbuhkan pada medium basal Poly R-478 yang diinkubasi pada (A) suhu ruang (B) suhu 50 o C p.5
Gambar 2. Persentase penurunan konsentrasi Poly R-478 pada suhu ruang dan  suhu 50 o C dalam waktu inkubasi 7 hari

Gambar 2.

Persentase penurunan konsentrasi Poly R-478 pada suhu ruang dan suhu 50 o C dalam waktu inkubasi 7 hari p.6
Gambar 3.  Rerata  biomassa  isolat  jamur  pada  media  Poly  R-478  pada  suhu  ruang dan suhu 50 o C dalam waktu inkubasi 7 hari

Gambar 3.

Rerata biomassa isolat jamur pada media Poly R-478 pada suhu ruang dan suhu 50 o C dalam waktu inkubasi 7 hari p.8
Gambar 4.  Hubungan biomassa jamur dengan penurunan konsentrasi Poly R-478  pada (A) suhu ruang dan (B) suhu 50 o C

Gambar 4.

Hubungan biomassa jamur dengan penurunan konsentrasi Poly R-478 pada (A) suhu ruang dan (B) suhu 50 o C p.9

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in