FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PLEBITIS DI RUANG ANAK RSUD DR. R. SOETRASNO REMBANG

14 

Teks penuh

(1)

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN

PLEBITIS DI RUANG ANAK

RSUD DR. R. SOETRASNO REMBANG

Sri Hartni, Siti Fatimah

ABSTRAK

Latar belakang menurut Hinlay dalam Haji (2010) sebanyak 60 % pasien

yang dilakukan rawat inap mendapatkan terapi cairan melalui infus. Dari tindakan penatalaksanaan infus ini, pasien akan terpapar pada resiko terkena infeksi nosokomial berupa plebitis. Plebitis merupakan infeksi nosokomial yang disebabkan karena pemasangan infus atau terapi intravena (Haji, 2010). Dalam keadaan tertentu plebitis dapat menyebabkan bakteremia.

Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel jenuh dengan jumlah sampel 32 anak.

Hasil: 1) Uji hubungan antara jangka waktu pemasangan kateter dengan

kejadian plebitis diperoleh X2hitung (12,371) > X2tabel (3,841) dan p value Fisher’s

Exact Test = 0,001 (< 0,05), 2) Uji hubungan antara keasaman cairan infus

dengan kejadian plebitis diperoleh X2hitung (21,367) > X2tabel (3,841) dan p value

= 0,000 (< 0,05).Kesimpulan: 1) Ada hubungan antara jangka waktu pemasangan kateter dengan kejadian plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, 2) Ada hubungan antara keasaman cairan infus dengan kejadian plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

(2)

I. PENDAHULUAN

Mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang berpengaruh dapat dikelompokkan kedalam faktor pelayanan medik, faktor pelayanan non medik dan faktor pasien. Faktor pelayanan medik ditentukan oleh dokter, perawat atau petugas kesehatan, alat kesehatan, standar pelayanan yang dipakai dan sebagainya (Permana dan Adisasmito, 2005).

Menurut Nurachmah (2003) praktik asuhan keperawatan di berbagai tatanan pelayanan kesehatan belum mencerminkan suatu bentuk praktik pelayanan keperawatan profesional. Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat yang disampaikan Sitorus (2006) yang menjelaskan bahwa tingkat profesionalisme pelayanan keperawatan hanya mencapai 23,2 % dilihat dari dokumen keperawatan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa penyebab masalah tersebut adalah kompetensi perawat yang belum sesuai dengan latar belakang pendidikan, sistem penugasan belum seluruhnya berorientasi kepada pelaksanaan tugas, beban kerja perawat yang tinggi di lihat dari rasio tenaga, serta motivasi kerja dan kepuasaan secara umum yang masih rendah.

Menurut Hinlay dalam Haji (2010) sebanyak 60 % pasien yang dilakukan rawat inap mendapatkan terapi cairan melalui infus. Dari tindakan penatalaksanaan infus ini, pasien akan terpapar pada resiko terkena infeksi nosokomial berupa plebitis. Plebitis merupakan infeksi nosokomial yang disebabkan karena pemasangan infus atau terapi intravena (Haji, 2010). Dalam keadaan tertentu plebitis dapat menyebabkan bakteremia.

Di Indonesia belum ada angka yang pasti tentang prevalensi plebitis mungkin disebabkan penelitian yang berkaitan dengan terapi intravena dan publikasinya masih jarang (Indriya, 2011). Beberapa data tentang kejadian plebitis antara lain diperoleh dari penelitian Hasmoko (2008) yang menyebutkan bahwa kejadian plebitis RS Panti Wilasa Citarum meningkat dari 11,69 % pada tahun 2006 menjadi 18,74 % pada tahun 2007. Ratnawati (2010) juga mendapatkan data dari tim inos (infeksi nosokomial) Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus bahwa rata-rata kejadian plebitis tiap bulan selama bulan Januari sampai dengan Juni 2009 adalah 1 – 2 %. Sedangkan penelitian Mulyani (2011) di RSUD Kota Semarang pada tahun 2010 menunjukkan bahwa kejadian flebitis di Ruang Parikesit sebanyak 0,78 %, di ruang Prabu Kresna sebanyak 3,08 %, ruang Yudhistira sebanyak 0,6 %, ruang Bima sebanyak 4,12 %, ruang Arimbi sebanyak 1 %, ruang Banowati sebanyak 0,26 %.

(3)

Data di atas menunjukkan menunjukkan jumlah kejadian infeksi nosokomial di beberapa rumah sakit cukup tinggi, terutama kejadian plebitis. Hal ini menggambarkan bahwa sikap perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien secara aman yang merujuk pada konsep patient

safety belum optimal. Angka kejadian infeksi nosokomial tersebut juga masih

jauh di atas standar pelayanan minimal rumah sakit menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI tahun 2008 yaitu sebesar ≤ 1,5 %. Faktor penyebab plebitis pada pasien yang mendapat kanula vena perifer (Pearson, 1995 dalam Ryan, 2008) antara lain; bahan pembuatan kanula, ukuran keteter/selang, tempat insersi keteter, pengalaman profesional yang menginsersi kateter penusukan kanula, jangka waktu pemakaian kateter/kanula, komposisi infus set, frekuensi penggantian penutup kateter seperti kasa, pembalut dan kateter yang berhubungan dengan infeksi.

Menurut Ratnawati (2010) terjadinya kejadian plebitis, bengkak, dan trauma akibat pemasangan infus yang berulang-ulang adalah akibat tindakan pemasangan infus yang tidak mengutamakan patient safety, sehingga pasien akan banyak dirugikan akibatnya rentang waktu rawat inap pasien akan bertambah panjang.

Menurut Nursalam (2002) asuhan keperawatan yang bermutu dapat dicapai jika pelaksanaan asuhan keperawatan dipersiapkan sebagai suatu kehormatan yang dimiliki oleh para perawat dalam memperlihatkan haknya untuk memberikan asuhan yang manusiawi, aman, serta sesuai dengan standar dan etika profesi keperawatan yang berkesinambungan. Asuhan keperawatan terdiri dari kegiatan pengkajian, perencanaan, implementasi rencana, dan evaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan.

Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan kebijakan pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Kebijakan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 270/Menkes/III /2007 tentang Pedoman Manajerial Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan. Selain itu juga ada kebijakan tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yang tercantum pada Keputusan Menkes Nomor 129/Menkes/SK/ II/2008.

Berdasarkan data dari bagian pengendali mutu RSUD dr. R. Soetrasno Rembang diketahui bahwa selama tahun 2011 ditemukan kejadian plebitis tertinggi (17,70 %) terjadi pada Ruang Peristi atau ruang bayi dengan usia kurang dari 1 bulan, dan urutan kedua pada Ruang Anak sebesar 7,52 %.

(4)

Dengan demikian angka kejadian infeksi nosokomial masih tinggi atau masih jauh di atas standar pelayanan minimal rumah sakit yaitu sebesar ≤ 1,5 %.

Berdasarkan hasil survei pendahuluan terhadap 10 orang perawat, mereka mengaku bahwa beberapa faktor yang menyebabkan kejadian plebitis yaitu jangka waktu pemasangan kateter yang terlalu lama dan keasaman cairan infus. Dari uraian hasil survei tersebut, sangatlah diperlukan untuk melakukan penelitian yang mengkaji tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.

II. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross sectiona). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien anak rawat inap yang dilakukan pemasangan infus di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang pada bulan Agustus 2012 yang berjumlah 32 anak. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel jenuh.

III. HASIL PENELITIAN A. Analisis Univariat

1. Jangka Waktu Pemasangan Kateter

TABEL 1. Distribusi Frekuensi Jangka Waktu Pemasangan Kateter Pada Pasien Rawat Inap Di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

2. Keasaman Cairan Infus

TABEL 2 Distribusi Frekuensi Keasaman Cairan Infus Pada Pasien Rawat Ini Di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Bulan

(5)

3. Kejadian Plebitis

TABEL 3. distribusi Frekuensi Kejadian Plebitis Pada Pasien Rawat Inap di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Bulan

B. Analisis Bivariat

1. Hubungan Jangka Waktu Pemasangan Kateter Dengan Kejadian

Plebitis

TABEL 4 Hubungan Jangka Waktu Pemasangan Kateter dengan Kejadian Plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

2. Hubungan Keasaman Cairan Infus Dengan Kejadian Plebitis

TABEL 5. Hubungan Keasaman Cairan Infus dengan Kejadian Plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

TABEL 6. Hubungan Keasaman Cairan Infus dengan Kejadian Plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

(6)

IV. PEMBAHASAN A. Analisis Univariat

1. Jangka Waktu Pemasangan Kateter

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien diganti dengan jangka waktu yang sesuai prosedur (antara 48 – 72 jam) yaitu sebanyak 22 anak (68,8 %) dan 10 anak (21,3 %) lainnya tidak diganti dengan baik (lebih dari 72 jam).

Hasil ini menunjukkan bahwa pemasangan kateter pada pasien di RSUD dr. R. Soetrasno sudah sesuai prosedur yang benar yaitu mengganti setiap 3 – 4 hari. Hal ini sesuai dengan teori Pearson (1995) dalam Ryan (2008) bahwa pemakaian lebih dari 3 hari dapat mempertinggi risiko infeksi. Kanula vena perifer dan selang infus, sebaiknya diganti setiap 48-72 jam. Untuk pemakaian pemberian darah/cairan lipid ganti selang infus tiap 24 jam.

Hal ini didukung oleh penelitian May et al. (2005) dalam Ryan (2008) yang melaporkan bahwa penggantian tempat (rotasi) kanula ke lengan kontralateral setiap hari pada 15 pasien menyebabkan bebas plebitis. Namun, dalam uji kontrol acak yang dipublikasi baru-baru ini oleh Webster disimpulkan bahwa kateter bisa dibiarkan aman di tempatnya lebih dari 72 jam jika tidak ada kontraindikasi. The Centers for Disease Control and Prevention menganjurkan penggantian kateter setiap 72-96 jam untuk membatasi potensi infeksi (Darmawan, 2008).

2. Keasaman Cairan Infus

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar cairan infus yang diberikan kepada pasien bersifat isotonik yaitu sebanyak 22 anak (68,8 %), bersifat hipertonik (terlalu asam) sebanyak 7 anak (21,9 %) dan 3 anak lainnya diberikan cairan infuse yang bersifat hipotonik.

Kejadian plebitis ini dihubungkan dengan bentuk respon yang terjadi pada tunika intima vena dengan bahan kimia yang menyebabkan reaksi peradangan. Reaksi peradangan dapat terjadi akibat dari jenis cairan yang diberikan atau bahan material kateter yang digunakan.

PH darah normal terletak antara 7,35 – 7,45 dan cenderung basa. pH cairan yang diperlukan dalam pemberian terapi adalah 7

(7)

yang berarti adalah netral. Ada kalanya suatu larutan diperlukan konsentrasi yang lebih asam untuk mencegah terjadinya karamelisasi dekstrosa dalam proses sterilisasi autoclaf, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino, dan lipid yang biasa digunakan dalam nutrisi parenteral lebih bersifat flebitogenik (INS, 2006).

Hal ini sesuai dengan Darmawan (2008) bahwa pH dan osmolaritas cairan infus yang tinggi selalu diikuti risiko flebitis tinggi. pH larutan dekstrosa berkisar antara 3-5, dimana keasaman diperlukan untuk mencegah karamelisasi dekstrosa selama proses sterilisasi autoklaf, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino dan lipid yang digunakan dalam nutrisi parenteral bersifat lebih flebitogenik dibandingkan normal saline. Obat suntik yang bisa menyebabkan peradangan vena yang hebat, antara lain kalium klorida, vancomycin, amphotrecin B, chepalosporins, diazepam, midazolam dan banyak obat khemoterapi. Larutan infus dengan osmolaritas >900 m Osm/L harus diberikan melalui vena sentral.

Osmolalitas diartikan sebagai konsentrasi sebuah larutan atau jumlah partikel yang larut dalam suatu larutan. Pada orang sehat, konsentrasi plasma manusia adalah 285 ± 10 m Osm/kg H20 (Sylvia, 2002). Larutan sering dikategorikan sebagai larutan isotonik, hipotonik atau hipertonik, sesuai dengan osmolalitas total larutan tersebut dibanding dengan osmolalitas plasma. Larutan isotonik adalah larutan yang memiliki osmolalitas total sebesar 280 – 310 m Osm/L, larutan yang memliki osmolalitas kurang dari itu disebut hipotonik, sedangkan yang melebihi disebut larutan hipertonik. Tonisitas suatu larutan tidak hanya berpengaruh terhadap status fisik klien akaan tetapi juga berpengaruh terhadap tunika intima pembuluh darah. Dinding tunika intima akan mengalami trauma pada pemberian larutan hiperosmoler yang mempunyai osmolalitas lebih dari 600 m Osm/L. Terlebih lagi pada saat pemberian dengan tetesan cepat pada pembuluh vena yang kecil. Cairan isototonik akan menjadi lebih hiperosmoler apabila ditambah dengan obat, elektrolit maupun nutrisi (INS, 2006). Menurut Subekti (2005) vena perifer dapat menerima osmolalitas larutan sampai dengan 900 m Osm/L. Semakin tinggi osmolalitas (makin hipertonis) makin mudah terjadi kerusakan pada dinding vena perifer seperti plebitis, trombophebitis, dan tromboemboli. Pada pemberian jangka lama harus diberikan

(8)

melalui vena sentral, karena larutan yang bersifat hipertonis dengan osmolalitas > 900 m Osm/L, melalui vena sentral aliran darah menjadi cepat sehingga tidak merusak dinding dan bahan kateter dipilih yang terbuat dari polivinil

3. Kejadian Plebitis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang dirawat inap di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang tidak mengalami plebitis yaitu sebanyak 25 anak (78,1 %) sedangkan yang mengalami plebitis sebanyak 7 anak (21,9 %). Dengan demikian angka kejadian infeksi nosokomial di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang termasuk masih tinggi karena masih jauh di bawah standar pelayanan minimal rumah sakit yaitu sebesar ≤ 1,5 %.

Plebitis merupakan infeksi nosokomial yang disebabkan karena pemasangan infus atau terapi intravena (Haji, 2010). Faktor-faktor penyebab plebitis pada pasien yang mendapat kanula vena perifer menurut Pearson (1995) dalam Ryan (2008) antara lain; bahan pembuatan kanula, ukuran keteter/selang, tempat insersi keteter, pengalaman profesional yang menginsersi kateter penusukan kanula, jangka waktu pemakaian kateter/kanula, komposisi infus set, frekuensi penggantian penutup kateter seperti kasa, pembalut dan kateter yang berhubungan dengan infeksi.

Menurut Ratnawati (2010) terjadinya kejadian plebitis, bengkak, dan trauma akibat pemasangan infus yang berulang-ulang adalah akibat tindakan pemasangan infus yang tidak mengutamakan

patient safety, sehingga pasien akan banyak dirugikan akibatnya

rentang waktu rawat inap pasien akan bertambah panjang.

Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya daerah yang merah, nyeri dan pembengkakan di daerah penusukan atau sepanjang vena. Insiden plebitis meningkat sesuai dengan lamanya pemasangan jalur intravena. Komplikasi cairan atau obat yang diinfuskan (terutama PH dan tonisitasnya), ukuran dan tempat kanula dimasukkan. Pemasangan jalur IV yang tidak sesuai, dan masuknya mikroorganisme pada saat penusukan (Brunner dan Sudarth, 2002).

(9)

B. Analisis Bivariat

1. Hubungan Jangka Waktu Pemasangan Kateter dengan Kejadian Plebitis

Hasil penelitian ini menemukan adanya hubungan antara jangka waktu pemasangan kateter dengan kejadian plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Tahun 2012. Hal ini ditunjukkan dengan X2hitung (12,371) > X2tabel (3,841) dan p value =

0,001 (< 0,05).

Adanya hubungan secara statistik ini menunjukkan bahwa semakin baik jangka waktu pemasangan kateter (48 – 72 jam) semakin kecil kemungkinan terjadi plebitis demikian pula sebaliknya semakin tidak baik atau semakin lama jangka waktu pemasangan kateter semakin besar kemungkinan terjadi plebitis.

Mayoritas responden mengalami plebitis dengan rata-rata terjadi plebitis pada hari ketiga/lebih dari pemasangan infus. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Masiyati (2002) bahwa angka kejadian plebitis paling banyak dalam waktu pemasangan infus 4-5 hari sebesar 60%. Rata-rata kejadian plebitis pada hari ketiga diakibatkan karena seringnya pasien melakukan pergerakan pada daerah yang terpasang infus. Pasien yang sering melakukan pergerakan seperti fleksi dengan lokasi pemasangan kateter intravena di daerah lekukan dapat beresiko mengakibatkan plebitis mekanik (Darmawan, 2008). Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan plebitis misalnya teknik aseptik yang tidak baik, teknik pemasangan kateter intravena yang buruk, kateter dipasang terlalu lama dan tempat insersi kateter yang jarang diinspeksi visual (Darmawan, 2008).

Menurut Metheny (1996) dalam Brooker (2003) secara teknis lamanya penggunaan jarum kateter intravena (IV) tetap steril selama 48 sampai dengan 72 jam, disamping itu juga teknik ini lebih menghemat biaya dan tidak meningkatkan resiko infeksi. Penggunaan jarum intravena harus diganti paling sedikit setiap 24 jam dan ganti lokasi vena yang ditusuk jarum intravena setiap 48 jam (Brooker, 2003). Namun, dalam uji kontrol acak yang dipublikasi baru-baru ini oleh Webster disimpulkan bahwa kateter bisa dibiarkan aman di tempatnya lebih dari 72 jam jika tidak ada kontraindikasi. The Centers for Disease Control and Prevention menganjurkan penggantian kateter setiap 72-96 jam untuk membatasi potensi infeksi (Darmawan, 2008).

(10)

2. Hubungan Keasaman Cairan Infus Dengan Kejadian Plebitis

Dalam penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara antara keasaman cairan infus dengan kejadian plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Tahun 2012. Hal ini ditunjukkan dengan X2hitung (21,367) > X2tabel (3,841) dan p value =

0,000 (< 0,05).

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori INS (2006) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang berperan dengan kejadian plebitis post infus adalah cairan yang terlalu asam. Penemuan ini juga sesuai dengan teori Smeltzer dan Bare (2002) bahwa insiden phlebitis meningkat salah satunya akibat komposisi cairan atau obat yang diinfuskan (terutama pH dan tonisitasnya) yang tidak sesuai.

Menurut INS (2006) kejadian plebitis dihubungkan dengan bentuk respon yang terjadi pada tunika intima vena dengan bahan kimia yang menyebabkan reaksi peradangan. Reaksi peradangan dapat terjadi akibat dari jenis cairan yang diberikan atau bahan material kateter yang digunakan. pH darah normal terletak antara 7,35 – 7,45 dan cenderung basa. pH cairan yang diperlukan dalam pemberian terapi adalah 7 yang berarti adalah netral. Ada kalanya suatu larutan diperlukan konsentrasi yang lebih asam untuk mencegah terjadinya karamelisasi dekstrosa dalam proses sterilisasi autoclaf, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino, dan lipid yang biasa digunakan dalam nutrisi parenteral lebih bersifat flebitogenik.

Pada orang sehat, konsentrasi plasma manusia adalah 285 ± 10 m Osm/kg H20 (Sylvia, 2002). Larutan sering dikategorikan sebagai larutan isotonik, hipotonik atau hipertonik, sesuai dengan osmolalitas total larutan tersebut dibanding dengan osmolalitas plasma. Tonisitas suatu larutan tidak hanya berpengaruh terhadap status fisik klien akaan tetapi juga berpengaruh terhadap tunika intima pembuluh darah. Dinding tunika intima akan mengalami trauma pada pemberian larutan hiperosmoler yang mempunyai osmolalitas lebih dari 600 m Osm/L. Terlebih lagi pada saat pemberian dengan tetesan cepat pada pembuluh vena yang kecil. Cairan isototonik akan menjadi lebih hiperosmoler apabila ditambah dengan obat, elektrolit maupun nutrisi (INS, 2006).

(11)

Menurut Subekti (2005) vena perifer dapat menerima osmolalitas larutan sampai dengan 900 m Osm/L. Semakin tinggi osmolalitas (makin hipertonis) makin mudah terjadi kerusakan pada dinding vena perifer seperti plebitis, trombophebitis, dan tromboemboli. Pada pemberian jangka lama harus diberikan melalui vena sentral, karena larutan yang bersifat hipertonis dengan osmolalitas > 900 m Osm/L, melalui vena sentral aliran darah menjadi cepat sehingga tidak merusak dinding.

IV. KESIMPULAN

1. Sebagian besar pasien dilakukan penggantian kateter dengan jangka waktu yang sesuai prosedur (antara 72 – 96 jam) yaitu sebanyak 22 anak (68,8 %).

2. Sebagian besar cairan infus yang diberikan kepada pasien bersifat isotonik yaitu sebanyak 22 anak (68,8 %).

3. Sebagian besar pasien anak tidak mengalami plebitis yaitu sebanyak 25 anak (78,1 %).

4. Ada hubungan antara jangka waktu pemasangan kateter dengan kejadian plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Tahun 2012. Hal ini ditunjukkan dengan X2hitung (12,371) > X2tabel (3,841) dan p value

= 0,001 (< 0,05).

5. Ada hubungan antara keasaman cairan infus dengan kejadian plebitis di Ruang Anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Tahun 2012. Hal ini ditunjukkan dengan X2hitung (21,367) > X2tabel (3,841) dan p value = 0,000

(< 0,05).

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Aryawitl. 2009. Prosedur Pemasangan Infus Intra Vena.

http://aryawitl.blogspot. com/2009/02/prosedur-pemasangan-infus-intra-vena.html. Diakses pada tanggal 10 Mei 2012.

Asrin, Endang Triyanto dan Arif Setyo Upoyo. 2006. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Plebitis Di RSUD Purbalingga.

Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 1, No.1, Juli 2006.

Budiarto, E. 2002. Biostatistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Brunner dan Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta: EGC.

Brooker. 2003. Mikrobiologi Terapan untuk Perawat.Jakarta: EGC.

Darmawan, Iyan. 2008. Flebitis, Apa Penyebabnya Dan Bagaimana Cara Mengatasinya?http://www.otsuka.co.id/?content=article_detail&id=6

8&lang=id. Diakses pada tanggal 15 Mei 2012.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2001. Standar Manajemen

Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan di Sarana Kesehatan.

Jakarta: Direktorat Jendral Pelayanan Medik Depkes RI.

Haji, Bayu Seno 2010. Hubungan Tingkat Kompetensi Pada Aspek Ketrampilan Pemasangan Infus Dengan Angka Kejadian Plebitis Di RSUD Banyudono Kabupaten Boyolali. Skripsi Yang Tidak

Dipublikasikan. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Surakarta.

Hanskin, Lonsway, Hendrick & Perdue. 2004. Infusion Therapy in

linicalPractice. The Infusion Nurse Society (2nd Ed). Philadelpia: WB

Sounders.

Hasmoko, Emanuel Vensi. 2008. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Klinis Perawat Berdasarkan Penerapan Sistem Pengembangan Manajemen Kinerja Klinis (SPMKK) Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. Tesis Yang Tidak

(13)

Dipublikasikan. Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat

Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.

Indriya, Ade. 2011. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Universitas Sumatera Utara Tentang Teknik Pemasangan Dan Perawatan Kateter Intravena Mencegah Flebitis. Skripsi Yang Tidak

Dipublikasikan. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Medan.

INS (Infusion Nursing Society). 2006. Infusion Nursing Standards of Practice.

Journal Infus Nursing Jan-Feb; 29(1 Suppl): S1-92.

Kusyati, Eni. dkk. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium. Jakarta.

EGC.

Lukman, Saraswati. 2002. Pelatihan Keterampilan Keperawatan. Jakarta: Gunung Mulia.

Mubarak, Wahit Iqbal. 2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan

Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta: EGC.

Mulyani, Sri. 2011. Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Kejadian Flebitis di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Semarang. Skripsi Yang Tidak

Dipublikasikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Nurachmah. 2002. Buku Saku: Prosedur Keperawata Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Nurachmah, E. 2003. Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit. Seminar keperawatan RS Islam Cempaka Putih Jakarta. www.pdpersi.co.id Diakses pada tanggal 20 Oktober 2009.

Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik

Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Permana LW dan Adisasmito W. 2005. Analisis Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Kesehatan St. Carolus Jakarta. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan,

Yogyakarta. 2005; 08 (02).

(14)

Potter and Perry. v2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,

Proses dan Praktik. Jakarta: EGC.

Ratnawati, Dyah. (2010). Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Patient Safety Dengan Tindakan Pemasangan Infus Sesuai Dengan Standar Operasional Prosedur. Skripsi Yang Tidak

Dipublikasikan. Facultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang.

Riyanto, Agus. 2010. Pengolahan Dan Analisis Data Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Ryan, Debiya. 2008. Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Phlebitis Pada Pemberian Nutrisi Parenteral Di Ruang Bedah Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang. Skripsi Yang tidak Dipublikasikan. Fakultas Ilmu Keperawatan & Kesehatan Universitas Muhamadiyah Semarang.

Sitorus, R. 2006. Model Praktek Keperawatan Professional di Rumah Sakit:

Penataan Struktur & Proses (Sistem) Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat. Jakarta: EGC.

Subekti, Imam. 2005. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru.

Sugiarto, A., 2007. Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Dalam (Memasang dan Merawat Infus) Terhadap Kejadian Flebitis di Bapelkes Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto. http://skripsi-d-3-perawat.blogspot.com. Diakses pada tanggal 25 Maret 2012.

Sugiyono. 2009. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sylvia, Price. 2002. Patofisiologi Konsep Klinik, Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.

Werdati, S. 2005. Materi Kuliah Program Pasacsarjana UNDIP yang tidak

dipubilkasikan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.

Wahyuni, Sri. 2007. Analisis Kompetensi Kepala Ruang Dalam Pelaksanaan Standar Manajemen Pelayanan Keperawatan Dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Perawat Dalam Mengimplementasikan Model Praktik Keperawatan Profesional Di Instalasi Rawat Inap BRSUD Banjarnegara. Tesis Yang Tidak Dipublikasikan. Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :