MAKALAH FARMAKOLOGI
MAKALAH FARMAKOLOGI
“ KALSITONIN DAN PARATIROID
“ KALSITONIN DAN PARATIROID “
“
DISUSUN
DISUSUN OLEH
OLEH ::
1.
1. Handriko
Handriko Dwi
Dwi Sandjaya
Sandjaya
1104015123
1104015123
2.
2. Kury
Kury Wandan
Wandan Sari
Sari
1104015163
1104015163
3.
3. Risky
Risky Amelia
Amelia
1104015272
1104015272
4.
4. Sinta
Sinta Yulia
Yulia Ningsih
Ningsih
1104015299
1104015299
5.
5. Tria
Tria Tartiani
Tartiani Rahayu
Rahayu
1104015329
1104015329
6.
6. Widuri
Widuri Gunartia
Gunartia
1104015341
1104015341
KELAS 5B ; KELOMPOK 8
KELAS 5B ; KELOMPOK 8
JURUSAN FARMASI
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
JAKARTA
2014
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Illahi Robbi, karena berkat rahmat dan karunia- Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KALSITONIN dan PARATIROID” ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak terlepas dari bantuan pihak lain. Oleh karena itu,pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan rasa terima kasih pada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan bantuan kepada penulis khususnya Dosen Pembimbing matakuliah Farmakologi. Kami
menyadari bahwa hasil penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis menerima saran dan kritik dari para pembaca.
Akhirnya, penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, dan umumnya bagi para pembaca. Aamiin.
Bekasi , Januari 2014
BAB I
PENDAHULUAN
Sistem endokrin terdiri dari kelenjar endokrin yang bekerjasama dengan sistem saraf yang berfungsi mengontrol dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu, Bila sistem endokrin umumnya bekerja melalui hormon, maka sistem saraf bekerja melalui neurotransmiter yang dihasilkan oleh ujung-ujung saraf.
Yang membedakan antara sistem saraf dengan hormonal yaitu pada omset dan waktunya. Pada sistem saraf, cepat bereaksi dan cepat berakhir pula. Sedangkan pada sistem hormonal, omsetnya lama dan lambat. Sistem saraf dan hormonal memiliki interaksi timbal balik yang berfungsi dalam menjaga keseimbangan homeostatis tubuh. Homeostatis
merupakan suatu kemampuan tubuh untuk menjaga keadaan tetap kostan atau stabil.
Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin . Kelenjar endokrin ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran keluar, sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Hormon berperan dalam pengaturan metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, mempertahankan homeostasis, reaksi terhadap stress, dan tingkah laku.
Hormon umumnya mempunyai ciri -ciri tertentu yaitu : Diproduksi dan disekresikan ke dalam darah oleh sel kelenjar endokrin dalam jumlah tertentu, Mengadakan interaksi dengan reseptor khusus yang terdapat di sel target, Memiliki pengaruh mengaktifkan enzim khusus, dan memiliki pengaruh tidak hanya terhadap satu sel target, tetapi dapat juga mempengaruhi beberapa sel target berlainan.
Seperti yang kita ketahui, bahwa hormon akan di salurkan ke sel target melalui pembuluh darah, untuk dapat sampai ke sel target, hormon haruslah terlebih dahulu terikat
dengan reseptor yang terdapat pada sel target.
Reseptor Hormon adalah Molekul pengenal spesifik dari hormon sebelum berikatan dengan sel target sebelum hormon memulai efek biologiknya pada sel target. Umumnya pengikatan hormon reseptor ini bersifat reversibel dan nonkovalen. Reseptor hormon bisa
terdapat pada permukaan sel (membran plasma) atau pun intraselluler.
Interaksi hormon dengan reseptor permukaan sel akan memberikan sinyal pembentukan senyawa yang disebut sebagai second messenger (hormon sendiri dianggap
sebagai first messenger) Jika hormon sudah berinteraksi dengan reseptor spesifiknya pada sel-sel target, maka peristiwa-peristiwa komunikasi intraseluler dimulai. Hal ini dapat melibatkan reaksi modifikasi seperti fosforilasi dan dapat mempunyai pengaruh pada ekspresi gen dan kadar ion. Peristiwa-peristiwa ini hanya memerlukan dilepaskannya zat-zat pengatur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. FARMAKOLOGI DASAR
Kalsium (calcium) dan fosfat ( phosphate), mineral utama dalam tulang, juga merupakan dua mineral terpenting untuk fungsi seluler secara umum. Pada hakekatnya, tubuh manusia telah menyusun suatu tatanan mekanisme yang kompleks, dengan homeostasis kalsium dan fosfat yang dipertahankan dengan seksama. Sekitar 98% dari 1-2 kg kalsium dan 85% dari 1 kg fosfor ( phosphorus) pada orang dewasa terdapat dalam tulang, tempat penyimpanan utama mineral tersebut. Fungsi tersebut bersifat dinamis, dengan pembentukan tulang secara terus-menerus dan pertukaran langsung antara mineral tulang dengan mineral dalam cairan ekstraseluler. Tulang juga berfungsi sebagai penyangga struktur utama bagi tubuh dan menyediakan ruang untuk hematopoesis. Dengan demikian, abnormalitas dalam homeostasis mineral tulang tidak saja dapat mengakibatkan beragam disfungsi seluler (msl. Tetani, koma, kelemahan otot), namun juga menyebabkan berbagai gangguan dalam penyanggaan struktur tubuh (msl. Osteoporosis, yang disertai keretakan tulang) dan hilangnya kapasitas hematopoiesis (msl. Osteoporosis pada anak).
Kalsium dan fosfat masuk ke dalam tubuh melalui usus. Diet rata-rata penduduk Amerika mengandung 600-1000 mg kalsium per hari, dan sekitar100-250 mg diabsorbsi oleh tubuh. Perkiraan tersebut menggambarkan absorpsi neto, sebab terjadi baik absorpsi (terutama dalam duodenum dan jejunum atas) maupun sekresi (umumnya dalam ileum). Jumlah fosfor dalam diet orang Amerika hampir sama dengan kalsium. Akan tetapi, efisiensi absorpsinya (terutama dalam jejunum) lebih besar, berkisar antara 70-90%, tergantung pada masukkan dalam diet. Dalam keadaan tunak ( steady state), ekskresi kalsium dan fosfat dari ginjal menyeimbangkan absorpsi dari usus. Pada umumnya, lebih dari 98% kalsium yang telah mengalami filtrasi dan 85% dari fosfat yang telah difiltrasi selanjutnya direabsorpsi oleh ginjal. Pergerakkan kalsium dan fosfat melintasi epitel usus dan ginjal diatur dengan seksama. Penyakit intrinsik pada usus (msl. Guam (sprue) non-tropis) atau ginjal (msl. Gagal ginjal kronis) mengganggu homeostasis mineral tulang.
Terdapat dua hormon yang berfungsi sebagai regulator utama dalam homeostasis kalsium dan fosfat:
peptide parathyroid hormone
(PTH) dan steroid vitamin D. vitamin D lebih merupakan prohormon daripada hormone asli, sebab ia harus dimetabolisme lebih jauh untuk mendapatkan aktivitas biologisnya. Hormonlain-calcitonin
,prolactin
, hormon pertumbuhan, insulin, hormon tiroid,glucocorticoid
, dan steroid-steroid seks-mempengaruhi homeostasis kalsium dan fosfat dalam kondisi fisiologis tertentu dan dapat dianggap sebagai regulator sekunder. Kekurangan atau kelebihan regulator sekunder tersebut dalam suatu rentang fisiologis tidak menyebabkan gangguan homeostasis kalsium dan fosfat sebagaimana terjadi dalam keadaan kekurangan atau kelebihan PTH dan vitamin D. akan tetapi, beberapa diantara regulator sekunder tersebut terutama calcitonin, glucocorticoid , dan esteroge-esterogen- berguna sebagai terapi dan akan dibahas dalam bagian berikutnya.Sebagai tambahan untuk regulator hormonal, juga kalsium dan fosfat, ion lain seperti natrium dan fluride serta berbagai jenis obat (bisphosphonate, plicamycin, dan diuretika) juga dapat menyebabkan perubahan pada homeostasis kalsium dan fosfat.
BAB III
PEMBAHASAN
3. HORMON KALSITONIN DAN HORMON PARATIROID
3.1 HORMON KALSITONIN
A. Pengertian
Kalsitonin merupakan hormon polipeptida yang berefek hipokalsemik dan hipofosfatemik dan dihasilkan oleh sel parafolikuler-C kelenjar tiroid . Sel ini secara embriologis berasal dari ultimobranchial body yang berada di kelenjar tiroid , paratiroid dan timus . Kalsitonin merupakan hormon peptida dengan 32 asam amino dan berat molekul 3.600 yang membentuk rantai tunggal lurus . Hormon ini menghambat degradasi tulang dan merangsang penyerapan kalsium dan fosfat oleh tulang.
Sekresi hormon kalsitonin dipengaruhi oleh adanya serum Ca2+ plasma, target organ dari
hormon ini adalah usus halus dan tulang. Hormon ini bekerja menurunkan absorbsi Ca2+di dalam usus
dan menurunkan resorpsi Ca2+di dalam tulang sehingga serum Ca2+yang semula tinggi menjadi turun.
Hormon ini bekerja berkebalikan dengan hormon paratiroid. Ca plasma melebihi normal, dapat menyebabkan gangguan sistem saraf (refleks lamban, kontraksi otot lamban & lemah konstipasi & nafsu makan). Pengukuran kadar kalsitonin dengan cara imunoassay pada lebih dari 75% subyek, didapatkan kadar basal kalsitonin < 100 pg/ml. Pemberian infus Ca++ dapat meningkatkan kadar basal ini sampal 2-3 kali lipat. Kadar rata-rata kalsitonin pada wanita
lebih rendah dari pada pria dan kurang responsif terhadap hiperkalsemia. Masa paruh kalsitonin pendek sekitar 10 menit.
B. Mekanisme Kerja Kalsitonin
Efek hipokalsemia dan hipofosfatemia kalsitonin terutama terjadi akibat efek penghambatan langsung kalsitonin terhadap resorpsi tulang oleh sel-sel osteoklas dan osteosit . Selain itu, hormon ini juga dapat merangsang pembentukan tulang oleh osteoblast . Meskipun kalsitonin dapat mengurangi efek osteolitas hormon paratiroid , tetapi bukan merupakan antihormon paratiroid karenanya tidak menghambat aktivasi adenilsiklase sel tulang maupun ambilan 2+ ke tulang yang di induksi hormon paratiroid . Kerja kalsitonin
tidak dihambat oleh inhibitor sintesis RNA maupun protein . Nampaknya sebagian efek kalsitonin di perantarai oleh peringkatan kadar siklik AMP di osteoblas . Pengaruh langsung kalsitonin pada ginjal berlainan pada berbagai spesies . Pada manusia , kalsitonin meningkatkan ekskresi 2+ ,fosfat dan + , karena di duga hormon ini tidak
mempengaruhi absorbsi 2+di saluran cerna .
C. Farmakokinetik
• Kalsitonin hanya dapat diberikan secara parenteral karena pemberian per oral cepat dirusak oleh cairan lambung. Sesudah pemberian SK, kadar puncak dalam plasma tercapai dalam waktu 15-45 menit. Masa paruh plasma kalsitonin manusia sekitar 4 menit.
• Meskipun masa paruh plasmanya sangat singkat tetapi masa paruh biologiknya (aktivitasnya) dapat berlangsung beberapa jam atau beberapa hari.
• Metabolisme kalsitonin manusia terutama terjadi di ginjal. Obat ini tidak dapat melalui barier plasenta tetapi dapat masuk ke air susu ibu.
Efek Samping
Efek samping kalsitonin yaitu ruam kulit , mual , muntah , diare , flushing di daerah muka dan malaise . Umumnya keluhan saluran cerna dan kulit ini berkurang walaupun terapi di teruskan . Peningkatan ekskresi +dan air , yang bersifat sementara pernah dilaporkan
memperbaiki dinamik sirkulasi . Mungkin pula terjadi inflamasi pada tempat suntikan . Obat ini tidak di anjurkan untuk wanita yang menyusui ,sedangkan keamanannya pada wanita hamil belum di teliti .
D. Farmakologi
Efek hipokalsemik dan hipofosfatemik hormon ini dimanfaatkan untuk keadaan hiperkalsemia, misalnya pada hiperparatiroidisme, hiperkalsemia idiopatik dan keracunan vitamin D. Kalsitonin juga efektif untuk dekalsifikasi yang dapat terjadi pada berbagai kelainan, misalnya pada :
a. Osteoporosis yg bertalian dg usia lanjut,
b. Resorpsi tulang yang bertambah pada imobilisasi penderita; dan c. Paget's disease
.
3.2 HORMON PARATIROID A. Kelenjar paratiroid
Kelenjar paratiroid (glandulae parathyreoideae, korpuskel epitel) merupakan kelenjar sebesar kira – kira biji kedelai, yang terletak pada sisi belakang dari kelenjar tiroid, dengan bobot total kurang lebih 150 mg. Umumnya terdapat empat korpuskel epitel, dua diatas dan dua di bawah.
Kelenjar paratiroid dikelilingi oleh jonjot kapsul jaringan ikat. Kelenjar ini terdiri atas sel – sel epitel, yang tersusun membentuk tali epitel melalui jaringan lemak dan jaringan ikat. Jaringan itu berhubungan dengan jala kapiler yang tebal. Dalam epitel
dibedakan :
1. Sel utama yang gelap
2. Sel utama yang bening dan besar, dan 3. Sel eosinofil.
Produksi hormone terjadi dalam sel utama. Fungsi kelenjar paratiroid :
1. Memelihara kosentrasi ion kalsium yang tetap dalam plasma 2. Mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat melalui ginjal.
3. Mempercepat absorsi kalsium di intestine.
4. Kalsium berkurang, hormone paratiroid menstimulasi reabsorsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah.
5. Menstimulasi dan mentransportasi kalsium dan fosfat melalui membrane sel
B. Hormon Paratiroid (PTH)
Hormon paratiroid (PTH) berasal dari kelenjar paratiroid yang terdiri dari 4 kelenjar kecil, terletak bilateral pada ujung atas dan bawah kelenjar tiroid. PTH merupakan hormon polipeptida rantai tunggal yang terdiri dari 84 asam amino, 34 asam amino yang pertama merupakan bagian yang penting yang dapat menimbulkan aktivitas bilologiknya. PTH berfungsi dalam pengaturan kesetimbangan kalsium dan fosfat. Pada keadaan fisiologik PTH
menjaga konsentrasi kalsium dalam plasma tetap 2,5 mmol/L dan konsentrasi fosfat dalam plasma tetap 1 mmol/L. PTH mengatur aliran kalsium dan fosfat melintasi membrane seluler dalam tulang dan ginjal, yang menghasilkan peningkatan kalsium serum dan penurunan fosfat serum.
Dalam tulang, PTH meningkatkan aktivitas dan jumlah osteoblast , sel-sel yang bertanggung jawab terhadap reabsorpsi tulang. Akan tetapi, stimulasi osteoclast tersebut bukan merupakan efek langsung. PTH bekerja pada osteoblast (sel pembentuk tulang) untuk
menginduksi suatu protein yang terikat pada membran yang disebut faktor diferensiasi osteoclast (juga disebut RANK-ligand atau TRANCE ). Faktor tersebut bekerja pada osteoclast dan prekursor osteoclast untuk meningkatkan jumlah dan aktivitas osteoclast . Efek tersebut meningkatkan pergantian atau pembentukan ulang tulang, suatu rangkaian spesifik dari proses seluler yang dimulai dengan reabsorpsi tulang osteoklastik dan diikuti oleh pembentukan tulang osteoblastik. Sekalipun, baik resorpsi maupun pembentukan tulang ditingkatkan oleh PTH, efek akhir dari kelebihan PTH adalah untuk meningkatkan resorpsi tulang, PTH dalam dosis rendah mampu meningkatkan pembentukan tulang tanpa terlebih dahulu menstimulasi resorpsi tulang, dan analog PTH pada sel-sel tulang, namun mediator lain (termasuk kalsium) diduga turut berperan serta .
Dalam ginjal, PTH meningkatkan kemampuan nefron untuk mereabsorpsi kalsium dan magnesium, namun menurunkan kemampuannya untuk mereabsorbsi fosfat, asam amino, bikarbonat, natrium, klorida, dan sulfat. Sekalipun PTH dengan jelas menstimulasi produksi dan ekskresi cAMP ginjal dan walaupun cAMP juga memproduksi ulang sejumlah efek PTH ginjal, namun cAMP diduga bukan merupakan satu-satunya mediator kerja PTH dalam ginjal. Efek penting lain dari PTH dalam ginjal adalah PTH menstimulasi hidroksilasi 25-hidroksi-kolekalsiferol menjadi 1,25-di25-hidroksi-kolekalsiferol, yang merupakan bentuk aktif sebenarnya dari vitamin D3 dalam ginjal.
Bukti terakhir telah menarik perhatian terhadap efek vasoaktif dan kardiotropik PTH. Pengamatan tersebut dapat menjelaskan kemampuan PTH dalam meningkatkan kecepatan filtrasi glomeruler secara akut. Dugaan efek tersebut terlibat dan dihubungkannya dengan hipertiroidisme serta hipertensi masih akan ditentukan.
SINTESIS
HPT disintesis di kelenjar paratiroid sebagai prohormon dalam retikulum endoplasma dan akan bergerak ke aparat golgi sehingga terjadi perubahan menjadi HPT . Kemudian hormon ini terkumpul dalam granula sebelum mengalami proteolisis , kemudian akan di sekresikan ke sirkulasi . Sekresi HPT sangat di pengaruhi oleh kadar 2+ plasma.
Proses proteolitis HPT akan menghasilkan HPT (7-8) dan fragmen HPT lain , yang ekskresinya terutama melalui urin . Pada gagal ginjal senyawa- senyawa ini dapat terakumulasi , sedangkan HPT yang utuh ekskresinya melalui ginjal dan ekstrarenal . Pada
hipokalsemia HPT akan lebih banyak disekresi kan sedangkan yang dihidrolisis sedikit , pada keadaan ini pengeluaran HPT (7-84) bertambah . Bila hipokalsemia berlangsung lama sintesis HPT juga akan meningkat dan kelenjar paratiroid akan mengalami hipertrofi .
FISIOLOGI
Fungsi utama HPT , mempertahankan kadar 2+ cairan ekstrasel agar tetap stabil
melalui pengaruh utamanya pada pengaturan absoprsi 2+di ginjal dan mobilisasi 2+ dari
tulang . HPT mengatur fluksus Ca dan fosfat melalui membran ditulang dan ginjal , karenanya dapat meningkatkan kadar Ca dan menurunkan fosfat serum kecuali itu , HPT juga dapat mempengaruhi beberapa organ lain seperti tulang rawan , otot polos pembuluh darah , plasenta , hepar , pulau langerhans pankreas , otak , fibroblas dermis dan limfosit . Efeknya pada organ tersebut melalui 2 jenis reseptor HPT-1 dan HPT-2 di pembuluh darah , otak , pankreas dan plasenta .
PENGATURAN SEKRESI
Sekresi hormon ini terutama di pengaruhi kadar 2+ plasma . Bila kadar 2+
plasma rendah maka sekresi HPT meningkat dan bila keadaan hipokalsemia ini berlangusng lama dapat terjadi hipertrofi dan hiperplasi kelenjar paratiroid . Bila kadar 2+ plasma
sangat tinggi akan terjadi hal yang sebaliknya , HPT sangat rendah tetapi tetap terdeteksi . Perubahan kadar 2+ sedikit saja dapat menyebabkan perubahan sekresi HPT yang cukup
besar . Penelitian dengan kultur sel paratiroid membuktikan bahwa keadaan hipokalsemia dapat merangsang transpor asama mino , sintesis asam nukleat dan protein , pertumbuhan sitoplasma dan sekresi HPT , sebaliknya hiperkalsemia dapat menekan proses tersebut . Nampaknya 2+ dapat mengontrol pertumbuhan kelenjar paratiroid, sintesis dan sekresi
HPT .
EFEKNYA PADA KALSIUM
Keseimbangan 2+ dalam tubuh di pengaruhi oleh berbagai faktor seperti vitamin D
hormon pankreas , dan diet misal fosfat anorganik dan sitrat . Jumlah Ca pada orang dewasa normal berkisar antara 1000 sampai 2000 gram dan kira-kira 99% diantaranya terdapat dalam tulang sebagai hidroksiapatit. Ion 2+ bebas diperlukan dalam proses pembekuan darah ,
kontraksi otot rangka dan fungsi saraf . Penurunan kadar ion ini dalam cairan ekstrasel dapat menghambat fungsi otot saraf karena berkurangnya jumlah asetilkolin yang dilepaskan . Tetapi efek penghambatan ini dapat diimbangi oleh efek eksitasi terhadap saraf dan otot karena menurunnya kadar 2+.
Dalam tulang, Ca terdapat dalam dua bentuk ; sebagian dalam bentuk cadangan yang labil yang mudah di ganti , dan sebagian besar merupakan cadangan yang stabil . keseimbangan terjadi antara Ca darah dan kalsium tulang yang labil . Absorbsi Ca dari saluran cerna terjadi di bagian proksimal usus halus dan merupakan proses aktif , proses ini terhambat biala terdapat garam Ca fosfat atau Ca oksalat yang tidak larut atau oleh adanya alkali . Sebaliknya diet tinggi protein dapat menambah absorpsi tersebut . Bila diet mengandung Ca berlebihan maka Ca akan di ekskresikan melalui feses . Sebagian besar Ca yang di bebaskan dari resorpsi tulang akan di ekskresi melalui urin .
KALSIUM TULANG
HPT dapat menambah kecepatan resorpsi 2+ dan fosfat dari bagian tulang yang
stabil . Pengaruh HPT pada mobilisasi 2+ dari tulang ke plasma hanya terjadi bila kadar 2+ plasma lebih dari 7 mg % .Jika kurang dari 7 mg% maka pengaturan pertukaran ion 2+ plasma akan di pengaruhi oleh keseimbangan fisikokimia yang berada di antara cairan
ekstrasel dan bagian tulang yang labil . Jadi pada keadaan ini pertukaran 2+ berlangsung
dari plasma ke bagian tulang yang labil dan sebaliknya dari bagian ini ke plasma tanpa pengaruh HPT. HPT dapat mempercepat resorpsi tulang dengan menambah kecepatan
diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoklas , dan memperpanjang masa paruh sel-sel tersebut . Dengan bertambah lamanya kerja HPT ,jumlah osteoblas pembentuk tulang juga bertambah . Meskipun demikian , aktivitas setiap oesteoblas kurang normal dan HPT
EKSKRESI KALSIUM
HPT dapat menambah reabsorbsi 2+dan ekskresi fosfat di tubuli ginjal , hal ini
menyebbakan kadar 2+ di cairan ekstrasel bertambah . Paratiroidektomi , menurunkan
reabsorpsi ca di tubuli ginjal , sedangkan HPT meningkatkan . Bila kadar 2+ plasma
terdapat dalam batas normal , paratiroidektomi akan meningkatkan ekskresinya di urin . Bila kadar 2+ plasma menurun sampai di bawah 7 mg% , ekskresinya berkurang karena jumlah
yang di filtrasi glomerulus menurun dan hampir seluruh kation ini di reabsorbsi di tubuli meskipun kapasitas reabsorbsinya menurun .
HPT dapat menambah ekskresi fosfat anorganik dari ginjal karena reabsorbsi di tubuli proksimal dan di ansa henle dihambat.
EFEK LAIN
HPT dapat menurunkan kadar 2+ sedangkan paratiroidektomi menambah kadar 2+dalam air susu ibu dan saliva . Efek ini berlawanan dengan efek tersebut terhadap 2+ plasma .
Nampaknya karena efek inilah HPT dapat mengadakan konservasi 2+dalam cairan
ekstrasel yaitu dengan mengurangi kecepatan transport 2+dari cairan ekstrasel ke air susu
dan saliva . Selain itu HPT juga dapat menurunkan kadar 2+ dalam lensa mata , menambah
ekskresi fosfat anorganik dari ginjal , karena reabsorbsi di tubuli proksimal dan di ansa henle di hambat . Jadi bukan saja karena efeknya pada tulang, ginjal dan usus. HPT juga dpt menurunkan kadar ion Ca dlm lensa mata.
C. Gangguan Fungsi Paratiroid C.1 Hipoparatiroidisme
Pengangkatan atau hipofungsi kelenjar paratiroid dapat menyebabkan suatu sindroma yang merupakan akibat langsung hipokalsemia atau akibat penurunan ambang rangsang membran yang terpolarisasi . Gejala klinik hipoparatiroidisme akibat hipokalsemia seperti tetani , parestesia , spasme laring , spasme otot dan konvulsi . Keadaan ini disebabkan karena difesiensi Ca dan vitamin D misalnya akibat gangguan absorpsi atau jumlahnya yang tidak cukup . Keadaan ini jarang disebabkan oleh penyakit pada kelenjarnya sendiri (
hipoparatiroidisme idiopatik) atau karena kelainan genetik dimana target organnya tidak memberikan reaksi terhadap HPT (pseudohipoparatiroidisme).
Gejala paling dini hipokalsemia yaitu parastesia ekstremitas , pada pemeriksaan fisik terdapat peragsangan mekanik saraf perifer yang menyebabkan kontraksi otot rangka yang bersangkutan kemudian dapat di ikuti tetani dimana terjadi spasme otot terutama otot daerah
karpopedal dan laring , diikuti konvulsi umum serta gejala lain dari susunan saraf pusat . Pada hipoparatiroidisme kronik terjadi perubahan ektodermal yang mengakibatkan rontoknya rambut , pada kulit jari terlihat cekungan dan kuku mudah patah , kerusakan email gigi , dan katarak , mungkin terjadi gangguan psikis berupa labilitas emosi , kegelisahan , depresi , delusi ,dan abnormalitas EEG . Hipoparatiroidisme dapat diatasi dengan vitamin D bila perlu dapt juga di tambahakan Ca pada dietnya.
C.2 Hiperparatiroidisme
Hiperparatiroidisme pirmer dapat disebabkan hipersekresi kelenjar paratiroid (hiperplasia, adenoma atau karsinoma ) atau karena sekresi polipeptida yang menyerupai PTH yang berasal dari suatu tumor . Hiperparatiroidisme dapat pula bersifat sekunder terhadap suatu keadaan yang menyebabkan menurunnya ion Ca plasma,dan keadaan ini dapat merangsang sekresi PTH . Hipersekresi PTH apapun penyebabnya dapat menyebabkan gangguan tulang , seperti osteitis fibrosa generalisata atau penyakit von Reckling Hausen .
Pengobatan hiperparatiroidsme primer dapat dilakukan reseksi kelenjar yang hiperplastik atau adenoma. Pembedahan ini akan mengembalikan penderita ke keadaan euparatiroid dan mencegah kerusakan ginjal dan disolusi tulang lebih lanjut.
D. Farmakologi Hormon Paratiroid
HPT hanya dapat diberikan secara parenteral , pemberian oral akan di rusak enzim proteolitik saluran cerna . Masa paruhnya sekitar 20 menit, degradasinya terjadi di hepar dan ginjal . Dalam darah sebagian HPT terikat fraksi - globulin plasma , ekskresinya melalui
urin kurang dari 1%. Dahulu HPT digunakan untuk meningkatkan kadar 2+ plasma , akan
tetapi kini hipokalsemia diatasi dengan pemberian 2+ dan atau dengan pemberian vitamin
E. Obat - Obat Paratiroid
Regulator paling penting pada homeostatis kalsium adalah hormone paratiroid ( parathyroid hormone , PTH ) yang di ekresikan oleh kelenjar paratiroid .
Kalsium serum yang tinggi menekan eksresi PTH dan kalsium serum yang rendah merangsang pelepasan PTH.
PTH bekerja secara langsung pada ginjal untuk meningkatkan reabsorbsi kalsium dan pada tulang untuk meningkatkan massa tulang , pada saat yang sama . PTH bekerja secara tidak langsung pada GI untuk memperbaiki absorbsi kalsium .
Teriparatida adalah PTH rekombinan yang digunakan untuk pengobatan osteoporosis.
Selain efektif untuk pengobatan osteoporosis , teriparatida merupakan obat yang efektif untuk pasien hipoparatiroidisme
Hipoparatiroidisme sering diobati dengan analog vitamin D sintetik , seperti parikalsitol dan dokserkalsiferol
Sinakalset meningkatkan sensivitas reseptor penerimaan rangsang kalsium pada kelenjar paratiroid yang menyebabkan penurunan kadar PTH dan kalsium serum .
Sinakalset adalah salah satu golongan baru obat – obat yang disebut kalsimimetik. Obat ini dapat digunakan untuk menangani hiperparatiroidisme sekunder pada pasien gagal ginjal kronik yang mengalami dialysis dan pada pengobatan hiperkalemia akibat tumor paratiroid .
BAB IV
KESIMPULAN
1.
Hormon Paratiroid Merupakan hormon polipeptida rantai tunggal yang terdiri dari 84 asam amino. Dimana fungsi utamanya yaitu mempertahankan kadar Ca++ dlm cairan ekstrasel agar tetap stabil. Berbagai mekanisme yg dipengaruhi a.l: absorpsi Ca++ melalui saluran cerna, penyimpanan dalam tulang dan mobilisasinya, serta ekskresi Ca++ melalui urin, feses, keringat dan air susu.2
. Hormon Kalsitonin (CT) tergolong sebagai hormon polipeptida yg berefek hipokalsemik dan hipofosfatemik. Kalsium berperan penting didalam proses pertumbuhan tulang. Kekurangan kalsium akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan sedangkan kelebihan kalsium akan menyebabkan gangguan fisiologis tubuh . Kalsitonin bekerja berkebalikan dengan hormon paratiroid, kalsitonin bekerja menurunkan kadar kalsium sedangkan paratiroid bekerja menaikkan kadar kalsium. Kalsitonin tersusun atas 32 asam amino. Targetorgan dari hormon kalsitonin adalah usus dan tulang, di dalam usus bekerja menurunkan reabsorpsi Ca2+ dan pada tulang menurunkan resorpsi Ca2+.
DAFTAR PUSTAKA
- G. Katzung. Betram. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinis. Surabaya : Salemba Medika
- Janet.L.Stringer.2008. Konsep Dasar Farmakologi edisi 3. Jakarta : EGC - Dr.Amir syarif,dkk. 2009. Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta : FKUI - Muschler,Ernst. 1999. Dinamika Obat edisi 5. Bandung : ITB