BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
Setiap masyarakat selama hidupnya pasti mengalami perubahan. Dengan kondisi sosial yang semakin mendesak, mengaruskan terjadinya suatu perubahan sosial di Indonesia. Secara kultural dan sosial, Indonesia merupakan negara dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, baik Sumber Daya Alam hewani maupun hayati. Namun dengan basis kekayaann alam tersebut Indonesia belum mampu memaksimalkannya dengan baik. Padahal Indonesia –dalam hal ini pemerintah pusat-sudah memberikan kewenangan kepada setiap daerah untuk mengembangkan pembangunannya.
maupun ke tujuh, akan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
Dari segi hukum, Pemerintah RI mengeluarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, untuk memperkuat Undang-Undang tersebut MENDAGRI mengeluarkan juga Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 Tahun 2007 Tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan Berbasis Masyarakat sebagai payung hukum dalam melaksanakan perubahan di pedesaan. Dengan telah dikeluarkan peraturan tersebut, Pemerintah RI pun berani menyediakan dana desa yang bersumber dari APBN untuk digunakan pembangunan desa sebagai upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.
Dana desa ini dipergunakan untuk mendanai pelaksanaan kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa yang diatur dan diurus oleh Desa. Penetapan alokasi dana desa tahun anggaran 2015 yang disetujui secara nasional dalam APBN untuk seluruh Indonesia adalah sebesar 9 trilyun rupiah. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2015 tentang penetapan prioritas penggunaan Desa tahun 2015, Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai belanja pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa. Pasal 5. Prioritas penggunaan Dana Desa untuk pembangunan Desa dialokasikan untuk mencapai tujuan pembangunan Desa yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan, melalui: a. pemenuhan kebutuhan dasar; b. pembangunan sarana dan prasarana Desa; c. pengembangan potensi ekonomi lokal; dan d. pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.
proses perencanaan Desa; b. mendukung kegiatan ekonomi baik yang dikembangkan oleh BUM Desa maupun oleh kelompok usaha masyarakat Desa lainnya; c. pembentukan dan peningkatan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa; d. pengorganisasian melalui pembentukan dan fasilitasi paralegal untuk memberikan bantuan hukum kepada warga masyarakat Desa; e. penyelenggaraan promosi kesehatan dan gerakan hidup bersih dan sehat; f. dukungan terhadap kegiatan desa dan masyarakat pengelolaan Hutan Desa dan Hutan Kemasyarakatan; dan g. peningkatan kapasitas kelompok masyarakat melalui: 1) kelompok usaha ekonomi produktif; 2) kelompok perempuan; 3) kelompok tani; 4) kelompok masyarakat miskin; 5) kelompok nelayan; 6) kelompok pengrajin; 7) kelompok pemerhati dan perlindungan anak; 8) kelompok pemuda; dan 9) kelompok lain sesuai kondisi Desa.1
Hal ini cukup beralasan apabila pemerintah berniat melakukan pembangunan dimulai dari desa. Karena apabila dilihat dari jumlah penduduk miskin tahun 2014-2016 lebih banyak terdapat di desa. Berikut tampilan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional.2
Tahun Semester 1 (Maret) Semester II (September)
Perkotaan Pedesaan Jumlah Perkotaan Pedesaan Jumlah 2014 10 507.20 17.772,83 28 280.03 10 356.69 17.371,09 27 727.78 2015 10 652.64 17 940.15 28 592.79 10 619.86 17 893.71 28 513.57 2016 10 339.79 17 665.62 28 005.41 10 485.64 17 278.68 27 764.32
Untuk melaksanakan program yang dirumuskan dalam Nawa Cita, pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla menerbitkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa untuk memperkuat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 Tahun 2007 Tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan Berbasis 1 Cahyono Agus, Revolusi Pembangunan Desa (Lihat
Masyarakat –selain. Dalam konsiderannya, capaian yang diharapkan desa agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Maka perlu dilaksanakan perubahan sosial pedesaan yang berbasis masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, terdapat beberapa masalah yang dapat dirumuskan dan akan menjadi pembahasan dalam makalah ini. Uraian rumusan masalah tersebut, antara lain :
a. Apa dampak yang terjadi apabila perubahan sosial dibangun dari pedesaan pada pembangunan nasional ?
b. Bagaimana cara melakukan perubahan sosial pedesaan dengan berbasis masyarakat ?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan pemaparan pada latar belakang makalah ini, ada beberapa hal yang ingin dicapai oleh penulis. Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1. Menumbuhkan rasa perduli terhadap kemajuan dan kemunduran Negara dan mengetahui peran masing-masing elemen dalam perubahan sosial di masyarakat.
2. Menanamkan kepekaan terhadap perkembangan zaman dalam perubahan sosial.
3. Mengetahui peran mahasiswa dan kader HMI sebagai organisasi pemuda dan kemahasiswaan yang notabennya adalah harapan bangsa.
BAB II
Pembahasan
A. Perubahan Sosial 1. Definisi
merupakan kesatuan yang dalam bingkai struktur sosialnya. Dalam masyarakat sendiri, hiduplah manusia atau individu. Dalam masa saat ini maka individu dilihat sebagai suatu kesatuan sempurna, dimana masyarakat terdiri dari jumlah kesatuan. Dalam suatu masyarakat demokratis dianggap, bahwa masyarakat dan individu adalah suatu yang komplementer. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa :
a) Manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya;
b) Individu mempengerahi masyarakat dan bahkan bisa menyebabkan perubahan –baik besar maupun kecil- terhadap masyarakat.
Dari dua unsur tersebut, dapat disimpulkan bahwa bisa terjadi sebuah perubahan dalam masyarakat –baik perubahan yang bergerak maju ataupun yang bergerak mundur- atau dapat dikatakan bahwa masyarakat selalu dalam proses sosial, selalu dalam pembentukan.3
Perubahan di dalam masyarakat dapat mengenai nilai sosial, norma sosial, pola perilaku, organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan masyarakat, kekuasaan dan kewenangan, interaksi sosial dan hal lainnya yang berkaitan dengan masyarakat. Namun perlu rasanya dijelaskan definisi perubahan sosial menurut para sarjana sosiologi. Berikut penjelasan perubahan sosial menurut para sarjana sosial :4
a) Menurut William F. Ogburn walaupun tidak memberikan definisi mengenai perubahan sosial, namun dia menekankan ruang lingkup perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan, baik yang materiil maupun immateriil. b) Perubahan sosial menurut Kingsley Davis adalah perubahan-perubahan yang
terjadi pada struktur dan fungsi masyarakat.
c) Menurut Gillin dan Gillin bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan karena perubahan kondisi
3 Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosisal, (Jakarta; Rajawali Press, 1983) Cetakan Ke-III hlm
geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
d) Menurut Selo Soemardjo, perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga kemasyarakatan disuatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosial, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku diantara kelompok masyarakat.
Berdasarkan definisi para ahli tersebut, terdapat penekanan yang berbeda pada tiap ahli sosiolog, namun penekanannya yang berkaitan dengan masyarakat. Seperti kebudayaannya, struktur dan fungsi masyarakat, kondisi internalnya (geografis, komposisi penduduk, dan ideologi) dan internal (seperti penemuan baru pada masyarakat luar), atau lembaga kemasyarakatannya.
2. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial
Perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi di dalam masyarakat, dapat dibedakan ke dalam beberapa perspektif, misalnya :5
1. Berdasarkan waktu yang dibutuhkan, perubahan sosial terbagi menjadi dua, yaitu perubahan yang terjadi lambat dan perubahan yang terjadi cepat
2. Berdasarkan dampak yang terjadi, perubahan sosial terbagi menjadi dua, yaitu perubahan yang berpengaruh kecil dan perubahan yang berpengaruh besar 3. Berdasarkan kewujudannya, perubahan sosial terbagi menjadi dua, yaitu
perubahan yang dikehendaki atau direncanakan dan perubahan yang dikehendaki atau tidak direncanakan.
Perubahan sosial mempunyai arti yang sangat luas, dapat diartikan perubahan tersebut bergerak maju sebagai bentuk perubahan secara postif, maupun diartikan perubahan bergerak mundur sebagai bentuk sebaliknya. Pada umumnya perubahan sosial dalam suatu masyarakat oleh kemajuan teknik atau yang berkaitan dengan
teknologi. Namun ada juga faktor-faktor lain yang bisa menyebabkan suatu perubahan.
3. Faktor-Faktor Perubahan Sosial
Perubahan sosial secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut Astrid S. Susanto, yang dianggap menjadi sebab utama perubahan masyarakat :
a) Keadaan geografis
b) Keadaan biofisik kelompok c) Kebudayaan
d) Sifat anomie manusia
Keempat unsur ini saling mempengaruhi dan akhirnya mempengaruhi bidang lainnya, seperti teknologi, ilmu pengetahuan, organisasi, dan management di dalam masyarakat.6
Dalam faktor-faktor tersebut, bisa memberikan dampak perubahan yang bergerak maju atau mundur. Berikut ini akan dipaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi majunya perubahan sosial tersebut, antara lain :7
a) Kotak dengan budaya lain;
b) Sistem pendidikan formil yang maju;
c) Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju;
d) Toleransi terhadap perbuatan yang menyimpang, yang merupakan bukan delik;
e) Sistem terbuka dalam lapisan masyarakat f) Penduduk yang heterogen
g) Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu. h) Orientasi ke masa depan.
Selain faktor-faktor tersebut, ada pula faktor yang mempengaruhi terhambatnya perubahan sosial, antara lain :
6 Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar hlm. 188-189
a) Perkembangan ilmu pengetahuan yang terhambat. b) Sikap masyarakat yang tradisional.
c) Adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuatnya. d) Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.
e) Adanya prasangka buruk terhadap hal-hal baru f) Adanya hambatan yang bersifat ideologis. g) Adat atau kebiasaan
h) Kurangnya hubungan masyarakat antara masyarakat di dalam suatu wilayah, dengan wilayah lainnya.8
Apabila dalam suatu masyarakat terdapat faktor-faktor yang sudah dipaparkan, maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama perubahan sosial yang bergerak maju, atau dalam arti positif. Atau mungkin yang kedua, perubahan sosial yang bergerak mundur, atau dalam arti negatif
B. Definisi Desa dan Pedesaan
Desa merupakan tingkatan pemerintahan yang paling terkecil, hal ini termuat dalam merupakan unit pemerintahan terkecil dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Desa selama ini identik dengan pemerintahan (sederhana) yang dipenuhi nuansa tradisionalitas, dengan lingkungan yang masih alami dan budaya lokal yang bersifat khas kedaerahan. Tafsir makna tentang “desa” bisa beragam. Dalam pemaknaan sosiologis, “desa” bisa bermakna komunitas masyarakat “gemeinschaaft”, hidup dalam pranata sosial dan iklim kekerabatan, sederhana, solidaritas mekanik. Secara politik, “desa” adalah “unit pemerintahan terkecil” yang “memiliki kewenangan tertentu”. Desa sering dirumuskan sebagai “suatu kesatuan masyarakat hukum yang berkuasa menyelenggarakan pemerintahan sendiri”.
setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.9 Dengan penjabaran definisi tersebut, artinya Undang-Undang tersebut menjelaskan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (7), pasal 18A ayat (1), dan pasal 18B ayat (2) UUD 1945.10 Desa diberikan hak asal usul yang dimaknai sebagai hak bawaan yang telah ada sebelum lahirnya NKRI yang mengatur struktur, wilayah, sosial, dan adat masyarakat setempat.
Dengan uraian yang ada, desa tidak akan pernah ada apabila tidak adanya suatu masyarakat yang tinggal atau menetap di daerah tersebut. Maka perlu ada peran serta pemerintah dan masyarakat apabila ingin terjadi suatu perubahan di wilayah tersebut.
C. Peran Pemerintah dalam Perubahan Sosial Pedesaan
Menurut Mac Iver negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah denan berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang bersifat memakasa.11 Selain sifatnya yang memaksa, negara juga memiliki sifat monopoli.12 Dengan diterbitkannya UU Nomor 6 Tahun 2014 merupakan wujud monopoli negara dalam perubahan sosial di masyarakatnya. Hal ini termaktub dalam konsideran Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, undang-undang menjelaskan bahwa dalam perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia, desa telah berkembang dalam berbagai bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
9 Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
10 UUD 1945 Hasil Amandemen & Proses Amandemen UUD 1945 Secara Lengkap
( Jakarta ; Sinar Grafika, 2014) Cetakan ke-10 hlm. 11-12
11 Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta; PT Gramedia, 1998) Cetakan ke-IX hlm 39
Selain itu, dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 Tahun 2007 Tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan Berbasis Masyarakat sendiri pun sama. Dalam konsiderannya berbunyi “Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan pelestarian lingkungan hidup dan konservasi sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum dalam kawasan perdesaan, dan kepentingan umum dalam kawasan perdesaan secara partisipatif, produktif dan berkelanjutan dengan berbasis pemberdayaan masyarakat.”
Perubahan sosial atau -yang lebih akrab dengan kita adalah- pembangunan yang dilakukan harus memuat proses pemberdayaan masyarakat yang mengandung makna dinamis untuk mengembangkan guna tercapainya tujuan yang sudah dicita-citakan. Konsep yang sering dimunculkan dalam proses pemberdayaan adalah konsep kemandirian dimana program-program pembangunan dirancang secara sistematis agar individu maupun masyarakat menjadi subjek dari pembangunan. Kegagalan berbagai program pembangunan pedesaan di masa lalu adalah disebabkan antara lain karena penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi program-program pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat. Proses pembangunan lebih mengedepankan paradigma politik sentralistis dan dominannya peranan negara pada arus utama kehidupan bermasyarakat.
D. Definisi dan Pembedayaan Masyarakat dalam Perubahan Sosial Pedesaan 1. Definisi Masyarakat
Masyarakat menurut Murthadha Muthahari adalah sekelompok manusia yang terjalin erat karena sistem tertentu.13 Hidup bersama tidak berarti sekelompok orang mesti hidup berdampingan di satu daerah tertentu, memanfaatkan iklim yang sama. Definisi lain mengenai masyarakat diungkapkan oleh MacIver, masyarakat adalah suatu sistem hubungan yang ditertibkan. Sedangkan menurut Harold J. Laski
masyarakat adalah kelompok manusia yang hidup bersama dan bekerjasama untuk terwujudnya keinginan-keinginan bersama.14
Dari definisi yang sudah dipaparkan, masyarakat itu merupakan kumpulan agen (individu), dimana terdapat sebuah sistem hubungan antar mereka yang kemudian bekerja sama untuk mewujudkan keinginan dari individu yang sudah berkumpul. Menurut Anderson dan Parker dalam bukunya yang berjudul Society yang dikutip oleh Astrid Susanto, masyarakat juga memiliki ciri-ciri. Beliau menjelaskan bahwa ciri-ciri dari masyarakat antara lain :15
1. Adanya sejumlah orang;
2. Bertempat tinggal dalam suatu daerah tertentu 3. Mempunyai hubungan satu sama lain;
4. Memiliki sebuah sistem hubungan antar-manusia 5. Memiliki kepentingan bersama
6. Mempunyai tujuan bersama dan bekerja sama 7. Memiliki perasaan solidaritas
8. Memiliki norma-norma sosial 9. Memiliki kebudayaan bersama.
Artinya baik secara definisi maupun ciri, masyarakat akan terbentuk apabila terjadi interaksi antar individu yang kemudian memiliki kesepakatan bersama dalam mewujudkan kepentingannya yang kemudian terbentuklah sebuah norma dan kebudayaan yang dimiliki oleh kelompok tersebut.
Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, dengan persyaratan yang diamanatkan yakni diselenggarakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, keadilan, serta memperhatikan potensi dan keaneka-ragaman daerah. Masyarakat 14 Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta; Gramedia, 1998) Cetakan ke-IX hlm. 33-34
memiliki peran cukup sentral untuk menentukan pilihan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasinya. Masyarakat memiliki kedaulatan yang cukup luas untuk menentukan orientasi dan arah kebijakan pembangunan yang dikehendaki. Nilai-nilai kedaulatan selayaknya dibangun sebagai kebutuhan kolektif masyarakat dan bebas dari kepentingan individu dan atau golongan.
2. Pemberdayaan Masyarakat
Menurut Ketaren (2008: 178-183) pemberdayaan adalah sebuah ”proses menjadi”, bukan sebuah ”proses instan”. Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu: Tahap pertama Penyadaran, pada tahap penyadaran ini, target yang hendak diberdayakan diberi pencerahan dalam bentuk pemberian penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai ”sesuatu’, prinsip dasarnya adalah membuat target mengerti bahwa mereka perlu (membangun ”demand”) diberdayakan, dan proses pemberdayaan itu dimulai dari dalam diri mereka (bukan dari orang luar). Setelah menyadari, tahap kedua adalah Pengkapasitasan, atau memampukan (enabling) untuk diberi daya atau kuasa, artinya memberikan kapasitas kepada individu atau kelompok manusia supaya mereka nantinya mampu menerima daya atau kekuasaan yang akan diberikan. Tahap ketiga adalah Pemberian Daya itu sendiri, pada tahap ini, kepada target diberikan daya, kekuasaan, otoritas, atau peluang, namun pemberian ini harus sesuai dengan kualitas kecakapan yang telah dimiliki mereka.
ini selaras dengan asas yang sudah termaktub dalam UU Desa sebelum maupun yang saat ini digunakan, antara lain :16
a. Rekognisi;
Rekognisi, yaitu pengakuan terhadap hak asal usul; b. Subsidiaritas;
Subsidiaritas, yaitu penetapan kewenangan berskala lokal dan pengambilan keputusan secara lokal untuk kepentingan masyarakat desa;
c. Keberagaman;
Keberagaman, yaitu pengakuan dan penghormatan terhadap sistem nilai yang berlaku di masyarakat desa, tetapi dengan tetap mengindahkan sistem nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
d. Kebersamaan;
Kebersamaan, yaitu semangat untuk berperan aktif dan bekerja sama dengan prinsip saling menghargai antara kelembagaan di tingkat Desa dan unsur masyarakat Desa dalam membangun Desa;
e. Kegotongroyongan;
Kegotongroyongan, yaitu kebiasaan saling tolong-menolong untuk membangun Desa
f. Kekeluargaan;
Kekeluargaan, yaitu kebiasaan warga masyarakat Desa sebagai bagian dari satu kesatuan keluarga besar masyarakat Desa;
g. Musyawarah;
Musyawarah, yaitu proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat Desa melalui diskusi dengan berbagai pihak yang berkepentingan
h. Demokrasi;
Demokrasi, yaitu sistem pengorganisasian masyarakat Desa dalam suatu system pemerintahan yang dilakukan oleh masyarakat Desa atau dengan persetujuan masyarakat Desa serta keluhuran harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa diakui, ditata, dan dijamin;
i. Kemandirian;
Kemandirian, yaitu suatu proses yang dilakukan oleh Pemerintah Desa dan masyarakat Desa untuk melakukan suatu kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhannya dengan kemampuan sendiri
j. Partisipasi;
Partisipasi, yaitu turut berperan aktif dalam suatu kegiatan k. Kesetaraan;
Partisipasi, yaitu turut berperan aktif dalam suatu kegiatan l. Pemberdayaan;
Pemberdayaan, yaitu upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Desa melalui penetapan kebijakan, program, dan kegiatan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa;dan m. Keberlanjutan.
Keberlanjutan, yaitu suatu proses yang dilakukan secara terkoordinasi, terintegrasi, dan berkesinambungan dalam merencanakan dan melaksanakan program pembangunan Desa.
Maka pemberdayaan masyarakat harus dilakukan oleh pihak pemerintah, apabila tidak dilaksanakan maka hal tersebut sudah mencoreng asas yang sudah tercantum dalam UU Nomor 6 Tahun 2014.
E. Urgensi Modal Sosial dalam Perubahan Sosial
dapat diartikan sebagai seperangkat nilai atau norma informal yang dimiliki bersama oleh anggota suatu kelompok yang memungkinkan kerja sama diantara mereka.18
Modal sosial penting sekali untuk mewujudkan masyarakat sipil yang sehat, dalam arti, kelompok dan himpunan yang terwujud diantara keluarga dan negara. Dengan modal sosial, memungkinkan berbagai kelompok di dalam masyarakat yang kompleks untuk bergabung bersama-sama untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing.19
Modal sosial menunjuk pada segi-segi organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma-norma, dan jaringan-jaringan sosial yang dapat memfasilitasi tindakan kolektif. Modal sosial ditekankan pada kebersamaan masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidup bersama dan melakukan perubahan yang lebih baik serta penyesuaian secara terus menerus. Dalam hal itu, Burt (1992) mendefinsikan modal sosial sebagai kemampuan masyarakat untuk melakukan asosiasi (berhubungan) satu sama lain sehingga menjadi kekuatan yang sangat penting, bukan hanya terhadap aspek ekonomi, tetapi juga terhadap setiap aspek eksistensi sosial yang lain.20
Dimensi lain terkait modal sosial adalah tipologi modal sosial. Modal sosial dapat berbentuk bonding ataupun bridging. Modal sosial yang berbentuk bonding yaitu modal sosial dalam konteks ide, relasi, dan perhatian yang berorientasi ke dalam (inward looking). Bentuk modal sosial semacam ini umumnya muncul dan berada dalam masyarakat yang cenderung homogen. Putnam (1993) mengistilahkan masyarakat dengan bonding social capital sebagai ciri sacred society, yakni masyarakat yang terdominasi dan bertahan dengan struktur masyarakat yang totalitarian, hierarchical, dan tertutup oleh dogma tertentu. Pola interaksi sosial
18 Ibid, hlm. 19
19 Francis Fukuyama, Guncangan Besar; Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru (Jakarta; Gramedia, 2005) hlm. 22
sehari-hari masyarakat semacam itu selalu dituntun oleh nilai-nilai dan norma-norma yang hanya menguntungkan level hierarki tertentu. 21
Menurut Ayu Kusumastuti,22 berbeda dengan bonding, modal sosial yang berbentuk bridging bersifat inklusif dan berorientasi ke luar (outward looking). Bridging social capital ini mengarah kepada pencarian jawaban bersama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki individu dalam kelompok. Bridging social capital diasumsikan dapat menambah kontribusi bagi perkembangan pembangunan dengan melakukan kontak dan interaksi dengan kelompok di luarnya. Coleman (1999) menganggap bahwa tipologi masyarakat yang cenderung menciptakan jaringan ke luar dalam gerakannya lebih mampu memberikan tekanan untuk melakukan upaya bersama dengan kelompok di luar mereka.
Upaya penyesuaian masyarakat memiliki daya/kapasitas adaptasi yang berbeda-beda sesuai dengan modal sosial yang dimilikinya. Kapasitas adaptif adalah kemampuan sistem sosial secara sosial-ekologi untuk tetap siap dan tegap dalam menghadapi goncangan dan merespon perubahan dari faktor internal dan eksternal (Armitage dan Plummer 2010:1). Kemampuan adaptif juga dilihat sebagai daya lenting, stabilitas, dan fleksibilitas ketahanan sistem sosial dari ancaman atau bahaya yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan (Smit dan Wandel 2006). Proses pengembangkan kapasitas adaptif tersebut juga ditentukan melalui penggunaan sumber daya/potensi serta modifikasi sistem kelembagaan/aturan atau norma (Pelling dan High 2005).
Modal sosial menjadi kekuatan untuk dapat merespon situasi di luar masyarakat, termasuk di dalamnya merespon situasi pembangunan infrastruktur di pedesaan. Upaya merespon berupa kerja sama dan partisipasi adalah bentuk kemampuan adaptasi mereka. Kemampuan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut 21 Ibid, 85
dengan upaya memobilisasi sumber daya dan memodifikasi sistem kelembagaan yang ada. Kemampuan tersebut menjadi dasar kuat lemahnya daya lenting, fleksibilitas, dan stabilitas masyarakat pedesaan dalam merespon pembangunan.
Apabila modal sosial sudah kuat, maka diperlukan kaum intelektual untuk membantu peran negara atau pemerintah untuk ikut mensukseskan perubahan sosial yang sudah direncanakan.
F. Peran Kader HMI dalam Perubahan Sosial Pedesaan
HMI merupakan organisasi yang berbasiskan pemuda. Secara definisi pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mngalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa yang akan datang.23 Sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan penerus sebelumnya. Secara international WHO menyebit sebagai “young people” dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut “adolescenea” atau remaja. International youth year yang di selenggarakan tahun 1985, mendefiniskan penduduk berusia 15-24 tahun sebagai kelompok pemuda. Definisi yang ke dua adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis, namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Pemuda menghadapi masa perubahan social maupun cultural. Sedangkan menurut draft RUU kepemudaan, pemuda adalah mereka yang berusia antara 18-35 tahun.menilik dari sisi usia, maka pemuda merupakan masa perkembangan secara biologis dan psikologis.
Dari penjabaran tersebut, maka secara segmentasi anggota merupakan pemuda. Dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) pasal 10 ayat 1 HMI, yang menjadi anggota HMI adalah Mahasiswa Islam yang terdaftar pada perguruan tinggi dan/atau yang sederajat yang ditetapkan oleh Pengurus HMI Cabang/Pengurus
Besar HMI.24 Maka para kader HMI yang merupakan para pemuda memiliki peran, pertama menentukan haluan kebijakan negara. Kedua menentukan bagaimana caranya negara melaksanakan kebijakan tersebut.25
Di Indonesia sendiri, Fachry Ali dan Bahtiar Effendy menyatakan tentang tipologi gerakan intelektualisme Islam modernisme. Gerakan pemikiran neo-modernisme merupakan gerakan pemikiran Islam yang muncul di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Gerakan ini lahir dari tradisi modernisme Islam yang terdahulu dan telah cukup mapan di Indonesia. Akan tetapi ia memakai pendekatan yang lebih khas dari sisi konsepsi maupun aplikasi ide-ide.
Solusi dan formula yang harus di persiapkan HMI harus mampu menjawab tantangan zaman, menjadi organisasi modern, mercusuar bagi penyedia SDM unggul dan bermutu, lahan persemaian kultur intelektualisme. Seirama dengan tujuan HMI, kongres harusnya menjadi sentral area untuk menjabarkan secara operasional langkah HMI.
Terlepas dari suksesi pergantian pengurus yang menjadi mekanisme organisasi. Ditengah problematika bangsa terkait dengan kemiskinan, pengangguran, kenaikan harga maupun permasalahan perpecahan umat yang sempat terjadi karena munculnya kasus Ahmadiyah sampai konflik antarlembaga Negara diantaranya KPK dengan Polri. HMI mempunyai tanggung jawab untuk mencarikan solusi. Menilik proses kelahiran HMI 5 Februari 1947 yang beriringan dengan proklamasi kemerdekaan, sudah semestinya jika HMI berperan aktif sebagai dokter bangsa untuk menyembuhkan permasalahan bangsa dan umat masa depan.
Disisi lain, dikarenakan HMI merupakan organisasi dengan basisi mahasiswa, dan mahasiswa yang notebane nya adalah agent of change. Maka 24 Modul HMI Cabang Ciputat
social change merupakan human change, dimana pengetahuan yang diterima pada masa pendidikan dapat dipakai di masyarakat sehingga dapat hidup bermartabat di masa perubahan ini.26
Pada waktu yang lain, Ginandjar Kartasasmita sendiri dalam satu kesempatan Seminar Nasional Dies Natalis HMI ke-50 menyampaikan harapannya besar agar dapat turut memainkan peran dalam membangun masyarakat baru yang modern di masa depan, antara lain :27
Pertama, HMI merupakan organisasi yang menghimpun lapisan elite masyarakat, yakni kelompok mahasiswa, yang cikal bakal kaum intelektual. Secara sosiologis, kaum intelektual adalah lapisan elite sosial yang memiliki kekuatan pengaruh dalm mendorong perubahan dalam masyarakat. Kita tahu keunggulan kaum intelektual itu pada ide-idenya, dan ide adalah kekuatan pengubah sejarah masyarakat.
Sebagai komunitas intelektual, HMI dituntut untuk mengapresiasi secara kreatif dan inovatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. HMI diharapkan dapat membudayakan sikap masyarakat untuk menguasai dan mengembangkan iptek sebagai tuntutan yang bersifat imperatif, dan kesadaran bahwa iptek adalah kebutuhan dasar di masa depan.
Kedua, sebagai organisasi yang berbasis agama, HMI diharapkan tetap mempertahankan identitasnya dalam memasuki kehidupan modern di masa depan. Sebab, masyarakat modern cenderung menafikan faktor agama dalam kehidupannya. Masyarakat dan peradaban modern cenderung berwatak sekular, materialistik dan hedonistik. HMI diharapkan memberikan sumbangan dalam memperkuat wawasan spiritual masyarakat, untuk mampu hidup modern dengan tetap setia kepada keimanan dan amalan Islam.
Ketiga, dalam kaitan dengan usaha memelihara dan mempertahankan integrasi bangsa, HMI juga mempunyai peran besar sebagaimana telah ditunjukkannya selama ini. HMI diharapkan tetap menjaga komitmennya terhadap keutuhan negara-bangsa, serta senantiasa meneguhkan dan memantapkan wawasan kebangsaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Bab III Penutup
A. Kesimpulan
Dalam pembangunan nasional, desa memegang peranan yang sangat penting, sebab desa merupakan struktur pemerintahan terendah dari sistem pemerintahan Indonesia. Setiap jenis kebijakan pembangunan nasional pasti bermuara pada pembangunan desa sebab pembangunan Indonesia tidak akan ada artinya tanpa membangun desa, dan bisa dikatakan bahwa hari depan Indosesia terletak dan tergantung dari berhasilnya kita membangun desa. Sehingga dengan semangat desentralisasi dalam otonomi daerah ini masyarakat haruslah dilibatkan atau diberdayakan dalam pembangunan desanya. Sebab disadari atau tidak bahwa pembangunan desa telah banyak dilakukan sejak dari dahulu hingga sekarang, tetapi secara umum hasilnya belum memuaskan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Apabila menggunakan teori Anthony Giddens untuk perubahan sosial, maka perlu adanya sinergisitas antara agent (individu) dan struktural. Sinergisitas ini belum terjalin dengan erat. Maka disitu diperlukan modal sosial sebagai “pelumas”nya. Dengan kehadiran negara sebagai struktural tertinggi secara politik yang memiliki sifat untuk memonopoli jalannya perubahan masyarakat, kemudian peran mahasiswa sebagai agent of change dan kaum intelektual untuk membantu jalannya road map pembangunan yang sudah dimonopoli akan memberikan dampak yang signifikan pada perubahan.
tersebut, mulai dari penyusunan rencana sampai pada proyek pembangunan tersebut selesai. Jadi pembangunan perlu menjadikan pemberdayaan menjadi nilai dan pilihan kebijakan, sekaligus sebagai pembelajaran sosial, dalam arti kita selalu belajar bagaimana melakukan pemberdayaan yang semakin hari semakin baik. Karena seperti kata cendekiawan Soedjatmoko dalam (Ketaren, 2008: 187), bahwa pembangunan tidak lain adalah belajar untuk hidup lebih baik daripada kemarin. Dan, pembelajaran adalah bagian inti dari pembangunan pada zaman kini, dan mungkin sampai pada kurun waktu yang panjang di masa depan.
Sejarah membuktikan bahwa kemajuan pembangunan suatu bangsa tidak ditentukan oleh tersedianya kekayaan alam yang melimpah, akan tetapi justru oleh SDM yang berkualitas tinggi. Untuk itu, maka tiada pilihan lain bagi bangsa Indonesia. Jika ingin meraih sukses menjadi negara maju, maka harus mempersiapkan tenaga-tenaga yang berkualitas dan siap bersaing.28 Untuk mewujudkan tenaga yang berkualitas dan siap bersaing, perlu ada sinergisitas antara komponen masyarakat, pemerintah, maupun organisasi kemasyarakatan dalam menyiapkannya.
B. Saran
Saran saya, sebagai mana dengan apa yang telah saya paparkan dalam makalah ini, peran HMI juga harus kita junjung tinggi, sebagai mana tujuan dari berdirinya organisasi HMI ini, yaitu Terbinanya Insan Akademis Pencipta Pengabdi Yang Bernafaskan Islam Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur Yang Di Ridhoi Allah Swt. Mengabdi kepada masyarakat, membela yang lemah serta mempertahan kan hak hak kita sebagai warga Negara Indonesia. Yang paling terpenting adalah, menanamkan rasa kepercayaan masyarakat kepada HMI, karena kepercayaan masyarakat terhadap HMI, atau ORGANISASI MAHASISWA, pada
Daftar Referensi
Anzar, Dahnil. AkrobatPembangunan; Telaah Kritis Kebijakan Publik, Ekonomi Banten dan Nasional dalam Bingkai Konektivitas, Serang: Paradigma Semesta, 2011
Budiarjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta; Gramedia, 1998 Cetakan ke-IX Fukuyama, Francis. Guncangan Besar; Kodrat Manusia dan Perubahan Tata Sosial
Baru, Jakarta; Gramedia, 2005 Penerj. Masri Maris
Hafidz, Abdullah, Annas Urbaningrum, dkk Tim LSPEU Indonesia. HMI dan KAHMI Menyongsong Perubahan, Menghadapi Pergantian Zaman, Jakarta, 1997
---MODUL LK1 HMI CABANG CIPUTAT Tahun 2016-2017
Muthahari, Murtadha Manusia dan Alam Semesta; Konsepsi Islam Tentang Jagat Raya, Jakarta; Lentera, 2002
Nurdin, M. Amin dan Ahmad Abrori. Mengerti Sosiologi; Pengantar Memahami Konsep-Konsep Sosiologi, Jakarta; UIN Jakarta Press, 2006
---Pemuda dan Kekuatan Sosial, Jakarta; Kementrian Pemuda dan Olahraga RI 2010
Soekanto, Soejono. Sosiologi; Sebuah Pengantar, Jakarta: Rajawali Press, 1983 Cetakan Ke-III
Suabdri, H. Ahmad, Pembangunan Kabupaten Tangerang Berbasis Otonomi Desa, Tangerang, 2011
Susanto, Astrid S. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bandung; Binacipta, 1979 Jurnal
Website
http://acahyono.staff.ugm.ac.id/2015/11/paper-revolusi-pembangunan-kawasan-desa-prof-dr-cahyono-agus.html