PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DALAM BIDANG LALULINTAS DAN ANGKUTAN JALAN KEPADA DAERAH TINGKAT I DAN DAERAH TINGKAT II

Teks penuh

(1)

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ot onomi yang nyat a, dinamis dan bert anggung j awab perlu dilakukan penat aan kembali penyerahan sebagian urusan lalu lint as dan angkut an j alan kepada Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II;

b. bahwa penyerahan urusan lalu lint as dan angkut an j alan yang diserahkan kepada Daerah Tingkat I menurut Perat uran Pemerint ah Nomor 16 Tahun 1958 yang didasarkan kepada Wegverkeersordonnant ie sebagaimana t elah diubah dan dit ambah t erakhir dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1951 t idak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan di bidang lalu lint as dan angkut an j alan;

c. bahwa sesuai dengan ket ent uan Pasal 8 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, pelaksanaan penyerahan urusan-urusan t ersebut di at as harus diat ur dengan Perat uran Pemerint ah;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;

2. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1965 t ent ang Lalu Lint as dan Angkut an Jalan Raya (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2742);

3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 t ent ang Pokok-pokok Pemerint ahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);

(2)

5. Perat uran Pemerint ah Nomor 26 Tahun 1985 t ent ang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 37, Tambahan lembaran Negara Nomor 3293 );

6. Perat uran Pemerint ah Nomor 6 Tahun 1988 t ent ang Koordinasi Kegiat an Inst ansi Vert ikal di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3373);

MEMUTUSKAN :

Menet apkan : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DALAM BIDANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN KEPADA DAERAH TINGKAT I DAN DAERAH TINGKAT II.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Perat uran Pemerint ah ini yang dimaksud dengan:

1. Ment eri adalah Ment eri yang bert anggung j awab dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan;

2. Angkut an adalah pemindahan orang dan at au barang dari sat u t empat ke t empat lain dengan menggunakan sarana t ert ent u;

3. Lalu lint as adalah pergerakan kendaraan, orang dan hewan di j alan ;

4. Jalan adalah suat u prasarana perhubungan darat dalam bent uk apapun, meliput i segala bagian j alan t ermasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperunt ukkan bagi lalu lint as;

(3)

t erhadap j alan;

6. Kendaraan bermot or adalah set iap kendaraan yang digerakkan oleh peralat an t eknik yang ada pada kendaraan it u dan biasanya dipergunakan unt uk pengangkut an or ang dan at au barang di j alan selain dari pada kendaraan yang berj alan di at as rel;

7. Kendaraan t idak bermot or adalah set iap kendaraan yang digerakkan bukan oleh peralat an t eknik yang ada pada kendaraan it u t ermasuk kendaraan yang digerakkan t enaga penghela hewan dan dipergunakan unt uk perlengkapan pengangkut an orang dan at au barang;

8. Mobil bis adalah set iap kendaraan bermot or yang diperlengkapi dengan lebih dari 8 t empat duduk t idak t ermasuk t empat duduk pengemudinya, baik dengan maupun t anpa perlengkapan pengangkut an barang;

9. Mobil penumpang adalah set iap kendaraan bermot or yang semat a-mat a diperlengkapi dengan sebanyak-banyaknya 8 t empat duduk t idak t ermasuk t empat duduk pengemudinya baik dengan maupun t anpa perlengkapan bagasinya;

10. Mobil barang adalah kendaraan bermot or selain mobil bis, mobil penumpang dan kendaraan bermot or beroda dua;

11. Kendaraan umum adalah set iap kendaraan yang biasanya disediakan unt uk dipergunakan oleh umum dengan pembayaran;

12. Terminal adalah prasarana unt uk kepent ingan angkut an j alan guna mengat ur kedat angan, pemberangkat an dan t empat berpangkal kendaraan umum sert a t empat memuat dan menurunkan orang dan at au barang;

13. Parkir adalah t empat pemberhent ian kendaraan bermot or dan kendaraan t idak bermot or dan t empat unt uk menurunkan sert a menaikkan orang dan at au barang yang bersif at t idak segera;

(4)

t empat pemberhent ian kendaraan umum unt uk menurunkan dan menaikkan orang dan at au barang yang bersif at segera;

15. Perusahaan bengkel umum unt uk kendaraan bermot or adalah suat u perusahaan yang menyelenggarakan pekerj aan pembet ulan, perbaikan, perawat an kendaraan bermot or unt uk umum dengan pembayaran;

16. Daerah adalah Daerah Ot onom Tingkat I dan Daerah Ot onom Tingkat II.

Pasal 2

Dengan t idak mengurangi t ugas dan t anggung j awab Ment eri dalam pembinaan t eknis dan pengawasan t eknis, kepada Daerah diserahkan sebagian urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan, sesuai dengan ket ent uan yang dit et apkan dalam Perat uran Pemerint ah ini.

BAB II

JENIS URUSAN YANG DISERAHKAN

Pasal 3

Sebagian urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang diserahkan kepada Daerah Tingkat I meliput i:

a. Penet apan kecepat an maksimum bagi j enis kendaraan t ert ent u pada j alan Propinsi t ert ent u, kecuali Jalan Propinsi yang berada dalam Kot amadya Daerah Tingkat II dan yang berada dalam Ibukot a Kabupat en Daerah Tingkat II;

(5)

pada :

1) Pembangunan dan peningkat an j alan;

2) Jalan Propinsi yang berada dalam Ibukot a Kabupat en Daerah Tingkat II;

3) Jalan Propinsi yang berada dalam Kot amadya Daerah Tingkat II;

c. Penet apan perat uran-perat uran umum mengenai kendaraan t idak bermot or;

d. Penet apan t arip pengangkut an or ang dan barang dengan kendaraan umum sepanj ang t idak dit et apkan t arip berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku;

e. Pemberian izin menj alankan kendaraan bermot or dengan pemasangan keret a gandengan lebih dari sat u t ermasuk keret a t empelan di j alan, sepanj ang meliput i beberapa Daerah Tingkat II dalam sat u Daerah Tingkat I;

f . Penet apan larangan menggunakan j alan Propinsi :

1) Bagi macam-macam kendaraan t idak bermot or berhubungan dengan muat an sumbunya;

2) Bagi kendaraan bermot or yang muat an sumbunya melebihi bat as maksimum yang dit ent ukan unt uk j alan it u;

g. Penet apan muat an sumbu kurang dari yang t elah dit et apkan unt uk Jalan Propinsi oleh karena pemeliharaan at au keadaan bagian j alan Propinsi yang rusak unt uk wakt u paling lama 6 (enam) bulan;

h. Pemberian izin operasi angkut an j alan unt uk j aringan t rayek at au lint as ant ar Daerah Tingkat II yang seluruhnya berada di dalam Daerah Tingkat I;

(6)

j . Penunj ukan lokasi, pengelolaan, pelaksanaan, dan penguj ian kendaraan bermot or, kecuali kendaraan bermot or khusus Angkat an Bersenj at a.

Pasal 4

(1) Urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang t elah diserahkan kepada Daerah Tingkat I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dapat diserahkan lebih lanj ut kepada Daerah Tingkat II dal am wil ayahnya.

(2) Penyerahan urusan lebih lanj ut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 5

(1) Sebagian urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang diserahkan kepada Daerah Tingkat II meliput i :

a. Penunj ukan lokasi dan pengelolaan parkir kendaraan bermot or dan t idak bermot or;

b. Penunj ukan lokasi t erminal kecuali penunj ukan lokasi t erminal yang f ungsinya melayani angkut an ant ar kot a, ant ar propinsi, pengelolaan, pemeliharaan f isik dan ket ert iban t erminal;

c. Penunj ukan lokasi dan pengelolaan t empat -t empat penyeberangan orang;

d. Pengat uran t ent ang pembat asan mengangkut orang dengan kendaraan t idak bermot or;

(7)

f . Pengat uran t ent ang kewaj iban memberi bant uan kepada perkumpulan dan at au badan hukum yang dit ugaskan unt uk menyelenggarakan penempat an dan pemeliharaan rambu-rambu dan t anda-t anda lalu lint as;

g. Pemberian izin pendirian perusahaan angkut an kendaraan bermot or;

h. Pemberian izin pendirian perusahaan bengkel umum unt uk kendaraan bermot or;

i. Penet apan ket ent uan-ket ent uan t ambahan mengenai susunan alat -alat t ambahan pada mobil bis dan mobil penumpang yang digunakan sebagai kendaraan umum j ika dipandang perlu unt uk kelancaran pengangkut an orang secara t ert ib dan t erat ur;

j . Pemberian izin operasi angkut an j alan unt uk j aringan t rayek at au lint as yang seluruhnya berada dalam Daerah Tingkat II;

k. Penet apan larangan penggunaan j alan-j alan t ert ent u di Daerah Tingkat II demi kelancaran angkut an dan arus lalu lint as, dengan perset uj uan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I unt uk Jalan Propinsi dan dengan perset uj uan Ment eri unt uk Jalan Nasional;

l. Penet apan j alan t ert ent u di Daerah Tingkat II yang melarang pengemudi-pengemudi kendaraan memberikan t anda-t anda suara di t empat -t empat dan wakt u t ert ent u;

m. Pengat uran sirkul asi l al u l int as di Daerah Tingkat II, dengan perset uj uan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I unt uk Jalan Propinsi dan dengan perset uj uan Ment eri unt uk Jalan Nasional.

(2) Khusus kepada Kabupat en Daerah Tingkat II diserahkan j uga urusan-urusan sebagai berikut :

(8)

dalam Ibukot a Kabupat en Daerah Tingkat II dengan Perset uj uan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, sert a Jalan Nasional dengan perset uj uan Ment eri;

b. Pengadaan, penet apan penempat an, pemasangan dan pemeliharaan rambu-rambu lalu lint as sert a t anda-t anda j alan di :

1) Jalan Kabupat en Daerah Tingkat II;

2) Jalan Propinsi yang berada dalam Ibukot a Kabupat en Daerah Tingkat II dengan perset uj uan Gubernur

Kepala Daerah Tingkat I;

3) Jalan Nasional yang berada dalam Ibukot a Kabupat en Daerah Tingkat II dengan perset uj uan Ment eri;

kecuali pada pembangunan dan peningkat an j alan;

c. Penet apan pelaksanaan kegiat an-kegiat an dalam hal rekayasa lalu lint as sert a manaj emen lalu lint as pada Jalan Kabupat en dan manaj emen angkut an di Kabupat en Daerah Tingkat II;

d. Penet apan larangan penggunaan j alan Kabupat en :

1) Bagi macam-macam kendaraan t idak bermot or yang berhubungan dengan muat an sumbunya;

2) Bagi kendaraan bermot or yang muat an sumbunya melebihi bat as maksimum yang dit ent ukan unt uk j alan it u;

e. Penet apan muat an sumbu kurang dari yang dit et apkan unt uk j alan Kabupat en oleh karena pemeliharaan at au keadaan bagian j alan Kabupat en yang rusak unt uk wakt u paling lama 6 (enam) bulan.

(3) Khusus kepada Kot amadya Daerah Tingkat II diserahkan j uga urusan-urusan sebagai berikut :

(9)

perset uj uan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bagi Jalan Propinsi, sert a perset uj uan Ment eri bagi Jalan Nasional;

b. Pengadaan, penet apan penempat an, pemasangan dan pemeliharaan rambu-rambu lalu lint as sert a t anda-t anda j alan di :

1) Jalan Kot amadya Daerah Tingkat II;

2) Jalan Propinsi yang berada dalam Kot amadya Daerah Tingkat II dengan perset uj uan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I;

3) Jalan Nasional yang berada dalam Kot amadya Daerah Tingkat II dengan perset uj uan Ment eri;

kecuali pada pembangunan dan peningkat an j alan;

c. Penet apan pelaksanaan kegiat an-kegiat an dalam hal rekayasa lalu lint as sert a manaj emen lalu lint as pada Jalan Kot amadya dan manaj emen angkut an di Kot amadya Daerah Tingkat II;

d. Penet apan larangan menggunakan Jalan Kot amadya:

1) Bagi macam-macam kendaraan t idak bermot or yang berhubungan dengan muat an sumbunya;

2) Bagi kendaraan bermot or yang muat an sumbunya melebihi bat as maksimum yang dit ent ukan unt uk j alan it u;

e. Penet apan muat an sumbu kurang dari yang t elah dit et apkan unt uk Jalan Kot amadya oleh karena pemeliharaan at au keadaan bagian Jalan Kot amadya yang rusak unt uk wakt u paling lama 6 (enam) bulan.

(10)

Pasal 6

Unt uk wilayah kot a di Daerah Khusus Ibukot a Jakart a dan Kot amadya Administ rat if Bat am, urusan-urusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diserahkan kepada Daerah Tingkat I yang membawahinya.

BAB III ORGANISASI

Pasal 7

Unt uk menyelenggarakan urusan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang diserahkan kepada Daerah dibent uk Dinas Lalu Lint as dan Angkut an Jalan.

Pasal 8

Pembent ukan Organisasi dan Tat a Kerj a Dinas Lalu Lint as dan Angkut an j alan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dit et apkan sesuai dengan pedoman yang dit et apkan oleh Ment eri Dalam Negeri set elah mendengar pendapat Ment eri dan Ment eri yang bert anggung j awab di bidang pembinaan aparat ur negara.

BAB IV KEPEGAWAIAN

Pasal 9

(11)

BAB V

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 10

(1) Ment eri menyelenggarakan pembinaan t eknis dan pengawasan t eknis at as pelaksanaan urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang t elah diserahkan kepada Daerah.

(2) Pembinaan t eknis dan pengawasan t eknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diat ur lebih lanj ut oleh Ment eri.

Pasal 11

(1) Ment eri Dalam Negeri menyelenggarakan pembinaan umum dan pengendalian at as pelaksanaan urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang t elah diserahkan kepada Daerah.

(2) Pembinaan umum dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diat ur lebih lanj ut oleh Ment eri Dalam Negeri.

Pasal 12

(1) Dalam melaksanakan urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang t elah diserahkan kepada Daerah Tingkat I, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyampaikan laporan berkala kepada Ment eri dan Ment eri Dalam Negeri.

(12)

(3) Dalam melaksanakan urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang t elah diserahkan, Daerah waj ib :

a. memelihara keselamat an dan kelancaran arus lalu lint as dan angkut an Regional dan Nasional di daerah masing-masing;

b. memperhat ikan perat uran perundang-undangan yang berlaku di bidang lalu lint as dan angkut an j alan besert a pembinaan t eknis yang diberikan Ment eri.

BAB VI

SUMBER PEMBIAYAAN DAN KEKAYAAN

Pasal 13

(1) Pembiayaan yang berhubungan dengan penyerahan sebagian urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan sebagaimana dimaksud dalam Perat uran Pemerint ah ini, diusahakan melalui sumber-sumber anggaran Pendapat an Asli Daerah maupun melalui bant uan pembiayaan dari Pemerint ah Pusat sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

(2) Segala bent uk pungut an dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang t elah diserahkan kepada Daerah, diat ur dan dit et apkan dengan Perat uran Daerah.

Pasal 14

(13)

(2) Pelaksanaan penyerahan kekayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

BAB VII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 15

(1) Dinas Lalu Lint as dan Angkut an Jalan Raya yang t elah dibent uk sebelum berlakunya Perat uran Pemerint ah ini, t et ap melaksanakan t ugasnya sebagai unsur pelaksana Pemerint ah Daerah sampai dibent uknya Dinas Lalu Lint as dan Angkut an Jalan berdasarkan Perat uran Pemerint ah ini.

(2) Bagi Daerah yang belum menerima penyerahan urusan sebagaimana dimaksud dalam Perat uran Pemerint ah ini, pelaksanaan urusan lalu lint as dan angkut an j alan dilakukan oleh inst ansi vert ikal Depart emen Perhubungan.

Pasal 16

Ket ent uan pel aksanaan Perat uran Pemerint ah Nomor 16 Tahun 1958 yang sudah ada sebel um berl akunya Perat uran Pemerint ah ini masih t et ap berlaku sepanj ang t idak bert ent angan dan belum digant i berdasarkan Perat uran Pemerint ah ini.

Pasal 17

(14)

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 18

Ket ent uan lebih lanj ut yang diperlukan sebagai pelaksanaan Perat uran Pemerint ah ini diat ur oleh Ment eri dan Ment eri Dal am Negeri secara bersama-sama at au sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Pasal 19

Perat uran Pemerint ah ini mulai berlaku pada t anggal diundangkan.

Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Perat uran Pemerint ah ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Dit et apkan di Jakart a pada t anggal 14 Juni 1990

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA t t d

SOEHARTO

Diundangkan di Jakart a pada t anggal 14 Juni 1990

MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA

(15)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 2 TAHUN 1 9 9 0

TENTANG

PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DALAM BIDANGLALU LINTAS DAN ANGKUTAN

JALAN KEPADA DAERAH TINGKAT I DAN DAERAH TINGKAT II

A. UMUM

Dalam rangka peningkat an pemerat aan pembangunan dan perwuj udan t uj uan pembangunan nasional, pembangunan perhubungan diharapkan berperan unt uk memperlancar roda perekonomian, memperkokoh persat uan sert a makin meningkat kan ket ahanan nasional.

Unt uk it u perlu diberikan perhat ian khusus pada pembangunan perhubungan di daerah yang membut uhkan peningkat an peranan Daerah khususnya dalam pelaksanaan t ugas pemerint ahan dan pembangunan lalu lint as dan angkut an j alan yang lebih berdayaguna dan berhasilguna.

Sehubungan dengan it u perlu dimant apkan dan dit ingkat kan pemberian ot onomi yang nyat a dan bert anggung j awab kepada Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 t ent ang Pokok-pokok Pemerint ahan Di Daerah, dengan menyerahkan sebagian urusan pemerint ahan di bidang lalu lint as dan angkut an j alan kepada Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. Pengat uran di bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang mengat ur

(16)

perat uran pelaksanaan dari Undang-undang Nomor I Tahun 1957 yang dirasakan sudah t idak sesuai unt uk menunj ang usaha pencapaian t uj uan pembangunan karena belum mengat ur secara j elas kewenangan Daerah di bidang lalu lint as dan angkut an Jalan dan belum melibat kan peran dari Daerah Tingkat II.

Bert it ik t olak dari hal-hal t ersebut di at as, perlu menat a kembali kewenangan Daerah di bidang lalu lint as dan angkut an j alan dengan memberikan kemungkinan kepada Daerah mengembangkan perangkat Daerah unt uk melaksanakan urusan-urusan yang t elah diserahkan di bidang lalu lint as dan angkut an j alan dalam Perat uran Pemerint ah ini, sesuai dengan kebut uhan dan kemampuan Daerah yang bersangkut an.

Dengan penyerahan sebagian urusan lalu lint as dan angkut an j alan dalam Perat uran Pemerint ah ini memberikan kemungkinan kepada Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II membent uk Dinas Lalu Lint as dan Angkut an Jalan Tingkat I dan Dinas Lalu Lint as dan Angkut an Jalan Tingkat II yang masing- masing menerima penyerahan sebagian urusan lalu lint as dan angkut an j alan secara langsung dari Pemerint ah Pusat .

Dalam Perat uran Pemerint ah ini dit et apkan ket ent uan bahwa dengan penyerahan sebagian urusan Pemerint ahan di bidang Lalu Lint as dan Angkut an Jalan kepada Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II, t idak melepaskan t anggung j awab Pemerint ah Pusat dalam hal ini Ment eri yang membidangi perhubungan sebagai penanggung j awab dari urusan-urusan yang diserahkan unt uk melakukan pembinaan t eknis dan pengawasan t eknis t erhadap Dinas- dinas Daerah yang melaksanakan urusan-urusan t ersebut . Selanj ut nya dalam Perat uran Pemerint ah ini j uga diberikan

(17)

Dalam hal t erdapat Daerah yang belum mampu melaksanakan urusan yang diserahkan berdasarkan Perat uran Pemerint ah ini maka Pemerint ah Pusat t et ap bert anggung j awab dalam pelaksanaannya dengan t et ap mengupayakan agar Daerah-daerah t ersebut secara bert ahap menj adi mampu unt uk melaksanakannya.

B. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup j elas

Pasal 2

Meskipun sebagian urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan t elah diserahkan kepada Daerah, akan t et api t anggung j awab akhir t et ap berada di t angan Pemerint ah Pusat . Dalam kait an dengan t anggung j awab t ersebut , Ment eri menyelenggarakan pembinaan t eknis dan pengawasan t eknis, yait u segala usaha dan kegiat an yang dit uj ukan kepada keseragaman dalam pelaksanaan t ugas pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan.

Pasal 3

Huruf a

Penet apan bat as kecepat an maksimum pada ruas-ruas j alan t ert ent u t idak boleh melebihi kecepat an rancangan ruas j alan yang bersangkut an.

Huruf b

Cukup j el as

Huruf c

Cukup j el as

(18)

Cukup j el as

Huruf e

Dalam pemberian izin agar dipert imbangkan secara cermat hal-hal yang menyangkut kelancaran angkut an dan keselamat an umum. Unt uk mendapat kan izin t ersebut berpedoman pada perat uran yang dit et apkan oleh Ment eri.

Huruf f

Angka 1

Cukup j el as

Angka 2

Penet apan bat as maksimum muat an sumbu pada j alan, dimaksudkan unt uk memelihara kelest arian j alan sehubungan dengan meningkat nya int ensit as penggunaan j alan/ j embat an yang t idak seimbang dengan pemeliharaan dan perbaikannya.

Huruf g

Penet apan ini diperlukan bilamana sebagian j alan at au suat u j embat an dalam keadaan kurang baik, sedang t idak mungkin dilakukan perbaikan at au pembet ulan dengan segera. Demikian pula selama diadakan pekerj aan perbaikan at au pemeliharaan.

Huruf h

Jaringan t rayek dan j aringan lint as, j umlah kendaraan bermot or yang diij inkan unt uk melayani suat u t rayek dan lint as dan persyarat an t eknis kendaraan bermot or yang diizinkan unt uk melayani t rayek dan lint as t ersebut dit et apkan oleh Ment eri.

Huruf i

Rekayasa lalu lint as t ersebut meliput i kegiat an-kegiat an Rekayasa unt uk :

(19)

lalu lint as, marka j alan, lampu lalu lint as dan f asilit as pengamanan lalu lint as;

2) Perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan f asilit as;

3) Perencanaan pengadaan dan pemasangan f asilit as. Manaj emen lalu lint as t ersebut meliput i kegiat an-kegiat an manaj emen yang bert uj uan unt uk :

1) Memperlancar arus lalu lint as dan angkut an;

2) Mengurangi t ingkat dan j umlah kecelakaan;

3) Memperbaiki lingkungan;

dengan perbaikan-perbaikan f isik yang t erbat as.

Huruf j

Penguj ian kendaraan bermot or dilaksanakan oleh Inst ansi yang dit unj uk oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menurut pedoman t eknis yang dit et apkan oleh Ment eri.

Secara selekt if Daerah Tingkat I menyerahkan urusan penguj ian kendaraan bermot or kepada Daerah Tingkat II dengan memperhat ikan kemampuan Daerah Tingkat II yang bersangkut an, ant ara lain personil, peralat an dan pembiayaan.

Dalam hal urusan penguj ian kendaraan bermot or t ersebut belum diserahkan kepada Daerah Tingkat II, pendapat an yang berasal dari penguj ian kendaraan bermot or t ersebut menj adi bagian pendapat an Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II.

Pengat uran lebih lanj ut t ent ang pembagian pendapat an ant ara Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II t ersebut dit et apkan oleh Ment eri Dal am Negeri.

Pasal 4

Ayat (1)

(20)

diserahkan sebagian at au seluruhnya kepada Daerah Tingkat II t ergant ung kesediaan. dan kesiapan Daerah yang bersangkut an.

Ayat (2)

Cukup j el as

Pasal 5

Ayat (1)

Huruf a

Dalam penunj ukan lokasi parkir harus diperhat ikan sit uasi dan kondisi lingkungan sert a lalu lint as. Parkir yang mengganggu arus lalu lint as harus dilarang.

Huruf b

Penunj ukan lokasi t erminal yang f ungsinya melayani angkut an ant ar kot a ant ar propinsi t idak t ermasuk urusan yang diserahkan. Yang dimaksud dengan pengelolaan disini adalah seluruh kegiat an yang meliput i pengat uran, pelaksanaan, pengorganisasian, pengawasan dan perencanaan pengoperasian t erminal.

Huruf c

Penunj ukan t empat penyeberangan bagi pej alan kaki adalah unt uk keselamat an pej alan kaki dan memelihara kelancaran arus lalu lint as kendaraan.

Huruf d

Pembat asan penggunaan angkut an orang dengan kendaraan t idak bermot or, misalnya sepeda, harus dit inj au dari segi keselamat an lalu lint as dan angkut an.

Huruf e

(21)

berhent i t idak mengganggu kelancaran arus lalu lint as pada ruas-ruas j alan yang ramai dan. unt uk keselamat an angkut an sert a pelayanan kepada masyarakat .

Huruf f

Cukup j el as

Huruf g

Izin pendirian usaha angkut an diberikan dengan berpedoman pada ket ent uan yang dit et apkan oleh Ment eri.

Huruf h

Izin mendirikan bengkel umum kendaraan bermot or, berpedoman pada ket ent uan yang dit et apkan oleh Ment eri.

Huruf i

Hal ini dimaksud memberikan kewenangan kepada Pemerint ah Daerah unt uk mengat ur susunan alat -alat t ambahan yang diperlukan mobil bis dan mobil penumpang unt uk angkut an kot a, sepert i t axi met er unt uk mobil penumpang at au t anda pengenal khusus unt uk mobil bis at au mobil penumpang.

Huruf j

Cukup j el as

Huruf k

(22)

Huruf l

Diperlukan unt uk mencegah kegaduhan-kegaduhan yang mengganggu ket enangan lingkungan.

Huruf m

Pengat uran dan pelaksanaan sirkulasi lalu lint as ini t idak boleh menghambat kelancaran arus lalu lint as dan angkut an pada j aringan j alan lint as Regional dan Nasional. Selanj ut nya lihat penj elasan pada huruf k.

Ayat (2)

Huruf a

Lihat penj elasan Pasal 3 huruf a.

Huruf b

Penet apan penempat an dan pemasangan rambu-rambu lalu lint as dan t anda-t anda j alan ini t idak boleh menghambat kelancaran arus lalu lint as dan angkut an pada j aringan j alan lint as Regional dan Nasional.

Selanj ut nya lihat penj elasan ayat (1) huruf k.

Huruf c

Lihat penj elasan Pasal 3 huruf 1.

Huruf d

Lihat penj elasan Pasal 3 huruf f .

Huruf e

lihat penj elasan Pasal 3 huruf g.

Ayat (3)

Huruf a

(23)

Huruf b

Lihat penj elasan ayat (2) huruf b.

Huruf c

Lihat penj elasan Pasal 3 huruf i.

Huruf d

Lihat penj elasan Pasal 3 huruf f .

Huruf e

Lihat penj elasan Pasal 3 huruf g.

Ayat (4)

Cukup j el as

Pasal 6

Penyerahan urusan ini t idak berl aku bagi wilayah Kot a di Daerah Khusus Ibukot a Jakart a dan Kot amadya Administ rat if Bat am, karena bukan Daerah Ot onom.

Pasal 7

Cukup j elas

Pasal 8

Cukup j elas

Pasal 9

(24)

diperlukan.

Pasal 10

Ayat (1)

Pembinaan t eknis yang diselenggarakan oleh Ment eri it u meliput i kegiat an yang berkait an dengan penent uan kebij aksanaan, persyarat an t eknis, pet unj uk dan bi mbingan t eknis di bidang lalu lint as dan angkut an j alan. Pengawasan t eknis adalah kegiat an mengawasi, mengarahkan dan mengambil t indakan korekt if t erhadap pelaksanaan urusan yang diserahkan agar sesuai dengan pembinaan t eknis yang t elah diberikan.

Ayat (2)

Cukup j el as

Pasal 11

Ayat (1)

Cukup j el as

Ayat (2)

Cukup j el as

Pasal 12

Ayat (1)

Cukup j el as

Ayat (2)

(25)

Negeri sebagai pembina dan pengawas umum.

Ayat (3)

Cukup j el as

Pasal 13

Ayat (1)

Pada dasarnya sumber pembiayaan t erhadap pelaksanaan urusan pemerint ahan dalam bidang lalu lint as dan angkut an j alan yang diserahkan kepada Daerah diupayakan dari sumber-sumber Pendapat an Asli Daerah, sedangkan pembiayaan yang berasal dari Pemerint ah Pusat bersif at menunj ang.

Ayat (2)

Besarnya pungut an yang dit et apkan berpedoman kepada ket ent uan yang dit et apkan oleh Ment eri dan Ment eri Dalam Negeri.

Pasal 14

Ayat (1)

Rincian kekayaan yang diserahkan dit ent ukan lebih lanj ut oleh Ment eri dan Ment eri Dalam Negeri.

Ayat (2)

Cukup j el as

Pasal 15

Ayat (1)

Cukup j el as

Ayat (2)

(26)

Pasal 16

Cukup j elas

Pasal 17

Cukup j elas

Pasal 18

Cukup j elas

Pasal 19

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...