FENOMENOLOGI PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN SERTA PERANNYA DALAM ILMU KOMUNIKASI

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

FENOMENOLOGI PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN SERTA PERANNYA DALAM ILMU KOMUNIKASI

Anisti

Mahasiswa Magister Komunikasi Universitas Sahid Staf Pengajar Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika

Abstract

The basic nature of man to recognize and be recognized yields the concept of knowledge. By employing his five senses and intelligence, man discovers the essence of knowledge based on the objects that he observes and changes it into a new one. Man’s curiosity leads him to a philosophy – a manner of thinking, a tendency of asking thoroughly and radically, to seek the fundamental truth about anything.

By philosophizing hence, emerge philosophy-based sciences. It was such a great influence of philosophy toward science that a famous quote even states “the mother of all science is philosophy.” Reaching the 20th century, there are numerous sciences with their own philosophy, in which man uses language to communicate and creates a social dynamics. What once was an understanding of knowledge and science it now becomes a communication science.

Key words : knowledge, science, philosophy, communication science

I. PENDAHULUAN

Manusia diciptakan memiliki akal dan budi yang sangat tinggi dibandingkan dengan makhluk lain. Dengan panca indera yang dimiliki olehnya berupa mata untuk melihat, hidung untuk mencium bau, dan telinga untuk mendengar serta tangan untuk meraba, maka manusia melakukan hubungan sosial di dunia ini. Apa yang dilihat, dicium dan dirasa menumbuhkan rasa ingin tahu manusia, maka disaat itu manusia sudah tumbuh rasa ingin tahu akan sesuatu yang dirasakan dengan panca inderanya.

Karena manusia juga memiliki akal budi yang sangat tinggi dari makhluk lain, maka manusia tidak akan puas dengan sekadar tahu akan sesuatu hal, rasa ingin tahu manusia yang menuntut manusia untuk mencari jawaban dari rasa ingin tahunya.

Fenomenai ini menunjukan bahwa pengetahuan terbentuk dari rasa ingin tahu manusia seperti yang dikatakan oleh Surajio dalam bukunya filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia yang mengatakan “Pengetahuan adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan yang diketahui, serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu.” (2007;26). Sedangkan

menurut Soetriono dalam bukunya filsafat ilmu dan metodologi penelitian bahwa pengetahuan adalah “hasil dari tahu” (2007;9)

(2)

Menelaah pendapat soetriono dapat dipahami oleh penulis bahwa manusia akan terus menerus bertanya pada diri sendiri terhadap objek yang dilihatnya. Maka akan timbul hasrat untuk terus menyelediki, sehingga akan timbul sebuah pemahaman sebab akibat, “kenapa begini kenapa begitu” dari sinilah ilmu diciptakan yang mana menurut Soetriono, Ilmu pengetahuan diciptakan manusia karena didorong oleh rasa ingin tahu manusia yang tidak berkesudahan terhadap obyek dan Ilmu. Adalah akumulasi pengetahuan yang menjelaskan kausalitas (hubungan sebab-akibat) dari suatu obyek menurut metode-metode tertentu yang

merupakan suatu kesatuan

sistematis.(2007;19)

Berdasarkan penjelasan penulis diatas bahwa pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya telah berfilasafat dimana “sejarah kefilsafatan dikalangan filsuf menjelasakan tentang tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu kekaguman atau kebenaran, keraguan atau kegengsian dan

kesadaran akan

keterbatasan(Soetriono,2007;18).

Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebgai seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Atau seseorang yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah dibawahnya. Masing-masing ingin mengetahui hakikat dirinya atau menyimak kehadirannya dalam kesemestaan alam yang ditatapnya.

Seorang ilmuwan tidak akan pernah puas mengenal ilmu hanya dari sisi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam korelasi pengetahuan lainnya. Apa kaitan ilmu dengan moral, dengan agama, dan apakah ilmu itu membawa kebahagian kepada dirinya (Soetriono,2007;21).

Berdasarkan pemahaman penulis di atas tentang pengetahuan dan ilmu serta fenomena munculnya suatu ilmu pengetahuan yang dilihat dari beberapa aspek ilmu, salah satunya adalah ilmu komunikasi, untuk itu penulis berusaha untuk memaparkan secara ilmiah mengenai fenomenologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan serta perannya dalam ilmu komunikasi.

II. TINJAUAN PUSTAKA Manusia mempunyai rasa ingin tahu

yang tinggi atas segala objek yang dilihatnya berdasarkan kesadaran dirinya untuk terus melakukan pertanyaan terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya, maka munculah pengertian

pengetahuan, untuk itu penulis akan menjelaskan secara ilmiah munculnya pengetahuan berdasarkan pendapat-pendapat para ahli.

1. Munculnya Pengetahuan. Disaat manusia menuturkan sesuatu

objek yang diketahui maka manusia tersebut telah mendapatkan pengetauan. Karena pengetahuan didasari pada unsur mengetahui dan diketahui. Untuk itu manusia menuntut adanya kesadaran terhadap objek yang ingin diketahuinya. Jadi bisa dikatakan pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suat objek tertentu (Surajiyo,2007;26)

Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada di dalam pikiran manusia, tanpa pikiran pengetahuan tidak akan eksis. Oleh karena itu, keterkaitan antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati. Bahm dalam Rizal Mustansyir dkk, 2001 menyebutkan ada delapan hal penting yang berfungsi membentuk struktur pikiran manusia, yaitu sebagai berikut .

a. Mengamati (observes); pikiran berperan

dalam mengamati objek-objek. Dalam melaksanakan pengamatan terhadap objek itu maka pikiran haruslah mengandung kesadaran. Oleh karena itu di sini pikiran merupakan suatu bentuk kesadaran. Kesadaran adalah suatu karakteristik atau fungsi pikiran. Kesadaran jiwa ini melibatkan dua unsur penting, yakni kesadaran untuk mengetahui sesuatu dan penampakan suatu objek ini merupakan unsur yang hakiki dalam pengetahuan intuisi. Intuisi senantiasa hadir dalam kesadaran. Sebuah pikiran mengamati apa saja yang menampak. Pengamatan acap kali timbul dari rasa ketertarikan pada objek. Dengan demikian pengamatan ini melibatkan pula fungsi-fungsi pikiran yang lain.

(3)

tergantung pada daya tariknya. Kehadiran dan durasi suatu minat biasanya bersaing dengan minat lainnya, sehingga paling tidak seseorang memiliki banyak minat pada perhatian yang terarah. Minat-minat ini ada dalam banyak cara. Ada yang dikaitkan dengan kepentingan jasmaniah, permintaan lingkungan, tuntutan masyarakat, tujuan-tujuan pribadi, konsepsi diri, rasa tanggung jawab, rasa kebebasan bertindak, dan lain-lain. Minat terhadap objek cenderung melibatkan komitmen, kadangkala komitmen ini hanya merupakan kelanjutan atau menyertai pengamatan terhadap objek. Minatlah yang membimbing seseorang secara alamiah untuk terlibat ke dalam pemahaman pada objek-objek.

c. Percaya (belevies); manakala suatu objek muncul dalam kesadaran, biasanya objek-objek itu diterima sebagai objek-objek yang menampak. Kata percaya biasanya dilawankan dengan keraguan. Sikap menerima sesuatu yang menampak sebagai pengertian yang memadai setelah keraguan, dinamakan kepercayaan. d. Hasrat (disires); kodrat hasrat ini

mencakup kondisi biologis serta psikologis dan interaksi dialektik antara tubuh dan jiwa. Karena pikiran dibutuhkan untuk aktualisasi hasrat. Kita dapat mengatakannya sebagai hasrat pikiran. Tanpa pikiran tidak mungkin ada hasrat. Beberapa hasrat muncul dari kebutuhan jasmaniah seperti nafsu makan, minum, istirahat dan lain-lain. Beberapa hasrat juga bisa timbul dari pengertian yang lebih tinggi seperti hasrat diri, keinginan pada objek-objek, pada orang lain, kesenangan pada binatang, tumbuh-tumbuhan, dan proses interaktif. Beberapa hasrat juga bisa timbul dari ketertarikan pada tindakan, pengaruh, pengendalian, dan ketertarikan pada kesenangan dan rasa keamanan.

e. Maksud (intends); kendatipun memiliki maksud ketika akan mengobservasi, menyelidiki, mempercayai dan berhasrat, namun sekaligus perasaannya tidak berbeda atau bahkan terdorong ketika melakukannya.

f. Mengatur (organizes); setiap pikiran dalah

suatu organisme yang teratur dalam diri seseorang . Pikiran mengatur :

1) Melalui kesadaran yang sudah menjadi. Kesadaran adalah suatu kondisi dan fungsi mengetahui secara bersama.

2) Melalui intuisi yakni kesadaran penampakan dalam setiap kehadiran; 3) Manakala ia mengatasi setiap

kehadiran melalui kesenjangan ketidaktahuan dalam penampakan untuk menghasilkan kesadaran lebih lanjut seperti rasa bangun tidur. 4) Melalui panggilan untuk

memunculkan objek, dan berperan serta dalam pembentukan objek- objek ini dari sesuatu yang mendorong untuk diatur melalui otak. 5) Melalui pengingatan dan mendukung penampakan pada objek-objek yang hadir, minat, dan proses.

6) Melalui pengantisipasian, peramalan, dan menjadikan kesadaran terhadap objek-objek yang diramalkan; 7) Melalui proses generalisasi, yaitu

dengan mencatat kesamaan di antara berbagai objek dan menyatakan dengan tegas tentang kesamaan itu. 8) Menyesuaikan (adapts);

menyesuaikan pikiran sekaligus melakukan pembatasan-pembatasan yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang tercakup dalam otak dan tubuh di dalam fisik, biologis, lingkungan sosial dan kultural serta keuntungan yang terlihat pada tindakan, hasrat, dan kepuasan.

9) Menikmti (enjoys); pikiran-pikiran mendatangkan keasyikan. Orang yang asyik dalam menekuni suatu persoalan, ia akan menikmati itu dalam pikirannya.(Surajiyo, 2007;26) Berdasarkan pendapat di atas dapat dilihat bahwa hal tersebut yang membuat manusia terus menerus menggunakan pikirannya terhadap suatu objek yang diamatinya, karena kesadarannya untuk mengetahui objek tersebut secara lebih mendalam yang akhirnya menimbulkan pengetahuan merupakan sifat dasar manusia dalam memanfaatkan panca indera dan akal budinya.

2. Terjadinya Pengetahuan

(4)

epistemologi, sebab jawaban terhadap terjadinya pengetahuan maka seseorang akan berwarna pandangan atau paham filsafatnya. Jawaban yang paling sederhana tentang terjdinya pengetahuan ini apakah berfilsafat apriori atau a pisteriori. Pengetahuan priori adalah pengetahuan yang terjdi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman indera mupun pengalaman batin. Adapun pengetahuan a pisteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena pengalaman. Dengan demikian pengetahuan ini bertumpu pada kenyataan objektif (Abbas Hamami M, 1982, 1)

Sebagai alat untuk mengetahui terjadinya pengetahuan menurut John Hospers dalam bukunnya An Introduction Philosophical Analysis mengemukakan ada enam hal, yaitu sebagai berikut : Pengalaman, indera, nalar, otoritas, intuisi, wahyu, dan keyakinan. Dengan penjelasan sebagai berikut 1. Pengalaman Indra (Sense Experience).

Orang sering merasa pengindraaan merupakan alat yang paling vital dalam memperoleh pengetahuan. Memang dalam hidup manusia tampaknya penginderaan adalah satu-satunnya alat untuk menyerap segala sesuatu objek yang ada di luar diri manusia. Karena terlalu menekankan pada kenyataan, paham demikian dalam filsafat disebut realisme. Realisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa semua yang dapat diketahui adalah hanya kenyataan. Jadi, pengetahun berawal mula dari kenyataan yang dapat diinderai. Tokoh pemula dari pandangan ini adalah Aristoteles, yang berpendapat bila subjek diubah di bawah pengaruh objek, artinya bentuk-bentuk dari dunia luar meninggalkan bekas-bekas dalam kehidupan batin. Objek masuk dalam diri subjek melalui persepsi indera (sensasi). Ini ditegaskan pula oleh Aristoteles yang berkembang pada abad pertengahan adalah Thomas Aqinas yang mengemukakan bahwa tiada sesuatu dapat masuk lewat ke dalam akal yang tidak ditangkap oleh indra.

1.Nalar (Reason)

Nalar adalah salah satu corak berpikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapat pengetahuan baru. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah

tentang asas-asas pemikiran berikut : principium identitas, adalah sesuatu itu mesti sama dengan dirinya sendiri. Asas ini biasanya disebut asas kesamaan.

Principium contradictionis, maksudnya bila terdapat dua pendapat dua pendapat yang tertentangan, tidak mungkin kedua-duanya benar dalam waktu yang bersamaan atau dengan kata lain pada subjek yang sama tidak mungkin terdapat dua predikat yang bertentangan pada satu waktu. Asas ini biasa disebut sebagai asas pertentangan.

Principium terti exclusi, yaitu pada dua pendapat yang berlawann tidak mungkin keduanya benar dan tidak mungkin keduanya salah. Kebenaran hanya terdapat satu diantara kedua itu, tidak perlu ada pendapat yang ketiga. Asas ini biasa disebut sebagai asas tidak adanya kemungkinan ketiga.

2.Otoritas (Authority)

(5)

4. Wahyu (Revelation)

Wahyu adalah berita yang disampaikn oleh Tuhan kepada nabi-Nya untuk kepentingan umatnya. Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu, karena ada kepercayaan tentang sesuatu yang disampaikan itu. Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu secara dogmatik akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.

5. Keyakinan (Faith)

Keyakinan adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Sesungguhnya antara sumber pengetahuan yang berupa wahyu dan keyakinan ini sangat sukar untuk dibedakan secara jelas karena keduanya menetapkan bahwa alat lain yang dipergunakannya adalah kepercayaan. Perbedaannya barangkali

jika keyakinan terhadap wahyu yang secara dogmatik diikutinya adalah peraturan yang berupa agama. Adapun keyakinn melalui kemampuan kejiwaan manusia yang merupakan pematangan (maturation) dari kepercayaan. Karena kepercayaan itu bersifat dinamis mampu menyesuaikan dengn keadaan yang sedang terjadi. Adapun keyakinan itu sangat statis, kecuali ada bukti-bukti baru yang akurat dan cocok untuk kepercayaannya (Surajiyo,2007;28).

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengalaman indera merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk menangkap objek dari luar diri manusia melalui kekuatan indera. Kekhilafan akan terjadi apabila ada ketidaknormalan di antara alat-alat itu. Jadi sebagai kesimpulan bahwa pengetahuan yang terjadi karena adanya otoritas adalah pengetahuan yang terjadi melalui wibawa seseorang sehingga orang lain mempunyai pengetahuan.

3. Ilmu dan Pengetahuan

Ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Mengapa demikian? Agar jelas perbedaannya, perhatikan pengertian dari pengetahun dan ilmu.

Pengetahuan adalah pembentukan pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau menjalin sebuh pikiran dengan kenyataan tahu dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai kausalitas yang hakiki dan universal.

Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang menjelaskan hubungan sebab-akibat dari suatu obyek menurut metode-metode tertentu yang merupakan suatu kesatuan sistematis.

Dari kedua pengertian tersebut jelas bahwa pengetahuan bukan hanya ilmu. Pengetahuan merupakan bahan utama bagi ilmu. Selain itu ternyata bahwa pengetahuan tidak menjawab pertanyan dari adanya kenyataan itu, sebagimana dapat dijawab oleh ilmu. Dengan kata lain, pengetahuan baru dapat menjawab tentang apa, sedangkan ilmu dapat menjawab pertanyan tentang mengapa dari kenyataan atau kejadian.

Lebih jauh, ilmu berusaha memahami alam sebagaiman adanya. Hasil kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan

dan mengendalikan gejala-gejala alam. Hal ini mudah dimengerti karena pengetahuan keilmuan merupakan sari penjelasan mengenai kejadian-kejadian di alam, yang bersifat umum dan impersonal.

Perbedaan antara pengetahuan keilmuan dengan pengetahuan lainnya, misalnya seni dan agama dapat dilihat pula dari upaya-upaya mendapatkannya, yaitu sebagai berikut :

(6)

lainnya).

Baik secara aktif maupun pasif, keyakinan atau kepercayaan itu memegang peran penting untuk menyatakan dan menerima kebenaran kesimpulan itu. Bedannya, dalam upaya aktif orang harus yakin atau percaya terlebih dahulu. Kesimpulan yang benar yang diperoleh melalui alur kerangka pikiran logis adalah bersifat penalaran dan analitis. Sedangkan yang diperoleh melalui perasaan dan yang

hanya melalui keyakinan atau kepercayaan bersifat tidak logis dan tidak analitis. Dari hasil penalaran logis dan analitis diperoleh pengetahuan yang disebut ilmu, sedangkan dari perasaan dan keyakinan atau kepercayan disebut pengetahuan dan seni. Dari uraian tersebut dapatlah diketahui tentang kedudukan ilmu dalam pengetahuan, dan perbedaan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya (Soetriono, 2007;12)

4. Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Terapannya Dalam Ilmu Komunikasi.

Filsafat dapat menyajikan pelbagai kemungkinan untuk membangun ilmu pengetahuan dengan berusaha menjawab pertanyaan dasar seperti apakah ilmu pengetahuan itu dan bagaimana ia mengembangkan metodenya dalam rangka mendapat pengetahuan ilmiah yang logis dan benar (Dua, 2007;9)

Filsafat suatu ilmu merupakan landasan pemikiran dari ilmu yang bersangkutan, titik tolak bagaimana ilmu itu bermaksud mencapai tujuannya yaitu kebenaran. Sebenarnya setiap ilmu ditujukan pada mencapai kebenaran serta pengabdiannya kepada umat manusia, dengan cara ataupun jalan bagaimna masing-masing ilmu untuk mencapai tujuan ini adalah berbeda-beda.

Dalam rangka pemikiran ini, maka setiap ilmu mempunyai obyek formalnya maupun obyek materinya. Didalam obyek materinya beberapa ilmu dapat mempunyai obyek yang sama, akan tetapi demi penjelasan pemisahan ilmu satu dengan yang lain, maka obyek formalnya berbeda-beda. Objek formal inilah merupakan pandangan khas dari masing-masing ilmu berdasarkan apa yang dianggap benar, terutama benar menurut norma-norma dan ukuran masyarakat saat itu. Demikianlah, maka setiap filsafat ilmu, juga memperlihatkan fisafat masyarakatnya seperti mencerminkan juga tingkat perkembangan ilmu yang bersangkutan.

Tingkat perkembangan ilmu dapat dilihat dari tendensi-tendensi tertentu yang terjadi selama abad 19 ilmu menjadikan posisi yang menguat selama periode pergantian. Pada masa ini ilmu bersifat profesional dalam organisasi sosialnya (Ravertz,2007;72). Perkembangan ilmu dari abad ke 19 sampai 20 menimbulkan berbagai ilmu-ilmu baru yang

lebih spesifik, seperti halnya ilmu komunikasi, dimana ilmu komunikasi merupakan ilmu yang bersifat mutidisiplin, penggabungan dari berbagai ilmu pengetahuan lainnya seperti ilmu budaya, imu psikologi, ilmu sosial, ilmu politik dan lainnya. Hal ini dapat dijelasakan oleh Susanto dalam bukunya Filsafat Komunikasi yang menjelaskan awal mulanya berkembangan ilmu publisistik salah satu bagian ilmu pengetahuan dari rumpun ilmu komunikasi.

Seperti yang diutarakan oleh Susanto, hingga kini masih banyak orang menganggap, bahwa publisistik sebagai ilmu di antara ilmu-ilmu lain terlalu muda. Anehnya pendapat yang demikian ini datang antara lain dari ilmu pengetahuan seperti sosiologi, ilmu politik dan ilmu negara, yaitu ilmu pengetahuan yang dalam abad ini sendiri, sekitar tahun 1920 – 1930 baru mendapat pengakuan sebagai ilmu pengetahuan. Adapun kesangsian atas nilai ilmu komunikasi atau publisitik sebagai ilmu pengetahuan didasarkan kepada pendapat, bahwa publisistik tidak bergerak dalam penelitian seperti ilmu lain. Salah satu alasan adalah, bahwa ilmu publisistik banyak memakai topik atau issue sebagai dasar pengetahuannya, dimana, topi atau issue saja adalah kurang bersifat ilmiah. Padahal sebenarnya sistem kerja ilmu publisistik banyak persamaannya dengan ilmu politik, yaitu berpangkal pada topik dan isu sebagai fase pra-ilmiahnya.

Ilmu Publisistik dalam intinya merupakan : a. Geisteswissenschaft Ilmu Rohaniah b. Kulturwissenchaft Ilmu Budaya

c. Wirklichkeitwissenchaft Ilmu Kenyataan. d. Strukturwissenchaft Ilmu Struktur e. Geschichtswissenschaft Ilmu Sejarah f. Normatvewissenchaft Ilmu Normatif

(7)

publisistik menyelidiki hidup manusia serta pembentukan manusianya (menschliche zweckformung) karena proses pembentukan manusia adalah proses yang tidak akan berakhir selama manusia hidup. Ilmu Publisistik meneliti manusia tidak sebagai individu tetapi dalam masyarakatnya serta usaha manusia dalam pembentukan masyarakat karena itu maka ilmu publisistik adalah suatu ilmu budaya. Ilmu Publisitik sebagai ilmu rohaniah (geisteswissenschaft) dan ilmu kenyataan (wirklichkeitwissenchaft) memperlihatkan banyak persamaan dengan sosiologi, yaitu ilmu yang meneliti perkembangan dalam masyarakat, yaitu faktor mental, budaya mempunyai peranan yang penting.

Pengakuan suatu ilmu terutama dalam ilmu sosial adalah karena adanya tradisi dan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini ilmu komunikasi atau publisistik dapat memenuhi kedua syarat tadi, yaitu sebagai kelanjutan tradisi retorika seperti yang diajar oleh Sokrates dan Plato, dan diperlukan masyarakat massa modern. Keperluan ini terutama seperti halnya dengan ilmu politik didasarkan atas keinginan menemukan suatu lembaga yang berdiri di atas aliran-aliran yang terdapat dalam masyarakat berada dalam pertentangan satu sama lain dalam mencari pembentukan masyarakat yang sesempurna mungkin. Publisistik dalam hal ini, bersikap sejajar dengan ilmu politik yaitu dengan meneliti secara obyektif kemungkinan bagaimana pendapat-pendapat yang bertentangan dan bersaingan ini dapat dipertemukan dengan struktur masyarakatnya (Susanto, 1995;44)

Terutama dalam menyelidiki pendapat-pendapat yang tersebar maka Ilmu komunikasi atau publisitik tidak saja memperhatikan pendapat yang diutarakan, tetapi juga pikiran-pikiran dibelakang setiap ucapan atau penyebaran untuk mengetahui beberapa baik suatu tindakan atau suatu pendapat bagi masyarakatnya. Berdasarkan penyelidikan dan sikap berdiri di atas golongan-golongan. Diharapkan adanya pendapat yang obyektif, karena pada umumnya media massa sendiri telah dikuasai atau dipengaruhi oleh pendapat-pendapat khusus.

Memang benar, tidak ada ilmu sosial yang bebas dari nilai, akan tetapi dalam hal ini ilmu komunikasi atau publisistik ingin dan

bertujuan merupakan suatu pengetahuan yang memberi penilaian terhadap masyarakatnya. Karena itu tidak mungkin ilmu komunikasi atau publisitik seperti juga halnya dengan ilmu politik, ilmu negara menjadi wertreiewissenschaft yaitu Ilmu yang bebas dari nilai-nilai. Sebagai suatu ilmu yang juga menilai pendapat dan ideologi dalam masyarakat, maka ilmu komunikasi atau publisitik tidak bebas dari penentuan norma-norma walaupun bertujuan berdiri diatas ideologi-ideologi dan hanya mempunyai satu tujuan, yaitu tujuan mengabdi seluruh masyarakat.

Berdasarkan ini pula, maka ilmu komunikasi atau publisistik adalah suatu normative wissenchaft atau ilmu yang normatif. Sebagai suatu ilmu yang normatif ia tidak berbeda dengan theologia dan ilmu politik.

Dengan berpangkal pada topik atau isu, yaitu pengumpulan pendapat yang berbeda-beda dan fakta yang bermacam-macam, lmu komunikasi atau publisistik mencari sistematika penyelesaian pendapat dalam masyarakatnya. Berdasarkan pengetahuannya menarik kesimpulan dan menyatakan apakah cara dan sistem suatu masyarakat menyelesaikan persoalannya adalah benar atau salah. Sistem kerja semacam itu tidak berbeda dengan umpamanya ekonomi sebagai ilmu pengetahuan.

Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan ini, maka ilmu komunikasi atau publisitik juga tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan sejarah suatu bangsa. Sehingga publisistik merupakan suatu Geschichtswissenchaft. Pengetahuan sejarah dalam hal ini, hanya merupakan pembantu untuk ilmu komuniksi atau publisistik tetapi bukan aspek pokoknya.

Sebagai suatu ilmu sosial, Ilmu komunikasi atai publisistik mencoba untuk mengerti seluk-beluk persoalan masyarakat. Di samping memberi penilaian, maka permulaan sistem kerjanya adalah mengerti pertauatan masyarakat dan pendapat serta persoalannya.

Ilmu komunikasi atau publisistik mencari Sinneszusammenhng atau kesatuan hubungan makna untuk berdasarkan hasil penyelidikannnya memberi penerangan sebaik-baiknya kepada media massa dan masyarakat luas (Susanto,1995;46)

(8)

diatas penulis berpendapat bahwa ilmu komunikasi atau publisistik adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan membantu manusia atau masyarakat dalam mencari jalan keluar dari persoalan yang terjadi ditengah masyarakat serta memberi jawaban dari kejadian tersebut melalui media massa.

Ilmu Komunikasi atau Publisistik sendiri sebagai ilmu pengetahuan tidak boleh mempunyai kepentingan golongan tetapi bertujuan mengabdi kepada seluruh masyarakat dan ilmu komuniksi atau publisistik sebagai ilmu perlu dikembangkan dengan jujur dan bertanggungjawab oleh manusia yang menjalankannya. Sebagai ilmu maka sekurang-kurangnya obyektivitas ilmiah sikap ini harus dapat diharapkan.

Penulis juga akan mencoba memberikan pemahaman tentang Ilmu Komunikasi/publisitik sebagai ilmu pengetahuan yang dilihat dari sudut pandang ilmu sosial

3. Ilmu Komunikasi atau Publisistik sebagai Ilmu Sosial

Pengaruh utama dari media massa adalah mendalam maupun meluas Erich Feldmann dalam Neue Studien Zur Theorie Der Massen Medien membedakan antara pengaruh media secara vertikal atau mendalam yang meliputi bidang emosi, kehidupan jiwa dan pembentukan kepribadian sesuai dengan rangsangan yang diterima. Pengaruh (impact) mendatar tercerminkan dalam pribadi yang dipengaruhi oleh media massa yang menyebabkan perubahan kehidupan sosial, kehidupan dalam alam pekerjaan dan keluarga sendiri sangat dipengaruhi oleh media. Pengaruh sosial meliputi :

a. Pergeseran dalam stratifikasi dengan mengadakan modifikasi ketertiban sosial. b. Lebih cepatnya pemuda-pemuda

memasuki dunia dewasa dari pada sebelumnya.

Akibat dari gabungan faktor pengaruh mendalam dengan pengaruh meluas dari media massa atas kehidupan manusia. Dapat dilihat bahwa dalam dunia sosial terbentuk suatu struktur baru dengan dinamika yang tinggi. Keuntungan dari media massa dalam alam yang sedang mengalami proses disintegrasi dengan cepat. Media massa sebagai produsen barang konsumsi massa. Mempunyai peranan sebagai penghubung kembali dan mengakibatkan terbentuknya proses homogenisasi dalam kebudayaan. Dimana media menjadi mekanisme pembentukan kebudayaan baru dan kebudayaan ini dibawa oleh para penyari program atau isi medi massa. Dari penjelasan tentang pengetahuan dan ilmu pengetahuan serta terapannya dalam komunikasi terlihat fenomenlogi yang jelas mengenai muculnya sebuah pengetahuan dan ilmu pengetahuan manusia dimana fenomenologi berasal dari bahasa yunani yang berarti sesuatu yang tampak atau gejala. Fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau suatu aliran yang membicarakan tentang gejala (Peursen,1985)

Maka dari penjelasan yang sudah dipaparkan dapat membuka pemahaman penulis dimana ilmu komunikasi merupakan sebuah ilmu pengetahuan baru yang muncul dari perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan yang sebelumnya. Hal ini didasarkan padan terbentuk struktur pikiran manusia serta pengalaman indera, nalar, otoritas, intuisi, wahyu, dan keyakinan. Sehingga sampai sekarang ilmu komunikasi sebagai ilmu berkembang dengan pesat.

III. KESIMPULAN Jadi dapat dikatakan pengetahuan

adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suat objek tertentu. Terdapat delapan hal penting yang berfungsi membentuk struktur pikiran manusia dalam memahami sesuatu objek tertentu yaitu mengamati (observes), menyelidiki (inquires), percaya (belevies); hasrat (disire), maksud (intends), mengatur (organizes), menyesuaikan (adapts), menikmti

(enjoys). Sebagai alat untuk mengetahui terjadinya pengetahuan menurut John Hospers dalam bukunnya An Introduction Philosophical Analysis mengemukakan terdapat enam hal yang perlu diketahui yaitu sebagai pengalaman indra, nalar, otoritas, intuisi, wahyu, dan keyakinan. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang menjelaskan hubungan sebab-akibat dari suatu obyek menurut metode-metode tertentu yang merupakan suatu kesatuan sistematis.

(9)

9

landasan pemikiran dari ilmu yang

bersangkutan, titik tolak bagaimana ilmu itu bermaksud mencapai tujuannya yaitu

kebenaran. Sebenarnya setiap ilmu ditujukan pada mencapai kebenaran serta pengabdiannya kepada umat manusia. Dengan cara ataupun jalan bagaimna masing-masing ilmu

untuk mencapai tujuan ini adalah berbeda-beda.

Dengan berpangkal pada topik atau isu, yaitu pengumpulan pendapat yang berbeda-beda dan fakta yang bermacam-macam Ilmu komunikasi atau publisistik mencari sistematika penyelesaian pendapat dalam masyarakatnya, yaitu berdasarkan pengetahuannya menarik kesimpulan dan menyatakan apakah cara dan sistem suatu masyarakat menyelesaikan persoalannya adalah benar atau salah. Sistem kerja semacam itu tidak berbeda dengan ilmu ekonomi sebagai ilmu pengetahuan. Maka berdasarkan fenomenologi yang dipahami mengenai pengetahuan dan ilmu pengetahuan, jelas bahwa ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki sistematika ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

Dua, Mikhael. 2007. Filsafat Ilmu Pengetahuan Telaah Analitis, Dinamis, dan Dialektis, Ledalero Maumere : Univ. Atma Jaya.

Soetriono, MP dan Hanfie, Rita. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, Yogyakarta : Andi.

Susanto, Phil Astrid S, 1995. Filsafat Komunikasi, Bandung : Bina Cipta. Surajiyo, 2007. Filsafat Ilmu dan

Perkembangannya di Indonesia Suatu Pengantar, Jakarta : Bumi Aksara. Peursen, C.A. Van, Diterjemahkan oleh J.

Drost, 1985. Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, Jakarta : PT Gramedia. Ravertz, Jerome R. 2007. Filsafat Ilmu Sejarah

(10)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...