• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA MATA PELAJARAN PAI KELAS VII A

DI SMP PERINTIS 1 BANDAR LAMPUNG

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dirinya, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.1 Secara umum, pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nlai budaya yang ada dalam masyarakat.

Di Indonesia, peranan pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia berkepribadian yang sempurna, sebagaimana yang tercantum dalam SISDIKNAS Bab II Pasal 3 sebagai berikut :

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertaggung jawab.2

1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm, 3.

(2)

Sejalan dengan tujua pendidikan nasional tersebut, pendidikan agama Islam juga mempunyai tujuan yang sama, hal ini dapat dilihat dalam firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 102, yang berbunyi :

 

   



Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Qs. Ali-Imran : 102)3

Tujuan pendidikan Agama Islam adalah membentuk dan membina akhlak manusia baik anak-anak maupun orang dewasa kearah budi pekerti yang luhur kaitannya sebagai hamba Allah maupun terhadap sesame manusia (lingkungan).

Dalam rangka merealisasikan berbagai tujuan pendidikan agama Islam tersebut dibutuhkan lembaga pendidikan, adapun salah satu lembaga pendidikan yang dapat merealisasikan tujuan pendidikan agama Islam tersebut adalah lembaga pendidikan formal, didalam dunia pendidikan dikenal dengan adanya proes belajar mengajar.

Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal disekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri peserta didik secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh llingkungannya, yang antara lain terdiri atas murid, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan ata materi pelajaran (buku, modul,

(3)

selebaran, majalah, rekaman video, atau audio, dan yang sejenisnya), dan berbagai sumber belajar dan fasilitas (proyektor overhead ,Perekam pita audia dan video, radio, televise, computer, perpustakaan, laboratorium, pusat sumber belajar dan lain-lain).4

Para ahli telah sepakat bahwa media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. 5 Proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar siswa dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar peserta didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik dari pada tanpa bantuan media.

Pada penelitian ini , peneliti menggunakan media audio visual. Dimana pengertian media audio visual itu sendiri adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yaitu media auditif dan media visual. Mengingat penggunaan media yang ada dilokasi belum maksimal, padahal menurut Azhar Arsyad :

“ Belajar dengan menggunakan indera ganda, pandang dan dengar berdasarkan konsep yang mengatakan bahwa ada dua sistem ingatan manusia, satu untuk mengolah symbol-simbol verbal kemudian menyimpannya dalam proposisi image, dan yang lainnya untuk mengolah image nonverbal yang kemudian disimpan dalam bentuk proposisi verbal. Akan memberikan keuntungan bagi peserta didik. Peserta didik akan belajar lebih banyak dari pada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus pandang atau hanya dengan stimulus dengar.”6

(4)

Para ahli memiliki pandang searah mengenai hal itu . Menurut Dale menyataka bahwa “Perbandingan perolehan hasil belajar melalui indera pandang dan indera dengar sangat menonjol perbedaannya kurang lebih 75% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indera pandang dan hanya sekitar 13% diperoleh melalui indera dengar dan 12% lagi dengan indera lainnya”.7

Ada dua unsur yang amat penting dalam pembelajaran yaitu metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media mengajar yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam pemilihan media, antara lain tujuan media pengajaran, jenis tugas dan respons yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa.8

Penelitian ini dilakukan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama .Tugas pendidikan pada fase ini adalah menumbuhkan potensi-potensi indera dan psikologis, seperti pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Oleh karena itu pembelajaran melalui media audio visual di rasa cocok, karena dengan perantara media audio visual para peserta didik akan lebih aktif di dalam pembelajaran, mereka tidak hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru, tetapi mereka juga akan melakukan aktivitas, seperti mendengar, melihat, mengamati, dan memahami secara konkret mengenai materi yang sedang dipelajari. Sehingga

(5)

materi dapat lebih dipahami oleh para peserta didik, dan memungkinkan peserta didik menguasai tujuan pengajaran dengan baik.

Proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik apabila didukung dengan media yang memadai. Sehingga akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menerapkan metode pengajaran yang direncanakan selain itu peserta didik akan senang dan mudah dikondisikan.

Manfaat penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting. Kehadiran media sangat membantu peserta didik dalam memahami konsep tertentu, yang tidak atau kurang mampu dijelaskan dengan bahasa. Ketidakmampuan guru menjelaskan suatu bahan itulah dapat diwakili oleh peranan media . tidak hanya pada mata pelajaran umum yang diajarkan Sekolah Menengah Pertama (SMP), pada mata pelajaran agama Islam pun dianjurkan untuk menerapkan penggunaan media dalam proses belajar mengajar. Khususnya penggunaan media audio visual, karena media ini dianggap memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding dengan media audio ataupun media visual.

(6)

Berdasarkan hasil observasi prasurvay yang dilakukan oleh peneliti di SMP Perintis 1 Bandar Lampung. Proses belajar mengajar masih berpusat pada guru, sehingga membuat peserta didik kurang aktif didalam proses belajar mengajar dalam penyajian materi pada mata pelajaran Pendidika Agama Islam. Selain itu juga terlihat kurangnya minat peserta didik dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam, salah satunya disebabkan oleh kemonotonan dan kurangnya variasi dalam Proses Belajar Mengajar (PBM). Proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan metode ceramah akan membuat peserta didik kurang bergairah dalam belajar serta akan menciptakan verbalisme pada peserta didik yang pada akhirnya akan menyebabkan peserta didik mengantuk sehingga materi yang disampaikan tidak dapat ditangkap secara maksimal oleh peserta didik.

(7)

didik dengan menonton video, dimana materi sudah dikolaborasikan dengan kisah-kisah atau kejadian nyata yang ada disekitar lingkungan peserta didik, sehingga peserta didik akan lebih tertarik dan berminat untuk belajar Pendidikan Agama Islam.

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan pada saat pra survey terhadap guru Pendidikan Agama Islam yang bernama USMAN, BA. di SMP Perintis 1 Bandar Lampung, diketahui bahwa :

“Dalam mengajar guru Pendidikan Agama Islam masih menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab dalam proses belajar mengajar. Selain itu guru juga menggunakan media gambar pada papan tulis, tapi hasil belajar peserta didik belum optimal. Disamping itu juga banyaknya peserta didik yang tidak memperhatikan pelajaran ketika guru menerangkan pelajaran, Serta masih banyak peserta didik yang mendapatkan nilai dibawah KKM yaitu 75”. 9

Hal ini menunjukkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam peseta didik di SMP Perintis 1 Bandar Lampung masih rendah sehingga belum mencapai ketuntasan belajar. Berikut ini data awal hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang menunjukkan bahwa hasil belajar mata pelajaran ini masih rendah .

(8)

Tabel 1

Data Awal Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam Kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2013/2014

N

o Nama Peserta Didik L/P KKM Nilai Keterangan

1 Adek Erni Kurnia P 80 50 Belum Tuntas

2 Adisti Khainunicha P 80 62 Belum Tuntas

3 Agus Al-Amin Hutabarat L 80 42 Belum Tuntas

4 Alfyando Dwi Putra L 80 80 Tuntas

5 Andi Yusuf L 80 68 Belum Tuntas

6 Andrian Saputra L 80 43 Belum Tuntas

7 Andriansyah Maulana L 80 60 Belum Tuntas

8 Anisa Nurhayati P 80 82 Tuntas

9 Arisa Agustina P 80 70 Belum Tuntas

10 Asep Giyana Jaya L 80 85 Tuntas

11 Ayu Lestari P 80 73 Belum Tuntas

12 Bima Arda Perlambang L 80 85 Tuntas

13 Devi Fitriyani P 80 71 Belum Tuntas

14 Firgiawan Dwi. L L 80 47 Belum Tuntas

15 Fredy Darma. H L 80 63 Belum Tuntas

16 Gusti Raja L 80 83 Tuntas

17 Hemalia Putri P 80 80 Tuntas

18 Indi Ibrahim Susetio L 80 62 Belum Tuntas

19 Danu Priawan L 80 63 Belum Tuntas

20 M. Lutfi L 80 70 Belum Tuntas

21 M. Naufalgi L 80 80 Tuntas

22 M. Taufiq Dwi Suyatmo L 80 70 Belum Tuntas

23 Mutiaras P 80 85 Tuntas

24 Nandika Putra L 80 69 Belum Tuntas

25 Nisa Amelia P 80 72 Belum Tuntas

26 Ramadan Adi Ariawan L 80 82 Tuntas

27 Rangga Riadhi Sandhi L 80 69 Belum Tuntas

28 Riki Darmawan L 80 87 Tuntas

29 Riska Julianti P 80 82 Tuntas

30 Rizki Putra Pratama L 80 70 Belum Tuntas

31 Robbianto L 80 40 Belum Tuntas

32 Salsabila Indah. P P 80 82 Tuntas

33 Shavira Putri Alifia P 80 85 Tuntas

(9)

35 Yohana Adlia Safitri P 80 73 Belum Tuntas

36 Yulika Wahyun. S P 80 70 Belum Tuntas

37 Tri Antika P 80 65 Belum Tuntas

38 Zaini Indrajaya L 80 65 Belum Tuntas

Jumlah Nilai 2637

-Nilai Rata-rata 69,39

-Nilai Tertinggi 85

-Nilai Terendah 40

-Dari tabel diatas maka rekapitulasi data awal hasil belajar peserta didik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII A tahun ajaran 2013/2014, sebagai berikut :

Tabel 2

Rekapitulasi Data Awal Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung

Tahun Ajaran 2013/2014

Sumber : Buku Penilaian Pembelajaran Kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung TA 2013/2014

(10)

peserta didik yang mendapatkan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 24 peserta didik atau 63,16 % dan yang mendapatkan nilai diatas KKM yaitu 14 peserta didik atau 36, 84 % dari jumlah keseluruhan peserta didik. Dengan demikian perlu adanya perubahan dalam proses pembelajaran salah satunya yaitu dengan penggunaan media audio visual didalam melakukan proses belajar mengajar sebagai alat penunjang meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas VII A.

Kenyataan ini yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti mengenai peningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan media audio visual pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas dan berdasarkan pengamatan di SMP Perintis 1 Bandar Lampung , ada beberapa masalah yang dapat penulis identifikasi. Yaitu sebagai berikut .

1. Dalam mengajar guru Pendidikan Agama Islam masih menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab dalam proses belajar mengajar. Selain itu guru juga menggunakan media gambar pada papan tulis, tapi hasil belajar peserta didik belum optimal.

(11)

3. Rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

C. Batasan Masalah

Adapun penelitian ini dibatasi pada peningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan media audio visual pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis dalam penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut : Apakah melalui penggunaan media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung ? E. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan media audio visual pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung .

F. Manfaat Penelitian

(12)

didik dapat lebih cepat dan mudah mencapai Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) serta tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 2. Bagi Guru, hasil penelitian ini diharapkan sekurang-kurangnya dapat

dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk melaksanakan tugas-tugas kependidikan, baik bagi kepala sekolah maupun bagi guru untuk menyiapkan peserta didik yang berwawasan luas dan mempersiapkan kegiatan aktivitas belajar yang terencana dengan baik. Dengan mengambil hasil penelitian sebagai referensi dalam melaksanakan pelayanan pendidikan akan lebih memudahkan mencapai tujuan pendidikan yaitu dengan output peserta didik yang berwawasan luas dan terbiasa dengan aktivitas belajar yang baik.

3. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran dalam upaya menigkatkan hasil belajar siswa melalui media audio visual pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung dalam rangka mengembangkan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang diselenggarakan.

4. Bagi penulis, untuk menambah wawasan peneliti mengenai penggunaan media audio visual dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam .

(13)

Berdasarkan rumusan masalah diatas diperoleh hipotesis tindakan yaitu dengan penggunaan media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Perintis 1 Bandar Lampung. H. Metode Penelitian

Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.10

1. Jenis Penelitian dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Reason & Breadbury penelitian tindakan kelas adalah poses partisipatori, demokrasi yang berkenaan dengan pengembangan pengetahuan praktis untuk mencapai tujuan-tujuan mulia manusia, berlandaskan pandangan dunia partisipatori yang muncul pada momentum histori sekarang ini. Ia berusaha memadukan tindakan dengan refleksi, teori dengan praktek, denga menyertakan pihak-pihak lain, usaha menemukan solusi praktis terhadap persoalan-persoalan yang menyesakkan, dan lebih umum lagi demi pengembangan individu-individu bersama komunitasnya. 11

10 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta, 2010. Hal.3.

(14)

Dari pengertian penelitian tindakan diatas, dapat disimpulkan tiga prinsip, yakni : (1) adanya partisipasi dari peneliti dalam suatu program atau kegiatan; (2) adanya tujuan untuk meningkatkan kualitas suatu program atau kegiatan melalui penelitian tindakan tersebut; dan (3) adanya tindakan (treatment) untuk meningkatkan kualitas suatu program atau kegiatan. Mengacu pada prinsip di atas, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai penelitian dikelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipasif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran dikelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu dalam suatu siklus. Focus PTK terletak pada peserta didik atau PBM yang terjadi dikelas . tujuan utama PTK adalah untuk memecahka permasalahan nyata yang terjadi dikelas dan meningkatkan kegiatan nyata guru dalam kegiatan pengembangan profesinya.

b. Penentuan Subjek dan Objek

Penentuan subjek adalah usaha penentuan sumber data, artinya dari mana data penelitian data diperoleh.12 Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah :

(15)

1) Guru Pendidikan Agama Islam kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung

2) Perserta didik kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung.

Sedangkan objek yang menjadi pokok permasalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan media audio visual pada kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung.

c. Prosedur penelitian

Ada beberapa model yang dapat diterapkan dalam penelitian tindakan kelas (PTK), tetapi yang paling dikenal dan biasa digunakan adalah model yang dikemukakan oleh Kemmis & Mc. Taggart. Adapun model PTK dimaksud menggambarkan ada empat langkah (dan pengulangannya), yang disajikan dalam bagan berikut ini.13

Gambar 1

Siklus Penelitian Tindakan

13Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta : Rineka Cipta. 2006. Hlm, 97

Perencanaa

Refleksi Pelaksanaa

n Perencanaa

Pengamatan

(16)

Bila dalam PTK terdapat lebih dari satu siklus, maka siklus kedua dan seterusnya merupakan putaran ulang dari tahapan sebelumnya. Hanya saja, antara siklus pertama, kedua, dan selanjutnya selalu mengalami perbaikan setahap demi setahap. Jadi, antara siklus yang satu dengan yang lainnya tidak akan pernah sama meskipun melalui tahap-tahap yang sama.

Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini penulis merencanakan untuk melaksanakan 2 siklus, dimana dalam setiap siklus terdapat empat langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan atau observasi, dan refleksi.

SIKLUS I :

Siklus pertama dalam PTK ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sebagai berikut :

1. Tahap Perencanaan (Planning)

Dalam tahap ini peneliti menjelaskan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Adapun tahap ini meliputi :

a) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menggunakan media audio visual

Pengamata

(17)

b) Mempersiapkan materi Pendidikan Agama Islam yang akan diajarkan kepada peserta didik dengan menggunakan media audio visual

c) Membuat lembar observasi untuk mengetahui frekuensi hasil belajar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

d) Membuat soal tes akhir yang berbentuk pilihan ganda. 2. Tahap Pelaksanaan (Acting)

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran audio visual. Prosesnya mengikuti urutan kegiatan sebagai berikut , yaitu :

a. Pembukaan , terdiri dari apersepsi dan motivasi

b. Kegiatan inti, terdiri dari proses pembelajaran dengan menggunakan media audio visual

c. Kegiatan penutup , yakni membuat kesimpulan.

Adapun urutannya adalah : 1) Apersepsi dan motivasi

a) Guru mengajak peserta didik membaca doa sebelum memulai pelajaran

b) Guru mengucapkan salam pembuka

c) Guru memberikan pertanyaan mengenai materi yang telah diajarkan pada minggu lalu

(18)

2) Kegiatan Inti

a) Guru menjelaskan secara umum materi tentang Kerja Keras, Tekun, Ulet, dan Teliti

b) Guru menjelaskan urutan kegiatan pembelajaran malalui media audio visual

c) Guru mempersiapkan pembelajaran melalui media audio visual

d) Guru memerintahkan peserta didik untuk memperhatikan materi

f) Guru bertanya jawab dengan peserta didik tentang materi Kerja Keras, Tekun, Ulet, dan Teliti

g) Guru memberikan bimbingan kepada peserta didik yang kesulitan dalam menerima pelajaran

h) Guru melakukan penguatan tentang materi Kerja Keras, Tekun, Ulet, dan Teliti

i) Guru melakukan evaluasi terhadap kegiatan belajar tentang materi Kerja Keras, Tekun, Ulet, dan Teliti yang telah di laksanakan melalui media audio visual. Untuk mengetahui sampai sejauh mana tujuan pengajaran tercapai, yang sekaligus dapat di nilai sejauh mana pengaruh media sebagai alat bantu dapat menunjang keberhasilan proses belajar peserta didik. Dengan menggunakan metode tes berupa pilihan ganda.

(19)

a) Pada tahap penutup ini guru bersama peserta didik menyimpulkan materi tentang Kerja Keras, Tekun, Ulet, dan Teliti

b) Guru meminta peserta didik untuk mempelajari materi selanjutnya. 3. Tahap Pengamatan (Observing)

Pada tahapan observasi ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Pengamatan dilakukan terhadap pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yang berpedoman pada lembar observasi. Hasil pengamatan yang didapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran dari implementasi tindakan yang dirancang pada siklus berikutnya.

4. Refleksi (Reflecting)

Pada tahapan ini, refleksi merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan pendidik mengenai proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh pendidik. Refleksi dilakukan pendidik atau observer untuk perbaikan siklus berikutnya.

SIKLUS II a. Rencana

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama, peneliti membuat RPP sesuai dengan SKKD dalam Standar Isi (SI).

b. Tindakan

Peneliti melaksanakan pembelajaran berdasarkan RPP yang dikembangkan dari hasil refleksi siklus pertama.

(20)

Peneliti mengadakan observasi terhadap proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.

d. Refleksi

Peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menganalisis serta membuat kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan.

2. Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan Data dan informasi yang penulis perlukan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa metode antara lain:

a. Metode Observasi

Observasi adalah Pengamatan langsung terhadap fenomena-fenomena obyek yang di teliti secara obyektif dan hasilnya akan di catat secara sistematis agar diperoleh gambaran yang lebih kongkret tentang kondisi lapangan. Sebagaimana yang telah di kemukakan oleh Sutrisno Hadi “Observasi biasa di artikan sebagai pengamat dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang di selidiki”.

Berdasarkan pendapat diatas dapat di pahami bahwa Observasing merupakan metode pengumpulan dengan cara mengamati secara langsung peristiwa keadaan yang menjadi objek penelitian.

(21)

pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung.

b. Metode Interview / Wawancara

Interview adalah “teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam.”14

Berdasarkan pendapat diatas dapat dipahami bahwa interview merupakan salah satu alat untuk memperoleh informasi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih, yang dilakukan secara lisan.

Apabila dilihat dari sifat atau teknik pelaksanaannya, maka interview dapat dibagi atas tiga :

1. Interview terpimpin adalah wawancara yang menggunakan pokok-pokok masalah yag diteliti.

2. Interview tak terpimpin (bebas) adalah proses wawancara dimana interview tidak sengaja mengarahkan Tanya jawab pada pokok-pokok dari focus penelitian dan interview.

3. Interview bebas terpimpin adalah kombinasi keduanya, pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti, selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi.

(22)

Dalam penelitian ini digunakan interview bebas terpimpin yaitu pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti,selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi.

Metode ini penulis gunakan untuk mewawancarai langsung guru fiqih dan peserta didik terhadap penggunaan media audio visual dalam melakukan proses belajar mengajar dikelas VII A di SMP Perintis 1 Bandar Lampung.

c. Metode Tes

Metode tes adalah sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada seorang atau sejumlah orang untuk mengungkapkan keadaan atau tingkat perkembangan salah satu atau beberapa aspek psikologis didalam diri seseorang. Aspek psikologis itu dapat berupa prestasi atau hasil belajar, kecerdasan, minat, bakat, dll. Tes sebagai instrument sangat lazim digunakan dalam penelitian tindakan kelas. Hal ini disebabkan dalam PTK pada umumnya salah satu yang diukur adalah hasil belajar.

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes berbentuk pilihan ganda. Tes dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan (pretest) dan sesudah pelaksanaan tindakan (post test), baik pada siklus I maupun siklus II dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik.

(23)

Menurut Suharsimi Arikunto, dokumentasi adalah “mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.”15

Berdasarkan pendapat diatas dapat dipahami bahwa dokumentasi salah satu cara untuk menghimpun data mengenai hal-hal tertentu, melalui catatan, dokumen yang disusun oleh suatu instansi atau organisasi-organisasi tertentu.

Metode ini penulis gunakan sebagai pengumpul data tentang keadaan peserta didik, keadaan guru, keadaan sarana dan prasarana yang ada di SMP Perintis 1 Bandar Lampung.

1. Teknik Analisis Data

Setelah peneliti memperoleh data melalui teknik pengumpulan data dari objek penelitian, maka selanjutnya peneliti menganalisis data. Data yang diperoleh dari tindakan yang dilakukan dianalisis untuk memastikan bahwa dengan melalui media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih kelas VII A di Mts Al-Islam Bunut Padang Cermin Pesawaran.

Menganalisis data sangat diperlukan dalam penelitian ini agar memperoleh hasil penelitian yang dapat digunakan sebagai hasil penelitian. Sebagaimana pendapat berikut ini :

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, data dokumentasi, dengan cara

(24)

mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.16

Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwasanya analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis.17

Untuk menganalisis data yang diperoleh dalam penelitian lapangan terlebih dahulu diolah dengan lagkah-langkah sebagai berikut :

Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti aka melanjutkan kepertanyaan lagi, sampaui tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel. Aktivitas dalam analisi data, yaitu data reduction, display data, dan conclusion / verification.

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Reduksi data merupakan proses menyeleksi, menetukan focus, menyederhanakan, meringkas, dan mengubah bentuk data mentah yang ada dalam catatan lapangan. Dalam proses ini dilakukan penajaman, pemfokusan,

16 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Alfabeta, Bandung, 2011, hal.247

(25)

penyisihan data yang kurang bermakna dan menatanya sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat ditarik dan diverifikasi.

b. Display Data (Beberan Data)

Setelah direduksi, data siap dibeberkan, artinya tahap analisis sampai pada pembeberan data. Berbagai macam data PTK yang telah direduksi perlu dibeberkan dengan tertata rapi dengan narasi plus matriks, grafik atau diagram. Pembeberan data yang sistematis dan interaktif akan memudahkan pemahaman terhadap apa yang terjadi sehingga memudahka penarikan kesimpulan atau menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.18 c. Conclusion / Verivication ( Penarikan Kesimpulan / Verifikasi )

Penarikan kesimpulan tentang peningkatan atau perubahan yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan sementara yang ditarik pada akhir siklus satu ke kesimpulan terevisi pada akhir siklus dua dan seterusnya dan kesimpulan terakhir pada siklus terakhir. Kesimpulan yang pertama sampai dengan yang terakhir saling terkait dan kesimpulan pertama sebagai pijakan.19

P = Persentase peserta didik yang tuntas F = Frekuensi hasil belajar yang tuntas N = Jumlah seluruh peserta didik.20

18 Kunandar, Penelitian Tindakan Kelas, Rajawali Pers, Jakarta, Cet. Ke-7, 2011, hal. 102 19 Ibid , hal. 103

(26)

J. Indikator Keberhasilan Penelitian

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrahman Mulyono, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta

Al Abrasy Muhammad Athiyah, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, Cet. Ke VI, 2009

Arifin, HM., Hubungan Timbal Balik Pendidikan, Bulan Bintang, Jakarta, Edisi VI, 2007

Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta : Rineka Cipta. 2006

Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Rineka Cipta,

Jakarta, 1998

Arikunto Suharsimi,Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta, 2010

(28)

Darajat Zakiah , Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, Cet. Ke VII, 2005 Daryanto, H, Evaluasi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta , Cetakan ke-3, 1999 Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahannya, Yayasan Penerjemah Al

Qur’an

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Lubuk Agung, Bandung, 1989 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, KBBI, Balai Pustaka, Jakarta, 2003

Djamarah Syaiful Bahri & Aswin Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2010

E. Mulyasa, Kurikulum Yang Disempurnakan Pengembangan Kurikulum Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 2010

Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta, 2006

Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta, Rajawali Pres, 2009

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996, cet. Ke-4

Majid Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2004

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Rajawali Pers, Jakarta, 2010

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Remaja Rosdakarya, Jakarta, 2008

Mulyana, Pendidikan Islam Berbasis Kompetensi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005

(29)

Munadi Yudhi, Media Pembelajaran, Referensi, Jakarta, 2013

Muslim Imam, Shahih Muslim, Widiya, Jakarta, 1995, penerjemah Salim Bahreisy, Juz III

Rivai Muhammad, Perbandingan Agama, Wicaksana, Semarang, 2001, Cet Ke V Sudjana Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, PT Remaja Rosdakarya,

Bandung, 2009

Sudjiono Anas , Pengantar Statistik Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R &

D, Alfabeta, Bandung, 2011

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta, 2010

Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2010

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2008

Zuhairini , Slamet AS dan Abdul Ghofur, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, Usaha Nasional , Surabaya, 2000, Cet. Ke V

http:// edukasi.kompasiana.com/2010/04/11/Media-Audio-Visual-Slide-Bersuara/ di akses pada tanggal 16 januari 2014

http://edukasi.kompasiana.com/11/04/2010/media-audio-visual-slide-bersuara/

(30)

Gambar

Tabel 1Data Awal Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran
Tabel 2
Gambar 1Siklus Penelitian Tindakan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas ( PTK). Subjek pelaksana tindakan adalah peneliti dibantu oleh guru kelas. Metode pengumpulan data melalui metode

Jenis penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Subyek penerima tindakan adalah siswa kelas V SD Negeri

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research. Penelitian tindakan kelas yaitu suatu penelitian yang

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas ( classroom action research ), yaitu suatu

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas ( classroom action research ). Ciri khas PTK adalah adanya siklus-siklus yang merupakan suatu pemecahan menuju

sering disebut dengan Classroom Action Research (CAR). Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang mengacu pada tindakan yang dapat dilakukan secara langsung

Mengacu pada karakteristik tersebut penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru sekaligus sebagai

Oleh karena itu, untuk membuat suasana belajar yang menantang dan lebih aktif maka peneliti ingin melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan