PENERAPAN DAN PEMAHAMAN HUKUM ISLAM
PENJABARAN POWER POINT
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama yang dibimbing oleh Bapak Drs. M. Hafid Hamid, M.A
Disusun oleh:
Safinah Nur Rachmah 135030101111156 Milla Minhatul Maula 135030100111120
Reza Krisna Putra 135030107111101
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
hukum adalah peraturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan. Bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang madani, aman, nyaman, dan terkendali. Hukum dibuat sebagai pembatasan atas tingkah laku manusia yang tidak bertanggung jawab sehingga perlu media untuk melindungi orang lain dari orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. Begitu pula pengertian hukum Islam.
Hukum slam ada dua sifat, yaitu:
Al- tsabat (stabil), hukumislam sebagai wahyu akan tetap dan tidak berubah sepanjang masa
At-tathawwur (berkembang),hukum islam tidak kaku dalam berbagai konddisi dan situasi sosial.
Pengertian Hukum Islam
Hukum bisa berdasarkan atas kesepakatan adat, ketetapan daerah, ataupun ketetapan agama. Salah satu hukum yang berafiliasi kepada agama adalah hukum Islam.
Pengertian hukum Islam adalah hukum yang bersumber kepada nilai-nilai keislaman, yang dibentuk dari sumber dalil-dalil agama Islam. Pengertian hukum ini bisa berarti ketetapan, kesepakatan, anjuran, larangan, dan sebagainya.
Pengertian hukum Islam merujuk pada aturan yang telah ditetapkan Alloh SWT kepada manusia sebagai ciptaan-nya. Alloh sebagai pencipta manusia juga melengkapi manusia dengan seperangkat aturan yang harus digunakan dalam kehidupan manusia.
Semua aturan yang ada dalam pengertian hukum Islam memang diperuntukkan untuk diterapkan oleh manusia. Semua aturan jika diterapkan akan membawa kebaikan bagi manusia itu sendiri. Namun jika manusia tidak mau memakainya atau meninggalkan hukum ini dengan memakai hukum yang lain maka dapat dipastikan bahwa keburukanlah yang akan menimpa kehidupannya.
Pengertian hukum Islam ini ditujukan untuk semua manusia tidak terkecuali. Jika ada orang Islam yang melanggar hukum Islam, orang itu harus diadili sesuai dengan ketentuan dalil-dalil agama Islam.
Pengertian hukum islam bersumber pada landasan-landasan tertentu. Ada beberapa sumber yang menjadi landasan dalam membuat ketetapan hukum Islam. Sumber-sumber hukum Islam tersebut adalah sebagai berikut.
Al Quran
Al quran adalah salah satu kitab suci umat Islam. Kitab tersebut diturunkan kepada nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Al quran memuat banyak sekali kandungan. Kandungan-kandungan tersebut berisi perintah, larangan, anjuran, ketentuan dan sebagainya.
Semua hukum yang ada dalam Islam tercantum dalam Al-quran. Apa kewajiban yang harus dilakukan oleh manusia dan hal-hal apa saja yang tidak boleh untk dilakukan oleh manusia.
Al quran menjelaskan secara rinci bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya agar tercipta masyarakat yang madani. Maka dari itu, ayat-ayat Al quran inilah yang menjadi landasan utama untuk menetapkan suatu hukum.
Atau ayat yang mengatur tentang pakaian, seperti pada surat Al-A’raf ayat 26 yang artinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.
Atau ayat tentang dakwah yaitu kewajiban untuk mengingatkan kepada kebaikan dan mencegah kepada yang salah, seperti Al-Quran surat Al-Imron ayat 110 yang artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Ayat-ayat dalam Al-quran terkadang mengandung artian yang masih global. Contohnya adalah kewajiban sholat. Memang dalam Al-quran disebutkan bahwa setiap dari muslim haruslah menegakkan sholat. Tapi dalam Al-quran masih belum dijelaskan hal-hal yang lebih terperinci lagi seperti bagaimana melakukan sholat, apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam sholat. Maka, hal-hal seperti ini akan dijelaskan lebih terperinci lagi melalui Sunnah Rasululloh saw.
Sunnah Rasululloh saw
Sunnah Rasululloh saw adalah segala sesuatu yang berlandaskan pada Rasulullah saw. Baik berupa perkataan, perilaku, diamnya beliau sebagai tanda persetujuan, dan sifat beliau.sunnah Rasul ini menjadi landasan sumber yang pa ling kuat setelah Al quran. Nabi Muhammad menjadi sosok yang paling sentral bagi umat Islam karena umat Islam meyakini bahwa segala perbuatan Rasulullah tidak sedikit pun yang bertentangan dengan Al quran dan beliau terbebas dari kesalahan.
telah disebutkan tadi. Al-quran tidak menjelaskan bagaim,ana sholat yang sesuai dengan aturan. Lau oleh Rasul diperjelas dengan hadist beliau yang berbunyi “sholatlah kalian sebagaimana melihat aku sholat”.
Maka dari hadist ini diperoleh kesimpulan bahwa bentuk sholat yang benar adalah mengikuti apa yang telah dikerjakan oleh Rasululloh. Demikianlah, sunnah rasul yang menjadi sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Quran.
Ijma' Sahabat
Yang dimaksud sahabat disini adalah semua orang yang hidup di masa Rasululloh. Mereka tinggal bersama Rasul dan melihat langsung apa yang Rasul kerjakan dan apa yang Rasul tinggalkan.mungkin kita mengenal nama khulafaur Rasyidin. Ini adalah empat sahabat nami yang hidup dengan nabi. Mereka adalah Abu bakar as-Shiddiq, Umar bin Khatob, Usman bin Afwan, dan Ali bin Abi Thalib.
Sebenarnya masih banyak nama-nama para sahabat yang jarang sekali kita dengar seperti Ja’far bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Mush’ab Bin Umair, Abdulloh bin Rawahah serta masih banyak lagi yang lainnya yang tergolong dalam kategori sahabat yang hidup di masa Rasul.
Jadi arti Ijma' sahabat adalah kesepakatan yang telah dibuat oleh para sahabat dalammenentukan hukum berdasarkan dalil-dalil Al quran atau hadis. Para sahabat mengambil ijma' karena dalam Al quran ataupun hadis tidak dijelaskan secara teperinci sebuah ketetapan yang terjadi pada masa itu atau kini.
Dengan demikian, para sahabat mengadakan rapat dan membuat kesepakatan sehingga hasil rapat atau kesepakatan tersebut menjadi ketetapan hukum. Ijma’ ini dibuat oleh para sahabat dalam jumlah yang banyak atau lebih dari satu. Karena para sahabat tentulah tidak akan bersepakat dalam hal yang buruk.
Qiyas
Sumber hukum Islam yang keempat setelah Al-quran, Sunnah Rasul dan Ijam’ Sahabat adalah Qiyas. Qiyas berarti menjelaskan sesuatu yang tidak ada dalil nashnya dalam Al quran ataupun hadis dengan cara membandingkan sesuatu yang serupa dengan sesuatu yang hendak diketahui hukumnya tersebut.
Misalnya, dalam Al quran dijelaskan bahwa segala sesuatu yang memabukkan adalah haram hukumnya. Al quran tidak menjelaskan bahwa arak haram, sedangkan arak adalah sesuatu yang memabukkan. Dengan demikian, kita akan mengambil qiyas bahwa arak haram hukumnya karena memabukkan.
Untuk melakukan qiyas, haruslah dilakukan dengan pendalaman pemahaman tentang perkara yang akan diqiyaskan. Dan tak semua orang dapat dan boleh melakukannya karena ini berhubungan dengan terciptanya hukum islam menegnai suatu hal atau perkara.
Seseorang haruslah memiliki pemaham yang mendalam tentang perkara yang ada, memiliki pengetahuan yang juga menyeluruh tentang dalil yang ada dalam ketiga sumber hukum Islam yang ada di atas, serta kemampuan untuk mengkaitkan antara fakta perkara yang ada dengan dalil-dalil yang menjadi rujukan. Ia pun juga harus menguasai ilmu bahasa Arab yang mendalam karena kesemua hukum Islam termaktub dalam bahasa Arab.
Orang-orang dengan kriteria yang ada di atas inilah yang boleh untuk melakukan penggalian hukum islam melalui Qiyas ini. Sedangkan orang-orang yang belum termasuk dalam kriteria ini masih belum diperbolehkan melakukan penggalian hukum. Hal ini dimaksudkan agar hukum yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan Islam dan bukan merupakan hukum yang hanya asal-asalan saja.
D. Macam-macam Hukum Dalam Islam 1. Wajib (Fardlu)
Wajib adalah suatu perkara yang harus dilakukan oleh seorang muslima yang telah dewasa dan waras (mukallaf), di mana jika dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa.
Contoh : solat lima waktu, pergi haji (jika telah mampu), membayar zakat, dan lain-lain.
Wajib terdiri atas dua jenis/macam :
1. Wajib ‘ain adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh semua orang muslim mukalaf seperti sholah fardu, puasa ramadan, zakat, haji bila telah mampu dan lain-lain.
2. Wajib Kifayah adalah perkara yang harus dilakukan oleh muslimmukallaff namun jika sudah ada yang malakukannya maka menjadi tidak wajib lagi bagi yang lain seperti mengurus jenazah.
2. Sunnah/Sunnat
Sunnat adalah suatu perkara yang bila dilakukan umat islam akan mendapat pahala dan jika tidak dilaksanakan tidak berdosa.
Contoh : sholat sunnat, puasa senin kamis, solat tahajud, memelihara jenggot, dan lain sebagainya.
Sunah terbagi atas dua jenis/macam:
1. Sunah Mu’akkad adalah sunnat yang sangat dianjurkan Nabi Muhammad SAW seperti shalat ied dan shalat tarawih.
2. Sunat Ghairu Mu’akad yaitu adalah sunnah yang jarang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW seperti puasa senin kamis, dan lain-lain.
3. Haram
Contohnya : main judi, minum minuman keras, zina, durhaka pada orang tua, riba, membunuh, fitnah, dan lain-lain.
4. Makruh
Makruh adalah suatu perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan akan tetapi jika dilakukan tidak berdosa dan jika ditinggalkan akan mendapat pahala dari Allah SWT.
Contoh : posisi makan minum berdiri, merokok (mungkin haram). 5. Mubah
Mubah adalah suatu perkara yang jika dikerjakan seorang muslim mukallaf tidak akan mendapat dosa dan tidak mendapat pahala. Contoh : makan dan minum, belanja, bercanda, melamun, dan lain sebagainya.
Fungsi Hukum Islam Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri manusia membutuhkan pertolongan satu sama lain dan memerlukan organisasi dalam memperoleh kemajuan dan dinamika kehidupannya. Setiapa individu dan kelompok sosial memiliki kjepentingan. Namun demikan kepentingan itu tidak selalu sama satu saama lain, bahkan mungkin bertentangan. Hal itu mengandung poteensi terjanya benturaan daan konflik. Maka hal itu membutuhkan aturan main. Agar kepentingan individu dapaat dicapai secara adil, maka dibutuhjkan penegakkan aturan main tersebut. Aturan main itulah yang kemudian disebutdenngan hukum islam yang dan menjadi pedomaan setiap pemeeluknya.
Dalam hal ini hukum islam memiliki tiga orientasi, yaitu:
a. Mendidik indiividu (tahdzib al-fardi) untuk selalu menjadi sumber kebaikan,
b. Menegakkan keadilan (iqamat al-‘adl),
c. Merealisasikan kemashlahatan (al-mashlahah).
kehidupan di akherat yang kekal abadi, baik yang berupa hukum- hukum untuk menggapai kebaikan dan kesempurnaan hidup (jalbu al manafi’), maupun pencegahan kejahatan dan kerusakan dalam kehidupan (dar’u al-mafasid). Bbegitu juga yang berkaitan dengan kepentingan hubungan antara Allah dengan makhluknya. Maupun kepentingan orientasi hukum itu sendiri.
Sedangkan fungsi hukum islam dirumuskan dalam empat fungsi, yaitu:
1) Fungsi ibaadah. Dalam adz-Dzariyat: 56, Allah berfirman: “Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu’. Maka dengan daalil ini fungsi ibadah tampak palilng menonjol dibandingkan dengan fungsi lainnya.
2) Fungsi amr makruf naahi munkar (perintah kebaikan dan peencegahan kemungkaran). Maka setiap hukum islam bahkan ritual dan spiritual pun berorientasi membentuk mannusia yang yang dapat menjadi teladan kebaikan dan pencegah kemungkaran.
3) Fungsi zawajir (penjeraan). Aadanya sanksi dalam hukum islam yang bukan hanya sanksi hukuman dunia, tetapi juga dengan aancaman siksa akhirat dimaksudkaan agar manusia dapat jera dan takut melakukan kejahatan.
4) Fungsi tandzim wa ishlah al-ummah (organisasi dan rehabilitasi masyarakat). Ketentuan hukum sanksi tersebut bukan sekedar sebagai batas ancaman dan untuk menakut-nakuti masyarakat saja, akan tetapi juga untuk rehaabilitasi dan pengorganisasian umat mrnjadi leboh baik. Dalam literatur ilmu hukum hal ini dikenal dengan istilah fungsi enginering social.
Keempat fungsi hukum tersebut tidak dapat dipilah-pilah begitu saja untuk bidang hukum tertentu tetapi saatu deengan yang lain juga saling terkait.
1. MEMELIHARA KEMASLAHATAN AGAMA
2. MEMELIHARA JIWA
3. MEMELIHARA AKAL
4. MEMELIHARA KERUKUNAN
5. MEMELIHARA HARTA BENDA
Penerapan hukum Islam di Indonesia memang menjadi perbincangan cukup hangat beberapa tahun terakhir. Gagasan itu muncul sebab sebagian warga negara Indonesia menganut agama Islam. Indonesia merupakan negara dengan penganut Islam terbesar di dunia. Dengan demikian, muncul anggapan bahwa Indonesia dan Islam dapat berjalan selaras dan seiring sehingga tepat jika Indonesia menerapkan hukum Islam.
Penerapan hukum Islam di Indonesia sebaiknya memang ditinjau terlebih dahulu dari beberapa sisi. Jangan sampai penerapan hukum agama apapun di Indonesia nantinya malah menjadikan negara kita sebagai negara yang kesatuan bangsanya terpecah belah dan rentan konflik antar agama.
Hal yang paling penting adalah saling menjaga dengan saling
menghargai. Tidak mengusik pemeluk agama lain dalam hal keyakinan dan tata cara agamanya tersebut.
Setiap agama memiliki tata cara peribadatan yang berbeda-beda. Tentunya hal tersebut tidaklah bias dicampur-adukkan dengan
peribadatan agama yang lain. Hal ini lah yang biasanya memicu konflik yang ada di Negara Indonesia tercinta ini.
Adanya isu penerapan hukum Islam di Negara Indonesia karena adanya rasa kurang puas oleh beberapa orang terhadap hukum yang sudah ada. Hukum yang sudah ada dirasakan tidak memiliki faedah dan tidak
berpihak pada rakyat kecil.
Semua penerapan hukum yang ada dirasakan telah menyalahi aturan yang telah diberikan oleh sang pencipta yakni Allah SWT. Keadilan yang seharusnya ditegakkan untuk semua golongan tidak terjadi.
Keadilan hanyalah tegak kepada rakyat miskin saja dan tidak tegak
kekuasaan dan kekayaan yang lebih sehingga mampu menyetir hukum yang ada di Negara tercinta ini.
Tentunya semua orang akan geram ketika melihat ketidakadilan ini terlihat dan nyata ada di depan mata. Oleh karena itu, ada beberapa orang yang merasa lebih pantas mengganti aturan yang ada tersebut dengan aturan yang berasal dari sang pencipta.
Bisa dipastikan bahwa aturan yang berasal dari sang pencipta yakni Allah SWT adalah aturan yang tidak memiliki cacat sedikitpun. Karena itu tersebut merupakan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai Tuhan yang telah menciptakan manusia.
Namun aturan tersebtu tidak serta merta langsung diterima oleh khalayak ramai pada umumnya. Hal ini karena bangsa kita yakni Indonesia
merupakan bangsa yang majemuk yang terdiri dari berbagai agama.
Semua orang memiliki keyakinan agamanya masing-masing. Semuanya merasa bahwa aturan agamanya bisa diterapkan dalam setiap orang. Hal ini lah yang biasanya menjadi perdebatan atau perbincangan akan adanya aturan hukum islam yang ingin diterapkan di Negara ini.
Secara sejarah memang agama Islam pernah memiliki sebuah Negara atau yang biasa disebut daulah yang sangat besar. Karena Negara
tersebutlah agama islam bisa diterapkan dan sebarkan ke seluruh penjuru negeri yang ada di dunia ini.
Bangsa arab yang merupakan bangsa yang tertinggal dan terkenal sebagai bangsa barbar mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat akibat dari adanya Islam. Saat Islam datang ke negeri Arab, bangsa arab merupakan bangsa yang sangat bodoh.
Banyak sekali peradabannya yang tidak masuk akal. Bayi yang terlahir sebagai perempuan banyak yang dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai sebuah aib keluarga. Tidak hanya sampai di situ saja kebudayaan arab yang sangat jahiliyah. Masih banyaka lagi lainnya yang masih jahil.
Namun semua berubah ketika Islam datang ke negeri tersebut. Negeri itu bukanlah lagi negeri yang bodoh dan tercerai berai. Nilai-nilai kesukuan yang selama ini memecah belah persatuan seluruh bangsa arab sekarang menjadi pemersatu semua bangsa arab.
Dengan bersatunya bangsa arab di bawah satu panji yakni Islam menjadi bangsa Arab sebagai bangsa yang kuat. Sedikit demi sedikit Negara tetangga yang berada di sekitar wilayah arab pun ditundukkan.
membawa nilai Islam tidak memaksakan agamanya kepada pemeluk agama lain. Bahkan agama islam memberikan jaminan keamanan kepada agama lain yang berada di wilayah kekuasaan islam.
Oleh sebab itulah, maka banyak sekali penduduk yang berada di wilayah kekuasaan islam pada waktu itu berduyun-duyun masuk ke agama islam. Semua itu dikarenakan oleh nilai kearifan yang diberikan oleh agama islam yang telah membebaskan meraka semua dari tirani yang telah lama membelenggu mereka.
Hal inilah yang coba diterapkan ke dalam Negara tercinta ini. Tentu saja semua tidak semudah membalik telapak tangan. Harus ada pertimbangan dan persetujuan dari semua orang yang tinggal di dalam Negara ini.
Kesimpulan: