• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Jakarta, 11 April Masduki Direktur Program dan Produksi LPP RRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Jakarta, 11 April Masduki Direktur Program dan Produksi LPP RRI"

Copied!
164
0
0

Teks penuh

(1)

0

(2)

1

KATA PENGANTAR

Memasuki periode kedua sebagai lembaga penyiaran publik, RRI memperkuat basis pengetahuan, pengalaman dan standar profesional untuk para awak siaran khususnya pemberitaan.

Sebagai salah satu pilar siaran yang membentuk citra, reputasi, dan memberi pencerahan kepada publik, bidang pemberitaan RRI harus selalu melakukan inovasi, penguatan standar kinerja, keterbukaan untuk dinilai dan penguatan orientasi untuk pelayanan publik yang heterogen.

Terhitung sejak November 2010, berbagai pertemuan regional dan nasional, workshop, lokakarya, dan evaluasi nasional telah dilakukan untuk memotret manajemen pemberitaan RRI, selanjutnya menjadi referensi kebijakan untuk kemudian dibakukan dalam Smart Book ini.

Panduan ini memuat berbagai kebijakan dan sekaligus panduan operasional angkasawan pemberitaan LPP RRI yang harus diacu semua pihak terkait dan akan menjadi standar kinerja tahunan bagi setiap pimpinan pada satuan kerja.

Terima kasih disampaikan kepada Dewan Pengawas LPP RRI, Dewan Direksi, khususnya Direktur Utama, dan para pimpinan satuan kerja LPP RRI se-Indonesia yang berkontribusi besar bagi lahirnya panduan operasional ini.

Panduan ini secara relatif bisa dikatakan jauh lebih memadai dari panduan yang ada sebelumnya.

Jakarta, 11 April 2011

Masduki Direktur Program dan Produksi LPP RRI

(3)

2

(4)

3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1

Penetapan Regulasi Pemberitaan 2

Daftar Isi 3

Sambutan Direktur Utama RRI 4

Tri Prasetya RRI 5

Logo RRI 6

I Latar Belakang 8

II Visi, Misi, dan Kebijakan Penyiaran 10 III Struktur Organisasi Dewan Redaksi RRI 13 IV Kinerja Organisasi Dewan Redaksi RRI 17 V Mekanisme Rapat Dewan Redaksi RRI 25

VI Format Programa 3 RRI 31

VII Standar Operasional

Kantor Berita Radio Nasional

33 VIII Pedoman Siaran Berjaringan Pro-3 43 IX Kebijakan Redaksional Voice of Indonesia 52

X Perwakilan RRI Luar Negeri 66

XI Kode Etik Jurnalistik (KEJ) 73

XII Kode Etik Angkasawan RRI 80

Lampiran

1 Pola Siaran Programa 3 RRI 86

2 Pola Siaran Voice of Indonesia 116 3 Reporter RRI Se-Indonesia 2011 130 4 Data Stasiun RRI Se-Indonesia 146 5 Layanan Keluhan Pendengar RRI 151 6 Struktur dan Formulir Agenda Setting 152 7 Lembar Pemantauan dan Laporan Kinerja 155

8 Kerja Sama RRI-LKBN ANTARA 159

(5)

4

SAMBUTAN DIREKTUR UTAMA RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memiliki tradisi yang panjang dalam mengelola penyiaran sebagai media publik. RRI adalah media massa yang menjalankan fungsi jurnalistik dan menganut prinsip- prinsip jurnalisme yang independen, netral, dan kredibel.

Inovasi dalam pelayanan publik merupakan konsekuensi dari keberadaan RRI sebagai media massa yang tumbuh dinamis, mengikuti dinamika khalayaknya.

Puji syukur, buku yang merupakan kompilasi berbagai regulasi baru bidang pemberitaan ini telah selesai dan siap diacu oleh seluruh insan RRI. Sebagai lembaga penyiaran yang menetapkan visi menjadi lembaga berkelas dunia, maka indikator kinerja, standar profesional, serta reward and punishment harus disampaikan terbuka dan dapat disupervisi oleh publik, tidak hanya kalangan internal RRI sendiri.

Buku besar bertajuk Smart Book Pemberitaan RRI 2011, ini merupakan terobosan penting Direktorat Program dan Produksi LPP RRI dan bagian dari agenda strategis Direksi periode 2010-1015.

Panduan adalah “lampu” bagi angkasawan LPP RRI dalam menjalankan profesi. Panduan ini harus diikuti semua insan RRI di manapun di seluruh Indonesia.

Uraian panduan ini menganut pola manajemen redaksional:

perencanaan: agenda setting, operasional tugas-tugas produksi pemberitaan, monitoring, dan evaluasi dalam bentuk indikator kinerja dan panduan pembuatan laporan. Kami menyambut baik.

Selamat membaca dan melaksanakan.

Jakarta, 14 April 2011 Dra. R. Niken Widiastuti, M.Si Direktur Utama LPP RRI

(6)

5

TRI PRASETYA RRI

Kita harus menyelamatkan segala alat siaran radio dari siapapun yang hendak menggunakan alat tersebut untuk

menghancurkan negara kita dan membela alat itu dengan segala jiwa raga, dalam keadaan bagaimanapun

dan akibat apapun.

Kita harus mengemudikan siaran RRI sebagai alat perjuangan dan alat revolusi seluruh bangsa Indonesia

dengan jiwa kebangsaan yang murni, hati yang bersih dan jujur, serta budi yang penuh kecintaan dan

kesetiaan kepada tanah air dan bangsa.

Kita harus berdiri di atas segala aliran dan keyakinan, partai, atau golongan dengan mengutamakan persatuan

bangsa dan keselamatan negara serta berpegang pada jiwa proklamasi 17 Agustus 1945.

(7)

6

LOGO RRI

Bentuk Empat Persegi Panjang, Tanpa Sudut dan Garis Tepi Empat persegi panjang menggambarkan kekokohan dan

solidaritas. Sudut-sudut yang membulat (tidak runcing) melambangkan fleksibilitas RRI.

Tidak adanya garis tepi/batas ataupun bingkai (frame) menunjukkan independensi RRI, serta keterbukaan RRI untuk

dapat bekerjasama dengan berbagai pihak.

Tulisan (font-type) “RRI”

Huruf tulisan ini dirancang khusus (tanpa padanan dengan pihak lain), menunjukkan RRI yang kokoh, tegas, dinamis, dan selalu

“bergerak maju”.

(8)

7 Gambar Pancaran Radio

Sebuah image yang menggambarkan kuatnya pancaran siaran radio RRI yang makin meluas, menembus batas, dan selalu

“menuju ke atas”. Tiga lapis pancaran yang terlihat pada logo juga melambangkan Tri Prasetya RRI.

Warna Biru, Biru Langit, dan Putih

Untuk mempertahankan tradisi, warna biru dipilih sebagai warna korporat/lembaga RRI. Warna biru langit ini melambangkan universalitas RRI, sifat mengayomi, teduh, dan dapat dipercaya.

Warna putih pada tulisan RRI melambangkan kejujuran/

kebenaran, keberimbangan, dan akurasi.

(9)

8

I

LATAR BELAKANG

Transformasi RRI dari lembaga penyiaran milik pemerintah ke lembaga penyiaran publik sejak tahun 2002 mengalami proses dan dinamika tersendiri, mengingat lembaga ini lebih identik sebagai institusi birokratik ketimbang media massa. Patut diakui, masih terdapat dualisme antara posisi struktural sebagai pejabat negara di kalangan SDM RRI dengan praktisi media massa yang independen, berorientasi kepada publik.

Dengan kata lain, RRI adalah lembaga penyiaran yang memiliki kombinasi unik. Sebab, secara struktural RRI mengacu pada standar posisi dan TUPOKSI birokrasi kelembagaan negara yang lebih fokus kepada kinerja individu. Model karir dan pengembangan kompetensi yang berlaku di RRI berbasis government administrative service, bukan public broadcasting service. Selain itu, secara fungsional RRI bergerak ke model media massa, namun tanpa Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) yang baku. Meskipun, hasrat dan ambisi untuk berubah amat tinggi.

Secara mendasar RRI seharusnya adalah sebuah institusi media massa, yang menjalankan fungsi manajerial dan operasional menurut prinsip-prinsip manajemen media massa, khususnya media penyiaran publik. Pada faktanya, LPP RRI menghadapi sejumlah problem redaksional yang khas, yaitu struktur organisasi fungsional redaksi yang belum standar di pusat dan daerah, TUPOKSI yang belum jelas/dipahami, mekanisme kerja redaksional yang belum mengacu kepada prinsip sebagai redaksi media massa, serta standar kualifikasi dan jenjang karir pemberitaan berbasis struktur media yang belum ada/diterapkan.

Menghadapi problematika ini, RRI haruslah melakukan transformasi/perubahan agar bisa menjadi lembaga penyiaran publik yang lebih baik dan ideal. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan dengan prinsip-prinsip antara lain: orientasi kepada hasil

(10)

9

terbaik, bukan sekadar jumlah produksi/kuantitas kerja; pertaruhan merebut kredibilitas publik, bukan sekadar kepuasan individu/

lembaga; dan membentuk teamwork redaksi yang solid, setara, egaliter, dan menembus batas birokrasi.

Upaya adaptasi, integrasi, serta transformasi nilai-nilai media yang profesional, independen, dan mengedepankan integritas terus berlangsung, antara lain dengan membenahi kinerja redaksional (newsroom) RRI dan benchmarking ke berbagai negara seperti Swedia, Inggris, Amerika dan Australia yang memiliki pengalaman lebih baik dalam hal radio publik.

Hingga tahun 2011, RRI memiliki programa pemberitaan yang kredibel dan newsroom yang kental dengan pengambilan keputusan berita berdimensi kritis melalui Pro-3 berjaringan nasional. Namun, belum ada database SDM, standar kinerja dan panduan komprehensif tentang etika profesi, alur, mekanisme kerja, juga standar minimal kegiatan sebuah redaksional radio public yang seharusnya beroperasi.

Karena itu, pengembangan model redaksional LPP RRI di pusat dan daerah sungguh diperlukan. Hal ini agar RRI dapat memenuhi harapan publik dan tumbuh seirama dengan pertumbuhan kompetitif media. Maka, diperlukan struktur redaksional yang baik. Juga penjelasan mengenai apa saja tugas/fungsi masing-masing awak redaksi, kualifikasi ideal pemimpin redaksi, redaktur dan level di bawahnya, jenjang karir, reward dan punishment yang diberlakukan, dan sebagainya.

(11)

10

II

VISI, MISI, DAN KEBIJAKAN PENYIARAN

Visi LPP RRI periode 2010-2015 adalah: “Mewujudkan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia sebagai radio berjaringan terluas, pembangun karakter bangsa, berkelas dunia”.

Sedangkan misi LPP RRI adalah:

1. Memberikan pelayanan informasi terpercaya yang dapat menjadi acuan dan sarana kontrol sosial masyarakat dengan memperhatikan Kode Etik Jurnalistik/kode etik penyiaran.

2. Mengembangkan siaran pendidikan untuk mencerah-kan, mencerdaskan, memberdayakan, serta mendorong kreativitas masyarakat dalam kerangka membangun karakter bangsa.

3. Menyelenggarakan siaran yang bertujuan menggali, melestarikan, dan mengembangkan budaya bangsa, memberikan hiburan yang sehat bagi keluarga, serta membentuk budi pekerti dan jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.

4. Menyelenggarakan program siaran berperspektif gender yang sesuai dengan budaya bangsa dan melayani kebutuhan kelompok minoritas.

5. Memperkuat program siaran di wilayah perbatasan untuk menjaga kedaulatan NKRI.

6. Meningkatkan kualitas siaran luar negeri dengan program siaran yang mencerminkan politik negara dan citra positif bangsa.

7. Meningkatkan partisipasi publik dalam proses penye- lenggaraan siaran mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program siaran.

8. Meningkatkan kualitas audio dan memperluas jangkauan siaran secara nasional dan internasional dengan mengoptimalkan sumber daya teknologi yang ada dan mengadaptasi

(12)

11

perkembangan teknologi penyiaran serta mengefisienkan pengelolaan operasional maupun pemeliharaan perangkat teknik.

9. Mengembangkan organisasi yang dinamis, efektif, dan efisien dengan sistem manajemen sumber daya (SDM, keuangan, aset, informasi, dan operasional) berbasis teknologi informasi dalam rangka mewujudkan tata kelola lembaga yang baik (good corporate governance).

10. Memperluas jejaring dan kerjasama dengan berbagai lembaga di dalam dan luar negeri yang saling mem-perkuat dan menguntungkan.

11. Memberikan pelayanan jasa-jasa yang terkait dengan penggunaan dan pemanfaatan aset negara secara profesional dan akuntabel serta menggali sumber-sumber penerimaan lain untuk mendukung operasional siaran dan meningkatkan kesejahteraan pegawai.

Dasar hukum kebijakan penyiaran LPP RRI adalah: UU Dasar Tahun 1945, UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, PP Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyeleng-garaan LPP, PP Nomor 12 Tahun 2005 tentang LPP RRI dan Peraturan Perundangan terkait lainnya. Dalam melaksanakan tugas di bidang penyiaran, maka RRI merujuk pada asas, tujuan, dan fungsi yang ditetapkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yaitu bahwa penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, keberagaman, kemitraan, kebebasan, dan tanggung jawab.

Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.

Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat social serta memajukan kebudayaan.

(13)

12

Kebijakan Penyiaran LPP RRI adalah:

1. Kegiatan penyiaran ditujukan untuk memberikan informasi, pendidikan, dan hiburan melalui berbagai program siaran yang diharapkan memperkaya wawasan dan mendorong keikutsertaan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta menjadi wahana kontrol sosial.

2. Kegiatan siaran berita, harus menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.

3. Kegiatan penyiaran harus memberikan ruang kepada kelompok minoritas, kelompok khusus, perempuan, dan anak.

4. Kegiatan penyiaran harus dilakukan dengan kreatif dan berkualitas tinggi.

5. Kegiatan penyiaran harus memberikan peluang bagi pengembangan kreativitas dan inovasi masyarakat serta nilai- nilai kearifan lokal.

6. Kegiatan penyiaran harus menjadi wahana pelestarian dan pengembangan kebudayaan nasional.

7. Kegiatan penyiaran harus mendukung integrasi nasional, kedaulatan NKRI, dan menjaga citra positif bangsa di dunia internasional.

8. Kegiatan penyiaran berpedoman pada Pedoman Perilaku Penyiaran/Standar Program Siaran (P3SPS) Komisi Penyiaran Indonesia.

9. Kegiatan pengembangan siaran diarahkan untuk me-layani seluruh lapisan masyarakat, demi penguatan karakter bangsa.

(14)

13

III

STRUKTUR ORGANISASI DEWAN REDAKSI RRI

Dalam manajemen penyelenggaraan siaran berita, baik di tingkat nasional maupun lokal, secara fungsional SDM di bidang pemberitaan RRI menjalankan tugas yang mengacu kepada prinsip suatu media massa. Struktur organisasi redaksi LPP RRI dapat digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:

Keseluruhan struktur yang ada di atas disebut :

DEWAN REDAKSI NASIONAL LPP RRI

Pemimpin Umum/Ketua Dewan

Redaksi Nasional Direktur Utama RRI Wakil Ketua Dewan Redaksi

Nasional

Direktur Program dan Produksi

PU/Ketua DRN

Wakil Ketua DRN OMBUDSMAN

Pemred Puspem

Pemred SLN Pemred RRI Daerah

DAERAH

Wakil Pemred Wakil Pemred Wakil Pemred

(15)

14 Anggota Dewan Redaksi

Nasional

PU/Ketua dan Wakil Ketua DRN, Pemimpin Redaksi dan Wakil Pemimpin Redaksi pada Pusat Pemberitaan, Siaran Luar Negeri, RRI Jakarta (ex- officio RRI Daerah), Kepala Bidang Pemberitaan Direktorat PP (Deputi DRN) Ombudsman

5 orang, terdiri dari wakil Dewan Pengawas, wakil tokoh publik dan/atau pakar pers

Pemimpin Redaksi

Kepala Pusat Pemberitaan, Siaran Luar Negeri (sekaligus membawahi Perwakilan Luar Negeri), Kepala RRI Daerah (termasuk RRI Jakarta)

Wakil Pemimpin Redaksi

Kepala bidang Program dan Produksi Pusat Pemberitaan, Kepala Bidang Pemberitaan Satker LPP RRI di Pusat atau Daerah

Ketentuan Pembentukan dan Rapat Dewan Redaksi

1. Rapat Dewan Redaksi Nasional digelar sekali dalam satu bulan, dipimpin oleh Ketua DRN, diikuti anggota, dan Pemimpin Redaksi, Wakil Pemimpin Redaksi Satker Kantor Pusat sebagai ex-officio (Kepala SLN, Kepala Puspem, Kepala RRI Jakarta beserta para Kabid terkait). Rapat dapat dilaksanakan jika jumlah yang hadir memenuhi kuorum.

2. Rapat DRN digelar setiap minggu terakhir dari bulan berjalan, untuk merumuskan kebijakan pemberitaan LPP RRI

(16)

15

(agenda setting isu-isu strategis untuk diliput RRI di dalam dan di luar negeri) pada bulan berikutnya yang berlaku secara nasional. Rapat Dewan Redaksi Nasional untuk pemberitaan luar negeri dapat diselenggarakan secara khusus sesuai kebutuhan.

3. Rapat Dewan Redaksi Nasional dipimpin Ketua Dewan Redaksi Nasional, rapat Dewan Redaksi Satuan Kerja di Pusat dan Daerah dipimpin oleh Pemimpin Redaksi Satuan Kerja setempat.

4. Dalam kondisi ketua DRN berhalangan hadir, maka rapat dipimpin oleh Wakil Ketua. Hasil-hasil rapat kemudian wajib dilaporkan kepada ketua DRN. Hal serupa juga berlaku untuk rapat Dewan Redaksi di tingkat satuan kerja.

5. Rapat Dewan Redaksi Nasional dan Daerah harus membahas agenda setting yang melingkupi/ kombinasi dari tiga aspek: agenda/isu yang berkembang di publik, agenda/isu yang berkembang di media umum dan agenda/isu yang dirancang sendiri oleh RRI setempat.

Agenda setting yang dirancang sendiri oleh RRI harus mencerminkan visi dan misi RRI.

6. Reporter RRI daerah, di manapun keberadaannya sekaligus juga berfungsi sebagai reporter Pusat Pemberitaan yang setiap saat dapat dihubungi dan wajib menyampaikan laporan berita untuk Pusat Pemberitaan dan untuk RRI di daerah lain jika diminta.

7. Undangan pihak eksternal yang ditujukan kepada Pemimpin Redaksi RRI harus dihadiri Pemimpin Redaksi/Wakil Pemimpin Redaksi, yang ditunjuk/berdasarkan disposisi oleh Ketua dan atau Wakil Ketua DRN.

8. Hasil rapat DRN harus disosialisasikan ke seluruh daerah, ditandatangani Ketua atau Wakil Ketua DRN, paling lambat tiga hari setelah rapat DRN dan bersifat arahan strategis yang harus dipatuhi seluruh jajaran Pemimpin/Wakil Pemimpin Redaksi RRI daerah.

(17)

16

9. Rapat Evaluasi Tahunan Pemberitaan RRI diselenggarakan oleh Dewan Redaksi Nasional, di bawah koordinasi Direktorat Program dan Produksi yang diikuti Ketua, Wakil Ketua DRN, Pemimpin Redaksi/Wakil RRI Satker Pusat dan Daerah, Wakil Ombudsman.

10. Organisasi redaksi LPP RRI di Pusat dan Daerah harus dibentuk paling lambat minggu ketiga bulan Desember yang berlaku efektif bulan Januari tahun berikutnya untuk masa kerja satu tahun. Organisasi redaksi nasional diangkat oleh Direktur Utama, sedangkan organisasi redaksi daerah diangkat oleh Kepala Satker setempat.

11. Jika diperlukan, Satuan kerja RRI daerah dapat membentuk Dewan Redaksi Daerah dengan anggota terdiri dari Pemimpin Redaksi, Wakil Pemimpin Redaksi, Kabid/Kasi Siaran, dan wakil reporter RRI setempat maksimal 9 orang anggota (seluruhnya).

(18)

17

IV

KINERJA ORGANISASI DEWAN REDAKSI RRI

SEKTOR JABATAN KETERANGAN TUPOKSI Struktural

(Pusat dan Daerah)

Pemimpin Umum

Direktur Utama Pemimpin Umum bertanggung jawab atas ke- seluruhan jalan- nya penyeleng- garaan kegiatan pemberitaan.

Dewan Redaksi Nasional

Dewan Redaksi Nasional : 1. Dirut 2. Direktur PP 3. Kepala

Puspem 4. Kepala SLN 5. Kepala RRI

Jakarta 6. Kepala Bidang Pemberitaan Direktorat PP 7. Kepala

Bidang Produksi Puspem 8. Kepala

Bidang Program Puspem 9. Kepala

Bidang

Dewan Redaksi Nasional memiliki tugas:

- Menentukan agenda utama berita nasional dan inter- nasional, khususnya yang terkait/relevan dengan ke- pentingan bangsa dan negara.

- Memberi masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional menyangkut berita tentang

(19)

18

Program RRI Jakarta 10. Kepala

Bidang Pemberitaan SLN

SARA atau yang tidak sesuai dengan visi dan misi RRI.

Dewan Redaksi Daerah

Dewan Redaksi Daerah:

1. Kepala Satker 2. Kepala

Bidang/Seksi Pemberitaan 3. Kepala

Bidang/Seksi Programa Siaran 4. Wakil

Reporter

- Dewan Redaksi Daerah

berdasarkan arah dan tuju- an Dewan Redaksi Nasional mem- beri masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional daerah . - Dewan Redaksi

Daerah dapat memberikan usulan/

masukan ten- tang isu atau peristiwa di daerah yang bernilai nasional (national value) kepada Dewan Redaksi Nasional.

Pemimpin Redaksi

Kepala Satker di Pusat dan Daerah

- Pemimpin Redaksi bertanggung-

(20)

19

jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari.

- Pemimpin Redaksi menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional.

- Pemimpin Redaksi bertanggung- jawab atas konten siaran terutama hal yang me- nyangkut editorial (opini redaksi).

- Pemimpin Redaksi bertanggung- jawab atas berbagai masalah hukum yang timbul dari kinerja reporter yang berkaitan dengan tugas liputan (pelanggaran kode etik dan UU Pers).

(21)

20 Wakil

Pemred I dan Wakil Pemred 2

Kepala Bidang Program Puspem Kepala Bidang Produksi Puspem Kepala Bidang Pemberitaan SLN

Kepala Bidang Siaran SLN Kepala Bidang Produksi RRI Jakarta Kepala

Bidang/Kepala Seksi

Pemberitaan (RRI daerah)

- Wakil Pemred adalah perpanjangan tangan dari Pemred yang juga memiliki tanggung jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari.

- Wakil Pemred memberikan laporan rutin tentang hal tersebut ke- pada Pemred.

- Wakil Pemred bertugas memimpin Rapat Agenda Liputan Harian.

Redaktur Kepala 1 Redaktur Kepala 2 Redaktur Kepala 3

Kepala Seksi Redaksi, Liputan Puspem

Kepala Seksi Produksi dan Pengembangan Berita Puspem Kepala Seksi Siaran Olahraga Puspem

- Redaktur Kepala bertanggung- jawab terhadap aktivitas kerja teknis.

- Redaktur Kepala memimpin langsung aktivitas siaran.

(22)

21 Kepala Seksi Redaksi dan Reportase SLN Kepala Seksi Program dan Produksi Siaran Wilayah 1 SLN Kepala Seksi Program dan Produksi Siaran Wilayah 2 SLN Kepala Seksi Redaksi dan Liputan RRI Jakarta Kepala Seksi Liputan, berita dan dokumen- tasi

Kepala Seksi Pengembangan Berita

Kepala Seksi Olahraga (RRI daerah) Fungsi-

onal

Desk Editor/

Produser

Kepala desk, Produser (Puspem, SLN, RRI Jakarta, Satker daerah )

- Desk editor bertugas melakukan editing, penyuntingan,

(23)

22 Koordinator studio produksi Koresponden luar negeri

perbaikan naskah yang akan disiarkan.

- Koresponden bertugas meliput, me- nyusun dan memproduksi berita sesuai penugasan.

Koresponden dapat meng- usulkan materi liputan kepada Koordinator Liputan Luar Negeri.

- Produser bertanggung- jawab terhadap angle, isi, dan tujuan yang ditetapkan dalam one day part.

Koordinator liputan/

Pengarah Acara

Untuk semua Satker

- Koordinator liputan

mengkoordina- si, menugaskan reporter pada titik-titik liputan sesuai

keputusan Rapat Agenda Setting.

(24)

23

- Koordinator liputan bertugas mengendalikan pergerakan reporter sesuai arah dan isu yang

berkembang.

- Koordinator liputan me- ngarahkan angle liputan.

- Pengarah acara bertugas mengendalikan acara, memberi masukan kepada presenter dan menjaga kon- tinuitas siaran.

- Dalam melakukan kegiatan, berkoordinasi dan mem- peroleh persetujuan Produser.

Reporter/

Koresponden/

Presenter

Untuk semua Satker

- Reporter dan atau kores- ponden ber- tugas meliput, menyusun, dan memproduksi berita.

(25)

24

- Presenter bertugas me- lakukan ke- giatan kon- tinuitas siaran (baik dalam bentuk dialog maupun running program).

Kontributor Untuk liputan khusus/

insidentil

- Kontributor bertugas meliput, menyusun, dan memproduksi berita sesuai penugasan.

- Kontributor dapat

mengusulkan materi liputan kepada Korlip.

Kontrol Publik

Ombudsman Monitoring periodik dan insidentil atas konten berita RRI berdasarkan laporan

masyarakat

Lembaga

independen yang dibentuk RRI, berwenang me- lakukan klarifikasi, monitoring, pemeriksaan atas keluhan/laporan masyarakat mengenai siaran berita RRI Pusat dan Daerah.

(26)

25

V

MEKANISME RAPAT DEWAN REDAKSI RRI

1. Jenis Kegiatan : Agenda Setting Lembaga Deskripsi : Fokus Kebijakan Lembaga Partisipan : Dewan Pengawas, Direksi Penanggungjawab : Ketua Dewan Pengawas

Prosedur :

a. Dewan Pengawas dan Direksi melakukan evaluasi kebijakan redaksional 5 tahun sebelumnya.

b. Dewas dan direksi membahas rumusan agenda setting lembaga setiap 5 tahun sekali.

c. Dilaksanakan satu bulan setelah terbentuknya dewan redaksi.

Indikator :

Tersusunnya beberapa bidang/isu publik yang menjadi prioritas RRI untuk 5 tahun ke depan.

2. Jenis Kegiatan : Agenda Setting/Rapat Evaluasi Nasional Tahunan

Deskripsi :

a. Isu nasional yang menjadi fokus RRI b. Mengevaluasi agenda setting tahunan

Partisipan : Ketua dan Wakil Ketua DRN, Ombudsman, Pemimpin Redaksi/

Wakil Pemimpin Redaksi, Satker Pusat dan Daerah

Penanggungjawab : Direktur Utama

Prosedur :

a. Direksi dan Kasatker melakukan evaluasi implementasi kebijakan redaksional sebelumnya.

b. Mencermati isu atau masalah yang berkembang sesuai agenda media massa.

(27)

26

c. Menerima usulan dan masukan RRI di Jakarta, daerah, dan luar negeri, serta membahas implementasinya di seluruh RRI.

d. Merumuskan dan menetapkan kebijakan agenda setting tahunan RRI

e. Dilaksanakan setiap awal bulan Desember.

Indikator :

a. Diketahui keberhasilan dan kegagalan dalam pelaksanaan hasil agenda setting tahunan periode sebelumnya, serta jumlah kegiatan secara kuantitatif maupun efek yang ditimbulkan dari kegiatan yang dilakukan.

b. Ada keselarasan antara permasalahan yang menjadi sorotan di RRI daerah dan di Pusat.

c. Ditetapkannya langkah dan format yang akan dipakai dalam aplikasi agenda setting.

d. Tersusunnya fokus pembahasan dari bidang-bidang yang menjadi prioritas dari hasil agenda setting lembaga.

e. Didapatkan data mengenai kendala-kendala dalam mengaplikasikan hasil agenda terdahulu, sebagai rujukan untuk pelaksanaan selanjutnya.

3. Jenis Kegiatan :

A. Agenda setting Redaksi Nasional di Dalam dan Luar Negeri

Deskripsi :

a. Mengimplementasikan agenda nasional dlm siaran RRI baik untuk siaran lokal, nasional maupun internasional (siaran, spot, lagu).

b. Mengevaluasi indikator keberhasilan agenda setting bulanan.

Partisipan : Ketua, Wakil Ketua dan Seluruh anggota Dewan Redaksi Nasional Penanggungjawab : Direktur Program dan Produksi

Prosedur :

a. Melakukan evaluasi implementasi kebijakan redaksional RRIdi dalam dan luar negeri.

(28)

27

b. Mencermati agenda media dan agenda publik selama satu bulan sebelumnya.

c. Merumuskan dan menetapkan agenda setting nasional untuk satu bulan ke depan.

d. Menetapkan prioritas program acara (wawancara, dialog, buletin, ROS, spot, lagu) yang mencerminkan agenda setting RRI.

e. Menetapkan satu topik yang akan dibahas dan ditelusuri secara mendalam (investigative reporting).

f. Dilaksanakan minggu terakhir setiap bulan.

g. Mendistribusikan hasil kebijakan agenda setting ke RRI daerah yang sudah harus diterima selambatnya tiga hari setelah keputusan rapat.

Indikator :

a. Didapatkan data mengenai hasil pelaksanaan agenda setting bulan sebelumnya, baik keberhasilan pelaksanaan secara kuantitatif, serta hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan.

b. Didapatkan solusi dalam mengatasi kendala untuk melaksanakan hasil agenda bulan sebelumnya jika masih akan dilanjutkan pada bulan ini.

c. Didapatkan fokus topik liputan dan pembahasan secara lebih jelas dari penjabaran hasil agenda setting nasional tahunan yang dapat dilaksanakan oleh pusat pemberitaan dan RRI daerah.

d. Didapatkan satu topik khusus yang akan ditindaklanjuti secara mendalam (investigasi) melalui berbagai sudut pandang.

B. Agenda setting Redaksi Daerah

Deskripsi : Mengimplementasikan kebutuhan daerah dengan memprioritaskan hasil agenda setting nasional dalam siaran RRI daerah.

Partisipan : Ketua dan Seluruh Anggota Dewan Redaksi Daerah

(29)

28

Penanggungjawab : Kepala Satuan Kerja Pusat dan atau Daerah

Prosedur :

a. Melakukan evaluasi implementasi kebijakan redaksional RRI.

b. Mencermati kecenderungan agenda media dan agenda publik selama satu bulan sebelumnya.

c. Merumuskan usulan dan masukan untuk bahan rapat agenda setting nasional bulanan. Dilaksanakan satu pekan sebelum rapat agenda setting nasional bulanan.

d. Melaksanakan rapat agenda setting bulanan sesuai arahan agenda setting nasional. Dilaksanakan setelah RRI daerah menerima hasil agenda setting nasional bulanan selambatnya satu pekan.

e. Menetapkan prioritas program acara (wawancara, dialog, buletin, ROS, spot, lagu) yang mencerminkan agenda setting RRI.

f. Menetapkan satu topik yang akan dibahas dan ditelusuri mendalam (investigative reporting) oleh masing-masing RRI daerah.

g. Mendistribusikan hasil kebijakan agenda setting ke RRI daerah yang sudah harus diterima selambatnya tiga hari setelah rapat.

Indikator :

a. Didapatkan hasil evaluasi mengenai pelaksanaan hasil agenda setting nasional di daerah serta kendala yang dihadapi di lapangan.

b. Didapatkan solusi pemecahan masalah untuk melaksanakan hasil agenda daerah yang belum terlaksana pada bulan sebelumnya, jika memang memungkinkan.

c. Didapatkannya kesepakatan mengenai be-berapa fokus pembahasan untuk satu bu-lan ke depan dengan mengabungkan hasil agenda setting nasional bulanan dan kebutuhan masyarakat di daerah.

(30)

29 4. Jenis Kegiatan :

A. Agenda setting Liputan/Redaksi Nasional

Deskripsi :

a. Mengimplementasikan agenda bulanan (liputan, dialog, siaran ROS).

b. Mengevaluasi agenda harian.

Partisipan : Dewan Redaksi Pusat Pemberitaan Penanggungjawab : Kabid/Kasi Terkait di Satker Pusat

Prosedur :

a. Melakukan evaluasi program acara siaran sesuai agenda setting dan agenda media serta mengimplementasikan hasil agenda setting nasional bulanan.

b. Mengirim hasil agenda setting harian ke daerah sebagai rujukan agenda setting redaksi daerah sebelum jam 12.00 WIB.

c. Menetapkan angle, fokus liputan, narsum, dan editorial RRI.

Indikator :

a. Didapatkan data evaluasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif (jumlah laporan juga narasumber yang dihadirkan, cara menyampaikan materi), sehari sebelumnya sesuai rekomendasi hasil agenda setting sebelumnya.

b. Didapatkan kesepakatan mengenai fokus topik liputan dan pembahasan serta topik pendukung yang mencangkup format penyampaian, narasumber, angle serta editorial.

c. Menetapkan petugas yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan hasil agenda setting.

B. Agenda setting Liputan/Redaksi Daerah

Deskripsi :

a. Mengimplemantasikan hasil agenda setting daerah dg menyesuaikan pada hasil agenda setting liputan redaksi nasional (liputan, dialog, siaran ROS).

b. Mengevaluasi agenda harian.

(31)

30

Partisipan : Dewan Redaksi RRI Daerah

Penanggungjawab : Kabid/Kasi terkait di Satker Daerah

Prosedur :

a. Melakukan evaluasi program acara siaran sesuai agenda setting dan agenda media serta mengimplementasikan hasil agenda setting nasional bulanan.

b. Mengirim hasil agenda setting harian ke Puspem melalui e-mail selambatnya jam 09.00 waktu setempat.

c. Menetapkan angle, fokus liputan, narsum, dan editorial RRI.

Indikator :

a. Didapatkan hasil evaluasi pelaksanaan hasil agenda setting sehari sebelumnya serta kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan serta solusi yang dapat dilakukan jika topik yang dimaksud akan terus dilanjutkan.

b. Didapatkan fokus topik pembahasan serta liputan dan topik-topik lainnya yang akan dibahas pada hari ini dengan mengacu pada hasil agenda setting liputan/

redaksi nasional dengan menyelaraskan pada kebutuhan masyarakat daerah.

c. Didapatkan petugas pelaksanaan kegiatan dengan kepastian fokus sorotan, angle, narsum yang dihadirkan serta editorial RRI setempat.

Setiap kegiatan evaluasi pemberitaan di pusat dan daerah harus meliputi:

1) Evaluasi kuantitatif (banyaknya item laporan, banyaknya dialog, spot pendukung, dan lain-lain dalam pembahasan sebuah topik)

2) Evaluasib kualitatif (efek yang timbul/pengaruh terhadap kebijakan pemerintah atau kondisi riil masyarakat, serta banyaknya penelepon dan pengirim SMS yang ikut serta di saat siaran berita berlangsung, dan lain-lain)

3) Kesiapan perangkat pendukung pelaksanaan (teknis, SDM, maupun keuangan)

(32)

31

VI

FORMAT PROGRAMA 3 RRI

Programa 3 Jaringan Berita Nasional (News and Current Affairs)

1 Sasaran Khalayak :

20-60 tahun

Pendengar utama 30 -50 tahun Pendengar kesatu 50 - 60 tahun Pendengar kedua 20 - 29 tahun 2 Pendidikan : SLTA ke atas

3 Jenis Kelamin : Perempuan Laki-laki

4 SES : A, B, C, D

5 Sasaran Wilayah : Perkotaan dan Perdesaan Format Stasiun : News and Current Affairs 6 Visi Programa : Pusat Berita dan Informasi 7 Sebutan

Stasiun/Station Call

Radio Republik Indonesia, Pro 3 RRI - Untuk Warta Berita Sentral:

“Radio Republik Indonesia”

- Kontinuitas Berita: “Pro3 RRI”

8 Program positioning/

: Jaringan Berita Nasional Program Tagline

9 Semboyan : Sekali di Udara Tetap di Udara 10 Sapaan Pendengar : Pendengar

11 Pronomina Persona

orang ke dua : Anda

12 Pola Programa : Format clock/Capsule system

13 Klasifikasi Siaran :

Berita/Informasi (75 %) 18 jam = 1.080 menit Pendidikan (5 %) 1,2 jam = 72 menit

(33)

32

Musik (5 %) 1,2 jam = 72 menit

Iklan dan penunjang (15 %) 3,6 jam = 216 menit

14 Musik :

Jenis Pop Kreatif Jenis Jazz

Lagu Daerah Populer Catatan :

Lagu 100% Indonesia

Lagu diputar sesuai tema

15 Waktu Siaran :

24 Jam Sehari

(34)

33

VII

STANDAR OPERASIONAL KANTOR BERITA RADIO NASIONAL

Pengantar

Setelah soft launching pada 27 Januari 2011, Kantor Berita Radio Nasional (KBRN) RRI di bawah Pusat Pemberitaan terus berkonsolidasi, pembenahan, inovasi konten, kebijakan redaksional, manajemen redaksi dan jaringan kerja sama eksternal.

Melalui workshop Direktorat Program dan Produksi, yang melibatkan Pusat Pemberitaan dan setelah mengadopsi berbagai masukan dari stakeholders pada Senin-Selasa, 4-5 April 2011, berhasil dirumuskan Standar Operasional kinerja KBRN, yang berlaku untuk periode tahun 2011. Standar operasional ini akan menjadi acuan tata kelola redaksi, khususnya proses kerja redaksional dan sekaligus tolok ukur kinerja pihak terkait.

Adanya standar operasional ini merupakan wujud akuntabilitas KBRN selaku bagian dari institusi radio publik yang terbuka. Standar ini selalu terbuka bagi penyempurnaan di masa mendatang mengikuti dinamika empirik.

Standar Kualitas Konten

KBRN dalam format berbasis website www.rri.co.id merupakan kanal berita peristiwa aktual yang terdiri dari teks, audio, video, dan/atau gabungan ketiganya.

Berita dalam bentuk teks diatur sebagai berikut:

1. Merupakan peristiwa yang berdampak nasional.

2. Merupakan statement pengembangan dari peristiwa yang berdampak nasional.

3. Peristiwa yang sedang terjadi, atau peristiwa yang sudah terjadi, maksimal pengirimannya enam jam setelah kejadian.

(35)

34

4. Penulisan nama-nama orang, jabatannya, tempat, dan peristiwa harus tepat.

5. Harus dicantumkan keterangan waktu kejadian.

6. Bilamana ada insert, dilengkapi dengan transkrip inti dari pernyataan narasumber.

7. Lampirkan suara, foto, atau video (bila ada).

8. Di akhir penulisan dicantumkan nama penulis (reporter nama asli dan nomor HP).

9. Audio berita yang dipakai di KBRN adalah audio narasumber sesuai naskah berita, harus loud and clear, dan bening tanpa noise.

10. Audio untuk insert maksimal 2 menit. Bila lebih akan diedit oleh editor KBRN.

11. Foto yang dimuat di www.rri.co.id adalah foto yang sesui dengan teks berita, misalnya berita tentang kebakaran, fotonya juga harus tentang kebakaran.

12. Foto berita yang dikirim harus berkualitas dengan ukuran 210 x 160 pixel.

13. Foto yang dimuat harus ASLI hasil liputan tim KBRN atau kerja sama dengan Kantor Berita lain.

14. Untuk berita foto, wajib dilampirkan caption.

15. Video yang dimuat di www.rri.co.id adalah video berita peristiwa/kejadian. Maksimal 1 menit. Disertai narasi dan dilampirkan naskah.

Karya berita yang berhak dibayar harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: beritanya sudah dipublikasikan, naskah yang dikirim sesuai dengan standar. Sedangkan foto yang dapat dibayar adalah foto asli, foto peristiwa dengan keterangan (caption) yang memadai.

Pencatatan dan Penghargaan

Desk Editor KBRN wajib membuat pokok (daftar) atas laporan/foto/video/audio yang dimuat pada jam dinasnya. Berita yang dibayarkan adalah yang dimuat berdasarkan laporan Desk Editor KBRN. Pembayaran laporan/berita berdasarkan perhitungan mulai bulan April 2011, dan penerimaan pembayaran mulai bulan

(36)

35

Mei 2011, selambatnya tanggal 15 bulan berikutnya. Pengumuman jumlah laporan/berita yang sudah dimuat akan dilakukan melalui e- mail: [email protected].

Komunikasi antar Satker/pimpinan redaksi RRI daerah dengan Pusat Pemberitaan selanjutnya melalui e-mail:

[email protected]. Pembayaran honor reporter akan diserahkan kepada rekening institusi Satker. Masing-masing Satker mendistribusikan honor kepada reporter yang bersangkutan sesuai daftar penerima yang dimuat melalui e-mail jaringan Pro 3. Form penerimaan honor berita yang sudah ditandatangani penerima harus dikirimkan kembali via [email protected] selambatnya tanggal 30 bulan berjalan. Koordinasi pembayaran dan penerimaan honor berita KBRN dilakukan oleh/dengan kepala seksi perencanaan program Pusat Pemberitaan RRI.

Standar Pengelolaan Redaksi

Adapun proses produksi berita KBRN, sejak dari mulai agenda setting, pelaksanaan liputan di lapangan, mengolah dan membuat hingga pemuatan berita melibatkan:

1. Pemimpin Redaksi/Kepala Pusat Pemberitaan 2. Kepala Desk

3. Redaktur

4. Editor Foto/Audio 5. Reporter

6. Pendukung Teknik

Adapun tugas masing-masing pihak adalah:

1. Pemred/Kepala Satker.

a. Bertanggung jawab terhadap produksi berita reporter Satker terkait.

b. Memotivasi reporter untuk memenuhi standar penulisan dan target pengiriman berita setiap Satker baik segi kuantitas maupun kualitas berita.

c. Memfasilitasi sarana dan prasarana pengiriman berita dari reporter ke KBRN.

(37)

36 2. Kepala Desk

a. Bertanggung jawab pada pengelolaan konten website KBRN di jam dinas.

b. Mengkoordinir tim dinas website KBRN.

c. Berkoordinasi dengan koordinator liputan dan reporter/kontributor lapangan.

d. Mengedit hasil berita, foto, dan audio yang telah disusun editor untuk website KBRN.

e. Menilai, menentukan dan memutuskan suatu berita untuk tampil di website KBRN.

f. Bertanggung jawab kepada Pemimpin Redaksi.

3. Redaktur

a. Mengedit berita yang dikirim reporter pada bank (keranjang mentah) berita KBRN.

b. Mentranskrip laporan, dialog/wawancara yang telah disiarkan di Pro 3 RRI sebagai bahan berita untuk website KBRN.

c. Meng-upload hasil editing dan transkripsi berita ke website KBRN.

d. Bertanggungjawab kepada Kepala Desk.

4. Editor Foto/Audio

a. Mengedit foto dan audio yang disertai naskah yang dikirim reporter ke bank berita untuk ditampilkan di website KBRN.

b. Melengkapi foto dan audio untuk tambahan materi berita teks di website KBRN.

c. Berkoordinasi dan bertanggung jawab kepada Kepala Desk.

5. Reporter

a. Mencari, mengolah dan membuat berita serta foto yang relevan.

(38)

37

b. Mengirimkan berita, foto dan video ke bank data website KBRN.

c. Berkoordinasi dan bertanggung jawab kepada Kepala Satker.

6. Pendukung Teknik

a. Membantu kesinambungan website KBRN secara teknik.

b. Membantu mengelola file arsip website sesuai dengan kategori, berita, audio, foto.

c. Berkoordinasi dan bertanggung jawab kepada Kepala Desk.

Situs KBRN RRI ditargetkan memuat berita minimal 150 item/hari. Rata-rata dalam lima menit, harus ada satu berita terbaru yang dimuat. Dengan demikian, manajemen redaksional harus diatur sedemikian rupa/sistimatik.

Pemred/Kepala Satker di pusat dan daerah harus memenuhi target kontribusi berita KBRN sebagai berikut:

a. RRI Tipe A = 4 item berita/hari b. RRI Tipe B = 3 item berita/hari c. RRI Tipe C = 2 item berita/hari d. Sto Prod = 1 item berita/hari e. Puspem = 20 item berita/hari

* Sampai tahun 2011, ada:

RRI Tipe A = 1, RRI Tipe B = 15, RRI Tipe C = 43, Studio Produksi=

15, Puspem = 1.

Adapun standar kinerja kru KBRN adalah:

1. Kepala Desk

a. Datang 30 menit sebelum jam dinas.

b. Membaca laporan Kepala Desk sebelumnya.

c. Mensinkronisasi hasil laporan di buku laporan dengan konten di website dengan rekomendasi agenda setting sebelumnya.

(39)

38

d. Menyeleksi berita, audio, dan foto yang layak untuk dimuat.

e. Mem-publish berita yang telah telah di-upload reporter/redaktur.

f. Kepala Desk shift I, II, dan III harus mampu memuat berita minimal 40 item berita/jam dinas, shift IV minimal 30 item berita/jam dinas.

2. Redaktur

a. Datang 30 menit sebelum jam dinas.

b. Mengedit berita yang telah dikirim reporter, baik dari segi kalimat, kata maupun huruf.

c. Memperbaiki judul berita jika diperlukan.

d. Harus mampu mengedit berita minimal 40 item/jam dinas di shift I, II, III dan 30 item/jam pada shift IV.

3. Editor Foto/Audio/Video

a. Datang 30 menit sebelum jam dinas.

b. Mengedit foto/audio yang telah dikirim reporter sesuai dengan kebutuhan.

c. Harus mampu mengedit foto/audio sesuai dengan kebutuhan.

4. Reporter

a. Mampu mencari, mengolah dan membuat berita yang sesuai dengan kaidah berita tulis.

b. Harus mampu melengkapi berita dengan foto.

c. Mengirimkan berita ke bank website KBRN pada kesempatan pertama.

5. Pendukung Teknik

a. Harus mampu melakukan perbaikan IT jika terjadi gangguan secara teknik.

b. Harus mampu mengelola arsip/dokumentasi berita baik, berita, audio dan foto.

(40)

39

Adapun jam kerja kru KBRN diatur sebagai berikut:

a. Pemred/Kepala Satker: Menyesuaikan.

b. Kepala Desk: Mengikuti jadwal shift.

c. Reporter: Menyesuaikan dengan jadwal liputan.

d. Redaktur: Mengikuti jadwal shift.

e. Editor Foto/Audio/Video: Mengikuti jadwal shift.

f. Pendukung Teknik: Menyesuaikan kebutuhan.

Sementara, pembagian shift kerja diatur:

Shift I mulai pukul 06.00-12.00 Wib Shift II mulai pukul 12.00-18.00 Wib Shift III mulai pukul 18.00-24.00 Wib Shift IV mulai pukul 24.00-06.00 Wib

Setiap shift kerja melibatkan para Kepala Desk, Redaktur, dan Editor Foto/Audio.

Ketentuan Sanksi dan Penghargaan

Kinerja produksi berita yang ada di KBRN akan dievaluasi dan dipublikasi setiap satu bulan sebagai bentuk penghargaan bagi yang berprestasi dan sangsi bagi yang tidak memenuhi target.

Satker yang tidak dapat memenuhi target tanpa alasan yang dapat diterima diberi sangsi yang diatur sesuai mekanisme kelembagaan RRI, sejak peringatan lisan, tertulis, hingga rekomendasi pemindah- tugasan ke Satker lain.

Bagi petugas shift dinas KBRN yang tidak memenuhi standar kinerja tanpa alasan yang dapat diterima akan diberlakukan sangsi sebagai berikut:

1. Tidak hadir 1 hari : teguran lisan dari atasan langsung, 2. Tidak hadir 2 hari : teguran tertulis dari atasan,

3. Tidak hadir 5 hari : teguran tertulis dari Kepala Satker dan menjadi pertimbangan untuk skorsing.

(41)

40

Penghargaan atas Satker berprestasi dan individu reporter terbaik berdasarkan kontribusinya ke KBRN, akan dilakukan setiap setahun sekali dalam forum evaluasi nasional pemberitaan LPP RRI.

Standar Alur Kerja

Adapun alur kerja operasional produksi berita KBRN dari daerah ke pusat dan atau sebaliknya dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Agenda Setting:

Dilaksanakan agenda setting dua kali sehari, yaitu pagi jam 09.00 waktu setempat dan sore jam 14.00 waktu setempat. Isi agenda meliputi:

- Agenda liputan (issue) hari-H dan hari berikutnya,

- Nama reporter yang meliput dan nomor kontak person reporter.

Hasil agenda setting RRI daerah dikirimkan ke Pusat Pemberitaan (KBRN) melalui e-mail dengan alamat:

[email protected].

2. Penugasan reporter:

- Penugasan berdasarkan agenda setting dan instruksi Kabid/Kasi/Kasubsi/Korlip.

3. Peliputan:

- Reporter membawa peralatan lengkap yang meliputi: alat rekam, laptop, kamera, handphone.

- Pada saat liputan berlangsung/peristiwa terjadi, reporter sudah mengirimkan berita pada kesempatan pertama/

secepat mungkin tentang gambaran awal peristiwa yang sedang terjadi.

- Pada saat liputan/peristiwa selesai, reporter harus langsung membuat berita yang dilengkapi foto dan dikirim ke portal http://www.rri.co.id/admin.php.

(42)

41 4. Pengiriman berita:

Keterangan:

a. Reporter buka portal http://www.rri.co.id/admin.php.

b. Masukkan user name: ………… (masing-masing nama reporter).

c. Masukkan password: ……….. (diberikan oleh Puspem).

d. Reporter memulai penulisan dengan mengetik judul, teaser, dan isi berita. Setelah penulisan berita selesai, langsung di- save dan berita otomatis tersimpan di server. Jangan lupa mencantumkan no handphone reporter pengirim berita.

Contoh kolom:

(43)

42

* Catatan:

- Nama reporter dan nama RRI bersifat otomatis (otomatisasi saat registrasi user oleh admin).

- Waktu upload otomatis.

- Reporter dapat melakukan preview dan mengedit beritanya sendiri.

5. Pengeditan berita:

a. Berita yang sudah siap kirim dan atau belum dimuat masih dapat diedit kembali oleh reporter dengan mengunakan fasilitas editor.

b. Redaktur KBRN betugas memeriksa semua berita di server, memilih berita yang akan diutamakan, memeriksa kalimat berita, mengedit berita yang belum sesuai redaksi online, menyinkronkan berita dan foto yang dikirim oleh reporter, mengirim ke Kadesk untuk pemeriksaan akhir.

c. Redaktur KBRN juga bertugas mendengarkan siaran Pro 3 RRI dan membuat transkrip siaran tersebut, mengubah menjadi kalimat berita dan kemudian menampilkannya ke website.

6. Pemuatan:

Setelah diperiksa editor KBRN, Kepala Desk bertugas melakukan pemeriksaan akhir setiap berita yang masuk dan kemudian memuatnya di website.

(44)

43

VIII

PEDOMAN SIARAN BERJARINGAN PRO-3

Pengantar

Pedoman ini dikerjakan kolektif melalui forum Evaluasi Pemberitaan Berjaringan Pro-3 di Mataram, NTB 23-25 Februari 2011 sebagai forum tertinggi para pimpinan redaksi RRI sekaligus sebagai acuan semua pihak yang terlibat dalam proses produksi siaran berjaringan nasional, khususnya Kepala Stasiun dan Kepala Bidang Pemberitaan. Pedoman ini merupakan standar operasional yang disepakati oleh semua pihak dan menjadi stadar kualitas yang dijaminkan RRI kepada pendengarnya.

Bagi satker yang mampu melampaui target pedoman (kualitatif, kuantitatif) akan diberikan penghargaan tahunan yang sekaligus menjadi penilaian kinerja Kepala Pemberitaan yang bersangkutan. Sedang Satker yang tidak mampu melampaui target tahunan memperoleh sanksi dari Direksi setelah memperhatikan laporan kinerja dari Kepala Pusat Pemberitaan. Adapun alur komunikasi siaran Berjaringan Pro-3 RRI adalah:

Programa 3 Pusat LPP RRI

Stasiun Siaran Koordinator Wilayah (Tipe B)

Stasiun Siaran LPP RRI Lokal

(45)

44

Standar Operasional Program Berjaringan Programa 3 LPP RRI (Sudah berlaku Efektif 1 April 2011)

Ketentuan Umum

1. Standar operasional program berjaringan ini merupakan pengembangan dan penegasan sekaligus mengadopsi inovasi kebijakan yang bervisi perubahan, mengarah kepada kualitas dan peningkatan pelayanan publik yang heterogen, sekaligus memacu kreativitas reporter dan akan menjadi indikator kinerja kepala Satker.

2. Seluruh Satuan Kerja (Satker) Stasiun RRI di Pusat dan Daerah wajib menyelenggarakan program siaran berita berjaringan dengan deskripsi dan format materi sesuai rumusan standar operasional yang telah disusun.

3. Mekanisme koordinasi penyelenggaraan program berita Pro-3 berjaringan dilaksanakan antara Pusat Pemberitaan dengan seluruh Stasiun RRI di daerah, Siaran Luar Negeri dan RRI Jakarta.

4. Pusat Pemberitaan LPP RRI wajib melaporkan hasil evaluasi pelaksanaan siaran berjaringan selambatnya setiap tanggal 10 pada bulan berikutnya, tentang pelaksanaan siaran berjaringan ke Direktorat Program dan Produksi LPP RRI.

5. Pusat Pemberitaan wajib menyampaikan hasil rekapitulasi pengiriman berita dan ROS semua daerah selambatnya setiap tanggal 10 pada bulan berikutnya, tentang pelaksanaan siaran berjaringan ke Direktorat Program dan Produksi LPP RRI.

6. Setiap RRI daerah, RRI Jakarta dan SLN wajib me- nyampaikan alasan tertulis apabila ada acara Pro-3 berjaringan yang tidak bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya kepada Direktorat Program Produksi, CC. ke Pusat Pemberitaan.

(46)

45

Target Kinerja Pemberitaan RRI

Nama Acara Target Waktu

Aspirasi Merah Putih 2 Paket Per Korwil Setiap Dua Bulan Sambung Rasa 1 Paket Per Satker Setiap Dua Bulan Report on The Spot 30 Paket Per Satker Setiap Satu Bulan Berita Laporan/Voice

Report

30 paket Per Satker Setiap Satu Bulan Lintas Berita 15 Paket Per Korwil Setiap Satu Bulan News Feature (Budaya

Nusantara)

2 Paket Per Satker dan Studio Produksi

Setiap Satu Bulan Tabir Berita 1 Paket Per Satker Setiap Satu Bulan Catatan: Target ini bersifat minimal untuk setiap Satker/ Korwil dan akan selalu dievaluasi oleh Direktorat Program dan Produksi LPP RRI setiap satu bulan.

Nama Program : ASPIRASI MERAH PUTIH (AMP) JAM SIAR : 00.05 – 04.58 WIB

Ketentuan :

1. Aspirasi Merah Putih dilaksanakan dalam format Dialog Interaktif dan phone in program. Dialog diawali dengan Feature, disisipi Report on the Spot, Vox Pop, disesuaikan dengan isu Nasional, Regional dan Daerah yang bisa diangkat secara Nasional, dengan melibatkan stasiun di wilayah korwil kecuali Yogyakarta dan Jakarta. Materi AMP mengungkap satu isu atau lebih tergantung kondisi wilayah disesuaikan dengan agenda setting.

2. Pelaksanaan AMP menjadi tanggung jawab Korwil dengan melibatkan anggota Korwil di wilayahnya, khusus RRI Jakarta bergabung dengan Yogyakarta, Puspem bergabung dengan SLN (diselenggarakan secara bersama) dengan sistem berjaringan menggunakan fasilitas Up link, Skype, dan Telepon.

(47)

46

3. Bentuk penyajian AMP harus berupa:

- OBB kreasi Korwil masing-masing - Feature/Vox Pop

- Uraian (Korwil)

- Dialog Interaktif Korwil

- Menuju stasiun Daerah yang diawali smash musik daerah

- Kembali ke K orwil

- Host mengantarkan ke stasiun daerah lainnya - Dialog Interaktif RRI daerah

- Kembali ke Korwil

- CBB Korwil masing-masing - Kembali ke Pro 3

4. Apabila ada peristiwa luar biasa, maka akan dikoordinasikan dan dikondisikan oleh PA Pro3, untuk bisa memasukkan Breaking News dari tempat kejadian perkara peristiwa yang luar biasa.

Target Minimal Produksi Perbulan: 2 Paket Per-Korwil

Nama Program : SAMBUNG RASA JAM SIAR : 05.07 – 05.58 WIB Ketentuan :

1. Sambung Rasa dilaksanakan oleh Satker yang kegiatannya di luar studio dan materi yang disajikan disesuaikan dengan topik di daerah masing-masing dalam format dialog atau percakapan ringan antara peserta sambungrasa (masyarakat) dengan narasumber, baik yang ada di lokasi maupun ditempat lain termasuk interaktif dengan pendengar.

2. Fasilitas yang digunakan pada acara sambung rasa: OB Van, Line Telepon.

3. Jika menyelenggarakan program dialog sambung rasa bersama pejabat publik dan masyarakat diluar jadwal siaran, maka dapat dipertimbangkan untuk menjadi materi

(48)

47

sambung rasa dengan menyebutkan siaran ini telah direkam sebelumnya.

Target Minimal Produksi: 1 x per-dua bulan untuk Setiap Satker

Nama Program : DIALOG KHUSUS (SITUASIONAL) JAM SIAR : -

Ketentuan :

Dialog khusus dilaksanakan pada waktu dan situasi tertentu dengan kehadiran pejabat publik di dalam maupun di luar studio dengan mengangkat topik aktual dan bersifat penting yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan melibatkan pendengar (phone in).

Target Minimal Produksi Perbulan: -

Nama Program : REPORT ON THE SPOT (ROS) JAM SIAR : Setiap Waktu

Ketentuan :

1. Dilaporkan secara langsung oleh reporter dari lokasi kejadian, merupakan peristiwa yang berdampak nasional dan internasional dengan durasi 1-2 menit, apabila peristiwanya berkembang dapat dilakukan ROS lanjutan dengan memanfaatkan narasumber yang ada ditempat kejadian.

2. Pengarah Acara akan memberi kepastian kelayakan materi dan jam siar.

Target Minimal Produksi Perbulan: Per-Satker 30 kali

Nama Program : BERITA LAPORAN (VOICE REPORT) JAM SIAR : Setiap Waktu

Ketentuan :

1. Materi Laporan merupakan peristiwa yang sedang atau baru terjadi atau terkait dengan masalah kemanusiaan (human interest) di wilayah tersebut yang berdampak

(49)

48

nasional dan internasional dengan memuat 2 insert atau lebih dengan durasi sekitar 2 menit. Insert atmosfir antara lain misalnya berupa suara orang berunjukrasa, sirine ambulans, dan sebagainya serta insert narasumber.

2. Narasumber dapat memberikan statemen atau keterangan untuk memperdalam sebuah peristiwa.

Target Minimal Produksi Perbulan: Per-Satker 30 kali

Nama Program : BERITA OLAHRAGA JAM SIAR : 11.00 – 11.25 WIB Ketentuan :

Berita atau laporan olah raga harus berdurasi 2 menit yang berskala daerah, nasional maupun internasional, terdiri atas 1 insert running reporter dan 1 insert narasumber. Jika merupakan laporan kasus olahraga, harus menggunakan minimal 2 insert.

Target Minimal Produksi Perbulan: -

Nama Program : LINTAS BERITA

JAM SIAR : 10.45-10.58; 11.45-11.58; 12.45-12.58; 14.45- 14.58; 16.45-16.58; 18.45-18.58; 19.45-19.58 Ketentuan :

1. Lintas berita dibuat dalam format Majalah Udara dengan durasi 13 menit yang berisi liputan terbaru (aktual) dan mempunyai nilai berita berskala nasional. Dapat dilengkapi dengan wawancara langsung.

2. Host Lintas Berita menjadi tanggung jawab Korwil masing- masing. Dalam pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Korwil kepada Satker anggota Korwil.

3. Siaran harus diawali Dialog atau tegur sapa antar Penyiar Pro-3 dengan Penyiar Korwil. OBB/CBB, tune musik dirancang Korwil dengan ciri khas musik daerah.

4. Sarana yang digunakan: Uplink, Skype, telepon.

(50)

49

5. Materi Lintas Berita yang sudah disiarkan tidak diperkenankan dikirim lagi ke Pro-3 Jakarta dan sebaliknya.

Target Minimal Produksi Perbulan: Setiap Korwil 15 paket

Nama Program : BULETIN BERITA

JAM SIAR : 05.00; 06.00; 07.00; 09.00; 11.00; 13.00; 19.00 Ketentuan :

1. BULETIN Berita Sentral disiarkan pada pukul 05.00, 06.00, 07.00, 11.00, 13.00 dan 19.00 WIB diproduksi dalam format dan komposisi yang bervariasi, yakni: in-depth reporting, news insert, voice report, ROS, news interview, vox pop, news feature, serta soft news, dengan mengacu pada agenda setting redaksi nasional/daerah.

2. BULETIN Berita reguler diproduksi dalam format news/actuality insert, voice report, berita lempang (straight news), ROS.

3. Konten BULETIN berita harus memiliki nilai berita tinggi, aktual, faktual, mengedepankan berita peristiwa, bukan pernyataan dengan tetap mengacu kepada Pedoman Penyiaran LPP RRI

4. Khusus Berita Utama pukul 07.00 WIB, salah satu topiknya dapat menjadi materi Komentar.

5. Pilihan narasumber pada Buletin Berita harus lebih bervariasi, dengan mengutamakan pelaku peristiwa, saksi mata dan meminimalisir narasumber pengamat.

6. Laporan dengan insert bahasa asing harus diterjemahkan, disulihsuarakan dan dibacakan oleh orang lain (bukan reporter yang melaporkan).

7. Bila materi berita diambil dari lembaga penyiaran atau media lain, harus disebutkan sumber beritanya (termasuk Berita Luar Negeri).

(51)

50

8. Penanti berita dimulai dengan musik instrumental “Rayuan Pulau Kelapa” yang diaransemen kembali untuk memberi kebaruan tanpa mengurangi nilai historis (durasi 15 detik) 9. Dilanjutkan tanda waktu tiga ketukan dan OBB “earcatcher”

2 item berita utama dengan audio yang berkualitas, atraktif, ekspresif, berupa pernyataan narasumber, laporan reporter atau atmosfir dengan durasi 2 x 15.

10. Musik latar (back sound) pokok berita, “smash, bridging”

dalam Buletin Berita harus menggunakan aransemen sendiri guna menghindari gugatan (HAKI) dengan warna musik yang dinamis dan pencerminan multikultur Indonesia

11. Terhitung sejak bulan Juli 2011, untuk BULETIN Berita Reguler LPP RRI akan dibuatkan OBB dan CBB, dengan musik aransemen asli produksi LPP RRI.

12. ”Bridging” pada berita sentral dan olah raga agar dipertahankan: ”Anda juga dapat mendengarkan BULETIN berita ini melalui audio streaming pada www.rri.co.id”

Target Minimal Produksi Perbulan: -

Nama Program : NEWS FEATURE (BUDAYA NUSANTARA) JAM SIAR : 09.00-09.10 WIB

Ketentuan :

Materi news feature dapat berupa soft-news atau hard-news, disajikan dalam paket khusus dengan bahasa tutur (telling story) berdurasi maksimal 7 menit. Jika dimasukkan dalam siaran Bulletin Warta Berita, durasinya maksimal 5 menit, OBB/CBB musik tematik, dengan insert minimal 2 narasumber.

Target Minimal Produksi Perbulan: Per-Satker dan Studio Produksi 2 paket

(52)

51

Nama Program : INVESTIGATIVE REPORTING (TABIR BERITA) JAM SIAR : 12.430-12.37 WIB

Ketentuan :

Materi investigative reporting merupakan sesuatu permasalahan yang belum terungkap ke permukaan, disajikan dengan tegas dan lugas dalam paket khusus berdurasi maksimal 7 menit, dan jika disiarkan dalam buletin Warta Berita, durasinya maksimal 5 menit, disertai sound effect/atmosfir sesuai topik, dengan insert minimal 3 narasumber.

Target Minimal Produksi: Per-Satker 2 paket untuk setiap dua bulan

Nama Program : DOCUMENTARY (DIMULAI TAHUN 2012) JAM SIAR : -

Ketentuan :

Program Dokumenter adalah liputan peristiwa yang pernah terjadi, mengandung nilai sejarah dan fakta termasuk ekspedisi jurnalistik, disajikan dalam paket khusus dengan bahasa tutur (telling story) didukung musik dan sound effect, durasi 10-15 menit.

Target Minimal Produksi Dwibulanan: Per-Satker 2 paket

Keterangan:

Masing-masing kepala Bidang Pemberitaan/Wakil Pemimpin Redaksi RRI Daerah WAJIB mengirimkan 1 topik berita penting yang terjadi setiap hari didaerahnya, selambat-lambatnya pukul 10.00 waktu setempat melalui e-mail: [email protected].

(53)

52

IX

KEBIJAKAN REDAKSIONAL VOICE OF INDONESIA

Pengantar

Setiap insan media perlu menguasai teknik wawancara, teknik peliputan, penulisan berita, serta memiliki ketrampilan menyajikannya dalam berbagai format. Teknik-teknik dan ketrampilan tersebut sifatnya universal atau umum. Teknik -teknik dan ketrampilan yang diterapkan oleh satu media dan media lainnya, baik cetak maupun elektronik, dalam dan luar negeri relatif sama. Yang membedakan adalah kebijakan redaksional/editorial policy karena kebijakan redaksional/editorial policy bergantung pada visi dan misi yang diemban oleh media tersebut.

Editorial policy membedakan Siaran Luar Negeri LPP RRI dan siaran luar negeri lainnya. Visi, misi LPP RRI sangat berpengaruh terhadap sudut pandang atau angle peliputan, penulisan berita RRI World Service-Voice of Indonesia. Editorial policy penanda dua Siaran Luar Negeri yang berbeda, mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap suatu peristiwa yang sama.

Walau masih banyak kekurangan, kebijakan redaksional/

editorial policy ini sudah dapat dijadikan acuan atau referensi oleh staf operasional di Desk Siaran (bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Arab, Mandarin, dan Jepang) serta pemberitaan RRI WORLD SERVICE-VOICE OF INDONESIA.

Kebijakan redaksional ini dirancang melalui lokakarya pengembangan siaran luar negeri Direktorat Program dan Produksi LPP RRI dan dirumuskan oleh tim kreatif Siaran Luar Negeri RRI di Jakarta, 28 Februari-5 Maret 2011.

(54)

53 1. NAMA LEMBAGA DAN TAGLINE 1.1 Nama

RRI WORLD SERVICE-VOICE OF INDONESIA 1.2 Tagline

Informing, Connecting, Dignifying

2. TUGAS DAN FUNGSI RRI WORLD SERVICE 2.1 Landasan Hukum

2.1.1 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea: … “dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, …”

2.1.2 Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28: kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang- undang.

2.1.3 Undang-Undang RI No. 32 tahun 2004 Pasal 14 tentang Lembaga Penyiaran Publik.

2.1.4 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11, Tahun 2005, tentang Penyelenggaraan Penyiaran Radio Publik, Bab I Pasal 2: Siaran Internasional adalah siaran yang ditujukan untuk masyarakat yang berada di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.1.5 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11, Tahun 2005, tentang Penyelenggaraan Penyiaran Radio Publik, Bab II pasal 4: RRI, TVRI, dan Lembaga Penyiaran Publik Lokal bertujuan menyajikan program siaran yang mendorong terwujudnya sikap mental masyarakat yang beriman dan bertakwa, cerdas, memperkukuh integrasi nasional dalam rangka membangun masyarakat mandiri, demokrasi, adil dan sejahtera, serta menjaga citra positif bangsa.

2.1.6 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11, Tahun 2005, tentang Penyelenggaraan Penyiaran Radio Publik, Bab II

Referensi

Dokumen terkait

1) Penjatuhan tindakan disiplin dilaksanakan seketika dan langsung pada saat diketahuinya pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh anggota Kepolisian Negara Republik

Panjang suatu lintasan atau lintasan tertutup sederhana adalah jumlah dari panjang busur mulus yang digunakan untuk lintasan tersebut.. Titik-titik pada setiap kurva tertutup

Harga benih pokok termasuk ke dalam atribut prioritas rendah pada kuadran III, karena dianggap kurang penting pengaruhnya bagi petani dan pelaksanaanya oleh perusahaan

Gaya penulisan chiperteks pun tidak akan mempengaruhi kompleksitas waktu dari algoritma enskripsi Bacon’s Chiper menggunakan representasi prinsip pohon karena tetap saja harus

hijau muda yang dengan cepat menyebar merata pada kertas saring sedangkan untuk trans-kalium dioksalatodiakuokromat (III) terbentuk padatan berwarna coklat tua yang tidak

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya yaitu pembuatan perangkat keras, program aplikasi mikrokontroler dan program aplikasi komputer dalam sistem

Tidak pernah menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial. Mengerjakan tugas-tugas

Dari hasil diskusi dengan mitra Kepala Sekolah dan beberapa guru MA NW NW Boro’ Tumbuh diperoleh simpulan bersama bahwa terdapat beberapa masalah utama yang ditemui pada