BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Virus COVID-19 yang berhasil terdeteksi pertama kali di Kota Wuhan telah berkembang dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan langsung kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada 1 Maret 2020. Seorang ibu dan anak yang tinggal di Depok, Jawa Barat terinfeksi COVID-19 setelah melakukan kontak dengan seorang warga negara Jepang yang datang berkunjung ke Indonesia. Fenomena baru ini menuntut respon tanggap dari pemerintah. Terlebih, karakteristik COVID-19 mudah menyebar antar individu dan bersifat sangat lokal. Karenanya, pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia dipandang akan berlangsung lebih lama karena banyak dan padatnya penduduk yang ada.
Pemerintah selaku aparatur negara (government) memiliki wewenang untuk dapat melakukan sesuatu pada fenomena yang terjadi di masyarakat.
Tindakan yang dilakukan pemerintah dapat diwujudkan melalui pengelolaan, pengalokasian, hingga pendistribusian berbagai nilai dan sumberdaya publik (Easton, 1953; Suharto, 2008).Beberapa hal yang yang dilakukan pemerintah pusat pasca pengumuman kasus perdana COVID-19 yakni: (1) membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Badan yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo pada 13 Maret 2020 lalu didasari oleh Keppres No. 7 Tahun 2020. Karenanya, badan yang diketuai oleh Kepala BNPB ini memiliki tanggung jawab langsung kepada Presiden. (2) Presiden juga menerbitkan Inpres No. 4 Tahun 2020 pada 20 Maret 2020. Instruksi ini mengatur berbagai aturan seperti realokasi anggaran, refocussing kegiatan, hingga pengadaan barang dan jasa (terutama pada alat kesehatan dan alat kedokteran). Melalui keputusan tersebut, muncul berbagai kebijakan di tingkat kementerian sebagai bentuk respon penanggulangan COVID-19 dalam lintas sektor.
Berbagai langkah yang diambil pemerintah pusat hadir bukan tanpa permasalahan. Banyak kendala ditemukan dalam implementasinya karena pengaturan secara nasional tidak diikuti dengan koordinasi, komunikasi, dan sinergi yang baik antara pemerintah pusat dengan banyak pihak. Karenanya muncul berbagai kritik terhadap lambannya pemerintah dalam menangani COVID-19 (Chadijah, 2020; Nugroho & Negara, 2020). Salah satu permasalahan krusial yang muncul yakni mengenai relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menerapkan berbagai peraturan yang ada di masing-masing daerah. Terdapat kontradiksi mengenai relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penanganan COVID-19.
Sebagaimana diatur dalam UU No. 23 Tahun 2014, urusan kesehatan menjadi kewenangan daerah (urusan pemerintahan konkuren). Namun perlu disadari bahwa COVID-19 sudah ditetapkan sebagai bencana nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 13 April 2020 melalui Keppres No. 12 Tahun 2020. Keputusan tersebut berdampak pada berlakunya UU No. 6 Tahun 2018 yang mengatur mengenai urusan kesehatan. UU tersebut mengatur bahwa pemerintah pusat menjalankan fungsinya dalam masa kedaruratan kesehatan masyarakat yang terjadi dalam lingkup nasional.
Kontradiksi demikian tidak dipahami seluruhnya oleh seluruh kepala daerah pada masa awal terjadinya pandemi. Buruknya relasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah diperparah dengan minimnya data dan informasi (Nugroho & Negara, 2020; Pramiyanti et al., 2020; Tuwu, 2020).
Terdapat perbedaan persepsi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait dengan transparansi data. Tegangan muncul ketika keterbukaan data merupakan hal penting bagi daerah karena memberikan rasa aman bagi masyarakat. Di sisi lain, pusat menilai bahwa transparansi data pada masa awal terjadinya COVID-19 justru akan menimbulkan kepanikan secara luas di masyarakat (Sydney Morning Herald, 2020; Vidhiasi, 2020).
Perbedaan persepsi ini yang kemudian menimbulkan efek domino di daerah. Terhambatnya pendistribusian data dan informasi dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah menyebabkan setiap daerah memiliki data masing-
masing. Pada akhirnya, banyak kepala daerah mengambil dan menerapkan kebijakan yang sepihak tanpa koordinasi dengan pemerintah pusat sehingga menimbulkan pertentangan antara keduanya (Tuwu, 2020). Data memang memegang peranan penting dalam situasi darurat seperti pandemi COVID-19.
Keputusan yang cepat dan akurat serta strategi ke depan yang dilaksanakan pemerintah seharusnya didasari dari analisis data yang memadai (Gultom et al., 2020; Morris, 2020).
Hal di atas menjadi tantangan bagi praktik desentralisasi di Indonesia.
Desentralisasi merupakan pemencaran wewenang yang ditandai dari adanya penyerahan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah dalam bentuk otonomi (Manan, 1994, 2001). Dampak utama dari desentralisasi yakni adanya lokalisasi kebijakan di mana setiap daerah memiliki kewenangannya dalam menangani permasalahan di daerah dengan kebijakan yang dihasilkan (Mariana & Paskarina, 2008). Desentralisasi diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara maksimal. Namun, pada praktiknya, pemerintah daerah justru tersandera dengan berbagai aturan prosedural sehingga membatasi ruang gerak dan kreativitas pemerintah daerah dalam mengatasi masalah di daerah terutama dalam penanganan COVID-19 (Asmorowati et al., 2021; Lutfi & Hariyati, 2020; Rivelino & Ginting, 2020).
Tidak terkecuali di Provinsi DKI Jakarta. Sebagaimana diatur dalam UU No. 29 Tahun 2007, DKI Jakarta memiliki dua fungsi yakni sebagai Ibukota NKRI dan sebagai daerah otonom pada tingkat provinsi. Kedua fungsi ini menjadikan DKI Jakarta mengemban peran ganda, yakni penyelenggaraan pemerintahannya yang meliputi kepentingan nasional dan daerah. Karenanya berlaku desentralisasi asimetris (asymmetrical decentralization) bagi DKI Jakarta agar kedua fungsi tersebut dapat berjalan lebih maksimal.
Dalam fungsi sebagai ibukota negara, DKI Jakarta menjadi tempat kedudukan perwakilan negara asing dan lembaga-lembaga internasional.
Kewenangan dalam fungsi pertama ini terkait dengan penetapan dan pelaksanaan kebijakan seputar tata ruang, sumber daya alam dan lingkungan hidup, pengendalian penduduk dan pemukiman, transportasi, industri dan
perdagangan, dan pariwisata. Sedangkan otonomi daerah melekat pada fungsinya yang kedua yakni sebagai daerah otonom pada tingkat provinsi.
Kewenangan Pemprov DKI Jakarta dalam fungsi ini yakni mencakup seluruh urusan pemerintahan kecuali enam urusan pemerintah pusat (politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama) (Huda, 2014a).
Relasi disharmonis antara pusat dan daerah dalam upaya penanganan COVID-19 terjadi di DKI Jakarta. Hal tesebut dimulai dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengaku bahwa Pemprov DKI Jakarta sudah melakukan pemantauan dan pencegahan COVID-19 di DKI Jakarta sejak Januari 2020 (Sydney Morning Herald, 2020; Vidhiasi, 2020). Pada 22 Januari 2020, Dinkes DKI Jakarta mengeluarkan Surat Edaran nomor 18/SE/2020 yang berisi prosedur tindakan yang harus dilakukan ketika menemukan individu yang memiliki indikasi terinfeksi COVID-19. Surat tersebut ditunjukkan kepada para pejabat kesehatan seperti Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota, Direktur Rumah Sakit, Kepala dan Puskesmas Kecamatan (Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 2020a).
Selain melakukan koordinasi kepada fasilitas-fasilitas kesehatan, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan nomor hotline untuk pelaporan kasus COVID-19 dan melakukan pengujian (testing) COVID-19 pada masyarakat.
Terbatasnya kemampuan laboratorium menjadikan pengujian COVID-19 hanya bisa dilakukan di laboratorium nasional. Pemprov DKI Jakarta berkoordinasi dengan Kemenkes untuk melakukan tes COVID-19. Pada akhir Februari 2020, hasil keseluruhan sampel yang dikirim Pemprov DKI Jakarta memiliki hasil negatif.
Kritik atas hal yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta justru datang dari Kemenkes sebagai representasi pemerintah pusat sepanjang Bulan Januari dan Februari 2020. Menkes Terawan Agus Putranto berulang kali menyampaikan pendapatnya di publik dengan membantah bahwa terdapat kasus COVID-19 di Indonesia (Soderborg & Muhtadi, 2020). Perbedaan sikap antara Kemenkes dan Pemprov DKI Jakarta ini menjadikan penanganan COVID-19 di Jakarta
menjadi terhambat. Sementara itu, DKI Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah, kepadatan, dan mobilitas penduduk yang tertinggi di Indonesia. Hal tersebut terbukti melalui data kasus positif di DKI Jakarta per 23 Maret 2021 mencapai 372.871 orang (Corona.jakarta.go.id, 2021). Jika tidak diantisipasi dengan cepat dan tepat, maka DKI Jakarta dapat menjadi episentrum penyebaran COVID-19. Walau tidak dapat dimungkiri, bahwa tindakan yang diambil oleh Gubernur DKI Jakarta sarat akan kepentingan politik. Analisis terhadap relasi pusat-daerah tidak bisa dilepaskan dari Gubernur Anies Baswedan sebagai tokoh yang bepengaruh dalam kontestasi politik di masa mendatang (Vidhiasi, 2020).
Relasi yang disharmonis terjadi pula dalam penerapan kebijakan PSBB. Sebelum pelaksanaaan kebijakan ini, sudah banyak daerah yang mengambil keputusan untuk melakukan karantina (lockdown) secara mandiri sehingga mendorong presiden untuk berpendapat bahwa kebijakan besar terkait dengan COVID-19 harus dibahas terlebih dahulu dengan pemerintah pusat. Untuk mempermudah komunikasi, presiden meminta pemerintah daerah untuk berkonsultasi dengan kementerian terkait dan Satgas COVID-19, hingga menyusun pedoman manajemen dan strategi daerah dengan melibatkan Kemendagri (Juaningsih et al., 2020; Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2020a; Pusat Penelitian Politik LIPI, 2020).
Pada 1 April 2020, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajukan pemberlakuan PSBB di DKI Jakarta kepada pemerintah pusat.
Namun, permintaan tersebut ditolak oleh Menkes Terawan Agus Putranto (Azikin et al., 2020; Khairu Nissa et al., 2020; Rivelino & Ginting, 2020).
Kemenkes meminta Pemprov DKI Jakarta untuk dapat melengkapi berbagai berkas yang kurang dan menaati prosedur pengajuan PSBB sesuai dengan yang tertuang dalam Permenkes. Pada akhirnya, Pemprov DKI Jakarta diizinkan Kemenkes untuk menerapkan PSBB melalui Kepmenkes No.
HK.01.07/MENKES/239/2020 pada 7 April 2020. Keputusan untuk dapat melakukan PSBB di DKI Jakarta diimplementasikan oleh Pemprov DKI Jakarta dalam Pergub No. 33 Tahun 2020 dan berlaku dari 10 hingga 23 April
2020. Dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi COVID-19 di DKI Jakarta yang tidak kunjung mereda, pelaksanaan PSBB terus diperpanjang.
PSBB Jilid II berlaku pada 24 April – 22 Mei 2020 dan dilanjutkan PSBB Jilid III hingga 4 Juni 2020 (Detik, 2020).
Pelaksanaan PSBB berdampak pada pola mobilitas masyarakat sehingga berpengaruh pada tingkat penyebaran COVID-19 di DKI Jakarta (Khairu Nissa et al., 2020; Leida, I., Milayanti, W., & Amiruddin, 2020;
Saputra & Salma, 2020). PSBB Transisi akhirnya diterapkan Pemprov DKI Jakarta dengan pula mempertimbangkan akvitas ekonomi bagi masyarakat kecil dan menengah. Dalam masa PSBB Transisi, beberapa tempat yang berkaitan dengan sektor ekonomi, transportasi, hingga rumah ibadah diperbolehkan beroperasi namun dengan kapasitas yang dibatasi sebesar 50 persen. Hal tersebut terus berlangsung hingga pada 14 September 2020 kembali diputuskan untuk diberlakukan PSBB Total. Alasan utama yang melatarbelakangi hal tersebut yakni penyebaran COVID-19 kembali meningkat di DKI Jakarta. Juga dengan tingkat keterisian rumah sakit di DKI Jakarta mencapai angka 77 persen sehingga langkah tegas perlu diambil oleh Pemprov DKI Jakarta yang terwujud melalui kebijakan PSBB.
Keputusan ini mendapat banyak respon. Salah satunya dari para menteri yang merupakan representasi dari pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa keputusan Gubernur DKI Jakarta untuk melakukan PSBB kembali berpengaruh pada turunnya Indeks Harga Saham Gabungan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan kekhawatirannya pada keputusan PSBB di DKI Jakarta akan berdampak pada sektor manufaktur. Juga Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar yang menyarankan Pemprov DKI Jakarta untuk perlu mencari alternatif mitigasi penanganan COVID-19 sehingga tidak berdampak signifikan pada penurunan ekonomi di kuartal IV/2020 (Tempo, 2020).
Perlu disadari bahwa implikasi dari relasi yang buruk antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah berdampak pada praktik
desentralisasi asimetris di DKI Jakarta. Secara teoritis, beberapa kritik menyebutkan bahwa desentralisasi asimetris yang selama ini diterapkan di empat provinsi berjalan semu karena tidak memperhatikan konteks daerah masing-masing. Hal tersebut tampak pada pembagian urusan dalam UU No.
23 Tahun 2014 yang memuat 26 urusan wajib di mana urusan tersebut berlaku sama di semua daerah tanpa mempertimbangkan aspek-aspek seperti kemampuan daerah, sumber daya daerah, infrastuktur, dan lain sebagainya.
Begitu pula dengan daerah yang masih memiliki keterikatan yang kuat kepada pemerintah pusat. Hal tersebut terbukti dengan peran gubernur yang tidak hanya sebagai pemimpin di tingkat daerah provinsi, namun juga menjadi wakil dari pusat untuk melakukan pengawasan di daerah.
Dalam konteks DKI Jakarta, keterikatan yang kuat tertuang dalam Pasal 33 UU No. 29 Tahun 2007 di mana pendanaan Pemprov DKI Jakarta dianggarkan dalam APBN. Itu diusulkan oleh Pemprov DKI Jakarta dan ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan DPR. Dalam konteks COVID-19, kritik tersebut seakan diperkuat karena peran pemerintah pusat yang dinilai cukup besar sehingga kerap kali mengalami relasi yang disharmonis dengan Pemprov DKI Jakarta yang juga memiliki wewenang untuk menangani COVID-19 di DKI Jakarta.
Tidak hanya pada tatanan pemerintahan, relasi yang buruk antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penanganan COVID-19 akan berdampak langsung pada masyarakat. Banyak masyarakat yang pada akhirnya mengeluh, khawatir, dan bingung dalam menghadapi pandemi ini sehingga memunculkan berbagai aksi negatif dan trauma karena merasa terancam dan takut (Abdullah, 2020; Soderborg & Muhtadi, 2020). Padahal, kesehatan sejatinya menjadi hak fundamental bagi masyarakat yang dijamin oleh konstitusi dan perlu dipenuhi oleh pemerintah (Juaningsih et al., 2020).
Karenanya menjadi penting untuk mengkaji lebih dalam mengenai relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam implementasi kebijakan penanganan COVID-19 di DKI Jakarta. Hal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai evaluasi atas kebijakan yang telah berjalan selama ini,
namun juga berfungsi agar memaksimalkan tujuan utama dari desentralisasi itu sendiri yakni demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apa kepentingan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam impelementasi kebijakan penanganan COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta?
2. Bagaimana dinamika relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam implementasi kebijakan penanganan COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pertanyaan penelitian di atas, dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Mengetahui kepentingan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam impelementasi kebijakan penanganan COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta.
2. Mengetahui dinamika relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam implementasi kebijakan penanganan COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta.
1.4 Kerangka Konseptual 1.4.1 Otonomi Daerah
Kata otonomi berasal dari kata autonomos yang dapat dimaknai sebagai keputusan sendiri (self ruling). Dari etimologi tersebut, dapat diartikan bahwa otonomi daerah adalah wewenang yang dimiliki daerah untuk dapat mengurus sendiri daerahnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.
Sarundajang (2005) menambahkan definisi dari otonomi daerah sebagai daerah yang bersifat memerintah sendiri (self government) karena memiliki
legal self surfficiency. Otonomi daerah harus dilaksanakan dalam kerangka negara kesatuan sehingga pelaksanaan otonomi daerah tidak melebihi wewenang yang dimiliki pemerintah pusat.
Terdapat beberapa dampak dari otonomi daerah bagi daerah itu sendiri dan juga bagi negara. Pertama yakni otonomi memiliki fungsi politik yang memiliki arti bahwa melalui otonomi tercipta perluasan praktik demokrasi, yang tidak hanya terjadi di tingkat pusat namun juga di tingkat daerah sehingga semakin memperkuat dan mempersatukan daerah. Demokrasi bisa terwujud karena masyarakat luas dimungkinkan untuk menyalurkan aspirasi kepada pemerintah dan terlibat langsung dalam dinamika pemerintahan. Otonomi juga berdampak bagi manajemen pemerintahan yang semakin berkembang untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat dengan melaksanakan berbagai program pembangunan. Berbagai jenis pelayanan yang dihadirkan pemerintah akan mendorong terciptanya kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh (Huda, 2014b; Manan, 2001; Sarundajang, 2005).
Dalam menjalankan otonomi, setidaknya ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan: (1) otonomi yang nyata. Prinsip ini berarti bahwa otonomi perlu diwujudkan dengan mempertimbangkan nilai dan faktor yang ada di setiap daerah. Hal tersebut yang menjadi jaminan bahwa daerah dapat menjalankan otonomi tersebut secara maksimal. Pengertian ini membawa implikasi bahwa otonomi yang dimiliki setiap daerah memiliki perbedaan satu sama lain sesuai dengan konteks daerahnya. (2) otonomi yang bertanggungjawab. Walaupun memiliki perbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya, otonomi harus memiliki satu tujuan yang sama yakni memacu pembangunan daerah sehingga tercipta kesejahteraan secara nasional. Alih- alih menciptakan primordialisme, pelaksanaan otonomi seharusnya dapat menghasilkan kestabilan politik di daerah sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. (3) otonomi yang dinamis. Melalui otonomi, daerah diberikan kesempatan secara luas untuk dapat mengembangkan daerah secara maksimal demi terwujudnya kesejahteraan. Melalui otonomi pula, tercipta
demokratisasi di tingkat daerah yang dimulai pada tingkat terkecil yakni di desa hingga tingkat pemerintahan yang lebih tinggi (Sarundajang, 2005).
Prinsip di atas dapat digunakan sebagai indikator menentukan keberhasilan dari otonomi daerah. Sebagaimana dituliskan oleh Mariana dan Paskarina (2008), terdapat empat indikator keberhasilan otonomi daerah, antara lain: (1) meningkatnya kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan, (2) terciptanya proses demokrasi dalam dinamika masyarakat di daerah sehingga tercipta keadilan, (3) berkurangnya tingkat ketimpangan di masyarakat, (4) dan terwujudnya relasi yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
1.4.2 Pemerintah Pusat
Sebagaimana tertuang dalam UU No. 23 Tahun 2014, pemerintah pusat dapat dimaknai sebagai Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia yang dibantu oleh wakil presiden dan para menteri. Dalam menjalannya tugasnya, presiden dibantu oleh para menteri yang menaungi kementerian dan terhimpun di dalam kabinet. Para menteri memiliki salah satu wewenang sebagai wakil dari pemerintah pusat untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. Fungsi pengawasan juga dilaksanakan oleh gubernur selaku wakil dari pemerintah pusat di daerah.
Tugas dan wewenang gubernur sebagai wakil dari pemerintah pusat diterangkan dalam Pasal 91 UU No. 23 Tahun 2014. Dalam menjalankan pembinaan dan pengawasan terhadap pemerintahan daerah, gubernur melakukan koordinasi, monitoring, evaluasi dan supervisi, pemberdayaan dan fasilitasi terhadap seluruh penyelenggaraan pemerintahan daerah. Wewenang yang dimiliki gubernur, antara lain: (1) membatalkan Peraturan Daerah, (2) memberikan penghargaan ataupun sanksi, (3) menyelesaikan berbagai perselisihan yang terjadi di daerah, (4) melantik bupati/walikota dan pejabat instansi lainnya di daerah, (5) koordinasi kepada pemerintah pusat, (6) pelarasan dan pemberian rekomendasi atas perencanaan pembangunan daerah.
Urusan pemerintah pusat disebut sebagai urusan pemerintahan absolut bisa dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat ataupun dilimpahkan kepada gubenur sebagai wakil dari pemerintah pusat di daerah dengan asas dekonsentrasi. Pasal 10 UU No. 23 Tahun 2014 merincikan urusan tersebut ke dalam enam bagian, antara lain: politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama. Juga dengan urusan pemerintahan konkuren yang dibagi antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Beberapa kriteria dalam urusan pemerintahan konkuren yang ditangani oleh pemerintah pusat yakni ketika urusan tersebut berada dalam wilayah lintas daerah provinsi atau negara, penggunanya lintas daerah provinsi atau negara, memiliki dampak dalam wilayah lintas daerah provnsi atau negara, sumber daya yang digunakan lebih efesien jika dilakukan oleh pemerintah pusat, dan perannya strategis bagi kepentingan nasional.
Dalam urusan pemerintahan konkuren, pemerintah pusat memiliki wewenang untuk menetapkan segala aturan dan prosedur untuk menjalankan urusan tersebut dan melakukan pembinaan hingga pengawasan pada pemerintah daerah dalam menjalankan urusan pemerintahan konkuren di daerah.
1.4.3 Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah merupakan kepala daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah. Ia memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom. UU No. 23 Tahun 2014 mengatur berbagai aturan yang dijalankan oleh pemerintah daerah. Hal tersebut dinamai sebagai urusan pemerintahan konkuren yang meliputi dua bagian yakni urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan.
Adapun yang menjadi bidang dalam urusan pemerintahan wajib yakni terkait dengan berbagai pelayanan dasar yang perlu dilaksanakan pemerintah daerah meliputi: pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum dan penataan ruang, perumahan rakyat dan kawasan permukiman, ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, dan sosial.
Urusan pemerintahan wajib di luar pelayanan dasar meliputi: tenaga kerja, pemberdayaan perempuan dan pelindungan anak, pangan, pertanahan, lingkungan hidup, administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, pemberdayaan masyarakat dan desa, pengendalian penduduk dan keluarga berencana, perhubungan, komunikasi dan informatika, koperasi, usaha kecil, dan menengah, penanaman modal, kepemudaan dan olah raga, statistik, persandian, kebudayaan, perpustakaan, dan kearsipan. Sedangkan urusan pemerintahan pilihan meliputi: kelautan dan perikanan, pariwisata, pertanian, kehutanan, energi dan sumber daya mineral, perdagangan, perindustrian, dan transmigrasi.
Pemerintah daerah bersama dengan pemerintah pusat juga menjalankan urusan pemerintahan konkuren. Adapun beberapa kriteria yang menjadikan urusan tersebut ditangani oleh pemerintah daaerah apabila urusan pemerintaan konkruen berada dalam lokasi wilayah lintas kabupaten/kota, memiliki pengguna dalam wilayah lintas kabupaten/kota, ada dampak yang berarti di dalam wilayah lintas kabupaten/kota, dan terdapat efisiensi yang lebih ketika urusan tersebut dijalankan oleh pemerintah provinsi. Dalam menjalankan urusan tersebut, pemerintah daerah harus menaati dan tunduk pada berbagai aturan dan prosedur yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Berbagai urusan tersebut dilaksanakan oleh perangkat daerah yang dikepalai oleh seorang kepala daerah yang dipilih secara demokratis.
Kedudukan dan fungsinya dipandang bersifat ganda dan rangkap. Di satu sisi, kepala daerah sebagai alat daerah dalam mengatur segala aktivitas pemerintahan daerah. Namun di sisi lain, ia bertindak sebagai alat pusat karena melaksanakan urusan atau kepentingan dari pemerintah pusat. Perlu ditekankan bahwa kedudukan dan fungsi seorang kepala daerah di daerah tidak muncul dalam relasi layaknya atasan dan bawahan dengan pemerintah pusat. Kedudukan dan fungsinya jelas diatur dalam ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang (Manan, 1994). Sedangkan dengan DPRD, pemerintah daerah menjalankan hubungan kerja kemitraan karena keduanya
memiliki kedudukan yang sejajar. Hal tersebut tampak pada kerja sama dalam menerapkan otonomi di daerah. Ataupun dengan pembuatan berbagai kebijakan publik dalam bentuk peraturan yang berlaku di daerah tersebut (Domai, 2011).
Sebagai salah satu provinsi di Indonesia, DKI Jakarta mengemban dua fungsi yakni menjadi daerah otonom di tingkat provinsi yang dilaksanakan berdasarkan asas-asas otonomi, dekonsentrasi, tugas pembantuan, dan kekhususan sebagai ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua yakni sebagai ibukota NKRI yang berimplikasi pada berbagai perbedaan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Hal tersebut tampak pada Pemprov DKI Jakarta sebagai ibukota NKRI yang memiliki wewenang untuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait dinas di daerah, lembaga teknis daerah, dan anggaran keuangan daerah. Begitu pula dengan gubernur selaku wakil pemerintah pusat sekaligus Kepala Daerah Provinsi DKI Jakarta yang memiliki empat orang deputi dengan tugas membantu gubernur untuk menjalankan tugas, wewenang, hak, dan kewajibannya sebagai kepala daerah.
Adapun kewenangan Pemprov DKI Jakarta, sebagaimana diatur dalam Pasal 26 UU No. 29 Tahun 2007 dibagi menjadi dua bagian. Pertama kewenangannya sebagai daerah otonom meliputi keseluruhan urusan pemerintahan di luar urusan pemerintah pusat seperti politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal, agama, dan wewenang lainnya. Sedangkan sebagai Ibukota NKRI, wewenang Pemprov DKI Jakarta meliputi berbagai kebijakan dalam: (1) tata ruang, sumber daya alam, dan lingkungan hidup; (2) pengendalian penduduk dan permukiman; (3) transportasi; (4) industri dan perdagangan; (5) pariwisata. Berbagai urusan tersebut dilimpahkan kepada gubernur sebagai kepala daerah sekaligus wakil pemerintah pusat di daerah sehingga gubernur bertanggung jawab kepada presiden.
Pemerintah daerah juga menjalankan urusan pemerintahan umum yang dilaksanakan oleh gubernur dan memiliki pertanggungjawaban langsung
kepada presiden melalui menteri. Karena alasan itu, pelaksanaan urusan ini dibiayai oleh APBN. Adapun urusan pemerintah umum meliputi: pembinaan wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional, persatuan dan kesatuan bangsa, kerukunan masyarakat, penanganan konflik-konflik sosial, pengembangan demokrasi, dan lain sebagainya.
1.4.4 Relasi Pusat dan Daerah
Relasi pusat dan daerah dapat dimaknai sebagai relasi kerja antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam menjalankan tugasnya.
Jika ditelaah lebih dalam, terdapat beragam bentuk relasi antara keduanya.
Relasi vertikal yang berkaitan antara pihak yang berbeda jenjang jabatan, relasi horizontal yang berkaitan dengan pihak yang memiliki jabatan yang setara, dan relasi diagonal yang berkaitan dengan relasi yang menyilang dari atas ke bawah secara timbal balik antara dua unit yang memiliki perbedaan induk (Sarundajang, 2005).
Relasi pusat dan daerah di masing-masing negara memang tidak bisa dilepaskan dari bentuk negara itu sendiri. Dalam negara kesatuan, pemerintah pusat memegang kekuasaan tertinggi dalam suatu negara (Lubis, 1983).
Kewenangan yang dimiliki pemerintah daerah didapatkan dari pelimpahan kewenangan yang dimiliki pemerintah pusat sehingga memiliki garis hirarki yang jelas (Gadjong, 2007). Hal tersebut berdampak pada pembagian urusan daerah yang seharusnya tetap bersatu dan bersifat linear pada urusan pemerintah pusat (Huda, 2014b). Jika daerah tidak dapat menjalankan kekuasaaan dan kewenangannya dengan baik, maka pemerintah pusat dapat mengambil tindakan dengan cara mengalihkan kekusaan dan kewenangan tersebut kepada daerah lain atau dikembalikan lagi kepada pemerintah pusat sebagai pemegang kekusaan tertinggi di negara kesatuan (Gadjong, 2007).
Relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah bisa meliputi banyak hal: kewenangan, pengawasan, koordinasi, keuangan, maupun pembinaan (Sarundajang, 2005). Hal tersebut tercermin dalam aktivitas- aktivitas di bidang otonomi yang terkait dengan pengisian dasar dari sistem
rumah tangga daerah, tugas pembantuan sebagai bagian dari desentralisasi yang mengandung otonomi, susunan organisasi baik di tingkat luar di mana pemerintahan daerah tersusun dalam kesatuan yang integral dan di tingkat dalam di mana oemerintahan daerah mencerminkan sistem pemerintahan negara, keuangan yang terkait dengan pendanaan daerah hingga subsidi, dan bidang pengawasan agar terciptanya keutuhan setiap daerah dalam negara kesatuan (Manan, 1994).
Relasi yang muncul memang begitu kompleks sehingga berbagai relasi di atas tampak tiga klasifikasi: urusan pemerintahan absolut yang berarti kewenangan penuh dimiliki oleh pemerintah pusat, urusan pemerintah konkuren yang membagi urusan antara pemerintah pusat dengan daerah (provinsi, kabupaten/kota), urusan pemerintahan umum yang berkaitan dengan presiden sebagai kepala pemerintahan (Nur Wijayanti, 2017).
1.5 Kerangka Teori
1.5.1 Desentralisasi
Beragam ahli telah merumuskan definisi mengenai desentralisasi dari berbagai perspektif. Bagir Manan (1994, 2001) menjelaskan desentralisasi sebagai bentuk pemencaran wewenang yang dapat dilakukan antar organisasi ataupun jabatan tertentu. Hal yang utama terjadi dalam proses desentralisasi adalah terjadinya penyerahan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah dalam berbentuk otonomi. Tanpa itu, daerah tidak bisa memiliki wewenang, tugas, dan tanggung jawab atas daerahnya.
Smith (2012) dan Parson (dalam Huda, 2014) memberikan definisi desentralisasi dari perspektif politik. Desentralisasi merupakan distribusi atau pembagian kekuasaaan (power) dan kewenangan (authority) ke dalam daerah dari wilayah negara berdasarkan geografis tertentu. Distribusi kekuasaan dan kewenangan terjadi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara sistematis dan rasional sehingga desentralisasi membentuk suatu susunan hierarkis dalam negara. Karena itu, praktik desentralisasi
berkaitan dengan sentralisasi. Sifat keduanya tidak bersifat dikotomis, melainkan kontinum agar tidak terjadi disintegrasi.
Darumurti dan Rauta (2003), Sarundajang (2005) dan Syaukani et.al. (2002) merumuskan beberapa tujuan dari desentralisasi, antara lain:
1. Desentralisasi bertujuan untuk mencegah terjadinya penumpukan dan pemusatan kekuasaan pada pemerintah pusat.
2. Desentralisasi bertujuan untuk mewujudkan demokratisasi dalam dinamika pemerintahan sehingga dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
3. Desentralisasi bertujuan untuk mengurangi pendekatan yang bersifat top down. Melalui desentralisasi, tercipta partisipasi secara bottom up atau dari masyarakat kepada pemerintah berupa komunitas-komunitas masyarakat. Hal tersebut bisa menjadi sarana bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman politik.
4. Desentralisasi bertujuan untuk menghargai dan melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khas dari setiap daerah dan menjadikan itu sebagai modal untuk mencapai kesejahteraan bagi masyarakat. Alih-alih memunculkan sikap primordial, praktik ini akan mewujudkan integrasi dalam masyarakat.
5. Desentralisasi bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi mayarakat dan mempercepat proses pembangunan yang terjadi di daerah.
Terdapat beberapa jenis dari desentralisasi dimana berbagai jenis tersebut memiliki karakteristiknya masing-masing. Adapun jenis desentralisasi menurut Rondinelli (dalam Josep, 2018), antara lain:
1. Devolusi yang mewujudkan unit-unit pemerintah daerah di luar kontrol dari Pemerintah Pusat.
2. Dekosentrasi yang merupakan penyerahan wewenang adminsistrasi secara vertikal dalam badan-badan pemerintahan.
3. Delegasi yang merupakan pemindahan wewenang tertentu kepada suatu organisasi di luar struktur pada umumnya dan kontrol yang minimal dari pemerintah pusat kepada organisasi tersebut.
4. Privatisasi merupakan pemberian tanggung jawab dari pemerintah kepada organisasi tertentu yang berada di luar pemerintah. Organisasi tersebut bisa merupakan pihak swasta maupun independen.
Beragam jenis dari desentralisasi juga digagas oleh Darumurti dan Rauta (2003) dengan membedakannya berdasarkan karakteristik. Adapun jenis-jenis desentralisasi yakni:
1. Desentralisasi teritorial yang merupakan penyerahan wewenang secara vertikal dari unit pemerintah yang tinggi kepada yang lebih rendah berdasarkan pertimbangan teritorial atau kewilayahan.
2. Delegasi fungsional yang persis seperti desentralisasi teritorital namun tidak diserahkan berdasarkan teritorial atau kewilayahan namun berdasarkan fungsi atau tujuannya.
3. Desentralisasi politik yang merupakan penyerahan wewenang kepada badan atau organisasi politik yang sudah dipilih oleh rakyat.
4. Desentralisasi budaya yang merupakan pemberian kewenangan bagi kelompok untuk dapat menyelenggarakan kegiatan berupa kebudayaan yang menjadi ciri khas dari daerah.
5. Desentralisasi ekonomi yang merupakan penyerahan wewenang dalam mengatur segala aktivitas berkaitan dengan ekonomi dan memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
6. Desentralisai administratif yang berkaitan dengan pelimpahan wewenang secara vertikal dari unit pemerintahan yang besar kepada unit pemerintahan yang lebih kecil dalam urusan-urusan terkait administrasi.
Praktik desentralisasi tidak hanya dipandang sebagai proses yang bersifat teknis manajerial saja namun juga bergantung pada interaksi politik yang bersifat dinamis. Salah satu unsur penting dalam implementasinya yakni adanya interaksi dan koordinasi yang menyeluruh. Desentralisasi harus dapat melibatkan berbagai unsur mulai dari pemerintahan (daerah, regional, dan nasional), serta kerjasama dengan organisasi, lembaga, kelompok masyarakat.
Rondinelli dan Chema (dalam Huda, 2014) menuliskan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar hubungan antar-lembaga dalam praktik desentralisasi dapat berjalan maksimal. Dalam hal tujuan, desentralisasi harus memiliki kejelasan, konsistensi, dan dapat dipahami oleh seluruh lembaga yang terlibat. Kedua mengenai alokasi. Setiap badan pelaksana desentralisasi harus diberikan fungsi dan peran sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki. Ikatan antar kantor administratif yang terdesentralisasi menjamin ada interaksi dan koordinasi antar lembaga.
Ketika sudah terdapat akurasi, konsistensi, dan kualitas komunikasi yang baik, maka lembaga-lembaga tidak hanya dapat menjalankan perannya dengan baik, namun juga memberikan dukungan kepada pihak-pihak lain diluar dirinya.
Interaksi dan koordinasi yang menyeluruh antar-lembaga tidak menjadi indikator tunggal dalam menentukan keberhasilan desentralisasi.
Indikator lainnya yang dapat dinilai dalam suatu daerah yakni seperti tingkat pencapaian tujuan-tujuan politik, tingkat efektifitas administrasi, tingkat efesiensi ekonomi dan manajerial, tingkat kepekaan pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat, tingkat kepercayaan diri kelompok dan organisasi daerah, hingga perencanaan dan pelaksanaan program-praogram pembangunan daerah (Rondinelli dalam Huda, 2014a).
Desentralisasi secara langsung berdampak pada pengaturan relasi pusat dan daerah. Manan (1994) mengkontekstualisasikan asas pokok relasi antara pusat dan daerah dalam praktik desentralisasi menurut Undang- Undang Dasar. Sejatinya, bentuk relasi antara pusat dan daerah tidak justru
mereduksi peran masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam penyelanggaraan pemerintahan di daerah dan mengatur berbagai urusan yang dinilai penting bagi daerah. Setiap daerah memiliki bentuk relasi antara pusat dan daerah yang berbeda-beda sesuai dengan desentralisasi yang telah dijalankan. Kesamaan timbul dari tujuan pelaksanaan desentralisasi itu sendiri yang berguna mewujudkan keadilan dan kesejahteraan di daerah masing-masing.
Terdapat beragam model yang menjelaskan relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Misalnya seperti model yang digagas oleh Clarke dan Steward (dalam Huda, 2009):
1 The relative autonomy model
Model di mana pemerintah daerah memiliki kebebasan yang besar dalam mengatur daerahnya sendiri secara mandiri namun tetap menghargai eksistensi dari pemerintah pusat. Kebebasan yang dimiliki dan dijalankan oleh pemerintah daerah harus diatur dalam UU.
2 The agency model
Model di mana pemerintah daerah menjalankan fungsinya sebagai agen dari pemerintah pusat di daerah. Kekuasaan yang dimiliki pemerintah daerah dalam model ini terbatas, sedangkan kontrol yang dilakukan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah cenderung besar.
3 The interaction model
Model ini merupakan kombinasi dari dua model sebelumnya.
Sesuai namanya, relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah lebih menekankan sikap interaksi di antara keduanya.
Interaksi semacam demikian yang akan memunculkan kebebasan pemerintah daerah dan kontrol dari pemerintah pusat.
Tidak berbeda jauh dengan model di atas, Sarundajang (2005) juga merumuskan dua model relasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah:
1. Agency model
Dalam model ini, pemerintah daerah hadir sebatas pelaksana dari pemerintah pusat. Dampak dari berlakunya model ini dalam relasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah pemerintah daerah yang tidak memiliki keleluasaan besar dalam mengurus urusan rumah tangganya. Jika dirasa tidak memiliki kontribusi yang baik, pemerintah pusat dapat menjalankan kekuasaannya untuk dapat membubarkan pemerintah daerah atau mengalihkannya.
2. Partnership model
Berbeda dengan model sebelumnya, pemerintah daerah pada partnership model akan dipandang sebagai mitra kerja oleh pemerintah pusat. Hal tersebut berimplikasi pada kebebasan yang dimiliki pemerintah daerah dalam mengurus rumah tangganya, memiliki legitimasi politik sendiri, dan kewenangan tertentu yang dapat dilaksanakan di daerah. Relasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam model ini terjalin kuat dengan interaksi timbal balik yang terjadi di antara keduanya.
Namun, model ini tidak menjadikan pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi setara. Pemerintah daerah tetap memiliki posisi yang subordinatif terhadap pemerintah pusat.
Pembagian wewenang, tugas, dan tanggung jawab antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah didasari dari sebuah sistem yang disebut sistem rumah tangga daerah. Terdapat tiga bentuk dalam sistem rumah tangga daerah, antara lain: (1) rumah tangga daerah formil yang tidak membagi urusan pusat dan daerah secara rinci karena pemerintah daerah mendapatkan pelimpahan kekuasaan dari pemerintah pusat. Karena itu, seharusnya tidak terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan dan daerah diberikan kesempatan yang luas untuk mengatur urusan rumah tangganya
secara mandiri. (2) rumah tangga materil yang menetapkan urusan pusat dan daerah secara rinci. Hal tersebut didasari pada adanya perbedaan urusan yang dimiliki pemerintah pusat dan pemerintah daerah. (3) rumah tangga riil yang merupakan kombinasi dari kedua rumah tangga di atas. Ciri pembagian wewenang, tugas, dan tanggung jawab pusat dan daerah berdasarkan sistem rumah tangga riil yakni terdapat urusan pangkal yang ditetapkan pemerintah pusat ketika membentuk pemerintahan daerah. Jika belum ada kebijakan yang mengatur tentang pengurusan hal di luar urusan pangkal tersebut maka pemerintah daerah dapat mengaturnya secara mandiri (Manan, 1994).
Sebagaimana dijelaskan di atas, otonomi menjadi hal yang utama dalam proses terjadinya desentralisasi. Karenanya penting untuk memahami otonomi daerah karena hal tersebut tidak terlepas dari desentralisasi.
Sebagaimana dijelaskan Sarundajang (2005), otonomi daerah memiliki empat hakikat:
1. Penyerahan urusan pemerintah pusat kepada daerah menjadikan daerah-daerah memiliki hak mengurus rumah tangganya sendiri.
Hak tersebut meliputi beragam hal seperti penetapan kebijaksanaan, pelaksanaan, pembiayaan, dan pertanggujawaban.
2. Hak, wewenang, dan kewajiban yang dimiliki dalam rangka otonomi daerah hanya berlaku pada daerah yang sudah ditetapkan pemerintah pusat.
3. Daerah tidak berhak untuk mengatur daerah lain di luar ketetapan yang sudah ditentukan pemerintah pusat.
4. Otonomi daerah berlaku dalam relasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sehingga otonomi daerah tertentu tidak dapat membawahi otonomi daerah lain atau melimpahkannya secara mandiri oleh pemerintah daerah pada tingkat dibawahnya.
Sarundajang (2005) juga membagi otonomi daerah ke dalam empat bentuk, antara lain:
1. Otonomi organik
Otonomi dalam bentuk ini memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Jika pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan atau tidak menjalankan kewenangan secara maksimal, terutama pada berbagai urusan daerah yang dianggap penting, maka daerah tidak akan mengalami perkembangan dan ‘mati’.
2. Otonomi formal
Pemerintah pusat menetapkan berbagai urusan yang dapat ditangani oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Daerah otonom cukup menjalankan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya di daerah sesuai dengan penetapan tersebut yang tertuang di dalam peraturan perundangan-undangan. Dalam bentuk ini, daerah otonom memiliki kebebasan yang luas dalam mengatur daerahnya, namun itu tetap dijalankan berdasarkan koridor pembagian tugas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam praktiknya, bentuk ini mengalami banyak tantangan. Urusan pemerintah daerah nyatanya bersifat sangat kompleks, banyak, dan berhubungan satu sama lain sehingga sulit untuk dikategorisasikan.
Wijayanti (2017) menerangkan kompleksitas otonomi daerah ke dalam empat segi: (1) segi hukum dimana penyelenggaraan otonomi daerah disusun melalui hukum nasional dan hukum lokal, serta harus memperhatikan hukum adat yang terdapat di setiap daerah. (2) segi politik dimana kompleksitas politik di daerah bergantung pada situasi politik nasional. (3) segi birokrasi dimana penyelenggaraan otonomi daerah bergantung pada birokrasi nasional dalam hal pembagian urusan ke daerah.
Kinerja dari birokrasi nasional akan berpengaruh besar pada
dinamika otonomi yang tercermin pada birokrasi di daerah. (4) segi soial budaya di mana setiap keberagaman dan kreativitas di daerah perlu untuk diakui dan dilaksanakan dalam otonomi yang berlangsung di daerah-daerah.
3. Otonomi material
Otonomi material hampir memiliki definisi yang sama dengan otonomi formal. Namun, perbedaan keduanya terletak pada pembagian urusan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang berdasarkan pada substansinya. Pembagiannya juga dinilai lebih rinci dan tegas. Apabila substansi suatu urusan dapat ditangani pemerintah pusat, maka pemerintah daerah tidak dapat menyelenggarakan urusan tersebut. Berlaku juga sebaliknya, apabila substansi suatu urusan melekat pada pemerintah daerah, maka pemerintah pusat tidak dapat menyelenggarakan urusan tersebut.
4. Otonomi riil
Bentuk keempat ini merupakan kombinasi antara bentuk otonomi material dan otonomi formal. Otonomi riil dilaksanakan dengan melihat pada kebutuhan dan kemampuan setiap daerah.
Terdapat satu hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam proses ini yakni dengan melihat hasil daya guna dari suatu urusan jika diurus oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Jika suatu urusan lebih menghasilkan hasil daya guna yang lebih ketika diurus oleh pemerintah daerah, maka urusan tersebut akan diserahkan kepada pemerintah daerah. Sebaliknya, jika lebih efektif dan efisien ketika dijalankan oleh Pemerintah pusat, maka urusan tersebut akan ditangani pemerintah pusat saja.
Pelaksanaan otonomi daerah membawa dampak pada beragamnya jenis pemerintah daerah. Menurut Sarundajang (2005), terdapat pemerintah daerah yang memiliki wewenang untuk dapat mengatur kepentingan dan
urusan daerahnya sendiri. Jenis pemerintah daerah ini disebut sebagai pemerintah daerah otonom (local self government) dengan urusan dan kepentingannya yang disebut sebagai urusan otonom. Terdapat lima ciri dari jenis pemerintah daerah ini, antara lain: (1) urusan yang ditangani oleh pemerintah daerah bersifat detail dan rinci, (2) pengaturan kepentingan dan urusan daerah dijalankan oleh pejabat dan pegawai yang terdapat di daerah, (3) sikap insiatif menjadi dasar dari berlangsungnya pengaturan segala urusan yang ada di daerah, (4) karena daerah memiliki inisiatif dan kepentingan serta urusan dijalani oleh pegawai pemerintah daerah, maka fungsi dari pemerintah pusat hanya sebatas melakukan pengawasan saja, (5) penyelenggaraan pemerintahan daerah berjalan dengan sumber keuangan yang mandiri. Sebaliknya, terdapat jenis pemerintah daerah yang merupakan kontradiksi dari jenis pertama. Pemerintah wilayah (local state government) memiliki fungsi memiliki relasi yang kuat dengan pemerintah pusat dan dipandang sebagai wakil dari pemerintah pusat. Hal tersebut berimplikasi pada tugas dari pemerintah daerah yang sangat tergantung pada ketetapan dari pemerintah pusat.
Dalam pemerintah daerah, terdapat empat struktur yang memiliki perbedaannnya masing-masing (Sarundajang, 2005). Adapun varian struktur tersebut, antara lain:
1. Comprehensive local government system
Terjadi penyerahan urusan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Namun, pemerintah daerah tetap ditunjang oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah tetap menjalankan urusan dan kepentingannya di daerah sebagaimana diatur dalam perundangan-undangan atas nama pemerintah pusat.
2. Partnership local government system
Di varian kedua ini terdapat sebagian urusan dan kepentingan di daerah yang dijalankan oleh pemerintah pusat. Urusan dan kepentingan lainnya akan dijalankan pemerintah daerah di bawah pemerintah pusat atau bersifat mandiri. Pembagian antara
wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah di daerah tergantung pada situasi dan kondisi yang dialami masing-masing daerah.
3. Dual system of local government
Sistem ketiga ini lebih menekankan peran pemerintah pusat di daerah secara langsung atau tanpa perantara dan badan khusus.
Sedangkan pemerintah daerah menjalani kewenangan otonomi sebagai diatur oleh UU. Dalam praktiknya, peran antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sering mengalami konflik dan benturan. Pemerintah daerah tidak dapat secara leluasa mengatur daerahnya sendiri karena dominasi dari pemerintahan pusat di daerah. Hal tersebut berdampak pada fungsi pemerintah daerah yang berjalan secara minimalis.
Pemerintah daerah dipandang hanya sebatas alat desentralisasi politik yang meneruskan tujuan pemerintah pusat.
4. Integrated administrative system
Dalam sistem ini, peran pemerintah pusat di daerah dibantu oleh kepala wilayah (central government area coordinators) yang menjalani fungsi sebagai koordinator bagi setiap pelaksana dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Adapun kelemahan dari bentuk ini adalah pemerintah daerah tidak memiliki kebebasan dalam menjalankan fungsinya serta tidak memiliki kontrol penuh karena fungsi tersebut telah dijalankan pemerintah pusat melalui kepala wilayah. Jika terus berlanjut, sistem seperti demikian akan berdampak pada terjadinya gerakan-gerakan separatis di daerah.
Dalam implementasinya, desentralisasi memiliki kelemahan dan keuntungan. Sarundajang (2005) menjelaskan keuntungan atau manfaat dari desentralisasi. Desentralisasi berpengaruh besar pada hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah karena akan mengurangi penumpukan pekerjaan di tingkat pusat sehingga meningkatkan efektivitas
dan efisiensi birokrasi pemerintahan. Pemerintah menjadi tanggap terhadap berbagai permasalahan yang terjadi karena daerah dapat langsung memberikan eksekusi kepada permasalahan tersebut tanpa harus menunggu instruksi dari pusat. Pembedaan dan pengkhususan yang terdapat dalam desentralisasi juga di pandang menjadikan pemerintah lebih mudah dalam memahami dan memenuhi keperluan masyarakat.
Teritorialisasi yang terdapat dalam desentralisasi berdampak pada munculnya beragam hal baik yang terjadi di daerah dapat diterapkan di tingkat nasional. Begitu pula sebaliknya, hal-hal yang bersifat nasional dapat dilokalisasikan di daerah dengan memperhatikan konteks dari daerah tersebut. Desentralisasi juga dipandang akan mewujudkan perbaikan bagi unit-unit pemerintah baik di tingkat pusat dan daerah terutama bagi berbagai unit yang terkait langsung pada pelayanan masyarakat. Hal tersebut didasari pada kewenangan besar yang diberikan kepada daerah sehingga mempengaruhi psikologis daerah. Di sisi lain, kewenangan pemerintah pusat menjadi berkurang karena desentralisasi tidak lagi membuat pemerintahan menjadi berfokus di tingkat pusat saja.
Sebaliknya, yang menjadi kelemahan dari desentralisasi sebagaimana diungkapkan Josef Riwu Kaho (dalam Sarundajang, 2005) yakni desentralisasi membuat struktur pemerintahan menjadi lebih kompleks sehingga menyulitkan koordinasi. Perlu daya ekstra untuk membangun keserasian antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan berbagai kepentingan yang beragama di antara keduanya. Hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga harus menjadi perhatian khusus dalam praktik desentralisasi. Ketidakserasian keduanya yang terjadi secara berkepanjangan akan dapat berdampak pada sikap provinsialisme.
Smith (2012) menerangkan hal ini sebagai terciptanya parokialisme yang mengancam kehendak umum karena menyempitkan dan membagi- bagi berbagai kepentingan yang ada. Walau mempersingkat birokrasi, desentralisasi dapat membuat keputusan yang diambil oleh pemerintah
daerah menjadi lama karena pengambilan keputusan mensyaratkan perundingan dengan berbagai komponen. Juga terkait dengan pendanaan di mana penyelenggaraan desentralisasi membutuhkan biaya yang tinggi sehingga hal tersebut dapat menjadi tantangan terutama bagi daerah-daerah yang minim sumber daya.
Pada daerah tertentu, terdapat beberapa kasus yang membutuhkan desentralisasi yang lebih daripada daerah-daerah lainnya sehingga terdapat desentralisasi asimetris (asymetrical decentralization). Itu adalah pembentukan kewenangan khusus yang diperuntukan pada daerah-daerah tertentu yang memiliki permasalahan tersendiri terutama dalam relasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Wiratmaja et al., 2015). Menurut Tarlton (dalam Huda, 2014), perbedaan antara desentralisasi simetris dan desentralisasi asimetris tampak pada tingkat kesesuaian dan keumuman yang dimiliki daerah tertentu terhadap sistem politik pemerintah pusat atau daerah-daerah lain. Desentralisasi simetris berlaku bagi seluruh daerah otonom dengan prinsip yang sama sedangkan desentralisasi asimetris memiliki prinsip yang tidak sama dan tidak sebangun.
Josep (2018) setidaknya merumuskan empat alasan berlakunya desentralisasi asimeteris di suatu daerah: (1) basis politik dimana suatu daerah tidak bisa dilepaskan dari latar belakang sejarah yang memiliki karakteristik politik yang berbeda seperti saat ini. (2) basis sosio-budaya dimana daerah memiliki keunikan sosial dan budaya. Kebijakan desentralisasi asimeteris bagi daerah semacam ini akan melestarikan keunikan sosial dan budaya yang terdapat di daerah yang memiliki basis sosio-budaya yang kuat. (3) basis geografis yang terkait dengan daerah- daerah yang terdapat di perbatasan negara ataupun yang berbentuk kepulauan. Desentralisasi asimetris pada daerah dengan basis geografis tersebut perlu penguatan secara khusus karena daerah tersebut memiliki nilai geostrategi dan geopolitik yang tinggi. (4) basis ekonomi yang terkait pada daerah pusat kegiatan ekonomi. Desentralisasi asimetris akan
menumbuhkan serta mengembangkan ekonomi di daerah yang sudah memiliki basis ekonomi yang kuat.
Basis politik menjadi alasan yang paling dominan dalam terwujudnya desentralisasi asimetris (Huda, 2014a). Bentuk ini menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjawab berbagai permasalahan separatisme dan diversitas yang ada di suatu negara. Berbagai potensi konflik etnis ataupun konflik lainnya dapat diredam karena desentralisasi asimetris memberikan perhatian yang besar pada masalah- masalah minoritas dalam suatu daerah yang selama ini kurang diperhatikan.
Namun, pelaksanaannya perlu menuntut pemahaman yang matang dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan kelompok-kelompok itu sendiri.
Pemanfaatan yang tidak maksimal oleh suatu daerah terhadap desentralisasi asimetris bisa berdampak pada kecemburuan wilayah-wilayah lain sehingga memunculkan kembali ancaman konflik dan integrasi.
Menurut Tillin (dalam Djojosekarto, 2014) terdapat dua bentuk dari desentralisasi asimetris. Pertama yakni asymetric federation. Bentuk ini lebih menekankan pada desentralisasi yang didasari pada perbedaan antara daerah. Bentuk kedua yakni de facto dan de jure asymetery yang merupakan desentralisasi khusus yang diberikan pada daerah tertentu atau pada kebijakan tertentu. Tarlton (dalam Huda, 2014a) menjelaskan bahwa asimetri de jure ditandai dengan adanya syarat-syarat dari Pusat yang harus dipenuhi daerah untuk mendapatkan status asimetri. Sedangkan asimetri de facto lebih memperhatikan konteks daerah yang memiliki perbedaan sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang jelas dan membawa pengaruh yang besar.
Sedangkan dalam kaitannya pada relasi pemerintah pusat dan daerah, Veljanovski (dalam Huda, 2014a) menjelaskan tiga jenis asimeteri.
Pertama yakni asimetri politik. Jenis ini lebih menekankan alasan politik sehingga memunculkan unit-unit lokal yang memiliki fungsi, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Jenis kedua yakni asimetri administrasi. Desentralisasi asimetris diberikan kepada daerah ketika ada
kesepakatan antara pusat dan daerah dengan pertimbangan administrasi dan kekuasaan lokal. Jenis ketiga yakni asimetri fiskal. Jenis ini mensyaratkan kesepakatan Pusat dan Daerah atas hal-hal politik (kekuasaan), administrasi, dan finansial.
Kombinasi bentuk desentralisasi asimetris di atas menjadi ideal karena terdapat persiapan yang matang dan perlunya daerah memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan pusat. Juga dengan adanya pertimbangan yang berdasarkan pada kekhasan yang dimiliki daerah.
Namun, praktik desentralisasi asimetris di Indonesia dipandang tidak memenuhi hal-hal tersebut dan cenderung hanya berdasarkan tuntutan sporadis dari daerah berdasarkan pengalaman masa lalu. Hal tersebut berdampak pada praktik desentralisasi asimetris di Indonesia yang tidak mampu memenuhi keragaman kebutuhan daerah dan tidak dapat menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat (Huda, 2014a).
Polokda UGM dan Pratikno (dalam Wiratmaja et al., 2015) menjelaskan pula model-model dari desentralisasi asimetris. Model pertama yakni penerapan desentralisasi asimetris secara penuh. Hal tersebut dapat berjalan efektif pada daerah-daerah yang memiliki pluralitas esktrim sehingga desentralisasi asimetris dapat menjadi solusi bagi keragaman daerah yang ada. Walau demikian, terdapat tantangan yang muncul dalam model penuh ini yakni adanya potensi anarkisme dalam relasi antara pusat dan daerah. Karenanya perlu kapasitas nasional yang kuat ketika menerapkan model pertama ini. Kedua yakni desentralisasi asimetris kategori kemajuan sosial dan teknologi. Berbeda dengan model pertama, model ini mendasari pelaksanaan desentralisasi asimetris di daerah-daerah tertentu dengan pertimbangan yang lebih tertuju pada aspek sosial, ekonomi, dan sejarah.
Ketiga yakni model kombinasi antara otonomi khusus dan otonomi reguler. Model ketiga ini menyasar pada daerah-daerah yang memiliki karakter yang sangat spesifik. Sifat kombinasi tampak pada otonomi khusus dan reguler terlaksana secara bersamaan. Mayoritas daerah memiliki dan
menjalannya otonomi reguler, sedangkan otonomi khusus diperuntukan bagi daerah-daerah khusus. Model ini yang sudah diterapkan di Indonesia dengan adanya daerah khusus/istiwewa seperti Nanggroe Aceh Darussalam, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Papua.
Dalam konteks Indonesia, penerapan desentralisasi asimetris dipandang sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar yang menghendaki perhatian pemerintah atas keberagaman yang ada di daerah-daerah. Desentralisasi asimetris akan lebih berkembang dalam konteks tersebut dibandingkan desentralisasi simetris yang dipandang menyamaratakan setiap daerah (Wiratmaja et al., 2015).
1.6 Metode Penelitian 1.6.1 Fokus Penelitian
Fokus menjadi bagian penting yang memandu peneliti dalam menganalisis kasus yang diangkat. Dalam penelitian kualitatif, fokus berguna untuk dapat mendeskripsikan fenomena secara lengkap dan/atau mendeskripsikan makna pengalaman subjek penelitian (Aminah & Roikan, 2019). Karenanya penelitian ini berfokus pada dinamika relasi yang terjadi antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta dalam menangani COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta. Hal tersebut akan dianalisis secara mendalam dengan menggunakan teori desentralisasi. Fokus penelitian menjadikan penelitian ini hanya dapat mencerminkan kondisi di Pemprov DKI Jakarta dan tidak dapat digeneralisasikan pada wilayah lain karena memiliki konteks berbeda.
1.6.2 Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif dapat digunakan pada kondisi-kondisi yang alamiah di mana peneliti memegang peranan penting dalam penelitian dengan menyelidiki makna, interpretasi, simbol, proses dan hubungan, serta relevansinya dengan fenomena politik. Adapun keunggulan dari penelitian kualitatif yakni dapat
menggambarkan sikap, perilaku, interaksi, dan relasi kejadian politik secara detail dan mendalam. Itu dicapai karena penelitian kualitatif memfokuskan diri pada suatu persitiwa, menjelaskan proses tersebut sebagai tanggapan atas peristiwa, menganalisis masalah-masalah yang terdapat di dalam persistiwa tersebut, hingga membuat penemuan baru yang menghasilkan perkembangan pengetahuan empiris. Karena itu, penelitian kualitatif lebih memberikan analisis yang bersifat deskriptif, bukan prediktif. Hal demikian bergantung pada peneliti sebagai instrumen utama yang memiliki fungsi mengumpulkan dan menganalisis data penelitian (Aminah & Roikan, 2019).
Penelitian kualitatif memiliki beberapa karakteristik, antara lain: (1) menitikberatkan pada suatu fenomena yang terjadi, (2) peneliti menjadi instrumen utama yang memiliki fungsi mengumpulkan dan menganlisis data penelitian, (3) penelitian kualitatif merupakan kerja lapangan sehingga peneliti harus dapat terlibat dalam lingkungan alami dari fenomena yang diteliti, (4) penelitian kualitatif bersifat induktif: membangun abstraksi, konsep, hipotesis atau teori dibandingkan menguji teori yang sudah ada, hasil penelitian juga bersifat deskriptif dan berupa tema, kategori, konsep, maupun hipotesis (Aminah & Roikan, 2019).
Dalam tulisan ini, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus (case study). Pendekatan ini menitikberatkan pada aktivitas eksplorasi pada suatu peristiwa yang melibatkan beragam pelaku baik secara mikro (individu, kelompok, dan komunitas) ataupun pada tingkat makro (lembaga, organisasi, pemerintahan, dan negara). Melalui aktivitas ini, peneliti akan mendapatkan informasi yang komprehensif. Terdapat beragam ciri dari pendekatan studi kasus. Pertama, pendekatan ini akan mengkaji persitiwa- peristiwa yang sedang berlangsung saat penelitian dilakukan (real-life events) (Raharjo, 2017). Pendekatan studi kasus tidak bisa dilakukan apabila peneliti memilih kasus yang sudah lewat dan selesai. Ciri kedua yakni pendekatan studi kasus yang bersifat integratif dan terpola. Ia layaknya sebuah sistem yang tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan hal-hal lain di luar dirinya (a bounded system) (Stake, 1994). Artinya, analisis
dalam pendekatan studi kasus harus dihadirkan secara komprehensif dengan tidak berfokus pada satu aktor ataupun peristiwa saja. Kesimpulan didapatkan ketika terdapat garis hubungan di antara berbagai peristiwa dan aktor yang terlibat dalam fenomena yang diteliti.
1.6.3 Subyek Penelitian
Subjek yang dipilih penelitian ini adalah aktor-aktor kunci (key actors) di Pemprov DKI Jakarta yang memiliki relasi dengan pemerintah pusat. Begitu pula sebaliknya, aktor kunci dalam penanganan COVID-19 di pemerintah pusat yang memiliki relasi kuat dengan Pemprov DKI Jakarta.
Karenanya subyek penelitian akan berfokus pada SKPD yang memiliki tugas terkait implementasi kebijakan penanganan COVID-19 di DKI Jakarta. Subyek penelitian juga terdiri dari berbagai kementerian yang memiliki tugas pokok dan fungsi khusus dalam penanganan COVID-19.
Lebih rinci lagi, subjek penelitian tersebut yakni:
1. Beny Marolop Pakpahan, S.P., M.T. (Kepala Sub Direktorat Tata Operasional dan Standarisasi Polisi Pamong Praja Direktorat Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia).
2. Danang Insita Putra, S.T., M.Si. (Han.)., Ph.D. (Kepala Seksi Informasi Bencana Direktorat Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia).
3. dr. Dwi Oktavia Tatri Lestari Handayani, M.Epid. (Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta).
4. dr. Rian Hermana (Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia).
5. Dwi Yani Anggun Sari, S.S. (Kepala Seksi Wilayah II A Sub Direktorat Wilayah II Direktorat Fasilitasi Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia).
6. Muhammad Burhanuddin Alamsah (Kepala Bagian Tata Praja Biro Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta).12345
7. Win Endrias, S.H. (Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta).
1.6.4 Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara
Wawancara dilakukan peneliti kepada informan dengan tujuan mendapatkan informasi dan dara secara detail. Sebelum pelaksanannya, peneliti harus dapat menentukan informan yang tepat dengan beragam pertimbangan dan kriteria tertentu agar dapat menghasilkan data yang maksimal. Berbeda dengan teknik diskusi kelompok, prasyarat dari wawancara adalah dilakukan antara dua orang yakni peneliti dan informan (Aminah & Roikan, 2019). Tipe lebih lanjut dari wawancara mendalam yang akan digunakan peneliti yakni semi- terstandarisasi. Tipe ini menggabungkan pertanyaan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif kepada informan (Harison, 2007). Sebelum memulai wawancara, peneliti sudah harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada informan, namun dalam praktiknya, percapakan yang terjadi dalam wawancara akan berkembang sesuai dengan situasi dan tanggapan dari informan. Teknik wawancara memiliki keterkaitan dengan teknik lain yang digunakan. Wawancara akan membantu peneliti untuk dapat mengindentifikasi berbagai dokumen yang akan dikaji secara mendalam oleh
peneliti di analisis teks. Wawancara juga bisa menjadi solusi ketika terdapat dokumen atau arsip yang tidak dapat diakses oleh peneliti (Harison, 2007).
2. Analisis Teks
Peneliti dapat menemukan data dalam produk-produk seperti dokumen, arsip, dan buku. Walaupun keterbatasan sumber menjadi kelemahan dalam teknik ini, namun produk seperti dokumen, arsip, dan buku akan memberikan variasi dalam hal muatan dan akurasi. Berbagai informasi yang disajikan dalam dokumen, arsip, dan buku adalah informasi selektif. Ini dapat terjadi karena dalam penyusunan suatu dokumen, arsip, dan buku, setiap penulis akan memenuhi ketentuan penyusunan dan kaidah-kaidah yang berlaku (Harison, 2007). Analisis teks merupakan teknik pengumpulan data dengan melihat kata dan/atau gambar dalam dokumen ataupun media. Peneliti akan menganalisis konteks, isi dan kesimpulan dari kata dan/atau gambar dalam dokumen dan media yang terkait dengan fenomena yang diteliti (Aminah & Roikan, 2019).
1.6.5 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan tahap yang dilakukan peneliti setelah berhasil mengumpulkan data. Didalamnya, peneliti akan berusaha untuk mengatur data, mengorganisasikannya ke dalam pola, kategori, atau uraian, dan mencari hubungan antara pola, kategori, atau uraian tersebut.
Sebagaimana dijelaskan Moleong (2011), setidaknya ada tiga tahap yang dapat dilakukan peneliti dalam menganalisis data yang dimiliki, antara lain:
1. Reduksi Data
Dalam tahap ini, peneliti akan menyaring data-data yang sudah didapatkan di lapangan. Penyaringan tersebut dilakukan dengan berfokus pada data-data yang menyangkut
hal pokok dan sesuai dengan rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian. Beberapa hal dapat dilakukan peneliti di tahap ini seperti merangkum data-data yang ada, mencari catatan-catatan inti dari setiap data, menemukan tema dan keterhubungan dari setiap data, dan menyesuikannya dengan penelitian yang diangkat. Tujuan dari reduksi data adalah untuk menyederhanakan data yang diperoleh. Data yang bermanfaat, akan diteruskan pada tahap berikutnya, sebaliknya bagi data yang tidak relevan dengan penelitian atau mengandung kesalahan akan dibuang.
2. Penyajian Data
Pada tahap ini, peneliti akan mengklasifikasan dan menyajikan data sesuai dengan pertanyaan penelitian. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan coding pada setiap pokok permasalahan. Mengingat metode penelitian kualiatif adalah bersifat deskriptif, maka peneliti di tahap ini perlu kembali melakukan penyederhanaan atas data dan analisis yang diberikan. Penyederhanaan tidak hanya berfungsi untuk mencegah peneliti agar tidak berbelit-belit dalam proses analisis, namun juga memudahkan peneliti untuk dapat melakukan penarikan kesimpulan dari penelitian tersebut.
3. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan menjadi tahap terakhir yang dilakukan peneliti dalam menganlisis data. Dalam tahap ini, peneliti harus dapat mengutarakan kesimpulan dari data-data yang telah diperoleh dengan cara membandingkan kesesuaian pernyataan dari subyek penelitian dengan makna yang terkandung dengan konsep-konsep dasar dalam penelitian tersebut.