1
Tabel Sanding Raperda RTRW Provinsi Jawa Barat versi Pansus 2019 dan Pasca Linsek 2021 Raperda Nomor …. Tahun 2021 Tentang Perubahan Atas Perda Nomor 22
Tahun 2010 Tentang RTRW Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 versi Agustus 2019
Raperda Nomor …. Tahun 2022 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2022-2042 versi pasca Linsek 2021
(Februari 2022)
Catatan Pembahasan Pansus VI Perubahan/Keterangan
Pasal Materi Bab/Pasal Materi
Menimbang a. bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010;
b. bahwa dengan memperhatikan perubahan kebijakan nasional dan dinamika pembangunan di Daerah Provinsi Jawa Barat, perlu dilakukan revisi terhadap RTRW Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 sebagaimana dimaksud pada pertimbangan huruf a, berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009- 2029;
Menimbang a. bahwa ruang sebagai tempat hidup dan penghidupan manusia, sehingga pengelolaan ruang perlu dilaksanakan secara bijaksana, berdaya guna, dan berhasil guna, serta terjaga keberlanjutannya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial;
b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penataan ruang, telah ditetapkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009- 2029;
c. bahwa dengan adanya perubahan regulasi dan kebijakan nasional, serta dinamika pembangunan di Daerah Provinsi Jawa Barat, maka Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009- 2029 perlu diganti;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2022-2042.
Penyesuaian berdasarkan masukan dari Kementerian
ATR/BPN dan Biro Hukum Provinsi Jawa Barat.
Poin-poin menimbang disesuaikan karena Perda bukan lagi revisi melainkan pencabutan.
Mengingat: 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Djawa Barat (Berita Negara Republik Indonesia Tanggal 4 Juli 1950) jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1950 tentang Pemerintahan Jakarta Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 15) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4744) dan Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor
Mengingat: 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Djawa Barat (Berita Negara Republik Indonesia Tanggal 4 Juli 1950) jo. Undang- Undang Nomor 20 Tahun 1950 tentang Pemerintahan Jakarta Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 15) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4744) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);
• Penyesuaian dan penambahan peraturan perundangan yang dicantumkan berdasarkan masukan linsek, dan Biro Hukum Provinsi Jawa Barat.
• Penambahan UU 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan peraturan turunannya.
• Penambahan peraturan-
peraturan terkait kelautan (UU 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU 32 Tahun 2014 tentang Kelautan, Permen KP 28 Tahun 2021)
• Penambahan Perpres 18 Tahun 2020 tentang RPJMN Pembahasan dalam Rapat Kerja Pansus VI, 4 Januari 2022:
Perlu ditambah peraturan terkait RPJPD dan RPJMD.
2
182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6041);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
4. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5214), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
− Perda Provinsi Jawa Barat No.
9 Tahun 2008 tentang RPJPD Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025
− Perda Provinsi Jawa Barat No.
8 Tahun 2021 tentang
Perubahan Atas PerdaProvinsi Jawa Barat No. 8 Tahun 2019 tentang RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023 Catatan Pansus VI:
• Menghapus peraturan yang tidak terkait langsung dengan RTRW, dan tidak
mencantumkan peraturan yang berupa Perpres, Permen, Kepmen.
• Pencantuman UUCK sebagai konsideran akan
dikonsultasikan terlebih dahulu ke MK
Tindak Lanjut:
Peraturan yang tidak terkait langsung dengan RTRW dihapus sesuai masukan Pansus VI dan Biro Hukum
3
Nomor 5160);
9. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur;
10. Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2018
tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018, Nomor 91);
11. Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 Tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi Tahun 2018-2029
12. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pembentukan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 Nomor 3 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 117), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pembentukan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2015 Nomor 4 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 183);
13. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2010 Nomor 22 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 86);
14. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2017 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 211);
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 294, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5603), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6041);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6633);
Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 91);
10. Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 10);
Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Lembaran Negara Republik Indonesia
4
Tahun 2020 Nomor 101);
Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Barat Bagian Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 213);
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang Laut Nomor 28 Tahun 2021 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 701);
11. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 Nomor 8 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 45) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 7 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2019 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 236);
12. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 8 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018- 2023 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2019 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 237) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 8 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 8 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018- 2023 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2021 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 252);
Memutuskan: Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI JAWA BARAT
dan
GUBERNUR JAWA BARAT MEMUTUSKAN:
Memutuskan: Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI JAWA BARAT
dan
GUBERNUR JAWA BARAT MEMUTUSKAN:
5
Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
BARAT TAHUN 2009-2029.
Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2022-2042.
Revisi Perda RTRWP tidak lagi berupa perubahan, namun pencabutan.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2010 Nomor 22 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 86) diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 1 angka 25, angka 31, angka 34, angka 39, angka 45, angka 55, dan angka 57 diubah, angka 11, angka 12, angka 14, angka 42, angka 44, angka 45, angka 46, dan angka 50 dihapus, di antara angka 30 dan angka 31 disisipkan 1 (satu) angka yakni angka 30A, dan di antara Angka 46 dan angka 47 disisipkan 1 (satu) angka, yakni angka 46a, sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:
BAB I
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu Bagian Kesatu
Definisi
Pasal 1 Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Provinsi Jawa Barat
2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Daerah.
3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat.
4. Gubernur adalah Gubernur Jawa Barat.
5. Daerah Kabupaten/Kota adalah daerah Kabupaten/Kota di Jawa Barat.
6. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan Wilayah, tempat manusia dan makhluk lain
Pasal 1 Pasal 1
1. Daerah Provinsi adalah Daerah Provinsi Jawa Barat.
2. Pemerintah Daerah Provinsi adalah Gubernur sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat.
4. Gubernur adalah Gubernur Jawa Barat.
5. Daerah Kabupaten/Kota adalah Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Provinsi.
6. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan Wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya.
7. Tata Ruang adalah wujud Struktur Ruang dan pola ruang.
• Perubahan definisi mengacu pada Permen ATR/BPN No 11 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penyusunan,
Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang
• Penyesuaian definisi sesuai masukan K/L saat linsek dan Biro Hukum
• Penambahan definisi-definisi terkait penyelenggaraan penataan ruang laut sebagai bagian integrasi dengan
6
hidup, melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya.
7. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
8. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
9. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu Wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
10. Ruang Investasi adalah kawasan perkotaan dan/atau kawasan perdesaan yang diarahkan untuk pengembangan penanaman modal dalam rangka pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan Provinsi.
11. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.
12. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
13. Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.
14. Pengaturan Penataan Ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam penataan ruang.
15. Pembinaan Penataan Ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat.
16. Pelaksanaan Penataan Ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
8. Rencana Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RTR adalah hasil perencanaan tata ruang.
9. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat yang selanjutnya disebut RTRW Provinsi adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah provinsi, yang mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional.
10. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
11. Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan di laut.
12. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan Struktur Ruang dan Pola Ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan RTR.
13. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
14. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu Wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
15. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses Perencanaan Tata Ruang, Pemanfaatan Ruang, dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
16. Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.
17. Ruang Investasi adalah kawasan perkotaan dan/atau kawasan perdesaan yang diarahkan untuk pengembangan penanaman modal dalam rangka pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan provinsi.
18. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.
RZWP-3K
Catatan Pansus VI :
• Menyeragamkan singkatan RTRW Provinsi
• Menambahkan LSD
• Mempertanyakan Holding Zone
• Menambahkan kembali Wilayah Sungai (cek ke DSDA, dan ATR)
Tindak lanjut:
• Tidak terdapat definisi baku untuk LSD sehingga definisi yang dicantumkan adalah Lahan Sawah.
• Holding Zone merupakan nomenklatur baku yang terdapat pada Permen ATR/BPN No. 11 Tahun 2021 terkait pedoman penyusunan RTRW.
• Definisi Wilayah Sungai (WS) tidak dicantumkan dalam Pasal 1 namun dalam Penjelasan Pasal 66 Ayat (1). WS bukan merupakan kewenangan Provinsi.
7
17. Pengawasan Penataan Ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
18. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
19. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
20. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang.
21. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
22. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat yang selanjutnya disebut RTRWP adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah provinsi, yang mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional.
23. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
24. Wilayah Provinsi adalah seluruh Wilayah Jawa Barat yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
25. Kawasan adalah Wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.
26. Kawasan Lindung adalah Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan serta nilai sejarah dan budaya bangsa, guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.
27. Kawasan Kars adalah kawasan batuan karbonat berupa batugamping dan dolomite yang memperlihatkan morfologi kars.
28. Kawasan Rawan Bencana adalah kawasan dengan kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada satu Wilayah
19. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan Stuktur Ruang dan Pola Ruang sesuai dengan RTR melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
20. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang.
21. Kawasan adalah Wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.
22. Kawasan Lindung adalah Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan serta nilai sejarah dan budaya bangsa, guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.
23. Kawasan Budidaya adalah Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan.
24. Kawasan Kars adalah kawasan batuan karbonat berupa batugamping dan dolomite yang memperlihatkan morfologi kars.
25. Kawasan Rawan Bencana adalah kawasan dengan kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada satu Wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.
26. Kawasan Andalan adalah bagian dari kawasan budidaya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi Wilayah tersebut dan Wilayah sekitarnya.
27. Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang selanjutnya disingkat KP2B adalah wilayah budidaya pertanian terutama pada wilayah perdesaan yang memiliki hamparan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan/atau hamparan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan serta unsur penunjangnya dengan fungsi utama untuk mendukung kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional.
8
untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.
29. Kawasan Budidaya adalah Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
30. Kawasan Andalan adalah bagian dari kawasan budidaya, yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi Wilayah tersebut dan Wilayah sekitarnya.
30A. Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang selanjutnya disingkat KP2B adalah wilayah budidaya pertanian terutama pada wilayah perdesaan yang memiliki hamparan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan/atau hamparan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan serta unsur penunjangnya dengan fungsi utama untuk mendukung kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional.
31. Wilayah Pengembangan yang selanjutnya disebut WP adalah bagian dari kawasan budidaya, yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan dalam segala aspek pengembangan Wilayah untuk mendorong pertumbuhan Wilayah.
32. Kawasan Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
33. Kawasan Perkotaan adalah kawasan dengan kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
34. Kawasan Perdesaan adalah kawasan dengan kegiatan utama pertanian dan pengelolaan sumber daya alam dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
35. Kawasan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut
28. Lahan Sawah adalah areal tanah pertanian basah dan/atau kering yang digenangi air secara periodik dan/atau terus-menerus ditanami padi dan/atau diselingi tanaman semusim lainnya.
29. Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian.
30. Daerah irigasi yang selanjutnya disebut DI adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi.
31. Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangan air irigasi.
32. Wilayah Pengembangan yang selanjutnya disebut WP adalah bagian dari kawasan budidaya, yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan dalam segala aspek pengembangan Wilayah untuk mendorong pertumbuhan Wilayah.
33. Kawasan Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
34. Kawasan Perkotaan adalah kawasan dengan kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
35. Kawasan Perdesaan adalah kawasan dengan kegiatan utama pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
36. Kawasan Peruntukan Industri yang selanjutnya disingkat KPI adalah bentangan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan industri berdasarkan RTRW yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
37. Zona Tunda atau Holding Zone adalah kawasan hutan yang belum disepakati peruntukannya pada saat penetapan peraturan daerah, dimana mekanisme
9
KSN adalah Wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan keamanan negara, ekonomi, sosial budaya, dan/atau lingkungan, termasuk Wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia.
36. Kawasan Strategis Provinsi yang selanjutnya disebut KSP adalah Wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, serta pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tinggi.
37. Kawasan Pertahanan Keamanan adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk kepentingan kegiatan pertahanan dan keamanan.
38. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.
39. Dihapus.
40. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.
41. Dihapus.
42. Dihapus.
43. Dihapus.
46A. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.
44. Wilayah Sungai yang selanjutnya disebut WS adalah kesatuan Wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2.
45. Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu Wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan
penetapannya mengacu pada ketentuan perundang- undangan.
38. Kawasan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut KSN adalah Wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan keamanan negara, ekonomi, sosial budaya, dan/atau lingkungan, termasuk Wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia.
39. Kawasan Strategis Provinsi yang selanjutnya disebut KSP adalah Wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, serta pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tinggi.
40. Kawasan Pertahanan Keamanan adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk kepentingan kegiatan pertahanan dan keamanan.
41. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disingkat PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.
42. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disingkat PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.
43. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disingkat PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.
44. Sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan.
45. Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu Wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
10
daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
46. Cekungan Air Tanah yang selanjutnya disebut CAT adalah suatu Wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung.
47. Dihapus.
48. Arahan Zonasi adalah pedoman yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam perencanaan rinci tata ruang.
49. Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
50. Insentif adalah perangkat atau upaya untuk memberikan rangsangan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang.
51. Disinsentif adalah perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi pelaksanaan kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang.
52. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan nonpemerintah lain dalam penyelenggaraan penataan ruang.
53. Peran Masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
54. Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah yang selanjutnya disingkat TKPRD atau tim dengan penamaan lain sesuai ketentuan adalah tim ad-hoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan penataan ruang di Daerah Provinsi Jawa Barat dan mempunyai fungsi membantu tugas Gubernur dalam pelaksanaan koordinasi penataan ruang di Daerah.
55. Satuan Polisi Pamong Praja adalah Perangkat Daerah yang dibentuk untuk menegakkan Peraturan Kepala Daerah, menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman serta menyelenggarakan perlindungan masyarakat.
46. Wilayah Sungai yang selanjutnya disebut WS adalah kesatuan Wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2. 47. Cekungan Air Tanah yang selanjutnya disebut CAT
adalah suatu Wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung.
48. Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan Ekosistemnya.
49. Ekosistem adalah kesatuan komunitas tumbuhan- tumbuhan, hewan, organisme dan non organisme lain serta proses yang menghubungkannya dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas.
50. Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna.
51. Arahan Zonasi adalah pedoman yang mengatur tentang persyaratan Pemanfaatan Ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam perencanaan rinci tata ruang.
52. Rencana Zonasi yang selanjutnya disingkat RZ adalah rencana yang menentukan arah pengunaan sumber daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada Kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin.
53. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang yang selanjutnya disingkat KKPR adalah kesesuaian antara rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang dengan RTR.
54. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut yang selanjutnya disingkat KKPRL adalah kesesuaian antara rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang laut dengan RTR dan/atau RZ.
55. Konfirmasi Kesesuaian Ruang Laut yang selanjutnya disebut Konfirmasi adalah dokumen yang menyatakan
11
56. Kas Daerah adalah Kas Daerah Provinsi Jawa Barat. kesesuaian antara rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang dengan RTR dan/atau RZ.
56. Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut yang selanjutnya disebut Persetujuan adalah dokumen yang menyatakan kesesuaian antara rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut dengan RTR dan/atau RZ.
57. Insentif adalah perangkat atau upaya untuk memberikan rangsangan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan RTR.
58. Disinsentif adalah perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi pelaksanaan kegiatan yang tidak sejalan dengan RTR.
59. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang, termasuk masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan nonpemerintah lain dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang.
60. Orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi.
61. Forum Penataan Ruang adalah wadah di tingkat pusat dan daerah yang bertugas untuk membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan memberikan pertimbangan dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang.
Satuan Polisi Pamong Praja yang selanjutnya disebut Satpol PP adalah perangkat daerah yang dibentuk untuk menegakkan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah, menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman serta penyelenggaraan pelindungan masyarakat.
BAB II Tidak Diubah Dihapus BAB II Asas, Tujuan dan Sasaran
dihapus karena struktur Ranperda disesuaikan dengan Perubahan definisi mengacu pada Permen ATR/BPN No 11 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penyusunan, Peninjauan
Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang
Tidak Diubah Dihapus
12
Pasal 2 Tidak Diubah Dihapus Asas penyelenggaraan RTRWP
dihapus
Pasal 3 Tidak Diubah Substansi dipindahkan ke Bab II – Tujuan,
Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Substansi Pasal 3 terkait Tujuan dan Pasal 4 terkait Sasaran dipindahkan ke Bab II sesuai Perubahan definisi mengacu pada Permen ATR/BPN No 11 Tahun 2021 tentang Tata Cara
Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang
Pasal 4 Tidak Diubah Substansi dipindahkan ke Bab II – Tujuan,
Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang
Bagian Kedua Bagian Kedua
Ruang Lingkup
Pasal 2 (1) Lingkup Wilayah RTRW Provinsi meliputi batas yang ditentukan berdasarkan aspek administratif, mencakup:
a. Wilayah dengan luas kurang lebih 5.349.606 Ha (lima juta tiga ratus empat puluh sembilan ribu enam ratus enam hektar) mencakup:
1. wilayah darat termasuk pulau-pulau kecil, dengan luas kurang lebih 3.694.485 ha (tiga juta enam ratus sembilan puluh empat ribu empat ratus delapan puluh lima hektar);
2. wilayah laut, dengan luas kurang lebih 1.655.121 ha (satu juta enam ratus lima puluh lima ribu seratus dua puluh satu hektar);
b. Wilayah udara; dan c. Wilayah dalam bumi.
(2) Batas Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), secara geografis terletak pada 106° 22’ 13” BT-108°
50’ 1,4” BT, dan 5° 54’ 49,58” LS–7° 49’ 15,52” LS.
(3) Batas-batas Wilayah Daerah Provinsi terdiri atas:
a. sebelah utara, berbatasan dengan Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Laut Jawa;
b. sebelah timur, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah;
c. sebelah selatan, berbatasan dengan Samudera Hindia; dan
d. sebelah barat, berbatasan dengan Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Provinsi Banten.
(4) Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terletak di Wilayah Daerah Kabupaten
• Luas wilayah pada huruf a telah mencakup luas
wilayah laut sebagai hasil integrasi dengan RZWP-3K
• Batas koordinat berubah berdasarkan informasi dari BIG
• Pembagian WP dimasukan dalam pasal ini pada ayat (5)
Catatan Pansus VI:
• Pansus meminta sumber data batas wilayah geografis, konfirmasi ke BIG/ Kemendagri/ Biro Pemotda.
• Wilayah Udara dan Dalam Bumi dikonsultasikan ke ATR/BPN.
Tindak lanjut:
• Ruang lingkup (Batas Wilayah) telah dikonfirmasi ke Kementerian Dalam Negeri melalui Berita Acara
13
Pangandaran, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Sukabumi.
(5) Untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pembangunan dan mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah, dilakukan pengembangan Wilayah dengan membagi ke dalam 6 (enam) WP, yaitu:
a. WP Bodebekpunjur, sebagai pengembangan Kawasan Perkotaan di Wilayah Jawa Barat dengan kesetaraan fungsi dan peran kawasan di KSN Jabodetabekpunjur serta antisipatif terhadap perkembangan pembangunan wilayah perbatasan, meliputi Daerah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Depok dan sebagian wilayah di Kabupaten Cianjur;
b. WP Purwasuka, sebagai penjabaran dari Kawasan Andalan Purwasuka, meliputi Daerah Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Karawang;
c. WP Ciayumajakuning, sebagai penjabaran dari Kawasan Andalan Ciayumajakuning yang antisipatif terhadap perkembangan pembangunan Wilayah perbatasan, meliputi Daerah Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, dan sebagian wilayah di Kabupaten Sumedang;
d. WP Priangan Timur-Pangandaran, sebagai penjabaran dari Kawasan Andalan Priangan Timur-Pangandaran dengan kesetaraan fungsi dan peran kawasan di KSN Pacangsanak yaitu Pangandaran-Kalipucang-Segara Anakan yang antisipatif terhadap perkembangan pembangunan wilayah perbatasan, meliputi Daerah Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran;
e. WP Sukabumi dan sekitarnya, sebagai penjabaran dari Kawasan Andalan Sukabumi yang antisipatif terhadap perkembangan pembangunan wilayah perbatasan, meliputi Daerah Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, dan sebagian wilayah di Kabupaten Cianjur; dan f. WP Cekungan Bandung, meliputi Daerah Kota
Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten
No. 96/BAD.II/XI/2021
• RTRW Provinsi Jawa Barat
telah mendapatkan
rekomendasi peta dasar dari BIG melalui Berita Acara
No. 10.2/DGIG-
PRT/IGD.02/12/2021
• Enam WP sudah
mempertimbangkan
kebutuhan pengembangan wilayah di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan pembagian WP tersebut, dianalisis lebih lanjut terkait WP yang perlu didorong, dikendalikan, ditingkatkan, dan dibatasi pengembangannya
berdasarkan kondisi masing-masing WP dan perannya terhadap Provinsi Jawa Barat.
• Terkait pengembangan WP
lainnya akibat
ditetapkannya Daerah Otonomi Baru (DOB), penetapan DOB ke depan tidak akan mempengaruhi pembagian WP.
• Usulan penambahan ayat (6) baru:
“Dalam hal terdapat penetapan DOB, maka pembagian WP mengikuti daerah induknya.”
14
Bandung Barat, Kota Cimahi dan sebagian wilayah di Kabupaten Sumedang.
(6) Dalam hal terdapat penetapan Daerah Otonomi Baru (DOB), maka pembagian WP mengikuti daerah induknya sebagaimana tercantum pada ayat (5).
(7) Peta Wilayah Daerah Provinsi, nama Pulau-Pulau Kecil, dan arahan pembagian WP, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (4), dan ayat (5), tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 3 Muatan RTRW Provinsi meliputi:
a. tujuan, kebijakan, dan strategi Penataan Ruang;
b. rencana struktur ruang;
c. rencana Pola Ruang;
d. KSP;
e. arahan Pemanfaatan Ruang;
f. arahan pengendalian Pemanfaatan Ruang; dan g. partisipasi masyarakat dan kelembagaan.
Tidak Diubah Dihapus Sesuai Permen ATR/BPN No 11
Tahun 2021 tentang Tata Cara Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang, fungsi dan kedudukan tidak perlu dicantumkan sehingga bab dan pasal ini dihilangkan
Pasal 5 Tidak Diubah Dihapus
Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab I – Ketentuan Umum, Bagian
Kedua Ruang Lingkup Luas dan Batas Wilayah Provinsi
dipindahkan substansinya ke Bab I – Ketentuan Umum, Bagian Kedua Ruang Lingkup
Pasal 6 Pasal 6
(1) Lingkup wilayah RTRWP meliputi batas yang ditentukan berdasarkan aspek administratif, mencakup :
a. Wilayah daratan, termasuk pulau-pulau kecil, seluas ± 3.708.938,44 Ha
b. Wilayah udara; dan c. Wilayah dalam bumi.
(2) Batas koordinat Daerah adalah 106° 22’ 13” BT - 108° 50’ 1,4” BT , dan 5° 54’ 49,58” LS – 7° 49’
15,52” LS.
(3) Batas-batas wilayah Daerah terdiri atas :
Dipindahkan ke Bab I – Ketentuan Umum, Bagian Kedua Ruang Lingkup
15
a. Sebelah utara, berbatasan dengan Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Laut Jawa;
b. Sebelah timur, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah;
c. Sebelah selatan, berbatasan dengan Samudera Hindia; dan
d. Sebelah barat, berbatasan dengan Provinsi Banten.
Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang • Kebijakan dan strategi
dijelaskan dalam Bab II Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
• Perubahan struktur pasal mengacu pada Permen ATR/BPN No 11 Tahun 2021 tentang Tata Cara
Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang dimana Kebijakan dan stategi dipisahkan dalam pasal berbeda.
• Kebijakan dan strategi tidak dibagi menjadi kebijakan perencanaan, kebijakan pemanfaatan dan kebijakan pengendalian.
• Kebijakan dan strategi yang bersifat teknis dicantumkan dalam indikasi program perwujudan ruang.
Pasal 7 Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang
Pasal 8 Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang
Pasal 9 Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang
Pasal 10 Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab I – Ketentuan Umum, Bagian
Kedua Ruang Lingkup Substansi terkait pembagian
Wilayah Pengembangan (WP) dipindahkan ke Bab I – Ketentuan Umum, Bagian
Pasal 11 Pasal 11
(1) Pembagian WP sebagaimana dimaksud pada Pasal 10,
Dipindahkan ke Bab I – Ketentuan Umum, Bagian Kedua Ruang Lingkup
16
terdiri atas:
a. WP Bodebekpunjur sebagai pengembangan kawasan perkotaan di wilayah Jawa Barat dengan kesetaraan fungsi dan peran kawasan di KSN Jabodetabekpunjur serta antisipatif terhadap perkembangan pembangunan wilayah perbatasan, meliputi Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Depok dan sebagian wilayah di Kabupaten Cianjur;
b. WP Purwasuka sebagai penjabaran dari Kawasan Andalan Purwasuka, meliputi Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Karawang;
c. WP Ciayumajakuning sebagai penjabaran dari Kawasan Andalan Ciayumajakuning yang antisipatif terhadap perkembangan pembangunan wilayah perbatasan, meliputi Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, dan sebagian wilayah di Kabupaten Sumedang;
d. WP Priangan Timur-Pangandaran sebagai penjabaran dari Kawasan Andalan Priangan Timur-Pangandaran dengan kesetaraan fungsi dan peran kawasan di KSN Pacangsanak yaitu Pangandaran-Kalipucang-Segara Anakan yang antisipatif terhadap perkembangan pembangunan wilayah perbatasan, meliputi Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran;
e. WP Sukabumi dan sekitarnya sebagai penjabaran dari Kawasan Andalan Sukabumi yang antisipatif terhadap perkembangan pembangunan wilayah perbatasan, meliputi Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, dan sebagian wilayah di Kabupaten Cianjur; dan
f. WP KK Cekungan Bandung, meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi dan sebagian wilayah di Kabupaten Sumedang.
(2) Arahan pembagian WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Kedua Ruang Lingkup
17
Pasal 12 Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang • Kebijakan dan strategi
dijelaskan dalam Bab II Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
• Perubahan struktur pasal mengacu pada Permen ATR/BPN No 11 Tahun 2021 tentang Tata Cara
Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang dimana Kebijakan dan stategi dipisahkan dalam pasal berbeda.
• Kebijakan dan strategi tidak dibagi menjadi kebijakan perencanaan, kebijakan pemanfaatan dan kebijakan pengendalian.
• Kebijakan dan strategi yang bersifat teknis dicantumkan dalam indikasi program
Pasal 13 Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang
Pasal 14 Paragraf 3
Pengembangan Struktur Ruang Pasal 14
(1) Kebijakan pengembangan struktur ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b, meliputi:
a. pemantapan peran perkotaan di Daerah sesuai fungsi yang telah ditetapkan, yaitu PKN, PKW, dan PKL;
b. pengembangan sistem kota-desa yang sesuai dengan dayadukung dan
dayatampung serta fungsi kegiatan dominannya;
c. pengendalian perkembangan kawasan perkotaan di wilayah utara serta
wilayah yang berada di antara wilayah utara dan selatan untuk menjaga lingkungan yang berkelanjutan;
d. pengendalian perkembangan sistem kota di Wilayah selatan dengan tidak melebihi daya dukung dan daya tampungnya;
e. penataan dan pengembangan infrastruktur Wilayah yang dapat menjadi pengarah, pembentuk, pengikat, pengendali dan pendorong pengembangan Wilayah untuk mewujudkan sistem kota di Daerah; dan
f. pelaksanaan peran WP dan KSP dalam mewujudkan pemerataan pertumbuhan Wilayah dan sebaran penduduk.
g. mewujudkan pembangunan, pengembangan dan pengoperasian transportasi dalam rangka integerasi pelayanan transportasi yang tertib, lancar, efektif, efisien, aman, selamat, nyaman, dan terjangkau oleh masyarakat tanpa dibatasi oleh wilayah administratif.
(2) Strategi pemantapan peran kawasan perkotaan di
Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
18
Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a. meningkatkan peran PKN sebagai pusat koleksi dan distribusi skala internasional, nasional atau beberapa provinsi;
b. mengembangkan kegiatan ekonomi di bagian timur dengan orientasi pergerakan ke arah Cirebon;
c. meningkatkan peran PKW di bagian selatan yang mempunyai fungsi tertentu dengan skala pelayanan nasional dan beberapa Kabupaten/Kota;
d. meningkatkan peran PKW sebagai penghubung pergerakan dari PKL ke PKN terdekat melalui pengembangan prasarana dan permukiman yang dapat memfasilitasi kegiatan ekonomi di Wilayah sekitarnya; dan
e. meningkatkan peran PKL sebagai kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala Kabupaten/Kota atau beberapa kecamatan.
(3) Strategi pengembangan sistem kota-desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi:
a. mengendalikan mobilitas dan migrasi masuk terutama ke Wilayah pusat pertumbuhan;
b. mengendalikan pertumbuhan permukiman skala besar dan menengah agar terintegrasi dengan pengembangan infrastruktur regional melalui penyediaan sarana dan prasarana dasar yang tetap menjaga kawasan berfungsi lindung dan pertanian pangan berkelanjutan di kawasan perkotaan serta mendorong pengembangan permukiman vertikal di kawasan padat penduduk; dan
c. mengendalikan perkembangan kegiatan industri manufaktur di koridor Bodebek-Cikampek- Bandung.
(4) Strategi pengendalian perkembangan kawasan perkotaan di wilayah utara dan wilayah yang berada di antara wilayah utara dan selatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi:
a. menetapkan WP Bodebekpunjur, WP Purwasuka, WP Ciayumajakuning, dan WP KK Cekungan
19
Bandung;
b. meningkatkan fungsi WP sebagai klaster pengembangan ekonomi Wilayah belakangnya;
dan
c. memfungsikan PKW dan PKL untuk mendukung klaster perekonomian di WP, melalui penyediaan prasarana dengan kuantitas dan kualitas sesuai standar pelayanan minimal.
(5) Strategi pengendalian dan pengembangan sistem kota di Wilayah selatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, meliputi:
a. menetapkan WP Sukabumi dan sekitarnya serta WP Priangan Timur-Pangandaran;
b. meningkatkan fungsi WP sebagai klaster pengembangan ekonomi; dan
c. memfungsikan PKW dan PKL untuk mendukung klaster perekonomian di WP, melalui penyediaan prasarana dengan kuantitas dan kualitas sesuai standar pelayanan minimal.
(6) Strategi penataan dan pengembangan sistem prasarana Wilayah di Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi:
a. mengembangkan dan meningkatkan ketersediaan dan kualitas prasarana wilayah untuk mendukung pergerakan di sepanjang koridor kawasan perkotaan Bodebek-kawasan perkotaan Bandung Raya-Cirebon Raya, dan koridor penghubung PKN-PKW, antar PKW, serta peningkatan konektivitas menuju PKL;
b. mengembangkan sistem angkutan umum massal di Kawasan Perkotaan Bodebek, Karawang dan Purwakarta, Kawasan Perkotaan Bandung Raya, dan Kawasan Perkotaan Cirebon Raya untuk mengurangi masalah transportasi perkotaan;
c. mengembangkan dan membangun pelabuhan laut di Pantai Utara dan Pantai Selatan Jawa Barat, serta Bandar Udara untuk pengembangan wilayah di Jawa Barat;
d. mewujudkan sistem prasarana wilayah untuk mendukung pusat pertumbuhan baru di wilayah timur Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kota Cirebon dan Kabupaten Sumedang;
e. meningkatkan ketersediaan dan kualitas
20
pelayanan prasarana serta fasilitas pendukung kegiatan perkotaan dan perdesaan pada WP;
f. mengembangkan sistem energi dan kelistrikan yang dapat memfungsikan PKW dan PKL;
g. meningkatkan ketersediaan dan kualitas prasarana sumber daya air berbasis DAS dan Cekungan Air Tanah untuk menunjang kegiatan domestik, industri dan pertanian;
h. mengembangkan sistem tempat pengolahan dan pemrosesan akhir sampah regional sesuai dengan proyeksi pertumbuhan penduduk, perkembangan kegiatan perkotaan dan ekonomi;
i. mengembangkan sistem telekomunikasi yang merata terutama untuk menunjang kegiatan ekonomi yang dikembangkan di PKL dan PKW;
j. meningkatkan pelayanan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan budaya, terutama di PKL, untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk serta mengurangi mobilitas dan migrasi ke pusat kegiatan di PKN dan PKW; dan
k. mengembangkan sarana dan prasarana penanggulangan bencana.
(7) Strategi pendorong terlaksananya peran WP dan KSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, meliputi:
a. menentukan fungsi setiap WP agar terjadi sinergitas pembangunan;
b. menentukan arah pengembangan Wilayah sesuai potensi dan kendala di setiap WP;
c. optimalisasi fungsi PKW dan PKL dalam setiap WP; dan
d. meningkatkan ketersediaan dan kualitas prasarana untuk mendukung mobilitas dan pemenuhan kebutuhan dasar di dalam WP.
(8) Strategi mewujudkan pembangunan, pengembangan dan pengoperasian transportasi dalam rangka integerasi pelayanan transportasi yang tertib, lancar, efektif, efisien, aman, selamat, nyaman, dan terjangkau oleh masyarakat tanpa dibatasi oleh wilayah administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, meliputi:
21
a. Meningkatkan keselamatan dan keamanan transportasi perkotaan;
b. Mengembangkan jaringan prasarana transportasi perkotaan;
c. Mengembangkan sistem transportasi perkotaan berbasis jalan;
d. Mengembangkan sistem transportasi perkotaan berbasis rel;
e. Mengembangkan transportasi perkotaan terintegrasi;
f. Meningkatkan kinerja lalu lintas;
g. Mengembangkan sistem pendanaan transportasi perkotaan;
h. Mengembangkan keterpaduan transportasi perkotaan dan tata ruang;
i. Mengembangkan transportasi perkotaan yang ramah lingkungan.
j. menentukan fungsi setiap WP agar terjadi sinergitas pembangunan;
k. menentukan arah pengembangan Wilayah sesuai potensi dan kendala di setiap WP;
l. optimalisasi fungsi PKW dan PKL dalam setiap WP; dan
m. meningkatkan ketersediaan dan kualitas prasarana untuk mendukung mobilitas dan pemenuhan kebutuhan dasar di dalam WP.
Pasal 15 Paragraf 4
Pengembangan Pola Ruang Pasal 15
(1) Kebijakan pengembangan Pola Ruang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c, meliputi :
a. pengembangan Kawasan Lindung; dan b. pengembangan Kawasan Budidaya.
(2) Kebijakan pengembangan Kawasan Lindung
Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang • Kebijakan dan strategi
dijelaskan dalam Bab II Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
• Perubahan struktur pasal mengacu pada Permen ATR/BPN No 11 Tahun 2021 tentang Tata Cara
Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata
22
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a. pencapaian luas Kawasan Lindung sebesar 45%; dan
b. perlindungan dan peningkatan kualitas Kawasan Lindung.
(3) Kebijakan pengembangan Kawasan Budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi:
a. pengamanan KP2B dan luas kawasan hutan, serta peningkatan produktivitas pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan guna menjaga Ketahanan Pangan Daerah dan nasional;
b. pengelolaan wilayah pesisir darat dan pulau kecil dengan pendekatan keterpaduan ekosistem, sumber daya dan kegiatan pembangunan berkelanjutan;
c. optimalisasi potensi lahan budidaya dan sumber daya alam guna mendorong pertumbuhan sosial ekonomi di wilayah yang belum berkembang karena keterbatasan daya dukung dan daya tampung lingkungan;
d. pelaksanaan prioritas pembangunan hunian vertikal pada kawasan permukiman perkotaan guna optimalisasi dan efisiensi ruang budidaya yang semakin terbatas, terutama pada kawasan yang perlu dikendalikan; dan
e. pengamanan kepentingan pertahanan dan keamanan negara sesuai dengan rencana tata ruang pertahanan dan keamanan.
(4) Strategi pencapaian luas Kawasan Lindung 45%
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, meliputi:
a. meningkatkan fungsi Kawasan Lindung di dalam dan di luar kawasan hutan;
b. memulihkan secara bertahap Kawasan Lindung yang telah berubah fungsi;
c. mengalihkan fungsi secara bertahap kawasan hutan cadangan dan hutan produksi terbatas menjadi hutan lindung;
d. membatasi pengembangan prasarana Wilayah di sekitar Kawasan Lindung untuk menghindari
Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang dan stategi dipisahkan dalam pasal berbeda.
• Kebijakan dan strategi tidak dibagi menjadi kebijakan perencanaan, kebijakan pemanfaatan dan kebijakan pengendalian.
• Kebijakan dan strategi yang bersifat teknis dicantumkan dalam indikasi program
23
tumbuhnya kegiatan perkotaan yang mendorong alih fungsi Kawasan Lindung;
e. menetapkan luas kawasan hutan minimal 30%
dari luas DAS;
f. mengalihkan fungsi lindung yang tumpeng tindih dengan kawasan budidaya yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pemulihan fungsi kawasan; dan
g. menetapkan dan mempertahankan lokasi-lokasi kawasan ekosistem esensial.
(5) Strategi perlindungan dan peningkatan kualitas Kawasan Lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, meliputi:
a. mengoptimalkan pendayagunaan Kawasan Lindung hutan dan bukan hutan melalui jasa lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
b. meningkatkan tutupan lahan hutan sebagai penyerap emisi, pengatur tata air, dan mengurangi risiko bencana alam;
c. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan pada Kawasan Lindung;
d. membatasi dan mengendalikan penebangan, serta penggunaan kawasan hutan untuk mempertahankan luasan kawasan hutan;
e. mengendalikan pencemaran dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS);
f. mencegah kerusakan lingkungan akibat kegiatan budidaya;
g. merehabilitasi lahan kritis di Kawasan Lindung;
h. meningkatkan implementasi pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan hutan; dan
i. menyusun arahan insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi dalam hal alih fungsi dan/atau penerbitan izin pembangunan dan/atau kegiatan di Kawasan Lindung.
(6) Strategi pengamanan KP2B dan luas kawasan hutan serta peningkatan produktivitas pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, meliputi:
24
a. mengukuhkan lahan pertanian pangan berkelanjutan dan lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan sebagai KP2B yang tidak dapat dialihfungsikan untuk kegiatan budidaya lainnya;
b. merevitalisasi dan merehabilitasi jaringan irigasi teknis yang tidak berfungsi optimal untuk menjaga keberlangsungan pasokan air bagi lahan sawah;
c. memelihara jaringan irigasi teknis dan setengah teknis melalui kerja sama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat;
d. meningkatkan produktivitas lahan sawah tadah hujan;
e. meningkatkan produktivitas pertanian tanaman pangan dengan sistem pola tanam yang mendukung pelestarian unsur hara dan kesuburan tanah, serta disesuaikan dengan perubahan iklim global;
f. menstabilkan penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian untuk mempertahankan KP2B; dan
g. menyusun dan menetapkan pedoman pengalihfungsian lahan pertanian pangan berkelanjutan.
(7) Strategi pengelolaan wilayah pesisir darat dan pulau kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, meliputi:
a. merehabilitasi kawasan pelestarian ekologi pesisir darat serta kawasan perlindungan bencana pesisir darat;
b. mengembangkan perikanan budidaya dan pemanfaatan hutan bakau secara lestari dan terpadu;
c. mengendalikan pencemaran di kawasan pesisir darat dan pulau kecil; dan
d. mengendalikan penguasaan tanah timbul oleh masyarakat dan/atau kelompok masyarakat.
(8) Strategi optimalisasi potensi lahan budidaya dan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c, meliputi:
25
a. mengelola Kawasan Hutan Rakyat sebagai sistem penyangga kehidupan dalam menjaga keberlangsungan di luar kehutanan;
b. meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas serta mengembangkan ekonomi di kawasan budidaya Wilayah tertinggal;
c. meningkatkan akses kawasan budidaya ke jaringan arteri primer dan kolektor primer;
d. meningkatkan sarana dan prasarana pendukung di PKL; dan
e. meningkatkan produktivitas serta mengembangkan keterkaitan hulu dan hilir komoditas unggulan.
(9) Strategi pelaksanaan prioritas pembangunan hunian vertikal pada kawasan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d, meliputi:
a. menyediakan lingkungan siap bangun untuk pembangunan hunian vertikal di perkotaan dengan peran swasta dan masyarakat;
b. membangun rumah susun bersubsidi bagi golongan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah di kawasan perkotaan;
c. merevitalisasi kawasan permukiman kumuh perkotaan menjadi kawasan hunian vertikal;
d. memanfaatakan hunian vertikal bagi golongan menengah ke atas di perkotaan;
e. membangun kawasan terintegrasi fungsi campuran;
f. membangun kawasan pengembangan sisipan;
g. membangun kawasan titik transit; dan
h. membangun kawasan terintegrasi blok terpadu.
(10) Strategi untuk mengamankan kepentingan pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 16
Tidak Diubah Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang • Kebijakan dan strategi
dijelaskan dalam Bab II Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
• Perubahan struktur pasal mengacu pada Permen ATR/BPN No 11 Tahun 2021 Tidak Diubah
Dipindahkan ke Bab II – Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
26
tentang Tata Cara
Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang dimana Kebijakan dan stategi dipisahkan dalam pasal berbeda.
• Kebijakan dan strategi tidak dibagi menjadi kebijakan perencanaan, kebijakan pemanfaatan dan kebijakan pengendalian.
• Kebijakan dan strategi yang bersifat teknis dicantumkan dalam indikasi program
BAB II BAB II
TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu Bagian Kesatu
Tujuan
Pasal 4 (1) Penataan Ruang Daerah Provinsi bertujuan untuk mewujudkan tata ruang Wilayah Daerah Provinsi yang efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing menuju Provinsi Jawa Barat Termaju di Indonesia.
(2) Dalam rangka mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan sasaran sebagai berikut:
a. tercapainya ruang berfungsi lindung seluas 45%
dari wilayah Jawa Barat dan tersedianya ruang untuk Ketahanan Pangan dengan target pencapaian pada tahun 2042;
b. terwujudnya ruang investasi melalui dukungan infrastruktur strategis;
c. terwujudnya ruang untuk kawasan perkotaan dan perdesaan dalam sistem wilayah yang terintegrasi;
d. dan terlaksananya prinsip mitigasi bencana dalam penataan ruang.
tercapainya ruang berfungsi lindung di Wilayah Jawa Barat dan tersedianya ruang untuk
Perubahan pada ayat (2) huruf a dari kawasan lindung menjadi berfungsi lindung berdasarkan hasil analisis luasan rencana pola ruang.
Berdasarkan Permen ATR/BPN No 11 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang, Kawasan Resapan Air dan
Kawasan Rawan Bencana yang pada Perda RTRWP Jabar 2009- 2029 direncanakan menjadi pola ruang Kawasan Lindung berubah