• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nomor : 1136/IT3.S2/PT.01.04/M/B/2022 Bogor, 15 Juni 2022 Perihal : Pengantar Laporan Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Nomor : 1136/IT3.S2/PT.01.04/M/B/2022 Bogor, 15 Juni 2022 Perihal : Pengantar Laporan Penelitian"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

(1)

Nomor : 1136/IT3.S2/PT.01.04/M/B/2022 Bogor, 15 Juni 2022 Perihal : Pengantar Laporan Penelitian

Kepada Yth.

Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Kompleks Rasuna Epicentrum,

Jl. Epicentrum Tengah Lot 11 B,

Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12940

Program Studi Doktor Manajemen Bisnis (S3) merupakan salah satu dari Program Studi yang ditawarkan oleh Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor (SB-IPB). Dalam rangka menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Doktor, para mahasiswa diwajibkan melaksanakan penelitian dan penulisan disertasi.

Kegiatan penelitian mahasiswa diharapkan memiliki manfaat ganda, baik bagi mahasiswa maupun bagi instansi/perusahaan. Bagi para mahasiswa SB-IPB, kegiatan ini merupakan peluang dan kesempatan untuk menghayati, menerapkan, menggunakan konsep-konsep dan keterampilan yang diperoleh selama proses perkuliahan dalam menangani permasalahan manajemen di dunia nyata. Di lain pihak, instansi/perusahaan tempat para mahasiswa melaksanakan kegiatan penelitian dapat menggunakan kesempatan ini untuk menganalisis salah satu bidang permasalahan yang sedang dihadapi oleh instansi/perusahaan, dan menyusun saran-saran pemecahan permasalahan beserta program-program implementasi bersama dengan mahasiswa yang bersangkutan.

Sehubungan dengan telah selesainya kegiatan tersebut, berikut kami sampaikan kepada Bapak laporan penelitian mahasiswa kami di bawah ini:

Nama : M. Lucky Akbar

NIM : K16190018

Topik Penelitian : Manajemen Perubahan dalam Pengembangan Tingkat Kematangan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di Indonesia

Nomor Telepon : 081585711243

semoga dapat memberikan rekomendasi dalam membantu terwujudnya kelembagaan pengadaan pemerintah yang efektif dan robust dalam meningkatkan kualitas pengadaan sektor publik di tanah air.

Atas perhatian dan kerjasamanya, disampaikan terima kasih.

Plt. Dekan

Dr. Ir. Idqan Fahmi, M.Ec NIP. 19631111 198811 1 001

(2)

MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM PENINGKATAN TINGKAT KEMATANGAN UNIT KERJA PENGADAAN

BARANG/JASA PEMERINTAH DI INDONESIA

MOHAMAD LUCKY AKBAR

DOKTOR MANAJEMEN DAN BISNIS SEKOLAH BISNIS

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2022

(3)
(4)

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul “Manajemen Perubahan dalam Peningkatan Tingkat Kematangan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di Indonesia” adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Jnui 2022 Mohamad Lucky Akbar NIM K16190018

* Pelimpahan hak cipta atas karya tulis dari penelitian kerjasama dengan pihak luar IPB harus didasarkan pada perjanjian kerjasama yang terkait

(5)

RINGKASAN

MOHAMAD LUCKY AKBAR. Manajemen Perubahan dalam Pengembangan Tingkat Kematangan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di Indonesia.

Dibimbing oleh ARIF IMAM SUROSO, BAMBANG JUANDA dan ANGGRAINI SUKMAWATI

Pembentukan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) merupakan bagian dari program peningkatan Pengadaan Barang/Jasa sebagai indikator sistem pengadaan Pemerintah yang efisien dan bebas korupsi. Oleh karena itu, untuk mengurangi kerugian dan meningkatkan efektivitas penyediaan barang dan jasa dan untuk mendukung perekonomian, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, yang dalam peraturan ini mendorong terjadinya pergeseran paradigma pengadaan barang/jasa yaitu pengadaan dalam menciptakan nilai uang, menciptakan inovasi pengadaan, dan mengembangkan pengetahuan pengadaan untuk pengadaan barang/jasa yang berkelanjutan. Salah satu amanat dalam Perpres nomor 16 tahun 2018 untuk mewujudkan hal tersebut di atas adalah penetapan UKPBJ sebagai pusat pengadaan yang unggul (Center of Excellence). UKPBJ sebagai pusat pengadaan yang unggul merupakan unit kerja yang memiliki strategi, kolaboratif, performance oriented, proaktif, dan mampu melakukan perbaikan secara berkesinambungan sehingga menjadi motor penggerak dalam penciptaan nilai tambah dan manfaat dalam pengadaan barang/jasa di Indonesia.

Berdasarkan latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini adalah menguraikan secara sistematis mengenai pengelolaan perubahan organisasi untuk meningkatkan tingkat kematangan UKPBJ yang optimal di Indonesia, dengan melakukan identifikasi mengenai: apa yang dihasilkan dari pengaruh perubahan organisasi terhadap peningkatan kematangan kematangan UKPBJ, dan bagaimana membangun model manajemen perubahan yang sesuai untuk meningkatkan tingkat kematangan UKPBJ berdasarkan hasil pengaruh perubahan tersebut, serta selanjutnya bagaimana menyusun protokol critical path untuk mengantisipasi kegagalan pencapaian tingkat kematangan dan menuangkannya dalam strategi perubahan yang seperti apa untuk meningkatkan kematangan UKPBJ di Indonesia.

Sesuai dengan rumusan permasalahan dalam penelitian di atas, maka tujuan penelitian yang akan dicapai sebagai upaya pemecahan masalah meliputi:

menganalisis pengaruh perubahan perubahan organisasi terhadap pengembangan kematangan UKPBJ di Indonesia, membangun model konseptual manajemen perubahan untuk meningkatkan Tingkat Kematangan UKPBJ, menganalisis indikator critical path untuk menghindari kegagalan pencapaian kematangan organisasi UKPBJ, dan menyusun strategi perubahan untuk meningkatkan Tingkat Kematangan UKPBJ di Indonesia.

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kombinasi (mixed methods research) dengan model penelitian sekuensial eksplanatori terdiri dari dua tahap yaitu analisis data kuantitatif dan dilanjutkan dengan analisis kualitatif untuk memperjelas hasil tahap pertama. Instrumen analisis data yang digunakan meliputi:

SEM PLS digunakan untuk melakukan analisis terhadap validitas variabel dan pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen, berikutnya Soft System Methodology (SSM) digunakan untuk membangun model konseptual model yang

(6)

diusulkan, serta Logical Framework Analysis (LFA) digunakan untuk menentukan key performace indicators dan assumption/risk strategi yang akan dibangun.

Hasil-hasil penelitian menunjukkan budaya berpengaruh penting dalam perubahan organisasi, yaitu dalam hal budaya belajar yang penting dalam pekerjaan sehari-hari guna mendorong pencapaian budaya berbasis orientasi kinerja. Dimana perubahan tersebut dikelola melaluiUKPBJ Strategic Model Change Management dengan strategi antara lain mengenai peningkatan profesionalitas dan pemenuhan Pengelola PBJ Pemerintah yang presisi. Dalam hal pengendalian risiko yang dibutuhkan dalam mencegah terjadinya critical path harus dikawal oleh kepemimpinan yang secara moral mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinan yang dilakukan, melalui: Penurunan nilai negatif growth UKPBJ, Inovasi yang menghasilkan value added, Kebijakan yang mendukung profesionalisme SDM, serta Sistem Informasi Manajemen yang informatif dan terintegrasi. Selanjutnya key indicators yang diperoleh dari hasil analisis LFA dihubungkan dengan key drivers tingkat kematangan UKPBJ sebagai bentuk membangun hubungan/bridging dari strategi perubahan yang dijalankan untuk meningkatkan kematangan UKPBJ.

Implikasi manajerial dari penelitian adalah analisis penyempurnaan bisnis proses yang mengarah kepada inovasi dan perbaikan berkelanjutan, penyusunan dan penyempurnaan Kebijakan dan komitmen layanan yang sejalan dengan tantangan dan isu-isu yang dihadapi organisasi, pemenuhan profesionalisme dan kompetensi pegawai yang fit untuk mendukung kebijakan pengadaan berkelanjutan, serta otomasi proses bisnis dan dukungan digital leadership guna menjawab tantangan dan isu-isu organisasi dalam pengadan berkelanjutan

Kata kunci:manajemen perubahan sektor publik, pusat keunggulan, pengadaan publik berkelanjutan,

(7)

SUMMARY

MOHAMAD LUCKY AKBAR. Optimal Maturity Level Development For Government Procurement Organizations In Indonesia. Supervised by ARIF IMAM SUROSO, BAMBANG JUANDA and ANGGRAINI SUKMAWATI.

The establishment of the Goods/Services Procurement Unit (UKPBJ) is part of the program to increase the Procurement of Goods/Services as an indicator of an efficient and corruption-free Government procurement system. Therefore, to reduce losses and increase the effectiveness of the provision of goods and services and to support the economy, the Government has issued Presidential Regulation Number 16 of 2018 concerning Government Procurement of Goods/Services, which in this regulation encourages a paradigm shift in the procurement of goods/services, namely procurement in create value for money, create procurement innovation, and develop procurement knowledge for sustainable procurement of goods/services.

One of the mandates in Presidential Decree number 16 of 2018 to realize the above is the establishment of UKPBJ as a center of excellence for procurement. UKPBJ as a superior procurement center is a work unit that is strategic, collaborative, performance oriented, proactive, and able to make continuous improvements so that it becomes a driving force in creating added value and benefits in the procurement of goods/services in Indonesia.

Based on the above background, the problem in this study is to systematically describe the management of organizational change to increase the optimal level of UKPBJ maturity in Indonesia, by identifying: what results from the effect of organizational change on increasing UKPBJ maturity maturity, and how to build a management model appropriate changes to increase the maturity level of UKPBJ based on the results of the effects of these changes, and furthermore how to develop a critical path protocol to anticipate failure to achieve maturity level and put it into what kind of change strategy to increase UKPBJ maturity in Indonesia.

In accordance with the formulation of the problem in the research above, the research objectives to be achieved as problem solving efforts include: analyzing the effect of organizational change on the development of UKPBJ maturity in Indonesia, building a conceptual model of change management to increase UKPBJ Maturity Level, analyzing critical path indicators to avoid failure to achieve UKPBJ organizational maturity, and develop a change strategy to increase UKPBJ Maturity Level in Indonesia.

The research method used is a combination method (mixed methods research) with an explanatory sequential research model consisting of two stages, namely quantitative data analysis and followed by qualitative analysis to clarify the results of the first stage. The data analysis instruments used include: SEM PLS is used to analyze the validity of variables and the effect of exogenous variables on endogenous variables, then Soft System Methodology (SSM) is used to build the conceptual model of the proposed model, and Logical Framework Analysis (LFA) is used to determine key performance indicators and assumption/risk strategies to be developed.

The results of the study show that culture has an important influence on organizational change, namely in terms of learning culture which is important in daily work in order to encourage the achievement of a performance-oriented-based

(8)

culture. Where these changes are managed through the UKPBJ Strategic Model Change Management with strategies, among others, regarding increasing professionalism and fulfilling precise Government PBJ Managers. In terms of risk control needed to prevent the critical path from occurring, it must be escorted by leadership who is morally able to account for the leadership carried out, through:

Reducing the negative value of UKPBJ growth, Innovations that produce value added, Policies that support HR professionalism, and informative Management Information Systems and integrated. Furthermore, the key indicators obtained from the LFA analysis are linked to the key drivers of UKPBJ maturity level as a form of relationship building/bridging from the change strategy implemented to increase UKPBJ maturity.

The managerial implications of the research are analysis of business process improvements that lead to continuous innovation and improvement, formulation and improvement of policies and service commitments that are in line with challenges and issues faced by the organization, fulfillment of professionalism and competence of employees who are fit to support sustainable procurement policies, and business process automation and digital leadership support to address organizational challenges and issues in sustainable procurement

Keywords: public change management, center of excellent, sustainable public procurement, value added

(9)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2022 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

(10)

Disertasi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Studi Manajemen dan Bisnis

MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM PENINGKATAN TINGKAT KEMATANGAN UNIT KERJA PENGADAAN

BARANG/JASA PEMERINTAH DI INDONESIA

DOKTOR MANAJEMEN DAN BISNIS SEKOLAH BISNIS

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2022

MOHAMAD LUCKY AKBAR

(11)

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup:

1 Dr. Ir. Harianto, MS

2 Drs. Robin Asad Suryo, M.A. Ph.D

Anggota Promosi Luar Komisi pada Sidang Promosi Terbuka:

1 Dr. Ir. Harianto, MS

2 Drs. Robin Asad Suryo, M.A. Ph.D

(12)

Judul Disertasi : Manajemen Perubahan dalam Pengembangan Tingkat Kematangan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di Indonesia

Nama : Mohamad Lucky Akbar

NIM : K16190018

Disetujui oleh

Pembimbing 1:

Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc (CS).

Pembimbing 2:

Prof. Dr. Ir. Bambang Juanda, M.S.

Pembimbing 3:

Dr. Ir. Anggraini Sukmawati, M.M.

Diketahui oleh

Ketua Program Studi:

Prof. Dr. Ir. M. Syamsul Maarif, M.Eng.

NIP 195809041982031004

Plt. Dekan Sekolah Bisnis Dr. Ir. Idqan Fahmi, M.Ec.

NIP 196311111988111001

Tanggal Ujian tertutup: 4 Maret 2022 Tanggal Lulus:

Tanggal Sidang Promosi Terbuka: 12 Mei 2022

(13)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Desember 2020 sampai Bulan September 2021 ini ialah Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, dengan judul

“Manajemen Perubahan dalam Pengembangan Tingkat Kematangan Unit Kerja Pengadaan barang/Jasa (UKPBJ) Pemerintah di Indonesia".

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Arif Imam Suroso, M.SC, selaku Ketua Komisi, serta Bapak Prof. Dr. Ir. Bambang Juanda, MS, dan Ibu Dr Ir Anggraini Sukmawati, MM selaku anggota Komisi yang telah berkenan memberikan bimbingan, arahan, serta masukan dalam penyelesaian disertasi ini.

Selanjutnya, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Januar Indra dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah, Bapak Triyantoro dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta Bapak Ahmad Dzikrullah dari kementerian Keuangan yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada orang tua, istri dan anak-anak tercinta, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Serta tak lupa dukungan Pimpinan dalam hal ini Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan dan Kepala Biro Manajemen Barang Milik Negara dan Pengadaan Sekeretaiat Jenderal Kementerian Keuangan

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Bogor, Juni 2022 Mohamad Lucky Akbar

(14)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL XIV

DAFTAR GAMBAR XV

DAFTAR SINGKATAN XVI

I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Perumusan Masalah 7

1.3 Tujuan Penelitian 7

1.4 Manfaat Penelitian 7

1.5 Kebaruan 8

1.6 Ruang Lingkup Penelitian 8

II TINJAUAN PUSTAKA 9

2.1 Pengadaan Barang dan Jasa Publik 9

2.2 Manajemen Pengadaan 10

2.3 Sistem Pengadaan Sektor Publik 11

2.4 Kebijakan PBJ Pemerintah di Indonesia 12

2.5 Mitigasi Risiko PBJ Pemerintah di Indonesia 12

2.6 Capability Maturity Model 14

2.7 Manajemen Perubahan 16

2.8 Kategori Perubahan yang berdasarkan tingkat kejadian 17 2.9 Kategori Perubahan berdasarkan Bagaimana Perubahan itu terjadi 18

2.10 Kategori Perubahan berdasarkan Skala 20

2.11 Model Manajemen Perubahan 20

2.12 Resistensi dalam Perubahan 24

2.13 Penanggulangan Resistansi 25

2.14 Unsur-unsur perubahan dalam Organisasi 26

2.15 Authentic Leadership 26

2.16 Organization Culture 27

2.17 Individual Readiness To Change 28

2.18 Structural Equation Modeling (SEM) 28

2.19 Data yang dapat dianalisis dengan PLS SEM 32

2.20 Skala Pengukuran 32

2.21 Asumsi PLS SEM 32

2.22 Persyaratan Jumlah Data 33

2.23 Tujuan Menggunakan PLS SEM 33

2.24 Variabel-variabel yang digunakan dalam PLS SEM 33

2.25 Hubungan formatif dan reflektif 34

2.26 Pengukuran Kecocokan Model 34

2.27 Pengukuran Model Reflektif 35

2.28 Pengukuran Model Formatif 36

2.29 Pengukuran Model Struktural 37

2.30 Langkah Penghitungan dalam SEM Menggunakan PLS 37

2.31 Soft Systems Methodology 38

2.32 Pelaksanaan Soft Systems Methodology 39

2.33 Logical Framework Analysis (LFA) 46

2.34 Kerangka Konseptual Penelitian 49

(15)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

III METODE 51

3.1 Lokasi dan Waktu penelitian 51

3.2 Pendekatan Penelitian 51

3.3 Teknik Pengambilan Sampel 52

3.4 Teknik Pengumpulan Data 53

3.5 Uji Validitas 54

3.6 Uji Reliabilitas 54

3.7 Metode Analisis Data 54

3.7.1 Analisis Data Menggunakan Structural Equation Model (SEM) 54 3.7.2 Analisis Data Melalui Soft System Methodology 57 3.7.3 Analisis Data Melalui Logical Framework Analysis (LFA) 58

3.8 Desain Penelitian 60

3.9 Definisi Operasional Variabel 61

IV HASIL DAN ANALISIS 65

4.1 Deskriptif Statistik 65

4.2 Hasil Analisis SEM-PLS 65

4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas 66

4.4 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) Kementerian Keuangan 66

4.4.1 Convergent Validity 66

4.4.2 Discriminant Validity 67

4.4.3 Average Variance Extracted (AVE) 68

4.4.4 Composite Reliability 68

4.5 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan 69

4.5.1 Convergent Validity 69

4.5.2 Discriminant Validity 69

4.5.3 Average Variance Extracted (AVE) 70

4.5.4 Composite Reliability 70

4.6 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) Lembaga Kebijakan

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 71

4.6.1 Convergent Validity 71

4.6.2 Discriminant Validity 71

4.6.3 Average Variance Extracted (AVE) 72

4.6.4 Composite Reliability 72

4.7 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) Keseluruhan 73

4.7.1 Convergent Validity 73

4.7.2 Discriminant Validity 73

4.7.3 Average Variance Extracted (AVE) 74

4.7.4 Composite Reliability 74

4.8 Evaluasi Model Struktural (Inner Model) Keseluruhan 78 4.9 Evaluasi Model Struktural (Inner Model) Kementerian Keuangan 75 4.10 Evaluasi Model Struktural (Inner Model) Kementerian Pendidikan

dan Kebudayaan 76

4.11 Evaluasi Model Struktural (Inner Model) Lembaga Kebijakan

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 77

(16)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

4.12 Estimasi Koefisien Jalur Model Kementerian Keuangan 79 4.13 Estimasi Koefisien Jalur Model Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan 80

4.14 Estimasi Koefisien Jalur Model Lembaga Kebijakan Pengadaan

Barang/Jasa Pemerintah 81

4.15 Estimasi Koefisien Jalur Model Gabungan 81

4.16 Distribusi respons dari responden dalam Indikator yg signifikan

Pada Setiap Variabel 83

4.17 Hasil Analisis Soft System Methodology 92

4.18 Tahapan Pencarian Masalah (Finding Out) 93

4.19 Tahapan Ekspresi Masalah (Rich Picture) 95

4.20 Tahapan Root Definition of Relevan System 96

4.21 Tahap 4 Conceptual Models 97

4.22 Tahap 5 Comparisons with Reality 99

4.23 Hasil Penyempurnaan Analisis Kebutuhan dan Action Plan 100

4.24 Analisis Kebutuhan Strategi 102

4.25 Hasil Analisis Logical Framework Analaysis (LFA) 104

4.26 Pembahasan dan Implikasi Manajerial 111

4.26.1 Pembahasan 111

4.26.2 Implikasi Manajerial 115

4.26.3 Sikap dan Dukungan Pimpinan 116

4.26.4 Dampak Transformasi UKPBJ Dengan Model Manajemen Perubahan UKPBJ Straegic Manajemen Model 118

V SIMPULAN DAN SARAN 120

5.1 Simpulan 120

5.2 Saran 120

DAFTAR PUSTAKA 122

LAMPIRAN 130

RIWAYAT HIDUP 149

(17)

DAFTAR TABEL

1 Belanja pemerintah di dunia berdasarkan persentase dari GDP 1

2 Trend belanja dalam APBN pemerintah pusat 2

3 Porsi anggaran PBJP dari total APBN/APBD di Indonesia 2 4 Realisasi keuangan dan fisik belanja pemerintah 2 5 Kategori perubahan yang berdasarkan tingkat kejadian 18

6 Perbandingan 3 model dari emergent change 19

7 Kategori perubahan berdasarkan bagaimana perubahan itu terjadi 20

8 Kategori perubahan berdasarkan skala 20

9 Penilaian model pengukuran 35

10 Besaran nilai sebagai pengukuran 36

11 Penilaian model pengukuran formatif 37

12 Pengukuran model struktural 37

13 Rentang skala likert 53

14 Kriteria uji validitas konvergen, uji validitas diskriminan, dan uji

reliabilitas 55

15 Contoh format logframe matrix 60

16 Prosedur desain sekuensial eksplanatori 61

17 Variabel perubahan organisasi 62

18 Variabel tingkat kematangan UKPBJ 63

19 Jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dan masa kerja 65 20 Jumlah responden berdasarkan pendidikan dan instansi 65 21 Discriminant validity - fornell-larcker criterion 67

22 Average variance extracted (AVE) 68

23 Composite reliability 68

24 Discriminant validity - fornell-larcker criterion 70

25 Average variance extracted (AVE) 70

26 Composite reliability 70

27 Discriminant validity - fornell-larcker criterion 72

28 Average variance extracted (AVE) 72

29 Composite reliability 72

30 Discriminant validity - fornell-larcker criterion 74

31 Average variance extracted (AVE) 74

32 Composite reliability 74

33 Nilai r-squares 76

34 Nilai r-squares 77

35 Nilai r-squares 78

36 Nilai r square 79

37 Nilai path coefficients 82

38 Distribusi respons dari responden dalam tiap aspek untuk masing-masing

indikator yang signifikan (Kemenkeu) 83

39 Distribusi respons dari responden dalam tiap aspek untuk masing-masing

indikator yang signifikan (Kemendikbud) 85

40 Distribusi respons dari responden dalam tiap aspek untuk masing-masing

indikator yang signifikan (LKPP) 87

41 Distribusi respons dari responden dalam indikator yang signifikan pada

setiap variabel 89

(18)

DAFTAR TABEL (LANJUTAN)

42 Keterkaitan antara variabel authentic leadership dan proses 90 43 Keterkaitan antara variabel authentic leadership dan kelembagaan 90 44 Keterkaitan antara variabel authentic leadership dan SDM 91 45 Keterkaitan antara variabel authentic leadership dan sistem informasi 91

46 Hasil root definition dan analisis CATWOE 97

47 Perbandingan model sistem konseptual dengan real world 100 48 Penyempurnaan analisis kebutuhan dan action plan 101 49 Analisis kebutuhan strategi berdasarkan hasil PLS-SEM dan SSM 102

50 MPP variabel organisasi kematangan UKPBJ 105

51 MPP variabel proses bisnis kematangan UKPBJ 106

52 MPP variabel SDM kematangan UKPBJ 108

53 MPP variabel sistem informasi kematangan UKPBJ 110

DAFTAR GAMBAR

1 Model tingkat kematangan UKPBJ 5

2 Skema rantai bisnis (Malik 2017) 9

3 Sistem pengadaan barang dan jasa (Thai 2001) 11

4 Model PLS SEM 29

5 Model diagram jalur hubungan antar variabel laten dalam SEM PLS 30

6 Model pengukuran SEM PLS 30

7 Alur algoritma PLS 31

8 Hubungan reflektif 34

9 Hubungan formatif 34

10 Konsep inti sistem: keseluruhan adaptif 39

11 Rich picture SSM 41

12 formula CATWOE diolah dari Checkland dan Poulter (2006) 42

13 Proses dasar SSM 43

14 Actual transformation (AT) dan real transformation (RT) diolah dari

Uchiyama 2003 45

15 SSM sebagai penghubung antara AT dan RT (corresponding 7-stage

model in SSM) diolah dari Uchiyama (2003) 45

16 Bagian dalam matrik perencanaan program (MPP) diolah dari Virginia

et al. (2018) 47

17 Logika horizontal dan vertikal dalam matrik perencanaan program

(MPP) 48

18 Kerangka konseptual penelitian 50

19 Desain konvergen diolah dari Creswell dan Clark (2018) 51 20 Desain eksploratori diolah dari Creswell dan Clark (2018) 52 21 Desain eksplanatori diolah dari Creswell dan Clark (2018) 52 22 Tujuh tahapan model soft system methodology (dimodifikasi dari

Chekland 1981) 58

23 Loading factor model Kementerian Keuangan 67

24 Loading factor model Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 69

(19)

DAFTAR GAMBAR (LANJUTAN)

25 Loading factor model Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa

Pemerintah 71

26 Loading factor model keseluruhan 73

27 Metode boostrapping sebanyak 2000 sub sampel model Kemenkeu 75 28 Metode boostrapping sebanyak 2000 sub sampel model Kemendikbud 76 29 Metode boostrapping sebanyak 2000 sub sampel model LKPP 78 30 Metode boostratpping sebanyak 2000 sub sampel model keseluruhan 79 31 Rich picture pengembangan tingkat kematangan UKPBJ 96 32 Emergent Influences And Aspects Of Change (EIAC) Model diolah 98 33 Strategic model change management pengembangan kematangan

UKPBJ 99

34 Peta hubungan key drivers dan key indicators 113

DAFTAR SINGKATAN

UKPBJ : Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah APBN : Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Kemenkeu : Kementerian Keuangan

KPK : Komisi Pemberantasan Korupsi BPK : Badan Pemeriksa Keuangan

LKPP : Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah CMM : Capability Maturity Model

RUP : Rencana Umum Pengadaan NPM : New Public Management FGD : Forum Group Discussion

PLS- SEM : Partial Least Square Structural Structural Equation Model LFA : Logical Framework Analysis

(20)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengelola perubahan adalah tantangan bagi setiap organisasi baik di sektor swasta maupun publik, yang harus dilakukan secara responsif dan adaptif agar dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut, serta mengupayakan pengembangan kapasitas organisasi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi. Dalam rangka mempercepat pengembangan kapasitas organisasi menuju pada kondisi yang ideal dari suau perubahan, maka perlu diukur dan dipetakan tingkat kapasitas dan kematangan organisasi, sehingga dapat disusun dan dirumuskan program peningkatan kapasitas yang tepat, terukur serta sistematis sesuai dengan kondisi organisasi. Saat ini, perkembangan model kematangan untuk organisasi tumbuh dengan pesat, di mana hal ini dengan adanya pertumbuhan model maturitas organisasi yang diimplementasikan baik langsung maupun tidak langsung, untuk mengukur kematangan suatu organisasi (Cooke-Davies 2006).

Sedangkan perkembangan kematangan organisasi di sektor publik, mencerminkan peningkatan fokus dari pengukuran kinerja pemerintah baik di tingkat pusat maupun di daerah secara signifikan (Halachmi dan Bouckaert 1996; Berman dan Kearney 1999; Niven 2003; Poister 2003).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh University of Greenwich bekerjasama dengan Public Service International menunjukkan peningkatan belanja sektor publik yang kuat dalam kurun waktu 150 tahun (1870–1995) di semua negara, menunjukkan pertautan yang kuat antara belanja publik dan pembangunan ekonomi dan sosial. Selanjutnya, menurut David Hall (2010) belanja ini sekarang berada di tingkat bersejarah 40% dari gross domestic product (GDP) di negara-negara anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), dan meningkat di negara-negara berkembang, dengan uraian sebagaimana pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1 Belanja pemerintah di dunia berdasarkan persentase dari GDP

Sumber: Cusack dan Fuchs 2002

(21)

Belanja sektor publik di Indonesia dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), APBN merupakan alat kekuasaan keuangan negara yang digunakan untuk mencapai tujuan bernegara melalui tata kelola terintegrasi manajemen pembangunan yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian (evaluasi dan pengawasan), dan pelaporan (pertanggungjawaban). Alokasi belanja Pemerintah di Indonesia selama 5 tahun terakhir cenderung mengalami kenaikan seperti dijelaskan Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2 Trend belanja dalam APBN pemerintah pusat

Tahun Belanja pemerintah (Triliun)

2016 1.154,0

2017 1.265,4

2018 1.455, 3

2019 1.527,2

2020 1.683,5

Sumber diolah dari Kemenkeu Tahun 2020

Terkait Belanja Pemerintah yang semakin besar, berdasarkan data yang dihimpun dari Lembaga Kebijakan Pengadaan dan Pemerintah (LKPP), total anggaran Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PBJP) di Indonesia selama beberapa tahun terakhir sebelum terjadinya pandemi, sudah mencapai lebih dari 50% dari total APBN/APBD sebagaimana diilustrasikan dalam Tabel 3 berikut.

Tabel 3 Porsi anggaran PBJP dari total APBN/APBD di Indonesia

Tahun APBN/APBD

(Triliun)

Belanja PBJP (Triliun)

Belanja PBJP (%)

2017 1.920 1.039 54

2018 2.056, 2 1.117,5 54,3

2019 2.163,9 1.113,4 52,4

Sumber diolah dari LKPP Tahun 2020

Besarnya nilai belanja pengadaan dalam APBN/APBD, maka K/L harus fokus menjadikan PBJP sebagai salah satu faktor untuk mempercepat pertumbuhan perekonomian baik secara nasional, sektoral maupun lokal. Namun demikian, dalam realisasi pengelolaan anggaran pengadaan yang dimonitor oleh LKPP dengan dua indikator Keuangan dan Fisik, diperoleh data bahwa realisasi indikator fisik dan keuangan selama 3 tahun terakhir secara umum belum mencapai target yang ditetapkan. Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam urutan Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4 Realisasi keuangan dan fisik belanja pemerintah

Kinerja Pengadaan

2018 2019 2020

Anggaran (%)

Fisik (%)

Anggaran (%)

Fisik (%)

Anggaran (%)

Fisik (%)

Target 63,11 70,85 93,71 95,10 79,04 95,10

Realisasi 82,50 62,44 86,69 87,34 78,26 87,34

Sumber diolah dari LKPP Tahun 2020

(22)

Secara faktual, efektivitas pengadaan Pemerintah ini menjadi perhatian banyak pihak karena menyangkut nilai anggaran yang semakin besar, realisasi yang belum optimal, dan berpotensi terjadi penyelewengan. Berdasarkan data dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kasus korupsi di lingkup pemerintahan ternyata paling banyak terjadi melalui pengadaan barang dan jasa. KPK menyebutkan 80% kasus-kasus korupsi yang selama ini ditangani terkait kasus- kasus di dalam proses PBJ Pemerintah (Indrawan et al. 2020).

Berdasarkan hasil investigasi KPK bahwa tindak pidana korupsi dari pengadaan barang dan jasa ini dimulai dari perencanaan proyek pesanan yang bukan dari usulan masyarakat tapi usulan pengusaha dan kerugian negara yang pernah dicatat KPK pada tahun 2015 mencapai 1 triliun rupiah, dan pada tahun 2017 berdasarkan data dari Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan total kerugian negara akibat tindak pidana korupsi dari pengadaan mencapai Rp 1,02 triliun rupiah (terdapat kenaikan 200 miliar rupiah). Penyelewengan yang mengakibatkan kerugian keuangan negara juga disinyalir dari sektor persaingan usaha, di mana berdasarkan data yang pernah dipublikasikan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ditahun 2015 juga terjadi persekongkolan proses tender PBJ Pemerintah dengan nilai proyek mencapai 8,3 triliun rupiah. Sejalan dengan itu, berdasarkan data-data penelitian yang telah dilakukan, kasus-kasus korupsi dan penyogokan yang terjadi pada proses PBJ Pemerintah pada umumnya disebabkan karena adanya kerja sama antara pemenang tender dengan pemerintah (Petrowitz 1964).

Kasus korupsi yang sering terjadi di sektor PBJ Pemerintah yang berhasil diungkap oleh KPK tersebut membuat banyak pejabat di lingkungan Satuan Kerja Pemerintah terkait merasa takut untuk melakukan eksekusi anggaran khususnya melalui pelaksanaan pengadaan, karena dikhawatirkan tidak mampu mengelola risiko dari proses yang dilakukan dan hal itu juga menjadi salah satu penyebab tidak terserapnya anggaran di lingkungan Instansi Pemerintah (Sinaga 2016).

Sebelum data-data terkait korupsi dan persekongkolan dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dipublikasikan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas 2012) juga menemukan ketidakefektifan anggaran dalam audit BPK yang mencapai 96,09 miliar rupiah yang dilakukan secara sampling pada 11 K/L dan 14 Pemkab/Pemkot di tahun 2014. Berdasarkan audit BPK ketidakefektifan anggaran tersebut adalah berdasarkan masalah dari proses PBJ, yang antara lain kurang optimalnya perencanaan dalam penggunaan anggaran dan pemanfaatan barang/jasa. Dimana pada Tahun 2012 BPK sesungguhnya telah merekomendasikan disbursement dan procurement plan sebagai solusi atas masalah penyerapan belanja pemerintah.

Untuk itu, dalam rangka mengurangi kerugian dan meningkatkan efektivitas penyediaan barang dan jasa guna menunjang perekonomian, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2018 tentang pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana diubah terakhir dengan Perpres Nomor 12 Tahun 2021, dimana regulasi ini mendorong perubahan paradigma para pelaku pengadaan barang/jasa dalam menciptakan value for money, menciptakan inovasi pengadaan, serta mengembangkan keilmuan pengadaan (procurement knowledge) untuk pengadaan barang/jasa yang berkelanjutan. Salah satu amanat dalam Perpres tersebut untuk mewujudkan kondisi dimaksud adalah pembentukan UKPBJ yang menjadi pusat keunggulan pengadaan (Center of Excellence). UKPBJ

(23)

sebagai pusat keunggulan pengadaan adalah unit kerja yang memiliki karakteristik strategis, kolaboratif, berorientasi pada kinerja, proaktif dan mampu melakukan perbaikan berkelanjutan, yang diharapkan dapat menjadi pendorong dalam penciptaan nilai tambah dan manfaat dalam kegiatan pengadaan barang/jasa di Indonesia.

Karakteristik UKPBJ di atas memiliki peran yang meliputi: Strategis dalam mewujudkan fungsi pengadaan yang memainkan peran penting dalam mencapai tujuan organisasi melalui perencanaan dan eksekusi anggaran serta pengelolaan sumber daya yang efektif. Kolaboratif untuk memupuk kolaborasi dan sinergi di antara pemangku kepentingan agar kinerja fungsi pengadaan optimal. Orientasi Kinerja yang membangun budaya berbasis kinerja untuk meningkatkan nilai tambah di empat area (waktu proses, biaya, kualitas, dan tingkat layanan pengadaan). Proaktif menciptakan pergeseran paradigma dalam rantai pengadaan barang dan jasa yang berorientasi pada pelanggan. Selanjutnya Perbaikan Berkelanjutan guna meningkatkan kapabilitas organisasi pengadaan sebagai organisasi pembelajar dengan mengadopsi praktik terbaik pengadaan.

Salah satu cara untuk memastikan adanya perbaikan yang berkelanjutan adalah dengan menerapkan model tingkat kematangan yang menjadi alat ukur perbaikan yang telah dilakukan sekaligus sebagai panduan bagi UKPBJ dalam upaya perbaikan berikutnya. Kematangan organisasi pengadaan merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam pengembangan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah yang efisien dan bebas korupsi. Kematangan organisasi pengadaan merupakan salah satu agenda dalam rencana aksi nasional pencegahan dan pemberantasan korupsi sesuai dengan Inpres No. 7 Tahun 2015 dan Inpres No. 10 Tahun 2016.

Tingkat kematangan UKPBJ yang dikembangkan oleh LKPP di Indonesia mengacu pada teori Capability Maturity Model (CMM) yang juga banyak diadopsi oleh para pelaku industri adalah model yang dirilis oleh SEI (Software Engineering Institute) tahun 1986. Konsep model kematangan menjadi pengetahuan populer dan instrumennya telah digunakan dalam banyak penelitian untuk mengembangkan tingkat kematangan organisasi di berbagai sektor untuk mencapai tingkat kematangan organisasi yang optimal (Kohlegger et al. 2009). Target minimal setiap UKPBJ adalah mencapai tingkat kematangan Level 3 yaitu proaktif, sehingga UKPBJ dapat menjadi Center of Excellence seperti yang diamanatkan dalam Perpres 16 Tahun 2018. Gambaran tentang Model Tingkat Kematangan UKPBJ di Indonesia adalah sebagaimana Gambar 1 berikut ini.

(24)

Gambar 1 Model tingkat kematangan UKPBJ

Untuk realisasi pada tingkat Kementerian/Lembaga (K/L), terdapat tiga besar Instansi Pemerintah yang sudah memenuhi UKPBJ level kematangan proaktif sesuai Perpres 16 Tahun 2018 pada tahun 2020 yaitu: Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), dan Lembaga Kebijakan Pengadaan barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Dengan adanya kelembagaan UKPBJ tersebut diharapkan dapat mencapai arah kebijakan kelembagaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PBJP) sebagai Pusat Keunggulan Pengadaan Barang/Jasa dan mampu mendorong perubahan dalam tujuan pengadaan sektor publik yang terdiri atas: menghasilkan Barang/Jasa yang tepat (value for money); meningkatkan Penerimaan Dalam Negeri (PDN); Peran Usaha Menengah Kecil (UMK) dan Koperasi, dan pelaku usaha nasional termasuk keikutsertaan industri kreatif; mendukung pelaksanaan penelitian dan pemanfaatan barang/jasa hasil penelitian; pemerataan ekonomi dan perluasan kesempatan usaha, dan meningkatkan pengadaan berkelanjutan.

Kunci sukses UKPBJ menjadi Pusat Unggulan pengadaan adalah perubahan paradigma dalam mengembangkan organisasi melalui mentoring, coaching dan training, sebagaimana dinyatakan dalam UKPBJ Center of Excellent Workshop pada tahun 2019 lalu. Sehingga untuk itu UKPBJ harus memiliki Agen Perubahan guna mewujudkan perubahan paradigma, pengetahuan, kemampuan, dan lainnya yang merupakan enabler penciptaan value added UKPBJ.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian manajemen perubahan sektor publik sebelumnya menyatakan planned change theory yang efektif sebagai basis teori yang digunakan (Hendriks dan Tops 2003; Reichard 2003; Vann 2004; Weissert dan Goggin 2002; Hoque dan Kirkpatrick 2008; Coram dan Burnes 2001). Namun demikian dalam kebutuhan agen perubahan bagi UKPBJ, yang dibutuhkan agen perubahan yang terampil mengelola perubahan paradigma dalam mengembangkan organisasi. Agen perubahan yang terampil mengenali perubahan yang muncul adaptif (emergent change), membuatnya lebih menonjol, dan menyusunnya ulang (Bate 1990). Sehingga dalam mengelola manajemen perubahan dalam organisasi, agen-agen perubahan UKPBJ sedianya juga harus mampu mengelola perubahan

(25)

melalui pendekatan emergent change dalam rangka mewujudkan pengadaan yang berkelanjutan.

Pendekatan emergent change dalam manajemen perubahan adalah menekankan pemahaman yang luas dan mendalam tentang strategi, struktur, sistem, orang, cara dan budaya, serta bagaimana ini dapat menjadi pengungkit untuk mendorong efektivitas proses perubahan (Burnes, 1996). Sehingga untuk itu perlu dibuktikan juga mengenai pengaruh unsur-unsur dalam emergent change mengembangkan tingkat kematangan organisasi UKPBJ yang indikatornya diadopsi dari teori capability maturity model. Selanjutnya dalam proses manajemen perubahan tersebut juga perlu dilihat unsur-unsur perubahan yang menjadi unsur penentu perubahan organisasi dalam mengembangkan tingkat kematangan UKPBJ.

Clarke (1999)(Lalenoh, Ester 2016, dan R, Agung 2021) mengidentifikasi unsur- unsur dalam suatu proses perubahan yaitu: 1) Lingkungan; 2) Kapabilitas Organisasi; 3) Aktor Perubahan; 4) Strategi Perubahan; 5) Proses Perubahan; 6) Budaya Perubahan; 7) Tindakan Perubahan; dan 8) Kepemimpinan Visioner.

Berdasarkan unsur-unsur tersebut, dalam penelitian ini membatasi analisis pada unsur-unsur perubahan: aktor perubahan (human resource), budaya perubahan (culture), dan kepemimpinan visioner (leadership) yang akan mempengaruhi pengembangan kematangan organisasi UKPBJ secara optimal. Unsur-unsur tersebut dipilih berdasarkan systematic literature review penelitian terkait manajemen perubahan di sektor publik sebelumnya dan masukan para pihak saat seminar proposal penelitian ini dilakukan.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, Penelitian ini secara keseluruhan mempunyai research gap sebagai berikut: Pertama, membuktikan pendekatan emergent change secara teoritis menjadi landasan manajemen perubahan yang robust dalam pengembangan tingkat kematangan UKPBJ di Indonesia. Kedua, membuktikan pengaruh variabel organizational change sebagai variabel independen yang mampu mempengaruhi variabel capacity maturity model sebagai variabel dependen dalam empat Variabel: Proses, Organisasi, SDM, dan Sistem Informasi untuk mengembangkan tingkat kematangan UKPBJ di Indonesia. Ketiga, bagaimana perubahan yang adaptif tersebut dikelola melalui sebuah protokol dalam mengantispasi critical path, yaitu bagian dari variabel pada setiap Variabel yang sangat besar pengaruhnya apabila tidak terlaksana dan akan menghambat pencapaian variabel yang lain (Pich et al. 2002).

Pada tahun 2020 terdapat beberapa Kementerian/Lembaga yang tercepat dalam mencapai Level 3, proaktif yaitu tiga diantaranya terdiri dari: Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah (LKPP). Kondisi sebelum terbentuknya UKPBJ pada masing-masing K/L tersebut secara umum meliputi:

1. Unit Layanan Pengadaan (ULP) dilakukan secara ad hoc untuk tingkat pusat dan daerah, misalnya di Kemenkeu dan Kemendikbud, dan terdapat unit yangs secara fungsional menangani Sistem Pengadaan (LPSE), sehingga membuat koordinasi pelaksanaan pengadaan berbasis elektronik menjadi lebih birokratis, karena tidak dalam satu atap unit struktural;

2. Diperlukan waktu Pengumpulan dan pengolahan data pengadaan yang lebih kompleks karena ULP dan LPSE tidak dalam satu koordinasi untuk menjadi pusat informasi pengadaan;

(26)

3. Penyesuaian sistem (e-tendering, e-purcahing, dsb) atas update regulasi menjadi lebih lama dalam proses pelaksanaannya;

4. Belum terwujud kolaborasi mendorong terwujudnya berbagai terobosan dan inovasi di bidang pengadaan barang/jasa (Contoh: SI-UKPBJ);

5. Belum mampu menjadi pembina stakeholder secara menyeluruh, meliputi pengelola pengadaan di satker dan vendor/penyedia barang/jasa

Dengan adanya perubahan organisasi yang dilakukan secara cepat oleh 3 K/L di atas, membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut mengenai tata kelola perubahan yang dilakukan sehingga dapat menjadi contoh keberhasilan bagi K/L lainnya.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini adalah menguraikan secara sistematis mengenai pengelolaan perubahan organisasi untuk meningkatkan tingkat kematangan UKPBJ yang optimal di Indonesia, dengan melakukan identifikasi mengenai:

1. Pengaruh apa yang dihasilkan dari perubahan organisasi terhadap peningkatan kematangan kematangan UKPBJ;

2. Model Manajemen Perubahan apa yang sesuai untuk meningkatkan tingkat kematangan UKPBJ;

3. Protokol critical path yang bagaimana seharusnya diterapkan untuk mengantisipasi kegagalan pencapaian tingkat kematangan;

4. Strategi perubahan seperti apa yang dapat disusun untuk meningkatkan kematangan UKPBJ di Indonesia.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang akan dicapai sebagai upaya pemecahan masalah maupun memahami gejala (fenomena) yang dijelaskan dalam latar belakang adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis pengaruh perubahan perubahan organisasi terhadap pengembangan kematangan UKPBJ di Indonesia;

2. Membangun model konseptual manajemen perubahan untuk meningkatkan Tingkat Kematangan UKPBJ;

3. Menganalisis indikator critical path untuk menghindari kegagalan pencapaian kematangan organisasi UKPBJ;

4. Menyusun strategi perubahan untuk meningkatkan Tingkat Kematangan UKPBJ di Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian mengenai manajemen perubahan dalam pengembangan tingkat kematangan UKPBJ ini diharapkan dapat menghasilkan beberapa manfaat antara lain sebagai berikut:

1. Memperoleh pemahaman secara ilmiah mengenai urgensi strategi manajemen perubahan untuk meningkatkan tingkat kematangan organisasi UKPBJ;

2. Sebagai referensi procurement kowledge penyempurnaan kebijakan UKPBJ di Indonesia;

3. Menyempurnakan hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai manajemen perubahan di lingkungan organisasi pemerintah, khususnya di bidang pengadaan sektor publik.

(27)

1.5 Kebaruan

Kebaruan penelitian ini, yaitu:

1. Spesifikasi unsur-unsur perubahan organisasi untuk meningkatkan tingkat kematangan capability maturity model UKPBJ;

2. Pengembangan UKPBJ strategic change management model berlandaskan emergent change theory sebagai alternatif dari planned change theory yang selama ini banyak sebagai basis teori yang digunakan manajemen perubahan sektor publik;

3. Mitigasi risiko atas strategi perubahan yang diusulkan untuk mengantisipasi terjadinya critical path kematangan UKPBJ melalui logical framework analysis;

4. Alternatif strategi perubahan yang dapat dilakukan untuk mencapai tingkat kematangan organisasi sesuai target yang ditetapkan.

.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup yang membatasi penelitian ini meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Kelembagaan UKPBJ ditingkat K/L, dengan sampling pada 3 K/L yang tercepat memperoleh level proaktif di Tahun 2020;

2. Analisis Tingkat Kematangan UKPBJ yang diadopsi LKPP dari Capability Maturity Approach;

3. Unsur-unsur perubahan organisasi yang meliputi: leadership, culture, dan human resource.

(28)

II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan dijelaskan hasil dari kajian pustaka induktif dan deduktif.

Kajian induktif akan mendiskripsikan hasil-hasil penelitian terdahulu. Berbagai penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian juga diuraikan dan dibahas secara mendalam, sehingga dapat diketahui posisi penelitian serta keterbaruan yang terjadi antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan. kajian deduktif mendeskripsikan berbagai teori, konsep, pandangan dari para peneliti dan pakar tentang rantai pasok. Selanjutnya pada bagian akhir, dilakukan sintesa dari berbagai teori dan penelitian terdahulu sehingga memperjelas konsep-konsep dan teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil sintesa tersebut, disusunlah kerangka pemikiran konseptual dari penelitian ini.

2.1 Pengadaan Barang dan Jasa Publik

Konsep pengadaan barang dan jasa merupakan konsep yang diadaptasi dari konsep dasar bisnis, dimana melibatkan banyak pihak yang saling kait-mengait baik dari segi alur produsen-pemasokkonsumen. Tidak hanya itu, dalam bidang strategi dan manajemen pengadaan barang dan jasa juga didasarkan pada konsep manajemen yang biasa diterapkan dalam bisnis. Pernyataan ini di dukung oleh Kotler et al. (2005) yang mencatat bahwa proses bisnis itu meliputi segala hal yang saling berkaitan dan berhubungan dengan proses pengadaan barang dan jasa yang pada awalnya dimulai dari Ihtiar dari pengusaha untuk memenuhi permintaan konsumen, yang kemudian diawali dengan proses produksi, disusul dengan proses pengenalan barang ke konsumen yang biasanya akan dimulai dengan membentuk kesadaran pada merek atau brand awareness. Dalam tahapan ini Brand awareness adalah proses yang sangat penting karena dengan membentuk kesadaran target konsumen terhadap produk yang ditawarkan akan memudahkan pemasaran dan penjualan barang dan jasa (Aaker 2005; Kapferer 2008). Setelah tahapan itu, produsen akan melibatkan pihak lain yang biasa dikenal dengan supplier yang memiliki tugas untuk menyuplai dan menyalurkanbarang danjasa kepada para penjual atau secara langsung ke pada konsumen. Untuk analogi dasarnya bisa dilihat pada skema rantai bisnis (Malik 2017) di bawah ini.

Gambar 2 Skema rantai bisnis (Malik 2017)

Skema di atas menggambarkan rantai bisnis yang dimulai dari tahapan produksi sampai dengan tahap penjualan terhubung dengan banyak pihak dan memiliki tahapan proses yang cukup beragam, di mana satu produsen dapat

(29)

menyalurkan barang dan jasa bukan hanya kepada satu supplier saja, tapi dapat kepada banyak supplier, dan atau dapat dijual langsung kepada konsumen. Dimana kondisi tersebut tergantung oleh pendekatan strategi yang digunakan oleh suatu perusahaan, dan juga sangat tergantung dari permintaan pasar yang ada. Namun demikian, pada umumnya perusahaan sangat dipengaruhi oleh faktor efisiensi biaya dan keuntungan yang akan diperoleh (Kotler et al. 2005).

Konsep dan pendekatan di atas berlaku, sama dengan prosedur procurement atau pengadaan barang dan jasa, dimana yang akan menjadi dasar pertimbangan utama dari pihak divisi pengadaan adalah efisiensi biaya dan jaminan kualitas barang, jasa serta kenyamanan jasa yang diterima (Booth 2010). Tapi dalam pelaksanaannya ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh pihak pengadaan yakni, pendekatan strategi yang harus sesuai dengan tenggang waktu atau time constraint yang telah ditentukan dengan jumlah biaya yang akan dikeluarkan. Oleh karena itu sangat penting bagi pihak terkait untuk perancang strategi dan rancangan bisnis dan strategi yang akan digunakan. Pada umumnya dalam konteks ini pengusaha akan menggunakan business plan atau perencanaan usaha yang detail mulai dari kapan proyek akan dilaksanakan, waktu yang dibutuhkan, tenaga dan alat yang diperlukan, dan menimbang risiko yang bisa muncul dan mencari alternatif penyelesaian masalah apabila risiko yang tidak diinginkan muncul tanpa dugaan.

Filosofi dasar dari pengadaan barang/jasa sektor publik Pemerintah adalah segala bentuk tindakan pemerintah yang berhubungan dengan kebijakan umum, yang melibatkan pengadaan barang dan jasa yang berguna untuk mendukung kinerja pemerintah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat umum (Bovis 2005).

Proses pengadaan sendiri merupakan kegiatan untuk mendapatkan barang atau jasa yang dilaksanakan secara terbuka, tepat sasaran dan tepat hasil sesuai dengan kebutuhan (Christopher dan Schooner 2007). Dikarenakan proses PBJ Pemerintah menggunakan anggaran belanja negara dan merupakan hasil dari pajak yang dipungut dari masyarakat (Schapper et al. 2006) maka PBJ Pemerintah dalam pelaksanaannya harus berpihak pada kepentingan rakyat, dimana terdapat 4 sektor utama yang menjadi ruang lingkup PBJ Pemerintah ini, yaitu: Sektor Penyediaan Publik, Sektor Pekerjaan Umum, Sektor Sarana Publik yang terdiri dari:

transportasi, energi air dan sektor telekomunikasi dan terakhir terkat dengan Sektor Pelayanan Publik (Bovis 2005).

2.2 Manajemen Pengadaan

Pengelolaan Pengadaan sektor publik juga tidak terlepas dari filosofi manajemen yang harus dilakukan dalam proses pengadaan untuk menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas. Fungsi-fungsi manajemen dibutuhkan untuk mengelola siklus pengadaan barang dan jasa sektor publik dapat berjalan dengan baik mulai dari penetapan peraturan pelaksanaan anggaran, distribusi anggaran ke masing masing organisasi/unit, penentuan program yang membutuhkan pengadaan barang dan jasa, analisis anggaran pengadaan, pengumuman pengadaan, proses tendering, pengumuman hasil pengadaan, serah terima barang dan jasa, serta proses kepemilikan dan penggunaan barang dan jasa. Adapun definisi manajemen pengadaan menurut pendapat para ahli:

a. Menurut buku Strategic Proactive Procurement (Burt dan Pinkerton, 1996), Manajemen Pengadaan adalah proses sistematik apa yang diputuskan, kapan

(30)

dan berapa banyak yang dibeli, tindakan pembelian dan proses memastikan apa yang dibutuhkan dapat diterima tepat waktu sesuai dengan spesifikasi kuantiti dan kualitas.

b. Menurut Pujawan (2005), manajemen pengadaan adalah salah satu komponen utama supply chain management, banyak ahli yang mulai menganggap bahwa kegiatan pengadaan adalah kegiatan strategis, karena di beberapa perusahaan manufaktur ongkos-ongkos bahan baku melebihi nilai tambah yang diberikan selama proses produksi, ini memberikan sinyal yang sangat kuat bahwa efisiensi di bagian pengadaan bisa memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi peningkatan keuntungan (profit) sebuah perusahaan.

c. Berdasarkan buku Manajemen Pengadaan (Siahaya, 2016), manajemen pengadaan adalah bagian dari Supply Chain Management yang secara sistematik dan strategis memproses pengadaan barang dan jasa mulai dari sumber barang sampai dengan tempat tujuan berdasarkan tepat mutu, jumlah, harga, waktu, sumber dan tempat, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Berdasarkan pengertian manajemen pengadaan tersebut semakin jelas bahwa dalam pengadaan dibutuhkan kompetensi untuk mencapai semua tujuan yang mempunyai standar dan norma kualitas yang diharapkan dari proses pengadaan tersebut. Dalam pengadaan sektor publik kompetensi, tentu yang dipersyaratkan harus sesuai dengan regulasi yang mengatur tentang proses PBJ Pemerintah itu sendiri.

2.3 Sistem Pengadaan Sektor Publik

Terdapat dua macam pendekatan sistem yang bisa digunakan dalam menganalisis PBJ Pemerintah, sistem yang pertama dikenal dengan pendekatan institusi yang menganalisis tentang elemen atau unsur-unsur dalam pengadaan dan sistem yang kedua adalah procurement system in action yang menganalisis kemungkinan badan/badan yang bisa dikendarai dalam proses pelaksanaannya dalam kondisi ini pengadaan barang dan jasa dianggap sebagai suatu proses yang dinamis (Thai 2001). Sistem procurement system in action ini dapat menggambarkan kompleksitas yang lebih jelas, karena tidak hanya melibatkan satu unsur komponen saja tapi melibatkan banyak institusi dan lembaga negara serta pengusaha, sebagaimana dijelaskan dalam Gambar 3 berikut ini.

Gambar 3 Sistem pengadaan barang dan jasa (Thai 2001)

(31)

Proses dinamis dari sistem di atas adalah komponen yang berada pada Box ke-4, karena dalam Box ini kemudian menjadi kunci utama dalam pelaksanaan proyek, dari sinilah komponen manajer dan personel pengadaan barang dan jasa dibentuk, serta struktur organisasi dari pengadaan tersebut. Struktur yang dibentuk bisa saja begitu kompleks dan sederhana tergantung dari besarnya jumlah personel yang duduk dalam pemerintahan. Box ke-4 juga diatur mengenai legal environment yaitu berhubungan dengan kerangka hukum yang dibuat oleh pemerintah yang menyangkut mengenai regulasi keselamatan dan pengendalian, termasuk dalam hal ini regulasi untuk mengantisipasi terjadinya fraud dalam pengadaan.

2.4 Kebijakan PBJ Pemerintah di Indonesia

Regulasi yang mengatur tentang tata kelola pengadaan barang dan jasa di setiap negara juga berbeda disesuaikan dengan tatanan aturan yang berlaku pada masing-masing negara (Trepte 2004). Namun demikian, semua produk regulasi yang dihasilkan pada konsepnya memiliki kesamaan tujuan dan konsepsi.

Contohnya pelaksanaan di negara-negara Uni Eropa, proses pengadaan barang dan jasa bermula dengan adanya pembentukan lembaga dan pihak yang berwenang untuk terlibat dalam proyek pengadaan tersebut dan peraturan untuk setiap jenis pengadaannya juga berbeda-beda (Bovis 2005). Untuk itu Pemerintah harus mampu membuat regulasi khususnya di sektor PBJ ini yang bertumpu pada strategi kebijakan, sehingga kebijakan tersebut mampu mengakomodir semua kepentingan umum. Berikutnya adalah kebijakan tersebut haruslah bersifat melindungi kepentingan umum dan yang terakhir adalah kebijakan tersebut harus mampu proaktif memecahkan berbagai persoalan yang terjadi (Trepte 2004).

Proses pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah tentu saja memiliki aturan dan pendekatan tersendiri. Di Indonesia, kebijakan terkait PBJ Pemerintah dikoordinasikan oleh LKPP yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007. LKPP berkedudukan sebagai Lembaga Pemerintah Non- Kementerian (LPNK) yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, LKPP dikoordinasikan oleh Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas. Prinsip dasar dari pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah adalah suatu tugas dan fungsi dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan yang baik.

Regulasi PBJ Pemerintah di Indonesia di atur lebih lanjut dalam Peraturan Perpres Nomor 16 Tahun 2018, sebagaimana diubah terakhir dengan Perpres Nomor 12 Tahun 2021. Sesuai dengan Perpres Nomor 21 Tahun 2021, terdapat beberapa perubahan yang signifikan terkait beberapa ketentuan dalam pengadaan barang/jasa baik dalam penggunaan istilah pengadaan barang maupun kebijakan- kebijakan yang terkait tentang PBJ ini. Pemerintah menegaskan, arah kebijakan PBJ dalam Perpres tersebut meliputi empat aspek yaitu Kelembagaan, Finansial, SDM, dan Perluasan Peran. Namun, pada saat ini pengembangannya dititikberatkan kepada aspek Kelembagaan, yaitu membentuk kelembagaan secara struktural, dan SDM, yaitu pengangkatan jabatan fungsional Pejabat Pengadaan Barang/Jasa (PPBJ) (Setkab 2019).

2.5 Mitigasi Risiko PBJ Pemerintah di Indonesia

Penelitian terkait proyek pengadaan barang dan jasa selama ini telah menghasilkan temuan bahwa proyek PBJ Pemerintah rawan oleh tindakan korupsi

(32)

(OECD 2007). Terdapat dua jenis kasus korupsi dan penyelewengan yang dapat terjadi yaitu yang pertama penyelewengan atau korupsi di bagian birokrasi yakni adanya penyelewengan dan pelanggaran administratif, jenis korupsi ini dianggap sebagai korupsi di level bawah. Sedangkan yang kedua adalah korupsi yang dilakukan dengan latar belakang politik, korupsi semacam ini dikategorikan sebagai korupsi level atas, karena sudah merencanakan kejahatan melalui penyusunan aturan hukum yang memberikan celah untuk pihak tertentu melakukan kejahatan (Heggstad et al. 2010).

Meskipun risiko yang kemungkinan terjadi dalam proses pengadaan barang dan jasa pemerintah memiliki probabilitas yang tinggi, hal itu dapat dimitigasi dengan menerapkan sistem integritas nasional yang bertujuan untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, sehingga kemungkinan adanya penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan dalam pengadaan barang dan jasa bisa dapat diminimalisir, walaupun tetap dibutuhkan program monitoring dan pemantauan yang tegas dari pihak terkait, termasuk dari pemerintah (Langseth et al. 1997).

Sistem integritas yang diciptakan oleh Pemerintah dibangun berdasarkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi penyelewengan dalam proyek pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah, sehingga hal itu akan mencegah terjadinya korupsi dan kecurangandalam proyek pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah (OECD 2007).

Selain dari sisi regulasi, pemerintah harus membuat sanksi yang berat dan membuat pengaturan yang tegas apabila dalam lelang pengadaan yang berlangsung fair masih tedapat kecurangan dan ada pihak tertentu yang melanggar aturan yang berlaku, dimana sanksi tersebut dapat berupa larangan bagi peserta untuk tidak diikutkan lagi dalam lelang yang akan dilakukan berikutnya (Darvieux, 2005).

Selanjutnya untuk meningkatkan mitigasi risiko dari para pelaku PBJ Pemerintah di Indonesia, Pemerintah juga memandang perlu dilakukan perbaikan insentif bagi pengelola pengadaan dalam mendukung upaya reformasi pengadaan.

Hal ini, menurutnya, guna meningkatkan profesionalisme SDM yang terlibat langsung dalam praktik pengadaan. Dukungan perbaikan insentif bagi pengelola pengadaan sebetulnya harus sesuai dengan beban dan risiko kerja yang ditanggung oleh mereka. Hal tersebut selain sebagai bentuk untuk memberikan penghargaan yang layak, juga untuk memberikan dukungan peningkatan kesejahteraan pengelola pengadaan ini akan berdampak pula terhadap independensi pelaksanaan pengadaan (LKPP 2018).

Secara empiris, standar keahlian dan profesionalitas pegawai pengadaan barang dan jasa tidaklah mudah dicapai (Perry 1989). Kenyataannya dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, terdapat perbedaan yang mendasar antara proses pengadaan barang dan jasa di pemerintah dan di perusahaan swasta.

Kesalahan atau pelanggaran dalam pengadaan barang dan jasa publik dapat menimbulkan dampak politis yang luas, sehingga media dan publik ditempatkan sebagai subjek. Untuk itu, dalam Aksi Pencegahan Korupsi 2019-2020 Keuangan Negara, KPK menjadikan peningkatan profesionalitas dan modernisasi Pengadaan Barang dan Jasa sebagai salah satu strategi pencegahan korupsi pengadaan sektor publik diindonesia termasuk dalam hal ini adanya dampak dari sisi politis, dengan salah satu Sub Aksi: Tercapainya tingkat kematangan Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa minimal pada level 3 (tiga) di 100 Kementerian, Lembaga, Pemerintah/Provinsi.

(33)

Modernisasi Pengadaan yang ditetapkan oleh KPK adalah bagian dari program yang telah diinisiasi oleh LKPP dan Millennium Challenge Account Indonesia (MCAI) dalam program modernisasi pengadaan, yang dirancang untuk mempercepat agenda reformasi pengadaan/pembelian barang dan jasa pemerintah Indonesia; dan mengubah operasi sistem pengadaan/pembelian publik di Indonesia.

Tujuan dari proyek ini adalah penghematan biaya dan efisiensi dari barang dan jasa yang dibeli, dengan memastikan kualitasnya memuaskan kebutuhan publik, serta

untuk memperoleh penyerahan layanan publik sebagaimana direncanakan (MCAI 2014). Penghematan ini akan mengarah pada penyediaan lebih besar barang

dan jasa ke ekonomi yang akan secara positif berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Proyek ini terkait dengan threshold Program MCA pada bidang pengendalian korupsi di Indonesia melalui perkenalan sistem dan praktek pembelian/pengadaan barang secara moderen di Indonesia.

2.6 Capability Maturity Model

Pendekatan pengukuran kematangan organisasi berdasarkan teori Capability Maturity Model (CMM) yang banyak diadopsi oleh para pelaku industri saat ini adalah model yang pertama kali dirilis oleh Software Engineering Institute (SEI) pada tahun 1986. Prinsip dasar yang mendasari kerja SEI untuk membangun kematangan proses perangkat lunak adalah bahwa kualitas produk perangkat lunak sangat ditentukan oleh kualitas pengembangan perangkat lunak dan proses pemeliharaan yang digunakan untuk membangunnya. Struktur bertahap kerangka kerja kematangan proses perangkat lunak didasarkan pada prinsip-prinsip Total Quality Management (TQM) yang telah ada selama 1 (satu) abad ini. Penemuan- penemuan yang dihasilkan oleh Frederick Taylor dan Frank Gilbreth tentang manajemen ilmiah dan studi time and motion pada awal 1900-an, akhirnya mengarah pada disiplin ilmu baru yang dikenal dengan nama teknik industri (Hays 1994). Selanjutnya pada 1930-an, Walter Shewhart, seorang fisikawan di ATdanT Bell Laboratories, menetapkan prinsip-prinsip pengendalian kualitas statistik (Shewhart 1931). Prinsip-prinsip ini dikembangkan lebih lanjut dan berhasil ditunjukkan dalam penemuan ilmiah yang spesifik dihasilkan antara lain oleh W.

Edwards Deming (1986) dan Joseph M. Juran (1988).

Konsep model kematangan menjadi pengetahuan populer dan instrumennya telah digunakan dalam banyak penelitian untuk mengembangkan tingkat kematangan organisasi sektor mana pun untuk mencapai tingkat kematangan organisasi yang optimal (Kohlegger et al. 2009). Banyak studi kasus dan laporan penelitian telah dipublikasikan tentang dampaknya terhadap produktivitas, waktu siklus, dan kualitas (Krasner 2001; Clark 2000; Harter, Krishnan, dan Slaughter 2000), dan tingkat kematangannya telah tertanam dalam model biaya parametrik seperti COCOMO II (Boehm, et. al. 2000). CMM Perangkat Lunak sekarang telah pensiun demi model CMM Integration (CMMI), tetapi mengilhami banyak standar dan kerangka kerja lainnya, termasuk People CMM (Curtis, Hefley, dan Miller 1995), CMM Rekayasa Sistem (R. Bate et al. 1994) dan Teknik Keamanan Sistem CMM (Hefner 1997). Itu juga merupakan salah satu pendorong dalam pengembangan ISO/IEC 15504 (Proses Penilaian), terutama Bagian 7 pada penilaian kematangan organisasi (ISO, 2008).

Model kematangan telah berkembang menjadi instrumen yang penting untuk meningkatkan kinerja organisasi dan mendorong kesadaran untuk melakukan

Referensi

Dokumen terkait