• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIZKIAH HUTASUHUT /IM MAGISTER ILMU MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RIZKIAH HUTASUHUT /IM MAGISTER ILMU MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN"

Copied!
220
0
0

Teks penuh

(1)

DI SMA NEGERI 1 BARUMUN TENGAH

TESIS

Oleh

DINA RIZKIAH HUTASUHUT 127019015/IM

MAGISTER ILMU MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2015

(2)

PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK, KEPRIBADIAN, SOSIAL, PROFESIONALISME DAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH

TERHADAP KEPUASAN KERJA DAN KINERJA GURU DI SMA NEGERI 1 BARUMUN TENGAH

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

Oleh

Dina Rizkiah Hutasuhut 127019015

MAGISTER S2 ILMU MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Tesis : Pengaruh Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Sosial, Profesionalisme dan Supervisi Kepala Sekolah

Terhadap Kepuasaan Kerja dan Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah

Nama Mahasiswa : Dina Rizkiah Hutasuhut Nomor Pokok : 127019015

Program Studi : Magister Ilmu Manajemen

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ritha F. Dalimunthe, M.Si) (Dr. Yeni Absah, M.Si)

Ketua Anggota

Ketua Program Studi Dekan

(Prof. Dr. Paham Ginting, SE, MS) (Prof. Dr. Azhar Maksum. M.Ec, Ac)

Tanggal Lulus : 10 Februari 2015

(4)

Telah Diuji Pada

Tanggal : 10 Februari 2015

PANITIA PENGUJI TES

Ketua : Prof. Dr. Ritha F. Dalimunthe, M.Si Anggota : 1. Dr. Yeni Absah, M.Si

2. Prof. Dr. Paham Ginting, MS

3. Prof. Dr. Prihatin Lumbanraja, SE, M.Si 4. Dr. Parapat Gultom, MSIE

(5)

DI SMA NEGERI 1 BARUMUN TENGAH ABSTRAK

Kinerja guru dapat ditingkatkan dengan mengadakan sertifikasi, supervisi oleh kepala sekolah, mengadakan kelompok musyawarah guru mata pelajaran, dan memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kepuasan kerja guru; (2) menganalisis pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kepuasan kerja guru; (3) menganalisis pengaruh kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja guru; (4) menganalisis pengaruh kompetensi profesional terhadap kepuasan kerja; (5) menganalisis pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru; (6) menganalisis pengaruh kepuasan kerja guru terhadap kinerja; (7) menganalisis pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kinerja; (8) menganalisis pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kinerja; (9) menganalisis pengaruh kompetensi sosial terhadap kinerja; (10) menganalisis pengaruh kompetensi profesionalisme terhadap kinerja; (11) menganalisis pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Barumun Tengah Kabupaten Padang Lawas dengan sampel sebanyak 40 guru.

Metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur dengan pengolahan data menggunakan SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh signifikan dan positif kompetensi pedagogik terhadap kepuasan kerja guru; (2) terdapat pengaruh signifikan dan positif kompetensi kepribadian terhadap kepuasan kerja guru; (3) terdapat pengaruh signifikan dan negatif kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja guru; (4) terdapat pengaruh signifikan dan positif kompetensi profesional terhadap kepuasan kerja guru; (5) terdapat pengaruh signifikan dan negatif supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru; (6) terdapat pengaruh signifikan dan positif kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru; (7) tidak terdapat pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kinerja guru; (8) terdapat pengaruh signifikan dan positif kompetensi kepribadian terhadap kinerja guru; (9) terdapat pengaruh signifikan dan negatif kompetensi sosial terhadap kinerja guru; (10) tidak terdapat pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru; (11) tidak terdapat pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru.

Kata Kunci : Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Sosial, Profesionalisme, Supervisi Kepala Sekolah, Kepuasan Kerja Guru, Kinerja Guru

(6)

THE INFLUENCE OF PEDAGOGICAL, PERSONAL, AND SOCIAL COMPETENCE, PROFESSIONALISM, AND SUPERVISION OF

PRINCIPAL ON TEACHERS’ SATISFACTION AND PERFORMANCE AT SMA NEGERI 1,

BARUUN TENGAH ABSTRACT

Teacher performance can he improved by conducting certification, supervision by the principal, held a discussion group of subject teachers, and provides an excellent opportunity to thrive in a career. This study aims to (1) analyze the influence of pedagogical competence of the teacher job satisfaction; (2) analyze the effect of personal competence of the teacher job satisfaction; (3) analyze the effect of social competence of the teacher job satisfaction; (4) analyze the influence of professional competence on job satisfaction; (5) to analyze the influence of the principal's ,supervision of the teacher job satisfaction; (6) analyze the effect on the performance of the teacher job satisfaction; (7) to analyze the influence of pedagogical competence of the performance; (8) analyze the effect on the performance of personal competence; (9) to analyze the effect on the performance of social competence; (10) analyzed the effect on the performance of professional competence; (l I) analyzed the influence of the principal’s supervision on performance. This research was conducted at SMA Negeri I Middle Barumun Padang Lawas with a sample of 40 teachers. The analytical method used is path analysis with data processing using SPSS version 21. The results showed that (I) there is u significant and positive effect on job satisfaction pedagogical competence of teachers; (2) there is a significant and positive effect on job satisfaction personal competence of teachers; (3) there is a significant and negative effect on job satisfaction of social competence of teachers; (4) there is a significant and positive effect on job satisfaction of professional competence of teachers; (5) there is a significant and negative effect supervision of the principal on job satisfaction of teachers; (6) there is a significant and positive influence job satisfaction of teachers on teacher performance; (7) have no effect on the performance of teachers' pedagogical competence; (8) there is a significant and positive effect on the performance of teacher personal competence; (9) there is a significant and negative effect on the performance of teachers' social competence;

(10) have no effect on the performance of the professional competence of teachers; (11) have no effect on the performance of the principal's supervision of teachers.

Keywords: Competence Pedagogical, Personality, Social, Professionalism, Supervising Principal, Teacher Job Satisfaction, Teacher Performance.

(7)

KATA PENGANTAR

Peneliti mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK, KEPRIBADIAN, SOSIAL, PROFESIONALISME DAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KEPUASAN DAN KINERJA GURU DI SMA NEGERI 1 BARUMUN TENGAH”. Dalam penelitian tesis, peneliti telah berusaha dengan segala kemampuan yang ada, namun peneliti menyadari dalam penelitian tesis ini banyak pihak yang telah membantu, oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Syahril Pasaribu, DTM & H., M.Sc., (CTM)., Sp. A (K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Herman Munir selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Paham Ginting, MS, selaku Ketua Program Studi Ilmu Manajemen sekaligus Anggota Komisi Pembanding yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis.

4. Ibu Dr. Arlina Nurbaity Lubis, MBA, selaku Sekertaris Program Studi Ilmu Manajemen.

5. Ibu Prof. Dr. Ritha F. Dalimunthe, M.Si selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan peneliti dalam penelitian tesis ini.

6. Ibu Dr. Yeni Absah, M.Si selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak membimbing dan mengarahkan peneliti dalam penelitian tesis ini.

7. Ibu Prof. Dr. Prihatin Lumbanraja, SE, M.Si selaku Anggota Komisi Pembanding yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis ini.

8. Bapak Dr. Parapat Gultom, MSIE selaku Anggota Komisi Pembanding yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis ini.

9. Seluruh Staf Pengajar dan Staf Administrasi Program Studi Ilmu Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

(8)

10. Orang tua saya, Ayahanda Almarhum Drs. Iman Hutasuhut dan Ibunda Dra.

Rukiah Siagian, atas semua kasih sayang dan semangat yang telah diberikan dalam penyelesaian tesis ini.

11. Suamiku Indra Kasim Hasibuan, SE dan ananda Rezky Natama Putra Hasibuan atas doa dan dukungannya.

12. Rekan-rekan Sekolah Pascasarjana Ilmu Manajemen, atas bantuan dan dukungan selama peneliti menempuh studi dan dalam penelitian tesis ini.

Semoga ALLAH SWT selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan perhatian kepada peneliti. Peneliti menyadari tesis ini belum sempurna, namun diharapkan akan dapat berguna bagi semua pihak khususnya bagi pengembangan serta penelitian dalam bidang kinerja guru.

Medan, April 2015 Peneliti,

DINA RIZKIAH HUTASUHUT

(9)

RIWAYAT HIDUP

Dina Rizkiah Hutasuhut lahir di Medan, pada tanggal 20 Juli 1987, dari pasangan Almarhum Drs. Iman Hutasuhut dan Dra. Rukiah Siagian. Saat ini berkerja sebagai guru bidang studi ekonomi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Barumun Tengah Kecamatan Barumun Tengah Kabupaten Padang Lawas.

Menikah dengan Indra Kasim Hasibuan pada bulan Juni tahun 2014.

Pendidikan formal dimulai tahun 1993 di Sekolah Dasar Negeri 064974 Medan, lulus pada tahun 1999. Melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Madrasah Tsanawiyah 2 Medan, lulus pada tahun 2000. Selanjutnya pendidikan Sekolah Menengah Atas di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Medan, lulus pada tahun 2005, dan melanjutkan Studi di Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, lulus pada tahun 2009, kemudian melanjutkan pendidikan di Program Studi Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara pada tahun 2012.

Medan, April 2015 Peneliti,

DINA RIZKIAH HUTASUHUT

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 14

1.3 Perumusan Masalah ... 15

1.4 Tujuan Penelitian ... 16

1.5 Manfaat Penelitian ... 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 18

2.1 Landasan Teori ... 18

2.1.1 Kinerja Guru ... 18

2.1.2 Kepuasan Kerja ... 23

2.1.3 Kompetensi Guru ... 27

2.1.4 Kompetensi Pedagogik ... 28

2.1.5 Kompetensi Kepribadian... 36

2.1.6 Kompetensi Sosial ... 39

2.1.7 Kompetensi Profesional ... 41

2.1.8 Supervisi Kepala Sekolah... 48

2.2 Penelitian Terdahulu ... 53

2.3 Kerangka Konseptual ... 54

2.4 Hipotesis Penelitian ... 57

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 59

3.1 Jenis dan Sifat Penelitian ... 59

3.2 Lokasi Penelitian ... 59

3.3 Populasi dan Sampel ... 59

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 60

3.5 Jenis dan Sumber Data ... 60

3.6 Identifikasi Variabel ... 60

3.7 Definisi Operasional Variabel ... 61

3.8 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas ... 64

3.8.1 Uji Validitas ... 64

3.8.2 Uji Reliabilitas ... 69

3.9 Uji Asumsi Klasik ... 70

3.9.1 Uji Normalitas ... 70

3.9.2 Uji Multikolinieritas ... 70

(11)

3.10 Metode Analisis Data ... 71

3.10.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 71

3.10.2 Pengujian Hipotesis ... 72

3.11. Analisis Jalur ... 73

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 75

4.1 Hasil Penelitian ... 75

4.1.1 Gambaran Umum SMA Negeri 1 Barumun Tengah ... 75

4.1.2 Analisis Deskriptif ... 76

4.1.3 Analisis Infrensial ... 111

4.1.3.1 Asumsi Klasik Substruktur I ... 111

4.1.3.2 Asumsi Klasik Substruktur II ... 116

4.1.3.3 Pengujian Hipotesis ... 121

4.1.3.4 Pengaruh Langsung, Tidak Langsung, dan Total ... 132

4.1.3.5 Pengujian Intervening ... 135

4.2 Pembahasan Hasil Pengujian Hipotesis ... 137

4.2.1 Pengaruh Kompetensi Pedagogik Terhadap Kepuasan Kerja Guru ... 137

4.2.2 Pengaruh Kompetensi Kepribadian Terhadap Kepuasan Kerja Guru ... 138

4.2.3 Pengaruh Kompetensi Sosial Terhadap Kepuasan Kerja Guru ... 139

4.2.4 Pengaruh Kompetensi Profesional Terhadap Kepuasan Kerja Guru ... 140

4.2.5 Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kepuasan Kerja Guru ... 141

4.2.6 Pengaruh Kepuasan Kerja Guru Terhadap Kinerja Guru ... 143

4.2.7 Pengaruh Kompetensi Pedagogik Terhadap Kinerja Guru ... 144

4.2.8 Pengaruh Kompetensi Kepribadian Terhadap Kinerja Guru. 145 4.2.9 Pengaruh Kompetensi Sosial Terhadap Kinerja Guru ... 146

4.2.10 Pengaruh Kompetensi Profesional Terhadap Kinerja Guru 147 4.2.11 Pengaruh Supevisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Kinerja Guru ... 148

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 150

5.1 Kesimpulan ... 150

5.2 Saran ... 151

DAFTAR PUSTAKA ... 153

LAMPIRAN ... 157

(12)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Peneliti Terdahulu ... 53

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel ... 61

Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas Variabel Kemampuan Pedagogik ... 65

Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Variabel Kompetensi Kepribadian ... 66

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Variabel Kompetensi Sosial ... 66

Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Variabel Kompetensi Profesional ... 67

Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Variabel Supervisi Kepala Sekolah ... 67

Tabel 3.7 Hasil Uji Validitas Variabel Kepuasan Kerja Guru ... 68

Tabel 3.8 Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja Guru ... 68

Tabel 3.9 Rangkuman Reabilitas Seluruh Variabel ... 69

Tabel 4.1 Siswa SMA Negeri 1 Barumun Tengah ... 75

Tabel 4.2 Demografi Responden ... 76

Tabel 4.3 Penjelasan Responden Atas Variabel Kompetensi Pedagogik ... 77

Tabel 4.4 Penjelasan Responden Atas Variabel Kompetensi Kepribadian ... 82

Tabel 4.5 Penjelasan Responden Atas Variabel Kompetensi Sosial ... 88

Tabel 4.6 Penjelasan Responden Atas Variabel Kompetensi Profesional ... 91

Tabel 4.7 Penjelasan Responden Atas Variabel Supervisi Kepala Sekolah .. 95

Tabel 4.8 Penjelasan Responden Atas Variabel Kepuasan Kerja Guru ... 101

Tabel 4.9 Penjelasan Responden Atas Variabel Kinerja Guru ... 106

Tabel 4.10 Kolmogrov-Smirnov Substruktur I ... 113

Tabel 4.11 Multikolineritas Substruktur I ... 114

Tabel 4.12 Uji Glejser Substruktur I ... 116

Tabel 4.13 Kolmogrov-Smirnov Substruktur II ... 118

Tabel 4.14 Multikolineritas Substruktur II ... 119

Tabel 4.15 Uji Glejser Substruktur II ... 121

Tabel 4.16 Pengujian Hipotesis Secara Parsial Persamaan I Substruktur I ... 122

Tabel 4.17 Pengujian Hipotesis Secara Simultan Persamaan I Substruktur I. 125 Tabel 4.18 Koefisien Determinasi Persamaan I Substruktur I ... 125

Tabel 4.19 Pengujian Hipotesis Secara Parsial Persamaan II Substruktur I .. 127

Tabel 4.20 Koefisien Determinasi Persamaan II Substruktur I ... 127

Tabel 4.21 Pengujian Hipotesis Secara Parsial Persamaan I Substruktur II .. 129

Tabel 4.22 Pengujian Hipotesis Secara Simultan Persamaan I Substruktur II 131 Tabel 4.23 Koefisien Determinasi Persamaan I Substruktur II ... 132

Tabel 4.24 Nilai Koefisien Jalur Pengaruh Langsung, Tidak Langsung, dan Total ... 135

(13)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Hubungan Mekanisme Organisasi, Mekanisme

Kelompok, Karakteristik Individu, Mekanisme Individu, dan

Performance Kerja... 22

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual ... 57

Gambar 4.1 Grafik Normal Probability Substruktur I ... 111

Gambar 4.2 Grafik Histogram Substruktur I ... 112

Gambar 4.3 Grafik Scatterplot Substruktur I ... 115

Gambar 4.4 Grafik Normal Probability Substruktur II ... 117

Gambar 4.5 Grafik Histogram Substruktur II ... 117

Gambar 4.6 Grafik Scatterplot Substruktur II ... 120

Gambar 4.7 Jalur Persamaan I Substruktur I ... 122

Gambar 4.8 Jalur Persamaan II Substruktur I ... 126

Gambar 4.9 Jalur Persamaan I Substruktur II ... 128

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian ... 157

Lampiran 2. Tabulasi Data Penelitian ... 165

Lampiran 3. Rangkuman Data Penelitian ... 174

Lampiran 4. Validitas dan Reabilitas Instrumen Penelitian ... 175

Lampiran 5. Pengujian Normalitas ... 196

Lampiran 6. Pengujian Heteroskedastisitas ... 197

Lampiran 7. Hasil Pengolahan Data Dengan SPSS ... 198

Lampiran 8. Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Barumun Tengah ... 204

Lampiran 9. Guru SMA Negeri 1 Barumun Tengah ... 205

(15)

DI SMA NEGERI 1 BARUMUN TENGAH ABSTRAK

Kinerja guru dapat ditingkatkan dengan mengadakan sertifikasi, supervisi oleh kepala sekolah, mengadakan kelompok musyawarah guru mata pelajaran, dan memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kepuasan kerja guru; (2) menganalisis pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kepuasan kerja guru; (3) menganalisis pengaruh kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja guru; (4) menganalisis pengaruh kompetensi profesional terhadap kepuasan kerja; (5) menganalisis pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru; (6) menganalisis pengaruh kepuasan kerja guru terhadap kinerja; (7) menganalisis pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kinerja; (8) menganalisis pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kinerja; (9) menganalisis pengaruh kompetensi sosial terhadap kinerja; (10) menganalisis pengaruh kompetensi profesionalisme terhadap kinerja; (11) menganalisis pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Barumun Tengah Kabupaten Padang Lawas dengan sampel sebanyak 40 guru.

Metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur dengan pengolahan data menggunakan SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh signifikan dan positif kompetensi pedagogik terhadap kepuasan kerja guru; (2) terdapat pengaruh signifikan dan positif kompetensi kepribadian terhadap kepuasan kerja guru; (3) terdapat pengaruh signifikan dan negatif kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja guru; (4) terdapat pengaruh signifikan dan positif kompetensi profesional terhadap kepuasan kerja guru; (5) terdapat pengaruh signifikan dan negatif supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru; (6) terdapat pengaruh signifikan dan positif kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru; (7) tidak terdapat pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kinerja guru; (8) terdapat pengaruh signifikan dan positif kompetensi kepribadian terhadap kinerja guru; (9) terdapat pengaruh signifikan dan negatif kompetensi sosial terhadap kinerja guru; (10) tidak terdapat pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru; (11) tidak terdapat pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru.

Kata Kunci : Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Sosial, Profesionalisme, Supervisi Kepala Sekolah, Kepuasan Kerja Guru, Kinerja Guru

(16)

THE INFLUENCE OF PEDAGOGICAL, PERSONAL, AND SOCIAL COMPETENCE, PROFESSIONALISM, AND SUPERVISION OF

PRINCIPAL ON TEACHERS’ SATISFACTION AND PERFORMANCE AT SMA NEGERI 1,

BARUUN TENGAH ABSTRACT

Teacher performance can he improved by conducting certification, supervision by the principal, held a discussion group of subject teachers, and provides an excellent opportunity to thrive in a career. This study aims to (1) analyze the influence of pedagogical competence of the teacher job satisfaction; (2) analyze the effect of personal competence of the teacher job satisfaction; (3) analyze the effect of social competence of the teacher job satisfaction; (4) analyze the influence of professional competence on job satisfaction; (5) to analyze the influence of the principal's ,supervision of the teacher job satisfaction; (6) analyze the effect on the performance of the teacher job satisfaction; (7) to analyze the influence of pedagogical competence of the performance; (8) analyze the effect on the performance of personal competence; (9) to analyze the effect on the performance of social competence; (10) analyzed the effect on the performance of professional competence; (l I) analyzed the influence of the principal’s supervision on performance. This research was conducted at SMA Negeri I Middle Barumun Padang Lawas with a sample of 40 teachers. The analytical method used is path analysis with data processing using SPSS version 21. The results showed that (I) there is u significant and positive effect on job satisfaction pedagogical competence of teachers; (2) there is a significant and positive effect on job satisfaction personal competence of teachers; (3) there is a significant and negative effect on job satisfaction of social competence of teachers; (4) there is a significant and positive effect on job satisfaction of professional competence of teachers; (5) there is a significant and negative effect supervision of the principal on job satisfaction of teachers; (6) there is a significant and positive influence job satisfaction of teachers on teacher performance; (7) have no effect on the performance of teachers' pedagogical competence; (8) there is a significant and positive effect on the performance of teacher personal competence; (9) there is a significant and negative effect on the performance of teachers' social competence;

(10) have no effect on the performance of the professional competence of teachers; (11) have no effect on the performance of the principal's supervision of teachers.

Keywords: Competence Pedagogical, Personality, Social, Professionalism, Supervising Principal, Teacher Job Satisfaction, Teacher Performance.

(17)

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah suatu pengalaman belajar yang terprogram dalam bentuk pendidikan formal, non formal maupun informal di sekolah dan luar sekolah yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan bertujuan mengoptimalisasi kemampuan individu yang mandiri, terampil dan berkarakter. Pendidikan memiliki posisi strategis dalam segala segi pembangunan sumber daya manusia.

Guru merupakan sumber daya manusia yang memegang posisi paling strategis karena gurulah yang melakukan interaksi dengan peserta didik, oleh karena itu perlu peningkatan mutu guru agar menjadi tenaga yang profesional dan menjadikan guru sebagai tenaga yang perlu diperhatikan, dihargai dan diakui keprofesionalannya. Dengan demikian pekerjaan guru bukan hanya pekerjaan pengabdian, namun guru adalah pekerjaan profesional seperti pekerjaan yang lain.

Untuk membuat guru menjadi tenaga profesional, maka perlu peningkatan kompetensinya baik melalui pelatihan maupun memberi kesempatan untuk belajar lagi. Selain itu juga harus diperhatikan segi lainnya misalnya pemberian bimbingan melalui supervisi, pemberian motivasi, peningkatan disiplin, pemberian insentif dan gaji yang layak dengan keprofesionalannya sehingga guru akan merasa puas dalam bekerja sebagai pendidik.

Kepuasan kerja merupakan refleksi perasaan seseorang yang menyenangkan tentang pekerjaannya berdasarkan atas harapan seseorang dengan imbalan yang diberikan oleh organisasi atau sekolah tempat bekerja. Kepuasan

(18)

Seorang dengan sikap kepuasan tinggi menunjukkan sikap positif kerja, seseorang yang tidak puas terhadap pekerjaannya menunjukkan sikap yang negatif terhadap pekerjaannya tersebut (Robins, 2003). Kepuasan kerja yang tinggi menandakan bahwa sebuah organisasi telah dikelola dengan baik dengan manajemen yang efektif. Kepuasan kerja berhubungan dengan kesesuaian antara harapan seseorang dengan imbalan yang disediakan. Kepuasan kerja guru berdampak pada prestasi kerja, disiplin dan kualitas kerja guru. Guru yang merasa puas dengan pekerjaannya akan memacu untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik – baiknya.

Sebaliknya kemangkiran, hasil kerja yang buruk, mengajar kurang bergairah, prestasi yang rendah merupakan akibat dari ketidakpuasan guru atas perlakuan organisasi terhadap dirinya.

Kepuasan kerja guru merupakan sasaran penting dalam manajemen sumber daya manusia, karena secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kinerja. Suatu gejala yang membuat kurang bermutunya kondisi organisasi sekolah adalah rendahnya kepuasan kerja guru. Gejala tersebut yang timbul seperti adanya kemangkiran, kemalasan bekerja, rendahnya kualitas mengajar, rendahnya prestasi kerja, banyaknya keluhan guru, menurunnya tingkat disiplin guru dan gejala negatif lainnya. Kepuasan kerja yang tinggi menandakan bahwa sebuah organisasi sekolah telah dikelola dengan baik dengan manajemen yang efektif. Tingkat kepuasan kerja yang tinggi menunjukkan adanya kesesuaian antara harapan guru dengan imbalan yang disediakan oleh organisasi.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa kepuasan kerja guru penting karena pada akhirnya akan berakibat pada kesungguhan dalam melaksanakan tugas, tidak merasa dipaksakan, ikut bertanggung jawab dalam

(19)

mencapai tujuan sekolah. Dengan demikian kepuasan kerja akan menghasilkan peningkatan kinerja untuk mencapai sekolah yang efektif.

Berdasarkan hasil observasi dan pengalaman di SMA Negeri 1 Barumun Tengah, masih banyak guru yang kepuasan bekerjanya rendah. Tingkat absensi yang tinggi menunjukkan indikasi rendahnya kepuasan kerja guru. Selain itu, ada guru yang sudah mengabdi sekitar sepuluh tahun tidak pernah mendapat promosi jabatan dan hanya menjadi guru biasa. Hal ini menyebabkan guru yang bersangkutan kurang merasa puas dalam pekerjaannya. Ada juga guru yang kurang merasa puas karena sarana dan prasarana pembelajaran yang ada tetapi kurang lengkap, misalnya ruang lab yang kurang memadai, ruang kelas yang tidak sesuai dengan jumlah muridnya. Rendahnya kepuasan kerja guru nampak dari kurangnya keinginan para guru untuk berprestasi, guru bekerja hanya sebatas melaksanakan kewajibannya sebagai guru mengajar di kelas.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru merupakan salah satu komponen penting yang dapat menentukan keberhasilan pendidikan. Rendahnya kualitas pendidikan suatu bangsa mencerminkan rendahnya kinerja guru dan buruknya sistem pengelolaan pendidikan pada suatu bangsa.

Kinerja menurut Wirawan (2009) adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu. Kinerja guru adalah perilaku nyata guru yang dapat diamati dalam tugasnya sebagai guru bidang studi. Perilaku guru bidang studi sebagaimana

(20)

dimaksud berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengelolaan pengajaran dan pengembangan profesi meliputi kegiatan-kegiatan: (1) mampu menyusun program atau praktek, (2) mampu menyajikan program pengajaran, (3) mampu melaksanakan evaluasi belajar, (4) mampu melaksanakan analisis hasil evaluasi belajar atau praktek, (5) mampu menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan, (6) mampu membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang pendidikan, (7) mampu mengembangkan kurikulum.

Guru yang memiliki tingkat kinerja yang baik akan memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Kualitas mengajar yang tinggi ini menurut Sahertian (1990) ditunjukkan dengan lima variabel yakni: (1) bekerja dengan siswa secara individual, (2) persiapan dan perencanaan mengajar, (3) pendayagunaan alat pelajaran, (4) menilai siswa dalam berbagai pengalaman belajar, (5) kepemimpinan aktif dari guru.

Guru juga memiliki tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah.

Begitu besarnya peran dan tanggung jawab guru, maka dalam melaksanakan tugasnya seorang guru diharapkan memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta kinerja yang berkualitas.

Dalam pandangan Barnawi dan Arifin (2012) kinerja yang berkualitas menggambarkan kualitas profesionalnya, dan sebaliknya kinerja yang dibawah standar kerja menggambarkan ketidakberhasilannya menghormati profesinya sendiri.

Ada beberapa cara untuk dapat meningkatkan kinerja guru dengan maksud dapat terlaksananya tujuan pendidikan nasional secara maksimal. Salah satunya adalah pelaksanaan sertifikasi guru yang bertujuan untuk menjadikan guru lebih

(21)

profesional atau dengan kata lain agar guru dapat lebih meningkatkan kompetensinya dibidang masing – masing. Namun pada kenyataannya terdapat berbagai permasalahan dilapangan yang masih ditemukan dan menjadi alasan rendahnya kualitas kinerja guru.

Kenyataan menunjukkan bahwa kinerja guru belum memenuhi harapan sebagaimana di amanatkan dalam peraturan perundangan-undangan sebagai akibat belum berkualitasnya proses pembelajaran guru. Upaya pemerintah untuk mewujudkan kinerja guru yang berkualitas dan profesional sesungguhnya sudah dilaksanakan melalui kebijakan sertifikasi guru. Namun kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah sejak tahun 2007 itu belum sepenuhnya dapat meningkatkan kompetensi, profesionalisme dan kinerja guru.

Kondisi nyata menunjukkan masih banyak guru yang tidak sesuai dengan harapan. Fasli Jalal menyatakan bahwa hampir separuh dari 2,6 juta guru yang ada di tanah air ini dianggap belum layak mengajar. Kualifikasi kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah. Adapun guru yang tidak layak mengajar sekitar 912.505 yang terdiri atas 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA dan 63.961 guru SMK. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan adanya temuan di lapangan adanya guru mengajar bukan pada bidangnya, sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai, dan praktek guru mengajar dikelas yang mengandalkan metode ceramah melulu (Triatna, 2009).

Berdasarkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Brotosedjati (2012) terhadap 1.540 guru yang telah lulus sertifikasi guru dalam jabatan dari 20 jenis sekolah TK/RA sampai SMA/SMK negeri maupun swasta di Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sertifikasi tidak banyak mengubah kinerja

(22)

seorang guru, khususnya yang baru terima SK, belum turun tunjangannya dan yang memasuki masa pensiun, (2) sertifikasi telah dapat meningkatkan kesejahteraan, martabat guru, kedisiplinan dan kompetensi pedagogis.

Penelitian sejenis yang dilakukan oleh Khodijah (2010) terhadap guru- guru di Sumatera Selatan memperkuat temuan di atas. Hasilnya bahwa kinerja guru pasca sertifikasi, baik secara keseluruhan, maupun dilihat dari aspek perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian pembelajaran, dan pengembangan profesi, semuanya menunjukkan kinerja yang masih di bawah standar. Hasil penelitian oleh Gusti (2012) terhadap Guru SMKN 1 Purworejo pasca sertifikasi juga tidak jauh berbeda, yaitu tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara disiplin kerja guru dengan kinerja guru pasca sertifikasi.

Kebijakan Uji Kompetensi Awal (UKA) guru tahun 2012 yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menunjukkan hasil rendah. Dari jumlah guru yang ikut UKA sebanyak 381.019 orang, dengan passing grade sebesar 30,0 yang lulus sebanyak 248.733 (88,5%) orang dan tidak lulus sebanyak 32.286 (11,5%) orang. Kemudian diperoleh nilai tertinggi sebesar 97,0, nilai terendah 1,0 dan nilai rata-rata 42,25. Kondisi yang sama juga terjadi pada guru tersertifikasi yang telah mengikuti uji kompetensi guru (UKG).

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan rata-rata nilai uji kompetensi guru adalah 44,55 (Akuntono, www.edukasi.kompas.com, diakses 14 Januari 2014).

Kinerja guru yang rendah juga dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar.

Kelayakan mengajar itu berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standard Nasional

(23)

Pendidikan, seorang guru harus memiliki 4 kompetensi agar dapat melaksanakan tugasnya dengan maksimal, yakni : Pertama, kompetensi pedagogik, meliputi: (a) menguasai karakteristik peserta didik, (b) menguasai teori belajar dan prinsip – prinsip pembelajaran yang mendidik, (c) pengembangan kurikulum, (d) kegiatan pembelajaran yang mendidik, (e) mengembangkan potensi peserta didik, (f) komunikasi dengan peserta didik, dan (g) penilaian dan evaluasi. Kedua, kompetensi kepribadian, artinya bahwa menjadi seorang guru memiliki sikap kepribadian yang dapat memiliki panutan dan disenangi oleh peserta didik.

Kompetensi kepribadian meliputi: (a) bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional, (b) menunjukkan kepribadian yang dewasa dan teladan, dan (c) etos kerja, rasa bangga yang tinggi, rasa bangga menjadi guru. Ketiga, kompetensi sosial, merupakan kemampuan seorang guru yang sama seperti manusia lainnya yaitu sama – sama makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Hal yang dinilai dari kompetensi sosial yaitu: (a) bersifat inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif dan (b) komunikasi dengan sesama guru, tenanga kependidikan, orang tua, peserta didik dan masyarakat. Dan keempat, kompetensi profesional, merupakan kemampuan seorang guru mengajarkan pengetahuan kepada peserta didik. Adapun kompetensi profesional memiliki aspek nilai berupa: (a) penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, dan (b) mengembangkan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif.

Munculnya UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru-Dosen dan Peraturan Mendiknas nomor 11 tahun 2005 serta SNP (Standart Nasional Pendidikan) merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan profesionalisme dan

(24)

memprofesikan guru. Dengan asumsi bahwa guru sebagai profesi yang profesional dengan segala kompetensi yang harus dimiliki, akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, output, maupun outcome. Hal ini akan menjadi kenyataan apabila kita menjalankan amanah dalam perundangan tersebut yang mengatakan bahwa ”Pendidik dan Tenaga Kependidikan harus memiliki

kualifikasi akademik dan kompetensi (pedagogik, kepribadian, profesional, sosial) sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memilik kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Paulina, 2006).

Pengertian kompetensi menurut Undang-Undang Guru dan Dosen (2005) adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasahi oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Sedangkan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Guru yang profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsinya akan berupaya mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik sesuai amanat Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 dalam Bab II Pasal 2 yang menegaskan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak, sehat, beriman, cakap,

(25)

kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pada suatu bangsa, dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas guru berada pada baris terdepan, Karena guru langsung berhadapan dengan peserta didik dalam penyampaian proses pembelajaran. Menurut Sardiman (2005) guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dalam bidang pembangunan. Oleh karena itu guru merupakan salah satu unsur dalam bidang pendidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.

Guru yang berkualitas menguasai substansi bidang akademik dan pengelolaan pembelajaran serta mengembangkan potensinya. Peran guru yang strategis dalam pembelajaran membawa konsekuensi dalam melakasanakan tugasnya secara profesional. Menurut Ditjen Dikdasmen (2003), guru yang profesional, mempunyai kompetensi tinggi terhadap (1) kompetensi pengelolaan pembelajaran (2) kompetensi penguasaan akademik (3) dan kompetensi pengembangan potensi. Guru adalah pekerjaan profesi. Sebagai pekerjaan profesi harus tahu benar tugas-tugas profesinya.

Kompetensi profesional para pendidik, khususnya bagi guru bidang studi juga sangatlah diperlukan. Hal ini disebabkan bahwa semenjak awal tenaga profesional telah dididik untuk menjalankan tugas-tugas yang kompleks secara independen dan memecahkan permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan tugas-tugas dengan menggunakan keahlian dan dedikasinya secara profesional.

(26)

Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai profesi (Depdiknas, 2006). Kompetensi guru dapat meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial yang dijabarkan dalam indikator masing – masing.

Fenomena yang ditemukan pada tingkat satuan pendidikan berdasarkan penilaian kinerja sekolah di kecamatan Barumun Tengah yang belum memenuhi harapan untuk meningktakan kualitas pendidikan dari sisi kepala sekolah adalah pengangkatan kepala sekolah tanpa melalui proses seleksi dan diklat calon kepala sekolah, penguasaan kepala sekolah terhadap tugas dan tanggung jawab, pemberdayaan terhadap guru dan tenaga kependidikan, dukungan pengembangan terhadap peningkatan professional guru masih rendah, pelaksanaan supervisi kepala sekolah tidak teratur, dan penilaian kinerja guru tidak jelas. Selain itu dari sisi kompetensi guru, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) belum sepenuhnya dipahami, kemampuan penyusunan silabus dan RPP (Rancangan Pelaksanaa Pembelajaran) masih perlu peningkatan, kehadiran guru terutama pada jam pertama, kehadiran guru dalam kegiatan upacara, penerapan model atau metode pembelajaran, variasi mengajar, perangkat penilaian, menganalisis hasil evaluasi, pelaksanaan remedial atau pengayaan.

Dalam rangka meningkatkan kinerja guru maka faktor yang perlu diperhatikan adalah kepuasan kerja. Adanya perhatian terhadap kepuasan kerja guru akan mendukung pelaksanaan tugas dengan penuh tanggung jawab. Untuk itu, kepala sekolah berkewajiban membimbing dan membina guru sesuai dengan

(27)

tugas dan tanggungjawabnya. Pembinaan dan pembimbingan guru dapat dilakukan melalui supervisi kepala sekolah. Hal ini jelas tertuang dalam salah satu standar kompetensi kepala sekolah yaitu kompetensi supervisi. Dalam menjalankan tugas kepala sekolah sebagai supervisor harus bertindak atas dasar kaidah – kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Supervisor membina peningkatan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik dalam lingkungan fisik maupun non fisik.

Menurut Permendiknas No. 13 tahun 2007, tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah yang harus dimiliki ada 5 kompetensi yaitu: (1) kompetensi kepribadian; (2) kompetensi manajerial; (3) kompetensi kewirausahaan; (4) kompetensi supervisi dan (5) kompetensi sosial. Kompetensi supervisi menurut Permendiknas No. 13 Tahun 2007 adalah: (1) merencanakan program supervisi dalam rangka peningkatan profesionalisme guru; (2) melaksanakan supervisi terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat dan (3) menindaklanjuti hasil supervisi terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

Supervisi merupakan bantuan yang diberikan oleh kepala sekolah terhadap permasalahan guru khususnya dalam hal akademik atau pengajaran. Supervisi kepala sekolah merupakan salah satu tugas kepala sekolah dalam membina guru melalui fungsi pengawasan. Pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah pada intinya adalah melaksanakan pembinaan terhadap guru dengan memberikan bimbingan dan advis bukan mencari kesalahan guru. Bimbingan yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk memecahkan masalah pendidikan yang dihadapi oleh guru secara bersama – sama.

(28)

Supervisi kunjungan kelas adalah bantuan yang diberikan oleh supervisor dalam hal ini kepala sekolah kepada guru untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik (Sahertian, 2008). Bantuan yang diberikan kepada guru untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran antara lain, masalah siswa, pemilihan berbagai strategi pembelajaran, analisis kurikulum, pemilihan sumber belajar, penggunaan media belajar, pemilihan bahan ajar, ataupun sumber belajar lainnya.

Kompetensi profesionalisme, supervisi kepala sekolah, kepuasan kerja dan kinerja merupakan masalah penting yang sifatnya berubah dari waktu ke waktu sehingga perlu mendapat perhatian yang serius demi pengembangan sekolah dan karir guru yang akhirnya juga berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan. Dari sinilah dapat dikatakan bahwa kompetensi yang dimiliki guru dapat berpengaruh terhadap pekerjaan yang dilakukan, sehingga dapat berpengaruh terhadap kepuasan kerja bagi para guru. Jika kompetensi yang dimiliki kurang mendukung akan mengakibatkan kurang nyamannya para guru dalam bekerja yang berakibat menurunnya gairah kerja sehingga mengakibatkan menurunnya kinerja. Setiap guru akan berbeda persepsinya terhadap kompetensi profesionalisme dan persepsinya terhadap supervisi kepala sekolah begitu pula akan berbeda tingkat kepuasan kerja dan kinerjanya.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap beberapa kepala sekolah dan guru SMA negeri di kecamatan Barumun Tengah menemukan bahwa kepala sekolah telah melakukan 10% supervisi kunjungan kelas secara terprogram. Namun belum dapat secara maksimal memperbaiki perilaku mengajar guru sesuai standar yang ditetapkan sehingga berdampak pada pencapaian hasil

(29)

belajar siswa yang tidak optimal. Supervisi dilakukan hanya 1 tahun sekali, dan pada saat melakukan supervisi kepala sekolah tidak menggunakan alat seperti angket.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru SMA Negeri 1 Barumun Tengah kinerja guru relatif rendah. Masih ada guru yang terlambat sekitar 2 dan 3 orang, begitu juga yang absen setiap hari masih ada paling sedikit 1 orang.

Menurut data dari pembantu kepala sekolah bidang kurikulum, hanya 51% guru yang mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan baik, 15% guru melakukan inovasi untuk pengembangan bahan ajar, 80% guru mengajar dengan cara yang masih monoton, dan sekitar 40% kemauan guru untuk mengembangkan potensi dan kualitas diri, sehingga masih minimnya prestasi siswa maupun kinerja guru.

Kinerja guru dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya. Kinerja guru dapat ditingkatkan dengan mengadakan supervisi oleh kepala sekolah, mengadakan kelompok musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir, meningkatkan kompetensi pedagogik terutama dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) karena masih ada guru yang belum mampu menyusun RPP sendiri, kompetensi kepribadian dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan senantiasa menjaga kewibawaan dihadapan siswa, kompetensi sosial dengan membina hubungan baik dengan sesama rekan kerja maupun pimpinan karena di lingkungan sekolah masih sering terjadi konflik antar guru, dan kompetensi profesionalisme dengan lebih menguasai pengetuhuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/ atau seni dan budaya yang diampunya

(30)

karena masih ada guru yang belum menguasai teknologi yang mendukung proses pembelajaran. Peran kepala sekolah yang baik dapat memberikan kepuasan kerja bagi guru.

Berbagai masalah mutu pendidikan dilihat dari upaya peningkatan supervisi kepala sekolah agar meningkatkan kinerja guru. Rendahnya kualitas kinerja guru dimungkinkan oleh beberapa variabel seperti kompetensi guru, supervisi kepala sekolah dan tingkat kepuasan yang masih rendah. Maka dari itu untuk meningkatkan kinerja seorang guru haruslah terlebih dahulu ditingkatkan kompetensi guru terutama kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesioanal, pelaksanaan supervisi dan tingkat kepuasan guru.

Kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah juga perlu mendapatkan perhatian serius. Untuk itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, profesional, dan supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan dan kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah di Kecamatan Barumun Tengah Kabupaten Padang Lawas.

1.2. Identifikasi Masalah

Kinerja guru dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar. Kelayakan mengajar berhubungan dengan tingkat pendidikan guru. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standard Nasional Pendidikan, seorang guru harus memiliki 4 kompetensi agar dapat melaksanakan tugasnya dengan maksimal, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesionalisme.

Ada beberapa cara untuk dapat meningkatkan kinerja guru dengan maksud dapat terlaksananya tujuan pendidikan nasional secara maksimal. Salah satunya

(31)

adalah pelaksanaan sertifikasi guru yang bertujuan untuk menjadikan guru lebih profesional meningkatkan kompetensinya dibidang masing-masing. Kinerja guru juga dapat ditingkatkan dengan mengadakan supervisi oleh kepala sekolah, mengadakan kelompok musyawarah guru mata pelajaran, dan memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir. Namun pada kenyataannya terdapat berbagai permasalahan dilapangan yang masih ditemukan dan menjadi alasan rendahnya kualitas kinerja guru.

1.3. Perumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

2. Bagaimana pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

3. Bagaimana pengaruh kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

4. Bagaimana pengaruh kompetensi profesionalisme terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

5. Bagaimana pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

6. Bagaimana pengaruh kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah ?

7. Bagaimana pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

(32)

8. Bagaimana pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

9. Bagaimana pengaruh kompetensi sosial terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

10. Bagaimana pengaruh kompetensi profesionalisme terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

11. Bagaimana pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah?

1.4. Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

2. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

3. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

4. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi profesional terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

5. Untuk menganalisis pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

6. Untuk menganalisis pengaruh kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

7. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

(33)

8. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi kepribadian terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

9. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi sosial terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

10. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi profesionalisme terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

11. Untuk menganalisis pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Barumun Tengah.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Bagi para pengambil kebijakan di bidang pendidikan dan yang terkait, penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan pijakan bagi pemilihan strategi untuk meningkatkan kinerja guru di jenjang pendidikan SMA

2. Bagi kepala sekolah, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dalam mengambil kebijakan terkait dengan upaya – upaya untuk meningktakan kinerja guru dan mutu pendidikan.

3. Bagi guru, penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan referensi untuk selalu meningkatkan kinerjanya dalam melaksanakan tugas – tugas disekolah.

4. Bagi peneliti, penelitian ini berguna sebagai bahan banding dalam melakukan penelitian lanjutan dibidang kajian sejenis.

(34)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori 2.1.1. Kinerja Guru

Kinerja merupakan sebuah hasil kerja atau prestasi kerja. Tetapi, menurut Wibowo (2007) sebenarnya kinerja mempunyai makna yang lebih luas, bukan hanya hasil kerja, tetapi termasuk bagaimana proses pekerjaan berlangsung.

Beberapa pengertian kinerja oleh sejumlah ahli diantaranya dikemukakan oleh Rivai (2005) antara lain; (1) kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan suatu pekerjaan yang diminta; (2) kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada diri pekerja; dan (3) kinerja merupakan suatu fungsi motivasi dan kemampuan menyelesaikan tugas atau pekerjaan, seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Selain itu, menurut Amstrong dan Brown dalam Wibowo (2007), bahwa kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi.

Sagala (1995) mengemukakan bahwa performansi berasal dari bahasa inggris performance yang berarti unjuk kerja atau kinerja, namun terminologi ini telah di Indonesiakan menjadi performansi. Performansi menunjukkan efektivitas dan efisiensi dalam melaksanakan tugas. Dimana semakin baik performansi seseorang maka semakin baik efektivitas dan efisiensi seseorang dalam kinerjanya. Menurut Harris dkk sebagaimana dikutip Sagala (1995) mengatakan

(35)

relevan dengan tugas yang realistis dan gambaran prilaku difokuskan pada konteks pekerjaan yaitu prilaku diwujudkan untuk memperjelas deskripsi kerja menentukan kinerja yang akan memenuhi kebutuhan organisasi yang diinginkan.

Menurut Harsey dan Blanchard dalam Rivai (2005), bahwa kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan, seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemehaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.

Menurut Robbin dan Rivai (2005), juga berpendapat bahwa kinerja merupakan fungsi interaksi antara kemampuan atau ability (A), motivasi atau motivation (M) dan kesempatan atau opportunity (O), yaitu kinerja = f(A x M x O). Artinya kinerja merupakan fungsi dari kemampuan, motivasi, dan kesempatan. Dengan demikian kinerja ditentukan oleh faktor kemampuan, motivasi dan kesempatan.

Penulis memberi kesimpulan berdasarkan pendapat kedua ahli bahwa kinerja merupakan hasil karya yang dicapai oleh suatu institusi atau organisasi.

Tolak ukur keberhasilan suatu institusi mencakup seluruh kegiatan setelah melalui uji tuntas terhadap tujuan usaha yang telah ditetapkan, dilaksanakan dan melalui proses pengawasan. Dari pengertian tersebut tercakup beberapa unsur penting yang ada dalam suatu kinerja. Pertama, adanya institusi, baik berupa lembaga seperti organisasi atau pranata seperti sistem pengaturan. Kedua, adanya tujuan yang telah ditetapkan dan diusahakan pencapaiannya. Ketiga, adanya instrument yang digunakan dalam pelaksanaan uji tuntas.

(36)

Penilaian kinerja berkaitan erat dengan efisiensi dan efektivitas.

Keberhasilan suatu kinerja adalah kemampuan mengelola sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan serta dapat mempertahankan pencapaian pada tingkat operasi yang efektif dan efisien. Kinerja manajerial berhasil manakala mampu menekan penggunaan sumber daya seminimal mungkin,untuk mencapai tujuan dengan semaksimal mungkin. Efektivitas adalah kemampuan menentukan pilihan (options) dengan tepat. Seorang manajer disebut efektif manakala mampu menentukan pilihan pekerjaan yang tepat untuk dilaksanakan. Proses yang akan dilalui dalam penilaian kinerja adalah prosedur kerja dan langkah-langkah kerja sejak proses pemahaman terhadap kinerja dimulai dari menyusun instrument dan menguji cobakan, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menyusun laporan.

Kemampuan seorang guru manyampaikan pelajaran dengan baik akan sangat mempengaruhi tingkat keinginan belajar anak di kelas. Keinginan seorang anak untuk menerima pelajaran dari seorang guru dapat menjadi salah satu faktor penentu berhasilanya proses pembelajaran di kelas. Seorang guru harus memiliki kemampuan profesional yang mampu menguasai semua materi, konsep, dan landasan pendidikan sehingga dapat memberikan suatu pelajaran yang baik yang menghasilkan hasil belajar yang tinggi. Seperti yang ditegaskan oleh Depdiknas (2004) bahwa kinerja guru adalah kemampuan guru untuk mendemonstrasikan berbagai kecakapan yang dimilikinya. Dari pernyataan ini jelas bahwa kinerja guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru.

Guru sebagai pemimpin belajar harus dapat menggerakkan dan mendorong peserta didik agar semangat dalam belajar sehingga peserta didik benar – benar

(37)

dapat menguasai bidang ilmu yang diajarkan. Bukan hanya sekedar turut mengikuti pelajaran, melainkan ikut mengetahui keilmuan yang dibangun dalam mata pelajaran tersebut. Karena itu guru bidang studi harus membantu peserta didik agar dapat memperoleh pembinaan yang sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Disamping itu seorang guru harus memiliki kepribadian dan nilai sosial yang baik agar menumbuhkan kepercayaan dari masyarakat bahwa guru sebagai motivator dapat mendorong dan membina peserta didik menjadi generasi bangsa yang bermoral dan berakhlak.

Menurut Sahertian dalam Kunandar (2007) ada sepuluh kompetensi dasar yang harus dimiliki sebagai seorang guru yakni; (1) kemampuan menguasai bahan ajar yang akan disampaikan; (2) kemampuan mengelola program belajar mengajar; (3) kemampuan mengelola kelas; (4) kemampuan menggunakan media/sumber; (5) kemampuan menguasai landasan – landasan pendidikan; (6) kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar; (7) kemampuan menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran; (8) kemampuan mengenal fungsi program pelayanan bimbingan dan penyuluhan; (9) kemampuan mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan; dan (10) kemampuan memahami prinsip – prinsip penelitian guna kepentingan mengajar. Sepuluh kompetensi dasar tersebut merupakan kemampuan utama yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Kinerja guru dapat dilihat dari keberhasilan penerapan seluruh kompetensi guru pada saat melaksanakan pembelajaran disekolah. Namun apabila kompetensi sebagai seorang guru belum berjalan dengan baik maka kinerja guru dapat dikatakan belum berjalan dengan baik pula.

(38)

Colquitt, et al (2009) mengemukakan kinerja dihasilkan dari keadaan individu seperti kepuasan kerja, stress, motivasi, kepercayaan, keadilan dan etnik, belajar dan pengambilan keputusan. Keadaan individu merupakan hasil dari mekanisme organisasi, mekanisme grup, dan karakteristik individu. Gambar 2.1 menunjukkan hubungan mekanisme organisasi, mekanisme kelompok, karakteristik individu, mekanisme individu, dan kinerja kerja.

Gambar 2.1.

Hubungan Mekanisme Organisasi, Mekanisme Kelompok, Karakteristik Individu, Mekanisme Individu, dan Kinerja Kerja

Menurut Pidarta (1995) mengemukakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya, yaitu; (1)

ORGANIZATIONAL MECHANISMS

GROUP MECHANISMS

INDIVIDUAL CHARACTERISTICS

INDIVIDUAL MECHANISMS

INDIVIDUAL OUTCOMES

Colquitt, LePine, Wesson (2009)

Personality &

Cultural Values

Ability Organizational

Culture

Organizational Structure

Job Satisfaction

Stress

Motivation

Trust, Justice,

& Ethics

Learning &

Decision Making

Job Performance

Organizational Commitment Leadership

Styles &

Behaviors

Leadership Power &

Influence

Teams Processes

Teams Characteristics

(39)

kepercayaan personalia sekolah. Kepala sekolah dan pengawas juga berperan penting dalam menciptakan guru yang memiliki kompetensi.

Kinerja seorang guru dapat dipengaruhi oleh supervisi dan budaya organisasi. Supervisi merupakan suatu proses pembimbingan dari pihak atasan kepada guru – guru untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, agar para siswa dapat belajar secara efektif dengan prestasi yang semakain meningkat. Budaya yang baik akan menghasilkan manusia yang baik pula. Seperti yang dikemukakan oleh Sutrisno (2010) bahwa budaya yang kuat dan positif sangat berpengaruh terhadap prilaku dan efektifitas kinerja perusahaan. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang guru untuk mengetahui dan memahami budaya yang ada disekitar lingkungan kerja untuk menunjang kualitas kerja seorang guru.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa kinerja guru merupakan kemampuan melaksanakan kompetensi guru mulai dari kompetensi dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran serta melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Adapun indikator kinerja guru adalah perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian hasil belajar siswa.

2.1.2. Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja menurut Mathis and Jackson (2001) adalah keadaan emosi yang positif dari mengevaluasi pengalaman kerja seseorang. Ketidakpuasan kerja muncul saat harapan – harapan ini tidak terpenuhi. Sebagai contoh, jika seorang tenaga kerja mengharapkan kondisi kerja yang aman dan bersih, maka tenaga kerja mungkin bisa menjadi tidak puas jika tempat kerja tidak aman dan kotor.

(40)

as an overall attitude, or it can apply to the various parts of an individual’s job.

Kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan pegawai tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka. Ada perbedaan yang penting antara perasaan ini dengan unsur lainnya dari sikap pegawai. Kepuasan kerja adalah perasaan senang atau tidak senang yang relatif berbeda dari pemikiran obyektif dan keinginan perilaku.

Hasibuan (2007) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, kombinasi dalam dan luar pekerjaan.

Rivai (2003) menyatakan kepuasan kerja adalah penilaian dari pekerja tentang seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya.

Kepuasan kerja juga adalah sikap umum yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap faktor – faktor pekerjaan, penyesuaian diri dan hubungan sosial individu di luar kerja.

Kepuasan kerja adalah suatu sikap positif dan negative yang dipunyai individu terhadap berbagai segi pekerjaan, tempat kerja dan hubungan dengan teman sekerja. Hal ini diakibatkan dari faktor intrinsik, ekstrinsik dan persepsi mereka terhadap pekerjaan. Individu yang mempunyai kepuasan kerja tinggi mempunyai sikap yang positif terhadap pekerjaan, sebaliknya individu yang mempunyai kepuasan kerja rendah mempunyai sikap yang negatif terhadap pekerjaan.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebt dapat disimpulakn bahwa kepuasan kerja guru adalah refleksi perasaan seseorang yang menyenangkan

(41)

tentang pekerjaannya berdasarkan atas harapan guru dengan imbalan yang diberikan oleh organisasi/sekolah tempat kerja. Kepuasan kerja guru ditunjukkan oleh sikap guru dalam mengajar. Jika guru merasa puas akan keadaan yang mempengaruhinya maka ia akan mengajar dengan baik, sebaliknya jika guru tidak merasa puas atau kecewa akan keadaan yang mempengaruhinya maka ia akan mengajar dengan sesuka hatinya.

Rivai (2007) menyatakan indikator kepuasan kerja yaitu: (1) isi pekerjaan;

(2) supervisi; (3) organisasi dan manajemen; (4) kesempatan untuk maju; (5) gaji dan keuntungan dalam bidang finansial lainnya seperti adanya insentif; (6) rekan kerja dan (7) kondisi kerja. Sedangkan Komariah dan Triatna (2008), menyatakan ada lima indikator kepuasan kerja guru: (1) sumber daya pendidikan; (2) proses belajar mengajar; (3) prestasi sekolah; (4) penghasilan dan penghargaan dan (5) kebebasan melakukan aktivitas.

Berdasarkan ruang lingkup kerja guru dengan tugas utama sebagai pengajar maka kepuasan kerja guru dapat ditentukan oleh indikator – indikator nya sebagai berikut: (1) upah/gaji yang pantas; (2) kondisi kerja yang mendukung;

(3) hubungan dengan atasan; (4) hubungan dengan rekan sekerja dan (5) hasil pekerjaan.

Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kepuasan kerja yang biasa terjadi pada dunia kerja/industri, yaitu: (1) usia. Ketika para karyawan makin bertambah lanjut usianya, mereka cendrung sedikit lebih puas dengan pekerjaannya. Karyawan yang lebih muda cenderung kurang puas karena berpengharapan tinggi, kurang penyesuaian dan berbagai sebab lain; (2) tingkat pekerjaan. Orang – orang dengan pekerjaan pada tingkat lebih tinggi cenderung

(42)

merasa lebih puas dengan pekerjaan mereka. Mereka biasanya memperoleh gaji dan kondisi kerja lebih baik dan pekerjaan yang dilakukan memberi peluang untuk merasa lebih puas; (3) ukuran organisasi. Pada saat organisasi semakin besar, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa kepuasan kerja cenderung agak menurun apabila tidak diambil tindakan perbaikan untuk mengimbangi kecenderungan itu (Davis dan Newstrom, 2000).

Hasibuan (2007) menyebutkan bahwa kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh faktor – faktor sebagai berikut: (1) balas jasa yang adil dan layak; (2) penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian; (3) berat – ringannya pekerjaan; (4) suasana dan lingkungan pekerjaan; (5) peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan; (6) sikap pimpinan dalam kepeminpinannya; (7) sifat pekerjaan monoton atau tidak. Sedangkan, Rivai (2007) menyatakan faktor – faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja seseorang adalah; (1) kedudukan;

(2) pangkat dan jabatan; (3) masalah umur; (4) jaminan finansial dan jaminan sosial; (5) mutu pengawasan, kedudukan, pangkat dan jabatan.

Usman (2008), menyatakan dampak langsung dari kepuasan kerja terhadap kinerja meliputi: (1) produktivitas pekerja tinggi; (2) kemangkiran pekerjanya tidak ada; (3) pelanggan menjadi puas dan meningkatnya jumlah produksi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hasibuan (2007) bahwa kepuasan kerja mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan. Artinya jika kepuasan diperoleh dari pekerjaan maka kedisiplinan karyawan baik. Sebaliknya, jika kepuasan kerja kurang tercapai dari pekerjaannya maka kedisiplinan karyawan rendah.

Menurut Robin dan Coulter (2007), bahwa efek kepuasan kerja terhadap prilaku karyawan, yaitu pada produktivitas, tingkat absensi dan pergantian

(43)

karyawan. Studi Hawthone, manajer menyimpulkan bahwa jika karyawan mereka puas dengan pekerjaan mereka, kepuasan mereka akan diubah menjadi kerja keras. Hasil studi ini mengisyaratkan bahwa jika makin tinggi kepuasan kerja makan semakin tinggi efektifitas organisasi. Demikian pula dengan tingkat absensi, karyawan yang mempunyai tingkat kepuasan kerja yang tinggi maka tingkat absensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan karyawan yang tidak puas kerjanya. Begitu juga dengan tingkat pergantian karyawan. Karyawan yang puas kerjanya memiliki tingkat pergantian yang rendah dibandingkan karyawan yang tidak puas.

2.1.3. Kompetensi Guru

Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. McAshan (dalam Mulyasa, 2003) mengemukakan bahwa kompetensi adalah pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Senada dengan hal tersebut lebih lanjut Finch dan Crunkilton (dalam Mulyasa 2003) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, ketrampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas, ketrampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Kompetensi, yaitu seperangkat pengetahuan , ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

(44)

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru menyatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kompetensi guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Jenis kompetensi guru, yaitu : (a) Kompetensi pedagogik, (b) Kompetensi kepribadian, (c) Kompetensi sosial, dan (d) Kompetansi profesional.

2.1.4. Kompetensi Pedagogik

Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Depdiknas (2004) menyebut kompetensi ini dengan

“kompetensi Pengelolaan Pembelajaran”. Kompetensi ini dapat dilihat dari

kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian. Implikasi dari kemampuan ini tentunya dapat terlihat dari kemampuan guru dalam menguasai prinsip-prinsip belajar, mulai dari teori belajarnya hingga penguasaan bahan ajar. Meskipun setiap siswa memiliki sifat, karakter, dan kesenangannya masing-masing, namun dengan menguasai kemampuan pedagogik ini guru akan mampu menyampaikan materi ajar dengan baik kepada siswa yang heterogen tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan probiotik mampu meningkatkan kelulushidupan dan menurunkan rasio konversi pakan pada budidaya lele... mampu menambah produksi ±

109 | Jejak Seribu Pena, Langkah Cerdas Menuju Olimpiade Matematika SD KUNCI JAWABAN.. UJI

Pajak daerah adalah pungutan wajib atas orang pribadi atau badan yang dilakukan oleh pemerintah daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara peserta didik berkecemasan rendah, sedang dan

(4) Sie hat mir gesagt, dass sie den Roman schon gelesen hat (habe/ hätte). Der Konjunktiv I kann in der indirekten Rede auch durch redeeinleitende Verben ersetzt werden. Zu

Untuk mutu rasa, warna, tekstur, dan aroma pada chiffon cake secara umum adalah sebagai berikut: Rasa, chiffon cake memiliki rasa manis yang ditimbulkan oleh gula, susu;

Toisaalta Suomen arvopaperimarkkinat ovat myös voimakkaasti riippuvaisia kansainvälisten mark- kinoiden kehityksestä. Globaali integraatio on yleensäkin tehokkaasti toimivien

1) Menentukan KKM dengan memperhatikan standar kompetensi lulusan, karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, serta guru dan kondisi satuan pendidikan melalui