4.1 Sejarah Kawasan TNK
Kawasan TNK pada awalnya berstatus sebagai Hutan Persediaan dengan luas 2 000 000 ha berdasarkan Surat Keputusan (SK) Pemerintah Belanda (GB) Nomor: 3843/AZ/1934, yang kemudian oleh Pemerintah Kerajaan Kutai ditetapkan menjadi Suaka Margasatwa Kutai melalui SK (ZB) Nomor: 80/22- ZB/1936 dengan luas 306 000 ha (TNK 2005).
Sejak keberadaannya, TNK tidak pernah lepas dari konflik kepentingan.
Berdasarkan data yang ada, dalam kurun waktu 63 tahun terakhir terhitung sejak tahun 1934 sampai tahun 1997 kawasan ini terus mengalami pengurangan luas secara drastis seperti tersaji dalam Tabel 4.
Tabel 4 Sejarah status kawasan Taman Nasional Kutai.
Institusi Keputusan Status Luas
(ha) Keterangan Pemerintah
Hindia Belanda
SK (GB) No.
3843/Z/1934
Hutan Persediaan
2 000 000
Pemerintah Kerajaan Kutai
SK (ZB) No.
80/22-B/1936
Suaka Margasatwa
306 000 Ditetapkan menjadi Suaka Margasatwa
Menteri Pertanian
SK No. 110/UN/
1957, tanggal 14 Juni 1957
Suaka Margasatwa Kutai
306 000
Menteri Pertanian
SK No. 30/Kpts/
Um/6/1971, tanggal 23 Juli 1971
Suaka Margasatwa Kutai
200 000 Dilepas 106 000 ha, 60 000 ha yang masih asli untuk HPH PT kayu Mas dan sisanya untuk perluasan Industri pupuk dan gas alam. 100 000 ha yang dikelola oleh HPH pada tahun 1969 kemudian dikembalikan ke SMK Menteri
Pertanian
SK No. 736/
Mentan/X/ 1982
Taman Nasional Kutai
200 000 Dideklarasikan pada Kongres Taman Nasional III Sedunia di Bali sebagai satu dari 11 calon TN Menteri
Kehutanan
SK No.
435/Kpts-XX/
1991
Taman Nasional Kutai
198 629 Luasnya dikurangi 1 371 ha untuk perluasan Bontang dan PT Pupuk Kaltim
Menteri kehutanan
SK Menhut No. 325/Kpts- II/1995
Taman Nasional Kutai
198 629 Perubahan fungsi dan penunjukan SMK menjadi Taman Nasional Kutai Menteri
Kehutanan
Surat No. 997/
Menhut-VII/
1997
Taman Nasional Kutai
198 629 Izin prinsip pelepasan kawasan TNK seluas 25 ha untuk keperluan pengembangan fasilitas pemerintah daerah Bontang
Sumber: TNK (2005)
4.2 Letak Geografis dan Topografi TNK
TNK membentang di sepanjang garis khatulistiwa mulai dari pantai Selat Makassar sebagai batas bagian timur menuju arah daratan sepanjang kurang dari 65 km. Kawasan ini juga dibatasi Sungai Sangatta di sebelah utara, sebelah selatan dibatasi Hutan Lindung Bontang dan HPH PT Surya Hutani Jaya, dan sebelah barat dibatasi ex HTI PT Kiani Lestari dan HPH PT Surya Hutani Jaya.
Tabel 5 Deskripsi penutupan lahan TNK.
Kategori
Penutupan lahan Luas (ha) Persentase
Kawasan Keterangan
Hutan primer 59 202.14 29.81
Terdapat di bagian tengah kawasan dan menyebar ke arah barat sampai utara
Hutan sekunder 85 931.03 43.27
Terdapat di bagian barat kawasan yang berbatasan dengan wilayah konsesi HPH
Belukar 28 952.26 14.58 Akibat aktivitas pembalakan, pemukiman, dan kegiatan pertanian lahan kering oleh masyarakat dan bencana kebakaran
Semak 2 452.68 1.23
Alang-alang 705.47 0.36
Rawa 4 712 2.37
Belukar rawa 1 802.88 0.91
Mangrove 5 131.55 2.48
Formasi yang masih utuh terdapat di Desa Teluk Pandan hingga Teluk Kaba. Sedangkan di pesisir Desa Singa Geweh sangat rentan terhadap degradasi
Konversi mangrove menjadi lahan terbuka
1 205.53 0.61
Terdapat di pesisir bagian selatan (Dusun Kanimbungan) dan bagian tengah (Desa Sangkima)
Tambak 155.81 0.08
Muara S. Sangatta, Muara S.
Sangatta Tua, Teluk Lombok/Teluk Perancis, Muara Sungai Sangkima, Teluk Pandan
Tanah terbuka 329.38 0.17 Pertanian campuran 6 935.36 3.49 Lahan terbangun 577.94 0.29 Tubuh air 73.08 0.04 Tidak ada data 636.01 0.32 Jumlah 198 605.21 100.00 Sumber : TNK (2005)
TNK secara geografis berada di 0°7’54”-0°33’53”LU dan 116°58’48”- 117°35’29”BT, sedangkan secara administrasi pemerintahan, kawasan dengan luas 198 629 ha ini terletak di Kabupaten Kutai Timur (± 80%), Kabupaten Kutai Kartanegara (± 17.48%) dan Kota Bontang (± 2.52%).
Buku data dasar TNK (2005) menyatakan bahwa secara umum TNK memiliki topografi datar yang tersebar hampir di seluruh luasan kawasan (92%) dan topografi bergelombang hingga berbukit-bukit tersebar pada bagian tengah kawasan yang membentang arah utara selatan (8%). Sebagian besar kawasan memiliki kelas ketinggian antara 0 – 100 m dpl (61%) yang tersebar pada bagian timur dan barat kawasan. Tingkat ketinggian bagian tengah kawasan antara 100 – 250 m dpl (39%). Deskripsi penutupan lahan menurut buku data dasar TNK disajikan pada Tabel 5.
Berdasarkan hasil pengolahan Citra Terra Aster tahun 2005, diperoleh informasi yang sedikit berbeda dalam luas penutupan lahan (Tabel 6).
Tabel 6 Deskripsi penutupan lahan hasil interpretasi citra Terra-Aster 2005.
Kategori Penutupan Lahan Luas (ha) % luas
areal kota Bontang 77.854 0.04
areal pertamina 282.836 0.14
areal perusahaan/industri 790.249 0.40
areal terbuka 5 533.383 2.79
Danau 72.248 0.04
genangan air laut 209.129 0.11
hutan primer 28 375.278 14.33
hutan sekunder 40 658.373 20.53
hutan terdegradasi berat 66 274.775 33.46
hutan terdegradasi sedang 40 979.635 20.69
Mangrove 5 277.779 2.66
Nipah 182.086 0.09
padang alang-alang, rumput 3 094.044 1.56
pemukiman, kebun 5 600.646 2.83
Tambak 644.702 0.33
JUMLAH 198 053.017 100.00
Sumber: Pengolahan Data Citra Terra ASTER tahun 2005
Bila dibandingkan antara hasil pengolahan citra oleh peneliti dengan data dari TNK terdapat perbedaan luas tambak yaitu 155.81 ha (data TNK) dan 644.702 ha (olah data citra). Sementara luas mangrove menurut data TNK adalah 5 131 ha dan menurut hasil olah data citra adalah 5 277.799 ha ditambah dengan 182.086 ha nipah. Perbedaan luas tambak mungkin terjadi karena terdapat perbedaan interpretasi pada tambak yang kering dan tidak dimanfaatkan (lahan kritis), oleh TNK hanya dianggap sebagai konversi mangrove sebagai lahan terbuka. Sementara menurut peneliti, pembukaan lahan mangrove yang awalnya digunakan sebagai tambak, walaupun akhirnya menjadi lahan kritis, tetap dihitung sebagai luasan tambak.
Luas lahan tambak yang mencapai 12.22% dari total luas mangrove merupakan ancaman bagi kelestarian habitat mengrove, selain penebangan mangrove menjadi lahan terbuka dan pemanfaatan lain yang mencapai lebih dari 7% dari luas total mangrove.
4.3 Geologi dan Iklim
Berdasarkan peta geologi Kalimantan Timur, formasi geologi kawasan ini sebagian besar meliputi tiga bagian, yaitu:
1) Bagian pantai terdiri dari batuan sedimen alluvial induk dan terumbu karang.
2) Bagian tengah terdiri dari batuan miosen atas.
3) Bagian barat terdiri dari batuan sedimen bawah.
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, TNK beriklim tipe B dengan nilai Q berkisar antara 14.3 % - 33.3 %. Curah hujan rata-rata setahun 1543.6 mm atau rata-rata 128.6 m dengan rata-rata hari hujan setahun 66.4 hari atau rata-rata bulanan 5.5 hari. Suhu rata-rata adalah 26oC (berkisar antara 21-34 derajat Celcius) dengan kelembaban relatif 67% - 69% dan kecepatan angin normal rata-rata 2 – 4 knot/jam (TNK 2005).
Sungai-sungai yang mengalir di dalam dan sekitar TNK antara lain:
Sungai Sangatta, Sungai Sangatta Tua, Sungai Banjar, Sungai Banu Muda, Sungai Sesayap, Sungai Sangkima, Sungai Kandolo, Sungai Selimpus, Sungai Teluk
Pandan, Sungai Palakan, Sungai Menamang Kanan, Sungai Menamang Kiri, Sungai Tawan, Sungai Melawan dan Sungai Santan.
4.4 Sejarah Perambahan dan Pemukiman di TNK
Vayda dan Sahur dalam TNK (2005) mengelompokkan pemukim di TNK berdasarkan 3 wilayah, yaitu (1) Teluk Pandan, disebutkan bahwa pemukim dari Bugis yang berasal dari Bone, Sulawesi Selatan, datang pertama kali pada pertengahan tahun 1960 untuk menghindari kesulitan ekonomi akibat pemberontakan Kahar Muzakar, (2) Selimpus/Kandolo, dihuni pertama kali tahun 1974 dan berkembang tahun 1977 oleh Suku Bugis dan (3) Sangkima, yang dihuni pertama kali tahun 1924 oleh Suku Bugis. Saat itu, Sangkima merupakan hunian peladang berpindah bagi penduduk asli. Keduanya berasimilasi dan semakin banyak pemukim yang berasal dari Selawesi Selatan pada tahun 1954 dan 1960 karena pemberontakan Kahar Muzakar.
Ketiga kampung di TNK tersebut berkembang dan diakui keberadaannya oleh Gubernur Propinsi Kalimantan Timur dengan menetapkannya sebagai desa definitif (Teluk Pandan, Sangkima dan Sangatta Selatan) melalui Keputusan No.
06 Tahun 1997 tanggal 30 April 1997. Dalam perkembangannya, Desa Sangatta Selatan dipecah menjadi dua desa, yaitu Desa Sangatta Selatan dan Singa Geweh dengan adanya Keputusan Gubernur Kalimantan Timur No. 410.44/K.452/1999 (TNK 2005).
4.5 Permasalahan Pengelolaan TNK 4.5.1 Perambahan Hutan
Taman Nasional Kutai awalnya memiliki 80 % dari spesies burung dan sebagian dari seluruh mamalia yang ada di Kalimantan termasuk 11 dari 13 spesies primata Borneo (TNK 2005). Namun Taman Nasional Kutai kini banyak mengalami permasalahan. Hal ini disebabkan adanya pembangunan industri, kegiatan pertambangan, eksploitasi hutan di sekitar dan di dalam TNK serta pembangunan jalan trans Kalimantan khususnya ruas jalan Bontang-Sangatta sepanjang 56 km yang melintasi Taman Nasional Kutai. Dampaknya saat ini menyebabkan gangguan yang meluas terhadap keberadaan TNK.
Menurut pengamatan di lapangan dan data dari BTNK (Balai Taman Nasional Kutai) menunjukkan grafik luas perambahan hutan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan kebutuhan lahan yang cukup tinggi dan ada indikasi spekulan-spekulan tanah yang memanfaatkan ketidakpastian hukum di Taman Nasional Kutai (Pemkab Kutim 2005). Data perambahan hutan selama tiga tahun disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Luas perambahan hutan di TNK sepanjang jalan Bontang-Sangatta (1999- 2001).
Lokasi Luas Areal Perambahan (ha) Okt
1999 Nov 1999
Peb 2000
Mar 2000
Mei 2000
Mei 2001
Des 2001 Pinang/Masabang 3 322 3 322 4 307 4 307 4 307 - -
Sangkima 1 693 1 693 1 693 2 477 2 477 - -
Teluk Pandan 1 433 2 336 2 336 2 336 2 336 - - Kandolo/ Teluk Kaba - 2 999 3 883 5 083 5 088 - -
Temputuk, dsk 1 543 1 543 1 543 2 475 2 485 - -
Di dalam enclave1 23 712 23 712
Di luar areal enclave2 - 255.75
Jumlah 7 991 11 893 13 762 16 678 16 693 23 712 23 968 Sumber: peta perambahan BTNK 2000 (Pemkab Kutim 2001)
1 : Laporan Tim Enclave, Pemkab Kutim 2001
2 : Kegiatan Penyuluhan Tata Batas Enclave, BTNK 2001
Pada Desember 2001 luas lahan yang diduduki masyarakat di luar kawasan enclave sepanjang jalan Bontang - Sangatta adalah 255.75 ha, sedangkan jumlah kepala keluarga (kk) yang mendiaminya adalah 151 (rata-rata luas penguasaan lahan 1.69 ha/kk). Berdasarkan observasi lapangan, diketahui sebagian besar masyarakat mendiami daerah tersebut baru sekitar tahun 1999- 2000.
Lokasi perambahan hutan oleh masyarakat disajikan pada Gambar 25 . Perambahan hutan cenderung terjadi di sepanjang jalan Bontang – Sangatta, yang membelah kawasan TNK, menuju ke arah pesisir pantai. Perambahan ke arah pesisir terjadi karena memang pada awalnya pemukiman penduduk adalah di kawasan pesisir pantai TNK, sehingga menyambung dari arah jalan ke pesisir dan sebaliknya.
Gambar 25 Peta perambahan hutan di Taman Nasional Kutai (TNK 2005).
Data perambahan hutan mangrove di kawasan TNK dari Balai TNK tidak diperoleh, namun berdasarkan hasil observasi peneliti diketahui bahwa perambahan hutan mangrove terjadi karena pembukaan lahan untuk pemukiman (dibentuk 4 desa definitif di pesisir kawasan TNK), untuk tambak, pemanfaatan kayu mangrove untuk bangunan dan pembuatan alat tangkap ikan (bubu, sero/belat, bagan), pemanfaatan nipah untuk atap. Dokumentasi perambahan hutan mangrove dapat dilihat pada lampiran 29.
4.5.2 Illegal Logging
Salah satu masalah terbesar yang menyebabkan rusaknya TNK adalah illegal logging. Data pencurian kayu pada tahun 2005 (TNK 2005) disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Hasil pengamanan hutan di TNK tahun 2005.
No. Tempat/Lokasi Kejadian Barang Bukti Instansi yang Menangani
Penyelesaian/
Tahap Penyelesaian
Keterangan
1 Km. 33 Jl. Bontang – Sangatta, Teluk Kaba II, SKW I
1 unit chainsaw PPNS BTNK Bontang
Temuan Operasi Fungsional
2 Km. 9 Ex Jalan PT Kayu Mas, SKW I
Kayu ulin = 4.005 Kayu Meranti = 0.868
PPNS BTNK Bontang
Temuan Operasi Fungsional 3 Km. 9 Ex. Jalan PT Kayu
Mas, SKW I
1 unit chainsaw PPNS BTNK Bontang
Temuan Operasi Fungsional
4 Km. 33 Jl. Bontang – Sangatta, SKW I
Kayu ulin + 2.44 m3 1 unit chainsaw
PPNS Temuan Operasi Fungsional 5 Senara, SKW II 2 unit chainsaw
Meranti 20x20x4=12 batang
Ulin 10x10x4 = 10 batang
Polres Kutim Jaksa Penuntut Umum
Operasi Fungsional
6 Km.9 Pertamina, SKW II 3 unit chainsaw Polres Kutim Jaksa Penuntut Umum
Operasi Fungsional 7 Km. 12 Jl. Sangatta –
Bontang, SKW II
1 unit chainsaw 1 buah parang Kayu ulin 10x10x2 = 20 batang
PPNS TNK Jaksa Penuntut Umum
Perambahan
8 Km.9 Jl. Bontang – Sangatta, SKW I
Pick-up KT 8341 CB Kayu 2x14x2 = 230 batang = 1.2 m3
PPNS TNK Jaksa Penuntut Umum
Operasi Fungsional Tanpa SKSHH 9 Km. 10 Jl. Bontang –
Sangatta, SKW I
Truk KT 8754 R muatan blambangan + 6 m3
Truk KT 8594 AK muatan blambangan + 5 m3
PPNS TNK Jaksa Penuntut Umum
Operasi Fungsional Tanpa SKSHH
Operasi
10 Km.5 Jl. Bontang-Sangatta, SKW II
Pick-up Zebra KT 8012 BU
Ulin flooring ukuran 2x10x200 = 250 batang
= 1 m3
PPNS TNK Jaksa Penuntut Umum
Operasi Fungsional Tanpa SKSHH
Operasi
11 Teluk Kaba II, SKW I Kayu ulin = 0.3 m3 PPNS Temuan Operasi Fungsional 12 Km. 37 Tanah Datar, SKW I Kayu ulin = 0.78 m3 PPNS Temuan Operasi
Fungsional 13 Km. 9 Jl. Bontang –
Sangatta, SKW I
2 unit chain saw BB.
Kayu 6x12x2 =12 batang
Kayu temuan 10x10x4
= 14 batang = 0.56 m3
Polres Kutim Polres Kutim Operasi Fungsional
14 Km. 37 Tanah Datar, SKW I Kayu ukuran 10x10x4 =16 batang
=0.6 m3
Kayu 10x5x4=10 batang = 0.2m3
PPNS Temuan Operasi Fungsional
Sumber: TNK (2005)
Setelah pengawasan terhadap mafia pencurian kayu di hutan diperketat, yang berimbas pada tingginya harga kayu hutan seperti ulin dan bengkirai, maka saat ini kayu bakau menjadi alternatif pilihan sebagai kayu bangunan.
4.6 Proses Enclave di TNK
Permasalahan yang kompleks dalam mengelola TNK, terutama berkaitan dengan adanya penduduk di dalam kawasan TNK, mendorong inisiatif pemerintah daerah untuk mengadakan kegiatan lokakarya Taman Nasional Kutai pada tanggal 31 Oktober 2000. Lokakarya tersebut diikuti hampir semua stakeholder yang terkait dengan pengelolaan Taman Nasional Kutai. Kegiatan enclave sendiri merupakan salah satu rekomendasi dari kegiatan lokakarya tersebut.
Lokakarya merekomendasikan bahwa salah satu cara untuk menyelamatkan TNK adalah melalui enclave dan relokasi penduduk melalui beberapa tahap kegiatan, yaitu:
- Perlu segera ditetapkan tapal batas 4 desa didalam TNK sesuai dengan konsep enclave, sementara penduduk yang ada di luar batas enclave desa harus masuk ke dalam wilayah desa yang ditetapkan (Desa Teluk Pandan, Desa Sangkima, Desa Sangatta Selatan dan Desa Singa Geweh)
- Bagi penduduk yang tidak mau bergabung masuk kedalam batas enclave desa diupayakan untuk masuk program transmigrasi lokal (relokasi) yang letaknya antara sepanjang jalan Sangkulirang (Maloy) hingga Muara Wahau.
Kegiatan enclave ini ditindaklanjuti dengan Surat Perintah Kerja dari Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam No. 830/DJ-V/LH/2000 tanggal 20 November 2000 kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk melaksanakan Tata Batas Enclave 4 desa definitif di Taman Nasional Kutai.
Tata Batas Taman Nasional Kutai adalah salah satu proses yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Timur sebelum dilakukan enclave.
Persoalan Tata Batas menjadi penting ketika konsep enclave disetujui sebagai salah satu cara untuk penyelesaian berbagai permasalahan di Taman Nasional Kutai. Tahapan proses Tata Batas Taman Nasional Kutai dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Penunjukan Kawasan Hutan :
Menurut surat keputusan terakhir adalah sesuai SK Menhut No.
79/Kpts-II/2001 sebagai TNK seluas 198 269 ha.
2. Penataan Batas
Tata Batas Suaka Margasatwa Kutai tahun 1979 sepanjang 274 Km (temu gelang) oleh Direktorat Bina Program Kehutanan.
Berita Acara Tata Batas oleh Panitia Tata Batas Kabupaten Dati II Kutai tanggal 2 Agustus 1979, disahkan Mentan tanggal 1 Oktober 1980.
Tata batas alam 55.7 Km (tahun 2003) yg telah ditandatangani di Panitia Tata Batas Kabupaten Kutai Timur.
Rekonstruksi batas buatan 83.7 Km (tahun 2005).
Informasi tentang rencana dan realisasi tata batas yang telah dilakukan di areal rencana enclave dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Rencana dan realisasi tata batas di areal rencana enclave
No Desa Rencana
Jarak datar (m)
Realisasi Jarak datar (m)
Luas
(ha) Keterangan 1 Sangatta
Selatan 15 500 20 259.39 ** 5 200 ** Sudah sampai pemancangan pal definitif
* Baru sampai pemancangan patok
sementara 2 Singa Geweh 39 980 36 734.83 ** 3 600
3 Sangkima 23 530 30 516.80 ** 6 215 4 Teluk Pandan 42 250 58 400.87 * 8 697 JUMLAH 121 260 145 908.89 23 712
Sumber : Laporan Pelaksanaan Tata Batas Enclave, Pelaksanaan Relokasi Penduduk, dan Program Rehabilitasi dan Pemagaran Taman Nasional Kutai, Pemkab Kutai Timur 2009
Tabel 9 diatas menunjukkan bahwa dari 23 712 ha kawasan enclave yang akan ditata batas, baru 15 015 ha atau sepanjang 87 511.02 m yang sudah di tata batas definitif. Sisanya seluas 8 697 ha atau sepanjang 58 500.87 m di desa Teluk Pandan belum dilaksanakan tata batas definitif.
Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor: 129/Kpts/DJ-VI/1996 tentang Pola Pengelolaan Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam, Taman Buru, dan Hutan Lindung, menyebutkan bahwa pengukuhan status kawasan dimulai dari proses penunjukan kawasan, penataan batas, pengukuran, pemetaan sampai pada proses penetapan status kawasan.
Persoalan tata batas yang belum definitif ini juga menjadi persoalan penting mengapa hingga saat ini proses tata batas belum selesai. Keterlambatan proses tata batas ini bisa berakibat munculnya spekulan-spekulan tanah. Hasil
survei Yayasan BIKAL dalam Pemkab Kutai Timur (2005), menunjukkan bahwa para spekulan tanah di TNK 50.5% berasal dari Bontang dan 35.5% berasal dari Sangatta. Tercatat pada Desember 2001 seluas 255.75 ha diluar kawasan enclave telah dikuasai oleh para spekulan dan kemungkinan luasan tersebut akan semakin bertambah bila proses enclave belum selesai.
Pada tanggal 29 – 31 Mei 2006 di Sangatta dilaksanakan ”Diskusi Lanjutan Tata Batas di Taman Nasional Kutai”. Kegiatan diskusi tersebut diikuti beberapa stakeholder penting yaitu Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional III, Direktorat Jenderal PHKA, Badan Planologi Departemen Kehutanan, Biro Hukum dan Organisasi Departemen Kehutanan, Balai Pemantapan Kawasan Hutan Kalimantan Timur, Balai Taman Nasional Kutai, Yayasan Bina Kelola Lingkungan, Dinas Kehutanan Kutai Timur, Bappeda Kutai Timur, Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur dan Fasda Kalimantan.
Diskusi Lanjutan Tata Batas di Taman Nasional Kutai menghasilkan beberapa keputusan yaitu disepakatinya 3 (tiga) alternatif rekomendasi penyelesaian permasalahan Taman Nasional Kutai, meliputi:
9 Alternatif 1: menyelenggarakan pengelolaan kolaboratif dalam area seluas 23 712 ha. Bentuk dan kerjasama pengelolaan akan dirumuskan kemudian dengan mengacu pada SK DIRJEN PHKA terkait.
9 Alternatif 2: menyelesaikan tata batas TNK yang prosesnya belum ditetapkan oleh Menhut. Ini dilakukan dengan memperbaharui gabungan hasil pengukuran tata batas pemukiman masyarakat di bagian barat dengan hasil tata batas luar.
9 Alternatif 3 : penyelesaian masalah penggunaaan areal TNK akan dilakukan dengan berdasarkan pasal 19 UU 41 /1999 pada scheme perubahan fungsi.
Tiga Alternatif tersebut nanti akan dikaji oleh Tim Pengkajian yang dibentuk oleh Departemen Kehutanan dan di SK-kan oleh Menteri Kehutanan. Tim tersebut dibentuk untuk mengkaji 3 (tiga) alternatif yang dimungkinkan paling tepat untuk pengelolaan Taman Nasional Kutai.
Berselang 1 (satu) minggu dari kegiatan diskusi pada tanggal 29-31 Mei 2006 tersebut, tepatnya pada tanggal 8 Juni 2006 melalui Surat No:
S.360/Menhut-IV/2006 Menteri Kehutanan Mengeluarkan surat ”Penyelesaian Penataan Batas 4 Desa Dalam Kawasan TNK”. Berikut kutipan isi surat tersebut pada butir 4 : ”Untuk membatasi kerusakan yang lebih luas maka tata batas desa Teluk Pandan dapat dilanjutkan dengan syarat tidak mengakses hal-hal yang tidak dapat dibuktikan keabsahannya dan dilakukan dengan metoda minimalis”.
Berdasarkan surat tersebut Pemkab Kutai Timur melalui Dinas Lingkungan Hidup telah mempersiapkan kegiatan penyelesaian Tata Batas TNK.
Pada tanggal 13 Juli 2006, Dinas Lingkungan Hidup mengadakan rapat awal penyelesaian penataan batas yang di hadiri oleh Tim Tata Batas Enclave Desa Teluk Pandan. Tim Tata Batas ini melibatkan semua stakehoder yang terkait dengan tata batas di desa Teluk Pandan yaitu Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur, Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Timur, Dinas Pertanahan Kabupaten Kutai Timur, Bappeda Kabupaten Kutai Timur, Bagian Hukum Setkab Kutai Timur, Balai Taman Nasional Kutai, Balai Pemantapan Kawasan Hutan Kaltim, Kepala Desa Teluk Pandan, Kepala Desa Martadinata, Kepala Desa Kandolo, Yayasan Bikal. Rapat tersebut menghasilkan kesepakatan untuk menyusun rencana kegiatan penataan batas desa Teluk Pandan.
Menindaklanjuti keluarnya Surat Menteri Kehutanan tersebut maka dilaksanakan beberapa kali pertemuan dengan Tim Tata Batas yang melibatkan Pihak BPKH dan BTNK.
1. Pertemuan Tanggal 30 Nopember 2006
o Pertemuan membahas hal-hal yang perlu segera dilaksanakan terkait dengan Surat Menteri Kehutanan.
o Membahas rencana pelaksanaan Tata Batas Kecamatan Teluk Pandan.
2. Pertemuan Tanggal 14 Desember 2006
o Persiapan Teknis Pelaksanaan Tata Batas Kecamatan Teluk Pandan.
o Persiapan alat dan bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan Tata Batas Kecamatan Teluk Pandan.
3. Pelaksanaan Tata Batas Pengaman Enclave Desa Teluk Pandan, Desa Martadinata dan Desa Kondolo pada tanggal 8 – 23 Januari 2007
4.7 Kondisi Sosial Budaya Masyarakat dalam Lokasi TNK
Pada masa yang lalu pengelolaan kawasan konservasi sering merugikan masyarakat karena terjadi pembatasan akses mereka terhadap sumberdaya.
Masyarakat lokal yang bergantung pada sumberdaya dalam kawasan konservasi yang umumnya paling terpengaruh oleh kondisi ini. Dalam jangka panjang kawasan konservasi akan lestari hanya bila didukung oleh masyarakat lokal.
Idealnya kawasan konservasi seharusnya menjadi aset yang sangat berharga yang menghormati hak-hak, mengentaskan kemiskinan, dan memberikan solusi dalam konflik manusia-alam (human-wildlife conflict) agar kawasan konservasi dapat bertahan sesuai fungsinya.
Penolakan masyarakat lokal atas beberapa Taman Nasional di Indonesia, baik yang lama maupun yang baru ditetapkan, sesungguhnya hal yang wajar terjadi karena masyarakat juga memiliki konsep, pemikiran dan kepentingan tersendiri dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Mereka juga berhak atas sumberdaya alam yang ada dalam Taman Nasional karena dari situlah kehidupan mereka terbentuk. Maka adalah hak mereka juga untuk duduk setara dengan pihak lain dan menyampaikan konsepnya secara langsung dalam setiap proses pengambilan keputusan.
CII (2006) menyatakan potensi konflik yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan taman nasional tak sekedar dipicu oleh prosesnya yang bersifat top-down, namun juga oleh dua hal penting lainnya, yaitu persoalan aksesibilitas dan manfaat bagi masyarakat.
Aksesibilitas terhadap sumberdaya alam merupakan faktor yang harus dipertimbangkan lewat perspektif sosio-kultural mengingat pengelolaan Taman Nasional dimanifestasikan dalam sistem permintakatan (zonasi) dengan berbagai pengaturannya. Persoalan lantas muncul manakala aturan tersebut berimplikasi pada penyempitan, bahkan penghapusan akses penduduk terhadap sumberdaya alam yang dijadikan zonasi tertentu, terutama pada zona inti (no-take zone).
Faktor manfaat kehadiran taman nasional juga perlu dikaji lebih dalam.
Masyarakat lokal cenderung mengharapkan manfaat yang bersifat langsung dari apapun kebijakan pengelolaan sumberdaya alam yang diterapkan. Manfaat itu sendiri tidak melulu bersifat ekonomi dan materil, tapi yang lebih mendasar
a m k
2 d d p k u
y d J
adalah hak m mereka; ser kelangsunga Pema kawasan tam pengelolaan
4.7.1 J Mata 26. bidang dalam lokas dengan usah pertanian ta konversi hut usaha pentin
G
4.7.2 J TNK yang tidak t di sekitar k Jumlah pend
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
masyarakat d rta hak terh an hidup mer
ahaman atas man nasiona n Taman Nas
Jenis Matap apencaharian usaha jasa p i TNK, berik ha perdagang anaman pang tan menjadi ng bagi pend
Gambar 26 Ju (Sumber: M Jumlah Pen K berada di
terkendali m kawasan kar duduk desa d
dalam penge hadap keter reka.
s kondisi so al akan mem sional Kutai.
pencaharian n masyaraka paling bany kutnya adala gan. Tinggin gan dan per i lahan perta duduk.
umlah pendu Monografi Kec
duduk tengah-teng menyebabkan rena keingin di dalam TN
elolaan ruan rsediaan sum
osial budaya mbantu kebe
.
n
at di dalam yak dilakuka ah usaha per nya jumlah p
rkebunan da anian. Bidan
uduk sesuai camatan Sangat
gah daerah i n masyarakat nan untuk NK tersaji dal
ng dan sumb mber daya
a masyaraka rhasilan dal
lokasi TNK an oleh pend rtanian tanam penduduk ya apat menjad ng perikanan
jenis mata p tta Selatan Tah
industri. Per t bermukim memperoleh lam Gambar
berdaya alam alam yang
at yang ting am menyusu
K tersaji dala duduk yang man pangan ang berusaha di indikator
n tidak menj
pencaharian.
hun 2008)
rkembangan baik di dala h lapangan r 27.
Sangatt Singa Ge Sangkim Sangkim
m di sekitar menjamin
ggal dalam un rencana
am Gambar tinggal di dan diikuti a di bidang banyaknya jadi bidang
n perkotaan am maupun pekerjaan.
a Selatan eweh ma ma Lama
(
y
d
p d
b A p d
t
Gam (Sumber: 1. Da
M
Juml yang lainnya Sangatta, se Selatan. De Selatan yang dan Desa Sa
Desa pendudukny dimekarkan statusnya se baru, maka p Adanya pem prasarana um dll, dan akhi
4.7.3 A Agam tempat ibada
mbar 27 Jum ata Identifikasi Monografi Kec
lah pendudu a, karena De ebelum dime esa Sangatta g terdiri dari angkima.
a Teluk P ya tertinggi
lagi menja ekarang men
permasalaha mekaran ke mum bagi pe irnya pemec
Agama ma yang dia ah yang dim 3072 1207
6152
mlah pendudu i Enclave TNK camatan Sangat
uk Desa Sa esa Sangatta ekarkan men a Selatan s
i 3 desa, yai
Pandan sel kedua. N adi Desa Te
njadi kecam an perambah ecamatan b
enduduk, sep ahan masala
anut pendud miliki disajika
uk di empat K Tahun 2005, tta Selatan Tah
angatta Selat a Selatan me njadi Kecam endiri term itu Desa San
lanjutnya m amun, perk eluk Pandan matan. Deng han hutan di erimplikasi perti sekolah ah TNK men
duk di desa d an dalam Tab
6918
5278
desa definiti Dinas Lingkun hun 2008)
tan terbany erupakan des matan Sangat asuk dalam ngatta Selata
merupakan kembangan n, Kandolo gan berdirin TNK menja
pada pemb h, tempat iba njadi semaki
definitif dala bel 10.
Sa Sin Sa Sa Te
if dalam TN ngan Hidup Ku
ak dibandin sa tertua di K
tta Utara da m Kecamatan
an, Desa Sin
desa yan selanjutnya dan Martad nya sebuah adi semakin bangunan s adah, sarana n sulit.
am kawasan angatta Selatan
nga Geweh angkima angkima Lama eluk Pandan
NK.
utai Timur; 2.
ngkan desa Kecamatan an Sangatta n Sangatta nga Geweh,
ng jumlah a desa ini dinata, dan
kecamatan kompleks.
sarana dan a kesehatan
n TNK dan n
T
K
l j
G
(
b
Tabel 10 Jum
Agama
Islam Protestan Katolik Budha Hindu Sumber: Mo
Tah Keterangan:
Tabe lokasi TNK juga sudah c
4.7.4 P Saran Gambar 28 d
G (Sumber: M
Gam bagi masya 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
Unit
mlah pemelu Sangatta
Selatan Jml TI 6 651 14 81 1 186 1 - - - - onografi Ke
hun 2008 *: Desa Pan
el 10 menun K beragama I cukup banya
Pendidikan na pendidik dan Gambar
Gambar 28 S Monografi Ke
mbar 28 men arakat yang
0 5 1 5 2 5 3
uk agama da Singa Geweh*
Jml T 4 5 179
89 10 - - - - ecamatan Sa
ntai, Jml: ju
njukkan bah Islam. Jumla ak yaitu sekit
kan di desa r 29.
Sarana pend ec. Sangatta nunjukkan ba
berada dal
an tempat iba
* Sangkim TI Jml
11 2 969 - 103 - - - - - - angatta Selat
umlah peme
hwa mayorit ah tempat ib tar 51 masjid
definitif da
idikan di des Selatan dan ahwa fasilita lam TNK s
adah di desa ma* San La TI Jml
7 1 202
1 5
- -
- -
- -
tan dan Kec eluk agama,
tas pendudu badah yang d dan musho
alam kawasa
sa definitif d Kec. Teluk as sarana pen sudah relatif
definitif dal ngkima
ama*
TI
2 3 5
5 - - - - - - - camatan Tel
TI: tempat i
uk yang ting dibangun d olla, serta 3 g
an TNK ter
dalam TNK.
Pandan Tahu ndidikan yan f lengkap,
Sangatta Singa Ge Sangkim Sangkim Teluk Pa
lam TNK Teluk Pandan*
Jml TI 5 017 16
4 -
- - - - - - luk Pandan ibadah
ggal dalam dalam TNK
gereja.
rsaji dalam
un 2008) ng tersedia mulai dari a Selatan eweh ma ma Lama
andan
6 - - - -
p d d b l
T y p p y
k t d m k
pendidikan dikatakan ba demikian ha bekerja di bi lulus SD.
Gamb TNK umum yang bersek pendidikan pentingnya yang merupa
Gamba (Sumbe
Kegia sumberdaya kemampuan tingkat pen diharapkan mangrove u kegiatan pen
0 10 20 30 40 50 60
Sa S
TK hingg ahwa masya asil survei k idang perika
bar 29 menu mnya lebih d
kolah samp masyarakat menjaga ke akan kawasa
ar 29 Tingkat er: Data Inden L
atan pengelo a manusia n berpikir da ngetahuan y masyarakat untuk kehidu ngelolaan ma
angatta Selatan
Sing
a Sekolah arakat sudah kepada respo anan lebih da
unjukkan da dari 30% pen
pai SLTA t akan me elestarian lin an taman nas
t pendidikan ntifikasi Encla
Lingkungan H
laan ekosist yang berm an keteramp yang tingg
dapat lebih upan mereka
angrove.
ga Geweh S
Menengah h memperole onden menu ari 70% hany
ari keempat nduduknya h
hanya seki empengaruhi ngkungan, te
sional.
n masyarakat ave Taman N Hidup Kab. K
tem mangrov mutu. Hal pilan untuk gi. Dengan
h memaham a dan juga
angkima
Atas. Den eh pendidika unjukkan rat ya bersekola
desa definit hanya berse itar 10-20%
i pemaham erkait denga
t di desa def Nasional Kutai Kutai Timur)
ve akan efek ini berarti berbuat ses
tingginya mi manfaat p
dapat berpe Teluk Pandan
ngan demik an yang cuku ta-rata respo ah sampai SD
tif yang ada ekolah samp
%. Rendahny man masyar
an lingkung
finitif dalam i tahun 2005,
ktif bila didu seseorang suatu karena tingkat pe pengelolaan eran aktif da Tidak Se SD SLTP SLTA Pergurua
kian dapat up. Namun onden yang D dan tidak
a di dalam ai SD, dan ya tingkat rakat akan gan mereka
TNK.
Dinas
ukung oleh memiliki a memiliki engetahuan
ekosistem alam setiap
kolah
an Tinggi
4.7.5 Kesehatan
Sarana kesehatan di desa definitif dalam kawasan TNK disajikan dalam Tabel 11. Sarana kesehatan bagi masyarakat dalam lokasi TNK cukup tersedia dengan adanya 1 Rumah sakit, 2 puskesmas dan 2 puskesmas bantu.
Tabel 11 Sarana kesehatan di desa definitif dalam TNK
Fasilitas Kesehatan
Sangatta Selatan
Singa
Geweh Sangkima Sangkima Lama
Teluk Pandan
Jml Jml Jml Jml Jml
RUMAH
SAKIT - - 1 - -
PUSKESMAS 1 - - - 1
PUSBAN - - 1 1 -
POSYANDU 7 2 2 1 -
Sumber: Monografi Kecamatan Sangatta Selatan dan Kecamatan Teluk Pandan Tahun 2008
4.7.6 Aspek Kelembagaan
Kelembagaan yang terlibat dalam kegiatan kelestarian lingkungan yang beraktivitas di kawasan TNK terdiri dari lembaga swadaya masyarakat, perusahaan swasta, dan instansi pemerintah. Lembaga-lembaga tersebut antara lain:
1. Balai TNK
Balai TNK yang berkedudukan di Kota Bontang, Propinsi Kalimantan Timur, merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkup Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA). Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6186/Kpts-II/2002 tanggal 10 Juni 2002, Balai TNK mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan ekosistem TNK dalam rangka konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.
Dalam menyelenggarakan tugas pokok tersebut, BTNK mempunyai fungsi:
a. Penyusunan rencana, program dan evaluasi pengelolaan TNK;
b. Pengelolaan TNK;
c. Pengawetan dan pemanfaatan secara lestari TNK;
d. Perlindungan, pengamanan dan penanggulangan kebakaran TNK;
e. Promosi dan informasi, bina wisata dan cinta alam, serta penyuluhan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya;
f. Kerjasama pengelolaan TNK;
g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
2. LSM BIKAL (Bina Kelola Alam)
BIKAL adalah salah satu lembaga swadaya yang sangat perhatian pada kelestarian alam Taman Nasional Kutai. Untuk saat ini BIKAL memiliki program yaitu :
a. Penguatan masyarakat sipil Kutai Timur dalam mendorong partisipasi publik b. Analisis Kelembagaan (DPRD, Masyarakat, dan Konflik Pengelolaan SDA) c. Pengembangan media informasi
d. Pembuatan fungsi kontrol e. Menggalang aliansi
3. LSM BEBSIC (Borneo Ecological Biodiversity Science)
BEBSIC merupakan LSM yang banyak menaruh perhatian pada keanekaragaman hayati. Adapun program BEBSIC yang ada di TNK adalah : a. Riset Keanekaragaman Hayati (Orangutan)
b. Kampanye Kesadaran Publik 4. Polres Bontang
Polres Bontang adalah instansi yang bertanggungjawab terhadap pengamanan kawasan terutama pada kasus-kasus pencurian kayu dan perambahan hutan yang mengganggu keberadaan Taman Nasional Kutai. Program utama kepolisian dalam pengamanan TNK adalah melakukan kegiatan-kegiatan operasi di wilayah TNK dengan sandi Operasi Jaring Kakap, Operasi Wanalaga I Mahakam dan Operasi Wanalaga II Mahakam dengan sasaran penertiban penebangan-penebangan liar dan perambahan hutan. Kegiatan tersebut bekerjasama dengan Polsus Jagawana TNK.
5. Mitra TNK
Dalam upaya pengelolaan kawasan, Balai TNK telah menggandeng 8 perusahaan berskala besar yang mempunyai lokasi kegiatan bersebelahan dengan TNK dalam wadah Mitra Kutai (Friends of Kutai). Perusahaan tersebut yaitu PT. KPC dan PT. Indominco Mandiri (tambang batubara), PT Pupuk
Kaltim (pupuk), PT Badak NGL dan Pertamina (minyak dan gas) serta PT.
Kiani Lestari, PT. Surya Hutani Jaya dan PT Porodisa (pemegang konsesi hutan). Mitra Kutai memberikan dukungan finansial dan teknis yang sangat dibutuhkan untuk pengelolaan kawasan kepada Balai TNK. Bentuk partisipasi dan kerjasama Mitra Kutai tersebut dikukuhkan melalui SK Dirjen PHPA No.
121/Kpts/Dj-VI/1995 tanggal 30 April 1994.
4.8 Persepsi Masyarakat
Persepsi masyarakat terkait dengan pengelolaan mangrove di TNK ditelusuri dengan menggunakan alat kuisioner dan wawancara secara mendalam.
Hasil penelusuran terhadap persepsi masyarakat disajikan secara deskriptif berikut.
4.8.1 Pemahaman Masyarakat terhadap Pengelolaan Hutan Mangrove Dalam penelitian ini, pemahaman masyarakat diartikan sebagai pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang kondisi ekosistem mangrove, peraturan, fungsi dan pemanfaatan hutan mangrove bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Tingkat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem mangrove di kawasan TNK khususnya terhadap kondisi, rehabilitasi dan konservasi mangrove secara umum cukup baik. Namun tingkat pemahaman terhadap fungsi dan peraturan yang terkait dengan ekosistem ini relatif rendah.
Hal ini terlihat dari jumlah responden yang paham terhadap kondisi mangrove di TNK, apakah masih bagus atau mulai terdegradasi, sebesar 67%.
Responden yang memahami perlunya rehabilitasi dan konservasi hutan mangrove di TNK sebanyak 50%. Namun demikian, walaupun banyak responden yang setuju untuk konservasi mangrove, mereka juga merasa pemanfaatan hutan mangrove bebas dilakukan, kelompok ini sejumlah 58.33%. Sebanyak 25%
masyarakat memahami fungsi mangrove bagi perikanan, dan namun yang mengerti peraturan perundangan tentang mangrove hanya 20 % (Tabel 12).
Pemahaman masyarakat terhadap fungsi mangrove dalam hal ini adalah sebagai pencegah abrasi dan erosi, tempat hidup, bertelur dan berkembang biak beberapa jenis ikan, udang, kepiting dan kerang.
Tabel 12 Pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan mangrove.
No Tingkat Pemahaman Masyarakat Persentase (%)
1 Kondisi mangrove 66.67
2 Fungsi ekologis mangrove 25
3 Peraturan tentang mangrove 20
4 Setuju Rehabilitasi dan konservasi 50 5 Bebas memanfaatkan mangrove 58.33 Sumber: Hasil olahan data primer 2009
Pemahaman terhadap rehabilitasi dan konservasi hutan mangrove menunjukkan seberapa penting kedua kegiatan ini dilakukan. Masyarakat sangat mendukung diadakannya program-program rehabilitasi dengan syarat tidak membatasi mereka dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada.
Walaupun masyarakat mendukung program rehabilitasi, namun di sisi lain masyarakat masih memanfaatkan mangrove dengan cara yang merusak, misalnya mengambil kayu untuk bangunan atau membuka tambak. Sehingga diduga bahwa pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan mangrove masih bersifat sepotong-sepotong, dimana keterkaitan antara fungsi, pemanfaatan dan konservasi mangrove belum dipahami seutuhnya.
Tingkat pemahaman yang rendah terhadap peraturan yang berkaitan dengan mangrove di TNK umumnya disebabkan kurangnya sosialisasi dan informasi terhadap peraturan-peraturan yang ada yang menyebabkan masyarakat memanfaatkan mangrove secara tidak terkendali dan tidak ramah lingkungan yang pada akhirnya menyebabkan degradasi mangrove. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih intensif dalam sosialisasi peraturan-peraturan tentang perlindungan mangrove dan sanksi-sanksi terhadap peraturan yang ada. Selain itu diperlukan juga informasi-informasi yang berkaitan dengan pengelolaan ekosistem mangrove yang lestari dan berkelanjutan dalam hal pemanfaatan sumberdaya mangrove.
Tingkat persepsi yang berkembang dalam masyarakat dibangun oleh beberapa faktor internal yang terdapat dalam masyarakat, faktor-faktor internal tersebut merupakan kekuatan yang mendukung terhadap segala bentuk kegiatan masyarakat khususnya yang menyangkut perilakunya dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Namun demikian, persepsi masyarakat ini tidak dapat dijadikan ukuran mutlak untuk melihat suatu gejala, karena persepsi tersebut
dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan sosial ekonomi dan tingkat pendidikan maupun pengetahuan seseorang.
4.8.2 Persepsi Masyarakat terhadap Pemanfaatan S. serrata
Kepiting bakau sebagai salah satu sumberdaya yang terdapat dalam ekosistem mangrove TNK sudah lama dikenal masyarakat sebagai bahan makanan. Sampai saat ini masyarakat hanya mengetahui cara memperoleh kepiting bakau hanya melalui penangkapan kepiting bakau di alam. Sedangkan teknologi budidaya kepiting bakau bagi sebagian besar masyarakat di TNK masih menjadi hal yang asing. Namun demikian animo masyarakat, terutama dari kalangan nelayan untuk menerima introduksi teknologi budidaya kepiting bakau cukup besar. Hasil dari pengolahan data kuisioner mengenai persepsi masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya S. serrata disajikan dalam Tabel 13.
Dari hasil analisis kuisioner diketahui bahwa tidak banyak masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya S. serrata untuk matapencaharian yaitu hanya 16.67% saja. Hanya orang-orang yang mempunyai keahlian dalam mencari dan menangkap kepiting bakau saja yang mau memanfaatkan kepiting bakau untuk matapencahariannya.
Tabel 13 Tingkat pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan S. serrata.
No Tingkat Pemahaman Masyarakat Persentase (%)
1 Matapencaharian S. Serrata 16.67
2 Setuju membudidayakan S. Serrata 46.67
3 Mengganti pemanfaatan mangrove dg S.
Serrata 20
Sumber: Hasil olahan data primer 2009
Namun demikian, pada saat diperkenalkan dengan teknologi budidaya kepiting bakau, hampir separuhnya (46.67%) menyatakan tertarik dan menganggap sebagai matapencaharian yang baik. Hanya saja, masyarakat juga masih beranggapan bahwa mangrove boleh dimanfaatkan dengan bebas, dan sebagian masyarakat menyatakan bahwa pendapatan dari mangrove tidak dapat digantikan dengan usaha budidaya kepiting bakau (20%). Hal ini disebabkan masyarakat belum yakin akan keberhasilan budidaya kepiting bakau.