• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Maret 2006

Metodologi

Survei Properti Komersial merupakan survei bulanan yang dilaksanakan sejak Maret 1999 terhadap sekitar 242 perusahaan properti (purposive sampling) mencakup 5 jenis properti komersial, yaitu : pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel, apartemen, dan lahan industri di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Pengumpulan data dilakukan oleh pihak ketiga (outsourcing) dengan menghubungi responden secara langsung (face to face) dan melakukan pencatatan data atas tingkat hunian, harga jual, dan tarif sewa properti komersial. Pengolahan data dilakukan dengan metode rata-rata tertimbang terhadap luas atau jumlah unit masing-masing properti.

9+-*

‰ Tingkat hunian ritel, kantor meningkat sebaliknya tingkat hunian apartemen, hotel menurun, sementara tarif sewa ritel, apartemen stabil.

‰ Secara umum tingkat penjualan properti komersial naik sementara harga jual kantor dan lahan industri turun.

Pusat Perbelanjaan di Jabodetabek

Pada Maret 2006, tingkat hunian pusat perbelanjaan (ritel) yang disewakan di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) tercatat 95,75%, atau naik 5 basis poin (bps) dibandingkan tingkat hunian pada bulan sebelumnya (95,70%). Sementara itu, tarif sewa pusat perbelanjaan di Jabodetabek stabil dibanding bulan sebelumnya sebesar Rp304.873 /m2/bulan (Grafik 1).

Grafik 1

Perkembangan Tingkat Hunian dan Tarif Sewa Ritel di Jabodetabek

150.000 175.000 200.000 225.000 250.000 275.000 300.000 325.000 350.000 375.000 400.000 425.000

Jan 2004

Feb M ar Apr M ei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan 2005

Feb M ar Apr M ei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan 2006

Feb M ar

90.0 91.0 92.0 93.0 94.0 95.0 96.0 97.0 98.0

Tingkat Hunian (%) Tarif Sewa (Rp/m2/bulan)

(Rp) (%)

Perkembangan tingkat hunian dan tarif sewa pusat perbelanjaan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut: :

- Di Jakarta, tingkat hunian tercatat sebesar 95,57%, atau 7 bps lebih tinggi dibandingkan pada bulan Februari 2006 (95,50%). Sementara tarif sewa stabil dibandingkan dengan tarif sewa pada bulan sebelumnya sebesar Rp363.962/m2/bulan.

Tingkat hunian naik dan tarif sewa stabil

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

(2)

- Di wilayah Bodetabek, tingkat hunian dan tarif sewa stabil dibandingkan pada bulan sebelumnya masing-masing pada level sebesar 96,60% dan sebesar Rp179.365/m2 /bulan.

Secara tahunan, tingkat hunian pusat perbelanjaan naik 193 bps dari 93,81% pada Maret 2005. Demikian juga tarif sewa mengalami kenaikan sebesar 10,42% (y-o-y).

Tingkat penjualan pusat perbelanjaan (strata-titled) di Jabodetabek mengalami kenaikan sebesar 92,10%, terutama berasal dari tingkat penjualan yang besar untuk Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta City Center dan Metropolis Town Square-Tangerang. Sementara harga jual pusat perbelanjaan di Jabodetabek mengalami kenaikan dari sebesar Rp46.722.432/m2 menjadi sebesar Rp47.350.804/m2.

Adapun rincian perkembangan tingkat penjualan dan harga jual pusat perbelanjaan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut:

- Di Jakarta, tingkat penjualan pusat perbelanjaan tercatat sebesar 94,70%, naik dibandingkan tingkat penjualan pada Februari 2006 (94,03%).

- Di Debotabek, tingkat penjualan pusat perbelanjaan tercatat sebesar 86,97% naik dibandingkan bulan Februari 2006 (86,53%).

- Harga jual pusat perbelanjaan di Jakarta pada bulan laporan stabil sebesar Rp54.134.060/m2 dan Debotabek pada bulan laporan naik dari harga sebesar Rp32.130.799/m2 menjadi sebesar Rp33.996.278/m2.

Pada bulan laporan, stok ritel (strata) mendapat tambahan pasokan sebanyak 126.039/m2 dari beroperasinya Plaza Cibubur 2 (untuk ritel sewa) dan Margo City Square – untuk ritel strata title. Dengan adanya penambahan, total stock pusat perbelanjaan di wilayah Jabotabek meningkat menjadi 3,9 juta/

m2..

Perkantoran di Jakarta

Tingkat hunian perkantoran sewa (leased-office) pada bulan laporan tercatat sebesar 88,43% atau naik 20 bps dibandingkan pada Februari 2006 (88,24%). Sementara, tarif sewa perkantoran meningkat dari Rp123.534/m2 /bulan menjadi sebesar Rp123.535/m2/bulan Kenaikan ini disebabkan terjadinya kenaikan tarif sewa pada beberapa gedung kantor (Grafik 2).

Grafik 2

Perkembangan Tingkat Hunian dan Tarif Sewa 635p Perkantoran di Jakarta

100.000 105.000 110.000 115.000 120.000 125.000 130.000

Jan 2004

Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep Okt No v Des Jan 2005

Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep Okt No v Des Jan 2006

Feb M ar 55.0 60.0 65.0 70.0 75.0 80.0 85.0 90.0 95.0

Tingkat Hunian (%) Tarif Sewa (Rp/m2/bulan)

(Rp) (%)

Tingkat hunian dan tarif sewa perkantoran naik Tingkat penjualan pusat

perbelanjaan dan harga jual naik

Stock meningkat

(3)

Perkembangan tingkat hunian perkantoran sewa (leased-office) menurut wilayah adalah sebagai berikut:

- Di wilayah primer (Central Business District/CBD area), tingkat hunian leased-office mencapai 87,60%, turun 82 bps dibandingkan tingkat hunian pada bulan sebelumnya (87,33%).

- Di wilayah sekunder, tingkat hunian leased-office tumbuh sebesar 88,41%, atau naik 164 bps dibandingkan 87,52% pada bulan sebelumnya. Tingkat hunian perkantoran terutama di daerah TB Simatupang, mulai menjadi pilihan favorit bagi penyewaan besar, terutama untuk industri non-service.

Secara tahunan, tingkat hunian perkantoran sewa naik, yaitu sebesar 285 bps dari 85,58% pada Maret 2005. Sementara tarif sewa naik sebesar 3,24% (y-o-y).

Pada bulan laporan di Jakarta tidak ada penambahan pasokan baru, total stock gedung sewa perkantoran akhir Maret di Jakarta tetap menjadi sebesar 3.989.936/ m2. Proyek-proyek gedung perkantoran diperkirakan baru akan siap beroperasi pada kuartal ketiga tahun 2006.

Tingkat penjualan perkantoran (strata-titled office) di Jakarta tidak mengalam perubahan yaitu pada level 90,60% sudah terserap oleh pasar.

Sementara, harga jual sebagian besar sampel gedung perkantoran menerapkan kurs Dollar Amerika. Oleh karena itu, dengan penguatan nilai rupiah, harga jual rata-rata gedung kantor strata title mengalami sedikit penurunan dari sebesar Rp 11.285.011/m2 menjadi Rp11.285.010 /m2 pada periode laporan. (Grafik 3).

Grafik 3

Perkembangan Tingkat Penjualan dan Harga Jual Kantor di Jakarta

10,400,000 10,900,000 11,400,000 11,900,000 12,400,000 12,900,000 13,400,000

Jan 2004

Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gsSep Okt No v Des Jan 2005

Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep OktNo v Des Jan 2006

Feb M ar 72.5 75.0 77.5 80.0 82.5 85.0 87.5 90.0 92.5

Tingkat Penjualan (%) Harga Jual (Rp/m2) (Rp) (%)

Adapun rincian perkembangan tingkat penjualan dan harga jual perkantoran berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut:

- Di wilayah primer (CBD area), tingkat penjualan stabil, dengan level sebesar 95,06%, sementara harga jual rata-rata gedung kantor mengalami penurunan menjadi sebesar Rp12.548.700/m2.

- Di wilayah sekunder, tingkat penjualan stabil dengan level sebesar 77,25%, sementara harga jual turun tipis menjadi sebesar Rp7.499.998/m2 pada periode laporan.

Tingkat penjualan stabil dan harga jual turun

Stock tetap

(4)

Apartemen di Jakarta

Pada bulan laporan, tingkat hunian apartemen sewa (leased apartment) di Jakarta secara keseluruhan mengalami penurunan sebesar 102 bps dibandingkan bulan sebelumnya (89,39%). Faktor yang mempengaruhi, a.l. kembalinya ekspatriat ke negaranya dengan berakhirnya masa kontrak kerja ataupun habisnya ijin tinggal, juga terbatasnya jumlah tamu yang mengunjungi Indonesia dengan adanya travel warning dari berbagai negara. Sementara tarif sewa apartemen stabil sebesar Rp129.783/m2/bulan (Grafik 4).

Grafik 4

Perkembangan Tingkat Hunian dan Tarif Sewa Apartemen di Jakarta

80,000 85,000 90,000 95,000 100,000 105,000 110,000 115,000 120,000 125,000 130,000 135,000

Jan 2004

Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan 2005

Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan 2006

Feb Mar 60.0 62.0 64.0 66.0 68.0 70.0 72.0 74.0 76.0 78.0 80.0 82.0 84.0 86.0 88.0 90.0

Tingkat Hunian (%) Tarif Sewa (Rp/m2/bulan)

(Rp) (%)

Secara tahunan, tarif sewa apartemen meningkat 7,90%

dibandingkan Rp120.282/m2/bulan pada Maret 2005. Selain itu, tingkat hunian mengalami peningkatan sebesar 559 bps dibandingkan 82,78% pada Maret 2005.

Pada Maret 2006, tingkat penjualan apartemen mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya dari sebesar 93,24% menjadi sebesar 93,81%. Hal ini disebabkan oleh terjadinya beberapa transaksi penjualan apartemen di Jakarta Pusat (Salemba Residence) dan di Jakarta Barat (Taman Semanan Apartemen). Demikian juga dengan harga jual apartemen naik tipis menjadi sebesar Rp7.039.002/m2. Kenaikan harga berpengaruh di beberapa proyek yang saat ini masih dalam tahap pembangunan (Grafik 5).

Grafik 5

Perkembangan Tingkat Penjualan dan Harga Jual Apartemen di Jakarta

5,900,000 6,400,000 6,900,000 7,400,000 7,900,000 8,400,000 8,900,000 9,400,000

72.5 75.0 77.5 80.0 82.5 85.0 87.5 90.0 92.5 95.0

(Rp) (%)

Tingkat penjualan apartemen dan

harga jual naik Tingkat hunian turun dan tarif sewa apartemen stabil

(5)

Secara tahunan, pertumbuhan harga jual meningkat 2,57% dari harga sebelumnya sebesar Rp6.862.966/m2. Sementara itu, tingkat penjualan apartemen meningkat sebesar 293 bps dari tingkat penjualan Maret 2005 (90,88%).

Pada bulan laporan terdapat penambahan pasokan apartemen strata title di daerah CBD sebesar 572 unit berasal dari Casablanca Mansion, dengan tambahan ini, total pasokan apartemen strata meningkat menjadi 38.388 unit.

Sedangkan utuk daerah non-CBD, tidak terdapat tambahan pasokan baru.

Hotel di Jabotabek

Pada Maret 2006, di wilayah Jabotabek rata-rata tingkat hunian hotel bintang 3, 4, dan 5 mengalami penurunan dari sebesar 65,81% menjadi sebesar 64,71% (Grafik 6). Penurunan tersebut bersumber dari turunnya tingkat hunian hotel bintang 3 dan 4 masing-masing sebesar 221 bps (dari 71,03% menjadi 68,82%), 119 bps (dari 70,98% menjadi 69,79%).

Sementara tingkat hunian hotel bintang 5 naik sebesar 11 bps (dari 55,42%

menjadi 55,53%).

Grafik 6

Perkembangan Tingkat Hunian dan Tarif Kamar Hotel di Jabotabek

250.000 275.000 300.000 325.000 350.000 375.000 400.000 425.000 450.000 475.000 500.000

Jan 2004

Feb M ar Apr M ei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan 2005

Feb M ar Apr M ei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan 2006

Feb M ar 30.0 35.0 40.0 45.0 50.0 55.0 60.0 65.0 70.0

Tingkat Hunian (%) Tarif Kamar (Rp/malam)

( Rp ) (% )

Pada bulan laporan, rata-rata tarif sewa kamar hotel bintang 3, 4, dan 5 menunjukkan trend yang berlawanan dengan trend tingkat hunian tercatat sebesar Rp490.555/malam naik 0,18% (m-t-m). Peningkatan tersebut terutama berasal dari naiknya tarif sewa kamar hotel bintang 3 dan 4 masing- masing sebesar 3,39% (dari Rp254.242/malam menjadi Rp262.867/ malam) dan sebesar 0,63% (dari Rp418.241/malam menjadi Rp420.883/malam).

Sementara tarif sewa kamar hotel bintang 5 turun sebesar 1,09% (dari Rp796.606/malam menjadi Rp787.915/ malam) disebabkan oleh penguatan nilai rupiah.

Secara tahunan, rata-rata tarif sewa kamar hotel bintang 3, 4, dan 5 mengalami peningkatan sebesar 12,30% (y-o-y) dari Rp436.819/malam pada Maret 2005. Tingkat hunian naik sebesar 412 bps dibandingkan tingkat hunian pada Maret 2005 (60,60%).

Tingkat hunian hotel turun dan tarif kamar

meningkat Stock meningkat

(6)

Lahan Industri di Jabotabek

Pada bulan laporan, tingkat penjualan lahan industri di Jabotabek naik dibandingkan dengan periode sebelumnya dari 71,20% menjadi 71,26%.

Sementara, harga jual lahan industri turun menjadi sebesar Rp605.286/m2 dibandingkan dengan bulan Februari 2006 (Grafik 7).

Adapun rincian perkembangan tingkat penjualan dan harga jual lahan industri berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut:

- Di wilayah Jakarta , tingkat penjualan stabil sebesar 69,83%.

- Di wilayah Botabek, tingkat penjualan turun dari sebesar 76 bps pada level 70,74%, sementara harga jual turun pada harga sebesar Rp467.473/m2.

Grafik 7

Perkembangan Tingkat Penjualan dan Harga Jual Lahan Industri di Jabotabek

- 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000

Jan 2004

Feb M arA pr M ei Jun Jul A gsSep OktNo vDes Jan 2005

FebM arA pr M ei Jun Jul A gsSep OktNo vDes Jan 2006

Feb M ar 60.0 62.0 64.0 66.0 68.0 70.0 72.0 74.0 76.0 78.0 80.0

Tingkat Penjualan (%) Harga Jual (Rp/m2)

(Rp) (%)

Secara tahunan, tingkat penjualan meningkat 3,25% dibandingkan 69,02% periode yang sama pada tahun lalu. Sementara harga jual mengalami peningkatan 6,82% dibandingkan pada Maret 2005 (dari Rp566.654/m2 menjadi Rp605.286/m2 ) .

Berdasarkan wilayah tarif sewa lahan industri mengalami penurunan di Jakarta dari sebesar Rp26.471/m2 menjadi Rp26.468/m2 dan di Botabek dari sebesar Rp22.925/m2 menjadi sebesar Rp22.922/m2. Sebaliknya, secara tahunan tarif sewa lahan industri meningkat sebesar 3,87% dibandingkan Rp24.183/m2 pada periode yang sama Maret 2005.

Tingkat penjualan naik dan harga jual lahan industri turun

Tarif lahan industri secara bulanan

turun

Referensi

Dokumen terkait

Bagi anggota UPPKS yang merintis usaha makanan jajanan khususnya kue kering, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan pengetahuan dan keterampilan

Pada triwulan I-2006, tingkat hunian pusat perbelanjaan atau ritel di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok,Tangerang dan Bekasi) tercatat sebesar 90,11%, atau turun sebesar

Jakarta : pasokan apartemen bertambah sehingga tingkat hunian dan tingkat penjualan menurun, sementara tarif sewa dan harga jual meningkat Bandung : pasokan apartemen

 Pada Juli 2006, tidak terdapat tambahan pasokan baru gedung perkantoran sewa baik di CBD maupun Non-CBD, posisi pasok gedung perkantoran di Jakarta sama dengan kondisi bulan

‰ Secara bulanan tingkat hunian ritel, kantor, hotel meningkat sementara tingkat hunian apartemen masih tetap, sedangkan secara tahunan kelima jenis properti tersebut mengalami

¾ Pada triwulan laporan, tingkat hunian apartemen sewa (leased apartment) di Jakarta rata-rata mengalami kenaikan dibandingkan tingkat hunian pada triwulan sebelumnya dari

Belum Melakukan Kreativitas Strategi Pemasaraan 0% 50% 25% 25% Penjualan Naik Naik Turun Stabil Turun.. Pada gambar di atas terlihat bahwa meskipun telah melaksanakan inovasi

Lebih lanjut, Mosco (2014: 114) menyebut jika cloud computing merupakan penyimpanan data digital nir-fisik yang bisa mengoneksikan data dengan semua platfrom dan aplikasi