Rancangan Penelitian
Penelitian dirancang dengan metode survai yang bersifat eksplanasi, yakni menjelaskan fenomena perilaku petani yang terjadi dalam tahapan proses keputusan inovasi. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu, petani sebagai responden penelitian. Sebagai peubah bebas adalah karakteristik petani (karakteristik sosial ekonomi dan karakteristik kepribadian petani), perilaku komunikasi petani, dukungan iklim usaha, persepsi petani terhadap penyuluhan, persepsi petani terhadap ciri-ciri inovasi, dan pengaruh media/informasi. Peubah terikat adalah keputusan adopsi inovasi teknologi dan kinerja usahatani di tingkat petani.
Waktu dan Lokasi Penelitian
Provinsi Jawa Barat memiliki 1,64 juta ha lahan kering atau sekitar 29 persen dari luasan lahan kering di Pulau Jawa (5,64 juta ha) yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2001). Pada tahun 2008, penggunaan lahan di Jawa Barat untuk lahan tegalan/kebun mencapai 576.565 ha, lahan ladang/huma 221.749 ha dan lahan yang sementara tidak diusahakan 12.487 ha. Total luasan penggunaan lahan untuk pertanian baru mencapai 798.314 ha atau sekitar 48,7 persen dibandingkan total potensi yang ada (Badan Pusat Statistik, 2009).
Melihat potensi tersebut, maka penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Desember 2008 – Maret 2009. Penentuan lokasi, berdasarkan pada agroekosistem lahan kering dengan tipologi yang berbeda, yakni dataran tinggi dan dataran rendah, masing-masing adalah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut. Setiap kabupaten dipilih satu kecamatan, yang merupakan lokasi atau wilayah inovasi teknologi usahatani terpadu diperkenalkan dan tersentralisir pada satu desa, yakni Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur dan Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Desa Talaga, Kecamatan Cugenang berada pada ketinggian 700-1.100 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan tingkat kemiringan lahan 2-15 persen. Desa Jatiwangi, Kecamatan
Pakenjeng, berada pada ketinggian 240-860 meter dpl, dengan topografi datar sampai berbukit, berombak sampai berbukit dan berbukit sampai bergunung. Wilayah yang diperkenalkan inovasi usahatani terpadu di Desa Talaga berada pada ketinggian > 700 meter dpl, sehingga dikategorikan sebagai wilayah dataran tinggi, sedangkan di Desa Jatiwangi < 700 meter dpl, termasuk wilayah dataran rendah. Inovasi teknologi yang diintroduksikan kepada petani di dua kabupaten tersebut, adalah inovasi Prima Tani berupa: (1) inovasi teknologi dan (2) inovasi kelembagaan. Namun hasil pengamatan pada waktu pra survai di lapangan, inovasi kelembagaan belum berjalan dengan baik, sehingga penelitian ini dibatasi hanya pada inovasi teknologi. Secara konsep inovasi teknologi yang diperkenalkan merupakan inovasi usahatani terpadu (tanaman dengan ternak). Selanjutnya dalam penelitian ini digunakan istilah inovasi teknologi usahatani terpadu.
Di Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur inovasi teknologi usahatani terpadu yang diperkenalkan sejak tahun 2007 berupa teknik budidaya tanaman pisang (pengaturan jarak tanam, penjarangan anakan, pemupukan, pemotongan jantung, pembrongsongan dan penggunaan trichoderma), teknik budidaya cabai rawit dan caisin. Teknologi ternak domba berupa sanitasi kandang, sistem perkandangan, pemberian obat cacing. Selain itu pembuatan kompos dari limbah ternak dan tanaman pisang, yang kemudian digunakan sebagai pupuk bagi tanaman pisang. Rincian paket inovasi teknologi yang diperkenalkan kepada petani di Desa Talaga tertera pada Lampiran 3.
Inovasi teknologi usahatani terpadu yang diperkenalkan di Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, sejak tahun 2005 berupa konservasi lahan, teknik budidaya nilam, padi gogo, pisang dan kacang tanah (pembenihan, penanaman, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit), penanganan pascapanen, ternak domba, pembuatan kompos serta pembibitan buah-buahan (rambutan dan durian). Rincian paket inovasi teknologi yang diperkenalkan kepada petani di Desa Talaga tertera pada Lampiran 4.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua petani yang berada di kedua desa penelitian (Desa Talaga dan Desa Jatiwangi). Mengingat anggota populasi petani lahan kering marjinal terdapat petani yang mengadopsi inovasi teknologi usahatani terpadu dan petani yang tidak mengadopsi, maka teknik pengambilan sampel petani menggunakan teknik sampel acak stratifikasi (stratified random sampling). Penentuan banyaknya responden yang dijadikan sampel penelitian berdasarkan pada tingkat representatif dan heterogenitas yang diharapkan dari populasi penelitian. Ketersediaan waktu, biaya dan tenaga juga dijadikan pertimbangan dalam menentukan jumlah sampel. Penentuan jumlah sampel penelitian menggunakan rumus Slovin (Sevilla et al., 1993) sebagai berikut:
n = { N/[1 + N(e)2]} n = ukuran sampel N = ukuran populasi
e = nilai kritis (batas ketelitian) yang diinginkan (persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel populasi) ditentukan sebesar 5 persen
Data Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang berada di Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur dan Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut diperoleh jumlah populasi petani sebanyak 1.426. Berdasarkan rumus Slovin tersebut diperoleh perhitungan sebagai berikut:
n = {1.426/[1 + 1.426 (0,05)2]} n = 1.426/4,565
n = 302,38 atau dibulatkan menjadi 302
Rincian jumlah populasi petani dan sampel penelitian ditampilkan pada Tabel 6. Dengan demikian jumlah sampel sebanyak 302 petani responden di lokasi penelitian yang diambil secara acak stratifikasi telah memenuhi persyaratan untuk dilakukan uji statistik. Stratifikasi dipilah berdasarkan petani adopter dan petani non adopter. Keseluruhan petani (di Cianjur dan Garut) anggota kelompok tani yang ikut serta dalam program usahatani terpadu dan menerapkan teknologi tersebut dalam penelitian ini disebut petani adopter. Fakta di lapangan yang dimaksud dengan petani adopter ialah petani kooperator Prima Tani. Petani yang
tidak masuk dalam anggota kelompok tani dan tidak ikut serta dalam program usahatani terpadu disebut petani non adopter (petani non kooperator Prima Tani).
Tabel 6 Jumlah populasi petani dan sampel penelitian di lokasi penelitian
Populasi Petani Sampel Petani
Lokasi
Penelitian Adopsi1) Non
adopsi
Total2) Adopsi Non adopsi Total (1) Kab. Cianjur Kec. Cugenang - Desa Talaga 103 223 326 46 47 93 (2) Kab. Garut Kec. Pakenjeng - Desa Jatiwangi 190 910 1.100 91 118 209 Total 293 1.133 1.426 137 165 302
Sumber: 1) BPTP Jawa Barat (data diolah)
2)
BPP Kecamatan Cugenang dan BPP Kecamatan Pakenjeng
Termonilogi lahan marjinal dalam penelitian ini dibatasi pada lahan kering. Secara umum lahan kering, lahan pasang surut, dan sawah tadah hujan mempunyai produktivitas yang relatif rendah dibandingkan dengan sawah irigasi. Oleh karena itu, ketiga agro ekosistem ini sering digolongkan ke dalam kelompok lahan marjinal (Swastika et al., 2006). Sesuai dengan istilah sebagai lahan marjinal, berbagai masalah yang menyebabkan produktivitas rendah dijumpai di agro ekosistem ini. Lahan kering mempunyai lapisan solum yang tipis dengan kandungan hara yang rendah, serta topografi yang bergelombang, sehingga rentan terhadap erosi. Makin sering terjadi erosi makin kritis kondisi lahan, sehingga makin tidak produktif.
Data dan Instrumentasi Data
Data dikumpulkan berdasarkan karakteristik data, yakni data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data utama yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian, sedangkan data sekunder merupakan data pelengkap. Data primer dikumpulkan langsung dari petani responden melalui wawancara. Data dari sumber lain (informan kunci) seperti penyuluh, ketua kelompok tani dan pamong desa atau tokoh masyarakat lain diperoleh melalui wawancara
mendalam, yang bersifat sebagai data pendukung atau untuk verifikasi. Wawancara mendalam (in depth interview) merupakan wawancara yang dilakukan secara intensif kepada informan, sehingga terelaborasi beberapa elemen dalam jawaban informan, yakni opini, nilai-nilai (values), motivasi, pengalaman-pengalaman maupun perasaan informan. Dalam wawancara mendalam, peneliti memperhatikan jawaban verbal maupun respon-respon non verbal dari informan. Selain itu juga dilakukan pengamatan partisipatif.
Cakupan data primer terdiri atas data kuantitatif (jawaban pertanyaan terstruktur dalam kuisioner yang berbentuk angka) dan data kualitatif (data penjelas dari fenomena yang diamati, baik yang diperoleh dari petani responden maupun informan kunci, berupa kalimat atau gambar). Data sekunder diperoleh dari instansi, seperti: Kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Kantor Desa dan Badan Pusat Statistik (BPS). Berbagai bahan atau studi yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan pertanian marjinal diperoleh dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Data sekunder yang berasal dari sumber-sumber tertulis yang diinterpretasikan, dapat dikategorikan sebagai data kualitatif (Nawawi dan Hadari, 2006).
Instrumentasi
Instrumen penelitian ini berupa kuesioner yang berisi daftar pertanyaan terstruktur yang berkaitan dengan peubah-peubah yang diteliti. Penelitian dipandang ilmiah bila instrumen yang digunakan memenuhi persyaratan kesahihan (validitas), keterandalan (reliabilitas) dan dapat dipertanggungjawabkan (Kerlinger,2000; Nawawi dan Hadari, 2006).
Kesahihan dan Keterandalan Kesahihan
Kesahihan (validitas) menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Bila seseorang ingin mengukur berat suatu benda, maka dia harus menggunakan timbangan. Timbangan adalah alat pengukur yang sahih (valid) bila digunakan untuk mengukur berat, karena timbangan
memang mengukur berat. Menurut Kerlinger (2000), tipe kesahihan dibedakan atas: (1) kesahihan isi, (2) kesahihan kriteria, dan (3) kesahihan konstrak.
Penelitian ini menggunakan kesahihan isi. Mengacu pada pendapat Ancok (1995), bahwa suatu alat ukur dikatakan sahih atau valid bila alat ukur tersebut dapat digunakan untuk mengukur secara tepat konsep yang sebenarnya akan diukur. Kesahihan isi suatu alat pengukur ditentukan oleh isi alat pengukur tersebut yang merepresentasikan semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep. Data dengan tingkat kesahihan tinggi diharapkan dapat diperoleh dari daftar pertanyaan yang memenuhi kriteria:
(1) Mempelajari teori-teori yang relevan dengan substansi penelitian dan kenyataan yang telah diungkapkan di berbagai kepustakaan.
(2) Menyesuaikan isi pertanyaan dengan kondisi responden.
(3) Memperhatikan masukan dari para ahli, terutama dari Komisi Pembimbing (4) Melakukan uji coba instrumen (daftar pertanyaan) kepada responden yang
memiliki karakteristik mirip dengan karakteristik petani contoh. Selanjutnya melakukan perbaikan daftar pertanyaan sesuai dengan hasil uji coba.
Keterandalan
Keterandalan (reliabilitas) merupakan indeks yang menunjukkan suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Bila suatu alat ukur digunakan dua kali, untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat pengukur tersebut terandal. Keterandalan menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama (Ancok, 1995). Uji keterandalan yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik belah dua (split half reliability) dengan menggunakan program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 15.0.
Pengujian kesahihan dan instrumen keterandalan dilakukan terhadap 30 petani responden yang memiliki karakteristik yang setipe lokasi penelitian. Hasil uji kesahihan menunjukkan nilai koefisien korelasi hitung yang tertera pada Tabel 7 dibandingkan dengan angka kritik nilai-r (pada db = 28) lebih tinggi. Angka kritik pada taraf nyata satu persen dan lima persen, masing-masing sebesar 0,463 dan 0,361. Dengan memperhatikan nilai koefisien korelasi, maka
pernyataan-pernyataan dalam instrumen memiliki kesahihan isi yang sahih dan terandal, sehingga instrumen yang telah diujicoba, dapat digunakan dalam kegiatan penelitian.
Tabel 7 Hasil uji kesahihan dan keterandalan instrumen penelitian dengan teknik belah dua
No. Peubah Kisaran nilai koefisien
korelasi (per item pertanyaan)
Keterandalan
(1) Perilaku komunikasi petani (X2) 0,444 – 0,775* 0,9035
(2) Dukungan iklim usaha (X3) 0,449 – 0,859** 0,8980
(3) Persepsi petani terhadap penyuluhan (X4)
0,407 – 0,853* 0,8877
(4) Persepsi petani terhadap ciri-ciri inovasi (X5)
0,419 – 0,878* 0,8981
(5) Pengaruh media/informasi (X6) 0,369 – 0,710* 0,7760
Keterangan: ** nyata pada taraf α = 0,01 * nyata pada taraf α = 0,05
Peubah Penelitian
Terdapat enam peubah bebas dan dua peubah terikat yang diukur. Keenam peubah bebas tersebut adalah:
X1 = Karakteristik petani (karakteristik sosial ekonomi dan karakteristik pribadi
petani),
X2 = Perilaku komunikasi petani,
X3 = Dukungan iklim usaha,
X4 = Persepsi petani terhadap penyuluhan,
X5 = Persepsi petani terhadap ciri-ciri inovasi,
X6 = Persepsi petani terhadap pengaruh media/informasi.
Peubah terikat dalam penelitian ini adalah: Y1 = Keputusan adopsi inovasi teknologi,
Definisi Operasional dan Pengukuran Peubah
Definisi operasional peubah dimaksudkan untuk memberikan batasan yang jelas, sehingga memudahkan dalam melakukan pengukuran. Definisi operasional dan pengukuran peubah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
(1) Karakteristik petani mencakup karakteristik sosial ekonomi petani dan karakteristik pribadi petani. Karakteristik sosial ekonomi petani merupakan hal yang melekat pada diri petani. Peubah ini meliputi umur, pendidikan (formal dan non formal), status sosial, tingkat mobilitas dan luas lahan (Tabel 8):
(a) Umur petani dihitung dalam jumlah tahun sejak lahir sampai ulang tahun terdekat dengan waktu penelitian dilakukan.
(b) Pendidikan formal adalah lama pendidikan yang ditempuh di bangku sekolah, yang dihitung dalam jumlah tahun.
(c) Pendidikan non formal adalah frekuensi mengikuti pendidikan di luar bangku sekolah, yang diukur dari jumlah mengikuti kegiatan penyuluhan ataupun plot demonstrasi. Kegiatan penyuluhan merupakan pertemuan yang dilakukan dengan penyuluh, baik berupa ceramah, diskusi maupun tanya jawab di bidang usahatani pertanian dalam periode waktu satu tahun terakhir saat penelitian dilakukan. Kegiatan plot demonstrasi terkait dengan keterlibatan responden dalam pelaksanaan plot demonstrasi maupun kehadiran dalam temu lapang di bidang usahatani pertanian dalam periode waktu satu tahun terakhir saat penelitian dilakukan.
(d) Tingkat pendapatan merupakan besarnya perolehan penghasilan dari kegiatan berusahatani, termasuk berburuh tani (on farm) dan kegiatan usaha lain di luar pertanian (off farm).
(e) Tingkat mobilitas petani diukur berdasarkan frekuensi petani bepergian ke luar desa terkait dengan kegiatan usahatani dalam satu tahun terakhir. (f) Luas lahan merupakan luasan pengusahaan lahan garapan petani, yang
mencakup luas penguasaan lahan (milik), maupun luasan garapan bukan milik (sewa, ataupun sakap), yang dinyatakan dalam satuan hektar.
(g) Daya beli saprodi merupakan tingkat kemampuan atau keterjangkauan petani secara ekonomis dalam membeli benih/bibit, pupuk dan pestisida.
Tabel 8 Sub-peubah, indikator dan pengukuran karakteristik petani
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
A. Karakteristik sosial ekonomi
(1) Umur Lama tahun
kehidupan
Dihitung dalam jumlah tahun sejak lahir sampai ulang tahun terdekat dengan waktu penelitian dilakukan
(2) Pendidikan - Pendidikan formal - Pendidikan non formal Lama pendidikan yang ditempuh petani di bangku sekolah Frekuensi petani mengikuti pendidikan di luar bangku sekolah
Jumlah tahun selama mengikuti pendidikan formal
- Frekuensi petani mengikuti ceramah, diskusi ataupun tanya jawab dengan penyuluh yang terkait dengan usaha-tani perusaha-tanian dalam periode satu tahun terakhir saat penelitian dilakukan.
- Frekuensi petani dalam keterlibatan pelaksanaan plot demonstrasi, frekuensi petani hadir dalam temu lapang di bidang usahatani pertanian dalam periode waktu satu tahun terakhir saat penelitian dilakukan. (3) Tingkat
pendapatan
Sumber pengha-silan dari pertanian dan di luar
pertanian
Besarnya perolehan penghasilan dari kegiatan berusahatani (termasuk berburuh tani) dan kegiatan di luar pertanian dari seluruh anggota keluarga dalam satu tahun terakhir
(4) Tingkat mobilitas Frekuensi petani ke luar desa - Pembelian saprodi - Penjualan produk
Diukur berdasarkan frekuensi petani bepergian ke luar desa dan jarak tempuh terkait dengan kegiatan usahatani (pembelian saprodi dan penjualan produk) dalam satu tahun terakhir (5) Luas lahan Luasan
pengusahaan lahan garapan petani
Diukur berdasarkan luas penguasaan lahan (milik), maupun luasan garapan bukan milik (sewa, ataupun sakap), yang dinyatakan dalam satuan hektar (6) Daya beli
saprodi
Kemampuan membeli saprodi
Kemampuan petani dalam membeli benih/bibit, pupuk dan obat-obatan yang dilakukan secara tunai
Tabel 8 (lanjutan)
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
B. Karakteristik pribadi petani (1) Tingkat rasionali-tas - Kemampuan petani dalam menilai suatu teknologi baru yang diperkenalkan
- Penilaian petani terhadap teknologi usahatani terpadu, baik penilaian negatif/merugikan, positif/ meng-untungkan, maupun kemungkinan merugikan namun juga menguntungkan (2) Tingkat
intelegensi
- Kemampuan petani dalam hal mempertimbang-kan penerapan teknologi baru dan memprediksi manfaatnya
- Kemampuan petani memper-timbangkan pilihan yang ada dalam mengelola usahatani
- Kemampuan petani dalam memprediksi manfaat penerapan teknologi
(3) Sikap terhadap perubahan Kecenderungan sikap petani terhadap teknologi usahatani terpadu Diukur berdasarkan:
- Tingkat penerimaan petani terhadap teknologi usahatani terpadu: (1) adaptif (langsung menerima), (2) melihat dulu yang dilakukan petani lain (menerima dengan cara meniru), (3) ragu-ragu (tidak yakin meskipun telah melihat hasil petani lain), (4) menolak perubahan inovasi teknologi - Tingkat keyakinan petani terhadap
peningkatan pendapatan bila menerapkan teknologi usahatani terpadu. (4) Tingkat keberanian beresiko Tingkat keberanian petani dalam menanggung suatu kejadian yang buruk
Diukur berdasarkan tingkat keberanian dalam:
- Mengganti sarana produksi - Menambah/mengurangi jenis
komoditas yang diusahakan - Menjual hasil langsung ke pasar - Mengembangkan skala usahatani - Mengambil kredit dari bank untuk
menambah modal usahatani
Karakteristik pribadi petani merupakan ciri-ciri bawaan berupa kemampuan dalam menampilkan diri. Peubah ini meliputi: tingkat rasionalitas, tingkat intelegensi, sikap terhadap perubahan, tingkat keberanian mengambil resiko:
(a) Tingkat rasionalitas merupakan kemampuan berpikir petani yang diwujudkan dalam bentuk pendapat afirmatif (positif), pendapat negatif, dan pendapat modalitas (kemungkinan-kemungkinan); serta ungkapan perasaan yang dinyatakan dalam sikap petani, terkait dengan inovasi teknologi usahatani terpadu.
(b) Tingkat intelegensi merupakan kemampuan dalam menetapkan dan mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu, punya inisiatif sendiri (tidak menunggu perintah), dapat menyesuaikan cara-cara menghadapi sesuatu dengan semestinya, makin dapat bersikap kritis, mempunyai kemampuan belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya. (c) Sikap terhadap perubahan, diukur berdasarkan kecenderungan petani
selalu memperbarui diri, terbuka pada hal-hal baru dan giat mencari informasi, percaya atau tidaknya petani terhadap kegunaan inovasi teknologi usahatani terpadu, penilaian positif petani terhadap inovasi teknologi usahatani terpadu yang diperkenalkan.
(d) Tingkat keberanian mengambil resiko merupakan tingkat keberanian petani dalam menanggung terjadinya suatu kejadian buruk yang disebabkan oleh suatu tindakan.
(2) Perilaku komunikasi petani merupakan upaya petani mencari informasi tentang teknologi yang dianggap sesuai dengan kondisi sosial ekonomi dan lingkungan, termasuk kemampuan dalam menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan usahatani, penanganan pascapanen, maupun kegiatan pemasaran (Tabel 9). Peubah ini meliputi: kerjasama, tingkat kekosmopolitan, keterdedahan terhadap media, yang merupakan sub peubah.
(a) Kerjasama merupakan kemampuan petani dalam menjalin kerjasama dengan pihak lain, dilihat dari sikap keaktifan dan keuntungan yang dirasakan petani, baik yang terkait dengan kegiatan usahatani, penanganan pascapanen, maupun kegiatan pemasaran.
(b) Tingkat kekosmopolitan merupakan tingkat keterbukaan petani yang berorientasi ke luar sistem sosial dengan hubungan interpersonal yang luas.
(c) Keterdedahan terhadap mediamerupakan frekuensi keterjangkauan pesan melalui media massa dalam satu bulan terakhir dilihat dari jumlah jam yang dibutuhkan untuk mendapatkan informasi dari media massa, baik dari media cetak seperti dari surat kabar, buletin, brosur, leaflet, majalah dan, buku petunjuk teknis usahatani maupun dari media elektronik seperti dari televisi dan radio, yang terkait dengan kegiatan usahatani ataupun inovasi teknologi usahatani terpadu.
Tabel 9 Sub-peubah, indikator dan pengukuran perilaku komunikasi petani
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
(1) Kerjasama Kemampuan dalam
menjalin hubungan kerjasama dengan pihak lain
Intensitas hubungan petani dengan pedagang (input/saprodi dan output/produk), pengolah/ perusahaan, lembaga
pembiayaan, penangkar benih, kelompok tani, dan penyuluh (2) Tingkat
kekos-mopolitan
Orientasi ke luar sistem sosial dengan hubungan interpersonal yang luas
Frekuensi petani bepergian ke luar desa dalam mengakses informasi: (1) pasar (harga saprodi, harga jual produk, komoditas yang dibutuhkan konsumen), (2) pencarian teknologi yang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan petani; serta (3) kompetisi usaha lain (3) Keterdedahan
terhadap media
Keterjangkauan petani terhadap informasi teknologi usahatani melalui media massa, yang dibedakan atas: − Media elektronik:
televisi, dan radio. − Media cetak: surat
kabar, buletin, brosur, leaflet, majalah mau-pun buku petunjuk teknis usahatani
Diukur berdasarkan jumlah jam dalam satu bulan terakhir saat penelitian dilakukan, yang dibutuhkan untuk mendapatkan informasi teknologi usahatani dari media massa, baik elektronik maupun cetak
(2) Dukungan iklim usaha, sebagai wadah proses pembelajaran, wahana kerjasama, unit penyedia sarana dan prasarana produksi, unit pemasaran dan unit jasa penunjang (keuangan) yang berfungsi mendukung kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani (Tabel 10). Komponen dukungan iklim usaha diuraikan sebagai berikut:
(a) Ketersediaan input (sarana produksi): kemudahan petani dalam memperoleh benih atau bibit, pupuk, dan obat-obatan, baik melalui kios sarana produksi maupun kelompok tani.
(b) Ketersediaan fasilitas keuangan: kemudahan petani dalam mengakses peminjaman modal usaha pada lembaga keuangan (KUD maupun Bank). (c) Ketersediaan sarana pemasaran: kemudahan petani dalam memasarkan
produk yang dihasilkan, dengan tersedianya sarana pengangkutan, prasarana jalan yang memadai dan pasar.
Tabel 10 Sub-peubah, indikator dan pengukuran dukungan iklim usaha
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
(1) Ketersediaan input
Adanya kios saprodi yang mudah dijangkau petani
- Tingkat kemudahan petani dalam mendapatkan benih/bibit, pupuk dan obat-obatan
- Jarak tempat penjualan saprodi dari lahan petani
(2) Ketersediaan fasilitas keuangan
Akses petani terhadap permodalan
- Prosedur peminjaman ke lembaga keuangan (koperasi, perbankan, Lembaga Perkreditan Desa) - Jaminan pinjaman yang harus
dipenuhi petani
- Tingkat suku bunga per tahun (3) Ketersediaan
sarana pemasaran
Adanya alat
transportasi, prasarana jalan dan pasar
(tempat transaksi jual beli)
- Kualitas jalan dari lahan petani ke pasar terdekat (aspal, makadam, berbatu, tanah)
- Jenis alat transportasi yang ada ke pasar terdekat
- Lokasi pasar (desa, kecamatan, kabupaten)
(3) Persepsi petani terhadap penyuluhan. Penyuluhan merupakan kegiatan (proses) pembelajaran bagi petani, agar petani mau dan mampu menolong serta mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya (Tabel 11): (a) Persepsi petani terhadap kompetensi penyuluh: penilaian petani terhadap
kemampuan yang melekat pada diri penyuluh berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki.
(b) Persepsi petani terhadap peran penyuluh: penilaian petani terhadap peran penyuluh dalam melakukan kegiatan usahatani.
(c) Persepsi petani terhadap materi penyuluhan: penilaian petani terhadap materi/bahan penyuluhan yang disampaikan oleh penyuluh kepada petani, baik tentang usahatani maupun informasi yang dibutuhkan petani.
(d) Persepsi petani terhadap metode penyuluhan: penilaian petani terhadap cara-cara penyuluh menyampaian materi penyuluhan kepada para petani, baik melalui media atau komunikasi interpersonal berupa ceramah, diskusi kelompok, dialog/tanya jawab antara petani-penyuluh, maupun plot demonstrasi.
Pengukuran persepsi menggunakan skala Likert: 1 (tidak setuju), 2 (kurang setuju), 3 (setuju), dan 4 (sangat setuju), kemudian data dikategorikan menjadi tiga: 1 (rendah) = tidak setuju-kurang setuju (1,00-2,00); 2 (sedang) = kurang setuju-setuju (2,01-3,00); dan 3 (tinggi) = setuju-sangat setuju (3,01-4,00). (4) Persepsi petani terhadap ciri-ciri inovasi menunjukkan penilaian petani
terhadap lima ciri-ciri inovasi. Petani adopter menilai teknologi usahatani terpadu, sedangkan petani non adopter menilai teknologi lokal (Tabel 12): (a) Keuntungan relatif merupakan penilaian petani terhadap inovasi yang
diukur dalam bentuk keuntungan ekonomi, biaya awal yang rendah, berkurangnya ketidaknyamanan, prestise sosial, hemat tenaga dan waktu serta imbalan yang dapat segera diperoleh.
(b) Kesesuaian suatu inovasi dilihat berdasarkan nilai-nilai dan kepercayaan sosiobudaya petani, teknologi yang telah diterapkan sebelumnya, dan kebutuhan petani akan inovasi.
Tabel 11 Sub-peubah, indikator dan pengukuran penyuluhan
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
(1) Kompetensi penyuluh Persepsi petani terhadap tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki penyuluh
Penilaian petani terhadap kemampuan penyuluh, baik pengetahuan, sikap dan keterampilan yang melekat pada diri penyuluh
− Pengetahuan: memiliki informasi dengan wawasan yang luas (inovasi, metode dan teknik, potensi sumberdaya, kebutuhan dan permasalahan serta budaya
masyarakat)
− Sikap: positif terhadap diri sendiri, keberpihakan pada keadilan, egaliter, partisipatif dan dialogis
− Keterampilan: kemampuan berkomuni-kasi secara efektif, membangun kerja- sama, mengembangkan inovasi secara berkelanjutan, memiliki motivasi dalam mengembangkan kemampuan petani (2) Peran penyuluh Persepsi petani terhadap peran penyuluh pada kegiatan usahatani petani
Penilaian petani terhadap peran penyuluh dalam:
− Mendiagnosis masalah petani − Mengidentifikasi kebutuhan petani − Memotivasi petani untuk berubah − Membangun dan memelihara hubungan
dengan sistem sosial petani
− Mendorong petani untuk mengadopsi inovasi
− Mendorong petani mengembangkan skala usaha (3) Materi penyuluhan Persepsi petani terhadap materi penyuluhan yang disampaikan penyuluh
Penilaian petani terhadap kesesuaian materi penyuluhan (seperti: informasi ataupun teknologi usahatani pertanian) yang disampaikan penyuluh dengan kebutuhan petani (4) Metode penyuluhan Persepsi petani terhadap metode penyuluhan yang digunakan penyuluh
Penilaian petani terhadap metode yang digunakan penyuluh (ceramah, diskusi kelompok, dialog/tanya jawab, petak percontohan/plot demonstrasi ataupun penggunaan media: OHP, video, poster, brosur/leaflet, film, LCD-P)
Tabel 12 Sub-peubah, indikator dan pengukuran persepsi petani terhadap ciri- ciri inovasi
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
(1) Keuntungan relatif
Persepsi petani terhadap suatu inovasi dianggap lebih baik daripada ide sebelumnya
Diukur berdasarkan penilaian petani terhadap:
- Keuntungan ekonomi - Biaya awal yang rendah
- Berkurangnya ketidaknyamanan - Prestise (kebanggaan) sosial - Hemat waktu dan tenaga - Imbalan yang segera didapat (2) Kesesuaian Persepsi petani terhadap
suatu inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada,
pengalaman masa lalu, dan kebutuhan potensial petani
Diukur berdasarkan penilaian petani terhadap kesesuaian teknologi dengan:
- Nilai-nilai sosiobudaya
- Ide-ide yang telah diperkenalkan sebelumnya
- Kebutuhan petani akan inovasi (3) Kerumitan Persepsi petani terhadap
tingkat kerumitan suatu inovasi
Diukur berdasarkan penilaian petani terhadap:
- Komponen teknologi - Teknis penerapan
- Keterbatasan sumberdaya (lahan, modal, tenaga kerja)
(4) Dapat diujicoba
Persepsi petani terhadap suatu inovasi untuk dapat dicoba dengan skala yang terbatas
Diukur berdasarkan penilaian petani terhadap:
- Kemudahan petani dalam melakukan ujicoba pada skala yang terbatas (sempit)
- Cara petani bekerja dengan kondisi yang ada pada dirinya (5) Dapat
diamati
Persepsi petani terhadap suatu inovasi untuk dapat dilihat oleh orang lain
Diukur berdasarkan penilaian petani terhadap:
- Kemudahan petani mengamati hasil yang dicapai dalam penerapan inovasi teknologi - Keunggulan teknologi yang
diperkenalkan dengan teknologi sebelumnya
- Dapat dikomunikasikan kepada masyarakat luas
(c) Kerumitan inovasi diukur berdasarkan pandangan petani terhadap tingkat kesulitan dalam memahami dan menerapkan inovasi teknologi usahatani. (d) Dapat diujicoba, diukur berdasarkan kemudahan petani dalam melakukan
ujicoba dan cara petani bekerja dengan kondisi yang ada pada dirinya. (e) Dapat diamati merupakan tingkat kemudahan bagi petani dalam
mengamati hasil yang dicapai dalam penerapan inovasi teknologi dan dapat dikomunikasikan kepada masyarakat luas.
Pengukuran persepsi menggunakan skala Likert: 1 (tidak setuju), 2 (kurang setuju), 3 (setuju), dan 4 (sangat setuju), kemudian data dikategorikan menjadi tiga: 1 (rendah) = tidak setuju-kurang setuju (1,00-2,00); 2 (sedang) = kurang setuju-setuju (2,01-3,00); dan 3 (tinggi) = setuju-sangat setuju (3,01-4,00). (5) Persepsi petani terhadap pengaruh media/informasi (Tabel 13):
(a) Media massa merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan inovasi, berupa media cetak (leaflet, brosur, buku, dan surat kabar) atau media elektronik (radio, televisi, telepon genggam dan internet).
(b) Interpersonal merupakan kontak atau pertemuan tatap muka antara dua orang atau lebih yang terkait dengan penyampaian informasi tentang inovasi (pertemuan kelompok, perbincangan antar petani, diskusi atau tanya jawab antara petani dan penyuluh).
Pengukuran persepsi menggunakan skala Likert: 1 (tidak setuju), 2 (kurang setuju), 3 (setuju), dan 4 (sangat setuju), kemudian data dikategorikan menjadi tiga: 1 (rendah) = tidak setuju-kurang setuju (1,00-2,00); 2 (sedang) = kurang setuju-setuju (2,01-3,00); dan 3 (tinggi) = setuju-sangat setuju (3,01-4,00). (6) Keputusan adopsi teknologi merupakan tahap penentuan petani dalam
merespon inovasi teknologi yang dianjurkan. Terdapat dua keputusan yang dilakukan petani, yakni mengadopsi dan tidak mengadopsi teknologi yang dianjurkan (Tabel 14). Dengan berjalannya waktu, petani yang mengadopsi dapat terus berlanjut mengadopsi ataupun berhenti mengadopsi dengan berbagai alasan. Demikian halnya dengan petani yang tidak mengadopsi teknologi yang dianjurkan, ada dua kemungkinan keputusan petani, yakni mengadopsi dan menolak.
Tabel 13 Sub-peubah, indikator dan pengukuran persepsi petani terhadap pengaruh informasi/media
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
(1) Media massa Persepsi petani terhadap perubahan pengetahuan
Diukur berdasarkan penilaian petani terhadap: pengaruh media cetak (leaflet, brosur, buku, dan surat kabar) maupun media elektronik (radio, televisi, telepon genggam dan internet) terhadap kegiatan berusahatani
(2) Interpersonal Persepsi petani terhadap perubahan dan pembentukan sikap
Diukur berdasarkan penilaian petani terhadap: pengaruh penyuluh, tokoh masyarakat, pedagang, maupun sesama petani terhadap kegiatan berusahatani
Tabel 14 Sub-peubah, indikator dan pengukuran keputusan
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
(1) Adopsi - Adopsi
(berlanjut) - Menolak
(berhenti)
Diukur berdasarkan manfaat yang diperoleh petani dari penerapan teknologi usahatani terpadu yang dianjurkan
(2) Tidak mengadopsi
- Adopsi - Menolak
Diukur berdasarkan tingkat pengetahuan petani terhadap teknologi usahatani terpadu (3) Penentuan komoditas - Penggunaan sumberdaya (lahan, tenaga kerja dan modal)
Diukur berdasarkan pertimbangan petani dalam menentukan komoditas yang diusahakan (4) Penggunaan saprodi Kesesuaian penggunaan saprodi dengan rekomendasi penyuluh
Diukur berdasarkan pertimbangan petani dalam menggunakan sarana produksi
(7) Kinerja usahatani, diukur berdasarkan produktivitas, orientasi usaha dan penanganan hasil atau penanganan pascapanen yang dilakukan petani dalam kegiatan usahatani di lahan kering marjinal (Tabel 15). Pengukuran
produktivitas produk yang dihasilkan petani didekati dengan cara membandingkan antara produktivitas aktual di tingkat petani dengan produktivitas potensial. Untuk mengetahui kontribusi pendapatan usahatani terhadap pemenuhan kebutuhan hidup, dilakukan perhitungan antara pendapatan usahatani dengan tingkat pengeluaran rumah tangga dalam satu tahun. Semakin tinggi produktivitas, orientasi usaha yang telah mengarah komersial, dan penanganan hasil ke produk olahan yang memberikan nilai tambah bagi petani, maka kinerja usahatani petani tergolong tinggi.
Tabel 15 Sub-peubah, indikator dan pengukuran kinerja usahatani
Sub-Peubah Indikator Pengukuran
(1) Produktivitas petani
Produksi per hektar - Produksi per hektar komoditas yang dominan diusahakan petani - Tingkat pendapatan usahatani (on
farm) dan di luar pertanian (off-farm) dibandingkan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga dalam satu tahun
(2) Orientasi usaha
Usahatani telah mengarah komersial atau masih subsisten
- Produk yang dihasilkan telah dijual ke pasar atau hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup - Pengetahuan tentang jenis dan
mutu produk yang diinginkan pembeli (3) Penanganan hasil - Penanganan pascapanen - Jenis produk
- Upaya yang dilakukan petani setelah panen
- Jenis produk yang dipasarkan: bahan mentah, setengah jadi atau bentuk olahan
Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini mencakup: (1) analisis statistik deskriptif, dan (2) analisis statistik inferensial. Analisis data deskriptif dilakukan melalui statistik deskriptif, yakni statistik yang berfungsi mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti (petani lahan kering marjinal) tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Analisis statistik deskriptif
mencakup: (1) distribusi frekuensi dan (2) rasio Odds. Analisis data inferensial dilakukan dengan statistik inferensial, yakni statistik yang berfungsi mengeneralisasikan hasil penelitian sampel bagi populasi (Muhidin dan Abdurahman, 2007; Sugiyono, 2009). Analisis statistik inferensial yang digunakan meliputi analisis: (1) korelasi Pearson, (2) regresi ganda, dan (3) analisis jalur.
Dalam penelitian ini tingkat kesalahan (alpha/α) ditentukan sebesar 15 persen. Beberapa penelitian sosial lain menggunakan tingkat kesalahan hingga 20 persen (Cahyono et al., 2006; Aritonang, 2009). Dalam ilmu sosial, tingkat kesalahan yang sering digunakan adalah 1 persen, 5 persen atau 10 persen. Pada dasarnya seorang peneliti bebas menentukan berapa besar tingkat kesalahan yang akan digunakan (Candrawita, 2010). Perbedaan nilai alpha antara lain disebabkan ukuran sampel dan seberapa besar pengaruh luar (di luar yang bisa dikontrol atau di luar peubah yang masuk dalam model) terhadap respon peneliti.
Analisis Korelasi Pearson
Analisis ini digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan dua peubah dengan skala data interval atau rasio. Data dalam penelitian ini yang berskala ordinal ditransformasi menjadi data interval dengan menggunakan Method of Successive Interval (MSI) (Muhidin dan Abdurahman, 2007). Tahapan dalam melakukan transformasi dengan MSI adalah:
(1) Menghitung frekuensi responden yang memberikan respon terhadap alternatif jawaban yang tersedia.
(2) Menghitung proporsi dengan membagi setiap frekuensi dengan jumlah responden.
(3) Menghitung proporsi kumulatif dengan menjumlahkan proporsi secara berurutan untuk setiap respon.
(4) Menghitung nilai Ztab untuk setiap proporsi kumulatif yang diperoleh, dengan
menggunakan Tabel Distribusi normal baku.
(5) Menghitung nilai densitas untuk setiap nilai Z yang diperoleh (dari Tabel) dengan rumus: ) ( 5 , 2 2 1 ) (Z e o z f = −
π
(6) Menghitung nilai skala (NS) dengan menggunakan rumus: Density at lower limit – Density at upper limit NS =
Area under upper limit – Area under lower limit
(7) Menentukan nilai transformasi (Y) dengan rumus: Y = NS + k
k = 1 + | NS min|
Data ordinal yang telah ditransformasi menjadi data interval dapat dianalisis dengan korelasi product moment Pearson. Rumus yang digunakan adalah:
Analisis Regresi Ganda
Analisis regresi ganda merupakan analisis statistika yang memanfaatkan hubungan antara dua atau lebih peubah kuantitatif, sehingga salah satu peubah dapat diramalkan dari peubah lain. Model regresi sederhana:
Yi = β0 + β1 Xi + εi ; i = 1, 2, ..., n β0 = nilai rataan Y pada X
β1 = perubahan nilai Y untuk setiap kenaikan X satu satuan
Salah satu ukuran kebaikan model adalah R2 (koefisien determinasi: % keragaman Y yang mampu dijelaskan oleh X).
Analisis Jalur (Path Analysis)
Analisis jalur (path analysis) merupakan suatu bentuk terapan dari analisis multi-regresi. Diagram jalur digunakan untuk membantu konseptualisasi masalah atau menguji hipotesis yang kompleks. Dengan menggunakan analisis ini dapat dihitung pengaruh langsung dan tidak langsung dari peubah-peubah bebas terhadap suatu peubah terikat. Pengaruh-pengaruh tersebut tercermin dari koefisien jalur (path coefficients) yang sesungguhnya adalah koefisien yang telah dibakukan (beta, β). Selain itu, analisis ini dapat digunakan untuk menguji
∑
∑
∑
∑
∑
− − − = ) ) ( )( ) ( ( ) )( ( 2 2 2 2 i i i i i i i i xy y y n x x n y x y x n rberbagai model jalur untuk mengetahui kongruensinya dengan data yang teramati (Kerlinger, 2000). Penggunaan analasis jalur didasarkan pada beberapa asumsi (MacDonald, 1977; Sugiyono, 2009):
a. Hubungan antar peubah berbentuk linier, aditif dan kausal.
b. Peubah-peubah residual tidak berkorelasi dengan peubah yang lebih dahulu, dan tidak juga berkorelasi dengan peubah yang lain.
c. Model hubungan peubah hanya terdapat jalur kausal/sebab-akibat searah. d. Data setiap peubah yang dianalisis paling tidak berada pada tingkat
pengukuran interval.
Model spesifik dari path analysis dijelaskan seperti pada Gambar 4, dengan persamaan sebagai berikut:
Persamaan 1: X4 = b11 X1 + b12 X2 + b13 X3 + e1
Persamaan 2: X3 = b21 X1 + b22 X2 + e2
Persamaan 3: X2 = b31 X1 + e1
Gambar 4 Model spesifik dari path analysis (Bryman dan Gramer, 1990)
Model dalam penelitian ini dijelaskan seperti pada Gambar 5, dengan persamaan sebagai berikut:
Persamaan 1: X4 * = b1 X1* + b2 X2* + b3 X3*
Persamaan 2: X5* = b1 X1* + b2 X2* + b3 X3* + b4 X4*∧
Persamaan 3: Y1 * = b5 X5 * + b6 X6 *
Persamaan 4: Y2 * = b1 Y1 *
Keterangan: b = Koefisien jalur
* = menunjukkan bahwa peubah tersebut sudah ditransformasi normal baku dengan rumus: X4 X1 X2 X3 X* = (X – X )/Sx
Keterangan: X1 = Karakteristik petani; X2 = Perilaku komunikasi petani; X3 = Dukungan iklim
usaha; X4 = Persepsi petani terhadap penyuluhan; X5 = Persepsi petani terhadap
ciri-ciri inovasi; X6= Persepsi petani terhadap pengaruh media/informasi; Y1 = Keputusan
adopsi inovasi teknologi; Y2 = Kinerja usahatani di tingkat petani
Gambar 5 Model pengaruh antar peubah dalam penelitian
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan komputer untuk menjamin tingkat akurasi perhitungan. Transformasi data dari ordinal ke interval menggunakan program Microsoft Office Excel 2003. Uji korelasi Pearson, regresi ganda dan analisis jalur menggunakan program Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 15.0. X1 X2 X3 X4 X5 Y1 Y2 X6