THE DEVELOPMENT OF WORLD EDUCATION PSYCHOLOGY
FOR MODERN EDUCATIONAL PSYCHOLOGY
Educational psychology is a discipline that is concerned with the learning process and the application of methods and psychological theories in the education process. Woolfol (1995: 11) affirms educational psychology as the discipline corcerned with teachi
processes, applies the method and theories of psychology and has its own as well. Learning in question is an educative process that involves educators and learners as the main perpetrators. Educators play a role as a facilitator the development of learners and learners merupaka subject of learning is developing itself. The
Keywords: development, educational psychology of Indonesia.
PERKEMBANGAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DUNIA HINGGA
PSIKOLOGI PENDIDIKAN INDONESIA
Psikologi pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang peduli dengan proses pembelajaran serta penerapan metoda dan teori teori psikologi dalam proses pendidikan. Woolfol (1995:11) menegaskan educational psychology yaitu the discipline corcerned with teaching and learning processes, applies the method and theories of psychology and has its own as well. Pembelajaran yang dimaksud merupakan proses edukatif yang melibatkan pendidik dan peserta didik sebagai pelaku utamanya. Pendidik berperan berperan sebagai fasilitator terjadinya perkembangan peserta didik dan peserta didik merupaka subjek pembelajaran yang sedang
THE DEVELOPMENT OF WORLD EDUCATION PSYCHOLOGY
FOR MODERN EDUCATIONAL PSYCHOLOGY
HENDRI
[email protected] Volume 1 Nomor 3 JIPS ISSN: 2579-5449 E-ISSN: 2597-6540 ABSTRACTEducational psychology is a discipline that is concerned with the learning process and the application of methods and psychological theories in the education process. Woolfol (1995: 11) affirms educational psychology as the discipline corcerned with teaching and learning processes, applies the method and theories of psychology and has its own as well. Learning in question is an educative process that involves educators and learners as the main perpetrators. Educators play a role as a facilitator the ment of learners and learners merupaka subject of learning is developing itself. The
interaction between educators and learners happens to influence each other, especially the influence of educators on the development of learners. Within this educational f
educators attempt to select appropriate learning methods, which are appropriate to the needs of learners. Therefore, in implementing the Learning and Learning Process (PBM) an educator (teacher) must understand how important the essence and basic
educational psychology so that learners can undergo learning as possible.
development, educational psychology of Indonesia.
PERKEMBANGAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DUNIA HINGGA
PSIKOLOGI PENDIDIKAN INDONESIA MODERN
ABSTRAK
Psikologi pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang peduli dengan proses pembelajaran serta penerapan metoda dan teori-teori psikologi dalam proses pendidikan. Woolfol
ational psychology the discipline corcerned with teaching and learning processes, applies the method and theories of psychology and has its own as well. Pembelajaran yang dimaksud merupakan proses edukatif yang melibatkan pendidik dan peserta ebagai pelaku utamanya. Pendidik berperan berperan sebagai fasilitator terjadinya perkembangan peserta didik dan peserta didik merupaka subjek pembelajaran yang sedang
mengembangkan dirinya. Interaksi antara pendidik dengan peserta didik terjadi saling mempengaruhi, terutama pengaruh pendidik terhadap perkembangan peserta didik. Dalam kerangka pendidikan ini, pendidik berupaya memilih metode pembelajaran yang tepat, yakni yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu dalam melaksanakan Proses Belajar dan Pembelajaran (PBM) seorang pendidik (guru) harus memahami betapa pentingnya hakekat dan konsep
psikologi pendidikan sehingga peserta didik dapat menjalani pembelajaran sebaik mungkin.
THE DEVELOPMENT OF WORLD EDUCATION PSYCHOLOGY
FOR MODERN EDUCATIONAL PSYCHOLOGY
interaction between educators and learners happens to influence each other, especially the influence of educators on the development of learners. Within this educational framework, educators attempt to select appropriate learning methods, which are appropriate to the needs of learners. Therefore, in implementing the Learning and Learning Process (PBM) an educator (teacher) must understand how important the essence and basic concepts of educational psychology so that learners can undergo learning as possible.
PERKEMBANGAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DUNIA HINGGA
MODERN
mengembangkan dirinya. Interaksi antara pendidik dengan peserta didik terjadi saling pengaruhi, terutama pengaruh pendidik terhadap perkembangan peserta didik. Dalam kerangka pendidikan ini, pendidik berupaya memilih metode pembelajaran yang tepat, yakni yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu dalam melaksanakan Proses Belajar dan Pembelajaran (PBM) seorang pendidik (guru) harus memahami betapa pentingnya hakekat dan konsep-konsep dasar psikologi pendidikan sehingga peserta didik dapat menjalani pembelajaran sebaik mungkin.
Kata Kunci : perkembangan, psikologi pendidikan indonesia.
I PENDAHULUAN
Psikologi berasal dari bahasa inggris, yaitu psychology yang berarti roh, jiwa yang hidup dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah, psychology berarti ilmu jiwa. Berkaitan dengan makna harfiah psikologi perlu dijelaskan apakah sama antara psikologi dengan makna ilmu jiwa dengan istilah Ilmu jiwa sendiri. Arti kata kedua istilah itu berdasarkan isinya sebenarnya sama, namun secara jelas akan dilihat perbedaannya sehingga tidak salah dalam penggunaannya. Istilah psikologi yang berarti ilmu jiwa sudah sejak dahulu tidak pernah ditemukan “kata sepakat”. Sejak zaman Yunani kuno, para filosof yunani kuno telah mempelajari jiwa, namun pandangan mereka satu sama lain berbeda. Plato misalnya, mengatakan bahwa jiwa adalah ide, hipocrates berpendapat jiwa adalah karakter, sedangkan aristoteles mengartikan jiwa sebagai fungsi pengingat. Setelah itu, pada abad ke-17, Rene Descartes, filosof prancis, berpendapat bahwa jiwa adalah akal atau kesadaran.george Berkeley, filosof Inggris yang hidup di akhir abad ke-17, menyatakan bahwa jiwa adalah persepsi, sementara itu, Jhon Locke, filosof Inggris lainnya, beranggapan bahwa jiwa adalah “kumpulan ide yang disatukan melalui asosiasi.” (Sarwono dalam Desmita, 2005:1).
Gagasan psikologi untuk memisahkan diri dari induknya ilmu filsafat pertama kali dikemukan oleh seorang fisiolog (dokter) Wihelm Wundt pada tahun 1987. Beliau pertama kali mendirikan laboratarium sendiri untuk melakukan ekperimen yang menemukan eksperimen objek studinya bukan lagi hal yang bersifat abstrak seperti filsafat, tetapi juga bukan refflex seperti ilmu faal melainkan tingkah laku yang bisa dipelajari secara objektif.
Psikologi pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang peduli dengan proses pembelajaran serta penerapan metoda dan teori-teori psikologi dalam proses pendidikan. Woolfol (1995:11) menegaskan educational psychology yaitu the discipline corcerned with teaching and learning processes, applies the method and theories of psychology and has its own as well. Pembelajaran yang dimaksud merupakan proses
edukatif yang melibatkan pendidik dan peserta didik sebagai pelaku utamanya. Pendidik berperan berperan sebagai fasilitator terjadinya perkembangan peserta didik dan peserta didik merupaka subjek pembelajaran yang sedang mengembangkan dirinya. Dalam interaksi antara pendidik dan peserta didik terjadi saling mempengaruhi, terutama pengaruh pendidik terhadap perkembangan peserta didik. Dalam kerangka pendidikan ini, pendidik berupaya memilih metode pembelajaran yang tepat, yakni yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Psikologi pendidikan berkembang dan sesuatu yang mesti dipelajari bagi calon pendidik, sangat berkaitan dengan kondisi pendidikan sebelumnya. Selama ini pendidikan tidak memperhatikan kondisi peserta didik, tidak memperhatikan minat dan bakat peserta didik. Guru seolah sebagai penguasa dan menganggap peserta adalah ibarat botol kosong yang akan diisi air, akhirnya yang terjadi adalah pendidikan hanya dalam bentuk transfer knowledge saja. Dengan adanya psikologi pendidikan diharapkan akan lahir pendidikan yang humanistis yang memahmi peserta didik sesuai dengan keberadaanya.
Perkembangan psikologi pendidikan di dunia, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat, pada akhirnya juga membawa pengaruh pada perkembangan psikologi pendidikan di Indonesia. Brennan (2012:vii) mengatakan bahwa Psikologi lahir sebagai disiplin ilmiah dalam konteks sejarah intelektual Eropa Barat. Kemajuan berbagai pemikiran yang memicu perkembangan ilmu pengetahuan ilmiah pasca-renaisance memungkinkan psikologi memperoleh bentuknya yang beragam pada masa kini. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan modern pada masa renaisans, wilayah penelitian psikologi menjadi kontroversi yang mengakibatkan berkembangnya berbagai model filosofis mengenai karakteristik psikologi. Berbagai model tersebut dikelompokan berdasarkan tren karakteristik nasional sudut pandang psikologis yang dikemukakan oleh para pemikir di Perancis, Inggris, dan Jerman.
Kemajuan pesat berbagai bidang ilmu empiris yang mencapai puncaknya pada abad ke-19, mendorong lahirnya studi formal terhadap psikologi pada tahun 1870-1n oleh Wilhelm Wundt dan Brentano (Brennan, 2012:vii). Oleh
sebab itu, perlu penelitian yang mendalam tentang Perkembangan Psikologi Pendidikan Dunia hingga Psikologi Pendidikan Indonesia Modern (1879-2017).
II METODOLOGI
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif dengan mengunakan metode penelitian heuristic sebagaimana yang dikemukan oleh Zed (1999) dan teknik analsis data sebagaimana yang dikemukakan oleh Miles
and Huberman (1992) yang menempuh langkah-langkah berikut ini; (1). pengumpulan data, (2). display data, (3). reduksi data, dan (4). kesimpulan/verifikasi data.
III HASIL PENELITIAN
Perkembangan Psikologi di Dunia
Brennan (2012:vii) menjelaskan bahwa psikologi pada masa lampau, yang berakar kuat pada sejarah intelektual peradaban barat. Lahirnya psikologi sebagai disiplin formal membawa kita ke dalam masalah ilmu pengetahuan. Secara umum, ilmu pengetahuan (sains) didefinisikan sebagai akuisisi pengetahuan secara sistematis. Namun demikian, berdasarkan perspektif yang lebih sempit, akuisisi pengetahuan tersebut terbatas pada pengamatan yang dapat divalidasi oleh indra kita, yaitu kita harus melihat, mendengar, menyentuh, merasakan, atau mencium berbagai kejadian untuk mengonfirmasi eksistensi kejadian tersebut sebagai data ilmiah. Tipe ilmu pengetahuan ini disebut empirisisme, dan aplikasi yang paling terkontrol disebut metode eksperimental, dimana berbagai variabel di manipulasi dan diukur. Lebih dari seabad silam definisi ilmu
pengetahuan yang lebih sempit dan empiris ini terkait dengan suatu model pada abad ke-19 mengenai apa yang semestinya dipelajari dalam psikologi untuk membentuk disiplin psikologi. Namun, baik pada masa itu maupun selama seratus tahun terakhir bentuk psikologi tersebut tidak diterima secara universal. Beberapa cendikiawan berpendapat mengenai perlunya model psikologi yang berbeda, definisi ilmu pengetahuan yang lebih luas, atau keduanya. Oleh karena itu, masa lampau psikologi yang panjang, ditambah dengan berbagai perbedaan pendapat saat ini mengenai bagaimana seharusnya bentuk disiplin psikologi, menghasilkan keragaman disiplin yang kita pelajari dewasa ini. Berikut ini dijelaskan secara singkat kronologi perkembangan psikologi pendidikan:
< 1879 Istilah psikologi telah dikenal pada masa Yunani Kuno dan Eropa pada masa renaisans.
1879 Wilhelm Wundt membuka laboratorium eksperimen psikologi pertama di Universitas Leipzig, Jerman.
Para mahasiswa Wundt seperti Emil Kraepelin, James Mc Keen, dan G. Stanlay Hall mengembangkan psikologi ke Amerika Serikat.
1883 G. Stanlay Hall, seorang mahasiswi Wundt, mendirikan laboratorium psikologi eksperimen di Johns Hopkins University, Amerika Serikat. 1888 James Mc Keen sebagai “profesor pskilogi”.
Cattell, mahasiswi Wundt, mengembangkan psikologi ke University of Pennsylvania dan Columbia University.
1892 G. Stanlay Hall mendirikan American Psychological Association (APA), American Journal of Psychology (1887), dan Journal of Applied Psychology (1917).
1896 Munculnya fuctionalism, psychoanalysis, structuralism.
mengembangkan skala kecerdasan umum berdasarkan usia mental. Kemudian disempunakan dengan konsep IQ (intelligensce quotient). 1913 J.B. Watson mengemukan behaviorism.
1935 Gestalt psychology dikemukakan oleh Kurt Kofka yang dikenal dengan prinsip Gestalt yaitu menegaskan fenomena psikologis harus dipandang sebagai unsur individu namun secara keseluruhan yang koheren.
1938 Skinner memperkenalkan konsep pengkondisian operan.
1946 Anna Freud memperkenalkan konsep dasar teori dan praktik psikoanalisis anak.
1953 Standar etika psikolog
1954 Munculnya psikologi humanistik. 1956 Munculnya psikologi kognitif.
1979 Pengunaan standar IQ di sekolah umum. 1990 Munculnya cultural psychology
2000 Enam belas lembaga penelitian publik di seluruh dunia menyelesaikan pemetaan "rancangan kerja" tentang kode genetik manusia, memberikan dasar penelitian untuk pemahaman baru tentang perkembangan dan penyakit manusia. Proyek serupa yang didanai swasta saat ini sedang berlangsung.
Pendidikan Psikologi dalam Pembelajaran di Indonesia Pendidikan psikologi akan ditemukan
dalam proses pembelajaran yaitu yang terkait dengan pembelajaran, motivasi, memori, dan persepsi, untuk itu kita perlu memahami hakekat belajar. Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat (W. Gulo, 2002: 23). Pada dasarnya belajar merupakan tahapan perubahan prilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (syah, 2003), dengan kata lain belajar merupakan kegiatan berproses yang terdiri dari beberapa tahap. Belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24).
Seiring dengan belajar, maka akan ada proses pembelajaran, dimana sarana dan cara bagaimana suatu generasi belajar. Hal ini tentu berbeda dengan proses belajar yang diartikan sebagai cara bagaimana para pembelajar itu memiliki dan mengakses isi pelajaran itu sendiri (Tilaar, 2002: 128). Fungsi-fungsi pembelajaran yaitu sebagai berikut:
Pembelajaran sebagai sistem
Pembelajaran sebagai sistem terdiri dari sejumlah komponen yang
terorganisir antara lain tujuan pembelajaran , materi pembelajaran , strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga , pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran (remedial dan pengayaan).
Pembelajaran sebagai proses
Pembelajaran sebagai proses merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belaja, meliputi:
Hasil belajar siswa/i sangat ditentukan oleh kemampuan kognitif. Piaget mengemukan bahwa terdapat empat periode perkembangan intelektual yang secara khas mengorganisasi interaksi anak dengan lingkungannya. Meskipun tingkat perkembangan intelektual berbeda-beda untuk setiap anak, Piaget berpendapat bahwa sekuens perkembangan anak terjadi pada tahapan berikut; (1). periode sensorimotorik, (2). periode praoperasional, (3). periode operasi kongkret, dan (4). periode operasi formal.
Melalui dorongan sintesis Piaget tentang perkembangan kemampuan intelektual, seluruh rentang pembelajaran manusia dan proses-proses memori yang kompleks memperoleh perhatian lebih serius dalam psikologi perkembangan. Contohnya, penelitian tentang pembentukan konsep, yang mencakup klasifikasi sebagai peristiwa atau objek kedalam suatu kategori
konseptual, diarahkan oleh model pemrosesan informasi yang memfokuskan pada fungsi-fungsi penting masukan, keluaran, dan umpan balik. Penekanan pada perbedaan individu dalam proses-proses pembelajaran kompleks telah menuntun psikologi kontemporer untuk berpendapat bahwa kemampuan intelektual dapat diformulasikan dalam gaya kognitif yang dikembangkan secara individual.
Proses pembelajaranbanyak dipengaruhi oleh pendekatan atau strategi dan metode-metode pembelajaran yang telah dipilih dan dirancang penerapannya, serta filosofi kerja dan komitmen guru, persepsi, dan sikapnya terhadap siswa. Menindaklanjuti pembelajaran yang telah dikelolanya. Kegiatan pasca pembelajaran ini dapat berbentuk enrichment (pengayaan), dapat pula berupa pemberian layanan remedial teaching bagi siswa yang berkesulitan belajar. 1. Faktor yang mempengruhi pembelajaran
a. Faktor Individu (Internal) b. Faktor Eksternal
c. Lingkungan
I. Lingkungan tempat siswa belajar II. Lingkungan tempat siswa tinggal III. Lingkungan keluarga
2. Materi yang dipelajari
Tignkat kesulitan materi yang dipelajari akan dapat mempengaruhi
factor internal siswa dalam belajar. 3. Pengajar/guru
Pengajar memegang peranan yang penting bagi keberhasilan belajar siswa, karena peran guru tak akan bisa digantikan dalam proses pembelajaran. Adapun peran guru adalah sebagai pengajar yang ahli, motivator, mengelola siswa dan lingkungan belajar, sebagai sosok yang mempengaruhi anak didik,memberikan nasihat pada anak didik, dan mempermudah anak didik dalam belajar.
IV KESIMPULAN
Woolfol (1995:11) menjelaskan educational phsychology yaitu the discipline corcerned with teaching and learning processes, applies the method and theories of psychology and has its own as well. Pembelajaran yang dimaksud merupakan proses edukatif yang melibatkan pendidik dan peserta didik sebagai pelaku utamanya. Secara harfiah phsychology berarti ilmu jiwa, dimana telah juga dipakai pada zaman Yunani kuno (Brennan, 2012:25). Perkembangan ilmu psikologi menjadi pendidikan psikologi cukup panjang, hal ini dimulai dengan apa yang dikemukaan oleh Wilhelm Wundt (1879) yang untuk pertama sekali membuka laboratorium eksperimen di Universitas Leipzig, Jerman. Kemudian pada mahasiswa/i Wundt mengembangkan ilmu psikologi ke Amerika Serikat yaitu G. Stanlay Hall yang mendirikan laboratorium psikolog eksperimen pertama di Johns Hopkins University, di Amerika Serikat. Selanjutnya,
perkembangan psikologi ini didukung oleh gestalt psychology (1935) yang menegaskan bahwa fenomena psikologis harus dipandang bukan sebagai unsur individu namun secara keseluruhan yang koheren. Perkembangan selanjutnya adalah pada tahun 1954, yaitu munculnya psikologi humanistik sebagai kekutan “ketiga” dalam psikologi. Gagasan ini dikemukakan oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow yang menerbitkan tulisan motivasi dan kepribadian yang menekankan pada pendekatan yang berpusat pada akal sadar, kehendak bebas, martabat manusia, dan kapasitas untuk aktualisasi diri. Kemudian pada tahun 1956, George A. Miller’s mengemukakan psikologi kognitif yang menekankan pada pemrosesan informasi merupakan aplikasi awal dari pendekatan kognitif. Standar IQ (1979) juga ikut mempengaruhi perkembangan psikologi di Amerika Serikat.
DAFTAR PUSTAKA
Brennan, James F (terjemahan: Nurmala Sari Fajar). Sejarah dan Sistem Psikologi: Edisi Keenam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Fisher, Matthew, et.al, 2015, Searching for Explanations: How the Internet Inflates Estimates of Internal Knowledge, American Psychological Association, Journal of Experimental Psychology, Yale University.
Fuchs, Alfred H & Evans, Rand B. 2007. History of Psychologi. University of Illinois: American Journal of Psychology, Summer 2007, Vol. 120, No. 2, pp.303-323.
Miles, Matthew B dan A. Michael Huberman. 1992. Qualitatif Data Analisis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Westbrook, Robert B. 1999. John Dewey (1859-1952). Paris, UNESCO: International Bureau of Education), Vol. XXIII, No.1/2, 1993, p. 277-291, 1991.
Zed, Mestika. 1999. Metodologi Penelitian Sejarah. Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Padang.