• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

INDONESIA UNTUK MENDUKUNG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DI PERKEBUNAN

AEK LOBA KABUPATEN ASAHAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh :

YITSHAK MICHAEL SIMANGUNSONG NIM : 130200458

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

2 0 1 9

(2)
(3)

Yitshak Michael Simangunsong*

Bismar Nasution**

Tri Murti Lubis**

Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) masyarakat (termasuk UMKM) merupakan stakeholders dari perusahaan. Permasalahan yang diangkat dalam penulisan ini adalah bagaimana pengaturan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan, bagaimana pelaksanaan Corporate Social Responsibility dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan, bagaimana kendala pelaksanaan Corporate Social Responsibility dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

Metode pendekatan yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris dan spesifikasi penelitian ini adalah deskriptif analitis. Pengumpulan data melalui data primer dan data sekunder. Metode analisis yang dipakai adalah kualitatif, dan penyajian datanya dalam bentuk laporan tertulis secara ilmiah.

Pengaturan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan diimplementasikan sebagai sebuah kewajiban hukum sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan antara lain Pasal 74 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Kebijakan CSR PT. Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan menetapkan penyisihan laba bersih yang di putuskan dalam RUPS ditambah dengan sisa dana CSR tahun sebelumnya CSR dianggarkan sebagai beban biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajran. Model dan manajemen pengelolaan CSR pada PT. Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan menggunakan model kemitraan yaitu perusahaan-pihak ketiga/pemerintah dan masyarakat. Pemanfaatan dana, peruntukan dana CSR PT. Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan difokuskan kepada program pemberdayaan bagi UMKM dengan model kemitraan dengan kebijakan berupa perlunya fasilitas bantuan modal dengan bunga ringan dan dilakukan sendiri secara langsung.

Kendala PT. Socfin Indonesia Tbk dalam menyalurkan Corporate Sosial Responsibility di Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan adalah program CSR belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakat, karena masih ada beberapa masyarakat.yang belum mengetahui tentang CSR maupun program-program CSR, kurangnya dana program CSR, sehingga program CSR belum merata di masyarakat dan kebutuhan masyarakat belum terpenuhi secara keseluruhan

Kata Kunci : Implementasi, Tanggungjawab Sosial, Usaha Mikro.

.

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

** Dosen Pembimbing I dan Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(4)

Islam dan nikmat kesempatan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Adapun judul skripsi ini adalah

“Implementasi Tanggung Jawab Sosial PT. Socfin Indonesia Untuk Mendukung Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Di Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan”. Untuk penulisan skripsi ini penulis berupaya agar hasil dari penulisan skripsi ini bisa lebih baik seperti yang diharapkan, meskipun demikian penulisan ini masih terdapat kekurangan-kekurangan, karena manusia tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, semua saran dan kritik akan penulis terima dari siapa saja dalam rangka penyempurnaan penulisan skripsi ini.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak sehingga dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. O.K. Saidin, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara..

3. Ibu Puspa Melati, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. Jelly Leviza S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(5)

Ekonomi sekaligus sebagai Pembimbing I yang telah banyak membantu dan memudahkan saya dalam mengajukan judul skripsi.

6. Ibu Tri Murti Lubis, SH.M.H selaku dosen pembimbing II yang telah banyak membantu berupa pikiran dan waktunya untuk memberikan pengarahan dan bimbingan kepada saya sehingga memudahkan saya dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu dalam kesempatan ini. Semoga ilmu yang penulis telah peroleh selama ini dapat bermakna dan berkah bagi penulis dalam hal penulis ingin menggapai cita-cita.

Medan, Januari 2019 Penulis

Yitshak Michael Simangunsong

(6)

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I : PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penulisan ... 11

D. Manfaat Penulisan ... 11

E. Keaslian Penulisan ... 12

F. Tinjauan Pustaka ... 12

G. Metode Penelitian... 17

H. Sistematika Penulisan... 20

BAB II : PENGATURAN MENGENAI CORPORATE SOSIAL RESPONSIBILITY DI INDONESIA ... 22

A. Pengaturan Corporate Social Responsibility di Indonesia 22 B. Prinsip Corporate Social Responsibility ... 46

C. Standard Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Indonesia 50 BAB III : PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH MELALUI PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA PT. SOCFIN INDONESIA TBK ... 55

A. Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ... 55

B. Manfaat Corporate Social Responsibility PT. Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan dalam Pemberdayaan UMKM ... 64

C. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility Dalam Pemberdayaan UMKM ... 72

(7)

BAB IV : IMPLEMENTASI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PT. SOCFIN INDONESIA UNTUK MENDUKUNG

USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DI

PERKEBUNAN AEK LOBA KABUPATEN ASAHAN ... 79 A. Kebijakan PT. Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek

Loba Kabupaten Asahan dalam Pelaksanaan Corporate

Social Responsibility ... 79 B. Kendala Penerapan Corporate Social Responsibility Pada

PT. Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek Loba

Kabupaten Asahan ... 92 C. Upaya Mengatasi Kendala Penerapan Corporate Social

Responsibility dalam Mendukung Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Di Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan .. 99 BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 104 A. Kesimpulan ... 104 B. Saran ... 106 DAFTAR PUSTAKA.

(8)

A. Latar Belakang

Mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD RI 1945, maka perlu dilaksanakan pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan dengan berlandaskan Demokrasi Ekonomi. Salah satu tujuan dari pembangunan Ekonomi Nasional adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Pembangunan ekonomi terutama berarti mengolah kekuatan ekonomi potensil menjadi kekuatan ekonomi rill melalui kerjasama investasi, penggunaan teknologi, penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen.

Banyak anggota masyarakat ataupun pemerintah yang pada saat mendirikan perusahaan hanya mengejar target keuntungan semata. Aspek-aspek lain yang sebenarnya sangat vital bagi perusahaan seperti hak-hak karyawan perusahaan, upah karyawan yang murah, serta sumber daya alam yang melimpah diolah tanpa memperhatikan aspek-aspek lingkungan hidup. Dengan mengabaikan berbagai aspek tersebut, perusahaan bisa meraih keuntungan yang maksimal.

Tanggung jawab ekonomi dari perusahaan dapat dikatakan berhasil, tetapi bagaimana dengan tanggung jawab perusahaan pada masyarakat di lingkungan dimana perusahaan tersebut melakukan aktifitas.

Seiring dengan perubahan kualitas hidup manusia, kesadaran dan sikap kritis masyarakat terhadap keberadaan suatu perusahaan di lingkungannya semakin meningkat. Perusahaan dituntut untuk tidak semata-mata mengejar keuntungan finansial (profit oriented), melainkan juga mengedepankan etika

(9)

bisnis, terutama kepedulian dan kontribusinya terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.1

Diwajibkan atau tidak diwajibkan oleh pemerintah tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya seharusnya merupakan komitmen yang lahir atas kesadaran sendiri bahwa perusahaan dan masyarakat semestinya bisa hidup berdampingan secara harmonis, bersama menikmati kesejahteraan dan bersama merasakan kenyamanan.

Perusahaan-perusahaan yang ada terlalu fokus kepada kegiatan ekonomi dan produksi yang mereka lakukan sehingga melupakan keadaan masyarakat di sekitar wilayah beroperasinya dan juga melupakan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Padahal sebagaimana diamanatkan di dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada Pasal 28H Ayat (1) yang berbunyi sebagai berikut “ setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.2

Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen ke IV yang berbunyi sebagai berikut :

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas dasar kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkadung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokraksi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

1 Bambang Rudito dan Melia Famiola. CSR. (Bandung : Rekayasa Sains, 2013), hlm.1

2 Pasal 28H Ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945

(10)

5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.3

Corporate Sosial Responsibility (selanjutnya disebut CSR) sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup komunitas setempat maupun masyarakat luas, dan bagi terciptanya iklim usaha/investasi yang kondusif dan keberlanjutan bisnis. Substansi keberadaan prinsip CSR adalah dalam rangka memperkuat kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, komunitas dan pemangku kepentingan (stakeholders) yang terkait dengannya baik lokal, nasional, maupun global. Di dalam pengimplementasiannya diharapkan agar unsur-unsur perusahaan, pemerintah dan masyarakat saling berinteraksi dan mendukung supaya CSR dapat diwujudkan secara komprehensif sehingga dalam pengambilan keputusan, menjalankan keputusan dan pertanggungjawabannya dapat dilaksanakan bersama, CSR merupakan sebuah etika dalam dunia usaha dimana perusahaan wajib melakukan hal tersebut.4

CSR semakin mendapat perhatian dan pengakuan secara nasional dan global seiring dengan munculnya kesadaran bahwa CSR telah menjadi suatu kebutuhan bersama di kalangan dunia usaha, masyarakat dan pemerintah. Bagi perusahaan, CSR bermanfaat untuk memperoleh citra yang baik, kepercayaan, keamanan sosial, dan keberlanjutan perusahaan. Sedangkan bagi masyarakat, CSR bermanfaat untuk memberikan perlindungan dan kesejahteraan. Bagi pemerintah

3 Pasal 33 UUD tahun 1945 Amandemekn Ke IV

4Alchoyr: “Tanggung Jawab Sosial Perusahaan”, (www.theprworld.com/CSR-Indonesia, diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib).

(11)

sendiri, CSR bermanfaat untuk meringankan beban pembiayaan pembangunan dan mempercepat pencapaian kesejahteraan rakyat.

Di Indonesia, CSR telah diatur dalam undang-undang dan salah satunya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang mewajibkan implementasi CSR bagi perusahaan-perusahaan yang menggunakan dan/atau terkait dengan sumber daya alam. Sementara Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dalam Pasal 15 ayat b menegaskan bahwa setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.

Pendorong perkembangan CSR yang terjadi di Indonesia adalah pergeseran paradigma dunia usaha yang tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan saja melainkan juga bersikap etis dan berperan dalam penciptaan investasi sosial. Pasal 74 Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas menyebutkan bahwa : “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya mengelolah dan memanfaatkan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Jika tidak dilakukan maka perseroan tersebut akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.5

Kesadaran pentingnya melakukan CSR merupakan trend global seiring dengan semakin maraknya kepedulian mengutamakan pemangku kepentingan (stakeholders). Prinsip CSR ini juga tidak terlepas dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang merupakan prinsip fairness, transparancy, dan accountability.6

5 Pasal 74 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

6 Jamin Ginting, Hukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 2007). (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 94

(12)

Aturan yang lebih tegas sebenarnya juga sudah ada di dalam Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dalam Pasal 15 huruf b disebutkan “setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan”.7 Jika tidak maka dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal atau pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal (Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal).8

Pengaturan CSR di dalam peraturan Perundang-undangan Indonesia tersebut masih menciptakan kontroversi dan kritikan. Bagi kalangan pebisnis CSR dipandang sebagai suatu kegiatan sukarela sehingga tidak diperlukan pengaturan di dalam peraturan perundang-undangan. Menurut Ketua Umum Kadin Mohammad S. Hidayat, CSR adalah “Kegiatan diluar kewajiban perusahaan yang umum dan sudah ditetapkan dalam perundang-undangan formal sehingga jika diatur akan bertentangan dengan prinsip kerelaan dan akan memberikan beban baru kepada dunia usaha.9

Prakteknya penerapan CSR disesuaikan dengan kemampuan masing- masing perusahaan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu kegiatan CSR sangat beragam, hal ini bergantung pada proses interaksi sosial bersifat sukarela didasarkan pada dorongan moral dan biasanya melebihi dari hanya sekedar kewajiban memenuhi peraturan perundang-undangan. Perlu disadari banyak manfaat yang akan diperoleh perusahaan yang melakukan CSR antara lain dapat

7 Pasal 15 Huruf b Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

8 Pasal 34 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

9CSR, Kegiatan Sukarela yang Wajib diatur”. Dimuat dalam (www.hukumonline.com, diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib)

(13)

mempertahankan dan menaikkan reputasi dan brand image perusahaan sehingga muncul citra yang positif dari masyarakat. Upaya CSR mampu meningkatkan citra perusahaan dengan mempraktekkan karya ini yang sering disebut kinerja sosial perusahaan (corporat social performance). Perusahaan menyadari masih ada hal yang perlu diperhatikan dari pada memperoleh laba sebesar mungkin yakni mempunyai hubungan baik dengan masyarakat di sekitar tempat usaha dan masyarakat umum.10

Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya pada perusahaan industri yang menghasilkan dampak negatif pada lingkungan dan masyarakat, tetapi juga bagi sektor perbankan.11 Sektor perbankan diharapkan tidak hanya melaksanakan tugas-tugas utama perbankannya melainkan juga diminta untuk tetap memiliki kepedulian terhadap lingkungan (komunitas) sebagai wujud corporate social responsibility-nya.12

Ide mengenai CSR kini semakin diterima secara luas. Kelompok yang mendukung wacana CSR berpendapat bahwa perusahaan tidak dapat dipisahkan dari para individu yang terlibat di dalamnya, yakni pemilik dan karyawannya.

Mereka tidak boleh hanya memikirkan keuntungan finansialnya saja, melainkan pula harus memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap publik. CSR merupakan Kepedulian perusahaan yang didasari 3 prinsip dasar yang dikenal dengan istilah Triple Bottom Lines (3P) yaitu:

1. Profit, perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.

10 K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogyakarta : Kanisius,, 2000), hlm. 301

11Djogo Tonny.”Tanggung Jawab Sosial Korporasi” dimuat dalam (www.beritabumi.or.id, diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib)

12 Corporate Social Respnsibility,dimuat dalam (www.bi.go.id diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib).

(14)

2. People, Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Beberapa perusahaan mengembangkan program CSR seperti pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan bahkan ada perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan sosial bagi warga setempat.

3. Plannet, Perusahaan peduli terhadap lingkungan hidup dan berkelanjutan keragaman hayati. Beberapa program TJSP yan berpijak pada prinsip ini biasanya berupa penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana air bersih, perbaikan permukiman, pengembangan pariwisata (ekoturisme).13

Ada empat pola CSR di Indonesia, yang pertama adalah :

1. Keterlibatan langsung yaitu perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelengarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara.

2. Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan, perusahaan mendirikan yayasan sendiri dibawah perusahaan atau grupnya. Model ini merupakan adopsi dari model yang lazim diterapkan di perusahaan- perusahaan di negara maju.

3. Bermitra dengan pihak lain, Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dengan lembaga sosial atau organisasi pemerintah, Instansi Pemerintah, Universitas atau media masa, baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya.

4. Mendukung atau bergabung dalam suatu Konsorsium, perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu.14

PT. Socfin Indonesia didirikan pada tanggal 7 Desember 1930 dengan nama Socfin Medan S.A. Pada tahun 1965, PT. Socfin Indonesia dialihkan di bawah pengawasan pemerintah Indonesia berdasarkan penetapan Presiden No. 6 Tahun1965. Pada tahun 1968, PT. Socfin Indonesia menjadi perusahaan patungan antara Plantation Nord Sumatra S.A. - Belgia (pemilik saham Socfin) dengan pemerintah R.I dengan nama PT. Socfin Indonesia (Socfindo), berdasarkan UU penanaman modal asing No. 01/1967 dengan perbandingan kepemilikan 60%

13 Suriadi Agus. Implementasi CSR Di Indonesia. Dimuat dalam (www.csr.or.id, diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib).

14 Hikmat Harry. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. (Bandung : Humaniora Utama, 2006), hlm.31

(15)

saham Plantation Nord Sumatra dan 40% saham pemerintah Republik Indonesia.

Pada tanggal 13 Desember 2001, sejalan dengan privatisasi beberapa BUMN oleh pemerintah R.I., telah terjadi perubahan kepemilikan saham Socfindo menjadi 90% saham Plantation Nord Sumatra dan 10% saham pemerintah R.I. di bawah kementerian BUMN.15

PT Socfin Indonesia (Socfindo) adalah perusahaan agribisnis yang bergerak di perkebunan kelapa sawit dan karet serta produsen benih unggul kelapa sawit yang sudah teruji dan terbukti tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Badan usaha PT Socfin Indonesia adalah hasil dari perjanjian kemitraan joint-venture antara Plantation Nord-Sumatera SA (anak perusahaan Socfin SA) dengan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1968 sebagai kelanjutan dari Socfin SA Medan (Société Financiere des Caoutchoucs Medan SA) perusahaan milik Belgia yang dibentuk pada tahun 1930 di Medan.16

Socfindo dalam menjalankan bisnisnya berkomitmen untuk menerapkan bisnis yang berstandar internasional. Sejak tahun 2002 Socfindo telah menerapkan sistem standarisasi mutu internasional (ISO 9001 : 2000) yang kemudian berkembang menjadi ISO 9001 : 2008, juga sistem manajemen lingkungan (ISO 14000) dan OHSAS 18000, ketiga sistem ini telah diterapkan di seluruh unit usaha Socfindo. Socfindo juga menerapkan prinsip minyak sawit lestari (sustainable palm oil) melalui penerapan prinsip dan kriteria yang diatur dalam sistem RSPO dan ISPO di seluruh unit perkebunan kelapa sawit yang berada di Sumatera Utara dan Aceh.

15Socfin Indonesia, Sejarah Pendirian PT. Socfin Indonesia, dimuat dalam (http://www.socfindo.co.id/, diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib).

16 Ibid.

(16)

PT Socfin Indonesia (Socfindo) sebagai perusahaan agribisnis yang bergerak di perkebunan kelapa sawit dan karet serta produsen benih unggul kelapa sawit dalam menjalankan bisnisnya tidak terlepas dari people, profit dan planet, sehingga selalu berusahaan mengembangkan hubungan sosial yang berkualitas dengan masyarakat.

Program CSR selain sebagai bagian dari perwujudan tanggung jawab sosial PT. Socfin Indonesia juga diharapkan dapat menjadi kegiatan dan program rutin dari operasional perusahaan. PT. Socfin Indonesia memandang pentingnya menjadi bagian dari masyarakat yang lebih besar dimana masyarakat dan perusahaan berada dalam kesataraan, sehingga menjalin hubungan dengan masyarakat di sekitar perusahaan. Hubungan yang diciptakan adalah hubungan yang harmonis, masyarakat sekitar dapat merasakan manfaat dari keberadaan PT.

Socfin Indonesia. Memastikan terciptanya hubungan yang harmonis tersebut, maka PT. Socfin Indonesia mendukung program pembangunan daerah dan pengembangan potensi masyarakat sekitar sesuai dengan kapasitasnya.

PT. Socfin Indonesia dalam menyelenggarakan CSR maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya sumber dana CSR nya dari laba bersih perusahaan yang jumlahnya diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan sisa dana CSR tahun sebelumnya.

Kegiatan CSR merupakan kegiatan yang menunjang pembangunan yang berkelanjutan, yaitu kegiatan yang tidak hanya berdampak pada keuntungan secara materi, melainkan terkait dengan konsekuensi sosial dan lingkungan yang berkelanjutan. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu bagian yang penting dalam kegiatan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

(17)

UMKM mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dalam krisi ekonomi yang terjadi di negara kita sejak beberapa waktu yang lalu, dimana banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnasi bahkan berhenti aktivitasnya.17

UMKM sangat diharapkan untuk bisa terus berperan secara optimal dalam menanggulangi pengangguran yang jumlahnya cenderung meningkat terus setiap tahunnya.18 Dengan banyak menyerap tenaga kerja UMKM mempunyai peran strategis dalam upaya pemerintah selama ini memerangi kemiskinan dalam negeri.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik membahas Corporate Sosial Responsibility (CSR) sebagai suatu karya ilmiah dengan judul “Implementasi Tanggung Jawab Sosial PT. Socfin Indonesia Untuk Mendukung Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Di Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan”.

B. Perumusan Masalah

Rumusan permasalahan yang akan diteliti dibatasi sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaturan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan ?

2. Bagaimana pelaksanaan Corporate Social Responsibility dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan ?

17Faisal Basri, Perekonomian Indonesia Tantangan dan Harapan bagi Kebangkitan Indonesia, (Jakarta : Kalisari Erlangga, 2002), hlm. 98

18 Tulus Tambunan, UMKM Di Indonesia, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2009), hlm.4

(18)

3. Bagaimana kendala pelaksanaan Corporate Social Responsibility dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan ?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan pokok-pokok permasalahan diatas, tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaturan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

2. Untuk mengetahui pelaksanaan Corporate Social Responsibility dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

3. Untuk mengetahui kendala pelaksanaan Corporate Social Responsibility dalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

D. Manfaat Penulisan

Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis. Adapun kedua kegunaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk melahirkan berbagai konsep kajian yang pada gilirannya dapat memberikan masukan bagi pembangunan ilmu hukum tentang implementasi tanggung jawab sosial PT. Socfin Indonesia untuk mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

(19)

2. Secara praktis, hasil penelitian ini juga dapat digunakan:

a. Sebagai pedoman dan masukan atau informasi kepada pemerintah guna menentukan kebijakan dan langkah-langkah untuk mencegah masalah yang timbul atas kebijakan perusahaan dalam menyalurkan Corporate Sosial Responsibility.

b. Untuk memberikan informasi kepada pemerintah dan masyarakat tentang hukum yang berlaku yang berkaitan dengan Corporate Sosial Responsibility.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan oleh peneliti di perpustakaan Universitas Sumatera Utara diketahui bahwa penelitian tentang

“Implementasi Tanggungjawab Sosial PT. Socfin Indonesia Dalam Rangka Membantu Usaha Kecil Menengah Di Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan (Studi Pada PT. Socfin Indonesia)” belum pernah dilakukan penelitian. Dengan demikian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah atau secara akademik.

F. Tinjauan Pustaka

Terminologi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bukanlah hal yang relatif baru dalam dunia usaha, evolusi konsepnya sendiri sudah berlangsung pada beberapa dekade. Pada sisi lain istilah CSR sendiri juga mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan dunia usaha, politis dan pembangunan sosial serta hak asasi manusia (HAM). Selain itu terminologi CSR juga dipengaruhi oleh

(20)

dampak globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, dan semua itu akan mencerminkan pemahaman terhadap pengertian CSR dalam kontek lokal.19

Corporate Social Responsibility dalam bahasa Indonesia dikenal dengan tanggungjawab sosial perusahaan sedangkan di Amerika, konsep ini seringkali disamakan dengan corporate citizenship. Pada intinya, keduanya dimaksudkan sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah sosial dan lingkungan dalam kegiatan usaha dan juga pada cara perusahaan berinteraksi dengan stakeholder yang dilakukan secara sukarela. Selain itu, tanggungjawab sosial perusahaan diartikan pula sebagai komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan dan masyarakat setempat (lokal) dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.

Era globalisasi sering menjadi alasan untuk menjawab perubahan yang terjadi tanpa menyadari efek yang timbul dari globalisasi itu sendiri. Globalisasi sendiri berarti universal, di mana segala sesuatu nanti akan saling tergantung satu sama lain dan saling berintegrasi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, politik, lingkungan dan budaya masyarakat.20 Dalam dinamika masyarakat sendiri banyak fenomena yang muncul menjadi isu sosial, salah satunya adalah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Tanggung jawab sosial atau social responsibiliy muncul dan berkembang sejalan dengan interelasi antara perusahaan dan masyarakat, yang sangat ditentukan oleh dampak yang timbul dari dari perkembangan dan peradaban masyarakat.

19 Zaim Saidi, Sumbangan Sosial Perusahaan, (Jakarta : Piramida, 2008), hlm. 97

20 Ibid, hlm. 98.

(21)

Semenjak keruntuhan rezim diktatoriat Orde Baru, masyarakat semakin berani untuk beraspirasi dan mengekspresikan tuntutannya terhadap perkembangan dunia bisnis Indonesia. Masyarakat telah semakin kritis dan mampu melakukan kontrol sosial terhadap dunia usaha. Hal ini menuntut para pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin bertanggungjawab.

Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya.

Perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat memunculkan kesadararan baru tentang pentingnya melaksanakan apa yang kita kenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). Pemahaman itu memberikan pedoman bahwa korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja sehingga ter-alienasi atau mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat di tempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan lingkungan sosialnya.

Bambang Rudito dan Melia Famiola menyebutkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah merupakan suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (bukan hanya) perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.21 Lebih lanjut disebutkan bahwa tanggung jawab sosial berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan", dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam

21 Bambang Rudito dan Melia Famiola, Op.Cit, hlm.42

(22)

melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata hanya berdasarkan faktor keuangan belaka seperti halnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekwensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.22

Menurut Baker, tanggung jawab sosial adalah bagaimana cara perusahaan mengelola proses bisnisnya untuk menghasilkan segala hal yang positif yang berpengaruh terhadap lingkungannya. Tanggung jawab sosial dapat dikatakan sebagai cara perusahaan mengatur proses produksi yang berdampak positif pada komunitas. Dapat pula dikatakan, sebagai proses penting dalam pengaturan biaya yang dikeluarkan untuk meraih keuntungan, baik internal (pekerja, shareholder), maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain). Esensi tanggung jawab sosial.

Pada dasarnya, bentuk tanggung jawab sosial perushaan dapat beraneka ragam.

Dari yang bersifat charity sampai pada kegiatan yang bersifat pengembangan komunitas (Community Development).23

Menurut Andi Firman tanggung jawab sosial adalah suatu konsep yang bermaterikan tanggung jawab sosial dan lingkungan oleh perusahaan kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah perusahaan tersebut beroperasi. Tanggung jawab sosial dapat berupa program yang memberikan bantuan modal kerja lunak bagi para petani, nelayan, pengusaha kecil, pemberian beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa terutama yang tidak mampu dan berprestasi, perbaikan infrastruktur jalan, gedung-gedung sekolah, sarana keagamaan dan olah raga, pendidikan dan

22 Ibid.

23 A. Martanti Dwifebri, “Corporate Social Responsibility (CSR) seharusnya ikut serta perbaiki perekonomian bangsa” diakses dari situs : (http://72.:www.isei.or.id/page., diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 10.00 Wib).

(23)

pelatihan keperempuanan dan pemuda, serta pemberdayaan masyarakat adat.

Termasuk pula memelihara kondisi alam agar tetap dalam kondisi yang sehat dan seimbang. Pada posisi demikian, perusahaan telah ikut serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) masyarakat dari segi ekonomis dan ekologis.24

Menurut Bank Dunia tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama: perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha, pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan, kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan.25 Dengan adanya tanggung jawab sosial sebenarnya perusahaan diuntungkan karena dapat menciptakan lingkungan sosial yang baik serta dapat menumbuhkan citra positif perusahaan, tentu hal ini dapat meningkatkan iklim bisnis bagi perusahaan.

Yusuf Wibisono, CSR didifinisikan sebagai tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (triple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.26

Suhandari M. Putri, mendifinisikan CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan

24 Yenni Mangoting, Biaya Tanggung Jawab Sosial sebagai Tax Benefit, diakses dari situs : Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra (http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting, diakses Rabu, 02 Januari 2019).

25 A. Martanti Dwifebri, Op.Cit.

26Yusuf Wibisono, Membedah Konsep dan Aplikasi Corporate Social Responsibility, (Jakarta : Salemba Empat, 2007), hlm. 10

(24)

menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan.27

G. Metode Penulisan

1. Jenis, Sifat Dan Pendekatan Penelitian

Skripsi ini merupakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian berupa inventarisasi perundang-undangan yang berlaku, berupaya mencari asas-asas atau dasar falsafah dari perundang-undangan tersebut atau penelitian yang berupa usaha penemuan hukum yang sesuai dengan suatu kasus tertentu.28

Penelitian hukum normatif pada skripsi ini didasarkan pada bahan hukum sekunder yaitu implementasi tanggung jawab sosial PT. Socfin Indonesia untuk mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Tujuan penelitian deskriptif adalah menggambarkan secara tepat, sifat individu, suatu gejala, keadaan atau kelompok tertentu.29 Deskriptif analitis berarti bahwa penelitian ini menggambarkan dan menganalisis suatu peraturan hukum dalam konteks teori- teori dan norma-norma hukum di bidang implementasi tanggung jawab sosial PT.

Socfin Indonesia untuk mendukung usaha mikro, kecil dan menengah di perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

27 Suhandari M. Putri, Schema CSR, (Jakarta : Sinar Grafika, 2007), hlm.25

28Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 12.

29 Kontjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta : Gramedia, 2007), hlm. 42

(25)

Pendekatan penelitian yang dilakukan terhadap permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah pendekatan yuridis normatif, yaitu dengan menganalisis permasalahan dalam penelitian melalui pendekatan terhadap asas- asas hukum yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan.

2. Data Penelitian

Data penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) yang bertujuan untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi serta pemikiran konseptual, baik berupa peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya.30 Data sekunder yang digunakan dalam penulisan ini terdiri dari:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer berupa peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Dalam skripsi ini diantaranya berdasarkan Undang- Undang Dasar Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas;

b. Bahan Hukum Sekunder

Dokumen yang merupakan bacaan yang relevan seperti buku-buku, seminar- seminar, jurnal hukum, majalah, koran karya tulis ilmiah dan beberapa sumber internet yang berkaitan dengan materi yang diteliti.

30Johny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya : Bayumedia, 2006), hlm.192.

(26)

c. Bahan Hukum Tersier

Dokumen yang berisi tentang konsep-konsep maupun bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus, ensiklopedia dan sebagainya.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui:

a. Studi kepustakaan (Library research).

Sehubungan dengan permasalahan dalam penelitian ini, maka pengumpulan data dilakukan akan dilakukan melalui studi kepustakaan, dikumpulkan melalui studi literatur, dokumen dan dengan mempelajari ketentuan peraturan perundang-undangan, buku-buku hukum, artikel, literatur yang berhubungan dengan kewenangan pemberian persetujuan dan perizinan penanaman modal.

b. Studi lapangan (field research).

Di samping studi kepustakaan, data pendukung juga diperoleh dengan melakukan wawancara dengan manager PT. Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

4. Analisis Data

Penelitian hukum normatif yang menelaah data sekunder menyajikan data berikut dengan analisisnya.31 Metode analisis data dilakukan dengan metode kualitatif dengan penarikan kesimpulan secara deduktif. Metode penarikan kesimpulan secara deduktif adalah suatu proporsi umum yang kebenarannya telah diketahui dan berakhir pada suatu kesimpulan (pengetahuan baru) yang bersifat

31Soerjono Soekanto, Op. Cit., hlm. 69.

(27)

lebih khusus. Penarikan kesimpulan untuk menjawab permasalahan dilakukan dengan menggunakan logika berpikir deduktif. Metode deduktif dilakukan dengan membaca, menafsirkan dan membandingkan hubungan-hubungan konsep, asas dan kaidah yang terkait sehingga memperoleh kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penulisan yang dirumuskan.32

H. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika dalam penulisan skripsi ini adalah:

Bab I : Pendahuluan berisikan Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan

Bab II : Pengaturan Mengenai Corporate Sosial Responsibility Di Indonesia terdiri dari : Pengaturan Corporate Social Responsibility di Indonesia, Prinsip Corporate Social Responsibility, Standard Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.

Bab III : Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) Pada PT. Socfin Indonesia Tbk terdiri dari : Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Manfaat Corporate Social Responsibility PT. Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan dalam Pemberdayaan UMKM, Pelaksanaan Corporate Social Responsibility Dalam Pemberdayaan UMKM.

Bab IV : Implementasi Tanggung Jawab Sosial PT. Socfin Indonesia Untuk Mendukung Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Di Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan terdiri dari sub bab : Kebijakan PT. Socfin Indonesia Tbk

32Lexi Moelong, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta : Rosda Karya, 2008), hlm. 48.

(28)

Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan dalam Pelaksanaan Corporate Social Responsibility, Kendala Penerapan Corporate Social Responsibility Pada PT.

Socfin Indonesia Tbk Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan, Upaya Mengatasi Kendala Penerapan Corporate Social Responsibility dalam Mendukung Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Di Perkebunan Aek Loba Kabupaten Asahan.

BAB V kesimpulan dan saran dalam bab ini penulis membuat suatu kesimpulan dan saran dimana saran dibuat untuk menjadi bahan masukan mengenai masalah yang termuat dalam penulisan skripsi ini.

(29)

PENGATURAN MENGENAI CORPORATE SOSIAL RESPONSIBILITY DI INDONESIA

A. Pengaturan Corporate Social Responsibility di Indonesia.

Terminologi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bukanlah hal yang relatif baru dalam dunia usaha, evolusi konsepnya sendiri sudah berlangsung pada beberapa dekade. Pada sisi lain istilah CSR sendiri juga mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan dunia usaha, politis dan pembangunan sosial serta hak asasi manusia (HAM). Selain itu terminologi CSR juga dipengaruhi oleh dampak globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, dan semua itu akan mencerminkan pemahaman terhadap pengertian CSR dalam kontek lokal.33

Corporate Social Responsibility dalam bahasa Indonesia dikenal dengan tanggungjawab sosial perusahaan sedangkan di Amerika, konsep ini seringkali disamakan dengan corporate citizenship. Pada intinya, keduanya dimaksudkan sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah sosial dan lingkungan dalam kegiatan usaha dan juga pada cara perusahaan berinteraksi dengan stakeholder yang dilakukan secara sukarela. Selain itu, tanggungjawab sosial perusahaan diartikan pula sebagai komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan dan masyarakat setempat (lokal) dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.

Era globalisasi sering menjadi alasan untuk menjawab perubahan yang terjadi tanpa menyadari efek yang timbul dari globalisasi itu sendiri. Globalisasi

33 Zaim Saidi, Sumbangan Sosial Perusahaan, (Jakarta : Piramida, 2008), hlm. 97

(30)

sendiri berarti universal, di mana segala sesuatu nanti akan saling tergantung satu sama lain dan saling berintegrasi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, politik, lingkungan dan budaya masyarakat.34 Dalam dinamika masyarakat sendiri banyak fenomena yang muncul menjadi isu sosial, salah satunya adalah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Tanggung jawab sosial atau social responsibiliy muncul dan berkembang sejalan dengan interelasi antara perusahaan dan masyarakat, yang sangat ditentukan oleh dampak yang timbul dari dari perkembangan dan peradaban masyarakat.

Semenjak keruntuhan rezim diktatoriat Orde Baru, masyarakat semakin berani untuk beraspirasi dan mengekspresikan tuntutannya terhadap perkembangan dunia bisnis Indonesia. Masyarakat telah semakin kritis dan mampu melakukan kontrol sosial terhadap dunia usaha. Hal ini menuntut para pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin bertanggungjawab.

Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya.

Perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat memunculkan kesadararan baru tentang pentingnya melaksanakan apa yang kita kenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). Pemahaman itu memberikan pedoman bahwa korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja sehingga ter-alienasi atau mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat di

34 Ibid, hlm. 98.

(31)

tempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan lingkungan sosialnya.

Bambang Rudito dan Melia Famiola menyebutkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah merupakan suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (bukan hanya) perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.35 Lebih lanjut disebutkan bahwa tanggung jawab sosial berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan", dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata hanya berdasarkan faktor keuangan belaka seperti halnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekwensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.36

Menurut Baker, tanggung jawab sosial adalah bagaimana cara perusahaan mengelola proses bisnisnya untuk menghasilkan segala hal yang positif yang berpengaruh terhadap lingkungannya. Tanggung jawab sosial dapat dikatakan sebagai cara perusahaan mengatur proses produksi yang berdampak positif pada komunitas. Dapat pula dikatakan, sebagai proses penting dalam pengaturan biaya yang dikeluarkan untuk meraih keuntungan, baik internal (pekerja, shareholder), maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain). Esensi tanggung jawab sosial.

Pada dasarnya, bentuk tanggung jawab sosial perushaan dapat beraneka ragam.

35 Bambang Rudito dan Melia Famiola, Op.Cit, hlm.42

36 Ibid.

(32)

Dari yang bersifat charity sampai pada kegiatan yang bersifat pengembangan komunitas (Community Development).37

Menurut Andi Firman tanggung jawab sosial adalah suatu konsep yang bermaterikan tanggung jawab sosial dan lingkungan oleh perusahaan kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah perusahaan tersebut beroperasi. Tanggung jawab sosial dapat berupa program yang memberikan bantuan modal kerja lunak bagi para petani, nelayan, pengusaha kecil, pemberian beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa terutama yang tidak mampu dan berprestasi, perbaikan infrastruktur jalan, gedung-gedung sekolah, sarana keagamaan dan olah raga, pendidikan dan pelatihan keperempuanan dan pemuda, serta pemberdayaan masyarakat adat.

Termasuk pula memelihara kondisi alam agar tetap dalam kondisi yang sehat dan seimbang. Pada posisi demikian, perusahaan telah ikut serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) masyarakat dari segi ekonomis dan ekologis.38

Menurut Bank Dunia tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama: perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha, pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan, kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan.39 Dengan adanya tanggung jawab sosial sebenarnya perusahaan diuntungkan karena dapat

37 A. Martanti Dwifebri, “Corporate Social Responsibility (CSR) seharusnya ikut serta perbaiki perekonomian bangsa” diakses dari situs : http://72.:www.isei.or.id/page., diakses tanggal 02 Januari 2019 Pukul 10.00 Wib.

38 Yenni Mangoting, Biaya Tanggung Jawab Sosial sebagai Tax Benefit, diakses dari situs : Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting, diakses tanggal 02 Januari 2019 Pukul 10.00 Wib.

39 A. Martanti Dwifebri, Op.Cit.

(33)

menciptakan lingkungan sosial yang baik serta dapat menumbuhkan citra positif perusahaan, tentu hal ini dapat meningkatkan iklim bisnis bagi perusahaan.

Yusuf Wibisono, CSR didifinisikan sebagai tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (triple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.40

Suhandari M. Putri, mendifinisikan CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan.41

Baker menyebutkan bahwa ada dua model penerapan tanggung jawab sosial. Model tersebut adalah:

1. Model Amerika Tradisional. Model ini lebih bersifat filantropis/karitas. Pada model ini perusahaan mendapatkan laba sebesarbesarnya, melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan dan menyumbangkan keuntungannya kepada masyarakat.

2. Model Eropa Modern. Model ini lebih integrative, memfokuskan diri pada bidang usaha utama perusahaan yang dijalankan dengan tanggung jawab terhadap masyarakat.42

CSR adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun hubungan harmonis dengan masyarakat tempatan. Secara teoretik, CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para

40Yusuf Wibisono, Membedah Konsep dan Aplikasi Corporate Social Responsibility, Salemba Empat, Jakarta, 2007, hlm. 10

41 Suhandari M. Putri, Schema CSR, Sinar Grafika, Jakarta 2007, hlm.25

42 Ibid , hlm.26

(34)

strategicstakeholdersnya, terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan operasinya. CSR memandang perusahaan sebagai agen moral. Dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas.

Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam sudut pandang CSR adalah pengedepankan prinsip moral dan etis, yakni menggapai suatu hasil terbaik, tanpa merugikan kelompok masyarakat lainnya. Salah satu prinsip moral yang sering digunakan adalah goldenrules yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan.

Dengan begitu, perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat.43

Menilik sejarahnya, gerakan CSR modern yang berkembang pesat selama dua puluh tahun terakhir ini lahir akibat desakan organisasi-organisasi masyarakat sipil dan jaringannya di tingkat global. Keprihatinan utama yang disuarakan adalah perilaku korporasi, demi maksimalisasi laba, lazim mempraktekkan cara- cara yang tidak fair dan tidak etis, dan dalam banyak kasus bahkan dapat dikategorikan sebagai kejahatan korporasi. Beberapa raksasa korporasi transnasional sempat merasakan jatuhnya reputasi mereka akibat kampanye dalam skala global tersebut.44

Hingga dekade 1980-90 an, wacana CSR terus berkembang. Munculnya KTT Bumi di Rio pada 1992 menegaskan konsep sustainibility development (pembangunan berkelanjutan) sebagai hal yang mesti diperhatikan, tak hanya oleh

43 Sambutan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Seminar Sehari "A Promise of Gold Rating : Sustainable CSR" diakses dari situs : http://www.menlh.go.id2/36, diakses tanggal 02 Januari 2019 Pukul 10.00 Wib.

44 Ibid

(35)

negara, tapi terlebih oleh kalangan korporasi yang kekuatan kapitalnya makin menggurita. Tekanan KTT Rio, terasa bermakna sewaktu James Collins dan Jerry Porras meluncurkan Built To Last; Succesful Habits of Visionary Companies di tahun 1994. Lewat riset yang dilakukan, mereka menunjukkan bahwa perusahaan- perusahaan yang terus hidup bukanlah perusahaan yang hanya mencetak keuntungan semata.

Konsep CSR di Indonesia bukan merupakan hal yang baru karena CSR sudah dikenal dan di praktekkan di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Pada awal tahun 1970-an terjadi perubahan kesadaran masyarakat dunia akan dampak aktivitas perusahaan. Kesadaran akan dampak, baik positif maupun negatif perusahaan tersebut mengakibatkan tekanan dan tuntutan yang dialamatkan pada perusahaan, agar perusahaan memperluas tanggung jawab sosialnya.45

Tanggung jawab pengelolaan organisasi yang semula hanya kepada stockholders (pemilik/pemegang saham) bergeser pada stakeholders / pemangku kepentingan (pemilik, karyawan, pemerintah dan masyarakat luas). Pada tahun 1970-an di banyak negara tanggung jawab sosial dan kontribusi charity langsung kepada yang berhak, sehingga banyak perusahaan yang membentuk yayasan.

Dilanjutkan pada tahun 1980-an dan 1990-an, di negara ekonomi maju, muncul suatu kepentingan yang memberikan nilai lebih kepada stakeholder.

Perusahaan diwajibkan menjadi salah satu katalis percepatan pembangunan di wilayah operasionalnya, sehingga kegiatan CSR diharapkan

45 Admin Baitul Hikmah. CSR Sebuah Pandangan Dari Sudut Akutansi.

www.baitulhikmah.com/tanggung-jawab-sosial-perusahaan-csr, diakses tanggal 02 Januari 2019 Pukul 10.00 Wib

(36)

memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar daerah operasinya. Secara tidak langsung CSR berfungsi sebagai faktor pendukung untuk mendapatkan profit, karena terjadi peningkatan reputasi perusahaan. Indonesia merupakan negara yang sedang melakukan pengembangan di berbagai sektor, turut mendukung adanya kegiatan CSR.46

Di Indonesia sendiri, munculnya Undang-Undang No. 40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU PT) menandai babak baru pengaturan CSR. Selain itu, pengaturan tentang CSR juga tercantum di dalam Undang-Undang No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Walaupun sebenarnya pembahasan mengenai CSR sudah dimulai jauh sebelum kedua undang-undang tersebut disahkan. Salah satu pendorong perkembangan CSR yang terjadi di Indonesia adalah pergeseran paradigma dunia usaha yang tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan saja, melainkan juga bersikap etis dan berperan dalam penciptaan investasi sosial.

Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi tuntutan tidak terelakkan seiring dengan bermunculannya tuntutan komunitas terhadap perusahaan.

Perusahaan sadar bahwa keberhasilannya dalam mencapai tujuan bukan hanya dipengaruhi faktor internal, melainkan juga oleh komunitas yang berada di sekelilingnya. Ini artinya telah terjadi pergeseran hubungan antara perusahaan dan komunitas. Perusahaan yang semula memposisikan diri sebagai pemberi donasi melalui kegiatan charity dan phylanthrophy, kini memposisikan komunitas sebagai mitra yang turut andil dalam kelangsungan eksistensi perusahaan.47

46Ian Abimanyu. Jembatan Emas Kepentingan Antara Dunia Usaha Dengan Masyarakat Dan Lingkungan. (www.pustikom.tk/2013/10/corporate-social-responsibility-csr.html. diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib).

47Reza Rahman. Corporate Social Responsibility:Antara Teori dan Kenyataan. (Bandung : Media Pressindo, 2009), hlm. 3.

(37)

Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dalam rangka pembangunan nasional dalam suatu negara bukan meupakan tanggung jawab pemerintah saja.

Setiap warga negara ataupun perusahaan harus mempunyai tanggung jawab dalam perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dalam rangka pembangunan nasional.

Salah satu yang mendorong pertumbuhan ekonomi dalam rangka pembangunan ekonomi adalah dunia usaha, yaitu hasil pelaksanaan berbagai instansi dan pihak-pihak. Instansi dan pihak-pihak tersebut diantaranya adalah perusahaan-perusahaan. Jadi, perusahaan adalah sebagai salah satu pelaku ekonomi tetap harus selain menjalankan usahanya dan memperoleh keuntungan juga harus memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Tanggung jawab sosial perusahaan pada dasarnya bukanlah sebuah beban bagi korporat yang beraktifitas, akan tetapi lebih besar dimaknai sebagai usaha perusahaan untuk beradaptasi dengan kehidupan sosial masyarakat, menjalin kesaling percayaan antara perusahaan dan masyarakat. Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia pada dasarnya tersebar juga di seluruh bagian negara lain, dan ini mengakibatkan masing-masing perusahaan akan lebih tahu bentuk kebutuhan dan bentuk kesejahteraan yang diperlukan oleh masyarakat yang ada disekitar perusahaan.48

CSR dipahami sebagai konsep yang lebih “manusiawi” dimana suatu organisasi dipandang sebagai sebagai “agen moral”. Oleh karena itu dengan atau tanpa aturan hukum sebuah organisasi bisnis harus menjunjung tinggi sebuah moralitas.49

48 Bambang Rudito dan Melia Famiola Op. Cit, hlm. 25

49 Sofyan Djalil. Konteks Teoritis dan Praktis Corporate Social Responsibility. (Jurnal Reformasi Ekonomi. Vol 4. No. 1 Tahun 2014), hlm.4

(38)

Bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan yang sering diterapkan di Indonesia adalah Community Development. Perusahaan yang mengedepankan konsep ini akan lebih menekankan pembangunan sosial dan pembangunan kapasitas masyarakat sehingga akan menggali potensi masyarakat lokal yang menjadi modal sosial perusahaan untuk maju dan berkembang. Selain dapat menciptakan peluang-peluang sosial-ekonomi masyarakat, menyerap tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan, cara ini juga dapat membangun citra sebagai perusahaan yang ramah dan peduli lingkungan. Selain itu, akan tumbuh rasa percaya dari masyarakat. Rasa memiliki perlahan-lahan muncul dari masyarakat sehingga masyarakat merasakan bahwa kehadiran perusahaan di daerah mereka akan berguna dan bermanfaat.

Konsep Community Development merupakan istilah yang dimaksudkan untuk mewakili pemikiran tentang pengembangan masyarakat dalam konteks pembangunan sumber daya manusia ke arah kemandirian, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran perusahaan di tengah kehidupan masyarakat dengan berbagai kegiatannya menimbulkan ketidaksetaraan sosial ekonomi anggota masyarakat lokal dengan perusahaan ataupun pendatang lainnya, sehingga diperlukan suatu kebijakan untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian masyarakat lokal. Diperlukannya suatu wadah program yang berbasis pada masyarakat yang sering disebut sebagai community development untuk menciptakan kemandirian komuniti lokal untuk menata sosial ekonomi mereka sendiri.50

50 Arif Budimanta dan Bambang Rudito. CSR Alternatif Bagi Pembangunan Indonesia.

(Jakarta : Indonesia Center For Sustainable Development (ICSD), 2008), hlm. 28

(39)

Community Development yang dimaknai sebagai pengembangan masyarakat terdiri dari dua konsep, yaitu ‘pengembangan’ dan ‘masyarakat’.

Secara singkat, ‘pengembangan atau pembangunan’ merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia pada umumnya.

Bidang-bidang pembangunan biasanya meliputi berbagai sektor kehidupan, yaitu sektor ekonomi, sektor pendidikan, kesehatan dan sosial budaya. Sedangkan pengertian ‘masyarakat’ dapat diartikan dalam dua konsep, yaitu:

1. Masyarakat sebagai sebuah ‘tempat bersama’, yakni sebuah wilayah geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, perumahan di daerah perkotaan atau sebuah kampung di wilayah pedesaan.

2. Masyarakat sebagai ‘kepentingan bersama’, yakni kesamaan kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas. Sebagai contoh, kepentingan bersama pada masyarakat etnis minoritas atau kepentingan bersama berdasarkan identifikasi kebutuhan tertentu seperti halnya pada kasus para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus (anak cacat phisik) atau bekas para pengguna pelayanan kesehatan mental.51

Pemberdayaan masyarakat yang berbasis masyarakat seringkali diartikan dengan pelayanan sosial gratis dan swadaya yang biasanya muncul sebagai respon terhadap melebarnya kesenjangan antara menurunnya jumlah pemberi pelayanan dengan meningkatnya jumlah orang yang membutuhkan pelayanan.

Pemberdayaan masyarakat juga diartikan sebagai pelayanan yang menggunakan pendekatan-pendekatan yang lebih bernuansa pemberdayaan yang memperhatikan keragaman pengguna dan pemberi pelayanan. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai metoda yang memungkinkan orang dapat

51 Hendry B. Mayo. Konsep Community Development. (www.academia.edu. diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib).

(40)

meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar pengaruh terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya.

Kepedulian kepada masyarakat sekitar komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR adalah bukan hanya sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibatnya terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.52

Tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha harus merespon dan mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya yaitu sebagai berikut :

1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat.

2. Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme.

3. kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial.53

Awalnya sebagai bentuk perwujudan CSR perusahaan lebih memfokuskan perhatian pada perbaikan pemenuhan kebutuhan stakeholder (salah satunya adalah

52Kertya Witaradya, Govennance Concultant. CSR & Comdev. (Arsip teknik pertambangan.blogspot.com/ www.slideshare.net diakses Rabu, 02 Januari 2019 Pukul 08.00 Wib).

53 Ibid.

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan penanaman modal asing dalam sektor perkebunan dalam perspektif hukum di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman

Penanggulangan kejahatan pada dasarnya merupakan upaya yang dilakukan oleh pihak berwajib dalam meningkatkan keamanan, kenyamanan dalam masyarakat, seperti yang

ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 73. Pasal 109 ini disebutkan dengan jelas segala jenis barang yang merupakan barang yang dilarang dalam kegiatan ekspor-impor akan

Dan Keputusan Walikota Medan Nomor 9 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pajak Daerah Kota Medan yang dimana dalam

1. Belum pernah dihukum atau residivis. Dengan maksud bahwa terdakwa sebelum melakukan tindak pidana, terdakwa tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang

Upaya yang dilakukan dengan adanya penerbitan bilyet giro kosong adalah dengan mengajukan kepada Bank Indonesia agar penerbit nasabah biro yang bersangkutan dimasukkan

Kendala dalam pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Fakultas Hukum USU, Pelaksanaan Perda KTR di Kota Medan

Adapun skripsi ini berjudul “Aspek Hukum Penolakan Rakyat China Terhadap Keputusan Arbitrase Internasional dalam Kasus Laut Cina Selatan.”Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi