• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP NOVEL BECAUSE YOU GIVE ME LOVE KARYA MITO ORIHARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP NOVEL BECAUSE YOU GIVE ME LOVE KARYA MITO ORIHARA"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP NOVEL “BECAUSE YOU GIVE ME LOVE” KARYA MITO ORIHARA

MITO ORIHARA NO SAKUHIN NO “BECAUSE YOU GIVE ME LOVE” TO IU SHOUSETSU NI TAISURU PURAGUMATIKU NO BUNSEKI

SKRIPSI

Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat

Ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang

Oleh:

NOVITA ESTER 110708063

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(2)

SKRIPSI

ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP NOVEL “BECAUSE YOU GIVE ME LOVE” KARYA MITO ORIHARA

Oleh

Nama : Novita Ester

NIM : 110708063

Program Studi : Sastra Jepang

Proposal ini diajukan untuk melengkapi persyaratan mengikuti ujian skripsi dan telah disetujui oleh:

Pembimbing

Prof. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D.

NIP: 19580704 1984 12 1 001

Menyetujui:

NIP: 19580704 1984 12 1 001 Ketua

Program Studi Sastra Jepang

Prof. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D.

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan berkat dan kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyelesaikan skripsi ini karena merupakan syarat untuk mencapai gelar sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Adapun skripsi ini berjudul “ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP NOVEL BECAUSE YOU GIVE ME LOVE KARYA MITO ORIHARA”.

Menyelesaikan masa studi yang agak terlambat merupakan suatu penyesalan tersendiri bagi penulis. Tetapi yang terpenting adalah keputusan untuk bangkit dari rasa gagal dan kemauan untuk menyelesaikannya sampai ke garis akhir. Menyelesaikan skripsi ini dan akan mendapat gelar Sarjana merupakan salah satu anugerah terindah yang Tuhan beri kepada penulis dan tentu saja penulis tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Dan dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis mendapatkan sangat banyak bantuan. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yakni kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D., selaku Ketua Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai dosen pembimbing penulis yang sangat berjasa dalam penyelesaian

(5)

studi penulis. Beliau bersedia meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan kepada penulis di tengah-tengah kesibukan beliau.

Sungguh sangat bangga menjadi salah satu anak didik beliau dan berkesempatan dibimbing beliau secara langsung.

3. Ibu Adriana Hasibuan, SS, M.Hum, selaku Sekretaris Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan Ibu Fazlah Putri, selaku Staf Administrasi Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang bersedia meluangkan waktu, memberi perhatian, mengarahkan, menasehati dan membantu penulis agar lancar dalam masa penyelesaian studi, serta seluruh Dosen Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama masa studi. Semoga ilmu yang didapat bisa berguna dalam dunia kerja maupun dalam kehidupan penulis setelah menjadi Sarjana.

4. Bapak G. A. Simanullang dan ibu M. Situmorang, selaku orang tua penulis, beserta F. Simanullang, A. Md, selaku adik perempuan penulis yang senantiasa selalu mendoakan, mengingatkan, memaafkan, menasehati, memberikan perhatian setiap harinya. Penulis sangat bangga dan bersyukur terlahir dalam keluarga ini. Terimakasih untuk doa dan segala dukungannya terhadap penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, umur yang panjang dan hati yang selalu menyayangi, serta selalu diberikan damai sejahtera dalam menghadapi segala persoalan hidup. Tidak lupa juga bou Daniel, mamatua Guardiola, nanguda

(6)

Michael, kak Sabam, tante Olan, bang Andre dan seluruh keluarga besar penulis yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terimakasih selalu mendoakan dan memberikan semangat serta motivasi kepada penulis. Semoga penulis tetap dapat menjadi kebanggaan dalam keluarga.

5. Seluruh teman-teman di Sastra Jepang USU khususnya stambuk 2011 yang selalu menemani dan berjuang bersama dalam menyelesaian skripsi ini, Fitri dan Erson. Tidak lupa juga Yenny, Juli, Esther, Olive, Dea, Yuki, yang selalu memberikan semangat dan terus-menerus mendukung dalam proses penyelesaian skripsi ini. Semoga kita bisa terus selalu mendukung dan menyemangati satu sama lain. Lalu teman-teman penulis di organisasi dan pelayanan IMPERATIF (Ikatan Mahasiswa Pemimpin Rasional dan Kreatif).

Nenny, Yustry, Ingrid, Sapsen, Artita, Monalisa, Aridanu, Vita, Mega, Airin, Elsa, kak Anita, kak Lely, kak Silvi, bang Denata, bang Samuel dan semua kakak, abang, adik yang tidak bisa penulis sebutkan satu per-satu, yang selalu tidak pernah bosan untuk mendukung, menyemangati dan mengingatkan penulis untuk menyelesaikan skripsi.

6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per-satu yang membantu dan memberikan dukungan kepada penulis. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian dengan berkat yang berlipat kali ganda.

Akhir kata, penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan baik dalam tulisan, tata bahasa, maupun isi pembahasan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis akan menerima kritik dan saran dari para pembaca dan pengguna skripsi ini nantinya.

(7)

Medan, Juli 2018 Penulis,

(Novita Ester)

(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... v

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 4 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ... 4 1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori

1.4.1 Tinjauan Pustaka ... 5 1.4.2 Kerangka Teori ... 6 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.5.1 Tujuan Penelitian ... 7 1.5.2 Manfaat Penelitian ... 7 1.6 Metode Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN UMUM NOVEL BECAUSE YOU GIVE ME LOVE KARYA MITO ORIHARA SERTA STUDI PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM KAJIAN SASTRA

2.1. Definisi Novel ... 11 2.2. Resensi Novel

2.2.1. Tema ... 15

(9)

2.2.2. Alur (Plot) ... 17

2.2.3. Penokohan atau Perwatakan ... 18

2.2.4. Latar (Setting) ... 21

2.2.5. Sudut Pandang (Point of View) ... 23

2.2.6. Biografi Pengarang ... 25

2.3. Studi Pragmatik Sastra ... 26

BAB III ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP NOVEL BECAUSE YOU GIVE ME LOVE KARYA MITO ORIHARA 3.1 Sinopsis Novel ... 29

3.2 Analisis Pragmatik Terhadap Novel ... 38

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan ... 44

4.2 Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 46 ABSTRAK

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam hal keberagaman budaya, Jepang memiliki kesamaan dengan Indonesia. Budaya terbentuk dari berbagai unsur, termasuk agama, sistem politik, adat istiadat, letak wilayah, bahkan karya seni. Karya seni di Jepang sangatlah beragam. Dan sama hal nya dengan negara-negara lain, salah satu hasil karya seni di Jepang adalah sastra. Semi (1988: 8) memaparkan sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Karena pada hakikatnya sastra dihasilkan melalui perwujudan pribadi manusia melalui pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, bahkan keyakinannya, maka dari itu hasil karya sastra pun sangatlah banyak dan beragam. Menurut (Djojosuroto dan Pangkerego, 2000:

12) karya sastra dikenal dalam dua bentuk, yaitu fiksi dan nonfiksi. Contoh karya sastra fiksi adalah prosa, puisi, dan drama, sedangkan contoh karya sastra nonfiksi adalah biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra. Pada kesempatan kali ini penulis ingin meneliti novel. Novel merupakan salah satu hasil karya sastra fiksi, yaitu prosa. Prosa sendiri masih terbagi menjadi dua, yaitu prosa lama dan prosa baru. Beberapa contoh prosa lama adalah dongeng jenaka, fabel, mitos.

Sedangkan contoh prosa baru salah satunya adalah novel.

Seiring berkembangnya zaman, novel pun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Jenis dan bentuk novel sangat banyak macamnya. Di dukung hal

(11)

tersebut, penulis ingin membahas salah satu novel seorang wanita bernama Mito Orihara, yang sampai saat ini cukup banyak karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Novel karya Mito Orihara yang ingin penulis bahas berjudul

“Because You Give Me Love” yang menceritakan tentang kehidupan seorang gadis remaja bernama Asuka Masaki yang memiliki pemikiran bahwa dia tidak mempunyai masa depan sampai suatu hari dia menemukan seekor anjing, dan membuat kehidupannya berbalik menjadi seorang gadis yang bersemangat dan mempunyai impian.

Asuka hanya tinggal bersama ibunya karena tidak memiliki seorang ayah sejak lahir. Bukan karena perceraian atau karena ayah Asuka meninggal dunia, tetapi karena ayah Asuka adalah seorang pria beristri yang menjalin hubungan gelap dengan ibu Asuka. Di Jepang, hal seperti ini merupakan aib yang sangat besar, bahkan akan mengalami ejekan, hinaan, bahkan dikucilkan oleh teman- teman atau masyarakat. Hal ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan psikologis serta mental Asuka. Anak yang mengalami hal tersebut akan merasa minder dalam pergaulannya sehari-hari, dan juga berpengaruh akan rasa kurang perhatian dan akan ada rasa dendam yang timbul di hati anak yang akan melekat sampai si anak tumbuh dewasa. Hal ini terbukti dari karakter Asuka yang suka lari dari masalah, merasa dirinya tidak cantik, bodoh, dan tidak mempunyai kemampuan apapun, sehingga dia memutuskan untuk tak mau lagi pergi ke sekolah umum. Akhirnya ibu Asuka membuat Asuka menjalani home schoolling.

Asuka juga mengalami perasaan kesepian luar biasa dalam dirinya. Ia tidak punya teman, ia tidak punya ayah, ibunya sibuk bekerja untuk menafkahi

(12)

mereka berdua, ia merasa tidak punya siapapun. Sampai suatu hari dia menemukan seekor anak anjing yang hampir mati di sebuah taman. Asuka membawanya ke klinik hewan yang ternyata adalah milik orangtua mantan teman sekelasnya, Hiromu Miki. Ternyata anjing kecil itu tidak mau berpisah dari Asuka, sehingga ia memutuskan untuk memeliharanya, dan anjing itu diberi nama Junta. Keputusannya memelihara anjing membuat Asuka harus bekerja paruh waktu di klinik hewan Mickey. Dan menariknya, hal ini merupakan titik balik dari kehidupan Asuka sebelumnya.

Asuka menyadari ia telah jatuh cinta kepada Hiromu Miki, mantan teman sekelasnya sekaligus anak pemilik klinik tempat ia bekerja paruh waktu. Hiromu yang terlihat ketus kepada Asuka pun, ternyata diam-diam menaruh perhatian kepada Asuka. Asuka selalu berharap, suatu hari nanti bisa bekerja bersama Hiromu, karena Hiromu ingin menjadi Dokter hewan. Dan sekarang Asuka sudah mempunyai tujuan hidup, yaitu ingin menjadi juru rawat hewan. Disamping itu, ibu Asuka menikah kembali dengan seorang pria yang Asuka kenal baik. Ia bernama Yuhei Uehara yang adalah pemilik toko Pretty Pet, tempat Asuka pernah mengutil. Namun seiring perjalanan kehidupannya, Asuka dihadapkan kepada situasi dimana dia merasa memiliki rival dalam hubungannya dengan Hiromu.

Tetapi dia tetap berusaha menjadi yang terbaik.

Novel ini banyak mengajarkan nilai moral dan berkaitan banyak dengan persoalan hubungan manusia dengan manusia, misalnya nilai kasih sayang antara orang tua dengan anak atau permasalahan gambar diri yang rusak. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis ingin meneliti menggunakan pendekatan

(13)

pragmatik yang memberikan efek positif kepada pembaca. Penulis ingin membahas nilai pragmatik yang terdapat dalam novel ini karena mengajarkan tentang keberanian, kasih sayang, kejujuran, dan juga mengajarkan kepada pembaca bahwa kita sebagai manusia yang ingin berguna bagi orang lain kita harus memiliki sifat percaya diri, cerdas, bertanggung jawab, menepati janji, mempunyai keahlian, tidak pendendam, dan sebagainya. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik untuk menganalisis novel ini dan menyajikannya dalam sebuah skripsi dengan judul “ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP NOVEL

“BECAUSE YOU GIVE ME LOVE” KARYA MITO ORIHARA.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1) Nilai-nilai apa yang digambarkan pengarang dalam novel ini?

2) Bagaimana mendeskripsikan nilai-nilai yang disampaikan pengarang dalam novel tersebut melalui pendekatan pragmatik?

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan

Dalam sebuah penelitian diperlukan batasan masalah agar masalah tidak berkembang luas dan agar pembahasannya lebih terarah. Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis amanat atau nilai-nilai apa saja yang ingin disampaikan pengarang, yang terdapat dalam novel “Because You Give Me Love” karya Mito

(14)

Orihara berdasarkan pendekatan pragmatik dalam kajian sastra melalui tokoh utamanya Asuka Masaki.

Novel “Because You Give Me Love” merupakan novel terjemahan berisi 149 halaman yang diterbitkan tahun 2003 oleh PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Judul asli novel ini adalah KIMI GA AI O KURETA KARA, novel Jepang yang diterbitkan tahun 2000 oleh Kodansha Ltd, Tokyo.

Dengan menggunakan pendekatan pragmatik sastra, penulis akan menjelaskan apa saja amanat atau nilai-nilai yang ingin disampaikan pengarang melalui cuplikan teks percakapan tokoh utama dengan tokoh-tokoh lain di dalam novel serta menilai karakter dan perilaku tokoh utama. Dalam penelitian ini juga penulis akan menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan penelitian, seperti definisi, pengertian, fungsi, jenis, dan sebagainya.

1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1.4.1 Tinjauan Pustaka

Dalam menganalisis karya sastra berdasarkan teori, ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan melalui pendekatan sastra. Menurut (Jabrohim, 2012: 67) model pendekatan itu terbagi ke dalam empat kelompok, yaitu:

1) Pendekatan ekspresif, yaitu model pendekatan yang menonjolkan kajiannya terhadap peran pengarang sebagai pencipta karya sastra.

2) Pendekatan pragmatik, yaitu model pendekatan yang menitikberatkan sorotannya terhadap peranan pembaca sebagai penyambut dan penghayat karya sastra.

(15)

3) Pendekatan mimetik, yaitu pendekatan yang lebih berorientasi pada aspek referensial dalam kaitannya dengan dunia nyata.

4) Pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang memperhatikan karya sastra sebagai struktur dengan koherensi intirinsik (melihat struktur karya sastra tersebut).

Pendekatan yang penulis gunakan untuk penelitian ini adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik lazim digunakan oleh para peneliti ketika ingin mengetahui nilai suatu karya sastra yang dapat berguna bagi pembacanya. Dari aspek pragmatik, teks sastra dikatakan berkualitas apabila memenuhi keinginan pembaca.

1.4.2 Kerangka Teori

Dalam sebuah penelitian diperlukan suatu landasan untuk menganalisis suatu permasalahan. Tentunya untuk menganalisis sebuah karya sastra diperlukan teori sastra atau yang biasa disebut pendekatan kajian sastra sebagai landasannya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik dalam sastra adalah cabang penelitian ilmu sastra yang mengarah ke aspek kegunaan sastra. Pengarang mampu menghibur dan sekaligus mengajarkan sesuatu, membuat pembaca merasa nikmat dan sekaligus ada sesuatu yang dipetik atau memberi gambaran bahwa pembaca mendapatkan manfaat yang mampu mengubah dirinya (Suwardi, 2008: 117).

Pendekatan pragmatik mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan dan menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti pendidikan, moral, agama, atau tujuan lainnya. Semakin

(16)

banyak nilai atau ajaran yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, maka akan semakin tinggi nilai dari karya sastra tersebut. Dengan pendekatan pragmatik dapat dipahami bahwa novel adalah sarana yang cukup efektif untuk menyampaikan tujuan-tujuan tertentu pengarang kepada pembacanya. Dan untuk menyampaikan tujuan-tujuan tersebut pengarang mencerminkannya melalui tokoh cerita, baik melalui deskripsi pikiran maupun perilaku tokoh.

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.5.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan alasan-alasan yang telah dikemukakan penulis dalam latar belakang masalah, maka tujuan dari penelitianpun harus disesuaikan dengan rumusan masalah, sehingga akan terarah dan efisien. Tujuan penelitian ini secara ringkas, yaitu:

1) Untuk mengetahui nilai-nilai yang digambarkan pengarang dalam novel ini.

2) Untuk mendeskripsikan nilai-nilai yang disampaikan pengarang dalam novel tersebut melalui pendekatan pragmatik.

1.5.2 Manfaat Penelitian

Sebuah penelitian diharapkan dapat menghasilkan laporan yang sistematis, mencapai tujuan, dan dapat bermanfaat secara umum. Adapun manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Manfaat Teoretis

(17)

Penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan terutama jurusan Sastra Jepang. Di samping itu, bermanfaat dalam upaya pengembangan mutu dan hasil pembelajaran.

2) Manfaat Praktis a) Bagi pembaca

Penelitian novel ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan perbandingan dengan penelitian-penelitian lain yang telah ada sebelumnya dalam menganalisis.

b) Bagi mahasiswa jurusan Sastra Jepang

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan mahasiswa untuk memotivasi ide atau gagasan baru yang lebih kreatif dan inovatif di masa yang akan datang, demi kemajuan diri dan mahasiswa.

c) Bagi peneliti

Diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung dalam manganalisis sebuah karya sastra dan memberi dorongan kepada peneliti lain untuk melaksanakan penelitian sejenis.

1.6 Metode Penelitian

Metode yang digunakan penulis untuk menjawab permasalahan dan mencapai tujuan serta manfaat penelitian yang telah dijelaskan adalah metode deskriptif. Menurut (Junaiyah dan Arifin, 2010: 113) metode penelitian deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan, menguraikan dan menjelaskan fenomena objek penelitian. Metode ini menjelaskan data atau objek penelitian secara alami, objektif dan apa adanya (faktual). Metode deskriptif

(18)

umumnya dimulai dengan mengklasifikasikan objek kemudian hasil klasifikasi tersebut dianalisis secara deskriptif. Metode ini juga berfungsi untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasikan, mengkaji dan menginterpretasikan data. Metode ini tidak hanya menjelaskan, tetapi juga memberikan pemahaman yang jelas terhadap data yang kita analisis. Penulis menggunakan metode penelitian tersebut karena penelitian ini mempunyai tujuan untuk memperoleh jawaban yang terkait dengan pendapat, tanggapan atau persepsi seseorang sehingga pembahasannya harus secara kualitatif atau menggunakan uraian kata-kata.

Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah library research atau studi kepustakaan. Menurut (Zed, 2004: 3) studi kepustakaan adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. (Nazir, 1988 : 111) juga memaparkan studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, catatan-catatan, laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. Berdasarkan hal ini, yang penulis gunakan untuk membantu proses penelitian adalah mengumpulkan informasi dan data yang terdapat dalam artikel, website, buku-buku dari perpustakaan Universitas Sumatera Utara ataupun tempat lain, serta karya ilmiah pada penelitian-penelitian sebelumnya.

Kemudian dari data-data dan informasi kepustakaan tersebut, penulis membaca dan mencari teori yang berhubungan dengan penelitian mengenai analisis novel berjudul “Because You Give Me Love” berdasarkan pendekatan

(19)

pragmatik. Maka berdasarkan hal yang telah penulis jelaskan di atas, langkah- langkah yang dilakukan penulis dalam menyusun penelitian ini adalah:

1. Membaca novel “Because You Give Me Love” karya Mito Orihara dan menentukan masalah.

2. Mencari, mengumpulkan data dan referensi yang berhubungan dengan objek penelitian untuk dijadikan sumber bacaan.

3. Mengumpulkan data-data tersebut kemudian menganalisis data berdasarkan pendekatan pragmatik sastra.

4. Menyusun seluruh data tersebut menjadi sebuah laporan berbentuk skripsi.

(20)

BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL “BECAUSE YOU GIVE ME LOVE” KARYA MITO ORIHARA DAN STUDI PENDEKATAN

PRAGMATIK DALAM KAJIAN SASTRA

2.1 Definisi Novel

Kata novel sendiri diambil dan diadaptasi dari bahasa Italia “novella”

yang memiliki arti sebuah kisah atau sepotong berita. Novel adalah sebuah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.

Novel terdiri dari beragam jenis, yaitu sebagai berikut:

1) Novel Berdasarkan Genre

a. Novel romantis, yaitu novel yang menceritakan kisah-kisah percintaan.

b. Novel misteri, yaitu novel yang menceritakan kisah-kisah misteri dan menimbulkan rasa penasaran pembaca karena penuh dengan teka teki.

c. Novel komedi, yaitu novel yang memuat unsur-unsur humor sehingga membuat para pembaca terhibur.

(21)

d. Novel horor, yaitu novel yang memberikan efek menegangkan bagi pembaca. Cerita yang disajikan dalam novel ini biasanya cerita seram, bisa berupa hal mistis atau gaib.

e. Novel inspiratif, yaitu novel yang berisi kisah-kisah inspiratif.

Jenis novel ini ditujukan untuk memberikan pesan moral atau membangkitkan motivasi para pembaca.

Berdasarkan genre, novel yang penulis bahas adalah novel romantis sekaligus novel inspiratif. Novel ini selain berisi kisah jatuh cinta seorang gadis remaja kepada mantan teman sekelasnya, juga berisi tentang bagaimana seorang gadis remaja mengalahkan dirinya sendiri untuk menghadapi berbagai persoalan hidup.

2) Novel Berdasarkan Isi dan Tokohnya:

a. Novel teenlit, yaitu novel yang ditujukan untuk para remaja.

Segala yang diceritakan dalam novel jenis ini disesuaikan dengan karakter dan tumbuh kembang remaja. Biasanya topik cerita untuk jenis novel ini adalah tentang cinta dan persahabatan.

b. Novel chicklit, yaitu novel yang mempunyai tingkatan lebih tinggi dari novel teenlit. Jenis novel ini menceritakan mengenai wanita muda dan segala permasalahan yang dihadapi.

c. Novel songlit, yaitu novel yang dibuat dari sebuah lagu.

Biasanya, alur cerita dalam novel ini dikembangkan dari sebuah lagu yang sedang hits atau bermakna mendalam.

(22)

d. Novel dewasa, yaitu jenis novel yang diperuntukkan hanya untuk orang dewasa. Hal ini dikarenakan isi dari jenis novel ini biasanya berhubungan dengan unsur sensualitas orang-dewasa.

Berdasarkan isi dan tokohnya, novel yang penulis bahas adalah novel teenlit. Novel ini berisi kisah persahabatan seorang gadis remaja dengan hewan peliharaannya dan juga dengan seorang pria yang berujung pada romantisme remaja.

3) Novel Berdasarkan Kebenaran Cerita

a. Novel fiksi, yaitu novel yang bercerita tentang hal fiktif atau khayalan semata, dan tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Kefiktifan ini juga termasuk tokoh, alur, dan latar yang digunakan dalam novel saja.

b. Novel non fiksi, yaitu jenis novel yang bercerita tentang kejadian nyata. Biasanya jenis novel ini merupakan kisah sejarah atau pengalaman seseorang.

Berdasarkan kebenaran cerita, novel yang penulis bahas adalah novel fiksi.

Novel ini murni berisi kisah hidup seorang gadis remaja yang dikarang, tidak terinspirasi kepada seorang tokoh, suatu kejadian, atau suatu tempat.

Selain jenis-jenis novel yang sekarang sudah sangat beragam, novel juga memiliki fungsi yang semakin luas. Adapun fungsi sastra khususnya novel adalah sebagai berikut:

1) Fungsi rekreatif, novel dapat memberikan hiburan dalam menyenangkan bagi pembacanya.

(23)

2) Fungsi didaktif, novel mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya dengan adanya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.

3) Fungsi estetis, yakni mampu memberikan keindahan bagi pembacanya.

4) Fungsi moralitas, mampu memberikan pengetahuan kepada pembacanya sehingga dapat mengetahui moral yang baik dan juga buruk.

5) Fungsi religius, yang memiliki kandungan ajaran agama yang diteladani bagi para pembaca sastra.

Berdarkan fungsi-fungsi tersebut, novel yang penulis bahas mengandung fungsi rekreatif, fungsi didaktif, dan fungsi moralitas.

Unsur-unsur yang terdapat dalam novel ada dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Menurut (Nurgiyantoro, 2000: 23) unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Perpaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat novel terwujud. Unsur ini terdiri dari tema, alur (plot), latar (setting), penokohan (perwatakan) dan sudut pandang (pusat pengisahan).

Sedangkan, unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, namun secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra (Nurgiyantoro, 2000: 24). Unsur ini meliputi latar belakang pengarang, keyakinan dan pandangan hidup pengarang, dan

(24)

sebagainya. Unsur ini mencakup berbagai kehidupan sosial yang menjadi landasan pengarang untuk membuat suatu karya sastra.

2.2 Resensi Novel 2.2.1 Tema

Tema adalah sesuatu yang menjadi pokok permasalahan atau sesuatu yang menjadi pemikiran pengarang yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Tema disampaikan pengarang melalui jalinan cerita yang ia buat di dalam novel. Menurut (Aminuddin, 2000: 91) istilah tema berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘tempat meletakkan suatu perangkat’. Hal ini karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai titik tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Menurut (Fananie, 2000:

84) tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi terciptanya karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra sangat beragam. Tema dapat berupa persoalan moral, etika, agama, sosial, budaya, teknologi dan tradisi yang terkait erat dengan masalah kehidupan. Tema suatu cerita hanya dapat diketahui atau ditafsirkan setelah kita membaca cerita serta menganalisis. Hal itu dapat dilakukan dengan mengetahui alur cerita serta penokohan dan dialog-dialognya, hal ini sangat penting karena ketiganya memiliki keterkaitan satu sama lain dalam sebuah cerita. Dialog

(25)

biasanya mendukung penokohan/perwatakan, sedangkan tokoh-tokoh yang tampil dalam cerita tersebut berfungsi untuk mendukung alur dan mengetahui bagaimana jalannya cerita tersebut. Pada cerita novel

“Because You Give Me Love” karya Mito Orihara ini diceritakan mengenai berbagai masalah kehidupan yang dialami Asuka Masaki sejak kecil. Ibunya yang menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga sehingga Asuka lahir tidak mempunyai ayah secara hukum adalah awal dari segala penderitaan yang Asuka alami. Dia menjadi bahan ledekan, hinaan dan dikucilkan. Itu sebabnya dia menjadi gadis yang minder dan merasa tidak punya seseorang yang menyayanginya. Ibunya yang tidak punya waktu yang cukup untuk Asuka karena harus bekerja untuk membiayai kehidupan mereka berdua, membuat Asuka menjadi anak yang sangat kesepian. Sehingga dia mengimplementasikan dirinya menjadi gadis yang suka mengutil.

Dia juga merasa tidak percaya diri akan segala hal, mulai dari merasa diri nya tidak cantik, tidak mempunyai bakat, bahkan dia merasa tidak punya masa depan. Hal itu membuat dia menjadi orang yang bermalas-malasan untuk menjalani hidup, karena merasa tidak punya tujuan hidup. Hingga suatu saat Asuka menemukan seekor anjing yang dia putuskan untuk dipeliharanya, saat itu lah kehidupan Asuka sedikit demi sedikit berubah, bahkan berputar 180 derajat. Dia menjadi wanita yang bertanggungjawab, merasa berarti, mulai

(26)

menyukai seorang pria, menjadi wanita yang berani, bahkan dia akhirnya menemukan tujuan hidupnya dan tahu ingin menjadi apa.

Dari hal yang telah penulis jelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa tema yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah bahwa berhubungan/berkomunikasi itu sangat lah penting bagi manusia, karena manusia adalah makhluk sosial.

2.2.2 Alur (Plot)

Alur atau plot adalah jalan cerita yang berupa peristiwa- peristiwa yang disusun satu persatu dan saling berkaitan satu sama lain menurut hukum sebab-akibat dari awal sampai akhir cerita.

Peristiwa yang satu akan mengakibatkan timbulnya peristiwa yang lain, peristiwa yang lain tersebut akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai peristiwa itu berakhir (Aminuddin, 2000: 83). Tahapan plot dibentuk oleh satuan-satuan peristiwa, setiap peristiwa selalu diemban oleh pelaku-pelaku dengan perwatakan tertentu, selalu memiki setting tertentu dan selalu menampilkan suasana tertentu pula. Sebab itulah dengan memahami plot, pembaca dapat sekaligus berusaha memahami penokohan/perwatakan maupun latar/setting. Dalam tahapan alur selalu terdapat konflik. Konflik merupakan inti dari sebuah alur.

Konflik dapat diartikam sebagai sebuah pertentangan. Menurut (Kosasih, 2011: 226) bentuk-bentuk pertentangan antara lain:

1) Pertentangan manusia dengan dirinya sendiri;

(27)

2) Pertentangan manusia dengan sesamanya;

3) Pertentangan manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan ekonomi, sosial, politik dan budaya;

4) Pertentangan manusia dengan Tuhannya (keyakinannya).

Bentuk-bentuk konflik inilah yang kemudian diangkat ke dalam novel dan menggerakkan alur cerita. Konflik yang terdapat dalam novel ini adalah pertentangan manusia dengan dirinya sendiri. Situasi dan kondisi kehidupannya membuat dia merasa tidak berguna dalam hidup ini. Kemudian, alur atau plot dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

1) Alur maju, yaitu alur yang susunannya mulai peristiwa pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai cerita itu berakhir.

2) Alur mundur, yaitu alur yang susunanya dimulai dari peristiwa terakhir, kemudian kembali pada peristiwa awal kemudian akhirnya kembali pada peristiwa akhir sebelumnya.

Penulis menyimpulkan alur yang terdapat pada cerita novel ini adalah alur campuran. Karena dalam novel ini ceritanya tidaklah berurut dari awal ataupun berawal dari akhir cerita.

2.2.3 Penokohan atau Perwatakan

Penokohan dan perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berubah, pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya dan sebagainya. Menurut Jones dalam Nurgiyantoro (1995: 165) penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang

(28)

yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Menurut Kosasih (2011: 228) penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Dari pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penokohan adalah bagaimana pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam ceritanya dan bagaimana pula perilaku tokoh-tokoh tersebut.

Dalam penokohan ada dua hal penting, pertama berhubungan dengan teknik penyampaian dan yang kedua adalah berhubungan dengan watak atau kepribadian tokoh yang ditampilkan. Kedua hal ini memiliki hubungan yang sangat erat karena penampilan dan penggambaran sang tokoh harus mendukung watak tokoh tersebut (Aminuddin, 2000: 79). Boulton dalam Aminuddin (2000: 79) mengungkapkan bahwa cara pengarang menggambarkan atau memunculkan tokohnya itu dapat berbagai macam. Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda.

Abrams dalam Nurgiyantoro (1998 : 165) menjelaskan bahwa tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif yang ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Menurut (Nurgiyantoro, 1995: 176) berdasarkan peranan dan tingkat pentingnya, tokoh terdiri atas tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan pengarang dalam novel yang bersangkutan dan tokoh yang memiliki peranan

(29)

penting dalam cerita tersebut, ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh tambahan memiliki peranan tidak penting karena kemunculannya hanya melengkapi, melayani dan mendukung pelaku utama. Tokoh tambahan kejadiannya lebih sedikit dibandingkan tokoh utama, yakni hanya ada jika berkaitan dengan tokoh utama secara langsung. Penokohan dalam novel ini adalah sebagai berikut:

1) Asuka Masaki adalah tokoh utama perempuan dan pusat cerita dalam novel ini. Asuka merupakan gadis remaja yang merasa hidupnya tak berpengharapan. Ia merasa tidak cantik, bodoh dan tidak mempunyai kemampuan apapun. Ia seorang gadis yang minder dan mempunyai mental korban yang sangat kuat, sehingga membuatnya menjadi pribadi yang suka lari dari masalah. Ia juga merasa tidak ada yang menyayanginya dan tidak ada yang mau berteman dengannya, sehingga menjadikannya pribadi yang susah bersosialisasi. Tetapi setelah semua berubah, ia menjadi gadis yang sangat berani, bertanggung jawab, suka menolong, jujur, bisa menyayangi, tulus, dan penuh perhatian.

2) Hiromu Miki adalah mantan teman sekelas Asuka ketika bersekolah di sekolah umum SMP. Hiromu Miki sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup Asuka menjadi

(30)

seseorang yang lebih baik. Dia bersikap ketus pada Asuka, tetapi diam-diam menaruh perhatian pada Asuka.

3) Ibu Asuka. Ibu Asuka menyayangi Asuka, itulah mengapa ia tetap memilih melahirkan Asuka daripada menggugurkannya.

Tetapi karena ia adalah tulang punggung, maka ia tidak memiliki waktuyang cukup untuk Asuka, sehingga Asuka semakin merasa kesepian dan tidak berharga karena tidak mempunyai banyak waktu bersama ibunya.

4) Ayah Hiromu. Karakter yang tegas dan baik hati, penolong dan ramah.

5) Ibu Hiromu. Karakter yang baik hati, ramah, penolong, sabar, dan lembut.

6) Yuhei Uehara. Karakter yang hangat, pemaaf, penolong, bijaksana dan ramah.

7) Reina Fujino. Karakter yang pintar, cerdas, cerewet, tetapi baik hati. Tidak bisa menerima keadaan keluarganya yang tiba-tiba bangkrut, meskipun akhirnya bisa menerimanya setelah berteman dengan Asuka.

2.2.4 Latar (Setting)

Latar atau setting adalah penggambaran situasi tempat dan waktu serta suasana yang terjadi dalam cerita novel. Latar berfungsi sebagai pendukung alur dan penokohan, memberi nuansa makna tertentu serta mampu menciptakan suasana-suasana tertentu yang

(31)

menggerakkan emosi atau aspek kejiwaan pembacanya. Gambaran situasi yang jelas akan membantu memperjelas peristiwa yang sedang dikemukakan pengarang (Aminuddin, 2000: 68). Sebagai salah satu bagian dari unsur pembangun karya fiksi, setting selalu memiliki hubungan dengan unsur-unsur signifikan yang lain dalam rangka membangun totalitas makna serta adanya kesatuan (unity) dari keseluruhan isi yang dipaparkan pengarang. Setting selalu memiliki hubungan dengan penokohan dan alur untuk mewujudkan suatu tema cerita. Menurut Abrams dalam Zainuddin (2001 : 99) secara garis besar latar dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yaitu:

1) Latar Tempat

Latar tempat mengarah pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang digunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama yang jelas. Dalam novel ini, lokasi berlangsungnya peristiwa adalah di kota Tokyo, Jepang.

2) Latar Waktu

Latar waktu mengarah pada saat terjadinya peristiwa, yang meliputi hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan zaman tertentu yang melatarbelakangi cerita tersebut. Novel ini memiliki latarbelakang cerita tentang keadaan kesusastraan Jepang pada era Meiji yaitu sekitar abad 18. Tokoh utamanya sendiri lahir

(32)

pada tahun 1872 dan semua peristiwa dalam novel ini berlangsung selama 24 tahun sejak tokoh utamanya lahir dan akhirnya meninggal pada tahun 1896 karena penyakit tuberculosis yang telah diderita sejak lama.

3) Latar Sosial

Latar sosial mengarah kepada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi maupun nonfiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat dapat berupa kebiasaan hidup, adat-istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain sebagainya. Latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah atau tinggi. Dalam novel ini pengarang mengambil tempat di perkotaan.

2.2.5 Sudut Pandang (Point of View)

Sudut pandang adalah kedudukan atau posisi pengarang dalam cerita novel tersebut, dengan kata lain posisi pengarang menempatkan dirinya dalam cerita tersebut, apakah ia ikut terlibat langsung atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita (Aminuddin, 2000:

90). Sedangkan menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1998: 248) sudut pandang adalah cara atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai

(33)

peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Terdapat beberapa jenis sudut pandang, yaitu:

1) Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama.

Dalam sudut pandang teknik ini, si “aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik bersifat batiniah dalam diri sendiri, maupun hubungannya dengan sesuatu batiniah di luar dirinya. Segala sesuatu yang di luar diri si “aku”, peristiwa, tindakan, dan orang akan diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, dalam hal ini si “aku” menjadi tokoh utama. Pengarang yang berfungsi sebagai pelaku cerita.

Karena pengarang juga adalah pelaku cerita maka akhirnya pengarang juga merupakan pelaku yang serba tahu tentang apa yang ada dalam benak pelaku utama maupun sejumlah pelaku lainnya, baik secara fisikal maupun psikologis. Dengan demikian apa yang terdapat dalam batin pelaku kemungkinan nasibnya, pengarang atau narator juga mampu memaparkannya meskipun itu hanya berupa lamunan pelaku atau merupakan sesuatu yang belum terjadi.

2) Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan.

Dalam sudut pandang ini, pengarang ikut melibatkan dirinya tetapi ia mengangkat tokoh utama. Disini tokoh “aku” muncul bukan sebagai tokoh utama melainkan sebagai tokoh tambahan.

3) Sudut pandang orang ketiga serbatahu.

(34)

Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut “dia”, namun pengarang dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh “dia” tersebut. Pengarang bersifat serbatahu, pengarang mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatar belakanginya.

4) Sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat.

Dalam sudut pandang ini tokoh “dia” terbatas. Disini pengarang menceritakan tokoh “dia” dalam segala hal namun pengarang hanya melukiskan tokoh “dia” hanya pada seorang tokoh saja.

Pengarang berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu tentang perilaku batiniah para pelaku.

Novel “Because You Give Me Love” karya Mito Orihara ini menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama.

2.2.6 Biografi Pengarang

Mito Orihara adalah seorang wanita, novelist sekaligus komikus kelahiran Ibaraki, Jepang. Mito Orihara lebih banyak menargetkan remaja perempuan sebagai target pasarnya, karena ia mengambil kisah-kisah kehidupan remaja dan rata-rata tema yang diangkat merupakan seputar persahabatan, percintaan dan cita-cita. Sampai saat ini cukup banyak karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terutama novel. Dan yang mendominasi karyanya adalah yang disebut “graphic novels” atau novel grafis. Dalam

(35)

(https://en.wikipedia.org/wiki/Graphic_Novel) sebuah novel grafis adalah karya narasi di mana cerita itu disampaikan kepada pembaca menggunakan seni sekuensial, baik dalam desain eksperimental atau dalam format komik tradisional. Istilah ini digunakan secara luas, meliputi karya-karya non-fiksi dan cerita pendek terkait tematik serta cerita-cerita fiktif di sejumlah genre. Novel grafis yang dikarang Mito Orihara pun banyak jenis nya, salah satunya adalah cerita cantik. Dan yang penulis bahas dalam skripsi ini adalah salah satu cerita cantik karyanya.

2.3 Studi Pragmatik Sastra

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan pragmatik dalam kajian sastra untuk menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam cerita novel “Because You Give Me Love” karya Mito Orihara. Penulis mengambil beberapa cuplikan teks yang memiliki nilai di dalam cerita novel tersebut. Pragmatik sastra adalah cabang penelitian ilmu sastra yang mengarah kepada aspek kegunaan sastra. Penelitian ini muncul atas dasar ketidakpuasan terhadap penelitian struktural murni yang memandang karya sastra hanya sebagai teks itu saja. Kajian struktural dianggap hanya mampu menjelaskan makna karya sastra dari permukaannya saja. Maksudnya, kajian struktural sering melupakan aspek pembaca sebagai penerima makna atau pemberi makna terhadap karya sastra. Pragmatik sastra lebih menitikberatkan kajiannya terhadap peranan pembaca dalam menerima,

(36)

memahami dan menghayati karya sastra, karena pembaca sangat berperan dalam menentukan sebuah karya itu merupakan karya sastra atau tidak dan sebagai sebuah keutuhan komunikasi sastrawan-karya sastrapembaca, maka pada hakikatnya karya yang tidak sampai kepada pembacanya bukanlah karya sastra, Siswanto dan Roekhan dalam Endraswara (2008: 70).

Pendekatan pragmatik sastra memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan, moral, agama dan tujuan pendidikan lainnya. Dengan kata lain pragmatik sastra bertugas sebagai pengungkap tujuan yang dikemukakan para pengarang untuk mendidik masyarakat pembacanya. Semakin banyak nilai- nilai, ajaran-ajaran dan pesan-pesan yang diberikan kepada pembaca, maka semakin baik dan bernilai tinggi karya sastra tersebut, Abrams dalam Jabrohim (2012 : 67) . Menurut Selden dalam Endraswara (2008 : 70) karya sastra tidak mempunyai keberadaan sampai karya sastra itu dibaca, pembacalah yang menerapkan kode untuk menyampaikan pesan. Menurut Teeuw dalam Endraswara (2008 : 71) kajian pragmatik selalu memunculkan persoalan yang berkaitan dengan masalah pembaca, yaitu apa yang dilakukan pembaca dengan karya sastra, apa yang dilakukan karya sastra dengan pembacanya serta apakah tugas dan batas kemungkinan pembaca sebagai pemberi makna. Hal ini berhubungan dengan manfaat pragmatik sastra terhadap fungsi-fungsi karya sastra dalam masyarakat, perkembangan dan penyebarluasannya sehingga manfaat karya sastra dapat dirasakan melalui peranan pembaca dalam memahami karya sastra. Dengan indikator

(37)

pembaca dan karya sastra, tujuan pendekatan pragmatik adalah memberikan manfaat terhadap pembaca. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatik diantaranya adalah berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra.

(38)

BAB III

ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP NOVEL “BECAUSE YOU GIVE ME LOVE” KARYA MITO ORIHARA

3.1 Sinopsis Novel

Asuka Masaki adalah seorang gadis remaja 15 tahun yang putus sekolah karena ia sudah tidak mau pergi ke sekolah umum, sehingga ibunya menyarankan dia memasuki free school, yaitu sekolah tidak resmi. Seharusnya saat ini dia kelas 3 SMP, tetapi sejak caturwulan pertama dia memutuskan untuk tidak lagi pergi bersekolah. Dia tidak mau sekolah karena dia sering menjadi bahan ejekan.

Teman-temannya mengucilkan dia karena dia tidak punya ayah. Asuka terlahir tanpa ayah, bukan karena bercerai atau meninggal muda, tetapi karena ayah Asuka adalah pria yang sudah berumahtangga. Ibu dan ayah Asuka menjalin hubungan terlarang sampai ibu Asuka mengandung Asuka. Tetapi Ayah Asuka tidak mau bertanggungjawab dan malah menyuruh ibu Asuka untuk menggugurkan kandungannya. Ibu Asuka lebih memilih untuk mempertahakan Asuka dan melahirkannya, meskipun tanpa seorang suami. Terlahirlah Asuka ke dunia ini tanpa sosok seorang ayah.

Suatu hari Asuka sedang jalan-jalan sore melewati beberapa perumahan, sampai ia menyadari bahwa dia sudah nyasar di perumahan yang tidak dikenalnya. Tetapi karena ia sedang dalam suasana hati yang cerah, ia berpikir untuk tetap jalan-jalan dulu di perumahan tersebut. Lalu ia mendengar suara anak

(39)

kecil yang sedang bermain, dan tertarik untuk mendekati suara tersebut. Ternyata di ujung jalan perumahan tersebut ada sebuah taman. Asuka melihat ada anak- anak yang sedang berkumpul menatapi sesuatu, dan dengan penasaran ia mendekati mereka. Ternyata yang mereka lihat adalah seekor anak anjing liar (tidak pumya pemilik) yang sedang terluka. Ketika Asuka ikut melihat, ia malah ditinggal oleh anak-anak tersebut. Asuka bingung apakah ia akan ikut meninggalkan anak anjing itu, atau menolongnya. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk menolongnya dengan membawanya ke klinik dekat taman itu.

Ia menggendong anjing kecil itu dan membawanya ke klinik yang terletak di tengah perumahan tersebut. Klinik itu bernama ‘Klinik Hewan Mickey’ yang tampak seperti rumah tinggal biasa. Asuka berpikir untuk meninggalkan anak anjing tersebut di sebuah keranjang yang ada di depan pintu masuk, dengan pikiran bahwa Dokter hewannya pasti pecinta binatang dan akan menolong anjing kecil tersebut. Tapi kemudian ada yang memanggil namanya dari belakang, namanya Hiromu Miki, teman sekelas Asuka waktu di sekolah umum. Hiromu melihat anak anjing yang Asuka gendong dan langsung menyuruhnya masuk ke dalam klinik tersebut. Ternyata klinik tersebut adalah rumah Hiromu, Dokter hewan dan juru rawat hewan di klinik tersebut adalah ayah dan ibu Hiromu.

Dalam keadaan Asuka yang masih bingung dan takut ditagih uang perawatan, Dokter menjelaskan bahwa anak anjing itu dehidrasi dan kalau terlambat sedikit saja mungkin tidak akan tertolong lagi. Asuka berniat kabur, dan langsung berpamitan. Lalu Hiromu bertanya kenapa ia mau meninggalkan anak anjing tersebut, dan Asuka menjelaskan bahwa anak anjing itu bukanlah

(40)

kepunyaannya, ia hanya menemukannya di taman dan merasa bahwa ia harus mmenolong anak anjing tersebut. Asuka mengatakan dia tidak mau terlibat lebih jauh karena tidak mempunyai uang. Lalu Dokter yang adalah ayah Hiromu tersebut mengatakan bahwa Asuka tidak perlu memikirkan soal biaya, karena anjing itu akan dirawat disana sampai sembuh dan akan dicarikan pemilik baru.

Mendengar hal itu dari Dokter, Asuka memantapkan hati untuk pulang, namun ketika ia memegang gagang pintu keluar, anak anjing yang terkulai lemas tadi tiba-tiba menggonggong dan memandang kearah Asuka dengan tatapan sedih.

Anak anjing tersebut menganggap Asuka adalah tuannya karena telah menolongnya. Mendengar suara anjing kecil itu, seketika membuat hati Asuka sedih karena mengingat kejadian semasa kecilnya. Sewaktu Asuka kelas 1 SD, ia pernah menemukan anak anjing dan membawanya pulang ke rumah, tetapi ibunya melarang karena mereka tinggal di apartemen. Di apartemen tidak bisa memelihara hewan. Sehingga keesokan harinya, Asuka dan ibunya membawa anak anjing tersebut ke pinggir sungai di kota untuk membuangnya. Meski cuma sehari, Asuka telah memberi anak anjing itu nama, Chibita. Asuka teringat suara Chibita menyalak ketika ditinggalkan, percis seperti anak anjing di klinik ini.

Asuka tidak bisa melupakan suara Chibita dan merasa sangat bersalah. Waktu ia kecil ia hanya bisa mengikuti apa kata ibunya dan merasa telah mengkhianati kepercayaan anak anjing yang telah menaruh harapan padanya. Asuka berpikir sejenak, apakah ia akan mengulang hal yang sama atau tidak, dan ia juga berpikir bahwa sekarang dirinya bukan anak kecil lagi, sudah bisa berdiskusi dengan ibunya untuk memelihara anjing.

(41)

Malam harinya Asuka membawa pulang anjing tersebut, dan diluar dugaan ibunya memperbolehkan Asuka memelihara anjing tersebut asalkan bertanggungjawab. Anjing tersebut diberi nama Junta oleh Asuka. Setelah kedatangan Junta, Asuka merasakan hidupnya menjadi lebih berarti, dia merasa memiliki teman, merasa punya tanggung jawab, merasa ada yang membutuhkannya, dan merasa lebih bahagia. Tanpa sepengetahuan ibunya, Asuka bolos free school seminggu karena merasa Junta tidak bisa ditinggal walaupun hanya sebentar. Uang jajan Asuka sebulan pun ternyata sudah ludes untuk membeli makanan dan berbagai perlengkapan Junta. Junta sering membuat berantakan kamar Asuka, pipis dan bahkan buang kotoran sembarangan. Padahal Asuka sudah menyiapkan alas koran tempat dimana seharusnya Junta buang kotoran, tetapi Junta tidak juga mengerti.

Suatu hari ketika sedang mengelap pipis Junta, Asuka terkejut karena warna pipis Junta berbeda, ada warna kemerahan seperti darah. Asuka panik dan bertanya pada Junta, namun Junta hanya menjilat tangan Asuka dengan lemas.

Lalu, ia menggendong Junta dan tanpa pikir panjang membawanya ke klinik yang ia tahu, klinik Mickey. Ketika sampai di klinik, tertulis di pintu masuk ‘hari ini libur’. Asuka tersadar bahwa hari itu adalah hari Minggu. Asuka hampir menangis karena khawatir dan hanya terdiam di depan klinik tersebut. Dia membayangkan bagaimana bila Junta sakit parah, bagaimana jika Junta mati. Asuka tidak mau hal itu terjadi. Lalu tiba-tiba Hiromu memanggil Asuka dari belakang dan membawa 3 ekor anjing berbeda jenis. Asuka menjelaskan keadaan Junta, dan Hiromu mengajak Asuka membawa Junta masuk lewat belakang, karena meskipun klinik

(42)

libur, ayah Hiromu ada dirumah. Ayah Hiromu memeriksa Junta dan mendiagnosa bahwa Junta keracunan bawang bombay dan menjelaskan bahwa anjing atau kucing kalau makan bawang akan terkena anemia. Pipisnya akan menjadi merah, karena sel darah merahnya rusak. Asuka teringat, bahwa hari sebelumnya Asuka memberikan Junta makan burger. Tiba-tiba Hiromu memarahi Asuka dan mengatakan bahwa bila ingin memelihara anjing harus belajar, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Asuka hanya bisa diam dan membenarkan perkataan Hiromu dalam hati. Asuka merasa bahwa Junta sudah mempercayainya, dan ia bahkan sudah merasa merawatnya dengan benar dalam seminggu tersebut, tetapi kenyataannya tidak begitu.

Ayah Hiromu bertanya apakah Asuka sudah mendaftar keterangan memelihara anjing dan apakah Junta sudah disuntik anti rabies atau belum. Asuka sama sekali tidak tahu hal itu. Lalu Hiromu pun mengatakan bahwa ada beberapa program vaksin untuk mencegah penyakit-penyakit yang sering menyerang anjing. Mendengar hal itu Asuka hanya terdiam, dia tidak tahu serumit itu memelihara anjing dan ia terlalu meremehkan tanggung jawab sebagai pemelihara. Lalu Asuka bertanya berapa kira-kira biaya untuk semua hal itu.

Mendengar Dokter menyebut jumlah perawatan, seketika Asuka menunduk dan membayangkan kalau ibunya akan membuang Junta seperti Chibita dulu.

Akhirnya Asuka menceritakan keadaannya dan ibunya yang hanya tinggal berdua.

Asuka bilang bahwa ia tak mungkin lagi menyusahkan ibunya untuk perawatan Junta, dan bahwa ia telah berjanji bahwa akan bertanggungjawab pada Junta jika ibunya memperbolehkan ia merawat Junta. Setelah beberapa saat mereka dalam

(43)

keheningan mendengar perkataan Asuka, tiba-tiba Hiromu menemukan suatu ide, Hiromu mengatakan kepada orangtuanya untuk menyuruh Asuka untuk bekerja di klinik mereka sebagai penggantui biaya program tersebut. Dan mereka semua tersenyum, tanda setuju.

Setiap sore sepulang sekolah free school, Asuka bekerja di klinik tersebut. Pekerjaannya adalah membersihkan ruangan klinik, membawa jalan- jalan hewan peliharaan, memberikan makanan pada hewan, dan sebagainya.

Beginilah sekarang keseharian hidup Asuka yang berubah drastis sejak bertemu dengan Junta, tentu saja perubahan yang positif. Dan semakin hari Asuka dan Hiromu menjadi semakin dekat dan akrab. Suatu hari saat Asuka dan Hiromu membawa anjing-anjing ke taman, mereka bertemu Reina Fujino yang sedang mengejar anjingnya, teman sekelas mereka yang sangat dibenci Asuka karena suka mengucilkan Asuka. Banyak hal yang terjadi antara Asuka dan Reina sehingga sampai sekarang Asuka membenci Reina. Tetapi setelah pertemuan mereka di taman banyak juga hal-hal yang terjadi sehingga membuat mereka menjadi sahabat.

Banyak hal yang terjadi pada Asuka, kehidupan yang berubah drastis dari seseorang yang tidak pernah berharap akan punya masa depan menjadi seorang yang sekarang mempunyai tujuan hidup. Dari seseorang yang merasa tidak dibutuhkan, menjadi seorang yang merasa mempunyai tanggungjawab untuk memberikan kasih sayang. Saat ini Asuka sudah sangat banyak berubah, dia menjadi gadis remaja yang bertanggungjawab dan lebih percaya diri. Suatu hari ia pergi ke toko bernama ‘Pretty Pet’ yang menjual berbagai keperluan hewan,

(44)

seperti makanan hewan dan mainan hewan. Pemilik toko tersebut bernama Yuhei Uehara yang sangat menyayangi hewan, sehingga membuka toko tersebut.

Sebelumnya Asuka pernah ke toko tersebut untuk membeli makanan Junta, namun saat ini Auka ingin membeli mainan untuk Junta. Tetapi ketika melihat harganya, ia malah mengutil mainan tersebut. Ia sama sekali tidak merasa bersalah melakukannya, sampai ketika ia pulang membawa mainan tersebut dan memberikannya pada Junta. Rasa bersalah dan malu langsung menghampiri Asuka, karena melihat Junta sangat bahagia memainkan mainan tersebut. Ia merasa sangat bersalah mencuri barang orang dan memberikannya pada Junta.

Akhirnya dia ambil mainan tersebut dari mulut Junta dan langsung saat itu juga lari ke toko tersebut dan mengakui segala perbuatannya kepada pemiliknya, Yuhei Uehara. Setelah mendengar pengakuan dan perasaan Asuka, akhirnya pemilik toko tersebut mengajak Asuka ke kasir. Lalu Asuka berpikir bahwa pemilik toko tersebut sudah memaafkannya dan ingin menjadikannya pembeli dan bukan pencuri. Setelah Asuka membayarnya, pemilik toko tersebut mengatakan bahwa Asuka adalah gadis pemberani dan pasti Junta sangat bangga padanya. Sekarang Asuka juga menjadi gadis pemberani.

Suatu hari Asuka dan Hiromu berjalan di pinggir sungai tempat Asuka membuang Chibita dulu. Sambil berjalan, Asuka menceritakan kejadian tentang Chibita kepada Hiromu. Dan secara kebetulan ternyata Hiromu lah yang menemukan Chibita 8 tahun yang lalu yang sekarang bernama Sakura, anjing peliharaan Hiromu. Ketika suasana haru campur bahagia akan hal itu, tiba-tiba mereka mendengar suara anjing kesakitan. Ternyata mereka melihat beberapa

(45)

anak SMU menyakiti dan menyiksa beberapa anjing yang masih sangat kecil, ada yang kaki depannya dipotong, ada yang satu matanya tertutup dan dipenuhi darah, dan ada yang sedang disulut rokok. Melihat hal itu, Asuka dan Hiromu sangat shock dan nekat melawan anak-anak SMU tersebut. Anak-anak SMU tersebut tidak takut menyakiti dan memukuli Asuka dan Hiromu. Hiromu melindungi Asuka dengan memeluknya, sehingga semua tinju dan pukulan dari anak-anak SMU tersebut Hiromu yang merasakannya.

Mereka berdua tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit. Ketika Asuka siuman, ia langsung mencari Hiromu dan menemukannya di ruang ronsen di sebuah kursi roda. Tak pikir panjang Asuka berlari sambil menangis ke pelukan Hiromu. Setelah itu terdengar suara ibu Asuka yang sedang memarahi petugas polisi untuk menghukum anak-anak SMA tersebut. Asuka berlari ke arah ibunya, dan merasakan pelukan hangat ibunya yang sudah lama tidak ia rasakan.

Mendengar ibunya memanggil-manggil namanya sambil menangis dan memeluknya, Asuka memberikan senyuman yang paling indah sebagai tanda terimakasihnya seraya berkata bahwa ia baik-baik saja. Setelah kasus penyiksaan itu Asuka dirawat segari di RS, sedangkan Hiromu dirawat seminggu karena patah tulang dan retak tulang. Para pelakunya pun diberi hukuman untuk remaja karena masih di bawah umur. Dan ketiga anjing korban anak SMU tersebut dirawat dengan baik oleh ayah Hiromu dan akan dicarikan pemilik baru.

Setelah kejadian itu, Asuka dan ibunya jadi bisa ngobrol banyak, bahkan ibunya mengizinkan Asuka untuk menjadikan salah satu anjing korban tersebut menjadi adik Junta. Asuka dan ibunya mulai terbuka satu sama lain, berbicara dari

(46)

hati ke hati. Ibunya meminta maaf atas kejadian Chibita yang lalu, dan Asuka pun meminta maaf atas segala sifatnya. Asuka berpikir untuk menjodohkan ibunya dengan pemilik toko ‘Pretty Pet’ yang kebetulan adalah duda berumur 42 tahun.

Asuka membayangkan pasti ia sangat senang sekali mempunyai ayah seperti itu.

Padahal dulu ibu Asuka sempat berpacaran dan ingin menikah dengan rekan kerjanya, tetapi Asuka yang dulu tidak bisa membiarkan hal tersebut karena merasa ibunya akan tambah tidak menyayangi dia. Sekarang Asuka sudah berubah dan merasa kalau kebahagiaan ibunya adalah kebahagiaannya juga.

Suatu sore, Asuka dan Hiromu berjalan-jalan di pinggir sungai tempat kejadian tidak menyenangkan yang mereka alami, tetapi tempat itu juga menyimpan kenangan yang menghubungkan Asuka dan Hiromu serta Chibita (Sakura). Sambil memandang langit Hiromu dan Asuka berbicara mengenai sekolah, cita-cita dan harapan, dan Hiromu berkata bahwa ia bercita-cita jadi Dokter Hewan. Sedangkan Asuka yang dulu tidak punya cita-cita dan tujuan hidup, sekarang ia tahu ingin menjadi apa dan apa yang iaingin lakukan. Setelah lulus SMU ia ingin menjadi perawat binatang atau semacamnya dan ingin memasuki sekolah kejuruan seperti itu. Ia ingin bekerja di tempat yang ada kaitannya dengan dunia hewan. Mereka sama-sama tersenyum mendengar harapan satu sama lain. Sejenak Asuka berpikir dan merasa sangat bahagia. Dulu ia adalah gadis yang tidak punya keberanian dan selalu lari dari kenyataan, selalu tidak bisa jujur, tidak pintar dalam hal apapun. Tapi sekarang semuanya berubah.

(47)

Sambil merasakan keajaiban itu, Asuka memandang Hiromu dan menyatakan bahwa ia menyukai Hiromu. Mendengar hal itu, pipi Hiromu memerah seperti anak kecil seraya mengatakan aku juga suka kamu.

3.2 Analisis Pragmatik Terhadap Novel

Untuk dapat mengetahui nilai pragmatik yang terdapat dalam novel

“Because You Give Me Love”, maka penulis melakukan penganalisisan terhadap cuplikan teks novel yang diprediksi mengandung nilai-nilai pragmatik. Berikut adalah cuplikan teks yang akan dianalisis:

Cuplikan 1 (halaman 73-74)

Aku menyadari pikiran yang ada di dalam benak bapak itu dan buru-buru mengeluarkan dompet yang ada di dalam tas. Ia berniat memaafkan aku,dan meminta aku membayar harga mainan itu. Ia menjadikan aku seorang pembeli bukan seorang pencuri.

“Terima kasih.”

“Kembali.”

Saat saling menukar uang dan barang, aku dan bapak itu tersenyum. Kemudian bapak itu mengantar aku sampai ke pintu masuk toko.

“Memang suka banyak yang mencuri tetapi kamu orang pertama yang datang sendiri untuk meminta maaf,” katanya. “Kamu anak yang berani.”

Aku baru pertama kali disebut anak yang berani!

“Terima kasih banyak.”

Analisis:

(48)

Cuplikan di atas adalah ketika Asuka berada di sebuah toko bernama

‘Pretty Pet’, toko perlengkapan hewan yang dimiliki oleh seorang pria duda berumur 40 tahunan, untuk mengembalikan mainan anjing yang ia curi sebelumnya. Asuka mengutil sebuah mainan anjing berbentuk tulang yang terbuat dari karet untuk Junta. Ketika ia membawanya untuk Junta, Junta sangat senang dan tidak bisa lepas dari mainan tersebut. Tetapi hal tersebut justru membuat Asuka malu pada Junta dan merasa sangat bersalah pada Junta.

Junta yang tidak tahu apa-apa, dengan polosnya sangat terlihat bahagia memainkan mainan tersebut tanpa tahu itu adalah barang curian. Akhirnya Asuka memutuskan untuk mengembalikannya. Dari cuplikan ini, Asuka mengjarkan kita arti dari sebuah keberanian. Berani berkata jujur, meskipun itu menyakitkan. Berani mengakui kesalahan, meskipun mungkin kita akan merasa malu. Berani meminta maaf karena kita sudah salah, dan tentunya berjanji pada diri sendiri tidak akan mengulanginya lagi.

Cuplikan 2 (halaman 99-100)

“Mama, jangan buang Shery! Tolonglah dia!!” Reina yang ada di hadapanku bukan Reina sang ratu seperti biasanya. Wajah cantiknya berantakan karena air mata.

Mama Reina tidak mendengar perkataan Reina. “Jangan memaksakan sesuatu yang tidak mungkin Kalau mau anjing, mama bisa minta yang baru sama kenalan mama,” ucap mama Reina kemudian.

Apa?

“Itu bakal lebih murah dan lebih baik. Apalagi Shery sudah nggak bisa apa-apa lagi, kan?”

Mata Reina terbuka lebar karena terkejut.

(49)

“Jangan bercanda nenek sihir!”

Hah! Suaraku? Aku juga kaget kalau aku bisa berteriak dengan suara seperti itu. Dan aku melanjutkannya, “Anjing lain mana bisa menggantikan Shery! Pakai perasaan, dong!”

Mama Reina tercengang karena dimarahioleh anak yang tidak dikenalnya. Hiromu, pak Miki dan bu Miki juga.

“Asuka,” ucap Reina. Ia melihatku dengan terkejut Tak lama kemudian mulai menangis dengan suara yang keras.

Analisis:

Cuplikan di atas adalah ketika anjing yang bernama Shery kepunyaan Reina, mantan teman sekelas Asuka sedang terbaring di Klinik Mickey karena tertabrak motor. Shery masih ada kemungkinan hidup tetapi lukanya sangat parah. Bisa dioperasi untuk sembuh, tetapi efek samping dari diobati mungkin Shery hanya bisa berjalan dengan menyeret salah satu kakinya. Selain itu, biayanyapun sangat mahal. Karena hal tersebut, ibu Reina menyarankan agar Shery disuntik mati. hal tersebut. Dalam culikan kali ini, Asuka membuktikan, terkadang orang dewasa tidak memikirkan perasaan anaknya, dan bisa saja mengambil keputusan yang salah, yang bisa membuat hubungan dengan anaknya menjadi tidak baik. Asuka berani menyuarakan hal tersebut. Karena kebanyakan anak selalu menuruti kata orangtua tanpa berani menyuarakan apa yang mereka pikir akan lebih baik untuk diri mereka. Hal ini yang secara tidak sadar membuat hubungan anak dengan orangtua renggang, karena anak pikir orangtua tidak mengerti dirinya, padahal sang anak lah yang tidak berani untuk meminta, atau bahkan memberi pandangan yang baru kepada orangtuanya.

(50)

Cuplikan 3 (halaman: 147) “Hiromu.”

“Apa?”

“Aku suka kamu.”

“Apa?”

Wajahnya seperti burung yang tertembak. Pipinya yang seperti anak kecil memerah. Setelah melihat reaksi wajahnya yang lucu, aku jadi penasaran dan bertanya, “Jawab kamu apa?”

“Be...” wajahnya semakin merah dan mulai berteriak asal. “Bego!

Nggak usah bilang juga harusnya kamu ngerti, dong!”

“Nggak tahu. Sumpah!”

Aku sungguh tidak mengerti. Aku sedikit berharap. Tetapi tidak mau terlalu optimis. Aku harus mendengarkan perkataannya, baru bisa tahu.

“Sebenarnya aku juga lumayan...”

Duengggggggg!

Suara bet base ball yang nyaring. Home run!!

Ada bola yang terbang ke arah kami.

Analisis:

Cuplikan di atas adalah ketika Asuka dan Hiromu sedang jalan-jalan di pinggir sungai. Mereka duduk sejenak, memandang langit dan berbagi cerita tentang impian mereka. Asuka sedang membayangkan keajaiban yang terjadi dalam kehidupannya setalah bertemu Junta, anjingnya. Dan sambil merasakan keajaiban itu, Asuka memandang ke arah Hiromu dan mengucapkan kata-kata yang belum sempat diucapkannya dan yang telah lama dipendamnya. Dalam hal ini Asuka membuktikan, bahwa mengungkapkan perasaan dalam hati kita terhadap seseorang adalah penting. Bahkan perasaan tidak suka juga sangat

(51)

baik untuk kita sampaikan. Hal itu bisa menjadi teguran atau kritik yang membangun bagi seseorang.

Cuplikan 4 (halaman 123) Tidak bisa dimaafkan!

“Kalian nggak punya perasaan! Sinikan anak anjingnya!”

“Nggak punya perasaaaaaaan!” Yang berambut pirang meniru kalimatku.

Aku jadi kesal karena mereka malah terbahak-bahak. Aku mengambil batu dan melemparkannya ke arah mereka.

Dugh!!

“Sial!!” Walaupun tidak begitu keras, batu itu mengenai pundak salah seorang dari mereka. Kemudian setelah seranganku itu, wajah mereka langsung berubah.

“Ngapain kamu? Dasar anak kecil!!” Anak SMU berambut cokelat dan memakai anting-anting itu terkena lemparanku. Ia menghampiriku dengan kasar.

“Aduuuuhhh!” Lenganku di pegang sangat kencang. Tanpa sempat mengelak, tiba-tiba sebentuk kepalan tangan menghantam wajahku.

Dug!

Analisis:

Cuplikan di atas adalah ketika Asuka dan Hiromu sedang menyebarkan selebaran bahwa di Klinik Mickey ada tiga ekor anjing dan tiga ekor kucing yang menanti pemelihara baru. Ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba mereka mendengar suara anjing berteriak kesakitan. Ternyata ada beberapa anak SMU yang sedang menyiksa anjing-anjing yang masih sangat kecil. Lalu

Referensi

Dokumen terkait