• Tidak ada hasil yang ditemukan

Luas areal tanaman Luas areal serangan OPT (ha)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Luas areal tanaman Luas areal serangan OPT (ha)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI PHT PASCA SLPHT PADI

DI DESA METUK, KECAMATAN MOJOSONGO, KABUPATEN BOYOLALI

Paramesti Maris, Sapja Anantanyu, Suprapto

Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36 A, Kentingan, Surakarta 57126 Telp: +62 271 637457

E-mail: [email protected], 08564742729

Abstract: The aim of this research is to determine the farmers adoption level of IPM technology post rice SLPHT, to know the socio-economic characteristics of farmers as participants of SLPHT, and to understand the relationship between socio-economic characteristics of farmers and the adoption level of IPM technology post rice SLPHT. The research was conducted in Metuk village, Mojosongo District, Boyolali with descriptive methods. The respondents were taken with census by recording all the elements (respondents). There are 25 participants. This research will be evaluated using Spearman Rank Correlation Coefficient (rs) method at the 95% confidence level. Based on the research and discussion that examines the socio-economic characteristics of farmers relationship with adoption level of farmers on IPM technology post SLPHT rice using Spearman Rank analysis and tests of significance at the 95% confidence level obtained that the socio-economic characteristics of farmers significant relationship with adoption level of farmers to post SLHPT rice IPM technology.

Key words: The adoption level, Socio-economic characteristics, SLPHT, IPM technology.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi, mengetahui karakteristik sosial ekonomi petani peserta SLPHT, dan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosial ekonomi petani dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu dilakukan di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali dengan metode deskriptif analitik. Pengambilan responden dilakukan dengan cara sensus yakni dengan cara mencatat semua elemen (responden) yang diselidiki pada para peserta SLPHT padi di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali sebanyak 25 peserta. Metode analisis yang digunakan adalah Uji Koefisien Korelasi Rank Spearman (rs) pada tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang mengkaji hubungan karakteristik sosial ekonomi petani dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi dengan menggunakan analisis Rank Spearman dan uji signifikansi pada tingkat kepercayaan 95%

didapat bahwa karakteristik sosial ekonomi petani terdapat hubungan yang signifikan dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi.

Kata Kunci: Tingkat adopsi, Karakteristik sosial ekonomi, Teknologi, SLPHT PHT.

1

(2)

PENDAHULUAN

Perlindungan tanaman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem dan usaha agribisnis. Perlindungan tanaman pangan mempunyai peranan penting selama proses produksi dalam usaha tani dalam rangka pencapaian sasaran produksi tanaman pangan.

(Wasiati, 2007). Dalam upaya peningkatan produksi dan mutu hasil komoditas tanaman pangan, khususnya padi masih banyak menghadapi masalah, salah satu masalah penting adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Organisme pengganggu tanaman (OPT)

merupakan resiko yang harus dihadapi dan dipertimbangkan dalam setiap upaya budidaya tanaman. Oleh karena itu perlindungan tanaman harus selalu menjadi salah satu faktor pertimbangan setiap usaha budidaya tanaman.

Berdasarkan data rerata luas serangan OPT pada tanaman pangan tahun 2005 – 2009 secara nasional areal tanaman pangan yang terkena serangan OPT tercatat seluas 379.524 ha (puso: 4.109 ha) dari luas total areal tanaman pangan 18.646 juta ha, atau dapat dikatakan 2,04%

dari luas tanam terkena serangan OPT dengan rincian sebagai berikut

Tabel 1. Rata-rata Luas Areal Tanaman Pangan Nasional yang Terkena Serangan OPT Tahun 2005 – 2009

Komoditi Luas areal tanaman pangan (juta ha)

Luas areal serangan

OPT (ha) Puso (ha)

Padi 12.602 350.065 3.532

Jagung 4.412 17.737 516

Kedelai 920 6.628 45

Kacang tanah 712 5.094 16

Total 18.646 379.524 4109

Sumber : Kementrian Pertanian 2010

Dalam lingkungan pertanian, terutama hama wereng coklat dan tikus menjadi masalah besar di banyak daerah dan telah tercatat sebagai faktor potensial dalam penurunan produksi padi. Untuk memecahkan masalah ini, petani diharapkan menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Menurut Untung (1993), PHT merupakan suatu cara berfikir yang baru, sangat berbeda dengan cara berfikir lama, terutama dalam program perlindungan tanaman dan pengelolaan ekosistem pertanian pada umumnya.

Salah satu metode pemberdayaan masyarakat petani

yang dinilai cukup berhasil dalam menerapkan PHT adalah melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) diharapkan dapat diwujudkan kemandirian petani dalam pengambilan keputusan di lahan usaha taninya.

Program PHT ini salah satunya dilaksanakan di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali pada tahun 2011 dimana daerah tersebut melaksanakan pelatihan petani dan kelompok tani yang dilakukan di Sekolah Lapang

(3)

Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) padi selama satu musim padi. Keberhasilan SLPHT padi ini tergantung bagaimana petani mengadopsi penerapan teknologi PHT melalui kegiatan SLPHT padi yang telah diberikan.

Dengan adanya kegiatan SLPHT diharapkan adanya perwujudan tingkat penerapan PHT yang benar sesuai dengan rekomendasi. Untuk itu peneliti ingin mengkaji lebih dalam mengenai hubungan sosial ekonomi dengan tingkat adopsi petani dalam Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.

Penelitian bertujuan untuk (1) Mengetahui tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali; (2) Untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi petani yang mengikuti kegiatan SLPHT di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali; (3) Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosial ekonomi dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.

METODE PENELITIAN Metode Dasar Penelitian

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik yaitu memusatkan diri pada pemecahan masalah- masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah-masalah yang aktual (Surakhmad,1994).

Berdasarkan tujuan penelitian teknik

penelitian yang digunakan adalah penelitian survei.

Penentuan kecamatan dan desa sebagai tempat penelitian dilakukan dengan metode purposive dengan pertimbangan Kecamatan Mojosongo, Desa Metuk telah dilakukan pelaksanaan program percontohan yang menggunakan sistem Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).

Responden dalam penelitian ini yaitu seluruh petani peserta Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) Padi di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali berjumlah 25 orang yang berasal dari sekitar lokasi kegiatan dari satu kelompok tani yakni kelompok tani “Tani Mulyo”.

Pengambilan responden dilakukan dengan cara sensus yakni dengan cara mencatat semua elemen (responden) yang diselidiki (Marzuki, 2002). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data primer dan sekunder adalah teknik wawancara, observasi, dan pencatatan.

Metode Analisis Data

Untuk menentukan tingkat adopsi petani dalam kegiatan SLPHT dilakukan dengan menjumlahkan skor-skor antar sub variabel.

Kemudian hasil dari penjumlahan antar sub tersebut dikategorikan dalam tiga kelompok atau tingkat, yaitu: tinggi, sedang, rendah. Untuk mengukur kategori tersebut digunakan rumus interval sebagai berikut:

(4)

Lebar Interval =

∑ Skor Tertinggi – ∑ Skor Terendah

∑ Kelas

Untuk mengetahui hubungan karakteristik sosial ekonomi dengan tingkat adopsi petani dalam kegiatan SLPHT Padi Di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali digunaan uji korelasi rank spearman (rs) (Siegel,1994).

rs = 1 – .∑ di

2

( 2 – ) Keterangan :

rs = Koefisien korelasi Rank Spearman

N = Banyaknya sampel

di = Selisih antara

rangking dari variabel

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Sosial Ekonomi

Karakteristik sosial ekonomi petani merupakan tanda atau ciri – ciri dari seseorang yang ada didalam dan diluar pribadi seseorang yang diduga dapat mempengaruhi adopsi, termasuk adopsi terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi.

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Sosial Ekonomi

No Umur (tahun) Kategori

Jumlah

(orang) Presentase (%)

1 > 60 Tinggi 7 28

2 40 – 60 Sedang 14 56

3 < 40 Rendah 4 16

Jumlah 25 100

Tingkat Pendidikan Formal

1 > SMU Tinggi 3 12

2 SMP- SMU Sedang 13 52

3 ≤ SD Rendah 9 36

Jumlah 25 100

Skor Pendidikan Non Formal

1 4,8 - 6,1 Tinggi 25 100

2 3,4 - 4,7 Sedang 0 0

3 2 - 3,3 Rendah 0 0

Jumlah 25 100

Pendapatan Petani

1 > Rp 13.000.000 Tinggi 11 44

2 Rp 8.000.000 - Rp 13.000.000 Sedang 12 48

3 < Rp 8.000.000 Rendah 2 8

Jumlah 25 100

Tingkat Pengalaman Petani

1 > 20 tahun Tinggi 17 68

2 10 - 20 tahun Sedang 4 16

3 < 10 tahun Rendah 4 16

Jumlah 25 100

Keaktifan Keanggotaan Petani

1 9,4 – 12 Tinggi 8 32

2 6,7 - 9,3 Sedang 17 68

3 4 - 6,6 Rendah 0 0

Jumlah 25 100

Luas Lahan (ha)

1 ≥ 0,5 Tinggi 0 0

(5)

2 0,2 - 0,49 Sedang 23 92

3 < 0,2 Rendah 2 8

Jumlah 25 100

Karakteristik Sosial Ekonomi Petani

1 31,5 – 39,2 Tinggi 0 0

2 21,8 - 30,5 Sedang 25 100

3 13 - 21,7 Rendah 0 0

Jumlah 25 100

Sumber : Analisis Data Primer

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa mayoritas umur petani responden berada pada golongan sedang yakni berumur antara 40 - 60 tahun. Slamet (1994) menambahkan bahwa faktor umur sangat penting dalam partisipasi, biasanya mereka yang masuk golongan umur (40 – 60) dimana akan semakin aktif keterlibatannya dalam partisipasi tahap pelaksanaan. Sedangkan untuk pendidikan formal petani tergolong sedang. Hal ini dikarenakan pendidikan telah mulai diperhatikan oleh masyarakat. Untuk tingkat pendidikan non formal sendiri terdapat sebanyak 25 orang (100%) berada pada kategori tinggi, atau dapat dikatakan keseluruhan petani responden berada pada kategori tinggi.

Pendapatan petani responden terbesar sebanyak 12 responden (48%) dalam kategori pendapatan sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat perekonomian yang baik. Selain itu sebagian besar responden memiliki tingkat pengalaman yang tinggi. Soekartawi (1988) mengemukakan bahwa petani yang baru belajar (pemula) dibandingkan dengan petani yang sudah berpengalaman akan berbeda dalam hal kecepatannya untuk melakukan proses adopsi inovasi.

Kegiatan ini sudah dilakukan oleh

petani dalam jangka waktu yang lama yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Petani responden juga aktif dalam keterlibatannya dalam kelompok tani. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2 bahwa presentase keaktifan keanggotaan petani terbesar berada pada kategori sedang dengan presentase 68% sebanyak 17 responden. Penguasaan lahan yang dimiliki seluruh petani responden peserta SLPHT berada pada kisaran 0,1 – 0,4 Ha. Sebagian besar luas lahan yang dimiliki oleh petani berasal dari warisan turun temurun.

Berdasarkan data pada Tabel 2 dapat disimpulkan bahwa karakteristik sosial ekonomi responden berada pada kategori sedang. Artinya bahwa responden cukup aktif mengikuti kegiatan yang mampu meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam membudidayakan tanaman padi.

Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT

Tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi adalah penerimaan inovasi teknologi pengendalian hama terpadu melalui kegiatan SLPHT dengan tindakan nyata melalui penerapan teknologi pengendalian

(6)

hama terpadu setelah pelaksanaan SLPHT usai.

Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT

No Budidaya Tanaman Sehat Kategori Jumlah (orang)

Presentase (%)

1 28,2- 36,2 Tinggi 25 100

2 20,1 - 28,1 Sedang 0 0

3 12 - 20,0 Rendah 0 0

Jumlah 25 100

Tingkat Pelestarian musuh alami

1 9,4 – 12 Tinggi 25 100

2 6,7 - 9,3 Sedang 0 0

3 4 - 6,6 Rendah 0 0

Jumlah 25 100

Pengamatan Mingguan

1 18,8 - 24,1 Tinggi 25 100

2 13,4 - 18,7 Sedang 0 0

3 8 - 13,3 Rendah 0 0

Jumlah 25 100

Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT

1 56,2 - 72,2 Tinggi 25 100

2 40,1 - 56,1 Sedang 0 0

3 24- 40 Rendah 0 0

Jumlah 25 100

Sumber : Analisis Data Primer

Berdasarkan data pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa bahwa seluruh responden (100%) sebanyak 25 petani berada pada kategori tinggi.

Artinya bahwa seluruh responden mampu mengadopsi teknologi PHT dengan baik dan terus menerapkan teknologi PHT pasca SLPHT sesuai teknik dan metode yang diajarkan penyuluh. Dengan menerapkan teknologi PHT sesuai teknik dan metode yang diajarkan penyuluh,

maka petani dapat mendapatkan hasil produksi yang optimal, serta menggunakan taktik pengendalian yang alami sehingga meminimalkan biaya produksi serta tidak menimbulkan dampak yang negatif yang merugikan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut maka akan meningkatkan pendapatan yang diperoleh petani itu sendiri. Rincian data dapat dilihat pada Tabel 4.

(7)

Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Rincian Tingkat Budidaya Tanaman Sehat

No Item

Jumlah Responden

Kategori rendah Kategori sedang Kategori tinggi

1 Pemberoan lahan - 9 16

2 Sanitasi - - 25

3 Persemaian - 25 -

4 Perlakuan benih - - 25

5 Penggunaan varietas tahan - - 25

6 Pengolahan tanah 1 24 -

7 Penanaman serentak - - 25

8 Penentuan jarak tanam dan sistem tanam

- - 25

9 Pergiliran tanaman - - 25

10 Pengelolaan air - - 25

11 Pemupukan berimbang - - 25

12 Penyiangan - - 25

Sumber : Analisis Data Primer Seluruh responden peserta SLPHT mengikuti dan menerapkan metode dan saran yang dianjurkan penyuluh dengan baik sehingga tingkat penerapan budidaya tanaman sehat berada dalam kategori tinggi.

Pemilihan varietas padi sangat ditentukan oleh kebiasaan petani, tujuan, musim tanam, daerah kronis endemis hama penyakit dan lain-lain.

Varietas padi yang ditanam di Desa

Metuk adalah varietas Mekongga (Laboratorium PHPT, 2011).

Sebagian besar responden selalu memberokan lahannya dan hanya sebagian kecil saja yang hanya kadang-kadang saja dalam memberokan lahannya. Petani tidak melakukan persemaian bersama kelompok tani namun membuat persemaiannya sendiri.

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Rincian Tingkat Pelestarian Musuh Alami

No Item

Jumlah Responden

Kategori rendah Kategori sedang Kategori tinggi 1 Kemampuan mengidentifikasi hama dan

musuh alaminya - 5 20

2 Mengamati perkembangan musuh alami - - 25

3 Memelihara keseimbangan musuh alami - - 25

4 Pemanfaatan musuh alami - - 25

Sumber : Analisis Data Primer

Sebagian besar petani mengenal dengan cermat hama dan musuh alami nya di lahan mereka masing-masing, hanya sebagian kecil saja yang merasa masih kurang mengenal hama dan musuh alaminya. Petani selalu mengamati

perkembangan musuh alami di lahan mereka, karena mereka menyadari manfaat dari keberadaan musuh alami. Mereka memanfaatkan musuh alami untuk melawan hama penyakit padi di lahan mereka dan meminimalkan penggunaan

(8)

pestisida. Petani tidak lagi menggunakan pestisida yang berspektrum lebar, bahkan mereka

menggunakan pestisida nabati yang dapat dibuat sendiri sesuai ajaran penyuluh pada saat SLPHT.

Tabel 6. Tabulasi Data Berdasarkan Pengamatan Mingguan

No Item

Jumlah Responden Kategori

rendah

Kategori sedang

Kategori tinggi

1 Pengamatan keadaan tanaman - - 25

2 pengamatan terhadap populasi hama

dan musuh alami - - 25

3 Pengamatan kondisi cuaca - - 25

4

Pengamatan intensitas serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

- 3 22

5 Waktu memulai pemantauan - - 25

6 Frekuensi pengamatan - - 25

7 Tindakan pengendalian hama - - 25

8 Teknik pengendalian hama - - 25

Sumber : Analisis Data Primer

Petani melakukan

pengamatan terhadap keadaan tanaman, populasi hama dan musuh alam, kondisi cuaca, dan intensitas serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan serangga lain secara rutin setiap seminggu sekali.

Petani melakukan pengamatan dimulai pada awal sebelum tanam sehingga dapat dilakukan pencegahan dan dapat dideteksi secara dini apabila terdapat hama dan penyakit tanaman di lahan. Sebanyak 3 petani langsung melakukan penyemprotan setelah melakukan pengamatan dan di lahannya terdapat hama. Sebagian besar lainnya melakukan pengamatan terlebih dahulu, apabila di lahannya terdapat hama mereka menggunakan musuh alami terlebih dahulu dan hanya menggunakan pestisida bila diperlukan.

Hubungan Antara Karakteristik Sosial Ekonomi Dengan Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT

Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosial ekonomi dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi digunakan uji korelasi Rank Spearman (rs), sedangkan untuk menguji tingkat signifikansi terhadap nilai yang diperoleh dengan menggunakan besarnya nilai thitung

dan ttabel. Hasil analisis hubungan antara karakteristik sosial ekonomi dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi dapat dilihat sebagai berikut:

(9)

Tabel 7. Analisis Hubungan Antara Karakteristik Sosial Ekonomi Dengan Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT

Var Y1 Y2 Y3 Ytot

rs thit rs thit rs thit rs thit

X1 0,296 1,486 -0,124 -0,599 -0,171 -0,832 0,064 0,307

X2 -0,26 -1,291 0,108 0,521 0,246 1,217 0,179 0,876

X3 0,458* 2,471 0,25 1,238 0,123 0,594 0,544** 3,109

X4 0,406* 2,131 -0,185 -0,903 -0,181 -0,883 0,076 0,365 X5 0,400* 2,093 -0,093 -0,448 0,269 1,339 0,406* 2,131

X6 0,131 0,634 0,413* 2,175 0,184 0,898 0,480* 2,624

X7 0,393 2,049 -0,147 -0,713 -0,109 -0,526 0,183 0,893 Xtot 0,446* 2,390 0,317 1,603 0,329 1,671 0,726** 5,063

**Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)

*Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed) Keterangan:

t tab = 2,069 (α = 0,05), t tab = 2,807 (α = 0,01), rs = Korelasi rank spearman,

** = Signifikan pada α = 0,01,

* = Signifikan pada α = 0,05, X1 = Umur,

X2 = Pendidikan formal, X3 = Pendidikan non formal, X4 = Pendapatan,

X5 = Tingkat Pengalaman Petani, X6 = Keaktifan Keanggotaan Petani, X7 = Penguasaan Luas Lahan X tot = Karakteristik Sosial Ekonomi , Y1 = Budidaya Tanaman Sehat, Y2 = Tingkat Pelestarian Musuh

Alami,

Y3 = Pengamatan Mingguan,

Y tot = Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT.

Berdasarkan Tabel 25 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur responden dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT dengan nilai t hitung 0,307 < t tabel 2,069.

Berdasarkan hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa umur responden tidak berhubungan dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT. Hal ini

karena responden dengan berbagai tingkatan umur dapat mengikuti SLPHT dan mengadopsi teknologi PHT dengan baik, tergantung dari pemahaman dan kemauan mereka dalam menerapkan teknologi PHT yang dianjurkan dan dipelajari dalam SLPHT. Para petani yang sudah tua masih memiliki semangat dan kemauan yang tinggi dalam mengikuti SLPHT dan menerapkan teknologi PHT dengan tujuan menginginkan hasil yang maksimal terhadap usahatani nya. Tidak sedikit mereka yang pada usia sudah lanjut akan lebih banyak belajar dari pengalaman, sehingga dia akan melakukan proses adopsi dengan tepat.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dapat diketahui nilai t hitung pendidikan formal lebih kecil dari t tabel yaitu 0,876 < 2,069 . Hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan formal yang ditempuh petani tidak berhubungan dengan tingkat adopsi petani terhadap

(10)

teknologi PHT. Hal ini disebabkan karena teknologi PHT tidak diperoleh didalam pendidikan formal yang ditempuh oleh petani.

Teknologi PHT diperoleh dari kegiatan pendidikan non formal yaitu dari kegiatan penyuluhan yang diberikan oleh penyuluh atau dari kegiatan SLPHT, bukan dari pendidikan formal yang ditempuh petani.

Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa nilai t hitung pendidikan non formal lebih besar dari t tabel yaitu 3,109 > 2,807 . Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan arah hubungan yang positif antara pendidikan non formal dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT.

Melalui pendidikan non formal seperti kegiatan penyuluhan dan kegiatan SLPHT yang diiikuti petani, maka petani mendapatkan banyak informasi yang berkaitan dengan teknologi budidaya tanaman padi.

Informasi yang didapat akan menambah pengetahuan dan ketrampilan petani serta pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam usaha taninya.

Nilai t hitung pendapatan petani lebih kecil dari t tabel yaitu 0,365< 2,069. Hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pendapatan petani dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pendapatan yang diperoleh petani tidak berhubungan dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT. Perbedaan pendapatan tidak mempengaruhi

responden dalam menerapkan teknologi PHT. Petani yang mempunyai pendapatan tinggi biasanya memiliki usaha diluar usaha tani padi sawah. Petani yang memiliki pendapatan tinggi dari usaha non pertanian biasanya akan lebih menekuni usaha di luar usaha taninya itu, sehingga petani kurang antusias dalam menanggapi inovasi teknologi PHT.

Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa nilai t hitung tingkat pengalaman petani lebih besar dari t tabel yaitu 2,131> 2,069.

Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan arah hubungan yang positif.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengalaman petani maka tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT akan semakin tinggi.

Hal ini disebabkan karena petani yang memiliki tingkat pengalaman budidaya tinggi memiliki kemauan dan ketertarikan dalam menerapkan teknologi PHT dengan tujuan hasil produksinya lebih maksimal lagi.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai t hitung keaktifan keanggotaan petani lebih besar dari t tabel yaitu 2,624 > 2,069 . Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan arah hubungan yang positif antara keaktifan keanggotaan petani dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT. Seorang petani akan melakukan adopsi dengan baik jika dia memahami informasi- informasi tentang adopsi yang baik pula. Petani yang selalu hadir dan aktif dalam keanggotaan petani akan mendapatkan informasi tentang teknologi PHT yang lebih baik dan

(11)

lebih utuh, sehingga petani akan melakukan adopsi dengan baik pula.

Nilai t hitung penguasaan lahan usahatani lebih kecil dari t tabel yaitu 0,893 < 2,069 . Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang tidak signifikan antara penguasaan lahan usahatani dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT. Luas atau sempitnya lahan tidak akan mempengaruhi tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT karena petani akan menerapkan teknologi PHT yang sama satu sama lain.

Petani yang mempunyai keyakinan tinggi tentang kelebihan adopsi akan berusaha melakukan adopsi secara tepat.

Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 5,063> 2,807.

Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan arah hubungan yang positif antara karakteristik sosial ekonomi dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi karakteristik sosial ekonomi petani maka tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT akan semakin tinggi.

KESIMPULAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pertama, tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali berada pada kategori tinggi. Artinya bahwa seluruh responden yang merupakan petani peserta SLPHT padi mampu

mengadopsi teknologi PHT dengan baik dan terus menerapkan teknologi PHT pasca SLPHT sesuai teknik dan metode yang diajarkan penyuluh.

Kedua, karakteristik sosial ekonomi petani peserta SLPHT padi di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali berada pada kategori sedang. Artinya bahwa responden cukup aktif mengikuti kegiatan yang mampu meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam membudidayakan tanaman padi. Ketiga, hubungan antara karakteristik sosial ekonomi dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi di Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali adalah hubungan antara umur responden dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan; hubungan antara pendidikan formal responden dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan; hubungan antara pendidikan non formal responden dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT menunjukkan hubungan yang signifikan; hubungan antara pendapatan responden dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan; hubungan antara pengalaman petani dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT menunjukkan hubungan yang signifikan; hubungan antara keaktifan keanggotaan petani dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca

(12)

SLPHT menunjukkan hubungan yang signifikan; hubungan antara penguasaan lahan responden dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan; hubungan antara karakteristik sosial ekonomi petani dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT menunjukkan hubungan yang signifikan.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran, yaitu: (1) Pendidikan non formal petani berhubungan dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT, jadi sebaiknya pendidikan non formal ditingkatkan lagi dengan cara memperbanyak kegiatan penyuluhan dan pelatihan yang berhubungan dengan teknik budidaya padi dan pengendalian hama terpadu (PHT), (2) Diharapkan bagi pemerintah untuk menambah jumlah Petugas POPT/PHP (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan/ Pengamat Hama Penyakit), kurangnya jumlah

Petugas POPT/PHP ini

mengakibatkan kurang optimalnya pembinaan terhadap kelompok tani di Kecamatan Mojosongo terutama dalam pembinaan PHT, (3) Keaktifan keanggotaan petani berhubungan dengan tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT, jadi sebaiknya keaktifan keanggotaan petani ditingkatkan lagi dengan cara membuat diskusi menjadi lebih menarik dan interaktif maupun

mengadakan arisan agar anggota lebih aktif.

DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Pertanian. 2010.

Pedoman Pelaksanaan Perlindungan Tanaman Pangan Tahun 2010.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Jakarta.

Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman. 2011.

Laporan Akhir SLPHT Tanaman Padi. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah.

Surakarta.

Marzuki. 2002. Metodologi Riset. BPFE UII. Yogyakarta.

Slamet, Y. 1994. Pembangunan Masyarakat Berwawasan Partisipasi. UNS Press.

Surakarta.

Siegel,S. 1994. Statistik Non Parametrik. Gramedia. Jakarta.

Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Surakhmad, W. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah. Tarsito.

Bandung.

Untung, K. 1993. Konsep Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset.

Yogyakarta.

Wasiati A, Soekirno, Ruswandi, Hidayat. 2007. Pedoman Rekomendasi Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Padi. Direktorat Perlindungan Tanaman. Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan penggiat kesejahteraan hewan di Indonesia dan desainer ui/ux, penulis mendapatkan hasil bahwa diperlukannya edukasi

Kandungan senyawa antioksidan pada spesies lokal tanaman yang dijadikan microgreens telah terbukti tinggi berdasarkan pengujian laboratorium di Jurusan Biologi UIN Bandung

Ketentuan tersebut antara lain seperti penentuan lokasi di sungai atau saluran terbuka, tersedianya penampang kendali baik alam maupun buatan, alur sungai lurus sejauh

Data tersebut digunakan sebagai masukan dari logika fuzzy yang terdiri dari tiga variabel dan satu keluaran untuk masing-masing logika fuzzy yaitu

CATATAN : Untuk keluar dari layar Cannot find configuration files, or read configuration failure (Tidak dapat menemukan file konfigurasi, atau kegagalan membaca konfigurasi), dan

Mengenai pengertian perjanjian sebagaimana dimaksudkan, sebagai patokan awal, dalam hal ini dapat dipedomani rumusan yang terdapat dalam Pasal 1313 KUHPerdata,

Penanganan risiko nasabah tidak memberikan informasi dengan benar disebabkan oleh moral hazard nasabah, pengelola BPRS Madinah memitigasi risiko dengan melakukan nasabah

Apabila transisi antar mode dalam sistem hibrid dimodelkan dengan rantai Markov yang memiliki dua state seperti pada Gambar 1, maka α menandai probabilitas transisi dari mode 1