NILAI-NILAI KONSELING KELUARGA YANG TERKANDUNG DALAM AL-QUR’AN SURAH LUQMAN AYAT 12-19
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Bimbingan dan Konseling Pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Oleh:
ASSUNNI MUTIARA SANI PANGGABEAN NIM: 2615020
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITIUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN) BUKITTINGGI
1441 H/2019 M
ABSTRAK
Skripsi ini disusun oleh Assunni Mutiara Sani Panggabean dengan Nomor Nim. 2615020 dengan judul “Nilai-Nilai Konseling Keluarga yang Terkandung dalam Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 12-19”. Penelitian ini mengungkapkan apa saja nilai-nilai konseling keluarga yang terkandung dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 tersebut.
Adapun yang memotivasi penulis dalam membahas persoalan ini dilatar belakangi oleh masih ada keluarga yang belum dapat mencontohkan dengan baik bagaimana seharusnya kita memberikan pengajaran dan nasehat kepada anak, agar anak tidak rusak dengan lingkungan yang ada. Nilai-nilai konseling keluarga yang dilaksanakan oleh Luqman masih belum terungkap secara keseluruhan, karena pada umumnya dalam proses konseling yang banyak diberikan adalah konseling untuk pengentasan masalah secara umum saja. Maka dari itu perlu diketahui nilai- nilai konseling keluarga yang terkandung dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 ini untuk bisa diteladani hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif yang bersifat analisis, yaitu menggambarkan atau melukiskan secara sistematis data-data yang akurat mengenai fakta-fakta tentang pokok-pokok permasalahan yang dibahas.
Sedangkan untuk memperoleh data dalam penulisan skripsi ini penulis melakukan analisis terhadap buku-buku yang berkaitan dengan konseling keluarga itu sendiri.
Analisis yang digunakan adalah metode induktif yaitu suatu bentuk pendekatan yang berasal dari hal-hal yang bersifat spesifik dan realitas sebagai langkah awal kemudian mencapai bentuk kesimpulan. Proses penganalisaan data dengan metode induktif yang penulis lakukan dalam penelitian ini yaitu berangkat dari fakta yang bersifat khusus untuk mengambil kesimpulan yang bersifat umum.
Kemudian memakai metode deduktif yaitu suatu bentuk pendekatan pemikiran yang mengutamakan langkah awal dari pengetahuan umum yang telah diverifikasi. Kemudian akan memperoleh bentuk kesimpulan yang bersifat spesifik. Proses penganalisaan data dengan metode deduktif yang penulis lakukan dalam penelitian ini yaitu berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum untuk mengambil kesimpulan yang bersifat khusus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam surah Luqman ayat 12-19 yang di dalam surah tersebut terdapat seorang yang saleh memberikan contoh perilaku kepada anak dan keluarganya sebagai bentuk nasehat dan pengajaran yang dilakukannya yaitu berupa keteladanan diri, hal ini dapat dilihat dari kehidupan sehari hari Luqman dan selalu bersyukur dalam hidup kemudian menasehati anaknya agar senantiasa bersyukur pula, kemudian cara Luqman berkomunikasi dengan anaknya dalam menyampaikan nasehat sangat lah berlemah lembut dan sopan sehingga membuat anaknya dengan senang hati mengikuti nasehat ayahnya. Selanjutnya, berbakti dan berbuat baik kepada kedua orangtua kapan pun dan dimana pun. Kemudian Luqman senantiasa selalu memberikan pengawasan kepada anaknya agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang di benci Allah SWT. Setelah semua hal baik telah dilakukan oleh Luqman terhadap keluarganya, maka poin yang tidak kalah pentingnya adalah beribadah kepada Allah SWT dengan baik dan ikhlas. Disamping selalu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT, sangat penting juga senantiasa menjaga
hubungan baik dengan orang tua dan orang lain agar dapat meminimalisir masalah dalam keluarga dan mudah dalam memecahkan masalah yang sudah ada.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terdapat dengan jelas nilai- nilai konseling keluarga dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 yang dapat di amalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh orangtua, pendidik atau pun konselor.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan petunjuk, pikiran dan izin-Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, Salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan untuk Nabi besar Muhammad SAW, yang merupakan figur terbaik dalam kehidupan.
Skripsi ini ditulis sebagai persyaratan penyelesaian program S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi dengan judul “Nilai-Nilai Konseling Keluarga yang Terkandung dalam Al- Qur’an Surah Luqman ayat 12-19”.
Penghargaan dan cinta terbesar penulis tujukan kepada Ayahanda Hutabarat Panggabean dan Ibunda Satianna Tampubolon yang menghangatkan penulis dengan kasih sayang tulus dan memberikan dukungan berupa do‟a, moril maupun materil hingga penulis berhasil, dan juga kepada saudara/i nya penulis Dewi Ratna Panggabean, M. Anwar Panggabean, Ramayanti Panggabean, Amaluddin Panggabean, dan Saddam Husein Panggabean serta keluarga besar yang lainnya yang selalu membantu dan memotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.
Dalam penyelesaian skripsi ini penulis menyadari banyak kendala dan hambatan semua itu terjadi karena keterbatasan ilmu, pengalaman, dan kemampuan yang penulis miliki. Namun berkat kemudahan yang diberikan Allah baik secara langsung maupun tidak langsung dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat juga penulis rampungkan. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M.Hum selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi yang telah memberi fasilitas kepada penulis dalam menambah ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi
2. Bapak Dr. Asyari selaku Wakil Rektor I, bapak Novi Hendri, M.Ag selaku Wakil Rektor II, dan Bapak Dr. Miswardi, M.Hum selaku Wakil Rektor III Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi yang telah memberi fasilitas kepada penulis dalam menambah ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi 3. Ibu Dr. Zulfani Sesmiarni M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi yang telah memberi fasilitas kepada penulis dalam menambah ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi
4. Bapak Dr. Iswantir, M. Ag selaku Wakil Dekan I, bapak Charles, S.Ag, M.Pd.I selaku Wakil Dekan II, dan bapak Dr, Supratman Zakir, M.Pd., M.Kom selaku Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi yang telah memberi fasilitas kepada penulis dalam menambah ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi
5. Ibu Alfi Rahmi M.Pd selaku Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi yang telah memberi fasilitas kepada penulis dalam menambah ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi
6. Ibu Alfi Rahmi selaku pembimbing akademik, Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc, M.Ag selaku pembimbing I, dan Bapak Dodi Pasila Putra, M.Pd selaku pembimbing II yang telah mendukung penulis dengan kesabaran,
keikhlasan dan rasa tanggung jawab sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
7. Bapak dan Ibu dosen yang telah membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman sejak awal kuliah sampai tahap penulisan skripsi.
8. Pimpinan serta karyawan dan karyawati perpustakaan IAIN Bukittinggi yang telah memberikan bantuan berupa pinjaman buku-buku yang penulis butuhkan berkaitan dengan penulisan ini.
9. Teman-teman PBK-A‟15 yang tidak dapat disebut satu persatu yang telah memberikan motivasi dalam studi dan penulisan skripsi ini.
10. Teman-teman pengurus ORMAWA yang tidak dapat disebut satu persatu yang telah memberikan motivasi dalam studi dan penulisan skripsi ini.
11. Sahabat until to jannah Yuna Zahra Hasibuan, Yeni Novi Hera, Vilda Oktavia, Rahmat Ilham yang telah memberikan dukungan dalam segala hal.
12. Sahabat terbaik Pilianti Dongoran, Anita Putri Rukayah Siregar, Fazriani, Monalisa yang selalu mendo‟akan yang terbaik.
13. Adek yang selalu menyebarkan kebahagiaan Zulhadi Ariza sebagai KETUA UMUM DEMA FTIK PERIODE 2018/2019
14. Kepada Nur Arifin Arif sebagai KETUA UMUM DEMA IAIN BKT PERIODE 2018/2019 selaku teman dan rekan dalam mengemban tugas yang senantiasa memberikan dukungan dan pengertian serta do‟a yang sangat luar biasa.
15. Kepada bang Khairul Ramadhan S.Pd yang sudah membimbing dan membantu dalam penyelesaian tugas ini.
16. Kepada Isni Antasari S.E yang sudah memberikan bantuan dan dukungan dengan sangat baik.
17. Kepada seluruh pihak yang sudah membantu dalam segala hal, dari yang kecil hingga yang besar, tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terimakasih saya ucapkan dan semoga Allah SWT membalas kebaikan tersebut dengan yang sebaik-baiknya. Aamiin...
Semoga semua bantuan dan amal baik yang telah diberikan kepada penulis bernilai ibadah dan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Terakhir mengharapkan skripsi ini bermanfaat, baik bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin!
Bukittinggi, Juli 2019
Assunni Mutiara Sani Panggabean Nim. 2615020
DAFTAR ISI HALAMAN PERSEMBAHAN
SURAT PERNYATAAN
PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN TIM PENGUJI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 12
C. Batasan Masalah... 12
D. Rumusan Masalah ... 12
E. Tujuan Penelitian ... 13
F. Guna Penelitian ... 13
G. Penjelasan Judul ... 13
H. Sistematika Penulisan... 15
BAB II LANDASAN TEORITIS A. Konseling Keluarga 1. Pengertian Konseling Keluarga... 17
2. Tujuan Konseling Keluarga ... 24
3. Fungsi Konseling Keluarga ... 25
4. Nilai-nilai Konseling Keluarga ... 31
B. Tafsir Al-Qur‟an Surah Luqman Ayat 12-19 1. Surah Luqman Ayat 12-19 ... 46
2. Tafsiran Surah Luqman Ayat 12-19 ... 49
3. Penelitian Relevan ... 55
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 58
B. Sumber Data ... 58
C. Metode Analisis ... 60
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Nilai-nilai Konseling Keluarga Yang Terkandung dalam Al-Qur‟an Surah Luqman Ayat 12-19 ... 62
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 90
B. Saran ... 91
DAFTAR KEPUSTAKAAN LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa. Ada tiga peristiwa yang dirasakan sebagai penting oleh setiap manusia, yaitu peristiwa kelahiran, perkawinan dan kematian. Kelahiran bukan saja penting bagi yang dilahirkan akan tetapi juga penting bagi ibu yang melahirkan, bagi ayahnya dan segenap keluarganya. Perkawinan juga bukan hanya dirasakan penting oleh kedua mempelai, tetapi juga oleh kedua keluarga besan, dan peristiwa pernikahan juga bukan saja mendatangkan kebahagiaan bagi yang terlibat, tetapi tak jarang mengubah jalannya sejarah. Peristiwa kematian juga sangat menarik perhatian. Bagaimana yang dialami oleh si mati tidak ada yang tahu, tetapi yang terseret oleh perasaan sebagai akibat dari adanya peristiwa kematian jumlahnya sangat banyak, sekurang-kurangnya keluarganya dan handai taulannya. Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat, akan tetapi mempunyai pengaruh yang besar bagi bangsa dan negara. Dari keluargalah akan terlahir generasi penerus yang akan menentukan nasib bangsa. Apabila keluarga dapat menjalankan fungsi dengan baik, maka dimungkinkan tumbuh generasi yang berkualitas dan dapat diandalkan yang akan menjadi pilar-pilar kemajuan bangsa.
Sebaliknya bila keluarga tidak dapat berfungsi dengan baik, bukan tidak mungkin akan menghasilkan generasi-generasi yang bermasalah yang dapat menjadi beban sosial masyarakat. Keluarga yang tenteram, bahagia, dan
sejahtera merupakan dambaan setiap manusia. Untuk mewujudkan keluarga sebagaimana yang didambakan merupakan usaha yang tidak mudah, karena terbentuknya keluarga merupakan sebuah proses yang panjang dan melalui penyesuaian yang juga tidak mudah. Dalam hal ini, keluarga tidak jarang juga membutuhkan bantuan orang lain untuk mengatasi permasalahannya.
Orang yang dapat membantu ialah salah satunya disebut dengan konselor dalam proses konseling.
Konseling adalah usaha membantu orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan agar mereka bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi mereka. Yang membantu disebut konselor, yang dibantu disebut klien.1
Konseling merupakan satu aktivitas penting dalam mengubah sikap dan perilaku individu, yang dalam prosesnya harus dilaksanakan oleh seorang konselor yang profesional.2
Jadi dapat penulis simpulkan bahwa konseling adalah proses bantuan yang diberikan oleh seseorang yang disebut sebagai konselor kepada orang yang membutuhkan yang disebut sebagai klien guna untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya. Diharapkan dari bantuan yang diberikan nantinya memperoleh solusi dan diharapkan juga nantinya agar klien bisa mandiri dalam menyelesaikan masalah kedepannya.
Keluarga adalah unit terkecil dalam mesyarakat terbentuk sebagai akibat adanya perkawinan berdasarkan agama dan hukum yang sah. Dalam
1 Achmad Mobarok, Psikologi Keluarga, (Malang: Madani, 2016), hlm. 167
2 Erhamwilda, Konseling Islami, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm. 1
arti sempit keluarga terdiri dari ayah, ibu, (dan anak) hasil dari perkawinan tersebut. Sedangkan dalam arti luas, keluarga dapat bertambah dengan anggota kerabat lainnya seperti sanak keluarga dari kedua belah pihak (suami dan isteri) maupun pembantu rumah tangga dan kerabat lain yang ikut tinggal dan menjadi tanggung jawab kepala keluarga.3
Menurut Reiss yang diungkapkan oleh Sri Lestari, mengungkapkan bahwa keluarga adalah suatu kelompok kecil yang terstruktur dalam pertalian keluarga dan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap generasi baru.4
Jadi dapat penulis simpulkan bahwa, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Terciptanya sebuah keluarga itu berawal dari sebuah tali pernikahan yang sah menurut agama dan negara. Keluarga juga disebut sebagai bagian penting dalam sebuah masyarakat dan bagi sebuah negara, dalam melahirkan generasi penerus yang cerdas dan mampu menjadi anak yang membanggakan.
Menurut Foley dalam Nurhayati yang diungkapkan dalam jurnal Ahmad Atabik, mengungkapkan bahwa konseling keluarga adalah upaya mengubah dalam keluarga untuk mencapai keharmonisan. Seorang pakar konseling Harper juga mengemukakan bahwa konseling keluarga merupakan proses bantuan terhadap dua orang atau lebih anggota keluarga
3 Novi Hendri, Psikologi dan Konseling Keluarga Menurut Paradigma Islam, (Bandung:
Citapustaka Media Perintis, 2012), hlm. 11-12
4 Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 4
sebagai suatu kelompok secara serempak yang dapat melibatkan seorang konselor atau lebih dalam mengatasi permasalahan-permasalahan keluarga.5
Dapat disimpulkan bahwa, konseling keluarga merupakan proses pemberian bantuan bagi suatu keluarga melalui pengubahan interaksi antar anggotanya sehingga keluarga tersebut dapat mengatasi masalah yang dihadapinya bagi kesejahteraan anggota dan keluarga secara keseluruhan.
Kemudian juga bisa disebut sebagai proses pemberian bantuan terhadap individu agar dalam menjalankan pernikahan dan kehidupan berumahtangganya bisa selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Pasangan ideal dari kata keluarga adalah bahagia, sehingga idiomnya menjadi keluarga bahagia. Maknanya, tujuan dari setiap orang yang membina rumah tangga adalah mencari kebahagiaan hidup. Hampir seluruh budaya bangsa menempatkan kehidupan keluarga sebagai ukuran kebahagiaan yang sebenarnya. Meski seseorang gagal karirnya di luar rumah, tetapi sukses membangun keluarga yang kokoh dan sejahtera, maka tetaplah dipandang sebagai orang yang sukses dan berbahagia. Sebaliknya orang yang sukses di luar rumah, tetapi keluarganya berantakan, maka ia tidak disebut orang yang beruntung, karena betapapun sukses diraih, tetapi kegagalan dalam rumah tangganya akan tercermin di wajahnya, tercermin pula pada pola hidupnya yang tidak bahagia. Hidup berkeluarga memang merupakan fitrah sosial manusia. Secara psikologis, kehidupan berkeluarga,
5 Ahmad Atabik, Konseling Keluarga Islami (Solusi Problematika Kehidupan Berkeluarga), (Jurnal Bimbingan Konseling islam, Vol. 4, No. 1, Juni 2013), hlm. 175
baik bagi suami, isteri, anak-anak, cucu-cicit atau bahkan mertua merupakan pelabuhan perasaan; ketenteraman, kerinduan, keharuan, semangat dan pengorbanan, semuanya berlabuh di lembaga yang bernama keluarga.
Secara alamiah, ikatan kekeluargaan memiliki nilai kesucian, oleh karena itu bukan hanya di masyarakat tradisional kesetiaan keluarga di pandang mulia, pada masyarakat liberalpun, kesetian keluarga masih menjadi nilai keindahan, meski persemayaman keindahan itu di alam bawah sadar.
Dibalik budaya “pergaulan bebas” yang dinikmati masyarakat liberal, tetap saja diakui di alam bawah sadarnya “kebenaran” nilai kesetiaan dalam hidup berkeluarga.6
Konsep keluarga bahagia yang Islami, biasanya disebut dengan istilah Keluarga Sakinah. Keluarga sakinah sebenarnya istilah yang khas Indonesia yang menggambarkan suatu keluarga yang bahagia dalam perspektif ajaran Islam. Keluarga sakinah adalah satu ungkapan untuk menyebut sebuah keluarga yang fungsional dalam mengantar orang pada cita-cita dan tujuan membangun keluarga. Dalam bahasa Arab disebut dengan usrah sa’idah, keluarga bahagia. Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari Al-Qur‟an surat 30:20, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Tuhan menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain.
Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan.
Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga, dan yang ideal biasanya jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak
6 Achmad Mubarok, Psikologi Keluarga, (Malang: Madani, 2016), hlm. 114
terjadi mendadak, tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, yang memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta pengorbanan terlebih dahulu. Keluarga sakinah merupakan subsistem dari sistem sosial menurut Al-Qur‟an, bukan bangunan yang berdiri di atas lahan kosong.7
Berbicara tentang keluarga maka tidak terlepas dari berbicara tentang anak. Anak-anak dalam sebuah keluarga merupakan amanat dan rahmat dari Tuhan, generasi penerus serta pelestari norma yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat. Oleh karenanya, keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama bagi anak seyogyanya mampu menjadi peletak dasar dalam pembentukan karakter yang baik sebagai landasan pengembangan kepribadian anak yang akan membentuk karakter bangsa di kemudian hari.
Berbagai keterampilan kehidupan dikembangkan pada anak sejak dini di lingkungan keluarga dalam suasana kasih sayang. Keteladanan dalam suasana hubungan yang harmonis serta komunikasi yang efektif antar anggota keluarga merupakan hal yang fundamental bagi berkembangnya kepribadian anak. Kita sebagai orangtua, pendidik ataupun konselor perlu melaksanakan pendidikan terhadap anak-anak, berdasarkan pandangan bahwa anak sebagai makhluk yang sedang tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan memiliki kemampuan dasar yang dinamis dan responsif terhadap pengaruh dari luar dirinya. Sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu pemberian nasehat dan pengajaran kepada sang anak yang telah tercantum dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19.
7 Achmad Mubarok, Psikologi Keluarga...hlm. 120
Yang artinya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya
sendiri; dan barang siapa yang tidakbersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kamiperintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata):
"Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan(olehAllah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakandiri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.8
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Luqman adalah seorang yang shaleh yang berkulit hitam dari Afrika, nama lengkapnya adalah Luqman Ibn Anqa‟ bin Sadun, sedangkan anaknya bernama Tsaran.
Selanjutnya Luqman mengajarkan pada anaknya bahwa Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya agar berbakti dan bertaubat, baik dengan ibu bapaknya maupun kepada Allah SWT. Berbakti kepada ibu karena ibu telah mengandungnya dalam keadaan lemah ditambah kelemahan si janin, kemudian setelah lahir memeliharanya dan menyusuinya selama dua tahun. Maka bersyukurlah kepada Allah dan
8 Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, (Jakarta: Zikrul Hakim, 2012, cet. 1), hlm. 413
kepada kedua orang tuamu. Namun bila keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Allah SWT, maka janganlah engkau mengikuti dan menyerah pada paksaannya. Sungguhpun demikian janganlah kamu melupakan keduanya, engkau tetap menggauli dan menghubungi mereka dengan baik, hormat dan sopan, serta ikutilah jalan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan kembali bertaubat kepada-Nya.9
Selanjutnya Luqman menasehati anaknya, bahwa perbuatan dosa atau kebaikan itu walaupun sebesar biji sawi akan diperhitungkan Allah SWT di hari kiamat sehingga seekor semut yang kecilpun tidak akan luput dari pengetahuan Allah SWT. Selanjutnya perintah untuk mendirikan shalat, melaksanakan amar ma‟ruf dan nahi munkar, serta jangan sombong, tapi hendaklah berlaku sederhana dan suara yang lemah lembut. Demikian kisah Luqman dalam berwasiat menasehati anaknya. Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran sebagai pedoman baik bagi orang tua maupun para pendidik dalam melaksanakan pendidikan. Al-Qur‟an sebagai pedoman hidup umat Islam, memuat semua segi kehidupan dan berbagai kisah yang dapat dijadikan contoh pedoman dalam kehidupan.
Begitu banyak hal tercakup dalam ayat-ayatnya, baik yang tersurat maupun tersirat. Dan sebagai sumber yang pertama dan utama dalam pengambilan rujukan yang memuat peraturan hidup bagi setiap orang yang beriman, termasuk di dalamnya bagaimana cara memberikan bantuan kepada orangtua agar dapat menasehati dan mendidik anaknya dengan baik.
9 Muhammad Nasib Ar-Rifa‟i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999, cet. 1). hlm. 789.
Berangkat dari apa yang sudah dicontohkan oleh Luqman yang tercantum dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 sudah sangat mencerminkan keluarga yang di ridhoi Allah SWT dan patut menjadi contoh bagaimana seharusnya kita sebagai orangtua, pendidik ataupun konselor memberikan pengajaran dan nasehat kepada anak. Namun meskipun demikian, masih ada keluarga yang belum dapat mencontohkan dengan baik bagaimana seharusnya kita memberikan pengajaran dan nasehat kepada anak, agar anak tidak rusak dengan lingkungan yang ada. Nilai-nilai konseling keluarga yang dilaksanakan oleh Luqman masih belum terungkap secara keseluruhan, karena pada umumnya dalam proses konseling yang banyak diberikan adalah konseling untuk pengentasan masalah secara umum saja. Maka dari itu perlu diketahui nilai-nilai konseling keluarga yang terkandung dalam Al- Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 ini untuk bisa diteladani hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian pustaka dengan judul Nilai-Nilai Konseling Keluarga yang Terkandung dalam Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 12-19.
B. Identfikasi Masalah
1. Nilai-nilai konseling keluarga yang tercantum dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 masih ada yang belum terungkap secara keseluruhan khususnya dalam mendidik anak. Yang telah terungkap
selama ini banyak mengenai konseling untuk mengentaskan masalah secara umum saja
2. Nilai-nilai konseling keluarga yang tercantum dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 masih ada yang belum diteladani dalam kehidupan sehari-hari
3. Wawasan tentang nilai-nilai konseling keluarga yang dicontohkan Luqman kepada anaknya masih ada yang belum dikaji secara detail.
Yang sudah dikaji selama ini banyak mengenai nilai edukatif Al- Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 saja.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan fokus penelitian di atas, peneliti membatasi masalah yang dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan: nilai-nilai konseling keluarga yang terkandung dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 dari aspek pemberian nasehat kepada anak dan mendidik anak dengan baik.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Apa saja nilai-nilai konseling keluarga yang terkandung dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19 dari aspek pemberian nasehat kepada anak dan mendidik anak dengan baik?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui nilai-nilai konseling keluarga yang terkandung dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19.
F. Guna Penelitian
1. Guna Secara Teoritis
a. Mengembangkan ilmu pengetahuan tentang pengembangan nilai- nilai konseling keluarga yang terkandung dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19.
b. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pemikiran dan bahan masukan bagi pembaca.
2. Guna Secara Praktis
c. Dapat memenuhi tugas dalam rangka mencapai gelar kesarjanaan S1 pada Jurusan Bimbingan dan Konseling di IAIN BKT.
G. Penjelasan Judul
Untuk menghindari penafsiran yang berbeda serta untuk memudahkan dalam memahami judul penelitian ini, maka penulis akan menjelaskan beberapa kata penting dari judul di atas:
Nilai-nilai : Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah budaya konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai di kehidupan manusia.10
10 Nanang Purwanto, Pengantar Pendidikan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm. 20
Konseling Keluarga : Adalah proses bantuan terhadap dua orang atau lebih anggota keluarga sebagai suatu kelompok secara serempak yang dapat melibatkan seorang konselor atau lebih dalam mengatasi permasalahan-permasalahan keluarga.11
Al-Qur‟an : Adalah sebagai kalam Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat, disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah SWT sendiri dengan perantara malaikat Jibril, dimana Al-Qur‟an itu menjadi pedoman hidup bagi umat Islam yang berisi ketentuan yang harus dilakukan dan yang harus ditinggalkan, dan membaca Al-Qur‟an dinilai ibadah kepada Allah SWT.
Surah Luqman ayat 12-19 : Adalah pembagian yang terdapat di dalam Al-Qur‟an. Al-Qur‟an dibagi menjadi 114 bab yang disebut surah, salah satunya adalah surah ke 31 yaitu Luqman pada ayat ke 12-19.
Secara keseluruhan maksud judul di atas adalah budaya konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai di kehidupan manusia pada proses bantuan terhadap dua orang atau lebih anggota keluarga sebagai suatu kelompok secara serempak yang dapat melibatkan seorang konselor atau lebih dalam mengatasi permasalahan-permasalahan keluarga yang dirujuk dari Al-Qur‟an sebagai kalam Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
11 Ahmad Atabik, Konseling Keluarga Islami (Solusi Problematika Kehidupan Berkeluarga), (Jurnal Bimbingan Konseling islam, Vol. 4, No. 1, Juni 2013), hlm. 175
sebagai mukjizat, disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah SWT sendiri dengan perantara malaikat Jibril, dimana Al-Qur‟an itu menjadi pedoman hidup bagi umat Islam yang berisi ketentuan yang harus dilakukan dan yang harus ditinggalkan, dan membaca Al-Qur‟an dinilai ibadah kepada Allah SWT, pembagian yang terdapat di dalam Al- Qur‟an. Al-Qur‟an dibagi menjadi 114 bab yang disebut surah, salah satunya adalah surah ke 31 yaitu Luqman pada ayat ke 12-19.
H. Sistematika Penulisan
Agar skripsi penelitian ini terlihat memiliki hubungan yang kuat antara keseluruhan pembahasan, maka penulis perlu membuat sistematika penulisan, yaitu:
Bab I, merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penjelasan judul, dan sistematika penulisan.
Bab II, merupakan landasan teori tentang pengertian konseling keluarga, tujuan konseling keluarga, prinsip konseling keluarga, nilai-nilai konseling keluarga, surah Luqman ayat 12-19 dan tafsiran surah Luqman ayat 12-19.
Bab III, merupakan metodologi penelitian, yang mencakup jenis penelitian, sumber data, dan metode analisis.
Bab IV, hasil penelitian, yang mencakup temuan, yang di dalamnya
mencakup hasil kajian pustaka tentang nilai-nilai konseling keluarga yang terkandung dalam Al-Qur‟an surah Luqman ayat 12-19.
Bab V, mencakup kesimpulan dan saran.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Konseling Keluarga
1. Pengertian Konseling Keluarga
Istilah konseling berasal dari kata “counseling” adalah kata dalam bentuk mashdar dari “to counsel” secara etimologi berarti “to give advice” atau meberikan saran dan nasihat. Konseling juga memiliki arti memberikan nasihat; atau memberi anjuran kepada orang lain secara tatap muka (face to face). Jadi, counseling berarti pemberian nasihat atau penasihatan kepada orang lain secara individual yang dilakukan dengan tatap muka (face to face).
Pengertian konseling dalam bahasa Indonesia, juga dikenal dengan istilah penyuluhan.
Menurut Rogers yang diungkapkan oleh Samsul Munir Amin, mengungkapkan bahwa konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantunya dalam mengubah sikap dan tingkah laku.
Menurut Hansen yang diungkapkan oleh Samsul Munir Amin, mengungkapkan bahwa konseling adalah proses bantuan kepada individu dalam belajar tentang dirinya, lingkungannya, dan metode dalam menangani peran dan hubungan. Meskipun individu mengalami masalah konseling ia tidak harus remedial. Konselor dapat membantu
seorang individu dengan proses pengambilan keputusan dalam hal pendidikan dan kejuruan serta menyelesaikan masalah interpersonal.
Menurut Hallen yang diungkapkan oleh Samsul Munir Amin, mengungkapkan bahwa konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan di mana proses pemberian bantuan itu barlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru pembimbing/konselor dengan klien, dengan tujuan agar klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya, dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkambangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.12
Konseling adalah usaha membantu orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan agar mereka bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi mereka. Yang membantu disebut konselor, yang dibantu disebut klien. Seorang konselor bukan subyek, karena konselor hanya membantu, subyeknya adalah klien sendiri dan obyeknya adalah masalah yang dhadapi. Yang terkena gangguan kejiwaan bisa orang awam dan bisa juga orang terpelajar. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor terhadap klien terpelajar antara lain membantunya agar klien;
12 Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm.
10-13
a. Memahami diri sendiri
b. Mengukur kemampuannya
c. Mengetahui kesiapan dan kecenderungannya
d. Memperjelas orientasi, motivasi dan aspirasi
e. Mengetahui kesulitan dan problem lingkungan dimana ia hidup
f. Membantu menggunakan pengetahuan tersebut (1-5) untuk menetapkan tujuan paling kongkrit bagi dirinya
g. Mendorong klien untuk berani mengambil keputusan yang sesuai dengan kemampuannya, dan memanfaatkan secara optimal mungkin potensi yang ada pada dirinya untuk merebut peluang yang terbuka
Jika kliennya orang awam, konseling dibutuhkan untuk:
a. Membantu pengembangan diri dan memilih gaya hidup (life style) yang sesuai dengan aspirasinya
b. Menjaga agar mereka tidak terjatuh pada keadaan merasa tidak wajar dan tidak bahagia
c. Membantu menentukan pilihan-pilihan
d. Membantu meringankan perasaan, frustasi dan sebangsanya.13
Konseling merupakan satu aktivitas penting dalam mengubah sikap dan perilaku individu, yang dalam prosesnya harus dilaksanakan oleh seorang konselor yang profesional.14
Menurut Edwin C. Levis yang diungkapkan oleh Soli Abimanyu dan M. Thayeb Manrihu, mengungkapkan bahwa konseling adalah suatu proses dimana orang yang bermasalah (klien) dibantu secara pribadi untuk merasa dan berperilaku yang lebih memuaskan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak terlibat (konselor) yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan perilaku-perilaku yang memungkinkannya berhubungan secara lebih efektif dengan dirinya dan lingkungannya.15
Dapat disimpulkan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara, atau dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidup.
Dalam memecahkan permasalahannya ini individu memecahkannya dengan kemampuannya sendiri. Dengan demikian, klien tetap dalam keadaan aktif, memupuk kesanggupannya di dalam memecahkan
13 Achmad Mobarok, Psikologi Keluarga, (Malang: Madani, 2016), hlm. 167
14 Erhamwilda, Konseling Islami, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm. 1
15 Soli Abimanyu dan M. Thayeb Manrihu, Teknik dan Laboraturium Konseling, (Jakarta:
Dependikbud, 1996), hlm. 9
setiap permasalahan yang mungkin akan dihadapinya di dalam kehidupannya.
Keluarga adalah sekolah tempat putra-puteri bangsa belajar.
Dari sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, seperti kesetiaan, rahmat, dan kasih sayang, ghirah (kecemburuan positif) dan sebagainya. Dari kehidupan keluarga, seorang ayah dan suami memperoleh dan memupuk sifat keberanian dan keuletan sikap dan upaya dalam rangka membela sanak keluarganya dan membahagiakan mereka pada saat hidupnya dan setelah matinya. Disinilah konsep keluarga mengalami perkembangan dari bentuknya yang paling sederhana, agama memiliki peran yang sangat signifikan dalam pematangan dan pengokohan konsep keluarga ini. Contoh yang paling konkrit adalah dalam Islam.16
Menurut Reiss yang diungkapkan oleh Sri Lestari, mengemukakan bahwa keluarga adalah suatu kelompok kecil yang terstruktur dalam pertalian keluarga dan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap generasi baru. Menurut Murdock keluarga merupakan kelompok sosial yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerja sama ekonomi, dan terjadi proses reproduksi.
16 Novi Hendri, Psikologi dan Konseling Keluarga Menurut Paradigma Islam, (Bandung:
Cita Pustaka Media Perintis, 2012), hlm. 12
Definisi struktural, keluarga didefinisikan berdasarkan kehadiran atau ketidakhadiran anggota keluarga, seperti orangtua, anak, dan kerabat lainnya. Definisi ini memfokuskan pada siapa yang menjadi bagian dari keluarga. Dari perspektif ini dapat muncul pengertian tentang keluarga sebagai asal usul (families of origin), keluarga sebagai wahana melahirkan keturunan (families of procreation), dan keluarga batih (extended family).
Definisi fungsional, keluarga didefinisikan dengan penekanan pada terpenuhinya tugas-tugas dan fungsi-fungsi psikososial. Fungsi- fungsi tersebut mencakup perawatan, sosialisasi dan anak, dukungan emosi dan materi, dan pemenuhan peran-peran tertentu. Definisi ini memfokuskan pada tugas-tugas yang dilakukan oleh keluarga.
Definisi transaksional, keluarga didefinisikan sebagai kelompok yang mengambangkan keintiman melalui perilaku-perilaku yang memunculkan rasa identitas sebagai keluarga (family identity), berupa ikatan emosi, pengalaman historis, maupun cita-cita masa depan.
Definisi ini memfokuskan pada bagaimana keluarga melaksanakan fungsinya.17
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat kita lihat bahwa family counseling atau konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem keluarga
17 Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 3-5
(pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.
Menurut Perez yang diungkapkan oleh Sofyan S. Willis, mengemukakan bahwa definisi konseling keluarga adalah suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga merasakan kebahagiaan.18
Dapat penulis simpulkan bahwa konseling keluarga adalah usaha membantu individu anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensinya atau mengantisipasi masalah yang dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga, agar terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri individu yang akan memberi dampak positif pula terhadap anggota keluarga lainnya.
2. Tujuan Konseling Keluarga
Berikut ini dikemukakan tujuan konseling keluarga secara umum dan khusus.
a. Tujuan Umum Konseling Keluarga
1) Membantu, anggota-anggota keluarga belajar dan menghargai secara emosional bahwa dinamika keluarga adalah kait-mengait di antara anggota keluarga
18 Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga, (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 83
2) Untuk membantu anggota keluarga agar menyadari tentang fakta jika satu anggota keluarga bermasalah, maka akan mempengaruhi kepada persepsi, ekspektasi, dan interaksi anggota-anggota lain
3) Agar tercapai keseimbangan yang akan membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap anggota
4) Untuk mengembangkan penghargaan penuh sebagai pengaruh dari hubungan parental.
b. Tujuan Khusus Konseling Keluarga
1) Untuk meningkatkan toleransi dan dorongan anggota- anggota keluarga terhadap cara-cara yang istimewa (indiocyncratic ways) atau keunggulan-keunggulan anggota lain
2) Mengembangkan toleransi terhadap anggota-anggota keluarga yang mengalami frustasi/kecewa, konflik, dan rasa sedih yang terjadi karena faktor sistem keluarga atau di luar sistem keluarga
3) Mengembangkan motif dan potensi-potensi, setiap anggota keluarga dengan cara mendorong (men-support), memberi semangat, dan mengingatkan anggota tersebut
4) Mengembangkan keberhasilan persepsi diri orangtua secara realistik dan sesuai dengan anggota-anggota lain.19
3. Fungsi Konseling Keluarga
Sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi, ikut pula berkembang ilmu konseling secara menyeluruh dengan fungsi-fungsi yang dimilikinya antara lain:
a. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
b. Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan
19 Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga,...hlm.88
kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya: bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
c. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya.
Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
d. Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dpat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
e. Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dangan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
f. Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
g. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
h. Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
i. Fungsi fasilitasi, yaitu fungsi memberikan kemudahan pada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
j. Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.20
Menurut Minuchin yang diungkapkan oleh Sri Lestari mengungkapkan bahwa keluarga merupakan tempat yang penting bagi
20 Novi Hendri, Psikologi dan Konseling Keluarga Menurut Paradigma Islam,... hlm. 1-2
perkembangan anak secara fisik, emosi, spiritual dan sosial. Karena keluarga merupakan sumber bagi kasih sayang, perlindungan, dan identitas bagi anggotanya. Keluarga menjalankan fungsi yang penting bagi keberlangsungan masyarakat dari generasi ke generasi. Dari kajian lintas budaya ditemukan dua fungsi utama keluarga, yakni internal-memberikan perlindungan psikososial bagi para anggotanya- dan eksternal- mentransmisikan nilai-nilai budaya pada generasi selanjutnya.
Menurut Berns yang diungkapkan oleh Sri Lestari mengungkapkan bahwa keluarga memiliki lima fungsi dasar, yaitu:
a. Reproduksi, keluarga memiliki tugas untuk mempertahankan populasi yang ada di dalam masyarakat
b. Sosialisasi/edukasi, keluarga menjadi sarana untuk transmisi nilai, keyakinan, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan teknik dari generasi sebelumnya ke generasi yang lebih muda
c. Penugasan peran sosial, keluarga memberikan identitas pada para anggotanya seperti ras, etnik, religi, sosial ekonomi, dan peran gender
d. Dukungan ekonomi, keluarga menyediakan tempat berlindung, makan, dan jaminan hidup
e. Dukungan emosi/pemeliharaan, keluarga memberikan pengalaman interaksi sosial yang pertama bagi anak.
Interaksi yang terjadi bersifat mendalam, mengasuh, dan berdaya tahan sehingga memberikan rasa aman pada anak.
Dalam perspektif perkembangan fungsi paling penting dari keluarga adalah melakukan perawatan dan sosialisasi pada anak.
Sosialisasi merupakan proses yang ditempuh anak untuk memperoleh keyakinan, nilai-nilai dan perilaku yang dianggap perlu dan pantas oleh anggota keluarga dewasa, terutama orangtua. Keluarga memang bukan satu-satunya lembaga yang melakukan peran sosialisasi, melainkan keluarga merupakan tempat pertama bagi anak dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena berbagai peristiwa, pada awal tahun kehidupan anak sangat berpengaruh pada perkembangan sosial, emosi dan intelektual anak, maka keluarga harus dipandang sebagai instrumen sosialisasi yang utama.21
4. Nilai-Nilai Konseling Keluarga
a. Degradasi Nilai-Nilai
1) Nilai-nilai Agama
Degradasi nilai –nilai agama akhir-akhir ini sangat terasa dan kentara. Semua agama merasakan bahwa kebanyakan umatnya kurang setia terhadap agama yang dianutnya. Dengan kata lain, banyak umat saat ini kurang taat beribadah sebagaimana diperintahkan oleh agamanya. Hal ini juga terasa
21 Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga,... hlm. 22
pada kehidupan keluarga. Khusus bagi umat Islam, banyak keluarga muslim yang tidak melaksanakan ajaran agamanya seperti shalat lima waktu. Suatu pemandangan yang umum di kota-kota pada saat hari Jum‟at. Seharusnya kaum laki-laki wajib melaksanakan shalat Jum‟at pada hari itu. Akan tetapi sayang, pada saat panggilan shalat dikumandangkan (azan), masih banyak orang laki-laki berkeliaran di jalanan baik berkendaraan maupun pejalan kaki.
Di keluarga demikian pula. Jarang anak-anak bahkan yang sudah SMA melaksanakan shalat. Mereka lebih banyak menonton TV atau bermain games. Orangtua pun tidak memberikan contoh atau teladan bagia anak-anaknya. Di samping itu, ada pula orangtua yang aktif beragama, namun sulit mengajak anak-anaknya untuk beribadah. Pengaruh lingkungan yang serba materi dan glamor, telah menyebabkan keluarga-keluarga muslim menghadapi kendala untuk beribadah sesuai tuntutan agamanya. Karena anggota keluarga imannya minim, ketika menghadapi masalah hidup yang sulit, sering mereka terganggu kejiwaannya seperti cepat marah, bertengkar bahkan ada pula yang mengamuk. Ada gangguan jiwa karena kesulitan ekonomi sampai ada seorang ayah beranak lima teganya bunuh diri, sebab tak sanggup menghidupi keluarganya. Di kalangan remaja pun demikian pula. Ada yang bunuh diri karena diputus pacarnya. Jika
manusia tebal keimanannya, lalu menghadapi masalah yang hebat, maka imannya menjadi tameng untuk berbuat negatif terhadap diri dan orang lain. Begitu seseorang misalnya si A mengalami kesulitan hidup, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Karena demikianlah ajaran Islam, bahwa orang harus berusaha mengubah nasibnya dengan segala daya upaya yang halal. Jika tidak berhasil, dia coba lagi. Akhirnya A menyerahkan urusannya kepada Allah disamping terus berusaha. Si A tidak berhenti berdo‟a setelah shalat. Karena demikian ajaran Tuhannya. Allah memerintahkan “ ud’uuni astajib lakum” artinya berdo’alah kepada-Ku pasti Aku kabulkan.
Masyarakat Islam saat ini makin parah dalam keimanan dan ibadah. Hal ini mengarah kepada statistik umum jumlah umat Islam. Ada yang mengatakan bahwa jumlah umat Islam 90% dari jumlah penduduk Indonesia. Akan tetapi berapakah jumlahnya yang setia dan taat dengan ajaran Islam terutama ibadah shalat? Sedikit sekali, mungkin sekitar 25% saja.
Sisanya sebagian besar lebih mengutamakan urusan hidup di dunia, bahkan banyak yang menjadikan hidup di dunia sebagai tujuannya. Untuk mencapai tujuan itu, segala daya upaya dilakukan, yang penting bisa memenuhi kehidupan dunia seperti harta, uang, makanan, dan sebagainya. Di dalam ajaran Islam harta dan umumnya kehidupan dunia adalah wahana atau
alat untuk mencari keridhaan Allah SWT dalam rangka mencapai kehidupan yang kekal kelak yaitu kehidupan di akhirat.
Kehidupan keluarga yang mengutamakan pencapaian harta dunia, tampak sibuk. Ibu dan bapak bekerja keduanya.
Urusan anak sehari penuh diserahkan kepada pembantu rumah tangga (PRT) yang nota bene rendah pendidikan dan agamanya. Akibatnya anak-anak yang diasuh oleh pembantu (PRT) selama bertahun-tahun sering mengalami kemunduran di bidang akhlak. Bahkan tidak tertutup kemungkinan anak- anak itu mengalami keterbelakangan mental dan kelainan perilaku.
2) Degradasi Nilai Adat Istiadat
Di samping menurunnya (degradasi) nilai-nilai agama, ada pula degradasi nilai-nilai adat istiadat yang sering disebut tata susila atau kesopanan. Hal ini terlihat pada perilaku anak dan remaja akhir-akhir ini. Mereka berlaku tidak sopan terhadap orangtua, guru, dan orangtua lainnya. Di sekolah hal ini juga terasa. Kebanyakan murid sekolah jarang meminta maaf jika lewat di depan guru. Padahal setiap masyarakat di setiap etnis di Indonesia oleh nenek-nenek zaman dulu selalu
diajarkan berlaku sopan jika berhadapan atau lewat di depan orangtua. Diajarkan lewat di depan orangtua agar membungkukkan badan, tangan kanan ke bawah, sambil mengucapkan “maaf pak/buk”.
Saat ini semua berubah secara drastis. Yaitu lenyapnya nilai-nilai adat istiadat dan kesopanan tersebut. Apa sesungguhnya sumber penyebab dari menghilangnya nilai-nilai kesopanan tersebut? Banyak sumber penyebab yang dapat disebutkan. Pertama, menghilangnya kurikulum pendidikan kesopanan di sekolah. Atau dengan bahasa umum dapat dikatakan bahwa di setiap sekolah tidak berminat untuk menjadikan adat kesopanan atau adat tata susila sebagai mata pelajaran muatan lokal. Kedua, kurangnya teladan dari guru dan orangtua pada umumnya dalam hal adat kesopanan.
Misalnya, merokok. Banyak guru dan orangtua melakukannya di depan anak dan remaja. Dampaknya adalah anak dan remaja ikut menjadi pecandu rokok. Dan haruslah anda ketahui bahwa merokok adalah jembatan menuju kecanduan narkoba. Sudah anda ketahui semuanya bahwa 100% pecandu narkoba adalah anak muda.
Kehancuran hidup anak dan remaja terlibat narkoba amat memprihatinkan. Yaitu putus sekolah atau kuliah, kerusakan otak, dan yang parah lagi mereka menderita penyakit hepatitis C dan bahkan penyakit aids yang mengerikan itu. Dengan kata
lain, penderita akibat kecanduan narkoba telah menghancurkan kehidupan mereka. Kalau dapat saya lukiskan secara skematis proses kehancuran akibat narkoba, sebaiknya hindari merokok.
Teladan negatif (merokok)-kecanduan rokok-kecanduan narkoba-penderita kerusakan otak, hepatitis C, aids-kematian.
Dari sekitar 5 juta orang pecandu narkoba di Indonesia, sebagian besar adalah pemuda dan remaja. Mereka kehilangan masa depan, dan bangsa Indonesia kehilangan potensi generasi muda. Akibat narkoba yang berkepanjangan dan terus meluas di kalangan generasi muda, bangsa ini bisa terjadi lost generation atau kehilangan generasi muda, bangsa ini bisa terjadi lost generation atau kahilangan generasi penerus bangsa.
Ketiga, melemahnya ekonomi sebagian besar rakyat sebagai akibat kesulitan ekonomi negara dan meluasnya korupsi. Sehingga negara tidak mampu membuka lapangan kerja khususnya untuk generasi muda di kota dan di pedesaan.
Banyaknya pengangguran generasi muda, berdampak negatif terhadap keamanan dan ketentraman hidup di masyarakat.
Banyak terjadi pencurian, pencopetan, dan bahkan perampokan di masyarakat.
Jadi bagaimana menciptakan masyarakat yang sopan, damai, dan sejahtera jika keadaan masyarakat amat kekurangan
ekonomi bahkan banyak yang jatuh miskin. Tujuan utama mereka adalah “mengisi perut” karena menurut pepatah orang hebat “stomach can not wait”, perut tidak bisa menunggu.
Apalagi kenaikan harga bahan bakar minyak telah menyulut melambungnya harga bahan-bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, ikan asin, dan sebagainya. Dampaknya adalah kemiskinan. Para peminta-peminta dan pengamen menjamur di kota-kota. Apa artinya? Yaitu telah terjadi secara besar-besaran pindahnya penduduk dari kantong-kantong kemiskinan di desa-desa ke kota-kota (urbanisasi). Sehingga wajah kota telah berubah menjadi semrawut. Banyak pedagang kaki lima, pengamen dan peminta-minta. Para peminta-minta dan pengamen menggelandang di kota-kota. Di pihak lain pemerintah kota (Pemkot) membuat program pembersihan kota dari manusia gelandangan dan sampah serta jongko-jongko kaki lima. Akibatnya, terjadilah penggusuran bangunan liar dan gelandangan. Penggusuran besifat kurang manusiawi, karena dilakukan dengan kekerasan sehingga merugikan harta benda PKL dan penganiayaan terhadap gelandangan dengan cara mendorong dan bahkan memukulnya. Akan tetapi Pemkot ingin mendapatkan hadiah nasional menjadi kota terbersih di nusantara. Segala upaya dana dan tenaga dicurahkan terhadap pencapaian tujuan tersebut. Kapan selesainya, gelandangan
makin banyak, sedangkan pihak Pemkot ingin memperoleh piala kebersihan tingkat nasional.
Dampak negatif kelemahan ekonomi adalah banyak keluarga yang tidak lagi melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke SLTP. Akibatnya makin banyak anggota masyarakat yang berpendidikan rendah. Hal ini melemahkan daya saing di tingkat dunia. Bangsa kita masih dipandang sebelah mata dalam segala hal, karena rendahnya pendidikan anak-anak bangsa.
3) Degradasi Nilai-nilai Sosial
Telah umum diketahui bahwa sikap individualistik telah berkembang di masyarakat. Artinya, banyak anggota masyarakat yang hanya mementingkan dirinya sendiri, dan enggan berbagi terhadap orang yang tidak berpunya. Beberapa ciri sikap individualistik yang berkembang di masyarakat, dapat dilukiskan sebagai berikut:
a) Mementingkan diri sendiri dalam segala hal
b) Enggan berbagi harta, pikiran, saran, dan pendapat
c) Tidak mau bergaul terutama dengan orang yang rendahan
d) Memutuskan tali silaturrahim dengan keluarga.
Saat ini sikap indivialistik sudah menyebar di masyarakat. Tidak ada lagi semangat gotong royong. Yang ada kehidupan keras saling jegal. Lihatkah pemilihan kepala daerah (pilkada) di berbagai daerah. Bila seorang calon kalah, maka segala cara dilakukan. Demonstrasi yang keras dengan membakar, merusak dan sebagainya. Segala intrik dan fitnah dilakukan agar calon yang menang tidak jadi kepala daerah misalnya ditunda pelantikan, atau dibatalkan dengan secara licik.
Sikap individualistik dengan mementingkan diri sendiri juga terjadi di keluarga. Mulai dari sikap orangtua terhadap anak dan juga sikap anak terhadap orangtua. Sikap orangtua bersumber dari kesibukan sehingga tidak sempat memberikan kasih sayang dan perhatian. Apalagi jika kedua orangtua bekerja jauh dari rumah. Ayah di Singapura, dan ibu di Jakarta.
Anak-anak bersama pembantu tinggal di Bandung. Jika anaknya sudah dewasa maka timbul sikap egois pula. Mereka jarang tinggal di rumah, main dengan kawan-kawannya di tempat disko, dan tempat hiburan lainnya. Penyebabnya di samping tidak ada orangtua di rumah, remaja itu cukup banyak uang, kartu kredit berapa gesek berapa saja mau. Akibatnya remaja tersebut terjun ke dunia hitam dengan bermain seks, ganja, alkohol, dan sebagainya. Lebih jauh lagi remaja itu terjun ke dunia narkoba, akhirnya tertular penyakit aids karena