KONSOLIDASI
KEPPRES 80 TAHUN 2003
DAN PERUBAHANNYA
(VER.1/08)
Tentang Perubahan Ketujuh Keppres 80 Tahun 2003
D
ILENGKAPI
U
NDANG-U
NDANGN
OMOR17
T
AHUN2003
TENTANGK
EUANGANN
EGARAU
NDANG-U
NDANGN
OMOR1
T
AHUN2004
TENTANG
P
ERBENDAHARAANN
EGARAU
NDANG-U
NDANGN
OMOR15
T
AHUN2004
T
ENTANGP
EMERIKSAANP
ENGELOLAAN DANT
ANGGUNGJ
AWABN
EGARAP
ERATURANP
EMERINTAHN
OMOR29
T
AHUN2000
TENTANGP
ENYELENGGARAANJ
ASAK
ONSTRUKSIP
ERATURANP
RESIDENN
OMOR67
T
AHUN2005
TENTANG
K
ERJASAMAP
EMERINTAHD
ENGANB
ADANU
SAHAD
ALAMP
ENYEDIAANI
NFRASTRUKTURP
ERATURANP
RESIDENN
OMOR106
T
AHUN2007
T
ENTANGL
EMBAGAK
EBIJAKANP
ENGADAANB
ARANG/J
ASAP
EMERINTAHK
EPUTUSANP
RESIDENN
OMOR42
T
AHUN2002
DANP
ERUBAHANNYA(
K
EPUTUSANP
RESIDENN
OMOR72
T
AHUN2004
)
TENTANG
P
EDOMANP
ELAKSANAANAPBN
P
ERATURANM
ENTERIK
EUANGANN
OMOR08/PMK.02/2006
TENTANGK
EWENANGANP
ENGADAANKONSOLIDASI
KEPPRES 80 TAHUN 2003
DAN PERUBAHANNYA
(VER. 1/08) – JULI 2008
Seri Buku Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Indonesia
KEPPRES 61 TAHUN 2004
(Perubahan Pertama)
PERPRES 32 TAHUN 2005
(Perubahan Kedua)
PERPRES 70 TAHUN 2005
(Perubahan Ketiga)
PERPRES 8 TAHUN 2006
(Perubahan Keempat)
PERPRES 79 TAHUN 2006
(Perubahan Kelima)
PERPRES 85 TAHUN 2006
(Perubahan Keenam)
PERPRES 95 TAHUN 2006
(Perubahan Ketujuh)
Tata penyusunan buku, dan isi di luar muatan peraturan
perundang-undangan merupakan hak cipta yang dilindungi oleh
Undang-Undang.
Buku Konsolidasi ini tidak boleh diperbanyak sebagian atau
keseluruhan untuk kepentingan komersial tanpa persetujuan terlebih
dahulu dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
(LKPP).
[Keterangan untuk dicetak jika diperbanyak secara resmi]
Permintaan terhadap salinan Buku Konsolidasi ini serta
saran dan masukan harap ditujukan kepada:
[Bagian ini harus disisihkan dalam penerbitan resmi]
Catatan Penyusunan
Buku Konsolidasi Keppres 80/2003 dan Perubahannya merupakan
salah satu hasil tindak lanjut dari kerjasama bilateral Pemerintah RI
c.q. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dengan
Pemerintah Australia c.q. AusAID dalam rangka implementasi
program bantuan teknis bilateral penguatan pengadaan publik di
Indonesia atau ISP3 (Indonesia: Strengthening Public Procurement
Program). Keluaran Buku Konsolidasi ini merupakan bagian dari
Output 1.3 “to assist GoI to improve the regulatory environment”
dalam rangka pemenuhan Objective 1 dari ISP3 “to improve the
institutional and regulatory environment at the national level”.
Kebutuhan akan Buku Konsolidasi yang merupakan restatement dari
Keppres 80/2003 beserta ketujuh perubahannya plus kompilasi
peraturan perundang-undangan terkait mengenai pengelolaan
keuangan publik dalam konteks pengadaan barang/jasa pemerintah,
didasarkan pada saran dan masukan para praktisi dan pemangku
kepentingan pengadaan pemerintah pada instansi pusat, daerah
maupun dunia usaha. Para praktisi pengadaan mengalami kesukaran
untuk dengan mudah dan cepat memahami garis besar, substansi dan
konteks aturan Keppres 80/2003 karena luasnya cakupan, banyaknya
perubahan dan ketiadaan, misalnya alat bantu sederhana seperti
sistematika/daftar isi atau indeks.
Terima kasih disampaikan kepada para pihak baik dari instansi
Pemerintah Indonesia, AusAID Indonesia, Tim Konsultan ISP3 dan
Charles Kendall & Partners, Ltd. yang mengelola Tim Konsultan.
Buku Konsolidasi ini disusun oleh Dondy Sentya, Deputy Team
Leader & Chief Legal Adviser, Tim Konsultan AusAID ISP3.
Buku Konsolidasi Keputusan Presiden tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah ini merupakan salah satu upaya untuk memudahkan para pengelola pengadaan pada instansi Pemerintah, para penyedia barang/jasa, dunia usaha maupun masyarakat luas memahami Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 (”Keppres 80/2003”) yang telah diubah sebanyak tujuh kali pada saat Buku Konsolidasi ini diterbitkan dengan perubahan terakhir melalui Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007. Mengingat telah berulang kalinya Keppres 80/2003 diubah serta luasnya cakupan regulasi yang terdiri dari aturan dasar pengadaan dalam 54 Pasal pada Batang Tubuh dan 162 halaman petunjuk teknis dan pelaksanaan pengadaan pemerintah pada bagian Lampiran (sesuai salinan resmi yang tersedia pada situs jaringan Sekretariat Negara), telah menjadi tantangan tersendiri bagi para praktisi pengadaan pemerintah untuk dengan cepat dan mudah menemukan aturan-aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan analisis dan memastikan kekinian aturan tersebut.
Melalui Buku Konsolidasi ini yang telah merumuskan ulang semua ketentuan dalam Keppres 80/2003 dan ketujuh perubahannya dalam satu dokumen (restatement) diharapkan para praktisi pengadaan pemerintah dapat seketika membaca ketentuan-ketentuan Keppres 80/2003 terkini
(up-to-date) yang telah disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terakhir tanpa perlu membuka
secara terpisah ketujuh Keppres atau Perpres perubahan. Selain itu, untuk kemudahan pembaca Batang Tubuh dan Penjelasan Keppres 80/2003 disejajarkan dan disertakan pula Daftar Isi dan Indeks Keppres 80/2003 sehingga dengan cepat dapat diketahui sistematika, struktur dan garis besar (outline) dari Keppres 80/2003. Hal ini diharapkan dapat mengenalkan kepada pembaca keluasan cakupan aturan dalam Keppres 80/2003 baik yang termuat dalam Batang Tubuh maupun dalam Lampiran yang merupakan petunjuk teknis dan pelaksanaannya. Pada bagian lain dari Buku Konsolidasi ini disertakan juga matriks perubahan Keppres 80/2003 yang mensejajarkan aturan awal Keppres 80/2003 yang diubah dan perubahan-perubahannya melalui tujuh Keppres/Perpres, serta matriks klausul kontrak yang bersifat wajib (mandatory) menurut Keppres 80/2003 untuk dicantumkan dalam setiap kontrak pengadaan barang/jasa pemerintah.
Lebih lanjut, untuk melengkapi Buku Konsolidasi sebagai alat bantu (tool) para praktisi pengadaan pemerintah disertakan pula peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan keuangan publik yang dijadikan acuan atau yang merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari Keppres 80/2003.
CATATAN
Buku Konsolidasi ini hanya merupakan alat bantu untuk memudahkan pembaca memahami Keppres 80/2003 dan semua perubahannya dan tidak dimaksudkan untuk memberikan advis hukum atau menggantikan fungsi peraturan perundang-undangan terkait yang diterbitkan secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Diingatkan juga agar dalam hal pengambilan keputusan dan tindakan-tindakan lain yang berimplikasi hukum maka pembaca tetap perlu merujuk kepada peraturan perundang-undangan terkait yang diterbitkan secara resmi melalui Lembaran Negara, Tambahan Lembaran Negara atau instansi pemerintah yang bersangkutan.
1. Untuk memudahkan pembaca mengetahui penyesuaian-penyesuaian terhadap aturan Keppres 80/2003 dalam Buku Konsolidasi ini, penyesuaian tersebut dicetak dalam huruf miring dan diberikan catatan kaki. Namun demikian, perlu diingat bahwa penggunaan kata atau istilah asing dalam Keppres 80/2003 sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang benar juga dicetak dalam huruf miring terlepas ada penyesuaian atau tidak.
Contoh:
9. Pejabat Pengadaan adalah 1 (satu) orang yang diangkat oleh Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna
Anggaran / Dewan Gubernur BI / Pimpinan BHMN / Direksi BUMN / Direksi BUMD untuk melaksanakan pengadaan barang/jasa11 dengan nilai sampai dengan Rp. 50.000.000,00 (lima puluh
juta).
11 Disesuaikan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (1).
2. Untuk penyesuaian berupa frasa atau istilah yang tercantum dalam keseluruhan bagian Keppres 80/2003 maka penyesuaian tersebut dicetak dengan huruf miring tanpa catatan kaki. Penyesuaian ini terbatas pada perubahan yang diatur dalam Penjelasan Pasal I Perpres 8 Tahun 2006, Angka 1:
Dengan perubahan pada Pasal 1 sebagaimana dimaksud dalam angka 1 ini, maka semua istilah di dalam Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2005 yang berbunyi:
a. "Pengguna barang/jasa atau pejabat yang disamakan sebagai pemilik pekerjaan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa" untuk selanjutnya dibaca "Pejabat Pembuat Komitmen";
b. "Pejabat/Panitia Pengadaan" untuk selanjutnya dibaca "Pejabat / Panitia Pengadaan / Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit)."
3. Pada prinsipnya, penyesuaian yang dilakukan pada bagian Batang Tubuh terdiri dari dua jenis, yaitu penambahan judul, pasal, ayat atau alinea baru, atau perubahan frasa atau bagian kata tertentu dalam satu judul, pasal, ayat atau alinea. Untuk penyesuaian jenis pertama maka dalam catatan kaki akan disebut sebagai ”Ditambahkan”, sedangkan untuk penyesuaian jenis kedua disebut ”Disesuaikan”.
4. Jika dalam satu bagian yang telah disesuaikan dilakukan penyesuaian lagi atau artinya telah terjadi penyesuaian yang berbeda melalui lebih dari satu Keppres/Perpres perubahan maka akan terdapat lebih dari satu catatan kaki. Untuk mengetahui dan membedakan penyesuaian mana yang dijelaskan oleh catatan kaki tersebut maka catatan kaki yang dicantumkan pada awal ayat atau alinea tersebut menandai bahwa ayat atau alinea tersebut telah ditambahkan dari ketentuan awal Keppres 80/2003, dan catatan kaki yang kemudian dalam bagian yang sama tersebut hanya menandakan penyesuaian yang dilakukan terhadap frasa, bagian kata atau butir/poin yang mendahului angka catatan kaki.
Contoh:
(5)62 Pekerjaan pengadaan barang/jasa yang penanganannya memerlukan pelaksanaan secara cepat dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara yang dilaksanakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara.
Pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam angka (5) meliputi:
a. pekerjaan pengadaan perumahan, yang waktu pelaksanaan pengadaannya dilakukan sebelum31 Desember 200663;
5. Bagian Konsideran dari setiap Keppres/Perpres tidak dicantumkan dalam bagian Batang Tubuh Buku Konsolidasi, tetapi dapat dilihat dalam bagian Matriks Perubahan.
PENGANTAR... I PETUNJUK PEMAKAIAN ... II SISTEMATIKA BATANG TUBUH... IV SISTEMATIKA LAMPIRAN-LAMPIRAN... VIII
BATANG TUBUH... 13
LAMPIRAN-LAMPIRAN... 74
MATRIKS PERUBAHAN... 189
MATRIKS KLAUSUL KONTRAK PENGADAAN... 244
INDEKS... 266
LAMPIRAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT ... 270
UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2003 TENTANG KEUANGAN NEGARA... 271
UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA. 286 UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB NEGARA ... 313
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI... 325
PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR... 359
PERATURAN PRESIDEN NOMOR 106 TAHUN 2007 TENTANG LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH ... 374
KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 42 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA ... 383
KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 72 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN TERHADAP KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 42 TAHUN 2002 ... 403
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG KEWENANGAN PENGADAAN BARANG/JASA PADA BADAN LAYANAN UMUM ... 404
SISTEMATIKA BATANG TUBUH
BAB I KETENTUAN UMUM ... 14 BAGIAN PERTAMA... 14 PENGERTIAN ISTILAH... 14 Pasal 1 ... 14 BAGIAN KEDUA... 18MAKSUD DAN TUJUAN... 18
Pasal 2 ... 18 BAGIAN KETIGA... 18 PRINSIP DASAR... 18 Pasal 3 ... 18 BAGIAN KEEMPAT... 19 KEBIJAKAN UMUM... 19 Pasal 4 ... 19 Pasal 4A ... 20 BAGIAN KELIMA... 21 ETIKA PENGADAAN... 21 Pasal 5 ... 21 BAGIAN KEENAM... 22
PELAKSANAAN ATAS PENGADAAN... 22
Pasal 6 ... 22
BAGIAN KETUJUH... 22
RUANG LINGKUP... 22
Pasal 7 ... 22
BAB II PENGADAAN YANG DILAKSANAKAN PENYEDIA BARANG/JASA ... 23
BAGIAN PERTAMA... 23
PEMBIAYAAN PENGADAAN... 23
Pasal 8 ... 23
BAGIAN KEDUA... 24
TUGAS POKOK DAN PERSYARATAN PARA PIHAK... 24
Paragraf Pertama ... 24
Persyaratan dan Tugas Pokok Pejabat Pembuat Komitmen ... 24
Pasal 9 ... 24
Paragraf Kedua ... 26
Pembentukan, Persyaratan, Tugas Pokok dan Keanggotaan Panitia / Pejabat Pengadaan / Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit) ... 26
Pasal 10 ... 26
Paragraf Ketiga ... 29
Persyaratan Penyedia Barang/Jasa... 29
Pasal 11 ... 29
BAGIAN KETIGA... 31
JADUAL PELAKSANAAN PEMILIHAN PENYEDIA BARANG/JASA... 31
Pasal 12 ... 31
BAGIAN KEEMPAT... 31
PENYUSUNAN HARGA PERKIRAAN SENDIRI... 31
Pasal 13 ... 31
BAGIAN KELIMA... 32
PRAKUALIFIKASI DAN PASCAKUALIFIKASI... 32
Paragraf Pertama ... 32
Prinsip-Prinsip Prakualifikasi dan Pascakualifikasi ... 32
Pasal 14 ... 32
Paragraf Kedua ... 33
Pasal 15 ... 33
BAGIAN KEENAM... 34
PRINSIP PENETAPAN SISTEM PENGADAAN... 34
Pasal 16 ... 34
BAGIAN KETUJUH... 35
SISTEM PENGADAAN BARANG / JASA PEMBORONGAN / JASA LAINNYA... 35
Paragraf Pertama ... 35
Metode Pemilihan Penyedia Barang / Jasa Pemborongan / Jasa Lainnya ... 35
Pasal 17 ... 35
Paragraf Kedua ... 38
Metode Penyampaian Dokumen Penawaran ... 38
pada Pemilihan Penyedia Barang / Jasa Pemborongan / Jasa Lainnya ... 38
Pasal 18 ... 38
Paragraf Ketiga ... 39
Evaluasi Penawaran ... 39
Pada Pemilihan Penyedia Barang / Jasa Pemborongan / Jasa Lainnya... 39
Pasal 19 ... 39
Paragraf Keempat... 40
Prosedur Pemilihan Penyedia Barang / Jasa Pemborongan / Jasa Lainnya ... 40
Pasal 20 ... 40
Pasal 20A ... 42
BAGIAN KEDELAPAN... 43
SISTEM PENGADAAN JASA KONSULTANSI... 43
Paragraf Pertama ... 43
Persiapan Pelaksanaan Pemilihan Jasa Konsultansi ... 43
Pasal 21 ... 43
Paragraf Kedua ... 43
Metoda Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi... 43
Pasal 22 ... 43
Paragraf Ketiga ... 45
Metoda Penyampaian Dokumen Penawaran... 45
Pada Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi... 45
Pasal 23 ... 45
Paragraf Keempat... 46
Metoda Evaluasi Penawaran ... 46
Untuk Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi ... 46
Pasal 24 ... 46
Paragraf Kelima ... 47
Prosedur Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi ... 47
Pasal 25 ... 47
Pasal 25A ... 50
BAGIAN KESEMBILAN... 50
PEJABAT YANG BERWENANG MENETAPKAN PENYEDIA BARANG/JASA... 50
Pasal 26 ... 50
BAGIAN KESEPULUH... 51
SANGGAHAN PEMILIHAN PENYEDIA BARANG/JASA,PENGADUAN MASYARAKAT, DAN... 51
PELELANGAN ATAU SELEKSI GAGAL... 51
Paragraf Pertama ... 51
Sanggahan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa dan Pengaduan Masyarakat ... 51
Pasal 27 ... 51
Paragraf Kedua ... 52
Pelelangan/Seleksi Ulang ... 52
Pasal 28 ... 52
BAGIAN KESEBELAS... 54
KONTRAK PENGADAAN BARANG/JASA... 54
Paragraf Pertama ... 54
Isi Kontrak ... 54
Pasal 29 ... 54
Paragraf Kedua ... 56
Pasal 30 ... 56
Paragraf Ketiga ... 58
Penandatanganan Kontrak ... 58
Pasal 31 ... 58
Paragraf Keempat... 59
Hak dan Tanggung Jawab Para Pihak ... 59
dalam Pelaksanaan Kontrak... 59
Pasal 32 ... 59
Paragraf Kelima ... 59
Pembayaran Uang Muka dan ... 59
Prestasi Pekerjaan ... 59 Pasal 33 ... 59 Paragraf Keenam... 59 Perubahan Kontrak... 59 Pasal 34 ... 59 Paragraf Ketujuh ... 60
Penghentian dan Pemutusan Kontrak... 60
Pasal 35 ... 60
Paragraf Kedelapan ... 61
Serah Terima Pekerjaan ... 61
Pasal 36 ... 61 Paragraf Kesembilan ... 61 Sanksi... 61 Pasal 37 ... 61 Paragraf Kesepuluh ... 62 Penyelesaian Perselisihan ... 62 Pasal 38 ... 62 BAB III SWAKELOLA... 63 Pasal 39 ... 63 BAB IV PENDAYAGUNAAN PRODUKSI DALAM NEGERI DAN PERAN SERTA USAHA KECIL TERMASUK KOPERASI KECIL... 64
BAGIAN PERTAMA... 64
PENGADAAN BARANG/JASA YANG DIBIAYAI... 64
DENGAN DANA DALAM NEGERI... 64
Pasal 40 ... 64
BAGIAN KEDUA... 65
PENGADAAN BARANG/JASA YANG DIBIAYAI... 65
DENGAN DANA PINJAMAN/HIBAH LUAR NEGERI... 65
Pasal 41 ... 65
BAGIAN KETIGA... 65
KEIKUTSERTAAN PERUSAHAAN ASING... 65
Pasal 42 ... 65
BAGIAN KEEMPAT... 66
PREFERENSI HARGA... 66
Pasal 43 ... 66
BAGIAN KELIMA... 66
PENGGUNAAN PRODUKSI DALAM NEGERI... 66
Pasal 44 ... 66
BAGIAN KEENAM... 66
PERAN SERTA DAN PEMAKETAN PEKERJAAN... 66
UNTUK USAHA KECIL TERMASUK KOPERASI KECIL... 66
Paragraf Pertama ... 66
Peran Serta Usaha Kecil Termasuk Koperasi Kecil ... 66
Paragraf Kedua ... 67
Pemaketan Pekerjaan Untuk Usaha Kecil Termasuk Koperasi Kecil ... 67
Pasal 46 ... 67
BAB V PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ... 67
BAGIAN PERTAMA... 67 PEMBINAAN... 67 Pasal 47 ... 67 BAGIAN KEDUA... 68 PENGAWASAN... 68 Pasal 48 ... 68 BAGIAN KETIGA... 69
TINDAK LANJUT PENGAWASAN... 69
Pasal 49 ... 69
BAB VI PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH... 71
Pasal 50 ... 71 BAB VII KETENTUAN LAIN-LAIN ... 71 Pasal 51 ... 71 BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN... 71 Pasal 52 ... 71 BAB IX KETENTUAN PENUTUP... 73 Pasal 53 ... 73 Pasal 54 ... 73
SISTEMATIKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
LAMPIRAN I ... 75
BAB I PERSIAPAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH ... 75
A Perencanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah ... 75
1. Perencanaan Pengadaan Barang/Jasa Yang Dilaksanakan Penyedia Barang/Jasa... 75
a. Pemaketan Pekerjaan... 75
b. Jadual Pelaksanaan Pekerjaan... 75
c. Biaya Pengadaan ... 75
d. Pelaksana Pengadaan... 76
2. Perencanaan Pengadaan Barang/Jasa dengan Swakelola... 76
a. Perencanaan Kegiatan ... 76
b. Penyusunan Kerangka Acuan Kerja Swakelola... 76
c. Jadual Pelaksanaan Pekerjaan/Kegiatan ... 76
d. Penyusunan Rencana Biaya Pekerjaan/Kegiatan... 76
e. Pelaksanaan Kegiatan oleh Masyarakat/Lembaga Swadaya Masyarakat ... 77
B.Pembentukan Panitia Pengadaan/Penunjukan Pejabat Pengadaan... 77
1. Panitia Pengadaan ... 77
2. Anggota panitia pengadaan ... 77
3. Pejabat pengadaan ... 77
C Penetapan Sistem Pengadaan Yang Dilaksanakan Penyedia Barang/Jasa... 77
1. Penetapan Metoda Pemilihan Penyedia Barang/Jasa... 77
a. Metoda Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya... 77
b. Metoda Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi... 79
2. Penetapan Metoda Penyampaian Dokumen Penawaran... 80
a. Metoda Satu Sampul... 80
b. Metoda Dua Sampul ... 80
c. Metoda Dua Tahap ... 81
3. Penetapan Metoda Evaluasi Penawaran... 82
a. Kriteria dan Tata Cara Evaluasi... 82
b. Evaluasi Penawaran... 83
1) Evaluasi Penawaran Untuk Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya ... 83
a) Sistem Gugur ... 83
b) Sistem Nilai (Merit Point System) ... 84
c) Sistem Penilaian Biaya Selama Umur Ekonomis (Economic Life Cycle Cost)... 85
2) Evaluasi Penawaran Untuk Pengadaan Jasa Konsultansi ... 86
a) Metoda Evaluasi Berdasarkan Kualitas ... 86
b) Metoda Evaluasi Berdasarkan Kualitas Teknis dan Biaya... 86
c) Metoda Evaluasi Pagu Anggaran... 87
d) Metoda Evaluasi Biaya Terendah ... 87
e) Metoda Evaluasi Penunjukan Langsung ... 88
D.Penyusunan Jadual Pelaksanaan Pengadaan... 88
1. Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya... 88
a. Pelelangan umum dengan prakualifikasi ... 88
b. Pelelangan umum dengan pasca kualifikasi ... 89
c. Pelelangan terbatas ... 90
d. Pemilihan langsung ... 90
e. Penunjukan langsung... 91
2. Jasa Konsultansi ... 91
a. Seleksi umum melalui metoda evaluasi kualitas dengan metoda dua sampul... 91
b. Seleksi umum melalui metoda evaluasi kualitas dan biaya dengan metoda dua sampul ... 91
c. Seleksi umum melalui metoda evaluasi pagu anggaran, dengan metoda satu sampul ... 91
d. Seleksi umum dengan melalui metoda biaya terendah dengan metoda dua samp ... 92
e. Seleksi terbatas melalui metoda evaluasi kualitas dengan metoda dua sampul ... 92
f. Seleksi terbatas melalui metoda evaluasi kualitas dan biaya dengan metoda dua sampul ... 92
g. Seleksi terbatas melalui metoda evaluasi pagu anggaran, dengan metoda satu samp... 92
h. Seleksi terbatas dengan melalui metoda biaya terendah dengan metoda dua sampu ... 92
i. Seleksi langsung ... 92
j. Penunjukan langsung... 92
E. Penyusunan Harga Perhitungan Sendiri (HPS)... 92
F. Penyusunan Dokumen Pengadaan Barang/Jasa... 94
1. Dokumen Pengadaan Barang/ Jasa Pemborongan/ Jasa Lainnya ... 94
2. Dokumen Pengadaan Jasa Konsultansi ... 97
BAB II PROSESPENGADAANBARANG/JASA... 99
YANG MEMERLUKAN PENYEDIA BARANG/JASA... 99
A. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya... 99
1. Pelelangan Umum ... 99
a. Pengumuman dan Pendaftaran Peserta ... 99
b. Pasca Kualifikasi dan Prakualifikasi ... 100
1) Persyaratan Kualifikasi Penyedia Barang/Jasa ... 100
2) Tata Cara Pascakualifikasi... 101
3) Tata Cara Prakualifikasi ... 101
c. Penyusunan Daftar Peserta Lelang, Penyampaian Undangan dan Pengambilan Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa ... 102
d. Penjelasan Lelang (Aanwijziing) ... 102
e. Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Penawaran ... 103
f. Evaluasi Penawaran... 105
g. Pembuktian Kualifikasi ... 109
h. Pembuatan Berita Acara Hasil Pelelangan ... 110
i. Penetapan Pemenang Lelang ... 110
j. Pengumuman Pemenang Lelang... 112
k. Sanggahan Peserta Lelang dan Pengaduan Masyarakat... 112
l. Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa ... 113
m. Pelelangan Gagal dan Pelelangan Ulang ... 114
n. Penandatanganan Kontrak ... 116
2. Pelelangan Terbatas... 117
3. Pemilihan Langsung ... 117
4. Penunjukan Langsung ... 118
5. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya untuk Pekerjaan Penanggulangan Bencana Alam, Bencana Sosial, dan Bencana Perang... 119
B.Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konsultasi... 120
1. Seleksi Umum ... 120
a. Pengumuman Prakualifikasi ... 120
b. Pengambilan Dokumen Prakualifikasi... 121
c. Pemasukan Dokumen Prakualifikasi ... 121
d. Evaluasi Dokumen Prakualifikasi... 121
e. Penetapan Hasil Prakualifikasi ... 122
f. Pengumuman Hasil Prakualifikasi... 122
g. Undangan Kepada Konsultan Yang Masuk Daftar Pendek ... 122
h. Penjelasan (aanwijzing)... 122
i. Pemasukan Penawaran ... 123
j. Evaluasi Administrasi... 124
k. Evaluasi Teknis ... 125
l. Penetapan Peringkat Tekni ... 126
m. Pengumuman Peringkat... 126
n. Sanggahan ... 127
o. Pembukaan Penawaran Harga (Sampul II) Peringkat Teknis Terbaik... 127
p. Klarifikasi dan Negosiasi ... 128
2. Seleksi Terbatas... 130
3. Seleksi Langsung... 130
4. Penunjukan Langsung ... 130
5. Pengadaan Jasa Konsultansi Perorangan ... 131
a. Ketentuan Umum ... 131
b. Pengadaan Jasa Konsultansi Perorangan dengan Seleksi Umum ... 131
c. Pengadaan Jasa Konsultansi Perorangan Melalui Seleksi Terbatas dan Seleksi Langsung ... 132
d. Pengadaan Jasa Konsultansi Perorangan Melalui Penunjukan Langsung... 132
C.Penyusunan Kontrak ... 133
1. Surat Perjanjian ... 133
a. Pembukaan (Komparisi)... 133
b. Isi... 134
2. Syarat-Syarat Umum Kontrak ... 134
a. Ketentuan Umum ... 134
b. Ketentuan Khusus... 140
1) Ketentuan Khusus Untuk Kontrak Pengadaan Barang ... 140
2) Ketentuan Khusus untuk Kontrak Jasa Konsultansi ... 140
3) Ketentuan Khusus Untuk Kontrak Jasa Pemboronga ... 142
3. Syarat-Syarat Khusus Kontrak ... 144
a. Ketentuan Umum ... 144
b. Ketentuan Khusus... 144
1) Kontrak pengadaan barang ... 145
2) Kontrak pengadaan jasa konsultansi... 145
3) Kontrak pengadaan pekerjaan jasa pemborongan... 145
4. Dokumen Lainnya Yang Merupakan Bagian Dari Kontrak ... 145
a. Untuk kontrak jasa pemborongan... 145
b. Untuk pengadaan jasa konsultansi... 145
c. Pengadaan Barang/Jasa Lainnya... 145
D.Pelaksanaan Kontrak ... 146
1. Ketentuan Umum ... 146
a. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)... 146
b. Penggunaan Program Mutu ... 146
c. Mobilisasi... 146
d. Pemeriksaan Bersama... 147
e. Pembayaran Uang Muka ... 147
f. Pembayaran Prestasi Pekerjaan ... 147
g. Perubahan Kegiatan Pekerjaan ... 147
h. Denda dan Ganti Rugi ... 148
i. Penyesuaian Harga ... 148
j. Keadaan Kahar (Force Majeure)... 148
k. Penghentian dan Pemutusan Kontrak ... 148
2. Jasa Pemborongan ... 149
a. Ketentuan Umum ... 149
b. Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak... 149
c. Laporan Hasil Pekerjaan... 150
d. Perpanjangan Waktu Pelaksanaan ... 150
e. Kerjasama antara penyedia barang/jasa dan sub kontraktor ... 150
f. Serah Terima Pekerjaan... 151
3. Jasa Konsultansi ... 151
a. Ketentuan Umum ... 151
b. Persiapan Pelaksanaan Kontrak... 151
c. Pemeriksaan Personil dan Peralatan ... 152
d. Perubahan Personil dan Peralatan yang Diajukan oleh Penyedia Jasa... 152
e. Penggantian Personil Penyedia Jasa atas Perintah Pejabat Pembuat Komitmen ... 152
f. Pembayaran Uang Muka ... 152
g. Penyelesaian Pekerjaan ... 152
4. Pengadaan Barang ... 153
a. Ketentuan Umum ... 153
b. Surat Pesanan ... 153
c. Persiapan Pelaksanaan Kontrak... 153
d. Inspeksi Pabrikasi... 153
e. Perubahan Lingkup... 153
f. Perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual ... 153
g. Pengiriman ... 153
h. Serah Terima Barang... 154
i. Uji Coba ... 154
j. Asuransi... 154
k. Pembayaran ... 154
5. Pengadaan Jasa Lainnya... 155
a. Ketentuan Umum ... 155
b. Pemeriksaan Personil dan Peralatan ... 155
c. Perubahan Personil dan Peralatan yang Diajukan oleh Penyedia Jasa... 155
d. Penggantian Personil Dan Peralatan Yang Diperintahkan Oleh Pejabat Pembuat Komitmen... 155
e. Denda ... 155
f. Kerahasiaan ... 156
E Tata Cara Perhitungan Penyesuaian Harga (Price Adjustment)... 156
2. Rumusan penyesuaian harga satuan ... 156
3. Rumusan penyesuaian nilai kontrak ... 157
BAB III PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA DENGAN SWAKELOLA... 158
A.Ketentuan Umum... 158
B.Pelaksanaan Swakelola... 158
1. Swakelola oleh Pejabat Pembuat Komitmen ... 158
2. Swakelola oleh instansi pemerintah lain non swadana ... 159
3. Swakelola yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah ... 159
C.Pelaporan Pelaksanaan Swakelola ... 159
BABIV LAIN-LAIN... 161
A.Pendayagunaan Produksi Dalam Negeri, Usaha Kecil Termasuk Koperasi Kecil... 161
1. Ketentuan Umum ... 161
2. Pendayagunaan Produksi Dalam Negeri Berkaitan dengan Pengadaan Barang/Jasa yang Dibiayai dengan Dana Dalam Negeri... 161
3. Pendayagunaan Produksi Dalam Negeri Berkaitan dengan Pengadaan Barang/Jasa yang Dibiayai dengan Dana Pinjaman Luar Negeri ... 162
4. Komponen Dalam Negeri Barang/Jasa... 163
a. Jenis Komponen Dalam Negeri Barang/Jasa... 163
b. Tingkat Komponen Dalam Negeri Barang/Jasa... 163
c. Pernyataan Penggunaan Komponen Dalam Negeri ... 163
5. Preferensi Harga... 164
6. Pembinaan Penggunaan Produksi Dalam Negeri ... 164
7. Pengawasan Penggunaan Produksi Dalam Negeri ... 165
a. Pelaksanaan Pengawasan... 165
b. Sanksi ... 165
8. Pemberdayaan Usaha Kecil Termasuk Koperasi Kecil Dalam Pengadaan Barang/Jasa... 166
a. Perluasan Peluang Usaha Kecil Termasuk Koperasi Kecil... 166
b. Pembinaan ... 167
B.Pengadaan Barang/Jasa dengan Dana Pinjaman/Hibah Luar Negeri... 167
1. Umum... 167
2. Pengadaan Barang/Jasa Berdasarkan NPLN/Grant Agreement... 168
3. Kredit Ekspor dan Kerjasama Perdagangan ... 168
4. Manajemen dan Monitoring Proyek Pinjaman/Hibah Luar Negeri ... 169
C.Pengawasan dan Pemeriksaan... 169
D.Pengadaan Barang/Jasa dengan E-Procurement ... 170
BAB V PELAKSANAANPENILAIANKUALIFIKASI... 171
A.Ketentuan Umum... 171
LAMPIRAN II... 173
FORMULIR 1... 173
CONTOH FORMULIR PENILAIAN KUALIFIKASI PEKERJAAN ... 173
JASA PEMBORONGAN, PEMASOKAN BARANG/JASA LAINNYA ... 173
Formulir 1.a... 174
SURAT PERNYATAAN MINAT ... 174
Formulir 1.b... 175
PAKTA INTEGRITAS ... 175
Formulir 1.c... 176
Formulir Isian Penilaian Kualifikasi... 176
FORMULIR2... 181
CONTOH FORMULIR PENILAIAN KUALIFIKASI PEKERJAAN ... 181
JASA KONSULTANSI... 181
SURAT PERNYATAAN MINAT ... 182
Formulir 2.b... 183
PAKTA INTEGRITAS ... 183
Formulir 2.c... 184
KONSOLIDASI
KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 80 TAHUN 2003
DAN PERUBAHANNYA
KEPPRES 61 TAHUN 2004 (Perubahan Pertama)
PERPRES 32 TAHUN 2005 (Perubahan Kedua)
PERPRES 70 TAHUN 2005 (Perubahan Ketiga)
PERPRES 8 TAHUN 2006 (Perubahan Keempat)
PERPRES 79 TAHUN 2006 (Perubahan Kelima)
PERPRES 85 TAHUN 2006 (Perubahan Keenam)
PERPRES 95 TAHUN 2006 (Perubahan Ketujuh)
TENTANG
PEDOMAN PELAKSANAAN
BAB I
KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Istilah
Pasal 1
Dalam Peraturan Presiden ini, yang dimaksud dengan: 1. Pengadaan barang/jasa pemerintah adalah kegiatan
pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa.
1a. Pejabat Pembuat Komitmen adalah pejabat yang diangkat oleh Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran / Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) / Pemimpin Badan Hukum Milik Negara (BHMN) / Direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai pemilik pekerjaan, yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa.1
1b. Pengguna Anggaran adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.2
1c. Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Anggaran Kementrian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah.3
2. Dihapus.4
3. Penyedia barang/jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang kegiatan usahanya menyediakan barang/layanan jasa;
4. Dihapus.5
Angka 1
Yang dimaksud dengan dilaksanakan secara swakelola adalah:
a. Dilaksanakan sendiri secara langsung oleh instansi penanggung jawab anggaran;
b. Institusi pemerintah penerima kuasa dari penanggung jawab anggaran, misalnya: perguruan tinggi negeri atau lembaga penelitian/ilmiah pemerintah;
c. Kelompok masyarakat penerima hibah dari penanggung jawab anggaran.
Angka 2. Dihapus (red.) Angka 3
Cukup jelas
Angka 4. Dihapus (red.)
1 Ditambahkan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (1). 2 Lihat catatan kaki 1.
3 Lihat catatan kaki 1.
4 Disesuaikan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (1). 5 Lihat catatan kaki 4.
5. Dihapus.6
6. Dihapus.7
7. Dihapus.8
8. Panitia Pengadaan adalah tim yang diangkat oleh
Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran / Dewan Gubernur BI / Pimpinan BHMN / Direksi BUMN / Direksi BUMD,9 untuk melaksanakan
pemilihan penyedia barang barang/jasa.
8a. Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit) adalah satu unit yang terdiri dari pegawai-pegawai yang telah memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah, yang dibentuk oleh Pengguna Anggaran / Gubernur / Bupati / Walikota / Dewan Gubernur BI / Pimpinan BHMN / Direksi BUMD yang bertugas secara khusus untuk melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa di lingkungan Departemen / Lembaga / Sekretariat Lembaga Tinggi Negara / Pemerintah Daerah / Komisi / BI / BHMN / BUMN / BUMD.10
9. Pejabat Pengadaan adalah 1 (satu) orang yang
diangkat oleh Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran / Dewan Gubernur BI / Pimpinan BHMN / Direksi BUMN / Direksi BUMD untuk melaksanakan pengadaan barang/jasa11 dengan nilai sampai dengan
Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta).
10. Pemilihan penyedia barang/jasa adalah kegiatan untuk menetapkan penyedia barang/jasa yang akan ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan.
11. Barang adalah benda dalam berbagai bentuk dan uraian, yang meliputi bahan baku. Barang setengah jadi, barang jadi/peralatan, yang spesifikasinya ditetapkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen sesuai penugasan Kuasa Pengguna Anggaran.
12. Jasa Pemborongan adalah layanan pekerjaan pelaksanaan kontruksi atau wujud fisik lainnya yang perencanaan teknis dan spesifikasinya ditetapkan
Pejabat Pembuat Komitmen sesuai penugasan Kuasa
Pengguna Anggaran dan proses serta pelaksanaannya diawasi oleh Pejabat Pembuat Komitmen.
Angka 5. Dihapus (red.) Angka 6. Dihapus (red.) Angka 7. Dihapus (red.) Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas
6 Disesuaikan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (1).
7 Lihat catatan kaki 6. 8 Lihat catatan kaki 6. 9 Lihat catatan kaki 6.
10 Ditambahkan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (1). 11 Disesuaikan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (1). 12 Ditambahkan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (1). 13 Lihat catatan kaki 12.
13. Jasa Konsultansi adalah layanan jasa keahlian profesional dalam berbagai bidang yang meliputi jasa perencanaan kontruksi, jasa pengawasan kontruksi, dan jasa pelayanan profesi lainnya, dalam rangka mencapai sasaran tertentu yang keluarannya berbentuk piranti lunak yang disusun secara sistematis berdasarkan kerangka acuan kerja yang ditetapkan
Pejabat Pembuat Komitmen sesuai penugasan Kuasa
Pengguna Anggaran.
14. Jasa Lainnya adalah segala pekerjaan dan/atau penyediaan jasa selain jasa konsultansi, jasa pemborongan, dan pemasokan barang.
15. Sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah adalah tanda bukti pengakuan atas kompetensi dan kemampuan profesi di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah yang diperoleh melalui ujian sertifikasi keahlian pengadaan barang/jasa nasional dan untuk memenuhi persyaratan seseorang menjadi Pejabat
Pembuat Komitmen atau panitia/pejabat pengadaan atau anggota Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit).
16. Dokumen pengadaan adalah dokumen yang disiapkan oleh panitia / pejabat pengadaan / Unit Layanan
Pengadaan (Procurement Unit) sebagai pedoman
dalam proses pembuatan dan penyampaian penawaran oleh calon penyedia barang/jasa serta pedoman evaluasi penawaran oleh panitia / pejabat pengadaan atau Unit Layanan Pengadaan (procurement Unit). 17. Kontrak adalah perikatan antara Pejabat Pembuatan
Komitmen dengan penyedia barang/jasa dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa.
18. Usaha kecil termasuk koperasi kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil.
Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Angka 17 Cukup jelas Angka 18
Kriteria Usaha kecil adalah:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil
penjualan tahunan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah); dan
b. Milik Warga Negara Indonesia; dan c. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menegah atau Usaha Besar; atau d. Koperasi kecil yang mempunyai unit
usaha jasa pemborongan, pengadaan barang atau jasa lainnya.
19. Surat jaminan adalah jaminan tertulis yang dikeluarkan bank umum/lembaga keuangan lainnya yang diberikan oleh penyedia barang/jasa kepada
Pejabat Pembuat Komitmen untuk menjamin
terpenuhinya persyaratan/kewajiban penyedia barang/jasa.
20. Kemitraan adalah kerjasama usaha anatara penyedia barang/jasa dalam negeri maupun dengan luar negeri yang masing-masing pihak mempunyai hak, kewajiban dan tanggung jawab yang jelas, berdasarkan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam perjanjian tertulis.
21. Pakta integritas adalah surat pernyataan yang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen /
panitia pengadaan / pejabat pengadaan / Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit) / penyedia
barang/jasa.
22. Pekerjaan kompleks adalah pekerjaan yang memerlukan teknologi tinggi dan/atau mempunyai risiko tinggi dan/atau menggunakan peralatan didesain khusus dan/atau bernilai di atas Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliyar rupiah).
23. Surat kabar nasional adalah surat kabar yang beroplah besar dan memiliki peredaran luas secara nasional, yang tercantum dalam daftar surat kabar nasional yang ditetapkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika.12
24. Surat kabar provinsi adalah surat kabar yang beroplah besar dan memiliki peredaran luas di daerah provinsi, yang tercantum dalam daftar surat kabar yang ditetapkan oleh Gubernur.13
25. Website pengadaan nasional adalah website yang dikoordinasikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas untuk mengumumkan rencana pengadaan barang/jasa di Departemen / Lembaga / Komisi / BI / Pemerintah Daerah / BHMN / BUMN / BUMD dan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah.14
Pembuktian usaha kecil cukup dengan surat ijin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten/kota setempat. Angka 19 Cukup jelas Angka 20 Cukup jelas Angka 21 Cukup jelas Angka 22 Cukup jelas Perpres 8 Tahun 2006 Penjelasan Pasal I Angka 1
Dengan perubahan pada Pasal 1 sebagaimana dimaksud dalam angka 1 ini, maka semua istilah di dalam Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden
Nomor 70 Tahun 2005 yang berbunyi:
a. "Pengguna barang/jasa atau pejabat yang disamakan sebagai pemilik pekerjaan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa" untuk selanjutnya dibaca "Pejabat Pembuat Komitmen";
b. "Pejabat/Panitia Pengadaan" untuk selanjutnya dibaca "Pejabat / Panitia Pengadaan / Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit)."
Bagian Kedua Maksud dan Tujuan
Pasal 2
(1) Maksud diberlakukannya Keputusan Presiden ini adalah untuk mengatur pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari APBN/APBD.
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan dibiayai dari APBN/APBD adalah pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari APBN/APBD.
(2) Tujuan diberlakukannya Keputusan Presiden ini adalah agar pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD dilakukan secara efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif, dan akuntabel.
Ayat (2)
Cukup jelas
Bagian Ketiga Prinsip Dasar
Pasal 3
Pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-prinsip: a. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus
diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan;
b. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;
c. Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;
d. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa,
Panitia pengadaan dan/atau pejabat yang berwenang dalam mengeluarkan keputusan, ketentuan, prosedur, dan tindakan lainnya, harus didasarkan pada nilai-nilai dasar tersebut. Dengan demikian akan dapat tercipta suasana yang kondusif bagi tercapainya efisiensi, partisipasi dan persaingan yang sehat dan terbuka antara penyedia jasa yang setara dan memenuhi syarat, menjamin rasa keadilan dan kepastian hukum bagi semua pihak, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap proses pengadaan barang/jasa, karena hasilnya dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, baik dari segi fisik, keuangan dan manfaatnya bagi kelancaran pelaksanaan tugas institusi pemerintah.
sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya;
e. Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun; f. Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik,
keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.
Bagian Keempat Kebijakan Umum
Pasal 4
Kebijakan umum pemerintah dalam pengadaan barang/jasa adalah:
a. meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri, rancang bangun dan perekayasaan nasional yang sasarannya adalah memperluas lapangan kerja dan mengembangkan industri dalam negeri dalam rangka meningkatkan daya saing barang/jasa produksi dalam negeri pada perdagangan internasional;
b. meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil dan kelompok masyarakat dalam pengadaan barang/jasa;
c. menyederhanakan ketentuan dan tata cara untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengadaan barang/jasa;
d. meningkatkan profesionalisme, kemandirian dan tanggung jawab Pejabat Pembuat Komitmen, panitia/pejabat pengadaan, dan penyedia barang/jasa; e. meningkatkan penerimaan negara melalui sektor
perpajakan;
f. menumbuhkembangkan peran serta usaha nasional; g. mengharuskan pelaksanaan pemilihan penyedia
barang/jasa dilakukan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
h. mengharuskan pengumuman secara terbuka rencana pengadaan barang/jasa kecuali yang bersifat rahasia, pada setiap awal pelaksanaan anggaran kepada
Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Huruf g
Wilayah Republik Indonesia termasuk Kantor Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.
Huruf h
Pengumuman secara terbuka artinya
rencana pengadaan Departemen / Lembaga
masyarakat luas;
i. mengumumkan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah secara terbuka melalui surat kabar nasional dan/atau surat kabar provinsi.15
/ Komisi / BI / Pemerintah Daerah / BHMN / BUMN / BUMD diumumkan di website pengadaan nasional dengan alamat www.pengadaannasionalbappenas.go.id yang dikoordinasikan oleh Menteri Negera Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan/atau di website Departemen / Lembaga / Komisi BI / Pemerintah Daerah / BHMN / BUMN / BUMD yang telah diintegrasikan ke website pengadaan nasional.16
Huruf i
Cukup jelas17
Pasal 4A18
(1) Pemilihan surat kabar nasional dan surat kabar provinsi sebagai dimaksud dalam Pasal 4 huruf i, dilakukan sesuai tata cara pemilihan penyedia barang/jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden ini.
(2) Pemilihan surat kabar nasional dan surat kabar provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas untuk surat kabar nasional dan Gubernur untuk surat kabar provinsi.
(3) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Gubernur melaksanakan pemilihan surat kabar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berdasarkan daftar surat kabar yang beroplah besar dan memiliki peredaran luas yang dikeluarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika.
(4) Segala biaya yang timbul dalam rangka pemilihan surat kabar sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Pemilihan surat kabar sebagaimana dimaksud dalam pasal ini dimaksudkan agar calon penyedia barang/jasa dan masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi mengenai rencana kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah. Di lain pihak, dengan telah ditetapkannya surat kabar untuk pengumuman kegiatan pengadaan barang/jasa, Pejabat Pembuat Komitmen akan mengeluarkan biaya pengumuman lelang yang lebih murah sehingga pada akhirnya menghemat APBN/APBD.19
16 Disesuaikan terakhir kali dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Penjelasan Pasal I angka (2). 17 Lihat catatan kaki 15.
18 Ditambahkan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (3) dan Penjelasannya. 19 Dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal II angka (5) dijelaskan lebih lanjut perihal surat kabar nasional dan provinsi yang dijadikan tempat pengumuman kegiatan pengadaan selama penetapan resmi surat kabar tersebut belum dilakukan:
”Sebelum Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Gubernur menetapkan surat kabar nasional dan surat kabar provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4A, pengumuman kegiatan pengadaan barang/jasa pemeriksaan dilakukan sekurang-kurangnya di satu surat kabar yang mempunyai oplah besar dan memiliki peredaran luas secara nasional dan/atau wilayah provinsi.”
Bagian Kelima Etika Pengadaan
Pasal 5
Pejabat Pembuat Komitmen, penyedia barang/jasa, dan
para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika sebagai berikut:
a. melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggungjawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa;
b. bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran, serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa;
c. tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat;
d. menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak;
e. menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa (conflict of interest); Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e
Yang dimaksud dengan “menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan”, adalah dimaksudkan untuk menjamin perilaku dan tindakan tidak mendua dari para pihak dalam melaksanakan tugas, fungsi dan perannya. Oleh karena itu, yang bersangkutan tidak boleh memiliki/melakukan peran ganda, misalnya:
1) Dalam suatu perusahaan Perseroan Terbatas, seorang anggota Direksi tidak
boleh merangkap sebagai Dewan Komisaris;
2) Dalam pelaksanaan proyek jasa konstruksi/pemborongan, konsultan perencana tidak boleh bertindak sebagai pelaksana/pemborong pekerjaan yang
direncanakannya, kecuali dalam pelaksanaan turnkey contract;
3) Pengurus koperasi pegawai atau anak perusahaan dalam suatu instansi / BHMN / BUMN / BUMD yang mengikuti pengadaan barang/jasa dan bersaing dengan perusahaan lainnya, tidak boleh
f. menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa;
g. menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara;
h. tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah, imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.
merangkap sebagai anggota panitia pengadaan atau sebagai pejabat yang berwenang menentukan pemenang lelang / Pemilihan Langsung / Penunjukan Langsung. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Bagian Keenam Pelaksanaan Atas Pengadaan
Pasal 6
Pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah dilakukan: a. dengan menggunakan penyedia barang/jasa;
b. dengan cara swakelola.
Huruf a
Cukup jelas Huruf b
Pengadaan barang/jasa swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh institusi pemerintah penanggungjawab anggaran atau institusi pemerintah penerima kuasa dari penanggungjawab anggaran atau kelompok masyarakat penerima hibah.
Bagian Ketujuh Ruang Lingkup
Pasal 7
(1) Ruang lingkup berlakunya Keputusan Presiden ini adalah untuk:
a. pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD;
b. pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan;
Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b
Proses penyusunan Naskah
Pinjaman/Hibah Luar Negeri (NPHLN) harus berpedoman pada Keputusan Presiden ini.
c. pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI, BHMN, BUMN, BUMD, yang
pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD.
(2) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBN, apabila ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri/Pemimpin Lembaga / Panglima TNI / Kapolri / Dewan Gubernur BI / Pemimpin BHMN / Direksi BUMN harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan Presiden ini.
(3) Peraturan Daerah/Keputusan Kepala Daerah yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBD harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan Presiden ini.
Huruf c
Pengadaan barang/jasa untuk investasi adalah barang/jasa yang ditujukan untuk menambah aset guna meningkatkan kemampuan operasi baik dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang dan pada umumnya tidak habis dipakai dalam 1 (satu) tahun. Dalam
pembukuan/neraca perusahaan aset tersebut dapat berupa aktiva lancar maupun maupun aktiva tetap.
Ayat (2) Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
BAB II
PENGADAAN YANG DILAKSANAKAN PENYEDIA BARANG/JASA Bagian Pertama
Pembiayaan Pengadaan Pasal 8
Departemen / Kementerian / Lembaga / TNI / Polri / Pemerintah Daerah / BI / BHMN / BUMN / BUMD wajib menyediakan biaya administrasi proyek untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dari APBN/APBD, yaitu:
a. honorarium Pejabat Pembuat Komitmen, panitia/pejabat pengadaan, bendaharawan, dan staf proyek;
b. pengumuman pengadaan barang/jasa;
Komponen biaya administrasi proyek harus disediakan dalam anggaran:
Huruf a
Besaran honorarium Pejabat Pembuat
Komitmen, panitia/pejabat pengadaan,
bendaharawan, dan staf proyek ditetapkan secara proporsional berdasarkan pengalaman dan profesionalisme;
Huruf b
Biaya pengumuman pengadaan barang/jasa meliputi:
1) Biaya pengumuman rencana pengadaan barang/jasa pada awal pelaksanaan anggaran;
2) Biaya pengumuman pemilihan penyedia barang/jasa.
c. penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen prakualifikasi;
d. administrasi lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa.
Huruf c
Cukup jelas Huruf d
Cukup jelas
Bagian Kedua
Tugas Pokok dan Persyaratan Para Pihak Paragraf Pertama
Persyaratan dan Tugas Pokok Pejabat Pembuat Komitmen Pasal 9
(1) Pejabat Pembuat Komitmen harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. memiliki integritas moral; b. memiliki disiplin tinggi;
c. memiliki tanggung jawab dan kualifikasi teknis serta manajerial untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya; Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c
Yang dimaksud persyaratan manajerial, antara lain:
1) Berpendidikan sekurang-kurangnya Diploma 3 (D3) sesuai dengan
bidang keahlian yang diperlukan; 2) Memiliki sertifikat pengadaan barang/jasa pemerintah;
3) Memiliki pengalaman minimal 2 (dua) tahun memimpin /
mengorganisasi kelompok kerja yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan barang/jasa;
4) Memiliki ketaatan yang tinggi dalam melaksanakan setiap
tugas/pekerjaannya; 5) Memiliki kemampuan untuk
mengambil keputusan, bertindak tegas dan keteladanan dalam sikap dan perilaku antara lain tidak terlibat korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN);
20 Disesuaikan terakhir kali dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (4).
21 Ketentuan huruf b ayat 3 sebelum Perpres 8 Tahun 2006 mengatur bahwa salah satu tugas pokok Pejabat Pembuat Komitmen atau sebelumnya disebut sebagai pengguna barang jasa adalah untuk “mengangkat panitia/pejabat pengadaan barang/jasa”. Tugas pokok ini telah dihapus dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (4).
d. memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah;
e. memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, bertindak tegas dan keteladanan dalam sikap dan perilaku serta tidak pernah terlibat KKN.
(2) Pejabat Pembuat Komitmen diangkat dengan surat
Keputusan Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran / Dewan Gubernur BI / Pemimpin BHMN / Direksi BUMN BUMD.20
(3) Tugas pokok Pejabat Pembuat Komitmen dalam pengadaan barang/jasa adalah:
a. menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa; b.21 menetapkan paket-paket pekerjaan disertai
ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil, serta kelompok masyarakat;
c. menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS), jadual, tata cara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan / pejabat pengadaan / unit layanan pengadaan;
d. menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia / pejabat pengadaan / unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya;
e. menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku; f. menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa;
6) Penilaian kondite dan prestasi kerja (Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) untuk masa 3 (tiga) tahun terakhir dengan nilai rata-rata minimal “Baik”.
Huruf d
Dalam masa transisi, sebelum memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah, seseorang yang telah
diangkat menjadi Pejabat Pembuat Komitmen harus mengikuti
pelatihan pengadaan barang/jasa pemerintah.
Pejabat yang wajib mempunyai sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa adalah:
Pejabat Pembuat Komitmen dan panitia/pejabat pengadaan. Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas
23 Ditambahkan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Penjelasan Pasal I angka (4).
g. melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada pimpinan instansinya;
h. mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak; i. menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri / Panglima TNI / Kepala Polri / Pimpinan Lembaga / Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara / Pimpinan Kesekretariatan Komisi / Gubernur / Bupati / Walikota / Dewan Gubernur BI / Pemimpin BHMN / Direksi BUMN/BUMD dengan berita acara penyerahan;
j. menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai.
(4) Pejabat Pembuat Komitmen dilarang mengadakan ikatan perjanjian dengan penyedia barang/jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggaran yang akan mengakibatkan dilampauinya batas anggaran yang tersedia untuk kegiatan/proyek yang dibiayai dari APBN/APBD.
(5) Pejabat Pembuat Komitmen bertanggung jawab dari segi administrasi, fisik, keuangan, dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilaksanakannya.
(6) Pejabat Pembuat Komitmen dapat melaksanakan proses pengadaan barang/jasa sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk kegiatan yang bersangkutan telah dialokasikan, dengan ketentuan penerbitan surat penunjukan penyedia barang/jasa (SPPBJ) dan penandatangan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan setelah dokumen anggaran untuk kegiatan/proyek sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disahkan.22
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan dilarang mengadakan ikatan perjanjian adalah menerbitkan surat penunjukan dan/atau menandatangani surat perintah kerja/kontrak. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas23 Paragraf Kedua
Pembentukan, Persyaratan, Tugas Pokok dan Keanggotaan Panitia / Pejabat Pengadaan / Unit
Layanan Pengadaan (Procurement Unit)24
Pasal 10
(1) Panitia pengadaan wajib dibentuk untuk semua pengadaan dengan nilai di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
(2) Untuk pengadaan sampai dengan nilai Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dilaksanakan oleh panitia atau pejabat pengadaan.
(2a) Pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilaksanakan oleh Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit).25
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (2a) Cukup jelas28
24 Disesuaikan terakhir kali dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (5). 25 Ditambahkan dalam Perpres 8 Tahun 2006 (Perubahan Keempat) Pasal I angka (6).
(3) Anggota panitia pengadaan / pejabat pengadaan /
anggota unit layanan pengadaan berasal dari pegawai
negeri, baik dari instansi sendiri maupun instansi teknis lainnya.
(3a) Dalam hal pengadaan barang/jasa dilakukan oleh Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara, anggota panitia pengadaan berasal dari instansinya sendiri atau instansi teknis Pemerintah, dan dapat menyertakan pihak lain yang ditunjuk oleh Kepala Badan pelaksana.26
(4) Panitia / pejabat pengadaan / anggota unit layanan
pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) di atas harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. memiliki integritas moral, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
b. memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan;
c. memahami jenis pekerjaan tertentu yang menjadi tugas panitia / pejabat pengadaan / unit layanan pengadaan yang bersangkutan;
d. memahami isi dokumen pengadaan/metode dan prosedur pengadaan berdasarkan Keputusan Presiden ini;
e. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkat dan menetapkannya sebagai panitia / pejabat pengadaan / anggota unit layanan pengadaan;
f. memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah.
(5) Tugas, wewenang, dan tanggung jawab pejabat /
panitia pengadaan / Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit) meliputi sebagai berikut:
Ayat (3)
Anggota panitia yang berasal dari instansi teknis lain adalah anggota panitia yang diangkat dari unit kerja / instansi / departemen / lembaga lain karena di instansi yang sedang melakukan pengadaan barang/jasa tidak mempunyai pegawai yang memahami masalah teknis yang ada dalam ketentuan pengadaan barang/jasa, jenis pekerjaan, dan isi dokumen pengadaan dari pekerjaan yang akan dilakukan pengadaannya. Ayat (3a) Cukup jelas29 Ayat (4) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e
Hubungan keluarga yang dimaksud adalah hubungan keluarga sedarah dan semenda. Huruf f Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas
26 Ditambahkan dalam Perpres 70 Tahun 2005 (Perubahan Ketiga) Pasal I angka (1).
27 Lihat catatan kaki 25. 28 Lihat catatan kaki 25.
a. menyusun jadual dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan;
b. menyusun dan menyiapkan harga perkiraan sendiri (HPS);
c. menyiapkan dokumen pengadaan;
d. mengumumkan pengadaan barang/jasa di surat kabar nasional dan/atau provinsi dan/atau papan pengumuman resmi untuk penerangan umum, dan diupayakan diumumkan di website pengadaan nasional;
e. menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi;
f. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk;
g. mengusulkan calon pemenang;
h. membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada pejabat pembuat komitmen dan/atau pejabat yang mengangkatnya;
i. menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai.
(6) Panitia berjumlah gasal beranggotakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang yang memahami tata cara pengadaan, substansi pekerjaan/kegiatan yang bersangkutan dan bidang lain yang diperlukan, baik dari unsur-unsur di dalam maupun dari luar instansi yang bersangkutan.
(7) Pejabat pengadaan hanya 1 (satu) orang yang memahami tata cara pengadaan, substansi pekerjaan/kegiatan yang bersangkutan dan bidang lain yang diperlukan, baik dari unsur-unsur di dalam maupun dari luar instansi yang bersangkutan.
(8) Dilarang duduk sebagai panitia / pejabat pengadaan /
anggota Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit):
a. Pejabat Pembuat Komitmen dan bendahara;
b. Pegawai pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) / Inspektorat Jenderal Departemen / Inspektorat Utama Lembaga Pemerintah Non-Departemen / Badan Pengawas Daerah Propinsi / Kabupaten/Kota, Pengawasan Internal BI / BHMN / BUMN / BUMD kecuali menjadi panitia / pejabat pengadaan / anggota unit layanan pengadaan untuk pengadaan barang/jasa yang dibutuhkan instansinya;
Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas Ayat (8) Cukup jelas
c. Pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran dan/atau pejabat yang
bertugas menandatangani surat perintah membayar.27
Paragraf Ketiga
Persyaratan Penyedia Barang/Jasa Pasal 11
(1) Persyaratan penyedia barang/jasa dalam pelaksanaan pengadaan adalah sebagai berikut:
a. memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjalankan usaha/kegiatan sebagai penyedia barang/jasa;
b. memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial untuk menyediakan barang/jasa; c. tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan, dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama
perusahaan tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana;
d. secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak;
e. sebagai wajib pajak sudah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir, dibuktikan dengan melampirkan fotokopi bukti tanda terima penyampaian Surat Pajak Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) tahun terakhir, dan fotokopi Surat Setoran Pajak (SSP) PPh Pasal 29;
f. dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir pernah memperoleh pekerjaan menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah maupun swasta
termasuk pengalaman subkontrak, kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun;
g. memiliki sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang diperlukan dalam pengadaan barang/jasa;
h. tidak masuk dalam daftar hitam;
Ayat (1) Huruf a
Yang dimaksud dengan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjalankan usaha/kegiatan sebagai penyedia barang/jasa antara lain peraturan perundang-undangan di bidang jasa konstruksi, kesehatan, perhubungan, perindustrian. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h
Merupakan kewajiban panitia/pejabat pengadaan untuk mencari informasi dalam rangka meyakini atau memastikan suatu badan usaha tidak masuk dalam daftar hitam instansi pemerintah manapun