UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI).

Teks penuh

(1)

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN

APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI)

Nurul Setiani, Susilaningsih, Ngadiman

Pendidikan Ekonomi-BKK Akuntansi, FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, 57126, Indonesia

Email nurulsetiani@ymail.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran Akuntansi dengan menerapkan model pembelajaran ATI siswa kelas XI IPS di sebuah SMA Surakarta tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 5 di sebuah SMA Surakarta yang berjumlah 29 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran ATI dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS di sebuah SMA Surakarta. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan prestasi belajar siswa yaitu; kemampuan afektif siklus I mencapai 60,92% dan siklus II 76,59%, kemampuan psikomotorik siklus I 72,41% menjadi 86,90% pada sikus II dan kemampuan kognitif siswa pada pra tindakan 37,93% menjadi 55,17% pada siklus I dan siklus II menjadi 79,31%.

Kata kunci:

Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction

ABSTRACT

The objectives of this research are to improve the learning achievement in Accounting through the application of the learning model of ATI of the students in Grade XI of Social Science Program of a Senior Secondary School of Surakarta in Academic Year 2012/2013. The research used the classroom action research. The subject of the research were the students in Grade XI of Social Science Program 5 of a Senior Secondary School of Surakarta as many as 29 students. The results of the research show that the application of the learning model of ATI can improve the learning achievement in Accounting of the students in Grade XI of Social Science Program 5 of a Senior Secondary School of Surakarta. It is indicated by the improvement of the learning achievement. Firstly, the affective ability of the students improves significantly from 60.92% in Cycle I to 76.59% in Cycle II. Secondly, the psychomotor ability of the students improves from 72.41% in Cycle I to 86.90% in Cycle II. Thirdly, the cognitive ability of the students improves from 37.93% prior to the treatment, and it becomes 55.17% in Cycle I and 79.31% in Cycle II.

Keyword:

(2)
(3)

I. PENDAHULUAN

Pendidikan di Indonesia sudah mengalami peningkatan, hal ini dapat terlihat dari standar nilai kelulusan Ujian Nasional yang semakin meningkat pada setiap tahunnya, dimana standar nilai kelulusan UN SMA tahun pelajaran 2011/2012 mencapai 4,5 kemudian meningkat pada tahun pelajaran 2012/2013 menjadi 5,5. Negara Indonesia memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang potensial dan dapat bersaing baik di dalam maupun di luar negeri. Sekolah merupakan salah satu pendidikan formal yang dapat meningkatkan potensi SDM, sedangkan keberhasilan suatu sekolah dalam menghasilkan siswa yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh kualitas guru dalam proses pembelajaran dan konsep pembelajaran di dalam kelas serta kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus dapat melakukan inovasi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran agar prestasi belajar siswa dapat meningkat.

Setiap siswa mempunyai karakteristik dan kemampuan berfikir yang bervariasi, ada yang memiliki kemampuan cepat, sedang dan rendah, sehingga setiap siswa mempunyai kebutuhan pembelajaran

yang berbeda pula. Sebagai seorang pendidik, guru perlu memperhatikan hal tersebut karena akan sangat berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran akuntansi dan beberapa siswa, diperoleh informasi bahwa sebagian besar guru di sebuah SMA Surakarta tersebut masih menggunakan model pembelajaran ceramah dan ada beberapa guru yang sudah menggunakan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif, tetapi belum menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan variasi kemampuan siswa, sehingga dalam proses pembelajaran perhatian guru masih kurang terhadap perbedaan kemampuan berfikir dan kebutuhan belajar setiap siswa. Hal ini akan berpengaruh pada tingkat prestasi belajar siswa, akibatnya prestasi belajar akuntansi siswa di sebuah SMA Surakarta belum optimal atau masih rendah. Ini terlihat dari nilai hasil ulangan pada materi Jurnal penyesuaian dan Kertas kerja, dimana pada siswa kelas XI IPS 5 ketuntasan belajar akuntansi siswa hanya mencapai 37, 39% dengan nilai rata-rata 69, 31.

Optimalisasi prestasi belajar dapat tercapai melalui penyesuaian antara model

(4)

setiap siswa. Menurut Syafrudin “Semakin cocok model pembelajaran (treatment) yang diterapkan oleh guru dalam kelas dengan perbedaan kemampuan siswa, maka semakin optimal prestasi belajar yang

dicapai” (2005: 39).

Berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan bahwa ada beberapa model pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, salah satunya yaitu dengan model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI). Selain itu, penelitian yang relevan juga membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran ATI dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu penelitian dengan menerapkan model pembelajaran ATI (Aptitude Treatment Interaction). Namun pada fenomena di lapangan masih banyak sekolah yang belum mengetahui dan belum menerapkan model pembelajaran ATI. Dengan demikian, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Akuntansi Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)”.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, rumusan masalah penelitian yaitu “Apakah penerapan model

pembelajaran ATI (Aptitude Treatment Interaction) dapat meningkatkan prestasi belajar akuntansi pada siswa kelas XI IPS di sebuah SMA Surakarta tahun 2012/2013?”

Tujuan dari penelitian yang hendak dicapai adalah untuk meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran akuntansi dengan menerapkan model pembelajaran Aptitude Treatment Interactiom (ATI) pada siswa kelas XI IPS di sebuah SMA Surakarta Tahun 2012/2013.

(5)

kemampuan setiap siswa agar prestasi belajar siswa optimal. Salah satu model pembelajaran yang memperhatikan perbedaan berfikir dan kemampuan siswa yaitu model pembelajaran ATI. Sebagaimana dikemukakan oleh Syafrudin

bahwa “Aptitude treatment interaction

(ATI) dapat diartikan sebagai suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran (treatment) yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing-masing” (2005: 37).

Adapun langkah-langkah model pembelajaran ATI yaitu a) Treatment awal yaitu pemberian perlakuan (treatment) awal terhadap siswa dengan menggunakan aptitude testing; b) Pengelompokkan Siswa yang didasarkan pada hasil aptitude testing. Siswa di dalam kelas diklasifikasi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah; c) Memberikan Perlakuan (Treatment) kepada masing-masing kelompok sesuai dengan karakteristiknya. Bagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan (aptitude) tinggi, perlakuan (treatment) yang diberikan yaitu belajar mandiri (self learning) menggunakan modul plus yaitu belajar secara mandiri melalui modul-modul dan refensi yang relevan. Sedangkan

bagi kelompok siswa berkemampuan sedang dan rendah diberikan pembelajaran regular atau pembelajaran konvensional, tetapi harus dilakukan secara optimal. Terakhir, bagi kelompok siswa yang berkemampuan rendah diberikan Special treatment, yaitu berupa pembelajaran dalam bentuk re-teaching dan tutorial. Tutorial diberikan setelah kegiatan belajar mengajar selesai. d) Achievement-Test yaitu pada akhir setiap pelaksanaan, uji coba dilakukan dalam penilaian prestasi akademik atau prestasi belajar setelah diberikan treatment pembelajaran kepada masing-masing kelompok.

(6)

memperhatikan variasi kemampuan setiap siswa, sehingga timbul permasalahaan yaitu siswa sulit memahami materi pelajaran akuntansi dan siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal, yang berdampak pada prestasi belajar akuntansi siswa kurang optimal. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan model pembelajaran yang memperhatikan variasi kemampuan berfikir siswa yaitu model pembelajaran ATI, dimana dengan model pembelajaran ATI guru lebih memperhatikan variasi kemampuan siswa, sehingga guru dapat memberikan treatment yang sesuai dengan kemampuan siswa dan kebutuhan belajar siswa. Dengan demikian, prestasi belajar akuntansi siswa diduga dapat meningkat. Berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan serta kerangka pemikiran, maka rumusan dalam hipotesis penelitian ini adalah “Penerapan Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Akuntansi Siswa Kelas XI IPS di sebuah SMA Surakarata Tahun Pelajaran 2012/2013.” II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Arikunto, Suhardjono dan Supardi “Penelitian Tindakan Kelas merupakan

suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama” (2008: 3). Pelaksanaan PTK terdiri dari empat tahap yaitu 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Pengawasan atau observasi, 4) Refleksi. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada kelas XI IPS 5 di sebuah SMA Surakarta.

Jenis data pada penelitian adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Sumber data pada penelitian ini yaitu: 1) Informan yaitu guru mata pelajaran Akuntansi dan siswa kelas XI IPS 5, 2) Peristiwa yaitu informasi dapat diperoleh dari peristiwa dan aktifitas proses pembelajaran, 3) Dokumen/arsip. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: 1) Observasi, 2) Wawancara, 3) Tes, 4) Dokumentasi.

(7)

Teknik analisis data yang digunakan yaitu 1) Untuk data kuantitatif menggunakan statistik, 2) Untuk data kualitatif dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi data dan penarikan kesimpulan.

Dalam penelitian ini tingkat prestasi belajar siswa dapat dilihat dari tiga indikator kemampuan yang dimiliki oleh siswa yaitu kemampuan kognitif, kemampuan afektif dan kemampuan psikomotorik (Sudjana, 2008). Persentase target ketercapaian kinerja dalam penelitian ini yaitu: 1) Kemampuan kognitif siswa 75% yang dihitung dari ketuntasan hasil belajar siswa. 2) Kemampuan Afektif siswa 75% yang dapat dihitung dari tiga aspek yaitu tingkat perhatian siswa, keaktifan siswa dalam bertanya dan keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan yang diukur dengan menggunakan lembar obeservasi 3) Kemampuan psikomotorik siswa 75% yang dihitung dari aspek ketepatan siswa dalam menyelesaikan soal latihan dan diukur dengan menggunakan lembar observasi. III. PEMBAHASAN

Berdasarkan survey awal yang telah dilakukan peneliti, maka dapat diidentifikasi masalah yang ada di sebuah SMA Surakarta yaitu 1) Kurangnya antusias siswa terhadap pelajaran

Akuntansi, 2) Selama proses pembelajaran berlangsung siswa cenderung tidak aktif, 3) Perbedaan prestasi yang sangat signifikan antara siswa yang satu dengan siswa yang lain, mengakibatkan krisis percaya diri pada siswa yang mempunyai kemampuan di bawah rata-rata, 4) Kelas XI IPS 5 merupakan kelas yang mempunyai banyak masalah yaitu kelas yang paling pasif dalam proses pembelajaran dan siswanya sulit untuk dikondisikan pada saat proses pembelajaran, 5) Prestasi belajar siswa kelas XI IPS 5 belum maksimal atau masih rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai hasil ulangan siswa kelas XI IPS 5. Pada materi jurnal penyesuaian dan kertas kerja dari 29 siswa hanya 11 siswa atau 37, 93% yang memperoleh nilai tuntas sedangkan 18 siswa atau 62, 07% siswa belum tuntas.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka, dilakukan penerapan model pembelajaran ATI pada proses pembelajaran dengan dua siklus. Dimana, pada siklus I dengan materi laporan laba-rugi perusahaan jasa yang terdiri dari tiga kali pertemuan yaitu 5 x 45 menit.

(8)

pembelajaran yang disesuaikan dengan model ATI, (3) Mendiskusikan pembuatan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran, (4) Menyusun kisi-kisi instrumen penelitian, pedoman wawancara, menyusun modul plus sebagai media pembelajaran, serta menyusun lembar observasi, (5) Menyusun soal latihan dan soal evaluasi.

Berdasarkan hasil observasi atau pengamatan pada proses pembelajaran akuntansi siswa kelas XI IPS 5, diperoleh hasil observasi tindakan pada siklus I yaitu tingkat prestasi belajar akuntansi siswa, yang diukur melalui tiga kemampuan yang dimiliki oleh siswa yaitu kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Penerapan model pembelajaran ATI dapat dikatakan berhasil apabila prestasi belajar akuntansi siswa mencapai target yang telah ditetapkan yaitu 75%.

Hasil pelaksanaan siklus I yaitu: Penerapan model pembelajaran ATI belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena persentase yang diperoleh pada setiap indikator kemampuan yang dimiliki oleh siswa belum mencapai target. Indikator kemampuan afektif siswa hanya mencapai 60, 92%. Persentase yang diperoleh pada setiap aspek pada indikator ini yaitu tingkat perhatian siswa selama proses pembelajaran akuntansi mencapai

91, 95%, keaktifan siswa dalam bertanya selama proses pembelajaran mencapai 45, 98%, keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan mencapai 44, 83%. Indikator kemampuan psikomotorik siswa selama proses pembelajaran akuntansi hanya mencapai 72, 41%. Indikator kemampuan kognitif siswa yang diukur melalui ketuntasan nilai akuntansi siswa,. dari 29 siswa hanya 16 siswa atau 55, 17% yang mendapatkan nilai tuntas.

Berdasarkan refleksi yang dilakukan, dapat diketahui bahwa penerapan model ATI belum berhasil. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan siklus II. Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan siklus II sama dengan siklus I, hanya terdapat beberapa perbedaan yaitu: (1) Materi yang digunakan pada siklus II adalah laporan perubahan modal dan laporan neraca (2) Pada siklus II dilakukan perbaikan pelaksanaan tindakan yang didasarkan pada hasil analisis dan refleksi siklus I.

(9)

(1) Indikator kemampuan afektif siswa sudah berhasil karena persentase ketercapaian pada indikator ini sudah melebihi persentase target yang telah ditentukan sebelumnya yaitu 76, 59%. (2) Indikator kemampuan psikomotorik juga berhasil karena persentase yang diperoleh melebihi target ketercapaian yaitu 86, 90%. (3) Persentase Indikator kemampuan kognitif siswa yang diukur melalui hasil evaluasi siklus II mencapai 79, 31% atau 23 siswa dan nilai rata-rata kelas 79, 36. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketuntasan hasil belajar akuntansi pada evaluasi siklus II sudah berhasil.

Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus. Hal ini dapat dilihat dari tiga indikator ketercapaian kinerja yaitu (1) Indikator kemampuan afektif siswa mengalami peningkatan sebesar 15, 67% dari 60, 92% pada siklus I menjadi 76, 59% pada siklus II. (2) Indikator kemampuan psikomotorik, juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 14, 49%, dimana persentase yang diperoleh pada siklus I yaitu 72, 41% dan pada siklus II meningkat menjadi 86, 90%. (3) Indikator kemampuan kognitif siswa, juga menunjukkan bahwa ketuntasan belajar akuntansi siswa kelas XI IPS 5 mengalami peningkatan, dimana

persentase pada pra tindakan mencapai 37, 93% atau 11 siswa, siklus I meningkat menjadi 55, 17% atau 16 siswa dan pada siklus II meningkat menjadi 79, 31% atau 23 siswa.

Penelitian ini dapat dikatakan berhasil karena persentase ketercapaian tingkat prestasi belajar siswa yang diukur melalui tiga indikator kemampuan siswa yaitu kemampuan afektif, psikomotorik dan kognitif siswa mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu 75%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada keterangan berikut ini: (1) Kemampuan afektif terdiri dari tiga aspek yang diukur yaitu aspek perhatian siswa, aspek keaktifan siswa dalam bertanya dan aspek keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan selama proses pembelajaran.

(10)

Pada aspek keaktifan siswa dalam bertanya selama proses pembelajaran juga mengalami peningkatan sebesar 18, 31%. Peningkatan ini terjadi karena guru lebih banyak melakukan tanya jawab dengan siswa dan diskusi kelompok bagi kelompok siswa yang berkemampuan sedang dan rendah. Sedangkan bagi siswa yang berkemampuan tinggi diberikan treatment dengan belajar mandiri menggunakan modul plus. Dengan demikian, akan menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih besar dalam diri siswa terhadap apa yang telah dipelajari secara mandiri, sehingga siswa akan lebih aktif bertanya.

Aspek keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan meningkat sebesar 21,84%. Hal ini karena lokasi pembelajaran dipisahkan dari siswa yang berkemampuan tinggi. Dengan demikian, kelompok siswa yang berkemampuan sedang dan rendah lebih leluasa dan tidak merasa malu untuk berdiskusi dan menjawab pertanyaan, serta belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan mereka. Sedangkan untuk kelompok siswa yang berkemampuan tinggi akan lebih termotivasi untuk belajar karena mereka dituntut untuk membangun ilmu pengetahuan dengan kemampuannya sendiri melalui belajar mandiri dari modul dan referensi buku lain. Hal tersebut sesuai

dengan teori yang dikemukakan oleh Hamalik bahwa, tujuan pembelajaran mandiri yang diterapkan pada kelompok siswa berkemampuan tinggi adalah agar kelompok siswa tersebut dapat belajar menemukan suatu gagasan sendiri, melatih siswa mendiagnosis dirinya sendiri, dan merencanakan perbaikan atas kerjanya sendiri (2011). Sejalan dengan pendapat tersebut, Sardiman juga menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang aktif dimana si subjek belajar membangun sendiri pengetahuannya. Subjek belajar juga mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari (2011).

Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran ATI dapat meningkatkan kemampuan afektif siswa. (2) Persentase kemampuan psikomotorik yang diukur melalui aspek ketepatan siswa dalam menyelesaikan soal latihan juga mengalami peningkatan setiap siklus sebesar 14, 49%.

(11)

dapat memberikan treatment yang sesuai dengan kemampuan siswa. Dengan demikian, siswa yang berkemampuan sedang dan rendah yang didampingi oleh guru selama proses pembelajaran, akan lebih mudah dalam memahami materi yang telah disampaikan oleh guru. Khusus bagi siswa yang berkemampuan rendah, guru memberikan special treatment yang berupa tutorial, sehingga siswa dapat menyelesaikan soal latihan dengan tepat. Sedangkan bagi siswa yang berkemampuan tinggi, dengan belajar mandiri dari modul dan referensi buku lain serta diskusi kelompok, siswa akan lebih cepat dalam menguasai materi, sehingga ketika siswa yang berkemampuan tinggi mengerjakan soal-soal yang terdapat dalam modul, siswa dapat menyelesaikan soal latihan dengan tepat. (3) Persentase kemampuan kognitif siswa diukur melaui ketuntasan hasil belajar akuntansi siswa juga mengalami peningkatan dari pra tindakan ke siklus I sebesar 17, 24% dan siklus I ke siklus II mencapai 24, 14%.

Peningkatan ketuntasan hasil belajar akuntansi siswa terjadi karena peningkatan pemahaman siswa terhadap meteri pelajaran akuntansi yang telah dipelajarinya. Pemahaman siswa meningkat terhadap materi pelajaran akuntansi karena

dalam memberikan treatment selama proses pembelajaran, guru menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan belajar setiap siswa.

(12)

masing-masing indikator yang diukur telah mencapai target yang telah ditetapkan (hlm 131). Sesuai dengan teori tersebut, hasil penelitian ini dapat dikatakan berhasil dan termasuk dalam kriteria keberhasilan belajar yang tinggi karena prestasi belajar pada penelitian ini mencapai lebih dari 75%.

Penelitian ini dikatakan berhasil karena dapat meningkatkan prestasi belajar akuntansi siswa yang merupakan tujuan dari penelitian ini.

IV. SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran ATI pada mata pelajaran akuntansi dapat meningkatkan prestasi belajar akuntansi siswa.

Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dikemukakan saran-saran antara lain; untuk guru yaitu guru diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran ATI pada proses pembelajaran karena penerapan model pembelajaran ATI tidak hanya terbatas pada pelajaran akuntansi saja, tetapi bisa dilakukan untuk semua mata pelajaran. Selain itu, guru diharapkan juga dapat lebih mengoptimalkan pemakaian

model pembelajaran yang disesuaikan dengan variasi kemampuan setiap siswa atau dapat dikatakan bahwa guru harus lebih peka terhadap gaya belajar siswa dan kebutuhan belajar siswa.

Sedangkan saran untuk siswa yaitu Siswa hendaknya tetap semangat dan percaya diri dalam belajar meskipun mengalami kesulitan dalam pembelajaran, Selain itu, siswa hendaknya juga lebih aktif dalam proses pembelajaran dengan melakukan interaksi antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa karena hal ini akan bermanfaat bagi siswa dan hendaknya siswa juga menyadari akan pentingnya prestasi belajar dan berusaha untuk terus meningkatkan prestasinya dengan cara belajar dan meningkatkan keaktifan siswa.

Selanjutnya, saran bagi kepala sekolah yaitu hendaknya lebih mengusahakan fasilitas, sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran. Selain itu, kepala sekolah juga perlu mengadakan sosialisasi kepada guru mengenai model pembelajaran ATI, karena model ini belum banyak digunakan di sekolah-sekolah.

(13)

peneliti mengucapkan terimakasih kepada: Prodi Pendidikan Ekonomi, khususnya BKK Akuntansi, pembimbing I dan pembimbing II yang telah membimbing dan mengarahkan peneliti dalam penelitian ini serta guru mata pelajaran Akuntansi kelas XI IPS dan siswa kelas XI IPS di sebuah SMA Surakarta terimakasih atas bantuannya, kerjasamanya dan dukungannya selama melakukan penelitian. V. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Aqib, Z. (2006). Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru. Bandung: YRAMA WIDYA.

Dimyati & Mudjiono. (1999). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Mulyasa. (2005). Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Sudjana, N. (2008). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Syafrudin, N. (2005). Model Pembelajaran

Yang Memperhatikan

Keanekaragaman Individu Siswa Dalam Kurikulum Berbasis

Kompetensi. Ciputat: PT. Ciputat Press.

Hamalik. (2011). Perencanaan Pengajaran berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...