Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat terhadap Demokratisasi Myanmar
A. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap demokratisasi Myanmar?
2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap
demokratisasi Myanmar?
B. Kerangka Penelitian
Penulis akan menjawab pertanyaan penelitan tersebut dengan menggunakan teori liberalisme dan konsep kebijakan luar negeri. Liberalisme mulai mendominasi hubungan internasional pada dekade 1970an. Pada 1970an, kaum liberal mulai membuat serangan terhadap dominasi realisme dalam hubungan internasional. Namun tradisi liberal dalam pemikiran politik bisa ditelusuri dari pemikiran John Locke pada akhir abad ke 17[ CITATION Joh \p "h. 111" \l 1057 ]. John Locke menghasilkan karya-karya seperti Two Treaties of Government (1690), A Letter on Toleration (1689), dan Some Thoughts Concerning Education (1693) [ CITATION Suh07 \p "h. 185" \l 1057 ].
Karya-karyanya merefleksikan penenentangannya terhadap kekuasaan absolut dan pembelaannya terhadap kebebasan dan civil society [ CITATION Suh07 \p ", h. 186" \n \l 1057 ]. Locke memiliki gagasan-gagasan tentang kemerdekaan, kebebasan individu, serta Hak Asasi Manusia (HAM) [ CITATION Suh07 \p ", h. 181" \n \l 1057 ]. Gagasan-gagasan tersebut berasal dari karyanya yang berjudul Two Treaties of Government. Sejak saat itu ide-ide liberal telah membentuk pemikiran tentang hubungan pemerintahan dan masyarakat[ CITATION Joh \p ", h. 111" \n \l 1057 ]. Di Perancis, gagasan-gagasan pemikiran Locke dipertahankan oleh Voltaire melalui karyanya Lettres Philosophique (Surat-Surat Filsafat). Karya-karya Locke dan Voltaire mendorong Revolusi Perancis.
Dimana liberalisme menggunakan nilai-nilai seperti keteraturan, kebebasan, keadilan dan toleransi dalam hubungan internasional. Institusi domestik dan internasional dibutuhkan untuk melindungi dan menjaga nilai-nilai tersebut[ CITATION Joh \p ", h. 111" \n \l 1057 ]. Liberalisme merupakan doktrin yang universalis dan juga berkomitmen pada beberapa konsepsi tentang suatu komitmen umat manusia yang universal yang melampaui pengidentifikasian diri dengan dan keanggotaan dari komunitas negara-bangsa. Konsep kaum liberal tentang interdependensi dan masyarakat dunia menyatakan bahwa dalam dunia kontemporer batas-batas antar-negara menjadi lebih mudah ditembus [ CITATION Jil092 \p "h. 111" \l 1057 ].
Rasionalitas
Kaum liberalisme percaya bahwa seluruh umat manusia adalah makhluk rasional. Rasionalitas manusia bisa digunakan untuk memahami prinsip-prinsip moral dan hidup berdasarkan aturan hukum. Secara rasional orang-orang mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri, tetapi ada satu keselarasasn kepentingan yang potensial diantara masing-masing orang. Dalam hal ini, rasionalitas dibuktikan dengan kemampuan seseorang untuk mempertimbangkan untung ruginya setiap tindakan[ CITATION Jil092 \p ", h. 100 - 102" \n \l 1057 ].
Rasionalitas bisa digunakan dengan dua cara yang berbeda. Dalam pengertin istrumen, sebagai kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan mengejar kepentingan seseorang. Kedua rasionalitas dipahami sebagai kemampuan untuk memahami prinsip-prinsip moral dan hidup bersama berdasarkan hukum. Rasionalitas atau esensi logika atau pikiran lebih sebagai kemampuan umat manusia untuk memahami prinsip-prinsip moral daripada dalam kerangka pengertian alat tujuan atau untung rugi[ CITATION Jil092 \p ", h. 109 -111" \n \l 1057 ].
Kaum liberal percaya bahwa kemampuan untuk berpikir dan memahami prinsip-prinsip moral merupakan hal yang universal, dengan kata lain merupakan sesuatu yang dimiliki oleh semua umat manusia. Negara pun dianggap memiliki rasionalitas yang sama sebagai aktor dalam hubungan internasional. Kaum liberal menilai kebebasan individu diatas segala-galanya [ CITATION Jil092 \p ", h. 109 - 111" \n \l 1057 ]
Negara dan Pemerintah
mempromosikan kepentingannya. Kaum liberal melihat negara sebagai aktor penting dalam hubungan internasional. Negara (aktor politik lainnya) berperan dalam sistem internasional yang anarki dan negara memutuskan suatu kebijakan secara rasional. Namun kaum liberalisme juga menganggap penting societal actor seperti individu, private group, kelompok kepentingan, media dan organisasi non pemerintahan (Non Government Organizations). Negara bersifat self help [ CITATION Placeholder5 \p "h. 2 - 7" \l 1057 ]
Liberalisme menerima bahwa ciri utama dari negara adalah kedaulatan. Kaum Liberal menyatakan bahwa kekuasaan militer tidak lagi efekif sehingga tidak lagi menjadi indikator yang dapat dipercaya kekuatan suatu negara dalam perpolitikan dunia. Salah seorang pemikir liberal yang paling diakui pada abad XIX, John Stuart Mill, berpendapat bahwa pemerintah itu merupakan sosok ancaman yang diperlukan (a necessary evil)[ CITATION Jil092 \p ", h. 108 - 123" \n \l 1057 ].
Dengan kata lain, pemerintah diperlukan guna melindungi kebebasan indvidu, tetapi dapat menjadi opresif dan tirani jika kekuasannya tidak dikontrol. Untuk itu, kaum liberal biasanya mengusulkan adanya pemisahan seorang pemimpin kekuasaan dan check and balances yang menjamin bahwa tak ada seorang pemimpin politik atau aparat pemerintahpun yang mendominasi. Di negara demokrasi liberal keberadaan negara dipandang sebagai penengah netral (neutral arbiter) diantara berbagai kepentingan yang saling bersaing dalam suatu masyarakat yang terbuka dan plural [ CITATION Jil092 \p ", h. 108 & 118" \n \l 1057 ].
Negara memberikan kerangka acuan (secara hukum dan politik) yang didalamnya memungkinkan seseorang untuk menjalankan urusan sehari-hari dengan perasaan aman dari bahaya, sehingga berbagai jenis kesepakatan akan dilindungi dan orang-orang akan mampu mengejar berbagai tujuan dan kepentingan mereka tanpa adanya larangan, namun dengan catatan bahwa mereka tidak membahayakan orang lain[ CITATION Jil092 \p ", h. 118" \n \l 1057 ].
Kaum liberal menolak anggapan bahwa negara mencerminkan kepentingan seseorang, kelas sosial yang sangat dominanan, atau salah satu kelompok elit manapun. Kaum liberal mengakui bahwa negara dan masyarakat sipil itu saling berinteraksi. Negara memberikan kerangka regulasi yang mengatur diberlangsungkannya aktivitas-aktivitas masyarakat[ CITATION Jil092 \p ", h. 119 - 120" \n \l 1057 ].
Sistem internasional dianggap sebagai arena tempat terjadinya berbagai interaksi positif antar aktor yang berbeda. Karakteristik dari interaksi positif ini terdiri dari interdependensi antar aktor, masyarakat internasional dan anarki. Liberalisme percaya bahwa terdapat kerjasama diantara negara-negara dan aktor-aktor lainnya dalam politik internasional. Kaum liberal percaya bahwa interaksi diantara negara-negara dalam berbagai bidang menciptakan masalah-masalah yang membutuhkan kerjasama untuk memecahkannya[ CITATION Jil092 \p ", h. 124 & 126" \n \l 1057 ].
Keuntungan positif dan kepercayaan bersama yang muncul dari kerjasama dibidang mana pun akan mendorong kerjasama dalam area yang lebih signifikan lainnya. Ketika tingkat kerjasama dan integrasi semakin meningkat, maka akan bertambah sulit bagi negara-negara untuk menarik diri dari komitmen-komitmen yang meraka buat karena rakyat mereka akan menyadari berbagai keuntungan yang diperoleh dengan bekerjasama[ CITATION Jil092 \p ", h. 127" \n \l 1057 ].
Dalam HI kontemporer, kaum liberal terus berpendapat bahwa interdependensi memaksa negara-negara untuk saling bekerjasama secara lebih ekstensif dari pada sebelumnya. Dari 1970an, jelas sudah bahwa negara menjadi lebih tergantung - lebih sensitif terhadap atau bahkan dipengaruhi oleh tindakan-tindakan dari aktor-aktor lain[ CITATION Jil092 \p ", h. 128 - 129" \n \l 1057 ].
Demokrasi
Bentuk interdependensi yang kompleks telah menghasilkan penyebaran nilai-nilai universal secara global, contohnya:ak asasi manusia dan demokrasi. Liberalisme memandang demokrasi menjadi bagian penting karena demokrasi memberikan penghargaan terhadap hak individu, persamaan hak dan komitemen pada rule of law. Dimana kaum liberal menekankan pada hak individu untuk diperlakukan sama di mata hukum dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam masyarakat atau bersaing di dalam pasar - dari pada persamaan sebagai suatu hasil[ CITATION Jil092 \p ", h. 137 & 140" \n \l 1057 ].
-140" \n \l 1057 ]. Liberalisme juga memandang sistem politik yang demokratis disuatu negara mempengaruhi sistem internasional. Oleh karena itu kaum liberal sangat percaya akan pentingnya demokrasi bagi suatu negara. Dalam negara-negara berdemokrasi liberal, kekuasaan berada ditangan rakyat, sejauah rakyat tersebut secara periodik mampu memilih untuk mengganti para pemimpin dari jabatannya[ CITATION Jil092 \p ", h. 122" \n \l 1057 ].
Dalam suatu negara berdemokrasi maju dengan masyarakat sipil yang kuat, kita juga mungkin berharap untuk melihat rakyat terlibat secara aktif dalam percaturan politik melalui keikutsertaan mereka dalam pergerakan - pergerakan sosial atau memberikan dukungan pada program kerja NGOs. Kaum liberal sangat serius menghadapi gagasan bahwa rakyat terkadang individu tetapi biasanya cenderung pada tindakan kolektif melalui kelompok atau institusi penekan bisa meluaskan pengaruh. Kaum liberal percaya bahwa kekuasaan disebarkan pada serangkaian institusi dan diantara berbagai negara dan aktor non negara[ CITATION Jil092 \p ", h. 123" \n \l 1057 ].
Kemudian terkait demokrasi penulis juga menggunakan pemikiran-pemikiran Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Man. Fukuyaman berpendapat bahwa sebuah konsensus luar biasa berkenaan dengan legitimasi demokrasi liberal sebagai sistem pemerintahan telah muncul diseluruh dunia selama beberapa tahun terakhir, setelah ia menaklukan ideologi pesaing-pesaingnya seperti monarki turun-menurun, fasisme dan baru-baru ini komunisme[ CITATION tra04 \l 1057 ]
Lebih dari itu, saya (fukuyama) berpendapat bahwa demokrasi liberal mungkin merupakan “titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia” dan “bentuk final pemerintahan manusia”, sehingga ia bisa disebut sebagai “akhir sejarah”[ CITATION tra04 \p ", h. 1" \n \l 1057 ]. Keyakinana Fukuyama bahwa bentuk-bentuk pemerintahan, ekonomi politik, dan masyarakat politik Barata adalah tujuan puncak yang pada akhirnya akan diraih semua umat manusia akan menghadapi setidaknya tiga tantangan ortodoksi dalam Hubungan Internasional[ CITATION Bur96 \l 1057 ].
dilalui Barat menuju modernitas pada akhirnya akan menghasilkan kesepakatan universal[ CITATION Bur96 \p ", h. 1" \n \l 1057 ].
Kedua, pendekatan Fukuyama menunjukan bahwa Barat adalah penjaga kebenaran moral, dimana “kemajuan” akan mengharuskan semua masyarakat untuk mematuhi, tidak memandang perbedaan bangsa dan negara. Ketiga, Fukuyama yakin bahwa kemajuan sejarah umat manusia bisa diukur dengan tidak adanya konflik global dan penerapan prinsip legitimasi secara internasional yang telah berkembang sepanjang masa dalam suatu tatanan politik domestik[ CITATION Bur96 \p ", h. 1" \n \l 1057 ].
Keyakinan ini mendasari pendekatan “dalam-luar” (inside-out) terhadap hubungan internasional, dimana perilaku eksternal negara bisa dijelaskan dengan mengkaji kecenderungan politik dan ekonomi internal. Fukuyama memunculkan kembali pandangan lama di antara para internasionalis liberla, bahwa penyebar-luasan tatanan politik yang sah (legitimate) pada akhirnya akan mengakhiri konflik internasional [ CITATION Bur96 \p ", h. 1" \n \l 1057 ].
Posisi neo-Kantian ini mengasumsikan bahwa beberapa negara tertentu, yang memiliki kredensi demokrasi-liberal, merupakan sebuah contoh atau model yang sempurna yang akan ditiru oleh negara-negara lain diseluruh dunia. Penerjemahan yang progresif terhadap prinsip-prinsip demokrasi-liberal bagi dunia internasional dikatakan telah memberikan prospek terbaik bagi tatanan dunia yang damai karena ‘dunia yang terbentuk atas demokrasi liberal ... seharusnya tidak boleh memicu perang, karena semua bangsa satu sama lain akan memahami legitimasi bangsa lain[ CITATION Bur96 \p ", h. 1 - 2" \n \l 1057 ].
Menurut kaum liberal, perdamaian merupakan permasalahan negara yang lazim : istilah Kant, perdamaian bisa bersifat abadi. Hukum alam mengatur keselarasan dan kerjasama antar manusia. Oleh karenanya, perang itu tidak alami dan tidak masuk akal : perang meruapakan alat buatan dan bukanlah hasil dari hubungan sosial atau keganjilan sifat manusia yang tak sempurna. Hal sama yang ada dalam pikitan kaum liberal, dari Rosenau, Kant dan Cobden:ingga Schumpter dan Doyle, bahwa perang dimunculkan oleh pemerintahan militeris dan non demokratis demi kepentingan pribadi mereka[ CITATION Bur96 \p ", h. 2" \n \l 1057 ].
Doyle menyatakan bahwa demokrasi liberal memiliki keunikan dalam hal kemampuan dan kehendak mereka untuk menciptakan hubungan yang damai diantara mereka sendiri. Perdamaian hubungan luar negeri antara negara-negara liberal ini dikatakan merupakan hasil langsung dari tatanan politik bersama mereka yang sah, nerlandaskan pada prinsip-prinsip dan landasan-landasan demokratis[ CITATION Bur96 \p ", h. 42 - 43" \n \l 1057 ].
Doyle menyimpulkan bahwa demokrasi mempertahankan selera konflik yang sehat dengan negara-negara otoriter. Tetapi:al ini menunjukan bahwa prospek terbaik untuk mengakhiri perang antara negara tergantung pada penyebaran pemerintahan demokratis-liberal di seluruh dunia. Selain itu Fukuyama yakin bahwa kita telah memasuki sebuah periode ketika perang sebagai sebuah instrumen diplomasi internasional mulai menjadi usang[ CITATION Bur96 \p ", h. 43 - 44" \n \l 1057 ].
Kaum liberal selalu yakin bahwa legitimasi tatanan politik domestik sebagian besar tergantung pada dukungan terhadap kedaulatana hukum (rule of law) dan penghormatan negara terhadap hak asasi warga negaranya. Manusia dikatakan dikaruniai - semata-mata kerena kemanusiaan mereka - dengan hak-hak, kebaikan-kebaikan, dan perlindungan-perlindungan tertentu yang bersifat mendasar dan tidak dapat dihilangkan[ CITATION Bur96 \p ", h. 51" \n \l 1057 ].
Dalam pemikiran kaum liberal mengenai kebijakan asing dalam hubungan internasional, perluasan hak-hak ini kepada semua orang mempunyai tempat yang sangat penting, karena negara-negara yang memperlakukan warga negara mereka sendiri secara eti dan mengijinkan mereka berpartisipasi penuh dalam proses politik kemungkinan begitu agresif perilakunya secara internasional. Pemerintah, khususnya pemerintahan yang tidak demokratis, dipandang sebagai biang keladi utama timbulnya konflik dan kekacauan internasional[ CITATION Bur96 \p ", h. 51 & 53" \n \l 1057 ].
Kebijakan Luar Negeri
3" \n \l 1057 ]. Sebelum membahas lebih lanjut terkait kebijakan luar negeri, penulis akan membahas definisi kebijakan luar negeri dari beberapa tokoh liberal.
James N. Rosenau mendefinisikan kebijakan luar negeri dengan tiga konsep yaitu sekumpulan orientasi (a cluster of orientations), seperangkat komitmen dan rencana untuk bertindak (a set of commitments to and plans for action) dan bentuk perilaku atau aksi (a form of behaviour). Kebijakan luar negeri sebagai sekumpulan orientasi merupakan pedoman bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi kondisi-kondisi eksternal yang menuntut pembuatan keputusan dan tindakan berdasarkan orientasi tersebut. Orientasi ini terdiri dari sikap, persepsi, dan nilai-nilai yang dijabarkan dari pengalaman sejarah, dan keadaaan strategis yang menentukan posisi negara dalam politik internasional [ CITATION Jam72 \p ": 15 - 16" \l 1057 ].
Kebijakan luar negeri sebagai seperangkat komitmen dan rencana untuk bertindak diartikan berupa rencana dan komitmen yang konkrit yang dikembangkan oleh para pembuat keputusan untuk membina dan mempertahankan situasi lingkungan eksternal yang konsisten dengan orientasi kebijakan luar negeri. Rencanan dan tindakan ini termasuk tujuan yang spesifik serta alat atau cara untuk mencapai cara yang dianggap cukup memadai untuk menjawab peluang dan tantangan dari luar negeri. Kebijakan luar negeri sebagai bentuk perilaku atau tindakan diartikan pada tingkatan yang lebih empiris yaitu berupa langkah-langkah nyata yang diambil oleh para pembuat keputusan yang berhubungan dengan kejadian serta situasi dilingkungan eksternal. Langkah - langkah tersebut dilakukan berdasarkan orientasi umum yang dianut serta dikembangkan berdasarkan komitmen dan sasaran yang lebih spesifik[ CITATION Jam72 \p ", h. 17" \n \l 1057 ].
Disisi lain Michael Doyle menyatakan bahwa liberalisme berkontribusi dalam memahami kebijakan luar negeri dengan menitikberatkan pada individu, idealisme dan ide-ide yang diusung seperti Hak Asasi Manusia (HAM), kebebasan dan demokrasi. Modal sosial seperti kapitalisme dan pasar serta institusi politik (demokrasi dan representasi) berdampak langsung pada hubungan internasional[ CITATION Doy86 \p ": 1" \l 1057 ].
Preferensi Negara
Liberalisme mampu memberikan kontribusi positif dalam memahami kebijakan luar negeri dengan berbagai asumsi yang dimilikinya. Pertama, negara merepresentasikan masyarakat domestik yang membentuk preferensi negara (state preference). Bagi liberalisme negara merupakan institusi yang representatif yang mengkonstruksi koalisi domestik sosial. Moravcik berpendapat bahwa :
These social coalition define state “preferences” in world politics at any point in time : the “tastes,” “ends,””basic interests,” or “fundamental social purpose” that underlie foreign policy[ CITATION Placeholder5 \p ": 3" \n \l 1057 ].
Individu dan kelompok tidak memiliki pengaruh yang sama dalam kebijakan luar negeri. Power individu dan kelompok bervariasi secara beragam tergantung konteks. Variasi dari institusi dan tindakan representatif membantu mendefinisikan kelompok mana yang mempengaruhi kepentingan nasional. Preferensi kelompok yang memiliki power domestik membentuk preferensi negara dalam politik internasional.
Kedua, interdependensi antar preferensi mempengaruhi tindakan yang dilakukan oleh negara. Oleh karena itu negara membutuhkan sebuah tujuan sosial yang dijadikan dasar dan diperhatikan dalam hubungan internasional baik berupa konflik, kerjasama atau kebijakan luar negeri lainnya[ CITATION Placeholder5 \p ": 3" \n \l 1057 ].
Hubungan teoritis antara preferensi dan tindakan negara dapat dilihat dari konsep interdependensi kebijakan. Interdependensi kebijakan merujuk pada distribusi dan interaksi prefensi dari berbagai negara. Dimana negara harus melihat cost and benefit dari negara lain guna mendapatkan preferensi. Interdependensi kebijakan memiliki tiga pola yaitu preferensi zero sum, preferensi harmonis, dan preferensi gabungan [ CITATION Placeholder5 \p ": 5" \n \l 1057 ].
Preferensi zero sum dilakukan oleh suatu kelompok sosial dominan dalam suatu negara guna mendapatkan preferensi negara melalui tindakan internasional yang menekan dana serta mendominasi kelompok dominan dari negara lain.Preferensi harmonis terjadi ketika kebijakan unilateral menjadi optimal bagi negara lain.Sedangkan preferensi gabungan terjadi ketika negara bisa mendapatkan keuntungan jika setuju untuk mengkoordinasikan tindakan [ CITATION Placeholder5 \p ": 5" \n \l 1057 ].
semakin kuat suatu negara memiliki interdependensi maka semakin instens prefensi yang dimiliki guna mendapatkan outcome yang diinginkan. Semakin negara kurang memperhatikan outcomes, maka semakin kurang intens preferensi yang dimiliki negara tersebut. Sehingga power yang dimiliki pun rendah [ CITATION Placeholder5 \p ": 5" \n \l 1057 ].
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Luar Negeri
Kebijakan luar negeri suatu negara dipengaruhi oleh faktor-faktor domestik dan faktor-faktor internasional. Faktor-faktor domestik yang mempengaruhi kebijakan luar negeri dapat dilihat dengan Model Rosenau dan Mintz.
Faktor Domestik
Menurut Rosenau, faktor domestik yang mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara terdiri dari sumber masyarakat, sumber pemerintahan dan sumber idiosinkretik. Sumber masyarakat merupakan sumber yang berasal dari lingkunga internal. Sumber ini terdiri dari budaya dan sejarah, perkembangan ekonomi, struktur sosial dan opini publik (Rosenau 1972).
Budaya dan sejarah mencangkup nilai, norma, tradisi, dan pengalaman masa lalu yang mendasari hubungan antar anggota masyarakat. Perkembangan ekonomi mencangkup kemampuan suatu negara untuk mencapai kesejahteraan. Hal ini dapat mendasari kepentingan negara tersebut untuk berhubungan dengan negara lain.
Dimana kepentingan masing-masing negara berbeda. Struktur sosial mencangkup sumber daya manusia yang dimiliki suatu negara atau seberapa besar konflik dan harmoni internal dalam masyarakat. Opini publik menjadi faktor yang mempengaruhi. Dimana opini publik dapat melihat perubahan kecenderungan masyarakat terhadap dunia luar [ CITATION Jam72 \p ": 15" \n \l 1057 ].
Sumber idiosinkretik merupakan sumber internal yang melihat nilai-nilai pengalaman, bakat, serta kepribadian pembuat kebijakan yang mempengaruhi presepsi, kalkulasi, dan perilaku mereka terhadap kebijakan luar negeri. Dimana tercangkup persepsi seorang elit politik tentang keadaan alamiah dari arena internasional dan tujuan nasional yang hendak dicapai [ CITATION Jam72 \p ": 15" \n \l 1057 ]. Sedangkan Mintz menyatakan bahwa faktor domestik yang mempengaruhi kebijakan luar negeri terdiri dari taktik pengalihan isu, kepentingan ekonomi, peranan opini publik dan siklus pemilu.
Taktik pengalihan isu sangat berhubungan dengan teori pengalihan. Teori pengalihan merupakan teori yang menjelaskan gagasan pemimpin yang menggunakan kekuatan pada waktu yang tepat. Dimana pemimpin yang ingin mempertahankan kekuasannya sering menggunakan teori ini guna mengalihkan perhatian dari permasalah domestik dengan menggunakan kekuatan militer negara untuk melawan musuh dari eksternal. Kepentingan ekonomi menjadi pertimbangan tersendiri bagi negara dalam menentukan kebijakan luar negeri.
Dimana kepentingan ekonomi mempengaruhi kebijakan luar negeri terutama dalam bidang militer dan industri yang kompleks. Perdagangan dan pertukaran senjata menjadi bagian dari kebijakan luar negeri. Opini publik terkait suatu persitiwa bisa memiliki peranan signifikan. Dimana opini publik bisa mempengaruhi penggunaan kekuatan, eskalasi, penghentian dan kebijakan luar negeri lainnya. Tekanan internal terhadap pimpinan kepala negara di suatu negara dengan sistem demokrasi dapat memaksan kepala negara untuk mencapai kesepakatan perdamaian.
Korban dari peperang juga bisa mempengaruhi opini publik dalam mendukung penggunaan kekuatan militer di internasional. Kemudian siklus pemilu menjadi faktor domestik penting penentu kebijakan luar negeri. Siklus pemilu menjadi momentum penting untuk kepala negara bertahan. Dimana bila siklus politik mendekat, maka kepala negara akan mencari kesempatan untuk dipilih kembali. Hal ini bisa membuat kepala negara memanipulasi kebijakan ekonomi atau menggunakan opsi ikut berperang demi kepentingan pribadi [ CITATION Min10 \p ": 129 - 133" \l 1057 ].
Faktor Eksternal
lingkungan eksternal suatu negara. Sumber ini menjelaskan struktur hubungan antar negara-negara besar, aliansi yang terbentuk antara negara-negara-negara-negara, ukuran, letak geografis dan teknologi.
Struktur hubungan antar negara besar merupakan jumlah negara besar yang ikut andil dalam struktur hubungan internasional dan bagaimana pembagian kapabilitas antar mereka. Dimana hal ini berhubungan dengan sistem internasional yang ada. Aliansi yang terbentuk antar negara bisa mempengaruhi suatu negara di berbagai isu, komitmen aksi untuk masa depan dan aturan pembentukan kebijakan secara formal.
Ukuran suatu negara mempengaruhi gambaran dan persepsi peranan dalam politik internasional. Kemudian letak geografis suatu negara yang dilihat dari pulau-pulau, kesuburan, iklim, akses terhadap air mempengaruhi pemerintah dan publik mendefinisikan hubungan negara dengan dunia internasional. Disisi lain teknologi berkontribusi aktif mendorong perubahan kapabilitas ekonomi dan militer serta status negara dalam sistem internasional[ CITATION Jam72 \p ": 15 - 18" \l 1057 ].
Alex Mintz memiliki pendapat yang berbeda mengenai faktor eksternal yang mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara. Mintz menyatakan bahwa faktor - faktor eksternal yang mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara terdiri dari pencegahan dan perlombaan militer, taktik strategis yang tidak terduga, aliansi dan rezim pemerintahan yang berkuasa.
Faktor pencegahan dan perlomabaan militer sangat mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara. Dimana pencegahan terdiri dari pencegahan umum (general deterrence) dan pencegahan yang diperluas (extended deterrence). Pencegahan umum (general deterrence) berupa tindakan negara yang membangun pertahanan di dalam negeri guna mencegah serbuan dari negara lain.
Sedangkan pencegahan yang diperluas (extended deterrence) berupa tindakan negara yang memperluas pencegahan dengan bekerjasama dengan negara lain. Salah satunya berupa tindakan negara yang membangun pangkalan militer di negara lain. Tindakan tersebut bertujuan untuk menjadi pihak yang memberikan respon dini bila terdapat serangan dari negara lain. Teori pencegahan sering dipahami secara rasional. Dimana rasionalitas ini berhubungan dengan analisa keuntungan dan kerugian.
terus mempertahankan perlombaan militer atau menghentikannya dan bekerjasama satu sama lain. Kemudian taktik strategis yang tidak terduga mempengaruhi kebijakan luar negeri. Taktik strategis yang tidak terduga bisa berasal dari geopolitik, budaya, teknologi dan kegagalan intelejen.
Taktik strategis yang tidak terduga membuat pembuat kebijakan luar negeri harus segera meresponnya dengan cepat. Hal ini bisa dilihat pada peristiwa 9/11. Namun kebijakan luar negeri bisa menangani taktik strategis yang ada. Aliansi menjadi faktor eksternal ketiga yang mempengaruhi kebijakan luar negeri. Dimana Mintz berpendapat terdapat tiga jenis aliansi yaitu netralitas, kesepakatan antar negara dan pakta pertahanan. Netralitas berarti bentuk komitmen dari negara untuk tidak ikut berpartisipasi dalam penyerangan apapun. Kesepakatan antar negara merupakan bentuk komitmen antar negara yang didalamnya berisi akan saling berkonsultasi apabila salah satu negara diserang oleh lain. Sedangkan pakta pertahanan berarti bentuk komitmen antar negara yang terlibat berupa negara akan membantu negara lainnya bila diserang. Rezim pemerintahan yang berkuasa akan mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara. Dimana terdapat bukti yang nyata bahwa negara yang demokratis akan cenderung tidak menyerang negara lain[ CITATION Min10 \p ": 121 -128" \l 1057 ].
Daftar Pustaka
Baylis, Smith. The Globalization of World Politics An Introduction to International Relations. New York: Oxford University Press, 2001.
Doyle, Michael W. “Liberalism and World Politic.” Jstore The American Political Science Review, Vol. 80 No. 04, 1986: 1155.
Linkalter, Andrew. Teori - Teori Hubungan Internasional. trans. Sobirin. New York: ST MArtin Press, INC, 1996.Mintz, Alex. Understanding Foreign Policy Decision Making. New York: Cambridge University Press, 2010.
Moravcsik, Andrew. Liberal Theories of International Relations : A Primer. New Jersey: Princeton University Press, 2010.
Rosenau, James N. The Study of Foreign Policy. New York: Free Press, 1972.
Steans, Pettiford. Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: 2007, 2007.