Dampak sosial ekologi sosial dalam pers

Teks penuh

(1)

6.1 Pendahuluan Dampak Sosial Ekologi

Perkembangan industri yang semakin pesat saat ini akan memberikan pengaruh buruk bagi lingkungan. Industri manufaktur adalah industri yang mengolah bahan baku menjadi bahan jadi. Dalam pelaksanaannya mulai dari bahan baku, proses pengolahan maupun hasil akhir yang berupa hasil produksi dan hasil buanagn banyak diantaranya terdiri dari bahn-bahan yang dapat mencemari lingkungan seperti bahan logam, bahan korosif, bahan organis, bahan-bahan gas, dan lain-lain bahan-bahan yang berbahaya, baik untuk para pekerja maupun masyarakat di sekitar proyek industri tersebut. Kampung Tangsi merupakan kampung yang berada dekat dengan pabrik yang mengolah besi dan baja, yaitu PT G. Hal ini yang menjadikan Kampung Tangsi banyak tercemar bahan-bahan berbahaya.

Dahulu Kampung Tangsi merupakan daerah pedesaan yang berupa persawahan sehingga jauh dari pencemaran baik air, udara maupun suara. Tetapi semenjak masuknya industri di Desa Sukadanau, Kampung Tangsi menjadi salah satu area yang digunakan untuk mengembangkan industri yaitu industri besi dan baja. Semula lahan di Kampung Tangsi adalah sawah sekarang berubah menjadi pabrik yang mengelola besi dan baja. Pada penelitian ini akan membahas mengenai hasil buangan industri sehingga mempengaruhi sosial masyarakat dan lingkungan seperti persepsi masyarakat mengenai kondisi air, kondisi udara, tingkat kebisingan mesin produksi yang digunakan oleh perusahaan, tingkat kebisingan akibat aktivitas kendaraan kontainer dan truk yang membawa hasil produksi, tingkat kecelakan yang terjadi di Kampung Tangsi, tingkat kesehatan masyarakat serta frekuensi pengobatan yang dilakukan masyarakat.

6.2 Persepsi Kualitas Air

(2)

kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi hadirnya industri baja membuat air disekitar Kampung Tangsi tercemar logam berat. Kondisi air menurut responden Kampung Tangsi sebelum adanya industri dalam persentase dapat dilihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Air Sebelum Adanya Industri Berdasarkan Lapisan Sosial, 2011

(3)

Kampung Tangsi mengenai kondisi air setelah adanya industri berdasarkan lapisan sosial.

Gambar 18. Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Air Setelah Adanya Industri Berdasarkan Lapisan Sosial, 2011

Keseluruhan responden yang menduduki lapisan sosial atas mengatakan bahwa air yang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti mandi, cuci, kakus atau MCK kondisinya berwarna dan bau. Sedangkan masyarakat lapisan menengah sebesar 75 persen mengatakan kondisi airnya berwarna dan bau, serta sebesar 25 persen mengatakan air jernih dan tidak bau. Selanjutnya masyarakat lapisan bawah sebesar 33 persen mengatakan kondisi air di kampung mereka berwarna dan bau, serta sebesar 67 persen mengatakan kondisi airnya jernih dan tidak bau.

(4)

Industri baja yang ada di Kampung Tangsi, sebenarnya memberikan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat. Seperti air yang ada di kampung tersebut berbau logam berat dan berwarna keruh. Kondisi air tersebut penggunaan air seharusnya dikurangi apalagi untuk dikonsumsi karena akan menggangu kesehatan tubuh manusia, tetapi masyarakat RT 04 RW 06 Kampung Tangsi sudah terbiasa menggunakan air tersebut untuk kebutuhan hidup.

“air disini memang buruk, itu karrna pengaruh dari pabrik. Sebenarnya bahaya sekali kalau kita minum, tapi mau bagaimana lagi. kita tidak mungkin selalu beli air untuk mandi, mencuci sama yang lainnya. memang ada yang jual, tapi sayangkan kalau harus selalu beli, kita pakai air setiap hari. Nanti yang ada uang kita habis untuk beli air. Kalau untuk minum terkadang orang-orang pakai aqua galon, ada juga yang masak sendiri. Kalau saya pakai dua-duanya.” (Bapak WDD, 52 tahun)

Faktor lain penggunaan air di Kampung Tangsi terus berlangsung karena kendala biaya yang tidak sedikit untuk membeli air setiap hari. Masyarakat dirugikan atas aktivitas industri yang mencemari lingkungan tempat tinggal mereka karena terjadi penurunan kualitas air. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat mengeluh pada pemerintah akan tetapi tidak ada pertimbangan dari pihak perusahaan. Masyarakat Kampung Tangsi tidak dapat menggunakan air selain daripada air sumur yang ada di rumah mereka karena tempat tinggal yang jauh dari sumber air seperti pegunungan. Sebenarnya terdapat sungai yang melintasi Desa Sukadanau, akan tetapi sungai tersebut jauh dari Kampung Tangsi serta kotor dan mengandung bakteri yang membahayakan tubuh manusia sehingga tidak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

6.3 Persepsi Kondisi Udara

(5)

udara sejuk dan tidak berdebu. Pada Gambar 19 disajikan persepsi responden mengenai kondisi udara sebelum adanya industri berdasarkan lapisan sosial.

Gambar 19 Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Udara Sebelum Adanya Industri Berdasarkan Lapisan Sosial, 2011

Berdasarkan Gambar 19 pendapat responden mengenai kondisi udara sebelum adanya industri sama halnya dengan persepsi responden mengenai kondisi air sebelum adanya industri. Sebagian besar responden khususnya para pendatang mengatakan tidak mengetahui keadaan lingkungan sebelum adanya industri. Masyarakat pendatang tinggal di Kampung Tangsi berdasarkan panggilan kerja di perusahaan baja tersebut. Selanjutnya, responden yang mengatakan bahwa udara di tempat tinggal mereka sejuk dan tidak berdebu adalah masyarakat lokal. Sebesar 25 persen untuk kategori lapisan bawah, sebesar 31 persen untuk kategori lapisan menengah, dan 29 persen untuk kategori lapisan atas yang mengatakan hal tersebut.

Kualitas udara sebelum adanya industri sangatlah terjamin. Hal ini dibenarkan oleh ketua RT 04 RW 06 Kampung Tangsi yang berstatus sebagai penduduk asli.

(6)

saja semenjak adanya pabrik ini udaranya panas. Berbeda sekali.” (Bapak NMN, 48 tahun).

Perubahan yang terjadi di Kampung Tangsi sangatlah besar. Terlihat dari pernyataan Bapak NMN bahwa dahulu sebelum adanya industri baja tersebut lahan di wilayah Kampung Tangsi berupa persawahan sehingga menjamin kualitas udara yang sejuk dan tidak berdebu. Berbeda halnya dengan persepsi masyarakat mengenai kondisi udara setelah adanya industri berdasarkan lapisan sosial dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20 Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Udara Setelah Adanya Industri Berdasarkan Lapisan Sosial, 2011

(7)

6.4Tingkat Kebisingan

Pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatka oleh bunyi atau suara yang mengganggu ketentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan. Penilaian terhadap suara yang muncul sebagai polusi atau tidak merupakan sesuatu yang subjektif. Kerusakan yang diakibatkan pencemaran suara bersifat setempat, tidak seperti polusi udara maupun polusi air.

Suara bising yang terus-menerus dengan tingkat kebisingan yang relatif tinggi dapat mengakibatkan dampak yang merugikan kesehatan manusia. Ini dapat berarti gangguan secara fisik maupun psikologis. Gangguan secara fisik antara lain adalah kehilangan pendengaran yang merupakan perubahan ambang batas sementara akibat kebisingan, perubahan ambang batas permanen akibat kebisingan, serta akibat-akibat fisiologis yang berupa perasaan tidak nyaman atau stres meningkat, tekanan darah meningkat, sakit kepala, dan bunyi dering.

Gangguan psikologis akibat polusi suara dibagi menjadi tiga macam, yaitu gangguan emosional, gaya hidup, dan pendengaran. Ganggguan emosional ditandai dengan kejengkelan dan kebingungan. Gangguan gaya hidup berupa gangguan tidur atau istirahat, hilang konsentrasi waktu bekerja. Gangguan pendengaran mengurangi kemampuan mendengarkann TV, radio, percakapan, telpon, dan sebagainya.

6.4.1 Tingkat Kebisingan Mesin Produksi

(8)

Gambar 21. Persentase Pendapat Responden Mengenai Tingkat Kebisingan Mesin Produksi Berdasarkan Lapisan Sosial, 2011

Berdasarkan Gambar 20 menurut responden lapisan bawah, sebesar 76 persen penggunaan mesin oleh PT G menimbulkan tingkat kebisingan yang tinggi dan sebesar 24 persen mengatakan hal tersebut sedang. Selanjutnya, responden lapisan menengah mengatakan tinggi tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh mesin produksi sebesar 83 persen dan 17 persen yang mengatakan sedang. Responden lapisan sosial atas, sebesar 91 persen mengatakan tinggi dan 9 persen mengatakan sedang mengenai tingkat kebisingan mesin produksi PT G. Kegiatan memproduksi besi dan baja yang dilakukan oleh PT G dengan mesin yang berteknologi tinggi mempengaruhi kebisingan di Kampung Tangsi. Mesin tersebut berproduksi setiap hari dan mengeluarkan suara besar setiap jamnya sehingga membuat kebisingan.

“waktu saya baru pindah kesini, seminggu saya tidak bisa tidur. Berisik sekali. Saya pikir hanya saya saja, ternyata orang asli kampung disini juga sama. Lagipula tempat tinggal kita dekat sekali, wajar saja. Apalagi mesin produksi itu kerja setiap hari. Ya selalu berisik.” (Bapak AUS, 40 tahun)

(9)

menyebabkan polusi suara yang mengganggu kenyamanan hidup masyarakat seperti istirahat dan berkomunikasi.

6.4.2 Tingkat Kebisingan Kontainer dan Truk

Aktivitas kendaraan kontainer dan truk di Desa Sukadanau dilakukan setiap hari pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB dirasakan masyarakat Kampung Tangsi sangatlah mengganggu. Kendaraan besar tersebut digunakan oleh PT G untuk mengangkut besi dan baja yang telah diproduksi. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 22.

(10)

tersebut menjadi jalan utama karena masyarakat dalam melakukan aktivitasnya selalu menggunakan jalan tersebut. Selain itu, jalan utama Kampung Tangsi terdapat sekolah dasar apabila kontainer dan truk melewatinya akan membahayakan jiwa anak-anak yang bersekolah.

“kontainer lewat setiap hari sudah biasa. Ini adalah jalanan umum, wajar kalau mereka lewat. Kalau dibilang bahaya, ya bahaya. Tapi tergantung kitanya saja bagaimana menanggapnya. Kalau banyak yang bilang kecelakan sering terjadi, hal itu karna orang-orangnya menggunakan jalan sembarangan. Mereka sudah tahu jalannya kecil kontainer jangan dilewati. Kalau tiba-tiba berhenti yang dibelakang bisa menabrak.” (Bapak MHI, 35 tahun).

Penggunaan jalan yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat baik dari anak-anak hingga orang dewasa mengaharuskan kewaspadaan akibat adanya laju kendaraan kontainer dan truk dalam mengangkut besi dan baja. Besarnya kendaraan dengan luasnya jalan tidaklah sesuai sehingga membahayakan pengguna jalan lain.

6.5 Tingkat Kecelakaan

(11)

Gambar 23. Persentase Pendapat Responden Mengenai Tingkat Kecelakaan Berdasarkan Lapisan Sosial, 2011

Berdasarkan Gambar 23 jalan utama yang sering dilalui oleh kendaraan besar di Desa Sukadanau sangat membahayakan. Seperti kategori responden lapisan bawah mengatakan sering terjadi kecelakaan sebesar 83 persen, lapisan menengah yang mengatakan sering terjadi kecelakaan sebesar 87 persen, dan lapisan atas yang mengatakan sering terjadi kecelakaan sebesar 91 persen. Sedangkan yang mengatakan jarang terjadi kecelakaan masing-masing responden dengan kategori lapisan bawah, lapisan menengah, dan lapisan atas adalah sebesar 17 persen, 13 persen, dan sembilan persen. Kecelakaan yang sering terjadi di jalan utama Kampung Tangsi biasanya pengguna sepeda motor dengan kontainer yang seharusnya tidak melewati jalan tersebut dikarenakan jalan yang kecil.

“di jalan ini sering sekali terjadi kecelakaan. Lihat saja mobil besar-besar itu lewat dijalan yang kecil. Kontainer-kontainer ini ingin lewat tol, sebenarnya ada jalan lain disamping kalimalang itu tapi tidak ada yang lewat karna jalanannya rusak. Seharusnyakan itu kewajiban perusahaan. Kalau lewat jalan ini karna jalannya beton jadi tidak masalah. Tapi kan bahaya untuk orang-orang yang sering lewat jalan ini. Selain itu juga banyak anak sekolah.” (Bapak MSH, 42 tahun).

(12)

melewati jalan tersebut. Hal ini dikarenakan banyak anak-anak yang melewati jalan tersebut untuk bersekolah yang ada di sekitar wilayah industri. sebenarnya ada jalan lain yang dapat dilalui kendaraan besar yang tidak sering pula dilalui oleh masyarakat, yaitu jalan di samping aliran sungai kalimalang yang terus sampai ke gerbang pintu tol Cibitung. Hal ini tidak dilakukan karena jalan tersebut teksturnya yang buruk dan sering banjir dari luapan air sungai kalimalang. Sedangkan jalan yang biasa dilalui merupakan jalan desa yang diperuntukkan oleh siapa saja dan jalan terkuat di Desa Sukadanau.

6.6Tingkat Kesehatan

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.

6.6.1 Jumlah Masyarakat Pengidap Penyakit

(13)

Gambar 24. Persentase Tingkat Kesehatan Masyarakat Kampung Tangsi Berdasarkan lapisan Sosial, 2011

Pada Gambar 24 menunjukkan bahwa sebesar 83 persen responden lapisan bawah, 75 persen responden lapisan menengah, dan 86 responden lapisan atas mengidap penyakit seperti sesak nafas dan gatal-gatal. Sedangkan sebesar 17 persen untuk lapisan bawah, 25 persen untuk lapisan menengah, dan 14 persen lapisan atas tidak mengalami gangguan kesehatan. Penyakit tersebut yang terjadi pada masyarakat diakibatkan oleh pencemaran limbah yang dikeluarkan oleh PT G dalam memproduksi besi dan baja, baik pencemaran melalui air maupun melalui udara.

“kalau kita sakit-sakit seperti gatal-gatal atau sesak napas, ada pengobatan gratis dari perusahaan. Biasanya yang sakit-sakit itu anak-anak, kan rentan sekali tubuhnya.” (Bapak KRA, 38 tahun).

(14)

6.6.2 Frekuensi Pengobatan Penyakit

Jenis penyakit ada dalam penelitian ini adalah jenis penyakit yang berhubungan dengan aktivitas industri. Jenis penyakit yang sering terjadi adalah gatal-gatal dan sesak napas yang diakibatkan pencemaran air dan udara yang dihasilkan dari proses produksi besi dan baja. Pencemaran pada air yaitu terdapat kandungan logam berat yang menyebabkan gatal-gatal pada kulit apabila digunakan untuk mandi. Sedangkan pencemaran pada udara yaitu terdapat asap dan bau yang dikeluarkan melalui cerobong besar yang apabila dihirup oleh masyarakat akan menyebabkan sesak napas. Apabila dalam jangka panjang terus terjadi akan menyebabkan kerusakan pada organ tubuh manusia. Oleh karena itu, masyarakat perlu pengobatan untuk mencegah timbulnya penyakit yang berbahaya. Frekuensi pengobatan yang dilakukan masyarakat dikategorikan kedalam tiga, yaitu tidak pernah, jarang, dan sering. Pada Gambar 25 disajikan frekuensi pengobatan masyarakat Kampung Tangsi dalam persentase berdasarkan lapisan sosial.

Gambar 25. Persentase Frekuensi Pengobatan Responden Berdasarkan Lapisan Sosial, 2011

(15)

sering melakukan pengobatan sebesar 44 persen dan reponden lapisan bawah yang sering melakukan pengobatan adalah sebesaar 58 persen. Sedangkan responden yang jarang melakukan pengobatan masing-masing berdasarkan lapisan sosial bawah, menengah, dan atas adalah sebesar 25 persen, 31 persen, dan 24 persen. Selanjutnya masyarakat yang tidak pernah melakukan pengobatan untuk masyarakat lapisan sosial bawah sebesar 17 persen, masyarakat lapisan sosial menengah sebesar 25 persen, dan masyarakat lapisan sosial atas sebesar 14 persen. Masyarakat lapisan atas dan lapisan menengah lebih besar persentase responden yang sering melakukan pengobatan apabila sakit dikarenakan adanya biaya yang dimiliki sehingga memungkinkan untuk berobat kemana saja. Lain halnya dengan masyarakat lapisan bawah. Mereka menganggap hal tersebut biasa sehingga tidak perlu melakukan pengobatan apabila terjadi gatal-gatal dan sesak napas. Selain itu kendala biaya juga menjadi faktor yang menghambat masyarakat untuk melakukan pengobatan. Bagi para pekerja yang bekerja di perusahaan terdapat tunjangan kesehatan yang berupa pengobatan gratis.

6.7 Ikhtisar

(16)

Tabel 8. Dampak Sosial Ekologi Akibat Aktivitas Industri Manufaktur Terhadap Masyarakat Kampung Tangsi, Desa Sukadanau 2011

Aspek

Penelitian Sebelum Industri Manufaktur Sesudah

Kualitas Air Air Jernih dan Tidak Bau Air Berwarna dan Bau Kondisi Udara Udara Sejuk dan Tidak

Berdebu Udara Panas, Berdebu, dan Gersang Tingkat Kebisingan

Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2010

Pada Tabel 8 dijelaskan bahwa di Kampung Tangsi terdapat perubahan kualitas air sebelum dan sesudah adanya industri. sebelum adanya industri, kualitas air di Kampung Tangsi jernih dan tidak bau sedngkan setelah hadirnya industri kualitas air yang biasa digunakan oleh masyarakat berwarna dan bau. Hal ini dikarenakan terdapat kandungan logam yang dicemarkan oleh perusahaan baja. Selanjutnya dilihat dari kondisi udara, sebelum adanya industri lahan di Kampung Tangsi berupa persawahan yang menjamin kualitas udara yaitu sejuk dan tidak berdebu, tetapi setelah adanya industri, hasil buangan yang dihasilkan oleh perusahaan baja mencemari udara di sekitar Desa Sukadanau sehingga udara menjadi panas, berdebu dan gersang. Tingkat kebisingan di Kampung Tangsi sangat tinggi. Hal ini diakibatkan suara yang dihasilkan dari mesin produksi. Selanjutnya tingkat kebisingan dari kendaraan kontainer dan truk juga sangat tinggi. Aktivitas yang dilakukan kendaraan tersebut setiap hari, sehingga mengganggu kenyamanan hidup masyarakat Kampung Tangsi. Kendaraan yang terus melaju di jalan Kampung Tangsi, mengakibatkan tingkat kecelakaan yang tinggi. Hal ini juga disebabkan oleh para pengguna jalan yang tidak mengikuti aturan berlalu lintas.

(17)

Kampung Tangsi adalah hal biasa yang terjadi. Menurut sebagian masyarakat dampak tersebut tidak mempengaruhi hubungan sosialnya terhadap pihak perusahaan. Hal ini dikarenakan sebagian dari masyarakat tersebut menggantungkan hidupnya pada perusahaan. Apabila perusahaan tidak ada, masyarakat belum tentu memiliki pekerjaan dengan upah sedemikian. Selain itu, pihak perusahaan selalu memberikan satu ekor sapi setiap tahunnya sebagai bentuk pertanggungjawaban pada masyarakat. Hal tersebut juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hubungan masyarakat dengan pihak perusahaan baik-baik saja.

Pencemaran yang terjadi di Kampung Tangsi, Desa Sukadanau menyebabkan tingkat kesehatan masyarakat menurun. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa penggunaan air dan udara yang tercemar akibat limbah pabrik oleh masyarakat. Masyarakat yang mengalami penurunan kesehatan mengharuskan masyarakat untuk melakukan pengobatan agar tidak membahayakan tubuh manusia dalam jangka panjang.

6.8 Analisis Pembangunan Berkelanjutan Industri

(18)

daya manusia dengan menyerasikan sumber alam dan manusia dalam pembangunan.

Menurut Salim, konsep pembangunan berkelanjutan didasari oleh lima ide pokok besar yaitu pertama, proses pembangunan harus berlangsung secara berlanjut, terus-menerus, dan kontinyu, yang ditopang oleh sumber daya alam, kualitas lingkungan, dan manusia yang berkembang secara berlanjut pula. Kedua, sumber daya alam (terutama udara, air, dan tanah) memiliki ambang batas, di mana penggunaannya akan menurunkan kuantitas, dan kualitasnya. Ketiga, kualitas lingkungan berkorelasi langsung dengan kualitas hidup. Keempat, bahwa pola penggunaan sumber daya alam saat ini seharusnya tidak menutup kemungkinan memilih pilihan lain di masa depan. Kelima, pembangunan berkelanjutan mengandaikan solidaritas transgenerasi, sehingga kesejahteraan bagi generasi sekarang tidak mengurangi kemungkinan bagi generasi selanjutnya untuk meningkatkan kesejahteraannya pula.

Berdasarkan definisi tersebut di atas, industri yang berada di Kampung Tangsi terlihat dari aspek ekonomi tidak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar kawasan. Hal ini disebabkan oleh kesempatan bekerja bagi masyarakat asli tidak berhubungan dengan hadirnya industri, sedangkan untuk masyarakat pendatang kesempatan bekerja di perusahaan sangat luas meskipun pendapatan yang dihasilkan dari bekerja tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada aspek sosial, hadirnya industri tidak mempengaruhi hubungan sosial masyarakat baik sesama masyarakat lokal maupun antar masyarakat lokal dengan pendatang. Hal ini terlihat dari beberapa pendapat masyarakat yang mengatakan hubungan antar sesama masyarakat lokal atau antar masyarakat lokal dengan pendatang masih terjalin kontak dan komunikasi serta peduli dan masih suka membantu. Meskipun terdapat kegiatan sosial seperti arisan, pengajian, dan gotong royong membersihkan lingkungan, hal tersebut sudah terjalin sebelum datangnya industri.

(19)

Figur

Gambar 17. Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Air Sebelum

Gambar 17.

Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Air Sebelum p.2
Gambar 18. Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Air Setelah

Gambar 18.

Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Air Setelah p.3
Gambar 19 Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Udara Sebelum

Gambar 19

Persentase Pendapat Responden Mengenai Kondisi Udara Sebelum p.5
Gambar 21. Persentase Pendapat Responden Mengenai Tingkat Kebisingan Mesin

Gambar 21.

Persentase Pendapat Responden Mengenai Tingkat Kebisingan Mesin p.8
Gambar 22. Persentase Pendapat Responden Mengenai Tingkat Kebisingan

Gambar 22.

Persentase Pendapat Responden Mengenai Tingkat Kebisingan p.9
Gambar 23. Persentase Pendapat Responden Mengenai Tingkat Kecelakaan

Gambar 23.

Persentase Pendapat Responden Mengenai Tingkat Kecelakaan p.11
Gambar 24. Persentase Tingkat Kesehatan Masyarakat Kampung Tangsi

Gambar 24.

Persentase Tingkat Kesehatan Masyarakat Kampung Tangsi p.13
Gambar 25. Persentase Frekuensi Pengobatan Responden Berdasarkan Lapisan

Gambar 25.

Persentase Frekuensi Pengobatan Responden Berdasarkan Lapisan p.14
Tabel 8. Dampak Sosial Ekologi Akibat Aktivitas Industri Manufaktur Terhadap Masyarakat Kampung Tangsi, Desa Sukadanau 2011

Tabel 8.

Dampak Sosial Ekologi Akibat Aktivitas Industri Manufaktur Terhadap Masyarakat Kampung Tangsi, Desa Sukadanau 2011 p.16

Referensi

Memperbarui...