Masalah-Masalah Belajar serta
Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu TugasMata Kuliah Belajar dan Pembelajaran
Oleh :
Program Studi Pendidikan Matematika
Jurusan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Makassar
2014
Andi Arni Ramdhana Arfah (1211041026)
Andi Tenritte (1211040012)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Masalah-Masalah Belajar serta Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum” sebagaimana penulis harapkan.
Makalah ini di buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.
Kami menyadari tanpa kerja sama antara dosen mata kuliah strategi pembelajaran matematika dan penulis serta beberapa kerabat yang memberi berbagai masukan yang bermanfaat bagi penulis demi tersusunnya makalah ini. Untuk itu penulis mengucapakan terima kasih kepada pihak yamg tersebut di atas yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan saran demi kelancaran penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Kami mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun.
Makassar, 2 Mei 2014
Penulis
HALAMAN JUDUL... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
BAB 1 PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang
... 1
B. Rumusan Masalah
... 1
C. Tujuan Penulisan
... 2
BAB 2 PEMBAHASAN... 3
A. Masalah-Masalah Belajar
... 3
B. Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum
... 14
BAB III PENUTUP... 23
... 23
B. Saran
... 24
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tugas utama seorang guru adalah membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa bila guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah ditemukan hal-hal bahwa guru telah mengajar dengan baik, ada siswa belajar dengan giat, ada siswa pura-pura belajar, ada siswa belajar setengah hati, bahkan ada pula siswa yang tidak belajar.
Guru bingung menghadapi keadaan siswa. Guru kemudian berkonsultasi dengan konselor sekolah. Kedua petugas pendidikan tersebut menemukan adanya masalah-masalah yang dialami siswa. Ada masalah yang dapat dipecahkan oleh konselor sekolah. Ada pula masalah yang harus dikonsultasikan dengan ahli psikologi. Guru menyadari bahwa dalam tugas pembelajaran ternyata ada masalah-masalah belajar yang dialami oleh siswa. Bahkan guru memahami bahwa kondisi lingkungan siswa juga dapat menjadi sumber timbulnya masalah-masalah belajar.
Selain itu, guru dapat dikatakan sebagai pemegang peran penting dalam pengimplementasian kurikulum, baik dalam rancangan maupun dalam tindakannya. Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang calon guru dikenalkan dengan kurikulum yang akan banyak digaulinya pada saatnya nanti. Pengenalan terhadap kurikulum, tidak saja terbatas pada pengertian kurikulum saja. Lebih dari itu yang penting adalah berkenaan dengan pengembangan kurikulum.
Dengan latar belakang itulah, maka kami menyusun makalah yang berjudul “Masalah-Masalah Belajar serta Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum”. B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
2. Apa saja faktor-faktor ekstern yang berpengaruh pada aktivitas belajar siswa ?
3. Bagaimana cara menemukan masalah-masalah belajar yang dihadapi oleh siswa ?
4. Apa yang dimaksud dengan kurikulum dan bagaimana landasan pengembangannya ?
5. Apa saja komponen dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum ? 6. Bagaimana model-model pengembangan kurikulum ?
7. Bagaimana kaitan antara guru dan pengembangan kurikulum ? C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui masalah-masalah intern yang dialami siswa dalam belajar.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor ekstern yang berpengaruh pada aktivitas belajar siswa.
3. Untuk mengetahui cara menemukan masalah-masalah belajar yang dihadapi oleh siswa.
4. Untuk mengetahui pengertian kurikulum dan landasan pengembangannya. 5. Untuk mengetahui komponen dan prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum.
6. Untuk mengetahui model-model pengembangan kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
MASALAH-MASALAH BELAJAR
A. Masalah-Masalah Intern Belajar
Dalam interaksi belajar mengajar ditemukan bahwa proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan kunci keberhasilan belajar dan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar.
Aktivitas mempelajari bahan belajar tersebut memakan waktu. Lama waktu mempelajari juga tergantung pada jenis dan sifat bahan. Lama waktu mempelajari juga tergantung pada kemampuan siswa. Jika bahan belajarnya sukar dan siswa kurang mampu, maka dapat diduga bahwa proses belajar memakan waktu lama. Sebaliknya, jika bahan belajar mudah dan siswa berkemampuan tinggi, maka proses belajar memakan waktu singkat.
Pada kegiatan belajar dan mengajar di sekolah ditemukan dua subjek, yaitu siswa dan guru. Proses belajar sesuatu dialami oleh siswa dan aktivitas belajar sesuatu dapat diamati oleh guru. Dalam proses belajar, ditemukan tiga tahap penting yaitu :
1. Sebelum belajar yaitu mencakup ciri khas pribadi, minat, kecakapan, pengalaman, dan keinginan belajar.
2. Proses belajar, yaitu suatu kegiatan yang dialami dan dihayati oleh siswa sendiri. Kegiatan atau proses belajar ini terpengaruh oleh sikap, motivasi, konsentrasi, mengolah, menyimpan, menggali, dan unjuk berprestasi. 3. Sesudah belajar merupakan tahap untuk prestasi hasil belajar. Secara
wajar, diharapkan agar hasil belajar menjadi lebih baik bila dibandingkan dengan keadaan sebelum belajar.
masalah-masalah secara intern. Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa berpengaruh pada proses belajar sebagai berikut :
a. Sikap terhadap belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu. Siswa memperoleh kesempatan belajar. Meskipun demikian, siswa dapat menerima, menolak, atau mengabaikan kesempatan belajar tersebut. Sebagai ilustrasi, seorang siswa yang tidak lulus ujian matematika menolak ikut ulangan di kelas lain. Akibat penerimaan, penolakan, atau pengabaian kesempatan belajar tersebut akan berpengaruh pada perkembangan kepribadian siswa.
b. Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi belajar pada diri siswa dapat menjadi lemah. Lemahnya motivasi akan melemahkan kegiatan belajar sehingga mutu hasil belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu, agar siswa memiliki motivasi belajar yang kuat, pada tempatnya diciptakan suasana belajar yang menggembirakan.
c. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran yang tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian pada pelajaran, guru perlu menggunakan bermacam-macam strategi belajar mengajar dan memperhitungkan waktu belajar serta selingan istirahat. Dalam pengajaran, kekuatan perhatian siswa selama tiga puluh menit telah menurun. Sehingga guru disarankan agar memberikan istirahat selingan selama beberapa menit. Dengan selingan istirahat tersebut, prestasi belajar siswa akan meningkat kembali.
d. Mengolah Bahan Belajar
e. Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan pesan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek maupun lama. Dalam waktu pendek, berarti hasil belajar cepat dilupakan. Sementara, dalam waktu lama berarti hasil belajar tetap dimiliki siswa. Pemilikan itu dalam waktu bertahun-tahun, bahkan sepanjang hayat.
Proses belajar terdiri dari proses pemasukan, proses pengolahan kembali dan hasil, serta proses penggunaan kembali. Dalam kehidupan sebenarnya tidak berarti bahwa semua proses tersebut berjalan lancar. Ada siswa yang mengalami kesukaran dalam proses penyimpanan, dan sebagainya. Akibatnya, proses penggunaan hasil belajar akan terganggu dan kurang baik.
f. Menggali Hasil Belajar yang Tersimpan
Menggali hasil belajar tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah terterima. Dalam hal pesan baru, maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali atau mengaitkannya dengan bahan lama.
Ada kalanya siswa juga mengalami gangguan dalam menggali pesan dan kesan lama. Gangguan tersebut dapat bersumber dari kesukaran penerimaan, pengolahan, dan penyimpanan. Jika siswa tidak berlatih sungguh-sungguh, maka siswa tidak berketerampilan dengan baik.
g. Kemampuan Berprestasi atau Unjuk Hasil Belajar
dalam waktu tertentu, pesan terlupakan dapat diingat kembali. Bila pesan tersebut sudah dibangkitkan maka dapat digunakan untuk unjuk prestasi belajar maupun transfer belajar.
h. Rasa Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan teman sejawat siswa. Makin sering siswa berhasil mengerjakan tugas, maka rasa percaya diri semakin kuat. Begitu pun sebaliknya, kegagalan yang berulang kali dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri dan siswa akan takut belajar.
Guru harus mendorong keberanian siswa terus menerus, memberikan bermacam-macam penguat, dan memberikan pengakuan dan kepercayaan bila siswa telah berhasil. Sebagai ilustrasi, siswa yang gagal ujian bahasa Inggris, bila dimotivasi terus akhirnya akan berhasil lulus. Bahkan bila kepercayaan dirinya timbul, ia dapat lulus pada saat ujian akhir dengan nilai baik pada mata pelajaran bahasa Inggris.
i. Intelegensi dan Keberhasilan Belajar
Intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Intelegensi dianggap sebagai suatu norma umum dalam keberhasilan belajar.
Di Indonesia, ditemukan banyak siswa memperoleh angka hasil belajar yang rendah. Hal itu disebabkan oleh faktor-faktor seperti :
1) Kurangnya fasilitas belajar di sekolah dan rumah di berbagai pelosok. 2) Siswa makin dihadapkan oleh berbagai pilihan dan mereka merasa ragu
dan takut gagal.
3) Kurangnya dorongan mental dari orang tua karena orang tua tidak memahami apa yang dipelajari oleh anaknya di sekolah.
4) Keadaan gizi yang rendah sehingga siswa tidak mampu belajar yang lebih baik.
kerja yang bermutu rendah. Oleh karena itu, siswa didorong untuk belajar di bidang-bidang keterampilan sebagai bekal hidup.
j. Kebiasaan Belajar
Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik seperti: belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambat bergaya pemimpin, bergaya jantan seperti merokok, sok menggurui teman lain, dan bergaya minta belas kasihan tanpa belajar.
Untuk sebagian, kebiasaan belajar tersebut disebabkan oleh ketidakmengertian siswa pada arti belajar bagi diri sendiri. Hal ini dapat diperbaiki dengan pembinaan disiplin membelajarkan siswa dan pembinaan petunjuk tokoh teladan yang dapat menyadarkan siswa tentang pentingnya belajar. Pemberian penguat dalam keberhasilan belajar dapat mengurangi kebiasaan kurang baik dan membangkitkan harga diri siswa.
k. Cita-Cita Siswa
Cita-cita sebagai motivasi intrinsik perlu dididikkan. Didikan memiliki cita-cita harus dimulai sejak sekolah dasar. Cita-cita-cita merupakan wujud eksplorasi dan emansipasi diri siswa. Didikan pemilikan dan pencapaian cita-cita sebaiknya berpangkal dari kemampuan berprestasi, dimulai dari hal yang sederhana ke hal yang semakin sulit. Dalam mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi, maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri.
B. Faktor-Faktor Ekstern Belajar
Lingkungan merupakan salah satu pendorong proses belajar siswa. Aktivitas belajar dapat meningkat apabila program pembelajaran disusun dengan baik. Program pembelajaran sebagai rakayasa pendidikan guru di sekolah merupakan faktor ekstern belajar. Ditinjau dari segi siswa, ditemuka beberapa faktor ekstern yang berpengaruh pada aktivitas belajar, diantaranya :
Guru adalah pengajar yang mendidik. Sebagai pendidik, guru memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, khusunya mengenai kebangkitan belajar yang merupakan wujud emansipasi diri siswa. Sebagai guru yang pengajar, ia bertugas mengelolah kegiatan belajar siswa di sekolah. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang mengembangkan diri menjadi pribadi utuh, dan menyandang profesi guru bidang studi tertentu. Guru menumbuhkan diri secara profesional, bekerja dan bertugas mempelajari profesi guru sepanjang hayat. Hal-hal yang dipelajari oleh setiap guru, adalah:
a. Memiliki integritas moral kepribadian
b. Memiliki integritas intelektual berorientasi kebenaran
c. Memiliki integritas religius dalam kontaks pergaulan dalam masyarakat majemuk
d. Mempertinggi mutu keahlian bidang studi sesuai dengan kemampuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
e. Memehami, menghayati, dan mengamalkan etika profesi guru f. Bergabung dengan asosiasi perofesi
g. Mengakui dan menghormati martabat siswa sebagai klien guru Adapun tugas pengelolaan pembelajaran siswa, meliputi :
a. Membangun hubungan baik dengan siswa
b. Menggairahkan minat, perhatian, dan memperkuat motivasi belajar c. Mengorganisasi belajar
d. Melaksanakan pendekatan pembelajaran secara tepat e. Mengevaluasi hasil belajar secara jujur dan objektif
f. Melaporkan hasil belajar siswa pada orang tuanya guna orientasi masa depan siswa
2. Prasarana dan Sarana Pembelajaran
belajar sehingga menuntut guru dan siswa dalam menggunakannya. Dengan adanya peran siswa diharapkan dapat mengatasi masalah kebiasaan menggunakan prasarana dan sarana yang kurang baik.
Adapun peran siswa terhadap prasarana dan sarana pembelajaran, yakni : a. Ikut serta memelihara dan mengatur prasarana dan sarana secara baik. b. Ikut serta dan berperan aktif dalam pemanfaatan prasarana dan sarana
secara tepat guna.
c. Menghormati sekolah sebagai pusat pembelajaran dalam rangka pencerdasan kehidupan generasi muda bangsa.
d. Adapun peran guru terhadap prasarana dan sarana pembelajaran, yakni : e. Memelihara dan mengatur prasarana untuk menciptakan suasana belajar
yang menggembirakan.
f. Memelihara dan mengatur sasaran pembelajaran yang berorientasi pada keberhasilan siswa belajar.
g. Mengorganisasi belajar siswa sesuai dengan prasarana dan sarana secara tepat guna.
3. Kebijakan Penilaian
Hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa merupakan puncak dari suatu proses belajar yang ditandai dengan adanya penilaian, yakni sesuatu dipandang berharga, bermutu dan bernilai. Penilaian hasil belajar ditentukan oleh guru sebagai pemegang kunci pembelajaran. Guru menyusun desain menyusun desain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil dari proses belajar, atau hasil pembelajaran yang terkait dengan bahan pelajaran. Siswa merupakan pelaku aktif dalam belajar, sedangkan guru merupakan pelaku aktif pembelajaran.
tingkat sekolah, wilayah, dan tingkat nasional. Dengan ukuran tersebut siswa dapat digolongkan lulus dan tidak lulus. Dari segi proses belajar, keputusan tentang hasil belajar berpengaruh pada tindak siswa dan tindak guru, yang merupakan umpan balik bagi siswa dan guru.
4. Lingkungan Sosial Siswa di Sekolah
Siswa-siswa di sekolah membentuk suatu lingkungan pergaulan, yang dikenal dengan lingkungan sosial siswa. Tiap siswa dalam lingkungan sosial memiliki kedudukan, peranan, dan tanggung jawab sosial tertentu. Selain itu, tiap siswa dalam lingkungan sosial di sekolah memiliki peran dan kedudukan yang diakui oleh sesamanya. Adapun pengaruh lingkungan sosial tersebut, berupa :
a. Pengaruh kejiwaan yang bersifat menerima atau menolak siswa, yang dapat memperkuat dan melemahkan konsentrasi belajar.
b. Lingkungan sosial terwujud dalam suasana akrab, gembira, rukun dan damai; serta sebaliknya terwujud dalam suasana perselisihan, bersaing, dan saling menyalahkan. Suasana kejiwaan tersebut berpengaruh pada semangat dan proses belajar siswa.
c. Lingkungan sosial siswa di sekolah atau di kelas dapat berpengaruh pada semangat belajar kelas.
Begitupun dengan guru, tiap guru akan disikapi secara tertentu oleh lingkungan sosial siswa. Sikap positif dan negatif terhadap guru tergantung pada kewibawaan guru.
5. Kurikulum Sekolah
Program pembelajaran di sekolah didasarkan pada suatu kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau kurikulum yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan. Kurikulum sekolah berisi tujuan pendidikan, isi pendidikan, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Program pembelajaran di sekolah sesuai dengan sistem pendidikan nasional, dimana guru menyusun desain instruksional untuk membelajarkan siswa berdasarkan kurikulum yang berlaku. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyarakat, yakni suatu rencana pembangunan lima tahunan yang diberlakukan oleh pemerintah.
a. Tujuan yang akan dicapai mungkin berubah b. Isi pendidikan berubah
c. Kegiatan belajar mengajar berubah d. Evaluasi berubah
Perubahan kurikulum sekolah tidak hanya menimbulkan masalah bagi guru dan siswa, tetapi juga petugas pendidikan dan orang tua siswa. Guru perlu mengadakan perubahan pembelajaran, sedangkan siswa perlu mempelajari cara-cara belajar, buku pelajaran dan sumber belajar yang baru. Begitupun dengan petugas pendidikan, ia perlu mempelajari tata kerja pada kurikulum baru. Sedangkan bagi orang tua, mereka perlu mempelajari maksud, tata kerja, teknik belajar, peran guru, dan peran siswa dalam belajar pada kurikulum baru.
C. Cara Menentukan Masalah-Masalah dalam Belajar
Program pembelajaran merupakan hal yang kompleks yakni konstruksi kurikulum dan pemberlakuan kurikulum sekolah, tugas guru menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, serta peran siswa dalam proses belajar yang sesuai kurikulum yang berlaku.
a. Pengamatan Perilaku Belajar
Sekolah merupakan pusat pembelajaran. Guru bertindak menjelaskan dan siswa bertindak belajar. Sebagai lazimnya tindakan seseorang maka tindakan tersebut dapat diamati sebagai perilaku belajar, dan tindakan belajar itu sendiri dialami oleh siswa. Denagn kata lain perilaku belajar menurut pengamat sedangkan tindakan belajar merupakan gejala belajar yang dialami dan dihayati oleh siswa. Guru selaku pembelajar bertindak membelajarkan, dengan mengajar. Guru juga selaku pengamat terhadap perilaku siswa
b. Analisis Hasil Belajar
yang harus dikuasai dan dikerjakan sendiri oleh guru. Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menganalisis hasil belajar yaitu :
1) Merencanakan analisis sejak awal semester
2) Merencanakan jenis-jenis pekerjaan siswa yang merupakan hasil belajar 3) Merencanakan jenis-jenis ujian dan alat evaluasi
4) Mengumpulkan hasil belajar siswa
5) Melakukan analisis secara statistik tentang angka perolehan ujian dan karya siswa
6) Mempertimbangkan hasil pengamatan pada kegiatan belajar siswa 7) Mempertimbangkan tingkat kesukaran pada bahan ajar
8) Memperhatikan kondisi-kondisi ekstern maupun intern yang terjadi dalam pembelajaran
9) Memberikan angket evaluasi pada akhir semester c. Tes Hasil Belajar
PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
A. Kurikulum dan Landasan Pengembangan Kurikulum 1. Pengertian Kurikulum
Kata “kurikulum” berasal dari satu kata bahasa Latin yang berarti “jalur pacu”, dan secara tradisional, kurikulum sekolah disajikan seperti ibarat jalan bagi kebanyakan orang.
Dalam UU Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 1 (9) menyebutkan bahwa : “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan kegiatan belajar mengajar”. Sedangkan dalam Pasal 37 menyebutkan : “Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan”.
Adapun konsep-konsep kurikulum terdiri atas : a. Kurikulum Sebagai Jalan Meraih Ijazah
Kurikulum merupakan syarat mutlak dalam pendidikan formal. Tidak ada pendidikan formal tanpa ada kurikulum. Kurikulum merupakan jalan yang berisi sejumlah mata pelajaran/bidang studi dan isi pelajaran yang harus dilalui untuk meraih ijazah.
b. Kurikulum Sebagai Mata dan Isi Pelajaran
Kurikulum sebagai jalan meraih ijazah mengisyaratkan adanya sejumlah mata pelajaran/bidang studi dan isi pelajaran yang harus diselesaikan oleh siswa. Isi dari pelajaran tertentu dalam program pembelajaran dikatakan sebagai kurikulum.
c. Kurikulum Sebagai Rencana Kegiatan Pembelajaran
akademi atau universitas dan para anggota stafnya. Kurikulum merupakan satu rancangan untuk menyediakan seperangkat kesempatan belajar agar mencapai tujuan.
d. Kurikulum Sebagai Hasil Belajar
Semua rencana hasil belajar yang merupakan tanggung jawab sekolah adalah kurikulum. Kurikulum sebaagi rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman, yang secara sistematis dikembangkan dengan bantuan sekolah (atau universitas), agar memungkinkan siswa menambah penguasaan pengetahuan dan pengalamannya.
e. Kurikulum Sebagai Pengalaman Belajar
Setiap orang yang terlibat dalam pengimplementasian kurikulum akan memperoleh pengalaman belajar. Semua yang dipakai oleh sekolah untuk menyediakan kesempatan-kesempatan bagi siswa memperoleh pengalaman belajar yang diperlukan adalah kurikulum. Kurikulum sebagai pengalaman belajar mencakup pula tugas-tugas belajar yang diberikan oleh guru untuk dikerjakan siswa dirumah.
2. Landasan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan wahana belajar mengajar yang dinamis sehingga perlu dinilai dan dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan sesuai dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat. Adapun yang dimaksud dengan pengembangan kurikulum adalah suatu proses yang menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan berjalan. Agar pengembangan kurikulum dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan, maka dalam pengembangan kurikulum diperlukan landasan-landasan pengembangan kurikulum yaitu:
a. Landasan Filosofis
yakni nilai dasar yang merupakan falsafah dalam pendidikan manusia seutuhnya yaitu Pancasila.
b. Landasan Sosial-Budaya-Agama
Realitas sosial budaya agama yang ada dalam masyarakat merupakan bahan kajian pengembangan kurikulum untuk digunakan sebagai landasan peengembangan kurikulum. Nilai-nilai keagamaan berhubungan erat dengan kepercayaan masyarakat terhadap ajaran dan nilai-nilai agama yang mereka anut. Nilai sosial budaya masyarakat bersumber pada hasil karya akal budi manusia. Untuk melaksanakan penerimaan, penyebarluasan, pelestarian, atau penolakan dan pelepasan nilai-nilai sosial budaya agama, maka masyarakat memanfaatkan pendidikan yang dirancang melalui kurikulum.
c. Landasan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni
Sumber ratusan ribu nilai yang ada dalam masyarakat untuk dikembangkan melalui proses pendidikan ada tiga yaitu : pikiran (logika), perasaan (estetika), dan kemauan (etika). Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah nilai-nilai yang bersumber pada pikiran atau logika, sedangkan seni bersumber pada perasaan atau estetika. Mengingat pendidikan merupakan upaya penyiapan siswa menghadapi perubahan yang semakin pesat, termasuk didalamnya perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, maka pengembangan kurikulum haruslah berlandaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks).
d. Landasan Kebutuhan Masyarakat
Adanya falsafah hidup, perubahan sosial budaya agama, perubahan ipteks dalam suatu masyarakat akan merubah pula kebutuhan masyarakat. Masyarakat modern berbeda dengan masyarakat tradisional, begitupun antara masyarakat kota dan pedesaan. Adanya perbedaan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain sebagian besar disebabkan oleh kualitas individu-individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut.
Oleh karena itu, pengembangan kurikulum yang hanya berdasarkan pada keterampilan dasar saja tidak akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat modern yang bersifat teknologis. Pengembangan kurikulum juga harus ditekankan pada pengembangan individu yang mencakup keterkaitannya dengan lingkungan sosial setempat.
Salah satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang. Perkembangan masyarakat dipengaruhi oleh falsafah hidup, nilai-nilai, ipteks, dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat. Perkembangan masyarakat akan menuntut tersedianya proses pendidikan yang sesuai maka diperlukan rancangannya berupa kurikulum yang landasan pengembangannya berupa perkembangan masyarakat itu sendiri.
B. Komponen dan Prinsi-Prinsip Pengembangan Kurikulum 1. Komponen Kurikulum
Sebelum melaksanakan kegiatan pengembangan kurikulum, seorang pengembang terlebih dahulu mengenal komponen/elemen atau unsur kurikulum. Menurut ahli terdapat beberapa komponen kurikulum, diantaranya:
a. Tujuan
Menurut Zais (1976), tujuan sebagai komponen kurikulum merupakan kekuatan-kekuatan fundamental yang peka karena hasil kurikuler yang diinginkan tidak hanya mempengaruhi bentuk kurikulum tetapi memberikan arah dan fokus untuk seluruh program pendidikan. Zais (1976) mengklasifikasikan tujuan menjadi tiga yakni aims, goals, dan objektivis, yang ketiganya merupakan suatu herarki vertikal. Herarki vertikal tujuan kurikulum di Indonesia, yaitu tujuan nasional, tujuan kelembagaan, tujuan kurikuler, dan tujuan pengajaran. Adanya herarki tujuan kurikulum diharapkan dapat memudahkan guru menjabarkannya.
b. Materi/Pengalaman Belajar
Hal merupakan fungsi khusus dari kurikulum pendidikan formal adalah memilih dan menyusun isi/bahan ajaran agar tujuan kurikulum dapat dicapai dengan cara paling efektif dan agar pengetahuan paling penting disajikan secara efektif pada jalurnya. Selain isi/bahan ajaran dalam kegiatan pengembanga kurikulum, juga dibutuhkan pengalaman belajar yang mampu mendukung pencapaian tujuan secara lebih efektif. Materi/isi kurikulum dan pengalaman belajar harus dipikirkan dan dikaji serta diorganisasikan dalam pengembangan kurikulum.
c. Organisasi
untuk belajar, maka isi dan pengalaman belajar membutuhkan pengorganisasian sedemikian rupa sehingga berguna bagi tujuan-tujuan pendidikan. Namun pengorganisasian kurikulum merupakan kegiatan yang sulit dan kompleks sebab berkaitan dengan aplikasi semua pengetahuan yang ada tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, dan masalah proses pembelajaran.
d. Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian integral dalam kurikulum. Kegiatan evaluasi akan memberikan informasi dan data tentang perkembangan belajar siswa maupun keefektivan kurikulum dan pembelajaran, sehinga dapat dibuat keputusan-keputusan pembelajaran dan pendidikan secara tepat.peran evaluasi dalam kurikulum secara keseluruhan dapat dijadikan sebagai landasan pengembangan kuruikulum.
Keempat komponen kurikulum diatas saling terkait satu sama lain, guru terlibat dan berperan dalam menyelaraskan empat komponen tersebut.
2. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Ada berbagai prinsip pengembangan kurikulum yang merupakan kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut. Berbagai prinsip pengembangan kurikulum tersebut diantaranya prinsip berorientasi pada tujuan, prinsip relevansi, prinsip efesiensi, prinsip efektivitas, prinsip fleksibilitas, prinsip integritas, prinsip kontinuitas, prinsip sinkronisasi, prinsip objektivitas, prinsip demokrasi dan prinsip praktis.
a. Prinsip Relevansi
dengan kebutuhan masyarakat. Nana Sy. Sukmadinata (1988) membedakan relevansi menjadi dua macam yaitu relevansi ke luar dan relevansi ke dalam. b. Prinsip Kontinuitas
Prinsip kontinuitas atau berkesinambungan menghendaki pengembangan kurikulum yang berkesinambungan secara vertikal dan secara horizontal. Berkesinambungan secara vertikal (berjenjang) artinya jenjang pendidikan yang satu dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kurikulumnya dikembangkan secara berkesinambungan tanpa ada jarak diantara keduanya, atau adanya kerjasama antara pengembangan kurikulum setiap jenjang pendidikan. Sedangkan berkesinambungan horizontal (berkelanjuran) artinya pengembangan kurikulum jenjang pendidikan dan tingkat yang sama tidak terputus-putus dan merupakan pengembangan yang terpadu.
c. Prinsip Fleksibilitas
Prinsip fleksibilitas menuntut adanya keluwesan dalam mengembangkan kurikulum tanpa mengorbangkan tujuan yang hendak dicapai. Keluwesan diartikan sebagai kelenturan melakukan penyesuaian-penyesuaian komponen kurikulum dengan setiap situasi dan kondisi yang selalu berubah.
Komponen kurikulum dan prinsip-prinsip kurikulum memiliki keterkaitan satu sama lain. Pengembangan kurikulum dengan sendirinya selalu berkenaan dengan komponen-komponen kurikulum dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum sekaligus.
C. Model – Model Pengembangan Kurikulum
Untuk melakukan pengembangan kurikulum ada berbagai model pengembangan kurikulum yang dapat dijadikan acuan. Berikut akan diuraikan tentang beberapa model kurikulum yang bisa digunakan :
1. Model Administratif
dokumen.Model administratif semua inisitif dan upaya pengembangan kurikulum dari atas yang bersifat top-down dari atasan ke bawahan.
2. Model Grass-Roots
Model Grass-Roots merupakan model yang bersifta bottom-up (dari bawah ke atas) dan disentralisasi. Model ini dapat mengupayakan pengembangan sebagaian komponen-komponen kurikulum dapat keseluruhan, dapat pula sebagain dari keseluruhann komponen kurikulum atau keseluruhan dari seluruh komponen kurikulum.
3. Model Beauchmap
Ada lima tahap pembuatan keputusan :
a. Memutuskan arena pengembangan kurikulum
b. Memilih dan melibatkan personalianpengambangan kurikulum c. Pengorganisasian dan prosedur pengembangan kurikulum d. Implementasi kurikulum
e. Evaluasi kurikulum 4. Model Arah terbalik Taba
Model ini bersifat terbalik yakni dari deduktif dibalik menjadi induktif. Ada lima langkah dalam tahap pengembangn kurikulum ini yaitu :
a. Membuat unit-unit percobaan b. Menguji unit-unit eksperimen c. Merevisi dan mengkonsolidasi d. Mengembangkan jaringan kerja
e. Memasang dan mendeseminasi unit-unit yang baru 5. Model Rogers
Model relasi interpersonal Roger terdiri dari empat langkah pengembangan kurikulum yakni :
a. Pemilihan satu sistem sasaran
b. Pengalaman kelompok yang intensif bagi guru
c. Pengembangan suatu pengalaman kelompok yang intesif bagi satu kelas atau unit pelajaran
d. Melibatkan orang tua dalam pengalaman kelompok yang intesif
Dari tahap yang dikemukakan Roger tidak ada satupun yang mengemukakan tentang rancangan tertulis karena Roger lebih mementingkan kegiatan pengembangan kurikulum daripada rancangan kegiatan kurikulum yang tertulis, yakni melalui aktifitas dan interaksi dalam oengalaman kelompok intensif yang terpilih.
Hakikat Pembelajaran :
a. Kegiatan yang dimaksudkan untuk membelajarkan pembelajar
b. Program pembelajaran dirancang dan diimplementasikan sebagai suatu sistem
c. Kegiatan yang dimaksud untuk memberikan pengalaman belajar kepada pembelajar
d. Kegiatan yang mengarahkan pembelajar ke arah pencapaian tujuan pembelajaran
e. Melibatkan komponen-komponen tujuan, isi pelajaran, sistem penyajian, dan sistem evaluasi dalam realisasinya
Hakikat Kurikulum :
a. Kurikulum sebagai jalan memperoleh ijazah b. Kurikulum sebagai mata dan isi pelajaran
c. Kurikulum sebagai rencana kegiatan pembelajaran d. Kurikulum sebagai hasil belajar
e. Kurikulum sebagai pengalaman belajar
Dari uraian hakikat pembelajaran dan hakikat kurikulum maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dan kurikulum merupaka hal yang tidak dapat dipisahkan, dimana guru sebagai orang yang berkewajiban merencanakan pembelajaran selalu mengacu pada kurikulum yang berlaku.
2. Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum
Guru adalah orang yang tahu persis situasi dan kondisi yang diterapkannya dalam kurikulum yang berlaku, selain itu guru bertanggung jawab atas terciptanya hasil belajar yang diinginkan (Raka Joni, 1983: 26).
Peran guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi diwujudkan dalam bentuk bentuk :
a. Merumuskan tujuan khusus pengajaran b. Merencanakan kegiatan pembelajaran c. Menerapkan rencana/program pembelajaran
d. Mengevaluasi hasil dan proses belajar pada pembelajaran
e. Mengevaluasi interaksi komponen-komponen kurikulum yang diimplementasikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpul
1. Adapun masalah- masalah intern yang mempengaruhi proses belajar siswa yaitu sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, mengolah bahan belajar, menyimpan perolehan hasil belajar, menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar,rasa percaya diri siswa, intelegensi dan keberhasilan belajar, kebiasaan belajar, dan cita-cita siswa.
2. Faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi proses belajar siswa, terdiri atas guru sebagai pembina siswa belajar, prasarana dan sarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan sosial siswa di sekolah, dan kurikulum sekolah.
3. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan kegiatan belajar mengajar.
teknologi dan seni, landasan kebutuhan masyarakat, dan landasan perkembangan masyarakat.
5. Ada empat komponen utama kurikulum, yaitu tujuan, materi/pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi.
6. Terdapat beberapa prinsip pengembangan kurikulum diantaranya prinsip berorientasi pada tujuan, prinsip relevansi, prinsip efesiensi, prinsip efektivitas, prinsip fleksibilitas, prinsip integritas, prinsip kontinuitas, prinsip sinkronisasi, prinsip objektivitas, prinsip demokrasi dan prinsip praktis.
7. Cara menentukan masalah-masalah dalam belajar yaitu dengan pengamatan perilaku belajar, analisis hasil belajar, dan tes hasil belajar 8. Model – Model Pengembangan Kurikulum yaitu Model Administratif,
Model Grass-Roots, Model Beauchmap, Model Arah Terbalik Taba, dan Model Rogers
9. Guru sangat berperan dalam pembelajaran dan pengembangan kurikulum. B. Saran