• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Kawasan Pariwisata kintamani melalui

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengembangan Kawasan Pariwisata kintamani melalui"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Pengembangan Kawasan Pariwisata melalui Pendekatan

Perencanaan Wilayah Partisipatif

Ely Triwulan Dani

Jurusan Ilmu Perencanaan Wilayah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor

Abstrak

Pergeseran paradigma dalam pembangunan menuju pembangunan yang berpusat pada manusia telah mewarnai pembangunan di Indonesia. Sehingga pembangunan yang dimaknai sebagai proses perubahan ke arah yang lebih baik di dalam kehidupan sudah semestinya melibatkan masyarakat sebagai unsur yang tidak terpisahkan. Selain dari sisi pemerintah dan swasta, masyarakat sebaiknya tidak dipandang sebagai objek pembangunan semata. Paradigma baru mengharapkan masyarakat dapat berperan sebagai subjek sekaligus objek pembangunan. Peran semua stakeholdermenjadi penting untuk tercapainya perencanaan wilayah yang partisipatif. Pada konteks pengembangan kawasan pariwisata, dalam proses perencanaan, implementasi, pengawasan dan evaluasi, pemerintah harus sejak awal melibatkan semua pihak terkait, termasuk masyarakat lokal dan juga swasta.

Kata Kunci: Pergeseran Paradigma Pembangunan, Stakeholder, Perencanaan Wilayah Partisipatif, Pengembangan Kawasan Pariwisata

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Potensi pariwisata di Indonesia sangatlah besar. Membentang dari Sabang sampai Merauke dengan segala keaneka ragaman obyek pariwisata, berbagai seni budaya yang menawan dan ketersediaan sarana dan prasara pendukung pariwisata. (PNRI, 2010). Selain itu sub sektor pariwisata pun diharapkan dapat menggerakkan ekonomi rakyat, karena dianggap sektor yang paling siap dari segi fasilitas, sarana dan prasarana dibandingkan dengan sektor usaha lainnya. Harapan ini dikembangkan dalam suatu strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pariwisata yang berbasis kerakyatan atau community-based tourism development (Raharjana, 2010) yang gencar digalakkan di Indonesia dan di daerah-daerah.

(2)

terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi (Santosa, 2002).

Prospek pariwisata ke depan sangat menjanjikan dan berpeluang besar, sehingga para pelaku pariwisata di Indonesia sudah seharusnya melakukan perencanaan yang matang dan terarah untuk menangkap peluang tersebut. Pemanfaatan peluang harus dilakukan melalui pendekatan “re-positioning” keberadaan masing-masing kegiatan pariwisata dimulai dari sejak investasi, promosi, pembuatan produk pariwisata, penyiapan jaringan pemasaran internasional, dan penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas (Santosa, 2002).

Pergesaran paradigma pembangunan yang mengarah kepada people center development dengan memusatkan perhatian kepada keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan. Didukung dengan Lahirnya Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah menjadi langkah awal terjadinya perubahan kebijakan di tingkat nasional, sistem pemerintahan negara yang semula bersifat sentralistik mulai bergeser ke arah desentralisasi. Pemerintah pusat memberikan kewenangan dan keleluasaan yang cukup besar kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah yang nyata, lugas dan bertanggung jawab (Taslim, 2013), termasuk dalam hal pengembangan kawasan pariwisata di daerah.

Pembangunan sektor kepariwisataan menurut Nirwandar (2006) harus ditujukan untuk persatuan dan kesatuan bangsa, penghapusan kemiskinan, pembangunan berkelanjutan, pelestarian budaya, pemenuhan kebutuhan hidup dan hak azazi manusia, peningkatan ekonomi dan industri, serta pengembangan teknologi, ditambah dengan perencanaan yang matang melalui penyiapan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata daerah di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang ditujukan untuk meningkatkan peran serta dan kesejahteraan masyarakat seluas-luasnya.

(3)

2. Perumusan Masalah

Tantangan pengembangan pariwisata di Indonesia sudah selayaknya dijawab dengan perencanaan pengembangan kawasan pariwisata melalui sebuah pendekatan yang mampu menjadikannya berkelanjutan. Keberhasilan sebuah pembangunan harus dapat dirasakan semua pihak terutama masyarakat lokal sebagai pelaku utama pembangunan dan pemerintah sebagai fasilitator sedangkan swasta bergerak sebagai pendukung. Pengembangan pariwisata menurut Joyosuharto (1995) dalam Nurhadi, et al. memiliki tiga fungsi, yaitu: 1) menggalakkan ekonomi, 2) memelihara kepribadian bangsa dan kelestarian fungsi dan mutu lingkungan hidup, dan 3) memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa. Maka sebagai bangsa yang kaya akan potensi pariwisata Indonesia harus mampu menyelaraskan ketiga fungsi tersebut.

Kondisi wilayah yang beragam di Indonesia tentunya menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan wilayah terutama yang berbasis pariwisata. Sudah pasti metode yang digunakan tidak bisa diseragamkan, mengingat kondisi alam dan juga masyarakat daerah yang unik. Perlu strategi cerdas dalam mengembangkan kawasan pariwisata, semua pihak harus terlibat dan dilibatkan. Semua pendekatan juga harus digunakan baik dari sisi top down maupun bottom up. Sudah bukan masanya lagi masyarakat diabaikan, karena peran serta masyarakat menjadi kekuatan tersendiri dalam pengembangan suatu wilayah, khususnya yang berbasi pariwisata.

3. Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui unsur-unsur yang terkait dengan perencanaan wilayah partisipatif, selanjutnya menganalisa keterlibatan masyarakat dalam pengembangan suatu wilayah terutama dalam sektor pariwisata, serta merumuskan suatu model pengembangan kawasan pariwisata yang mengedepankan partisipasi masyarakat.

KERANGKA PEMIKIRAN

Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah lahir sebagai salah satu bentuk hasil dari Pergesaran paradigma pembangunan yang mengarah kepada people center development yang mengarah pada desentralisasi dengan memusatkan perhatian kepada partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan. Di sisi lain sektor pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan tiap daerah dalam mengembangkan wilayahnya.

(4)

program pemberdayaan dan kelembagaan lokal tidak berkembang atau bahkan tidak ada.

Sebagai bagian dari pemerintahan Indonesia yang mulai mencanangkan perencanaan wilayah partisipatif, sudah seyogyanya pemerintah daerah juga menerapkannya dalam pengembangan wilayah di daerah. Pengembangan masyarakat juga harus menjadi konsen pemerintah daerah, bersama-sama dengan masyarakat membangun daerah yang berkelanjutan. Agar dapat memahami bagaimana perencanaan partisipatif itu dilaksanakan dan diintegrasikan dengan pengembangan wilayah berbasis pariwisata maka perlu diketahui proses perencanaan partisipatif. Pelaksanaan pengembangan pariwisata di daerah juga dapat dianalisa dan dikaji sejauh mana perencanaan partisipatif dijadikan pendekatan dalam pengembangan kawasan pariwisata. Hal ini dilakukan dengan membandingkan 4 (empat) kasus pengembangan pariwisata berbasis partisipasi masyarakat yang memiliki lokasi penelitian yang berbeda-beda. Selanjutnya ketika sudah diperoleh gambaran pelaksanaannya dari analisa studi kasus, dibuat suatu model Pengembangan Kawasan Pariwisata melalui Pendekatan Partisipatif.

ANALISA

1. Perencanaan Wilayah Partisipatif

Pembangunan merupakan upaya yang sistematis dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai altenatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik (Rustiadi, 2011). Selanjutnya Rustiadi juga mengatakan bahwa pembangunan merupakan proses memanusiakan manusia. Dapat dikatakan bahwa pemabangunan tersebut harus berkesinambungan dan berorientasi pada pengembangan kualitas hidup manusia. Lebih lanjut Todaro (2000) dalam Rustiadi (2011), berpendapat pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensi yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi institusi nasional disamping tetap mengejar akselarasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan. Jadi pada hakekatnya pembangunan tersebut harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau perubahan suatu system social secara keseluruahan tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar masyarakat dan keinginan individual dan kelompok-kelompok social yang ada dalamnya untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang secara lebih baik dari segi material dan spiritual (Rustiadi, 2011).

(5)

(1) partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, jika hal tersebut tidak ada maka proyek-proyek akan gagal;

(2) mayarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan saat merasa dilibatkan dalam sebuah proses persiapan dan perencanaannya, dikarenakan mereka mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan muncul rasa memiliki pada proyek tersebut;

(3) adanya anggapan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pembangunan

merupakan suatu hak demokrasi.

Conyers (1994) juga menyebutkan beberapa metode yang dapat digunakan dalam proses perencanaan diantaranya: a) survai dan konsultasi lokal, b) penggunaan petugas lapangan yang terampil, c) perencanaan yang bersifat desentralisasi, d) pemerintahan daerah, dan e) pembangunan masyarakat. Namun tidak ada jawaban yang pasti metode mana yang mungkin dapat dilaksanakan, karena banyak hal yang tergantung pada struktur administrasi dan politik yang di dalamnya para perencana harus melibatkan diri mereka, begitupun dengan masalah sumber dana yang ada. Metode-metode yang disebutkan bukanlah satu-satunya alternatif, dimana masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, yang belum tentu akan sesuai untuk semua kondisi dan semua Negara.

Perencanaan partisipatif tidak hanya dilakukan pada salah satu proses dalam pembangunan, namun merupakan kegiatan yang menyeluruh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan/monitoring, sampai evaluasi. Partisipasi dan pemberdayaan masyarakat adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan dalam proses pembangunan partisipatif, dengan tujuannya adalah mencapai pembangunan yang berkelanjutan dalam aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Wacana baru pembangunan berkelanjutan tidak berhenti pada tiga aspek tersebut, namun ada lagi aspek yang penting dan tidak boleh terpisah yaitu kelembagaan, baik yang berupa kebijakan maupun organisasi, baik di tingkat pemerintah maupun masyarakat.

2. Analisa Pendekatan Partisipatif dalam Pengembangan Kawasan Pariwisata

Dalam makalah ini dianalisa beberapa studi kasus yang terkait dengan pengembangan kawasan pariwisata berbasi pasrtisipasi masyarakat. Ada 4 (empat) kasus yang dianalisa, diantaranya:

1) Kasus 1

Tulisan berjudul “Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali” yang ditulis oleh Made Heny Urmila Dewi, Chafid Fandeli dan M. Baiquni.

2) Kasus 2

(6)

3) Kasus 3

Tulisan berjudul “Strategi Pengembangan Pariwisata oleh Pemerintah Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah. (Studi pada Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto)” yang ditulis oleh Febrianti Dwi Cahya Nurhadi, Mardiyono dan Stefanus Pani Rengu

4) Kasus 4

Tulisan berjudul “Membangun Pariwisata Bersama Rakyat. Kajian Partisipasi Lokal dalam Membangun Desa Wisata di Dieng Plateau” yang ditulis oleh Destha Titi Raharjana.

(7)

Tabel 1. Matriks Hasil Analisa Studi Kasus

NO MUATAN KASUS 1 KASUS 2 KASUS 3 KASUS 4

JUDUL Pengembangan Desa Wisata

Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali

Pengelolaan Kawasan Wisata Berbasis Masyarakat sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Lokal dan Pelestarian Sumber Daya Alam di Kabupaten Karanganyar

Strategi Pengembangan Pariwisata oleh Pemerintah Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah. (Studi pada Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto)

Membangun Pariwisata Bersama Rakyat. Kajian Partisipasi Lokal dalam Membangun Desa Wisata di Dieng Plateau

Fokus kegiatan hanya pada pengembangan PAD, terkait dengan pengembangan masyarakat sekitar kurang mendapat perhatian

Adanya paradigma bottom up planning mengharapkan masyarakat dapat berperan sebagai subjek sekaligus objek pembangunan

2 Pembangunan Berkelanjutan

Tujuan kegiatan adalah untuk pengembangan desa wisata berkelanjutan

Tiga aspek keberlanjutan sudah diakomodasi, yaitu ekonomi ekologi dan sosial yang dibahasakan dengan “kebersamaan”

Hanya aspek ekonomi yang dominan menjadi pembahasan swasta (dari LSM dan Perguruan Tinggi)  Peran pemerintah sangat

dominan.  Pariwisata yang

dikembangkan di desa

Semua dilibatkan dalam model yang dibuat (MODEL PIRBE), yaitu: Pemerintah dalam hal keberpihakan (program), Swasta dalam kemitraan (dukungan) dan Masyarakat dalam keterlibatan (partisipasi)

Pemerintah melibatkan

masyarakat hanya pada tataran pelaksanaan pengembangan kawasan pariwisata.

Belum melibatkan antar sektor yaitu Perhutani dan Desa terkait Status Kepemilikan Lahan dengan yang Lain (PT. Perhutani dan Desa)

(8)

NO MUATAN KASUS 1 KASUS 2 KASUS 3 KASUS 4

wisata tersebut tidak pernah

di desain oleh masyarakat. 

Pihak swasta belum terlibat dalam kegiatan

Selama ini masyarakat terbiasa menjalankan apa yang diperintahkan oleh pemerintah dan tidak dibiasakan berpartisipasi.

Pariwisata inti rakyat

menggarisbawahi partisipasi sekitar mereka dan rasa ikut memiliki (sense of

belonging)

terhadap beraneka sumber daya alam dan budaya sebagai aset pembangunan

penginapan, rumah makan, hotel dan souvenir (home stay), penyediaan

kebutuhan konsumsi wisatawan, pemandu wisata, penyediaan transportasi lokal, pertunjukan kesenian, dan lain-lain.

 Masih dominannya pola pikir sebagai petani dibandingkan sebagai penyedia jasa.

 Belum memasyarakatnya sadar

wisata/ sapta pesona

5 Pemberdayaan Masyarakat

Pariwisata yang

dikembangkan didesain oleh orang luar desa, sehingga

Mengikutsertakan masyarakat dalam berbagai kegiatan pariwisata

Masyarakat belum diberdayakan secara maksimal, hanya pada taraf pelaksanaan saja, itupun

Masih terbatasnya kesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan bidang

(9)

NO MUATAN KASUS 1 KASUS 2 KASUS 3 KASUS 4

masyarakat lokal terpinggirkan

tanpa ada “pembagian wilayah kerja” yang jelas

pariwisata maka ekonomi lokal sehingga memberikan belum dapat terlaksana karena komponen masih belum ada, yaitu kelembagaan lokal dan kapital sosial , yang antara lain berupa devisa.

Banyak sektor usaha di bidang pariwisata seperti

Belum adanya aturan hukum atau peraturan daerah (PERDA) yang mengatur khusus tentang strategi pengembangan sektor pariwisata di daerah Kabupaten Mojokerto

Tahun 2010 Kementerian pusat

Memberikan dukungan dalam bentuk pemberian dana hibah melalui PNPM Pariwisata.

Melibatkan Dieng Kulon dalam

event di tingkat nasional

8 Kelembagaan Lokal

Kerena masyarakat tidak terlibat maka kelembagaan sosial juga tidak berjalan

Pembangunan dan pengelolaan kawasan wisata di Kabupaten Karanganyar berbasis

Belum adanya kelembagaan lokal dalam pengembangan pariwisata

(10)

NO MUATAN KASUS 1 KASUS 2 KASUS 3 KASUS 4

komunitas menekankan pada upaya memberikan keuntungan kepada penduduk setempat baik secara langsung maupun tidak langsung yang dapat dipahami dan dirasakan oleh masyarakat di kawasan tersebut

pariwisata di daerahnya merupakan hal mutlak untuk terwujudnya pariwisata berbasis komunitas.

Lembaga pengelola pariwisata yang bernama Dieng Pandawa, yaitu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) berfungsi sebagai mitra pemerintah dan menjadi fasilitator dalam pelaksanaan dan monitoring aktivitas pariwisata

9 Kapital Sosial Belum adanya sinergi dan kepercayaan dari pemerintah kepada masyarakat,

begitupun sebaliknya, terbukti dengan

pengembangan kawasan wisata yang tidak melibatkan masyarakat.

Adanya kemitraan dari dukungan swasta berupa system “bapak angkat” yang mensinergikan kekuatan atau potensi yang dimiliki oleh masyarakat

Pemerintah dan masyarakat serta pihak swasta belum bersinergi secara maksimal, sehingga kepercayaan belum terbentuk

Belum pahamnya pengelola di

pokdarwis akan tupoksinya Minimnya akses dan jejaring

yang dimiliki pengelola Ada “kesadaran kolektif” atas

(11)

NO MUATAN KASUS 1 KASUS 2 KASUS 3 KASUS 4

KESIMPULAN Peran pemerintah dalam pengelolaan sumber daya pariwisata terlihat dominan. Padahal bila mengacu pada pendekatan tata kelola pemerintah yang bersih dan berkelanjutan peran

pemerintah diharapkan menjadi fasilitator dengan memberikan peran dan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata berbasis partisipasi

masyarakat belum terwujud di wilayah ini. Masyarakat belum menjadi subjek pembangunan.

Pengembangan Kawasan Pariwisata telah menggunakan pendekatan perencanaan wilayah partisipatif

Perencanaan wilayah partisipatif belum menjadi pendekatan dalam pengembangan kawasan wisata di kabupaten Mojokerto, sehingga perlu banyak perbaikan agar pariwisata menjadi maju dan berkelanjutan

Adanya motivasi dan dorongan secara kolektif dari sebagian warga di desa Dieng untuk mengelola pariwisata. Ditingkat komunitas, sudah terbentuk pengelola pariwisata berbasis desa. Pelaksanaan pengembangan kawasan pariwisata telah

menggunakan model perencanaan partisipatif dengan potensi dan permasalahan yang ada.

(12)

3. Model Pengembangan Kawasan Pariwisata melalui Pendekatan Partisipatif

Hasil analisa sebelumnya menunjukkan ada beberapa kasus yang telah menggunakan pendekatan partisipatif dalam pengembangan kawasan wisatanya, namun ada juga yang masih belum. Hal tersebut karena paradigma lama yang fokusnya pada ekonomi dengan mengesampingkan masyarakat dan lingkungan serta pendekatan bersifat top down masih terjadi di beberapa daerah. Setelah otonomi daerah tentunya pemerintah pusat menjadi terbatas dalam mengawasi pengembangan wilayah di daerah yang telah terdesentralisasi.

Namun saat ini masyarakat telah banyak belajar dari pelaksanaan pembangunan yang telah dilaksanakan, dan juga menganalisa dari pelaksanaan pembangunan di daerah lain yang menyebabkan harapan masrayakat untuk dilibatkan dalam pembangunan muncul dan menjadi kebutuhan karena rasa “memiliki” terhadap daerahnya. Maka pemerintah daerah sebagai penanggung jawab pelaksanaan pembangunan di daerah sudah seharusnya tidak mengabaikan hal tersebut. Sudah bukan masanya masyarakat ditinggalkan dan dianggap tidak mengerti akan pembangunan. Sehingga pembangunan di daerah harus melalui pendekatan partisipatif, yang dimodelkan seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Model Pengembangan Kawasan Pariwisata melalui Pendekatan Partisipatif

(13)

Partisipasi dan pemberdayaan masyarakat menjadi hal yang utama sedangkan dari sisi pemerintah adalah dikeluarkannya kebijakan dan insentif. Sinergi ketiga stakeholder menjadi penting, yaitu antara pemerintah, masyarakat dan swasta.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan dapat diambil beberapa simpulan, diantaranya:

1) Perencanaan wilayah partisipatif menjadi pendekatan dalam pengembangan kawasan pariwisata. Dimana perencanaan partisipatif tidak hanya dilakukan pada salah satu proses dalam pembangunan, namun merupakan kegiatan yang menyeluruh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan/monitoring, sampai evaluasi.

2) Belum semua daerah menerapkan pendekatan perencanaan wilayah partisipatif

dalam pengembangan kawasan pariwisata. Namun ada beberapa yang sudah menerapkan pendekatan tersebut.

3) Partisipasi dan Pemberdayaan masyarakat adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam perencanaan partisipatif. Peran dari semua stakeholder menjadi kunci keberhasilan pengembangan wilayah.

Pendekatan partisipatif tidak hanya dilaksanakan untuk pengembangan kawasan pariwisata saja, tapi untuk pengembangan seluruh sektor yang ada di daerah. Agar perencanaan wilayah partisipatif dapat terlaksana maka pemerintah pusat perlu melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pengembangan wilayah di daerah. Sehingga diharapkan kebijakan terkait perencanaan wilayah partisipatif dalam pengembangan wilayah dapat dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Conyers, D. 1994. Perencanaan Sosial Di Dunia Ketiga Suatu Pengantar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press (Hal 153-184).

Dewi, MHU, Fandeli, C, Baiquni, M. 2013. Pengembangan Desa Wisata Berbasis

Partisipasi Masyarakat Lokal di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Kawistara No. 2, 17 Agustus 2013 (3): 117-226.

Nirwandar, S. 2006. Pembangunan Sektor Pariwisata di Era Otonomi Daerah. Diakses 4 Juni 2015.

Nugroho, PS, Aliyah, I. 2013. Pengelolaan Kawasan Wisata Berbasis Masyarakat sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Lokal dan Pelestarian Sumber Daya Alam di Kabupaten Karanganyar. Cakra Wisata Vol. 13 (1): 26-38.

(14)

Portal Nasional Republik Indonesia. 2010. Potensi Pariwisata. <http://www.indonesia.go.id/in/potensi-daerah/pariwisata> Diakses tanggal 4 Juni 2015.

Raharjana, DT. 2010. Membangun Pariwisata Bersama Rakyat. Kajian Partisipasi Lokal dalam Membangun Desa Wisata di Dieng Plateau. Yogyakarta (ID): Prodi Kajian Pariwisata UGM.

Riyadi, Bratakusumah, Deddy Supriady. 2004. Perencanaan Pembangunan

Daerah Strategi Menggali Potensi dalam Mewujudkan Otonomi Daerah. Jakarta (ID): PT. Gramedia Pustaka Utama.

Rustiadi, E, Saefulhakim, S, Panuju, DR. 2011. Perencanaan Pengembangan Wilayah. Edisi Kedua. Bogor (ID): Laboratorium Perencanaan Pengembangan Sumberdaya Lahan Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB.

Santosa, SP. 2002. Pengembangan Pariwisata Indonesia

<http://kolom.pacific.net.id/ind/setyanto_p._santosa/artikel_setyanto_p._san tosa/pengembangan__pariwisata__indonesia.html>

Diakses tanggal 4 Juni 2015.

Sutarso, J. ---. Menggagas Pariwisata Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal. Solo (ID): Program Studi Ilmu Komunikasi FKI UMS.

---, 2015. Partisipasi Masyarakat.

<https://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/partisipasi/>

Diakses tanggal 4 Juni 2015.

Taslim, 2013. PAD dari Industri Pariwisata dalam Menunjang Otonomi Daerah. <http://pariwisata.rejanglebongkab.go.id/pad-industri-pariwisata-dalam-menunjang-otonomi-daerah/>

Diakses tanggal 4 Juni 2015.

Wikipedia Indonesia. Pariwisata di Indonesia.

(15)

LAMPIRAN

Tulisan studi Kasus

1) Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali, ditulis oleh Made Heny Urmila Dewi, Chafid Fandeli dan M. Baiquni.

2) Pengelolaan Kawasan Wisata Berbasis Masyarakat sebagai Upaya Penguatan

Ekonomi Lokal dan Pelestarian Sumber Daya Alam di Kabupaten Karanganyar, ditulis oleh Purwanto Setyo Nugroho dan Istijabatul Aliyah.

3) Strategi Pengembangan Pariwisata oleh Pemerintah Daerah terhadap

Pendapatan Asli Daerah. (Studi pada Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto), ditulis oleh Febrianti Dwi Cahya Nurhadi, Mardiyono dan Stefanus Pani Rengu.

Gambar

Tabel 1. Matriks Hasil Analisa Studi Kasus KASUS 1 Pengembangan Desa Wisata
Gambar 1. Model Pengembangan Kawasan Pariwisata melalui Pendekatan Partisipatif

Referensi

Dokumen terkait

Soetarto : Analisis pengembangan kawasan pariwisata Pantai Cermin ,studi kasus desa Pantai Cermin ..., 2003 USU e-Repository ©

Namun, masalah parkir bukanlah satu – satunya masalah utama yang menghambat pengembangan pariwisata di Kota Yogyakarta khususnya Kawasan Malioboro sebagimana ditegaskan dalam

PENGEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH MELALUI KERJASAMA PERBANKAN NASIONAL DENGAN KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU (KAPET).. STUDI KASUS: KAPET PARE-PARE, SULAWESI

PENGEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH MELALUI KERJASAMA PERBANKAN NASIONAL DENGAN KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU (KAPET).. STUDI KASUS: KAPET PARE-PARE, SULAWESI

Dalam lingkup aspek penelitian, ada beberapa beberapa aspek yang di bahas dalam penelitian ini yaitu mengenai faktor pengembangan kawasan agroindustri berbasis

Rekomendasi pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo-Pasuruan-Lumajang ini dilakukan dengan pendekatan peningkatan efisiensi bagi Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, dan

Dalam mendukung pelaksanaan kebijakan, ada beberapa hal yang direkomendasikan untuk pengembangan kawasan permukiman perbatasan, yaitu (1) pembuatan klaster-klaster permukiman

Salah satu subsektor unggulan yang ada adalah Perikanan Tangkap yang berada di Kawasan Prigi yang berada di .Kawasan pesisir prigi berpotensi untuk