• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Kontrak Sosial Syuro dan Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Konsep Kontrak Sosial Syuro dan Politik"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Konsep Kontrak Sosial, Syuro, dan Politik Luar Negeri Oleh : Maulana Luqman Firdaus / 35.2014.5.1.0799

Pendahuluan

Pada masa ini ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang perpolitikan lebih banyak mengacu pada para pemikir barat. Liberalisme merupakan salah satu faham yang sangat menampakkan pandangan masyarakat dunia pada masa ini. Salah satu produk yang dihasilkan oleh Liberalisme ialah Hak Asasi Manusia. Selain itu ada pula sistem demokrasi yang dihasilkan oleh para pemikir barat. Dengan dikuasainya keadaan dan khususnya ilmu-ilmu yang dipelajari yang mengacu dari para pemikir barat, mengahasilkan pandangan orang yang sebelumnya atau bahkan tidak mengacu ke barat menjadi ikut terbawa oleh faham-faham dan pemikiran-pemikiran mereka.

(2)

Kontrak Sosial : Khilafah dalam Islam

Teori kontrak sosial merupakan salah satu teori dari terbentuknya negara. Teori kontrak sosial ini berkembang dan dipengaruhi oleh pemikiran para filsof abad pencerahan (enlightenment), diantaranya Thomas Hobbes, Jhon Locke dan J.J. Rousseau. Tiga tokoh inilah yang diakui sebagai penggagas dari teori kontrak sosial. Teori kontrak sosial merupakan teori yang menyatakan bahwa terbentuknya negara itu disebabkan oleh adanya keinginan masyarakat untuk membuat kontrak sosial. Jadi, sumber kewenangan berasal dari masyarakat itu sendiri.

Dalam sistem ini, kekuasaan negara terbagi menjadi tiga: legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Konsep ini dikenal dengan trias politica. Trias politica menganggap bahwa kekuasan-kekuasaan tersebut sebaiknya tidak diserahkan kepada orang yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Ide pemisahan ini, menurut Montesqieu, dimaksudkan untuk memelihara kebebasan politik yang tidak akan terwujud, kecuali jika terdapat keamanan masyarakat di dalam negeri. Ia berpendapat bahwa seseorang cenderung akan mendominasi kekuasaan dan merusak keamanan masyarakat apabila kekuasa itu terpusat di tangannya. Karena itu, harus ada pemisahan kekuasaan. Dengan demikian, hubungan antara rakyat dan penguasa dalam sistem sekular adalah: rakyat sebagai musta’jir (majikan) dan penguasa sebagai ajir (pekerja). Layaknya akad (transaksi) ijârah, si ajir (yaitu penguasa) memperoleh upah (ujrah) atas pekerjaannya (yang tertuang dalam GBHN); memiliki jam kerja; memiliki hari-hari libur, cuti, dan sejenisnya.

Dalam Islam, kedaulatan ada di tangan Allah Swt, bukanlah di tangan rakyat maupun penguasa. Ini sesuai dengan firman Allah Swt: (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 36). Sedangkan kekuasaan berada di tangan rakyat (kaum Muslim). Alasannya, karena kaum Muslimlah yang memilih dan menentukan khalifah, tentu saja setelah para kandidat khalifah memenuhi ketentuan-ketentuan syarat-syarat berdasarkan syariat. Maka, bersepakat bahwasannya jalan untuk pencapaian kursi keimamahan ialah dengan cara melalui pemilihan dan kemufakatan1, artinya bukan melalui wasiat atau penunjukkan.

Apabila hasil pemilihan menghasilkan suara terbanyak pada seorang khalifah, maka rakyat (kaum Muslim) akan membaiatnya. Jadi, secara syar‘i, hubungan antara rakyat (kaum

(3)

Muslim) dan penguasa dalam sistem Islam diekspresikan dalam bentuk akad baiat. Sementara itu, rakyat dalam sistem Islam, wajib menaati perintah (keputusan) Khalifah, kecuali Khalifah memerintahkan perkara yang temasuk maksiat. Lebih dari itu, kuatnya kedudukan Khalifah ditegaskan dengan larangan untuk berlaku bughat (membangkang) terhadap Khalifah dan aparatnya. Dengan demikian, Islam tidak mengenal istilah kontrak sosial, pembatasan masa jabatan kepala negara, trias politica, kedaulatan rakyat, dan ide-ide demokrasi lainnya.

Konsep Syuro atau Demokrasi

Syura memilih landasan yuridis syar’i Islam, tidak ada perbedaan pendapat tentang masalah legalitas syuro, sebab hakekat syuro itu mengungkapkan pendapat kepada yang diberi nasehat diminta atau tidak diminta. Dengan demikian, syura dalam Islam ditetapkan oleh Allah sebagai sifat bagi orang-orang mukmin. Syura adalah suatu lembaga atau manajemen kekuasaan lengkap dengan ketua dan anggota-anggotanya punya hak otonom dalam segala urusan luar dan dalam negeri yang tidak boleh diintervensi kedaulatan penguasa baik dari aturan manajemen atau perencanaannya. Muhammad Abduh juga berpendapat bahwa musyawarah dalam ayat ini bukan sekedar dianjurkan, tetapi merupakan kewajiban yang ditujukan terutama kepada kepala negara untuk menjamin bahwa musywarah dijalankan dengan semestinya dalam urusan-urusan pemerintahan2.

Melalui musyawarah, setiap masalah yang menyangkut kepentingan umum dan kepentingan rakyatnya dapat ditemukan suatu jalan keluar yang sebaik-baiknya setelah semua pihak mengemukakan pendapat dan pikiran mereka yang wajib didengar oleh pemegang kekuasaan negara supaya ia dalam membuat suatu keputusan dapat mencerminkan pertimbangan-pertimbangan yang objektif dan bijaksana untuk kepentingan umum.

Meskipun demikian, musyawarah berbeda dengan demokrasi liberal yang berpegang pada rumus setengah plus satu atau suara mayoritas yang lebih dari setengah yang berakhir dengan kemenangan bagi sebelah pihak dan kekalahan di pihak lain. Dalam musyawarah, yang dipentingkan adalah jiwa persaudaraan yang dilandasi keimanan kepada Allah, sehingga yang

(4)

menjadi tujuan musyawarah bukan untuk mencapai kemenangan bagi suatu pihak akan tapi untuk kepentingan atau kemasalahatan umum atau rakyat. Inilah kriteria pengambilan keputusan.

Sementara Demokrasi, merupakan hukum manusia, hukum bangsa yang telah mencapai tingkat matang hingga mampu menentukan hukum bagi dirinya sendiri. Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang bersandar pada mayoritas. Penetapan dan pembuatan peraturan dan undang undang di lakukan oleh wakil wakil rakyat berdasarkan suara mayoritas. Munculnya bentuk-bentuk pemerintahah demokrasi sekarang ini belum terlalu lama. Di Inggris baru sekitar tiga abad lalu, sementara di Perancis baru muncul setelah revolusi sedangkan di Amerika setelah masa kemerdekaan. Tetapi dari sekian banyak pandangan yang berlaku terdapat dua aliaran yang paling penting, yaitu demokrasi konstitutional dengan demokrasi yang pada hakikatnya mendasarkan dirinya atas komunisme3. Bila dua sistem pemerintahan ini dibandingkan, maka akan dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, Umat (rakyat) dalam suatu sistem demokrasi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan manusia yang menempati suatu wilayah tertentu, dimana setiap individu di dalamnya berkumpul dikarenakan kesadaran untuk hidup bersama, dan diantara faktor yang membantu terbentuknya umat adalah adanya kesatuan ras dan bahasa [Mabadi Nizham al-Hukm fi al-Islam hlm. 489]. Sedangkan dalam sistem Islam, definisi umat sangatlah berbeda dengan apa yang disebutkan sebelumnya, karena dalam mendefinisikan umat, Islam tidaklah terbatas pada faktor kesatuan wilayah, ras, dan bahasa. Namun, umat dalam Islam memiliki definisi yang lebih luas karena akidah islamiyah-lah yang menjadi tali pengikat antara setiap individu muslim tanpa membeda-bedakan wilayah, ras, dan bahasa. Dengan demikian, meski kaum muslimin memiliki beraneka ragam dalam hal ras, bahasa, dan wilayah, mereka semua adalah satu umat, satu kesatuan dalam pandangan Islam.

Kedua, Sistem demokrasi hanya berusaha untuk merealisasikan berbagai tujuan yang bersifat materil demi mengangkat martabat bangsa dari segi ekonomi, politik, dan militer. Sistem ini tidaklah memperhatikan aspek ruhiyah. Berbeda tentunya dengan sistem Islam, dia tetap memperhatikan faktor-faktor tersebut tanpa mengenyampingkan aspek ruhiyah diniyah, bahkan

(5)

aspek inilah yang menjadi dasar dan tujuan dalam sistem Islam.Dalam sistem Islam, aspek ruhiyah menjadi prioritas tujuan dan kemaslahatan manusia yang terkait dengan dunia mereka ikut beriringan di belakangnya.

Maka, tidak ada celah untuk menyamakan antara sistem yang dibentuk dan diridhai Allah untuk seluruh hamba-Nya dengan sebuah sistem dari manusia yang datang untuk menutup kekurangan, namun masih mengandung kekurangan, dan berusaha untuk mengurai permasalahan, namun dia sendiri merupakan masalah yang membutuhkan solusi.

Politik Luar Negeri dengan Kemaslahatan Ummat di Islam

Politik Luar Negeri akan menentukan seberapa banyak sebuah negara akan mempunyai banyak kawan atau lawan. Ketika negara-negara dunia bekerjasama atau berperang, maka realitas-realitas yang terjadi di negara-negara dunia itu dibahas di dalam Hubungan Internasional, bagaimana negara A menaganut sebuah ideologi untuk bekerjasama dengan negara-negara lain dan tentunya ideologi itu mempengaruhi hubungan-hubungan antar negara-negara dunia. Hubungan Internasional mempelajari dan membahas kasus-kasus dan fenomena-fenomena yang terjadi di antara negara yang memiliki ideologi yang sama maupun yang berbeda.

Sedangkan Politik Luar Negeri muncul karena hubungan-hubungan tersebut, negara bertindak dengan bekerjasama dengan negara lain tanpa campur tangan negara-negara dunia yang berkuasa baik di dunia maupun di Organisasi Internasional. Politik Luar Negeri lebih sempit kajiannya dibandingkan dengan Hubungan Internasional. Kita melihat cara dan pergerakan negara itu, sistem apa yang dibangun dalam kerjasama tersebut. Politik Luar Negeri itu dapat dilihat melalui sudut pandang Realisme maupun Liberalisme, bagaimana realisme memahami/melihat/menilai/ menyimpulkan hubungan antar dua negara. Misal: Indonesia dengan Singapura, apa yang dipahami oleh realis dan liberalis.

(6)
(7)

Referensi :

Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2014).

Kamali, Muhammad Hashim. Kebebasan Berpendapat Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1994).

Referensi

Dokumen terkait

Tukar Had Pindahan Untuk menukar had debit perbankan SMS anda Tukar Telefon Untuk menukar no telefon yang telah didaftarkan Nota: Format arahan boleh dilakukan menggunakan huruf

Pada penelitian ini, permasalahan yang dimaksudkan terkait dengan manajemen waktu sehingga siswa membuat penilaian terhadap kesulitan memanajemen

Hasil pengujian model penelitian telah memenuhi tiga kriteria yaitu: 1) Terdapat pengaruh yang signifikan penguasaan ragam bahasa kritik dan kalimat efektif secara

Tidak ada perjanjian kerja yang timbul dalam hubungan kemitraan antra PT GO-JEK dengan driver GO-JEK dikarenakan ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi yaitu unsur upah,

Untuk itu dosen harus mampu mengelola terkait dengan cara mengajar yang baik dan tepat pada pembelajaran, karena hal ini merupakan tulang punggung keberhasilan proses

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ini telah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 04 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan sesuai dengan tugas

Berdasarkan hasil penelitian, kelembapan udara tertinggi terdapat pada ruangan ASP-B sebesar 68 % hal ini disebabkan karena suhu pada ruangan tersebut agak rendah

menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara suhu udara dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Wonokusumo.. Rata-rata suhu optimum untuk