• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penegakan Hukum di Indonesia Studi Kasus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penegakan Hukum di Indonesia Studi Kasus"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS PADJADJARAN

G10B.105

Pengantar Ilmu Hukum

Penegakan Hukum di Indonesia:

Studi Kasus Vonis Bebas Wali Kota Bekasi Nonaktif, Mochtar Muhammad, dari Dakwaan Korupsi oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung

Ravio Patra Asri

170210110019

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Departemen Hubungan Internasional

Tahun Akademik 2011/2012

(2)

LATAR BELAKANG MASALAH

Korupsi di Indonesia, menurut banyak ahli, adalah suatu fenomena yang

berkembang secara sistemik dan endemik. Korupsi bukan lagi dianggap sekadar

suatu pelanggaran hukuk, namun sudah terdistorsi menjadi suatu kebiasaan. Hal

ini tercermin dari posisi indeks tindak korupsi Indonesia yang selalu tergolong

sangat buruk dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.1

Maraknya tindak korupsi ini tentunya juga diikuti oleh berkembangnya

upaya pemberantasan korupsi. Meskipun pemberantasan ini seringkali dianggap

tidak serius dan mendalam, terlihat setidaknya ada langkah positif yang diambil

oleh pemerintah melalui pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK

pada tahun 2003.

Kasus korupsi pertama yang terungkap dalam sejarah Republik Indonesia

adalah isu yang diangkat oleh koran lokal, Indonesia Raya, mengenai dugaan

korupsi oleh Menteri Luar Negeri, Ruslan Abdulgani. Akibat pemberitaan ini,

koran ini pun kemudian dibredel oleh pemerintah Orde Baru. Sebelumnya, Lie

Hok Thay mengaku memberikan uang senilai satu setengah juta rupiah kepada

Abdulgani untuk ongkos cetak kartu suara pemilu. Dalam kasus ini, Menteri

Penerangan dua kabinet terakhir, Burhanuddin Harahap dan Syamsudin Sutan

Makmur, serta Direktur Percetakan Negara, Pieter de Quelioe, berhasil ditangkap.

Dalam perkembangannya, Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar, tokoh di

balik koran Indonesia Raya, ditangkap oleh pemerintah dengan tuduhan lawan

politik Presiden Soekarno. Melihat banyaknya penumpagan ini, Jenderal A. H.

Nasution pun kemudian berusaha mencegah kekacauan lebih lanjut dan

memimpin sebuah tim pemberantasan korupsi yang pada akhirnya gagal

1Sesuai dengan artikel dalam “Korupsi di Indonesia”,

Wikipedia,

http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi_di_Indonesia (25 Oktober 2011) serta pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi pertama, Taufiquerachman Ruqi, dalam “Komisi Pemberantasan Korupsi”, Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Pemberantasan_Korupsi (25 Oktober 2011). Ruqi mengemukakan bahwa berdasarkan survei Transparency Internasional tahun 2005, masyarakat bisnis dunia menilai pelayanan publik di Indonesia sangat buruk sehingga

(3)

melaksanakan tugasnya. Usaha Jenderal Nasution ini pun kemudian dikenal

sebagai usaha pemberantasan korupsi terorganisir pertama di Indonesia.2

Dari aspek hukum, pemerintah sebenarnya memiliki kewenangan penuh

yang luas dalam melakukan upaya pemberantasan korupsi. Pada masa Orde Lama,

pemberantasan korupsi didasarkan pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

dan Undang-Undang No. 24 Tahun 1960. Sedangkan pada masa pemerintahan

Orde Baru, usaha pemberantasan korupsi didasarkan kepada Undang-Undang

Nomor 3 Tahun 1971 yang pada kenyataannya gagal mengungkap kasus-kasus

korupsi yang kebanyakan tertutupi oleh usaha penguasaan bisnis-bisnis strategis

oleh pemerintah dan kolega-koleganya.

Puncaknya, pada akhir dekade 1990-an, segenap rakyat Indonesia, dengan

motor para mahasiswa, melancarkan gerakan besar-besaran di segenap penjuru

negeri. Gerakan tuntutan diadakannya suatu reformasi birokrasi dan kenegaraan

secara menyeluruh ini muncul akibat berbagai permasalahan sosial dan ekonomi

terutama inflasi serta perilaku para pemangku kekuasaan, dari pusat hingga ke

daerah-daerah, yang penuh dengan tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Melalui perjuangan yang panjang, diiringi dengan beberapa kasus kekerasan

dan pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh pemerintahan Orde Baru, tuntutan akan

reformasi pun akhirnya terpenuhi setelah Presiden Soeharto, yang telah berkuasa

selama lebih dari tiga dekade, mundur dari jabatannya. Mundurnya Soeharto, yang

juga tak lepas dari desakan dan tekanan asing terutama Amerika Serikat melalui

Menteri Luar Negerinya saat itu, Madeleine Albright, disambut dengan gembira

oleh segenap bangsa Indonesia. Amien Rais, seorang cendekiawan yang semenjak

awal lantang menyuarakan regormasi sehingga ia pun dijuluki Bapak Reformasi,

tampil ke depan untuk memimpin lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Pasca-Reformasi, dilakukanlempat kali amandemen terhadap

Undang-Undang Dasar 1945 selama periode 1999 hingga 2002 dengan salah satu

perubahan yang terjadi yaitu pembatasan kekuasaan Presiden sehingga menutup

kemungkinan terjadinya pemerintahan Orde Baru dengan muka berbeda. Pada

2

(4)

masa reformasi ini, upaya pemberantasan korupsi didasarkan pada

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Salah satu langkah konkrit pemerintah pasca-Reformasi yang layak

diapresiasi adalah pembentukan beberapa lembaga baru yang bertugas khusus

menangani tindak pidana korupsi. Selain itu, tumbuh kembangnya semangat

kebebasan berpendapat dan berserikat pun ikut memberika citra positif terhadap

upaya pemberantasan korupsi. Selain dilaksanakan secara formal oleh Kepolisian,

Kejaksaan, serta lembaga-lembaga negara lainnya, upaya pemberantasan korupsi

kemudian berkembang pesat setelah didirikannya Komisi Pemberantasan Korupsi

di bawah komando Presiden Megawati Soekarnoputri yang diatur dalam

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002. Sementara itu, untuk menjaga agar usaha ini

berjalan dengan benar, bermunculan berbagai organisasi non-Pemerintah seperti

Indonesian Corruption Watch, Transparency International Indonesia, dan

media-media massa yang mulai diberikan ruang seluas-luasnya dalam melaksanakan

tugas jurnalistik melalui pengaturan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun

1999.

Akan tetapi, cita-cita dan pemberantasan korupsi ini ternoda oleh berbagai

kasus yang dirasa janggal oleh masyarakat; salah satunya adalah pengampunan

mantan Presiden, Soeharto, dengan alasan yang tidak kuat. Penyelewengan

kekuasaan rezim Soeharto, terutama berbagai kebijakannya yang berbau kolusi

dan nepotisme, pada akhirnya tidak diadili dengan benar hingga akhirnya ia

meninggal beberapa tahun kemudian.

Selain itu, salah satu fenomena yang sangat mengotori semangat

pemberantasan korupsi ini adalah maraknya kasus korupsi yang terjadi di dalam

lembaga-lembaga penegak hukum. Bukan hanya Kepolisian dan Kejaksaan,

namun Komisi Pemberantasan Korupsi, yang sangat dielu-elukan masyarakat

berkat berbagai pencapaiannya, pun ternyata tak lepas dari jeratan hukum.3

3

(5)

Melihat korupsi yang sudah membudaya ini, maka tak heranlah apabila

publik internasional memandang Indonesia sebagai surga para koruptor.4 Bukan

hanya karena maraknya kasus yang ada, namun juga disebabkan oleh seringnya

terjadi pembebasan tersangka kasus korupsi oleh Pengadilan Tindak Pidana

Korupsi; terutama semenjak direstuinya wacana pembentukan Pengadilan Tipikor

di daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

Salah satu kasus yang begitu hangat di tengah-tengah masyarakat saat ini

adalah vonis bebas dan tidak bersalah atas seluruh tuduhan yang diputuskan oleh

majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Jawa Barat, atas Wali

Kota Bekasi nonaktif, Mochtar Mohammad, yang menjadi tersangka dalam

sekaligus empat dugaan korupsi selama menjabat sebagai kepala daerah. Kasus

ini, menarik untuk ditelaah lebih lanjut, mengingat pengadilan yang sama juga

telah mengeluarkan vonis bebas atas dugaan pidana korupsi dua kepala daerah

lainnya hanya dalam waktu tiga bulan. Akibat putusan ini, pengadilan yang baru

berumur sekitar setahun ini disorot kinerjanya oleh berbagai media massa serta

praktisi hukum dan politik.

4

Ibid. Masih menurut survei yang sama dari Transparency International dengan tajuk “Global Corruption Barometer”, didapatkan kesimpulan bahwa partai politik merupakan institusi terkorup di Indonesia dengan indeks 4.2 (rentang nilai 1-5, 5 untuk terkorup). Lebih lanjut lagi, Indonesia sukses meraih prestasi sebagai negara terkorup di Asia dengan skor 9.25 (rentang nilai 1-10, 10 untuk terkorup); meninggalkan India (8.9) dan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Vietnam (8.67), Filipina (8,33), dan Thailand (7.33). Kenyataan ini sekaligus

(6)

IDENTIFIKASI MASALAH

Kontroversi yang ditimbulkan akibat vonis bebas dan tidak bersalah

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung atas dugaan korupsi Wali Kota

Bekasi nonaktif, Mochtar Muhammad, tentu membuat masyarakat bertanya-tanya.

Mochtar, yang oleh Jaksa didakwa menyuap anggota Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah Bekasi sebesar Rp. 4, 250, 000, 000, - untuk memuluskan pengesahan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2010, menyalahgunakan

anggaran makan-minum sebesar Rp. 639, 000, 000, -, menyuap panitia penilai

Piala Adipura tahun 2010 senilai Rp. 500, 000, 000, -, serta menyuap pegawai

Badan Pemeriksa Keuangan sebesar Rp. 400, 000, 000, -, ini dibebaskan dari

segala tuntutan hukum pada persidangan tanggal 11 Oktober 2011.5

Majelis Hakim, yang diketuai oleh Azharyadi dengan anggota Eka Saharta

Winata Laksana dan Ramlan Comel menilai semua dakwaan jaksa, yang menuntut

Mochtar 12 tahun kurungan penjara dan denda sebesar Rp. 300, 000, 000, -

kepada negara, tidak terbukti. Selain itu, Azharyadi juga menyebutkan dalam

pembacaan putusannya bahwa reputasi terdakwa haruslah dipulihkan.6

Dari penyidikan yang dilakukan, diduga Mochtar memakai anggaran

sebesar Rp. 639 juta untuk membayar angsuran utang pribadinya di Bank Jabar

Banten. Sedangkan suap yang dilancarkan kepada anggota DPRD Bekasi, Lilik

Haryoso, senilai lebih dari Rp. 4 miliar dimaksudkan untuk memperlancar

pembahasan anggaran Kota Bekasi 2010. Dana suap ini sendiri, juga berasal dari

hasil korupsi, dengan cara memotong dua persen nilai anggaran proyek di tiap

dinas.

Dakwaan pun berlanjut kepada dugaan penyuapan auditor Badan Pemeriksa

Keuangan Bandung, Suharto, dengan tujuan agar laporan keuangan Kota Bekasi

2009 dinilai wajar. Tuduhan ini sendiri, menurut KPK, adalah pengembangan dari

kasus sebelumnya dimana KPK berhasil mengamankan dua pejabat Kota Bekasi.

5 Erick P. H., Tri S., dan Hamluddin, “Pengadilan Antikorupsi Bebaskan Wali Kota Bekasi”, Tempo, No. 3674/XI, 12 Oktober 2011, h. A4.

(7)

Sementara tuduhan KPK mengenai penyuapan yang dilakukan Mochtar kepada

anggota tim penilai Piala Adipura 2010 dari Kementerian Lingkungan Hidup,

Melda Mardalina, didasarkan pada temuan KPK bahwa nilai Kota Bekasi saat itu

berada di bawah standar. Melda sendiri dalam persidangan mengaku memang

pernah ditawari uang oleh Mochtar, namun tidak diterimanya.Setelah memeriksa

76 saksi dan 5 saksi ahli serta 320 barang bukti yang disediakan oleh tim penyidik

KPK, majelis hakim pun akhirnya menilai keempat dakwaan yang dituduhkan

tidak bisa menjerat Mochtar.7

Secara kronologis, kasus Mochtar sendiri bermula dari tertangkap tangannya

dua pejabat Kota Bekasi, Herry Lukmantory dan Herry Suparjan, ketika tengah

menyuap auditor BPK, Suharto pada Mei 2010. Dari tangan kedua pejabat yang

telah divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor Jakarta ini, KPK menyita barang

bukti berupa uang suap senilai Rp. 200 juta rupiah.8 Berangkat dari kasus ini,

KPK pun kemudian mengembangkan penyidikan hingga berlanjut dengan

penetapan Mochtar sebagai tersangka pada 15 November 2010. Sebulan

berselang, tepatnya pada 13 Desember, Mochtar pun resmi ditahan di Rumah

Tahanan Salemba, Jakarta. Pada 8 April 2011, Mochtar dipindah ke Rumah

Tahanan Kebonwaru, Bandung. Selang sebulan kemudian, pada 24 Mei, ia pun

sempat dirawat di Rumah Sakit M. H. Thamrin, Jakarta, karena penyakit jantung

koroner. Penyakit inilah yang kemudian dijadikan alasan hakim menangguhkan

penahanan Mochtar semenjak 20 Juni. Pada sidang 8 September 2011, Jaksa

Penuntut Umum menuntut Mochtar dengan hukuman 12 tahun penjara dan denda

Rp. 300 juta; yang berakhir dengan vonis bebas kontroversial ini.9

Putusan ini sendiri sudah diprediksi oleh sejumlah kalangan. Koordinator

Masyarakat Antikorupsi Indonesia, Bunyamin Saiman, misalnya, mengaku sudah

mencium gelagat ini sejak awal persidangan. Ia menyebut pemberian status

tahanan kota pada 20 Juni 2011 silam sebagai sinyalemen kejanggalan karena

mirip dengan kisah dua kasus sebelumnya.10

7

Ibid. 8

Ibid.

9 “Hikayat Pak Wali Kota” [Ilustrasi], Tempo, No. 4033, 17-23 Oktober 2011, h. 92-93. 10

(8)

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung memang sedang menjadi

sorotan berbagai kalangan pemerhati korupsi dan media masaa di Indonesia.

Sebelum vonis bebas Mochtar, pengadilan yang beranggotakan sembilan orang

hakim karier dan enam hakim ad hoc ini pada Agustus dan September 2011 juga

memvonis bebas dua pejabat terdakwa korupsi; Bupati Subang nonaktif, Eep

Hidayat, serta Wakil Wali Kota Bogor nonaktif, Ahmad Ru’yat. Dalam kedua

persidangan ini, sama seperti Mochtar, majelis hakim yang bertugas juga

memberikan penangguhan penahanan dengan alasan sakit.11

Pun kasus ini akhirnya mendapatkan sorotan lebih tak lain adalah karena

baru kali inilah dalam sejarah KPK, yang hampir satu dekade berdiri, kasus yang

diajukan ke pengadilan dimentahkan oleh hakim. KPK, yang selama ini memang

terkenal komprehensif dan akurat dalam mengajukan suatu kasus ke Pengadilan

Tipikor, tentu tidak tinggal diam. Kepada media, KPK menyebutkan bahwa

mereka akan berfokus kepada pembedahan proses persidangan. Jika memang

benar ditemukan adanya pengabaian barang bukti oleh majelis hakim, maka,

menurut Ketua KPK, Busyro Muqoddas, telah terjadi suatu manipulasi hukum. Di

lain kesempatan, juru bicara KPK, Johan Budi, menyatakan bahwa KPK akan

mengajukan kasasi atas putusan bebas Mochtar ini ke Mahkamah Agung. Johan

menilai, ratusan bukti dan puluhan saksi yang dihadirkan KPK selama masa

persidangan semestinya cukup untuk menjerat Mochtar.12

11 Dalam “Kejutan Terus dari Bandung” [Tabel],

Tempo, No. 4033, 17-23 Oktober 2011, h. 92., tertera rincian kasus korupsi yang melibatkan Eep Hidayat dan Ahmad Ru’yat. Eep tersangkut kasus dugaan korupsi upah pungut pajak di Kabupaten Subang, Jawa Barat, senilai Rp. 14 miliar. Perkara ini dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Bandung oleh Kejaksaan Negeri Subang dengan tuntutan delapan tahun penjara. Dalam persidangan tanggal 22 Agustus 2011, majelis hakim yang terdiri atas ketua I Gusti Lanang Dauh serta anggota Nurhakim dan Ramlan Comel memutuskan Eep tidak bersalah dan bebas dari segala tuntutan. Selang dua minggu kemudian, tepatnya 8 September 2011, majelis hakim yang diketuai oleh Joko Siswanto dengan anggota Azharyadi dan Iskandar Harun pun kembali memvonis bebas terdakwa korupsi lainnya, yakni Wakil Wali Kota Bogor nonaktif, Ahmad Ru’yat, yang dijerat Kejaksaan Negeri Bogor dengan tuntutan empat tahun penjara atas kasus dugaan korupsi berombongananggaran Kota Bogor 2002 senilai Rp. 6, 8 miliar.

(9)

PEMBAHASAN MASALAH

Dalam menangani suatu kasus korupsi, idealnya setiap penyidik yang

terlibat haruslah memiliki ketelitian dan kecermatan khusu disertai dengan sebuah

penyelidikan yang menyeluruh atau komprehensif. Prinsip ini rupanya disadari

betul oleh para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi yang dikenal tidak

pernah mengajukan suatu kasus untuk diadili Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

tanpa dibekali dengan barang bukti, saksi, dan dakwaan yang kuat. Ini pulalah

kiranya yang membuat semua kasus yang diajukan KPK ke Pengadilan Tipikor

semenjak awal berdirinya pada 2003 silam berakhir dengan vonis bersalah.

Meskipun kepercayaan publik terhadap kinerja KPK sempat menurun akibat

kisruh yang menimpa para pimpinannya, lembaga ini tetaplah memiliki kapasitas

dan track record lebih mumpuni dalam upaya pemberantasan korupsi

dibandingkan lembaga-lembaga penegak hukum lainnya yang terbukti korup.13

Tindak pidana korupsi sendiri, di Indonesia, sebenarnya telah diatur

sedemikian rupa oleh negara melalui berbagai peraturan yang telah diterbitkan;

mulai dari pasal-pasal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP hingga

Undang-Undang. Sayangnya, peraturan-peraturan ini ternyata tak cukup bertaring

untuk mencegah para pemegang kekuasaan melakukan korupsi. Fakta inilah, yang

kemudian, memunculkan anggapan bahwa korupsi di Indonesia bukan sekadar

sebagai penyelewengan kekuasaan semata, akan tetapi sudah menjadi suatu

budaya tersendiri di dalam ranah birokrasi.14

13

Lihat [3]

14Dikutip dari Furmensius Andi, “Korupsi sebagai Sebuah Budaya? Sebuah Telaah Filosofis atas Fenomena Korupsi di Indonesia”, http://perkantasjatim.org/index.php?g=writing&id=49 (25 Oktober 2011). Hingga sekarang, istilah budaya korupsi tetap menjadi perdebatan; terutama karena definisi budaya sebagai sebagai sesuatu yang memicu peningkatan nilai kehidupan manusia dalam lingkungan yang manusiawi sangat bertentangan dengan korupsi yang dianggap sebagai salah satu perbuatan manusia yang paling rendah. Sebelumnya, pernyataan ini

dipopulerkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dalam Kabinet Pembangunan VI masa pemerintahan Orde Baru sekaligus Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia, Mar’ie

(10)

Semenjak era pemerintahan Orde Lama pun, sudah banyak peraturan

pemerintah yang dibuat untuk mengatur penanganan korupsi; hanya saja, tanpa

adanya niat yang nyata dari para penegak hukum, tentu tidak ada perubahan yang

dapat dihasilkan. Beberapa peraturan tersebut antara lain:

o Buku II Bab XXVIII KUHP tentang Kejahatan Jabatan;

o Pasal 413-437 KUHP tentang Korupsi sebagai Delik Jabatan;

o Pasal 415-425 KUHP;

o Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Darat 16 April

1958 Nomor Prt/Peperpu/013/1958 (BN Nomor 40 Tahun 1958) (staf

Angkatan Laur Nomor Prt/Z.1/I/7) yang membagai tindak korupsi ke dalam

dua jenis; tindak korupsi pidana, tercantum dalam pasal 2, serta tindak

korupsi bukan pidana-perdata, yang dijelaskan secara rinci dalam pasal 3.

o Peraturan Penguasa Perang Pusat Nomor 24 Tahun 1960 tentang

Pengusutan, Penuntutan, dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi

(Undang-Undang Nomor 24/Prp/1960) yang pertama kali memperkenalkan istilah

Tindak Pidana Korupsi;

o Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 (berlaku sejak 29 Maret 1971);

o Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi; kemudian digantikan oleh Undang-Undang Nomor 20

Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999;

o Yurisprudensi, diantaranya adalah Putusan MA Nomor 88K/Kr/1969,

Nomor 77K/Kr/1973, dan Nomor 1340/Pid/1992.15

Melihat banyaknya sumber hukum yang mengatur masalah korupsi secara

langsung diatas, maka dapat dinyatakan suatu premis bahwa para penegak hukum

seharusnya tidaklah perlu mengalami kesulitan dalam mengusut berbagai kasus

yang ada; karena ranah hukumnya yang luas memberikan para penegak hukum

ruang gerak yang luas pula.

15 Rudi Satriyo Mukantardjo, “Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dan Sejarah

(11)

Pun dalam menelaah kasus pembebasan Mochtar Muhammad oleh

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, tak ada salahnya jika catatan prestasi

KPK yang belum pernah gagal menjerat terdakwa korupsi dalam sekitar 68 kasus

selama hampir satu dekade dijadikan salah satu acuan atau pertimbangan.16 Salah

satu contoh konkrit keunggulan tim penyidik KPK dapat dilihat dari kasus

pembebasan Gubernur Bengkulu nonaktif, Agusrin Najmuddin, oleh hakim

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Syarifuddin Umar, yang saat ini tengah

menjalani masa persidangan atas suap yang diterimanya semasa menjabat

pengawas kepailitan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.17 Kasus ini menjadi hangat

karena selang beberapa lama pascavonis pembebasannya, Agusrin malah

tertangkap tangan oleh KPK dalam kasus suap dan pemerasan.18

Kasus pembebasan Mochtar ini pun bisa jadi berakhir serupa dengan kasus

Agusrin. Jika dalam kasus Agusrin, hakim yang bermain mata adalah Syarifuddin,

maka dalam persidangan Mochtar, terdapat satu nama hakim yang menjadi

sorotan utama, yaitu Ramlan Comel.

Hakim ad hoc berusia 60 tahun ini menjadi bulan-bulanan media massa

pascavonis bebas Mochtar setelah Denny Indrayana, Sekretaris Satuan Tugas

Pemberantasan Mafia Hukum, membeberkan bahwa salah satu hakim, berinisial

“R”, yang mengadili perkara Mochtar pernah terjerat kasus korupsi.19 Namun, kepada media massa, Ramlan membantah tuduhan ini meskipun kemudian temuan

di lapangan berbicara lain.

Pada Juni 2005, Pengadilan Negeri Pekanbaru, Riau, menjatuhkan hukuman

dua tahun penjara dan denda Rp. 100 juta kepada Ramlan karena terbukti bersalah

dalam dugaan kasus korupsi dana overhead di PT Bumi Siak Pusako Riau.

Kerugian negara yang diakibatkan oleh kasus ini pun ternyata tak sedikit;

mencapai angka Rp. 766 juta. Namun, di tingkat kasasi, Mahkamah Agung

16 Emerson Yuntho, “Lampu Kuning untuk Pengadilan Tindak Pidana Korupsi”,

Tempo, No. 3680/XI, 18 Oktober 2011, h. A11.

17Isma Savitri, “Syarifuddin Diancam 20 Tahun Penjara”,

Tempo, No. 3683/XI, 21 Oktober 2011, h. A6.

18

Emerson Yuntho, loc. cit.

(12)

membatalkan vonis bersalah tersebut. Ramlan dinilai tidak bersalah dan

dilepaskan dari semya tuntutan jaksa kala itu. Data ini pun juga diamini

kebenarannya oleh Ketua Bidang Pengawasan dan Investigasi Komisi Yudisial,

Suparman Marzuki.20

Bukan hanya Ramlan, ternyata dua hakim lainnya, Azharyadi dan Eka

Laksana, juga memiliki rekam jejak yang tidak bebas cacat; meskipun keduanya

tidak pernah duduk di kursi pesakitan. Dua hakim ini ternyata pernah dilaporkan

oleh masyarakat karena dinilai melakukan pelanggaran kode etik kehakiman.

Meskipun tidak pernah terbukti bersalah, kedua hakim ini tentunya layak untuk

dievaluasi bersama Ramlan. Evaluasi ini semakin penting apabila menimbang

keterlibatan Ramlan dan Azharyadi dalam dua kasus korupsi lain yang divonis

bebas oleh Pengadilan Tipikor Bandung.21

Melihat catatan-catatan ini, wajarlah publik pun mulai mempertanyakan

independensi dan kapasitas para pengadil ini. Kegaduhan yang diciptakan pun

rupanya sampai ke Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan hukum

tertinggi di Indonesia. Dari pernyataan Ketua Muda Pidana Khusus Mahkamah

Agung, Joko Sarwoko, diketahui bahwa ternyata hakim Ramlan Comel tidak

terbuka mengenai rekam jejaknya ketika menjalani seleksi hakim tipikor. Alasan

inilah yang menurut Joko akan dijadikan penyebab MA memutuskan untuk

meminta Ramlan mundur daru jabatannya sebagai hakim ad hoc tipikor.22 Bak

gayung bersambut, permintaan MA ini pun sebenarnya akan terlaksana dengan

mudah karena Ramlan sendiri, pada 13 Oktober 2011 atau dua hari pasca

pembacaan putusan bebas Mochtar, menyatakan bahwa ia siap jika diminta

mundur atau diberhentikan; bahkan ia juga mengaku tak ada masalah jika Komisi

Yudisial memutuskan untuk memeriksa jejak rekamnya.23

20Sandy I. Pratama dan Erick P. Hardi, “Pengadil yang Sarat Catatan”,

Tempo, No. 4033, 17-23 Oktober 2011, h. 96.

21

Lihat [11]

22Taufik Rachman dan Palupi A. Auliani, “MA Minta Hakim Kasus Muchtar Muhamad Mundur”, http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/11/10/15/lt3qvt-ma-minta-hakim-kasus-muchtar-muhamad-mundur (25 Oktober 2011)

(13)

Lebih lanjut, Ketua Mahkamah Agung, Harifin A. Tumpa, menyampaikan

bahwa proses seleksi Ramlan ketika menjadi hakim tipikor tidak bermasalah dari

segi administratif. Selain mengikuti ketentuan dalam Undang-Undang dan

melibatkan lembaga swadaya serta anggota tim dari luar MA, pemilihan Ramlan

pun telah melalui uji publik. Namun, menurut Tumpa, MA tidak menerima

satupun pengaduan dari masyarakat mengenai rekan jejak Ramlan.24 Oleh karena

itu, partisipasi publik dalam proses hukum haruslah ditingkatkan melalui

pembentukan karakter masyarakat yang sadar, taat, serta peduli hukum.

Maraknya vonis bebas, baik oleh Pengadilan Tipikor maupun Pengadilan

Negeri di daerah, atas sejumlah kasus korupsi akhir-akhir ini memang patut

menjadi perhatian pemerintah. Selain kasus Mochtar, kasus-kasus lain yang patut

ditelusuri lebih dalam adalah pembebasan Bupati Lampung Timur nonaktif,

Sartono dan mantan Bupati Lampung Tengah, Andi Ahmad Sampurna oleh

Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Lampung.25 Kasus-kasus dengan vonis bebas

ini, kebanyakan diduga mengandung unsur pengabaian fakta hukum yang

diajukan oleh jaksa. Contoh dari pengabaian fakta ini, menurut Koordinator

Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch adalah

keberadaan audit dari BPKP yang mengonfirmasi bahwa dialog Wali Kota Bekasi

dengan beberapa tokoh masyarakat adalah fiktif alias tidak pernah ada.26

24

Taufik Rachman dan Palupi A. Auliani, loc. cit.

25 Nurrochman Arrazie dan Firman Hidayat, “Hakim Kembali Bebaskan Terdakwa Korupsi”, Tempo, No. 3682/XI, 20 Oktober 2011, A8. Pada 17 Oktober 2011, majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang yang terdiri atas Andreas Suharto sebagai hakim ketua serta hakim anggota Itong Isnaini Hidayat dan Ronald, memvonis bebas Andy Ahmad Sampurnajaya, mantan Bupati Lampung Tengah yang didakwa bersalah menyalahgunakan uang negara senilai Rp. 28 miliar semasa masih menjabat. Dalam sidang ini, jaksa penuntut umum, Yusna Adia, mengaku heran karena terdapat kontradiksi dalam putusan hakim. Menurutnya, dua bawahan Andy, yang telah terlebih dahulu disidang, divonis lebih ringan dari tuntutan 6 tahun penjara dengan alasan hanya menjalankan perintah. Menurut Yusna, keputusan majelis hakim untuk membebaskan Andy, yang sempat buron, sama sekali tidak masuk akal. Majelis hakim sendiri dalam putusannya beralasan bahwa satu saksi yang diajukan jaksa tidak memiliki nilai. Putusan bebas ini semakin menjadi kontroversi karena dua hari sebelumnya, pengadilan yang sama juga memvonis bebas Bupati Lampung Timur nonaktif dari dugaan korupsi.

26 Budi Yuwono, “MA Harus Eksaminasi Putusan Mochtar Muhammad”,

(14)

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah Risalah Sidang Putusan Mochtar

Muhammad yang dirilis oleh Komisi Pemberantasan Korupsi:

Dakwaan Fakta Persidangan Pendapat Hakim

Menyisihkan

DPRD Kota Bekasi Didukung keterangan saksi

o Hanya didukung

Tabel 1. Risalah Sidang Putusan Mochtar Muhammad. Sumber: KPK27

27 Anton Aprianto, “KPK versus Hakim” [Tabel],

(15)

Bercermin dari risalah ini, maka mungkin ada benarnya kecurigaan KPK

bahwa telah terjadi pengabaian fakta dalam persidangan kasus Muchtar. Selain

pengabaian barang bukti berupa hasil audit BPKP, majelis hakim juga

terang-terangan tidak memasukkan vonis atas kasus lain yang berkaitan dalam

pertimbangannya. Disamping Muchtar dan para pejabat Pemerintah Kota Bekasi,

kasus ini juga ikut menjerat dua pegawai BPK Jawa Barat. Kejanggalan kasus ini

pun terlihat dari fakta persidangan bahwa hanya Muchtar lah dari seluruh

terdakwa kasus ini yang tidak dihukum sama sekali; sementara tiga pejabat

Pemerintah Kota Bekasi dan dua pegawai BPK Jawa Barat yang sudah lebih dulu

diadili oleh Pengadilan Tipikor Jakarta dinyatakan bersalah dan telah memulai

masa hukuman.

Namun, terlepas dari semua kejanggalan yang ditemui dalam proses

peradilan tersebut, sehendaknya masyarakat tetap menghormati keputusan majelis

hakim demi menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan supremasi hukum; setidaknya

hingga beberapa waktu ke depan sampai ada keputusan lebih lanjut berkenaan

dengan kasasi yang diajukan oleh jaksa penuntut KPK ke Mahkamah Agung.

Masyarakat pun pastilah sudah mulai jengah melihat jumlah kasus

white-collar crime atau kejahatan jabatan yang terus meningkat seperti tak habis-habis.

Namun, tidak adil pula rasanya jika publik menuntut pengadil hukum untuk selalu

menghukum setiap tersangka korupsi. Faktanya memang ada kasus-kasus yang

ternyata merupakan rekayasa politis atau kesalahan dari segi struktural. Majelis

hakim pun, selama tidak terpengaruh oleh pihak manapun, tentulah senantiasa

menganut prinsip-prinsip keadilan dan obyektifitas dalam setiap putusannya.

Bagaimanapun, hukum memiliki sifat yang terbuka terhadap pengadilan dan

mendengarkan kedua belah pihak, sehingga wajar jika ada kasus yang berakhir

dengan putusan negatif.28 Oleh karena itulah, masyarakat tidak bisa hanya duduk

manis lalu ikut bereaksi setiap kali terjadi suatu gejolak. Masyarakat harus ikut

serta aktif dalam mengawal proses penegakan hukum agar tercipta suasana

peradilan yang memuaskan bagi semua pihak terkait.

28

(16)

Keputusan majelis hakim membebaskan Muchtar dari jeratan hukum, selain

perlu dijadikan sebagai bahan perdebatan di tengah-tengah masyarakat dalam

rangka mewujudkan sebuah masyarakat sadar hukum, hendaknya juga dapat

dijadikan sebagai sarana refleksi dan pembelajaran bagi seluruh pelaku maupun

sekadar pengamat hukum di Indonesia; terkhusus para penyidik dan jaksa KPK

yang terlibat langsung dalam kasus Muchtar. Hal ini sangatlah penting karena

kebiasaan masyarakat tanah air yang acap kali mencibir dan menunjukkan

resistensi setiap keputusan penegak hukum yang tidak populer dapat

menyebabkan terjadinya delegitimasi lembaga peradilan di dalam kehidupan

bernegara. Apabila ini sampai terjadi, maka imbasnya akan mengena ke seluruh

aspek kehidupan karena penegakan hukum memiliki peran yang begitu krusial.

Gejolak yang timbul dari Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung ini

dikhawatirkan dapat menyebabkan lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap

keseriusan aparat hukum dalam memberantas korupsi. Dulu, sebelum dibentuk

Pengadilan Tipikor daerah, kinerja Pengadilan Tipikor yang terpusat patut

diacungi jempol. Dari 68 kasus yang disidang oleh Pengadilan Tipikor, tak

satupun yang lepas dari jeratan hukum; ditambah lagi dengan masa hukuman

terdakwa korupsi yang mencapai rata-rata 3-4 tahun penjara sehingga berhasil

memberi efek jera. Keadaan mulai menunjukkan tren negatif semenjak Pengadilan

Tipikor dibentuk di daerah-daerah. Menurut data ICW, dalam dua tahun sejak

mulai bekerja pada 2009, tercatat sudah 26 kasus korupsi yang berakhir dengan

vonis bebas. Ke-26 kasus ini semuanya datang dari empat daerah: Jakarta,

Semarang, Surabaya, dan Bandung.29

Statistik ini tentunya mulai menumbuhkan skeptisisme masyarakat terhadap

Pengadilan Tipikor daerah. Dalam catatan ICW, sejak 2005 hingga 2009, dari

1.624 kasus korupsi yang masuk ke ruang hukum pengadilan umum, hanya 831

atau 50,6 persen yang divonis bersalah; sisanya, 821 kasus berakhir dengan vonis

tidak bersalah. Masa rataan hukuman bagi terdakwa yang terbukti bersalah pun

kurang meyakinkan; hanya 1-2 tahun, sehingga gagal memberikan efek jera.30

29

Emerson Yuntho, loc. cit. 30

(17)

Meskipun dilematis, pembentukan Pengadilan Tipikor di daerah memang

tak terhindarkan karena menurut Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009 tentang

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, diatur bahwa Pengadilan Tipikor adalah

satu-satunya pengadilan yang berhak memeriksa, mengadili, dan memutus perkara

tindak pidana korupsi. Perkara yang diadili pun bukan hanya yang datang dari

KPK, akan tetapi juga dari Kejaksaan Negeri.31

Oleh karena itu, bermunculannya vonis-vonis bebas terhadap kasus korupsi

di berbagai daerah dalam angka yang tidak menenangkan haruslah ditanggapi

dengan serius, waspada dan siap siaga oleh pemerintah. KPK dan

kejaksaan-kejaksaan di daerah pun hendaknya mulai mengevaluasi kinerja masing-masing

dalam bidang penyidikan dan penuntutan perkara korupsi; mulai dari proses

pendakwaan, pembuktian, hingga penuntutan. Evaluasi ini bersifat krusial agar

KPK dan kejaksaan mampu mengemban tugas memberantas korupsi secara serius;

sehingga rakyat pun merasa bisa mempercayai dua lembaga ini.

KPK, dengan segala keterbatasannya, tentu masih pantas disebut sebagai

pemimpin barisan dalam perang melawan korupsi. Hingga saat ini, wewenang

KPK untuk melakukan penyidikan dan penuntutan sekaligus berjalan dengan

relatif lancar. Hanya saja, banyak pihak yang mulai melancarkan tekanan karena

merasa terancam atau tidak percaya kepada kinerja KPK. Ini tentu patut diberikan

perhatian serius oleh para pimpinan lembaga perwakilan rakyat sebagai pemegang

kekuasaan legislatif; terlebih lagi karena tekanan yang diterima KPK beberapa

waktu belakangan ini banyak muncul dari para politisi Senayan. Salah satu debat

yang berlangsung saat ini adalah mengenai pembatasan wewenang KPK menjadi

sebatas penyidikan dengan wewenang penuntutan dikembalikan pada kejaksaan.

Selain itu, muncul pula usulan agar KPK diberikan kewenangan untuk

menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).32

31

Ibid. Undang-Undang ini juga menngatur agar dalam waktu maksimal dua tahun semenjak disahkan, Mahkamah Agung sudah harus membentuk Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di ibukota provinsi. Hingga April 2011, sudah ada 14 pengadilan tindak pidana korupsi yang terbentuk di berbagai daerah.

(18)

Secara sepintas lalu, tentu ide perluasan kewenangan KPK ini seperti ide

yang bagus dan positif. Namun, jika ditelaah dari sisi hukum, malah jika KPK

memiliki kewenangan menerbitkan SP3, dikhawatirkan akan menimbulkan

kemerosotan prestasi kerja para penyidik KPK. Kekhawatiran ini tentu cukup

beralasan mengingat apabila KPK memiliki kewenangan menghentkan

penyidikan, maka etos kerja KPK yang dikenal teliti, cermat, dan komprehensif

bisa jadi hilang tak berbekas; karena tidak perlu lagi ada rasa waspada dan

hati-hati dalam menyidik suatu kasus. Akibatnya, KPK pun jadi lemah dan kehilangan

wibawanya tergerus oleh kemungkinan terjadinya tawar-menawar dalam

penyidikan.

Pun halnya dengan Mahkamah Agung sebagai atasan langsung dari seluruh

Pengadilan Tipikor di daerah-daerah. Langkah awal tentunya haruslah melakukan

evaluasi dan peninjauan kembali mengenai efektivitas dan efisiensi kinerja

Pengadilan Tipikor di daerah; terutama dalam hal menyeleksi para hakim sebagai

pengadil tipikor. Syarat-syarat yang diberlakukan haruslah ketat dan kalau perlu

intolarable; setiap praktisi hukum yang pernah tersangkut kasus korupsi dengan

status apapun sebaiknya tidak digunakan jasanya dalam pengadilan ini. Jumlah

praktisi hukum yang banyak pun dapat menjadi jaminan bahwa MA tidak akan

kekurangan pasokan pengadil yang berintegritas.

Sementara untuk Komisi Yudisial, haruslah mulai menampakkan kinerjanya

secara nyata kepada masyarakat; mengingat semenjak dibentuk beberapa tahun

silam, komisi ini notabene belum menghasilkan gebrakan apapun dalam dunia

peradilan tanah air. KY haruslah teliti dan saksama dalam mengawasi kinerja para

pengadil baik di dalam maupun di luar kedinasan.

Hal ini tentunya bukanlah suatu tantangan yang berat bagi KY; menimbang

ruang gerak lembaga-lembaga negara tertentu yang semakin luas seiring dengan

disahkannya Undang-Undang Intelijen Negara yang kontroversial dan dikecam

banyak pihak baru-baru ini. 33

33 Dalam Febriyan, dkk., “Pengesahan UU Intelijen Dikecam”,

(19)

Dengan ruang gerak yang semakin luas, tentunya tanggung jawab yang

diemban oleh Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial pun semakin berat. MA

hendaknya mulai memperketat kriteria para pengadilnya; serta tentu tidak perlu

sungkan untuk melibatkan KY secara langsung dalam proses penyaringan

sehingga para pengadil yang kelak bertugas mengawal upaya pemberantasan

korupsi di garis akhir pun dapat menunjukkan kualitas yang memuaskan di mata

rakyat.

(20)

PENUTUP

Dari bagian latar belakang, identifikasi, hingga pembahasan masalah, telah

ditelaah secara panjang lebar mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia

secara umum dan dikaitkan dengan studi kasus mengenai vonis bebas Wali Kota

nonaktif Bekasi, Muchtar Muhammad, dari dakwaan subsider dengan empat kasus

korupsi sekaligus. Dari kasus yang kemudian menimbulkan gejolak dan

gelombang skeptisisme terhadap keseriusan dan kinerja dari Pengadilan Tindak

Pidana Korupsi daerah ini, dapat ditarik berbagai kesimpulan, mulai dari

penyebab merajalelanya praktik korupsi dalam korps pemerintahan tanah air

hingga implikasi-implikasi yang ditimbulkan oleh berbagai kasus korupsi;

termasuk vonis bebas Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung atas kasus

Muchtar.

Secara umum, ada beberapa faktor yang dapat disebut sebagai penyebab

maraknya praktik korupsi dan penyelewengan kekuasaan di Indonesia

berdasarkan pembahasan sebelumnya, yaitu:

o Pembungkaman fakta oleh pemerintah. Seperti pada zaman pemerintahan

Orde Lama dan Orde Baru, pemerintah terkesan tidak suka dikritik ataupun

disalahkan; sehingga yang terjadi akhirnya adalah pengalihan dan

pengaburan isu; sehingga isu yang sebenarnya lebih penting terabaikan.

o Politisasi berbagai kasus korupsi. Banyak kasus korupsi yang menguap

begitu saja atau berakhir tanpa kejelasan. Contoh nyatanya saja yaitu

pengampunan terhadap dosa-dosa korupsi, kolusi, dan nepotisme mantan

Presiden Soehato tanpa melalui proses peradilan yang benar.

o Kemiskinan karakter para pemangku kekuasaan. Kemiskinan karakter yang

dimaksud dapat berupa banyak hal; mulai dari rasa tidak pernah puas akan

apa yang sudah dimiliki, ketiadaan integritas diri, penyimpangan dalam

sistem dan watak birokrasi, serta lemahnya pengawasan dan kontrol sosial

masyarakat terhadap pemerintah. Miskin karakter juga dapat disebabkan

(21)

Sedangkan akibat yang ditimbulkan oleh permasalahan korupsi ini,

diantaranya adalah kemerosotan harga diri dan kehormatan bangsa di dunia

internasional. Menurut survei yang dilakukan oleh Transparency International,

Indeks Persepsi Korupsi Indonesia adalah yang terburuk di Asia. Dari tahun 2002

hingga 2007, kenaikan IPK Indonesia begitu lambat sehingga tertinggal jauh dari

negara-negara Asean lainnya. Berikut adalah tabel lengkap pergerakan Indeks

Persepsi Indonesia dan negara-negara besar Asean lainnya selama lima tahun dari

2002 hingga 2007:

Tabel 2. Indeks Persepsi Korupsi Negara-Negara Asean34

Lebih lanjut, dalam menyikapi problema ini, ada beberapa hal yang perlu

dibangun oleh segenap bangsa; bukan hanya pemerintah tapi juga masyarakat

secara umum, yaitu:

o Transparansi Birokrasi; tanpanya, maka seluruh usaha yang digencarkan

pemerintah tidak akan berarti apa-apa karena sebuah pemerintahan yang

tidak transparan hanya akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat.

o Integritas; berupa sikap yang jujur, dapat dipercaya, adil, dan sebagainya.

(22)

o Komitmen kepada Negara; dengan berkomitmen kepada negara dan pengak

hukum, maka tentu segenap warga negara akan memiliki rasa cinta tanah air

dan saling memiliki yang besar. Dengan menumbuhkan rasa cinta tanah air,

maka diharapkan seseorang mampu menghindarkan diri dari perbuatan yang

merugikan negara dan orang banyak.

o Pembentukan Watak Birokrasi yang Bebas Korupsi; upaya ini salah satunya

dapat dilakukan dengan meningkatkan kesejahteraan pekerja publik

sehingga godaan untuk menyalahgunakan kewenangan yang dimiliki pun

dapat ditekan. Selain itu, kewenangan seorang pejabat, setinggi apapun itu,

tetaplah harus dibarengi dengan pengawasan yang saksama.

Sementara itu, ditilik dari studi kasus yang diambil, ada beberapa

kesimpulan dan saran yang dapat diajukan, yaitu:

o Vonis bebas Pengadilan Tipikor Bandung terhadap kasus dugaan korupsi

Wali Kota Bekasi nonaktif, Muchtar Muhammad, adalah benar adanya

mengandung kejanggalan seperti kontradiksi putusan dengan kasus terkait

serta kemungkinan pengabaian fakta persidangan.

o Vonis bebas Pengadilan Tipikor Bandung untuk Muchtar mestilah ditinjau

dan dievaluasi kembali melalui kasasi agar benar-benar menghasilkan

putusan yang adil dan tepat.

o Vonis bebas terhadap para terdakwa korupsi di berbagai daerah patut

dijadikan alasan dan dasar bagi Mahkamah Agung untuk mengevaluasi

kembali pelaksanaan peradilan tipikor di daerah.

o Tenaga pengadil yang bekerja di dalam ranah peradilan tipikor mestilah

memiliki track record yang tanpa cacat dan berprestasi. Untuk itu,

Mahkamah Agung perlu memperketat dan menaikkan standar dalam

melaksanakan seleksi pemilihan hakim tipikor.

o Sinergisasi fungsi antarsesama lembaga peradilan perlu ditingkatkan lagi

agar mencapai kondisi yang ideal; terutama antara Mahkamah Agung,

Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Yudisial, Kepolisian, dan

(23)

o Hakim yang dipilih menjadi pengadil tindak pidana korupsi hendaknya

haruslah memiliki suatu sense of crisis; sehingga tidak gegabah dan lebih

bijaksana dalam memutus suatu perkara.

o Perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap konsep keberadaan

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di daerah. Hal ini didasarkan pada

statistik cemerlang KPK ketika masih melakukan seluruh sidang korupsi

secara terpusat ternodai oleh buruknya statistik kinerja pengadilan tipikor

semenjak didesentralisasi ke daerah-daerah dua tahun yang lalu; terutama di

wilayah Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bandung yang menjadi daerah

dengan vonis bebas terbanyak. Apabila kelak hasil evaluasi menunjukkan

perlunya perbaikan total terhadap kinerja Pengadilan Tipikor di daerah,

maka MA sebagai pemegang kekuasaan yudikatif tertinggi haruslah

mengambil langkah sigap dengan mencanangkan reformasi. Tujuannya

adalah mencegah masyarakat dari sikap yang skeptis dan sinis.

o Fungsi KPK yang telah ada sekarang, yaitu penyidikan dan penuntutan,

sebaiknya tidak disertai dengan kewenangan menerbitkan SP3 karena

berpotensi merusak citra dan etos kerja KPK akibat terbukanya kesempatan

untuk berkompromi dalam penanganan suatu kasus.

o Masyarakat hendaknya tidak hanya mengkritik dan memperdebatkan setiap

keputusan lembaga peradilan yang tidak populer; melainkan juga

menjadikannya sebagai sarana refleksi dan pembelajaran sehingga

kedepanya dapat tercipta sistem peradilan yang lebih baik dengan

masyarakat yang aktif ikut serta dalam usaha penegakan hukum. Apabila

keadaan ini terwujud, barulah masyarakat dapat disebut sadar hukum.

o Hukuman yang dijatuhkan terhadap seorang terdakwa korupsi hendaknya

memiliki efek jera dan sekaligus efek mencegah. Pemerintah pun

menunjukkan upaya yang cukup serius dalam menciptakan efek jera pada

terdakwa kasus korupsi seperti dengan diberlakukannya moratorium

pemberian remisi bagi terdakwa korupsi.35

(24)

BIBLIOGRAFI

Andi, Furmensius. “Korupsi sebagai Sebuah Budaya: Sebuah Telaah Filosofis

atas Fenomena Korupsi di Indonesia”. http://perkantasjatim.org/index.php? g=writing&id=49 (25 Oktober 2011)

Apeldoorn, L. J. van. Pengantar Ilmu Hukum. Terj. Oetarid Sadino. Jakarta:

Pradnya Paramita, 2002.

Aprianto, Anton., Erick P. Hardi, dan Hamluddin. “Vonis yang Sudah Diduga”.

Tempo, 17-23 Oktober 2011, 90-93.

Arrazie, Nurochman. “Hakim Bebaskan Terdakwa Korupsi”. Tempo, 18 Oktober

2011, A8.

Arrazie, Nurochman., dan Firman Hidayat. “Hakim Kembali Bebaskan Terdakwa

Korupsi”. Tempo, 20 Oktober 2011, A8.

El Qudsi, M. Ichlas. “Fenomena Korupsi di Indonesia dan Pemberantasannya”.

http://politik.kompasiana.com/2010/04/27/fenomena-korupsi-di-indonesia-dan-pemberantasannya/ (25 Oktober 2011)

Febriyan., Isma Savitri, dan Jobpie S. “DPR Belum Miliki Rancangan Revisi

Undang-Undang KPK”. Tempo, 24 Oktober 2011, A2.

Febriyan., dkk. “Pengesahan UU Intelijen Dikecam”. Tempo, 12 Oktober 2011, A6.

Ferdianto, Riky. “Anggaran Antikorupsi 2012 Terlalu Rendah”. Tempo, 13

Oktober 2011, A6.

Hadi, Mahardika S., dkk. “Usulan Revisi UU KPK Ditolak”. Tempo, 14 Oktober 2011, A6.

Hardi, Erick P. “Penjara 15 Tahun Ancam Imas”. Tempo, 21 Oktober 2011, A6.

Hardi, Erick P., dan Mahardika S. Hadi. “Hakim Ad Hoc Perkara Mochtar Siap

Diberhentikan”. Tempo, 14 Oktober 2011, A6.

Hardi, Erick P., Tri Suharman, dan Hamluddin. Pengadilan Antikorupsi Bebaskan

Wali Kota Bekasi. Tempo, 12 Oktober 2011, A4.

Lubis, Mochtar. Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban. Jakarta:

(25)

Mukantardjo, R. Satriyo. “Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dan Sejarah Perkembangannya”. Materi Presentasi pada Pelatihan Hakim dalam Perkara

Korupsi, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Mahkamah Agung Republik

Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, 26 April 2010.

Paraqbueq, Rusman., dkk. “KPK Ajukan Kasasi Vonis Wali Kota Bekasi”.

Tempo, 13 Oktober 2011, A3.

Rachman, Taufik., dan Palupi A. A. “MA Minta Hakim Kasus Muchtar Muhamad

Mundur”. http://

republika.co.id/berita/nasional/hukum/11/10/15/lt3qvt-ma-minta-hakim-kasus-muchtar-muhamad-mundur (25 Oktober 2011)

Pratama, Sandy I., dan Erick P. Hadi. “Pengadil yang Sarat Catatan”. Tempo,

17-23 Oktober 2011, 96.

Savitri, Isma. “Pemerintah Sepakat Moratorium Remisi Koruptor”. Tempo, 20

Oktober 2011, A6.

——. “Syarifuddin Diancam 20 Tahun Penjara”. Tempo, 21 Oktober 2011, A6. Soekanto, Soerjono. Sosiologi: Suatu Pengantar. Ed. ke-4. Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada, 2002.

Supardan, Dadang. Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendekatan Struktural.

Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Transparency International Indonesia. “Corruption Perception Index”.

http://www.transparansi.or.id/?pilih=aboutcorrupton&id=6 (13 Mei 2007)

Wibisono, S. G., dan Tri Suharman. “Yunus Usulkan KPK Miliki Wewenang

Pembuktian Terbalik”. Tempo, 19 Oktober 2011, A6.

Wikipedia. “Komisi Pemberantasan Korupsi”. http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi

_Pemberantasan_Korupsi (25 Oktober 2011)

——. “Korupsi di Indonesia”. http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi_di_Indonesia (25 Oktober 2011)

Yuntho, Emerson. “Lampu Kuning untuk Pengadilan Tindak Pidana Korupsi”.

Tempo, 18 Oktober 2011, A11.

Yuwono, Budi. “MA Harus Eksaminasi Putusan Mochtar Muhammad”.

Gambar

Tabel 1. Risalah Sidang Putusan Mochtar Muhammad. Sumber: KPK27
Tabel 2. Indeks Persepsi Korupsi Negara-Negara Asean34

Referensi

Dokumen terkait

 Ketika proses hendak masuk critical section, proses lebih dulu memeriksa variable lock dengan ketentuan :.  Jika variable lock bernilai 0, proses mengeset variable lock menjadi

Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan model pembelajaran Connecting, Organizing, Reflecting, and Extending (CORE) untuk meningkatkan kemampuan

According to Asfai (2009:15), in the process of giving Jajuluk usually traditional elders sounding the percussion (in general sounded a Gong Adat), while

Masalah utama dalam portofolio adalah bagaimana investor memilih dan menentukan kombinasi terbaik antara tingkat pengembalian dan risiko agar terbentuk portofolio yang optimal

Kebijakan    dan    Strategi    Penataan    Ruang    Wilayah    Nasional,    meliputi    kebijakan    dan    strategi   pengembangan   struktur   ruang   dan   pola

pendidikan masyarakat Indonesia yang semakin lama semakin tinggi dan sedikitnya ilmu yang dapat diserap oleh para pelajar di sekolah menyebabkan menjamurnya

Perancangan launching destination branding merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yaitu membangun brand awareness dan image positif

Bahkan di penghujung kegiatan pada 21 September 2014, disaksikan ratusan peserta riungan dan ribuan pasang mata pengunjung lainnya ia tampil membacakan sebuah