CHINA SEBAGAI KEKUATAN DUNIA BARU
DISUSUN OLEH :
Putri Puspita
Ilmu Politik 2A
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………...………..1 B. Rumusan Masalah………..………2
2. KERANGKA TEORI
A. Kerjasama Internasional……….3 B. Liberalisasi……….3
3. PEMBAHASAN………..…..…4
4. PENUTUP
A. Kesimpulan………...…12 B. Saran………...….12
Daftar Pustaka……….13
BAB I
A. Latar Belakang Masalah
China, negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, banyak dianggap sebagai negara dengan perekonomian terbesar dunia akhir abad ini. China telah merubah skala prioritas dari negara pertanian menjadi negara industri. Pertengahan dekade 90-an, China semakin meneguhkan eksistensi model perekonomiannya yang baru. Model perekonomian China ditandai dengan mobilisasi modal dan tenaga kerja secara besar-besaran, investasi asing, industri dalam skala besar, dan campur tangan pemerintah. Kemampuan China dalam memobilisasi modal dan tenaga kerja telah meningkatkan pendapatan per kapita hingga tiga kali lipat dalam satu generasi, dan mengurangi lebih dari 300 juta kemiskinan.1 Banyak yang berpandangan dengan meningkatnya perubahan ini serta perkembangan ekonomi China akan menjadi kekuatan hegemoni baru bukan hanya di Asia, tetapi juga di dunia internasional.
Kebangkitan China tidak lepas dari peran Deng Xiaoping yang melakukan lompatan jauh kedepan yang merupakan hasil pemikiran Mao Tse Tung ataupun kebijakan pintu terbuka (open door policy) yang menggerakkan modernisasi di China lewat empat sektor yang menjadi fokus utamanya yaitu pada bidang pertanian, industri dan teknologi, pendidikan, serta pertahanan. Khusus untuk bidang pertahanan, China mengalokasikan dana yang sangat besar demi membangun armada militer yang kuat. Sejak awal tahun 2000, anggaran militer China yang semula berjumlah 14,6 milliar dollar Amerika terus mengalami peningkatan hingga diperkirakan akan mencapai 44,9 miliar dollar Amerika pada tahun 2009.2
Guna semakin memperkuat eksistensinya di dunia perekonomian internasional, China pun bergabung ke dalam beberapa organisasi, seperti World
1 Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Di Balik Sukses Ekonomi China dan India.
Trade Organization (WTO), dan BRICS yang merupakan singkatan dari Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan sebagai negara yang diyakini akan menjadi poros baru perputaran roda ekonomi. Pergerakkan China tersebut membuatnya diramalkan menjadi negara dengan perekonomian paling tinggi di dunia mengalahkan Amerika Serikat.
B. Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang diatas, penulis mencoba untuk merumuskan masalah serta batasan-batasan yang diperlukan agar pokok pembahasan yang ada tidak melebar. Adapun rumusan masalah tersebut, penulis deskripsikan sedikitnya atas dua pertanyaan sebagaimana berikut:
1. Apa alasan yang melatarbelakangi China sebagai kekuatan dunia baru? 2. Bagaimana dampak tergabungnya China dalam WTO dan BRICS dalam
meningkatkan perekonomian China?
BAB II
KERANGKA TEORI
Kalevi J. Holsti menyatakan bahwa kerjasama di lingkup internasional adalah transaksi dan interaksi antar negara bangsa dalam sistem internasional yang berlangsung secara rutin untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu sehingga dapat memuaskan dua atau lebih pihak-pihak yang berkolaborasi.3
Kerjasama Internasional dapat berlangsung dalam ruang lingkup seperti pada skala global, regional, dan bilateral. Kerjasama antar aktor baik state
maupun non-state actors pada sistem internasional sering diklasifikasikan berdasarkan isu, seperti transformasi sistem internasional, perdagangan dengan investasi internasional, keamanan internasional, dan lain lain.
B. Liberalisasi
Liberalisme adalah salah satu perspektif ekonomi politik internasional. Liberal dapat diartikan sebagai bebas atau kebebasan. Perspektif liberalisme dibagi menjadi dua yaitu liberalisme klasik dan liberalisme modern. Liberalisme klasik dipelopori oleh John Locke, Alexis de Tocqueville dan Adam Smith. Liberalisme klasik lebih condong pada konsep pasar bebas, sedangkan liberalisme modern menginginkan peran negara yang lebih aktif dalam bidang ekonomi, yang bertugas sebagai regulator pasar, maupun penyedia barang dan jasa. Dengan kata lain, menuntut peran negara yang lebih signifikan dalam meraih tujuan bersama, terutama ekonomi.4
BAB III
PEMBAHASAN
3 K.J. Holsti, International Politics: A Framework for Analysis, (New Jersey: Prentice-Hall, 1977), h. 457.
4 Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppi, International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalism and Beyond, 3rd Edition, (Boston: Allyn and
Perekonomian Cina berkembang dengan pesat sejak pemerintahan Deng Xiaoping mulai membuka belenggu perekonomian negara pada tahun 1979. Pada era sebelumnya, yaitu pada masa kepemimpinan Mao Zedong yang konservatif dan terlalu tertutup, China seakan terasingkan dari dunia internasional. Perekonomian yang semakin terpuruk, bahkan kebijakan "lompatan jauh ke depan" (the great leap forward) yang dicetuskan oleh Mao Zedong pada tahun 1958 yaitu berupa program industrialisasi yang radikal mengalami kegagalan. Dalam Konferensi Lushan 1959, Mao Zedong pun dikecam akibat kegagalan kebijakan tersebut yang berimbas pada pengunduran dirinya sebagai presiden yang hanya bertahan lima tahun. Namun, setelah rezim Mao Zedong berakhir dan digantikan oleh Deng Xiaoping, China mulai mengalami kemajuan di berbagai bidang termasuk dalam bidang ekonomi.5 Pencapaian industri China ini seolah mengejar pertumbuhan industri negara-negara Eropa yang dimulai pada Revolusi Industri pada tahun 1890. Pertumbuhan industri yang dicapai oleh negara-negara Eropa selama seratus tahun, dikejar oleh China hanya dalam tiga dekade.6
Kemunculan China sebagai kekuatan dunia baru telah diprediksikan oleh berbagai kalangan, seperti Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew yang pada 1993 mengatakan "The size of China displacement of the world balance is such that the world must find a new balance in thirty to forty years. It's not possible to pretend that this is just another big player. This is the biggest player in the history of men". Dan pada Agustus 2001, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, P.D. Wolfowitz mengatakan China akan menjadi negara adikuasa pada pertengahan abad 21 atau perempat abad 21.7
5 Sayid Haikal Quraisy, Dampak Kebangkitan Ekonomi Cina Terhadap Kebijakan Perdagangan Internasional Amerika Serikat, Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, h. 2.
6 M. Jacques, When China Rules The World: The End of the Western World and the Birth of a New Global Order, (London: Penguin Books, 2009), h. 264.
Hal yang melatarbelakangi China menjadi kekuatan dunia baru tak lain adalah faktor ekonomi. Sejak diberlakukannya kebijakan pintu terbuka (open door policy) pada Desember 1978, perkembangan ekonomi di China berkembang pesat, bahkan pada tahun 1997/1998 ketika Asia tertimpa krisis, China merupakan satu-satunya negara yang pertumbuhan ekonominya stabil. Tak heran, hingga akhir 1990-an Cina tercatat sebagai negara tujuan Foreign Direct Investment (FDI) terbesar di Asia. Setiap dorongan pertumbuhan ekonomi ditandai dengan gelombang baru china fever oleh perusahaan asing. Peningkatan ini didukung dengan munculnya manifestasi baru dari kapitalisme China, seperti perusahaan-perusahaan pribadi, kemakmuran konsumen, pabrik-pabrik ekspor, bursa saham, dan kantor partai komunis dalam suatu bisnis.8
Kebangkitan China sebagai salah satu kekuatan ekonomi dan militer di dunia merupakan fenomena yang luar biasa, setelah terlihatnya kemampuan China untuk merubah sistem ekonominya dan mulai membuka diri terhadap ekonomi dunia. Pada tahun 1970, ekonomi China mengalami peningkatan sebesar 10% dalam 30 tahun pembangunan. Pada tahun 2007 China menyingkirkan Jerman sebagai peringkat 3 dalam ekonomi dan peringkat 2 dalam perdagangan dunia. Pada tahun 2008, GDP China mencapai 4,5-6 biliun Dollar dan makin mendekati ekonomi terbesar ke 2 di dunia yang saat ini diduduki oleh Jepang.9
Salah satu usaha China untuk semakin mengembangkan perekonomiannya yaitu dengan bergabung ke dalam World Trade Organization
(WTO). China ingin bergabung ke WTO sejak 1986, yang ketika itu masih bernama General Agreement on Tariffs and Trade. Tetapi China baru bergabung ke dalam WTO pada 11 Desember 2001, sebagai anggota ke-143.
8 Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Di Balik Sukses Ekonomi China dan India.
Menurut Xiao Lian, dari Chinese Academy of Social Science di Beijing, China masuk dalam WTO seperti halnya alasan masuknya China menjadi anggota olimpiade. Dalam olimpiade banyak peraturan yang tidak adil dan didikte oleh beberapa negara besar. Demikian juga halnya dengan WTO. China tidak antiglobalisasi dalam arti globalisasi teknologi, rule of law, untuk semua negara. Tetapi, yang ditentang oleh China dan dunia ketiga adalah “pematokan amerikanisasi semua standard global untuk masalah lingkungan hidup, perdagangan, dan moral”. Sebagian besar omzet perdagangan dunia berada dalam wadah WTO. Tanpa masuk dalam WTO, China tidak akan memperoleh kesempatan berkompetisi secara lebih luas dan bertanggung jawab untuk memperoleh pasar. 10
Ini merupakan kebutuhan yang tak terhindarkan bagi pertumbuhan ekonomi China. Di samping itu, ada kebutuhan politik China dengan masuknya mereka ke dalam WTO. China berharap memiliki suara dalam WTO dan bisa menjadi negara yang menyuarakan aspirasi Dunia Ketiga. Kebutuhan lain yaitu supaya China dapat belajar dan memperbarui sistem hukum dan perdagangan. China butuh badan dunia untuk memerangi kemiskinan. Xiao Lian mengatakan bukan suatu garansi bagi China untuk memperoleh keuntungan dengan masuknya menjadi anggota WTO, tetapi suatu peluang untuk berkompetisi dalam struktur ekonomi global.11
Dampak masuknya China ke dalam WTO diperdebatkan oleh banyak pihak. Ada yang mengatakan bahwa masuknya China bisa menjadi ancaman karena produksi barang China yang murah akan membanjiri pasar ASEAN, tetapi ada juga yang menilainya sebagai peluang.12 Terlepas dari itu, masuknya China ke WTO memberi dampak besar bagi China sendiri. Menjadi anggota
10 Josef P. Widyatmadja, Kebangsaan dan Globalisasi dalam Diplomasi, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), h. 221.
11 Ibid.
WTO berarti memperbolehkan investasi asing untuk masuk ke dalam pasar domestik, akan tetapi hal tersebut justru membangkitkan semangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya agar tidak kalah dari produk asing. Pendapatan China setelah menjadi anggota WTO meningkat menjadi 2,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju, sehingga dianggap mengancam Amerika Serikat yang memegang kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Berikut beberapa keuntungan konkrit yang diperoleh China setelah bergabung dengan WTO:
1. Hingga tahun 2002, China memiliki hubungan dagang bebas dengan 127 negara anggota WTO lainnya;
2. Peningkatan industrialisasi China dan alih teknologi tingkat tinggi bergunung semakin terbukanya investasi asing;
3. Penghargaan yang semakin tinggi terhadap hak kekayaan intelektual (HAKI), hak paten produk/trademark sehingga rakyat China bisa lebih kreatif, inovatif, dan berkompetisi secara sehat dalam sistem yang melindungi karyanya;
4. Otoritas dan rakyat China di satu sisi diuntungkan oleh pemasukan berbagai jenis pajak baru dan arus investasi asing yang masuk;
5. Semakin meningkatkan sumber daya manusia (SDM) rakyat China, dan lain-lain.13
Sejak terbuka pada investasi asing, bayak kemajuan yang telah dicapai China. Menurut statistik tahun 1986 jumlah orang miskin dilaporkan sebesar 125 juta orang, dan dalam tahun 1996, jumlah itu menurun menjadi 70 juta orang. China berambisi mengangkat 12 juta orang dari garis kemiskinan setiap tahunnya. Hal ini akan tercapai apabila China bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan dapat menekan inflasi. Tetapi setelah
China menjadi anggota WTO, tidak semuanya berjalan mulus. Ekonomi China mendapat tekanan dari luar, tanah pertanian berkurang 18,38% pada 2005, pendapatan penduduk pedesaan berkurang 2,05% pada 2005, keresahan dan kemiskinan rakyat pedesaan tak terhindarkan, jurang antara yang kaya dan yang miskin makin meingkat. Oleh karena itu pemberantasan korupsi, penegakan hukum dan peningkatan etik-moral masyarakat menjadi kebutuhan setelah China masuk WTO.
Selama sepuluh tahun ke belakang, nilai perdagangan internasional China menanjak di posisi 30 triliun dollar AS. Angka ini adalah pertumbuhan 140 persen ketimbang 2001. Direktur Jenderal WTO, Pascal Lamy, mengatakan basuknya China ke WTO tak hanya membuat perubahan signifikan bagi negeri itu, tapi juga memberikan keuntungan bagi seluruh anggota WTO.14 Dunia dan China saling membutuhkan. Di satu pihak, dengan masuknya ke dalam WTO, China berharap bisa mempermodern negara dan meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Di lain pihak, dunia juga butuh pasar dan peradaban China yang sudah berusia 5000 tahun lebih, untuk dapat mengimbangi peradaban Barat yang saat ini mendominasi dunia. Dalam konteks itu, kebutuhan China akan pakar dan tenaga ahli dari luar negeri menjadi tak terhindarkan lagi.15
Selain menggabungkan diri ke WTO, China melakukan lompatan besar dengan beraliansi bersama Brazil, India, dan Rusia pada tahun 2001, atau yang dikenal dengan singkatan BRIC. BRIC merupakan akronim yang diperkenalkan oleh Jim O’Neill dari Goldman Sachs, sebuah perusahaan perbankan dan investasi global, pada tahun 2001 di dalam artikelnya yang berjudul “The World Needs Better Economic BRICs.”16 Pada tahun 2009 China mengundang
14
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/11/11/16114165/Masuk.WTO.Ch ina. Perkasa diakses pada 30 Juni 2012, pukul 13.22 WIB.
15 Josef P. Widyatmadja, Kebangsaan dan Globalisasi dalam Diplomasi, h. 223.
16
Afrika Selatan untuk bergabung dan sekarang menyebut kelompok itu BRICS, dengan huruf “S” yang mewakili South Africa.
Negara-negara BRICS memandang diri mereka sebagai juru bicara negara-negara berkembang. Wakil Menteri Pengembangan Industri dan Perdagangan Luar Negeri Brazil, Alessandro Teixeira menekankan hal itu dengan menyatakan ini adalah pertemuan penting, karena tahun 2013, diperkirakan negara-negara berkembang akan melampaui negara-negara maju dalam hal PDB (Produk Domestik Bruto) di dunia. Pertemuan ini memusatkan perhatian pada ekonomi dan situasi keuangan global. Joseph Cheng, profesor ilmu politik di Universitas City di Hong Kong mengatakan negara-negara BRICS ingin mencapai konsensus supaya mereka bisa berada dalam posisi yang lebih baik dalam bernegosiasi dengan negara-negara maju.
Secara umum, negara-negara BRICS berpendapat bahwa negara-negara Barat telah mendominasi proses pembuatan peraturan di berbagai lembaga penting keuangan dan perdagangan internasional dan mereka ingin membalikan situasinya sekarang. Mereka ingin bisa berperan lebih efektif dalam proses pembuatan aturan.
pembangunan infrastruktur dan industri Afrika serta langkah nyata salah satunya dengan investasi langsung atau foreign direct investment, pertukaran pengetahuan dan mengimpor barang dari hasil negara-negara tersebut.17
Hasil dari pertemuan tersebut juga menyepakati pendirian "Bank Pembangunan BRICS", sebagai realisasi dari pertemuan-pertemuan sebelumnya dan yang sangat penting karena bank ini akan membantu lima negara memanfaatkan dan meningkatkan keuntungan satu sama lain, mereka juga sangat berharap bisa bekerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya. "BRIC Development Bank" diharapkan memainkan peran penting dalam mempromosikan pertumbuhan ekonomi lima negara, dan memfasilitasi perdagangan dan investasi. Berbeda dari IMF dan Bank Dunia, Bank Pembangunan BRIC akan disesuaikan untuk menawarkan proyek-proyek pada negara-negara berkembang dengan cara-cara yang lebih menguntungkan dan dalam sistem perdagangan yang adil atau fair trade.18 Akan tetapi bukan berarti tidak ada kendala dalam kerjasama BRICS, dalam masalah pembangunan bank, BRICS seringkali terkendala oleh kesepakatan terkait pembiayaan, manajemen, dan kantor pusat sehingga menunda implementasi proyek itu. Selain itu, BRICS sulit membentuk kesepakatan karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan yang mendasar. Contohnya, Afrika Selatan, Brazil dan India sangat bangga ekonomi-global.html diakses pada 30 Juni 2014, pukul 15.13 WIB.
18 Ibid.
kekuatannya. Jika disatukan, BRICS menguasai 40% kekuatan populasi dunia ini, 25% kekuatan wilayah bumi, dan 20% kekuatan GDP global. Bersama, BRICS memiliki kuasa kontrol terhadap 43% perdagangan asing dunia hal persentase itu masih terus bertambah.20 Diharapkan BRICS bisa menjadi kekuatan penyeimbang kekuatan ekonomi dunia sekaligus memberikan wajah ekonomi baru bagi dunia yang lebih baik dan memihak akan keadilan terutama bagi negara dunia ketiga.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
China, negara berpenduduk terbanyak di telah membuka belenggu ekonomi dan mulai ikut serta dalam perekonomian bebas kini. Pada kepemimpinan Mao Zedong, China yang saat itu cenderung konservatif menderita kemiskinan ekonomi yang cukup parah. Ketika kepemimpinan beralih pada Deng Xiaoping, China mulai mengalami kemajuan dalam bidang ekonomi. Hingga kini, China semakin menunjukkan taringnya dalam perekonomian internasional, terlebih setelah China secara resmi menjadi anggota World Trade Organization (WTO) pada tahun 2001 lalu yang memberi banyak keuntungan terhadap China serta masuknya China dalam BRICS, organisasi internasional yang berisikan negara-negara dunia ketiga dengan perekonomian terkuat.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis merekomendasikan saran-saran seperti berikut:
1. China harus mempertahankan eksistensinya sebagai poros baru perputaran uang agar kekuasaan negara-negara Barat tidak lagi mendominasi.
2. BRICS harus memberlakukan suatu peraturan agar anggota terikat dengan kesamaan kepentingan dan visi misi.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Bailey, Jonathan. 2007. Great Power Strategy in Asia: Empire, Culture
and Trade, 1905-
Holsti, K.J. 1977. International Politics: A Framework for Analysis. Prentice-Hall, New
Jersey.
Jacques, M. 2009. When China Rules The World: The End of the
Western World and the
Birth of a New Global Order. Penguin Books, London.
Widyatmadja, Josef P. 2005. Kebangsaan dan Globalisasi dalam
Diplomasi. Kanisius,
Yogyakarta.
Internet:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/11/11/16114165/Masuk.
WTO.China. Perkasa diakses pada 30 Juni 2012, pukul 13.22 WIB.
http://www.voaindonesia.com/content/article/92066.html diakses pada
30 Juni 2014, pukul 13.34 WIB.
http://www.ppitnanchang.org/artikel-118-brics-dan-kekuatan-baru-ekonomi-global.html diakses pada 30 Juni 2014, pukul 15.13 WIB.
http://www.thejakartapost.com/news/2011/12/05/ten-years-anniversary-new-brics-world.html diakses pada 30 Juni 2012, pukul