JURNAL SAIN PETERNAKAN INDONESIA (Indonesia Animal Science Journal)

Teks penuh

(1)

Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging terhadap Kadar Kalsium dan Sifat Organoleptik Stik Keju (Yenni Okfrianti, Kamsiah, Yusma Hartati) 11 – 18 Analisis Model Integrasi Lebah dengan Kebun Kopi (Sinkolema) dalam Rangka Peningkatan Produksi Madu dan Biji Kopi (R. Saepudin, A. M. Fuah, C. Sumantri, L. Abdullah, S.

Hadisoesilo) 19 – 32

Pengaruh Suplementasi Tepung Daun Indigofera Pada Tepung Gaplek Sebagai Sumber Energi Pengganti Jagung Kuning Dalam Ransum Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica) Terhadap Produksi dan Warna Kuning Telur(Tris Akbarillah, Kususiyah, Hidayat) 33 – 40 Penggunaan Ekstrak Saropus androgynus untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi dan Mutu Telur pada Peternakan Ayam Arab Petelur (Urip Santoso dan Suharyanto) 41 – 46

Pengaruh Aras Protein dan Ragi Tape terhadap Kualitas Karkas dan Deposisi Lemak pada Ayam Broiler (Farahdiba, Urip Santoso dan Kususiyah) 47– 54 Pengaruh Komposisi Genetik Hasil Persilangan Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica) Tiga Daerah Asal Terhadap Performans Produksi Telur (Desia Kaharuddin and Kususiyah)

55 – 60

Effects of Feeding Kroto (Aerophylla smaragdina) , Kricket (Brachytrypes membranaceus) and Diet Combinations on Live Performance of Young Edible –Nest Swiftlet (Collocalia

fuciphaga) (B. Brata, R. Saepudin, Sutriyono and Lindya) 61 66

Pengaruh Suplementasi Prekusor Karnitin (Niasin Dan FeSO4) dalam Ransum Berbasis Enkapsulasi Minyak Ikan Lemuru terhadap Perlemakan Darah Ayam Broiler (Yosi Fenita)

(2)

(Indonesia Animal Science Journal)

Dewan Redaksi

Ketua Suharyanto, S.Pt., M.Si.

Anggota Drh. Tatik Suteky, M.Sc.

Ir. Warnoto, M.P.

Ir. Desia Kaharuddin, M.P. Ir. Hidayat, M.Sc.

Ir. Kususiyah, M.S.

Nurmeiliasari, S.Pt., M.Agr.Sc.

Penyunting Prof. Ir. Urip Santoso, M.Sc, Ph.D.

Ir. Dwatmadji, M.Sc., Ph.D.

Heri Dwi Putranto, S.Pt., M.Sc., Ph.D. Ir. Endang Sulistyowati, M.Sc.

Ir. Siwitri Kadarsih, M.S. Dr. Ir. Yosi Fenita, M.P.

Administrasi dan Distribusi Olfa Mega, S.Pt., M.Si.

Gema Pertiwi, S.E.

Jurnal Sain Peternakan Indonesia adalah majalah ilmiah resmi yang dikeluarkan Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, sebagai sumbangannya kepada pengembangan ilmu Peternakan yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris yang memuat hasil-hasil penelitian, telaah/tinjauan pustaka, kasus lapang atau gagasan dalam bidang peternakan.

Jurnal Sain Peternakan Indonesia (ISSN 1978 – 3000) dalam satu tahun terbit dua kali (Januari-Juni dan Juli -Desember). Edisi khusus dalam Bahasa Inggris dapat diterbitkan apabila perlu. Redaksi menerima tulisan di bidang peternakan yang belum pernah dipublikasikan.

Indonesia Animal Science Journal (ISSN 1978 - 3000) is published 2 x per year (January-June and July - December). We receive original papers in Animal Husbandry which are not published in other journals.

Alamat Redaksi : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian UNIB.

Jalan W.R. Supratman Kandang Limun Bengkulu 38371A. Telp (0736) 21170 pst 219.

e-mail : jspi@unib.ac.id dan jspiunib@yahoo.com

Terbit Pertama Kali : Juni 2006

(3)

EDITORIAL

Salam Redaksi

Edisi kalo ini, JSPI menerbitkan kembali 9 (sembilan) artikel ilmiah hasil penelitian. Kategori artikel dalam jurnal ini meliputi aspek produksi, teknologi hasil, pakan dan nutrisi, aneka ternak, dan fisiologi nutrisi.

Artikel yang termasuk ke dalam kategori produksi diantaranya adalah

pemanfaatan minyak ikan lemuru tersabun untuk produksi sapi Bali, pengaruh

indigofera terhadap produksi puyuh dan kualitas telur, dan penggunaan ekstrak

daun katuk untuk produksi telur ayam arab. Aspek teknologi hasil menampilkan

artikel Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging terhadap

Kadar Kalsium dan Sifat Organoleptik Stik Keju. Aspek pakan dan nutrisi

menampilkan Pengaruh Aras Protein dan Ragi Tape terhadap Kualitas Karkas dan

Deposisi Lemak pada Ayam Broiler dan Pengaruh Suplementasi Prekusor Karnitin

(Niasin Dan FeSO4) dalam Ransum Berbasis Enkapsulasi Minyak Ikan Lemuru

terhadap Perlemakan Darah Ayam Broiler.

Aspek aneka ternak menampilkan artikel Analisis Model Integrasi Lebah

dengan Kebun Kopi (Sinkolema) dalam Rangka Peningkatan Produksi Madu dan Biji

Kopi dan Effects of Feeding Kroto (Aerophylla smaragdina) , Kricket (Brachytrypes

membranaceus) and Diet Combinations on Live Performance of Young Edible –Nest

Swiftlet (Collocalia fuciphaga). Sedangkan aspek genetik menampilkan artikel dengan

judul Pengaruh Komposisi Genetik Hasil Persilangan Puyuh (Coturnix-Coturnix

Japonica) Tiga Daerah Asal Terhadap Performans Produksi Telur.

Demikianlah, semoga dapat menambah khazanah perbendaharaan ilmiah di

dunia peternakan Indonesia.

Selamat membaca

(4)
(5)

(Indonesia Animal Science Journal)

Volume 6 No 1. Januari – Juni 2011 ISSN 1978 - 3000

DAFTAR ISI

Introduksi Minyak Lemuru Tersabun, Minyak Zaitun serta Pasta Temulawak pada Ransum terhadap Produksi dan Komposisi Kolesterol Serum Darah Sapi Bali (Siwitri

Kadarsih) 1 – 10

Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging terhadap Kadar Kalsium dan Sifat Organoleptik Stik Keju (Yenni Okfrianti, Kamsiah, Yusma Hartati) 11 – 18 Analisis Model Integrasi Lebah dengan Kebun Kopi (Sinkolema) dalam Rangka Peningkatan Produksi Madu dan Biji Kopi (R. Saepudin, A. M. Fuah, C. Sumantri, L.

Abdullah, S. Hadisoesilo) 19 – 32

Pengaruh Suplementasi Tepung Daun Indigofera Pada Tepung Gaplek Sebagai Sumber Energi Pengganti Jagung Kuning Dalam Ransum Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica) Terhadap Produksi dan Warna Kuning Telur(Tris Akbarillah, Kususiyah, Hidayat) 33 – 40 Penggunaan Ekstrak Saropus androgynus untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi dan Mutu Telur pada Peternakan Ayam Arab Petelur (Urip Santoso dan Suharyanto) 41 – 46 Pengaruh Aras Protein dan Ragi Tape terhadap Kualitas Karkas dan Deposisi Lemak pada Ayam Broiler (Farahdiba, Urip Santoso dan Kususiyah) 47– 54 Pengaruh Komposisi Genetik Hasil Persilangan Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica) Tiga Daerah Asal Terhadap Performans Produksi Telur (Desia Kaharuddin and Kususiyah)

55 – 60

Effects of Feeding Kroto (Aerophylla smaragdina) , Kricket (Brachytrypes membranaceus)

and Diet Combinations on Live Performance of Young Edible –Nest Swiftlet (Collocalia fuciphaga) (B. Brata, R. Saepudin, Sutriyono and Lindya) 61 66

Pengaruh Suplementasi Prekusor Karnitin (Niasin Dan FeSO4) dalam Ransum Berbasis Enkapsulasi Minyak Ikan Lemuru terhadap Perlemakan Darah Ayam Broiler (Yosi Fenita)

(6)
(7)

Introduksi Minyak Lemuru Tersabun, Minyak Zaitun serta Pasta Temulawak

pada Ransum terhadap Produksi dan Komposisi Kolesterol Serum Darah

Sapi Bali

Introduction of Lemuru Oil Saponification, Olive Oil and Temulawak Ginger Paste in Rations on Production and Composition of Bali Cattle Blood Serum

Siwitri Kadarsih

Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Jalan WR Supratman, Kandang Limun, Bengkulu

ABSTRACT

The research was aimed to reduce blood cholesterol. The research design used was completely randomized design with three treatment groups with four Bali cows in each treatment. The research was conducted for eight weeks. Temulawak paste was mixed into concentrate. The treatments were P0 (control group), P1 (6% lemuru fish oil, 1% olive oil, 37.3% rice brand, 62.7% corn meal, 7% layer concentrate, 200 grams temulawak paste) and P2 (8% lemuru fish oil, 2% olive oil, 37.3% rice brand, 62.7% corn meal, 7% layer concentrate, 200 grams temulawak paste). The concentrate was given 1% and 10% grass of body weight. Variables observed were production performance and blood cholesterol level. The collected data were statistically analysed by using Least Significance Different (LSD). Results showed that concentrate intake, water intake and pasture consumption were insignificantly different (P<0.05). However, there was a significant increase on body weight gain (P2, 0.270 kg/day/cow and P3, 0.258 kg/day/cow). Moreover, blood cholesterol level decreased significantly from 106.25±2.61 mg/dl to 70.25±1.835 mg/dl and gradually decreased to 58.50±3.293 mg/dl (P<0.05). Similarly, blood triglyceride level was also decreased significantly by 1.322 mg/dl (P<0.05). In contrast, HDL level increased significantly from 31.00±0.95 mg/dl to 58.50±1.393 mg/dl (P<0.05). LDL level decreased from 36.00±1.408 mg/dl to 20.50±1.558 mg/dl (P<0.05).

Key words : temulawak paste, lemuru fish oil, olive oil, Bali cow, cholesterol composition.

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan sapi yang mempunyai komposisi kolesterol darah yang rendah. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan menggunakan 3 perlakuan, masing-masing perlakuan digunakan 4 ekor sapi Bali umur lebih kurang 2 tahun. Pengamatan dilakukan 8 minggu. Pasta temulawak disediakan dicampur dengan konsentrat. Po (tanpa minyak lemuru dan temulawak); P1 (minyak lemuru tersabun 6%, minyak zaitun 1%; dedak padi: 37,30%; Jagung: 62,70%; KLK: 7%, pasta temulawak:100 g) ; P2 (lemuru tersabun 8 %, minyak zaitun 2 %; dedak; 37,30; jagung: 62,70%; KLK: 7%, pasta temulawak: 200 g). Konsentrat diberikan pada pagi hari sebanyak 1 % dari berat ternak berdasarkan bahan kering, sedangkan rumput diberikan minimal 10 % dari bobot ternak Variabel pengamatan meliputi: Performans produksi, komposisi kolesterol serum darah. Data yang diperoleh dianalisis varian dengan menggunakan LSD pada tingkat kepercayaan 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi konsentrat, konsumsi minum dan konsumsi hijauan menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05). Namun demikian pertambahan berat badan perhari menunjukkan adanya pengaruh perlakuan secara nyata (P<0,05) yaitu pada P2 sebesar 0,270 kg/hr/ekor dan P3 sebesar 0,258 kg/hari/ekor. Kolesterol serum darah sapi Bali menunjukkan adanya penurunan secara nyata (P<0,05) dari 106,25 ± 2,61 mg/dl menjadi 70,25 ± 1,835 mg/dl dengan ditingkatkannya dosis perlakuan kandungan kolesterol serum darah menjadi 58,50 ± 3,293. mg/dl. Demikian juga kandungan trigliserida serum darah mengalami penurunan secara nyata (P<0,05) dari 33 ± 0,934 mg/dl menjadi 25,35 ± 2,02 mg/dl dan turun lagi menjadi 17,50 ± 1,322 mg/dl. Sedangkan kandungan HDL menunjukkan peningkatan secara nyata (P<0,05) dari 31,00 ± 0,95 mg/dl menjadi 48,50 ± 4,061 mg/dl dan 58,50 ± 1,393 mg/dl. Selanjutnya untuk kandungan LDL serum darah menunjukkan penurunan secara nyata (P<0,05) dari 36,00 ± 1,408 mg/dl menjadi 27,87 ± 1,558 mg/dl dan 20,50 ± 1,835 mg/d.

(8)

| Studi Minyak Lemuru Tersabun 2

PENDAHULUAN

Sampai saat ini kecukupan konsumsi pangan hewani rakyat Indonesia masih jauh dari konsumsi

negara berkembang lainnya.

Berdasarkan data dari Badan Pangan Dunia (FAO) (2007), konsumsi daging rakyat Indonesia/ tahun hanya 11,9 kg, sementara konsumsi daging rakyat Thailand sudah mencapai 23, 3 kg dan china 59,8 kg. Hal ini seakan memperkuat keterpurukan kualitas

pembangunan manusia (human

development index) Indonesia yang hanya di urutan 107 dibawah Vietnam dan angka melek huruf pada urutan 56 dibawah Sri Lanka (UNDP, 2007). Sejatinya bahan pangan hewani sangat berperan dalam menopang kesehatan,

kecerdasan dan pembangunan

sumberdaya manusia. Fakta tersebut menunjukkan kualitas konsumsi pangan yang masih jauh dari kondisi ideal. Lagipula rendahnya konsumsi pangan bergizi ini semakin diperparah dengan

tekanan ekonomi .Dalam upaya

peningkatan kualitas bahan pangan, diversifikasi produk olahan pertanian

dan peternakan sudah menjadi

keharusan. Kelemahan ketrampilan selama ini yang menjadi penghambat peningkatan kualitas bahan pangan sudah seharusnya mendorong bagi pemerintah melalui lembaga penelitian Universitas, departemen terkait dan pemerintah daerah untuk bersatu padu dalam penyebarluasan informasi dan implementasi teknologi.

Namun demikian disisi lain dari hasil survey Kesehatan Rumah Tangga yang dilakukan Departemen Kesehatan

menunjukkan bahwa prevalensi

penyakit jantung di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat dan diikuti dengan peningkatan jumlah kematian.

Peningkatan tersebut banyak terjadi di Negara maju maupun Negara- Negara

berkembang, antara lain oleh

peningkatan taraf hidup yang langsung maupun tidak langsung mengubah gaya hidup maupun pola makan. Bahkan menurut penilaian Organisasi Kesehatan

Dunia (WHO) dan Departemen

Kesehatan saat ini mungkin tinggal 50 % penduduk Indonesia yang masih mengkonsumsi basic four food group seperti buah dan sayuran, padi-padian dan kacang-kacangan. Namun demikian saat ini mengalami kecenderungan mengkonsumsi golongan refined food, atau popular disebut fast food yang berlemak, namun gizinya kurang seimbang serta rendah serat.

Peningkatan kadar lemak dalam darah pada tubuh manusia pada akhir-akhir ini mendapat perhatian luas dikalangan masyarakat, terutama pada orang-orang yang asupan lemak baik melalui makan maupun minum cukup tinggi. Berdasarkan penelitian di berbagai Negara didapatkan hasil bahwa dengan meningkatnya asupan lemak menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol darah dan penelitian lain membuktikan adanya hubungan antara meningkatnya asupan lemak dengan penyakit jantung koroner (PJK). Lemak jenuh merupakan penyebab utama meningkatnya kolesterol total dan kolesterol LDL (kolesterol “jahat”) darah,

yang akhirnya menyebabkan

(9)

(kolesterol baik) yang melindungi jantung dan pembuluh darah.

Berdasarkan penelitian di berbagai Negara didapatkan hasil bahwa dengan meningkatnya asupan lemak menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol darah dan penelitian lain membuktikan adanya hubungan antara meningkatnya asupan lemak dengan penyakit jantung koroner (PJK). Lemak jenuh merupakan penyebab utama meningkatnya kolesterol total dan kolesterol LDL (kolesterol “jahat”) darah,

yang akhirnya menyebabkan

arterosklerosis dan penyakit jantung koroner. Sebagai contoh lemak jenuh antara lain: minyak goreng (minyak kelapa), minyak kelapa yang telah dipakai (jelantah), lemak yang terhidrogenasi yang banyak terdapat pada mentega dan margarine yang berperan dalam meningkatkan kolesterol LDL dan menurunkan kolesterol HDL (kolesterol baik) yang melindungi jantung dan pembuluh darah. Omega 3 terdapat pada minyak ikan dan minyak ikan ini telah lama digunakan serta dikenal luas diseluruh dunia. Namun dimasa lalu belum dikenal adanya omega 3, khasiat serta mekanismenya dalam meningkatkan kesehatan, tetapi secara empiris dapat menyehatkan tubuh.Sebagai contoh di Scotlandia

minyak ikan digunakan untuk

membantu pertumbuhan tulang

belakang dan perkembangan syaraf pusat. Di Inggris,

Anonimous (2005) Kolesterol merupakan bagian dari lemak yang sangat sulit larut dalam air maupun dalam darah kecuali lemak tersebut berikatan dengan protein tertentu sehingga lemak (lipid) dapat melayang-layang didalam darah. Lemak sangat dibutuhkan dalam tubuh dalam proses

pembuatan hormon dan dalam

pemeliharaan jaringan syaraf, akan tetapi

apabila kadar lemak dalam tubuh tinggi maka dapat menyebabkan terjadinya berbagai macam penyakit. Elemen lemak terdiri dari kolesterol, trigliserida, fosfolopid dan asam lemak bebas. Didalam hati kolesterol, trigliserida bergabung dengan protein tertentu akan membentuk lemak HDL(High Density Lipoprotein) dan LDL (Low Density Lipoprotein).Sebagai gambaran bahwa kadar normal lemak dalam darah manusia adalah: kolesterol: < 200 mg/dl; HDL > 50 mg/dl; LDL: < 150 mg/dl dan trigliserida < 150 mg/dl. HDL dikenal dengan sebagai kolesterol baik dan sering disebut dengan K-

HDL dan LDL sebagai kolesterol jahat atau sering disingkat dengan K-LDL.

Sudah banyak penelitian yang

menyimpulkan bahwa kolesterol

merupakan unsur terpenting yang

sangat mendasar pada proses

pengapuran dinding pembuluh darah coroner (jantung) seperti pada penelitian Framingham Heart Study, sebuah study yang disponsori oleh Nasional Heart, Lung and Blood Institute di Amerika Serikat.

Produk akhir dari proses lipolisis dan biohidrogenasi, sebagian ada yang diserap melalui dinding rumen. Benerjee (1978) menyebutkan bahwa seluruh asam lemak rantai pendek dan VFA hasil hidrolisis dan fermented lipid, diserap melalui dinding rumen, sedangkan asam lemak rantai panjang terus mengalir ke abomasum. Bouchat (1993) menyatakan bahwa didalam omasum digesti lipid pasca rumen yang sebesar 70 % terdiri asam lemak jenuh dan dari sintesa lemak “de no vo” serta 10 % fosfolipid microorganisme akan bergabung dengan benda padat lainnya. Setelah dari abomasum

(10)

garam-| Studi Minyak Lemuru Tersabun 4

garam empedu akan mengemulsi lemak dan diikuti dengan masuknya lipase. Selanjutnya Linder (1993 ) menyatakan bahwa lipase membawa zat-zat yang diperlukan untuk mencerna lemak. Lemak yang sebagian sudah dicerna, terutama dalam bentuk yang larut dalam air membentuk mixel-mixel yang stabil

(asam lemak rantai panjang,

monoglycerol dan asam-asam empedu) yang berdifusi ke permukaan sel mukosa usus halus dan melepaskan materi untuk diserap.

Minyak zaitun, mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung dan kanker. Penelitian menunjukkan serangan jantung di daerah Mediterania, yang mengkonsumsi minyak zaitun, hanya separuh dibanding di tempat lain. Berdasarkan Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positip oleat bagi kesehatan jantung.

Temulawak (Curcuma

xanthorhiza) merupakan bahan obat-obatan tradisional yang selama ini dipergunakan manusia untuk menjaga kesehatan, terutama untuk menambah nafsu makan, obat panas dalam,menjaga kesehatan fungsi hati. Hariana (2006) menyebutkan bahwa kandungan kimia temulawak sudah diketahui antara lain: minyak atsiri, curcuma, amilum, dammar, lemak, tannin, zat pahit, saponin dan flavonoid.Tanaman ini relative mudah, perlu cukup air dan

banyak tersedia di pedesaan atau perkampungan. Bagian tanaman sangat bermanfaat sebagai obat adalah rimpangnya. Menurut Hadi (1985), Nurjanah et al. (1994) dan Rukmana (1995) yang menyebutkan bahwa temulawak dipergunakan sebagai tonikum, mengobati gangguan saluran pencernaan, liver dan nafsu makan. Selanjutnya Hadi (1985) menyatakan bahwa kurkumin yang terkandung didalam temulawak mempunyai fungsi medis, farmakologis dan bersifat antiseptik. Pada hewan percobaan ternyata dosis kurkumin 30 mg/kg sama dengan fenilbutazon 100 mg/kg sebagai obat antiinflamasi, tidak toksik dan tidak menyebabakan gangguan sel-sel darah.

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengevaluasi minyak lemuru tersabun, minyak zaitun serta pasta temulawak terhadap produksi ternak serta komposisi kolesterol serum darah sapi.

MATERI DAN METODE

Penelitian menggunakan

Rancangan Acak Lengkap pola searah dengan menggunakan 3 perlakuan (tabel 1) dengan masing-masing perlakuan diulang 4 ekor sapi Bali dengan rata-rata umur 2 tahun.

Pengamatan dilakukan selama 8 minggu dengan variabel yang diambil antara pertambahan bobot ternak,

Tabel 1. Komposisi Ransum percobaan yang diberikan /kg

No Nama Bahan Kontrol Perlakuan I Perlakuan II

(11)

konsumsi pakan, konsumsi minum, komposisi kolesterol dalam serum darah. Hasil pengamatan dianalisis varian dan untuk antar perlakuan diuji dengan LSD (least Significant Different) dengan tingkat kepercayaan 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Pakan konsentrat

Konsumsi pakan konsentrat yang dihabiskan sapi selama penelitian dapat diperhatikan pada tabel 2.

Tingkat konsumsi (voluntary feed intake) atau jumlah pakan yang terkonsumsi oleh sapi bali selama percobaan mendapatkan rata- rata konsumsi pakan konsentrat pada perlakuan satu (P1) menunjukkan 1,370

kg/hari dan 1,395 kg/hari pada P2 dan 1,225 kg/hari pada P3. Hasil analisis variansi menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05) antara ketiga perlakuan tersebut. Hal ini berarti bahwa dengan adanya perlakuan palatabelitas sapi

masih cukup baik meskipun

menunjukkan angka lebih rendah dibanding P1 tetapi belum cukup untuk menunjukkan berbeda nyata. Konsumsi pakan ini penting diketahui dan diperhatikan karena merupakan faktor essensial sebagai dasar untuk hidup dan menentukan produksi dan ternak yang mempunyai sifat dan kapasitas konsumsi yang lebih tinggi, produksinya pun akan relatip lebih tinggi dibanding dengan ternak dengan kapasitas atau sifat konsumsinya rendah. Hal ini selaras dengan pendapat Kleiber, 1936 dalam

Tabel 2. Konsumsi pakan konsentrat sapi Bali selama penelitian

Keterangan Perlakuan 1 (P1) Perlakuan 2 (P2) Perlakuan 3 (P3)

P11 P12 P21 P22 P31 P32

Juni 38,20 39,95 38,85 35,50 38,50 35,50

Juli 41,60 40,00 43,40 44,00 38,40 33,50

Agustus 42,50 41,80 43,80 43,90 38,60 34,60

September 41,50 42,50 43,20 42,50 39,50 35,80

Total 163,80 164, 25 169,25 165,90 155,00 139,40

Rata-rata/bln 40,95 41, 56 42,312 41,47 38,75 34,85

Rata-rata/hari/ekor 1,36 1,38 1,410 1,38 1,29 1,16

Rata-rata/perlakuan 1,370 a 1,395a 1,225a

Keterangan: Subcript yang sama pada lajur yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05) P1 : Konsentrat dan r, lapangan

P2: Konsentrat + lemuru tersabun 6% + minyak zaitun 1%+ t,lawak 100 g + r,lapangan P3: Konsentrat + lemuru tersabun 8% + minyak zaitun 2% + t,lawak 200 g + r, lapangan

Tabel 3. Konsumsi minum sapi Bali selama penelitian

Keterangan Perlakuan 1 (P1) Perlakuan 2 (P2) Perlakuan 3 (P3)

Bulan P11 P1 2 P2 1 P22 P31 P32

Juni 15,00 16,00 17,00 16,00 14,00 15,00

Juli 16,00 18,00 16,50 15,00 16,00 15,00

Agustus 14,00 17,00 15,00 17,00 14,50 15,00

September 15,00 14,50 14,50 14,00 15,50 16,00

Total 60,00 65,50 63,00 62,00 60,00 61,00

Rata-rata/hr/ekor (cc) 0,50 0,545 0,525 0,516 0,500 0,508

Rata-rata/hr/ekor/plk (cc) 0,522 0,520 0,504

Keterangan: Subcript yang sama pada lajur yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05) P1 : Konsentrat dan r. lapangan

(12)

| Studi Minyak Lemuru Tersabun 6

Parakkasi (1999). Selanjutnya disebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi seekor sapi adalah cukup komplek karena tergantung: kondisi hewan itu sendiri, makanan yang diberikan serta lingkungan tempat ternak tersebut dipelihara.

Konsumsi minum

Konsumsi minum sapi Bali selama penelitian dapat diperhatikan pada tabel 3.

Konsumsi minum sapi Bali antara perlakuan satu, dua dan tiga tidak terjadi perbedaan secara nyata (P>0,05), hal ini berarti bahwa kesanggupan minum sapi Bali tidak mengalami perubahan dengan adanya perlakuan yang diberikan.

Konsumsi hijauan pakan

Hijauan pakan yang diberikan berupa rumput lapangan yang diambil dari pematang sawah, ladang pangonan maupun di daerah rawa-rawa. Adapun konsumsi sapi Bali selama penelitian dapat diperhatikan pada tabel 4.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata /hari/ekor konsumsi hijauan sapi Bali untuk perlakuan satu (P1) sebesar 8,382 kg dan untuk P2 sebesar 8,717 kg dan P3 sebesar 8,501 kg. Bedasarkan analisis varian menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05), antara P1

dan P3 dan secara nyata (P<0,05) antara P1 dan P2 .Dengan perlakuan dua (P2)

konsumsi hijauan mengalami

peningkatan sebesar 0,335 kg/hari/ekor.

Akan tetapi dengan semakin

ditingkatkannya dosis lemuru dan temulawak konsumsi hijauan cenderung menurun, namun jika dibandingkan dengan kontrol menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05). Hal ini berarti bahwa dengan perlakuan dua (P2) mempengaruhi dalam mengkonsumsi hijauan atau mengkonsumsi rumput lapangan. Dengan kata lain secara umum

menunjukkan dengan semakin

ditingkatkan perlakuan maka

palatabelitas sapi terhadap hijauan pakan tidak terpengaruh. Namun demikian konsumsi hijauan kurang dari 10% dari bobot badannya. Hal ini kemungkinan disebabkan ada beberapa faktor selain rumput yang diberikan kurang disukai oleh ternak dapat juga terjadi karena faktor adaptasi dari ternak tersebut, mengingat ternak sapi yang dipergunakan adalah sapi-sapi yang biasanya dilepas, meskipun sudah diadaptasikan selama kurang lebih satu bulan, tetapi dirasa masih kurang. Namun yang terpenting adalah antara perlakuan satu dan perlakuan tiga tidak terjadi perbedaan sehingga dengan perlakuan pemberian minyak lemuru

Tabel 4. Konsumsi hijauan Sapi Bali selama penelitian

Keterangan Perlakuan 1 (P1) (kg)

Rata-rata/hr/plk 8,382a 8,717b 8,501a

Keterangan: Subcript yang sama pada lajur yang tidak sama menunjukkan berbeda tidak nyata (P<0,05) P1 : Konsentrat dan rumput lapangan

(13)

tersabun, minyak zaitun dan pasta

temulawak tidak mempengaruhi

palatabelitas pakan hijauan.

Pertambahan berat badan

Pertambahan berat badan ternak

sapi selama penelitian dapat

diperhatikan pada tabel 5.

Tabel 5 menunjukkan bahwa pertambahan berat badan sapi Bali antara perlakuan satu (P1) dan perlakuan dua (P2) menunjukkan berbeda nyata (P<0,05), dimana P2 lebih berat dari pada P1 hal ini berarti bahwa

dengan pemberian minyak lemuru tersabun, minyak zaitun dan temulawak memberikan efek pada pertambahan

berat badan, hanya pada P3

menunjukkan penurunan berat badan dibanding P2, namun secara statistik

menunjukkan berbeda tidak

nyata(P>0,05) dengan P1. Pada perlakuan P2 dan P3 menunjukkan kenaikan berat badan dibanding P1, hal ini kemungkinan disebabkan adanya temu lawak yang mempengaruhi didalam pencernaan dan nafsu makan ternak. Jika dilihat dari konsumsi hijauan

Tabel 5. Rata-rata pertambahan bobot badan Sapi Bali

Keterangan Sapi 1 Sapi 2 Sapi 3 Sapi 4 Rata-rata PBBH (kg/hr)

Keterangan : Subscript yang tidak sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) dan yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05),

P1: konsentrat + r. lapangan

P2: konsentrat + r.lapangan + 1 % m,zaitun+ 6 % m,lemuru tersabun + 100 g t. lawak P3: konsentrat + r. lapangan + 1% m,zaitun + 6 % m, Lemuru tersabun + 200 g t.lawak PBBH: Pertambahan Bobot Badan Harian

Tabel 6. Kandungan kolesterol serum darah sapi Bali selama perlakuan

Perlakuan Sampel darah Kolesterol Total ( mg/dl)

Keterangan: HDL: Hight Density lipoprotein; LDL: Low Dencity Lipoprotein

(14)

| Studi Minyak Lemuru Tersabun 8

menunjukkan pada P2 cenderung meningkat dibandingkan kontrol dan P3

Kandungan Kolesterol serum darah Sapi Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kandungan kolesterol darah sapi pada pemberian kolesterol dengan perlakuan selama satu bulan menunjukkan data seperti tabel 6.

Kandungan kolesterol serum darah total sapi Bali selama percobaan menunjukkan rata-rata 106,25 ± 2,610 mg/dl pada perlakuan P1; 70,25.00 ± 1,835 ml/dl pada perlakuan P2 dan 58,50 ± 3,293 mg/dl pada P3. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa faktor perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan kolesterol serum darah total sapi Bali . P1 berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi kandungan kolesterol dibanding dengan P2, dan P2 berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi kandungan kolesterol total serum darah dibanding dengan P3. Sedangkan P3 berbeda sangat nyata (P<0,01) dari P1. Hal ini berarti bahwa semakin ditingkatkan komposisi minyak zaitun, minyak lemuru tersabun dan pasta temulawak maka semakin menurun kandungan kolesterol total serum darah sapi Bali dan tingkat penurunannya dapat mencapai: 33,88 % dan 44,94 %

dari perlakuan kontrol.Jika

dibandingkan dengan kandungan

kolesterol total pada domba, hasil penelitian Kadarsih (2008) menunjukkan bahwa dengan perlakuan minyak lemuru 6 % dan niasin 800 ppm kandungan kolesterol sebesar 98,291 mg/dl, maka pada perlakuan P2 dan P3 pada penelitian ini menunjukkan kandungan kolesterol serum darah jauh lebih rendah.

Kandungan triglyceride dalam serum darah sapi Bali menunjukkan bahwa pada P1: 33 ± 0,934 mg/dl; P2:

25,35 ± 2,020 mg/dl dan P3 sebesar: 17,50 ± 1,322 mg/dl. Hasil analisis varian menunjukkan bahwa Komposisi ini menunjukkan kandungan triglyceride dalam darah mengalami penurunan secara nyata (P<0,05) setelah adanya perlakuan. Kandungan trigliserida P3 lebih rendah dari P2 dan P2 lebih rendah dari P1. Namun demikian jika dibandingkan penelitian Kadarsih dkk (2007) sebelumnya pada ternak domba bahwa dengan pemberian lemuru 6 % saja mampu menurunkan kandungan trigliserida sebesar 117,17 ml/dl, pada penelitian ini mampu lebih mampu menurunkan kadar trigliserida darah lebih banyak, jika dibandingkan dengan kandungan trigliserida pada sapi Bali.

Kandungan HDL dalam darah sapi Bali pada P1 adalah 31,00 ± 0,957 mg/dl; P2 sebanyak 48,50 ± 4,061 mg/dl dan P3 sebanyak 58,50 ± 1,393 mg/dl. Hasil analisis varian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan HDL serum darah sapi. Pada uji lanjut dengan LSD menunjukkan bahwa P3 berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi kandungan HDL dibanding P2 dan P1 dan P2 berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi dibanding P1.Dengan kata lain bahwa dengan pemberian minyak zaitun, minyak lemuru tersabun dan pasta

temulawak mampu meningkatkan

kandungan HDL dalam serum darah sapi Bali. Hasil ini bila dibandingkan dengan kandungan HDL pada domba, hasil penelitian Kadarsih dkk, (2007) menunjukkan bahwa dengan perlakuan 6 % lemuru dan niasin 800 ppm mampu meningkatkan kandungan HDL sebesar 51,98 ml/dl dan hasil ini lebih tinggi dari P2, namun masih lebih rendah dari P3.

(15)

P1 kandungan LDL adalah 36,00 ± 1,408 mg/dl dan P2 kandungan LDL sebesar 27,87 ± 1,558 mg/dl dan P3 sebesar 20,50 ± 1,835 mg/dl. Antara P1 menunjukkan kandungan LDL serum darah lebih tinggi berbeda nyata (P<0,05) dibanding P2 dan P1 dengan P3 menunjukkan berbeda sangat nyata (P<0,01) hal ini berarti bahwa dengan pemberian minyak zaitun , minyak lemuru tersabun dan pasta temulawak mampu menurunkan kadar LDL dalam serum darah sebanyak 27,53 % pada P2 dan 57,97 % pada P3 dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Bila dibandingkan dengan ternak domba, hasil penelitian Kadarsih dkk, (2007) bahwa kandungan LDL kolesterol darah sebesar 72,699 mg/dl pada pemberian lemuru 3 % dan 67,780 mg/dl pada pemberian lemuru 6%. Dengan demikian dengan perlakuan P2 (minyak lemuru tersabun 6 %, minyak zaitun 1% dan pasta temulawak 100 g) dan perlakuan P3 (minyak lemuru tersabun 8%, minyak zaitun 2 % dan pasta temulawak 200 g) mampu menurunkan kandungan kolesterol LDL serum darah sapi Bali jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan ternak domba.

SIMPULAN

Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa produktivitas ternak masih baik dan kandungan kolesterol darah sapi menurun selaras dengan peningkatan dosis perlakuan. Animal Nutrition. Oxford dan OBH Publishing Co,

New Delhi

Bouchat ,1993. Fats, their positional isomer and Platelete Function. J. Med, Tech. 3(1) :24-27.

Hinds, A. and T.A.B. Sanders., l993. The Effect of increasing level of dietary fish oil rich In

eicosapentaenoic and

dokosaheksaenoic acid on lymphocyte pospholipid fatty Acid composition and cell mediated immunity in the mouse. Br. J. Nutr, 69: 423-429.

Horst, R.L; A. Timothi dan P.G. Jesse; 1989. Recent Progres on Mineral Nutrition dan

Mineral Requierement in

Ruminant. Proceding

International Meeting on Mineral

Nutrition and Mineral

Requirement in Ruminant. Kyoto, Japan, hlm: 3.

Jenkins, T.C. 1993. Lipids Metabolisme inb the Rumen. In: Symposium Advance Ruminasnt. Lipid Metabolism. J. Dairy Sci, 76: 3851–3863.

Kunsman,J. and M. Keeney, 1964. Journal Dairy Sci, 23: 682.

Kadarsih. 2005. Suplementasi minyak ikan lemuru dan niasin pada ransum terhadap Kandungan kolesterol asam lemak daging kambing lokal. (dalam proses publikasi ke Jurnal Ilmu ilmu Pertanian UNIB, tahun 2006) Kadarsih., S; T. Suteky., Kuswady.E.

2006. Suplementasi minyak ikan lemuru dan niasin Pada ransum terhadap kandungan kolesterol dan komposisi asam lemak serta

imunitas selular ternak

(16)

| Studi Minyak Lemuru Tersabun 10

Kadarsih, S. T. Suteky; Kuswady E. 2007. Suplementasi minyak ikan lemuru dan niasin pada ransum terhadap kandubngan kolesterol dan komposisi asam lemak serta

imunitas selluler ternak domba (Hibah Bersaing XV/tahun II). Linder, M.C., 1993. Biokimia Nutrisi dan

Metabolism. Universitas

(17)

Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging terhadap Kadar

Kalsium dan Sifat Organoleptik Stik Keju

Effect of Addition of Wheat Cartilage of Broiler Levels of Calcium and Organoleptic Properties Cheese Stick

Yenni Okfrianti, Kamsiah, Yusma Hartati

Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Jalan Indragiri No 3 Padang Harapan, Bengkulu, Telp (0736) 341212

ABSTRACT

This study aims were to determine the effect of adding bone meal broiler prone to calcium levels and organoleptic properties (taste, color, texture) cheese sticks. This study used a complete randomized design with limited treatment which includes: Cheese sticks with the addition of chicken cartilage powder 5, 10, and 15%. The results showed that increased concentrations of cartilage flour has also increased the levels of calcium cheese stick (p <0.05). In the organoleptic characteristics of the addition of flour cartilage broiler does not significantly affect the organoleptic characteristics of taste and color (p> 0.05) but significantly affect the texture (p <0.05).

Key words: wheat cartilage bone meal, cheese sticks, taste, colour, and texture.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging terhadap kadar kalsium dan sifat organoleptik (rasa, warna, tekstur) stik keju. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan terbatas yakni meliputi: Stik Keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam 5, 10, dan 15 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi tepung tulang rawan meningkatkan pula kadar kalsium stik keju (p< 0,05). Pada karakteristik organoleptik penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging tidak nyata berpengaruh terhadap karakteristik organoleptik rasa dan warna (p >0,05) namun berpengaruh nyata terhadap tekstur (p<0,05).

Kata kunci: tepung tulang rawan, stik keju, rasa, teksture dan warna

PENDAHULUAN

Kalsium merupakan mineral yang penting bagi manusia antara lain untuk metabolisme tubuh, pembentukan tulang dan gigi, penghubung antar syaraf, kerja jantung, pergerakan otot, serta pembekuan darah (Sandjaja dkk, 2009). Kalsium merupakan mineral yang banyak terdapat didalam tubuh, yaitu 1,5 % - 2% dari berat orang dewasa atau kurang lebih sebanyak 1 kg. Peningkatan kebutuhan kalsium terjadi pada masa

pertumbuhan, kehamilan, menyusui, defisiensi kalsium dan tingkat aktivitas fisik yang meningkatkan densitas tulang (Almatsier, 2003).

(18)

| Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan 12

olahannya seperti whole milk, yoghurt dan keju (Arisman, 2002).

Keju adalah makanan padat yang dibuat dari susu sapi, kambing, dan mamalia lainnya. Keju dapat bertahan lama dan memiliki kandungan lemak, protein, fosfor dan kalsium yang tinggi (Sandjaja dkk, 2009). Pemanfaatan keju dapat dibuat dalam makanan ringan. Makanan ringan adalah makanan yang bukan merupakan menu utama (makan pagi, makan siang atau makan malam). Makanan ringan adalah sesuatu yang dimakan untuk menghilangkan rasa lapar untuk sementara waktu. Salah satu makanan ringan yang sering dikonsumsi adalah stik keju. Stik keju adalah makanan yang mempunyai rasa gurih dan memiliki warna putih agak kecoklatan dan tekstur yang renyah. Komposisi bahan stik keju adalah tepung terigu, tepung tapioka, baking powder, telur ayam, minyak dan keju.

Stik keju merupakan makanan ringan yang sering dikonsumsi oleh ibu hamil selain rasanya yang gurih juga memiliki nilai gizi. Kandungan nilai gizi per 100 g stik keju adalah kalori (371,17 kal), protein (13,45 g), lemak (10 g), karbohidrat (52 g), kalsium (217 mg) (DKBM, 2005). Berdasarkan sumbangan kalsium pada 100 g stik keju masih kurang untuk kebutuhan kalsium pada ibu hamil yaitu 1200 mg per hari. Salah satu alternatif untuk menambah kandungan gizi terutama kandungan kalsium pada stik keju yaitu dengan jalan memodifikasi bahan baku dalam pembuatannya. Bahan baku yang ditambahkan dalam pembuatan stik keju adalah penambahan tepung yang terbuat dari tulang rawan ayam pedaging (Agustin, 2003).

Tulang ayam pedaging adalah bahan sisa pangan dari ayam yang biasanya terbuang. Tulang rawan ayam pedaging dengan umur potong yang

singkat berkisar 6 sampai dengan 8 minggu. Tulang rawan ayam pedaging dari bagian paha diperoleh dari bagian ujung tulang yang banyak mengandung mineral dan protein. Pengolahan tulang

rawan menjadi tepung dapat

mempertahankan kandungan gizi di dalamnya. Dalam 1 g tepung tulang ayam mengandung kalsium sebesar 62,79 mg (Budhiarty, 2005). Tepung tulang rawan dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk pengolahan pangan lain dengan harapan dapat meningkatkan nilai gizi dari suatu produk pangan (Agustin, 2003). Tujuan penelitian ini adalah pengaruh penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging terhadap kadar kalsium dan sifat organoleptik stik keju.

MATERI DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di laboratorium Kimia dan Ilmu Teknologi Pangan Poltekkes Kemenkes Bengkulu, dari bulan April sampai Juni 2010. Penelitian ini meliputi tiga tahap yaitu pada tahap satu pembuatan tepung tulang rawan ayam pedaging dan tahap kedua pembuatan stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging dan tahap ketiga uji kalsium dan uji organoleptik.

Tahap 1. Pembuatan tepung tulang rawan ayam pedaging.

Mula-mula tepung tulang rawan direbus pada suhu 800 C selama 60 menit agar

(19)

diayak dengan ayakan 60 mesh sehingga didapatkan tepung tulang rawan ayam pedaging (Gambar 1).

Tahap 2. Pembuatan stik keju.

Dalam proses pembuatan stik keju diawali dengan pencampuran tepung terigu, tepung sagu, garam, baking powder

dan telur aduk hingga homogen kemudian tambahkan tepung tulang rawan ayam pedaging sesuai perlakuan yaitu penambahan sebanyak 5% (10 gr), 10% (20 gr) dan 15% (30 g) lalu aduk kembali. Adonan dicetak dengan mesin penggiling mi, lalu digoreng hingga matang lalu dinginkan dan simpan pada

400 gr tulang rawan ayam pedaging

Perebusan

Suhu 60 °C selama 60 menit Pencucian

Pelunakan dengan presto Suhu 120 °C selama 120 menit

Penggilingan dengan blender

Pengeringan dengan hot air oven Suhu 60 °C selama 18 jam

Pengayakan dengan ayakan 60 mesh

Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging Air

150 ml Air

(20)

| Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan 14

wadah tertutup (Gambar 2). Adapun komposisi bahan stik keju dapat dilihat pada Tabel 1. berikut ini.

Tabel 1. Bahan Stik Keju

Komposisi Stik Keju P1 P2 P3 Tepung tulang rawan (gr) 10 20 30 Tepung Terigu (gr) 190 180 170 Tepung Tapioka (gr) 50 50 50 Keju (gr) 100 100 100 Baking Powder (gr) 0.5 0.5 0.5

Garam (gr) 1 1 1

Tahap 3

Analisa kadar kalsium

menggunakan bahan : larutan amonium oksalat jenuh 10 ml, indikator merah metil 2 tetes, amonia encer, asam asetat, aquadest, H2SO4, KmnO4.dan mutu

organoleptik (rasa, warna, tekstur).

Rancangan Percobaan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) tiga perlakuan. RAL dipilih karena bahan percobaan yang akan dipakai sebagai

Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging 5 %, 10 %, 15 %

Pencetakan dengan mesin penggilingan mie dengan ketebalan 2 – 4 mm Pencampuran, pengadukan hingga homogen

Pencetakan dengan panjang 7 cm

Pengorengan Suhu 80 – 90 selama 7 menit

Stik Keju Bahan Stik

Keju

Uji Kalsium

Uji Organoleptik Rasa, Warna, Tekstur

(21)

unit percobaan homogen dan jumlah perlakuan terbatas yakni meliputi:

P1 : Stik Keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam(5% ) P2 : Stik Keju dengan penambahan

tepung tulang rawan ayam (10 P3 : Stik Keju dengan penambahan

tepung tulang rawan ayam (15%)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kadar Kalsium

Hasil analisis ragam

menunjukkan bahwa penambahan

tepung tulang rawan ayam berpengaruh nyata (ρ<0,05) terhadap kadar kalsium stik keju. Hasil uji lanjut LSD antar masing–masing perlakuan berbeda nyata (ρ<0,05). Stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 15 % memiliki skor rata-rata Kadar Kalsium paling tinggi yaitu 0,698 gr (Tabel 2).

Tabel 2. Rata-rata Kadar Kalsium Stik Keju

Konsentrasi Tepung

Keterangan: Notasi yang berbeda menunjukkan perbedaan rata-rata yang signifikan (ρ< 0,05) menurut Uji LSD.

Menurut penelitian Hardianto (2002) tepung tulang rawan ayam

pedaging mempunyai kandungan

protein 71,93 % BK, mineral khususnya kalsium 3,14 % dan fosfor 1,86 %.

Tepung tulang rawan dapat

dimanfaatkan lebih lanjut dengan harapan dapat meningkatkan nilai gizi dari suatu produk pangan. Hasil penelitian ini seiring dengan hasil penelitian Agustin (2003) semakin banyak penambahan tepung tulang

rawan ayam pedaging pada mie kering maka nilai kadar kalsium semakin tinggi.

Karakteristik Organoleptik Rasa

Adapun hasil uji organoleptik atribut rasa pada stik keju dengan metode uji kesukaan dengan 35 orang panelis dapat dilihat pada Tabel 3. Rasa stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 5 %, 21 keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 15% diketahui 21 panelis (60%) mengatakan suka.

Berdasarkan hasil uji Kruskal Wallis penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging tidak nyata berpengaruh terhadap rasa stik keju yang ditunjukkan (ρ>0,05) dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging Terhadap Mutu Organoleptik (Rasa) Stik Keju

Penambahan Tepung menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata taraf 5 % menurut Uji Kruskall Wallis (ρ)

(22)

| Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan 16

sehingga memberikan kesan tertentu. Rasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu senyawa kimia, suhu, konsentrasi dan interaksi dengan komponen rasa lain. Pengaruh antara satu macam rasa dengan macam rasa yang lain tergantung pada konsentrasinya. Bila salah satu komponen mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi dari pada komponen yang lain maka ada kemungkinan timbul rasa gabungan atau komponen tersebut dapat dirasakan kesemuanya secara berurutan (Kartika, 1998).

Warna

Tabel 4. menunjukkan bahwa hasil uji organoleptik atribut warna pada stik keju dengan metode uji kesukaan dengan 35 orang panelis diketahui bahwa untuk warna stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 5 %, 18 panelis (51,4 % ) mengatakan suka. Untuk warna stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 10 % diketahui bahwa 18 panelis (51,4%) mengatakan suka dan untuk rasa stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 15 % diketahui 16 panelis (45,7 %) mengatakan suka.

Berdasarkan hasil uji Kruskal Wallis penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging tidak nyata berpengaruh terhadap rasa stik keju yang ditunjukkan (ρ>0,05) dapat dilihat pada Tabel 4.

Hal ini dikarenakan intensitas warna yang hampir sama antar produk. Menurut Setiawan (1988), nilai warna

yang objektif dipengaruhi oleh komposisi bahan baku yaitu warna awal penyusunan. Warna awal tepung tulang rawan coklat dan tepung terigu agak bewarna krem, proses pencampuran antara tepung terigu dengan tepung tulang rawan ayam pedaging akan membuat adonan bewarna kecoklatan dan semakin bewarna coklat ketika proses penggorengan.

Pada saat pencampuran adonan tepung terigu dengan tepung tulang rawan ayam pedaging akan bewarna

kecoklatan begitu juga saat

penggorengan. Proses penggorengan yaitu suhu, cara dan penggorengan akan mempengaruhi rasa, warna dan tekstur

produk yang dihasilkan serta

penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging yang digunakan tidak berselisih jauh membuat panelis memberikan penilaian yang sama. Menurut Wijanti (2003) warna adalah kesan yang dihasilkan oleh indra mata terhadap cahaya yang dipantulkan oleh benda tersebut. Jika dilihat dari penerimaan panelis terhadap hasil uji organoleptik atribut warna pada stik keju bahwa warna stik keju dengan konsentrasi penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 5 % dan 10 % paling disukai panelis. Menurut Mudjayanto dan Yulianti (2007) proses pencampuran yang tidak homogen akan menghasilkan adonan yang tidak homogen sehingga akan mempengaruhi keseragaman rasa, tekstur dan rasa.

Tabel 4. Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging Terhadap Mutu organoleptik (Warna) Stik Keju

(23)

Tekstur

Adapun hasil uji organoleptik atribut tekstur pada stik keju dengan metode uji kesukaan dengan 35 orang panelis dapat dilihat pada Tabel 5. Diketahui bahwa untuk tekstur stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 5 %, 19 panelis (54,3 %) mengatakan suka. Untuk tekstur stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 10 % diketahui bahwa 20 panelis (57,1 %) mengatakan suka dan untuk rasa stik keju dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 15 % diketahui 20 panelis (57,1 %) mengatakan suka.

Berdasarkan hasil uji Kruskal Wallis penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging tidak nyata berpengaruh terhadap rasa stik keju yang ditunjukkan (ρ< 0,05) dapat dilihat pada Tabel 5.

Hasil uji lanjut Mann Whitney maka dapat dilihat perbandingan antar produk yang dihasilkan panelis tidak dapat membedakan tekstur antar produk dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 15 % dan 10 % dengan nilai ρ= 0,746 karena nilai ρ >0,05. akan tetapi panelis dapat membedakan

tekstur antar produk dengan

penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 5 % dan 10 % dengan nilai ρ= 0,008 karena nilai ρ< 0,05 dan panelis dapat membedakan tekstur antar produk dengan penambahan 5 % dan 15 %

dengan nilai ρ= 0,018 karena nilai ρ< 0,05. Tekstur merupakan salah satu parameter mutu yang penting karena tekstur juga menentukan tingkat penerimaan konsumen terhdap produk yang dihasilkan. Tekstur merupakan

sifat penting dalam produk

pengorengan. Tingkat kehalusan tepung tulang ayam pedaging merupakan faktor penentu terhadap proses pengembangan stik keju.

Semakin tinggi tingkat

konsentrasi penambahan tepung tulang

rawan ayam pedaging semakin

bertambah kesukaan panelis terhadap tekstur stik keju. Hal ini terjadi karena kandungan kolagen yang terdapat dalam tepung tulang rawan ayam pedaging yang berfungsi sebagai bahan pengikat , sehingga adonan lebih kohesif, kuat dan tidak mudah putus (Agustin, 2003), sehingga tekstur yang dihasilkan lebih renyah.

SIMPULAN

1. Penambahan tepung tulang ayam

pedaging berpengaruh nyata

terhadap kadar kalsium stik keju. 2. Penambahan tepung tulang ayam

pedaging tidak berpengaruh nyata terhadap karakteristik organoleptik rasa dan warna, namun berpenaruh nyata terhadap tekstur.

Tabel 5. Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging Terhadap Mutu organoleptik (Tekstur) Stik Keju

(24)

| Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan 18

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, L, S. 2003. Pembuatan Mie Kering Dengan Fortifikasi Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor

Almatsier, S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Ariesi, W.2007. Kalsium. Dunia Wida, Surabaya

Arisman, 2009. Gizi Dalam Daur Kehidupan, PT Buku Kedokteran egc. Jakarta

Budhiarty, Pujiani, 2005. Fortifikasi Kalsium Pada Susu Kedelai Dengan Pemanfaatan Tulang Ayam Yang Telah Mengalami Deproteinasi .

Diakses dari

http://digilib.upi.edu/pasca/avalia ble/etd-1223105-143348/

Hanum, Y.1998. Diktat Penilaian Indrawi.

Fakultas Pertanian.

Http://Smartsains..

Blogspot.com/2008/06/Petunjuk- Pengujian-Organoleptik.Html . Hardianto, V. 2002. Pembuatan Tepung

Tulang Rawan Ayam pedaging menggunakan pengering drum (drum dryer) dengan penambahan bahan pemutih (bleaching agent). Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Kristianto, Yohanes. 2005. Panduan

Penelitian Pangan Dan Gizi. Politeknik Kesehatan Malang. Malang.

PERSAGI. 2005. Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Jakarta

Pudjirahaju, A. 2001. Diktat ITP, Penilaian Kualitas Makanan Secara Organoleptik. Malang

Suwarjono, 2008. Kalsium Si Beton Dalam Tulang.Viva News

Tejasari, 2005. Nilai Gizi Pangan. Edisi Pertama. Graha Ilmu. Yogyakarta

______,2008. Resep Tepung Terigu, diakses dari : http://id.Wikibooks.org

(25)

Analisis Model Integrasi Lebah dengan Kebun Kopi (Sinkolema) dalam Rangka

Peningkatan Produksi Madu dan Biji Kopi

The Analisys of Honeybee-Coffee Plantation Integration Model on Improving the Honey and Coffee Bean Product 1

R. Saepudin2, A. M. Fuah3, C. Sumantri4 , L. Abdullah5 , S. Hadisoesilo6

1. Bagian Disertasi di Sekolah Pasca Sarjana IPB

2. Mahasiswa Program Doktor pada Mayor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, SPs.IPB 3. Dept. Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan FAPET-IPB. Ketua Komisi Pembimbing 4. Dept. Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan FAPET-IPB. Anggota Komisi Pembimbing 5. Dept. Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan FAPET-IPB. Anggota Komisi Pembimbing

6. Badan Litbang Kehutanan Bogor Anggota Komisi Pembimbing

ABSTRACT

The study of relationship between the honey productivity and honey bee-coffee plantation integration was conducted in Kepahiang, the Province of Bengkulu. The objective of this study was to evaluate the integration model on improving the honey and coffee bean product as well. The experiment was arranged in a completely randomized design with two treatments and ten replications where as the model was analysed with SWOT. The result showed that honey production was higher by 114% than that outside the plantation. Similar to the honey productionn, coffee been production at honeybee-coffee plantation integration was significantly higher by 10,55 % than that was unpollinated by Apis cerana, The honeybee colonies that were placed on coffee

plantation spreadly produced honey significantly higher than those were placed with concentrated way.

Other result was that based on SWOT analyses, the honeybee and coffee plantation integration are able to be developed agresively due to its higher strengths and higher opportunities than its weakensses and threats respectively.

Key words: Honey, cerana, coffee, integration production

ABSTRAK

Penelitian tentang hubungan antara produksi madu pada integrasi lebah madu dan kebun kopi telah dilaksanakan di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Tujuan penelitian adalah menganalisa model integrasi kaitannya dengan penelingkatan produksi madu dan biji kopi. Metoda penelitian dirancang berdasarkan RAL dan model dianaalisis dengan menggunakan SWOT. Hasil penelitian menunjukan bahwa peroduksi lebah 114 % dan biji kopi 10,55 % lebih tinggi pada siatem integrasi dari pada di luar sistem integrasi. Setiap satu hektar kebun kopi di Kabupaten Kepahiang dapat mendukung 100 koloni lebah A cerana. Berdasarkan analisis SWOT integrasi lebah madu kebun kopi berada pada kuadran ke I, yang berarti pengembangan Siskolema dapat dilaksanakan secara progresif karena kekuatan dapat mengatasi kelemahan dan peluang lebih besar dari pada ancaman yang dihadapi.

Kata kunci: madu, cerana, kopi, integrasi. Produks

PENDAHULUAN

Masalah utama peternakan lebah madu yang berhasil diidentifikasi adalah produksi dan kualitas madu yang rendah (sekitar 1-3 kg/koloni/tahun lebih rendah dari produksi ideal yaitu 5-10

(26)

| Analisis Model Integrasi Lebah dengan Kebun Kopi 20

ribu ha dari 35 ribu ha perkebunan (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kepahiang, 2009). Tanaman kopi menyediakan nektar dan polen sebagai pakan lebah Apis cerana untuk menghasilkan jumlah dan madu yang lebih tinggi. Department of Agriculture and Food Western Australia (2009)

melaporkan bahwa Madu yang

dihasilkan lebah yang diberi pakan nektar kopi memiliki frukrosa tinggi (38%), berwarna amber dan aroma khas.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan tanaman kopi yang sudah berkembang dengan lebah madu dan memiliki hubungan mutualisme satu sama lain yang selanjutnya disebut sinkolema. Lebah madu yang mampu menghasilkan madu pada saat kopi belum dipanen dan

membantu penyerbukan untuk

meningkatkan produksi kopi. Disisi lain kopi mampu menyediakan nektar dan pollen sebagai pakan dari lebah madu. Integrasi lebah kopi, disampaing untuk mengatasi permasalahan produktivitas

madu juga untuk mengatasi

permasalahan rendahnya produktivitas kopi yang relatif rendah (0,970 ton/ha) (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kepahiang, 2009) dibandingkan dengan produksi ideal sebesar 1,540 ton/ha

Penelitian integrasi lebah dengan tanaman telah dilakukan oleh Kazuhiro (2004) dan Biesmeijer dan Slaa (2004) yang mengintegrasikan Stingless bee dengan tanaman kacang-kacangan.

Penelitian yang serupa telah

dilaksanakan oleh Klein et al. (2003) pada kopi, Kremen et al. (2002) pada pada daerah pertanian hortikultura, Kakutani et al. (1993), Maeta et al. (1992) dan

Katayama (1987) pada tanaman

strowberry. Namun demikian penelitian masih difokuskan pada jasa lebah sebagai polinator, sedangkan peranan tanaman sebagai sumber penghasil

pakan lebah masih sangat sulit didapatkan.

Pola integrasi kebun kopi lebah madu (yang selanjutnya disebut Sinkolema) belum banyak diterapkan di Indonesia padahal potensinya terutama di luar Jawa sangat tinggi dan peran

masing-masing sangat penting,

diantaranya adalah;

1. Lebah sebagai penyerbuk pada tanaman kopi, sehingga diharapkan produksi kopi semakin tinggi dan kopi sebagai penghasil pakan yang diharapkan mampu meningkatkan produksi madu yang berkualitas sehingga produktivitas dan efisiensi lahan meningkat, pada gilirannya kesejahteraan petani juga meningkat. 2. Madu sebagai sumber pendapatan tambahan petani sehingga pada saat usaha pertanian tidak berproduksi, lebah madu mampu memberikan penghasilan, sehingga biaya hidup sehari-hari dan biaya untuk usaha

pertanian saat kopi tidak

berproduksi tetap terjamin.

Adanya hubungan saling

menguntungkan antara lebah madu dan kopi maka diharapkan akan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus melestarikan lebah madu asli Indonesia. Untuk keperluan itu diperlukan kajian budidaya, desain Sinkolema berbasis wawasan.

Langkah-langkah yang harus

dirumuskan dalam pelaksanaan

Sinkolema untuk meningkatkan

perekonomian petani membutuhkan kajian keberlanjutan sehingga kebijakan dalam mengatasi permasalahan yang diambil akan lebih tepat dan efektif.

(27)

berbasis potensi dan sumberdaya lokal untuk peningkatan ekonomi peternak lebah.

MATERI DAN METODE

Penelitianini yang dilaksanakan pada bulan Januari s/d desember 2010 berlokasi di Kabupaten Kepahyang Propinsi Bengkulu ini merupakan bagian dari penelitian yang telah dilaporkan sebelumnya yaitu 1. Identifikasi daya dukung dan Potensi dan 2. Menganalisis Keberlanjutan sinkolema. Jadi penelitian tahap ini dilandasi oleh hasil penelitian tahap I untuk menghasilkan model budidaya lebah yang diintegrasikan dengan tanaman kopi. Untuk dapat menganalisis sinkolema dibutuhkan

atribut penentu keberhasilan

berdasarkan koefisien teknis peternakan

lebah. Model didesain dengan

didasarkan pada hal-hal berikut ini: 1. Perhitungan jumlah stup yang

dipelihara sesuai dengan daya dukung wilayah.

2. Produksi madu per stup per tahun 3. Penerapan tata letak stup

4. Perhitungan produksi kopi/ ha/ tahun

5. Penyusunan strategi penerapan sinkolema

Prosedur

Data lain yang akan

dikumpulkan adalah data sekunder dan primer dengan menggunakan metode survei melalui teknik wawancara dan pengisian kuesioner yaitu:

1. Menghitung jumlah stup yang dipelihara sesuai dengan daya dukung wilayah.

2. Produksi madu dihitung

berdasarkan kali panen dan dikonversikan ke produksi per stup per tahun, dan akan

dibandingkan antara produksi madu dengan sistem integrasi dan tanpa integrasi. Sebagai sampel akan dipilih secara acak sebanyak masing-masing 10 stup lebah yang dibudidayakan padan sistem integrasi dan 10 stup lainnya dari lebah yang dibudidayakan bukan dengan sistem integrasi.

3. Menentukan tata letak stup didasarkan pada faktor lokasi, pengelolaan, keamanan dan pemanenan.

4. Produksi kopi per ha per tahun dihitung berdasarkan hasil bobot kering per tahun per ha dan akan dibandingkan produksi kopi madu dengan sistem integrasi dan tanpa integrasi

5. Menyusun rekomendasi

pengembangan disusun

berdasarkan hasil analisis SWOT berdasarkan data skunder dan data primer yang diperoleh.

Penelitian tahapan ini

selanjutnya adalah membandingkan produksi madu A. cerana yang dipelihara melalui (1) sistem integrasi dengan kopi dan (2) tanpa integrasi. Sedangkan produksi kopi akan dibandingkan dengan dan tanpa integrasi serta menganalisis produksi madu dengan penempatan tanpa stup.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(28)

| Analisis Model Integrasi Lebah dengan Kebun Kopi 22

dan suhu udara minimum sebesar 19,90C. Kelembaban nisbi rata-rata

bulanan > 80%. Ditinjau dari geografis dan agroklimat Kabupaten Kepahyang, komoditi tanaman hortikultura dan perkebunan (terutama kopi dan teh)

sangat mungkin untuk

dikembangkan.Disamping itu potensi pengembangan tanaman perkebunan didukung juga oleh kedalaman dan jenis tanah yang mendominasi wilayah ini (tanah Andosol, Aluvial, Latosol, Asosiasi Andosol-Latosol-Podsolik Coklat-Podsolik Merah Kuning) yang sangat baik untuk pengembangan tanaman kopi (BPS, 2007).

Berdasarkan kondisi wilayah Kabupaten Kepahyang maka salah satu usaha peternakan yang potensial dikembangkan adalah lebah yang mampu menghasilkan madu pada saat hasil pertanian belum dipanen dan

membantu penyerbukan untuk

meningkatkan produksi. Disisi lain

tumbuhan/tanaman mampu

menyediakan nektar dan polen sebagai pakan lebah madu A. cerana yang menjadi salah satu dari lebah komersil lokal. A. cerana merupakan lebah asli tropis Asia (termasuk Indonesia) yang sudah beradaptasi baik dengan

lingkungan Indonesia termasuk

Kabupaten Kepahyang Propinsi

Bengkulu. Walaupun produksinya tidak setinggi A. mellifera, A. cerana memeiliki keunggulan yaitu tahan terhadap hama utama lebah (varroa spp dan vespa spp.) (Sihombing, 2005). Oleh karena itu, A. cerana memungkinkan untuk dibudidayakan sebagai penghasil madu kopi secara organik. Penelitian tentang pemanfaatan perkebunan kopi untuk budidaya madu A. Cerana sangat diperlukan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan lahan untuk peningkatan efisiensi dan produktivitas lebah.

Daya Dukung Budidaya Lebah

Pakan lebah yang penting adalah nektar dan polen. Nektar adalah cairan manis yang dihasilkan oleh bunga tanaman pangan, tanaman kehutanan,

tanaman perkebunan, tanaman

hortikultura (buah dan sayuran), tanaman hias, rumput dan semak belukar (Pusbahnas. 2008). Nektar

adalah senyawa kompleks yang

dihasilkan kelenjer nektar yang merupakan hasil sekresi yang manis dalam bentuk larutan gula dari tanaman. Nektar terdapat pada bagian petal, sepal, stamen dan stigma. Nektar mengandung 15-50% larutan gula dengan konsentrasi bervariasi antara satu bunga tanaman dengan bunga tanaman lain (Crane, 1990).

Husaeni (1986) menyatakan bahwa nektar adalah pakan utama lebah sehingga ketersediaannya sangat

mempengaruhi produksi madu.

Selanjutnya Husaeni (1986) menganalisis tentang masalah utama budidaya lebah yaitu ketersedian nektar secara berkesinambungan.

Department of Agriculture and Food Western Australia (2009)

melaporkan bahwa kopi adalah

penghasil polen dannektar yang tinggi kadar sukrosanya (28%) sehingga menghasilkan madu yang memiliki kejernihan baik, bau dan rasa yang khas. Data jumlah kuntum bunga per tangkai dan jumlah tangkai bunga per pohon selama delapan bulan, diolah untuk mendapatan data produksi kuntum bunga per pohon per hari. Hasil pengumpulan dan pengolahan data disajikan pada Tabel 1.

(29)

berbungan adalah 36,27 l/ha/hari. Tabel 1 menunjukan perkembangan produksi nektar kopi yang berfluktuasi dan rata-rata tertinggi terjadi pada Bulan Juli. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan Perhutani (1994) bahwa puncak pembungaan kopi di Indonesia terjadi pada bulan Juli.

Produksi nektar kebun kopi rata-rata per hari adalah 18,14 ml/pohon/hari, berarti dengan kepadatan pohon kopi 2000 bohon/ha, rata-rata produksi per hektar kopi adalah 36.286,08 ml/ha/hari. Bila kebutuhan nektar lebah madu 145 ml/stup/hari (Husaini, 1986) maka daya dukung kebun kopi adalah 250 koloni. Ini artinya kalau tidak ada predator lainnya (grazers), maka kebun kopi di

Kabupaten Kepahiang Propinsi

Bengkulu mampu mencukupi

peternakan lebah dengan skala usaha 250 koloni. Untuk mengantisipasi adanya predator lain pengisap nektar kopi dan cuaca yang buruk yang menyebabkan bunga kopi menurun, yang dijadikan patokan dalam menentukan jumlah koloni adalah produksi nektar terendah yaitu sekitar 9,49 liter/ha/hari, bila 25% nektar diperkirakan dikonsumsi serangga lain, berarti pada saat produksi nektar minimal, kebun kopi diperkirakan mampu mencukupi maka disarankan untuk menyebarkan lebah sebanyak sembilah puluh delapan koloni dibulatkan keatas menjadi 100 stup/koloni per satu hektar kebun kopi.

Blesmeijer dan Slaa (2006) menyatakan bahwa penerapan sistem integrasi lebah madu dengan tanaman perlu diperhatikan konsep-konsep kompetisi baik interspesific competition (kompetisi antar spesies) maupun intraspesific competition (kompetisi dalam satu spesies), sehingga tidak berdampak pada kerusakan sumberdaya dan habitatnya. Blesmeijer & Slaa (2006) membagi lebah menjadi dua kelompok yaitu (1) medium size non-aggressive forager, contohnya A. mellifera dan (2) super generalis aggressive forager, contohnya A. trigona. Mencermati dua kelompok lebah ini tergambar bahwa kelompok medium size non-aggressive forager tidak bias digabungkan dengan kelompok super generalis aggressive forager.

Nasution (2009) menyatakan bahwa tidak seperti serangga lain (misalnya kupu-kupu dan semut) lebah

menjalankan penyerbukan bunga

dengan tidak menimbulkan akibat samping yang merugikan tanaman. Oleh karena itu lebah bukan hama tanaman, tapi malah membantu menaikkan produksi. Menurut Sumoprastowo dan Suprapto (1993), bahwa dengan bantuan penyerbukan oleh lebah, produksi kebun kapas, kebun buah-buahan, kebun bunga

matahari, dan kebun mentimun

mencapai kenaikan produksi berturut-turut sebesar 25%, 25-50%, 50-60%, dan 5 Rata-rata Produksi Nektar kopi per pohon per hari 18,14 ml/pohon/hari

Keterangan

(30)

| Analisis Model Integrasi Lebah dengan Kebun Kopi 24

Lebah merupakan serangga yang berperan penting baik secara ekologis

(penyerbuk) maupun ekonomis

(penghargaan secara financial terhadap jasanya sebagai penyerbuk (Byrne & Fitzpatrick, 2009). Slaa et al. (2006) membuktikan bahwa lebah berhasil meningkatkan produksi pertanian dua kali lipat. Hampir semua tanaman pertanian/perkebunan yang tidak

melakukan penyerbukan sendiri

memerlukan bantuan serangga agar menghasilkan biji/buah Polinasi adalah proses kompleks dan sangat vital dalam siklus hidup tanaman, terutama bagi terjadinya fertilisasi, pembentukan buah dan pembentukan biji (Slaa et al. 2006). Lebah berperan sebagai polinator yang lebih efektif dan efisien bagi tanaman/perkebunan (O’toole, 1993, Frietas and Faxton 1998, Heard, 1999; Richards, 2001 dan Krement et al, 2002).

Memperhatikan hal tersebut maka terlihat bahwa lebah menjadi pollinator penting yang memindahkan tepung sari ke kepala putik dalam jumlah cukup.Aktivitas lebah tersebut dilakukan secara tidak sengaja pada saat pencarian nektar dan tepung sari sebagai pakan untuk koloninya, bagian kaki lebah madu yang penuh rambut tersebut disebut pollen basket. Lebah memiliki organ khusus untuk mengambil nektar, yang disebut proboscis yang bentuknya seperti belalai pada gajah dan berfungsi untuk mengisap cairan nektar pada bunga. Lebih lanjut. Nasution (2009) menyatakan beberapa faktor yang harus dipertimbangakan dalam menggunakan lebah madu untuk tujuan membantu penyerbukan tanaman, diantaranya jumlah lebah per stup (strength of colony), jumlah stup lebah (number of bee hives),

ketersediaan stup yang bias

dimanfaatkan (availability of bee hives) dan penempatan stup (timing of the introduction of hives).

Department of Agriculture and Food Western Australia (2009) melaporkan bahwa penyebaran koloni lebah di areal pertanian tanaman pangan di Australia dan di Brazil dapat meningkatkan produksi pertaniannya dan jumlah lebah yang disebarkan bervariasi tergantung pada jenis tanaman, tempat (lokasi), dan jenis lebah. Oleh karena itu Department of Agriculture and Food Western Australia (2009) merekombinasikan bahwa untuk meningkatkan proses polinasi tanaman kopi (Coffea arabica, C. canephora, C. liberica ) dapat ditempatkan 100 juta lebah pekerja pada saat musim berbunga. Dengan cara ini produksi kopi

dapat meningkat sekitar 22%.

Selanjutnya Nasution (2009) menjelaskan juga bahwa lebah merupakan serangga penyerbuk (polinator) tanaman yang paling penting di alam dibandingkan angin, air, dan serangga lainnya, dimana lebah dapat meningkatkan produksi apel sebesar 30-60%, jeruk 300-400%, dan anggur 60-100%.

Madu yang dihasilkan dari lebah yang diberi pakan nektar kopi memiliki sukrosa (28%) dan berwarna amber muda (light amber) dan aroma yang khas (Department of Agriculture and Food Western Australia, 2009). Pusbahnas (2008) melaporkan bahwa madu kopi (madu yang berasal dari lebah yang diberi pakan nektar kopi) berkhasiat dalam meningkatkan daya tahan tubuh, membuat nyenyak tidur, memperlancar fungsi otak dan dapat menyembuhkan luka bakar.

Pengaruh Integrasi Terhadap Produksi Madu dan Kopi

Figur

Tabel 1. Komposisi Ransum percobaan yang diberikan /kg

Tabel 1.

Komposisi Ransum percobaan yang diberikan /kg p.10
Tabel 3. Konsumsi minum sapi Bali selama penelitian

Tabel 3.

Konsumsi minum sapi Bali selama penelitian p.11
Tabel 2. Konsumsi pakan konsentrat sapi Bali selama penelitian

Tabel 2.

Konsumsi pakan konsentrat sapi Bali selama penelitian p.11
Tabel 4. Konsumsi hijauan Sapi Bali selama penelitian

Tabel 4.

Konsumsi hijauan Sapi Bali selama penelitian p.12
Tabel 5. Rata-rata pertambahan bobot badan Sapi Bali

Tabel 5.

Rata-rata pertambahan bobot badan Sapi Bali p.13
Tabel 6. Kandungan kolesterol  serum darah sapi  Bali  selama perlakuan

Tabel 6.

Kandungan kolesterol serum darah sapi Bali selama perlakuan p.13
Tabel 1. Bahan Stik Keju

Tabel 1.

Bahan Stik Keju p.20
Gambar 2. Alir Proses pembuatan Stik keju

Gambar 2.

Alir Proses pembuatan Stik keju p.20
Tabel 4.  Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging Terhadap Mutu organoleptik (Warna) Stik Keju

Tabel 4.

Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Rawan Ayam Pedaging Terhadap Mutu organoleptik (Warna) Stik Keju p.22
Gambar 1.  Grafik produksi madu yang di pelihara dengan dan tanpa integrasi

Gambar 1.

Grafik produksi madu yang di pelihara dengan dan tanpa integrasi p.31
Gambar 2.   Grafik perkembangan produksi madu berdasarkan tata letak

Gambar 2.

Grafik perkembangan produksi madu berdasarkan tata letak p.32
Gambar 3. Kuadran analisa SWOT Siskolema

Gambar 3.

Kuadran analisa SWOT Siskolema p.34
Tabel 1. Kandungan nutrisi beberapa bahan pakan yang digunakan

Tabel 1.

Kandungan nutrisi beberapa bahan pakan yang digunakan p.42
Tabel 2. Susunan bahan pakan untuk masing-masing perlakuan

Tabel 2.

Susunan bahan pakan untuk masing-masing perlakuan p.42
Tabel 3. Rata-rata hasil penelitian selama 6 minggu pengamatan

Tabel 3.

Rata-rata hasil penelitian selama 6 minggu pengamatan p.43
Tabel 2. Pengaruh ekstrak daun katuk terhadap performans

Tabel 2.

Pengaruh ekstrak daun katuk terhadap performans p.49
Tabel 4. Pengaruh pemberian ekstrak daun katuk  terhadap kolesterol telur (mg/100 mg)

Tabel 4.

Pengaruh pemberian ekstrak daun katuk terhadap kolesterol telur (mg/100 mg) p.51
Tabel 3. Pengaruh pemberian ekstrak daun katuk  terhadap mutu telur

Tabel 3.

Pengaruh pemberian ekstrak daun katuk terhadap mutu telur p.51
Tabel 1. Komposisi Pakan Percobaa n

Tabel 1.

Komposisi Pakan Percobaa n p.55
Tabel 2. Pengaruh aras proten terhadap mutu karkas dan deposisi lemak pada broiler

Tabel 2.

Pengaruh aras proten terhadap mutu karkas dan deposisi lemak pada broiler p.56
Tabel 3. Pengaruh aras ragi tape terhadap mutu karkas dan deposisi lemak pada broiler

Tabel 3.

Pengaruh aras ragi tape terhadap mutu karkas dan deposisi lemak pada broiler p.57
Tabel 4. Pengaruh aras protein dan ragi tape terhadap mutu karkas dan deposisi lemak pada ayam broiler

Tabel 4.

Pengaruh aras protein dan ragi tape terhadap mutu karkas dan deposisi lemak pada ayam broiler p.57
Tabel 1. Genotipe  Puyuh Hasil Persilangan Puyuh Asal  Bengkulu (B), Padang (P),  Yogyakarta (Y) yang Digunakan dalam Penelitian

Tabel 1.

Genotipe Puyuh Hasil Persilangan Puyuh Asal Bengkulu (B), Padang (P), Yogyakarta (Y) yang Digunakan dalam Penelitian p.63
Tabel  2.  Umur dewasa kelamin dan lama masa produksi   puyuh  pada perlakuan komposisi genetik

Tabel 2.

Umur dewasa kelamin dan lama masa produksi puyuh pada perlakuan komposisi genetik p.63
Tabel  3.  Konsumsi  ransum, berat per butir telur, jumlah telur, berat total telur ,dan konversi ransum puyuh

Tabel 3.

Konsumsi ransum, berat per butir telur, jumlah telur, berat total telur ,dan konversi ransum puyuh p.64
Table 1. Nutritional value of the diet

Table 1.

Nutritional value of the diet p.68
Table 3. The number of live edible-nest swiftlet that fledges

Table 3.

The number of live edible-nest swiftlet that fledges p.71
Tabel 1. Komposisi nutrisi bahan penyusun ransum

Tabel 1.

Komposisi nutrisi bahan penyusun ransum p.76
Tabel 2. Susunan ransum dan kandungan nutrisi ransum penelitian

Tabel 2.

Susunan ransum dan kandungan nutrisi ransum penelitian p.77
Tabel 3. Kadar Kolesterol, Trigliserida, HDl dan LDL darah ayam broiler pada akhir Penelitian

Tabel 3.

Kadar Kolesterol, Trigliserida, HDl dan LDL darah ayam broiler pada akhir Penelitian p.77

Referensi

Memperbarui...