• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH MENANGANI PERILAKU SYIRIK DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH MENANGANI PERILAKU SYIRIK DALAM"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

MENANGANI PERILAKU SYIRIK DALAM BIDANG REJEKI

DENGAN TAUHID

Diajukan untuk memenuhi tugas Pendidikan Agama Islam dan Etika

Disusun oleh:

Nimah Sakinah (1401164266)

MB-40-11

TELKOM UNIVERSITY

(2)

DAFTAR ISI

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1. 3 Tujuan...2

BAB II...3

PEMBAHASAN...3

2.1 Pengertian Tauhid dan Ilmu Tauhid...3

2.2 Pembagian Tauhid...5

2.3 Sebab-Sebab Penyimpangan Tauhid...9

2.4 Cara-Cara Penanggulangan Penyimpangan Tauhid...11

BAB III...12

PENUTUP...12

3.1 Simpulan...12

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Manusia berdasarkan fitrah dan akal sehat pasti mengakui bahwa Allah itu Esa, tidak bersekutu istilah ini yang disebut Tauhid. Tauhid adalah kunci dari makna hidup, bahkan manusia dan jin diciptakan hanya untuk bertauhid kepada Allah semata seperti yang telah dijelaskan dalam Firman Allah melalui (QS. Al-Ikhlas:1-4 ) yang sudah jelas jika Allah adalah satu dan kita wajib beribadah kepada Allah SWT serta janganlah menyutukan-Nya. Pembahasan mengenai Tauhid merupakan hal yang paling urgen dalam Agama Islam, dimana Tauhid mengambil peranan penting dalam membentuk pribadi-pribadi yang tangguh, selain juga sebagai inti atau akar daripada ‘Aqidah Islamiyah.

(4)

1.2 Rumusan Masalah

Untuk mengkaji dan mengulas masalah dari latar belakang tersebut, maka dibuatlah rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian dari Tauhid dan Ilmu Tauhid? 2. Apa saja pembagian Tauhid itu?

3. Apa yang menjadi penyebab dalam penyimpangan Tauhid? 4. Bagaimana cara menanggulangi penyimpangan Tauhid? 1. 3 Tujuan

Dari rumusan masalah diatas maka diambil beberapa tujuan diantaranya sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian dari Tauhid serta Ilmunya.

2. Untuk mengetahui ada berapa pembagian Tauhid serta penjelasan nya.

3. Untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab penyimpangan Tauhid.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tauhid dan Ilmu Tauhid

Tauhid merupakan masdar/kata benda dari kata yang berasal dari bahasa arab yaitu “wahhada-yuwahhidu-tauhiidan” yang artinya menunggalkan sesuatu atau keesaan. Yang dimaksud disini adalah mempercayai bahwa Allah itu esa. Sedangkan secara istilah ilmu Tauhid ialah ilmu yang membahas segala kepercayaan-kepercayaan yang diambil dari dalil dalil keyakinan dan hukum-hukum di dalam Islam termasuk hukum mempercayakan Allah itu esa.

Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang-orang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja

Menurut Syeh M, Abduh, ilmu tauhid (ilmu kalam) ialah ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan, sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang boleh ada pada-Nya; membicarakan tentang Rosul, untuk menetapkan keutusan mereka, sifat-sifat yang boleh dipertautkan kepada mereka, dan sifat-sifat yang tidak mungkin terdapat pada mereka. (Hanafi, 2003: 2). Ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman, sekaligus yang terpenting dan paling utama. Allah SWT berfirman:

ُ اا الإإ َهَلإإ َل ُهانَأ ْمَلْعاَف

(6)

Seandainya ada orang tidak mempercayai keesaan Allah atau mengingkari perkara-perkara yang menjadi dasar ilmu tauhid, maka orang itu dikatagorikan bukan muslim dan digelari kafir. Begitu pula halnya, seandainya seorang muslim menukar kepercayaannya dari mempercayai keesaan Allah, maka kedudukannya juga sama adalah kafir.

Perkara dasar yang wajib dipercayai dalam ilmu tauhid ialah perkara yang dalilnya atau buktinya cukup terang dan kuat yang terdapat di dalam Al Quran atau Hadis yang shahih. Perkara ini tidak boleh dita’wil atau ditukar maknanya yang asli dengan makna yang lain.

Ilmu Tauhid juga mempunyai penamaan atau nama lain, diantaranya sebagai berikut :

 Ilmu ‘Aqa’id: ‘Aqdun artinya tali atau pengikat. ‘Aqa’id adalah bentuk jama’ dari ‘Aqdun. Disebut ‘Aqa’id, karena didalamnya mempelajari tentang keimanan yang mengikat hati seseorang dengan Allah, baik meyakini wujud-Nya, ke-Esaan-Nya atau kekuasaan-Nya.

 Ilmu Kalam: kalam artinya pembicaraan. Disebut ilmu kalam, karena dalam ilmu ini banyak membutuhkan diskusi, pembahasan, keterangan-keterangan dan hujjah (alasan) yang lebih banyak dari ilmu lain.

 Ilmu Ushuluddin: Ushuluddin artinya pokok-pokok agama. Disebut Ilmu Ushuluddin, karena didalamnya membahas prinsip-prinsip ajaran agama, sedang ilmu yang lainnya disebut furu’ad-Din (cabang-cabang agama), yang harus berpijak diatas ushuluddin.

(7)

2.2 Pembagian Tauhid

Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi 3:

1. Tauhid Rububiyah 2. Tauhid Uluhiyah

3. Tauhid Al Asma Was Shifat

Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini Rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allah lah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al Qur’an:

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang namun orang-orang yang kafr mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka” (QS. Al An’am: 1)

(8)

“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafr jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka’’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”. (QS. Az Zukhruf: 87)

“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafr jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan’’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”. (QS. Al Ankabut 61)

Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bernama Abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika Abdullah diberi nama demikian, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentunya belum lahir. Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafr jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah).

(9)

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Q.S Al Fatihah: 5)

Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Yang dimaksud dengan hal yang dicintai Allah yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafr jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi Rasulullah, ini juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan Tauhid Uluhiyyah. Allah Ta’ala berfrman:

(10)

telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-Rasul).” (Q.S An-Nahl: 36)

Syaikh DR. Shalih Al Fauzan berkata: “Dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah Tauhid Uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alasan diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar penghambaan kepada selain-Nya ditinggalkan” (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).

Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Cara bertauhid Asma wa Sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan menafkan nama dan sifat yang Allah nafkan dari diri-Nya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Allah Ta’ala berfrman yang artinya:

(11)

Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.

Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.

Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Padahal Allah berfrman yang artinya:

(12)

Kemudian tafwidh, yaitu tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan maknanya. Misalnya sebagian orang yang berkata ‘Allah Ta’ala memang ber-istiwa di atas ‘Arsy namun kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita serahkan kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta’ala telah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Qur’an dan Sunnah agar hamba-hamba-Nya mengetahui. Dan Allah telah mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Al Qur’an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.

2.3 Sebab-Sebab Penyimpangan Tauhid

Penyimpangan dari tauhid yang benar merupakan kunci dari kehancuran. Tanpa tauhid yang benar, seseorang akan menjadi mangsa dari persangkaan dan keragu-raguan yang lama kelamaan menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya akan terasa sempit dan ia ingin terbebas dari kesempitan itu melalui penyimpangan tauhid.

Berikut adalah contoh kasus dari penyimpangan Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Al-Asma was Sifat:

Penyimpangan Dalam Tauhid Rububiyyah

(13)

Seperti keyakinan bahwa penguasa dan pengatur Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul. Ini suatu keyakinan yang bathil. Barangsiapa meyakini bahwa penguasa dan pengatur laut selatan adalah Nyi Roro Kidul maka dia telah berbuat syirik (menyekutukan Allah Azza wa Jalla) dalam Rububiyyah-Nya. Karena hanya Allah-lah Yang Menguasai dan Mengatur alam semesta ini. Begitu juga barangsiapa meyakini bahwa yang mengatur padi-padian adalah Dewi Sri, berarti ia telah syirik dalam hal Rububiyyah-Nya, karena hanya Allah-lah Yang Maha Menciptakan dan Mengatur alam semesta ini.

Meyakini bahwa benda tertentu bisa memberi perlindungan dan pertolongan terhadap dirinya seperti jimat, keris, cincin, batu, pohon, dan lain-lain. Serta keyakinan bahwa sebagian para wali bisa memberi rizki, dan bisa pula memberi barokah, juga termasuk kesyirikan dalam Rububiyyah-Nya

Penyimpangan-penyimpangan dalam Tauhid Uluhiyyah.

(14)

Penyimpangan dalam tauhid Al-Asma’ wa Ash Shifat:

 Tidak meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai sifat-sifat yang sempurna tersebut. Padahal telah disebutkan dalam Al-Qur’an atau dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih.

 Menyerupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Padahal Allah Azza wa Jalla telah berfman (artinya):”Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S Asy Syura: 11).

 Menyelewengkan atau menta’wil makna Al-Asma’ul Husna, yang berujung pada peniadaan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla.

 Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah untuk mengambil aqidah sholeh.

 Mengkaji aqidah golongan sesat dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk waspada dan membantah mereka serta membentengi diri kita dari golongan sesat tersebut.

(15)

 Menetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran sehingga kitab-kitab yang menyeleweng harus dijauhkan.

 Menyebarkan para Da’I dan berdakwah untuk meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh aqidah batil

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan

Tauhid sebagai pondasi agama mempunyai pengertian yang membahas tentang segala kepercayaan-kepercayaan yang diambil dari dalil-dalil keyakinan dan hukum-hukum di dalam Islam termasuk hukum mempercayakan Allah itu esa. Kita sebagai muslim tidak boleh menyekutukan Allah dalam Rububiyah (ketuhanan), Uluhiyah (ibadah), Asma` dan Sifat-Nya.karena kalau kita menyekutukan Allah sama sama saja kita menghancurkan agama kita sendiri. Selain itu, karena Allah merupakan Dzat yang maha Esa, maka kita tidak boleh meminta pertolongan untuk mencari rezeki, menyelamatkan dari mara bahaya kepada jin, kuburan, ataupun benda keramat.

(16)

3.2 Saran

Dari zaman ke zaman, banyak orang yang melenceng dari ajaran tauhid tersebut karena ketidakpahaman tentang mempelajari ilmu tauhid. Maka dari itu, kita sebaiknya memperdalam ilmu agama terutama dalam ilmu tauhid, dan kita juga harus mengamalkan nya di kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

http://hamkaqolbu.blogspot.co.id/2013/03/makalah-ilmu-tauhid.html

http://orgawam.wordpress.com/2012/11/07/definisi-tauhid-dan-ilmu-tauhid/

http://www.mediapustaka.com/2014/08/makalah-agama-islam-aqidah-tauhid.html

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pencucian luka akan lebih baik jika cairan diberikan dalam bentuk penyemprotan dan di saat bersamaan dari daerah yang dicuci segera dihisap keluar (dengan

harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6

karton pembungkus botol vial tersebut diperlakukan sebagai limbah biasa r 2.3.4.6.7]. Penanganan Limbah

hasil penelitian menunjukan kelompok eksperimen yang diberikan video tutorial memperoleh hasil peningkatan dalam kemampuan kognitif di bandingkan kelompok kontrol,

Mengenai surat an-Nur ayat 3 dapat kami jelaskan sebagai berikut: Para ulama tafsir menerangkan bahwa maksud ayat tersebut adalah laki-laki dan perempuan

: gugusan kata berstruktur atau bersistem yang mampu menimbulkan makna yang sempurna (Santoso, 1990:127). Makna yang sempurna adalah suatu makna yang dapat diterima oleh orang

[r]

Untuk pelaksanaan praktik mengajar tersebut, praktikan harus mengetahui dan menguasai silabus yang digunakan untuk mengajar kelas X, XI, dan XII sehingga dalam praktik mengajar