• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekonstruksi Pemikiran Pembang unan Ekon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rekonstruksi Pemikiran Pembang unan Ekon"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

proses panjang pembentukan peradaban manusia. Paradigmanya dari masa ke

masa terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika kita melihat secara

kasat mata atau secara parsial, kemajuan peradaban saat ini didominasi oleh

peran negara-negara Eropa yang merepresentasikan kaum sekuler, yakni

masyarakat yang memisahkan nilai-nilai agama dalam berbagai urusan dunia.1

Sementara di lain pihak negara-negara dengan mayoritas berpenduduk muslim

bahkan yang menggunakan sistem pemerintahan Islam sekalipun rata-rata berada

dalam kategori negara berkembang bahkan masuk dalam kategori negara

miskin2. Kondisi negara-negara Islam3 dalam beberapa dekade terakhir yang

cenderung masuk dalam kategori negara terbelakang seolah-olah telah

membenamkan kebesaran para ilmuwan Islam dalam bidang ekonomi, dan

meragukan sistem ekonomi Islam untuk menjawab tantangan-tantangan ekonomi

di lain pihak. Bahkan banyak ilmuwan yang menganggap Islam sebagai

penghambat pembangunan.4

1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) /sékulér/ a bersifat duniawi atau

kebendaan (bukan bersifat keagamaan atau kerohanian)

2 Untuk lebih lanjut bisa mengakses data di www.undp.org

3 Mengacu pada Organisasi Konferensi Islam (OKI) atau The Organisation of the Islamic

Conference (OIC) yang merupakan sebuah organisasi antar-pemerintah dengan 57 (lima puluh tujuh) negara anggota pada 2002 (sebagian besar negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim). Organisasi ini didirikan pada September 1969, di antara tujuan lain, untuk memperkuat solidaritas dan kerjasama antara negara-negara anggota di bidang politik, ekonomi, budaya, ilmiah dan sosial.

4Salah satunya Timur Kuran dalam Why the Middle East is Economically Underdeveloped: Historical Mechanisms of Institutional Stagnation. The Journal of Economic Perspectives. Selain Kuran, Noland juga menyimpulkan hal yang sama bahwa Islam, berdasarkan data-data yang ada

(2)

Padahal sesungguhnya peradaban Islam mempunyai pengalaman yang baik

dalam membangun peradaban termasuk dalam bidang ekonomi. Menurut

beberapa ilmuwan Barat seperti Toynbee (1935), Hitti (1958), Hodgson (1977),

Baeck (1994) dan Lewis (1995) berpendapat bahwa Islam pada masanya telah

berperan secara positif dalam pembangunan masyarakat. Hanya karena faktor

Islam yang mampu menjawab kenapa masyarakat Badui (Arab) yang mana

mempunyai karakter saling bermusuhan satu dengan lainnya, kekurangan

sumberdaya, dan iklim yang tidak bersahabat, serta memiliki sedikit kriteria

untuk tumbuh, tetapi mereka bisa tumbuh dengan cepat melawan berbagai

rintangan dan bertahan dengan kokoh menghadapi superioritas kerajaan

Byzantium dan kerajaan Persia5.

Peradaban Islam juga telah melahirkan banyak ilmuwan yang memiliki ide

yang original di bidang ekonomi. Bahkan pemikiran para ilmuwan ekonomi

Islam sebenarnya pelopor dan peletak dasar-dasar ilmu ekonomi telah banyak

menginspirasi tokoh-tokoh barat. Misalnya Ibn Khaldun yang diakui oleh dunia

sebagai bapak ilmu sosial dalam karya monumentanya yaitu Al-Muqaddimah

telah menjelaskan teori-teori pembagian kerja, pasar, ekonomi pembangunan,

good governance dan lain-lain berabad-abad sebelum kemunculan buku Adam

Smith the Wealth of Nation. Atau Al-Ghazali yang telah merumuskan konsep

memang menghambat pembangunan . untuk lebih lanjut dapat dilihat di Noland, M. Religion, culture, and economic performance. Unpublished paper, [email protected].

(3)

maqashid syaria’ah, sebuah konsep kedilan yang sangat penting dalam kajian

ekonomi pembangunan saat ini. pemikirinnya jauh sebelum karya John Rawls

“Justice as Fairness” dan “A Theory of Justice” atau teori-teori kedilan Barat

diterbitkan. Serta teori-teori distribusi pendapatan yang juga menjadi tema sentral

dalam ekonomi pembangunan telah menjadi perhatian khusus oleh Ya’qub bin

Ibrahim Abu Yusuf dalam karyanya Al-Kharaj.

Namun runtuhnya kekuasaan Islam berdampak pada hancurnya sendi-sendi

peradaban Islam dan mulai bergeser pada dominasi Barat. Selama Barat

mengalami masa kebangkitan di lain pihak Islam sedang mengalami

keterpurukan, sehingga terjadi gap sejarah. Para ilmuwan barat mendominasi

ilmu pengetahuan dengan melupakan sumber-sumber yang mereka peroleh, tak

lain berasal dari peradaban Islam. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat bahwa,

ketika Islam dalam masa kejayaan sebaliknya Barat masih dalam zaman

kegelapan atau dark age, bahkan pada tahun 1000 M (Barat) masih sedemikian

terbelakangnya, dan harus hanya bersandar secara total kepada ilmu pengetahuan

Dunia Islam (Kneller)6.

Kegagalan sistem pembangunan yang berlandaskan paham Kapitalis dan

Sosialis dalam mewujudkan kesejahteraan di berbagai negara dengan munculnya

berbagai krisis yang terus muncul secara periodik telah membangkitkan para

6Nurcholish Madjid, Islam, Doktrine, dan Peradaban, (Yayasan Paramadina

(4)

ilmuwan ekonomi pada umumnya untuk mencari sistem ekonomi alternatif dan

motivasi tersendiri untuk ilmuwan Islam membuktikan serta membangkitkan

kembali sistem ekonomi Islam untuk menggantikan sistem ekonomi yang tidak

memadai lagi. Dalam dunia Islam semangat itu ditandai dengan munculnya

paradigma baru yang diutarakan oleh Muhammad Iqbal mengenai “Pintu Ijtihad

Masih Terbuka”. Paradigma yang dihadirkan oleh Iqbal telah membangkitkan

semangat kebangkitan Islam. Sehingga dalam bidang ilmu ekonomi dewasa ini

telah muncul ilmuwan-ilmuwan dalam bidang ekonomi Islam di era modern.

Salah satu tokoh ekonomi Islam yang sangat berpengaruh adalah Umer

Chapra. Ia adalah salah satu tokoh ekonomi Islam kontemporer yang sangat

produktif dengan karya-karyanya yang sangat fundamental dan komprehensif.

Umer Chapra dalam tulisan-tulisannya mampu menganalisis dengan tajam

berbagai kebobrokan sistem-sistem ekonomi yang telah mapan, serta mampu

menjelaskan ekonomi Islam dengan baik. Karya-karya Umer Chapra membahas

mengenai sistem ekonomi Islam secara umum, keuangan Islam, sejarah

pemikiran ekonomi, kelembagaan ekonomi Islam, serta ekonomi pembangunan

Islam. Karya-karya Umer Chapra diantaranya adalah; Islam and the Economic

Challenge, Toward a Just Monetary System, The Future of Economic: An

Islamic Perspective, Economic Development in Muslim Countries dan lain-lain

(5)

Kebangkitan ilmu ekonomi Islam dan ilmu pembangunan Islam pada

khususnya telah memunculkan inisiatif untuk menerapkan sistem ekonomi Islam

di berbagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim oleh para ilmuwan

ekonomi pembangunan Islam maupun oleh kelompok-kelompok masyarakat

ataupun organisasi, hal ini juga terjadi di Indonesia. Upaya untuk menerapkan

sistem ekonomi yang berbasiskan ajaran Islam semakin menguat karena

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia serta

ketidakmampuan pemerintah hingga saat ini untuk mewujudkan ekonomi yang

bekeadilan.

Kita sebagai umat Islam memiliki kewajiban untuk masuk Islam secara

kaffah, termasuk dalam bidang ekonomi. Untuk menjalankan ekonomi Islam

yang sesuai konsep maqashid syari’ah harus dilakukan Islamisasi ekonomi.

Bagaimanapun Islamisasi harus tidak dipahami suatu penawar semua

permasalahan negara-negara muslim. Beberapa masalah yang diciptakan oleh

kemunduran sosio ekonomi, politik dan moral yang telah ada selama

berabad-abad, kebijakan domestik yang salah dan program eksternal yang tidak sehat

pasti akan berlangsung lama. Juga harus dipahami bahwa Islamisasi adalah

proses yang bertahap. Ia tidak dapat dicapai dengan serta merta melalui

penggunaan kekuatan atau regimentasi.7

(6)

Untuk menerapkan sistem ekonomi Islam dan pembangunan ekonomi Islam

khususnya diperlukan upaya untuk memahami berbagai pemikiran ilmuwan Islam di

bidang ekonomi pembangunan, sehingga akan muncul rumusan konsep ekonomi

pembangunan Islam. Dari latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas,

maka penulis memilih judul; “Rekonstruksi Pemikiran Pembangunan Ekonomi Islam Menurut Pemikiran Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan M. Umer Chapra”

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah diperlukan untuk menerangkan masalah-masalah yang

ada pada objek yang akan diteliti sebelum dibuat pembatasan dan perumusannya,

antara lain:

1. Apa yang dimaksud dengan pembangunan ekonomi dalam Islam?

2. Bagaimana konsep pembangunan ekonomi dalam Islam?

3. Bagaimanakah implementasi dari konsep pembangunan ekonomi Islam?

4. Apa tantangan pembangunan ekonomi Islam?

C. Pembatasan Masalah

Untuk memfokuskan penulisan dan memudahkan analisa maka dalam

penelitian ini, penulis hanya akan membatasi permasalahan pada konsep

pembangunan ekonomi Islam dari para tokoh pembangunan ekonomi Islam

diantaranya Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Umer Chapra. Penulis akan mencoba

(7)

pengembalian sesuatu ketempatnya yang semula ; Penyusunan atau

penggambaran kembali dari bahan-bahan yang ada dan disusun kembali

sebagaimana adanya atau kejadian semula.8

D. Rumusan Masalah

Untuk dapat memberikan suatu gambaran yang lebih jelas tentang masalah

yang akan diteliti, berikut ini diajukan beberapa pertanyaan penelitian yang

dirumuskan kedalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah konsep pembangunan ekonomi menurut Al-Ghazali, Ibn

Khaldun, dan Umer Chapra?

2. Bagaimanakah relevansi konsep pembangunan Islam dan pembangunan

Indonesia?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Tersusunnya format pemikiran pembangunan ekonomi menurut

Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan Umer Chapra

b. Terumuskannya dimensi-dimensi implementasi pemikiran

pembangunan ekonomi Islam.

2. Manfaat Penelitian

(8)

a. Menambah wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi penulis

khususnya, dan bagi masyarakat pada umumnya terkait ekonomi

pembangunan Islam

b. Sebagai khasanah ilmu pengetahuan di bidang ilmu kepustakaan

dalam hal Ekonomi Pembangunan Islam

c. Menjadi masukan dan saran bagi para penelitian selanjutnya sehingga

bisa menjadi perbandingan bagi penelitian yang lain

F. Kerangka Berfikir

Pembahasan tentang ekonomi pembangunan termasuk hal yang masih baru,

baik di dunia pada umumnya maupun dalam dunia Islam khususnya. Khasanah

keilmuan Islam khususnya dalam bidang ekonomi sebenarnya telah dimulai

semenjak lahirnya Islam itu sendiri. Telah banyak para ilmuwan Islam yang

menulis tentang ekonomi walaupun belum secara sistematis. Masing-masing para

tokoh memiliki karakteristik pemikiran yang berbeda-beda sesuai dengan latar

belakang dan tantangan yang dihadapi pada masanya.

Tentunya terdapat banyak persamaan maupun perbedaan pemikiran yang

kemudian apabila disatukan akan menjadi rumusan yang akan bisa menjawab

tantangan pembangunan ekonomi yang terus berkembang di masa sekarang

maupun masa akan datang.

(9)

Penulis Dina Rahma Umami

(Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat,

Fakultas Syariah dan politik, Universitas Islam Negeri Jakarta,

2009).

Judul Pemikiran Ekonomi Mubyarto Dalam Prespektif Ekonomi

Islam

Pembahasan Pada skripsi ini penelitian yang dilakukan adalah untuk

mengetahui konsep filsafat, nilai-nilai dasar dan nilai

instrumental dari sistem ekonomi Islam, konsep filsafat,

nilai-nilai dasar dan nilai-nilai instrumental dari pemikiran ekonomi

Mubyarto dan pandangan system ekonomi Islam terhadap

pemikiran ekonomi dari Mubyarto

Hasil penelitian Berdasarkan hasil penelitian, pemikiran ekonomi Mubyarto

tidak bertentangan dengan sistem ekonomi Islam, sebab:

a. Pemikiran ekonomi Mubayrto berjiwa religious dan

mengedepankan unsur moral yang menginginkan adanya

keseimbangan dan keselarasan hubungan vertical dan

horisontal.

b. Bersifat karakyatan yang memberikan perhatian besar pada

penderitaan rakyat kecil yang merupakan korban dari

(10)

c. Bersifat humanis dimana ia tidak menginginkan terjadinya

ekspolitasi, penindasan dan dominasi sesame manusia.

e. Penulis kategorikan pemikiran Mubyarto sebagai pemikiran

yang berhaluan soislis religious.

Penulis Arif Soleh

(Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat,

Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta, 2010).

Judul Konsep Pembangunan Ekonomi: Studi Komparatif Pemikiran

Mubyarto dan Umer Chapra

Pembahasan Pada Skripsi ini membahas tentang beberapa pokok masalah:

1. Bagaimana konsep pemikiran Mubyarto dan Chapra dalam

konsep pembangunan ekonomi?

2. Bagaimana relevansi pemikiran Mubyarto dan Chapra

terhadap perekonomian Indonesia?

Pendekatan yang penulis gunakan untuk mengkaji dan

menganalisa pokok masalah yang telah ditentukan

menggunakan metode library research dengan tekhnik analisa

ANN (Artificial Neuron Network)

Hasil penelitian Kesimpulan dari skripsi ini adalah bahwa baik Mubyarto

(11)

relevansi dan urgensi. Pemikiran keduanya patut untuk

dikembnagkan mengingat perlunya bangsa Indonesia

melepaskan diri dari ketergantungan pihak asing.

Keduanya telah dengan tepat meletakkan dasar-dasar dimensi

moral dan keadilan ditengah keadaan Indonesia yang

membutuhkan reformasi di bidang ekonomi.

H. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian Skripsi ini berupa penelitian kepustakaan (library

research) dengan data dan cara analisa kualitatif,9 dengan mendeskripsikan

dan menganalisa objek penelitian yaitu membaca dan menelaah berbagai

sumber yang berkaitan dengan topik. Untuk kemudian dilakukan analisis

dan akhirnya mengambil kesimpulan yang akan dituangkan dalam bentuk

laporan tertulis.

2. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data kualitatif

yang diperoleh dari sumber-sumber otentik yang terdiri atas sumber primer

dan sumber sekunder. Data primer berasal dari tulisan-tulisan para

tokoh-tokoh ekonomi pembangunan Islam diantaranya Al-Muqaddimah karya Ibn

(12)

Khaldun, Economic Development in Muslim Countries karya Umer M.

Chapra, Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali. Sedangkan sumber sekunder

berupa pemikiran para tokoh yang diulas oleh orang lain baik dalam bentuk

essay, jurnal, buku, ataupun karya ilmiah lainnya.

3. Teknik Pengambilan Data

Didalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data yang dibutuhkan

dengan menggunakan teknik studi pustaka, dalam hal ini adalah buku,

jurnal dan artikel.

I. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini merujuk pada Buku Pedoman

Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum tahun 2012. Untuk

mengetahui gambaran secara keseluruhan isi penulisan dalam penelitian ini,

penyusun menguraikan secara singkat sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis membahas mengenai latar belakang masalah yang

akan diteliti, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah,

tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, review studi terdahulu, dan

sistematika penulisan.

(13)

Pada bab ini penulis akan memaparkan tentang teori pembangunan

pada umumnya dan konsep dasar ekonomi pembangunan Islam menurut para

tokoh-tokoh ekonomi pembangunan Islam.

BAB III GAMBARAN UMUM

Pada bab ini akan dijabarkan profil dan pemikiran dari Al-Ghazali dan

Ibn Khaldun sebagai representatif ilmuwan generasi awal kemudian Umer

Chapra sebagai representatif ilmuwan ekonomi pembangunan di era modern.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraukan hasil rekonsrtuksi pemikiran para tokoh

dalam hal ini Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan Umer Chapra mengenai konsep

ekonomi pembangunan dalam Islam.

BAB V PENUTUP

Pada bab ini dikemukakan tentang kesimpulan dari pembahasan dan

(14)

BAB II

Pembangunan Ekonomi A. Definisi Pembangunan Ekonomi

Pada dasarnya, ilmu ekonomi adalah ilmu pengetahuan sosial. Ilmu ini

menyoroti manusia, serta sistem-sistem sosial yang mengorganisasikan

aktivitas-aktivitas yang dilakukan manusia pada umumnya dalam rangka

memenuhi berbagai kebutuhannya yang mendasar (yaitu pangan, sandang

dan, papan) dan untuk memenuhi keinginan-keinginannya yang bersifat

nonmaterial (seperti pendidikan, pengetahuan, dan pemuasan spiritual).

Sebagai ilmuawan sosial, para ekonom acapkali berhadapan dengan situasi

yang tidak biasa, oleh karena mereka dan objek studinya, yaitu manusia dan

segenap tingkah lakunya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, senantiasa

berubah10 mengikuti perubahan zaman itu sendiri. Kompleksnya permasalahan

dalam ekonomi memunculkan fokus-fokus pembahasan yang lebih mendetail,

diantaranya adalah ekonomi keuangan yang fokus untuk membahas masalah

keuangan, ekonomi politik yang fokus membahas masalah ekonomi dikaitkan

dengan politik, ekonomi mikro dan makro, serta yang paling baru adalah

ekonomi pembangunan yang membahas isu-isu dan upaya-upaya

pembangunan ekonomi. Beberapa tokoh mendefinisikan pembangunan

ekonomi diantaranya adalah;

10 Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta:

(15)

a. Menurut Todaro pembangunan merupakan upaya manusia secara sadar

dan sistematik baik individu atau kolektif untuk mewujudkan kehidupan

yang lebih baik, sejahtera dan merupakan proses tanpa henti

b. Definisi yang berbeda disampaikan oleh Lauterbach, menurutnya

pembangunan merupakan suatu upaya menciptakan kondisi yang lebih

baik bagi rakyat suatu negara secara keseluruhan, sesuai dengan

kebutuhan mereka yang sesungguhnya, tanpa mengganggu sistem nilai

dan cara-cara hidup mereka.11

c. Menurut Kartasasmita pembangunan adalah proses perubahan keadaan

menuju pada kondisi yang lebih baik.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pembangunan ekonomi adalah

upaya sadar dan terencana manusia untuk mewujudkan kehidupan yang lebih

baik melalui perubahan-perubahan yang positif dengna tetap melindungi

nilai-nilai yang dianut masyarakat.

B. Tujuan Utama Pembangunan

Tujuan dari pembangunan yang benar-benar sempurna memang

tidaklah mudah untuk merumuskannya. Perdebatan mengenai hal ini sudah

berlangsung sangat lama dan masing-masing orang berpegang pada

keyakinannya masing-masing. Namun secara keseluruhan dapat terangkum

(16)

dalam pendapat Profesor Goulet dan tokoh-tokoh lain yakni terdapat tiga

tujuan pembangunan.

Pertama kecukupan (sustenance), yang dimaksud kecukupan bukan

hanya menyangkut makanan, melainkan mewakili semua hal yang merupakan

kebutuhan dasar manusia secara fisik. Kebutuhan dasar adalah segala sesuatu

yang jika tidak dipenuhi akan menghentikan kehidupan seseorang. Kebutuhan

dasar ini meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan keamanan. Jika satu

saja dari sekian banyak kebutuhan dasar ini tidak dipenuhi, maka akan muncul

kondisi keterbelakangan absolut.12

Kedua adalah jati diri (self-esteem) komponen universal yang kedua

dari kehidupan yang serba lebih baik adalah adanya dorongan dari diri sendiri

untuk maju, untuk menghargai diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak

melakukan atau mengejar sesuatu.13 Pembangunan harus mampu memberikan

penghargaan diri sebagai manusia, dan tidak digunakan sebagai alat dari orang

lain. Artinya, pembangunan harus mampu mengangkat derajat manusia dan

menciptakan kondisi untuk tumbuhnya jati diri (self-esteem)14.

Ketiga adalah kebebasan dari menghamba (freedom from servitude);

nilai universal terakhir yang harus terkandung dalam makna pembangunan

adalah konsep kemerdekaan manusia. Kemerdekaan atau kebebasan di sini

12 Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta:

P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 20

13 Ibid hal.. 20

(17)

hendaknya diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak

sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran aspek-aspek materiil dalam

kehidupan.15 Pembangunan harus membebaskan atau memerdekakan manusia

dari penghambaan dan ketergantungan akan alam, kebodohan dan

kemelaratan.16 Pembangunan dilakukan untuk tujuan peningkatan kebebasan

setiap orang dari kungkungan atau tekanan-tekanan kepentingan yang ada.

Ketiga inilah yang merupakan tujuan pokok yang harus digapai oleh setiap

orang dan masyarakat melalui pembangunan. Ketiganya berkaitan dengan

kebutuhan-kebutuhan manusia yang paling mendasar, yang terwujud dalam

berbagai macam manifestasi di hampir semua masyarakat dan budaya

sepanjang jaman.17

C. Pembangunan Ekonomi dalam Islam

1. Konsep Pembangunan Ekonomi dalam Khasanah Peradaban Islam

Istilah pembangunan dalam khasanah peradaban Islam dan dalam

karya-karya klasik lazimnya dihubungkan dengan konsep ‘imârah al-ard

(memakmurkan bumi) yang dipahami dari ayat al-qur’an salah satunya surah

Hud ayat 61.18 Mayoritas penulis berpendapat bahwa kata al-‘imârah

15 Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta:

P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 21

16Isu-isu Seputar Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dengan Paradigma Humanizing Development , Drs. H. M Ladzi, M. Ag,. Hal 2

17 Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta:

P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 19

18 Asmuni Mth, Konsep Pembangunan Ekonomi Islam. Jurnal Al-Mawarid Edisi X tahun

(18)

(memakmurkan atau mengelola bumi untuk kemakmuran hidup manusia)

identik dengan kata at-tanmiyah al-iqtisadiyah (pembangunan ekonomi)19

























































Artinya: “dan kepada Tsamud (kami utus) saudara

mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah

Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia

telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan

kamu pemakmurnya[Maksudnya: manusia dijadikan

penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan

dunia.], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian

bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat

dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa

hamba-Nya)."

Walaupun dalam bahasa Arab modern arti kata dari isti’mar diartikan

penjajahan, isti’mara adalah menjajah. Makna ini tidak dikenal dalam

bahasa Al-Quran, dan memang ia merupakan penamaan yang tidak sejalan

dengan kaidah bahasa Arab dan akar katanya.20

Kata isti’mara pada ayat di atas terdiri dari huruf sin dan ta’ yang

dapat berarti meminta seperti dalam kata istighfara, yang berarti meminta 19 Ibid. hal 131

(19)

maghfirah (ampunan). Dapat juga kedua huruf tersebut berarti

“menjadikan” seperti pada kata hajar yang berarti “batu” bila digandengkan

dengan sin dan ta’ sehingga terbaca istahjara yang maknanya adalah

menjadi batu.

Kata ‘amara dapat diartikan dengan dua makna sesuai dengan objek

dan konteks uraian ayat. Surat Al-Tawbah (9): 17 dan 18 yang

menggunakan kata kerja masa kini ya’muru, dan ya’muru dalam konteks

uraian tentang masjid diartikan memakmurkan masjid dengan jalan

membangun, memelihara, memugar, membersihkan, shalat, atau I’tikaf

di dalamnya. Sedangkan surat Al-Rum (30): 9 yang mengulangi dua kali

kata kerja masa lampau ‘amaru berbicara tentang bumi, diartikan

sebagai membangun bangunan, serta mengelolanya untuk memperoleh

manfaatnya. Jika demikian, kata ista’marakum dapat berarti “menjadikan

kamu” atau “meminta/menugaskan kamu” mengolah bumi guna

memperoleh manfaatnya.21

Masalah pembangunan juga dibahas secara mendalam oleh Ibn

Khaldun dalam karyanya Al-Muqaddimah. Istilah yang digunakannya adalah

‘Umran Al-‘Alam. Walaupun sebagaian besar ilmuwan maupun masyarakat

umum memaknai ‘Umran dengan istilah yang sudah popular yaitu “sosial”

(20)

(ijtima’), “tamadun” (hadarah), dan “perkotaan” (madaniyyah). Namun

yang dimaksud oleh Ibn Khaldun adalah makna yang lebih luas.

Pada hakikatnya, ‘Umran Al-‘Alam merupakan suatu ilmu baru yang

dinamis serta mengandung makna yang sangat luas, bukan saja dari segi

sosial atau pembangunan yang bersifat fisik dan lokal, tetapi meliputi aspek

rohani dan jasmani yang bersifat “universal” untuk tujuan mencapai

kebahagiaan dan kemakmuran manusia di dunia dan di akhirat. Teori

`umran al-`alam telah diperkenalkan oleh Ibn Khaldun untuk menangani

krisis politik dan sosio-ekonomi yang melanda masyarakat Islam di Asia

Barat, khususnya di Andalus dan Afrika Utara pada abad ke-14M akibat

terjadinya keruntuhan agama dan akhlak serta perpecahan sesama umat

Islam disebabkan perbedaan mazhab, di satu pihak, serta dampak dan

pengaruh pemikiran tradisionalis Islam yang diimpor dari kebudayaan dan

pemikiran Persia dan Yunani kuno, di pihak yang lain. Pada waktu yang

sama, umat Islam pada waktu itu tidak memahami hukum masyarakat (ilmu

sosial masyarakat) dan alam yang sudah ditentukan oleh Allah Ta`ala serta

kurang peduli terhadap pemeliharaan dan kelestarian alam sekitar yang

berdampak pada kehidupan.22

Rasulullah Muhammad SAW sebagai pemegang otoritas tertinggi baik

dalam bidang agama maupun negara sebenarnya telah meletakkan

(21)

dasar pembangunan ekonomi yang komprehensif atau telah menjalankan

konsep ‘umran al-‘alam. Dasar-dasar pembangunan yang diletakkan oleh

Rasulullah mengintregasikan antara spirit duniawi dan spirit ukhrawi.

Pembangunan aqidah dan akhlak atau attitude sebagai etos kerja menjadi

prioritas utama.

Sebagai bentuk upaya membangun peradaban baru Rasulullah segera

meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat pertama, membangun

masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Masjid bukan hanya difungsikan

sebagai tempat ibadah, melainkan untuk berbagai pembinaan masyarakat

serta untuk kegiatan muamalah di sekelilingnya. Kedua, menjalin ukhwah

islamiyah antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam bentuk membuat

entrepreneur partnership baik dalam mengembangkan pertanian maupun

perdagangan. Ketiga, Rasulullah membuat undang-undang yang mengatur

hak dan kewajiban setiap individu masyarakat agar tercipta kehidupan yang

tertib. Keempat, meletakkan dasar-dasar keuangan negara. Dalam hal ini

didirikanlah Batul Mal sebagai pusat pengelolaan keuangan negara. Batul

Mal menjadi pusat pengumpulan pendapatan negara yang berasal dari dana

ziswaf serta retribusi dari negara. Kemudian dana yang dikumpulkan

disalurkan untuk pembangunan infrastruktur, gaji pegawai, pendidikan serta

pengentasan kemiskinan.23

(22)

2. Pembangunan Ekonomi Islam di Era Modern

Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur masalah

ibadah, melainkan mengatur semua aspek dalam kehidupan salah satunya

adalah muamalah. Muamalah mengatur berbagai aturan hubungan sesama

manusia termasuk di dalamnya urusan ekonomi. Bahkan seorang orientalis

paling terkenal bernama H.A.R Gibb mengatakan, “Islam is much more than

a system of theology it’s a complete civilization” (Islam bukan sekedar sistem

theologi, tetapi merupakan suatu peradaban yang lengkap).

Prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam pada dasarnya telah

dipraktekkan pada zaman Rasulullah sampai para sahabat-sahabatnya

walaupun belum ada penyusunan prinsip-prinsip ekonomi yang sistematis

pada waktu itu. Tulisan-tulisan pemikiran tentang ekonomi ditulis dalam

kitab-kitab filsafat maupun fiqh. Para cendekiawan muslim berusaha untuk

mengidentifikasi pemikiran-pemikiran ekonomi Islam.24

Runtuhnya kekuasaan negara-negara Islam dan bahkan mengalami

penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa menyababkan degradasi peradaban

Islam yang sangat signifikan. Peradaban Islam seolah benar-benar tidak penah

ada, termasuk dalam khazanah pemikiran ekonomi Islam. Josep Schumpeter

misalnya mengatakan, adanya “Great Gap” dalam sejarah pemikian ekonomi

selama 500 tahun yaitu masa yang dikenal sebagai the dark age. Dalam

(23)

karyanya, “History of Economics Analysis”, ia menegaskan bahwa pemikir

ekonomi muncul pertama kali di zaman Yunani Kuno pada abad 4 SM dan

bangkit kembali pada abad 13 M di tangan pemikir skolastik Thomas

Aquinas.25

Negara-negara Islam yang sebagian besarnya baru merdeka pasca

Perang Dunia II ternyata belum sepenuhnya bisa mengaktualisasikan sistem

perekonomian yang sesuai ajaran Islam. Hal tersebut dikarenakan bangsa

asing masih ikut campur tangan dalam berbagai hal, termasuk sistem ekonomi

yang berbasis pada kapitalisme dan sekularisme. Penerapan sistem dari Barat

ternyata tidak sepenuhnya berhasil dan cenderung gagal. Kondisi

negara-negara muslim yang hampir seluruhnya masuk dalam kategori negara-negara

berkembang (adapun negara yang maju dikarenakan kekayaan minyak mentah

dan gas alam, maka dibutuhkan upaya untuk merubah struktur ekonomi

kearah pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan), dan sebagiannya

lagi dalam kategori negara miskin.26

Negara-negara Islam pada umumnya tidak mampu menginternalisasi

mesin pertumbuhan. Paradoks yang terjadi di negara muslim adalah bahwa

mereka kaya akan sumber daya alam, namun ekonominya lemah dan miskin.27

Ilmuwan sering menyebut paradoks ini dengan kutukan sumber daya atau

25 Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok : Gramata 2010) hal. 69

26 Dr. Abdel Rahman Yousri Ahmed, An Introduction to an Islamic Theory of Economic Development, 8th International Conference on Islamc Economic and Finance

27 Khurshid Ahmad, Studies In Islamic Economics, (Jeddah : International Centre for

(24)

“resorce curse”. Perkonomian mereka tegantung pada negara Barat dalam

banyak hal, misalnya impor bahan makanan, barang-barang manufaktur,

tekhnologi, dan lain-lain, disisi lain mereka mengekspor produk primer.

Sebagiannya menderita karena efek dari warisan sistem ekonomi kolonial

yang berlarut-larut, dan ini adalah contoh yang sempurna dari hubungan

“negara maju di pusat – negara miskin pinggiran”.28

Untuk menanggapi semua isu yang berkembang khususnya pada dunia

Islam dan mencari upaya untuk mengatasinya permasalahan tersebut, pada

tahun 1976 Universitas King Abdul Aziz menggelar “International

Conference on Islamic Economics” yang pertama. Konferensi ini di hadiri

oleh 200 ekonom dan ulama dari seluruh dunia. Konferensi ini boleh

dikatakan sebagai awal kebangkitan ilmu ekonomi Islam di era modern serta

lahirnya ilmu ekonomi pembangunan Islam. Pokok-pokok bahasan dalam

konferensi tersebut diantaranya konsep dan metodologi ekonomi Islam,

produksi dan konsumsi dalam ekonomi Islam, peran negara dalam ekonomi

Islam, asuransi dengan konsep syari’ah, bank bebas bunga, zakat dan

kebijakan fiskal, dan ekonomi pembangunan Islam.29 Ekonomi pembangunan

menjadi topik yang sangat relevan mengingat resep pembangunan yang

ditawarkan oleh barat nyatanya tidak sesuai dengan kondisi sosio-kultur

negara muslim. 28Ibid hal. 172

29 Khurshid Ahmad, Studies In Islamic Economics, (Jeddah : International Centre for

(25)

3. Pengertian Pembangunan Ekonomi Islam

Istilah pembangunan ekonomi yang dimaksudkan dalam Islam

adalah “the process of allaviating poverty and provision of ease, comfort and

decency in life” (Proses untuk mengurangi kemiskinan serta menciptakan

ketentraman, kenyamanan dan tata susila dalam kehidupan).30 Sedangkan

menurut DR. Abdel-Rahman Yousri Ahmed Pembangunan adalah perubahan

struktural dalam lingkungan sosio-ekonomi, yang terjadi bersamaan dengan

penerapan hukum Islam dan nilai-nilai etika, sehingga memacu kapasitas

produktif manusia yang maksimal dan kemungkinan pemanfaatan terbaik dari

sumber daya yang tersedia, dengan tujuan tercapainya keseimbangan antara

aspek material dan spiritual.31

Atau jika kita mengacu pada literatur klasik bahwa pembangunan

memiliki arti ‘umran al-‘alam maka konsep dari Ibn Khaldun menjadi konsep

pembangunan yang komprehensif. Di atas kaedah inilah maka Ibn Khaldun

mendefinisikan `umran, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Jabri, iaitu:

“Suatu fenomena sosial yang digerakkan oleh sekumpulan masyarakat yang

bekerjasama/bermuafakat di kawasan kota atau desa dalam sebuah negara

yang berdaulat dan berpengaruh bagi tujuan memenuhi keperluan hidup yang

bahagia dan makmur baik segi rohani atau jasmani bersamaan dengan

30 http://www.agustiantocentre.com diakse pada tanggal 19 Februari 2014 10:40

(26)

penerapan ajaran agama dan akhlak serta hukum dan peraturan kejadian alam

dan manusia ciptaan Allah Ta`alan” (Muhammad `Abid al-Jabri,

1992:132-138, 298)

Dapat disimpulkan bahwa pembangunan ekonomi yang dimaksud

dalam islam adalah upaya yang dilakukan oleh sekumpulan masyarakat yang

saling bekerja sama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik disertai

dengan pengamalan ajaran Islam yang universal demi kehidupan yang

berkelanjutan.

D. Prinsip Utama dalam Ekonomi Pembangunan Islam

Menurut Umer Chapra tujuan dari suatu sistem ekonomi sangat

dipengaruhi oleh pandangan-duniannya. Salah satunya adalah pertanyaan

yang berkaitan dengan bagaimana alam semesta muncul, makna dan tujuan

hidup manusia, kepemilikan dan penggunaan objektif sumber daya yang

langka untuk kehidupan manusia, serta hubungan antar sesama manusia

(termasuk hak dan kewajiban mereka) juga pada lingkungan. Sebagai contoh,

jika pandangan mengenai alam semesta tercipta dengan sendirinya, maka

akibatnya manusia tidak perlu bertanggungjawab pada siapapun dan hidup

bebas sesukanya. Tujuan hidup mereka hanya sekedar mencari kesenangan,

tanpa memperdulikan bagaimana cara mendapatkannya dan apa akibatnya

bagi orang lain dan lingkungannya. Kemudian, pemenuhan kepentingan

(27)

kebiasaan. Jika diyakini bahwa manusia hanyalah pion-pion dalam papan

catur sejarah dan kehidupan mereka ditentukan oleh kekuatan dari luar di

mana mereka tidak memiliki kontrol, sehingga meraka tidak bertangung

jawab terhadap apa yang terjadi disekeliling mereka dan tidak perlu khawatir

dengan ketidak adilan yang terjadi.32

Akan tetapi, jika keyakinannya bahwa manusia dan apapun yang

dimilikinya diciptakan oleh Maha Pencipta dan mereka bertanggung jawab

kepada-Nya, mereka mungkin tidak menganggap diri mereka benar-benar

bebas untuk berkehendak sesuka hati atau seperti pion yang tak berdaya di

papan catur sejarah. Lebih dari itu, mereka memiliki misi yang harus

dijalankan, dan harus memanfaatkan sumber daya yang terbatas, serta saling

peduli satu sama lain dan lingkungannya dalam rangka menjalankan

misinya.33

Oleh karena cara pandang sangat mempengaruhi hasil akhir dari suatu

sistem yang diterapkan maka Islam harus memiliki pandangan-dunia yang

holistik mencangkup unsur kemanusian dan ketuhanan. Menurut Chapra

prinsip utama dalam ekonomi pembangunan Islam adalah tauhid, khilafah,

dan ‘adalah. Sementara menurut Khurshid Ahmad prinsip utama atau

landasan filosofi ekonomi pembangunan Islam ada empat (4) yaitu; tauhid,

rububiyyah, khilafah, dan tazkiyah. Sedangkan Aidit Ghazali (1990) dalam 32 Umer Chapra, Islam and Economic Development, (Islamabad Islamic Reseach Institute

Press : 1993). Hal.

(28)

bukunya “Development: An Islamic Perspective” membagi filosofi dasar

menjadi lima (5) yaitu; tauhid uluhiyah, tauhid rububiyyah,khilafah, tazkiyyah

an-nas, dan al-falah. Walaupun terdapat beberapa perbedaan namun pada

dasarnya memiliki persamaan sumber yaitu Qur’an dan Hadits dan juga tujuan

yang sama yakni maqashid syari’ah.

Prinsip-prinsip ekonomi pembangunan dalam Islam yaitu;34

1. Tauhid Ulihiyyah, yaitu percaya pada Kemahatunggalan Allah dan semua

yang di alam semesta merupakan kepunyaan-Nya. Dalam konteks upaya

pembangunan manusia harus sadar bahwa semua sumber daya yang

tersedia adalah kepunyaan-Nya sehingga tidak boleh hanya dimanfaatkan

untuk pemenuhan kepentingan pribadi.

2. Tauhid Rububiyyah, yaitu percaya bahwa tuhan sendirilah yang

menenrukan keberlanjutan dan hidup dari ciptaanya serta menurut siapa

saja yang percaya kepada-Nya kepada kesuksesan. Dalam konteks upaya

pembangunan, manusia harus sadar bahwa pencapaian tujuan-tujuan

pembangunan tidak hanya bergantung pada upayanya sendiri, tetapi juga

pada pertolongan Tuhan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.

Pada satu titik ekstrem, sikap fatalistic tidak dibenarkan sementara pada

titik ekstrem lainnya, kepercayaan sepenuhnya pada upaya-upaya

manusia sendiri dianggap tidak adil bagi Sang Pencipta.

34 Mudrajat Kuncoro, Ph.D, Masalah, Kebijakan, dan Politik: Ekonomika Pembanguan,

(29)

3. Khilafah, yaitu peranan manusia sebagai wakil Tuhan di bumi. Di

samping sebagai wakil atas segala sumber daya yang diamanatkan

kepadanya, manusia yang beriman juga harus menjalankan tanggung

jawabnya sebagai pemberi teladan atau contoh yang baik bagi manusia

lainnya.

4. Tazkiyyah an-nas, ini merujuk kepada pertumbuhan dan penyucian

manusia sebagai prasyarat yang diperlukan sebelum manusia

menjalankana tanggung jawab yang ditugaskan kepadanya. Manusia

adalah agen perubahan dan pembangunan (agent of change and

development). Oleh karena itu, perubahan dan pembangunan apa pun

yang terjadi sebagai akibat upaya manusia ditujukan bagi kebaikan lain

dan tidak hanya bagi pemenuhan kepentingan pribadi.

5. Al-falah, yaitu konsep keberhasilan dalam Islam bahwa keberhasilan apa

pun yang dicapai di kehidupan dunia akan mempengaruhi keberhasilan di

akhirat sepanjang keberhasilan yang dicapai semasa hidup di dunia tidak

menyalahi petunjuk atau bimbingan yang telah Tuhan tetapkan. Oleh

karena itu, tidak ada dikotomi di antara upaya-upaya bagi pembangunan

di dunia ataupun persiapan bagi kehidupan akhirat.

6. ‘Adalah, tanpa disertai keadilan sosio-ekonomi, persaudaraan yang

merupakan satu bagian integral dari konsep-konsep sebelumnya akan

(30)

tegas dalam menghadapi perihal keadilan, bahkan Rasulullah

menyamakan ketidakadilan dengan dzulm “kegelapan mutlak”. Ibnu

Taimiyah juga menegaskan akan pentingnya keadilan. “Tuhan

menegakkan negeri yang adil meskipun kafir, tetapi tidak menegakkan

negeri yang tidak adil meskipun beriman.35 Sementara untuk mewujudkan

keadilan tersebut setidaknya harus dilakukan dengan cara ; (1)

pemenuhan kebutuhan, (2) penghasilan yang diperoleh dari sumber yang

baik, (3) distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil, (4) pertumbuhan

dan stabilitas.36

E. Tantangan Pembangunan dan Indikator Pembangunan 1. Tantangan Pembangunan

Tantangan dalam pembangunan di manapun dan dalam sistem apapun

hampir semuanya memiliki permasalahan yang sama, yaitu; kemiskinan,

ketimpangan pendapatan, pengangguran, kerusakan lingkungan, ketimpangan

pembangunan, dan kerusakan moral masyarakat.

a. Kemiskinan

Kemiskinan adalah akar kata dari miskin dengan awalan ke dan

akhiran an yang menurut kamus bahasa Indonesia mempunyai persamaan

arti dengan kefakiran yang berasal dari asal kata fakir dengan

awalan ke dan akhiran an. Dua kata tersebut seringkali juga disebutkan 35 M. Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi, (Surabaya : Risalah Gusti 1999) hal.

229-230

(31)

secara bergandengan; fakir miskin dengan pengertian orang yang sangat

kekurangan. Al-Qur’an memakai beberapa kata dalam menggambarkan

kemiskinan, yaitu faqir, miskin, al-sail, dan al-mahrum,tetapi dua kata

yang pertama paling banyak disebutkan dalam ayat al-Qur’an. Kata fakir

dijumpa dalam al-Qur’an sebanyak 12 kali dan kata miskin disebut

sebanyak 25 kali,yang masing-masing digunakan untuk pengertian yang

hampir sama.37

b. Ketimpangan

Ketimpangan dibagi menjadi dua, ketimpangan pendapatan dan

ketimpangan pembangunan antar daerah. Ketimpangan pendapatan adalah

kesenjangan dalam distribusi pendapatan antara antara kelompok

masyarakat berpenghasilan tinggi masyarakat dan kelompok masyarakat

berpenghasilan rendah. Sedangkan penyebab ketimpangan pembangunan

antar daerah adalah konsentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi di daerah

tertentu, misalnya di Indonesia pembangunan lebih terpusat di pulau jawa

tepatnya Jakarta. Ekonomi daerah dengan konsentrasi kegiatan ekonomi

tinggi cenderung tumbuh pesat. Sedangkan daerah dengan tingkat ekonomi

yang rendah cenderung mempunyai tingkat pembanguan dan pertumbuhan

ekonomi yang lebih rendah.

c. Pengangguran

(32)

Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak

bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari

selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan

pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah

angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah

lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran

seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya

pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang

sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan

masalah-masalah sosial lainnya.

Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan

kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan

dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah

menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara

berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah “pengangguran terselubung” di

mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit,

dilakukan oleh lebih banyak orang.Jumlah pengangguran biasanya seiring

dengan pertambahan jumlah penduduk serta tidak didukung oleh tersedianya

lapangan kerja baru atau keengganan untuk menciptakan lapangan kerja

(minimal) untuk dirinya sendiri atau memang tidak memungkinkan untuk

(33)

lapangan kerja. Sebenarnya, kalau seseorang menciptakan lapangan kerja,

menciptakan lapangan kerja (minimal) untuk diri sendiri akan berdampak

positif untuk orang lain juga, misalnya dari sebagian hasil yang diperoleh

dapat digunakan untuk membantu orang lain walau sedikit saja.38

d. Degradasi Lingkungan

Degradasi lingkungan dapat diartikan sebagai penurunan kualitas

lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan pembangunan yang dicirikan

oleh tidak berfungsinya secara baik komponen-komponen lingkungan

sebagaimana mestinya. Degradasi lingkungan pada dasarnya disebabkan

oleh adanya intervensi atau campur tangan manusia yang berlebihan

terhadap keberadaan lingkungan secara alamiah.

Akibat dari degradasi lingkungan adalah menurunnya kemampuan

alam untuk menyediakan bahan pemenuh kebutuhan manusia. Beberapa

bencana alam seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan merupakan hasil

secara tidak langsung dari aktivitas manusia sehingga dampaknya bisa

disebut sebagai degradasi lahan. Degradasi lahan memiliki dampak

terhadap produktivitas pertanian, menurunnya kualitas air, kualitas

lingkungan, dan memiliki efek terhadap ketahanan pangan.

e. Kerusakan Moral

(34)

Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh manusia

secara positif-konstruktif maupun secara negative-destruktif tergantung

kepada moral dan mental manusia (Bintarto, 1994:39) yang berperan

sebagai pencipta, pengembang, dan penggunanya, dalam bahasa Djuretna

A Iman Muhni ilmu pengetahuan dan teknologi selalu terkait dengan

pemilik dan pemakainya yakni manusia yang sering tidak mampu

mengendalikan nafsu serakahnya sendiri dalam artian moral.39 Hal serupa

terjadi dalam pembangunan, meskipun bertujuan untuk meningkatkan

kemakmuran seluruh lapisan masyarakat, namun jika tidak ada landasan

moral maka akan menimbulkan masalah yang baru.

Walaupun jarang dibahas terutama dalam ekonomi pembangunan

konvensional, kerusakan moral sesungguhnya memiliki pengaruh yang

kuat dalam pembangunan jangka panjang. Masyarakat yang tidak memiliki

pegangan nilai moral yang benar maka akan mengalami degradasi

peradaban. Misalnya, dalam sistem kapitalis persaingan menjadi pemicu

utama pertumbuhan ekonomi yang berakibat pada timbulnya individualism.

Pembangunan yang mengabaikan moral berakibat pada rusaknya generasi

sebagaimana menurut professor Thomas Lickona dari Cortland University

dengan cirri-ciri (1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, (2)

penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh

(35)

group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku yang

merusak diri, seperti narkoba, sex bebas, dan alkohol, (5) semakin

kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) penurunan etos kerja, (7)

semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya

rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) ketidak jujuran yang

telah begitu membudaya, (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di

antara sesama.40

2. Indikator Pembangunan

Pada dasarnya arti dari pembangunan sebagaimana diungkapkan

oleh Ginandjar Kartasasmita adalah suatu proses perubahan kearah yang

lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana. Untuk

mengetahui apakah upaya-upaya yang dilakukan telah sesuai dengan

rencana, maka diperlukan sebuah ukuran (indikator). Walaupun

masing-masing negara memiliki kebutuhan berbeda dalam melaksanakan

pembanguanan, namun pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, maka

indikator-indikator pembangunan secara umum dapat dibagi menjadi dua,

yaitu indikator ekonomi dan indikator sosial.

Indikator ekonomi terdiri dari;

a. Pendapatan Perkapita

(36)

Pendapatan perkapita baik dalam ukuran GNP maupun PDB

merupakan salah satu indikaor makro-ekonomi yang telah lama digunakan

untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Dalam perspektif makroekonomi,

indikator ini merupakan bagian kesejahteraan manusia yang dapat diukur,

sehingga dapat menggambarkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Tampaknya pendapatan per kapita telah menjadi indikator

makroekonomi yang tidak bisa diabaikan, walaupun memiliki beberapa

kelemahan. Sehingga pertumbuhan pendapatan nasional, selama ini, telah

dijadikan tujuan pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Seolah-olah

ada asumsi bahwa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara otomatis

ditunjukkan oleh adanya peningkatan pendapatan nasional (pertumbuhan

ekonomi).Walaupun demikian, beberapa ahli menganggap penggunaan

indikator ini mengabaikan pola distribusi pendapatan nasional. Indikator ini

tidak mengukur distribusi pendapatan dan pemerataan kesejahteraan,

termasuk pemerataan akses terhadap sumber daya ekonomi.41

b. Perubahan Struktural yang Tinggi

Perubahan struktural dalam perubahan ekonomi modern mencangkup

peralihan dari kegiatan pertanian ke nonpertanian, dari industry ke jasa, peru

bahan dalam skala unit-unit produktif.42 Pergeseran intersektoral ini dibarengi

41 http://www.scribd.com/doc/56431323/Teori-Dan-Indikator-Pembangunan diakses tanggal

13 Februari 2014

42 M.L Jhingan, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (Jakarta : P.T. Raja Grafindo

(37)

dengan pertumbuhan dalam skala perusahaan, dan terjadi perubahan bentuk

organisasi dalam sektor seperti manufakturing atau perdagangan, yaitu dari

perusahaan kecil tidak berbadan hukum menjadi unit usaha yang besar dengan

struktur industri dan teknologi yang berubah cepat. Adapula perubahan yang

terjadi dengan cepat, yaitu dalam alokasi produk yang terjadi di antara

berbagai perusahaan produksi dalam segala bentuk dan ukurannya.

Akibantnya terjadi juga perubahan dalam alokasi tenaga kerja.43

c. Urbanisasi

Pertumbuhan ekonomi modern juga ditandai dengan semakin

banyaknya perpindahan penduduk dari desa ke perkotaan akibat dari

perkembangan industrialisasi di kota. Urbanisasi mempersatukan orang-orang

dari berbagai asal maupun latar belakang. Interaksi di perkotaan menuntut

mereka untuk saling belajar dan bekerja sama. Perubahan juga terjadi pada

angka kelahiran dan bergeser kearah keluarga kecil, selain itu hal ini juga

menciptakan iklim bagi tumbuhnya kegiatan intelektual. Sementara menurut

Simon Kuznet, urbanisasi mempengaruhi tingkat pengeluaran konsumen

melalui tiga cara. Pertama, menghasilkan pembagian kerja dan spesialisasi

yang makin meningkat, serta meningkatnya usaha dari rumah tangga. Kedua,

43 M.L Jhingan, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (Jakarta : P.T. Raja Grafindo

(38)

meningkatnya harga kebutuhan pokok. Ketiga, berlakunya demonstration

effect kehidupan kota mendorong pengeluaran para urban meningkat.44

d. Tingkat Tabungan

Meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat memungkinkan

masyarakat untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung.

Dengan meningkatnya jumlah tabungan ini maka ketersediaan modal usaha

semakin meningkat, dengan meningkatnya modal maka jumlah usaha baru

akan meningkat yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kapasitas

produksi.

Keberhasilan pembangunan yang ditunjukkan oleh kinerja indikator

ekonomi tidak sepenuhnya menjamin bahwa pembangunan itu telah berhasil.

Misalnya peningkatan pendapatan tanpa disertai pemerataan pendapatan,

akhirnya akan menghambat kenaikan pendapatan sebagai akibat menurunnya

semangat kerja dan sangat mungkin juga karena meningkatnya

ketegangan-ketegangan sosial.45

Pembangunan yang hanya mengutamakan pertumbuhan fisik tanpa

mempertimbangkan nilai-nilai terbukti telah gagal. Oleh sebab itu para

ilmuwan mencoba mengembalikan akan pentingnya nilai dan etika dalam

pembangunan. salah satu pendapat yaitu dari Goulet (1995) “Etika

44 M.L Jhingan, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (Jakarta : P.T. Raja Grafindo

Persada2004) hal. 62

(39)

menempatkan konsep pembangunan dalam kerangka kerja yang luas dimana

pembangunan pada akhirnya berarti kualitas hidup dan kemajuan masyarakat

melalui nilai-nilai yang diekpresikan dalam berbagai budaya. Ini adalah tujuan

utama untuk menciptakan kesempatan manusia untuk hidup seutuhnya

sebagai manusia sejati.46

Oleh karena itu dalam Islam indikator sosial menjadi prioritas utama

tentunya dengan tidak mengesampingkan indikator ekonomi. Walaupun

pembangunan dengan perspektif pembangunan manusia relative baru, gagasan

tentang kehidupan yang lebih baik sebenarnya adalah tema-tema ulangan dari

filsuf muslim awal, misalnya Al-Ghazali dan Ibn Khaldun.47

Pada umumnya indikator sosial dinyatakan dalam indeks-indeks yang

meliputi Phisical Quality of Life Index (PQLI) atau Indeks Mutu Kidup dan

Human Development Index (HDI) atau Indek Pembangunan Manusia.

1) Phisical Quality of Life Index (PQLI) atau Indeks Mutu Kidup mengukur

tingkat kesejahteraan masyarakat dengan menggabungkan tiga komponen

penting yaitu; harapan hidup pada umur 1 tahun, angka kematian, dan

tingkat melek huruf. Untuk masing-masing indikator, kinerja ekonomi

suatu negara dinyatakan dalam skala 1 hingga 100, di mana 1 merupakan

46 Humayon A Dar and Saidat F. Otiti, Construction of an Ethics-augmented Human Development Index with a Particular Reference to the OIC Member Countries, (Economics Research Paper no. 02-14: Loughborough University 2002) hal. 4

(40)

kinerja ekonomi terendah, sedangkan 100 adalah kinerja ekonomi

tertinggi.48

2) Human Development Index (HDI) atau Indek Pembangunan Manusia

adalah program UNDP untuk menganalisis perbandingan status

pembangunan sosial ekonomi di berbagai negara. UNDP mengeluarkan

laporan ini setiap tahunnya berupa Human Development Report.

Komponen dalam HDI meliputi, angka harapan hidup, literasi, dan

pendapatan perkapita riil.

Visi pembangunan dalam Islam adalah keseimbangan antara dunia dan

akhirat, dengan menjadikan nilai-nilai ajaran ilahi sebagai fondasi dengan

tujuan akhirnya adalah tercapainya maqashid syari’ah. Maqashid syariah

terdiri dari lima elemen yang sangat penting yang terdiri dari hifz ad-din

(menjaga keimanan), hifz an-nafs (menjaga jiwa), hifz al-aql (menjaga

akal), hifz an-nasl (menjaga keturunan), dan hifz al-mal (menjaga harta).

Untuk mengukur pencapain maqashid syari’ah Humayon A Dar dan

Saidat F. Otiti membuat sebuah terobosan dengan memasukkan

indikator-indikator ekonomi dan non-ekonomi kedalam unsur-unsur maqashid

syari’ah misalnya faktor hifz ad-din (menjaga keimanan) diukur dengan

menggunakan indeks kepercayaan, hifz an-nafs (menjaga jiwa) dapat

diukur dengan Angka Harapan Hidup, hifz al-aql (menjaga akal) diukur

48 Mudrajat Kuncoro, Ph.D, Dasar-dasar: Ekonomika Pembanguan(Edisi 5), (Yogyakarta :

(41)

menggunakan Indeks Pendidikan hifz an-nasl (menjaga keturunan) dapat

(42)

BAB III

Rekonstruksi Pemikiran Para Tokoh Mengenai Pembangunan Ekonomi A. Al-Ghazali

1. Profil Al-Ghazali

Lahir pada tanggal 14 Jumadil Akhir 450 / 18 Desember 1058 M di

kota Thusi sebuah kota kecil di Khurasan (sekarang Iran). Nama lengkapnya

adalah Abu Hamid Ghazâli Muhammad ibn Muhammad Ghazâli

al-Thusi. Al-Ghazali hidup pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah,

tepat pada saat kekuasaan Dinasti Saljuk. Ia hidup ditengah berbagai

masalah yang sedang dialami umat Islam.

Pada masa al-Ghazâli, tidak saja terjadi disintegrasi umat Islam di

bidang politik, melainkan juga di bidang sosial-keagamaan. Umat Islam

ketika itu terpilah-pilah dalam beberapa golongan mazhab fiqh dan aliran

kalam yang masing-masing tokoh ulamanya dengan sadar menanamkan

fanatisrne golongan kepada umat. Sebenarnya tindakan serupa juga

diperankan oleh pihak penguasa. Setiap penguasa menanamkan pahamnya

kepada rakyat dengan segala daya upaya, bahkan dengan cara kekerasan.

Sebagai contoh, apa yang dilakukan oleh Al-Kundury, Perdana Menteri

(43)

aliran lainnya (seperti mazhab Syifi’i dan Asy’ari) menjadi tertekan, bahkan

banyak korban dan tokoh-tokohnya.49

Ayah Al-Ghazali wafat ketika ia masih kecil, sehingga untuk

pendidikan formal diperolehnya di Madrasah setelah dianjurkan oleh para

sufi yang mengasuhnya, karena ia tidak mampu lagi memenuhi

kebutuhannya sendiri. Ia belajar fiqh dari Ahmad Ibnu Muhammad

ar-Razkan at-Thusi di Thus dan tasawwuf dari Yusuf an- Nasaj, kemudian

hinggà 470 H. Al-Ghazali, belajar ilmu-ilmu dasar yang lain, termasuk

bahasa Persia dan Arab pada Nasr al-Ismâil di Jurjin. Pada usia 20 tahun

telah menguasai beberapa ilmu-ilmu dasar dan dua bahasa pokok yang lazim

dipergunakan oleh masyarakat ilmiah ketika itu, sehingga dua bahasa ini

mengantarkan dalam memahami buku-buku ilmiah secara otodidak. Tahun

473 H. Al- Ghazâli pergi ke Naizabur untuk belajar di Madrasah

an-Nizamiah, ketika itu Imam al-Haramain Diya ad-Din al-Juwaini (478 H.)

bertindak sebagai kepala dan tenaga pengajar di sana.50

2. Pemikiran Al-Ghazali

Walaupun Al-Ghazali lebih dikenal sebagai tokoh sufi yang termashur,

namun tidak sedikit karya-karyanya yang membahas tentang masalah-masalah

yang terjadi ditengah masyarakat, diantaranya masalah ekonomi. Pemikiran

Al-Ghazali mengenai ekonomi boleh dikatakan pemikiran yang orisinal 49 H. Hadi Mutamam, “Abu Hamid Muhammad Ghazali dan Metode Ijtihadnya dalam Al-Muatashfa”, Mazahib, vol. IX. No. 1, Juni 2007. Hal 13

(44)

karena pemikirannya telah terkonsep jauh sebelum teori-teori ekonomi yang

berkaitan konsep maslahah, dengan pasar, evolusi uang, serta aktivitas

produksi disusun oleh ilmuwan ekonomi Barat.

Diantara banyak pemikiran dalam bidang ekonomi yang paling

menonjol adalah pemikiran tentang konsep maqasid al-syari’ah. Konsep ini

secara langsung disebutkan baik dalam qur’an maupun hadits serta telah

dibahas oleh banyak ilmuwan muslim.51 Seluruh alasan syar’i yang

mendasarinya, yang mana disepakati oleh sebagian besar para ulama adalah

untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia (jalb al-mashalih) serta prinsip

menjauhkan manusia dari segala bahaya (daf’u al-mafashid). Al-Ghazali

merumuskan maqasid al-syari’ah kedalam lima kategori utama sebagaimana

terdapat dalam perkataanya “ Tujuan utama syari’ah adalah meningkatkan

kesejahteraan manusia, yang terletak pada perlindungan iman, hidup, akal,

keturunan dan harta. Apa saja yang menetapkan perlindungan kelima hal ini

merupakan kemaslahatan umum dan diinginkan, juga apapun yang menyakiti

mereka berarti melawan kemaslahatan public dan tidak diinginkan.”52

Pemikiran Al-Ghazali jika kita cermati, telah menembus batasan ruang

dan waktu. Pemikirannya bisa diaplikasikan dimana saja dan kapan saja.

51 Beberapa tokoh yang sangat terkemuka telah me nguraikan tentang maqasid al-Sharī‘ah mereka adalah : al-Māturīdī (d.333/945), al- Shāshī (d.365/975), al-Bāqillānī (d. 403/1012), al-Juwaynī (d.478/1085), al-Ghazālī (d.505/111), Fakhr al-Dīn al-Rāzī (d. 606/1209), al-Āmidī (d. 631/1234), ‘Izz al-Dīn ‘Abd al-Salām (d. 660/1252), Ibn Taymiyyah (d. 728/1327), al-Shātībī (d. 790/1388) and Ibn ‘Āshūr (d.1393/1973)

52 M Umer Chapra, The Islamic of Development in the Light of Maqasid Al-Shari’ah, (Jeddah

(45)

Misalnya sekarang sedang berkembang paradigm pembangunan inklusif

(inclusive development)53, pembangunan berkelanjutan (sustainable

development)54, dan juga MDG’s (Millennium Development Goals)55, semua

paradigm pembangunan itu telah terangkum semua dalam konsep maqasid

syariah.

Semua ulama sepakat dengan lima kategori dalam konsep maqasid

syari’ah, namun terdapat perbedaan dalam menempatkan point mana yang

diutamakan, akan tetapi sebenarnya kelima point tersebut memiliki keutamaan

yang sama jadi penempatan urutan tidak berarti apapun, itu hanya tergantung

dari sudut pandang para ulama saja. Hal terpenting adalah pemihaman dan

pengimplementasian maqasid syariah dalam segala aspek kehidupan dan

khususnya dalam pembangunan ekonomi. Kelima aspek maqasid syariah jika

disederhanakan akan menjadi dua komponen besar, yaitu, komponen

non-material manusia diwakili oleh perlunya menjaga iman (hifdz din) dan

komponen materiil manusia yang terwakili oleh menjaga hidup, akal,

keturunan, dan harta.

53 Pembangunan inklusif adalah pembangunan yang melibatkan seluruh unsur masyarakat

tanpa pengecualian, mamberikan akses yang sama untuk ikut serta ataupun meninkmati hasil pembangunan

54 Pembangunan berkelanjutan dimaknai sebagai pembangunan dalam rangka memenuhi

kebutuhan masa kini dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi penerus akibat dari kerusakan lingkungan.

55 MDGs adalah kesepakatan yang ditanda tangani oleh kepala negara atau perwakilannya

(46)

a. Urgensi Menjaga Iman (hifdz din)

Kata hifdz din diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi faith,

kemudian dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kepercayaan atau

iman. Iman menjadi salah satu unsur dalam maqasid syariah karena memang

manusia membutuhkan sebuah kepercayaan. Manusia memerlukan suatu

bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna

menopang hidup dan budayanya. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena

kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran.56

Kepercayaan akan menghasilkan tata nilai guna menopang kehidupan

yang kemudian dalam tahapan lebih tinggi akan menghasilkan kebudayaan.

Misalnya kepercayaan akan adanya Tuhan penguasa semesta akan

berimplikasi pada kehidupan dan melahirkan sebuah nilai, yaitu, bahwa segala

sesuatu yang ada di bumi dan dimiliki manusia sesungguhnya milik Tuhan.

Sehingga segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia mendapat pengawasan

dari Tuhan dan harus dipertanggung jawabkan.

Kepercayaan dalam islam dibahas dalam ajaran tauhid yang

mengajarkan kepercayaan selain percaya pada eksistensi Tuhan, juga harus

percaya bahwa Tuhan menurunkan aturan-aturan melalui Rasul-rasulnya,

serta melalui kitab-kitab sucinya. Memegang teguh ajaran tauhid akan

menghasilkan nilai atau perilaku atau akhlak57 mulia yang pada akhirnya akan

56Nilai Dasar Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam

57 Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mendefinisikan akhlak adalah suatu perangai

(47)

perbuatan-membangun peradaban yang tinggi, seperti, sikap saling menolong, peduli

pada lingkungan dan lain-lain.

Tuhan menciptakan manusia bukan hanya terdiri dari unsur fisik saja

melainkan unsur rahani juga. Keduanya telah diakui eksistensinya, keduanya

juga membutuhkan asupan tersendiri. Jika tubuh manusia membutuhkan

makanan untuk bertahan hidup dan berkembang, pakaian dan papan untuk

berlindung, maka jiwa manusia membutuhkan sebuah kepercayaan yang benar

untuk memenuhi kebutuhannya.

Sangat jelas bahwa aspek hifzd din sangat penting dalam

pembangunan. Karena dengan menjadikan kepercayaan atau agama sebagai

unsur penting dalam pembangunan telah menjadikan pembangunan sebagi

konsep yang utuh, yakni meliputi kebutuhan manusia baik fisik maupun

non-fisik.

b. Urgensi Menjaga Kehidupan (an-nafs), Akal (hifdz ‘aql), Keturunan (

an-nasl), dan Harta (al-mal)

Manusia diciptakan Tuhan ke muka bumi tidak lain untuk menjadi

khalifah. Tugas utama khalifah adalah untuk memakmurkan bumi.

Memakmurkan dalam pembahasan ini sama pengertiannya dengan

pembangunan. Sedangkan pembangunan sangat tergantung pada kualitas

Gambar

Gambar 1. Struktur Unsur Pembangunan

Referensi

Dokumen terkait

Namun, Bennabi tidak menggunakan gagasan Ibn Khaldun yang menegaskan bahwa kesatuan suku Badui („ ashabiyyah) dapat mengantarkan pada terbentuknya suatu negara yang

hermeneutika Ibn Abbas ini, diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan atas beberapa pemikiran Ibn Abbas tentang kewarisan untuk menyelesaikan masalah waris seiring dengan

Pemikiran pendidikan al-Ghazali dapat kita lihat dari perjalanan hidupnya yang kental dengan tradisi keilmuan dan juga pada buah karyanya yang tertuan

Dari kajian pemikiran pendidikan yang telah diulas di depan dapat dilihat, bahwa meski masih perdebatan di kalangan ulama dan ilmuwan, dan Ibn Khaldun menolak

Pemikiran pendidikan al-Ghazali dapat kita lihat dari perjalanan hidupnya yang kental dengan tradisi keilmuan dan juga pada buah karyanya yang tertuan

Konsep pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan anak yang dikaji terutama dalam karyanya yang terkenal yakni; “Ihya’ Ulum al-Dhin” belum dibahas secara sistematis,

Terdapat beberapa aspek dari pemikiran etika Ibn Maskawaih yang dapat diaplikasikan dalam konteks Indonesia, di antaranya adalah sebagai berikut: Pertama, pemikiran etika Ibn Maskawaih

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menunjukkan bahwa konsep filsafat islam yang ada dalam pemikiran Ibnu Rusyd dan keberadaannya yang bisa kita temukan sampai sekarang memiliki