proses panjang pembentukan peradaban manusia. Paradigmanya dari masa ke
masa terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika kita melihat secara
kasat mata atau secara parsial, kemajuan peradaban saat ini didominasi oleh
peran negara-negara Eropa yang merepresentasikan kaum sekuler, yakni
masyarakat yang memisahkan nilai-nilai agama dalam berbagai urusan dunia.1
Sementara di lain pihak negara-negara dengan mayoritas berpenduduk muslim
bahkan yang menggunakan sistem pemerintahan Islam sekalipun rata-rata berada
dalam kategori negara berkembang bahkan masuk dalam kategori negara
miskin2. Kondisi negara-negara Islam3 dalam beberapa dekade terakhir yang
cenderung masuk dalam kategori negara terbelakang seolah-olah telah
membenamkan kebesaran para ilmuwan Islam dalam bidang ekonomi, dan
meragukan sistem ekonomi Islam untuk menjawab tantangan-tantangan ekonomi
di lain pihak. Bahkan banyak ilmuwan yang menganggap Islam sebagai
penghambat pembangunan.4
1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) /sékulér/ a bersifat duniawi atau
kebendaan (bukan bersifat keagamaan atau kerohanian)
2 Untuk lebih lanjut bisa mengakses data di www.undp.org
3 Mengacu pada Organisasi Konferensi Islam (OKI) atau The Organisation of the Islamic
Conference (OIC) yang merupakan sebuah organisasi antar-pemerintah dengan 57 (lima puluh tujuh) negara anggota pada 2002 (sebagian besar negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim). Organisasi ini didirikan pada September 1969, di antara tujuan lain, untuk memperkuat solidaritas dan kerjasama antara negara-negara anggota di bidang politik, ekonomi, budaya, ilmiah dan sosial.
4Salah satunya Timur Kuran dalam Why the Middle East is Economically Underdeveloped: Historical Mechanisms of Institutional Stagnation. The Journal of Economic Perspectives. Selain Kuran, Noland juga menyimpulkan hal yang sama bahwa Islam, berdasarkan data-data yang ada
Padahal sesungguhnya peradaban Islam mempunyai pengalaman yang baik
dalam membangun peradaban termasuk dalam bidang ekonomi. Menurut
beberapa ilmuwan Barat seperti Toynbee (1935), Hitti (1958), Hodgson (1977),
Baeck (1994) dan Lewis (1995) berpendapat bahwa Islam pada masanya telah
berperan secara positif dalam pembangunan masyarakat. Hanya karena faktor
Islam yang mampu menjawab kenapa masyarakat Badui (Arab) yang mana
mempunyai karakter saling bermusuhan satu dengan lainnya, kekurangan
sumberdaya, dan iklim yang tidak bersahabat, serta memiliki sedikit kriteria
untuk tumbuh, tetapi mereka bisa tumbuh dengan cepat melawan berbagai
rintangan dan bertahan dengan kokoh menghadapi superioritas kerajaan
Byzantium dan kerajaan Persia5.
Peradaban Islam juga telah melahirkan banyak ilmuwan yang memiliki ide
yang original di bidang ekonomi. Bahkan pemikiran para ilmuwan ekonomi
Islam sebenarnya pelopor dan peletak dasar-dasar ilmu ekonomi telah banyak
menginspirasi tokoh-tokoh barat. Misalnya Ibn Khaldun yang diakui oleh dunia
sebagai bapak ilmu sosial dalam karya monumentanya yaitu Al-Muqaddimah
telah menjelaskan teori-teori pembagian kerja, pasar, ekonomi pembangunan,
good governance dan lain-lain berabad-abad sebelum kemunculan buku Adam
Smith the Wealth of Nation. Atau Al-Ghazali yang telah merumuskan konsep
memang menghambat pembangunan . untuk lebih lanjut dapat dilihat di Noland, M. Religion, culture, and economic performance. Unpublished paper, [email protected].
maqashid syaria’ah, sebuah konsep kedilan yang sangat penting dalam kajian
ekonomi pembangunan saat ini. pemikirinnya jauh sebelum karya John Rawls
“Justice as Fairness” dan “A Theory of Justice” atau teori-teori kedilan Barat
diterbitkan. Serta teori-teori distribusi pendapatan yang juga menjadi tema sentral
dalam ekonomi pembangunan telah menjadi perhatian khusus oleh Ya’qub bin
Ibrahim Abu Yusuf dalam karyanya Al-Kharaj.
Namun runtuhnya kekuasaan Islam berdampak pada hancurnya sendi-sendi
peradaban Islam dan mulai bergeser pada dominasi Barat. Selama Barat
mengalami masa kebangkitan di lain pihak Islam sedang mengalami
keterpurukan, sehingga terjadi gap sejarah. Para ilmuwan barat mendominasi
ilmu pengetahuan dengan melupakan sumber-sumber yang mereka peroleh, tak
lain berasal dari peradaban Islam. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat bahwa,
ketika Islam dalam masa kejayaan sebaliknya Barat masih dalam zaman
kegelapan atau dark age, bahkan pada tahun 1000 M (Barat) masih sedemikian
terbelakangnya, dan harus hanya bersandar secara total kepada ilmu pengetahuan
Dunia Islam (Kneller)6.
Kegagalan sistem pembangunan yang berlandaskan paham Kapitalis dan
Sosialis dalam mewujudkan kesejahteraan di berbagai negara dengan munculnya
berbagai krisis yang terus muncul secara periodik telah membangkitkan para
6Nurcholish Madjid, Islam, Doktrine, dan Peradaban, (Yayasan Paramadina
ilmuwan ekonomi pada umumnya untuk mencari sistem ekonomi alternatif dan
motivasi tersendiri untuk ilmuwan Islam membuktikan serta membangkitkan
kembali sistem ekonomi Islam untuk menggantikan sistem ekonomi yang tidak
memadai lagi. Dalam dunia Islam semangat itu ditandai dengan munculnya
paradigma baru yang diutarakan oleh Muhammad Iqbal mengenai “Pintu Ijtihad
Masih Terbuka”. Paradigma yang dihadirkan oleh Iqbal telah membangkitkan
semangat kebangkitan Islam. Sehingga dalam bidang ilmu ekonomi dewasa ini
telah muncul ilmuwan-ilmuwan dalam bidang ekonomi Islam di era modern.
Salah satu tokoh ekonomi Islam yang sangat berpengaruh adalah Umer
Chapra. Ia adalah salah satu tokoh ekonomi Islam kontemporer yang sangat
produktif dengan karya-karyanya yang sangat fundamental dan komprehensif.
Umer Chapra dalam tulisan-tulisannya mampu menganalisis dengan tajam
berbagai kebobrokan sistem-sistem ekonomi yang telah mapan, serta mampu
menjelaskan ekonomi Islam dengan baik. Karya-karya Umer Chapra membahas
mengenai sistem ekonomi Islam secara umum, keuangan Islam, sejarah
pemikiran ekonomi, kelembagaan ekonomi Islam, serta ekonomi pembangunan
Islam. Karya-karya Umer Chapra diantaranya adalah; Islam and the Economic
Challenge, Toward a Just Monetary System, The Future of Economic: An
Islamic Perspective, Economic Development in Muslim Countries dan lain-lain
Kebangkitan ilmu ekonomi Islam dan ilmu pembangunan Islam pada
khususnya telah memunculkan inisiatif untuk menerapkan sistem ekonomi Islam
di berbagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim oleh para ilmuwan
ekonomi pembangunan Islam maupun oleh kelompok-kelompok masyarakat
ataupun organisasi, hal ini juga terjadi di Indonesia. Upaya untuk menerapkan
sistem ekonomi yang berbasiskan ajaran Islam semakin menguat karena
Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia serta
ketidakmampuan pemerintah hingga saat ini untuk mewujudkan ekonomi yang
bekeadilan.
Kita sebagai umat Islam memiliki kewajiban untuk masuk Islam secara
kaffah, termasuk dalam bidang ekonomi. Untuk menjalankan ekonomi Islam
yang sesuai konsep maqashid syari’ah harus dilakukan Islamisasi ekonomi.
Bagaimanapun Islamisasi harus tidak dipahami suatu penawar semua
permasalahan negara-negara muslim. Beberapa masalah yang diciptakan oleh
kemunduran sosio ekonomi, politik dan moral yang telah ada selama
berabad-abad, kebijakan domestik yang salah dan program eksternal yang tidak sehat
pasti akan berlangsung lama. Juga harus dipahami bahwa Islamisasi adalah
proses yang bertahap. Ia tidak dapat dicapai dengan serta merta melalui
penggunaan kekuatan atau regimentasi.7
Untuk menerapkan sistem ekonomi Islam dan pembangunan ekonomi Islam
khususnya diperlukan upaya untuk memahami berbagai pemikiran ilmuwan Islam di
bidang ekonomi pembangunan, sehingga akan muncul rumusan konsep ekonomi
pembangunan Islam. Dari latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas,
maka penulis memilih judul; “Rekonstruksi Pemikiran Pembangunan Ekonomi Islam Menurut Pemikiran Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan M. Umer Chapra”
B. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah diperlukan untuk menerangkan masalah-masalah yang
ada pada objek yang akan diteliti sebelum dibuat pembatasan dan perumusannya,
antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan pembangunan ekonomi dalam Islam?
2. Bagaimana konsep pembangunan ekonomi dalam Islam?
3. Bagaimanakah implementasi dari konsep pembangunan ekonomi Islam?
4. Apa tantangan pembangunan ekonomi Islam?
C. Pembatasan Masalah
Untuk memfokuskan penulisan dan memudahkan analisa maka dalam
penelitian ini, penulis hanya akan membatasi permasalahan pada konsep
pembangunan ekonomi Islam dari para tokoh pembangunan ekonomi Islam
diantaranya Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Umer Chapra. Penulis akan mencoba
pengembalian sesuatu ketempatnya yang semula ; Penyusunan atau
penggambaran kembali dari bahan-bahan yang ada dan disusun kembali
sebagaimana adanya atau kejadian semula.8
D. Rumusan Masalah
Untuk dapat memberikan suatu gambaran yang lebih jelas tentang masalah
yang akan diteliti, berikut ini diajukan beberapa pertanyaan penelitian yang
dirumuskan kedalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah konsep pembangunan ekonomi menurut Al-Ghazali, Ibn
Khaldun, dan Umer Chapra?
2. Bagaimanakah relevansi konsep pembangunan Islam dan pembangunan
Indonesia?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Tersusunnya format pemikiran pembangunan ekonomi menurut
Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan Umer Chapra
b. Terumuskannya dimensi-dimensi implementasi pemikiran
pembangunan ekonomi Islam.
2. Manfaat Penelitian
a. Menambah wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi penulis
khususnya, dan bagi masyarakat pada umumnya terkait ekonomi
pembangunan Islam
b. Sebagai khasanah ilmu pengetahuan di bidang ilmu kepustakaan
dalam hal Ekonomi Pembangunan Islam
c. Menjadi masukan dan saran bagi para penelitian selanjutnya sehingga
bisa menjadi perbandingan bagi penelitian yang lain
F. Kerangka Berfikir
Pembahasan tentang ekonomi pembangunan termasuk hal yang masih baru,
baik di dunia pada umumnya maupun dalam dunia Islam khususnya. Khasanah
keilmuan Islam khususnya dalam bidang ekonomi sebenarnya telah dimulai
semenjak lahirnya Islam itu sendiri. Telah banyak para ilmuwan Islam yang
menulis tentang ekonomi walaupun belum secara sistematis. Masing-masing para
tokoh memiliki karakteristik pemikiran yang berbeda-beda sesuai dengan latar
belakang dan tantangan yang dihadapi pada masanya.
Tentunya terdapat banyak persamaan maupun perbedaan pemikiran yang
kemudian apabila disatukan akan menjadi rumusan yang akan bisa menjawab
tantangan pembangunan ekonomi yang terus berkembang di masa sekarang
maupun masa akan datang.
Penulis Dina Rahma Umami
(Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat,
Fakultas Syariah dan politik, Universitas Islam Negeri Jakarta,
2009).
Judul Pemikiran Ekonomi Mubyarto Dalam Prespektif Ekonomi
Islam
Pembahasan Pada skripsi ini penelitian yang dilakukan adalah untuk
mengetahui konsep filsafat, nilai-nilai dasar dan nilai
instrumental dari sistem ekonomi Islam, konsep filsafat,
nilai-nilai dasar dan nilai-nilai instrumental dari pemikiran ekonomi
Mubyarto dan pandangan system ekonomi Islam terhadap
pemikiran ekonomi dari Mubyarto
Hasil penelitian Berdasarkan hasil penelitian, pemikiran ekonomi Mubyarto
tidak bertentangan dengan sistem ekonomi Islam, sebab:
a. Pemikiran ekonomi Mubayrto berjiwa religious dan
mengedepankan unsur moral yang menginginkan adanya
keseimbangan dan keselarasan hubungan vertical dan
horisontal.
b. Bersifat karakyatan yang memberikan perhatian besar pada
penderitaan rakyat kecil yang merupakan korban dari
c. Bersifat humanis dimana ia tidak menginginkan terjadinya
ekspolitasi, penindasan dan dominasi sesame manusia.
e. Penulis kategorikan pemikiran Mubyarto sebagai pemikiran
yang berhaluan soislis religious.
Penulis Arif Soleh
(Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat,
Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2010).
Judul Konsep Pembangunan Ekonomi: Studi Komparatif Pemikiran
Mubyarto dan Umer Chapra
Pembahasan Pada Skripsi ini membahas tentang beberapa pokok masalah:
1. Bagaimana konsep pemikiran Mubyarto dan Chapra dalam
konsep pembangunan ekonomi?
2. Bagaimana relevansi pemikiran Mubyarto dan Chapra
terhadap perekonomian Indonesia?
Pendekatan yang penulis gunakan untuk mengkaji dan
menganalisa pokok masalah yang telah ditentukan
menggunakan metode library research dengan tekhnik analisa
ANN (Artificial Neuron Network)
Hasil penelitian Kesimpulan dari skripsi ini adalah bahwa baik Mubyarto
relevansi dan urgensi. Pemikiran keduanya patut untuk
dikembnagkan mengingat perlunya bangsa Indonesia
melepaskan diri dari ketergantungan pihak asing.
Keduanya telah dengan tepat meletakkan dasar-dasar dimensi
moral dan keadilan ditengah keadaan Indonesia yang
membutuhkan reformasi di bidang ekonomi.
H. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian Skripsi ini berupa penelitian kepustakaan (library
research) dengan data dan cara analisa kualitatif,9 dengan mendeskripsikan
dan menganalisa objek penelitian yaitu membaca dan menelaah berbagai
sumber yang berkaitan dengan topik. Untuk kemudian dilakukan analisis
dan akhirnya mengambil kesimpulan yang akan dituangkan dalam bentuk
laporan tertulis.
2. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data kualitatif
yang diperoleh dari sumber-sumber otentik yang terdiri atas sumber primer
dan sumber sekunder. Data primer berasal dari tulisan-tulisan para
tokoh-tokoh ekonomi pembangunan Islam diantaranya Al-Muqaddimah karya Ibn
Khaldun, Economic Development in Muslim Countries karya Umer M.
Chapra, Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali. Sedangkan sumber sekunder
berupa pemikiran para tokoh yang diulas oleh orang lain baik dalam bentuk
essay, jurnal, buku, ataupun karya ilmiah lainnya.
3. Teknik Pengambilan Data
Didalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data yang dibutuhkan
dengan menggunakan teknik studi pustaka, dalam hal ini adalah buku,
jurnal dan artikel.
I. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini merujuk pada Buku Pedoman
Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum tahun 2012. Untuk
mengetahui gambaran secara keseluruhan isi penulisan dalam penelitian ini,
penyusun menguraikan secara singkat sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis membahas mengenai latar belakang masalah yang
akan diteliti, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, review studi terdahulu, dan
sistematika penulisan.
Pada bab ini penulis akan memaparkan tentang teori pembangunan
pada umumnya dan konsep dasar ekonomi pembangunan Islam menurut para
tokoh-tokoh ekonomi pembangunan Islam.
BAB III GAMBARAN UMUM
Pada bab ini akan dijabarkan profil dan pemikiran dari Al-Ghazali dan
Ibn Khaldun sebagai representatif ilmuwan generasi awal kemudian Umer
Chapra sebagai representatif ilmuwan ekonomi pembangunan di era modern.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraukan hasil rekonsrtuksi pemikiran para tokoh
dalam hal ini Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan Umer Chapra mengenai konsep
ekonomi pembangunan dalam Islam.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini dikemukakan tentang kesimpulan dari pembahasan dan
BAB II
Pembangunan Ekonomi A. Definisi Pembangunan Ekonomi
Pada dasarnya, ilmu ekonomi adalah ilmu pengetahuan sosial. Ilmu ini
menyoroti manusia, serta sistem-sistem sosial yang mengorganisasikan
aktivitas-aktivitas yang dilakukan manusia pada umumnya dalam rangka
memenuhi berbagai kebutuhannya yang mendasar (yaitu pangan, sandang
dan, papan) dan untuk memenuhi keinginan-keinginannya yang bersifat
nonmaterial (seperti pendidikan, pengetahuan, dan pemuasan spiritual).
Sebagai ilmuawan sosial, para ekonom acapkali berhadapan dengan situasi
yang tidak biasa, oleh karena mereka dan objek studinya, yaitu manusia dan
segenap tingkah lakunya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, senantiasa
berubah10 mengikuti perubahan zaman itu sendiri. Kompleksnya permasalahan
dalam ekonomi memunculkan fokus-fokus pembahasan yang lebih mendetail,
diantaranya adalah ekonomi keuangan yang fokus untuk membahas masalah
keuangan, ekonomi politik yang fokus membahas masalah ekonomi dikaitkan
dengan politik, ekonomi mikro dan makro, serta yang paling baru adalah
ekonomi pembangunan yang membahas isu-isu dan upaya-upaya
pembangunan ekonomi. Beberapa tokoh mendefinisikan pembangunan
ekonomi diantaranya adalah;
10 Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta:
a. Menurut Todaro pembangunan merupakan upaya manusia secara sadar
dan sistematik baik individu atau kolektif untuk mewujudkan kehidupan
yang lebih baik, sejahtera dan merupakan proses tanpa henti
b. Definisi yang berbeda disampaikan oleh Lauterbach, menurutnya
pembangunan merupakan suatu upaya menciptakan kondisi yang lebih
baik bagi rakyat suatu negara secara keseluruhan, sesuai dengan
kebutuhan mereka yang sesungguhnya, tanpa mengganggu sistem nilai
dan cara-cara hidup mereka.11
c. Menurut Kartasasmita pembangunan adalah proses perubahan keadaan
menuju pada kondisi yang lebih baik.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembangunan ekonomi adalah
upaya sadar dan terencana manusia untuk mewujudkan kehidupan yang lebih
baik melalui perubahan-perubahan yang positif dengna tetap melindungi
nilai-nilai yang dianut masyarakat.
B. Tujuan Utama Pembangunan
Tujuan dari pembangunan yang benar-benar sempurna memang
tidaklah mudah untuk merumuskannya. Perdebatan mengenai hal ini sudah
berlangsung sangat lama dan masing-masing orang berpegang pada
keyakinannya masing-masing. Namun secara keseluruhan dapat terangkum
dalam pendapat Profesor Goulet dan tokoh-tokoh lain yakni terdapat tiga
tujuan pembangunan.
Pertama kecukupan (sustenance), yang dimaksud kecukupan bukan
hanya menyangkut makanan, melainkan mewakili semua hal yang merupakan
kebutuhan dasar manusia secara fisik. Kebutuhan dasar adalah segala sesuatu
yang jika tidak dipenuhi akan menghentikan kehidupan seseorang. Kebutuhan
dasar ini meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan keamanan. Jika satu
saja dari sekian banyak kebutuhan dasar ini tidak dipenuhi, maka akan muncul
kondisi keterbelakangan absolut.12
Kedua adalah jati diri (self-esteem) komponen universal yang kedua
dari kehidupan yang serba lebih baik adalah adanya dorongan dari diri sendiri
untuk maju, untuk menghargai diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak
melakukan atau mengejar sesuatu.13 Pembangunan harus mampu memberikan
penghargaan diri sebagai manusia, dan tidak digunakan sebagai alat dari orang
lain. Artinya, pembangunan harus mampu mengangkat derajat manusia dan
menciptakan kondisi untuk tumbuhnya jati diri (self-esteem)14.
Ketiga adalah kebebasan dari menghamba (freedom from servitude);
nilai universal terakhir yang harus terkandung dalam makna pembangunan
adalah konsep kemerdekaan manusia. Kemerdekaan atau kebebasan di sini
12 Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta:
P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 20
13 Ibid hal.. 20
hendaknya diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak
sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran aspek-aspek materiil dalam
kehidupan.15 Pembangunan harus membebaskan atau memerdekakan manusia
dari penghambaan dan ketergantungan akan alam, kebodohan dan
kemelaratan.16 Pembangunan dilakukan untuk tujuan peningkatan kebebasan
setiap orang dari kungkungan atau tekanan-tekanan kepentingan yang ada.
Ketiga inilah yang merupakan tujuan pokok yang harus digapai oleh setiap
orang dan masyarakat melalui pembangunan. Ketiganya berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan manusia yang paling mendasar, yang terwujud dalam
berbagai macam manifestasi di hampir semua masyarakat dan budaya
sepanjang jaman.17
C. Pembangunan Ekonomi dalam Islam
1. Konsep Pembangunan Ekonomi dalam Khasanah Peradaban Islam
Istilah pembangunan dalam khasanah peradaban Islam dan dalam
karya-karya klasik lazimnya dihubungkan dengan konsep ‘imârah al-ard
(memakmurkan bumi) yang dipahami dari ayat al-qur’an salah satunya surah
Hud ayat 61.18 Mayoritas penulis berpendapat bahwa kata al-‘imârah
15 Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta:
P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 21
16Isu-isu Seputar Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dengan Paradigma Humanizing Development , Drs. H. M Ladzi, M. Ag,. Hal 2
17 Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta:
P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 19
18 Asmuni Mth, Konsep Pembangunan Ekonomi Islam. Jurnal Al-Mawarid Edisi X tahun
(memakmurkan atau mengelola bumi untuk kemakmuran hidup manusia)
identik dengan kata at-tanmiyah al-iqtisadiyah (pembangunan ekonomi)19
Artinya: “dan kepada Tsamud (kami utus) saudara
mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah
Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia
telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan
kamu pemakmurnya[Maksudnya: manusia dijadikan
penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan
dunia.], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian
bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat
dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa
hamba-Nya)."
Walaupun dalam bahasa Arab modern arti kata dari isti’mar diartikan
penjajahan, isti’mara adalah menjajah. Makna ini tidak dikenal dalam
bahasa Al-Quran, dan memang ia merupakan penamaan yang tidak sejalan
dengan kaidah bahasa Arab dan akar katanya.20
Kata isti’mara pada ayat di atas terdiri dari huruf sin dan ta’ yang
dapat berarti meminta seperti dalam kata istighfara, yang berarti meminta 19 Ibid. hal 131
maghfirah (ampunan). Dapat juga kedua huruf tersebut berarti
“menjadikan” seperti pada kata hajar yang berarti “batu” bila digandengkan
dengan sin dan ta’ sehingga terbaca istahjara yang maknanya adalah
menjadi batu.
Kata ‘amara dapat diartikan dengan dua makna sesuai dengan objek
dan konteks uraian ayat. Surat Al-Tawbah (9): 17 dan 18 yang
menggunakan kata kerja masa kini ya’muru, dan ya’muru dalam konteks
uraian tentang masjid diartikan memakmurkan masjid dengan jalan
membangun, memelihara, memugar, membersihkan, shalat, atau I’tikaf
di dalamnya. Sedangkan surat Al-Rum (30): 9 yang mengulangi dua kali
kata kerja masa lampau ‘amaru berbicara tentang bumi, diartikan
sebagai membangun bangunan, serta mengelolanya untuk memperoleh
manfaatnya. Jika demikian, kata ista’marakum dapat berarti “menjadikan
kamu” atau “meminta/menugaskan kamu” mengolah bumi guna
memperoleh manfaatnya.21
Masalah pembangunan juga dibahas secara mendalam oleh Ibn
Khaldun dalam karyanya Al-Muqaddimah. Istilah yang digunakannya adalah
‘Umran Al-‘Alam. Walaupun sebagaian besar ilmuwan maupun masyarakat
umum memaknai ‘Umran dengan istilah yang sudah popular yaitu “sosial”
(ijtima’), “tamadun” (hadarah), dan “perkotaan” (madaniyyah). Namun
yang dimaksud oleh Ibn Khaldun adalah makna yang lebih luas.
Pada hakikatnya, ‘Umran Al-‘Alam merupakan suatu ilmu baru yang
dinamis serta mengandung makna yang sangat luas, bukan saja dari segi
sosial atau pembangunan yang bersifat fisik dan lokal, tetapi meliputi aspek
rohani dan jasmani yang bersifat “universal” untuk tujuan mencapai
kebahagiaan dan kemakmuran manusia di dunia dan di akhirat. Teori
`umran al-`alam telah diperkenalkan oleh Ibn Khaldun untuk menangani
krisis politik dan sosio-ekonomi yang melanda masyarakat Islam di Asia
Barat, khususnya di Andalus dan Afrika Utara pada abad ke-14M akibat
terjadinya keruntuhan agama dan akhlak serta perpecahan sesama umat
Islam disebabkan perbedaan mazhab, di satu pihak, serta dampak dan
pengaruh pemikiran tradisionalis Islam yang diimpor dari kebudayaan dan
pemikiran Persia dan Yunani kuno, di pihak yang lain. Pada waktu yang
sama, umat Islam pada waktu itu tidak memahami hukum masyarakat (ilmu
sosial masyarakat) dan alam yang sudah ditentukan oleh Allah Ta`ala serta
kurang peduli terhadap pemeliharaan dan kelestarian alam sekitar yang
berdampak pada kehidupan.22
Rasulullah Muhammad SAW sebagai pemegang otoritas tertinggi baik
dalam bidang agama maupun negara sebenarnya telah meletakkan
dasar pembangunan ekonomi yang komprehensif atau telah menjalankan
konsep ‘umran al-‘alam. Dasar-dasar pembangunan yang diletakkan oleh
Rasulullah mengintregasikan antara spirit duniawi dan spirit ukhrawi.
Pembangunan aqidah dan akhlak atau attitude sebagai etos kerja menjadi
prioritas utama.
Sebagai bentuk upaya membangun peradaban baru Rasulullah segera
meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat pertama, membangun
masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Masjid bukan hanya difungsikan
sebagai tempat ibadah, melainkan untuk berbagai pembinaan masyarakat
serta untuk kegiatan muamalah di sekelilingnya. Kedua, menjalin ukhwah
islamiyah antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam bentuk membuat
entrepreneur partnership baik dalam mengembangkan pertanian maupun
perdagangan. Ketiga, Rasulullah membuat undang-undang yang mengatur
hak dan kewajiban setiap individu masyarakat agar tercipta kehidupan yang
tertib. Keempat, meletakkan dasar-dasar keuangan negara. Dalam hal ini
didirikanlah Batul Mal sebagai pusat pengelolaan keuangan negara. Batul
Mal menjadi pusat pengumpulan pendapatan negara yang berasal dari dana
ziswaf serta retribusi dari negara. Kemudian dana yang dikumpulkan
disalurkan untuk pembangunan infrastruktur, gaji pegawai, pendidikan serta
pengentasan kemiskinan.23
2. Pembangunan Ekonomi Islam di Era Modern
Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur masalah
ibadah, melainkan mengatur semua aspek dalam kehidupan salah satunya
adalah muamalah. Muamalah mengatur berbagai aturan hubungan sesama
manusia termasuk di dalamnya urusan ekonomi. Bahkan seorang orientalis
paling terkenal bernama H.A.R Gibb mengatakan, “Islam is much more than
a system of theology it’s a complete civilization” (Islam bukan sekedar sistem
theologi, tetapi merupakan suatu peradaban yang lengkap).
Prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam pada dasarnya telah
dipraktekkan pada zaman Rasulullah sampai para sahabat-sahabatnya
walaupun belum ada penyusunan prinsip-prinsip ekonomi yang sistematis
pada waktu itu. Tulisan-tulisan pemikiran tentang ekonomi ditulis dalam
kitab-kitab filsafat maupun fiqh. Para cendekiawan muslim berusaha untuk
mengidentifikasi pemikiran-pemikiran ekonomi Islam.24
Runtuhnya kekuasaan negara-negara Islam dan bahkan mengalami
penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa menyababkan degradasi peradaban
Islam yang sangat signifikan. Peradaban Islam seolah benar-benar tidak penah
ada, termasuk dalam khazanah pemikiran ekonomi Islam. Josep Schumpeter
misalnya mengatakan, adanya “Great Gap” dalam sejarah pemikian ekonomi
selama 500 tahun yaitu masa yang dikenal sebagai the dark age. Dalam
karyanya, “History of Economics Analysis”, ia menegaskan bahwa pemikir
ekonomi muncul pertama kali di zaman Yunani Kuno pada abad 4 SM dan
bangkit kembali pada abad 13 M di tangan pemikir skolastik Thomas
Aquinas.25
Negara-negara Islam yang sebagian besarnya baru merdeka pasca
Perang Dunia II ternyata belum sepenuhnya bisa mengaktualisasikan sistem
perekonomian yang sesuai ajaran Islam. Hal tersebut dikarenakan bangsa
asing masih ikut campur tangan dalam berbagai hal, termasuk sistem ekonomi
yang berbasis pada kapitalisme dan sekularisme. Penerapan sistem dari Barat
ternyata tidak sepenuhnya berhasil dan cenderung gagal. Kondisi
negara-negara muslim yang hampir seluruhnya masuk dalam kategori negara-negara
berkembang (adapun negara yang maju dikarenakan kekayaan minyak mentah
dan gas alam, maka dibutuhkan upaya untuk merubah struktur ekonomi
kearah pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan), dan sebagiannya
lagi dalam kategori negara miskin.26
Negara-negara Islam pada umumnya tidak mampu menginternalisasi
mesin pertumbuhan. Paradoks yang terjadi di negara muslim adalah bahwa
mereka kaya akan sumber daya alam, namun ekonominya lemah dan miskin.27
Ilmuwan sering menyebut paradoks ini dengan kutukan sumber daya atau
25 Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok : Gramata 2010) hal. 69
26 Dr. Abdel Rahman Yousri Ahmed, An Introduction to an Islamic Theory of Economic Development, 8th International Conference on Islamc Economic and Finance
27 Khurshid Ahmad, Studies In Islamic Economics, (Jeddah : International Centre for
“resorce curse”. Perkonomian mereka tegantung pada negara Barat dalam
banyak hal, misalnya impor bahan makanan, barang-barang manufaktur,
tekhnologi, dan lain-lain, disisi lain mereka mengekspor produk primer.
Sebagiannya menderita karena efek dari warisan sistem ekonomi kolonial
yang berlarut-larut, dan ini adalah contoh yang sempurna dari hubungan
“negara maju di pusat – negara miskin pinggiran”.28
Untuk menanggapi semua isu yang berkembang khususnya pada dunia
Islam dan mencari upaya untuk mengatasinya permasalahan tersebut, pada
tahun 1976 Universitas King Abdul Aziz menggelar “International
Conference on Islamic Economics” yang pertama. Konferensi ini di hadiri
oleh 200 ekonom dan ulama dari seluruh dunia. Konferensi ini boleh
dikatakan sebagai awal kebangkitan ilmu ekonomi Islam di era modern serta
lahirnya ilmu ekonomi pembangunan Islam. Pokok-pokok bahasan dalam
konferensi tersebut diantaranya konsep dan metodologi ekonomi Islam,
produksi dan konsumsi dalam ekonomi Islam, peran negara dalam ekonomi
Islam, asuransi dengan konsep syari’ah, bank bebas bunga, zakat dan
kebijakan fiskal, dan ekonomi pembangunan Islam.29 Ekonomi pembangunan
menjadi topik yang sangat relevan mengingat resep pembangunan yang
ditawarkan oleh barat nyatanya tidak sesuai dengan kondisi sosio-kultur
negara muslim. 28Ibid hal. 172
29 Khurshid Ahmad, Studies In Islamic Economics, (Jeddah : International Centre for
3. Pengertian Pembangunan Ekonomi Islam
Istilah pembangunan ekonomi yang dimaksudkan dalam Islam
adalah “the process of allaviating poverty and provision of ease, comfort and
decency in life” (Proses untuk mengurangi kemiskinan serta menciptakan
ketentraman, kenyamanan dan tata susila dalam kehidupan).30 Sedangkan
menurut DR. Abdel-Rahman Yousri Ahmed Pembangunan adalah perubahan
struktural dalam lingkungan sosio-ekonomi, yang terjadi bersamaan dengan
penerapan hukum Islam dan nilai-nilai etika, sehingga memacu kapasitas
produktif manusia yang maksimal dan kemungkinan pemanfaatan terbaik dari
sumber daya yang tersedia, dengan tujuan tercapainya keseimbangan antara
aspek material dan spiritual.31
Atau jika kita mengacu pada literatur klasik bahwa pembangunan
memiliki arti ‘umran al-‘alam maka konsep dari Ibn Khaldun menjadi konsep
pembangunan yang komprehensif. Di atas kaedah inilah maka Ibn Khaldun
mendefinisikan `umran, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Jabri, iaitu:
“Suatu fenomena sosial yang digerakkan oleh sekumpulan masyarakat yang
bekerjasama/bermuafakat di kawasan kota atau desa dalam sebuah negara
yang berdaulat dan berpengaruh bagi tujuan memenuhi keperluan hidup yang
bahagia dan makmur baik segi rohani atau jasmani bersamaan dengan
30 http://www.agustiantocentre.com diakse pada tanggal 19 Februari 2014 10:40
penerapan ajaran agama dan akhlak serta hukum dan peraturan kejadian alam
dan manusia ciptaan Allah Ta`alan” (Muhammad `Abid al-Jabri,
1992:132-138, 298)
Dapat disimpulkan bahwa pembangunan ekonomi yang dimaksud
dalam islam adalah upaya yang dilakukan oleh sekumpulan masyarakat yang
saling bekerja sama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik disertai
dengan pengamalan ajaran Islam yang universal demi kehidupan yang
berkelanjutan.
D. Prinsip Utama dalam Ekonomi Pembangunan Islam
Menurut Umer Chapra tujuan dari suatu sistem ekonomi sangat
dipengaruhi oleh pandangan-duniannya. Salah satunya adalah pertanyaan
yang berkaitan dengan bagaimana alam semesta muncul, makna dan tujuan
hidup manusia, kepemilikan dan penggunaan objektif sumber daya yang
langka untuk kehidupan manusia, serta hubungan antar sesama manusia
(termasuk hak dan kewajiban mereka) juga pada lingkungan. Sebagai contoh,
jika pandangan mengenai alam semesta tercipta dengan sendirinya, maka
akibatnya manusia tidak perlu bertanggungjawab pada siapapun dan hidup
bebas sesukanya. Tujuan hidup mereka hanya sekedar mencari kesenangan,
tanpa memperdulikan bagaimana cara mendapatkannya dan apa akibatnya
bagi orang lain dan lingkungannya. Kemudian, pemenuhan kepentingan
kebiasaan. Jika diyakini bahwa manusia hanyalah pion-pion dalam papan
catur sejarah dan kehidupan mereka ditentukan oleh kekuatan dari luar di
mana mereka tidak memiliki kontrol, sehingga meraka tidak bertangung
jawab terhadap apa yang terjadi disekeliling mereka dan tidak perlu khawatir
dengan ketidak adilan yang terjadi.32
Akan tetapi, jika keyakinannya bahwa manusia dan apapun yang
dimilikinya diciptakan oleh Maha Pencipta dan mereka bertanggung jawab
kepada-Nya, mereka mungkin tidak menganggap diri mereka benar-benar
bebas untuk berkehendak sesuka hati atau seperti pion yang tak berdaya di
papan catur sejarah. Lebih dari itu, mereka memiliki misi yang harus
dijalankan, dan harus memanfaatkan sumber daya yang terbatas, serta saling
peduli satu sama lain dan lingkungannya dalam rangka menjalankan
misinya.33
Oleh karena cara pandang sangat mempengaruhi hasil akhir dari suatu
sistem yang diterapkan maka Islam harus memiliki pandangan-dunia yang
holistik mencangkup unsur kemanusian dan ketuhanan. Menurut Chapra
prinsip utama dalam ekonomi pembangunan Islam adalah tauhid, khilafah,
dan ‘adalah. Sementara menurut Khurshid Ahmad prinsip utama atau
landasan filosofi ekonomi pembangunan Islam ada empat (4) yaitu; tauhid,
rububiyyah, khilafah, dan tazkiyah. Sedangkan Aidit Ghazali (1990) dalam 32 Umer Chapra, Islam and Economic Development, (Islamabad Islamic Reseach Institute
Press : 1993). Hal.
bukunya “Development: An Islamic Perspective” membagi filosofi dasar
menjadi lima (5) yaitu; tauhid uluhiyah, tauhid rububiyyah,khilafah, tazkiyyah
an-nas, dan al-falah. Walaupun terdapat beberapa perbedaan namun pada
dasarnya memiliki persamaan sumber yaitu Qur’an dan Hadits dan juga tujuan
yang sama yakni maqashid syari’ah.
Prinsip-prinsip ekonomi pembangunan dalam Islam yaitu;34
1. Tauhid Ulihiyyah, yaitu percaya pada Kemahatunggalan Allah dan semua
yang di alam semesta merupakan kepunyaan-Nya. Dalam konteks upaya
pembangunan manusia harus sadar bahwa semua sumber daya yang
tersedia adalah kepunyaan-Nya sehingga tidak boleh hanya dimanfaatkan
untuk pemenuhan kepentingan pribadi.
2. Tauhid Rububiyyah, yaitu percaya bahwa tuhan sendirilah yang
menenrukan keberlanjutan dan hidup dari ciptaanya serta menurut siapa
saja yang percaya kepada-Nya kepada kesuksesan. Dalam konteks upaya
pembangunan, manusia harus sadar bahwa pencapaian tujuan-tujuan
pembangunan tidak hanya bergantung pada upayanya sendiri, tetapi juga
pada pertolongan Tuhan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Pada satu titik ekstrem, sikap fatalistic tidak dibenarkan sementara pada
titik ekstrem lainnya, kepercayaan sepenuhnya pada upaya-upaya
manusia sendiri dianggap tidak adil bagi Sang Pencipta.
34 Mudrajat Kuncoro, Ph.D, Masalah, Kebijakan, dan Politik: Ekonomika Pembanguan,
3. Khilafah, yaitu peranan manusia sebagai wakil Tuhan di bumi. Di
samping sebagai wakil atas segala sumber daya yang diamanatkan
kepadanya, manusia yang beriman juga harus menjalankan tanggung
jawabnya sebagai pemberi teladan atau contoh yang baik bagi manusia
lainnya.
4. Tazkiyyah an-nas, ini merujuk kepada pertumbuhan dan penyucian
manusia sebagai prasyarat yang diperlukan sebelum manusia
menjalankana tanggung jawab yang ditugaskan kepadanya. Manusia
adalah agen perubahan dan pembangunan (agent of change and
development). Oleh karena itu, perubahan dan pembangunan apa pun
yang terjadi sebagai akibat upaya manusia ditujukan bagi kebaikan lain
dan tidak hanya bagi pemenuhan kepentingan pribadi.
5. Al-falah, yaitu konsep keberhasilan dalam Islam bahwa keberhasilan apa
pun yang dicapai di kehidupan dunia akan mempengaruhi keberhasilan di
akhirat sepanjang keberhasilan yang dicapai semasa hidup di dunia tidak
menyalahi petunjuk atau bimbingan yang telah Tuhan tetapkan. Oleh
karena itu, tidak ada dikotomi di antara upaya-upaya bagi pembangunan
di dunia ataupun persiapan bagi kehidupan akhirat.
6. ‘Adalah, tanpa disertai keadilan sosio-ekonomi, persaudaraan yang
merupakan satu bagian integral dari konsep-konsep sebelumnya akan
tegas dalam menghadapi perihal keadilan, bahkan Rasulullah
menyamakan ketidakadilan dengan dzulm “kegelapan mutlak”. Ibnu
Taimiyah juga menegaskan akan pentingnya keadilan. “Tuhan
menegakkan negeri yang adil meskipun kafir, tetapi tidak menegakkan
negeri yang tidak adil meskipun beriman.35 Sementara untuk mewujudkan
keadilan tersebut setidaknya harus dilakukan dengan cara ; (1)
pemenuhan kebutuhan, (2) penghasilan yang diperoleh dari sumber yang
baik, (3) distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil, (4) pertumbuhan
dan stabilitas.36
E. Tantangan Pembangunan dan Indikator Pembangunan 1. Tantangan Pembangunan
Tantangan dalam pembangunan di manapun dan dalam sistem apapun
hampir semuanya memiliki permasalahan yang sama, yaitu; kemiskinan,
ketimpangan pendapatan, pengangguran, kerusakan lingkungan, ketimpangan
pembangunan, dan kerusakan moral masyarakat.
a. Kemiskinan
Kemiskinan adalah akar kata dari miskin dengan awalan ke dan
akhiran an yang menurut kamus bahasa Indonesia mempunyai persamaan
arti dengan kefakiran yang berasal dari asal kata fakir dengan
awalan ke dan akhiran an. Dua kata tersebut seringkali juga disebutkan 35 M. Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi, (Surabaya : Risalah Gusti 1999) hal.
229-230
secara bergandengan; fakir miskin dengan pengertian orang yang sangat
kekurangan. Al-Qur’an memakai beberapa kata dalam menggambarkan
kemiskinan, yaitu faqir, miskin, al-sail, dan al-mahrum,tetapi dua kata
yang pertama paling banyak disebutkan dalam ayat al-Qur’an. Kata fakir
dijumpa dalam al-Qur’an sebanyak 12 kali dan kata miskin disebut
sebanyak 25 kali,yang masing-masing digunakan untuk pengertian yang
hampir sama.37
b. Ketimpangan
Ketimpangan dibagi menjadi dua, ketimpangan pendapatan dan
ketimpangan pembangunan antar daerah. Ketimpangan pendapatan adalah
kesenjangan dalam distribusi pendapatan antara antara kelompok
masyarakat berpenghasilan tinggi masyarakat dan kelompok masyarakat
berpenghasilan rendah. Sedangkan penyebab ketimpangan pembangunan
antar daerah adalah konsentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi di daerah
tertentu, misalnya di Indonesia pembangunan lebih terpusat di pulau jawa
tepatnya Jakarta. Ekonomi daerah dengan konsentrasi kegiatan ekonomi
tinggi cenderung tumbuh pesat. Sedangkan daerah dengan tingkat ekonomi
yang rendah cenderung mempunyai tingkat pembanguan dan pertumbuhan
ekonomi yang lebih rendah.
c. Pengangguran
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak
bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari
selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan
pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah
angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah
lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran
seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya
pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang
sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan
masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan
kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan
dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah
menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara
berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah “pengangguran terselubung” di
mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit,
dilakukan oleh lebih banyak orang.Jumlah pengangguran biasanya seiring
dengan pertambahan jumlah penduduk serta tidak didukung oleh tersedianya
lapangan kerja baru atau keengganan untuk menciptakan lapangan kerja
(minimal) untuk dirinya sendiri atau memang tidak memungkinkan untuk
lapangan kerja. Sebenarnya, kalau seseorang menciptakan lapangan kerja,
menciptakan lapangan kerja (minimal) untuk diri sendiri akan berdampak
positif untuk orang lain juga, misalnya dari sebagian hasil yang diperoleh
dapat digunakan untuk membantu orang lain walau sedikit saja.38
d. Degradasi Lingkungan
Degradasi lingkungan dapat diartikan sebagai penurunan kualitas
lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan pembangunan yang dicirikan
oleh tidak berfungsinya secara baik komponen-komponen lingkungan
sebagaimana mestinya. Degradasi lingkungan pada dasarnya disebabkan
oleh adanya intervensi atau campur tangan manusia yang berlebihan
terhadap keberadaan lingkungan secara alamiah.
Akibat dari degradasi lingkungan adalah menurunnya kemampuan
alam untuk menyediakan bahan pemenuh kebutuhan manusia. Beberapa
bencana alam seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan merupakan hasil
secara tidak langsung dari aktivitas manusia sehingga dampaknya bisa
disebut sebagai degradasi lahan. Degradasi lahan memiliki dampak
terhadap produktivitas pertanian, menurunnya kualitas air, kualitas
lingkungan, dan memiliki efek terhadap ketahanan pangan.
e. Kerusakan Moral
Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh manusia
secara positif-konstruktif maupun secara negative-destruktif tergantung
kepada moral dan mental manusia (Bintarto, 1994:39) yang berperan
sebagai pencipta, pengembang, dan penggunanya, dalam bahasa Djuretna
A Iman Muhni ilmu pengetahuan dan teknologi selalu terkait dengan
pemilik dan pemakainya yakni manusia yang sering tidak mampu
mengendalikan nafsu serakahnya sendiri dalam artian moral.39 Hal serupa
terjadi dalam pembangunan, meskipun bertujuan untuk meningkatkan
kemakmuran seluruh lapisan masyarakat, namun jika tidak ada landasan
moral maka akan menimbulkan masalah yang baru.
Walaupun jarang dibahas terutama dalam ekonomi pembangunan
konvensional, kerusakan moral sesungguhnya memiliki pengaruh yang
kuat dalam pembangunan jangka panjang. Masyarakat yang tidak memiliki
pegangan nilai moral yang benar maka akan mengalami degradasi
peradaban. Misalnya, dalam sistem kapitalis persaingan menjadi pemicu
utama pertumbuhan ekonomi yang berakibat pada timbulnya individualism.
Pembangunan yang mengabaikan moral berakibat pada rusaknya generasi
sebagaimana menurut professor Thomas Lickona dari Cortland University
dengan cirri-ciri (1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, (2)
penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh
group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku yang
merusak diri, seperti narkoba, sex bebas, dan alkohol, (5) semakin
kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) penurunan etos kerja, (7)
semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya
rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) ketidak jujuran yang
telah begitu membudaya, (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di
antara sesama.40
2. Indikator Pembangunan
Pada dasarnya arti dari pembangunan sebagaimana diungkapkan
oleh Ginandjar Kartasasmita adalah suatu proses perubahan kearah yang
lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana. Untuk
mengetahui apakah upaya-upaya yang dilakukan telah sesuai dengan
rencana, maka diperlukan sebuah ukuran (indikator). Walaupun
masing-masing negara memiliki kebutuhan berbeda dalam melaksanakan
pembanguanan, namun pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, maka
indikator-indikator pembangunan secara umum dapat dibagi menjadi dua,
yaitu indikator ekonomi dan indikator sosial.
Indikator ekonomi terdiri dari;
a. Pendapatan Perkapita
Pendapatan perkapita baik dalam ukuran GNP maupun PDB
merupakan salah satu indikaor makro-ekonomi yang telah lama digunakan
untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Dalam perspektif makroekonomi,
indikator ini merupakan bagian kesejahteraan manusia yang dapat diukur,
sehingga dapat menggambarkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
Tampaknya pendapatan per kapita telah menjadi indikator
makroekonomi yang tidak bisa diabaikan, walaupun memiliki beberapa
kelemahan. Sehingga pertumbuhan pendapatan nasional, selama ini, telah
dijadikan tujuan pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Seolah-olah
ada asumsi bahwa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara otomatis
ditunjukkan oleh adanya peningkatan pendapatan nasional (pertumbuhan
ekonomi).Walaupun demikian, beberapa ahli menganggap penggunaan
indikator ini mengabaikan pola distribusi pendapatan nasional. Indikator ini
tidak mengukur distribusi pendapatan dan pemerataan kesejahteraan,
termasuk pemerataan akses terhadap sumber daya ekonomi.41
b. Perubahan Struktural yang Tinggi
Perubahan struktural dalam perubahan ekonomi modern mencangkup
peralihan dari kegiatan pertanian ke nonpertanian, dari industry ke jasa, peru
bahan dalam skala unit-unit produktif.42 Pergeseran intersektoral ini dibarengi
41 http://www.scribd.com/doc/56431323/Teori-Dan-Indikator-Pembangunan diakses tanggal
13 Februari 2014
42 M.L Jhingan, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (Jakarta : P.T. Raja Grafindo
dengan pertumbuhan dalam skala perusahaan, dan terjadi perubahan bentuk
organisasi dalam sektor seperti manufakturing atau perdagangan, yaitu dari
perusahaan kecil tidak berbadan hukum menjadi unit usaha yang besar dengan
struktur industri dan teknologi yang berubah cepat. Adapula perubahan yang
terjadi dengan cepat, yaitu dalam alokasi produk yang terjadi di antara
berbagai perusahaan produksi dalam segala bentuk dan ukurannya.
Akibantnya terjadi juga perubahan dalam alokasi tenaga kerja.43
c. Urbanisasi
Pertumbuhan ekonomi modern juga ditandai dengan semakin
banyaknya perpindahan penduduk dari desa ke perkotaan akibat dari
perkembangan industrialisasi di kota. Urbanisasi mempersatukan orang-orang
dari berbagai asal maupun latar belakang. Interaksi di perkotaan menuntut
mereka untuk saling belajar dan bekerja sama. Perubahan juga terjadi pada
angka kelahiran dan bergeser kearah keluarga kecil, selain itu hal ini juga
menciptakan iklim bagi tumbuhnya kegiatan intelektual. Sementara menurut
Simon Kuznet, urbanisasi mempengaruhi tingkat pengeluaran konsumen
melalui tiga cara. Pertama, menghasilkan pembagian kerja dan spesialisasi
yang makin meningkat, serta meningkatnya usaha dari rumah tangga. Kedua,
43 M.L Jhingan, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (Jakarta : P.T. Raja Grafindo
meningkatnya harga kebutuhan pokok. Ketiga, berlakunya demonstration
effect kehidupan kota mendorong pengeluaran para urban meningkat.44
d. Tingkat Tabungan
Meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat memungkinkan
masyarakat untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung.
Dengan meningkatnya jumlah tabungan ini maka ketersediaan modal usaha
semakin meningkat, dengan meningkatnya modal maka jumlah usaha baru
akan meningkat yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kapasitas
produksi.
Keberhasilan pembangunan yang ditunjukkan oleh kinerja indikator
ekonomi tidak sepenuhnya menjamin bahwa pembangunan itu telah berhasil.
Misalnya peningkatan pendapatan tanpa disertai pemerataan pendapatan,
akhirnya akan menghambat kenaikan pendapatan sebagai akibat menurunnya
semangat kerja dan sangat mungkin juga karena meningkatnya
ketegangan-ketegangan sosial.45
Pembangunan yang hanya mengutamakan pertumbuhan fisik tanpa
mempertimbangkan nilai-nilai terbukti telah gagal. Oleh sebab itu para
ilmuwan mencoba mengembalikan akan pentingnya nilai dan etika dalam
pembangunan. salah satu pendapat yaitu dari Goulet (1995) “Etika
44 M.L Jhingan, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (Jakarta : P.T. Raja Grafindo
Persada2004) hal. 62
menempatkan konsep pembangunan dalam kerangka kerja yang luas dimana
pembangunan pada akhirnya berarti kualitas hidup dan kemajuan masyarakat
melalui nilai-nilai yang diekpresikan dalam berbagai budaya. Ini adalah tujuan
utama untuk menciptakan kesempatan manusia untuk hidup seutuhnya
sebagai manusia sejati.46
Oleh karena itu dalam Islam indikator sosial menjadi prioritas utama
tentunya dengan tidak mengesampingkan indikator ekonomi. Walaupun
pembangunan dengan perspektif pembangunan manusia relative baru, gagasan
tentang kehidupan yang lebih baik sebenarnya adalah tema-tema ulangan dari
filsuf muslim awal, misalnya Al-Ghazali dan Ibn Khaldun.47
Pada umumnya indikator sosial dinyatakan dalam indeks-indeks yang
meliputi Phisical Quality of Life Index (PQLI) atau Indeks Mutu Kidup dan
Human Development Index (HDI) atau Indek Pembangunan Manusia.
1) Phisical Quality of Life Index (PQLI) atau Indeks Mutu Kidup mengukur
tingkat kesejahteraan masyarakat dengan menggabungkan tiga komponen
penting yaitu; harapan hidup pada umur 1 tahun, angka kematian, dan
tingkat melek huruf. Untuk masing-masing indikator, kinerja ekonomi
suatu negara dinyatakan dalam skala 1 hingga 100, di mana 1 merupakan
46 Humayon A Dar and Saidat F. Otiti, Construction of an Ethics-augmented Human Development Index with a Particular Reference to the OIC Member Countries, (Economics Research Paper no. 02-14: Loughborough University 2002) hal. 4
kinerja ekonomi terendah, sedangkan 100 adalah kinerja ekonomi
tertinggi.48
2) Human Development Index (HDI) atau Indek Pembangunan Manusia
adalah program UNDP untuk menganalisis perbandingan status
pembangunan sosial ekonomi di berbagai negara. UNDP mengeluarkan
laporan ini setiap tahunnya berupa Human Development Report.
Komponen dalam HDI meliputi, angka harapan hidup, literasi, dan
pendapatan perkapita riil.
Visi pembangunan dalam Islam adalah keseimbangan antara dunia dan
akhirat, dengan menjadikan nilai-nilai ajaran ilahi sebagai fondasi dengan
tujuan akhirnya adalah tercapainya maqashid syari’ah. Maqashid syariah
terdiri dari lima elemen yang sangat penting yang terdiri dari hifz ad-din
(menjaga keimanan), hifz an-nafs (menjaga jiwa), hifz al-aql (menjaga
akal), hifz an-nasl (menjaga keturunan), dan hifz al-mal (menjaga harta).
Untuk mengukur pencapain maqashid syari’ah Humayon A Dar dan
Saidat F. Otiti membuat sebuah terobosan dengan memasukkan
indikator-indikator ekonomi dan non-ekonomi kedalam unsur-unsur maqashid
syari’ah misalnya faktor hifz ad-din (menjaga keimanan) diukur dengan
menggunakan indeks kepercayaan, hifz an-nafs (menjaga jiwa) dapat
diukur dengan Angka Harapan Hidup, hifz al-aql (menjaga akal) diukur
48 Mudrajat Kuncoro, Ph.D, Dasar-dasar: Ekonomika Pembanguan(Edisi 5), (Yogyakarta :
menggunakan Indeks Pendidikan hifz an-nasl (menjaga keturunan) dapat
BAB III
Rekonstruksi Pemikiran Para Tokoh Mengenai Pembangunan Ekonomi A. Al-Ghazali
1. Profil Al-Ghazali
Lahir pada tanggal 14 Jumadil Akhir 450 / 18 Desember 1058 M di
kota Thusi sebuah kota kecil di Khurasan (sekarang Iran). Nama lengkapnya
adalah Abu Hamid Ghazâli Muhammad ibn Muhammad Ghazâli
al-Thusi. Al-Ghazali hidup pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah,
tepat pada saat kekuasaan Dinasti Saljuk. Ia hidup ditengah berbagai
masalah yang sedang dialami umat Islam.
Pada masa al-Ghazâli, tidak saja terjadi disintegrasi umat Islam di
bidang politik, melainkan juga di bidang sosial-keagamaan. Umat Islam
ketika itu terpilah-pilah dalam beberapa golongan mazhab fiqh dan aliran
kalam yang masing-masing tokoh ulamanya dengan sadar menanamkan
fanatisrne golongan kepada umat. Sebenarnya tindakan serupa juga
diperankan oleh pihak penguasa. Setiap penguasa menanamkan pahamnya
kepada rakyat dengan segala daya upaya, bahkan dengan cara kekerasan.
Sebagai contoh, apa yang dilakukan oleh Al-Kundury, Perdana Menteri
aliran lainnya (seperti mazhab Syifi’i dan Asy’ari) menjadi tertekan, bahkan
banyak korban dan tokoh-tokohnya.49
Ayah Al-Ghazali wafat ketika ia masih kecil, sehingga untuk
pendidikan formal diperolehnya di Madrasah setelah dianjurkan oleh para
sufi yang mengasuhnya, karena ia tidak mampu lagi memenuhi
kebutuhannya sendiri. Ia belajar fiqh dari Ahmad Ibnu Muhammad
ar-Razkan at-Thusi di Thus dan tasawwuf dari Yusuf an- Nasaj, kemudian
hinggà 470 H. Al-Ghazali, belajar ilmu-ilmu dasar yang lain, termasuk
bahasa Persia dan Arab pada Nasr al-Ismâil di Jurjin. Pada usia 20 tahun
telah menguasai beberapa ilmu-ilmu dasar dan dua bahasa pokok yang lazim
dipergunakan oleh masyarakat ilmiah ketika itu, sehingga dua bahasa ini
mengantarkan dalam memahami buku-buku ilmiah secara otodidak. Tahun
473 H. Al- Ghazâli pergi ke Naizabur untuk belajar di Madrasah
an-Nizamiah, ketika itu Imam al-Haramain Diya ad-Din al-Juwaini (478 H.)
bertindak sebagai kepala dan tenaga pengajar di sana.50
2. Pemikiran Al-Ghazali
Walaupun Al-Ghazali lebih dikenal sebagai tokoh sufi yang termashur,
namun tidak sedikit karya-karyanya yang membahas tentang masalah-masalah
yang terjadi ditengah masyarakat, diantaranya masalah ekonomi. Pemikiran
Al-Ghazali mengenai ekonomi boleh dikatakan pemikiran yang orisinal 49 H. Hadi Mutamam, “Abu Hamid Muhammad Ghazali dan Metode Ijtihadnya dalam Al-Muatashfa”, Mazahib, vol. IX. No. 1, Juni 2007. Hal 13
karena pemikirannya telah terkonsep jauh sebelum teori-teori ekonomi yang
berkaitan konsep maslahah, dengan pasar, evolusi uang, serta aktivitas
produksi disusun oleh ilmuwan ekonomi Barat.
Diantara banyak pemikiran dalam bidang ekonomi yang paling
menonjol adalah pemikiran tentang konsep maqasid al-syari’ah. Konsep ini
secara langsung disebutkan baik dalam qur’an maupun hadits serta telah
dibahas oleh banyak ilmuwan muslim.51 Seluruh alasan syar’i yang
mendasarinya, yang mana disepakati oleh sebagian besar para ulama adalah
untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia (jalb al-mashalih) serta prinsip
menjauhkan manusia dari segala bahaya (daf’u al-mafashid). Al-Ghazali
merumuskan maqasid al-syari’ah kedalam lima kategori utama sebagaimana
terdapat dalam perkataanya “ Tujuan utama syari’ah adalah meningkatkan
kesejahteraan manusia, yang terletak pada perlindungan iman, hidup, akal,
keturunan dan harta. Apa saja yang menetapkan perlindungan kelima hal ini
merupakan kemaslahatan umum dan diinginkan, juga apapun yang menyakiti
mereka berarti melawan kemaslahatan public dan tidak diinginkan.”52
Pemikiran Al-Ghazali jika kita cermati, telah menembus batasan ruang
dan waktu. Pemikirannya bisa diaplikasikan dimana saja dan kapan saja.
51 Beberapa tokoh yang sangat terkemuka telah me nguraikan tentang maqasid al-Sharī‘ah mereka adalah : al-Māturīdī (d.333/945), al- Shāshī (d.365/975), al-Bāqillānī (d. 403/1012), al-Juwaynī (d.478/1085), al-Ghazālī (d.505/111), Fakhr al-Dīn al-Rāzī (d. 606/1209), al-Āmidī (d. 631/1234), ‘Izz al-Dīn ‘Abd al-Salām (d. 660/1252), Ibn Taymiyyah (d. 728/1327), al-Shātībī (d. 790/1388) and Ibn ‘Āshūr (d.1393/1973)
52 M Umer Chapra, The Islamic of Development in the Light of Maqasid Al-Shari’ah, (Jeddah
Misalnya sekarang sedang berkembang paradigm pembangunan inklusif
(inclusive development)53, pembangunan berkelanjutan (sustainable
development)54, dan juga MDG’s (Millennium Development Goals)55, semua
paradigm pembangunan itu telah terangkum semua dalam konsep maqasid
syariah.
Semua ulama sepakat dengan lima kategori dalam konsep maqasid
syari’ah, namun terdapat perbedaan dalam menempatkan point mana yang
diutamakan, akan tetapi sebenarnya kelima point tersebut memiliki keutamaan
yang sama jadi penempatan urutan tidak berarti apapun, itu hanya tergantung
dari sudut pandang para ulama saja. Hal terpenting adalah pemihaman dan
pengimplementasian maqasid syariah dalam segala aspek kehidupan dan
khususnya dalam pembangunan ekonomi. Kelima aspek maqasid syariah jika
disederhanakan akan menjadi dua komponen besar, yaitu, komponen
non-material manusia diwakili oleh perlunya menjaga iman (hifdz din) dan
komponen materiil manusia yang terwakili oleh menjaga hidup, akal,
keturunan, dan harta.
53 Pembangunan inklusif adalah pembangunan yang melibatkan seluruh unsur masyarakat
tanpa pengecualian, mamberikan akses yang sama untuk ikut serta ataupun meninkmati hasil pembangunan
54 Pembangunan berkelanjutan dimaknai sebagai pembangunan dalam rangka memenuhi
kebutuhan masa kini dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi penerus akibat dari kerusakan lingkungan.
55 MDGs adalah kesepakatan yang ditanda tangani oleh kepala negara atau perwakilannya
a. Urgensi Menjaga Iman (hifdz din)
Kata hifdz din diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi faith,
kemudian dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kepercayaan atau
iman. Iman menjadi salah satu unsur dalam maqasid syariah karena memang
manusia membutuhkan sebuah kepercayaan. Manusia memerlukan suatu
bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna
menopang hidup dan budayanya. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena
kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran.56
Kepercayaan akan menghasilkan tata nilai guna menopang kehidupan
yang kemudian dalam tahapan lebih tinggi akan menghasilkan kebudayaan.
Misalnya kepercayaan akan adanya Tuhan penguasa semesta akan
berimplikasi pada kehidupan dan melahirkan sebuah nilai, yaitu, bahwa segala
sesuatu yang ada di bumi dan dimiliki manusia sesungguhnya milik Tuhan.
Sehingga segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia mendapat pengawasan
dari Tuhan dan harus dipertanggung jawabkan.
Kepercayaan dalam islam dibahas dalam ajaran tauhid yang
mengajarkan kepercayaan selain percaya pada eksistensi Tuhan, juga harus
percaya bahwa Tuhan menurunkan aturan-aturan melalui Rasul-rasulnya,
serta melalui kitab-kitab sucinya. Memegang teguh ajaran tauhid akan
menghasilkan nilai atau perilaku atau akhlak57 mulia yang pada akhirnya akan
56Nilai Dasar Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam
57 Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mendefinisikan akhlak adalah suatu perangai
perbuatan-membangun peradaban yang tinggi, seperti, sikap saling menolong, peduli
pada lingkungan dan lain-lain.
Tuhan menciptakan manusia bukan hanya terdiri dari unsur fisik saja
melainkan unsur rahani juga. Keduanya telah diakui eksistensinya, keduanya
juga membutuhkan asupan tersendiri. Jika tubuh manusia membutuhkan
makanan untuk bertahan hidup dan berkembang, pakaian dan papan untuk
berlindung, maka jiwa manusia membutuhkan sebuah kepercayaan yang benar
untuk memenuhi kebutuhannya.
Sangat jelas bahwa aspek hifzd din sangat penting dalam
pembangunan. Karena dengan menjadikan kepercayaan atau agama sebagai
unsur penting dalam pembangunan telah menjadikan pembangunan sebagi
konsep yang utuh, yakni meliputi kebutuhan manusia baik fisik maupun
non-fisik.
b. Urgensi Menjaga Kehidupan (an-nafs), Akal (hifdz ‘aql), Keturunan (
an-nasl), dan Harta (al-mal)
Manusia diciptakan Tuhan ke muka bumi tidak lain untuk menjadi
khalifah. Tugas utama khalifah adalah untuk memakmurkan bumi.
Memakmurkan dalam pembahasan ini sama pengertiannya dengan
pembangunan. Sedangkan pembangunan sangat tergantung pada kualitas