• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERNALISASI KARAKTER PANCASILA DAN KES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INTERNALISASI KARAKTER PANCASILA DAN KES"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

INTERNALISASI KARAKTER PANCASILA DAN KESADARAN BERKONSTITUSI PADA DIRI PESERTA DIDIK MELALUI PENDIDIKAN

KEPRAMUKAAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pancasila adalah jiwa dan kepribadian seluruh rakyat Indonesia. Pancasila berisi nilai-nilai luhur yang bersifat universal dan dapat diterapkan di dalam seluruh lapisan kehidupan masyarakat. Pancasila juga memberikan kontribusi atau kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbing dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang baik untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Selain Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa, Pancasila juga berkedudukan sebagai dasar negara yang telah diterima dan ditetapkan oleh pendiri bangsa dan negara Indonesia (the Founding Father) pada tanggal 22 Juni 1945. Sebagai dasar negara, setiap sila-sila Pancasila-sila merupakan sumber dari segala sumber hukum yang ada di Indonesia.

Untuk menjabarkan setiap sila tersebut maka pendiri negara juga menetapkan UUD 1945 sebagai dokumen resmi negara yang memberikan tafsiran terhadap nilai yang terkandung di setiap sila-sila Pancasila dan menterjemahkannya ke dalam pasal-pasal.

(2)

kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut malaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian yang abadi.

Akan tetapi dalam kenyataan kehidupan berbangsa dan bernegara kita sekarang ini, seakan cita-cita/idea dan tujuan di atas terasa semakin jauh untuk diraih. Bagaimana tidak, berbagai ancaman, hambatan, gangguan serta tantangan yang datang baik dari dalam maupun dari luar negeri, silih berganti harus kita hadapi.

Dari dalam negeri pemerintah harus berjuang mengatasi tingkat kemiskinan yang bertambah tinggi, kualitas pendidikan yang masih rendah, degradasi dan dekadensi moral yang melanda generasi muda, kesehatan masyarakat yang memprihatinkan, begitu juga permasalahan supremasi hukum yang belum bisa ditegakkan dengan baik.

Belum lagi tantangan dari luar negeri, masalah hutang luar negeri, ancaman kedaulatan NKRI, sampai masalah ekonomi dengan bergulirnya pasar bebas Asia (MEA), yang menuntut bangsa kita menjadi produsen bukan sebagai konsumen, apabila kita tidak ingin terjajah.1

Begitu pentingnya arti Pancasila dan UUD 1945 bagi bangsa dan negara Indonesia, maka tidak ada salahnya apabila kita, generasi muda ikut menjaga dan melestarikan keduanya, dengan cara membentuk pribadi kita sebagai warga negara Indonesia yang memiliki karakter yang mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila dan mengembangkan sikap kesadaran berkonstitusi melalui pendidikan, salah satunya adalah pendidikan kepramukaan.

Pendidikan Kepramukaan adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh peserta mulai dari tingkat dasar sampai tingkat Perguruan Tinggi.2 Pendidikan kepramukaan juga menjadi penting mengingat muatan materinya yang mendukung mata pelajaran PKn, yang menjadi ujung tombak dalam upaya membangun karakter peserta

(3)

didik dan kesadaran warga negara akan hak dan kewajibannya dalam membangun negara.

Adalah tugas mulia bagi guru pembina Pramuka untuk memberikan bekal wawasan kebangsaan pada peserta didiknya maupun pada masyarakat di sekitarnya akan pentingnya membangun karakter nasional (National Character Building) yang akan mampu membawa bangsa dan negara Indonesia menuju cita-cita dan tujuannya. Yaitu terciptanya masyarakat adil dan makmur, sejahtera lahir dan batin serta meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia di mata dunia internasional.

B. BATASAN MASALAH

Dari latar belakang di atas untuk memfokuskan bahasan pada makalah ini, maka ruang lingkup bahasan akan dibatasi pada Pendidikan Pramuka Penggalang, dengan titik permasalahan pada: 1. Apa materi yang diajarkan pada peserta didik Penggalang?

2. Bagaimana metode yang dilakukan oleh pembina pramuka penggalang dalam menginternalisasikan karakter Pancasila dan norma-norma konstitusi kepada peserta didik Pramuka Penggalang ?

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN 1. Tujuan

a. Mendeskripsikan materi yang diajarkan pada peserta didik Pramuka Penggalang

c. Mendeskripsikan metode yang dilakukan oleh pembina pramuka dalam menginternalisasikan karakter Pancasila dan norma-norma konstitusi kepada peserta didik Pramuka Penggalang 2. Manfaat

a. Bagi Madrasah

(4)

2. Sebagai acuan bagi guru atau pembina ekstrakurikuler yang lain untuk mengadakan riset/karya ilmiah sejenis.

3. Meningkatkan semangat Pembina Pramuka yang lain dalam menjalankan tugasnya mengantarkan generasi muda yang berkarakter Pancasila dan patuh terhadap norma-norma konstitusi

b. Bagi Masyarakat

(5)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Karakter Pancasila 1. Pengertian Karakter

Istilah karakter digunakan secara khusus bagi pendidikan pada akhir abad 18. Karakter sendiri berasal dari bahasa Yunani Charrasein yang berarti mengukir. Sedang menurut beberapa istilah yang disampaikan para ahli psikologi dan pendidikan menjelaskan bahwa karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak/budi yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.3 Karakter juga bisa diartikan sikap, tabiat, akhlak, kepribadian yang stabil sebagai hasil proses konsolidasi secara progresif dan dinamis.4

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian karakter adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan atau budi pekerti yang tumbuh dan tercermin di dalam sikap / tingkah laku seseorang yang kemudian akan membedakan orang tersebut dengan orang yang lainnya.

2. Pancasila

Pancasila berarti Lima Dasar ( bahasa Sanskerta). Pancasila secara resmi kenegaraan ditetapkan tanggal 22 Juni 1972 oleh para pendiri negara (the founding father). Pancasila berisi lima sila, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai filosofi yang tinggi tentang ketuhanan, kemanusiaan dan kenegaraan. Apabila nilai filosofi itu diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat akan memiliki arti yang sangat dalam tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dalam kehidupan bernegara.

Pada sila pertama mengandung tuntunan bahwa setiap manusia Indonesia harus beriman dan bertakwa serta menjalankan ajaran agamanya sesua dengan keyakinan yang di peluknya. Sila

3 Abdul Majid, Dian Andayani, Pendidikan Karakter Dalam Perspekti Islam,(Bandung:Cita Utama, 2010),

11

4 Yahya Khan, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri, Mendongkrak Kualitas Pendidikan (Yogyakarta:

(6)

kedua mengandung makna bagaimana menjalin hubungan antara sesama manusia sesuai dengan harkat, derajat dan martabatnya, sila ketiga mengajarkan bagaimana kita menjalin silaturrahmi dengan sesama dalam lingkup kecil serta bangsa dan negara dalam lingkup luas, sila keempat memberikan tuntunan bagaimana menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat, bangsa dan negara melalui musyawarah dan mufakat dan sila terakhir adalah tujuan tertinggi dari hidup berbangsa dan bernegara.5

3. Karakter Pancasila

Dalam kehidupan bernegara Pancasila selalu menjadi rujukan banyak pihak terhadap kepemilikan watak mulia yang dimiliki oleh seorang warga negara. Hal ini wajar, sebab Pancasila diyakini sebagai sebuah formulasi dari nilai-nilai kebaikan manusia. Sehingga seseorang yang dikatakan sebagai manusia Pancasila pasti memiliki berbagai hal terpuji dan patut untuk diteladani.

Lalu bagaimana kriteria seseorang warga negara bisa dikatakan sebagai manusia yang berkarakter Pancasila? Indikator apa yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur untuk menentukan bahwa manusia tersebut sudah memiliki karakter dan berkepribadian Pancasila atau belum? Apakah manusia Pancasila cukup diukur dengan melihat siapa yang hafal lima sila dari Pancasila ?

Indikator seseorang untuk memiliki label Pancasila di belakangnya sangat sulit dilakukan. Jika indikatornya hanya diukur dari bagaimana dia mampu menghafalkan lima sila yang ada, itu semua orang juga bisa disebut Pancasila. Bahkan orang-orang yang sering melakukan korupsi pun sangat banyak yang bisa dikatakan sebagai manusia Pancasila.

Pemaknaan karakter Pancasila lebih dari itu. Sayangnya, selama ini kita masih terjebak dalam kondisi dimana Pancasila masih sebatas bahan perdebatan dan seminar saja. Orang-orang sering mendiskusikan panjang lebar nilai-nilai dan keutamaan Pancasila. Namun mereka lupa untuk mengamalkan nilai-nilai

(7)

tersebut. Bukankah seharusnya Pancasila dijadikan bahan refleksi dan koreksi diri, kemudian menjadi salah satu landasan untuk bertingkah laku yang baik, dan pada akhirnya akan mendorong (memotivasi) orang lain berbuat dan berperilaku sebagai warga negara yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Seseorang bisa dikatakan sebagai manusia Pancasila jika mampu membawakan dirinya pada posisi yang tepat, sesuai kewajiban dan haknya. Manusia Pancasila harus mampu menempatkan dirinya menjadi rekan sesama manusia sekaligus menjadi hamba Tuhan pada saat yang bersamaan. Dua sifat kemanusiaan dan ke Illahian ini harus di terapkan secara bersama-sama, tidak terpisah..

B. KESADARAN BERKONSTITUSI 1. Konstitusi

Banyak orang yang menyamaartikan antara konstitusi dan UUD. Padahal apabila ditinjau dari segi istilah pengertian keduanya adalah berbeda. Konstitusi berasal dari bahasa Latin yaitu Constitutio yang berarti menetapkan sesuatu secara bersama-sama. Sedang dalam bahasa Inggris di kenal dengan istilah Constitution

dan dalam bahasa Perancis Contituere yang berarti membentuk.6 . Sedang dalam bahasa Belanda konstitusi dikenal dengan istilah Grundwet, yang artinya : Grund berati Dasar dan Wet berarti undang – undang. Dengan demikian istilah konstitusi sama dengan undang-undang dasar. Kemudian, dalam bahasa Jerman istilah konstitusi disebut verfassung.7

Akan tetapi sebenarnya menurut KC Wheare, dalam pelaksanaan praktek pemerintahan konstitusi dan undang - undang dasar tidaklah sama pengertiannya. Istilah konstitusi konstitusi memiliki arti yang lebih luas daripada undang-undang dasar. Konstitusi meliputi undang-undang dasar (konstitusi tertulis) dan

6 Sunardi HS, Mas’udyi Asy, Pendididkan Kewarganegaraan untuk Kelas VII SMP dan MTs, (Solo: Tiga

Serangkai: 2000),59.

(8)

konvensi (konstitusi tidak tertulis). Dengan demikian dapat dikatakan undang-undang dasar termasuk ke dalam bagian konstitusi. Sedangkan undang-undang Dasar lebih sempit pengertiannya, yaitu hukum dasar tertulis.8

2. Kesadaran Berkonstitusi

Undang - Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (UUD) 1945, merupakan konstitusi bangsa dan negara Indonesia. Sehingga UUD 1945 ditetapkan sebagai aturan hukum tertinggi yang keberadaannya dilandasi legitimasi kedaulatan rakyat dan negara hukum. Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dipandang sebagai bentuk kesepakatan bersama (general agreement) dari seluruh rakyat Indonesia sebagai pemilik keadulatan tertinggi di negara Indonesia.

Berkaitan dengan hal itu, Solly Lubis mengemukakan bahwa Undang-Undang Dasar adalah sumber utama dari norma-norma hukum tata negara. Undang-Undang Dasar mengatur bentuk dan susunan negara, alat-alat perlengkapannya di pusat dan daerah, mengatur tugas-tugas alat-alat perlengkapan itu serta hubungan satu sama lain.

Hal itu harus diimbangi dengan pelaksanaan oleh seluruh warga negara. Untuk itu dibutuhkan adanya kesadaran berkonstitusi warga negara, tidak saja untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang telah dibuat berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tetapi juga untuk dapat melakukan kontrol pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 baik dalam bentuk peraturan perundang- undangan, kebijakan, maupun tindakan penyelenggara negara.

Apa sebenarnya kesadaran berkonstitusi itu? Kesadaran berkonstitusi secara konseptual diartikan sebagai kualitas pribadi seseorang yang memancarkan wawasan, sikap, dan perilaku yang bermuatan cita-cita dan komitmen luhur kebangsaan dan

(9)

kebernegaraan Indonesia. Kesadaran berkonstitusi merupakan salah satu bentuk keinsyafan warga negara akan pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai konstitusi.

Kesadaran berkonstitusi merupakan salah bagian dari kesadaran moral. Sebagai bagian dari kesadaran moral, kesadaran konstitusi mempunyai tiga unsur pokok yaitu:

1. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan bermoral yang sesuai dengan konstitusi negara itu ada dan terjadi di dalam setiap sanubari warga negara, siapapun, di manapun dan kapanpun;

2. Rasional, kesadaran moral dapat dikatakan rasional karena berlaku umum, lagi pula terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Dengan demikian kesadaran berkonstitusi merupakan hal yang bersifat rasional dan dapat dinyatakan pula sebagai hal objektif yang dapat diuniversalkan, artinya dapat disetujui, berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap warga negara; dan

3. Kebebasan, atas kesadaran moralnya, warga negara bebas untuk mentaati berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di negaranya termasuk ketentuan konstitusi negara.

Sedang Winataputra mendefinisikan kesadaran berkonstitusi sebagai kualitas pribadi seseorang yang memancarkan wawasan, sikap, dan prilaku yang bermuatan cita-cita dan komitmen luhur kebangsaan dan kebernegaraan Indonesia. Karena konstitusi merupakan perwujudan dari cita-cita dan komitmen luhur Bangsa Indonesia, maka pendidikan kesadaran berkonstitusi pada dasarnya merupakan proses interaksi antara individu sebagai anggota masyarakat, elemen bangsa, dan warga negara dengan lingkungannya [lokal, nasional dan global] yang memungkinkan tumbuh kembangnya kualitas pribadi yang mencerminkan konsep dan nilai-nilai yang inheren dalam UUD 1945 dengan perubahannya.9

(10)

Adapun bentuk-bentuk kesadaran berkonstitusi bagi warga negara Indonesia yang meliputi:

1. Kesadaran dan kesediaan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia sebagai hak azasi bangsa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: belajar/bekerja keras untuk menjadi manusia Indonesia yang berkualitas, siap membela negara sesuai kapasitas dan kualitas pribadi masing-masing, dan rela berkorban untuk Indonesia.

2. Kesadaran dan pengakuan bahwa kemerdekaan Indonesia sebagai bangsa sebagai rahmat Allah Yang Maha Kuasa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: selalu bersyukur, tidak arogan, dan selalu berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa.

3. Kepekaan dan ketanggapan terhadap kewajiban Pemerintah Negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap kritis, skeptis, dan adaptif terhadap kebijakan publik pencerdasan kehidupan bangsa

4. Kemauan untuk selalu memperkuat keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menjalankan ibadah ritual dan ibadah sosial menurut keyakinan agamanya masing-masing dalam konteks toleransi antar umat beragama.

5. Kemauan untuk bersama-sama membangun persatuan dan kesatuan bangsa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap tidak primordialistik, berkarakter kemitraan pluralistik, dan bekerja sama secara profesional.

(11)

7. Kesediaan untuk mewujudkan komitmen terhadap keadilan dan kesejahteraan dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: tidak bersikap mau menang sendiri, tidak bersikap rakus dan korup, dan biasa berderma.

8. Kesadaran dan kesediaan untuk menghormati Sang Merah Putih sebagai Bendera Negara dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menyimpan Sang Merah Putih pada tempat yang tepat dan baik, memberi hormat pada saat Sang Merah Putih sedang dinaikkan/diturunkan, dan tidak merusak Sang Merah Putih dengan alasan apapun.

9. Kesadaran akan peran dan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara secara baik dan benar dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan berpartisipasi dalam memperkaya dan mengembangkan Bahasa Indonesia. 10. Kesediaan untuk menghormati Garuda Pancasila dengan

semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Lambang Negara dengan perwujudan perilaku sehari-hari.10

Berbagai bentuk kesadaran berkonstitusi warga negara sebagaimana diuraikan di atas dapat terwujud jika didukung oleh berbagai faktor yang mendorong terciptanya warga negara yang memiliki kesadaran berkonstitusi. Salah satu faktor pendorong yang paling efektif adalah dengan jalur pendidikan.

C. PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN

1. Sejarah Singkat Gerakan Pramuka

Pada tanggal 28 Desember 1945 di Surakarta berdiri Pandu Rakyat Indonesia (PARI). Organisasi ini adalah satu satunya

(12)

gerakan kepanduan yang ada di wilayah Indonesia. Kemudian setelah terjadi pengakuan kedaulatan RI muncullah beberapa gerakan kepanduan serupa seperti HW, SIAP, Pandu Islam Indonesia, Pandu Kristen dan lainnya. Menjelang tahun 1961 kepanduan terpecah menjadi lebih dari 100 organisasi, dan membuat kepanduan ini lemah dan mudah dimanfaatkan oleh PKI untuk dipaksa menjadi Gerakan Pioneer Muda seperti yang ada di negara-negara komunis. Akan tetapi keinginan itu bisa diatasi dengan kekuatan Pancasila yang ada di dalam kader Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo).

Pada masa tahun 1961 sampai tahun 1999 kepanduan Indonesia mengalami babak baru dengan lahirnya Gerakan Pramuka sebagai satu satunya wadah organisasi kepanduan dengan kebulatan tekad menjadikan Pancasila sebagai dasar gerakannya. Dengan melakukan penyesuaian berdasarkan kebutuhannya gerakan pramuka mampu membawa perubahan dan dapat mengembangkan kegiatanya secara luas.11

2. Pendidikan Kepramukaan

Selama ini istilah Gerakan Pramuka, pendidikan Pramuka dan Pramuka digunakan secara rancu. Sehingga mengaburkan pengertian sebenarnya. Gerakan pramuka adalah sebutan bagi organisasi pendidikan di luar sekolah dan di luar keluarga yang menggunakan prinsip dasar pendidikan kepramukaan dan metode pendidikan kepramukaan. Sedangkan Pendidikan Kepramukaan adalah nama kegiatan anggota Gerakan Pramuka. Dan Pramuka adalah sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka mulai dari Siaga, Penggalang, Penegak, Pandega, dan anggota dewasa yaitu Pembina, Pelatih Pembina, Pembina Profesional, Pamong Saka, Instruktur Saka, Andalan dan anggota MABI.

Zainul Furqon memberikan definisi tentang pendidikan kepramukaan adalah sebagai berikut:

(13)

a. Pendidikan kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup dan akhlak mulia melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

b. Pendidikan kepramukaan merupakan proses belajar mandiri yang progresif untuk mengembangkan diri pribadi seutuhnya meliputi aspek spiritual, emosional, sosial intelektual dan fisik sebagai individu atau anggota masyarakat.12

3. Tujuan Pendidikan Kepramukaan

Tujuan pendidikan kepramukaan adalah mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip-prinsip dasar dan metode kepramukaan, sehingga akan melahirkan manusia Indonesia yang: c. Berkepribadian luhur serta tinggi mental, moral, budi pekerti dan

kuat keyakinan beragamanya.

d. Tinggi kecerdasan dan ketrampilannya e. Sehat dan kuat fisik dan spiritualnya

f. Berkarakter Pancasila, setia dan patuh kepada NKRI 4. Metode Pendidikan Pramuka

Metode Pendidikan pramuka adalah cara memberikan pendidikan kepada peserta didik dengan kegiatan yang menyenangkan dan menantang. Metode Kepramukaan merupakan cara belajar progresif dan melalui:

a. Pengamalan kode kehormatan (Trisatya dan Dasa Dharma) b. Belajar sambil melakukan (learning by doing)

c. Sistem beregu ( sistem Patrol)

d. Kegiatan menarik dan menantang di alam terbuka

e. Kemitraan dengan anggota dewasa dalam setiap kegiatan f. Sistem tanda kecakapan

g. Satuan terpisah putra dan putri h. Kiasan dasar.13

5. Manfaat mengikuti kegiatan pendidikan Kepramukaan

(14)

a. Di pramuka belajar tentang pendidikan keagamaan, pendidikan teknologi, pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan tentang alam, sosial dan lain sebagainya. Bahkan secara langsung dipraktekan oleh setiap anggota pramuka sesuai dengan tingkatan dari pramuka itu sendiri.

b. Melalui kepramukaan, kegiatan eksplorasi bakat lebih terasa. Pramuka menghargai setiap bakat dan kreatitas untuk dikembangkan, dan pramuka adalah wadah yang selalu siap sedia memberikan up grading pada bidang kreativitas pada berbagai event di pramuka seperti pelatihan broadcasting,

photography, internet, dan berbagai kerajinan tangan lainya. c. Pramuka diajak menjadi penemu karya, berfikir untuk menjadikan

bahan yang kurang bermanfaat menjadi lebih bermanfaat. Setiap pramuka diajak berfikir inovatif menciptakan teknologi tepat guna pada tingkatan khusus

d. Rasa kekeluargaan lebih terasa dan sangat kokoh terbangun di Pramuka, hangatnya salam pramuka yang bergema di bumi perkemahan pramuka menjadi salah satu simbol bahwa pramuka dengan mudahnya menyatu dengan mentoleransi perbedaan agama, suku dan kebudayaan yang ada.

e. Gerakan Pramuka adalah organisasi nasionalisme, mengenal dan bergabung dengan pramuka berarti berkesempatan berkenalan dengan Indonesia melalui event nasional pada berbagai tingkatan, Hanya pramuka yang berprestasi yang mendapatkan kesempatatan.

f. Pramuka sudah terbiasa dengan kebiasaan baik, mulai dari tradisi musyawarah untuk menemukan solusi hingga tertempa menghadapi berbagai problema yang sulit untuk dipecahkan. Pramuka yang baik sudah tidak diragukan lagi menjadi calon pemimpin.

(15)

saja, bahkan menjadi orang dengan kehadiran yang ditunggu untuk perubahan.

h. Kegiatan pramuka secara umum adalah kegiatan pesta untuk kebersamaan, kegiatan bakti untuk pengabdian, kegiatan kompetisi untuk mengasah kemampuan, kegiatan pelatihan untuk meningkatkan taraf pemahaman, kegiatan cross culture understanding untuk melatih nilai nasionalisme keberagaman, dan kegiatan wisata untuk merasakan indahnya alam dan memberi kesadaran menjaga alam sekitar.14

.

BAB III PEMBAHASAN

A. Materi Pendidikan Pramuka Penggalang

(16)

Golongan Pramuka Penggalang merupakan tingkatan di dalam Kepramukaan setelah Pramuka Siaga, Pada Jenjang sesuai akademisnya pramuka penggalang disamakan dengan usia pendidikan setara SMP. Penggalang adalah sebuah tingkatan dalam pramuka setelah siaga. Biasanya anggota pramuka tingkat penggalang berusia dari 11-15 tahun. Ada Empat Tingkatan di dalam Pramuka Penggalang, dimana untuk mendapatkan tingkatan tersebut setiap pramuka penggalang harus memenuhi Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan resmi di lantik sebelum menggunakan tanda jabatan Penggalang Ramu, Penggalang Rakit, Penggalang Terap, Penggalang Garuda.

Sama seperti tingkatan yang lain pramuka penggalang juga mematuhi Kode Kehormatan Pramuka Penggalang, yaitu Tri Satya dan Dasa Dharma. Tri Satya berisi tiga janji yaitu: Menjalankan kewajiban terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat. Serta menepati Dasa Dharma

Sedangkan isi Dasa Dharmaadalah sebagai berikut:. 1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Cinta alam dan kasih sayang kepada manusia 3. Patriot yang sopan dan ksatria

4. Patuh dan suka bermusyawarah 5. Rela menolong dan tabah

6. Rajin, trampil dan gembira 7. Hemat cermat dan bersahaja 8. Disiplin, berani dan setia

9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya 10.Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Untuk materi yang diberikan kepada Pramuka penggalang tercantum dalam silabus sebagai berikut:15

15 Tim Pembina Pramuka Gudep MTs Negeri1 Pare, Program Kerja Ekstra Pramuka Tahun pelajaran

(17)

N

(18)

N macam simpul tali dan menyambung tongkat

(19)

N 7.2 Latihan memasak

tingkat lanjut

kerajinan dari jerami / dedaunan (atap

(20)

N 1 peta dalam kepramukaan dan peta dalam kepramukaan berbagai tandajejak dan peta

dalam

kepramukaan

penggun aan peta

11.2 Menggunakan tanda jejak dan peta dalam kepramukaan

P3K dan PPSD 12.2 Memperagaka n P3K dan 13.3 Jelajah alam dan

(21)

N

Pada intinya materi yang diberikan pada setiap tingkatan pramuka penggalang baik Ramu, Rakit, Terap dan Garuda adalah sama, hanya materinya dibuat berjenjang.

B. Metode Yang Dilakukan Yang Dilakukan Oleh Pembina Pramuka Dalam Menginternalisasikan Karakter Pancasila Dan Norma-Norma Konstitusi Kepada Peserta Didik Pramuka Penggalang.

Internalisasi (internalization) diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat, dan seterusnya di dalam kepribadian.16

Reber, sebagaimana dikutip Mulyana mengartikan internalisasi sebagai menyatunya nilai dalam diri seseorang, atau dalam bahasa psikologi merupakan penyesuaian keyakinan, nilai, sikap, praktik dan aturan – aturan baku pada diri seseorang.17 Pengertian ini mengisyaratkan bahwa pemahaman nilai yang diperoleh harus dapat dipraktikkan dan berimplikasi pada sikap. Internalisasi ini akan bersifat permanen dalam diri seseorang.

Dalam kaitannya dengan nilai, pengertian – pengertian yang diajukan oleh beberapa ahli tersebut pada dasarnya memiliki substansi yang sama. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa internalisasi sebagai proses penanaman nilai kedalam jiwa seseorang sehingga nilai

(22)

tersebut tercermin pada sikap dan prilaku yang ditampakkan dalam kehidupan sehari – hari.

Beberapa metode yang dijadikan referensi oleh pembina pramuka dalam rangka menginternalisasikan nilai karakter Pancasila dan norma norma kesadaran berkonstitusi antara lain:

1. Memberikan contoh/teladan yang baik kepada peserta didik

Seperti semboyan Ing ngarso sung tulodho yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, memberi contoh, uswah atau teladan adalah cara yang efektif dan baik ini harus dilakukan oleh pembina maupun kakak tingkat dalam melaksanakan tugas mendidik dan membina adik-adiknya dalam setiap kegiatan kepramukaan. Akhlak dan budi pekerti luhur harus selalu dikembangkan guna menumbuhkan karakter positif bagi peserta didik pramuka penggalang.

Sebagai role model kakak pembina dan kakak tingkat harus memiliki etika baik ketika latihan ataupun dalam keseharian. Dengan begitu maka secara otomatis adik-adiknya akan mencontoh perilaku kakak-kakaknya. 2. Pembiasaan

Pembiasaan tidaklah memerlukan keterangan atau argumen yang logis. Pembiasaan hanya akan berjalan dan berpengaruh karena semata-mata oleh kebiasaan itu saja.18 Setiap anggota pramuka penggalang didik untuk membiasakan diri terhadap kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan materi pramuka penggalang mulai dari pembiasaan keagamaan sampai dengan pembiasaan lifeskillnya sebagai anggota pramuka. Dalam hal ini pembiasaan beragama menjadi titik tekan utama bagi pembentukkan karakter peserta didik penggalang. Karena pembina meyakini dengan dasar agama yang kuat maka akan lahir karakter manusia Indonesia yang luar biasa. Contoh pembiasaan ini bisa dilakukan dengan memberi salam ketika bertemu dengan siapapun, berjabat tangan, sholat wajib berjamaah, sholat sunah serta berdoa sebelum malakukan segala kegiatan. Sedang untuk pembiasaan

lifeskillnya peserta didik dibiasakan memiliki jiwa sportif, kreatif dan inovatif serta membiasakan diri menjadi orang yang berprestasi.

3. Menegakkan disiplin

Penanaman nilai disiplin harus dilakukan setiap waktu, karena disiplin adalah kunci keberhasilan seseorang. Dalam setiap kegiatan setiap anggota harus memegang disiplin dalam latihan,

(23)

4. Memberikan motivasi atau dorongan

Motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu.19 Sedangkan motivasi kegiatan belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.20 Diantara teknik untuk menimbulkan motivasi siswa adalah hadiah dan hukuman.

Pemberian motivasi atau dorongan kepada peserta didik ini perlu terus dilakukan supaya mereka mau dan mampu mengikuti seluruh kegiatan pramuka seperti yang telah ditetapkan dalam program/agenda kerja pembina di sekolah. Dengan motivasi ini diharapkan mereka mampu berkreasi dan menunjukkan prestasi sehingga akan mampu membanggakan diri sendiri, orang tua dan sekolah.

5. Memberikan reward/hadiah

Hadiah atau penghargaan di sini tidak perlu mengeluarkan budget yang tinggi. Pada dasarnya setiap diri manusia butuh dihargai. Seperti piramida teori kebutuhan dari Abraham Maslow, bahwa kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri.21 Kebutuhan akan penghargaan menempati urutan keempat tertinggi. Ini artinya bahwa penghargaan menjadi sangat penting bagi setiap peserta didik sebagai hadiah dari hasil belajarnya/ hasil kerjanya. Dalam kegiatan pramuka ada beberapa penghargaan yang di berikan kepada peserta didik apabila mereka telah mencapai prestasi tertentu, misalnya pelantikan apabila mereka telah menyelesaikan SKU dan TKK, piagam dan piala apabila mereka berprestasi dalam ajang lomba yang di adakan di sekolah atau di luar sekolah.

6. Memberikan hukuman atau punishment yang mendidik

Apabila terpaksa harus memberikan hukuman, maka hal itu boleh dilakukan dengan catatan bahwa hukuman itu tidak membawa efek yang buruk baik secara fisik maupun rohani. Hukuman ini diberikan kepada peserta didik yang melanggar disiplin dan tata tertib yang telah ditetapkan bersama. Adapun hukuman ini harus bersifat mendidik, misalnya menghafal Pancasila, Pembukaan UUD 1945, Pasal-pasal

19Abdul Majid Pendidikan Karakter Persfektif Islam, Bandung: Rosda Karya, 2012), 122

(24)

UUD 1945, Tri Satya atau Dasa Dharma atau menyanyikan lagu-lagu nasional beserta makna yang terkandung di dalam lagu tersebut

7. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan

Dalam kegiatan pramuka suasana belajar tidak harus di dalam kelas, akan tetapi 80 % kegiatan di lakukan di luar kelas (outdoor) hal ini dimaksudkan untuk mengurangi efek bosan pesrta didik terhadap materi pramuka yang sangat padat. Pembelajaran di luar kelas ini dilakukan pada kegiatan LBB, berkemah, lintas alam dan bakti karya. Selain menyenangkan kegiatan diluar kelas ini juga menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, disiplin, memupuk sikap kompak, peduli terhadap sesama manusia, mencintai lingkungan dan alam semesta seperti yang tercantum dalam tujuan gerakan pramuka.

8. Pendelegasian Tugas

Untuk beberapa materi yang tidak terlalu berat, maka pembina mendelegasikan tugas kepada peserta didik tingkat terap untuk membina adik-adik tingkatnya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi tanggung jawab sekaligus penghargaan kepada mereka yang telah selesai menempuh tingkat terap. Selain itu diharapkan metode ini menjadi kaderisasi yang akan memunculkan pramuka-pramuka yang handal dan bertanggung jawab.

(25)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

(26)

b. Metode yang digunakan dalam menginternalisasikan karakter Pancasila dan norma-norma konstitusi adalah: Memberikan contoh/teladan yang baik kepada peserta didik, pembiasaan, penegakan disiplin, motivasi, reward/ penghargaan dan pemberian hukuman/punishment dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

2. Saran

a. Karena padatnya materi yang harus tersampaikan maka perlu kerja sama yang harmonis antar pembina pramuka dalam mencari metode-metode mengajar yang lebih efektif dan efisien.

b. Lebih sering mengikutkan peserta didik pramuka penggalang ke berbagai ajang lomba, sehingga mereka terlatih dan bermental juara c. Lebih menigkatkan kualitas karakter peserta didik sehingga menjadi

jiwa dan akan terus melekat pada diri siswa sampai mereka dewasa. d. Meningkatkan kualitas profesinalisme pembina melalui diklat tingkat

lanjut dan mengikut pelatihan- pelatihan kepramukaan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Chaplin, JP, Kamus Lengkap Psikologi , Jakarta: Raja Grafindo Persada:2005.

2. Furqon, Zainul, Buku Pintar Pramuka, Surakarta: Duta prestasi: 2015 3. HS, Sunardi, Mas’udyi Asy, Pendididkan Kewarganegaraan untuk Kelas

VII SMP dan MTs, Solo: Tiga Serangkai: 2000.

4.

http://nugashare.blogspot.co.id/2013/08/makalah-konstitusi-pkn.html#.V4uGqNJ97Mx

5. http://www.onesearch.id/Record/IOS2724-oai:192.168.1.2:slims-46678

6. https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_hierarki_kebutuhan_Maslow

7. Humaidi, Anis, Peningkatan Mutu Pendidikan Islam di Era MEA, Makalah, STAIN Kediri, 2016

(27)

9. Kwarnas Gerakan Pramuka: Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar, (Jakarta:Kwarnas Gerakan Pramuka:

10. Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam, Bandung:Cita Utama, 2010

11.Majid, Abdul, Pendidikan Karakter Persfektif Islam, Bandung: Rosda Karya, 2012

Mulyana, Rohmat, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alfabeta, 2004

Riyanto, A, Teori Konstitusi, Bandung: Yapemdo, 2000

Sardiman,AM, Interaksi dan motivasi Belajar mengajar, Jakarta: Rajawali Press, 2000

Tafsir, A, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004.

Tim Pembina Pramuka Gudep MTs Negeri Pare, Program Kerja Ekstra Pramuka Tahun pelajaran 2017-2019.

Referensi

Dokumen terkait

Alat strategi yang membantu perusahaan untuk melakukan perbaikan kinerja yang berkesinambungan dengan mengacu pada perusahaan lain yang memiliki kinerja superior.. [

Rata-rata nilai peserta didik setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar yang dikembangkan adalah sebesar 78,26 yang berada pada kategori baik, dengan kategorisasi

Silakan bisa langsung hubungi Surga Pewangi Laundry (CV.SURGA BISNIS) Pusat Jogja Produk bisa dibeli di Agen/Distributor Yang Terdekat dari Wonosari/?. Dikirim Langsung dari

Kami dari kelompok Hi_Mush menyusun suatu konsep budidaya jamur tiram dengan penerapan GAP yaitu panduan umum dalam melaksanakan budidaya jamur tiram secara

Hasil penelitian diperoleh alternatif strategi pengembangan usahatani padi yang dapat dilakukan Pemerintah di Desa Payabenua adalah Strategi S-O : 1) optimalisasi lahan

Variabel yang diamati meliputi kadar air dengan metode pengeringan (AOAC, 2007), kadar abu dengan metode pengabuan langsung (AOAC, 2007), kadar lemak dengan metode Soxhlet (AOAC,

pasien umum yang ditunggui keluarganya, kalau jiwa kan diserahkan sepenuhnya ke kita, kalau terjadi sesuatu hal kita susah, nah alamat kadang mereka kalo tidak bawa ktp asal