• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTITAS BUDAYA DAN MAKNANYA DALAM TARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IDENTITAS BUDAYA DAN MAKNANYA DALAM TARI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTITAS BUDAYA DAN MAKNANYA DALAM TARIAN CACI ORANG MANGGARAI

Oleh: Eduardus Y. Abut & Kaleb Simanungkalit (Mahasiswa Pascasarjana PBI FKIP UNS)

ABSTRAK

Tarian Caci merupakan tarian rakyat Manggarai yang merefleksikan kebudayaan dan keseharian masyarakat Manggarai. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan identitas budaya dan makna tarian Caci masyarakat Manggarai. Metode penelitian ini menggunakan penelitian etnografi-kualitatif dalam pendekatan fenomenologi di mana data diperoleh melalui pengamatan langsung dengan cara observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tarian caci hanya ada dalam kebudayaan Manggarai dan menjiwai semua aspek kehidupan orang Manggarai. Tarian Caci selalu dipentaskan pasca panen, antara bulan Juli sampai dengan September, dan dilakukan antara tiga sampai tujuh hari. Tarian Caci mengandung makna simbolis, melambangkan kejantanan, keramaian, kemegahan, dan sportivitas. Peralatan tarian Caci yang terbuat dari kulit kerbau melambangkan kekuatan, ketenangan kerendahan hati, dan tidak emosional, sedangkan bentuknya yang relatif bundar melambangkan adanya satu titik pusat yang mengatur semuanya, itulah Tuhan yang Maha Esa. Tarian Caci juga memiliki banyak fungsi bagi kelangsungan hidup masyarakat Manggarai, sebagai komoditas pariwisata, sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan dan para leluhur, serta media pendidikan.

Kata Kunci: Tarian Caci, Identitas Budaya.

ABSTRACT

Caci dance is a folk dance Manggarai that reflects the culture and daily life of the Manggarai’s community. This study aims to: (1) describe the cultural identity and meaning Caci dance Manggarai community. This research method using qualitative ethnographic research-phenomenological approach in which data is obtained through direct observation by observation, interview, and literature. The results showed that the dance abuse exists only in Manggarai culture and animates all aspects of people's lives Manggarai. Caci dance is always performed post-harvest, between July and September, and was conducted between three to seven days. Caci dance contains a symbolic meaning, symbolizing virility, crowds, pomp, and sportsmanship. Caci dance equipment made from buffalo skin symbolizes strength, peace of humility, and not emotional, whereas a relatively circular shape symbolizes the presence of a central point that governs everything, that's God Almighty. Caci dance also has many functions for the survival of the Manggarai community, as commodities of tourism, as a means of communication with God and the ancestors, as well as educational media.

(2)

I. PENDAHULUAN

Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia (Sutrisno, 2005: 25). Selain mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia, kesenian juga masih mempunyai fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan persoalan humanistik. Misalnya, mitos yang berfungsi menentukan norma untuk perilaku yang teratur serta meneruskan adat dan nilai-nilai kebudayaan. Secara umum, kesenian dapat berfungsi untuk mempererat ikatan solidaritas suatu masyarakat, sedangkan secara khusus kesenian dapat berfungsi sebagai ciri dan karakterisrik suatu golongan masyarakat. Menurut pengertian umum, seni adalah keindahan yang diciptakan oleh manusia. Bunga mawar yang indah bukanlah suatu karya seni, tetapi jika bunga tersebut dilukis maka lukisan tersebut merupakan sebuah karya seni. Ki Hajar Dewantara memberikan batasan yang lebih luas lagi mengenai pengertian seni, yaitu perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya, dan bersifat indah, sehingga dapat menggerakkan jiwa dan perasaan setiap manusia/ para penikmatnya.

Tarian Caci merupakan kesenian asli suku Manggarai di pulau Flores yang penuh dengan keunikan-keunikan mulai dari jenis tarian, kostum tari, properti yang digunakan oleh penari, sampai pada bentuk komposisi musik iringannya. Karena keaslian dan keunikannya tersebut Pemerintah dan beberapa Organisasi-organisasi dari Manggari yang menyebar di seluruh Indonesia mencoba untuk melestarikan tarian Caci sebagai salah satu cirri khas kesenian yang berasal dari Kabupaten Manggarai. Tarian sangat unik dan sering dilaksanakan dalam perayaan-perayaan besar orang manggarai. Karena itu, penting bagi peneliti untuk melihat bagaimana makna terdalam dalam keseniaan ini yang berpengaruh pada sikap hidup orang Manggarai. Tarian caci telah menjadi identitas etnik sebuah budaya.

Identitas etnik yang ditunjukkan lewat tarian caci memberikan makna tersendiri dalam diri orang Manggarai. Setidaknya terdapat etika moral yang dapat kita lihat dalam tarian caci tersebut. Oleh karena itu, dengan pemahaman penulis dan sumber yang terbatas, penulis mencoba mengkaji kesenian dalam tarian caci ini. Penulis mencoba menganlisis tarian ini dengan asumsi bahwa kesenian adalah sebuah unsur kebudayaan yang menunjukkan identitas budaya etnik yang dapat dilihat dari cara berpakaian, cara bersopan santun, bahasa, dan etika moral (Poerwasito, 2003:224). Hal-hal ini tentunya akan terlihat maknanya dalam tarian caci di Manggarai.

II. PEMBAHASAN A. Kesenian

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, pengertian kesenian adalah perihal seni; keindahan (2007: 1038). Secara terminologi, kesenian berasal dari kata seni yang mendapat awalan “ke-“ dan akhiran “-an”. Seni sendiri bisa berarti keahlian dan keterampilan manusia untuk mengekspresikan dan menciptakan hal-hal yang indah serta bernilai bagi kehidupan baik untuk diri sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat umum. Atau kesenian bisa berarti karya indah yang merupakan hasil budidaya manusia dalam memenuhi kebutuhan jiwanya.

(3)

pewarnaan, yang kemudian berkembang. menjadi segala macam kekriaan yang artistik. Cilpacastra yang banyak disebut-sebut dalam pelajaran sejarah kesenian, adalah buku atau pedoman bagi para cilpin, yaitu tukang, termasuk di dalamnya apa yang sekarang disebut seniman (Soedarsono, 1992: 4). Memang dahulu belum ada pembedaan antara seniman dan tukang. Pemahaman seni adalah yang merupakan ekspresi pribadi belum ada, dan seni adalah ekspresi keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian itu ternyata tidak hanya terdapat di India dan Indonesia saja, tetapi juga terdapat di Barat pada masa lampau. Kata seni yang bersumber dari bahasa asing itu menekankan arti pada hasil aktivitas seniman. Lingkup seni sebagai hasil aktivitas artistik yang meliputi seni suara, seni gerak dan seni rupa sesuai dengan media aktivitasnya.

Menurut Sunarto (1996:51-52), teori seni pada dasarnya dapat digolongkan dalam beberapa kelompok pemikiran:

a. Teori Mimesis

Teori-teori ini berpijak pada pemikiran bahwa seni adalah suatu usaha untuk menciptakan tiruan alam.

b. Teori Instrumental

Teori-teori ini berpijak pada pemikiran bahwa seni mempunyai tujuan tertentu bahwa fungsi dan aktivitas seni sangat menentukan dalam suatu karya seni. Misalnya fungsi-fungsi edukatif, fungsi-fungsi propaganda, religius, dan sebagainya. Cabang lain dari teori ini adalah seni sebagai sarana penyampaian perasaan, emosi dan sebagainya. Seni adalah sarana kita untuk mengadakan kontak dengan pribadi si seniman ataupun bagi seniman untuk berkomunikasi dengan kita.

c. Teori Formalistis

Teori-teori ini merupakan reaksi terhadap kedua teori di atas karena menganggap bahwa keduanya tidak memberikan standar penilaian estetis. Mereka berpandapat bahwa elemen-elemen bentuk pada suatu karya seni juga memancarkan nilai-nilai estetis.

d. Teori-teori Abad ke-20

Teori-teori yang lebih praktis dan menitik beratkan pada kritik dan apresiasi. Seni adalah suatu tindakan kreatif, pertama-tama ia adalah suatu realita yang diciptakan dan kedua ia harus bisa memberikan kesempatan dan kemampuan penghayatan estetis.

Kesenian adalah pembangunan dari dalam jiwa manusia. Dalam bentuk-bentuk kesenian, tertuang sikap hidup yang akan memberikan arah pada pembangunan fisik; salah satu alat untuk mencurahkan makna, agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas; tanah (media) untuk menanam, menyimpan, membudidayakan makna-makna untuk diwariskan kepada manusia lain; bagian dari buah budi manusia dalam meninggikan taraf hidupnya; rasa yang sudah diolah pikir dan mewujud dalam bentuk indah, mempunyai hubungan yang sangat erat dengan seluruh indra manusia, baik pendengaran, penglihatan, pengecapan, perabaan, penciuman serta indra keenam (Wijaya, 2001: 15-17).

(4)

kesenian seperti halnya perutnya keroncongan minta makan. Dalam teori tersebut lebih menekankan bahwa kesenian merupakan suatu hal yang pada dasarnya, setiap orang sangat membutuhkannya.

Menurut Hidayatulloh (2010:9) kesenian merupakan salah satu dari sekian banyak aktivitas manusia yang berkaitan dengan proses penciptaan makna yang tentunya tidak sama dengan aktivitas yang biasa dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kesenian sebagai perwujudan dari keahlian dan ketrampilan manusia dalam menciptakan keindahan, merupakan aktivitas yang khusus dan tertentu yang tidak pernah lepas dari proses-proses simbolis yang pada gilirannya menimbulkan proses penafsiran atau pemaknaan.

Berdasarkan teori-teori tentang pengertian kesenian yang sudah dipaparkan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pengertian kesenian adalah suatu hal yang berhubungan dengan seni atau keindahan yang cenderung bersifat unik, asli, riil, nyata, dan mempunyai hubungan erat terhadap suatu golongan masyarakat, adat, wilayah dan kepercayaan tertentu.

B. Tari

Menurut Sumandiyo Hadi seorang guru besar Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, ‘Seni tari sebagai ekspresi manusia yang bersifat estetis merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia dalam masyarakat yang penuh makna (meaning)’. (2005:13). Keindahan yang dimaksud dalam tari ini yaitu bagaimana tarian tersebut menyampaikan pesan yang terkandung dalam tarian tersebut. Hal ini diperjelas oleh Sumandiyo yang mengatakan bahwa keindahan tari tidak hanya keselarasan gerakan-gerakan badan dengan iringan musik saja, tetapi seluruh ekspresi itu harus mengandung maksud-maksud isi tari yang dibawakan. Dari penjelasan diatas maka dapat dikatakan bahwa tari adalah ungkapan ekspresi manusia yang dituangkan melalui gerak anggota tubuh dimana gerakan-gerakan tersebut mengandung arti/makna.

C. Tarian Caci a. Pengertian

Tari Caci ini sangat khas di NTT. Caci adalah salah satu jenis permainan rakyat atau tarian perang dari Manggarai (sebuah kabupaten di bagian barat Pulau Flores, NTT) yang selain heroik juga merupakan permainan yang sarat akan nilai budaya. Dikatakan heroik karena tarian tradisional ini hampir selalu merupakan pertarungan berdarah. Di Manggarai caci merupakan pertarungan antara dua orang pria, satu lawan satu, secara bergantian yakni Ata One (tuan rumah) dan Ata Pe’ang(pendatang) yang disebut juga Meka Landang (tamu penantang). Sportifitas sangat dijunjung tinggi dalam tarian ini, begitu kental dengan warna tarian

ketangkasan yang cenderung keras ini.

(5)

Dalam tarian caci ada pihak yang memukul (paki) lawannya dengan menggunakan Larik (pecut) atau Cambuk. Biasanya larik terbuat dari kulit kerbau yang sudah kering. Di ujungnya dipasangi kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras, disebut Lempa atau bisa diganti dengan pori (lidi enau yang masih hijau).Lawan yang dipukul (ta’ang) bertahan atau menangkis dengan menggunakan Nggiling (perisai, juga terbuat dari kulit kerbau) dan Tereng/Agang (busur yang terbuat dari bambu). Memukul dilakukan secara bergantian. Saat dua orang sedang bermain, anggota kelompok lain akan memberikan dukungan dengan tari-tarian sambil menunggu giliran untuk bertanding. Lokasi pertandingan biasanya adalah di Natas Gendang atau halaman rumah adat.

Di Manggarai tarian caci yang secara bebas diartikan menguji (ketangkasan) satu lawan satu, biasanya hanya dipentaskan dalam acara khusus, seperti upacara penti/hang woja (syukuran hasil panen), penyambutan tamu kehormatan atau upacara-upacara adat lainnya, seperti paca wina (belis). Juga untuk memeriahkan pentahbisan imam dan sebagainya. Disinilah nilai-nilai budaya muncul dalam permainan caci dengan segala keunikannya. Biasanya, pertarungan caci dilakukan antar desa/kampung. Selain itu juga ada kelompok pemuda yang selalu siap dengan sopi atau tuak bakok (arak Manggarai), minuman khas yang selalu ada dalam setiap perhelatan budaya ini. Biasanya diminum oleh petarung untuk sekedar membangkitkan semangat dan menambah keberanian, atau juga dinikmati oleh penonton. Caci adalah perhelatan budaya yang indah, semarak dan menyenangkan. Biasanya, pertarungan caci dilakukan antar desa/kampung. Bagi orang Manggarai, pementasan caci merupakan pesta besar dimana desa penyelenggara memotong kerbau beberapa ekor untuk makanan para peserta atau siapa pun yang me- nyaksikan caci, secara gratis.

b. Asal Mula Tarian Caci

Menurut sumber sejarah yang ada, Tari Caci ini berawal dari tradisi masyarakat Manggarai dimana para laki-laki saling bertarung satu lawan satu untuk menguji keberanian dan ketangkasan mereka dalam bertarung. Tarian ini kemudian berkembang menjadi sebuah kesenian dimana terdapat gerak tari, lagu dan musik pengiring untuk memeriahkan acara. Nama Tari Caci sendiri berasal dari kata “ca” berarti “satu” dan “ci” yang berarti “uji”. Sehingga caci dapat diartikan sebagai uji ketangkasan satu lawan satu.

c. Pertunjukan Tari Caci

Tari Caci ini dilakukan oleh sekelompok penari laki-laki dengan bersenjatakan cambuk dan perisai. Dalam pertunjukannya, sekelompok penari tersebut dibagi menjadi dua bagian dan dipertandingkan satu lawan satu. Sebelum penari dipertandingkan, pertunjukan terlebih dahulu diawali dengan Tari Tandak atau Tari Danding Manggarai. Tarian tersebut dilakukan oleh penari laki-laki dan perempuan sebagai pembuka acara dan meramaikan pertunjukan Tari Caci. Setalah tarian pembuka selesai kemudian dilanjutkan dengan atraksi Tari Caci.

(6)

Selain itu penari harus bisa menangkis atau menghindar dari serangan lawan. Apabila tidak, maka dia akan terkena serangan lawan dan menyisakan luka ditubuhnya, bahkan hingga berdarah. Pemain bertahan akan dinyatakan kalah apabila terkena cambuk di matanya. Setelah semua penari sudah dimainkan, kemudian kedua kelompok dikumpulkan dan melakukan jabat tangan atau berangkulan sebagai tanda damai dan tidak ada dendam di antara mereka.

d. Pengiring Tari Caci

Dalam pertunjukan Tari Caci ini biasanya diiringi oleh alat musik tradisional seperti gendang dan gong, serta nyanyian nenggo atau dare dari para pendukung. Dalam pertunjukan tersebut setiap kelompok biasanya memiliki pendukung sendiri-sendiri. Seperti layaknya sebuah pertandingan olah raga, para pendukung juga bersorak-sorak memberikan dukungan dan semangat kepada para penari agar bisa menang.

e. Kostum Tari Caci

Dalam pertunjuakan Tari Caci ini, penari juga menggunakan kostum layaknya prajurit yang akan maju ke medan perang. kostum para penari biasanya hanya menggunakan penutup kepala (pangkal) dan pakaian pada bagian bawah saja, sehingga tubuh bagian atas tanpa busana. Pada penutup kepala penari menggunakan topeng yang terbuat dari kulit kerbau yang keras untuk melindungi wajah dari serangan lawan.

Sedangkan pada tubuh bagian bawah menggunakan celana panjang berwarna putih dan sarung songket khas Manggarai berwarna hitam. Sebagai aksesoris diberi giring-giring yang berbunyi mengikuti gerakan penari. Selain itu penari membawa cambuk dan perisai sebagai senjata, yang terbuat dari kulit kerbau/ sapi yang sudah dikeringkan.

f. Perkembangan Tari Caci

Tari Caci ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal dan masih dilestarikan oleh masyarakat Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kesenian ini juga masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti syukuran musim panen(hang woja), ritual tahun baru (penti), penyambutan tamu besar, dan berbagai acara adat lainnya.

D. Nilai-Nilai dalam Tarian Caci

Identitas budaya tercermin dalam bahasa, nyanyian, cara berpakaian, dan etika moral. Identitas ini termanifestasi dalam tarian caci di Manggarai. Berdasarkan hal ini, kita akan melihat bagaimana makna tersembunyi tarian caci ini.

a. Bahasa dan nyanyian (keindahan, keselarasan dan kerendahan hati)

(7)

pukulan, keindahan Bahasa dalam menyampaikan apa yang menimpanya secara menarik dengan istilah-istilah tersembunyi dan bermakna.

b. Cara Berpakaian

Peralatan tarian Caci yang terbuat dari kulit kerbau melambangkan kekuatan, ketenangan kerendahan hati, dan tidak emosional, sedangkan bentuknya yang relatif bundar melambangkan adanya satu titik pusat yang mengatur semuanya, itulah Tuhan yang Maha Esa.

c. Etika Moral

Permainan caci atau tarian caci merupakan sebuah merupakan sebuah identitas budaya orang Manggarai. Meskipun, ini adalah sebuah pertarungan, tetapi etika moral tetap menjadi hal yang terutama yang harus diperhatikan. Etika moral kemanusiaan adalah yang terutama dalam tarian ini. Dalam hal ini, pertarungan atau perkelahian tentunya akan berlawanan dengan etika moral, tetapi dalam permainan caci, etika moral tetap menjadi yang utama lewat sikap tanggung jawab dan saling menghargai dalam sebuah pertarungan.

d. Darah, Keringat, dan Air Mata (kejantanan, keramaian, kemegahan, dan sportivitas)

Darah, keringat, dan air mata terus menerus hadir selama tarian caci berlangsung. Darah, keringan, dan air mata ini tidak akan membuat orang-orang yang hadir dan bertarung mengalah. Mereka takkan pernah menyerah sampai dikatakan “rowa” (mati). Tetapi, mati di sini berarti petarung terkena cambukan di daerah kepala (wajah) dan tangan. Meskipun tubuh mereka berdarah, berkeringat dan air mata mengalir dari para penonton dan petarung itu sendiri, pertarungan akan semakin seru.

Darah, keringat, dan air mata dalam tarian caci mengandung makna kepahlawanan dan keperkasaan. Namun dalam caci, keperkasaan tidak harus dilakoni lewat kekerasan namun juga lewat kelembutan yang ditunjukkan dalam gerakan-gerakan yang bernuansa seni. Tarian Caci diiringi bunyi gendang dan gong serta nyanyian para pendukungnya yang menunjukkan kemegahan acara tersebut.

Pihak yang memukul tidak harus mendapat giliran menangkis. Posisinya bisa diganti orang lain. Pihak lawan biasanya tak memprotes. Di sini terlihat aspek lain yakni kerelaan untuk berkorban. Semuanya dihayati dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan serta sportivitas.

(8)

III. PENUTUP

Tarian caci merupakan sebuah kesenian yang mampu menunjukkan nilai-nilai budi pekerti bagi masyarakat Manggarai dan mereka yang menyaksikannya. Selain itu, tarian caci ini juga menunjukkan identitas unik budaya Manggarai. Hal ini menjadi keunggulan tersendiri bagi masyarakat Manggarai. Tarian caci mengajarkan banyak hal, yaitu soal keberanian, sportivitas, harga diri, keindahan, persaudaraan, dan juga nilai-nilai religius. Secara tidak langsung pelaksanaan tarian caci mengikutsertakan alam, manusia, dan juga Tuhan. Mungkin tidak begitu banyak orang di Indonesia yang tahu dan mengenal tarian ini. Tarian caci bukanlah hanya sebuah tarian, tetapi juga merupakan sebuah pertarungan ketangkasan dan keindahan. Oleh karena itu, tarian ini perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan tidak hanya di Indonesia tetapi juga ke seluruh dunia.

DAFTAR RUJUKAN

Hadi, Y. Sumandiyo. 2005. Sosiologi Tari: Sebuah Pengenalan Awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mullins, Traci dan Spangler, Ann. 1997. Vitamins for Your Soul. Yogyakarta: Kanisius Yogyakarta.

Purwasita, Andrika. 2003. Komunikasi Multikultural. Surakarta: Muhamadya University Press.

Soedarsono, R. M. 1992. Pengantar Apresiasi Seni. Jakarta: Balai Pustaka.

Sunarto, F. X. Suhardjo Parto. 1996. Musik Seni Barat dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sutrisno, Mudji dan Putranto, Hendar. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarata: Kanisius Yogyakarta.

Tim Penyusun Pusat Bahasa. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Referensi

Dokumen terkait

Rikhi Sutrisno, L100090157, Representasi Identitas Budaya Sunda dalam Iklan (Analisis Semiotika Iklan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Periode 2013-2018 Ahmad

Selain itu, iklan juga dapat berfungsi untuk menyampaikan pesan-pesan politik, atau sering disebut dengan iklan politik.Salah satu iklan politik yang beberapa

masyarakat di beberapa daerah di tengah hingga barat pulau Timor, yakni melakukan kegiatan penyunatan tradisoinal namun yang uniknya adalah pasca sunat si lelaki

masyarakat suku Jawa, carok pada masyarakat suku Madura, pantang pada masyarakat suku di Sumatera Barat, serta jenga pada masyarakat suku di pulau Bali. Kesemua

Provinsi Sumatera Barat adalah salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) selain pulau jawa dan bali. Provinsi Sumatera Barat ini memiliki potensi objek wisata yang tersebar di

Musik gamelan sekaten pada masyarakat lingkungan Keraton sekalipun dapat dianggap bukan musik yang estetis bila ukuran yang dipakai adalah standar musik barat di mana

Selain itu, nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam cerita rakyat Watu Dodol ini juga dapat diaplikasikan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah sehingga